Home » Cerita Seks Mama Anak » Ibuku Cintaku dan Dukaku 16

Ibuku Cintaku dan Dukaku 16

Kututup pintu kamar Ibu agar tak menimbulkan kecurigaan nantinya. Sambil berjalan perlahan ke pintu depan, kuseka air mata di wajah dan ingus yang mengalir di hidungku dengan baju kaos yang kupakai untuk menghindari pertanyaan Ibuku. Setelah aku yakin wajahku benar-benar bersih dari bercak ÔÇÿkepedihanÔÇÖ, aku mengontrol nafasku senormal mungkin dan memutar gagang pintu itu.

Senyum manis Ibu pun menyambutku ketika pintu terbuka. Namun senyuman itu sekarang malah terasa sebaliknya. Seperti racun yang menyakitkan. Senyuman yang selama ini dijadikannya sebagai kedok sempurna akan kebohongan dan muslihatnya. Senyuman yang telah mempermainkanku dalam ketidaktahuan, kepolosan, dan kebodohan yang kumiliki. Barulah aku tahu bahwa ternyata itu hanyalah senyuman palsu yang tak lebih berharga dari seonggok sampah.

Ketika dia sudah masuk ke dalam rumah dan pintu depan tertutup, senyuman palsu itu hilang dari wajahnya. Dia lalu memperhatikan wajahku lamat-lamat. Sepertinya dia menyadari ada kelainan di raut wajahku. Bekas-bekas kedukaanku tadi agaknya telah menyisakan efek sembab yang tak mampu kuhilangkan hanya dengan mengusap-usapnya dengan baju kaosku. Dia pun mengetahuinya.

ÔÇ£Lho? Tito kenapa Nak? Kok kayak abis nangis?ÔÇØ tanyanya dengan wajah cemas.

Aku yang terperanjat segera memikirkan dusta yang harus kulontarkan padanya. Aku pun berkata dengan suara agak serak, Oh, itu, Bu Tadi Tito teringat ceritanya Kak Dina kemaren. Tito jadi sedih, Bu

ÔÇ£Ceritanya Kak Dina? Memangnya Kak Dina cerita apa, Nak?ÔÇØ tanyanya menyelidik

Ngg Itu, Bu Cerita tentang keluarganya dulu, jawabku tak kehabisan akal.

ÔÇ£Tentang keluarganya? Keluarganya kenapa, Nak?ÔÇØ

Emm Keluarganya Ngg, aku masih mengingat-ingat cerita Kak Dina kemarin.

ÔÇ£Ya udah, Tito duduk dulu sini sama Ibu sambil cerita,ÔÇØ potongnya yang kemudian menggaet tanganku dan mengajakku duduk di kursi tamu.

Ketika kami sudah duduk, Ibu memperhatikan wajahku yang agak tertunduk seakan menungguku untuk mulai buka mulut menceritakan segalanya. Keadaan lengang beberapa saat ketika aku sedang merangkai kisah keluarga Kak Dina di dalam pikiranku. Kedua alisku mengernyit kusut. Entah kenapa aku sangat berat dalam mengingat sesuatu kali ini. Biasanya ingatanku sangatlah tajam. Tetapi karena yang duduk di sebelahku merupakan tokoh utama dalam video porno yang kutonton tadi, seisi kepalaku sekarang malah diwarnai oleh adegan-adegan mesum yang telah dilakukannya bersama Rama. Aku jadi tertunduk terus karena tak bisa berkonsentrasi dengan benar.

Lho, kok diam aja? Katanya tadi mau cerita sama Ibu, katanya ramah sambil mengusap kepalaku.

Aku melirik padanya sekejap dan mengangguk ringan.

ÔÇ£Ya udah, cerita dong sama Ibu,ÔÇØ sambungnya lagi disertai senyum manis.

Senyuman dan sentuhan lembut tangannya di kepalaku malah membuat rasa panas kembali menjelma di dadaku. Bagai sepercik api yang membuat hatiku berteriak, ÔÇ£Singkirin tangan Ibu! Tito nggak mau lagi dimanjain sama Ibu! Tito nggak butuh lagi kasih sayang palsu dari Ibu! Ibu pembohong!ÔÇØ

Karena kekesalanku, ingatan akan video-video tadi mendadak hilang. Tabir ingatanku akan cerita Kak Dina kembali terbuka. Kemarahanku sepertinya berhasil meneguhkan perasaanku yang berkecamuk. Ibu pun melepaskan tangannya dari kepalaku ketika aku mulai bercerita.

ÔÇ£Kemaren Kak Dina cerita tentang keluarganya, Bu. Kak Dina kasian banget. Bapak, Ibu, sama Adek laki-lakinya ternyata udah lama meninggal karena kecelakaan kereta api. Jadi Kak Dina sekarang tinggal sebatang kara gitu, Bu. Tapi untung aja dia punya Tante yang sayang sama dia. Sekarang keluarganya ya cuma keluarga Tantenya itu.ÔÇØ

Astaga Jadi keluarga kandung Kak Dina udah nggak ada lagi? kata Ibu dengan wajah prihatin. Kasian banget Kak Dina, ya? Keluarganya ninggalin dia karena kecelakaan kayak gitu.

Aku lagi-lagi hanya mengangguk lemah.

ÔÇ£Tapi Kak Dina kok bisa selamat, Nak? Dia nggak ikut naik kereta waktu kejadian itu?ÔÇØ tanya Ibu penasaran.

ÔÇ£Kalo itu Tito nggak tau, Bu,ÔÇØ jawabku. ÔÇ£Mungkin juga sih dia emang nggak ikut naik kereta bareng sama keluarganya. Tito nggak sempat tanya kemaren karena Tito juga sedih banget waktu liat Kak Dina nangis abis ceritain itu sama Tito Bu.ÔÇØ

Hmm Gitu ya? Aduh, kasiannya, ujarnya iba.

Wajah Ibu yang terlihat sedih sedikit menggoyahkan perasaanku. Tapi itu masih belum cukup untuk meredam amarah dan kekecewaanku yang sudah terlanjur begitu dalam padanya. Aku hanya merasa tak menyangka ternyata wajah yang ada di hadapanku ini sangat pandai dalam mengubah raut dan bentuknya sedemikian rupa sehingga aku bisa diperdaya sejauh ini olehnya.

ÔÇ£Jadi itu alasannya kenapa Kak Dina ngangkat Tito jadi Adeknya?ÔÇØ sambung Ibu.

Kayaknya sih gitu, Bu, jawabku singkat.

Ibu terdiam dan menatap ke arah lain. Pandangannya sejenak terlihat kosong. Sepertinya dia sedang mendalami kisah yang kuceritakan barusan. Atau mungkin dia juga teringat akan dirinya yang juga pernah ditinggalkan oleh seluruh anggota keluarganya. Lagi-lagi perasaan prihatin mencoba menggoyahkan sanubariku. Ingatan tentang masa lalu kelam itu pun datang kembali. Aku tak bisa memungkiri bahwa nasib Ibu tidaklah lebih baik dari Kak Dina. Dia juga mengalami hal yang sama malangnya. Bahkan dulu Ibu tak punya siapa-siapa lagi yang bisa menopang kesendiriannya.

Sekarang aku bagai diserang dilema. Aku baru menyadari bahwasanya cerita yang kusampaikan ini malah menjadi bumerang buatku. Mengikis amarahku sedikit demi sedikit di setiap detik tatapanku pada wajahnya yang terlihat murung. Sebesar apapun luapan kebencianku padanya, hati kecilku tetap saja tak bisa melihat Ibuku bersedih.

Bu? ucapku lirih memanggilnya.

ÔÇ£Eh! Iya, Nak?ÔÇØ sahutnya yang tersadar dari lamunannya.

ÔÇ£Ibu kenapa? teringat kejadian yang dulu, ya?ÔÇØ kataku menebak.

Ibu tercenung. Sepertinya apa yang kupikirkan memang benar. Raut wajahnya terlihat kaku. Tapi dia segera meralatnya. Ah, nggak kok Cuma sedih aja denger ceritanya Kak Dina itu. Ibu senang kok kalo dia mau angkat Tito jadi Adeknya. Jadinya Ibu punya dua anak deh Walaupun anaknya udah hampir seumuran Ibu. Hehe

Aku hanya diam dan tersenyum tipis mendengarkan segala bahan gurauannya yang kini terasa hambar di telingaku. Sampai detik ini dia tetap saja menutup rapat rahasia hatinya padaku, seolah aku ini bukanlah siapa-siapa selain anak kecil yang tak tahu apa-apa. Masalah perasaannya saja tidak diungkapkannya, apalagi masalah hubungannya dengan Rama? Sepertinya akan mustahil. Jika saja aku mengatakan tentang hubungan gelapnya dengan Rama sekarang, bagaimana reaksinya kemudian? Apakah dia akan memarahiku? Atau malah akan merasa malu? Jika aku tak bertanya, lalu apa yang harus kulakukan sekarang? Ini benar-benar pilihan yang sulit.

ÔÇ£Bu?ÔÇØ aku memanggilnya lagi.

ÔÇ£Hmm?ÔÇØ sahutnya sambil tersenyum.

ÔÇ£MmmÔǪÔÇØ Aku bergumam cukup panjang. Mencoba memilah kata-kata ÔÇÿterpantasÔÇÖ untuk menanyakannya. Tapi ketika melihat wajahnya, niatku surut seketika.

ÔÇ£Apa?ÔÇØ Ibu bertanya dengan senyum yang semakin lebar.

Mmm Nggak deh, Bu, nggak jadi, kataku sambil menggeleng pelan dan menghindari tatapannya. Kata-kata yang sudah ada di ujung lidahku tak bisa keluar semudah itu. Aku masih terlalu takut untuk mengkonfrontirnya.

Lho? Kok nggak jadi? ucapnya dengan tetap tersenyum. Tito mau bilang apa? Bilang dong, Nak Masa main rahasia-rahasiaan sama Ibu

Benar-benar keterlaluan wanita ini. Kata-kata dan senyumannya itu seperti orang tak bersalah saja. Bisa-bisanya dia berkata seperti itu sementara dirinya sendirilah yang sebenarnya sedang merahasiakan segalanya di sini. Bagaimana aku bisa berkata jujur sementara orang tuaku sendiri tidak? Jika dia bisa menutupi hal-hal ÔÇÿbesarÔÇÖ padaku, aku juga bisa menutupi segalanya yang kubisa. Walaupun akhirnya aku tetap saja jadi pecundang yang harus puas menyaksikan percintaannya dengan sahabatku sendiri.

Ini, Bu Tito agak lapar nih abis ke lapangan tadi, ujarku berpura-pura.

Walau perutku sudah kosong karena energinya sudah habis untuk menonton acara di lapangan tadi, namun sebenarnya aku tak merasa lapar sama sekali sekarang. Aku tak punya nafsu makan lagi setelah menonton rekaman porno Ibu. Batinkulah yang sekarang sudah kenyang dan penuh sesak dengan rasa sakit dan keputus asaan.

Oh, lapar Masa cuma itu aja nggak bilang terus terang sih? Hehe, jawabnya sambil terkekeh. ya udah, biar Ibu masakin.

Tapi Tito mandi dulu sana Masa dari Ibu pergi tadi nggak mandi-mandi? imbuhnya yang melihat pakaianku sekarang masih sama seperti ketika pergi ke lapangan tadi. Bahkan sekarang aku jauh lebih bau karena keringat.

ÔÇ£Iya, Bu,ÔÇØ kataku datar seraya tersenyum sekenanya.

Aku langsung bangkit dan beranjak menuju ke belakang meninggalkan Ibu yang masih duduk di kursi tamu. Sungguh berat rasanya kepalaku ini. Bahkan untuk berjalan ke kamar mandi saja aku seperti terombang-ambing. Ditambah lagi dengan kedua kakiku yang terasa agak kebas ketika berjalan. Kelihatannya tontonan tadi memang memberikan efek trauma yang mendalam pada tubuhku.

Kini aku seperti seorang musafir yang tak punya tujuan. Luntang-lantung dan tersesat di dalam pikiranku sendiri. Aku hanya menuruti ke mana kemauan dan kata hati membawaku. Mencoba tetap menjadi diriku yang seharusnya dan berusaha untuk tidak karam dalam masalah yang pelik ini.

Kulepas seluruh pakaianku di dalam kamar mandi dengan wajah termenung dan pandangan yang kosong tanpa ekspresi. Persis seperti orang gila atau anak idiot yang kekurangan gizi. Kugantungkan seluruh pakaian kotorku dan aku pun mulai membilas seluruh tubuhku. Kuresapi setiap aliran air yang kubasuhkan dari atas kepalaku. Rasa air yang sejuk sedikit menentramkan perasaanku yang tak menentu. Ditemani aroma terapi dari wangi yang dihasilkan busa sabun mandi, aku mulai berpikir. Berpikir apa yang pantas dan tak pantas kulakukan. Berpikir apakah aku masih bisa memperjuangkan kata-kataku yang selalu kujanjikan pada Ibu dengan hati yang sudah tinggal kepingan.

Lama aku berpikir dan menerawang hingga acara mandiku pun berakhir. Ibu yang ada di dapur juga sepertinya dari tadi sudah mulai memasak makanan. Terdengar dari alat-alat dapur yang berbunyi bersahut-sahutan. Ketika aku hendak meraih handuk di gantungan pakaian di dekatku, otakku malah membawa kembali konflik yang memporak-porandakan batinku. Tiba-tiba saja aku terpikir lagi akan kegiatan Rama dan Ibu di luar video itu. Apakah ada kemungkinan mereka mandi bersama setelah berhubungan badan? Ibu memandikan Rama seperti Ibu memandikanku waktu itu? Atau mungkin saja sebaliknya? Rama juga berperan memandikan dan menggosok-gosok seluruh tubuh Ibu?

Aku memejamkan mata sepejam-pejamnya dalam keadaan bugil sambil menghadap ke gantungan pakaian. Kurasakan dada yang kembali memanas seiring konflik batin yang terus memuncak. Kedua tanganku mengepal erat menanggung segala emosi yang membawaku ke dalam dugaan-dugaan menyakitkan. Apakah Rama melakukan semua keisengan mesumnya yang lain pada Ibu di luar video itu? Apakah mereka juga bersetubuh di tempat lain yang aku tak tahu? Atau mungkinkah Ibu dan Rama mengumbar ketelanjangannya terus di rumah ini sepanjang waktu ketika aku tak ada di sini?

ÔÇ£DUKKK!ÔÇØ tanpa sadar tanganku menumbuk dinding kamar mandi yang ada di hadapanku. Rasa geramku sudah melewati batas.

ÔÇ£Tito?! Itu suara apa, Nak?! Tito ngapain di dalam?! Tito nggak apa-apa kan, Nak?!ÔÇØ teriak Ibu dari luar. Sepertinya dia agak panik mendengarkan bunyi benturan itu.

Di tengah nafasku yang menderu karena kemarahan, aku pun kembali berpura-pura dan menjawab, Nggak, Bu! Nggak apa-apa! Ini nih Tumitnya Tito cuma kesandung bak mandi kok!

ÔÇ£Oh, tapi Tito nggak apa-apa kan, Nak!? Kakinya gimana!? Nggak kenapa-napa, kan!?ÔÇØ tanyanya lagi dengan teriakan.

Nggak kok, Bu! Cuma kesandung dikit aja! balasku. Aku mencoba menenangkan nafas dan emosiku.

Oh, gitu! Tito hati-hati di dalam ya, Nak! Nanti bisa jatuh lho kalo nggak hati-hati!

ÔÇ£Iya, Bu! Ini Tito juga udah selesai mandinya!ÔÇØ pungkasku.

Suara Ibu pun usai dan ia terdengar sudah kembali dengan proses masak-memasaknya. Kuraih handuk itu dan segera menyeka seluruh tubuhku. Aku keluar dari kamar mandi sambil membawa seluruh pakaianku tadi untuk dibawa ke ember tempat pakaian kotor berada. Ibu kulihat masih sibuk menumis sayuran. Ketika dia melihatku sedang memasukkan pakaian kotor ke ember, dia pun mendatangiku dan menanyakan lagi tentang hal tadi.

ÔÇ£Tito nggak apa-apa? Kakinya sakit?ÔÇØ tanyanya sembari melihat kedua tumitku.

ÔÇ£Nggak apa-apa kok, Bu. Tadi kan Tito udah bilang?ÔÇØ jawabku.

ÔÇ£Oh, ya udah deh kalo gitu. Ibu cuma mau mastiin aja,ÔÇØ ujarnya sedikit cemas. Sementara aku hanya diam.

Ya udah, ganti baju dulu sana. Makanannya bentar lagi siap tuh, ujarnya sambil tersenyum.

Aku pun mengangguk pelan dan tersenyum tipis. Setelah tiba di dalam kamar, aku mengunci pintunya dan duduk di tepi ranjangku. Kupegangi kepalaku erat-erat dengan kedua tanganku sambil tertunduk. Kepalaku seperti hendak terbelah dua saja. Aku benar-benar tak sanggup menghadapi semua ini. Rasanya bagai siksaan bertubi-tubi. Di satu sisi Ibu sudah menghancurkan hatiku berkeping-keping. Tapi di sisi lain kelembutan dan kebaikannya seakan menyusun kembali puing-puing itu menjadi utuh kembali. Ketika aku hampir saja ÔÇÿmendinginÔÇÖ karena kebaikannya, otakku dengan setia kembali mengingatkan tentang rekaman video ÔÇÿbusukÔÇÖ itu. Hatiku yang belum lama utuh itu pun harus pecah lagi berserakan seperti gelas yang terhempas ke lantai. Sampai kapankah hal ini harus kutanggung? Apakah sampai aku mati? Sayangnya aku tak setegar itu. Aku terlalu rapuh untuk memikul beban batin seberat ini.

Kuremas kepalaku dengan kedua tanganku. Berharap sedikit kesegaran pikiran bisa kudapatkan. Namun tetap saja sama. Cuplikan-cuplikan adegan cabul dari video-video itu terus saja menari-menari di kepalaku. Pandangan penuh nafsu Rama pada selangkangan Ibu, alat kelamin mereka yang bersatu padu, Tubuh telanjang Ibu yang bergoyang-goyang di atas tubuh telanjang Rama, hingga desahan dan erangan mereka yang terdengar begitu menikmati persetubuhan itu. Semuanya masih sangat jelas terekam di sel-sel memori otakku.

Kedua tanganku perlahan bergerak menutupi kedua mataku dan membuat segalanya menghitam buram. Kegelapan mataku seakan menjadi ejawantah akan relung hatiku yang gelap dan kosong. Mencari jawaban akan masalahku ini tak ubahnya seperti mencari sebuah jarum di dalam tumpukan jerami. Sangat sulit untuk menemukannya.

Bapak Seandainya Bapak ada di sini, apa yang bakal Bapak lakuin? aku mulai berandai-andai dalam hati. Teringat akan sosok Bapakku.

Bapak ada di mana, Pak? Kenapa Bapak harus nggak ada di saat-saat kayak gini? Tolong Tito, Pak Tito nggak sanggup ngehadapin semua ini, sambungku lagi dalam hati.

Aku merenung agak lama sambil berkeluh kesah pada batinku sendiri. Berharap batinku akan memberikan jawaban yang terbaik walau untuk saat ini saja. Berharap batinku akan memberikan sedikit ruang ketenangan tanpa ingatan-ingatan keintiman Ibu dan Rama.

Kalo aja Bapak nggak pergi, mungkin kejadiannya nggak akan kayak gini, pikirku. Masa lalu itu memang sangat pantas untuk disesalkan.

Kubuka kedua tanganku dan mendongakkan kepalaku ke atas. Untuk kesekian kalinya kutarik nafasku dalam-dalam dan menghembuskannya. Kemudian aku bangkit dari dudukku dan menuju ke lemari pakaian. Proses berpakaianku pun sama persis seperti di kamar mandi. Dengan wajah termenung tanpa ekspresi. Kumasukkan begitu saja semua bagian-bagian pakaian itu ke seluruh tubuhku dengan lugas hingga tubuhku kembali menemukan kehangatannya.

Kemudian kakiku melangkah menuju cermin. Kusisir rambutku dengan begitu perlahan. Wajah polosku menatap lurus ke depan. Tampak ÔÇÿkembarankuÔÇÖ di dalam cermin itu yang juga sedang menyisiri rambutnya sambil menatap balik ke arahku dengan tatapan dingin. Ketika aku meletakkan sisir, dia juga melakukan hal yang sama. Kami pun saling bertatapan cukup lama dalam keheningan. Dari bahasa wajahnya aku bisa menangkap satu hal. Satu hal yang kutahu pasti bahwa itu adalah sebuah ejekan.

Aku bisa mendengarkan suara hatinya. Ia berkata, Kau sudah kalah, Tirto Kau sudah kalah Tak ada gunanya lagi mengejar apa yang kau impikan. Rasa cintamu itu gila dan tak seharusnya ada di dunia ini. Ibumu itu tetaplah Ibumu. Sudah sepantasnya kau menerima kenyataan dan bersikap dewasa untuk menerima apa yang menjadi pilihan Ibumu. Kau harus tetap menghormati dia dan segala keinginannya apapun yang terjadi. Itu semua demi melihatnya bahagia.

Aku tertunduk lesu. Kalimat itu memang benar adanya. Tak ada lagi yang bisa kuperbuat di sini. Solusi atas hal ini sangat sulit didapatkan karena memang tak ada jalan keluarnya. Yang harus kulakukan hanya pasrah pada nasib dan mengikuti ke mana takdir membawaku.

Tito! Makanannya udah siap, Nak! Udah selesai belum pake bajunya?! seru Ibu setengah berteriak dari luar kamarku.

ÔÇ£Udah, Bu! Ini Tito udah mau ke belakang kok!ÔÇØ jawabku.

ÔÇ£Ya udah! Ibu tunggu ya!ÔÇØ serunya lagi.

Iya, Bu!

Kuambil handuk basah yang tadinya kucampakkan begitu saja di atas tempat tidur dan keluar dari kamar. Ketika sampai di ruang belakang, Ibu ternyata sudah menyediakan nasi untukku di atas piring seperti biasanya. Di atas meja makan sudah lengkap lauk pauk dan sayur yang baru dimasaknya tadi. Air minum pun sudah dituangkan ke dalam gelas. Kini dia sedang berdiri di dekat rice cooker memegang sebuah piring bermaksud menyiapkan sepiring nasi lagi. Mungkin untuknya sendiri.

Ditutupnya alat penanak nasi itu dan kemudian berjalan ke arahku yang sedang berdiri di dekat meja makan. Dia meletakkan piring nasinya tadi dan tersenyum padaku. Tito mau nggak nungguin Ibu mandi sebentar? Abis itu kita makan sama-sama

ÔÇ£Iya, Bu,ÔÇØ jawabku singkat. Mengangguk dan tersenyum sekilas.

ÔÇ£Ya udah, tungguin ya. Ibu nggak lama-lama kok,ÔÇØ katanya riang. Dia bergegas mengambil handuk mandinya yang tergantung di dekat kamar mandi dan masuk ke dalam sana.

Tak lama kemudian suara deburan air terdengar bersahut-sahutan. Kuletakkan handukku di tempat gantungan handuk yang ada di dekat kamar mandi itu dan kembali lagi ke tempat semula untuk duduk di kursi makan. Mataku tertuju ke lauk dan sayur di atas meja. Tempe, tumis kangkung terasi, telur dadar, sungguh makanan favoritku. Tapi saat ini seleraku pada makanan sangatlah sedikit. Aku malah menopang dagu di atas meja makan dengan tanganku karena tak punya semangat sama sekali.

Kenapa pikiran ini sulit sekali untuk dikendalikan? Kenapa aku senantiasa mengingat hal itu terus? Apa tak ada cara untuk melupakannya walau sebentar saja? Lama-lama aku bisa gila memikirkan skandal Ibu dan Rama itu.

Mendengar suara air yang berhenti sejenak dari arah kamar mandi aku bisa menyimpulkan bahwa Ibu sedang menyabuni seluruh tubuhnya. Tubuh yang sudah dilihat Rama dari ujung kaki hingga ke ujung kepala tanpa sehelai benang pun. Tubuh mulus dan berlekuk indah yang sudah bergesekan sepanjang waktu dengan tubuh Rama. Tubuh yang sudah digenjot Rama sepuasnya hingga Rama merasakan orgasme yang begitu nikmatnya.

ÔÇ£Akhhh! Sial! Sial! Sial!ÔÇØ makiku dalam hati. Aku menggeleng-gelengkan kepalaku dengan cepat bermaksud untuk menghilangkan pikiranku itu.

Kuatur kembali nafasku yang kembali panas. Mencoba membawa diriku untuk lebih tenang kali ini. Kupejamkan mataku sebentar, lalu kemudian kubuka lagi perlahan. Ketika mataku terbuka, pandanganku tertuju pada kulkas satu pintu dan rice cooker yang terletak berdampingan. Agak miris aku melihatnya. Kedua benda itu adalah pemberian tulus Bu Aini pada Ibu. Aku ingat waktu itu mata Ibu bahkan sempat berkaca-kaca ketika Bu Aini memberikannya sebagai hadiah beberapa tahun yang lalu.

Sejumlah barang elektronik yang lain di rumah ini faktanya juga merupakan pemberian Bu Aini. TV, radio, hingga jam tanganku yang jarang kupakai tak lebih dari kemurahan hati Ibu sahabatku itu. Aku yang sunat bersamaan dengan Rama lima bulan yang lalu pun dibiayai olehnya. Namun jika harus menyebutkan, semua itu hanyalah beberapa dari sekian banyak pemberian Bu Aini yang aku sendiri juga sudah tak ingat lagi. Sungguh tak kurang kebaikan wanita cantik itu pada keluargaku.

Tapi apa yang akan diperbuat Bu Aini jika mengetahui kelakuan mereka itu? Apakah dia akan memarahi dan menghukum Rama habis-habisan? Atau malah mengutuk Ibu dengan berbagai macam sumpah serapah karena telah membawa anaknya ke jalan yang melenceng? Akankah dia memisahkan diri dari keluarga kecil kami ini karena menganggap Ibuku adalah manusia pengkhianat? Sungguh sangat sukar bagiku untuk menyimpulkan karena memang tak tahu akar dari kejadian ini maupun kelanjutannya. Aku tak bisa dan tak berani menggali hubungan Ibu dan Rama itu. Hubungan yang mereka berdua bina sudah terlanjur sangat jauh. Untuk mencoba berdiri di antara mereka pun kurasa sudah mustahil. Jika aku melakukannya, mungkin saja kelanjutannya akan berbuah buruk bagi diriku sendiri.

Suurrr Suurr Surrr, bunyi deburan air kembali terdengar.

Sepertinya Ibu sebentar lagi akan menyudahi acara mandinya. Segera kukumpulkan kembali kesadaranku dan membuang jauh-jauh pikiran pelik itu. Kutarik nafas yang dalam dan kuhembuskan perlahan untuk memulai kepura-puraanku lagi. Jangan sampai Ibu melihatku melamun, karena sifat suka penasarannya yang mirip seperti Kak Dina bisa kambuh dan ujung-ujungnya dia akan bertanya tentang apa yang kulamunkan. Jangan sampai itu terjadi, karena aku bisa kelimpungan mencari-cari bahan dusta nantinya.

Tak lama kemudian Ibu pun keluar dari kamar mandi dengan berbalut handuk birunya. Dimasukkannya pakaian kotornya tadi ke dalam ember di dekat jemuran handuk dan berjalan hendak menuju ke kamarnya. Kursi makan tempatku duduk sekarang agak dekat ke jalan menuju ruang depan, jadi Ibu harus berjalan mendekatiku dulu untuk menuju ke kamarnya.

Kulihat dia melangkah agak cepat. Mungkin karena merasa tidak enak melihatku sudah menunggu dan termenung menatap makanan. Ketika melewatiku dia tersenyum sambil memegangi handuknya di bagian dada agar lilitannya tidak lepas.

ÔÇ£Sebentar ya, Nak. Tungguin Ibu pake baju dulu,ÔÇØ ucapnya sepintas.

Aku mengangguk santai dan membiarkannya berlalu ke kamarnya. Namun sebenarnya tubuh Ibuku yang hanya berbalut handuk barusan sempat sedikit meracuni pikiranku. Membuatku mengingat lagi kemesraannya dengan Rama, si anak sialan yang beruntung. Jika saja aku ini Rama, mungkin Rama akan dengan bebasnya menarik lepas handuk itu tanpa adanya protes dari Ibuku. Matanya bisa dengan leluasa menikmati tubuh segar nan harum Ibuku yang baru mandi itu.

ÔÇ£Udah, Tito! Udah! Jangan pikirin itu lagi! Jangan pikirin itu lagi!ÔÇØ aku meneriaki diriku sendiri dalam hati dengan kening yang mengernyit dan mata terpejam rapat. Kali ini aku mencoba menghimpun segenap kekuatan mentalku untuk membuang jauh pikiran-pikiran dan kecemasan.

ÔÇ£Lu pasti bisa, Tito! Lu pasti bisa! Jadi anak laki-laki itu harus kuat! Jangan lembek!ÔÇØ lanjutku menyemangati diriku sendiri.

Cukup lama aku menenangkan diri dengan mata terpejam. Kusandarkan pula punggungku yang terasa kaku di kursi makan. Walau bayang-bayang mesum itu masih sesekali terlintas di pikiranku, aku berusaha menegarkan diri.

Dalam hati aku bertanya-tanya, Apa ini yang disebut cemburu buta? Apa aku sekarang memang lagi dibakar api cemburu? Apa ini yang dirasakan setiap suami kalo istrinya selingkuh kayak yang aku liat di sinetron-sinetron? Apa rasanya memang sesakit ini? Tapi Ibu kan bukan istriku? Buat apa aku mesti cemburu? Atau mungkin aku udah terlalu cinta sama Ibuku sendiri?

Aku yakin ini bukan cinta monyet seperti yang dikatakan Kak Dina. Buktinya dia merestui perasaanku pada Ibu kemarin. Dia sendiri yang mengatakan kalau pertama kali melakukan hubungan seks itu harus dengan orang yang paling kita cintai. Dan Kak Dina malah mendukungku sepenuhnya kalau aku ingin melakukannya dengan Ibu.

Namun Kak Dina sudah salah perkiraan. Ibu nyatanya mencintai Rama. Dia melayani Rama bagai melayani suaminya saja. Pantas saja waktu dia hendak pergi sekolah setelah menginap di sini waktu itu dia berpamitan padaku dengan kalimat ÔÇÿBapak mau pergi duluÔÇÖ. Ternyata itu semacam ejekan untukku yang sudah dibodoh-bodohi ini. Benar-benar kurang ajar sahabatku itu.

Krrriieeettt, pintu kamar Ibu berbunyi. Sepertinya dia keluar dari kamarnya.

Aku pun segera membuka mataku. Lalu mempersiapkan penampilan sewajar mungkin. Ketika dia sudah hadir di ruang belakang, aku terkesima dengan penampilannya. Ibu memakai salah satu baju barunya lagi. Dan lagi-lagi jenisnya adalah daster. Modelnya mirip dengan yang dipakainya kemarin. Daster berukuran selutut yang bagian dadanya punya kerutan dan bagian pinggangnya didesain agar perut pemakainya terlihat langsing. Namun kali ini dengan lengan pendek kerut yang menutupi bahunya. Bahan kainnya juga sepertinya berbeda dari yang kemarin. Daster yang dipakainya kali ini punya jenis bahan rayon tipis seperti daster kuning motif bunga tulip itu. Bisa dibilang seperti bahan kain Bali atau kain pantai. Warnanya biru dengan motif bunga-bunga mawar warna putih. Tak hanya cantik, daster ini juga mengumbar aura seksi pemakainya.

Dia tersenyum melihatku memandanginya dari ujung rambut hingga ujung kaki. ÔÇ£Kenapa, Nak? Ibu cantik, ya? Baju barunya Ibu yang lain nih. Menurut Tito gimana? Bagus nggak?ÔÇØ

Iya, Bu. Bagus, kataku sekenanya. Kubalas juga senyumnya agar terlihat meyakinkan.

Ibu pun segera duduk di kursinya dan langsung mengajakku menyantap hidangan, ÔÇ£Ya udah yuk, makan. Nanti keburu dingin nih makanannya.ÔÇØ

Aku mengangguk dan memulai acara makanku. Sebenarnya perasaan kagumku padanya tadi hanyalah sebentar saja. Karena setelahnya perasaan kecewa yang mendalam tiba-tiba langsung datang menimpaku bagai durian runtuh. Sakitnya benar-benar terasa di hati kecilku yang rapuh.

Lihatlah betapa cantiknya Ibu memakai pakaian itu. Seluruh kemolekan dan pesona kewanitaannya terpancar jelas bagi siapapun yang memandangnya. Kak Dina yang merupakan seorang wanita saja bisa terpesona oleh kecantikannya, apalagi anak lelaki polos seperti diriku atau Rama? Sudah pasti rasa kagum kami jauh lebih besar. Setiap saat aku memang selalu disuguhkan oleh penampilan cantik Ibuku. Takkan ada satu hari pun kulewati tanpa menyaksikan wajah eloknya yang tersenyum padaku.

Tapi itu bukanlah kecantikannya yang sesungguhnya. Kecantikan sejatinya ada di balik setiap lembaran kain yang melekat pada dirinya. Kecantikan hakiki yang hanya akan diberikannya untuk orang-orang yang sangat dicintainya. Cinta terdalam itu berasal dari tubuhnya yang indah tanpa sehelai benang pun.

Namun malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Semuanya sudah berakhir tragis. Cinta terdalam itu kini sudah berhasil didapatkan Rama. Rama sudah meneguk setiap tetes kenikmatan cinta yang diberikan Ibu. Tak sedetik pun mereka tak menikmati indahnya persatuan tubuh mereka. Mereka mencurahkan segala yang mereka punya hingga akhir. Kenyataan ini meneriakiku berkali-kali dengan tegas bahwasanya tubuh Ibu adalah milik sahabatku. Aku hanya bisa menangis dalam diam dan menerima apa adanya.

ÔÇ£Gimana? Enak makanannya?ÔÇØ tanya Ibu di tengah acara makan kami. ÔÇ£Kesukaan Tito semua lho, yang Ibu masakin.ÔÇØ

Iya, Bu. Enak, jawabku sambil berpura-pura tersenyum seolah menikmatinya.

Kelezatan makanan-makanan ini tak bisa masuk ke dalam hatiku lagi, karena hatiku sudah hancur berkeping-keping. Tak ada lagi kesenangan dari Ibu yang bisa kurasakan selain hanya bisa menatap kecantikannya yang sebenarnya sama sekali bukanlah milikku. Aku hanya mencoba teguh memegang janjiku untuk membuatnya bahagia apapun caranya walaupun itu harus kulalui dengan berjalan di atas duri yang teramat sangat menyakitkan. Aku akan selalu tersenyum untuknya walau sesungguhnya aku menangis di dalam hati.

Bagiku suasana makan saat ini sangatlah canggung. Namun tidak bagi Ibu yang tampak tenang-tenang saja seperti tidak terjadi apa-apa. Berkali-kali dia melemparkan senyum ketika aku mengunyah dan dengan begitu terpaksa kubalas senyumannya itu seolah-olah aku begitu menikmati makan malam ini. Aku sebenarnya sudah sangat risih dengan kepura-puraanku. Tapi tetap kutahan hingga acara makan pun akhirnya selesai.

ÔÇ£Tito langsung gosok gigi ya. Abis itu belajar,ÔÇØ suruh Ibu ketika aku baru selesai makan dan menenggak air minumku. Dia juga sudah selesai dan hendak membereskan piring dan alat-alat makan.

ÔÇ£Iya, Bu,ÔÇØ sahutku datar seraya bangkit dari duduk dan berjalan ke kamar mandi.

Aku memang sedang tak ingin terlalu banyak berceloteh dengan Ibuku saat ini. Setelah gosok gigi aku ingin segera ke kamar dan menenangkan pikiran. Jiwa dan mentalku sudah berguncang sangat keras. Aku bahkan tak tahu sampai kapan aku bisa melupakannya. Lagipula kurasa ini baru terbilang permulaan. Mungkin saja hari esok atau esoknya lagi akan ada kenyataan yang lebih menyakitkan lagi. Aku tak pernah tahu akan segala hal yang bisa terjadi. Yang harus kuusahakan adalah supaya aku tak jadi gila karenanya.

Ketika sedang menggosok gigi aku bertanya dalam hati, ÔÇ£Apa yang mau Ibu lakuin sama handycam itu? Apa malam ini dia mau nonton video pornonya sendiri?ÔÇØ

Sejenak aku merenungkannya sambil mengorek-ngorek bagian samping gigi gerahamku. Dalam hati aku menduga-duga lagi. ÔÇ£Kayaknya sih gitu. Kalo nggak buat apa dia pinjam tuh barang? Mungkin aja dia mau mainin ÔÇÿanunyaÔÇÖ sendiri sambil liat video itu.ÔÇØ

Aku pun berkumur-kumur mengakhiri kegiatan itu. Kuletakkan sikat gigi dan pastanya ke tempatnya, lalu terdiam sesaat. ÔÇ£Kalo dia mau nonton video itu malam ini, berarti suara videonya bakal kedengeran dong?ÔÇØ batinku.

ÔÇ£Ah, udahlah! Mau kedengeran kek, mau nggak kedengeran kek, nggak ada pengaruhnya buat gue!ÔÇØ teriakku yang hanya tertahan di dalam dada.

Aku mengakhiri perdebatan batinku dengan keluar dari kamar mandi. Kulihat Ibu di ruang tamu sedang asyik menonton TV. Ada tayangan sinetron kesukaannya. Aku berlalu saja di belakangnya menuju kamar. Begitu sampai di kamar aku mengunci pintunya dan memulai kehidupanku sendiri di ruangan ini. Membuka buku pelajaran segera dan mendalami kembali modul Try Out yang diberikan Kak Dina. Walau pikiranku sedang kalut, tidak ada alasan bagiku untuk meninggalkan kewajibanku.

Tapi baru sekejap aku membuka lembaran pertama, tiba-tiba mataku terasa berat. Rasanya mengantuk sekali. Berulang kali aku menggeleng-gelengkan kepala dengan cepat dan menarik nafas yang dalam bermaksud memfokuskan perhatianku kembali pada pelajaranku. Namun hasilnya sia-sia saja. Aku bahkan semakin mengantuk di setiap detiknya.

ÔÇ£Kok rasanya ngantuk banget, ya?ÔÇØ ujarku dalam hati.

Kulihat jam di dalam kamarku masih menunjukkan pukul 07.05 malam. ÔÇ£Lho? Masih jam tujuh kok. Tapi kok udah ngantuk banget, ya? Apa karena stres berat gara-gara mikirin Ibu sama Rama?ÔÇØ

Menurutku itu adalah penyebab yang paling mendekati. Dada dan kepalaku memang terasa panas dan sesak sekali waktu menonton video itu. Seumur hidupku baru pertama kali aku merasakan perasaan sebegitu tertekannya. Aku ingat waktu berjalan ke kamar mandi tadi aku juga sempat terhuyung. Mungkin saja ini adalah efek lanjutannya.

ÔÇ£Ah, lagian cuma ngantuk kok. Tinggal dibawa tidur aja. Beres, kan?ÔÇØ pikirku.

Aku mencoba berpikir positif. Tanpa ragu lagi aku pun beranjak ke tempat tidur dan langsung telentang begitu saja. Tak sampai sepuluh detik aku sudah tenggelam ke alam bawah sadarku.

***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*