Home » Cerita Seks Ayah Anak » My Papa 10

My Papa 10

Tak terasa aku sudah ujian semester. Dan setelah ujian semester maka akan dimulailah liburan panjang. Papa sepertinya punya rencana, tapi masih dirahasiakan dariku. Cherry dan aku makin dekat, bahkan kita selalu berbicara mengenai hal-hal yang vulgar. Saling berbagi dan saling memberi. Ketika mama tidak ada, maka aku, Cherry dan Papa melakukan hal-hal yang tabu. Kami mencoba berbagai macam cara untuk memuaskan diri, seperti diikat, disekap dan lain-lainnya. Tapi papa tidak pernah melakukan penetrasi dengan penisnya. Selalu berakhir di mana papa dipuaskan oleh mulut kami.

Tak perlu ditanya kenapa papa tak pernah melakukan penetrasi, karena papa masih ragu. Papa masih khawatir dan menyayangi kami. Tapi bukan tidak mungkin suatu saat nanti papa akan melakukannya. Pasti.

Papa mengikat kedua tanganku di belakang, tubuhku sudah dipenuhi dengan tali yang tersusun dengan simpul tertentu. Yang pasti tubuhku telanjang. Cherry juga. Mataku tertutup. Kakiku ditekuk mengangkang sehingga sudah pasti vaginaku terlihat merekah. Papa mengikatku seperti ini dan mendiamkan diriku lama.

“Papa?!” panggilku.

“Iya sayang,” sahutnya.

“Koq lama?” tanyaku.

“Sebentar,” jawabnya.

“Kita mau diapain ya, Na?” tanya Cherry.

“Lo tanya ke gue? Gue tanya ke siapa? Tapi kayaknya papa mau memperagakan BDSM. Aku pernah melihatnya di salah satu video porno Jepang,” jawabku.

“Masa’ sih?” tanya Cherry.

“Papa datang,” suara papa masuk ke kamarku.

NGGIIIIIINNG Terdengar suara yang mendenging. Apa itu? Aku tak bisa melihatnya karena mata masih tertutup.

Tiba-tiba sesuatu menyentuh putingku. Aku kaget ketika merasakan sengatan-sengatan dan getaran-getarannya.

“Apa ini pa?” tanyaku.

“Ini namanya vibrator sayang, relaks ya. Nikmati saja,” katanya. “Papa sudah beli sex toys, kamu pasti suka nanti.”

Aku hanya menurut. Papa menciumi bibirku. Mengulum lidahku, menghisap air liurku yang manis. Kemudian papa mulai memasang sesuatu di putingku. Bukan, ini bukan vibrator yang tadi papa ucapkan. Ini lain. Papa memberiku sesuatu yang kemudian dijepitkan di puting susuku. Setelah itu secara mengejutkan alat itu bergetar hebat. Membuatku menjerit.

“Papaaaaaaahhhh!” pekikku.

“Gimana sayang? Itu namanya pemijat puting,” katanya. “Ini salah satu jenis vibrator yang populer. Para wanita banyak yang suka.”

“Eeerrgghhhh!” keluhku. Rasanya geli, geli banget putingku serasa dijepit dan dipelintir-pelintir. Getarannya membuat payudaraku gemetar. “Aahhhgkk… papah…ohhh…. eehhhmm”

Aku sudah tak tahu lagi mau ngapain. Tanganku terikat dan papa memberiku vibrator yang menjepit puting susuku. Dan papa sepertinya melakukan hal yang sama dengan Cherry. Aku bisa mendengar Cherry menjerit.

“Aawww….!” pekik Cherry. “Aduhh… Om… geli banget….eeeegggghhh!”

Ternyata papa tak membiarkanku. Selagi aku dijepit oleh vibrator yang membuatku geli ini, papa menciumi tubuhku, ketiakku dijilatinya. Aku benar-benar melayang. Rasanya membuatku geli tapi aku tak bisa apa-apa. Tubuhku menggeliat, mengiba, memohon ampun.

“Papaahhh…oohh….!” rengekku. Sudah tak pantas sebenarnya aku merengek tapi, apa yang papa lakukan membuatku tak mampu mengendalikan diri. Aku menjerit, medengus berusaha untuk menahan rasa geli. Papa benar-benar rakus akan tubuhku, diciuminya apapun yang ada ditubuhku, dari ketiakku, lenganku, turun ke dadaku, perutku kemudian aku tersentak ketika papa menjilati belahan vaginaku. “Paapaaaaaaaaaaaahhhh!”

Kalau saja kami tidak di dalam rumah, sudah pasti akan dianggap ada apa-apa.

“Ona, kamu tak apa-apa?” tanya Cherry.

“Nggak aphh….aphaa… appphhaaaahhh….eeehhggg…. nikmat banget Cherr!” jawabku.

Tiba-tiba papa melepas penutup mataku. Mataku menyesuaikan diri melihat sekeliling. Saat itu, baru aku melihat apa yang terjadi. Di puting susuku ada sebuah benda bebentuk hati yang menjepitnya. Sementara, kepala papa sudah terbenam di vaginaku, menikmati vaginaku yang mengeluarkan cairan. Lidah papa menggelitiki klitorisku, duhh… nggak kuat!

“Paahh… Ona, nggak kuat paaahh!” keluhku.

Aku melirik ke arah Cherry tampak sesuatu diletakkan di kemaluannya. Sesuatu alat panjang berwarna putih dengan ujungnya berbentuk lebih besar bersuara mendenging. Cherry tampak juga merasakan apa yang aku rasakan. Perasaan yang aneh. Aku merasa nikmat sekali. Papa sepertinya tak peduli akan jeritan-jeritan kami. Beliau sibuk menghisap seluruh cairan yang keluar dari vaginaku. Hingga aku pun sudah tak mampu mengontrol diri. Mau bergerak saja nggak bisa.

“Papaaahh… Ona keluarr!” pekikku.

Aku squirt, tak tahu berapa banyak tembakan karena cairan itu langsung diterima papa. Pahaku gemetar ketika papa menyedoti cairanku, kemudian aku pun lemas, nafasku terengah-engah tapi aku masih terasa geli karena putingku masih dijepit dengan vibrator. Kulihat Cherry juga dijepit dengan vibrator di putingnya.

“Pah, udah pah, Ona nggak kuat. Nggak kuat!” kataku. “Lepasin pah, Ona nggak kuat beneran!”

Papa pun kasihan kepadaku dan melepaskan vibrator yang ada di puting susuku. Aku pun dibiarkan dengan keadaan terikat di atas ranjang. Aku menoleh ke arah Cherry yang sekarang giliran dia digarap oleh papa. Papa kemudian memelorotkan celana boxernya. Tampak penisnya mengacung di depan wajah Cherry. Sahabatku itu masih dalam keadaan mata tertutup, jadi dia tak melihat apa yang terjadi. Kemudian penis papa diletakkan di depan bibirnya. Cherry mengerti apa yang papa inginkan, ia pun membuka mulutnya. Lidahnya menari-nari di ujung penis papaku, kemudian papa mendorong pinggulnya hingga penisnya masuk ke dalam mulutnya yang mungil. Tentu saja tidak muat. Hanya kepala penis papa yang mampu masuk ke mulutnya. Itu saja membuat papa sangat nikmat.

Pinggul papa bergerak maju mundur sambil memegangi kepala Cherry. Cherry tersedak beberapa kali saat penis papa mentok di mulutnya. Papa benar-benar sudah dimabuk birahi, ia bahkan kemudian mengocok penisnya sendiri sedangkan kepala penisnya ada di mulut Cherry.

Sepertinya papa sangat bernafsu untuk menyodok mulut Cherry. Cherry kewalahan saat papa dengan cepat menggerakkan penisnya keluar masuk mulutnya. Cherry hanya bisa pasrah sambil terus menerima rangsangan di selakanganya dari virbator berbentuk seperti penis yang menempel di belahan memeknya.

“OOhhh… Cherry… nikmat sekali… eehhmmm.. Terima pejuh om yahhh… nih, pejuh om banyak.. oooohh!” benarlah, papaku sepertinya keluar. Pinggangnya tampak menghentak-hentak, tapi penisnya tak dikeluarkan dari mulut Cherry. Dan sepertinya Cherry terbatuk-batuk karena semprotan sperma papa.

Papa kemudian mencabut penisnya dari mulut Cherry. Tampak leleran cairan kental menetes dari lubang kencing papa membentuk garis benang melengkung dari bibir Cherry. Cherry menutup mulutnya mengumpulkan sperma papa di mulutnya.

“Telan aja sayang, iya telan!” kata papa.

Cherry pun kemudian menelannya. GLEK!

Papa kemudian melepaskan ikatan kami. Tampak Cherry kemudian tertidur kelelahan karena dengan vibrator di vaginanya ia orgasme berkali-kali. Aku dan Cherry tidur berpelukan karena lelah.

* * *

“Kemping?” tanya mama.

“Iya mah, aku ama Cherry mau kemping tapi aku kepengen papa yang mengawasi kami,” jawabku.

“Kemping di mana?” tanya mama.

“Di gunung dong ma, mau di mana lagi. Di sana juga ada pondok koq, kita bisa nginep di sana,” kata papa.

“Oh, kukira di alam terbuka,” kata mama.

“Iya, sebenarnya alam terbuka. Hanya saja tempat itu ada pondoknya, tapi kita bisa menjelajah hutan, gunung dan jalan-jalan sekitar daerah itu. Bagus kan ma?” tanyaku.

“Cherry juga ikut? Cuma kalian bertiga sama papa?” tanya mama.

“Iya ma, boleh ya?”

“Yah, mama sih mengijinkan. Tapi papamu apa nggak repot tuh?”

“Tenang aja ma, nggak koq. Mama ikut juga deh, nggak apa-apa.”

“Mana bisa sayang. Mama tiap hari jadi penyiar.”

“Oh,” aku menampakkan wajah kecewa tapi sebenarnya bersorak gembira.

“Ya sudah, semoga liburan kalian menyenangkan!” kata mama.

Dan liburan semester pun tiba. Aku, Cherry dan papa berangkat. Cherry langsung dapat ijin ketika memberitahu kalau papaku akan ikut. Pastinya para orang tua harus memiliki rasa aman akan anak-anak mereka sebelum mengijinkan anak-anak mereka pergi jauh dari rumah.

Dengan mobil papa kami pun berangkat. Letaknya tempat ini di sebuah daerah di Jawa Barat. Kami harus naik gunung dulu untuk sampai ke tempat ini. Setelah mobil berjalan cukup lama, kami pun akhirnya sampai. Mobil di parkir di halaman sebuah kabin yang akan menjadi saksi bagaimana hari-hari kami yang panas. Aku pun sudah tidak sabar ketika papa menurunkan barang-barang kami ke dalam pondok.

Kami tentu saja tak langsung main setelah masuk di pondok. Pondok itu cuma ada kami bertiga, jadi memang tak ada orang lain di sana. Kami akan sepuas-puasnya melakukan eksplorasi. Pengetahuan sex kami kamin bertambah tiap hari, papa mengajarkan hal-hal baru yang tidak pernah aku ketahui sebelumnya. Liburan lima hari ini menjadi liburan yang paling menyenangkan.

Baiklah kita mulai pada hari pertama. Di hari ini aku, Cherry dan papa jalan-jalan di hutan. Kami bahkan mencari jamur dan belajar tentang alam. Papa cukup pintar ternyata. Beliau mengajari kami banyak hal. Bahkan diberitahu jamur mana yang bisa di makan, mana yang beracun. Ada sebuah sungai yang alirannya cukup deras. Kami bahkan sempat untuk mencoba mandi di sana. Airnya dingin dan sejuk.

Malam harinya kami membuat api unggun di luar pondok. Rasanya enak saja duduk di depan api unggun sambil bercengkrama. Seharian ini kami sama sekali tak membahas sex. Itulah yang aku suka dari papa. Sekalipun ada kalanya papa sanggup melakukan perbuatan mesum kepada kami, tapi papa seperti memberikan kami rasa nyaman. Dia malah seperti seorang papa beneran bagi kami. Aku dan Cherry berbagi papaku. Barulah setelah kami mulai merasa ngantuk, kami bertiga kemudian tidur dalam satu kamar.

Sebelum tidur, kembali aku dan Cherry memberikan servis kepada papa. Kedua tangan kami yang lembut sedang mengocok penis perkasa papa yang sekarang sudah mengeras. Papa hanya merem melek keenakan melihat kami berdua. Mata kami pun menatap papa yang saat itu sedang berbaring. Mulut kami kemudian bergantian melumat batang penis papa, lidah kami menjilati setiap inchi bagian penis papa. Dari kepalanya, badannya hingga kedua bolanya. Terlalu sering kami melakukan blowjob. Jadi kami semakin ahli, bahkan kami melakukan deep throat. Hal itu membuat papa sering cepat keluar. Kegiatan itu kami akhiri setelah papa menyemburkan spermanya di wajah kami sebagaimana biasanya.

Ketika tidur kami hanya memakai pakaian dalam saja dan memeluk papaku dalam selimut yang tebal. Malam makin larut dan suasana makin dingin. Aku dan Cherry mendekap papa hingga kami pun terlelap.

* * *

Kalau ditanya mana yang papa lebih sukai antara aku dan Cherry, maka papa akan lebih memilih aku. Tapi untuk soal memerawani, papa lebih memilih Cherry terlebih dulu. Kenapa begitu? Ehhmm… papa punya alasan khusus, di antaranya ia tak mau aku kaget nantinya, maka dari itu hari itu aku melihat dari jarak dekat bagaimana Cherry diperawani.

Aku masih ingat kejadiannya. Saat itu hari masih pagi tapi matahari sudah bergerak naik. Meskipun begitu hawa sejuknya pegunungan membuat kami malas untuk melakukan apapun. Dan pagi ini kami terlibat diskusi hangat.

“Papa boleh mengambil keperawanan Cherry?” tanya papa kepadaku.

“A-apa?” aku terkejut. “K-kenapa Cherry dulu? Kenapa tidak aku dulu?”

“Sayang, tak perlu cemberut begitu. Ini juga papa lakukan karena papa ingin kamu melihatnya. Aku tak ingin nanti ketika kita melakukannya kamu akan terkejut dan trauma.”

Aku tak percaya papa bicara demikian. Cherry juga terkejut. Ia bahkan tak bisa bicara apapun.

“Dengarlah, engkau ini spesial, maka dari itu papa ingin kamu yang terakhir sayangku,” kata papa sambil mengecup bibirku.

“Ehmm…. sakit nggak om?” tanya Cherry.

“Perih dan pedih awalnya, kata sebagian orang. Tapi nanti nggak koq. Aku tahu penisku besar, susah mungkin kalau masuk. Tapi tidak salahnya bukan kita mencoba?” papa meyakinkan Cherry.

Aku masih cemberut.

“Kamu jangan cemberut dong sayang. Kalau misalnya papa tidak menyayangimu, mungkin sekarang papa sudah memerawani kamu dari dulu dan mencari wanita lain. Tapi karena papa sangat menyayangimu, mencintaimu, maka papa tak mau merusakmu. Papa akan menjagamu terus sayangku,” kata papa.

Sebenarnya aku mengerti apa maksud papa, “Save the best for the last”. Tapi aku masih belum bisa menerimanya, akhirnya pagi itu papa harus menaklukkanku dengan cumbuan. Cherry juga ikut-ikutan, tapi Cherry mencumbu papaku.

Papa mencium pipiku, kemudian melumat bibirku. Saat kami berpagutan, di bawah sana Cherry sudah mengulum kepala kemaluan papaku. Dijilati, dihisapnya. Bahkan suara hisapannya bisa terdengar. Papa menggelitik putingku yang makin mengeras, perlakuannya lembut walaupun tangannya kasar. Papaku seorang pria yang tampan, senyumnya yang khas berlesung pipit, ototnya yang kekar sekarang menempel di dadaku. Ahh… buah dadaku diremasnya.

Papa kemudian menyusu kepadaku. Ditarik-tariknya putingku dengan bibirnya yang lembut, sambil lidahnya bermain jilat-menjilat seperti putingku ini adalah es krim. Nikmat sekali, terlebih papa kemudian menjilati ketiakku, lidahnya pun menggelitik ketiakku. Aku geli dan basah.

CLEK! CLEK! CLEK! Tangan papa sudah aktif mengorek-ngorek vaginaku yang basah.

Mataku terpejam menikmati perlakuan papa. Jarinya aktif menggosok-gosok titik-titik sensitifku yang ada di selakangan. Bibir kemaluanku digesek-gesek, terlebih klitorisku yang sekarang serasa geli sekali. Aku makin nikmat ketika papa mengorek vaginaku makin cepat. Walaupun cuma sedikit jarinya yang masuk, tapi itu sungguh nikmat. Aku tak kuasa lagi, hingga kupeluk papa dengan seerat-eratnya.

Gelombang orgasme pun akhirnya meledak-ledak. Tubuhku mengejang, papa pun menghentikan gerakannya hanya menatapku yang menatapnya sayu. Tubuhku langsung lemas hingga berbaring saja di atas ranjang. Papa tersenyum kepadaku dan mengecup keningku. Aku memejamkan mataku sejenak. Sungguh ini sebuah pengalaman yang baru lagi. Entahlah, kenikmatan orgasme berbeda dari hari ke hari. Dan rasanya seperti aku baru pertama kali melakukannya.

Cherry kulihat masih sibuk mengulum penis papa yang jumbo itu. Aku melihat tangannya saja tidak bisa menggenggam sempurna batang papa. Papa kemudian menarik tubuh Cherry, hingga sahabatku itu pun berdiri. Kini vaginanya berada di depan mulut papa. Posisinya adalah papa duduk sedangkan Cherry berdiri. Wajah papa berada di selakangan Cherry, menciumi bibir vagina Cherry lalu melumatnya. Pantat Cherry terangkat ketika papa sudah beraksi. Aku yang pernah tahu rasanya serangan papa di vagina tentu saja tahu sekarang Cherry pasti sedang melayang merasakan tarian lidah papa yang liar.

“Ohhhkk… Ommm… eehhhmm!” keluh Cherry.

Ada perasaan cemburu ketika Cherry dimainkan oleh papa. Rasanya tak rela saja. Tapi aku harus sabar. Papa sudah berjanji kepadaku kalau aku pasti akan merasakannya juga, tapi tidak sekarang. Cherry tentu saja sangat senang hari ini. Hatinya pasti berbunga-bunga. Sebab ia sangat suka papaku. Ia bahkan bercita-cita punya suami seperti papa. Kami sering membicarakan bagaimana kalau papa memerawani kami, tapi sepertinya ia lebih beruntung daripada aku.

“Cherry pipis omm… aahhh…. iyahhhh…. ittuuuhhhh…. eeeehhhhmmmm aaaaaaaaaaaahhhhkkk!” pekik Cherry sambil mendekap kepala papa.

Cherry pun lemas. Dia kemudian berbaring di sampingku. Papa bergeser dan sekarang berlutut di hadapan Cherry. Kedua kaki Cherry dibuka hingga semuanya sekarang berada di samping pinggang papa. Tongkat papa yang besar itu sudah mengacung sempurna. Ia sepertinya tahu mangsanya kali ini.

“Ona, lihat papa yah! Ona harus melihat papa dulu. Cherry, kamu siap?” tanya papa.

Cherry mengangguk lemah. Ia tahu percuma melawan. Agaknya ia mengambil cara aman yaitu menutup matanya. Papa memposisikan kepala penisnya di depan liang senggama Cherry. Digesek-geseknya penis papa di sana.

“Aaaahhh…. aahhh…!” desah Cherry.

Aku melihat bagaimana prosesi penis papa masuk ke dalam liang senggama Cherry. Awalnya kepala penisnya berusaha mendobrak masuk. Cherry menggenggam erat tanganku. Papa tidak meneruskan ketika Cherry menegang. Tapi ketika Cherry sudah rileks didorongnya lagi benda berotot itu. Lama memang, papa harus menariknya lalu maju lagi, tarik maju, tarik maju seperti itu. Perlahan-lahan tapi pasti kepala penis papa sudah masuk sempurna, mungkin tinggal satu sodokan lagi robeklah keperawanan Cherry.

“Kamu siap Cherry?” tanya papa.

“Iya om, Cherry siap. Ona, sebentar lagi Cherry jadi istrinya papa…. eehhhmmm….aaaaaahhkk!” Cherry menjerit ketika papa melesakkan penisnya hingga separuh batang penisnya masuk.

Kedua paha Cherry menekan pinggang papa dan tangannya menggenggam erat tanganku. Wajahnya meringis seperti menahan rasa sakit. Tapi papa tak berhenti bergoyang, perlahan tapi pasti pinggul papa menyentak-nyentak mencari celah kenikmatan vagina seorang perawan. Gesekan demi gesekan batang penis papa di rongga vagina Cherry malah membuatku terangsang. Aku pun bangkit untuk berpagutan dengan papa sambil sesekali melihat prosesi Cherry diperawani oleh papa.

Batang itu rasanya keras sekali. Papa pasti keenakan sekarang merasakan penisnya diremas-remas oleh vagina Cherry. Sahabatku yang punya kulit putih, mulus dan menggemaskan itu sekarag sedang diperawani, kulihat bercak darah ada di kulit penis papa. Aku agak iri papa bisa merasakan kenikmatan tidak dari aku. Aku pun menggelitik pinggang papa, kemudian perut lalu kuhisap putingnya papa. Hal itu ternyata membuat goyangan papa makin cepat.

“Ahhh… kalian benar-benar membuatku gila. Cherry, legit sekali memek kamu. Kontolku mentok! Sempit!” kata papaku yang mulai horni. Kalau papa horni segala macam ucapan kotor akan keluar.

“Iya om, kontolnya ommhhh… ehhmm… nikmat…. tadi sakit… sekarang ssssudah, ngggaakkk… oohhmm…,” kata Cherry.

“Ona, papa mau keluar di memeknya Cherry nih, udah nggak tahan,” ujar papa.

“Papaaahh.. kapan Ona dapat bagian?” tanyaku merajuk.

“Nanti sayang, belum saatnya. Kan papa sudah bilang. Maaf ya sayang, kamu akan dapatkan yang spesial,” kata papa.

“Onaa….. kontol papamu makin keras… sodokannya makin kenceng. Mau pipis lagi ini aku!” pekik Cherry yang sudah tak kuasa lagi membendung badai orgasme yang akan datang.

Papa akhirnya orgasme, aku bisa melihat penis papa berkedut-kedut. Pasti sekarang rahim Cherry sedang ditembaki oleh sperma papa. Mata Cherry memutih merasakan sensasi orgasmenya, entah mungkin berkali-kali. Papa menahan getaran pinggul Cherry, kemudian perlahan-lahan mencabut batang penisnya.

PLOP! Penis pun tercabut, seketika itu kulihat dari liang senggamanya mengucur sperma kental papa bercampur darah. Cherry sudah tidak perawan lagi sekarang.

Penis papa juga merah kena darah. Aku bantu mengambilkan tissue untuk membersihkannya. Cherry sepertinya kelelahan dan tertidur.

“Papa, kapan Ona?” tanyaku menggelayut di lengannya.

“Nanti sayang, ada waktunya, tapi tak sekarang. OK?” lagi-lagi papa bilang begitu. Huh, sebel!

Pagi itu aku menemani papaku memasak di dapur sedangkan Cherry kutinggalkan di kamar. Ia tidur cukup lelap hingga aku membangunkannya untuk ikut sarapan. Dia mengeluh sulit jalan karena rasanya sangat sakit. Papa kemudian membantunya dan memandikannya. Papa berjanji koq, liburan ini kami semua sudah tidak perawan lagi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*