Home » Cerita Seks Ayah Anak » My Papa 9

My Papa 9

Aku menangis. Sakit, perih, rasanya seperti tercabik-cabik. Papa kenapa tega melakukan itu. Aku tak masalah kalau papa melakukannya dengan mama tapi ini?? Kenapa papa melakukannya dengan Bu Ine tetangga sendiri?

Tak berapa lama kemudian pintu kamarku dibuka. Aku makin membenamkan wajahku ke bantal. Aku tahu itu papa.

“Rona?” panggil papa.

Aku menoleh ke arahnya. Tampak papa duduk di tepi ranjang. Dia tak melihatku, hanya menunduk. Entah apa yang dipikirkannya. Aku pun bertanya-tanya kepada diriku sendiri. Kenapa aku harus tahu urusan papa? Mau dia bercinta dengan siapa pun aku tak peduli. Itu adalah haknya bukan?

Papa sekarang menoleh ke arahku. Tangannya mengelus rambutku. “Maafkan papa.”

“Kenapa papa melakukan itu?” tanyaku. “Papa jahat!”

Aku kemudian membelakangi papa. Aku masih terisak.

“Ada alasan kenapa papa melakukan ini,” kata papa.

“Katanya papa menyayangi Rona, mencintai Rona, lalu kenapa papa melakukan itu? hikkss…,” kataku sambil terisak.

“Justru karena papa meyayangimu papa tidak mau merusakmu, papa tidak mau mengambil keperawananmu. Itu sangat tidak adil bagimu sayangku,” kata papa. “Papa ingin menjagamu, tapi memang papa sangat menginginkanmu lebih dari apapun. Namun ketika papa teringat bahwa engkau papa timang-timang ketika masih kecil, ketika pertama kali memanggilku papa, semuanya jadi serba salah. Papa salah telah mengajarkanmu hal-hal yang tidak sepantasnya diajarkan oleh papanya sendiri.”

Itukah alasannya? Tapi dadaku masih sakit. Aku segera berbalik, kemudian memeluk papa.

“Papa, papa jahat telah melakukan itu, papa jahat! Harusnya papa hanya punya mama ama Rona, kenapa papa melakukan itu?” tanyaku sambil aku pukul-pukul dadanya yang bidang.

Papa menghela nafas. Ia mengelus-elus kepalaku.

“Kamu tahu, setiap hari, setiap malam papa selalu berfantasi denganmu. Dan ketika papa punya kesempatan papa gunakan untuk mencium kamu ketika kamu tidur, menghisap putingmu ketika tidur dan menggesek-gesekkan penis papa ke vaginamu ketika kamu tidur hingga papa keluar. Tapi papa tak berani untuk memasukkan penis papa ke milikmu yang paling berharga itu. Papa tak mau melakukannya,” kata papa.

“Kenapa pa? Bukankah aku bukan anak kandung papa? Papa lakukan saja, aku rela koq. Aku ikhlas,” kataku.

“Tidak sayangku. Papa tidak ingin merusak kamu. Kamu lebih berharga. Kamu layak untuk dilindungi, layak untuk dikasihi, disayang dan dicinta. Karena papa tidak bisa menguasai diri itulah, hari ini tadi, Bu Ine meminta tolong kepada papa suatu urusan. Papa memang biasa pulang ketika siang hari. Papa tak bisa menolaknya. Bu Ine ini teman baik papa sama mama, jadi tak bisa papa menolak. Namun karena tadi malam papa tidak ada jatah dari mama dan tidak pula dari kamu…. papa sangat ingin sekali, entah bagaimana kami berdua saling memagut, lalu terjadilah hal itu.

“Bu Ine memang sudah menyukai papa sejak dulu. Bahkan papa beberapa kali digoda olehnya. Tapi papa selalu tahan dan selalu menolak. Entah kenapa hari ini papa mau. Maafkan papa. Ketika tahu kamu pulang tadi, papa langsung menghentikan aktivitas kami dan meninggalkan Bu Ine. Papa tahu kamu sakit, sakit sekali kan rasanya?” ujar papa.

Aku mengangguk.

“Ketahuilah sayang, sejujurnya ketika papa main sama mama, main sama Bu Ine, papa selalu membayangkan kamu. Tubuh kamu sekarang sudah mulai tumbuh. Cantik, manis, imut. Kamu adalah bidadari papa. Papa ingin menjaga kamu sampai kamu dewasa nanti. Papa ingin dan sangat ingin bercinta denganmu tapi papa takut. Papa yang memulai semuanya, harusnya tidak terjadi,” kata papa.

Aku mulai tersentuh, ternyata papa melakukannya karena papa tak ingin merusakku. Hanya saja aku sudah terlanjur kecewa.

“Apa yang bisa papa lakukan sebagai permintaan maaf?” tanya papa.

Aku meringkuk di dada papaku. Aku masih terisak di sana. Aku ingin papa. “Aku ingin papa, aku ingin papa ….”

“Ingin apa sayang?” tanya papa.

“Aku ingin papa memasukiku!” jawabku.

“Tidak, itu tidak bisa sayangku. Kamu harus mengerti!” kata papa. “Papa tidak mau merusakmu!”

“Papa sudah membuatku sakit… sakiiit sekali…. hiks…,” kataku. Setelah itu aku mendorong papa dan kembali membenamkan wajahku ke bantal. Kemudian aku menangis. Papa menyentuh pundakku dan memijitnya, tapi setelah itu papa pergi. Seharian itu aku menangis. Tapi ketika mama pulang aku pura-pura tidak apa-apa.

* * *

“Ma, hari ini anter aku yah!” kataku.

“Hmm?? Mama mana bisa sayang, mama harus berangkat pagi sekali,” kata mama.

“Nggak apa-apa, kalau mama berangkat pagi. Rona akan bangung lebih awal lagi,” kataku.

Papa tampak diam saja. Mama mengetahui ada yang tidak beres. “Ada apa sih? Kamu ngambek ama papa?” tanya mama.

“Nggak koq, aku kepengen sama mama aja,” jawabku.

“Hush, kamu itu nggak bisa bohong sama mama,” kata mama sambil menguyel-uyel rambutku. “Hayo minta maaf sama papa.”

“Nggak, papa yang salah koq,” kataku.

“Ada apa sih sayang?” tanya mama ke papa.

“Cuma masalah kecil koq ma, nggak ada apa-apa,” jawab papa.

“Papa nggak membolehkan aku bermain. Makanya aku ngambek,” kataku sambil menekankan kata “bermain”. Papa mengerti maksudku tentu saja.

“Bermain? Bermain apa?” tanya mama.

“Eehhmm… itu lho ma, Rona ingin bermain olahraga ekstrim. Kan bahaya banget itu,” jawab papa.

“Kan mainnya sama papa,” aku bersikeras.

“Aduuhh… Rona emang olahraga ekstrimnya apa sih?” tanya mama.

“Panjang tebing, arung jeram, sama main flying fox,” jawab papa ngasal.

“Adududuh, Rona itu bahaya sekali lho,” kata mama.

“Nggak mau tahu, pokoknya papa nggak sayang ama Rona. Ayo mah, berangkat!” aku menggelayut manja di lengan mama.

“Baiklah, sayang aku pergi dulu,” kata mama.

“Hati-hati,” kata papa. Maafkan aku ya pa. Maaf, tapi papa sudah nyakiti aku. Huh!

“Rona, kamu koq langsung pergi nggak cium papa dulu?” tanya mama.

“Nggak mauu!” jeritku yang segera pergi keluar rumah.

Sikapku yang ngambek ini benar-benar membuat mama bingung. Mama terus merayuku agar tidak berbuat begitu kepada papa. Dan papa berkali-kali minta maaf. Aku sebenarnya kasihan kepada papa, tapi… aku masih belum bisa memaafkan papa.

Di sekolah, aku bertingkah seperti biasa. Dan selama hari-hari di sekolah aku pun tak memikirkan papa lagi. Mungkin memang benar anak cewek itu lebih tidak memaafkan orang dan sukar untuk move on. Setiap kali melihat papa aku masih merasakan perih. Dan selama satu minggu aku mendiamkan papa. Hingga pada suatu hari terjadi sesuatu.

Cherry menemuiku, “Ona!? Pulang bareng yuk?!”

“Hmmm? Kenapa emangnya?” tanyaku.

“Ayolah, gue tahu akhir-akhir ini lo pulang sendirian. Lagi ngambekan ama papamu ya?” tanyanya.

“Koq tahu?” tanyaku.

“Itu bisa ditebak dari wajahmu,” jawabnya. Tapi jujur jawabannya ini terlalu mengena.

“Itu tidak masuk akal Cher, dari mana kamu tahu?” tanyaku.

“Papamu yang cerita,” jawabnya.

“Kapan?” tanyaku.

“Kemarin, pas dia ada di luar pagar sekolah. Tahu nggak tiap hari dia ada di sini lho ngawasi kamu dari kejauhan,” katanya.

“Betulkah?” tanyaku.

“Iya. Gue memergokinya dan gue tanya kenapa. Katanya lo marahan ama beliau. Marahan apa sih?” tanya Cherry menyelidik.

Aku kemudian membisikkan sesuatu ke telinganya, “Aku melihat papaku selingkuh.”

“WHAATT!?” pekik Cherry.

“Sssshhh…! Nggak usah teriak kenapa?” gerutuku.

“Sorry, sorry, ini beneran?”

Aku mengangguk. Kami pun terdiam setelah itu.

“Trus kata papamu gimana?” tanyanya.

“Papa katanya minta maaf, lo tahu kan Cher. Gue ingin jujur ama lo. Gue akan bilang ini karena elo sahabat gue. Gue suka ama papa gue. Gue cinta mati ama papa dan ketika melihat papa begituan, sakiiit rasanya,” jawabku.

Cherry kemudian memelukku. “Lo beneran suka ama papa lo sendiri?”

Aku mengangguk.

“Cinta? Cinta seperti kekasih?”

Aku mengangguk.

“Ona, gue ngerti perasaan lo. Jujur gue juga suka ama papa lo, beneran. Kamu ijinin gue suka ama papa lo nggak? Kan kita sahabatan,” tanyanya. Jujur aku dan Cherry masih sama-sama polos. Walaupun kami pernah mencium bibir papa. Dan inilah awal kegilaan kami. Kami berdua terobsesi dengan satu cowok dan itu adalah papa.

“Baiklah, cuma kamu yang boleh suka ama papaku, yang lain nggak boleh dan nggak akan gue ijinkan,” kataku.

“Asyyiiikk! Makasih ya, gue dan elo sekarang sodaraan aja ya, Na. Mmmuuuaacchh!” pipiku dicium Cherry.

“Apaan sih?”

“Hehehehe, besok malem minggu gue nginep lagi di rumahmu yah. Kita minta penjelasan papa lo, gimana?” tanyanya.

Aku sedikit ragu, tapi melihat kesungguhan mata Cherry akhirnya aku pun setuju.

* * *

Malam minggu pun tiba. Dan benar saja Cherry menginap sekali lagi di rumahku. Papa dan mama berada di rumah malam ini. Aku dan Cherry seharian berada di kamar, kami bercanda, nonton film dan main game. Apalagi yang dilakukan oleh anak-anak? Tapi seiring berjalannya malam, arah pembicaraan aku dan Cherry pun makin serius.

“Lo gila Rona, kamu ingin menyerahkan keperawanan lo ke papa lo?” tanya Cherry.

“Tapi gue cinta dia Cher, lo tahu kan?” kataku.

“Oh god. Lo sebegitu cintannya ama papa lo yah? Terus terang ada benarnya papa lo bilang tidak ingin mengambil keperawananmu Na,” kata Cherry.

“Maksudnya?”

“Dengerin baik-baik!” katanya sambil memegang tanganku. “Lo masih ingat kan apa yang dikatakan papa lo? Dia cinta ama lo Na, ingat itu. Dan dia tak ingin merusak elo. Jadi sudah jelas, menurutku papa lo melakukan hubungan badan dengan Bu Ine tetangga elo itu karena dia nggak mau nyakitin elo. Dia cinta banget ama elo, Na.”

“Tapi, … tapi… melihat papa begituan ama orang lain rasanya sakit Cher.”

“Lo coba dengarkan dia, minta penjelasannya langsung. Suruh dia untuk jujur ama elo.”

“Dia kan papa gue, masa’ gue minta begitu?”

“Hello, papa lo kan kepengen banget ngentotin elo, tapi dia tak tega.”

“Hah? Dari mana lo tahu?”

Cherry menutup mulutnya. “Eh Sorry, sebenarnya pas waktu elo ngasih servis papa elo gue bangun loh. Dada gue berdebar-debar ketika elo ngemutin itunya papa lo.”

“HAH?? Jadi lo nggak tidur waktu itu? Sialan lo!” aku menggebuki Cherry pake bantal.

“Hahahahaha, ampuun, maaf. Habis kalian berdua asyik banget. Jujur Ona, aku cemburu. Tapi lo udah janji kan berbagi ama gue?” tanyanya lagi meyakinkan aku aga bisa berbagi.

“Iya sih Cher, iya berbagi. Tapi gue agak nggak rela,” kataku.

“Udah deh, ntar kita tanyain langsung aja ke papa lo,” katanya sambil menepuk pundakku.

“Tapi bagaimana?” tanyaku.

“Ya tanya langsung dong,” jawabnya.

Tapi kan kalau tanya nggak boleh mama tahu kan? Aku kemudian beranjak dari tempat tidurku.

“Mau ke mana?” tanya Cherry.

“Lihat papa,” jawabku.

Cherry segera menyusulku. Kami berdua keluar kamar dan mendapati papa baru saja mandi ternyata. Tampak ia hanya memakai handuk saja dan berjalan menuju ke kamarnya. OMG! Itu ototnya papa kelihatan semua. Cherry dan aku menelan ludah. Aku tak melihat mama sepertinya mama pulang agak malem. Melihatku dan Cherry keluar kamar papa kemudian terheran-heran.

“Ada apa anak-anak?” tanya papa.

“Eee…. i-itu…,” jawabku gugup.

“Ada yang perlu kami bicarakan dengan om, penting. Bisa?” tanya Cherry.

Papa menggaruk-garuk kepalanya. “Setidaknya papa mau pakai baju dulu.”

Tidak, tidak, aku tidak kuat, harus sekarang. Dadaku benar-benar akan sesak kalau harus menahan diri lagi. “Papa!? Jelaskan kepada Rona, kenapa papa melakukan itu kepada Bu Ine? Benarkah papa melakukan itu gara-gara papa mencintai Ron?” Entah kenapa aku bisa lancar mengatakannya.

Papa mendekatiku, ia kemudian merendah dan membungkuk. Tangannya bertumpu di kedua lututnya, “Kan sudah papa bilang, papa nggak tega Ona. Dan… Cherry?”

“Tenang aja, aku sudah tahu semuanya koq om,” jawab Cherry. “Dan sejujurnya kami berdua suka sama om. Cinta ama om.”

“Maksudnya?” tanya papa.

“Papa tahu yang kami maksud. Rona punya perasaan khusus ke papa. Dan dada Rona rasanya sakit sekali ketika memergoki papa begituan. Kenapa nggak sama mama saja. Kalau sama mama, Ona mungkin akan menerima, tapi kenapa harus dengan wanita itu?” kataku.

“Maafkan papa, papa janji tidak akan melakukannya lagi,” kata papa.

“Janji?” tanyaku.

“Janji,” jawab papa. Aku menunjukkan kelingkingku. Papa lalu mentautkan kelingkingnya. “Papa janji tidak akan berbuat itu lagi kepada wanita manapun. Karena cinta papa ada di sini.”

Aku yang polos pun tersenyum. Cherry menatapku dengan tersenyum juga. Aku kemudian memeluk papaku. Tidak. Bukan aku saja, tapi juga Cherry.

“Pa, mulai sekarang… kontol papa cuma buat aku, mama dan Cherry yah? Nggak boleh buat wanita yang lain. Karena mulai sekarang Cherry akan berbagi denganku,” kataku.

“Kamu sebut apa tadi sayang?” tanya papa.

“Kontol pa,” jawabku.

Dengan satu gerakan handuk papa pun terlepas. Aku langsung memegang batangnya sambil mengurutnya.

“Apa yang kamu lakukan, Ona?” tanya papa.

“Papa tak perlu lagi malu-malu atau sembunyi-sembunyi. Rona sudah mengerti yang papa lakukan tiap malam. Ona sudah tahu kalau tiap malam papa menggesek-gesekkan penis ini ke memeknya Ona sampai keluar. Ona akan senang hati sekarang mengulum kontol papa, Ona akan dengan senang hati kalau misalnya hari ini papa merobek Ona. Ona ikhlas pa,” kataku.

“Cherry juga om. Cherry beneran cinta mati ama Om. Tepatnya kami berdua suka ama om,” sambung Cherry.

Papa tak menjawab. Dia hanya menikmati kocokan lembut dariku, aku mengajak Cherry untuk melakukannya juga. Cherry pun ikut mengocok penis papa yang mulai keras sekarang. Lambat laun daging panjang itu pun mengeras sempurna. Tak cuma mengocok, kedua tangan kami yang lembut menggelitik telurnya papa. Papa hanya merem melek merasakan perlakuan kami.

“Sayangku, papa mengerti, kita ke kamar aja yuk?” ajak papa.

Kami mengangguk. Papa kemudian menuju ke kamarku. Begitu sampai di kamar papa menciumi bibir kami bergantian. Setelah itu papa duduk di tepi ranjang. Sepertinya papa ingin dioral, aku yang berinisiatif. Bibirku langsung menciumi kepala penis papa. Cherry juga ikutan, ia menciumi dada papa, bergerak turun lalu ke penis papa.

“Kalian dari mana belajar?” tanya papa.

“Dari buku pa,” jawabku.

“Iya om, kalau aku dari film,” jawab Cherry.

Lidahku sekarang menggelitik di belahan tempat pipis papa. Lalu menggelitik batang papa naik turun. Cherry pun melakukan hal yang sama, sehingga kedua bibir anak remaja sekarang merangsang penis papa yang sudah menegang perkasa. Kedua tangan kami sekarang mengocok batang papa dan kedua bibir kami berebut telur milik papa. Pantat papa bergerak-gerak. Sepertinya papa merasakan kenikmatan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

“Kita buka baju yuk Cher?!” ajakku.

Papa sudah mengajariku nakal, dan sekarang kami sudah jujur satu sama lain. Jadi rasanya untuk buka baju tak masalah dong? Aku pun membuka bajuku, kulepaskan semua yang melekat di tubuhku, Cherry juga.

“Eh, tunggu dulu. Kalian ini??? Nanti mama pulang gimana?” tanya papa.

“Bodo amat pah, kalau toh ketahuan mama, Rona nggak peduli. Rona kangen ama papa. Rona ingin papa,” jawabku.

Papa tak bisa menjawab, kami memang menggoda. Kecil-kecil cabe rawit. Apalagi papa pasti sekarang terpesona dengan dua bidadari cantik yang sekarang ada di hadapannya tanpa busana. Kami semua telanjang, bahkan kalau papa mau, sekarang saja papa bisa memperkosa kami dengan kejantanannya yang sudah menegang mengeluarkan sedikit lendir di ujungnya. Aku kemudian naik ke pangkuan papa dan papa langsung menangkap tubuhku, sementara Cherry melahap penis papa dan mengulumnya. Mulutnya yang mungil sama seperti aku tentunya tak bisa muat kontol papa yang besar.

Aku dan papa berciuman, papa lalu bergeser ke dadaku. Buah dadaku dikulum, dikenyot dan dihisap. Kuat sekali.

“Paaahh,… Rona belum punya ASI, jangan kuat-kuat!” kataku.

“Tapi enak kan sayang?” tanya papa.

Aku mengangguk. “Papa suka diisepin kontolnya?”

“Suka sekali sayang,” jawab papa.

“Pa, hari ini papa harus keluar di mulut kami berdua yah?” kataku.

Cherry menghentikan kulumannya. “Cherry ingin merasakan pejuh om. Boleh ya om?”

Papa cuma mengangguk, itu artinya lampu hijau. Segera aku turun dan kemudian merangsang penis papa habis-habisan. Kepala kontolnya mengkilat terkenal lendir, bahkan aku dan Cherry berciuman dengan lidah tapi di tengahnya ada kepala penisnya papa. Papa pasti keenakan sekarang. Aku melihat matanya memutih merasakan nikmat. Papa kemudian memegang kepala kami. Tanganku kemudian mengocok batang papa, sedangkan tangan Cherry meremas-remas telurnya papa. Lidah kami menggelitik di sekitar kepala penis, sehingga membuat papa sepertinya mau klimaks.

“Ohh…. sayangku. Papa mau keluar… keluarrr…..aaaaarrggghh!” papa menjerit ketika ledakan orgasmenya datang. Semburan sperma itu memancar mengenai wajahku, kemudian wajah Cherry. Kami berebut untuk menjilat sperma papa. Aku dan Cherry seperti orang yang rakus. Ketika kontol papa berkedut aku langsung menangkapnya dan membiarkan beberapa kali tembakan ada di mulutku, lalu bergantian dengan Cherry yang terakhir. Kami terus menjilati penis papa sampai bersih. Aku yakin tak akan ada orang yang tahan diperlakukan seperti itu.

“Kalian luar biasa!” ujar papa.

Kami tertawa dan saling membersihkan sperma pap di wajah kami. Aku menjilati wajah Cherry, sebaliknya Cherry menjilati wajahku. Setelah bersih papa sepertinya puas. Beliau berdiri.

“Papa sangat ingin sekali, tapi tidak hari ini yah. Papa mau keluar malam ini sama mama,” kata papa. Papa mengambil handuknya dan menutupi pinggangnya.

Kami mengangguk. Mulai hari itu kenakalan kami dengan papa lebih liar dari biasanya. Pada saat kami tadi sedang memblowjob papa, sebenarnya ada sepasang mata yang mengawasi kami dari kegelapan. Dari sinilah dimulainya petualangan berbahaya bagiku, Cherry dan juga papa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*