Home » Cerita Seks Ayah Anak » My Papa 7

My Papa 7

Cherry main ke rumahku hari itu. Hari minggu ini kami berada di rumah saja. Tentu saja untuk sesaat orang misterius yang datang ke rumahku tadi pagi lupa begitu saja. Aku tak melihat papa, sepertinya papa sedang sibuk di kamarnya. Ia menelpon beberapa orang. Aku tak tahu siapa yang beliau telepon. Aku dan Cherry membaca novel yang kami beli di kamarku. Karena Cherry niat menginap di rumahku ya dia bawa baju ganti juga.

“Lo kenapa Na?” tanya Cherry.

“Eh, nggak apa-apa koq,” jawabku. “Kenapa emangnya?”

“Kamu seperti kelihatan murung gitu?” kata Cherry sambil menepuk pundakku.

“Aku nggak apa-apa koq, Cher. Beneran,” kataku.

“Kamu punya minuman dingin nggak? Haus nih!” kata Cherry.

“Oh iya, bentar yah!” aku segera keluar dari kamar menuju dapur.

Saat ke dapur, aku mendengar suara papa di kamar. Aku menguping sebentar.

“Foto?” tanya papa. Sepertinya beliau sedang menelpon seseorang. “Kamu sempat memfoto kami? Dari mana kamu dapat nomor teleponku?” lanjut papa lagi. “OK, fine. Seratus lima puluh juta.”

Aku buru-buru ke dapur ketika papa selesai bicara. Ku ambil minuman dingin yang ada di kulkas. Kasihan papa, dijebak oleh orang itu. Entah apa yang akan papa rencanakan. Tapi, aku juga harus berusaha menolong papa. Aku sangat menyayangi papa, aku tak mau papa kenapa-napa. Aku mencintai papa. Rona akan berusa menolong papa. Tapi bagaimana?

Segera aku pergi kembali ke kamar sambil membawakan minuman. Aku dan Cherry melanjutkan membaca novel. Sesaat kemudian papa datang.

“Sayangku, papa ingin pergi sebentar. Kalian jaga rumah ya?” kata papa.

“OK pah,” jawabku.

Papa kemudian masuk ke kamarku sebentar lalu mencium keningku. Setelah itu beliau pergi. Cherry tersenyum kepadaku.

“Kenapa?” tanyaku.

“Biasanya papaku mencium pipi, kamu dicium kening. Sayang sekali papamu ke kamu,” jawab Cherry.

“Iya dong,” kataku.

Seharian ini aku dan Cherry membaca novel. Pas sorenya kami belajar bersama. Papa belum pulang padahal jam sudah menunjukan pukul 20.00. Mungkin papa sedang sibuk. Beberapa pesan masuk ke ponselku, dari papa dan mama. Papa mengingatkanku untuk mengunci semua pintu. Iya, sudah aku lakukan. Mama mengirim pesan untuk jangan lupa makan. Iya sudah aku lakukan. Aku dan Cherry membuat makaroni instant. Cherry dan aku lebih banyak bergurau daripada belajar. Sebenarnya Cherry juga cantik, wajahnya manis, kulitnya putih. Papanya bekerja sebagai kepala keamanan, ibunya bekerja di sebuah toko roti. Ternyata kecantikan Cherry itu menurun dari mamanya. Sedangkan aku, aku tidak begitu mengenal orang tuaku sendiri. Orang tua kandungku masudku. Mereka berdua sudah meninggal ketika aku masih bayi lalu papa dan mamaku mengadopsiku.

“Lo dapat apa dari baca buku kemarin?” tanya Cherry saat aku dan dia menyantap makaroni.

“Banyak deh,” jawabku.

“Misalnya?”

“Misalnya bagaimana cara berciuman yang benar,” kataku sambil tersenyum.

“Ahahahaha, kamu ini seolah-olah tahu bagaimana caranya. Memangnya kamu sudah praktek?” tanya Cherry.

Aku menggeleng. Tentu saja aku tak mungkin mengatakan aku sudah mempraktekkannya bersama papa. Tiba-tiba aku mengusulkan sesuatu, “Mau coba?”

“Hmm?? Gimana caranya?” tanya Cherry.

“Lo ama gue,” jawabku.

“Gile lo, ogah ah,” katanya.

“Mau tahu rasanya nggak?” tanyaku lagi sambil memancing Cherry.

Cherry menggigit bibir bawahnya, pertanda ia ragu-ragu. Aku kemudian menggeser dudukku untuk mendekat kepada Cherry. Tanganku mengelus punggungnya. Rambutnya yang panjang mengenai punggung tanganku, mata kami saling menatap aneh. Aku mengangguk, dia pun membalas anggukanku dengan sekali anggukan. Wajahku mendekat kepadanya.

Aku agak ragu awalnya, tapi mengingat Cherry adalah sahabatku, akhirnya aku pun memberanikan diri untuk menempelkan bibirku ke bibirnya. Rasanya agak aneh. Bibir Cherry dingin, terlebih ketika aku mengecupnya ada bau makaroni. Cuma dua detik. Ia menjauh.

“Rasanya aneh,” kata Cherry.

“Coba kita pakai lidah Cher,” kataku.

“Pakai lidah? Bagaimana itu?” tanyanya.

Aku memajukan wajahku lagi. Aneh sekali, ketika aku berciuman dengan papa ada rasa debar-debar di dada, tapi dengan Cherry sama sekali tidak. Apakah ini pertanda kalau aku mencintai papa? Ataukah mungkin karena Cherry bukan seorang laki-laki? Bibirku melekat lagi, tapi kali ini bibirku sedikit terbuka, bibir Cherry juga terbuka, lidah kami bertemu.

SMOCCH! SMOOCH! SLURRPP! suara hisapan dan tautan lidah kami terdengar.

Sekarang aku bisa merasakan bagaimana rasa ludah Cherry yang masih ada sisa-sisa makanannya disana. AKu menghisapnya. Cherry pun mulai mengikutiku, kami sama-sama menghisap. Awalnya rasanya biasa, tapi lama-lama kami ketagihan. Kami terbuai dengan ciuman asal-asalan yang kami lakukan sendiri, aku tak pernah menyangka sebelumnya bahwa ciuman ini akan berlangsung lama. Aku memeluk Cherry, kami berpelukan sekarang. Perasaanku aneh, demikian juga dia. Setelah agak lama kami berciuman kami pun melepaskan diri.

“Gitu ya rasanya ciuman?” gumam Cherry.

“Mungkin akan beda rasanya kalau sama cowok ya?” tanyaku.

“Gue mau nyoba ah,” jawabnya. “Tapi…. siapa ya?”

“Coba dipikir-pikir dulu, siapa cowok yang akan beruntung mendapatkan bibir lo kelak?” tanyaku.

Cherry melihat ke atas seperti berpikir keras. Lalu ia bersorak, “Ah, aku tahu!”

“Siapa?” tanyaku.

“Tapi, gue minta ijin lo dulu nih,” jawabnya.

“Maksudnya?”

“Aku ingin papa kamu,” katanya.

“Eeeeehhh??” aku terkejut.

“Kenapa? Nggak boleh ya?” tanyanya.

“Nggak, nggak boleh! Emangnya papa gue semurah itu apa?”

“Ayolah Ona, sekali aja yah. Terus terang gue terpesona ama papa lo, tampan, ganteng, kepengen kalau gue dewasa nanti dia jadi pacarku,” kata Cherry sembarangan.

“Hush, nggak boleh. Papaku akan jadi pacarku kalau aku dewasa nanti,” sanggahku.

“Lo kan anaknya, nggak boleh dong!”

“Biarin, suka-suka gue.”

“Pelit! Jahat!” Cherry cemberut.

Aku melihat kekecewaan di wajah Cherry. Apakah aku sejahat itu? Tapi jujur aku tak rela kalau papa sampai melakukan itu dengan Cherry. Papa adalah milikku. Tak ada yang boleh merebutnya.

Perubahan terjadi kepada Cherry. Setelah makan, ia tampak lebih banyak diam. Entah apa penyebabnya. Apakah karena hal tadi? Apakah benar karena hal tadi? Ketika kami kembali ke kamar, Cherry masih diam. Ia seperti membisu.

“Kamu kenapa Cher? Ngambek?” tanyaku.

Ia mengangguk.

“Yaelah, jangan gitu-laah!” bujukku.

Dia tak bicara. Cherry memang seperti ini kalau ngambek. Dia akan mendiamkan lawan bicaranya. Aku menggeleng-geleng kepadanya. Lalu aku peluk dia. Mungkin sekali ciuman nggak apa-apa kan? Biar dia nggak ngambek seperti ini. Jujur aku paling tidak suka melihat Cherry ngambek.

“Oke deh, tapi cuma sekali ya?” kataku.

Ia menatapku sambil tersenyum. “Beneran?”

Aku mengangguk. “Iya, tapi ingat! Sekali!”

“Makasih loh, Ona. Aku bahagia banget!” ia membalas pelukanku. Kemudian kami lanjutkan belajar mengerjakan tugas.

Papa pulang sekitar jam sembilan. Aku bisa melihat suara papa yang masuk rumah. “Papa pulang! Ona, kamu di rumah?”

“Iya pah!” seruku.

“Tuh papamu datang, gimana cara ngomongnya?” tanya Cherry.

“Ehmm… ya ngomong aja,” jawabku.

Tak berapa lama kemudian Papa masuk kamarku. Sungguh tubuh tampan seorang Rah Iwan Yudopuro sang anak bangsawan benar-benar akan membuat ngiler para wanita. Aku yakin pasti papa banyak yang nguber. Ketika aku dewasa, aku baru tahu bahwa papa selalu dikejar-kejar banyak wanita. Banyak para wanita yang sekedar menggodanya bahkan yang paling parah adalah pernah memberikan servis kepada papa dengan sukarela. Para wanita itu kegatelan, kebanyakan dari mereka ingin donor sperma papa. Itu aku ketahui ketika nanti setelah dewasa. Tapi aku yang masih kecil dan unyu-unyu ini belum tahu tentang hal itu. Papa memang seorang pejantan tangguh. Mamaku menceritakan tentang papa yang sangat hebat di atas ranjang. Ah, masih jauh untuk ke sana. Ini adalah cerita ketika masa puberku. Masa di mana aku pertama kali jatuh cinta dengan papaku.

“Hai sayang!?” sapa papa. “Hai Cherry?! Nginap sini yah?”

“Iya om,” jawab Cherry.

“Eh, pah. Ona ingin ngomong sebentar. Kamu tunggu di sini ya Cher!?” kataku.

Cherry sepertinya mengerti apa maksudku. Ia tersenyum dan mengangguk. Papa kemudian aku geret keluar kamar. Lalu aku berbisik.

“Pah, Cherry ingin diajari ciuman,” bisikku.

“Hmm? Maksudnya?” papa nggak mengerti.

“Ehhmm… dia ingin tahu rasanya berciuman. Tadi aku bilang aku belum pernah dan kami mencobanya,” jawabku.

“Kalian berciuman?” papa terbelalak.

Aku mengangguk.

“Trus?” papa penasaran.

“Nah, Cherry kemudian ingin cowok pertama yang ia cium adalah papa. Tapi aku menolaknya. Aku nggak mau papa dicium ama Cherry, tapi melihat dia ngambek akhirnya aku kasihan. Papa mau kan menciumnya demi aku? Sekali aja tapi, nggak boleh berkali-kali! Papa cuma milikku!” kataku.

Papa tampak takjub. Ia tak percaya terhadap apa yang dikatakan putrinya ini. Aku apakah terlalu nakal dan liar sekarang?

“Kamu yakin?” tanya papa.

Aku menggeleng. “Tapi, aku ingin nanti papa menciumku dulu, biar Cherry bisa melihatnya, setelah itu papa boleh deh mencium dia tapi cuma sekali!”

Papa menggaruk-garuk rambutnya. “Errr… kalau itu menurutmu baik, papa ngikut aja.”

“Ayo deh pa!” aku menarik lengan papa lagi untuk menuju ke kamarku.

Cherry tampak menungguku. Ia menyunggingkan senyumnya. Kutarik papa hingga duduk di antara aku dan Cherry.

“Nah, Cher. Papa sudah aku kasih tahu. Tapi papa akan menciumku dulu. Kamu lihat aku ya, baru setelah itu kamu yang diciumnya,” kataku.

“Hmm?? Baiklah,” kata Cherry polos.

Papa menggeleng-geleng seakan tak percaya apa yang akan terjadi. Tapi hal itu terjadi. Papa menciumi bibirku. Melumat bibirku, kami melakukan apa yang disebut dengan French Kiss. Lidah kami sudah bertaut dan saling menghisap. Ada yang aneh dengan diriku. Vaginaku berkedut-kedut ketika papa menciumku dengan penuh nafsu. Bahkan karena ciuman ini kemaluanku serasa basah. Setelah ciuman yang lumayan lama itu, aku menghirup nafas dalam-dalam saat papa melepaskannya. Nikmat sekali.

“Gimana? kamu sudah siap Cher?” tanyaku.

Cherry sedikit mengangguk.

“Miringkan sedikit kepalamu!” perintah papa kepada Cherry.

Cherry memiringkan kepalanya, ia sedikit mendongak. Kemudian lengan papa memeluk Cherry setelah itu bibir papa mencium bibir Cherry. Kedua bibir mereka melekat, menyatu. Terlihat olehku bagaimana papa mengeluarkan lidahnya dan dihisap oleh Cherry seperti aku dan Cherry tadi berciuman. Papa memagut bibir Cherry dan ciuman mereka terus serta dalam. Walaupun sekali tapi sangat lama membuat Cherry sekarang memeluk papaku, aku juga memeluk papaku. Kami bertiga saling berpelukan. Setelah papa selesai mencium Cherry, sekarang giliranku lagi. Papa menciumku lagi. Ohhh… aku melayang dicium papa. Kulihat Cherry kemudian bersandar di dada papaku.

“Papa tidur di sini ya malam ini bersama kami?!” tanyaku meminta persetujuannya.

“Tidak sayang, papa tidak bisa. Kamu sudah ada Cherry. Kamu bisa ditemani Cherry,” jawab papa. Ini adalah salah satu yang membuatku jatuh cinta kepada papaku. Ia tidak memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan ini. Padahal bisa saja ia tidur di kamarku bertiga dengan Cherry dan bisa saja papa mengerjaiku, berbuat cabul kepadaku dan Cherry malam itu tapi tidak beliau lakukan.

“Baiklah pa,” kataku.

“Selamat malam anak-anak. Pelajarannya sudah selesai dan kalian tidur!” kata papa sambil mengecup kening kami semua.

Tak lama kemudian kami pun tidur malam itu. AKu dan Cherry tidur dalam satu selimut. Kami saling berpelukan. Yang jelas Cherry hatinya berbunga-bunga impiannya kesampaian dicium oleh papaku. Setelah itu ia merengek ingin dicium lagi. Tentu saja aku tidak mengijinkannya. Ia papaku, my trully love and the one only.

* * *

Aku tak tahu jam berapa. Tapi yang jelas saat itu sudah lewat tengah malam. Aku terbangun karena sesuatu yang merayap di dadaku. Aku membuka sedikit mataku. Kulihat papa sudah menaikkan kaosku dan kini sedang menjilati puting susuku. “Ahh…” aku mengerang.

“Jangan keras-keras sayang, nanti Cherry bangun!” bisik papa.

Entah jam berapa sekarang, tapi yang jelas papa membangunkanku dengan cara yang sangat cabul. Sekalipun begitu aku suka. Aku juga tak protes. Kubiarkan papa puas dengan buah dadaku. Aku dikulumnya, dijilatnya dan diciuminya. Sesekali papa membenamkan wajahnya di tengah-tengah buah dadaku. Diremasnya dipelintir-pelintir pula putingku membuatku menggeliat. Perlakuan papa tetap lembut, membuatku bisa terasa orgasme walaupun hanya diperlakukan seperti itu.

Saat gejolak orgasme mulai menjalar ke seluruh tubuh. Papa sudah mengocok penisnya di hadapanku. Agaknya aku tak diberi waktu istirahat. Ia membuka mulutku dan penis itu sudah ada di depan mulutku.

“Aku akan mengajarimu blowjob sayangku,” ujar papa.

Lampu kamarku satu-satunya adalah berasal dari lampu yang ada di dinding malam itu. Lampu yang hanya berkekuatan 5 watt yang selalu menyala ketika lampu kamar mati. Yup, menyala otomatis. Bahkan lampu ini tetap akan menyala ketika terjadi pemadaman oleh PLN selama beberapa jam.

“Papa, nanti ketahuan Cherry,” bisikku.

“Tenang aja, sepertinya ia sudah tertidur pulas,” kata papa.

Ku lihat Cherry tidur membelakangiku. Sekarang aku benar-benar terbangun sempurna ketika papa mencium bibirku. Bibirku dikulumnya, di dalam ludahnya kurasakan rasa yang sejuk, sepertinya papa baru saja makan perment mint. Hal itu membuatku lebih bersemangat untuk menciumnya. Ketika aku sudah benar-benar bangun, papa menyuruhku duduk sambil tubuh bagian atasku telanjang. Papa yang saat itu memakai boxernya sekarang diturunkan. Benda kesayanganku itu sudah mengacung tegang di depan wajahku.

“Gimana caranya pah?” tanyaku polos.

“Kamu tahu bagaimana handjob sayang?” tanyanya.

Aku mengangguk.

“Bedanya adalah lakukan ini dengan mulutmu. Hanya saja perlakukan setiap milinya seperti makan es krim. Jilati seluruh bagiannya, hisap seluruh bagiannya lalu masukkan kepalanya ke mulutmu, jangan sampai kena gigimu. Tak perlu sampai ke dalam kalau tak sanggup. Hisap kuat-kuat sambil kocok dengan mulutmu. Kalau kamu tak bisa imbangi dengan tanganmu seperti kamu melakukan handjob,” jelas papa.

Aku mengerti. Mulutku pernah disemprot sperma ketika di bioskop dulu. Itu artinya malam ini aku akan disemprot lagi. Aku adalah anak penurut, terlebih setelah papa mengajariku banyak hal tentang hubungan intim. Pertama-tama aku mengocok pelan penis papa yang gedhe ini. Kuurut lalu kujilati seperti petunjuknya. Kuhirup baunya. Ehmm… bau lelaki. Agak aneh, tapi mungkin papa adalah orang yang selalu merawat dirinya, terbukti penisnya seperti bau sabun maskulin. Mungkin beliau sudah mempersiapkan ini.

Kujilati kepala penisnya yang berwarna lebih cerah dari batangnya. Batang papa ini berwarna coklat, kulitnya lembut dan berotot. Sedangkan kepala penisnya yang berbentuk seperti jamur ini berwarna merah muda. Ketika lubang kencingnya aku jilat, batangnya berkedut menampar hidungku. Aku lalu menjilati bagian yang lain dengan lidah mungilku. Aku tak mungkin bisa menampung penis besar ini ke dalam mulutku. Nggak akan muat. Tapi kata papa tadi tak perlu dipaksa.

“Iya sayang, jilati terus!” kata papa.

Kuterus menjilati setiap bagian batang papa. Bahkan sampai ke pangkalnya. Aku pun bertemu dengan dua bola sahabat karib papa. Kusentuh bola itu, hal itu membuat papa sekarang meremas rambutku. Aku melirik ke wajah papa yang melihatku. Papa merem melek ketika bola itu aku jilat, kemudian aku masukkan ke mulutku dan kuhisap.

“Ohh…sayang, nikmat sekali,” bisik papa.

Kami melakukannya sambil sesekali melihat Cherry. Kami benar-benar berbuat cabul. Papa menuntunku bagian mana yang harus aku jilat dan bagian mana yang harus aku hisap. Ketika aku memasukkan kepala penis itu ke mulut mungilku, papa makin merintih. Kugerakkan kepalaku maju mundur. Benar-benar nggak muat. Kepala penis papa berada di dalam mulutku tapi aku tak bisa maju lagi dan cuma setengah batangnya saja yang masuk ke mulut. Sudah mentok.

“Ohookk…!” aku hampir tersedak ketika papa mendorong sedalam-dalamnya.

Aku langsung mengeluarkan batang itu. Dari bibirku ada air liurku yang membentuk sebuah benang panjang dan menetes di lantai. Aku menuruti instruksi papa untuk membantu dengan kocokan. Akhirnya aku mengocok batang itu sambil kepala penis itu terbenam ke mulutku. Lidahku menari-nari memutari kepala penis yang sekarang kulitnya makin halus karena tegang oleh rangsanganku. Penis papa sepertinya mengeluarkan cairan, rasanya sedikit asin. Berbeda dengan rasanya beberapa hari yang lalu ketika aku melakukan handjob di kamar mandi.

Papa masih terus aku blowjob selama beberapa menit. Bahkan sekarang beliau meremas-remas buah dadaku. Ahh… membuatku melayang rasanya. Sekali lagi vaginaku mengeluarkan cairan. Saat itu aku tak mengerti cairan apa itu tentu saja, tapi papa nanti mengajarkan fungsi cairan itu. Kepalaku maju mundur, batangnya kukocok dengan kecepatan tinggi, lidahku pun tak henti-hentinya meliuk-liuk seperti ular. Dan tanganku yang satu meremas-remas buah pelernya seperti instruksi papa. Papa pun sepertinya tak tahan. Nafas beliau makin cepat.

“Ohh… Rona, sayangku…. eehhmmm…. Papa mau nyemprot. Kamu telan ya sayang. Telan … pejuhh…papahh!” katanya.

Aku mengangguk.

“Ohh… Rona, papa kepengen ngentotin kamu….ahh…. kontol papa ngaceng banget…. ahhh… mulut kamu enak Rona… nih… datang nih… tampung di mulut, telan! Ayooooo AAAAAHHHH!” jerit papa yang sepertinya sudah tidak lagi peduli dengan Cherry yang berada di kamar ini.

Papa memuntahkan spermanya di mulutku. Tembakan demi tembakan menembak di rongga mulutku. Rasanya sedikit asin, tapi gurih. Hangat, kental. Aku terus menampung dan menghisapnya. Papa merem melek keenakan. Papaku yang tampan ini tidak menarik penisnya sampai benar-benar tuntas. Perlahan-lahan setelah semua pejuhnya keluar, aku melihat ke wajahnya yang keenakan itu. Ia mengangguk. Aku dengan susah payah berusaha menelan pejuhnya.

GLEK! GLEK! GLEK!

Banyak sekali pejuh papa. Membuatku harus menelannya secara bertahap. Papa mencium bibirku, pipiku, kemudian keningku. Setelah itu beliau memelukku.

“Rona cinta sama papa kan?” tanyanya.

Aku mengangguk. “Iya pa. Rona cinta banget sama papa.”

“Rona adalah kekasih papa,” kataku.

“Iya, Rona pacar papa. Rona cemburu tadi papa mencium Cherry.”

“Papa cuma milik kamu sayang and the only one,” kata papa masih sambil mendekapku.

Setelah papa melepaskan pelukannya, aku pun berbaring lagi. Penis papa sudah mulai lemas setelah kami melakukan perbuatan cabul yang tak sepantasnya dilakukan oleh ayah anak. Aku mengelus penis papa yang perkasa. Papa mengelus kepalaku.

“Selamat malam sayang, suatu saat nanti papa ingin memasukkannya ke sini!” papa menunjuk ke vaginaku.

“Apa bisa muat pa? Rasanya pasti sakit kalau dimasuki benda sebesar itu,” kataku.

“Kamu akan tahu rasanya nanti, sekarang tidurlah!” papa mencium keningku lagi. Aku mengangguk. Papa membetulkan boxernya lagi. Setelah itu beliau keluar dari kamarku.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*