Home » Cerita Seks Ayah Anak » My Papa 6

My Papa 6

“Pa, aku nanti mau jalan sama Cherry sepulang sekolah,” kataku.

“Mau kemana sayang?” tanya papa.

“Jalan-jalan aja pah, sambil cari buku,” jawabku.

“Baiklah tapi tetap hubungi papa! OK?!”

“OK pa, beres.”

Papa kemudian mencium bibirku. Tidak sekedar tempel, kami melakukan lebih. Papa memagut bibirku. Aku pun membalasnya. Setelah itu aku segera keluar dari mobil. Ketika keluar dari mobil aku melihat seseorang yang sepertinya memperhatikan kami tadi. Dia memakai jaket dan topi hitam. Aku tak begitu jelas melihat wajahnya, tapi begitu aku lihat dia pergi. Entahlah aku tak kenal dia. Papaku pun segera melajukan mobilnya meninggalkanku.

Cherry turun dari angkot dan langsung memanggilku, “Ona!?”

“Hei Cherr!” sahutku.

“Jadi yah, nanti cari buku,” katanya.

“Jadi dong! Aku sudah dapat ijin papaku koq,” jawabku.

“Siip!” katanya, kemudian kami pun berjalan masuk ke dalam halaman sekolah.

Pelajaran hari itu banyak yang susah. Matematika, Fisika, euuhhh.. kalau aku tidak memperhatikannya mungkin akan terlewat begitu saja. Penjelasan daripara guru pun akan jadi sulit dicerna kalau benar-benar tidak memperhatikannya. Aku ini termasuk anak yang fokus, kalau sudah fokus aku akan terus melihatnya dan memperhatikannya.

Tak terasa jam sekolah pun selesai. Aku dan Cherry segera berlari-lari menuju gerbang sekolah. Kami tertawa bersama.

“Eh, Ona. Kamu nggak tanya kabar Reihan?” tanya Cherry.

“Buat apa?” tanyaku balik.

“Semenjak dia diskors dia nge-BBM gue tauk, dia minta tolong untuk menyampaikan maafnya ama lo,” jelas Cherry.

Aku menghela nafas. “Ogah. Buat apa maafin orang macam dia?”

“Dasar lo ini, cooling downlah sist! Dia udah minta maaf, masa’ nggak dimaafin?”

“Lo taukan itu ciuman pertama gue, masa’ dia harus yang pertama sih? Sorry aje,” ketusku.

“Hihihi, ya terserah deh, yuk jalan!” ajak Cherry.

Kesempatan ini tentu saja tidak kami buang sia-sia. Kami pun berjalan meninggalkan sekolahan naik angkot untuk bisa sampai ke toko buku. Selama di jalan aku menggandeng tangan Cherry, kami bahkan sama-sama makan es krim. Tentu saja es krim coklat, kesukaan kami. Di toko buku kami pun langsung mencari buku-buku novel. Terutama novel-novel romantis.

“Whoaa, lihat nih!” seru Cherry. “Sepertinya bagus nih buku!”

Aku melihatnya membaca sinopsis salah satu buku novel. Judulnya Princess Bride karangan William Goldman. Buku itu termasuk bagus menurutku. Aku justru tertarik untuk memilih buku-buku fantasi. Di sebuah rak aku melihat buku karangan CS. Lewis. Judul Novelnya Space tapi terbagi menjadi trilogy. Buku pertama berjudul The Silent Space, buku kedua berjudul Perelanda, buku ketiga berjudul Hideous Strange. Aku terkadang membayangkan bagaimana kalau seandainya manusia hidup di luar angkasa?

Di sebuah rak yang lain aku terpaku kepada sebuah judul. Ehmm… ini novel dewasa. Aku tentu saja pernah menonton filmnya. Fifty Shades of Grey. Ada tiga buku, yang pertama Fifty Shades of Grey, Fifty Shades Freed dan Fifty Shades Darker. Semuanya masih berbahasa Inggris dan tidak diterjemahkan. Iseng aku mengambil ketiganya. Buat apa coba? Mungkin aku bisa belajar sesuatu dari novel ini. Belajar apaan? Ehmm…

“Eh, beli buku apa lo?” celetuk Cherry.

“Nih!” kataku.

“Wuiiihh… itu kan novel dewasa,” katanya.

“Nggak boleh ya?”

“Ehmmm…. kalo nggak ketahuan nggak apa-apa sih, hihihihi,” Cherry ketawa, aku juga.

Akhirnya kami selesai membeli buku. Aku beli tiga novel tadi, sedangkan Cherry membeli tiga novel juga. Aku tak begitu memperhatikan buku yang dia beli. Jangan khawatir uang kami sangat cukup untuk membeli buku ini. Papa memberiku uang saku yang cukup.

Setelah membayar di kasir, kami bergandengan tangan keluar dari toko buku. Tujuan kami berikutnya adalah pulang. Kemana lagi coba? Tapi perutku keroncongan karena hari sudah siang dan kami belum makan siang.

“Kita ke KFC dulu yuk!?” ajakku. “Laper nih!”

Di restoran cepat saji Amerika ini kami makan dengan lahap. Yah begitulah anak sekolahan. Wajar dong tentunya. Tapi Cherry menatap ke sebuah arah dan sepertinya ia penasaran terhadap sesuatu.

“Ada apa sih?” tanyaku.

“Kayaknya kita dari tadi diikuti deh,” jawabnya.

“Masa’?”

“Hu-um. Gue tadi lihat ada bapak-bapak pake jaket item membuntuti kita sejak dari toko buku. Trus sekarang orangnya lagi makan di meja luar itu!” kata Cherry sambil menunjuk ke meja yang ada di luar. Kulihat juga seorang pria berjaket kulit hitam sedang memakan pesanannya. Aku sepertinya pernah melihat orang itu. Ya, orang yang memergoki aku dan papaku ciuman di mobil.

“Ah, mungkin cuma orang yang kebetulan lewat, Cher!” kataku.

“Dibilangin koq. Dia tadi ngikuti kita, Ona!” katanya.

“Lo jangan nakutin aku dong!” kataku.

“Duh, siapa yang nakutin!” katanya. Aku tahu bahwa aku juga takut sebenarnya. Cherry juga takut. AKu pun langsung menelpon papaku.

“Pa? Papa?” sapaku.

“Ya, halo sayang. Ada apa?” tanyanya di ponsel.

“Pa, bisa jemput kami nggak?” tanyaku.

“Oh, kamu di mana?” tanya papa.

“Di KFC, kami sedang makan siang,” jawabku.

“OK, setengah jam lagi papa akan ke sana,” kata papa.

Setelah itu telepon ditutup. Fiuh, lega. “Udah beres,” kataku. “Papaku akan ke sini setengah jam lagi. Kita bisa pulang bersama ntar.”

“Fiuh…. syukurlah. Tapi beneran lho. Gue takut, jangan-jangan ntar orang itu nyulik kita lagi,” kata Cherry.

“Jangan berpikir yang enggak-enggak!” sekalipun aku berkata demikian, aku juga berpikir hal yang sama. Jangan-jangan ini, jangan-jangan begitu, arrghhh….sekalipun kalut, aku tetap menampakkan wajah tenang. Kami terus memperhatikan orang itu sambil pura-pura makan. Aku mengeluarkan buku novel yang aku beli tadi. Aku membacanya sambil mengamati kalau-kalau papa datang.

Setelah setengah jam kemudian papa menelponku. Aku segera mengangkat teleponnya.

“Ya pa?” kataku.

“Papa sudah datang, kamu masih di sana?” tanya papa.

“Masih pa,” jawabku.

“Tunggu yah, papa masih di tempat parkir,” kata papa.

“OK,” jawabku.

Tak berapa lama kemudian papa masuk ke restoran ini. Aku segera berdiri dan memeluk papaku. Papa membalas pelukanku. Tampak Cherry juga menghela nafas lega. Papa tentu saja keheranan.

“Ada apa?” tanya papa.

“Kami tadi diikuti orang pa, serem banget! Iya kan Cher!?” kataku meminta pendapat Cherry.

“Iya om, aku sampai takut,” kata Cherry.

“Ya sudah, kalian papa antar pulang yuk?!” papaku merangkulku. Kemudian kami bertiga pulang bersama. Ketika kami keluar, tak kami dapati orang yang mencurigakan tadi. Ah, entahlah. Aku jadi parno sendiri sekarang.

* * *

Berita tentang penculikan anak gadis akhir-akhir ini membuatku merinding. Bisa saja itu adalah penculik beneran. Untunglah papa menjadi pahlawanku. Sebagai seorang gadis remaja yang baru tumbuh aku benar-benar takut dan papa selalu menjadi penolongku. Papa adalah pahlawanku. Papa adalah pahlawanku. Kuucapkan itu berkali-kali dan tertanam di otakku.

Papaku adalah lelaki sejati. Aku akan jelaskan kenapa. Hari ini adalah hari Sabtu. Papa menemaniku di rumah. Beliau telah selesai mencuci, memasak dan membersihkan rumah. Sekalipun itu bukan menjadi tugasnya, tapi beliau bisa melakukan banyak hal. Aku sampai heran, apa yang tidak bisa beliau lakukan? Menyenangkan anaknya iya. Melindunginya iya. Menggantikan pekerjaan mama di rumah bisa. Bukankah sudah sepantasnya dan sewajarnya aku ingin membalas terhadap kebaikan yang papa berikan ke aku bukan? Aku hanya perlu belajar yang giat. Itu saja.

Cherry dan aku chatting lewat BBM.

Cherry: PING!

Me: Ya, gimana Cherr?

Cherry: Gue deg-degan lho sampai sekarang!

Me: Sama Cher, gue juga.

Cherry: Kira-kira ngapain ya orang tadi mengikuti kita?

Me: Aku nggak tahu. Takut kalau-kalau dia ingin menculik kita.

Cherry: Iya lho, mana berita tentang penculikan anak lagi menghangat. Aduuuhhh….

Me: Sebaiknya kita hati-hati lain kali Cher.

Cherry: Eh, gimana kalau kita latihan beladiri aja. Untuk jaga-jaga!

Me: Ide bagus. Tapi gue lemah Cher, tahu sendiri kan, lari aja gue nggak kuat.

Cherry: Ah, Ona. Lo emang payah!

Me: Trus gimana dong?

Cherry: Yah, lo berlindung ama papa lo aja. Papa lo badannya kan gempal tuh, pasti para penculik keder.

Me: Iya juga sih. Hihihihi.

Cherry: Btw, kita boleh nggak nih tuker papa?

Me: Eittss… nggak boleh. Buat apa?

Cherry: Papa gue nggak seperti papamu. Badannya bagus, kekar. Papa gue mah gendut, buncit perutnya.

Me: Nggak dong. Gue nggak mau. Papaku is my love and one only.

Cherry: Iya, iya. Kadang gue iri ama lo. Punya papa ganteng banget. Kalau udah gedhe aku boleh ya daftar jadi ibumu.

Me: Hah? Lo naksir papaku?

Cherry: Hehehehe. Nggak apa-apa kaan?

Me: Huuu…. nggak boleh. Kalau toh papa punya pacar itu harus gue!

Cherry: Yeee… mana boleh anak sama papanya pacaran.

Me: Boleh dong. Buat gue sih boleh. Weeekk.

Cherry: Ya udah deh. Papa lo gue sewa aja buat jadi bodyguard!

Me: Hahahaha, sembarangan.

Cherry: Gue besok boleh main ke rumah lo? Sekalian nginep di situ. Kan kita ada tugas.

Me: Oh iya, tugas kimia. Eh, tunggu dulu. Halaah… bilang aja mau ketemu papaku. Sok alasan atuh ada tugas.

Cherry: Jadi nggak boleh nih ceritanya? Ya udah kita putus sebagai sahabat.

Me: Ceileeeehh…. ngambek. Iya iya boleh, siapa yang ngelarang???

Cherry: Horeeeeeee…..

Me: (Y)

“Hooaahhmm….,” aku mengantuk. Novelku baru sedikit kubaca. Aku kemudian segera menuju ke kamar.

“Sudah mau tidur sayang?” tanya papa. Beliau sedang mencuci piring bekas makan malam kami.

“Iya pah, ngantuk banget. Papa tidur di kamarku aja yah?”

“Iya, papa akan nyusul nanti.”

“Dah papa.”

Setelah sampai di depan kasur pun langsung ambruk di atasnya. Aku menarik selimutku dan tertidur. Pintu kamar kubiarkan terbuka agar papa masuk nanti. Tak berapa lama kemudian papa pun masuk. Setelah itu dia masuk ke dalam selimutku. Tahu kenapa aku sebut papa lelaki sejati? Saat itu aku sedang penasaran tentang apa yang dilakukan papa kemarin. Aku ingin mengulanginya lagi. Makanya ketika di dalam selimut aku mengelus-elus batang papa. Tapi papa menahan tanganku.

“Sayang, tidur aja yah?” kata papa.

“Kenapa pa?” tanyaku.

“Jangan sekarang. Sekalipun papa ingin tapi papa tak mau menggunakan kesempatan ini,” jawabnya.

“Hmm??” aku tak mengerti.

“Kamu akan mengerti suatu saat nanti. Papa tak mau merusakmu anakku. Papa ingin menjagamu, tolong jangan ya?” kata papa sambil mengecup kepalaku.

Aku tersenyum. “Aku sayang papa.”

“Aku juga sayang.”

“Pa, mau nggak papa jadi pacarku?” tanyaku polos.

“Pacar?”

“He-ehm… mau ya pa.”

“Iya, papa mau.”

“Ohh… papaku. Peluk Ona yang erat pa. Mulai sekarang papa jadi pacarku.”

“Iya sayang…”

Aku pun terlelap dalam dekapan papa yang erat. Papa meremas payudaraku seperti malam-malam sebelumnya, tapi kali ini papa tak melakukan apapun kepadaku. Sekalipun aku saat itu ingin sekali kejadian malam sebelumnya terulang. Tapi hal itu ternyata tidak terjadi.

* * *

Paginya papa sudah bangun. Aku sendirian di kamar. Dengan langkah gontai aku pun mencari-cari papa. Mungkin papa sedang ada di dapur mempersiapkan masakan. Tapi dugaanku salah. Papa sedang ada tamu. Ketika aku mengintip…. astaga! Ternyata lelaki kemarin yang mengikuti kami. Mau apa dia di sini???

“Saudara Rah Iwan Yudopuro, perkenalkan. Nama saya Bambang Pangandaran. Saya anggota KPAI, ini identitas saya. Bisa Anda konfirmasi langsung ke lembaga itu,” kata orang itu.

“Trus, maksudnya Anda ke sini?” tanya papa.

“Maaf mengganggu tidur Anda. Hanya saja, ini juga untuk kebaikan Anda. Saya tahu apa yang terjadi dengan Anda dan putri Anda,” kata Bambang.

“Tahu bagaimana?” tanya papa.

“Saya melihat semuanya bagaimana anda mencium putri Anda waktu itu. Kalau di mobil saja ciumannya bisa sepanas itu, pasti di rumah Anda melakukan hal yang lebih daripada itu. Iya bukan?” kata Bambang sambil tersenyum licik.

Papa tidak menjawab.

“Berarti benar dugaanku. Papa dan anak, bakal menjadi berita heboh,” katanya.

“Apa yang engkau inginkan?!” tanya papaku.

“Tak banyak. Kalau Anda tidak ingin kasus ini mencuat ke media, gampang koq. Kita saling berbagi dengan putrimu,” jawabnya.

“Brengsek! Kamu kamu sudah bosan hidup!?” papaku menggebrak meja.

“Sabar! Sabar! Aku cuma bercanda! Ada alternatif lainnya,” katanya.

“Maksudnya?”

“Kalau kamu tidak mau kita berbagi dengan putrimu yang ranum dan polos itu gampang koq, tinggal kasih aku seratus lima puluh juta,” katanya.

“Kamu mau memerasku?”

“Benar sekali. Hehehehehe.”

“Kamu kira kamu akan berhasil mendapatkannya?”

“Tenang! Tenang! Aku beri kamu waktu tiga hari untuk berpikir, tapi setelah itu aku akan melaporkan kasus ini kepada KPAI dan kamu akan digerebek oleh polisi. Nikmatilah waktu-waktumu di penjara setelah itu. Seorang Bapak Tega Mencabuli Anaknya akan terpampang di surat kabar. Judul yang bombastis dan koran-koran akan laris hari itu,” katanya.

Papa tidak menjawabnya.

“Hahahaha, baiklah Pak Rah Iwan Yudopuro. Ini kartu nama saya dan sampai ketemu tiga hari lagi,” katanya. Ia meletakkan kartu nama di atas mejanya. Lalu melambai ke arahku, “Pagi gadis cantik, maaf kemarin Om membuatmu takut.”

Papa menoleh ke arahku. “Ona??”

Bambang kemudian pergi keluar rumah sambil tertawa. Wajahnya memang menyeramkan, tawanya juga. Aku langsung berhamburan ke arah papa dan memeluknya.

“Siapa itu tadi pa?” tanyaku.

“Bukan siapa-siapa,” jawab papaku.

“Koq tadi dia katanya papa akan masuk penjara?” tanyaku.

“Tak akan terjadi apa-apa pada papa, ataupun kamu. Tadi hanya orang yang kurang kerjaan. Ona, dengarkan!” papa memegang wajahku. “Papa sangat sayang ama Ona dan tidak ingin terjadi apa-apa kepada Ona. Papa berjanji akan melindungi Ona sampai detik terakhir.”

Aku mengangguk. “Iya, Ona percaya ama papa.”

“Oh, Ona…,” papa memelukku.

Aku dekap papa erat-erat seolah-olah tak ingin papa lepas dariku. Ini adalah ujian pertama dari hubunganku dengan papa. Apakah aku akan diberikan kepada orang itu? Berbagai istilahnya, ataukah papa akan membayar sejumlah uang kepada orang itu? Aku percayakan itu kepada papa. Yang jelas aku tak mau disentuh oleh orang itu. Aku membenamkan wajahku ke dada papa. Aku ciumi dadanya. Aku sayang papa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*