Home » Cerita Seks Mama Anak » Obsesiku 8 (Tamat)

Obsesiku 8 (Tamat)

EPILOGUE – KELAS SATU SMP

Ketika kami sampai di Terminal Bus antar kota di Jakarta, ayah menjemput kami, dan atas bujukan ibu dan aku, kami meminta ayah menginap di rumah kami agar rencana kami untuk menjebak ayah berhubungan seks dengan ibu sehingga ayah tidak tahu bahwa benih di rahim ibu bukan anak kandung ayah, melainkan cucunya. Ketika ayah berkunjung ke rumah kami, aku menginap di rumah temanku. Esoknya, setelah ayah kembali meninggalkan kami, ibu menyampaikan bahwa ayah sudah menyetubuhinya bahkan sampai tiga kali.

Aku sedikit cemburu, tetapi toh ibu sudah hamil anak dariku, sehingga sperma ayah tidak berdampak apa-apa bagi kami. Namun, rasa cemburu itu membuat aku menyetubuhi ibu hari itu berkali-kali, aku ingin memperlihatkan bahwa aku lebih jantan dan lebih memuaskan ibu dibanding ayahku. Ibu sepanjang hari tersenyum simpul tanda bahwa ia bahagia melihat aku begitu mencemburui ibu sehingga aku tidak meninggalkan tubuh seksi dan bugil ibu sedetikpun. Bahkan ketika salah satu dari kami perlu ke toilet, aku tetap merangkul dan menciumi ibu.

Sebulan kemudian ketika aku sudah bersekolah di SMP yang baru, ibu mendapat panggilan dari nenek untuk segera pulang. Beirhubung aku sekolah, maka aku diminta tetap di rumah. Ayahku selama tiga hari menemaniku di rumah. Hari ketiga, ibu datang dengan nenek, kakek, sepupu laki-laki kakek dan bibiku Mbak Ela. Ibu menyuruh aku dan Mbak Ela untuk keluar rumah dan jalan-jalan ke Mall karena ada hal penting yang ingin disampaikan kepada ayah, kakek akan mendampingi kami.

Ketika makan di Mall kakek berkata bahwa ia mengetahui bahwa aku menghamili anaknya, yaitu bibiku sendiri. Aku gelagapan, tetapi kata kakek aku tidak usah takut, karena semuanya sudah beres. Berhubung ayahku tidak pernah datang ke kampung, maka ia sudah pangling dengan Mbak Ela, karena dulu ketika menikah dengan ibu, Mbak Ela masih kecil. Oleh karena itu diputuskan dalam rapat keluarga bahwa Mbak Ela akan diaku anak oleh sepupu kakek itu, lalu kami akan dinikahkan di Jakarta, di mana tidak ada orang yang tahu bahwa Mbak Ela itu bibiku.

Walaupun rencana sudah matang, tapi aku masih memiliki rasa takut. Aku takut ayahku akan marah, karena aku yang baru masuk SMP, sudah menghamili anak gadis orang. Tapi kakekku meyakinkan aku bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Ketika aku pulang, ternyata kekhawatiranku itu tidak berguna. Ayah menarikku ke tempat tidur dan memberikan selamat kepadaku. Kata ayahku, aku adalah benar-benar anak yang mirip dengannya, bahkan melebihi dia, karena aku menghamili perempuan ketika aku masih SD. Aku adalah playboy kecil seperti bapaknya, kata ayahku. Aku menjadi lega, namun kekuatiranku bertambah, karena dari omongan ayahku bahwa ia playboy, berarti banyak perempuan yang tidur dengannya. Tapi untuk sementara, aku menjauhkan pikiranku mengenai itu, karena aku ingin fokus dulu dengan masalah yang ada di hadapan kami itu.

Akhirnya setelah sebulan, keputusan besar diambil oleh keluarga besar kami. Aku harus meninggalkan Jakarta untuk tinggal di kampung. Tetapi, bukan kampung nenekku, melainkan kampung tempat tinggal dari sepupu kakekku yang ternyata jauh dari kampung nenekku, dan tempatnya lebih terpencil. Ibu tentunya akan tetap bersamaku, tapi ayah pada mulanya menolak ide ini, apalagi karena ayah baru tahu bahwa ibu sedang hamil. Akhirnya ayah ibu sepakat untuk bercerai setelah anak yang ibu kandung telah lahir. Apalagi karena memang sudah tidak ada cinta lagi di antara mereka.

Maka dimulailah kehidupan baruku bersama ibu dan bibiku.

TAMAT

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*