Home » Cerita Seks Ayah Anak » My Papa 8

My Papa 8

Pengalaman dan edukasi berhubungan intim bersama papa merupakan pengalaman terbaik di dalam hidupku. Kalau kalian tahu aku sekarang bagaimana? Ehmm….aku sekarang sudah punya anak hihihi. Tentu saja dengan papaku. Tapi bagaimana bisa seperti itu, aku perlu menceritakannya secara detail, masih lama perjalanan hingga papa benar-benar menghamiliku. Papaku berlaku sangat lembut bahkan memanjakanku. Aku tak pernah dimarahinya, kalau pun marah beliau hanya menegurku. Menghukumku tidak seberat hukuman, paling disuruh bersih-bersih atau berdiri di pojok tembok untuk merenungi kesalahanku. Begitulah papaku.

Masa-masa SMP ini penting aku ceritakan. Karena di sinilah awal mula aku menjadi liar. Hubunganku dengan papa benar-benar hot. Dan papa tidak langsung melakukan penetrasi ke dalam vaginaku sekalipun aku sangat ingin menginginkannya. Aku bahkan sampai ngambek karena papa tidak melakukannya. Papa hanya berkata, “Papa terlalu sayang ama Rona jadi papa tidak ingin memasukkannya. Rona terlalu indah untuk itu.” Ucapan papa membuatku tersanjung.

Sedikit demi sedikit edukasi sex yang diajarkan papa melekat di dalam otakku. Dan kalau biasanya aku memuaskan papa, sekarang gantian papa yang memuaskanku. Seperti hari ini, seminggu setelah terakhir kali Cherry menginap di rumahku. Aku berada di kamarku yang temboknya dicat warna pink. Ada beberapa hiasan gambar Hello Kitty dan Pinnochio di dalam kamarku. Beberapa boneka tergeletak di sudut ranjangku. Tentu saja, sebagaimana kamar anak gadis pada umumnya. Hari libur ini aku di rumah saja bersama papa. Sama sekali tak kusinggung tentang orang yang bernama Bambang tempo hari.

“Sayang, sudah bangun?” tanya papa dari luar kamar.

“Sudah pa,” jawabku.

Tak berapa lama kemudian papa masuk kamarku. Tampak papaku yang tampan hanya memakai celana pendeknya saja. Di selakangannya tercetaklah sebuah tonjolan yang aku sudah melihatnya berkali-kali, hampir tiap hari malah.

“Koq nggak pakai baju pa?” tanyaku.

“Papa barusan olahraga,” jawabnya.

“Untuk meredam nafsu ya? Hihihihi,” aku tertawa kecil.

“Begitulah,” jawabnya.

“Kenapa sih pa, papa nggak mau masukin aja itu ke sini?” tanyaku sambil menunjuk ke celana dalamku. Oh ya, aku tidur hanya memakai kaos dan celana dalam. Karena sekarang pakai bra pun percuma karena papa pasti mencopotnya tiap malam dan diakhiri dengan mengocok penisnya, lalu menumpahkannya di celana dalamku. AKibatnya hampir tiap hari celana dalamku bau sperma. Untunglah persediaan celana dalamku banyak.

“Belum saatnya sayang, belum saatnya,” kata papa. Selalu jawaban yang sama.

Aku pun bertanya tentang orang KPAI tempo hari. “Pa, orang yang bernama Bambang kemarin gimana?”

“Tenang saja, kamu tak perlu mencemaskan,” ujar papa.

“Oh,” aku mengangguk.

“Ayo bangun! Kita olahraga yuk!?” ajak papa.

“Olahraga?” tanyaku.

“Iya, olahraga. Kamu pasti akan suka olahraga ini.”

Kalian pikir pasti mengira kami akan melakukan hubungan badan sebagai maksud dari olahraga. Salah besar. Kami benar-benar olahraga, tapi… dengan cara yang semi erotis. Aku segera turun ke ruang tengah yang emang longgar untuk kami olahraga. Di sana sudah ada matras. Hmm… olahraga seperti apa ya? Terus terang, aku yang masih kecil ini tidak tahu menahu soal olahraga yang dimaksud papa kali ini.

“Pertama-tama, kamu harus melepas semua bajumu dulu!” kata papa. “Papa juga.” Papa menurunkan celana dalamnya hingga sekarang tak ada benang sedikit pun. Aku tentu saja ternganga melihat lagi batang berurat papa yang sekarang sudah mengacung seperti jagung yang terkelupas dari kulitnya, tegak menantang seperti sebuah katana yang dihunus oleh para samurai.

Sebagai seorang anak gadis, tak ada yang bisa aku lakukan selain menurut lelaki yang paling aku sayangi ini. Satu per satu bajuku kulepas. Aku memang belum mandi. Daripada aku mandi dulu dan berkeringat lebih baik berkeringat dulu baru mandi. Papa melihat tubuh mungilku telanjang. Ah, papa sudah melihat tubuhku berkali-kali, aku juga melihat tubuh papa berkali-kali.

“Apa yang harus Ona lakukan pa?” tanyaku.

“Kemarilah!” ajak papa.

Papa pun kemudan menyuruhku untuk meregangkan ototku. Pertama dimulai dari kaki. Kakiku kulebarkan, papa berada di belakangku persis. Bisa aku rasakan penis papa yang menempel di pantat mungilku. Tangan papa sekarang berada di pinggangku. Kedua tangannya kemudian mengusap-usap pinggang sampai ke ketiakku, kedua tanganku pun terangkat.

“Rentangkan kedua tanganmu sayang!” bisiknya. Aku menurut. Kurentangkan kedua tanganku. Aku baru sadar kalau di ruang tengah ini ada sebuah cermin besar yang diletakkan di sana.

“Koq ada cermin di sini pa?” tanyaku.

“Iya, papa sengaja mengambilnya dari gudang. Mama sudah lama tak memakainya karena terlalu banyak beraktivitas. Biasanya dulu dibuat untuk senam aerobik. Lihatlah kamu di cermin itu sayang. Kamu sudah tumbuh besar!” kata papa.

Aku melihat diriku sendiri di cermin. Kulihat payudaraku mulai besar dan padat. Putingnya masih bersembunyi tapi terlihat jelas. Dan sekarang papa menutup buah dadaku dengan kedua tangannya. Kami ayah dan anak sedang berdiri berhimpitan tanpa busana. Papa menakup kedua payudaraku dan sekarang menghimpitku. Penisnya kurasakan berada di pinggangku. Besarnya dan keras.

“Ikuti gerakan papa sayang!” kata papa.

Papa merendah. Aku pun mengikutinya, kaki kiri papa dijulurkan ke samping dan tubuh kami merendah sedangkan kedua tanganku masih kurentangkan. Kedua tangan papa masih tetap menangkap kedua payudaraku sambil sesekali memilin-milin puting susunya. Kami seperti menyatu dalam gerakan ini. Kaki kananku kutekuk bersamaan dengan papa, sedangkan kaki kiriku lurus dan tubuh kami seperti jongkok. Tapi sebenarnya ini gerakan untuk peregangan otot. Kemudian kami berdiri berganti dengan kaki yang sebelah kanan. Aku terus melihat tubuhku sendiri di cermin, sangat erotis. Terlebih papa menghisapi leherku. Kurasakan vaginaku keluar cairan sedikit, bulu kudukku merinding ketika papa terus menciumi leherku. Gerakanku menyamping bergantian kutekuk kakiku kiri dan kanan, tapi tubuh papa tetap menghimpitku.

“Sekarang ganti gerakan,” kata papa.

Tangan papa sudah tidak menangkup kedua payudaraku. Tapi tangan kirinya berada di perutku, sedangkan tangan kanannya berada di punggungku. Kedua tanganku memegang tangan kiri papa untuk pegangan. Sementara papa mendorong punggungku agar aku merendah. Posisi ini seperti posisi doggie style. Hanya saja tak ada penetrasi. Aku terus melihat ke cermin, penis papa tampak berada di belahan pantatku dan beliau menekannya. Aku bisa merasakan kedutan-kedutan halusnya. Terus terang penisnya cukup panas. Apakah ini karena peregangan otot ini? Mungkin saja karena kita sama-sama meregangkan seluruh otot tubuh, tak terkecuali otot kemaluan.

Papa sekarang menggerakkan pinggulnya memutar seperti menggese-gesek pantatku dengan penisnya. Kedua tanganku kini menyentuh lantai, lalu papa menarik tangan kiriku hingga aku kembali berdiri, setelah itu kembali kedua payudaraku diremasnya. Ahh… nikmat sekali. Sebagai seorang gadis kecil yang dituntun senam seperti ini, tentu saja aku tak pernah membayangkan sebelumnya. Ini sangat cabul, sangat erotis dan benar-benar membuat kami berkeringat. Apalagi sekarang gerakan kami cukup baru.

“Baiklah, sekarang papa akan sit up, kamu duduk di perut papa!” kata papa.

Aku menurut. Papa sekarang tiduran, aku kemudian duduk di atas selakangannya. Tidak. Tidak. Aku tidak memasukkan batang penis papa ke vaginaku. Tapi batang itu kini berdiri tegak berada di depan vaginaku, lebih tepatnya hanya menempel. Papa kemudian melakukan sit up. Kedua tangannya berada di belakang kepalanya lalu dia menarik tubuhnya untuk bangun. Sedangkan aku, membelakangi papa sambil mengurut batang penisnya yang sudah keras. Aku mengocoknya, mengelus-elus telurnya. Papa suka. Karena merintih berkali-kali.

Aku tak tahu berapa kali papa sit up, mungkin sampai lima puluh kali. Keringat papa sampai keluar. Dan ketika selesai sit up, papa memutar tubuhku sehingga kami berhadapan, beliau kemudian mencium bibirku. Kami berpagutan, papa mendekapku dan memelukku erat. Penisnya sekarang diposisikan berada di depan vaginaku, hanya menempel. Ketika aku sadari kemudian ternyata papa menggendongku sebentar lalu aku diturunkan di atas matras. Yang terjadi berikutnya adalah papa memutar tubuhnya. Kini penisnya ada di hadapan wajahku terjulur ke bibirku, lalu wajah papa ada di depan vaginaku. Oh tidak, wajah papa sekarang berada di depan vaginaku. Daerah intimku dilihatnya.

“Baumu harum sekali, Ona,” katanya.

Pipiku sekarang seperti buah delima. Aku tak menyangka papa memujiku seperti itu.

“Penis papa juga besar,” kataku.

“Kamu suka?”

“Iya pa, ini harus aku apakan?” tanyaku.

“Lakukan blowjob sayang, dan aku akan mengoralmu,” jawab papa.

“Maksudnya pa?” tanyaku.

Papa tak memberitahu maksudnya, tiba-tiba lidahnya sudah menjilati vaginaku. Aku kaget dan geli.Ada yang aneh pada posisi papa, ia seperti push up. Ya, dia push up. Kedua tangannya bertumpu ke matras kemudian kepalanya setiap turun menjilati vaginaku, aku geli sekali, pantatku menggeliat setiap disentuh. Sedangkan penis papa yang panjang sekarang keluar masuk mulutku. Sungguh suatu olahraga yang aneh dan erotis.

Papa terus melakukan push up dengan cara seperti itu. Papa bukan seorang atlit olahraga, tapi beliau tahu cara untuk merawat dirinya. Otot-ototnya benar-benar terbentuk, kekar, bahkan mungkin kalau papa ikutan acara audisi L-Men, mungkin bakalan menang. Makin lama papa push up, papa makin ketagihan untuk menjilati vaginaku. Ketika tubuhnya turun dan kedua lengannya ditekuk, beliau agak lama menjilati dan menusuk-nusuk vaginaku yang sekarang sudah banjir.

“Uhmm….uhmm…!” aku hanya melenguh saja, mulutku sibuk untuk mengulum penis papa.

Aku tak tahu posisi apa saat itu. Tapi nanti aku baru tahu kalau ini adalah posisi 69 tapi dengan gaya. Ya, gaya yang tidak biasa.

Papa kemudian menghentikan aksinya. Beliau kemudian duduk dengan kaki terjulur ke lantai. Tapi ada yang aneh. Beliau menempelkan penisnya persis ke garis vaginaku. Kemudian kedua pahaku di letakkan di atas pahanya. Aku masih berbaring di atas matras. Yang dilakukan papa kemudian adalah menggosok badanku, mengelus kedua kakiku. Kaki kananku ditekuknya kemudian jempol kakiku dihisapnya.

“Aaahh….geli paahh!” pekikku.

Tapi seperti biasa papa tak akan menghiraukan jeritan-jeritanku. Papa menjilati setiap mili jemari kakiku, telapak kakiku juga. Hal ini membuatku risih. Syaraf-syarafku seperti tersetrum. Rangsangan ini terlalu kuat, ditambah papa memelintir-melintir puting susuku. Ah ini kelemahanku. Satu lagi yang dilakukan oleh papa menggerakkan pantatnya. Jempol kakiku dihisapnya, semburan-semburan kecil dari dalam vaginaku membuatku yakin aku benar-benar becek di bawah sana.

Kakiku kemudian diletakkan dan papa mengelus-elus kedua pahaku yang berwarna putih. Setelah itu batang penisnya dituntun untuk mengesek-gesekan ke bibir vaginaku. Ah tidak apakah aku akan diperawani oleh papa hari ini? Aku sempat berpikir papa akan memasukkannya, tapi ternyata tidak. Papa hanya menggesek-gesek saja sambil mengelitiki tonjolan daging yang ada di vaginaku. Aku menggeliat.

“Papaaahhh! OOhhh….!” lenguhku. Papa terus mengorek-ngorek klitorisku.

“Ini namanya klitoris sayang. Bagian paling sensitif milik wanita,” kata papaku.

“Ohhkk… paaahh…terus paaahh!” lenguhku. Aku menginginkan papa terus melakukan ini kepadaku. Rasanya membuatku melayang. Benar-benar luar biasa perlakuan papa kepadaku. Tiba-tiba datang rasa itu, seluruh syarafku menegang dari ujung kaki sampai ujung kepalaku. Syaraf-syarafku sepertinya ingin meledak, merasakan sesuatu yang mendesak keluar. Ubun-ubunku seperti disuntik oleh es dan air hangat secara bersamaan, puncaknya adalah vaginaku menyemprotkan air beberapa kali. “Papaaaahh… Ona pipiiiisssss! AAAAHHKKK!”

Aku tak kuasa menahan diri. Dengan perlakuan papa begitu saja aku sudah orgasme. Tidak, aku belum mengerti tentang orgasme saat itu. Hanya sesuatu yang aku sebut dengan “plong” karena telah mengeluarkannya.

“Plong banget pah, pipisnyaah….,” gumamku. Nafasku terengah-engah. Papa tersenyum melihatku lemas. Sepertinya beliau belum selesai.

“Sekrang, gantian. Lakukan kepada papa!” katanya. Aku mengangguk.

Papa kemudian berbaring. Pahanya agak dibuka dan ditaruh di atas pahaku. Nggak berat sih menurutku, karena papa agak mengangkatnya. Papa berbaring pasrah. Sementra itu senjatanya sudah tegak.

“Sekarang, terserah kamu mau apakan papa, papa akan siap,” kata papa.

Aku hanya tersenyum. Kemudian aku mulai kegiatan gilaku sebagai seorang anak. Perlahan-lahan aku mengurut batang papa yang sudah keras ini. Kuurut hingga helmnya benar-benar keras dan terlihat cerah. Berikutnya aku mengelus-elusnya naik turun, tidak mengocok, hanya mengelus. Kemudian aku remas-remas buah pelernya. Papa merem-melek mendapatkan perilakuku. Kedua tanganku sekarang mengelus-elus perut papa, kemudian juga mengelus-elus seluruh area selakangannya.

“Teruskan sayang!” kata papa.

Aku kemudian mengocoknya, mengosok kulit batang itu. Kepalanya juga aku elus-elus seperti mengelus sepotong kain. Aku perlakukan seperti memoles logam. Aku buat memutari area glands miliknya. Kemudian lubang kencingnya yang mengeluarkan sedikit cairan bening aku tekan-tekan, membuat batang besar itu seperti berontak dan berkata, “Jangan kamu lakukan itu lagi!”

Papa tidur sambil mempertemukan jempol dan jari telunjuknya mirip seperti orang semedi. Entah apa yang dilakukannya. Aku terus mengurut dan mengelus penis yang sudah sangat menegang itu. Aku urut searah yaitu mengurut ke bawah, terus menerus tanpa kembali ke atas. Hasilnya penis papa sangat tegang. Papa membimbingku untuk melakukannya. Mata papa terpejam sepertinya menikmati perlakuanku.

“Sedikit lagi sayangku,” kata papa.

Aku mengangguk. Aku berganti sekarang mengocok dengan kedua tangan mungilku. Papa menghirup nafas dalam-dalam. Apakah papa akan sampai?

Nafas papa makin cepat, tapi ia sama sekali tak menggerakkan tubuhnya, hanya mengembang kempiskan paru-parunya. Dadanya naik turun seperti orang yang melakukan senam pernafasan. Ekspresi wajah papa berubah dari yang tenang sekarang seperti menahan sesuatu. Kurasakan penis papa mulai sangat tegang dan berkedut, begitu kusadari ternyata penis papa menembakkan berkali-kali spermanya ke dadaku dan wajahku. Aku menghentikan kocokanku dan membiarkan sperma papa menembak-nembak ke tubuhku. Sekarang dadaku, perutku, daguku, wajahku, leherku terkena sperma papa. Tanganku yang mengocok spermanya pun tak luput dari cairan kentalnya. Papa kemudian bangun.

“Makasih ya sayang,” kata papa.

Papa mengambil tissue yang ada di meja, lalu membersihkan spermanya yang belepotan. Aku tersenyum lega, papa telah memberikan pelajarannya kepadaku hari ini.

Setelah aku bersih, kemudian ditariknya aku untuk berdiri. “Mandi yuk?!”

Aku mengangguk.

* * *

Berita mengejutkan kami dengar dua hari sebelum mama pulang. Kakekku sudah tiada. Beliau meninggal karena stroke yang dideritanya. Rasa belasungkawa disampaikan papa dan mama mewakilinya. Setelah itu mama pun pulang dua hari kemudian.

“Mama pulaang!?” seru mama.

Aku menyambut mama dengan kopernya. “Mamaaa!”

“Hei sayang, kamu nggak nakal kan selama mama pergi?” tanya mama.

Aku menggeleng, “Nggak koq ma, Rona jadi anak yang baik,” jawabku.

“Pinteeerr,” mama mencubit hidungku.

“Hai sayang,” sapa papa yang barusan menjemur baju. Papa langsung memeluk mama dan menciumnya. Aku melihat mereka. Ketika tersadar aku ada di dekat mereka mama langsung mendorong papaku.

“Ada Rona lho!” kata mama.

“Kenapa memangnya? Kita kan keluarga,” kata papa.

“Tenang aja ma, aku tahu koq,” kataku sambil cekikikan meningalkan mereka.

Aku kemudian masuk ke kamar mama menaruh kopernya setelah itu pergi ke kamarku. Di dalam kamarku aku menghubungi Cherry.

Quote Originally Posted by BBM

Me: Mamaku pulang.

Cherry: Oh ya?

Me: Yup

Cherry: Oh ya, ngomong-ngomong orang yang dulu membuntuti kita udah nggak muncul lagi kan?

Me: Nggak kayaknya. Kenapa emang?

Cherry: Penasaran aja Na. Tahu sendiri kan akhir-akhir ini ada penculikan gitu. Moga aja dia bukan orang jahat.

Me: Ya, semoga aja.
Aku tak mungkin menceritakan bahwa orang itu memang orang jahat. Aku tak ingin membuat Cherry takut atau pun khawatir.

Selama mama ada di rumah, kegiatanku dan papa agak berkurang. Aku sih tak masalah. Aku bahagia melihat papa bisa bersama mama. Melihat papa kembali bermesraan bersama mama. Bahkan aku memergoki mereka sedang berhubungan intim lagi. Aku turut bahagia kalau papa bahagia. Sama sekali tak ada rasa cemburu. Atau mungkin aku yang masih polos itu tak mengerti arti dari cemburu. Hanya saja itu adalah pelajaran yang paling berharga bagiku bahwa melihat orang yang dicintai bahagia engkau akan ikut bahagia.

Hari-hariku berlangsung normal kembali. Kembali seperti sedia kala. Hanya kadang-kadang saja papa dan aku masih bermesraan sekedar ciuman dan rabaan. Tapi papa tidak mengajariku lagi cara berhubungan intim. Apakah papa sudah tidak lagi menyayangiku??

Pada suatu hari ketika mama kerja dan aku selesai dari rumah Cherry. Hari itu setelah aku pulang dari Ujian Akhir Semester. Hari ini adalah hari terakhir. Aku pulang ke rumah dan mendapati rumah dalam keadaan terbuka. Lho? Papa pulang? Aku melihat ada mobilnya. Aku pun masuk. Segera aku menuju ke kamarku, tapi ada sesuatu yang aneh. Ada ribut-ribut di kamar papa.

Aku penasaran, perlahan-lahan aku menuju ke kamar papa. Pintunya terbuka sedikit, aku melihat papa telanjang dan di bawahnya aku melihat seorang wanita. Papa menggenjot wanita itu. Itu… itu bukan mama! Itu tetanggaku Bu Ine.

Mulutku tercekat, aku terkejut tentu saja. Tiba-tiba dadaku serasa sakit sekali. Sakiiit sekali.

Aku segera berlari masuk ke kamarku dan membanting pintu. Aku kemudian membenamkan wajahku ke bantal. Kenapa papa melakukan itu? Kenapa papa selingkuh?? Kenapaaa??

Dan, itulah awalnya aku mengenal yang namanya cemburu, sakit hati atau apalah namanya untuk pertama kali dalam hidupku.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*