Home » Cerita Seks Mama Anak » Obsesiku 6

Obsesiku 6

Kelas Enam Bagian Ketiga

Ketika aku bangun, aku ingat hari itu hari Minggu. Aku senang sekali karena tidak perlu sekolah, apalagi kini hubungan ibu dan aku sudah mencapai puncaknya. Dengan semangat, tanpa mengenakan baju, aku mencari ibu. Ibu tidak ada di rumah. Mungkin sedang beli makanan. Aku bergegas mandi agar tidak terlalu bau, supaya ibu senang dengan anaknya yang wangi karena hari itu aku bertekad untuk mengentoti ibuku lagi.

Aku mandi cepat beserta shampoan juga. Setelah mengeringkan rambut aku menunggu ibu dengan telanjang bulat. Tak lama ibu tiba di rumah membawa bungkusan makanan.

“Hendra. Kok telanjang?” kata ibu ketika masuk rumah. Aku hanya nyengir nakal sementara ibu menutup dan mengunci pintu lalu menaruh bungkusan makanan di rumah. Ibu bergegas ke dapur namun aku dengan sigap mengikuti ibu dan ketika baru sampai di kamar tidur, aku meraih lengan ibuku.

Ibu membalikkan badan. “Mau apa?” tanyanya.

Aku tidak menjawab melainkan memeluk pinggangnya dengan kedua tangan dan sambil menjinjit aku mencium bibirnya. Lidah kami langsung berkelahi saling memberikan ludah satu sama lain. Beberapa menit kemudian aku melepaskan bibirku dengan sedikit ludah terjalin tipis di antara bibir kami lalu jatuh ke dagu masing-masing. Perlahan aku membuka jilbabnya yang dipasang dengan beberapa jarum pentul.

Rambut ibu akhirnya terbebas dan terlihat agak basah dan wangi shampo. Ibu memakai baju kurung yang ia buka ketika aku buka jilbabnya. Ketika jilbabnya jatuh, ibu menjatuhkan bajunya pula. Ibu kini tampak seksi kini hanya dengan bra dan celana dalam hitam. Aku menuntunnya perlahan ke tempat tidur dan kami berdua duduk di tepi ranjang. Perlahan kami berangkulan. Bibir kami perlahan mencari pasangannya.

Entah kenapa, ketika kali ketiga kami bercinta, aku tidak terburu-buru. Mungkin karena kini kami bercinta dalam terangnya pagi. Mungkin karena ketika aku melihat ibu berdiri dengan pakaian dalam saja dan rambut basah terurai, aku melihat ibu bagaikan seorang dewi yang turun dari kahyangan. Dengan tubuh yang putih dan ramping dihiasi kedua payudara yang disangga bra hitam yang kontras dengan kedua buah dada yang besar berhiaskan urat-urat halus berwarna kebiruan, memperlihatkan keindahan belahan dadanya yang dihiasi oleh lembah sempit. Aku merasa ibu begitu lembut dan rapuh, sehingga aku melakukan segalanya dengan perlahan. Mungkin karena ketika kami ngentot kedua kalinya tadi malam, aku mendapati bahwa persenggamaan yang pelan dan penuh cinta, sangatlah memuaskan. Karena prosesnya lebih lama sehingga birahi kami ketika dilepas, bagaikan air bah yang dahsyat menerjang.

Bibir ibu yang hangat begitu lembut mengunyah bibirku, lidahnya yang basah mencari-cari lidahku. Ciuman kami begitu perlahan dan erotis. Mulut kami beradu dengan perlahan mengirimkan sinyal-sinyal yang begitu erotis, begitu tabu namun begitu nikmat. Dapat kucium bau mulut ibu yang bagaikan angin dari surga, dapat kucium wangi tubuh ibu yang berbaur dengan wangi sampo dan sabun yang sebelumnya menyapu tubuh indahnya. Dapat kurasakan juga hangat tubuh ibu yang menjalar di kulitku. Dapat kurasakan begitu halusnya kulit punggung ibu yang kuelus perlahan-lahan di kedua telapak tanganku. Di duniaku saat ini hanya ada ibuku seorang. Tak terdengar lagi dunia luar di kupingku. Kepalaku hanya dipenuhi oleh suara debaran jantungku dan bau tubuh ibu kandungku yang hampir telanjang itu.

Waktu bagai terdiam dan berhenti berdetak. Entah berapa lama kami berciuman, mungkin satu, dua atau lima menit. Tidak ada yang menghitung. Namun lama-kelamaan, nafsu birahi kami mulai menguasai sanubari. Ciuman kami bertambah liar. Ibu mulai mendesah-desah. Lidah kami mulai menari liar. Pelukan kami mulai bertambah erat. Dan keringat kami mulai perlahan mengucur. Sampai akhirnya ibu beringsut ke tengah tempat tidur sambil terus mempertahankan ciuman kami dengan merangkul kepalaku dan menarikku ke atas tubuhnya.

Ibu tidur telentang dengan aku menindihnya sementara kami berpelukan sambil saling mengecup, mencium dan menjilat. Terkadang kami membuka mulut dan lidah kami saja yang saling menempel dan saling menggesek. Terkadang aku sedot lidah ibu dan terkadang ibu yang menyedot lidahku. Mulut kami kini bagaikan satu organ yang saling berhubungan.

Kemudian aku mulai menciumi leher ibu. Kulitnya yang halus kujilat dan kucium, bahkan aku cupang. Ibu mendesah hebat ketika aku mencupanginya. Kedua kaki ibu memeluk tubuhku. Ciumanku turun ke dadanya. Tak lama dada ibu telah berhiasakan tanda cupanganku di sana-sini. Kutarik BH ibu yang ukurannya satu cup lebih kecil itu sehingga kini kedua payudara ibu menjadi menyembul keluar disangga bhnya. Lalu dengan rakus sekujur buah dada ibu aku sedot dan kujilat. Kala itu kontolku sudah menempel di atas memek ibu yang masih berbalut celana dalam. Dan ibu mulai menggoyangkan pantatnya menggeseki kontolku itu.

Ketika sudah beberapa menit aku menyelomoti buah dada ibu, barulah aku mengemut puting kanan tetek ibuku yang sudah tegak bagaikan ujung pensil. Saat itu ibu mengerang dan berkata,

“Sayaaaanggg……. Ibu sampeee…….”

Ibu mengendurkan rangkulannya dan kurasakan celana dalamnya sudah basah. Aku melepaskan pelukanku dan menarik celana dalamnya sehingga akhirnya lepas dari tubuhnya.

Aku kaget ketika kudapatkan, ibu telah mencukur jembutnya sehingga kini, bulu yang tadinya lebat di selangkangannya kini membentuk segitiga kecil di atas memeknya. Bagian lainnya sangat bersih. Ternyata ibu bangun pagi-pagi untuk mencukur jembutnya.

Melihat keindahan surgawi ini, aku segera menjilati memek ibu yang sudah basah oleh cairan kewanitaannya itu. Memeknya yang tembam kubuka dengan kedua jari jempolku sehingga memperlihatkan vagina ibu yang mungil dan lobang yang tampak kecil. Lidahku menyapu dari bagian bawah ke atas, sehingga merasakan manisnya cairan memek ibu yang mengeluarkan aroma keras tubuh ibu yang sedang birahi itu. Kutelan segala cairan ibu yang seakan tak habis-habisnya mengucur. Semakin lama memek ibu semakin hangat dan licin.

Aku tak tahan lagi, aku segera menggenggam kontolku dan kutaruh di depan lubang mungil vagina ibu, dan aku hujamkan kemaluanku dalam-dalam di kemaluan ibu yang indah dan hangat. Untuk kedua kalinya, ibuku dan aku menjadi satu tubuh. Dapat kurasakan dinding memek ibu menyelimuti sekujur penisku dengan ketat. Begitu sempit namun licin. Begitu nikmat tak terkira. Sementara aku selama beberapa saat bertumpu di selangkangan ibu menikmati persatuan tubuh kami sebelum akhirnya menindih ibu dengan seluruh berat badanku. Sementara ibu mulai meracau kenikmatan,

“kontol enak…… Kontolmu enak….. Entotin ibu, yaaaanggg….. Entotin ibu kuat-kuat…….”

“memek ibu legit….. Sempit….. Manteb………”

Lalu aku mulai merojok-rojok memek ibu yang sempit itu dengan kontolku yang sudah dalam tahap tegangan paling tinggi. Ibu makin meracau dan aku berusaha membalas omongan jorok ibuku.

“sodok terus memek ibumu…… Memek ini milik kamu, nak……. Entotin ibu kandungmu ini yaaaaanggg…..”

“Hendra akan ngentotin ibu tiap hari… Biar Hendra bisa buntingin ibu…. Hendra mau buntingin ibu…..”

“Kamu anak kurang ajar… Mau buntingin ibumu sendiri….. Dasar anak mesuuuummmmm….. Dari kecil udah mesuuuummmm…. Ayo mesumin ibu…. Ayo buntingin ibu…. Ayo gagahin ibu sepuas kamu…….”

“Ibu sekarang pereknya Hendra…. Pereknya anak sendiri…….. Ibu pereeekkkk…..”

“Iya….. Buntingin perekmu…… Ibu memang perekmu semenjak kamu cium-cium punggung ibu…..”

Kini kami mengentot tanpa kendali. Kedua selangkangan kami berbenturan keras berkali-kali. Keringat kami berdua sudah menyatu dan bercampuran, sementara kelamin kami pun kini adalah satu. Ibu dan anak sudah tidak lagi menjadi dua, melainkan satu tubuh yang berpusat pada dua kelamin. Tak ada batasan di antara kami, yang ada adalah keintiman yang tabu.

Ketika aku menyemprotkan spermaku berkali-kali di rahim ibu, ibu memelukku erat-erat dan berteriak bagai kesetanan.

“semprotin peju kamu di rahim ibu….. Ibu sampeeeeee…..”

“ambil peju Hendra…… Kita bikin anak bareng-bareng bu…….”

Tak lama kemudian aku merebahkan diri di samping ibuku, sementara air maniku mengalir perlahan ke luar dari vagina ibu. Kami berciuman mesra dan berpelukan dengan menyamping, menikmati klimaks kami yang baru saja lewat.

Entah berapa lama kami berciuman, barulah kemudian ibu berjalan ke ruang tamu, dengan pejuku yang masih mengalir untuk mengajakku sarapan nasi uduk yang tadi dibelinya. Semenjak saat itu, kami selalu telanjang di rumah. Ibu selalu memakai pakaian rapi bila aku tidak di rumah, tetapi ketika aku mengunci pintu saat baru sampai di rumah, maka ibu akan bergegas ke kamar dan membuka seluruh bajunya. Aku menyusul membuka baju sehingga kami berdua akhirnya telanjang bulat.

Maka aktivitas harianku berubah lagi. Aku akan bangun pagi telanjang bulat di tempat tidur. Kadang aku bangun terlebih dahulu dari ibu, kadang ibu yang bangun duluan. Bila aku yang bangun duluan. Aku akan bergegas gosok gigi, lalu kembali ke tempat tidur dan mulai menciumi tubuh telanjang ibu. Tubuh ibu tiap hari akan penuh cupang, karena setiap kali kami berduaan di rumah aku pasti akan menggarap ibu dan selalu aku akan mencupangnya. Biasanya ibu akan terbangun saat aku asyik mengenyot-ngenyot kedua buah dada ibu. Bila ibu bangun, aku tak peduli dengan bau mulut ibu yang belum gosok gigi, aku selalu mencium ibu dengan hot. Kami akan melakukan french kiss dengan liar. Untuk kemudian kami akan bersenggama sampai kami berdua orgasme. Aku selalu mengusahakan agar ibu orgasme duluan, biasanya aku oral, baru kemudian aku akan mengentoti ibu dan biasanya waktu aku ngecrot di dalam vagina ibu, ibu akan mengalami orgasme yang kedua kalinya. Lalu kami akan mandi bareng. Terkadang aku horny lagi sehingga aku akan mengentoti ibu lagi dengan posisi doggy style. Setelah itu barulah ibu akan menyiapkan sarapan sementara aku memakai baju seragam sekolah.

Namun, bila ibu yang bangun terlebih dahulu, ia biasanya langsung ke dapur untuk menyiapkan masakan setelah ia gosok gigi. Aku segera gosok gigi karena tak mau ibuku kebauan jigongku, lalu aku akan mulai menciumi tubuh telanjang ibu. Terkadang ibu horny sehingga ia minta di doggy olehku, terkadang ibu cuek saja sehingga bila aku yang horny, aku akan menjilati memek ibu sampai basah, baru dari belakang ibu akan kudoggy sampai aku ngecrot lagi di dalam kemaluannya.

Setelah itu kami akan sarapan, aku akan berseragam lengkap sementara ibu tetap telanjang. Terkadang sekali, aku akan horny lagi, dan biasanya aku memelorotkan celana dan di ruang tamu, aku akan menyetubuhi ibu lagi hingga aku puas. Aku biasanya hanya melap kontolku saja agar celana dalamku tidak lengket, namun aku tidak mencucinya. Bau memek ibu seharian akan menemaniku.

Pulang sekolah, ibu yang sudah telanjang di kamar akan bertanya kepadaku,

“Mau ngentot sekarang atau nanti?”

Hampir selalu aku akan bilang bahwa aku ingin saat itu juga. Hanya bila aku sedang letih (biasanya kalau hari itu ada pelajaran olah raga) aku akan bilang bahwa aku ingin nanti saja. Tapi bahkan ketika hari olahraga dan aku letih, aku terkadang horny berat, sehingga kadang aku entot juga ibuku walau sedang capek.

Setelah itu aku akan memeluk ibu terus dan menciuminya. Entah leher, bahu, punggung, pipi, tetek, apapun itu yang penting bibirku selalu menyerang tubuh mulus ibuku. Bila ibu berjalan ke dapur aku akan mengikuti ibu dari belakang dengan melingkarkan tanganku di pinggangnya, ibu terkadang merangkul bahuku juga. Kami akan makan siang setelah kami berdua menyiapakan lauk pauk, nasi dan piring di kamar tamu, setelah itu aku akan makan sambil memeluk ibu, terkadang sambil makan aku akan menyusupkan kepalaku ke ketiak ibu dan mengendusi ketiaknya yang dihiasi bulu halus itu agar menambah nafsu makanku. Bila ibu mencuci piring aku akan berada di belakang ibu dan memeluknya dari belakang sambil menciumi atau menjilati punggungnya. Bila ibu berjalan ke ruang tamu aku akan merangkulnya lagi. Bila ibu menonton TV, maka aku akan menciumi punggungnya lagi, terkadang aku akan nenen juga. Singkat kata, aku bagaikan benalu di ibu, karena aku selalu menempel. Ini menyebabkan, aku akan horny. Setiap kali aku horny, entah di dapur, di kamar tidur atau di ruang tamu, aku akan segera menyetubuhi ibu setelah kubuat memek ibu basah. Jadi, waktu ngentotku dengan ibu tidaklah kujadwal dengan detail. Pokoknya tiap kali kontolku keras, aku akan memasukkannya ke dalam memek ibu. Seringkali kami tertidur di ruang tamu dengan TV menyala, itu biasanya karena aku akan mengentoti ibu di ruang tamu dan setelah itu kami terlalu letih untuk pindah ke kamar tidur.

Setelah seminggu, pada siang sampai maghrib, ibu hanya akan menonton sinetron kesayangan saja dan tidak pernah lagi menonton berita, atau acara lain di TV, karena setiap kali kami selesai bersenggama, aku tetap menempeli ibu, aku akan menciumi tubuh ibu, terutama punggung, dada dan wajahnya, setelah itu, bila sudah agak on, kami akan berciuman mesra, sebelum kami berhubungan seksual. Ibu adalah obsesiku, canduku dan duniaku. Dan karena itulah kami mengentot biasanya tiga kali berturut-turut (kadang lebih), karena ciuman-ciuman mesraku di tubuh dan bibir ibu setelah persetubuhan kami, entah kenapa membuat aku horny lagi, sehingga aku harus menyetubuhi ibu lagi.

Tentu saja, ibu selalu memprioritaskan pelajaranku. Ibu memberikan aku dua sesi untuk bikin PR dan belajar dalam seharinya. Yaitu sore sesudah kami berhubungan seks secukupnya, dan juga malam setelah kami makan malam. Ketika aku belajar sore, ibu akan memasak, bila aku belajar malam, ibu akan menemaniku dan ia hanya memperbolehkan aku untuk menciumi dan menjilati tubuhnya saja, dan itu tidak boleh lama-lama.

Oleh karena itulah, kami tidak lagi tidur siang. Dari waktu aku pulang, kami akan ngentot sekali karena aku biasanya selalu horny bila sampai rumah, lalu makan siang, dan kemudian bersetubuh berkali-kali sampai sore sekitar jam 4 ketika aku harus belajar dan bikin PR sementara ibu memasak. Bila tidak ada PR atau prnya sedikit, maka malamnya aku tak perlu belajar lagi dan kami akan bersenggama setelah makan malam sampai kami berdua tidur pulas akibat kelelahan.

Untuk beberapa minggu sebelum ujian dan kelulusan, hidupku bagaikan mimpi saja. Aku merasa bahwa rumahku adalah surga dunia, di mana aku sebagai anak remaja dapat menyalurkan nafsu biologisku hampir tiap hari (minus waktu haid ibu tentunya). Bangun pagi kami akan bersetubuh, mandi bareng dan kadang bersetubuh di kamar mandi, kemudian sarapan terkadang pula aku akan menggauli ibu lagi sebelum aku pergi sekolah. Pulang sekolah seperti biasa kami akan bersenggama sekali sebelum makan siang, lalu kami akan ke kamar tidur, bukan untuk tidur melainkan untuk berpelukan sambil saling meraba dan berciuman di antara persetubuhan kami yang kami lakukan tiga kali atau lebih.

Sayangnya aktivitas baru itu harus tertunda setelah aku lulus SD. Alasannya adalah sudah libur panjang dan kami harus ke kampung lagi untuk mudik. Aku mulanya tidak mau, tapi ibu tetap bersikeras. Biasanya kami ke kampung dua minggu, kami pulang seminggu sebelum masuk sekolah. Tapi karena aku tidak mau mudik, ibu menawar bagaimana kalau seminggu saja. Aku tetap tidak mau karena aku tidak mau jatah seks ku berkurang. Akhirnya ibu berkata,

“Ibu harus pulang. Nenekmu itu sangat sayang kepada kamu, karena kamu cucu laki-laki satu-satunya, dan nenekmu pasti akan marah bila kita tidak pulang kampung. Gini deh, kamu boleh entot bulik kamu si Ela, tapi kamu harus pakai kondom ya. Dan jangan dientot di rumah, di sungai aja kayak tahun lalu.”

Aku tercengang, terutama karena ibuku tahun lalu ternyata menguntitku diam-diam. Tapi aku segera menyadari bahwa ibu memperbolehkan aku main dengan perempuan lain, sehingga aku menjadi bahagia sekali. Saat itu aku segera menubruk ibu dan menyerang bibirnya dengan brutal. Nafsuku saat itu bagaikan berlipat ganda saja. Di ruang tamu itu aku menyetubuhi ibu dengan agak kasar. Kontolku menyodok-nyodok memek ibu dengan sangat kuat. Tapi ibu tidak kesakitan, tampaknya ia juga menikmatinya. Apalagi ia berkata,

“Dasar penjahat kelamin kamu, Ndra… Ahhhhhhh….. Begitu ibu kasih kamu entot bibi kamu sendiri, birahi kamu langsung naik dan kamu langsung menggagahi ibu dengan kasar. Ooooohhhhhh…….. Kamu menyodok-nyodok memek ibu dengan kontolmu kencang-kencang. Ssshhhhh….. Otak kamu mesum. Kamu biadab. Kamu ga puas-puasnya. Mmmphhhh…… Tiap hari kamu setubuhi ibu. Tiap hari kamu tempeli ibu. Hhhhhhhh……. Tiap hari kamu ciumin ibu. Tiap hari kamu jilatin ibu. Kamu tukang ngentot. Kamu doyan memek.”

“Hendra emang doyan memek….. Hmppphhh….. Hendra doyan memek ibu kandung sendiri…… Soalnya memek ibu Hendra sempit dan legit…… Hangat dan licin….. Emmpphhhh……. Hendra mau ngentotin ibu sampai ibu ga kuat berdiri……..”

Suara benturan selangkangan kami memenuhi ruangan. Benturan yang cepat dan keras. Bunyi plak!Plak!Plak!Plak! Membahana dan adalah musik pengiring tarian tabu ibu dan anak. Sementara kontolku menggagahi memek ibu, mulutku dengan buas mengunyahi, menjilati dan menyedoti kedua payudara ibu yang besar dan tegak. Kulit putihnya sudah penuh dengan bercak merah dan dibasahi keringat ibu, keringatku dan ludahku juga. Kami berpacu dalam nafsu binatang dalam detakan waktu yang seperti melambat, dan entah beberapa detik atau menit yang telah lewat hingga barulah kami mencapai puncak dari kenikmatan duniawi. Memek ibu berdenyut-denyut cepat dan bagian bawah tubuh ibu sedikit bergetar bagai kejang tanda bahwa ia mengalami orgasme, yang menyebabkan kontolku menumpahkan seluruh air mani yang ada ke dalam rahim ibu, untuk entah keberapa kalinya.

Akhirnya kami sepakat untuk pulang kampung selama satu minggu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*