Home » Cerita Seks Mama Anak » Ibuku Cintaku dan Dukaku 18

Ibuku Cintaku dan Dukaku 18

Lama sudah aku berjalan di tepian jalan aspal yang sudah berumur genap 4 tahun ini. Jalan yang merupakan satu-satunya akses dari jalan raya hingga ke pedalaman desa. Walaupun jalan ini tak sampai benar-benar mentok hingga celah-celah terdalam desa kami, tapi setidaknya jalan ini panjangnya sudah mencapai jalan ke rumahku yang mana bagiku itu sudah menelan jarak yang sangat jauh dari jalan raya.

Jalan ini juga bercabang di dekat kantor lurah yang mana bisa digunakan untuk menuju ke desa tetangga. Aku ingat pembangunannya rampung setahun setelah listrik masuk ke desa kami. Jalan ini masih utuh tanpa lubang. Mungkin karena konstruksinya yang bagus ditambah dengan kendaraan yang melaluinya bukanlah kendaraan besar dan berat. Kami sangat bersyukur mempunyai aparat pemerintah desa yang sangat peka pada warganya.

Aku sudah hampir tiba di lingkunganku. Ketika sampai di simpang jalan menuju ke rumah Rama, aku menoleh ke dalam sana sambil tetap melangkahkan kaki. Aku bisa melihat rumahnya dari sini. Rumah-rumah yang lain di dalam sana pun tampak sunyi dan tenang. Mungkin karena penghuninya sedang bekerja atau sedang berdiam diri di dalam rumah.

Terlintas sosok Rama di dalam pikiranku. Bagaimana dengan hari esok? Apakah aku harus pergi bersamanya? Apakah dia akan menungguku seperti biasa? Entahlah. Lihat saja apa yang terjadi keesokan harinya.

Entah kenapa saat ini aku merasa kakiku sangat lambat dalam berjalan. Untuk mencapai simpang jalan ke rumahku dari simpang jalan ke rumah Rama tadi saja aku seperti sudah melewati waktu berjam-jam. Aku sebenarnya sudah merasa cukup lelah. Mungkin karena efek samping dari menangis tadi. Tubuhku ingin sekali langsung kubaringkan dan tidur. Setiap hari pulang dan pergi ke sekolah dengan berjalan kaki saja sudah cukup melelahkan, apalagi ditambah dengan semangatku yang sedang turun seperti ini? Rasanya ingin sekali aku punya kendaraan yang bisa langsung tancap gas dari sekolah ke rumah, maupun sebaliknya.

ÔÇ£Eh, Bang Baim!ÔÇØ sapaku ramah pada penghuni di dekat simpang jalan ke rumahku.

ÔÇ£Eh, Tito… Udah pulang?!ÔÇØ sapanya balik.

Pria kurus dan agak pendek itu tampak baru selesai mengikat keranjang buah-buahan di atas mobil Pick Up yang sedang menyala di samping rumahnya. Kulitnya yang agak gelap terlihat sedikit berpeluh karena gerakannya yang lugas. Rambutnya juga dibiarkan acak-acakan seperti biasa.

ÔÇ£Iya nih, Bang!ÔÇØ balasku. ÔÇ£Mau jalan lagi, Bang?!ÔÇØ

ÔÇ£Iya, To!ÔÇØ jawabnya sembari masuk ke dalam mobilnya. Dibunyikannya klakson mobilnya sekali sebagai tanda perpisahan sebelum akhirnya kendaraannya itu melaju meninggalkan rumahnya.

Aku tersenyum pula pada Bi Siti dan Pak Legimin yang sedang ÔÇÿnongkrongÔÇÖ sambil mengobrol di teras rumahnya. Mereka tersenyum ramah padaku. Yang kudengar sekarang ini Pak Legimin sudah sering sakit-sakitan, sehingga dia tak lagi ikut-ikutan bekerja dengan Bang Baim.

Akhirnya sampai juga di jalan menuju ke rumah. Aku harus menjalani jalan tanah berbatu yang panjangnya mungkin lebih dari 100 meter ini untuk mencapai rumahku yang berada di ujung jalan. Aku cukup miris dibuatnya. Walaupun rumah Bang Baim berdiri di dekat simpang jalan ke rumahku, tapi pada dasarnya bagian depan rumahnya itu menghadap ke jalan yang beraspal, bukan jalan yang menuju ke rumahku. Jadi secara teknis di jalan sepanjang ini hanya ada dua rumah. Rumah kontrakan milik kami, dan rumah kami yang nun jauh di sana. Bahkan ketika sampai di ujung aku harus belok lagi ke kanan sekitar 20 meter untuk mencapai rumahku. Sungguh melelahkan. Tapi untunglah sejak dari sekolah tadi banyak pohon di tepi jalan yang menaungi ketika aku berjalan. Jadi aku tak terlalu banyak terkena sinar terik matahari. Aku pun melalui jalan yang terbentang dengan penuh kesabaran. Melangkahkan kaki yang sebenarnya sudah gontai.

Ketika aku sudah menempuh setengah perjalanan, mataku iseng melihat-lihat ke rumah kontrakan kami yang sudah ditinggalkan oleh keluarga Pak Imron. Kini rumah ini kosong begitu saja. Menanti orang-orang lain yang berminat mengontrak. Ketika melihat rumah kosong ini, senyuman tersungging di bibirku. Di kepalaku terbersit sebuah ide konyol.

Gimana ya, kalo Kak Dina gue suruh tinggal di rumah itu aja? Kan jadi enak bisa dekat-dekat sama dia. Hehehe, khayalku sambil cengengesan.

Setelah berjuang sekian lama, akhirnya impianku pun tercapai. Aku sampai di rumahku yang teduh dan asri. Rumah yang sangat jauh dari hiruk-pikuk dan keramaian. Tapi anehnya sekarang rumah ini bagaikan neraka dunia bagiku. Ketika sampai di sini aku merasa seakan-akan ditimpa beban yang sangat berat. Bahkan untuk mengetuk pintu saja aku harus menarik nafas panjang.

Bu! Tito pulang nih! teriakku sambil mengetuk pintu. Tapi tak ada jawaban dari dalam.

Bu! Tito udah pulang! teriakku lagi untuk yang kedua kalinya disertai ketukan yang lebih keras.

ÔÇ£Iya! Sebentar!ÔÇØ barulah terdengar jawaban dari dalam.

Terdengar suara putaran kunci di dekat gagang pintu, dan pintu pun terbuka. Yang pertama kali kulihat adalah Ibu yang sepertinya baru bangun tidur. Rambutnya agak berantakan dan matanya menyipit. Tapi tetap tersenyum menyambutku. Dia memakai kaos oblong warna kuning yang tak terlalu ketat dan celana pendek selutut warna krem, gaya berpakaian yang biasa diterapkannya di luar rumah. Sepertinya dia sempat keluar rumah sebelumnya.

Udah pulang, Nak? ucapnya berbasa-basi dengan senyum tipis. Tito langsung makan, ya. Makanannya udah ada tuh, di belakang. Ibu mau tidur dulu nih Capek banget.

Oh, iya, Bu, ucapku datar sambil mengangguk. Aku sedang membuka sepatuku.

Aku masuk ke rumah dan langsung menuju ke kamar untuk meletakkan tas sekolah, sementara Ibu setelah mengunci pintu depan terlihat masuk ke kamarnya lagi untuk melanjutkan tidurnya. Ketika aku ke ruang belakang untuk makan, aku melihat beberapa bungkusan plastik besar berisi bahan-bahan gorengan. Ternyata dia tadi berbelanja ke pasar. Pantas saja dia kelelahan. Dia baru saja berbelanja barang-barang berat ini.

Aku merenung sejenak melihat barang-barang itu. Aku baru memahami kesusahan Ibuku seminggu yang lalu ketika dia mengangkat barang-barang itu dengan susah payah ke dalam rumah. Aku baru ada untuknya saat itu. Tapi bagaimana dengan sebelum itu? Bukankah selama kami berjualan gorengan dia pasti mengangkatnya terus-menerus setiap pagi tanpa bantuan siapapun? Aku memang anak yang tidak peka.

Bu Kenapa sih, Ibu bikin Tito jadi serba salah kayak gini? kataku membatin.

Dengan wajah bimbang aku kemudian membuka tudung saji dan makan siang. Seperti kemarin malam, kelezatan makanan tidak masuk ke dalam hatiku. Semuanya terasa hambar ketika otak ini memikirkan Ibuku. Aku hanya memaksakan makanan itu masuk ke mulutku untuk menjaga kesehatanku di tengah pikiran yang campur aduk ini. Setelah makan aku melakukan hal yang kunantikan sejak tadi. Tidur pulas.

***

Tito Bangun, Nak.

Aku mendengar seperti suara Ibu membangunkanku. Aku yang masih mengantuk mencoba untuk membuka mata. Sedetik kemudian mataku terbuka lebar karena ternyata Ibu sudah ada di sampingku, duduk di atas ranjang. Pakaiannya masih sama seperti tadi. Berkaos oblong dan celana selutut.

ÔÇ£Iya, Bu. Tito udah bangun nih,ÔÇØ ujarku seraya bangkit dan duduk di dekatnya. ÔÇ£Ada apa, Bu?ÔÇØ

ÔÇ£Ibu mau pergi dulu nih, ke pasar. Ada yang lupa dibeli.ÔÇØ

Oh, gitu ya, Bu Ya udah deh, jawabku.

Ibu tersenyum dan bangkit berdiri. Dia berjalan ke luar. Kuikuti dia dari belakang. Aku melihat sebuah plastik kresek warna putih terletak di atas kursi tamu. Dia langsung mengambilnya dan membawanya. Di dalamnya kulihat ada semacam tali berwarna hitam. Aku tak terlalu memikirkannya.

ÔÇ£Tito jaga rumah, ya,ÔÇØ pesan Ibu.

ÔÇ£Iya, Bu,ÔÇØ sahutku.

Kututup pintu dan kukunci. Aku melirik jam dinding yang menunjukkan pukul 02.45 sore. Aku masuk kembali ke dalam kamar dan berniat tidur lagi. Kuhempaskan tubuhku ke atas ranjang dalam posisi telungkup. Mataku terpejam cepat. Tapi setelah beberapa detik berlalu, otakku kedatangan sebuah pertanyaan yang membuat mataku langsung terbuka.

Aku bertanya-tanya dalam hati, ÔÇ£Tadi itu barang apa, ya? Biasanya Ibu kan cuma bawa dompet kalo ke pasar?ÔÇØ

Aku bangkit dan duduk di tepi ranjang. Berpikir sebentar. Otakku menarik beberapa kesimpulan yang lain. Mataku tiba-tiba melotot karena baru saja mendapat sebuah pencerahan. Aku berseru tertahan, Jangan-jangan Ibu mau

Aku langsung melompat dari ranjangku dan berlari masuk ke kamarnya. Aku melihat sekeliling. Mencari-cari sebuah benda. Kamar Ibu terlihat begitu rapi. Mataku mengarah ke setiap ruang yang mungkin bisa dijadikan tempat menyelipkan sesuatu. Tapi dari tadi aku melihat ke segala tempat, aku tak menemukan apa yang kucari. Aku pun langsung bergegas keluar dari kamarnya dan tak lupa menutup pintunya. Menurutku, tidak perlu lagi menggeledah lemari pakaiannya untuk meneruskan pencarianku. Dugaanku sepertinya benar. Tali hitam yang kulihat tadi adalah tali pegangan tas kecil tempat handycam Rama. Mungkin Ibu berniat mengembalikan barang itu kepada pemiliknya.

ÔÇ£Itu artinya Ibu mau pergi ke rumah Rama!ÔÇØ seruku dalam hati.

Aku keluar rumah, kukunci pintu depan, dan mengambil sandalku. Aku langsung berlari 20 meter ke depan, lalu melongok dari balik pohon. Tampak Ibu sudah berjalan cukup jauh. Ketika dia sudah berbelok ke kanan, aku langsung berlari sampai ke simpang jalan.

Adrenalinku terpacu kencang. Walau nafasku sudah tersengal-sengal karena sudah berlari ratusan meter, aku tidak merasa capek sedikit pun. Di simpang jalan aku bersembunyi lagi di balik pohon. Menunggu dan mengawasi ke mana arah Ibu berbelok. Jika Ibu berbelok ke kiri nantinya, berarti dia memang berniat ke rumah Rama. Tapi jika dia lurus saja, itu berarti dia memang berniat pergi ke pasar.

Namun kurasa tanpa pilihan pun aku pasti yakin seratus persen kalau dia memang akan ke rumah Rama. Lagipula buat apa dia membawa benda itu ke pasar? Itu hal yang mustahil.

Beberapa saat kemudian tubuhku mendadak terasa lemas. Adrenalinku langsung anjlok begitu melihat kejadian berikutnya. Dugaanku sama sekali tak meleset. Lihatlah, wujud Ibu sudah hilang berbelok ke kiri. Betis dan pahaku bergetar tak karuan dibarengi dengan degup jantung yang kian meningkat. Tapi demi memantapkan tujuan yang sebenarnya tak pernah kuniatkan ini, aku pun mengikutinya. Aku berlari lagi hingga ke simpang jalan yang menuju ke rumah Rama.

Sesampainya di simpang jalan rumah Rama, aku tak melihat lagi keberadaan Ibu. Dilihat dari keadaannya, Ibu pasti sudah masuk ke dalam rumah Rama sebelum aku mencapai persimpangan ini. Tanpa buang waktu aku langsung berjalan mendekati rumah itu.

Darahku semakin berdesir di setiap langkah yang kujejakkan. Mendekati rumah Rama bagaikan mendekati rumah pembunuh berdarah dingin saja. Jauh di dalam jalan rumahnya kulihat ada tiga orang yang sedang berkegiatan di depan rumah mereka masing-masing.

Ketika aku mengendap-endap mendekati rumah Rama, mataku melihat pintu rumahnya tertutup. Pagar rumahnya tampak terbuka sedikit. Setahuku kalau jam segini Bu Aini sudah kembali lagi ke tokonya dan akan pulang ke rumah ketika hari sudah senja. Jadi bisa disimpulkan kalau Rama sedang menjaga rumah sendirian seperti biasa.

ÔÇ£Pintu rumahnya kok tutup, ya?ÔÇØ kataku berbisik. ÔÇ£Gue tadi liat kok, Ibu belok kemari.ÔÇØ

Aku mengendap-endap lagi. Masuk ke tanah kosong yang berisi pohon-pohon dan sedikit semak-semak yang ada di sebelah kanan rumah Rama. Walaupun model rumah Rama seperti rumah sederhana dengan dua kamar tidur pada umumnya, namun eksterior dan interiornya jauh lebih mewah dibandingkan rumahku. Rumah dan halamannya yang cukup luas dikelilingi oleh pagar tembok dengan besi-besi berukiran dan lancip di atasnya sebagai hiasan. Kini, aku memasang posisi di balik dinding pagar samping kanan rumahnya. Bersembunyi sambil mengintip segala macam situasi dan kondisi.

Ketika pandangan mataku menyapu seluruh bagian rumah yang tampak sunyi itu, aku tiba-tiba terpaku ke satu arah. Alangkah terkejutnya diriku dengan apa yang kulihat. Sandal Ibu ternyata sudah terparkir rapi di dekat teras rumahnya. Demi melihat pemandangan itu, kedua kakiku tiba-tiba lemas hingga terjongkok begitu saja di balik dinding pagar itu. Kecurigaanku sudah terbukti. Aku kenal betul dengan sandal berwarna coklat tua itu. Itu memang milik Ibu. Berarti dia ada di dalam sekarang ini.

ÔÇ£Tapi pintunya kok ditutup segala?! Mereka berdua ngapain?!ÔÇØ tanyaku dalam hati. Aku pun panik seketika.

Kecurigaanku semakin parah. Sungguh tak mungkin jika Ibu hanya mengembalikan handycam, tapi pintu rumah Rama tertutup rapat. Jika dikronologikan, Ibu seharusnya bisa memanggil Rama dari luar, lalu menyerahkan barang itu. Atau kalaupun Ibu memang ingin mengobrol dengan Rama di ruang tamu, seharusnya pintu rumahnya dibiarkan terbuka, tidak ditutup seperti itu. Jika mereka memang sengaja melakukan itu, pastilah mereka bermaksud untuk ÔÇÿberlama-lamaÔÇÖ di dalam sana tanpa adanya gangguan dari luar. Aku benci untuk menebak apa yang mereka lakukan dengan ÔÇÿberlama-lamaÔÇÖ itu. Sesuatu yang sangat-sangat kutakutkan.

ÔÇ£Akhh! Gue mesti gimana?!ÔÇØ jeritku dalam hati.

Aku mencoba berpikir keras walaupun sebenarnya pikiranku sedang kacau. Aku harus melakukan sesuatu. Seperti melakukan tindakan pencegahan atau apapun untuk membatalkan sesuatu yang tak diinginkan itu. Tapi aku harus memastikan dulu apa yang mereka lakukan di dalam sebelum bertindak. Aku tak boleh gegabah. Tapi apa? Apa aku langsung mengintip saja ke dalam? Tidak mungkin. Itu ide yang sangat konyol. Pintunya tertutup, dan semua jendela rumahnya juga berkaca gelap. Ditambah lagi jendela-jendela itu berjenis jungkit, yang mana engselnya ada di bagian atas. Tidak akan ada celah yang cukup jelas untuk mengintip. Keberhasilannya sangat rendah.

Lantas bagaimana? Apa aku harus menangkap basah mereka sedang bermesraan? Membuka pintunya dan berteriak lantang? Kurasa itu juga tidak mungkin. Ada kemungkinan pintu itu terkunci, dan tidak mungkin aku mendobraknya begitu saja. Itu ide gila. Tapi bagaimana dengan pura-pura bertamu? Kurasa itu ide yang cukup bagus. Dengan pura-pura bertamu, si penghuni rumahlah yang membukakan pintunya. Lalu aku bisa langsung masuk dan menangkap basah Ibu yang sedang berada di dalam. Dia pasti akan terpaksa mengurungkan niatnya untuk ÔÇÿberlama-lamaÔÇÖ dengan Rama karena tahu aku ada di situ. Tapi masalahnya, apa alasan yang harus kupakai ketika bertamu? Bukankah hubunganku dengan Rama sedang tidak baik?

ÔÇ£Oh, iya! Pura-pura bertamu buat minta maaf aja,ÔÇØ pikirku. Kalau dengan alasan itu pasti akan masuk akal.

Aku bangkit dari jongkok. Mencoba berdiri mantap. Aku yakin, dengan mengganggu mereka seperti ini, perbuatan mereka yang tidak kuinginkan bisa dicegah secara tak langsung. Setidaknya untuk hari ini aku tidak dibodoh-bodohi oleh mereka. Untuk hari-hari berikutnya, biarlah kupikirkan lagi cara yang lain apabila mereka memang berniat untuk melakukan hal yang sama. Yang jelas saat ini aku harus cepat bertindak.

Aku kembali mengendap-endap menuju jalan. Aku bersandiwara seolah-olah aku memang datang dari jalan, tidak dari samping pagar rumahnya. Bisa kacau kalau Rama sampai tahu aku muncul dari balik pagar rumahnya. Dia pasti bertanya yang aneh-aneh padaku.

Aku berjalan dengan cepat dan lugas. Lalu masuk melalui pintu gerbang yang terbuka sedikit. Aku tidak menyeret sandalku ketika berjalan agar tidak menimbulkan bunyi. Aku ingin kedatanganku tidak terlalu cepat disadari oleh mereka. Berharap mereka merasa sedikit terperanjat akan kehadiranku yang mendadak ini.

Jantungku berdebar kencang saat sudah melepaskan sandal dan menginjak teras rumahnya. Rasanya tegang sekali. Entah sudah berapa kali aku menelan ludahku sendiri untuk menghilangkan kekeringan di tenggorokanku. Begitu sampai di depan pintu rumahnya yang tertutup itu, aku pun menyiapkan suara dan tanganku. Bersiap untuk memanggil si Tuan Rumah dan mengetuk pintunya.

Namun, ketika aku hendak melakukan ÔÇÿgebrakanÔÇÖ, aku menyadari sesuatu. Sesuatu yang benar-benar aneh. Ada sebuah kejanggalan yang terjadi di sini. Kejanggalan itu pun akhirnya menghentikan niatku untuk memanggil dan mengetuk.

Kupikir ini mustahil. Seharusnya ketika aku datang, walaupun tidak menimbulkan bunyi sama sekali, wujudku pasti sudah terlihat dari dalam ruang tamu. Kenapa tidak ada seorang pun yang membukakan pintu? Di mana mereka berdua sekarang? Bukankah seharusnya mereka sedang berada di ruang tamu? Ketakutan mulai bergejolak di dalam diriku.

Tanpa buang waktu, aku langsung mendekatkan kedua mataku ke jendela panjang berkaca hitam di samping pintu depan. Kutangkupkan kedua tanganku di dekat wajah untuk membantu mataku agar bisa melihat ke dalam ruang tamu. Tapi ternyata aku tak melihat satu orang pun di dalam sana. Aku mendengar sayup-sayup suara orang sedang berbicara dari sini, tapi aku tak melihat adanya kegiatan di ruang tamu maupun ruang tengah tempat di mana penghuni rumah biasanya menonton TV. Batinku semakin berkecamuk. Ini benar-benar gawat. Mereka berdua rupanya sudah pindah ke ruangan lain. Hanya ada empat ruangan yang tersisa. Dapur yang sekaligus ruang makan, kamar mandi, kamar Bu Aini, dan kamar Rama.

Aku berdiri terdiam. Aku bahkan tak bisa lagi menelan ludah. Tenggorokanku kubiarkan kering begitu saja. Jantungku berdegup kencang memompa darah, namun aku merasa tubuhku sangat lemas. Dada dan kepalaku memanas. Tubuhku sedang memberikan tekanan jiwa yang luar biasa seperti saat-saat aku melihat video-video panas itu. Pandanganku perlahan-lahan mengarah ke kanan. Menuju ke bagian kiri rumah ini. Di situlah letak kamar Rama. Entah kenapa hati kecilku sangat yakin kalau Ibu sekarang sedang berada di dalam sana.

Di tengah perasaan yang tak menentu, kakiku pelan-pelan melangkah ke bagian kiri rumah. Entah apa yang merasukiku sampai-sampai aku nekat melangkahkan kakiku mendekati kamar Rama. Tubuhku seakan tak ingin mendengarkan hatiku yang sekarang sedang ketakutan dan berteriak melarang keras untuk mendekat ke kamar itu. Namun rasanya semua sudah buyar. Tatapanku kosong dan akal sehatku juga sudah mati. Tak tahu kenapa, yang ada di pikiranku sekarang hanyalah untuk mendekati ruangan itu. Mencoba mencari tahu apa gerangan yang sedang terjadi. Hingga akhirnya aku pun berdiri tepat di dekat jendela bagian depan kamar Rama yang tertutup rapat.

Ahh Ssshhh Hmmhh, suara desahan wanita terdengar halus dari dalam.

Demi mendengarkan suara itu aku tersentak dan melotot. Darahku berdesir hebat di pipiku. Tanpa pikir panjang lagi, aku langsung tertunduk melewati bagian bawah jendela itu dan melangkahkan kakiku menuju ke bagian jendela kamar Rama yang satu lagi di sisi kiri rumahnya. Jika aku mendengarkan dari situ, suara-suara apapun akan terdengar lebih jelas dan aku juga terhindar dari tatapan orang lain yang mungkin akan melihatku bertingkah aneh di dekat jendela.

Saat aku berada di dekat jendela di samping kamarnya yang juga tertutup rapat, aku hanya bisa berdiri mematung, tak bergerak seperti sedang dipasung. Aku langsung menyesali inisiatif bodohku yang malah tanpa ragu mendekati lokasi ini. Hal-hal gila yang sepatutnya kuhindari sekarang malah terdengar lebih gila.

Uhh Bu Enaakk bangettt Ahh Baru masuk aja udahh enakk, racau seorang lelaki di dalam kamar. Aku tahu itu adalah suara Rama.

Hihi Baru dimasukin udah enak? Terus kalo Ibu goyang kayak ginihh?, balas seorang wanita tak kalah panas.

Aduuhhh Mmmhh Bu! Engghhh Enakk bangett Aaahhh Ahhh! balas Rama dengan jeritan tertahan.

Paru-paruku sontak berhenti bernafas. Jantungku terasa meletup-letup di dalam dada. Seluruh tubuhku bergetar dan terasa gamang. Bibirku yang tak terkatup pun ikut-ikutan bergetar seperti sedang kedinginan. Demi menguatkan pijakan kakiku, kusandarkan bahu dan lengan kananku di dinding. Seakan tak cukup, tangan kiriku pun turut membantu menopang tubuhku. Kukuatkan diriku sekuat-kuatnya agar tak terperenyak jatuh ke lantai batako. Responku jelas jauh lebih parah dari sekadar terkesiap.

Aku sangat mengenali suara wanita yang sedang bersama Rama di dalam kamar. Itu adalah suara Ibu. Dari desahannya, suaranya, dan kata-kata nakalnya, tak bisa dipungkiri lagi kalau dia dan Rama sekarang sedang berhubungan seks.

Hihihi Hmm Sshhh Ini masih pelan lho sayang Sshhh Mau Ibu cepetin nggak goyangnya?, kata Ibu dengan nada genit.

Hukhh Ahh Nggak tau, Bu Kayaknya gini ajahh udah enak bangett Hngghh, jawab Rama. Suara bocahnya terdengar berat.

Huuhhh Nggak bisa! Sshhh Anak nakal kayak kamu harus dihukum! Hmmhh Rasain nihhh!

Aduhh Bu! Aaahh! Ekhhh! Agghh! Ampun, Bu! Aahhh! Rama terdengar kewalahan menahan nafsunya.

Aahh Sshhh Oohh Enak goyangannya sayaangghh? Ahhhsshhh, desah Ibu mesra.

Ookkhh Enak, Bu Aakkhh Jangan cepat-cepat, Bu Ibu! Hngghh! Rama mengeluh nikmat.

Kenapa? Uhh Ssshhh Ahhh Ahhh Takut cepat keluar? Oohh Sshhh

Hnghh Iya, Bu Rama bisa kel Hkkhh Aahhh Bu! Rama mau keluaarr Rama ngghh nggak tahaaannn

Iyaa sayangghh Sshh Keluarinn Ohhh Oohh Aini! Kontol anakmu mau keluar Aini! Ahhh! Ibu memekik tertahan.

Aaakkhhh Ibu seksi bangeett! Rama keluar, Bu! Aaahhh! Hegghh Hnngghhh Haakkhh! Rama terdengar seperti mengejan.

Aku menelan ludah mendengar teriakan tertahan Ibu yang vulgar itu. Kepalaku mendenging dan nafasku menderu. Bahkan di tengah kecemburuanku ini kemaluanku tetap saja mengeras maksimal mendengarkan setiap ocehan pornonya.

Aaahhh Uuuhh Ahhh, Ibu mendesah lirih.

Huhhh Hengghh Huuhhh, suara Rama terdengar lelah.

Hmmm Gimana? Puas? Hehe, tanya Ibu. Suaranya juga mengisyaratkan nafasnya yang masih berat.

Wuiihh Puas banget, Bu Ibu seksi abis, puji Rama di tengah nafasnya yang masih tersengal.

ÔÇ£Huhh! Dasar anak nakal!ÔÇØ umpat Ibu dengan suara mesra.

Rama terkekeh. Sepertinya dia tak peduli dengan apapun sebutan Ibu padanya. Karena saat ini dia sudah mendapatkan kepuasan batinnya.

Aku menyandarkan tubuhku di dinding. Kepalaku berada di bagian sudut kiri bawah dari jendela kamar yang tertutup itu. Telingaku mendengar semua desahan dan lenguhan seksual mereka berdua dengan tubuh yang sudah tak berdaya. Aku ingin menangis, tapi tak bisa. Niatku yang begitu menggebu tadi hilang seketika digantikan dengan diam terpaku. Aku merasa bahwa aku sudah terlambat. Tak ada lagi tindakan pencegahan yang bisa kulakukan jika mereka berdua sudah ke tahap itu. Ternyata selagi aku masih berpikir tadi mereka sudah memulai percintaan mereka. Betapa bodohnya diriku ini.

Sia-sia sudah semua usahaku. Hal yang kutakutkan telah terjadi. Sekarang aku hanya bisa menerimanya dengan segala dampak emosional yang harus kujalani. Keputus asaan akan kecemburuan sudah bertumpuk-tumpuk di dalam dadaku yang panas ini. Entah sampai kapan aku bisa menanggung semua kegilaan yang mereka perbuat, dan entah sampai kapan aku hanya diam membisu seperti ini tanpa berani berbuat apa-apa. Semuanya hanya memberikan dilema bagiku.

Kenyataan sudah berlalu. Aku sekarang bagaikan seonggok bangkai tanpa jiwa yang tak berharga. Berdiri menyandar di dinding rumah orang lain seperti seorang Tuna Wisma sambil menyiksa diriku sendiri dengan suara-suara memilukan. Kudengar di dalam sana Ibu dan Rama asyik bercengkrama. Mereka cekikikan dan bergurau. Mulut Rama tak henti-hentinya memuji tubuh telanjang Ibu yang ditanggapi Ibu dengan kalimat-kalimat genit. Sakit sekali hatiku mendengar pembicaraan intim mereka itu.

Tapi aku merasa ada keanehan yang terjadi pada diriku. Aku tak tahu kenapa aku masih tetap berdiri di sini sementara aku tahu diriku sebenarnya sudah tak sanggup lagi mendengar nuansa kemesraan mereka berdua. Sudah sangat jelas bahwa tubuhku sudah hampir tak sanggup lagi menerima kecemburuan yang begitu menghancurkan mental ini. Tapi kenapa hatiku bersikeras bertahan? Apakah karena rasa penasaran akan bagaimana tingkah polah Ibu yang sedang menikmati seks? Atau karena aku tidak ingin melewatkan setiap waktu yang mereka lalui berdua agar aku tahu seberapa jauh hubungan mereka sekarang? Entahlah. Aku benar-benar bingung.

Mereka berdua terdengar masih asyik mengobrol. Aku mendengar Rama mengatakan kalau aku sedang marah padanya. Ibu sempat terdengar tidak percaya, tapi kemudian Ibu menjawab kalau aku mungkin hanya sedang gusar dan aku pasti akan mengajaknya berteman lagi. Aku yang mendengarkan jawaban Ibu itu pun menerawang. Entahlah apa aku bisa memaafkan Rama dengan semua yang sudah terjadi saat ini. Aku juga tidak yakin yang dibuatnya adalah sebuah kesalahan. Jika memang cintanya pada Ibu adalah sebuah kesalahan, mengapa Ibu membalas cintanya dengan rela memberikan tubuhnya? Bukankah itu artinya mereka sama-sama saling mencintai?

ÔÇ£Lho, Ibu udah mau pulang?ÔÇØ kata Rama. Aku tiba-tiba tersentak dari lamunanku.

ÔÇ£Iya nih. Ntar kalo Bundanya Rama pulang gimana? Repot, kan?ÔÇØ ujar Ibu.

Rama tertawa kecil menanggapinya. Sementara aku di sini panik setengah mati. Aku sudah bersiap untuk lari ketika tiba-tiba saja Rama terdengar menahan Ibu.

Bu, tunggu dulu dong, katanya. Aku kembali fokus mendengarkan.

ÔÇ£Apa lagi sayang? Tadi kan udah?ÔÇØ sahut Ibu.

Emm Sekali lagi dong, Bu. Hehe Boleh ya

Duhh Ibu nggak bisa sayang. Kondomnya kan cuma Ibu bawa satu. Di rumah juga udah abis. Besok-besok lagi ya, kalo Ibu udah beli lagi kondomnya.

ÔÇ£Kondom? Apa itu kondom?ÔÇØ tanyaku dalam hati. Aku seperti pernah mendengarnya, tapi aku tak tahu benda apa itu. Lagipula di tengah kebingungan dan kegalauan ini aku tidak mampu untuk mengingat apa-apa.

Yaahhh Nggak seru deh, ucap Rama memelas.

Hihi Kok nggak seru? Katanya tadi udah puas. Kok minta lagi?

Hehe iya nih, Bu. Pengen sekali lagi, kata Rama cengengesan.

Hmm Ya udah, Ibu kocokin aja, ya? tawar Ibu. Kalo main, Ibu nggak mau. Soalnya nggak ada kondomnya.

Rama terdengar berpikir. Emmm Ya udah deh.

ÔÇ£Eh, tunggu dulu, Bu!ÔÇØ ucap Rama. Dia seperti sedang menahan sesuatu.

ÔÇ£Apa lagi sih?ÔÇØ tanya Ibu.

Ibu buka lagi dong, baju sama celananya, pinta Rama. Ibu telanjang lagi

Jantungku kembali meletup-letup. Permintaan Rama itu memang sangat mesum. Mulutnya terdengar begitu mudah mengucapkan kalimat itu tanpa adanya perasaan segan. Terlebih lagi dia meminta hal itu pada Ibuku. Permainan mereka ini sudah benar-benar gila. Inikah yang mereka lakukan di luar rekaman itu? Segila inikah? Apakah Rama minta kemaluannya dikocok setiap saat oleh Ibu di samping adegan persetubuhannya dengan Ibu? Dan semuanya dilakukan Ibu dengan tanpa busana atas permintaan Rama yang begitu gamblang ini? Anak itu benar-benar sudah keterlaluan. Kalau begini ceritanya, aku tak akan pernah lagi memaafkannya. Seumur hidupku aku tak akan pernah lagi memaafkannya.

Ihh, Rama bikin Ibu repot aja deh, kata Ibu terdengar sedikit kesal. Ya udah deh, Ibu buka. Biar puas nih anak Ibu yang bandel!

Nafasku tersengal-sengal seperti orang yang baru saja berlari. Tubuhku pun kembali gemetar. Aku tak tahan membayangkan apa yang terjadi di dalam sana. Aku tak bisa mengintip dari kaca hitam ini karena aku takut mereka bisa melihatku dari dalam. Lagi pula jika aku ingin melihat ke dalam, tanganku harus tertangkup di sekeliling wajahku agar aku bisa melihat dengan baik, dan itu sangat berisiko. Aku terpaksa hanya menelan ludah cemburu berkali-kali sambil tetap mendengarkan dengan baik kenakalan yang dilakukan Ibuku untuk menjawab permintaan mesum anak biadab itu.

ÔÇ£Wow, Ibu memang cantik banget kalo nggak pake apa-apa, Bu,ÔÇØ ujar Rama kagum melihat tubuh Ibu yang kurasa sudah polos tanpa pakaian.

Ah, yang bener Kalo yang nggak pake apa-apa lagi Bundanya Rama gimana? tanya Ibu genit.

Hehe Nggak tau deh, Bu. Rama bingung.

Hihi Ya udah, sini biar Ibu kocokin

Aku hanya bisa terdiam terpaku mendengarkan aksi ÔÇÿtambahanÔÇÖ dari mereka ini. Walaupun hatiku meradang, tapi aku tak bisa memungkiri bahwa bayangan-bayangan Ibu yang sedang bugil terus bermain mempengaruhi otakku untuk tetap setia berdiri di sini.

Tetangga Rama tidak akan ada yang bisa mendengar. Rumah yang berdiri setelah rumah Rama berjarak sekitar 20 meter. Ditambah dengan pagar yang menutupi rumah ini, mustahil suara-suara adegan seks mereka bisa terdengar oleh tetangga sebelah. Di depan dan di sebelah kanan rumah Rama juga hanya ada tanah kosong. Itulah mengapa nomor rumah Rama bertuliskan angka 1. Jadi sekarang hanya akulah satu-satunya yang menjadi saksi akan peristiwa ini.

Aduhh Bunda Enak Bunda, Rama mengeluh keenakan.

Aku agak terkejut dengan sebutan Rama barusan. ÔÇ£Bunda? Kayaknya tuh anak ngebayangin Bu Aini lagi,ÔÇØ pikirku.

Hihi Enak sayang? ucap Ibu sambil terkekeh. Ohh Rama Burung anak Bunda tegang banget, Nak? Bunda kocokin sampe keluar, ya?

Ahh Iya, Bunda Kocokin burung Rama ya, Bunda, balas Rama. Bunda cantik banget Rama nggak tahan

Sepertinya Ibu tertarik meladeni celoteh Rama itu. Dia terdengar begitu antusias menyambut Rama yang menganggapnya sebagai Bu Aini. Kurasa mereka berdua ingin membuat suasana ini sepanas mungkin. Meskipun aku teramat sakit hati dan cemburu luar biasa, aku tetap tak bisa menahan kemaluanku yang menegang lagi di balik celanaku karena permainan mereka.

ÔÇ£SayanggÔǪ SsshhÔǪ Bunda suka ngocok burungnya Rama, sayang…,ÔÇØ lanjut Ibu lagi semakin memanas. ÔÇ£Burungnya Rama buat Bunda ya, sayang? SsshhhÔǪ MmmhhÔǪÔÇØ

Ahhh Hngghhh Iya, Bunda Burungnya Rama cuma buat Bunda, balas Rama. Kocok terus Bunda Tangan Bunda halus banget Ahhh Enghh Enak Bunda Rama dikit lagi mau keluar, Bunda Ekhh

Uhh keluarin yang banyak ya, sayang Oohhh Ssshh Keluarin yang banyak Bunda mau liat maninya Rama keluar di tangan Bunda, sayang Mmmhh Semprotin semua sayang

Eghh Enghh Bunda Ahhh Bunda cantik banget Bunda cantik banget, suara Rama sudah terengah-engah. Sepertinya dia sudah tak tahan.

Ohhh Hsshh Iya, sayang Bunda Rama yang cantik pengen pejunya Rama, Nak Shhh Cepetan, sayang Ahhh Bunda Rama yang cantik pengen maninya Rama Semprot Bunda, sayang Ibu sepertinya meningkatkan rangsangannya. Suaranya terdengar semakin lantang.

Aku yang berdiri di sini sedikit ketakutan dengan tingkah yang mereka lakukan. Sambil mendengarkan, aku tetap melihat ke arah jalan dari balik pohon palem agak besar yang ada di depanku. Untung saja tidak ada orang yang lewat dari tadi. Walau jaraknya lumayan jauh dan sepertinya mustahil terdengar dari jalan, aku was-was juga dengan suara mereka itu.

ÔÇ£AhhhÔǪ AahhÔǪ BundaÔǪ BundaÔǪ Rama mauÔǪ keluar, BundaÔǪ AkhhÔǪ EkhhÔǪ Rama keluar, BundaaaÔǪ AahhÔǪ! Aaahhhh…!ÔÇØ jerit Rama tertahan.

Ohh iya sayang Ohhh Aaahh Udah keluar, sayang Shhh Terus, sayang Hhsshh Keluarin terus Ohhh Sampe meleleh ke tangan Bunda Ohh Mmhhh Anak Bunda emang nakal Sshhh Ahhh

Ngghh Hkkhh Ahhh Bunda Enak, Bunda Hngghh Enak, Rama terdengar mengejan. Kurasa dia sedang mengeluarkan cairan kenikmatannya.

Untuk sementara aku hanya bisa mendengarkan desahan kenikmatan Rama yang pasti teramat luar biasa. Aku tahu betul seperti apa rasanya. Ibu pernah memberikannya padaku di kamar mandi waktu itu, dan aku tak akan bisa melupakannya.

Tapi saat ini ingatan tentang apa yang sudah diberikan Ibu padaku itu seakan terlempar sangat jauh. Kenikmatan di kamar mandi waktu itu tidaklah sebanding dengan apa yang diperoleh Rama sekarang ini. Dia mendapatkan yang jauh lebih berarti daripada yang kudapatkan. Dan itu akan terus berlanjut entah sampai kapan.

Ketika permainan mereka kedengaran sudah berakhir, tubuhku kembali lemas tak berdaya. Berikut juga kemaluanku yang ikut-ikutan layu dibalik celanaku. Rasa cemburu, marah, bimbang, khawatir, putus asa, semua berkumpul di dalam hati dan pikiranku. Berulang kali hatiku mengutuk keakraban mereka. Berulang kali aku menyalahkan keadaan dan kebodohanku. Tapi tetap saja semuanya telah terjadi. Penyesalan memang tak ada gunanya. Mereka tetap saja menjalankan apa yang mereka inginkan.

ÔÇ£Udah, kan? Ibu pulang, ya?ÔÇØ ucap Ibu dari dalam.

Iya, Bunda. Eh! Bu Hehe, jawab Rama dengan nafas masih ngos-ngosan.

ÔÇ£HihiÔǪ Jadi keterusan manggil ÔÇÿBundaÔÇÖ-nya,ÔÇØ kata Ibu terkekeh.

Setelah itu tidak terdengar lagi adanya obrolan yang mengarah kepada hal-hal yang berbau seks, hanya sesekali kata-kata genit keluar dari mulut mereka. Sepertinya mereka juga sedang berberes-beres untuk menyudahi segalanya. Aku yang mengetahui gelagat-gelagat itu langsung mengendap-endap menjauhi kamarnya, dan melarikan diri sekencang-kencangnya sambil menyambar sandalku yang terdampar di dekat sandal Ibu. Kupegang saja sandal itu ditanganku ketika adrenalinku terpacu untuk kabur. Aku berlari terus tanpa alas kaki dan tanpa henti sampai ke simpang jalan menuju rumahku. Ketika sudah berhenti, aku mencoba mengatur nafasku yang sudah tersengal-sengal.

Hoohhh Huhhh Capek banget Huhhh, ujarku sambil terus mengontrol nafas.

ÔÇ£Mungkin nggak ya, Rama sama Ibu ngeliat gue yang keluar rumah sambil lari-lari tadi?ÔÇØ pikirku. ÔÇ£Ah, kayaknya nggak deh…ÔÇØ

Sebelum nafasku benar-benar pulih, aku sudah melangkahkan kakiku cepat-cepat menuju ke rumah dengan masih tanpa alas kaki. Aku harus cepat sampai di rumah, karena Ibu bisa pulang kapan saja. Saat sudah sampai di rumah, aku menjinjitkan kedua kakiku sambil berjalan ke kamar mandi untuk segera membersihkan telapak kakiku. Setelah itu tak lupa aku membersihkan bekas jejak-jejak kakiku yang agak kotor di atas lantai. Aku tak boleh meninggalkan bukti apapun yang bisa membuahkan pertanyaan dari Ibu nanti. Kuselesaikan semua dengan cepat dan kuakhiri dengan mengunci pintu depan.

Aku masuk ke kamarku. Duduk di tepi ranjang sambil menenangkan tubuh dan pikiran yang sudah sangat kelelahan. Kulirik jam dinding yang ada di belakangku. Waktu sudah menunjukkan hampir pukul 04.00 sore. Aku menghela nafas berat.

Di tengah deru nafasku yang semakin mereda, aku termenung. Luka hatiku yang sakitnya belum hilang sama sekali, kini terbuka lagi. Melihat Ibu dan Rama yang kian hari kian mesra membuatku marah, cemas, dan cemburu tak karuan. Rasa panas membakar itu semakin berkobar di dalam dadaku. Laksana benalu yang senantiasa menempel di pepohonan, rasa sakit hati ini juga setia melekat padaku. Bukan hanya kedekatan mereka yang membuatku terpuruk, tapi ketidakmampuanku untuk memisahkan mereka juga semakin membuatku marah kepada diriku sendiri.

Jika aku harus memilih, pasti aku lebih memilih Ibuku sendiri. Tapi jika aku memang memilih Ibu, berarti aku harus membuat tindakan pada Rama. Tapi tindakan apa? Dengan memarahinya? Tidak! Itu sangat tidak seimbang. Jika aku memarahinya, pasti dia akan meminta maaf padaku. Dan aku juga harus dengan tulus memaafkannya. Seperti itu saja? Perbuatan yang dilakukannya selama ini pada Ibu harus kubalas dengan memaafkannya secara tulus? Hanya itukah? Sementara Rama bisa berlenggang kembali ke Bundanya dengan perasaan ÔÇÿpuasÔÇÖ karena telah menikmati tubuh Ibu? Alangkah indahnya hidup Rama jika aku harus melakukan hal itu. Tapi jika aku membalas dendamku ini dengan jalan kekerasan, itu bisa fatal akibatnya. Bu Ainilah yang akan bertindak kemudian. Aku tak bisa membayangkan seperti apa reaksi Bu Aini nantinya jika aku melakukan itu.

Apa aku beri tahu saja pada Bu Aini tentang hubungan percintaan mereka berdua? Kurasa itu sama saja. kemungkinannya cuma ada dua: Bu Aini minta maaf, atau dia malah menjauhi keluargaku. Itu tetap tak adil buatku. Aku tetap saja jadi orang yang sudah dirugikan. Lagi pula Bu Aini bisa saja menyalahkan Ibu karena dia menganggap Ibulah yang menggoda Rama. Itu malah lebih parah lagi. Bu Aini mungkin saja melaporkan Ibu ke Polisi seperti yang hampir menimpa Kak Dina di sekolahnya yang sebelumnya.

Apakah aku memang harus mengkonfrontir Ibu? Tidak. Aku tak punya keberanian semacam itu. Berbagai jawaban bisa dilontarkan oleh Ibu nantinya, dan untuk itu aku belum siap. Bisa saja Ibu mengatakan kalau dia memang mencintai Rama, dan dia malah meminta izin padaku untuk melanggengkan hubungannya dengan anak itu. Aku rasa aku lebih baik mati atau pergi dari rumah ini jika itu terjadi. Telingaku tak akan sanggup mendengarnya. Itu merupakan mimpi buruk yang terburuk. Lagi pula di sisi lain bisa saja Ibu malah marah besar padaku karena aku tak menyetujui hubungannya dengan Rama. Sementara di belakangku dia bisa saja tetap melanjutkan percintaannya. Siapa yang tahu?

Aku benar-benar bingung. Tak tahu apa yang harus kuputuskan. Semuanya serba salah. Apapun yang hendak kulakukan seperti tak ada yang berbuah jalan keluar. Kepalaku rasanya mau pecah karena pikiran yang begitu berat ini. Otakku membayangkan betapa puasnya Ibu dan Rama yang bisa melampiaskan hasrat dan cinta mereka setiap saat, sementara aku hanya jadi penonton yang bodoh.

Aku tertunduk lesu meratapi nasibku yang begitu tragis ini. Kupegangi kepalaku dengan kedua tanganku untuk mengurangi beban berat di pikiranku. Memang sulit rasanya mempercayai kenyataan yang sudah terjadi. Kak Dina saja tak sanggup untuk memikirkannya, apalagi aku? Seharusnya aku menerima dengan penuh kesadaran bahwa Ibu bukanlah wanita yang bisa kujadikan kekasih. Dia itu Ibuku. Mencintai Ibuku sendiri hanya akan membawaku menuju jurang kegelapan. Tidak akan ada yang menemaniku di sana selain kekecewaan. Cinta ini tidak seharusnya ada. Tapi kenapa pikiran dan perasaan itu tak kunjung hilang?

ÔÇ£PLAKK! PLAKK! PLAKK!ÔÇØ Aku memukul pahaku sendiri. Merasa marah akan keadaan yang begitu menjepit diriku ini. Kekesalan ini tidak bisa dilampiaskan. Rasa sakit di pahaku sangat tak seberapa dibandingkan rasa sakit akan luka hatiku.

Kepalaku menengadah, menatapi langit-langit kamar. Kuhela nafas beratku berkali-kali, tapi tetap tak bisa menghilangkan beban di dadaku. Segalanya sudah terlanjur dalam. Mungkin benar apa kata Bi Ipah. Aku terlalu dewasa untuk memikirkan hal-hal seperti ini. Tapi jika sudah seperti ini, mau bagaimana lagi? Apa aku harus berusaha menolaknya? Aku tidak akan mampu. Jauh di dalam hatiku, aku masih mengharapkan Ibu mengambil jalan yang sama denganku. Harus kuakui, bagai pungguk merindukan bulan, aku masih berharap suatu hari Ibu akan melihatku sebagaimana Ibu melihat sosok Rama. Walau aku tak tahu apakah hari itu akan tiba untukku atau tidak.

ÔÇ£Tito! Ibu pulang nih!ÔÇØ kata Ibu setengah berteriak di depan rumah. Aku langsung tersadar dari lamunanku.

ÔÇ£Iya, Bu! Sebentar!ÔÇØ sahutku. Dengan langkah gontai, aku pun beranjak ke depan untuk membuka pintu.

ÔÇ£Akhirnya dia pulang juga,ÔÇØ pikirku.

Ketika aku membukakan pintu, Ibu melakukan perbuatannya seperti biasa, tersenyum manis padaku bagai orang yang tak bersalah. Jengkel sekali aku dengan tingkahnya yang bagaikan musang berbulu domba itu.

ÔÇ£Lho, Tito kok keringatan, Nak?ÔÇØ tanya Ibu ketika sudah di dalam rumah.

ÔÇ£Aduh! Kacau! Gue lupa ganti baju!ÔÇØ seruku dalam hati. Kulihat bajuku yang memang sangat jelas terdapat bercak-bercak keringat yang membasahinya. Bagaimana aku bisa lupa dengan hal sepenting ini?

ÔÇ£Lho, kok diam aja?ÔÇØ tanya Ibu lagi. ÔÇ£Tito abis ngapain?ÔÇØ

Ngg Nggak ada kok, Bu, jawabku dengan wajah yang kubuat sepolos mungkin. Tito tadi cuma tiduran aja kok. Mungkin gara-gara cuacanya agak panas aja kali, Bu.

ÔÇ£Oh, gitu. Ya udah deh, Tito mandi sana… Lagian udah sore, kan?ÔÇØ

Iya, Bu, jawabku singkat. Lega hatiku karena Ibu tidak bertanya macam-macam lagi. Tapi karena aku melihat Ibu pulang dengan tangan hampa, aku pun iseng balas bertanya padanya, Lho, barang belanjaan Ibu mana? Katanya Ibu tadi ke pasar

Wajah Ibu tampak bingung. Eh, iya, Nak Ibu tadi memang ke pasar. Tapi yang Ibu cari nggak ada. Jadi Ibu pulang aja, ujarnya agak tersendat-sendat.

Ada sedikit kepuasan dalam batinku ketika mempermainkannya seperti ini. Aku ingin tahu sampai di mana kemampuannya mengarang cerita. Aku pun bertanya lagi, Tadi Ibu kayaknya bawa bungkusan deh Itu bungkusan apa, Bu?

Wajahnya semakin bingung. Dia berulang kali menatap ke arah lain ketika sedang membuat-buat alasan. Oh, bungkusan itu? Itu tadi titipan Bi Ipah sama Ibu. Kemaren waktu Ibu ke pasar, Bi Ipah pesan sama Ibu buat beliin dia jamu. Terus jamunya kebawa sama Ibu sampe rumah, jadi Ibu terpaksa ke pasar lagi deh, buat kasih jamunya Hehe

ÔÇ£Hebat juga Ibu ngarang cerita,ÔÇØ pikirku.

Ya udah, Tito mandi sana Udah bau tuh bajunya kena keringat, suruhnya. Sepertinya dia sengaja menyuruhku cepat-cepat mandi untuk menutupi dirinya yang sedang kikuk.

ÔÇ£Iya, Bu,ÔÇØ jawabku singkat sambil berlalu ke belakang. Di dalam hati aku benar-benar dongkol karena segala kebohongannya itu.

Karena kesal, aku pun mandi lebih cepat dari biasanya. Menggosok dan menyabuni seluruh tubuhku kulakukan dengan emosional. Sabun yang kupakai sesekali terpelanting karena terlepas dari tanganku. Aku hanya bermaksud melalui semua kegiatan di luar kamarku sesegera mungkin. Sementara ini aku tak ingin terlalu banyak melihat Ibu. Karena setiap kali aku melihatnya, fungsi otakku pasti akan memburuk karena aku selalu mengingat hal-hal yang seharusnya ada di luar logika. Jiwaku juga pasti akan sakit karena terlalu banyak memendam amarah dan kebencian. Aku tak ingin semua ini merusak diriku.

Seusai mandi aku langsung ke kamarku. Ibu tampak sedang serius menonton TV. Aku berlalu saja di belakangnya. Di dalam kamar, aku mondar-mandir kesana-kemari seperti orang yang sedang gelisah. Entah apa sebenarnya yang sedang kupikirkan saat ini. Berulang kali aku berdiri mematung dan menggeleng, bermaksud menghilangkan segala hal yang berkaitan dengan Ibu dan Rama. Namun tetap saja hasilnya nihil. Baru sekilas saja aku melihat Ibu, racun-racun itu langsung datang merasuki otakku. Entah bagaimana caranya agar aku bisa keluar dari semua ini. Sambil berdecak kesal, kulepaskan handuk itu dari tubuhku. Aku pun berpakaian.

Ketika aku sedang menyisir rambut, kembaranku kembali terlihat. Pecundang ini menatapku dengan tatapan lemahnya hingga dia selesai meniru semua gerakanku. Tercenung aku menatapnya. Tak lama kemudian aku mendengar suara hatinya nyeletuk, Hei, bodoh! Udah dua kali! Liat! Udah dua kali! Kasian deh lu

Aku tertunduk lesu sambil meletakkan sisir ke tempatnya. Perlahan kulangkahkan kakiku ke tempat tidur hingga aku pun berbaring di atasnya. Aku termenung menatap langit-langit kamar. Pandanganku kosong. Satu hari lagi kulalui dengan rasa sakit yang menyiksa. Bagaimana dengan hari demi hari kemudian? Apakah aku bisa bertahan dengan terus-menerus dicekoki oleh kecemburuan luar biasa seperti ini?

Mataku perlahan-lahan terpejam. Kondisiku sudah terlalu lelah menggeluti segala macam kepedihan. Aku pasrah akan kemauan tubuhku yang sepertinya membutuhkan sedikit istirahat. Untungnya otakku berbaik hati. Ia mengeluarkan semua ingatan menyakitkan itu untuk sementara waktu demi membuatku tenggelam ke dalam tidurku.

***

Lembut sekali. Itulah yang kurasakan sekarang. Aku merasa ada yang sedang membelai kepalaku. Kulihat ketiga sosok wanita pujaanku ada di hadapanku. Mereka semua tersenyum. Aku sangat bahagia melihatnya hingga aku pun ikut-ikutan tersenyum. Mereka memanggil namaku dengan suara bak bidadari-bidadari kahyangan.

Tito, sebuah suara terdengar samar-samar memanggilku.

Tito Bangun, Nak.

Kali ini suaranya terdengar lebih jelas. Kesadaranku semakin pulih merespon suara yang sangat akrab di telingaku ini.

Tito Bangun, Nak. Makan dulu yuk.

Aku pun terbangun dari tidurku menanggapi suara yang ternyata adalah suara Ibu yang sedang berusaha membangunkanku. Dia duduk di sampingku, memanggilku dari tadi sambil membelai kepalaku. Dia tersenyum melihatku yang berusaha terjaga. Rupanya yang tadi itu hanya mimpi.

Makan dulu yuk, Nak. Udah jam tujuh tuh, katanya sambil melihat ke arah jam dinding.

Aku pun menoleh ke jam dinding. Ternyata benar, sudah hampir pukul 07.00 malam. Aku kemudian bangkit dari tidurku menuruti perintahnya. Ibu tampak tersenyum, lalu mengajakku mengikutinya ke meja makan. Kulihat dia memakai daster batik coklat tua malam ini.

ÔÇ£Kok Ibu nggak pake baju baru lagi? Apa baju barunya udah abis?ÔÇØ pikirku sekilas.

Agak hening suasana yang kami lalui ketika makan malam. Aku hanya menanggapi omongan Ibu dengan senyum ramah yang dibuat-buat. Ibu sempat bertanya padaku kenapa aku seperti tidak bersemangat. Aku hanya menjawab kalau aku mungkin terlalu letih karena belajar. Ibu hanya mengangguk mafhum mencoba mengerti keadaanku. Tidak ada kecurigaan sedikit pun terpancar dari wajahnya. Mungkin dia memang mengira kalau aku kelelahan.

ÔÇ£Tito ada PR?ÔÇØ tanya Ibu ketika kami sudah selesai makan. Ia sedang menyusun piring-piring dan gelas-gelas kotor.

ÔÇ£Nggak ada, Bu. Rencananya Tito cuma mau pelajarin soal-soal yang dikasih Kak Dina aja.ÔÇØ

Oh, gitu. Ya udah Tapi jangan dipaksain, ya. Ibu takut kalo Tito kecapean ntar malah sakit, terus malah nggak bisa ikut Ujian Nasionalnya. Ibu terlihat cemas.

Aku terdiam dan mengangguk pelan. Iya, Bu

ÔÇ£Ya udah, gosok gigi dulu sana. Ntar kalo rasanya udah capek belajarnya, Tito langsung tidur aja, ya.ÔÇØ

Aku mengangguk lagi, tersenyum tipis. Iya, Bu

Aku pun melangkahkan kakiku menuju kamar mandi. Kuselesaikan ritual tiap pagi dan malam itu dengan pelan tapi pasti. Hingga akhirnya aku kembali ke kamarku, Kukunci pintunya, dan langsung menuju ke meja belajar.

Setelah tidur lebih dari dua jam tadi, sepertinya pikiranku sekarang menjadi sedikit lebih tenang. Aku belajar dengan cukup baik malam ini. Walaupun perkara hubungan mesum Rama dan Ibu itu masih kerap membumbui benakku selama belajar, aku berusaha untuk terus memblokirnya dengan pikiran-pikiran yang lain.

Membayangkan Kak Dina yang tersenyum manis ternyata cukup ampuh untuk mengimbangi pikiran-pikiran buruk. Sosoknya membangkitkan secercah semangat untukku. Di tengah keadaan pelik seperti ini, aku memang sangat membutuhkan seseorang yang bisa dijadikan tumpuan. Dan hanya Kak Dinalah yang ada bersamaku ketika aku benar-benar sendirian. Kak Dina adalah alasan yang kuat bagiku untuk tetap tegar.

Hampir dua jam sudah waktu yang kulalui untuk belajar di dalam kamar. Jam di dinding sudah menunjukkan pukul 09.10 malam. Mataku kini sama temaramnya dengan lampu belajar yang ada di dekatku. Akhirnya kuputuskan untuk menyudahi kegiatanku malam ini. Kumatikan lampu belajar itu dan beranjak ke tempat tidur.

Suara dialog sebuah sinetron masih terdengar dari luar, mengisyaratkan bahwa Ibu masih menonton TV. Aku di atas ranjang sudah memejamkan mataku. Sekilas pikiranku membayangkan sahabat yang sudah berkhianat padaku, Ramadhana Rizky. Aku terpikir akan hari esok yang masih misteri. Apa yang kulakukan jika Rama memang menungguku di simpang jalan? Mengacuhkannya atau tidak? Atau Rama malah tidak menungguku sama sekali? Aku harap Rama memang tidak menungguku. Aku benar-benar tak ingin melihat muka anak itu lagi. Rasa benciku padanya sudah terlalu dalam. Aku tak tahu apakah ini akan menjadi akhir dari persahabatan kami yang manis. Yang bisa kulakukan hanyalah menguatkan diriku sebisa mungkin.

Kak Dina, ucapku dalam hati. Aku mencoba melupakan wajah Rama yang memuakkan itu dengan mengingat Kakak baruku.

Dengan ditemani oleh senyuman Kak Dina yang hadir dalam pikiranku, aku pun terlelap meninggalkan beban-bebanku hari ini.

***

Bersambung…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*