Home » Cerita Seks Mama Anak » Wild Love 56

Wild Love 56

ÔÇ£aku sudah datang, aku sudah menepati janjikuÔÇØ ucap seorang perempuan kepada seorang lelaki yang berada didalam sebuah rumah di perumahan SAE

ÔÇ£kau datang sendiri?ÔÇØ ucap lelaki tersebut

ÔÇ£Ya, aku datang sendiri. kau bisa lihat sendiri kan? Orang-orangmu juga sudah memeriksa mobilkuÔÇØ ucap perempuan tersebut

ÔÇ£bagus, ha ha ha ha…ÔÇØ ucap lelaki tersebut dan diakhiri dengan tawa yang sangat keras

ÔÇ£sekarang tepati janjimu, lepaskan ibuku!ÔÇØ bentak perempuan tersebut

Sejenak lelaki itu diam dan melihat perempuan yang berdiri tak jauh didepannya.

ÔÇ£he he he Ha ha ha ha ha ha ha haÔÇØ tawa lelaki itu semakin keras

ÔÇ£melepaskan ibumu? Ha ha ha haÔÇØ ucap lelaki tersebut dengan tawa yang keras membuat perempuan tersebut terkejut, sedikit rasa takut mulai menyelimuti udara disekitarnya

ÔÇ£Hei ikat dia!ÔÇØ teriak lelaki tersebut kepada anak buahnya, kedua anak buahnya langsung mendekati perempuan itu, dengan sangat kasar para anak buah lelaki tersebut memiting dan mengikat pergelangan tangan perempuan tersebut

ÔÇ£LEPASKAN! DASAR KAMU BAJINGAN! KAMU INGKAR!ÔÇØ teriak perempuan tersebut yang meronta mencoba melepaskan ikatan hingga dia jatuh duduk bersimpuh

Lelaki itu kemudian bangkit dari duduknya dan mendekati perempuan tersebut. Dengan sedikit berlutut lelaki tersebut memgang dagu perempuan yang berada dihadapannya. Dipandanganginya dengan senyum setan berada di bibirnya.

ÔÇ£kamu semakin lama semakin cantik, sayang sekali kalau aku melepaskanmu ha ha ha haÔÇØ ucap lelaki tersebut

ÔÇ£cuih… dasar kamu bajinganÔÇØ ucap perempuan tersebut sembari meludahi wajah lelaki yang dihadapannya

Plak… sebuah tamparan mendarat di pipi, tiba-tiba seorang wanita berlari dari dbagian dalam rumah menghampiri perempuan tersebut.

ÔÇ£ARDAAA!ÔÇØ ucap wanita setengah baya tersebut dan memeluk perempuan yang aru saja ditampar oleh lelaki tersebut

Sembari membersihkan ludah di pipinya lelaki tersebut kembali duduk dan menyulut rokok dihdapan perempuan tersebut. Dipandanganginya kedua wanita dihadapan dengan senyum setan yang menawan.

ÔÇ£melepaskan kalian ha ha ha ha aku tidak akan sebodoh itu arda…ÔÇØ

ÔÇ£atau perlu aku panggil Dian Rahmawati? Ha ha ha ha ha…ÔÇØ ucap dan tawa lelaki tersebut

ÔÇ£Nico, sudah lepaskan arda dia tidak ada kaitannya dengan semua ini. aku akan menuruti semua keinginanmu dan aku layani semuanya. Aku akan menjadi budak kalian, tapi aku mohon lepaskan arda hiks hiks hiks…ÔÇØ ucap wanita setengah baya yang mendekap Arda atau yang dikenal dengan nama Dian

ÔÇ£Hei wardani, aku tidak sebodoh itu. banyak sekali yang telah hilang karena gerombolan-gerombolan bajingan yang membunuh aspa dan tukang. Jadi kalian berdualah yang akan menjadi tema hari ini, ibu dan anak ha ha ha ha oh ya aku beritahu lagi, kalian juga punya teman tenang saja, mereka juga sama seperti kalian ibu dan anak yang montok…. dan lonthe! Ha ha ha haÔÇØ ucap nico

ÔÇ£dasar bajingan, semoga kalian semua akan mati secepatnya!ÔÇØ teriak arda

ÔÇ£Hei hei hei… kamu tidak boleh seperti itu sayang, kamu adalah anak papa yang paling cantik ha ha ha ha tidak rugi aku menikmati tubuh ibumu dan melahirkan kamu ha ha ha haÔÇØ ucap dan tawa nico, dihadapan wardani dan arda.

ÔÇ£kamu tahu untung saja kamu tidak tomboi, kamu mau mempercantik diri kamu. coba saja kalaukamu masih lusuh, ndak bakal ada yang mau sama lonthe kaya kamu, ndak bakal laku ha ha ha haÔÇØ ucap dan tawa nico

ÔÇ£maafkan mama sayang hiks hiks kamu tidak seharusnya berada disini, kamu seharusnya lari kehidupanmu masih panjang, maafkan ibumu nak hiks hiks hiks…ÔÇØ ucap warda kepada anaknya warda nicolaswati (Dian) yang berada dalam pelukannya

ÔÇ£Mama… mama ndak salah hiks hiks… Cuma mama yang aku punya, arda ndak bakal meninggalkan mama sendirian hiks hiksÔÇØ ucap arda kepada ibunya

ÔÇ£maafkan ibu nak maafkan… hiks hiks hiks…ÔÇØ ucap warda terisak sambil memeluk anaknya

ÔÇ£ha ha ha ibu dan anak memang indah ha ha ha ha lonthe-lontheku ha ha ha, hei kalian semua juga akan menikmati tubuh ini, nanti malam kita akan bersenang-senang ha ha ha haÔÇØ teriak nico dihadapan mereka, diikuti anak buahnya juga ikut tertawa

Dua orang wanita, ibu dan anak, sang ibu memeluk anaknya yang tangannya terikat dibelakang tubuhnya. Air arda, keluar dengan seribu penyesalan karena janji nico yang secara garis biologis adalah ayahnya telah diingkarinya. Maksud hati menyelamatkan ibunya namun yang terjadi malah sebaliknya dia dan ibunya menjadi tahanan.

ÔÇ£maafkan aku, arya… hiks hiks hiks… mungkin setelah ini kamu akan melihatku dalam keadaan yang tidak kamu inginkan. Aku harap kamu akan menemukan wanita yang benar-benar bisa mendampingimu. Ini sudah keputusanku untuk menyerahkan diriku dan aku tidak tahu kalau semuanya akan berakhir bertambah buruk… sekali lagi maafkan aku, aku harap jika aku hidup dan kamu hidup kamu mau memaafkan aku walau kau tidak menginginkanku lagi… maafkan aku hiks hiks hiks…ÔÇØ bathin arda

—-

ÔÇ£Ar… itu…ÔÇØ ucap anton mencoba menyadarkanku dari lamunan akan kemarahanku terhadap dua bajingan yang telah menangkap dian, entah apa yang sebenarnya terjadi kenapa dian bisa berada disini.

Semua benang terikat dengan sendirinya, dan membuat sebuah rangkuman dalam perjalanan hidupku. Setiap kata-kata dian yang keluar saat itu membuatku tersadar akan keinginannya lari bersamaku membangun kehidupan bersamaku. Ucapannya setiap kali diucapkan kepadaku membuat semua terlihat jelas bagaimana perasaan dia yang sebenarnya ingin selalu bersamaku. Dia tidak ingin aku berangkat ke tempat ini agar dia bisa lari bersamaku. Tapi aku yang keras kepala tetap saja pergi, dan aku tidak tahu mengapa. Ah, aku teringat akan kata-kata tante wardani tentang anaknya bernama arda nicolaswati yang berganti nama. Tapi kenapa aku tidak pernah menyadarinya kalau dian adalah warda nicolaswati, wajahnya padahal mirip tetapi kenapa aku tidak bisa menyadarinya.

Bodoh, aku bodoh seandainya sedari awal aku menyadarinya mungkin aku bisa mengambil tante wardani terlebih dahulu agar dian bisa selamat. Bodoh, kenapa bisa seperti ini? nenek-nenekku dan tante-tanteku juga berada disana. Kenapa hidupku seperti ini? kenapa?!

ÔÇ£Arya!ÔÇØ ucap anton sedikit keras

ÔÇ£ya ton…ÔÇØ ucapku dengan suara sedikit parau yang kembali bersandar pada dinding, kulihat wongso sedikit bergerak ke depanku dan mengintip keadaan disana. Setelahnya dipandangi wajahku oleh wongso, malu rasanya ketika ada air mata di pipiku

ÔÇ£keep calm, we can kill them all, okay, jadi aku mohon jangan gegabah…ÔÇØ ucap anton

ÔÇ£Ar, you sacrifice your life for me, dan aku akan melakukan hal yang sama hari ini, kamu tenang sajaÔÇØ ucap wongso tersenyum kepadaku dengan kedua tangan memgang pundakku

ÔÇ£bukan hanya wongso, aku juga ar…ÔÇØ ucap dewo

ÔÇ£jangan lupakan aku dan udinÔÇØ ucap tugiyo yang berada didepan gedung

ÔÇ£good time and the bad, i will…ÔÇØ ucap aris

ÔÇ£iiih… bikin cemburu tuh cantiknya,harus aku bawa hidup-hidup biar di ajari jadi cantik sama mbaknya…ÔÇØ ucap dira terdengar dari mikroponku

ÔÇ£Aku, hermawan, joko, parjo cuma butuh aba-aba saja… we are bad family but bad for good, dan kita tidak akan meninggalkan satu orang pun… we walk together, no one in front or behind!ÔÇØ ucap karyo

ÔÇ£iÔÇÖll cover you all and stand with you, life or die!ÔÇØ ucap anton

ÔÇ£you hear that?! We with you…ÔÇØ ucap wongso sambil mengucek-ngucek rambutku, sedikit tersenyum tapi tidak bisa menutupi keraguan dan kebingunganku

Wongso tetap berada didepanku, aku kemudian memutar tubuhku dan mulai kembali melihat keadaan. Kini wongso dibelakangku menyiapkan sebatang belati dan senjata mainan ketika kami masih SMA. Entah apakah senjata mainan itu akan berguna atau tidak, tapi yang jelas aku dan koplak akan berusaha semaksimal mungkin. Kini mataku semakin pedih melihat apa yang ada dihadapanku…

ÔÇ£hei hei, yang ini cantik sekali, aku mau yang ini…ÔÇØ ucap bandar 1 kepada ayah dan nico

ÔÇ£okay, silahkan kalau kamu mau. Bisa disini, bisa juga di bawa ha ha ha ini lonthe masih perawan…ÔÇØ ucap nico

ÔÇ£cuih…ÔÇØ dian meludahi namun ludahnya tak sampai pada nico

ÔÇ£wo wo wo… galak juga, pasti diranjang juga galak ha ha ha haÔÇØ ucap ayah

ÔÇ£nanti aku yang kedua tidak masalah tapi ada yang masih perawan lagi?ÔÇØ ucap bandar 2

ÔÇ£pilih saja, mereka berdua… masih perawan tapi yang itu sama itu sudah kadaluarsa tapi masih nikmat ha ha haÔÇØ ucap ayah menunjuk mbak alya dan mbak alsa, dan kemudian menunjuk nenek laila dan ifah

ÔÇ£bajingan kamu mahesa, lepaskan anakku, aku saja yang melayani merekaÔÇØ bentak nenek laila

ÔÇ£kamu sudah kendor, yang masih rapet saja ada, kamu nanti hidangan penutup ha ha haÔÇØ teriak dan tawa ayah

ÔÇ£berarti masih ada sisa perawan satu lagi, oke aku yang satunya ha ha haÔÇØ ucap bandar 3

ÔÇ£baiklah aku akan memulai, tapi kelihatannya susunya gede, aku akan menikmatinya dihadapan kalian semua tapi kalau sudah main akan aku mainkan di sana saja ha ha haÔÇØ ucap bandar 1 yang kemudian menunjuk ketempatku

Tanganku mengepal, gigiku seakan ingin mengunyah semua lelaki yang ada ditempat itu. Penjagaan memang sedikit longgar didalam sini, mungkin dikarenakan beberapa sudah tewas ditangan kami. kurang lebih ada 28 orang, 18 dari 3 bandar dan ada 10 orang tambahan didalam sini. Berarti 5 orang berada diluar gedung adalah anak buah ayah, dan juga 2 orang yang berada didepan. Jika ditotal dengan yang kami habisi sebelumnya adalah 23 orang tapi aku tidak tahu berapa yang berada diatas yang jelas anton, dewo, aris sudah menghabisinya. Argh, nafasku sedikit keras membuat semua udara masuk kedalam paru-paruku, bahkan bau bensin yang masih tercium di tangan dan tubuhku yang aku dapatkan sebelum masuk ke gedung ini.

ÔÇ£bibirmu indah sayang, boleh aku menciumnya?ÔÇØ ucap bandar 1 menggoda dian

ÔÇ£aku tidak sudi menciummu juih…ÔÇØ ucap dian

ÔÇ£o… o… ow… tak apa tidak dapat bibirmu, tapi nanti aku pasti dapat bibirmu sayang. Terutama bibir bawahmu ha ha ha haÔÇØ ucap dan tawa bandar satu, dengan mata semakin jelalatan melihat tubuh indah dian

ÔÇ£ah… hmmm… susunya besar sekali, ukuran berapa ini? ha ha ha ha owh… mungkin ukuran susu kaleng paling besar ya ha ha ha haÔÇØ ucap bandar 1 yang meraba-raba dihadapan semua orang didalam gedung

ÔÇ£hmm… bagaimana ya rasanya? Nyam… nyam…ÔÇØ ucap bandar 1 yang kemudian berjongkok dan dian mencoba mundur tapi rambutnya kemudian dijambak

ÔÇ£mau kemana sayang? Mau lari? Lari kemana? Ha ha ha ha huh!ÔÇØ ucap bandar 1 dan menarik kaos tipis yang dikenankan dian ke atas hingga terlihat BH yang dipakainya

ÔÇ£Semuanya tutup mata, dira kamu yang melihat!, arya, we wait for you!ÔÇØ ucap anton

Aku sedikit tertegun dengan sikap koplak yang memang benar-benar memgang erat persahabatan kami. aku sedikit menengok kebelakang dan kulihat wongso memejamkan matanya. Aku tidak menyangka bisa sejauh ini sikap koplak. Aku kembali melihat mereka, dengan perlahan, tangan kirinya menarik ke bawah penutup BH yang menutupi susu dian bagian kiri sedang tangan kanannya masih menjambak rambut dian.

ÔÇ£ha ha ha indah bukan? Barang bagus ini ha ha haÔÇØ ucap bandar 1 dengan penuh tawa, kluihat ayah dan om nico tampak menelan ludah

ÔÇ£sudah hentikan! Hentikan! Jangan sentuh anakkuÔÇØ ucap tante wardani

ÔÇ£diam!ÔÇØ ucap ayah dan menendang pundak tante wardani

ÔÇ£coba aku rasakan dulu ya, ha ha haÔÇØ ucap bandar 1

Kepalanya menunduk ke arah susu dian, dian hanya menangis. Kepalanya mencoba menggeleng-geleng namun bandar satu sesekali menarik rambutnya dengan keras. Bibir itu mulai mendarat di susu dian, dan dengan pelan dia mulai memainkan puting dian dengan lidahnya. Disedotnya susu dian, Dian semakin menangis dan…

ÔÇ£ehg… ahg… juh juh… ahg… apa ini ergh….ÔÇØ ucap bandar 1 terduduk dan melepaskan jambakan pada rambut dian

ÔÇ£kalian mau meracuni kami ehg… ahg… ehg…. aghh aghhh egg…ÔÇØ bandar 1 terkapar membuat semua orang ditempat itu terkejut tak terkecuali ayah dan nico

ÔÇ£apa yang kalian lakukan dengannya, kalian mencoba meracuni kami hah!ÔÇØ teriak bandar 2

ÔÇ£kalian mencoba membunuh kami!ÔÇØ teriak bandar 3

ÔÇ£bukan kami tapi wanita ini, dasar bajingan… plakÔÇØ ucap om nico dan menampar dian hingga dian tubuhnya ambruk ke samping

ÔÇ£kalian harusnya mati! Bunuh mereka saja!ÔÇØ ucap bandar 2

ÔÇ£hei cepat bunuh mereka kenapa kalian diam saja?!ÔÇØ ucap bandar 3

ÔÇ£ha ha ha… kalian bodoh, ha ha ha hei kalian semua ikat merekaÔÇØ ucap ayah dan kemudian anak buah dari bandar-bandar itu memiting tubuh kedua bandar itu

ÔÇ£bajingan kalian, aku membayar kalian kenapa kalian malah menangkapkuÔÇØ ucap bandar 3

ÔÇ£kalian tahu, mereka akan menjadi bos-bos dicabang kami. jadi mereka akan menjadi kesatuan dengan kami dan kalian akan MATI! Ha ha ha haÔÇØ ucap ayah

ÔÇ£hei… nico kenapa lebih baik bunuh saja anakmu itu, bisa jadi tubuhnya juga beracun!ÔÇØ ucap ayah kepada om nico

ÔÇ£dasar! Plak… plak… plakkk…ÔÇØ ucap om nico yang menjambak rambut dian dan ditamparnya berulang kali

ÔÇ£bunuh saja aku, aku yakin kalian semua pasti akan hancur suatu saat nantiÔÇØ ucap dian dengan darah mengalir di bibirnya, sekali lagi tamparan mengarah ke pipi dian hingga dian ambruk kembali

ÔÇ£lebih baik kamu mati saja!ÔÇØ bentak om nico mengeluarkan pistol dan diarahkan ke dian

ÔÇ£jangan hentikan!ÔÇØ teriak wardani

ÔÇ£hei ikat dia..ÔÇØ

ÔÇ£dan kamu anak durhaka, mati saja ka…ÔÇØ ucap om nico


ÔÇ£aku sudah tidak peduli dengan hidupku, aku harus menyelamatkannyaÔÇØ ucapku dimikropon

ÔÇ£letÔÇÖs go!ÔÇØ ucap koplak


(sudut pandang orang ketiga)

ÔÇ£Wo, ris, lompat dari sana itu tempat terendah dan tidak membahayakanÔÇØ ucap anton kepada aris dan dewo bebarengan dengan arya yang keluar dan berteriak…

ÔÇ£Bajingan hentikan!ÔÇØ teriak arya keluar dari persembunyiannya

ÔÇ£Arya…ÔÇØ ucap mahesa terkejut melihat anaknya berada ditempat ini

Arya berlari sambil melemparkan sebuah belati ke arah nico, belati itu tidak melukai nico tapi aling tidak menghentikan tarikan pelatuk pada pistol yang kemudian terjatuh. Sesaat itu juga anton, membidikan senapan laras panjangnya ke arah anak buah ayah dan om nico. Dewo dan ari melompat ke sebuah atap dan langsung menjatuhkan diri ke arah dua orang yang mencoba menghadang arya. arya berlari ke arah nico yang sedang mencoba mengambil kembali pistolnya seadangkan mahesa pun melakukan hal yang sama. Arya kemudian melompat dan berhasil menjejakan telapak kakinya ke kepala nico yang sedang tertunduk. Mahesa yang sudah berhasil mengambil pistol tapi joko dengan cepat melemparkan kayu hingga mahesa terdorng ke depan.

Dhreb… dhreb… dhreb… tiga tembakan anton berhasil menjatuhkan tiga orang. 3 gugur. karyo dengan tubuh besarnya menarik seorang lelaki dihadapannya yang tidak sadar kalau dibelakang mereka ada koplak. Ditarik dan kemudian dengan gaya kayang dibantingnya kebelakang, karyo kemudian bangkit dengan cepat lututnya dihantamkan pada leher lelaki tersebut. 4 gugur. Arya yang berhasil menendang nico, melihat ayahnya maju langsung didaratkannya sebuah pukulan telak di wajah ayahnya hingga terjungkal kebelakang. Nico yang bangkit mencoba memukul arya, tapi wongso dari belakang yang berlari setelah arya keluar melompat. Sebuah tendangan mendarat di kepala nico untuk kedua kalinya.

ÔÇ£akan aku bayar kalian dengan mahal, asalkan lepaskan aku sekarangÔÇØ ucap bandar 2 kepada mantan anak buahnya

ÔÇ£aku sudah tahu kebusukanmu, lebih baik aku menghajar merekaÔÇØ ucap anak buahnya

ÔÇ£dasar pengkhianatÔÇØ ucap bandar 3

Bugh… sebuah pukulan mendarat di wajah kedua bandar besar ini. empat orang mulai bergerak maju ke dalam kerumunan. Dewo yang sebelumnya mendarat tepat di atas tubuh seorang lelaki, langsung memberikan pukulan bertubi-tubi ke wajah orang tersebut begitu pula dengan aris. Tak sadar sebuah pukulan kayu mendarat dipunggung dewo membuat aris terkejut melihat dewo terseungkur. Tapi tak lama kemudian aris mendapatkan pukulan dipunggungnya. Joko dan hermawan yang keluar langsung berlari ke arah aris dan dewo melompat ke arah dua orang lelaki yang memukul aris dan dewo. Jleb, jelb sebuah belati tetanam di punggung dua orang lelaki tersebut. Ditariknya kepala kedua lelaki tersebut oleh joko dan herman kebelakang hingga terjatuh dan belati itu pun menancap dengan sempurna. 6 gugur. Joko dan hermawan kemudian berlari kembali meninggalkan dewo dan aris untuk menghadapi musuh kembali. Dewo dan aris bangkit adn meraih kepala dari dua orang lelaki yang ditubruknya tadi. Diplintir kepala mereka hingga tak bergerak. 8 gugur.

Melihat ayahnya terjatuh dan juga nico, arya bergerak ke arah dian. tangan dian masih terikat dan wardani mencoba untuk melepaskan ikatan itu. arya, mendekati dian dan menutup kembali pakian yang dikenakan oleh dian.

ÔÇ£ini milikku…ÔÇØ ucap arya pelan kepada dian, dian mengangguk an kemudian tertunduk

ÔÇ£nenek laila, nenek ifah, mbak alsa dan mbak alya cepat lari cari perlindungan. Tante wardani juga…ÔÇØ

ÔÇ£ade jugaÔÇØ ucap arya membantu dian berdiri dan kemudian berbalik menuju medan pertempuran

ÔÇ£hati-hatiÔÇØ ucap dian

ÔÇ£pastiÔÇØ ucap arya

ÔÇ£kamu?????…ÔÇØ ucap laila seakan terngat akan wajah seorang anak kecil

ÔÇ£aryaÔÇØ jawab arya sembari tersenyum dan langsung menghantam wajah seorang lelaki yang menghampirinya

Dhreb… dhreb… dhreb tiga tembakan keluar dari senapan anton dan tepat mengenai kening tiga lelaki. 11 gugur.

ÔÇ£diatas, tembakÔÇØ ucap seorang mantan anak buah bandar, kemudian dua orang mengarahkan pistol ke arah anton

ÔÇ£hei sayangkyu…ÔÇØ ucap dira

ÔÇ£hah…ÔÇØ ucap mereka berdua kaget

Dhuar… Dhuar…dua orang tersebut sedikit terpental karena tembakan dari dira yang memegang dua pistol. 13 gugur. Tak sadar akan dibelakangnya ada orang, ketika karyo membalikan badan setelah menjatuhkan lutunya di leher anak buah ayah sebuah pisau mengarah ke dirinya. Tapi dengan sigap karyo danpat bergerak walau akhirnya pisau itu memberika luka pada dadanya. Seperti sebuah sabetan samurai.

ÔÇ£yo, kayang!ÔÇØ teriak parjo yang berada disamping karyo

Karyo kemudian melakukan gerakan menjatuhka dirinya kebelakang, parjo kemudian mengayunkan kayu ke arah lelaki yang pertahannya terbuka. Tepat di wajah lelaki itu sebuah kayu menghantam keras hingga kayu tersebut patah menjadi dua. Patahan kayu yang masih dipegang parjo langsung ditusukan ke perut lelaki tersebut kuat-kuat. 14 gugur. Arya dan wongso kembali pada perkelahian yang sangat keras. Dian beserta yang lainnya mencoba untuk mencari tempat yang aman, bersembunyi di sebuah merapat ke esbuah dinding gedung. Tampak empat orang mendekati arya dan wongso dari belakang ketika perkelahian semakin brutal.

Dhuar… dhuar… dhuar… dhuar… udin dan tugiyo masuk dan langsung menembakan pistol ke arah empat orang tadi. Tampak sekali dua koplak ini tak bisa menggunakan pistol seperti halnya dira yang kelihatan sedikit mahir. 18 gugur. Dua orang didepan wongso dan arya nampak terkejut, situasi ini dimanfaatkan arya dan wongso untuk menghabisi mereka. 20 gugur.

ÔÇ£asu… ternyata susah, mending pakai pisau saja tadiÔÇØ ucap udin

ÔÇ£benar broÔÇØ balas tugiyo

Disisi lain, mahesa yang melihat berkurangnya jumlah anak buahnya. Matanya tampak takpercaya akan yang terjadi pada malam ini. semua rencananya berantakan karena seorang lelaki. Seorang lelaki yang lahir karena ulahnya sendiri dan mencoba menghentikan semua perjalanannya. Dimatanya tampak sebuah kelompok yang dia kenal dulu, kelompok ketika masa merek SMA sering membuat ulah. Sering pula mahesa melihat mereka menerima hukuman dari salah satu keluarganya. Sekarang kelompok itu sedang mencoba menghentikan semua karir busuknya, semua rencana yang telah dia susun dengan sangat matang. Ketakutan, kegelisahan dan kekhawatiran mulai menyelimuti dirinya sendiri. tatapannya kembali menyapu tempat dimana ia akan melakuukan pesta besar-besaran. Dilihatnya bagaiamana lelaki-lelaki yang selalu menaruh hormat ketika masa SMA mereka sedang menghajar anak buahnya, dilihatnya anak buahnya tewas satu persatu. Ya, keringatnya muali bercucuran melihat bagaimana mayat-mayat mulai berjatuhan dihadapannya. Dalam benaknya menghitung hampir sebagian bahkan lebih dari sebagian anak buahnya tewas ditangan anak-anak ini. mereka kalang kabut, bahkan beberapa hendak mencoba berlari untuk menyelamatkan diri mereka namun selalu saja terhenti oleh anak-anak ini.

Dlihatnya salah satu sahabatnya yang tersisa, nico. Mahesa kemudian mengambil pistol yang berada dilantai dan kemudian bergerak ke arah nico. Mahesa menarik nico untuk segera melarikan diri.

ÔÇ£Kita harus lari, setelah kita selamat kita bisa hancurkan mereka setelahnya, ayo cepat!ÔÇØ ucap mahesa ke nico

ÔÇ£baiklah kita tinggalkan mereka sajaÔÇØ ucap nico

Dua orang sahabat ini kemudian berlari menuju pintu yang menghubungkan bagian 1 gedung dengan jalur 2. Sesaat kemudian mahesa berbalik dan mengarahkan pistolnya ke arah arya yang tak sadar akan nyawanya yang terancam. Dengan penuh kemarahan terhadap darah dagingnya sendiri, mahesa berteriak.

ÔÇ£Dasar anak kurang ajar! Rasakan iniÔÇØ teriak mahesa dengan moncong pistol ke arah arya.

Seketika itu arya menoleh ke arah ayahnya, seakan semua waktu terhenti ketika itu. koplak terkejut karena mereka melupakan pimpinan mereka yang harus dilumpuhkan. Tak ada yang bisa menghentikan jari itu menarik pelatuk pada pistol yang digenggam mahesa. Tak ada satupun dari koplak yang bisa menghambat pergerakan jari iitu. Semua dalam posisi yang tidak mungkin bergerak ke arahnya. Dira, tugiyo, dan udin mereka terlambat mengarahkan senjata mereka ke mahesa. Anton, tak bisa mengarahkan senjatanya karena mahesa tepat berada dibawahnya. Arya tersudut, karena baru tersadar akan posisinya sekarang yang tidak bisa menghindar. Dan …

Dhuar …

Sebuah peluru keluar dari pistol mahesa dan terbang menuju ke arah arya. Tapi sesosok tubuh berlari kemudian terbang melayang tak jauh di depan mata arya. mata aya terbelalak terkejut, seakan tak percaya atas apa yang dilihatnya. Tubuh itu adalah tubuh yang dia kenal, tubuh itu adalah tubuh yang pernah bersatu dengannya. Bersatu penuh dengan kehangatan akan cinta …

… Jangan, tidak …
… Aku mohon …
… Jangan …
… Jangan dia …
… Jangan dia, aku mohon …
…aku masih mempunyai mimpi bersamanya …
… tidak ..
… jangan dia …

ÔÇ£DIAAAAAAN!ÔÇØ teriak arya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*