Home » Cerita Seks Ayah Anak » My Papa 5

My Papa 5

Aku melanjutkan mandiku sementara papa keluar dari kamar mandi, namun sebelumnya tentu saja berpakaian. Bahkan sampai aku selesai mandi papa belum kembali. Aku sudah pakai handuk dan bersiap menuju ke kamarku. Aku mengintip di ruang tamu ternyata ada tetangga kami Bu Ine. Tampak sedang terjadi pembicaraan serius. Aku tak perlu menguping urusan orang dewasa bukan? Baiklah, setelah itu aku langsung ganti baju.

Ponselku berbunyi. Ternyata mama menelpon.

“Halo ma?!” sapaku.

“Hai sayang, bagaimana harimu?” tanya mama.

“Great. Setelah ini papa mengajakku jalan-jalan,” jawabku.

“Wow, jangan lupa belajar yah!?”

“Pasti dong ma.”

“Papa mana?”

“Oh, sedang ada tamu ma, tetangga sebelah.”

“Oh begitu. Baiklah. Maafin mama ya sayang, di sini masih belum selesai urusannya. Kakekmu masih belum mendingan. Dokter sudah berusaha. Kita hanya menunggu keajaiban. Do’akan saja ya sayang?!”

“Iya mah, salam buat semuanya ya?”

“Ok sayangku. Selamat jalan-jalan yah?!”

“Bye ma.”

Mama menutup teleponnya. Aku segera ganti baju dengan baju yang lebih casual. Jeans dengan kaos loreng pink dan putih. Cardigan warna pink, tampak sempurna. Aku menguncir rambutku dengan bentuk ponytail. Setelah itu kubawa tas pinggangku, kusemprotkan parfum di leher dan pergelangan tanganku. Aku siap untuk pergi.

Aku ke ruang tamu dan tak mendapati papa di sana. Kudengar guyuran air di kamar mandi. Berarti papa sedang mandi. Aku juga tak melihat tamu papa tadi. Kusibukkan diriku sambil membalasi chat yang ada di ponselku. Terutama Cherry. Dia penasaran aku hari ini ngapain saja. Aku bilang saja hari ini aku di rumah. Suntuk.

Cherry: Keluar yuk?!

Me: Keluar kemana?? Aku mau keluar sama papaku.

Cherry: Woaahh… kemana?

Me: Jalan-jalan. Aku suntuk di rumah Cher!

Cherry: Oh, baiklah. Selamat bersenang-senang. Tapi kapan kita bisa jalan bareng?? Lama kita nggak kemon.

Me: Besok deh, coba aku ijin papa dulu yah?

Cherry: Oke dehh….

“Sudah siap sayang?” tanya papa yang ternyata sudah selesai. Cepat sekali.

“OK pah, siap,” jawabku.

Kami pun segera pergi. Aku tak begitu tahu film apa yang akan ditonton oleh kami. Kami sudah berada di mobil dan menuju ke mall. Hari sudah sore ketika kami sampai di sana. Langsung aku dan papa mengantri tiket. Filmnya ternyata rada horror-horror gitu. Waduh, akukan paling takut ama film horror.

“Tenang aja sayang, kan ada papa,” kata papa berusaha menenangkanku.

Aku sejak turun dari mobil menggandeng lengan papaku. Mungkin kami terlihat seperti om-om yang pacaran ama ana abege. Terus terang aku seperti gadis remaja yang menggandeng om-om. Tapi dia papaku. Terlebih terkadang papa merangkulku seperti pacarnya. Phew. Kami dapat tempat yang cukup strategis. Ah, mungkin papa yang memang memilihnya. Kursi C1 dan C2. Itu artinya kita benar-benar mojok. Papa juga membeli cemilan buatku, pop-corn dan segelas cola.

Sekalipun horror ternyata banyak juga yang menonton. Aku taksir semuanya masih remaja. Aku tidak melihat ada orang tua yang menonton. Judul filmnya “Insidious Chapter 3”. Selama film berlangsung aku terus merangkul lengan papa. Aku menaruh wajahku di bahu papa ketika muncul penampakan. Arrghh… aku memang penakut. Papa malah tertawa.

Ketika film sudah sampai di tengah, tangan papa mulai nakal. Ehhmm… mungkin karena papa sering menakaliku sehingga belaian dan sentuhan tangannya kuanggap biasa saja. Tangan papa mulai masuk ke dalam bajuku. Dan sekarang menyusup ke dalam braku.

“Pah? Apaan sih?” bisikku.

“Kenapa sayang?” tanyanya.

“Geli,” kataku.

“Nanti juga nyaman koq. Papa nggak ngapa-ngapain kamu,” katanya.

Aku kemudian mendiamkannya menjamah buah dadaku. Aku baru menyadari satu hal, buah dadaku agak membesar. Apakah perasaanku saja atau memang demikian. Tangan papa sekarang mulai memelintir putingku. Uugghh…. geliiii…. geli abiss… Aku jadi nggak konsen lagi melihat filmnya. Aku mendongak melihat papaku dan dia tiba-tiba menciumku lembut. Oh my God. Aku dicium papa lagi sambil dia memelintir putingku. Enaakkk…. dadaku rasanya nyesss…. Papa kemudian menarik wajahnya. Aku ingin dicium lagi… papaaaahh… koq sudah sih???

Aku sekarang makin bersandar ke dadanya. Ahh… bau parfum maskulinnya bisa kucium, seakan-akan oksigenku hanya ini saja. Papa benar-benar membuatku merasa aneh. Aku seorang gadis remaja yang merasa aneh dengan puting yang dipelintiri oleh papaku sendiri. Papa terus melakukan itu hingga sekarang kurasakan kemaluanku gatal, ada sesuatu yang keluar di sana. Syaraf-syarafku rasanya menegang, bulu kudukku merinding. Bukan karena takut film horror ini, ada sesuatu yang tak bisa dilukiskan dengan kata-kata yang sedang membakar dan membelai diriku. Aku baru tahu nanti kalau ini yang namanya terangsang.

Tangan papa kemudian menarik tanganku untuk memegang sesuatu yang sudah muncul, tegak, dan keras di selakangannya. Penis papa. Oh tidak, apa papa tidak tahu kalau ini tempat umum?? Kalau ketahuan bagaimana? Dadaku berdegup kencang, tapi rupanya papa tidak peduli. Aku pun dibisiki sesuatu. “Handjob sayang, seperti tadi.”

Aku mengerti maksudnya. Aku pun kemudian mengocok benda keras berurat itu. Papa menahan agar suara tak keluar dari mulutnya. Tapi sekalipun begitu kakinya seperti cacing kepanasan. Kurasakan juga cengkramannya di payudaraku makin kencang. Selama film berlangsung otomatis kami tak konsen ke filmnya. Aku menikmati perlakuan papaku di payudaraku, sedangkan papa menikmati perlakuanku di penisnya. Kami benar-benar orang tua dan anak yang cabul.

Aku tidak hanya mengocok, terkadang juga aku elus-elus batang itu. Papa membiarkan aku melakukan apapun yang aku mau di penisnya. Hingga akhirnya papa menegang. Wait, kami tak bawa tissue bagaimana kalau misalnya papa mengeluarkan spermanya? Pejuhnya??

“Buka mulutmu sayang, tampung di mulutmu yah?!” bisik papaku.

Tentunya aku tak mau wajahku belepotan, papa juga tak mau kalau bajunya kotor, akhirnya mau tak mau aku membuka mulutku dan kepala penis papaku masuk ke sana. ANeh rasanya. Kenapa aku melakukan ini? Aku hanya mematuhi papaku. Aku mengocok makin cepat dan kepala penis papa sudah ada di dalam mulutku dan mulutku tertutup rapat. Penisnya berkedut-kedut. Papa pun menghirup nafas dalam-dalam saat sesuatu menembak rongga mulutku. Cairan kental, rasanya manis. Eh, manis? Iya manis walaupun tak seperti gula. Aku tak tahu kalau rasanya manis. Aku suka yang manis-manis. Berkali-kali penisnya mengeluarkan pejuh ke mulutku. Aku menampungnya. Ini sungguh sangat cabul, mungkin kalau ketahuan KPAI papaku bisa masuk penjara karena mengeluarkan spermanya ke dalam mulut anaknya. Papaku puas. Terlihat dari nafasnya yang teratur. Sedangkan aku? Aku bingung membuang cairan sperma papa.

“Sebaiknya kamu ke toilet saja sayang untuk dibuang atau kamu mau menelannya?” tanya papa.

Menelan sperma?? Wow wow wow, aku tak pernah berpikir sejauh itu. Kalau ke toilet tak mungkin, aku terlalu takut karena melihat film horror. Aku bahkan sudah terbayang hantu di dalam toilet. Akhirnya dengan sangat terpaksa dan dengan polosnya aku mencoba menelannya.

GLEK!

Yah, begitulah saudara-saudara untuk pertama kalinya aku menelan sperma papaku. Kental, manis. Aku langsung meminum cola yang ada di kursi. Kuhabiskan cola itu. Ini adalah pengalaman yang tak terlupakan bagi diriku. Di tempat umum, melakukan handjob dan papa mengeluarkan pejuhnya ke mulutku, bahkan aku menelannya. Agak eneg setelah ditelan tapi entah kenapa aku tak pernah kapok.

“Makasih sayang,” kata papa.

* * *

Nonton bioskop sudah, kami pun pergi makan malam. Papa mengajakku ke sebuah restoran steak. Aku memesan steak well done karena aku tak suka yang tidak matang. Aku bercerita banyak hal, papa memang pendengar yang baik. Apapun yang aku ceritakan beliau menangkapnya dan merespon. Itulah kenapa aku sangat menyayangi papaku.

Pukul sepuluh malam kami pulang. Aku sudah mengantuk sekali sehingga tertidur di mobil. Papa membangunkanku tapi aku rasanya malas. Akhirnya beliau pun membopongku. Mataku setengah terbuka ketika papa sudah menurunkanku di atas ranjangku.

“Pa, temani Ona ya?” kataku. “Ona takut.”

“Iya, nanti papa temani. Papa harus mengunci pintu dulu,” katanya.

Aku mengangguk. Setelah itu papa pergi dan aku terlelap.

Aku sangat kecapekan hari itu sehingga tak tahu kalau papa sudah tidur memelukku, tapi ada yang aneh. Aku bisa merasakan kulit papa. Hmm??? Papa memelukku tapi tanganya sudah meremas payudaraku. Oh tidak, aku telanjang! Mataku terbuka dan aku bisa merasakan pinggul papa bergoyang menekan pantatku dan itu penis papa diposisikan dijepit oleh pahaku. Penisnya benar-benar bergerak di antara pahaku dan selaras dengan bibir kemaluanku. Aku geli. Iya sangat geli, terlebih ketika guratan daging itu menyentuh area privatku.

“Papaaah??” lenguhku.

“Kamu bangun sayang?” papa menghentikan goyangannya.

“Papa ngapain?” tanyaku.

“Papa sangat ingin sekali bercinta dengan kamu sayang, tapi papa tak mau merusakmu. Biarkan papa tuntaskan ini dulu ya? Papa sudah nggak tahan,” ujarnya.

Aku mengangguk. Dan sekali lagi perbuatan cabul papaku dimulai. Beliau menyodok-nyodok pantatku dan pahaku ditekan agar menjepit penisnya. Ini posisinya seperti bercinta. Seorang anak yang masih tiga belas tahun disodok oleh papanya sendiri dari belakang mungkin adalah pemandangan yang langka. Aku masih bau kencur, belum mengerti tentang hal ini. Bahkan dengan polosnya aku memegangi tangan papa yang meremas-remas dadaku dan memelintir-melintir pentilku. Papa menciumi leherku dan sesekali mengemuti daun telingaku. Aahhh… bulu kudukku merinding. Ada yang aneh memang. Dari kemaluanku keluar cairan. Aku bisa merasakanya. Apakah aku mengompol??

“Pah, Ona mengompol pa!” kataku memberitahu papa dengan polosnya. “Ona jorok, biar Ona ke kamar mandi dulu.”

“Itu bukan ngompol sayang. Itu tandanya Ona juga merasa enak. Ona enak nggak digesek-gesek gini?” tanya papa.

“He-em,” anggukku.

“Nikmati saja ya sayang? Sebentar lagi pejuh papa keluar lagi,” papa memberitahuku sambil mempercepat goyangannya.

Aku diam sambil menikmati setiap gesekan di bibir vaginaku. Ahh…rasanya geli, nikmat, gatal, campur jadi satu. Papa kemudian menyentuhkan jarinya tepat di sebuah tonjolan di vaginaku. Aku menjerit ketika papa menyentuhnya.

“Aaaahhkkk! Papaaaahh! Geli paaaahhh aahhhkkk!” pekikku.

Papa terus bergoyang sambil mengkobel benda yang nanti aku ketahui bernama klitoris. Enak sekali ya ampun enak sekali. Aku tak pernah merasa seenak ini. Sesuatu sepertinya ingin keluar dari vaginaku, seperti perasaan ingin pipis. Ya aku ingin pipis. Rasa itu sudah ada di bawah sana. Aku tak tahan lagi. Akhirnya pantatku menegang, papa menyodok pantatku lebih kencang lagi. Benar-benar cabul, papa keluar pejuh lagi aku merasakannya. Pejuhnya menempel di vaginaku. Ohhh…nikmat sekali dan aku pipiss. Ahhkkkk… pipiss beneran!

“Paaahhh….. Ona pipiss… Ona ngompooll!” pekikku.

“Itu namanya orgasme sayang, engkau orgasme bukan ngompol. Sama seperti papa. Papa juga!” ujar papaku.

Cairan itu beberapa kali semprotan dan itu membasahi penis papa yang aku jepit dengan pahaku sekarang. Leleran cairan kental itu sekarang membasahi ujung vaginaku dan meleleh di pahaku. Setelah merasakan semburan di vaginaku, rasanya aku lemas sekali. Enak dan lemas. Inikah yang disebut dengan orgasme. Sekali lagi aku diajari papa untuk berhubungan intim.

“Ahh… papa…, enak banget,” bisikku.

Papa kemudian menarik wajahku dan kami berciuman. Setelah itu beliau menciumi pipiku dan ubun-ubunku. Kami kemudian tertidur karena kelelahan. Papa klimaks tiga kali hari itu. Dan aku mendapatkan pengalaman orgasme pertamaku.

Aku jadi penasaran, pelajaran apalagi yang aku dapatkan esok dari papa.

Pagi menjelang. Aku terbangun masih tanpa busana. Kulihat bercak putih di paha dan vaginaku. Ini pasti sperma papa. Aku jadi suka dan ketagihan diperlakukan papa seperti ini. Entahlah kalau sampai mama mengetahuinya. Tapi sungguh pelukan papa, ciuman papa, dan perlakuannya membuatku jatuh cinta. Cinta???? No Way. Benarkah aku mencintai papa?

“Ona, cepat mandi dan ganti baju. Kamu sekolah!” seru papa di bawah.

Ah iya, aku harus sekolah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*