Home » Cerita Seks Mama Anak » Ibuku Cintaku dan Dukaku 17

Ibuku Cintaku dan Dukaku 17

Tito! Bangun, Nak! Udah pagi nih!ÔÇØ terdengar suara Ibu memanggil dari luar kamarku disertai ketukan pintu.

Ngghh, gumamku yang merasa terusik.

Dengan setengah kesadaran aku mencoba untuk membangunkan diriku sendiri. Perlahan-lahan kubuka mataku dan mengedip-ngedipkannya. Aku mencoba melihat-lihat ke sekitar. Tampak ventilasi kamarku sudah menampilkan cahaya matahari pagi dan langit yang mulai membiru di luar rumah. Lalu aku melihat ke sebelah kiri. Jam dinding sudah menunjukkan pukul 06.35 pagi.

Mataku terbelalak melihatnya. Bagaimana bisa sekarang sudah pagi? Aku merasa bahwa aku baru saja tertidur sekitar lima menit yang lalu. Kenapa cepat sekali? Apa aku tidur dengan begitu nyenyak sampai-sampai aku tak menyadarinya?

ÔÇ£Oh, iya!ÔÇØ Aku teringat sesuatu. ÔÇ£Kalo aku ketiduran, berarti aku nggak sempat dong dengerin Ibu nonton tuh video.ÔÇØ

Aku terdiam sejenak. Menghela nafas. Lalu pikiranku buru-buru membantah semuanya yang tersirat di dalam hatiku. ÔÇ£Ah, buat apa sih aku mikirin itu terus? Nggak ada gunanya. Toh semuanya nggak bakal berubah. Malah nanti aku bakal pusing lagi kalo dengerin Ibu lagi ÔÇÿsenang-senangÔÇÖ sama videonya itu.ÔÇØ

ÔÇ£Tito! Udah bangun belum, Nak?!ÔÇØ teriakan Ibu terdengar lagi dibarengi ketukan pintu.

ÔÇ£Iya, Bu! Tito udah bangun!ÔÇØ jawabku.

ÔÇ£Ya udah! Cepetan ya! Ntar telat! Sarapannya udah Ibu siapin tuh!ÔÇØ

Iya, Bu!

Aku turun dari ranjang dan beranjak ke meja belajar untuk mempersiapkan buku-buku pelajaran hari ini. Kumasukkan segalanya ke dalam tas berikut modul Try Out yang dari tadi malam masih terhampar begitu saja tanpa dipelajari. Untung saja hari ini tidak ada PR yang harus dikumpulkan. Kalau tidak aku bisa gawat karena tidak mengerjakan apapun. Setelah semuanya siap, aku bergegas keluar dari kamar.

Ketika sampai di ruang belakang, aku lihat pintu belakang rumah terbuka. Terdengar suara-suara air dan kain yang sedang dibilas. Ibu sepertinya sedang mencuci pakaian-pakaian keluarga Bu Ratmi. Aku berjalan begitu saja ke kamar mandi. Ketika lewat pintu belakang, sekilas aku melihat Ibu yang sedang mengucek pakaian. Pagi ini dia memakai daster warna hijau dengan motif batik dan bunga-bunga. Model daster itu setahuku biasa-biasa saja. Bagian lengannya bermodel lengan tumpuk dan roknya berukuran setengah betis. Bagian dadanya rata seperti daster batiknya yang berwarna coklat tua, jadi hanya sedikit bagian dadanya yang terlihat.

Di dalam kondisi apapun wajah Ibu tetap saja terlihat cantik. Ketika sedang senang, sedang marah, sedang sedih, maupun sedang mengerjakan pekerjaan rumah seperti mencuci baju sekarang ini Ibu tidak pernah tidak enak dipandang mata sedikit pun. Apalagi saat melihatnya tidur? Aku bisa berjam-jam tak pernah bosan memandanginya.

Namun kemudian hati kecilku berbisik, ÔÇ£Udahlah, To. Nggak usah mikirin itu lagi. Semuanya itu cuma khayalan lu aja. Jangan dimasukin lagi ke dalam hati. Nasi udah jadi bubur.ÔÇØ

Dengan muka tertekuk, aku pun meraih handuk dan masuk ke kamar mandi. Kulakukan segala kegiatan rutinitas pagiku dengan cepat. Gosok gigi, mandi, berseragam, hingga kembali ke ruang belakang untuk makan. Tapi ketika aku hendak makan, Ibu ternyata sudah menungguku di meja makan dengan senyum ramahnya seperti biasa.

Aku tidak bisa menghindari hal yang satu ini. Kami memang tak pernah melewatkan acara makan bersama setiap pagi dan malam. Walaupun Ibu sedang mencuci dan makanan sebenarnya sudah siap dari tadi, Ibu tak pernah menikmati sarapan duluan. Dia selalu meninggalkan pekerjaannya dan menungguku keluar kamar untuk mulai sarapan bersama. Untuk itu aku terpaksa menyiapkan batin setegar mungkin guna menghindari emosiku yang sekarang ini gampang tersulut dengan segala sesuatu yang berkaitan dengannya.

ÔÇ£Yuk, makan. Ibu udah lapar nih,ÔÇØ ajaknya padaku dengan senyum ramah.

Aku tersenyum saja sekenanya dan duduk di kursiku. Di hadapan kami sudah ada nasi goreng porsi kecil dengan telur mata sapi, selada, potongan tomat, dan mentimun. Ini adalah makanan khas kami ketika sarapan. Segalanya dalam porsi yang kecil. Alasannya agar aku tidak mengantuk di sekolah dan Ibu juga bisa merawat bentuk tubuhnya. Katanya ini adalah kebiasaan yang diterapkan Nenek padanya waktu dulu. Tapi tidak buat Rama. Setiap dia menginap di sini, porsi miliknya selalu dibuat dua kali lipat. Dia tak terbiasa dengan pola makan seperti itu.

Mengingat statusku yang harus bergegas pergi ke sekolah saat ini, aku pun makan dengan cepat. Ibu sempat tersenyum dan berkata padaku agar makannya dipelankan sedikit karena dia takut aku tersedak. Tapi aku tak mengindahkannya. Aku tersenyum saja sambil tetap melakukan hal yang sama. Setelah selesai, aku langsung menggaet tas ranselku dan menyalami Ibuku seperti biasa. Dia sendiri bahkan belum selesai makan.

Lho, kok cepat amat sih makannya, Nak? Buru-buru lagi Ntar perutnya sakit lho, katanya saat aku mencium tangannya untuk berpamitan.

ÔÇ£Nggak kok, Bu,ÔÇØ jawabku. ÔÇ£Lagian Tito bisa telat nih kalo nggak cepat-cepat.ÔÇØ

Aku berjalan ke depan untuk memakai sepatu. Kusimpul tali-tali sepatuku itu dengan cepat. Setelah selesai aku mengucapkan salam terakhir, ÔÇ£Bu! Tito pergi ya!ÔÇØ

ÔÇ£Iya! Hati-hati, Nak!ÔÇØ serunya dari belakang.

Ketika sudah melangkahkan kaki ke luar rumah, aku berkata dalam hati, Saatnya menjumpai Rama, si Bekicot Sialan

***

Ketika sudah berbelok di persimpangan jalan rumahku, dari jauh aku sudah bisa melihat Rama yang berdiri menunggu dengan seragam putih merahnya. Dia tampak melambaikan tangannya dan kemudian melakukan gestur ÔÇÿmemanggilÔÇÖ sebagai isyarat agar aku bergegas. Aku hanya berlari kecil saja menanggapinya. Begitu sampai di tempatnya menunggu, aku langsung mendapatkan omelan darinya.

ÔÇ£Lu lama amat sih?! Ngapain aja di rumah? Ketiduran?!ÔÇØ repetnya.

Lu diam aja deh, Ram Gue lagi nggak mood nih dengerin lu ngomel-ngomel. Gue udah ada di sini, kan? Ya udah yuk, lanjutin aja jalannya.

Rama langsung terdiam. Sepertinya dia tak menyangka aku akan menjawab sedemikian dingin dan ketus. Biasanya aku akan cengengesan atau tersenyum jika dia sedang mengomeliku, tapi itu semua tidak ada kali ini. Bahkan sepanjang perjalanan aku hanya diam dan menatap ke arah lain. Entah kenapa aku saat ini sangat-sangat tidak ingin melihat wajahnya. Wajahnya itu hanya akan mengingatkanku akan kenikmatan yang dirasakannya ketika dia bercinta dengan Ibu.

To, Rama memanggilku.

Hmm? sahutku asal. Pandanganku lurus ke depan.

ÔÇ£Lu lagi marah sama gue, ya?ÔÇØ tanyanya memastikan. Pertanyaan yang selalu menghiasi bibir kami jika salah satu di antara kami ada yang kelihatan diam saja.

ÔÇ£Nggak. Gue cuma lagi nggak mood aja,ÔÇØ kataku mengarang alasan.

ÔÇ£Lu ada masalah sama Ibu lu di rumah?ÔÇØ tanya Rama menyelidik.

Pertanyaan Rama bagaikan satu galon bensin yang menyiram api kecil di dalam dadaku. Amarahku berkobar seketika ketika mulut lancangnya itu menyinggung mengenai Ibuku. Dada dan nafasku terasa sangat panas. Ingin sekali aku menghajarnya hingga babak belur dan tergeletak tak berdaya di jalan ini. Bahkan aku ingin sekali membunuhnya sekarang juga agar dia tak pernah bertemu Ibuku lagi. Tapi ketika emosiku memuncak, wajah Bu Aini langsung terlintas di pikiranku. Aku tak sanggup melihat wajah wanita yang selalu kusayangi dan kupuja itu berlumuran air mata melihat anak kesayangannya hancur lebur karena kebrutalanku. Aku juga lebih tak sanggup lagi melihat Bu Aini mengutuk dan memusuhi keluarga kami seandainya aku melakukannya. Jasanya sudah terlalu banyak bagi keluarga kami.

Eh, To Kok diam aja? tanyanya yang sedari tadi melihat aku terdiam sedang memendam kemarahan.

ÔÇ£Nggak. Gue nggak ada masalah sama Ibu gue,ÔÇØ jawabku datar.

ÔÇ£Jadi?ÔÇØ sambungnya lagi.

ÔÇ£Gue punya masalah sama lu, brengsek!ÔÇØ teriakku dalam hati.

ÔÇ£Udahlah, Ram. Pokoknya gue lagi nggak mood, itu aja,ÔÇØ kataku beralasan. Aku masih mencoba memendam emosiku.

ÔÇ£Apa lu lagi punya masalah sama Bu Dina?ÔÇØ tanyanya sambil tersenyum, ÔÇ£Bu Dina kemaren marahin lu, ya? Atau mungkin lu ditampar sama dia?ÔÇØ

Emosiku pun naik lagi mendengar Rama yang sepertinya mulai bercanda. ÔÇ£Lu mau kalo lu yang gue tampar sekarang? Mulut lu bisa diam nggak sih?!ÔÇØ

Demi menatapku yang memasang wajah serius dan beringas padanya, Rama pun akhirnya diam. Tapi tampaknya dia diam karena merasa kini aku sedang sangat marah padanya, bukan karena aku tidak mood sebagaimana alasanku tadi. Alhasil sepanjang perjalanan ke sekolah kami lalui dengan diam satu sama lain. Keadaan yang sebenarnya ingin kuhindari dari rumah tadi kini terjadi juga. Walaupun dengan penyebab yang berbeda.

Hingga saat kami berdua sudah di dalam kelas pun Rama tetap tidak bersuara lagi. Dia malah mencari teman lain untuk diajak bicara. Kalau sudah begini, biasanya akan memakan waktu cukup lama bagi kami untuk kembali saling bercakap-cakap lagi. Aku benar-benar menyesalkan emosiku yang meluap-luap tadi. Kalau saja aku bisa mengendalikan emosiku, mungkin ÔÇÿsalah kaprahÔÇÖ tidak akan terjadi. Kini aku harus menghadapi situasi canggung bersama Rama.

***

Wwuuuiiinngg Wwuuiiinngg Wwuuuiiinnggg, bel sekolah kami yang aneh akhirnya berbunyi.

Rama pun duduk di sebelahku setelah sekian lama mengobrol dengan teman satu kelas yang lain sedari tadi. Dan benar saja, dia masih bungkam padaku. Aku yang diperlakukan seperti itu pun tak punya alasan untuk mengajaknya berbicara. Karena peristiwa salah kaprah tadi masih belum lama, jadi keadaan emosi kami berdua belum stabil.

Namun entah kenapa jantungku tiba-tiba berdebar kencang ketika jam-jam pelajaran akan dimulai. Sepertinya jantungku menanggapi ÔÇÿrayuanÔÇÖ dari otakku yang mengatakan bahwa Kak Dina akan hadir sebentar lagi. Ajaibnya pikiran-pikiran tentang Ibuku dan Rama yang membuat kecemasan itu pun sirna. Tubuhku sedang menunggu respon akan kehadiran Guruku itu.

Belum sampai 30 detik aku melamunkannya, Kak Dina pun sudah tampak dari kaca nako kelas kami sedang berjalan ke sini. Ketika dia masuk ke kelas dengan seragam PNS-nya, dia langsung melirik ke arahku. Aku refleks tersenyum padanya, dan Kak Dina pun membalas tersenyum. Tapi kemudian dia melihat ke arah muridnya yang lainnya agar tidak terkesan mencurigakan.

Sekarang otakku malah memutar balik setiap adegan yang kulalui bersama Kak Dina dua hari yang lalu. Kemaluanku menegang seketika di dalam celanaku. Aku terpaksa sedikit menunduk dan meletakkan lenganku di atasnya agar tidak ada yang mencurigai celanaku yang sedang bergerak-gerak ke atas. Untungnya waktu kulihat ke sebelah kanan, teman-temanku tak ada yang menyadarinya. Mereka fokus melihat ke depan untuk mendengarkan Kak Dina mengabsen kami satu per satu.
Aku yang sedang tertunduk terus menunggu sampai Kak Dina memanggil namaku. Kutatap Guruku itu dari balik tubuh temanku yang duduk di depan Rama. Wajah cantiknya seakan memperjelas ingatanku ketika bersamanya dua hari yang lalu. Penisku benar-benar mengeras ketika mengingat diriku dan wanita cantik yang sedang mengabsen itu berbaring di atas ranjangnya tanpa mengenakan apa-apa lagi di tubuh kami.

Aku tak akan melupakan saat-saat ketika aku membuka seluruh pakaiannya. Masih kuingat dengan jelas bagaimana aku menarik lepas tanktop dan BH-nya hingga aku melihat kedua buah dadanya yang membulat penuh. Lalu dia berdiri di depan mataku dengan senyum menggoda, dan memintaku untuk memelorotkan celana jeans mini berikut celana dalamnya. Seluruh tubuhku gemetaran saat itu. Aku ingat ketika dia berbalik badan dan menghadapkan celana dalamnya yang berwarna biru itu di depan mataku. Disenggol-senggolkannya pantatnya ke wajahku dengan kelakar yang sangat nakal. Aku yang tak bisa menahan diri ini langsung menempelkan seluruh wajahku untuk menghirup sela-sela pantatnya. Sensasinya sungguh luar biasa. Seluruh tubuhku langsung memanas ke titik didihnya. Apalagi saat di mana aku membuka celana dalamnya. Air maniku seakan ingin menyembur keluar ketika melihat bongkahan pantat semoknya yang berisi dan padat itu tepat di depan mataku.

ÔÇ£Aduh! Gimana nih?! Burung gue jadi tegang banget!ÔÇØ kataku dalam hati. Risih sekali rasanya membetulkan posisi penis yang mencuat seperti ini.

Aku berusaha keras melupakan adegan-adegan itu dari pikiranku. Tapi semakin mencoba kulupakan, pikiran itu datang lagi. Aroma celana dalam Kak Dina yang begitu menggiurkan masih membekas di benakku. Ditambah lagi dengan adegan ketika kami menggeliat-geliat di atas ranjang, saling merangsang dan memberi kenikmatan kepada kemaluan kami satu sama lain hingga membuat kami mengejang karena orgasme yang hebat. Sungguh pengalaman yang di luar nalar.

Aku yang notabene anak seumur jagung dan belum mengenal apapun soal wanita menganggap itu merupakan kejutan yang tak terkira. Merasakan berciuman saja sudah sangat mengejutkanku, apalagi bermain-main dengan kemaluan bersama lawan jenis? Itu berkah. Aku tak pernah membayangkan kalau aku akan diajak melakukan perbuatan senikmat itu oleh wanita yang tak lain adalah Guruku sendiri yang selama ini hanya menjadi khayalanku, Kak Dinaku yang cantik.

ÔÇ£Tirto Abimanyu Jatmiko!ÔÇØ seru Kak Dina memanggil namaku.

ÔÇ£Hadir, Kak!ÔÇØ balasku berseru lantang sambil mengangkat tangan.

Hahahahaha Hahaha Hahaha, seketika suara tawa menggema di dalam kelas. Bahkan Rama juga tidak bisa menahan untuk tidak tertawa.

Aku benar-benar tak sadar dengan ucapanku. Karena asyik melamunkan hal-hal mesum bersama Kak Dina, aku jadi terbawa suasana. Aku lupa akan status kami berdua di sekolah. Praktis aku hanya bisa menggaruk-garuk kepalaku yang tak gatal sambil melirik-lirik ke wajah teman-temanku yang sedang melihatku dengan tatapan lucu. Sempat kulihat juga Kak Dina di depan melotot ke arahku sambil nyengir.

Penisku menciut seiring padamnya nafsuku. Pikiran-pikiran mesumku tadi terlempar entah ke mana. Entah kenapa aku sedikit berlega hati juga Rama menertawakanku tadi. Setidaknya kecanggungan kami berdua tak seketat tadi.

Suryo yang tertawa paling keras pun nyeletuk dari sudut kelas, ÔÇ£Kamu lagi mabuk ya, To?! Sejak kapan Bu Dina jadi Kakakmu?ÔÇØ

Teman-temanku yang lain pun semakin tertawa karenanya. Aku cuma bisa nyengir kuda sambil sesekali melirik Kak Dina yang tampak tersenyum simpul di depan sana. Suryo mengejek hanya karena tak tahu hubunganku dengan Kak Dina yang sebenarnya. Jika saja dia tahu, mungkin mulutnya akan menganga karena tidak menyangka.

ÔÇ£Udah-udah! Semuanya diam!ÔÇØ ucap Kak Dina tegas.

Semuanya pun diam dan hening. Lalu Kak Dina kembali memanggil nama-nama yang tersisa sebelum memulai proses belajar mengajar. Ketika belajar mengajar sedang berjalan, fokusku ke papan tulis perlahan-lahan melemah. Pikiranku kembali teringat akan Ibu di rumah. Apa yang sedang dilakukan Ibu sekarang? Apakah masih mencuci? Atau sedang menonton video-video itu? Jika memang benar dia sedang menonton rekaman itu, pasti dia bisa bebas sekarang tanpa adanya keberadaanku di rumah.

Kira-kira apa yang akan dilakukan Ibu di hari-hari kemudian dengan anak yang duduk di sebelah kiriku ini? Apakah mereka akan kembali bersenang-senang? Apakah mereka akan kembali melakukannya di rumah? Apakah nantinya aku bisa memergoki mereka? Kurasa tidak. Aku tak pernah berharap akan memergoki mereka dengan mata kepalaku sendiri. Bisa mati berdiri aku melihatnya.

Kumundurkan posisi dudukku. Sesekali kulirik Rama dari setiap aspek yang dimilikinya. Ganteng? Kurasa tidak. Punya tubuh yang bagus juga tidak. Bersikap dewasa? Apalagi. Rama masih kekanak-kanakan sama sepertiku. Pintar? Tidak terlalu. Banyak uang? Tak mungkin. Bu Ainilah yang punya banyak uang, bukan Rama. Lagipula Ibu juga bukan orang yang materialistis. Jadi apa sih yang dilihat Ibu darinya? Apakah karena dia bisa bermain seks? Kalau untuk hal itu aku tidak tahu. Aku tidak pernah mendengar dari mulut Ibu sendiri bagaimana perasaannya ketika bersetubuh dengan Rama.

ÔÇ£Sampai kapan sih, gue mesti mikirin ini terus? Nggak ilang-ilang nih, dari otak!ÔÇØ batinku.

Kutarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan untuk menenangkan rasa sesak di dada. Kucoba melanjutkan pelajaran walau fokusku sudah tersebar ke mana-mana.

Sejak awal belajar, istirahat, hingga bel tanda pulang sekolah berbunyi beberapa menit yang lalu, Rama tetap bungkam. Enggan berbicara denganku. Sepertinya kata-kataku tadi pagi memang agak menyakitkan. Dia kembali membawa suasana canggung padaku setelah kupikir tadi dia sudah melunak. Ternyata dugaanku salah. Rama agaknya memang sedang menerapkan apa yang kusuruh dengan begitu emosionalnya tadi pagi. Untuk diam dan jangan mengoceh.

Saat ini aku dan Rama sedang memasukkan buku-buku ke dalam tas kami masing-masing. Agak lama kami melakukannya. Aku rasa apa yang sedang dipikirkan Rama sama dengan apa yang kupikirkan. Kami sama-sama sedang bingung untuk berkata apa. Ketika dia hendak menyandang tasnya, dia melirik ke arahku. Aku pun kebetulan melirik padanya.

ÔÇ£Gue duluan ya, To,ÔÇØ ucapnya datar.

Aku mengangguk saja. Mulutku masih belum bisa berkata apa-apa. Aku melihatnya keluar sendiri bersama teman-teman sekelasku yang lain. Dalam hati aku berujar, ÔÇ£Maaf, Ram. Aku memang lebih pengen sendiri dulu sekarang ini.ÔÇØ

Di dalam kelas kini hanya menyisakan aku dan Kak Dina. Dia sedang sibuk menyusun buku-buku kami yang kami kumpulkan ketika mengerjakan sebuah tugas yang diberikannya tadi. Sepertinya dia tak menyadari aku masih berada di dalam kelas. Aku yang melihatnya begitu sibuk berinisiatif untuk membantunya. Aku berdiri dari kursiku.

Bunyi kursiku yang bergeser mengagetkan Kak Dina. ÔÇ£Eh, Tito masih di dalem? Kakak pikir udah keluar tadi.ÔÇØ

Aku tersenyum dan mendatanginya ke mejanya. ÔÇ£Sini Tito bantuin Kak.ÔÇØ

ÔÇ£Udah selesai kok. Tinggal dilipat aja buku-bukunya, terus dibawa ke kantor,ÔÇØ ucapnya.

ÔÇ£Oh, gitu. Sini biar Tito aja yang bawain, Kak,ÔÇØ ujarku menawarkan bantuan.

Kak Dina tersenyum tanda setuju. Namun ketika aku hendak mengangkut seluruh buku itu, dia menahan tanganku. ÔÇ£Tunggu dulu, Dek. Kakak mau ngomong.ÔÇØ

Aku menatap wajahnya. ÔÇ£Ngomong apa, Kak?ÔÇØ

ÔÇ£Mending Tito ambil kursi dulu deh, biar ngomongnya enak,ÔÇØ anjurnya.

Aku pun menurut dan langsung menggeret salah satu kursi temanku yang ada di depan. Aku duduk di samping mejanya. Kak Dina tampak melihatku dengan wajah ramah dan tersenyum seperti biasa. Kelihatannya dia ingin membicarakan hal yang menyenangkan.

ÔÇ£Tito tadi kok nggak konsentrasi lagi sih, sama pelajarannya?ÔÇØ tanya Kak Dina. ÔÇ£Mikirin apa lagi?ÔÇØ

Aku terperanjat. Ternyata Kak Dina tak membicarakan hal menyenangkan seperti dugaanku, tapi malah hal yang tak terduga sama sekali. Rupanya dia menyadari kalau aku tadi memang tidak begitu memperhatikan pelajaran. Sekarang apa yang harus kulakukan? Apa aku harus mengatakan semuanya? Atau berbohong saja?

Kalau aku berbohong sepertinya akan ketahuan. Akhirnya aku memilih untuk berkata jujur. ÔÇ£Iya, Kak. Tito tadi memang nggak terlalu merhatiin pelajaran.ÔÇØ

Kak Dina tersenyum. ÔÇ£Iya, Kakak tau. Tapi kenapa?ÔÇØ

Aku menghela nafas berat dan tertunduk. Sesaat kemudian aku berkata lirih, Ibu, Kak

ÔÇ£Ibu? Ibu kenapa, Dek?ÔÇØ tanyanya dengan suara rendah.

Aku terdiam sebentar. Ngg Ibu, kata-kataku terputus.

Kak Dina tampak menunggu penjelasanku. Sementara aku sangat jeri untuk melanjutkan cerita. Di kepalaku terulang lagi kilasan-kilasan dari video-video yang menyakitkan hati itu. Tampilan yang tersaji di layar handycam Rama, desahan dan erangan kenikmatan mereka berdua, sungguh semacam pukulan telak bagiku. Sakitnya masih terasa sampai sekarang. Jika harus membandingkan petualanganku dengan petualangan Rama, jelas akulah yang kalah. Ibuku adalah orang yang paling kucintai dan kusayangi di dunia ini melebihi yang lainnya. Dialah tokoh sentral di dalam hatiku.

ÔÇ£Ibu kenapa, Dek? Ngomong dong?ÔÇØ Kak Dina ikut tertunduk demi menyaksikan wajahku.

Ibu udah bukan punya Tito lagi, Kak, kataku lirih.

ÔÇ£Ibu bukan punya Tito lagi?ÔÇØ Dahi Kak Dina mengernyit. ÔÇ£Maksudnya apa, Dek?

Kunaikkan wajahku sedikit. Ibu udah begituan sama orang lain, Kak, ujarku lemah.

Haahh? Ibu, kata-kata Kak Dina terputus. Wajahnya tampak sangat terkejut.

Aku menatapnya sambil mengangguk lemah.

ÔÇ£Tito tau dari mana, Dek?ÔÇØ

Aku menghela nafas berat. Dari handycam-nya Rama, Kak

Apa?! Handycam-nya Rama?! wajah Kak Dina lebih kaget dari yang tadi. Matanya melototiku. Tunggu dulu! Jangan bilang kalo yang begituan sama Ibu itu

Iya, Kak, kataku memotong. Ibu main sama Rama

Astaga! Kak Dina spontan menutup mulutnya. Terkesiap dan melotot ke arahku. Tito nggak lagi bercanda kan, Dek?!

Aku menggeleng dan menatapnya lesu. Lalu tertunduk lagi sambil memainkan jari-jariku. Aku tahu Kak Dina pasti akan merespon seperti itu. Bagaimana tidak? Kemarin reaksiku bahkan jauh lebih parah daripada dia sekarang ini. Aku bisa saja pingsan kalau aku tak bisa mengendalikan emosiku.

Kak Dina melepaskan tangan yang menutup mulutnya. Raut wajah shock-nya tampak berpikir. ÔÇ£Jadi dugaan buruk Kakak ternyata benar?ÔÇØ

Aku menatapnya, ikut mengernyitkan dahi. ÔÇ£Maksud Kakak?ÔÇØ

Waktu Tito cerita masalah pil KB di rumah Kakak dua hari yang lalu, Kakak sempat mikir Buat apa Ibu minum pil KB? Lagian Tito juga bilang kalo Ibu minumnya udah lama, dan rutin setiap malam, kan? Kakak sempat ragu juga kalo Ibu emang ngelakuin itu buat Tito. Karena bisa aja ada kemungkinan lain. Bisa aja Ibu ngelakuin itu karena dia lagi ngejalin hubungan sama laki-laki lain. Tapi waktu itu Kakak nggak mau berprasangka buruk dulu sama Ibu.

Aku mendengarkan penjelasannya dengan saksama. Aku tak menyangka ada kemungkinan seperti itu. Kenapa tak terpikirkan olehku sebelumnya? Apa karena aku terlalu bahagia sampai-sampai aku tidak menyadari adanya kemungkinan itu? Aku memang bodoh.

Kak Dina tampak berpikir. Disapunya kedua pelipisnya dengan kedua tangannya, lalu mendongak ke atas. Dia menghela nafas berat. ÔÇ£Kakak nggak nyangka kalo Ibu sekarang memang ada ÔÇÿmainÔÇÖ sama laki-laki lain. Dan yang bikin Kakak lebih nggak nyangka lagi, dia ngelakuin itu samaÔǪ Rama?ÔÇØ Wajahnya kelihatan jengah ketika menyebut nama Rama. Sepertinya Kak Dina juga tak bisa menerima.

Aku melengos dan melihat ke tumpukan buku yang tertumpuk dan terlipat rapi di atas mejanya. Sejenak aku termenung. Kulihat nama Toni Darmawan tertulis di salah satu sampul buku. Buku Toni memang berukuran besar, jadi bukunya terletak di bagian terluar dari tumpukan. Aku teringat akan janji-janji yang selalu kuucapkan pada Ibu. ÔÇÿAku akan jadi anak yang hebat, akan jadi anak yang terbaik dan berbakti pada Ibu, dan akan menjadi anak yang membahagiakan IbuÔÇÖ. Di sekolah ini, aku memulai semuanya. Dari buku yang tertumpuk ini, akan kucapai cita-citaku setinggi langit.

Tapi semuanya tampak sia-sia saja. Ibu seakan tak perlu akan semua itu. Aku berupaya keras agar aku bisa mendapatkan segala kasih sayangnya. Belajar keras, membantunya bekerja, mematuhi segala perintahnya, apapun kulakukan untuknya. Tapi dari belakang, dia tega menghunjamku dengan sembilu menyakitkan. Apakah aku anak yang tak berguna? Apakah Ibu lebih menginginkan anak seperti Rama?

Mataku mengabur. Pandanganku seperti diselimuti oleh air. Ternyata aku mulai meneteskan air mata. Kak Dina memanggil namaku, memegang bahuku seraya berkata agar jangan menangis. Tapi tatapanku tetap tak berpaling dari tumpukan buku-buku itu. Air mataku terus berlinang.

Kak Dina menyeret dan merapatkan kursinya tepat ke sebelah kursiku. Dia duduk di sebelahku dan langsung memelukku erat. Diciumnya kepalaku dengan penuh kasih sayang dan mengusap-usap punggungku untuk menenangkan emosiku yang sedang meluap.

Ibu jahat banget, Kak Ibu jahat banget sama Tito, rintihku pilu di dalam dekapannya.

Iya sayang, Kakak ngerti kok Kakak ngerti, ujar Kak Dina dengan suara serak. Puasin aja nangisnya sayang Puasin aja nangisnya biar bebannya ilang

Aku pun menangis sepuasnya. Kulepaskan semua sakit hatiku di dalam dekapan Kakakku. Rasa hancur dan ketidakberdayaanku kukeluarkan semua melalui tangisan itu. Aku tak tahu sudah berapa banyak air mata yang kukeluarkan dan membasahi seragam hijaunya. Aku hanyut begitu saja dalam kesedihan.

Kak Dina pun terdengar terisak. Kurasa dia juga ikut menangis. Aku yang tak tega akhirnya menghentikan sedu sedanku. Aku melepaskan diri dari pelukannya dan menatap Kak Dina. Air matanya sudah mengalir.

Lho? Kakak kok nangis juga? ucapku dengan suara serak dan masih terisak.

Kak Dina buru-buru menghapus sendiri air matanya. Eh, hehe Nggak apa-apa kok

Setelah itu diusapnya air mataku yang berlinang begitu banyak memenuhi wajahku dengan tangannya. Dia menunjukkan senyum manisnya untuk menghiburku. Sebenarnya ada sedikit rasa malu ketika aku menghadapkan wajahku yang sedang menangis di hadapannya, tapi aku sudah tak kuat lagi. Aku tidak punya teman berbagi selain dirinya.

Udah Jangan nangis lagi, ya. Kakak selalu ada kok buat Tito, ucapnya sambil tersenyum lebar.

Kata-katanya itu malah membuat air mataku mengalir deras. Tapi kali ini merupakan tangis bahagia. Makasih ya, Kak Tito senang banget punya Kakak

ÔÇ£Iya-iya, sama-sama,ÔÇØ ucapnya seraya kembali memelukku.

Aku bertahan di dalam pelukannya sejenak. Menikmati keakraban yang terjadi. Kak Dina mengelus-elus kepalaku hingga tangisku mereda.

ÔÇ£Udah, ah! Malu dong dipeluk sama Kakak terus,ÔÇØ ujar Kak Dina yang kemudian melepaskan pelukannya.

Aku terkekeh dengan suara serak. Kak Dina menghapus air mataku lagi. Walau kepalaku sekarang berdenging karena tekanan batin dari tangisan tadi, hatiku jadi agak lega sekarang. Setidaknya beban berat yang kurasakan cukup banyak berkurang. Aku lega karena kini aku punya seseorang yang bisa kujadikan tempat berkeluh kesah.

Ya udah Sekarang Tito ke toilet, bersihin mukanya, terus pulang, ujarnya sambil memegang kepalaku.

ÔÇ£Lho? Buku-bukunya gimana, Kak?ÔÇØ jawabku sembari melihat ke arah tumpukan buku.

Hihi Nggak usah dipikirin deh, masalah bukunya. Kakak juga bisa bawa kok, katanya sambil tertawa kecil. Yang penting Tito pulang dan jangan mikirin masalah itu lagi. Ingat! Nggak boleh musuhin Ibu gara-gara kejadian ini, ya. Apalagi ngelawan Ibu. Kakak nggak suka itu. Tetap jadi anak baik buat Ibu sama Kakak, ya.

Aku mengangguk saja dan mematuhi segala nasihatnya. Walaupun sebenarnya hatiku belum yakin kalau aku bisa melupakan masalah itu begitu saja, tapi aku harus mencoba. Aku tak mau terus-terusan menderita dan terpuruk.

ÔÇ£Kalo gitu, Tito pulang dulu ya, Kak,ÔÇØ kataku berpamitan.

Iya. Sini sayang Diraihnya kepalaku, lalu diciumnya kedua pipiku. Mmmuuaaahh Mmmuuahhh

Aku tersipu malu dan tersenyum simpul. Untunglah kelas kami terletak di sudut koridor sehingga tidak ada orang yang lewat melihat adegan manja ini.

Satu lagi pesan Kakak, katanya sambil memegang tanganku.

ÔÇ£Apa, Kak?ÔÇØ

ÔÇ£Besok-besok jangan kelepasan nyebut ‘Kakak’ lagi, ya,ÔÇØ ujarnya sambil tersenyum dan menunjuk wajahku.

Oh, hehehe Tadi nggak sengaja, Kak, ucapku cengengesan. Abisnya Tito teringat waktu di rumah Kakak sih Jadi nggak bisa konsentrasi.

Kak Dina nyengir dan mengacak-acak rambutku. Ikhh Ini pikiran adeknya Kakak kok mesum banget sih? Udah, pulang sana! Ntar dicariin Ibu lho.

Hehe Iya, Kak. Aku pun melangkah ke luar kelas.

ÔÇ£Tito hati-hati ya, Dek,ÔÇØ ucapnya melepas kepergianku.

Iya, Kak, sahutku.

Aku berlari ke toilet yang berada di ujung sekolah, di dekat ruang guru. Tepatnya di ujung koridor ini juga. Untung saja tidak ada lagi murid kelas lain yang terdeteksi. Semuanya sudah pulang. Kalau tidak, bisa fatal akibatnya. Ketampananku akan terlihat sangat cupu dengan wajah sembab seperti ini.

Setelah selesai membasuh wajahku, aku keluar dari toilet. Saat aku melewati ruang guru bermaksud hendak keluar dari sekolah, aku sempat melihat Kak Dina yang ternyata sudah ada di dalam sana sedang mengatur mejanya. Aku tersenyum tipis sambil melenggang ke luar sekolah.

***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*