Home » Cerita Seks Mama Anak » Wild Love 57

Wild Love 57

Sebuah pemandangan yang sebenarnya tidak ingin dilihat arya. sebuah pemandangan yang sebenarnya tidak ingin dilihat oleh koplak. Namun sosok tubuh itu melayang dihadapanku menghalangi sebuah peluru yang terbang ke arahku. Sesosok tubuh itu adalah tubuh yang entah dari mana datangnya. Aku mengenal tubuh itu, aku mengenal setiap nano meter tubuh itu. Tubuh itu terjatuh dihadapanku. Aku berlari mencoba menangkap tubuh itu, tapi terlambat tubuh itu telah jatuh ke lantai gedung. Bebarengan dengan aku berlari ke arah tubuh yang tergeletak di lantai, kulihat dira mengarahkan pistolnya ke arah ayah.

Dhuar …

Walau aku tidak bisa melihatnya dengan jelas, tangan ayah melepaskan pistol itu dan mengaduh kesakitan. Kuraih tubuh perempuan yang berada di lantai, Kubalikan tubuhnya dan Kuangkat tubuhnya kepangkuanku, dia tetap tersenyum memandangku.

ÔÇ£cepat kejar dia masÔÇØ ucap dian yang masih aku dengar jelas

ÔÇ£ta.. ta.. piÔÇØ ucapku dengan air mata menetes, melihat darah disebagian dada dian

ÔÇ£cepat! Jika dia lolos banyak yang akan menderita ergh…ÔÇØ ucap dian

ÔÇ£argh…ÔÇØ geramku. Seketika itu aku mengarahkan pandanganku ke ayah.

ÔÇ£sialan kamu banci!ÔÇØ ucap ayah kepada Dira

ÔÇ£ayo cepa mahesaÔÇØ ucap om nico yang menarik ayah untuk segera kabur dari gedung ini.

Ayah dan om nico kemudian berlari menuju ke pintu yang menghubungkan bagian 1 gedung dengan jalur 2. Aku letakan tubuh dian.

ÔÇ£Aku mohon bertahanlah…ÔÇØ ucapku dengan mata sedikit berkaca-kaca

ÔÇ£heÔÇÖem…ÔÇØ ucap dian sambil menganggukan kepalanya

Aku kemudian bangkit dan berlari mengejar dua bajingan yang sudah menghilang dari pandanganku. Berlari ke mengejar mereka berdua dengan penuh kemarahan, penuh dengan emosi. Penuh dengan dendam yang ingin aku luapkan kepada mereka.

ÔÇ£KALIAN SEMUA JANGAN ADA YANG BERGERAK! ATAU MATI!ÔÇØ teriak anton dari lantai 2 dengan mengarahkan senapan laras panjangnya menyapu ke kanan dan kiri membuat semua anak buah ayah arya mengangkat tangan mereka semua. Ya, mereka sadar tak akan menang sekalipun berkelahi kembali tetap saja mereka akan mati oleh penembak jitu di atas gedung.

ÔÇ£Hei kamu jangan bergerak! Berlutut!ÔÇØ teriak tugiyo dan udin yang mengarah pistolnya ke arah beberapa lelaki yang masih tersisa

Delapan orang telah menyerah kepada koplak, mereka semua berlutut dengan kedua tangan mereka berada dibelakang kepala masing-masing. Dengan sangat kasar dan buas, koplak mengikat mereka sesekali menjejak kepala mereka satu per satu. Anton kemudian turun dari lantai 2 dan berlari ke arah dian, begitupula dengan dira. Didekat dian sudah ada wardani yang memangku kepala dian. Koplak yang lain tampak tak berani mendekati dian. Kondisi gedung kini sudah aman.

Aku berlari menyusuri jalan dijalur dua ini, sendiri tanpa satu pun koplak yang menemaniku. Aku yakin bisa menghentikan mereka. aku mengira mereka akan sedikit tertatih dengan kondisi mereka tetapi ternyata tidak, mereka berlari lebih cepat dari yang aku kira. Hingga aku berbelok tepat ketika di jalur utama untuk keluar gedung ini, kulihat mereka sedang berlari.

ÔÇ£Bajingan berhenti!ÔÇØ teriakku

Ayah dan om nico hanya menoleh dan tetap terus berlari menuju pintu keluar. Hingga akhirnya mereka dapat keluar dari gedung dan hilang dari hadapan mataku. Pintu itu masih terbuka terakhir aku melihat mereka dari dalam gedung ini, mereka berlari ke arah mobil mereka yang diparkir. Aku terus berlari mengejar mereka, pintu yang hendak tertutup dengan sendirinya ku tendang. Diluar gedung aku melihat mereka menaiki mobilnya.

Segera aku berlari kembali ke arah mereka yang sudah menyalakan mesin mobil. Ketika mobil itu berjalan aku kemudian melompat terbang. Tepat ketika mobil itu berjalan aku berhasil menarik kawat yang telah aku hubungkan dengan penyumbat pada lubang tangki bensin mobil itu. ya, sebelum aku masuk aku melubangi tangki bensin mobil ayahku, aku sudah persiapkan semuanya sebelum berangkat ke gedung ini. mencoba mempelajari mobil yang dikendarai ayah dan letak tangki bensin mobilnya. Aku melubangi tangki tersebut dan kemudian menyumbatnya. Sumbat kemudian aku hubungkan dengan sebuah kawat yang aku ikatkan pada sebuah paku dibelakang mobil. Kelemahannya hanya pada kawat tersebut, kawat terlalu pendek jika tidak aku pegang pasti tidak akan melepaskan penyumbat bensin tersebut.

Kawat yang aku tarik juga ikut menarik penyumbat karet hingga terlepas. Aku yang berada dibelakang mobil dalam kondisi tengkurap tersenyum. Aku berdiri melihat mobil yang mengalirkan bensin tersebut berjalan.

ÔÇ£HEI!ÔÇØ teriakku dengan senyum sembari mengeluarkan sebatang dunhill mild dan korek api

Mungkin aneh bagi mereka melihat orang yang mengejarnya berhenti mengejar. Mobil tersebut sempat berhenti dan tampak ayah mengacungkan jari tengah ke arahku.

ÔÇ£this is my theater…ÔÇØ ucapku lirih, setelah aku menyulut dunhill mild, aku dekatkan korek api itu ke arah bensin yang tercecer

Whugggg…. sebuah kobaran api langsung menyala dan berlari ke arah mobil ayah yang hendak kembali berjalan …

ÔÇ£Wherever you will go, fire always love youÔÇØ ucapku sembari mengeluarkan asap melihat api yang semakin mendekat ke arah mobil itu

Mobil bergerak namun baru beberapa meter mobil tersebut berhenti. tampak dua pintu depan mobil terbuka, ayah dan om nico sudah berada diluar dan berusaha menjauhi mobil yang ditungganginya. Baru saja mereka berlari kurang lebih 5 meter dari mobil tapi sayang api terlalu mencintai mereka.

ÔÇ£Avra ka davra…ÔÇØ ucapku lirih dan …

DHUAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAR …

Sebuah ledakan besar tak jauh dari hadapanku mungkin sekitar 15 meter dari tempatku berdiri. Dua tanganku menutupi wajahku, tubuhku sedikit terhempas kebelakang. Dari sela-sela kedua tanganku aku melihat bayangan dua orang terpental. Satu orang terpental ke arah kanan dan seorang lagi terpental ke arah kiri. Mereka berdua terpental jauh, yang aku harapkan hanya satu mereka masih hidup. Beberapa saat setelah ledakan pertama masih terjadi ledakan kedua dan ketiga namun ledakan kedua dan ketiga hanya ledakan kecil dari mobil tersebut.

Walau tubuhku terhempas kebelakang aku masih bisa menjaga keseimbanganku. Aku buka kedua tanganku yang menutupi pandanganku ini, dengan sebatang dunhill mild masih terselip diantara kedua jari tangakan kiriku. Aku melihat api itu tampak tersenyum, berkobar-kobar mencoba menggapai langit malam. Walau terangnya api ini tidak seterang mentari yang bersinar kala siang tapi cukup membuat sekitar tempat itu terlihat sangat jelas. Panasnya lebih panas dari terik matahai di siang hari, karena api yang berkobar lebih dekat dari mentari. Aku langkahkan kakiku mendekati mobil itu, sebuah pintu depan mobil terlihat sudah tidak tergeletak tak jauh dari mobil tersebut.

ÔÇ£ughh… tolonghhh…..ÔÇØ sayup-sayup rintih seorang lelaki, aku mendengarnya, sedikit rasa iba tapi aku tak mempedulikan rasa iba itu.

Aku kemudian berjalan ke kiri mobil tak jauh dari mobil tersebut ku temukan seorang lelaki yang sering aku sebut sebagai om nico. Tampak dia mengaduh kesakitan tapi aku tidak mempedulikannya. Aku tarik kerah bagian belakang lehernya, kutarik dengan kasar. Kuseret tubuhnya ke arah satu orang lagi yang sebelumnya aku lihat mencoba untuk bergerak. Dengan langkah sedikit berat sisi batinku merasa sedikit lebih senang malam ini. rasa senang karena telah mengakhiri perjalanan dari seorang maestro kejahatan di daerahku. Berjalan melewat belakang mobil yang terbakar dengan rintihan minta tlong dari om nico. kebenaran adalah akhir dari sebuah kekejaman, tapi entahlah apakah yang aku lakukan ini benar atau salah. Yang jelas aku hanya ingin mengakhiri perjalanan dari para maestro kejahatan ini. kulihat tubuh ayah yang mencoba menyeret tubuhnya dari tempat dia terjatuh. Aku menghempaskan tubuh om nico didekat tubu ayah. Suatu pemandangan yang aneh emang ketika aku melihat itu semua.

Dua orang lelaki yang kesehariannya hanya menebar ancaman kesana-kesini. Sekarang sedang tergolek lemas dan hancur dihadapanku.

ÔÇ£Arya tolonghhhh ayah… ughh… ayo nak tolonghhh ayah nak…ÔÇØ ucap ayahku

ÔÇ£kenapa? kamu takut ya? tenang saja aku tidak akan membunuhmu…ÔÇØ ucapku sembari melangkah dan mendekati mereka berdua

Tanganku masuk kedalam saku rompi yang aku pakai. Dengan posisi setengah berjongkok ditengah-tengah mereka, aku tersenyum.

ÔÇ£Kalian bunuh KS, kepala pembantu di Rumah Eri, kalian juga kan yang membunuh kakek Tian…ÔÇØ ucapku dengan pandangan penuh amarah

ÔÇ£aghh… tolonglah nakhhh ayah khilaf…ÔÇØ ucap ayahku

ÔÇ£Khilaf? Itu juga kan yang kalian katakan kepada Ibu dan tante ima ketika kalian memperkosa mereka di hotel? Dan tanpa kalian sadari, salah satu dari kalian telah menghadirkan seorang lelaki yang menghentikan langkah kalian sekarang ini bukan?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£erghh… dasar kamu bajingan!ÔÇØ ucap ayah

ÔÇ£bunuh saja kami! erghhh…ÔÇØ ucap om nico

ÔÇ£Ha ha ha ha ha biasanya kalian tertawa seperti itu kan? Kenapa sekarang menyerah pada kematian?ÔÇØ

ÔÇ£membunuh kalian ya? hmmm…. tidak, aku tidak ingin membunuh kalian… terlalu dini membunuh kalian sedangkan banyak yang kalian buat menderita hingga bertahun-tahun lamanyaÔÇØ ucapku

ÔÇ£apa maumu sebenarnya? Segera habisi kami!ÔÇØ ucap ayah

ÔÇ£Ayah… ayah… masih ingat ini?ÔÇØ ucapku sambil memegang kalung berbandul giok dengan seekor kerbau didalamnya

Mata mereka berdua terkejut ketika melihat benda itu. ketakutan mereka terpancar dari wajah mereka yang dihiasi ileh karbon-karbon dan juga darah.

ÔÇ£erghh.. itu…ÔÇØ ucap ayah

ÔÇ£ya, ini milik nenekku dan kakekku, kakek Wicaksono dan nenek mahesawati. Kalian pasti terkejut karena aku mendapatkan ini kan? Kalian tahu apa yang telah kalian perbuat kepada mereka? hingga mereka harus tinggal di gubuk tua tanpa ada yang merawat? KALIAN HARUS MERASAKAN HAL YANG SAMA DAN HARUS LEBIH SAKIT LAGI DARI MEREKA!ÔÇØ uacpku diakhiri dengan bentakan, air mataku mengalir dipipiku mengingat bagaimana kakek dan nenekku meninggal dipelukanku

ÔÇ£kalian kan hiks yang membuat mereka menderita, ini belum seberapa dibandingkan apa yang mereka rasakan karena ulah kalian!ÔÇØ ucapku

ÔÇ£oh ya ayah… aku akan tetap memanggilmu ayah tenang saja, aku hanya ingin mengatakan satu hal. Di daerah ini hanya akan ada satu kerbau dan itu adalah aku! Ingat baik-baik! Ha ha ha ha…ÔÇØucapku sambil tertawa

ÔÇ£kalian membuat semua orang menderita ibu, tante ima, KS, mbak erlina, eri, rani, kakek, nenek dan dian.. ah dian…ÔÇØ ucapku tiba-tiba teringat kembali dengan dian

Kalung yang aku genggam langsung aku pakai leherku, aku tarik baju mereka dan aku seret. Langkahku semakin cepat menuju ke dalam gedung, dian… aku mohon jangan sampai dia pergi. Dian, tunggu dian…

ÔÇ£Argh… lepaskan kamihhh…. ÔÇ£ ucap ayah

ÔÇ£bunuh saja kami…ÔÇØ ucap om nico

ÔÇ£DASAR BAJINGAN! KALIAN DIAM!ÔÇØ bentakku

Semakin cepat langkahku ketika berada didalam gedung, ingin segera menemui dian. tapi jika mereka aku tinggalkan, bisa saja ada orang yang membawa mereka. aku harus cepat dan cepat. Jantungku berdebar, pikiran kacau tak kupedulikan rasa sakit yang mereka terima ketika aku menyeret mereka. meleati jalur 2, hingga akhirnya aku berdiri melihat tante wardani memangku kepala dian. aku melihat seluruh koplak, tapi mereka menggelengkan kepala denga wajah ng sedih. Kulihat nenek dan tanteku juga sam memandangku dengan perasaan sedih. Matanya tidak terbuka, kenapa? Jantungku berdetak dengan kencang. Kulempar tubuh om nico adn juga ayah kelantai. Aku segera berlari, air mataku teruurai. Koplak menyaksikan itu semua tampak terdiam.

Aku berlari dan mendekati tante wardani, dan langsung duduk bersimpuh dihadapan tante wardani. Kulihat matanya terpejam, aku menangis, air mataku semakin deras lebih deras dari air hujan badai. Tangan kananku meraih lehernya sedangkan tangan kananku meraih tubuhnya. Terlihat darah yang menempel pada tubuh itu. Kupeluk tubuh dian…

ÔÇ£Ade… hiks hiks hiks bangun… bangun… maafkan mas dek hiks hiks hiks hiks..ÔÇØ

ÔÇ£AYO BANGUN!… hiks hiks hiks hiks… aku mohon bangun!ÔÇØ

ÔÇ£Jangan pergi hiks hiks hiks hiks hiks… aku mohon hiks hiks hiks jangan pergi hiks hiks…ÔÇØ

ÔÇ£bangun sayang… bangun… hiks hiks hiks… aku mencintaimu, aku mohon bangun hiks hiks…ÔÇØ tangisku meledak

ÔÇ£DIAN BANGUN! Hiks hiks hiks hiks…ÔÇØ ucapku dengan kepala terbenam diantara leher dan pundak kanannya

Semua hening…

Tak ada suara sedikitpun…

Hanya tangisku yang terdengar masih menderu…

Dan semuanya telah…

ÔÇ£iiih… cengeng!ÔÇØ ucap dian

Aku terkejut… dan mengangkat wajahku…

ÔÇ£Eh… ade… ade?!ÔÇØ ucapku terkejut melihat wajah dian yang tersenyum kepadaku, aku pun tersenyum kepadanya

ÔÇ£HA HA HA HA HA HA…. Woi ada preman cengeng! Ha ha ha ha haÔÇØ teriak wongso diikuti tawa semua koplak yang ada didalam gedung, tapi aku tidak mempedulikannya

ÔÇ£Apa?!ÔÇØ ucapnya kembali, judesnya tetap saja tidak hilang dalam situasi seperti ini

ÔÇ£mas kira ade… ah hiks hiks hiksÔÇØ ucapku dan kembali memeluknya

ÔÇ£aduh mas, mas, aduh sakiiiit pelan… pundak kanan ade itu tadi yang kena peluru…ÔÇØ ucapnya sambil tangan kirinya memukul pelan punggungku

ÔÇ£Ade… sih…. hiks hiks hiks…ÔÇØ ucapku, menganngkat wajahku dan memandang wajahnya

ÔÇ£I Love you…ÔÇØ ucapku lirih tepat di depan wajahnya

ÔÇ£I Love you too…ÔÇØ ucapnya

Wajahku semakin dekat, bibir kami bersentuhan dan …

ÔÇ£E… e… e…. e….. main cium anak orang saja!ÔÇØ ucap tante wardani yang kelihatan habis menangis

ÔÇ£Eh tante, he he he…ÔÇØ

ÔÇ£mmm.. tan jadi, dian itu anak…ÔÇØ ucapku dan tante wardani mengangguk. Terkejut aku mendengarnya walau sebenarnya aku sudah tahu sejak dian memasuki gedung ini. jelas aku terkejut mengingat aku pernah…

ÔÇ£Auch….ÔÇØ aku mengaduh, tangan kiri dian masuk dan menari kuping kiriku. Matanya melotot tajam ke arahku

ÔÇ£eh.. itu anu de, eh… aduh…ÔÇØ ucapku mengingat aku pernah bersetubuh dengan ibunya

ÔÇ£Ndak boleh lagi, awas!ÔÇØ ucapnya pelan

ÔÇ£Maaf…ÔÇØ ucapku kembali menyentuhkan keningku ke keningnya

ÔÇ£Arda, maafkan mama ya… mama tidak tahu…ÔÇØ ucap tante wardani

ÔÇ£heÔÇÖem ma, sekarang mama bisa kumpul lagi bareng papa kan?ÔÇØ ucap dian, dan tante wardani mengangguk

Bugh…

ÔÇ£Gila kamu benar-benar gila, aku jadi ikut nangis dasar sialan lu cat hiks hiks hiks…ÔÇØ ucap dewo

ÔÇ£romatis bener sih kamu cat, dasar kampret!ÔÇØ ucap wongso

ÔÇ£iiiih arya romantis bangeeeeeeet….ÔÇØ ucap sudira

ÔÇ£niatnya mau ngerjain kamu, malah bikin orang nangis kamu, asu! (Anjing)ÔÇØ ucap karyo

Aku tersenyum…

ÔÇ£koplak, terima kasih…ÔÇØ ucapku memandang semua koplak

ÔÇ£celeng, gawe nangis… rokokÔÇÖe su! (babi hutan, buat nangis… rokoknya njing)ÔÇØ ucap aris meminta rokok kepada anton

Kulihat semua koplak menitikan air mata…

ÔÇ£Arya…ÔÇØ panggil seorang wanita

ÔÇ£Eh… iya nek…ÔÇØ ucapku menengok ke arah nenek laila

ÔÇ£sebentar…ÔÇØ ucapku mengembalikan dian ke tante wardani, dian mengangguk pelan

Aku melangkah mendekati nenek laila dan nenek ifah yang memeluk mbak alya dan mbak alsa. Kudekati mereka berempat tepat ditengah-tengah nenek laila dan nenek ifah.

ÔÇ£Apa kamu benar, arya anaknya mahesa?ÔÇØ ucap nenek ifah

ÔÇ£bukan…ÔÇØ ucapku sambil tersenyum dan membuat mereka terkejut

ÔÇ£aku arya, anak dari diah ayu pitalokaÔÇØ ucapku, mereka berdua kembali tersenyum dan memelukku

ÔÇ£Arya… hiks terima kasih nak, kamu memang anak yang baik hiks hiks hiks terima kasih…ÔÇØ ucap nenek laila

ÔÇ£nenek senang kamu ada disini hiks hiks hiksÔÇØ ucap nenek ifah yang terisak

Kupeluk erat tubuh mereka berdua…

ÔÇ£mbak alya, mbak alsa…ÔÇØ panggilku kepada mereka berdua yang nampak masih asing denganku. Kulepaskan pelukanku dan menarik tangan mereka berdua

ÔÇ£nanti beli es krim bareng-bareng lagi yuk…ÔÇØ ucapku tersenyum, tiba-tiba saja air mata mereka keluar sangat deras. Mereka melompat memelukku, hingga aku jatuh kebelakang

ÔÇ£dasar kamu cengeng! Hiks hiks hiksÔÇØ ucap mbak alsa

ÔÇ£cengeng, cowok cengeng!ÔÇØ ucap mbak alya

ÔÇ£Ha ha ha ha… ternyata kita sama-sama cengeng ya mbak hiks hiks…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£heÔÇÖem… terima kasih ar…ÔÇØ ucap mbak alsa dan mbak alya bebarengan

ÔÇ£iya mbak sama-sama…ÔÇØ ucapku

Tak berlama-lama, koplak kemudian melepas semua pakaian dari anak buah ayah. Dipakaikannya ke nenek alya, nenek ifah, mbak alya dan mbak alsa. Kulihat dian duduk bersandar pada tante wardani, sesekali kami melempar senyum ketika aku dan koplak mengumpulkan para anak buah ayah dalam satu tempat. Nenek dan tanteku juga duduk bersebelahan dengan tante wardani dan dian. Tampak ayah serta om nico tak bisa berdiri dan hanya bisa merintih kesakitan dengan tubuh hancurnya itu.

ÔÇ£Aku bayar berapapun, lepaskan aku…ÔÇØ ucap bandar 2

ÔÇ£iya, kalian minta berapapun aku pasti..ÔÇØ ucap bandar 3 yang terhenti

Dhuar… dhuar….

ÔÇ£Arghh…..ÔÇØ teriak dua bandar

ÔÇ£dasar bajingan! tuh makan uang kalian, kalau akyu sih ndak mau uang, mau kontol saja deh…ÔÇØ ucap dira sambil berjalan melenggak lenggok bak seorang pragawati mendekati dian

ÔÇ£ssst… mbak… mbak… nanti dira diajarin ya biar susunya tambah gedhe hi hi hi…ÔÇØ ucap dira pelan tapi terdengar oleh kami

ÔÇ£Dasar koplak!ÔÇØ ucap koplak

ÔÇ£lho sudah gedhe lho mbak masa mau lebih gedhe lagi…ÔÇØ ucap nenek ifah

ÔÇ£iiih nenek gitu deh, kan dira pengen lebih seksi lagi…ÔÇØ ucap dira menyahut

ÔÇ£yaelah nenek jangan percaya tuh sama mbaknya, itu mah luarnya aja yang mbak, dalamnya mas ha ha ha..ÔÇØ ucap dewo

ÔÇ£iiih dewo nakal deh, nanti dira sedot baru tahu rasa…ÔÇØ ucap dira menimpali dewo

ÔÇ£iya ngeri banget…ÔÇØ terdengar suara lirih dari gerombolan anak buah ayah

ÔÇ£WOI BILANG APA KAMU! MAU MATI KAMU!ÔÇØ ucap dira dengan suara cowoknya

Kami semua tertawa dan nenek beserta tanteku juga tersadar kalau dira bukanlah cewek. Satu persatu koplak duduk dan melempar sebungkus rokok. Ketika bungkus rokok itu dilempar kearahku, kulihat dian sejenak. Dia mengangguk dengan senyumannya, aku tersenyum dan kusulut sebatang dunhill mild.

ÔÇ£Okay semuanya… dengarkan…ÔÇØ ucap anton lantang

Kami semua menoleh ke arah anton…

ÔÇ£Kalian koplak, pergilah, kembali berkumpul 2-3 hari lagi. Jika kalian berada didalam rumah, lakukan aktifitas seperti biasanya. Aku tidak ingin kalian diinterogasi berlebihan, dan kalian semua beristirahatlah selama 2-3 hari ini. biar aku yang menangani mereka semua…. okay bisa?ÔÇØ ucap anton

ÔÇ£ya, tapi jangan katakan kalau kami yang berada disiniÔÇØ ucap tugiyo

ÔÇ£ya jelaslah tidak, bisa-bisa kalian malah di tahan…ÔÇØ ucap anton

ÔÇ£yeee takut nih takut habis bunuh orang ya he he heÔÇØ ejek udin

ÔÇ£gundulmu kamu saja sudah bunuh banyak…ÔÇØ ucap tugiyo

ÔÇ£kan terpaksa ha ha haÔÇØ ucap udin

ÔÇ£sudah… sudah… sebentar lagi mereka datang, kalian pergilah sampai aku mengabari kalian semua..ÔÇØ ucap anton

ÔÇ£tapi nton… eeee…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£sudah, tenang saja dian akan baik-baik saja…ÔÇØ ucap anton

ÔÇ£baiklah terima kasih…ÔÇØucapku

Sayup-sayup terdengar suara sirine, anton kemudian menyuruh kami segera pergi. Aku dekati dian…

ÔÇ£Mas pergi dulu, 2-3 hari lagi mas temui ade…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£heÔÇÖem hati-hati, jangan macem-macem…ÔÇØ ucapnya, aku mengangguk

ÔÇ£tante… tolong jagain dian ya…ÔÇØ ucapku kepada tante wardani

ÔÇ£iya, ar… pasti…ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£nenek ifah, nenek laila, mbak alya dan mbak alsa… arya pergi dulu, 2-3 hari lagi kita akan bertemu. Anton akan mengurus semuanyaÔÇØucapku

ÔÇ£iya ar, kamu hati-hati ya…ÔÇØ ucap nenek laila

ÔÇ£jaga diri kamu…ÔÇØ ucap nenek ifah

ÔÇ£terima kasih keponakanku yang cengeng… cup…ÔÇØ ucap mbak alya dan mbak alsa sambil mengecup pipiku

Sekali lagi aku dekati dian dan kukecup bibirnya, dian tersenyum dan aku kemudian berlari keluar gedung bersama-sama dengan koplak. Berlari menyusuri kebun yang rimbun hingga akhirnya menemukan motor-motor kami sendiri-sendiri. aku dan wongso, aris dan dewo sedangkan yang lainnya diparkir ditempat yang berbeda. Aris dan Dewo melaju terlebih dahulu diikuti aku dan wongso. Setelah aris dan dewo menghilang dari pandangan kami, tiba-tiba sebuah mobil sedan hitam melaju disamping kami lalu mendahului kami. mobil itu tiba-tiba berhenti didepan kami, aku dan wongso tampak terkejut. Kami pun bersiap-siap jika saja ada sebuah hambatan lagi. Ketika pintu mobil itu terbuka…

ÔÇ£Arya, ayo pulang…ÔÇØ ucap wanita itu, Ibu

ÔÇ£eh…Ibu…ÔÇØ aku terkejut ketika melihat ibu

ÔÇ£huft… ternyata tante to… owalah tak kira siapa, tapi bukannya tante…ÔÇØ ucap wongso

ÔÇ£sudah, nanti kamu dengar cerita dari arya saja ya, arya ayo masuk…ÔÇØ ucap ibu

ÔÇ£wong, aku bareng sama ibu ya…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£yoi bro, malah enak kalau gini, aku bisa langsung ke rumah menemui bidadariku…ÔÇØ ucap wongso

Aku dan wongso akhirnya berpisah, wongso langsung mendahului kami ketika aku masuk ke dalam mobil.

ÔÇ£kenapa ibu bisa sampai disini, bukannya ibu mmmm…ÔÇØ ucapku tersumbat oleh bibir indahnya

ÔÇ£sayang… ibu kangen, sekarang kamu ikut ibu sayang ?ÔÇØ ucap ibu

ÔÇ£eh… bu tapi dian…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£dian akan baik-baik saja percaya sama ibu, Tante asih juga ikut dalam datang ke gedung saat ini, jadi kamu tenang saja sayang, okay?ÔÇØ ucap ibu, sambil mengalihkan pandangannya kedepan

ÔÇ£ibu ingin kita berpisah… dan menjadi seorang ibu dan anak lagi… dan ini yang terakhir sebelum kamu bersama dian…ÔÇØ ucap ibu, kupandangi wajah ibu dari samping. Kudekatkan wajahku ke wajah ibu..

ÔÇ£cup… ÔÇ£

ÔÇ£jika memang begitu seharusnya…ÔÇØ ucapku, ibu memandangku dan kami kemudian saling melumat bibir kami

Sebuah rombongan mobil kepolisian dan juga mobil intelejen Negara beserta 3 mobil ambulance datang ke gedung. Bersamaan dengan kedatangan mereka, koplak telah menghilang. Disana hanya ada anton, anak buah mahesa dan nico serta dua orang bandar. Wardani, dian (Arda), dan juga keluarga arya juga berada disitu. Ketika semua datang masuk, serbuan polisi dan IN tampak tak berarti apa-apa karena mereka hanya menemukan anton yang duduk dengan sebatang dunhill mild di tangannya juga senapan laras panjang di pangkuannya.

ÔÇ£Anton, apa kamu yang?ÔÇØ ucap seorang lelaki yang tidak lain adalah komandan anton

ÔÇ£buka ndan, yang melakukannya adalah orang-orang gilaÔÇØ ucap anton dengan senyuman

Tanpa memperpanjang pembicaraan, IN kemudian membantu kepolisian untuk mengevakuasi para tersangka. Namun tiba-tiba saja dua orang polisi yang merupakan pimpinan kepolisian yandatang ke tempat itu langsung ditubruk dan di borgol oleh anak buahnya sendiri.

ÔÇ£Apa-apaan kalian ini?ÔÇØ ucap pimpinan 1

ÔÇ£Maaf pak, saya tidak bisa membiarkan anda menolong mereka, anda salah satu dari merekaÔÇØ ucap anak buahnya

ÔÇ£kalian tidak punya bukti untuk itu semuaÔÇØ ucap pimpinan2

Kemudian seorang IN memperlihatkan rekaman video dan suara dihadapan dua pimpinan itu. kedua pimpinan kepolisian tertunduk dan tak bisa berkutik lagi.

ÔÇ£terima kasih untuk kerjanya IN, setelah ini pasti mereka akan masuk penjara dan menjadi orang biasa kembaliÔÇØ ucap seorang yang menangkap pimpinan 1

ÔÇ£sama-samaÔÇØ ucap anggota IN

ÔÇ£masukan mereka kedalam mobil tahanan semua…ÔÇØ ucap seorang yang menangkap pimpinan 1

Mereka berdua kemudian berjalan menghampiri anton. Ternyata mereka berdua adalah anggota kepolisian yang diberi tugas untuk mengawasi pergerakan kedua pimpinan kepolisian tersebut. Mereka ditugaskan oleh kepolisian pusat setelah kepolisian pusat mendapat laporan dari IN. Setelah para tersangka dievakuasi, begitu pula dengan Mahesa dan Nico yang ditandu masuk ke dalam ambulan. tampak asih berjalan mengahampiri dian. ifah, laila beserta anaknya di evakuasi oleh perawat lain. Walau berpapasan dengan asih, asih masih tidak sadar kalau itu adalah keluarganya, wajar karena asih tahu dari diah kalau dian ada didalam gedung itu. sehingga asih hanya fokus kepada dian.

ÔÇ£kamu ndak papa yan?ÔÇØ ucap asih

ÔÇ£ndak apa tan…ÔÇØ ucap dian

ÔÇ£apakah anak saya bisa sembuh lagi mbak?ÔÇØ ucap wardani kepada asih

ÔÇ£eh, anda ibu dian?ÔÇØ ucap asih

ÔÇ£iya, ini anak saya Warda nicolaswati…ÔÇØ ucap wardani

ÔÇ£mama… mulai sekaranng dan seterusnya namaku Dian, Dian Rahmawati..ÔÇØ ucap dian kepada Ibunya

ÔÇ£eh, iya… Dian Rahmawati Sukoco…ÔÇØ ucap wardani dengan senyuman, dian tampak terkejut mendengar nama itu

ÔÇ£terserah mama, yang penting mama harus bawa papa ke dian, biar dian tahu papa dianÔÇØ ucap dian dengan senyuman karena mengetahui nama dibelakangnya. Jelas itu adalah nama seorang laki-laki yang di cintai oleh ibunya

Asih tampak berada diantara percakapan mereka tapi asih tahu dengan jelas jika yang dibicarakan oleh dua perempuan dihadapannya mengenai keluarga dan cinta. Selepas percakapan, kemudian dian dibawa asih beserta wardani menuju ke ambulan. Dian ditandu dan dimasukan ke dalam ambulan beserta wardani, asih masih berada diluar. Keramaian dan suara sirine polisi menghiasi malam ini. Asih bersyukur karena dian baik-baik saja. Asih berdiri masih berada di lokasi melihat ambulan yang membaawa dian pergi, ketika melihat kesekelilingnya asih tampak terkejut.

ÔÇ£TANTE!…ÔÇØ teriak asih ke laila dan ifah. Laila dan ifah memandang asih, tampak asing bagi mereka berdua. Asih lalu menghampiri laila dan ifah, mereka berdua masih sedikit bingung dengan kehadiran asih yang datang menghampiri mereka.

ÔÇ£tante laila, tante ifah? Ini asih… keponakan om tianÔÇØ ucap asih dengan mata berkaca-kaca, tiba-tiba saja ingatan mereka berdua, laila dan ifah, kembali ke masa dimana suami mereka masih hidup

ÔÇ£Asiiiiiiih…ÔÇØ teriak mereka berdua, laila dan ifah, yang langsung memeluk asih

ÔÇ£tante bersykur masih bisa lihat kamu lagi…ÔÇØ ucap laila yang memeluk asih dengan sangat erat, diikuti ifah yang memeluk asih

ÔÇ£tante kemana saja?ÔÇØ ucap asih mencoba mencari tahu tentang tantenya yang tiba-tiba saja berada di tempat ini

ÔÇ£panjang sih, oh iya ini alsa dan alya… tapi lebih cocok jadi keponakan kamuÔÇØ ucap ifah

ÔÇ£eh… tante asih…ÔÇØ ucap alsa sedikit ragu

ÔÇ£eh, manggilnya mbak kan kalian anak dari om-kuÔÇØ ucap asih tersenyum dengan air mata mengalir dipipinya

ÔÇ£heÔÇÖem mbak…ÔÇØ ucap alya

Mereka berpelukan , saling melepas rindu satu sama lain. Tawa riang mereka berdua senantiasa menghiasi bibir mereka. laila dan ifah tampak begitu gembira bertemu dengan keluarganya lagi setelah sekian lama terpenjara didalam sebuah rumah bersama anak-anaknya. Masih beruntung kedua anaknya keluar untuk sekolah dan kuliah. Namun tetap saja alya dan alsa ketika sekolah hingga kuliah selalu mendapatkan penjagaan ketat. Alsa dan alya sengaja dikuliahkan di luar daerah agar tidak bertemu dengan keluarga dari pak warno kakek arya.

ÔÇ£nanti tante ceritakan sih, tadi itu ar…ÔÇØ ucap ifah

ÔÇ£sssst… asih sudah tahu, jangan ngomong disini hmmm…ÔÇØ ucap asih

ÔÇ£jadi mbak sudah tahu ya?ÔÇØ ucap alya

ÔÇ£jelas, 12 anak laki-laki, tapi yang satu tidak jelas itu laki apa cewek hi hi hiÔÇØ ucap asih, mereka berempat tampak bingung karena asih mengetahui semuanya

ÔÇ£lho kok bisa tahu?ÔÇØ ucap laila

ÔÇ£sudah nanti asih ceritakan, asih akan hubungi om warno dan tante ayu…ÔÇØ ucap asih, mereka sedikit terhenyak ketika mendengar nama yang disebutkan asih

ÔÇ£eh bagaimana kabar mereka sih?ÔÇØ ucap laila dengan sedikit sedih

ÔÇ£baik kok, nanti asih ceritakan semua… oh ya ayah dan ibu juga bareng dengan mereka kokÔÇØ ucap asih

ÔÇ£Mas wardi dan mbak Umi?ÔÇØ ucap ifah

ÔÇ£heÔÇÖem pokoknya nanti asih ceritakan semua dan asih mau ngabari ke mereka kalau tante ifah dan tante laila sama alsa dan alya sudah kembali , pasti mereka senang…ÔÇØ ucap asih

ÔÇ£tapi sih, om kamu sudah tiada. Kami bukan…ÔÇØ ucap laila terpotong

ÔÇ£masih… bukan berarti om tiada, tante bukan keluarga kami lagi, tante dan adik-adikku ini masih, masih keluarga sampai kapanpun…ÔÇØ ucap asih

Air mata mengalir di pipi ifah dan laila, begitu pula alsa dan alya tak mampu menahan haru lagi. Sekali lagi mereka menagis untuk kedua kalinya, menangis bersama karena kebahagiaan yang sempat tertunda bertahun-tahun lamanya. Dalam tangisnya ifah dan laila teringat akan suaminya. Seandainya saja tian masih berada disini mungkin saja mereka akan merasakan kelengkapan dalam kebahagiaannya. Berlima mereka kemudian memasuki sebuah ambulan menuju ke rumah sakit daerah.

Didalam sebuah ambulan yang terlebih dahulu berangkat…

ÔÇ£Arda…ÔÇØ ucap wardani yang duduk disamping dian yang telah mendapat pertolongan pertama

ÔÇ£Dian ma, aku lebih suka dian…ÔÇØ ucap dian memandang ibunya

ÔÇ£eh, iya dian…ÔÇØ hening sesaat setelah wardani menjawab.

Kedua mata itu bertatapan senyum mereka saling mengembang namun wardani tampak sedikit kikuk dihadapan dian. sesaat kemudian wardani menundukan kepalanya, merasa malu terhadap anaknya sendiri.

ÔÇ£Maafkan mama…ÔÇØ ucap wardani

ÔÇ£Sudah ma, itu semua sudah berlalu… Arya juga sudah cerita semuanya kepada dian…ÔÇØ ucap dian

Namun wardani tetap saja tak mampu memandang anaknya…

ÔÇ£Ma…ÔÇØ panggil dian

ÔÇ£Maafkan mama hiks hiks hiks mama tidak tahu kalau arya adalah… hiks hika hiks…ÔÇØ ucap wardani terisak didalam mobil ambulan bersama dua orang perawat. Kedua orang perawat itu memilih untuk diam ketika mereka tahu pembicaraan antara kedua wanita itu sangat serius.

ÔÇ£Mama jangan nangis…ÔÇØ

ÔÇ£Ma… apapun yang terjadi mama adalah Ibu dian, sewaktu mama cerita ditelepon mengenai seorang lelaki yang datang kerumah mama dan mama… sebenarnya dian saat itu mengira jika lelaki itu adalah arya namun pikiran itu dian hilangkan. Tetapi setelah arya cerita semuanya kepada dian…ÔÇØ

ÔÇ£Sebenarnya, ya ada sedikit rasa sakit didalam hati tapi jika dian mengingat bagaimana kondisi mama dirumah itu. itu bukan kesalahan, secara psikologis mama memang membutuhkannya. Mama sendiri pernah cerita kan kalau disana mama tidak pernah mmm…ÔÇØ ucap dian yang selalu melanjutkan kata-katanya dengan pandangan mata ketika mengatakan tentnag sesutu yang tabu, dikarenakan ada perawat disana.

ÔÇ£iya, yan maafin mama ya sayang… mama janji ndak akan melakukan lagi, ndak akan. Mama harap kamu tetap sama Arya ya sayang…ÔÇØ ucap wardani mendekati dian dan memeluknya

ÔÇ£Dian juga minta maaf ma…ÔÇØ ucap dian, wardani kemudian melepaskan pelukan

ÔÇ£Minta maaf apa?ÔÇØ ucap wardani

ÔÇ£selama ini, dian berada didaerah ini tidak pernah diluar kota…ÔÇØ ucap dian

ÔÇ£eh, ndak papa sayang…ndak papa…ÔÇØ ucap wardani

ÔÇ£setelah mama meminta bajingan itu untuk membawa dian pergi, pada awalnya dian berada diluar daerah tapi dian kangen dengan daerah ini. walaupun itu bukan alasan utama, alasan utama dian adalah dian ingin membawa mama dan yang kedua karena bocah itu…ÔÇØ ucap dian terhenti

ÔÇ£bocah?ÔÇØ ucap wardani bingung

ÔÇ£ya bocah tu, ketika itu dian nekat ke daerah ini lagi, tapi malah dapat masalah dan bocah itu menyelamatkan dian. maka dari itu setelah bertemu dengan bocah itu, keinginan dian untuk kembali ke daerah itu semakin kuatÔÇØ ucap dian

ÔÇ£bocah? Bocah siapa??ÔÇØ ucap wardani tampak penasaran

ÔÇ£Yang tadi…ÔÇØ ucap dian dengan wajah sedikit memerah

ÔÇ£oooo… jadi kamu sudah pernah ketemu dengan bocah itu sebelumnya sayang?ÔÇØ ucap wardani, dian hanya mengangguk

ÔÇ£Pantesan saja tadi mama lihat kamu, hmmm… kayanya cinta banget?ÔÇØ ucap wardani tampak sedikit menggoda dian

ÔÇ£iih mama apaan sih?ÔÇØ ucap dian

Ada tawa di dalam wajah mereka, ada senyum di dalam pikiran mereka berdua…

ÔÇ£setelah itu, dian memaksa dia (nico) itu untuk membawa dian kembali ke daerah ini. kuliah hingga S2 dan itu tanpa sepengetahuan mama. Semakin hari dia semakin menginginkan dian, karena dian berbeda dengan dian yang dulu. Tapi dian selalu menolaknya dengan ancaman akan bunuh diri dan lain sebagainya. Entah kenapa dia sedikit takut dengan ancaman itu…ÔÇØ ucap dian

ÔÇ£karena dia ingin menjadikan kamu sebagai pengganti mama…ÔÇØ ucap wardani membuat dian sedikit terkejut

ÔÇ£mama tahu itu ketika dia dan orang itu (mahesa) berbincang-bincang dirumah, ketika mama sudah tidak mampu lagi kamulah pengganti mama. Tapi sudahlah semua telah berakhir dan kita selamat, itu juga karena bocah itu…ÔÇØ ucap wardani

ÔÇ£iya ma, mungkin karena ada bocah itu semuanya telah berubah. karena bocah itu semuanya semuany menjadi baik-baik saja…ÔÇØ ucap dian

ÔÇ£Ya begitulah mbak, bu… namanya saja koplak. Walau koplak dia tetap baik…ÔÇØ ucap perempuan disamping dian yang memakai baju perawat

ÔÇ£Eh…ÔÇØ dian dan wardani tampak terkejut

ÔÇ£kenapa mbak? Terkejut ya saya tahu? Hi hi hi… Koplak itu memang seeperti itu, walau brutal tapi baik, dan ndak terus jadi preman gitu… mbak pacarnya kan? Waktu itu didepan warung yang teriak-teriak itu kan mas arya kan? Hi hi hi…ÔÇØ ucap perawat perempuan

ÔÇ£Eh…ÔÇØ wajah dian semakin memerah

ÔÇ£teriak bagaimana mbak?ÔÇØ tanya wardani heran

ÔÇ£ya, gimana waktu itu… pokoknya gini dian i love you hi hi hi hi didepan warung-warung lho bu…ÔÇØ ucap perawat

ÔÇ£oh… pantesan saja anak saya tergila-gila hi hi hiÔÇØ canda wardani

ÔÇ£ih mama apaan sih…ÔÇØ ucap dian

Semua tertawa dalam ambulan tersebut, dan dian dengan wajah erahnya terus saja di bully oleh orang-orang yang berada didalam mobil ambulan tersebut. Selang beberapa saat, rasa lelah menghinggapi mereka dalam perjalanan pulang ke rumah sakit. Hingga hening karena lelah tertawa.

ÔÇ£Mas, aku memang merasakan sakit ketika aku tahu bahwa lelaki itu adalah kamu. Sekalipun itu bukan keinginanmu tapi keinginan ibu, aku juga tidak bisa menyalahkan ibuku karena kondisi ibu yang hanya dijadikan mainan oleh mahesa dan nico. Ibu juga butuh kepuasan mungkin itu jawabannya… ah… Arya, arya banyak sekali wanita yang telah kamu tidur sayang. Bahkan ibumu juga, sangat sakit dan aneh ketika melihat itu semua bahkan aku sempat tidak percaya jika kamu memang melakukannya. Tapi ketika aku adtang kerumahmu, berbicara dengan ibumu. Sesaat itu aku benar-benar tidak menyangka jika kamu benar-benar melakukannya. Dari cara ibumu berbicara, memandangku semuanya mengatakan bahwa kamu melakukannya…ÔÇØ

ÔÇ£Aku sakit, merasa lebih sakit dari siapapun… tapi itu semua juga karena mahesa dan nico… siapa yang salah entah, tapi jika aku harus berpisah denganmu. Aku memilih mati, pandanganmu saat itulah yang mengembalikan kepercayaanku, keyakinanku. Setelah ini, setelah kita bertemu kembali… akan aku jadikan kamu sebagai rajaku dan aku hanya satu-satunya ratuku… aku akan membuatmu lebih jauh lagi dan lebih dalam lagi tersesat dalam hatiku, agar kamu tidak bisa keluar lagi. Akan aku buat sebuah labirin tanpa pintu kleuar didalam hatiku… akulah ratumu dan akulah wanitamu, akan kujaga pandanganmu setelah bersamaku…ÔÇØ bathin dian

ÔÇ£Eh, ngalamun saja…ÔÇØ ucap wardani menyadarkan dian

ÔÇ£ih, mama bikin kaget saja…ÔÇØ ucap dian

ÔÇ£Lucu sih kamu… akhirnya kamu dapat cowok yang sip buat kamuÔÇØ ucap wardani dengan senyuman, wajah dian semakin memerah

ÔÇ£eh, ma…ÔÇØ ucap dian

ÔÇ£iya..ÔÇØ balas wardani

ÔÇ£lelaki yang namanya mama tambahkan dibelakangku….?ÔÇØ ucap dian, sesaat itu wajah wardani langsung tertunduk

ÔÇ£mama tidak tahu nak, apa papamu itu masih mau menerima mama…ÔÇØ ucap wardani

ÔÇ£cobalah mama temui…ÔÇØ bujuk dian

ÔÇ£tidak nak, mama tidak sanggup mama merasa sangat bersalah pada papa kamu…ÔÇØ ucap wardani

ÔÇ£tidak ada salahnya mencoba…ÔÇØ ucap dian

ÔÇ£eh…ÔÇØ wardani diam sesaat

Mobil ambulan telah sampai di rumah sakit…

ÔÇ£ya nak, nanti mama akan temui setelah mama yakin kamu baik-baik sajaÔÇØ ucap wardani

ÔÇ£heÔÇÖem…ÔÇØ ucap dian sambil mengangguk

Disebuah mobil dibelakang mobli tahanan yang berjalan…

ÔÇ£Untung kamu selamat ton..ÔÇØ ucap seorang lelaki

ÔÇ£iya ndan, berkat mereka…ÔÇØ ucap anton

ÔÇ£seharusnya kamu tidak bergerak sendiri seperti iniÔÇØ ucap komandan

ÔÇ£kalau aku bergerak bersama IN, aku akan kehilangan merekaÔÇØ ucap anton

ÔÇ£ha ha ha ha… dasar! Beruntung aku menemukanmu saat itu…ÔÇØ

ÔÇ£oia, tadi di sematpon kamu yang ketinggalan dikantor ada telepon dari cewek namanya AntiÔÇØ lanjut komandan

ÔÇ£eh…ÔÇØ anton tampak terkejut

ÔÇ£Setelah ini, kamu suruh pulang cepat. Kangen katanyaÔÇØ ucap komandan, sesaat kemudian anton tersadar jika dia tidak membawa alat komunikasinya tapi…

ÔÇ£komandan jangan bohong, tadi waktu berangkat saya bawa ndan. Paling tadi pas mau masuk ke mobil komandan yang ngambil kan?ÔÇØ ucap anton

ÔÇ£Ha ha ha ha ketahuan juga ternyata… setelah ini mu cepatlah pulang, biar kami yang menangani dan saya pastikan semuanya beres!ÔÇØ ucap komandan

ÔÇ£yaelah ndan, saya itu anak buahnya. Kok malah komandan yang mau mengrusi semuanyaÔÇØ ucap anton

ÔÇ£Ndan ijin menyelaÔÇØ ucap seorang

ÔÇ£ya silahkanÔÇØ ucap komandan

ÔÇ£sudah nton, istirahat! Biarkan sekali-kali kami semua yang begadang, okay?ÔÇØ ucap teman anton

ÔÇ£Eh… baiklahÔÇØ ucap anton

ÔÇ£oh iya, tapi kamu tetap saya hukum ya nton…ÔÇØ ucap komandan

ÔÇ£Eh…ÔÇØ anton terkejut

ÔÇ£karena kamu tidak menginformasikan semuanya, jadi kamu saya hukum… liburan satu minggu setelah kasus ini selsai, okay?ÔÇØ ucap komandan

ÔÇ£terima kasih ndan…ÔÇØ ucap anton tertawa lebar

Didalam mobil ambulan yang berisi mahesa dan nico, tampak mereka hanya bisa merintih kesakitan. Tampak sekali mereka tidak menyangka yang telah terjadi pada mereka. pilihan mati hanya ada didalam otak mereka, namun ketika mengingat apa yang diperlihatkan oleh Arya tampaknya matipun tak akan pernah bisa dicapai oleh mereka. Mereka berdua teringat sebuah memori dimasa yang lalu…

Seorang wanita tua dan lelaki tersungkur dijalanan, disaksikan oleh semua warga disana. Tak ada satupun yang menolong karena ketakutan mereka. bagaimana menolongnya dengan dua orang membawa senjata berpeluru? Setelah sepasang kekasih itu tersugngkur, dan kemudian dimaki-maki oleh dua orang pria. Mereka ditinggalkan begitu saja oleh dua pria tersebut dijalanan, dengan tawa yang sangat keras dua pria itu berjalan menuju ke mobilnya.

ÔÇ£MAHESA! NICO! Suatu saat nanti akan ada seorang lelaki yang akan mengjancurkanmu, dan membuatmu menderita! LEBIH MENDERITA DARI KAMI, BAHKAN UNTUK MATI SAJA KAMU TIDAK AKAN PERNAH BISA! KAMU AKAN MENDERITA!ÔÇØ ucap seorang perempuan sambil menunjuk-menunjuk ke arah dua pria itu, mahesa dan nico, dengan jari telunjuk kanannya sedang tangan kirinya mengangkat kepala seorang lelaki tua untuk disandarkan pada pahanya.

ÔÇ£HA HA HA HA HA OH ya??? HA HA HA HAÔÇØ teriak mahesa

ÔÇ£PASTI KAMU AKAN LEBIH MENDERITA! SANGAT MENDERITA!ÔÇØ teriak wanita setengah baya itu lagi, yang tak lain adalah mahesawati. Di pergelangan tangannya menggantung sebuah batu giok.

Disaat itu mahesa memang memperhatikan sekilas batu giok itu tapi dia malah tertawa dan meninggalkan sepasang kekasih itu. bahkan nico pun malah menyumpahi sepasang kekasih itu. mereka akhirnya pergi dengan sebuah mobil dengan sebuah kata-kata yang membuntuti mereka dibelakang mobil itu. ya kata-kata dari mahesawati yang suatu saat akan menubruk mereka dan membalikan jalan hidup mereka.
Menyesal ya, mereka sekarang menyesal namun perkataan dari perempuan itu adalah sebuah kejadian yang tertunda sangat lama. Walau tertunda tapi sekarang telah menjadi kenyataan, menderita, sangat menderita itulah yang akan terjadi pada mereka berdua.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*