Home » Cerita Seks Ayah Anak » My Papa 4

My Papa 4

PLAAK! PLAAK! PLAAK! PLAAK! PLAAK! PLAAK! aku menghadiahi Reihan tamparan keras ketika dia menciumku secara tiba-tiba.

“Apa-apaan sih lo!?” bentakku.

“Rona, plis Ron. Gue cinta banget ama lo. Gue nggak bisa tidur mikirin lo setiap hari. Kemana-mana selalu ada lo. Mau kan lo jadi pacar gue?” tanyanya.

“Brengsek! Lo kalau mau pedekate ya pedekate tapi ya nggak main nyosor aja! Brengsek!” umpatku. Setelah itu aku segera berlari.

“Ron, Rona! Tunggu! Maafin gue Rooonn!” kata Reihan sambil mengejarku.

Aku segera mengusap-usap bibirku. Ini adalah hal yang tidak pernah terjadi dalam hidupku. Harusnya ciuman pertamaku adalah untuk orang yang aku suka. Tapi ini, gila apa? Aku dicium oleh si cowok nggak jelas bernama Reihan. Brengseeek! Rasanya tamparanku berkali-kali tadi belum puas. Berani sekali dia mencuri cium dariku. Kalau papaku yang mencium sih wajar. Lha ini??? Siapa dia? Pacar aja bukan.

Aku kemudian menangis di kelas. Tentu saja Cherry kebingungan. “Kamu kenapa?”

“Aku dicium ama Reihan, dia tiba-tiba menciumku. Brengsek bukan? Dasar cowok mata keranjang. Cowok hentai! Harusnya ciuman pertamaku kan ama pacarku lha ini? Pacar aja bukan….hikss…hikss…,” aku menangis tersedu-sedu.

“Yaahhh… ya emang brengsek itu cowok. Sudah deh Ron. Sini sini!” Cherry kemudian memelukku. “Eh, kalau si Reihan nyari Rona jangan boleh masuk!” Cherry memberitahu semuanya.

Dan benar saja Reihan mau masuk.

“Biarin gue temuin Rona!” katanya.

“Nggak boleh, lo apain dia sampai nangis gitu!” cowok-cowok sekelasku membelaku. Mereka menghalangi Reihan buat masuk.

“Dia barusan berbuat asusila, jangan boleh masuk!” jeritku.

“Hoooo gitu?”

“Gue cuman nyium dia koq,” Reihan membela diri.

“Mencium? Itu tindakan cabul, geblek!” kemudian terjadilah ribut-ribut di luar kelas. Sampai-sampai kemudian ada guru yang melerai keributan itu.

Maka dipanggillah aku ke ruang guru. Aku menceritakan apa yang terjadi. Reihan berkali-kali minta maaf. Dia mengakui kesalahannya dan berjanji tak akan mengulangi lagi. Reihan akhirnya dipanggil orang tuanya. Kejadian itu cukup menghebohkan. Bahkan setelah itu papaku pun dipanggil untuk menjemputku karena aku shock. Ya iyalah, secara itu perbuatan asusila. Dan aku belum pernah dicium seperti itu. Ribut ya ribut ajah! Huh! Reihan pun dapat teguran keras.

Papa mengantarku pulang hari itu. Selama perjalanan aku bersandar di bahunya. Aku tak begitu tahu apakah papa kesulitan mengemudi ataukah tidak, yang jelas tahu-tahu aku sudah sampai di rumah. Setelah itu aku langsung masuk ke kamar. Papa juga menemaniku di kamar.

“Mau aku temani sayang?” tanyaku.

Aku mengangguk. Papa akhirnya duduk di sebelahku. Aku pun bersandar di bahunya. Sungguh papaku adalah tempat yang paling nyaman. Tempatku bersandar. Saat ini aku tak ingin papaku jauh dariku.

“Pa, malam ini temeni Rona tidur yah!” kataku.

“Iya, nanti papa temeni. Tapi sekarang kamu ganti baju dulu yah?”

Aku mengangguk. Aku kemudian berdiri dan membuka lemari bajuku. Kubuka kancing baju seragamku satu persatu. Tapi ada yang aneh. Aku berbalik dan papa masih duduk di tepi ranjang menatapku.

“Koq papa nggak keluar?” tanyaku.

“Kenapa? Nggak apa-apa kan? Papa sudah lihat tubuhmu sejak kecil. Sejak masih orok,” jawab beliau.

Aku memiringkan kepalaku, yaah… nggak apa-apa sih. Aku kemudin membuka bajuku, menurunkan rokku. Papa masih mengamatiku, kemudian aku memakai celana pendek jinsku, dan kaos longgar lengan panjang. Aku menaruh baju seragamku di hanger kemudian aku letakkan di gantungan baju. Papa masih tak beranjak dari tempat duduknya.

“Kamu masih trauma dicium temanmu tadi?” tanya papa.

Aku mengangguk.

“Kemarilah di pangkuan papa!” kata beliau.

“Hmm?”

“Ayolah!” ajaknya.

Aku pun mengikutinya. Aku naik ke pangkuannya menghadap ke arahnya. Kini Kedua pantatku ada di pangkuan papa dengan kedua pahaku berada di pinggangnya.

“Letakkan kedua lenganmu di pundak papa!” perintahnya.

Aku menurut, “Seperti ini?”

“Iya seperti itu,” katanya.

“Sekarang buka sedikit mulutmu dan pejamkan matamu!”

Aku menurut. Kupejamkan mataku dan kubuka mulutku sedikit. Tiba-tiba papa menciumku. Aku terkejut tentu saja, tapi kali ini ciumannya lain. Kedua tangannya ada di pantatku dan ditariknya pantat itu hingga kemaluanku menempel di sesuatu yang keras di selakangannya. Penis papah!

“Hmmmhhh!” aku mendengus pelan saat papa memasukkan lidahnya ke dalam mulutku. Rasanya aneh, tapi enak. Aku tak mampu untuk melepaskannya. Tangan kiri papa sekarang berada di pundakku dan terpaksa aku makin maju menghimpit badannya. Kepala papa miring sehingga hidungnya menyentuh pipiku. Kumisnya membuatku geli tapi aku tak ingin melepaskannya, dan tanpa disadari kedua tanganku sekarang sudah meremas rambutnya. Aku tidak pernah tahu ciuman model apa ini, sampai nanti aku tahu bahwa ini adalah French Kiss. Salah satu adegan ciuman di Fifty Shades of Grey. Aku tahu papa sedang memperagakannya, aku pun terbuai dengan ciuman ini.

Tiba-tiba papa menghentikannya. Lhoh? Koq sudah??

“Gimana? Kamu masih trauma?” tanya papa.

Aku menggeleng. “Nggak pah. Ciuman papa lebih hebat dari dia.”

“Iya dong, siapa dulu, papamu.”

Ia tersenyum. Dadaku berdebar-debar. Aku bisa merasakan dada papa juga berdebar-debar karena dadaku melekat di dadanya. Nafas kami pun saling berbaur.

“Mau lagi?” tanyanya.

Aku mengangguk. Iya dong, ciumannya enak koq. Akhirnya aku pun kembali dilumat oleh papaku. Ohh… ini ciuman yang paling dahsyat yang pernah aku rasakan. Aku tak pernah mencium papa seperti ini. Aku membalas ciuman papaku. Kupraktekkan apa yang aku pelajari di film tadi malam. Lidah papa menari-nari di bibirku, di lidahku. Lidah kami bertaut. Papa menghisap lidahku dan aku menghisap lidahnya. Bibir kami saling mengecup, saling bertukar ludah.

Seluruh syarafku serasa membeku, ada aliran-aliran listrik yang menjalar di punggungku, terutama di organ kewanitaanku. Aku merasa kesetrum saat papa menggelitik punggungku dengan kuku-kukunya. Tidak, kukunya tidak mencakar hanya membelaiku halus. Tangan kanannya semakin kencang mendorong pantatku untuk menekan selakangannya. Aku benar-benar telah terbuai. Enak sekali, lebih tepatya nyaman.

Setelah lama berciuman. Papa pun menarik wajahnya.

“Sudah ya? Kalau mau, nanti malam kita lanjutkan lagi,” kata beliau.

“Nanti malam?” tanyaku.

“Iya, nanti malam,” jawabnya mengulangi perkataanku.

Papa bangkit menggendongku. Lalu berbalik dan merebahkanku di atas kasur. Papa sangat kuat sekali bisa menggendongku. Tak terkejut aku, karena beliau memang kekar. Aku agak kecewa ketika papa menjauh dariku. Keningku dikecupnya.

“Papa tinggal dulu, kalau kamu lapar kamu bisa pesan delivery order. Oke? Papa masih ada kerjaan di kantor,” kata papa.

Aku mengangguk. Setelah itu papa pergi.

* * *

Sudah pukul tujuh malam papa belum pulang. Katanya papa harus lembur karena mengerjakan sesuatu di kantornya. Aku terpaksa pesan Pizza dan aku makan sendiri. Aku pun tertidur di sofa di ruang tamu setelah aku kenyang sambil melihat tv. Aku tak tahu kapan papa pulang hingga aku merasa tubuhku diangkat kemudian diletakkan di atas kasur. Aku masih terlalu mengantuk untuk bangun.

Aku masih setengah sadar saat papa meletakanku di atas kasurku.

“Kamu tidur ya sayang!?” kata papa.

“Ehhmm…,” jawabku.

Setelah itu papa mematikan lampu kamarku.

“Paah.. temeni Rona dong!” pintaku.

“Baiklah,” kata papaku mengiyakan.

Papa kemudian melepaskan kemejanya, setelah itu celananya juga. Papa sekarang hanya memakai singlet dan celana dalam. Kemudian beliau sudah masuk ke dalam selimutku. Aku kemudian dipeluknya dari belakang. Tapi pelukannya agak aneh. Memeluk payudaraku. Tapi aku tak peduli. Hanya bagian bawah tubuhnya sudah mengeras dan menekan pantatku. Aku tak sadar kemudian karena aku sudah tertidur. Nyaman sekali pelukan papa.

Entah jam berapa aku sedikit terbangun, karena aku merasakan geli di dadaku. Aku menggeliat. Saat itulah aku membuka mataku sedikit. Kulihat dalam kegelapan papaku mengecup puting susuku! Papaku??? APa yang dilakukan papaku? Kenapa papa mengenyoti payudaraku. Rasanya geli sekali. Aku ingin menegurnya tapi justru mulutku tak bisa bicara. Aku terlalu capek mungkin. Akhirnya aku hanya bisa menikmati papa menjilati dan mengencut putingku.

“Aaahhh….,” aku mendesah lirih. Papa mungkin mendengarnya tapi ia tak peduli.

Putingku kurasakan makin mengeras. Papa memperlakukanku dengan lembut. Kedua tangannya meremas dua bukit kembarku yang masih tumbuh ini. Dia lalu menjilati bagian yang dekat dengan ketiakku, Rasanya geli, aku sampai bergerak kiri kanan saat ia menggelitiki area itu. Kembali dia menciumi bukit kembarku dan membenamkan wajahnya di buah dadaku. Ciuman papa bergeser ke perut, ke pusarku. Kemudian makin ke bawah dan papa menciumi bagian yang paling intim dari tubuhku. Papa mencium belahan vaginaku. Bahkan bibirnya mencubit-cubit lembut dagingnya. Tidak, aku tidak punya bulu, setidaknya vaginaku belum tumbuh bulu walaupun aku sudah menstruasi.

Aku membiarkan papa menciumi kemaluanku untuk beberapa saat. Hingga ia menghentikannya. Entah apa yang beliau lakukan. Aku baru sadari kalau braku lepas. Apakah tiap malam papa melepaskan braku?? Apakah aku tiap hari diberlakukan seperti ini? Aku kebingungan sekarang. Dia adalah ayahku dan dia berbuat ini kepadaku. Ini cabul! Aku tahu apa itu cabul karena aku pernah belajar tentang hal ini. Tapi ini sungguh nikmat. Papa memperlakukanku dengan sangat lembut. Setidaknya ia tak sampai memperkosaku. Aku yang sekarang ketagihan akan sentuhannya.

Aku tak tahu apa yang dilakukan papa sekarang. Tapi aku bisa merasakan papa menaruh kedua tanganku ke atas. Dia sekarang duduk di atas dadaku, lebih tepatnya ia bertumpu dengan lututnya. Aku masih membuka sedikit mataku di kegelapan kamar ini. Tu…tunggu dulu, apa itu? Benda hitam panjang yang digenggamnya. Astaga itu penis! Aku bisa melihatnya di dalam kamar yang remang-remang ini. Itu penis, panjang sekali, besar, berotot. Aku tak pernah melihat penis sebesar ini. Papa sekarang mengocok penis itu seperti memompa sesuatu.

Penis papa sangat besar. Aku tak tahu persis diameternya tapi kekerasannya bisa aku lihat. Beberapa saat papa menghentikan kocokanya dan menggesek-gesekkan kepala penisnya di bibirku! Astaga apa ini!? Aku bisa merasakan lendir keluar dari penisnya. Papa meratakan lendir itu di bibirku. Astaga tidaaak! Apa yang terjadi sebenarnya? Aku ingin berteriak tapi aku tak tega. Ia papaku.

Akhirnya aku hanya menonton papa mengocok penisnya lagi. Hingga beberapa saat kemudian papa mengerang. Tubuhnya menegang kemudian sesuatu memancar dari lubang penisnya. Sesuatu yang kental, hangat trus itu baunya. Aku ingat. Ini adalah bau yang menempel di celana dalamku dulu, juga bau yang aku cium ketika mengelus-elus penis papa kemarin. Apa ini? Cairan apa? Apakah papa kencing?

“Aaahh…. Rona, papa sangat mencintaimu. Andainya papa bisa mengentoti kamu sayangku. Terimalah pejuh papa di wajahmu yang cantik ohhh…. anakkku!” lenguh papa.

Banyak sekali cairan kental itu membasahi wajahku dan rambutku seiring papa mengocok batang kemaluannya muncratnya makin banyak. Setelah itu papa berhenti dan penisnya masih berkedut-kedut menuntaskan yang masih tersisa. Setelah itu beliau turun. Entah apa yang beliau lakukan tapi aku termenung. Papa mencabuliku. Papaku sendiri. Tapi…. aku kenapa tidak merasa aneh? Kenapa aku malah suka? Apakah karena sikap papa yang selama ini lembut kepadaku?

Papa ternyata mengambil tissue. Beliau membersihkan wajahku dengan tissue. Dengan telaten beliau membersihkannya sampai benar-benar bersih. Setelah itu beliau membersihkan penisnya dengan tissue.

“Maafkan papa ya sayang. Papa sudah merusakmu. Harusnya tak boleh seperti ini, tapi… papa nggak bisa mengendalikan diri. Papa sangat ingin sekali bisa tidur denganmu. Tiap kali Papa dekat denganmu pasti kontol papa tegang,” bisik papa. “Tapi tidak sekarang sayangku. Papa tak mau secepat itu. Aku ingin engkau bisa mencintai papa. Dan papa akan melindungimu. Papa akan berkorban apapun untukmu. Kau adalah bidadari papa, tak boleh ada yang merebutmu dari papa. My sweet girl.”

Papa mengecup keningku. Setelah itu papa membenahi bajuku seadanya, lalu tidur dengan memelukku lagi. Aku bingung. Apa yang barusan terjadi? Jelas-jelas aku dicabuli oleh papa, tapi aku diam saja. Papaku… apakah mungkin aku mulai menyukai papaku sendiri? Aku bingung.

* * *

Pagi menjelang. Papa sudah tidak ada di ranjangku. Aku terbangun. Masih terbayang kejadian tadi malam. Aku menciumi bau wajahku sendiri. Baunya bau “pejuh”. Papa mengatakan ini “pejuh”. Ini gila. Aku membiarkan wajahku dipejuhi oleh papa. Aku segera bergegas mandi. Setelah mandi aku turun ke meja makan. Kulihat papa selesai memasak untuk kami. Sebuah pancake untuk sarapan.

“Pagi pah,” sapaku.

“Pagi sayang,” sapa papa. “Oh ya, kamu hubungi mamamu, tanya kabar beliau dan ceritakan pengalamanmu selama mama pergi!”

“Hmm?? Harus?” tanyaku.

“Iya dong, mama pasti khawatir sekarang. Sekalian tanya bagaimana keadaan kakek,” kata papa sambil memberikan sepiring pancake kepadaku. Aku langsung memotongnya dengan garpu dan memakannya. Papa memberikan ponselnya yang sudah mendial nomor mama.

“Halo?” sapa mama.

“Halo ma,” jawabku.

“Oh, Hei. Bagaimana kabarmu sayang?”

“Baik mah,” jawabku sambil mengunyah makanan.

“Kamu sarapan?”

“Iya mah. Bagaimana mama? Bagaimana kakek?”

“Mamah baik-baik saja. Kakek sekarang masih dirawat. Di sini mama bertemu dengan keluarga yang lain. Ada Tantemu, pamanmu sepupumu.”

“Waahh…”

“Kamu sudah mau berangkat sekolah?”

Aku menghela nafas. “Aku nggak masuk hari ini mah, sedang nggak enak badan.”

“Oh, kamu sakit?”

“Iya sedikit,” kataku berbohong.

“Oh, ya sudah. Kamu jaga kesehatanmu. Biar mama bicara dengan papamu!” kata mama. Aku segera memberikan ponsel ke papa.

Papa menerima ponselnya. Ia pun berbicara dengan mama.

“Iya. Dia sedikit sakit. Ada kejadian di sekolahnya… tidak… tidak begitu parah koq. Tenang saja, semuanya aman terkendali. OK. Baik….. iya… ok…. sampai nanti. …. Mmmmuuuacchh!” setelah itu papa mematikan teleponnya.

Aku melanjutkan makanku.

“Kenapa kamu berbohong? Kenapa kamu tak masuk sekolah?” tanya papa.

“Pah, aku masih shock. Aku ingin menenangkan diriku. Oke?”

Papa menghela nafas. “Baiklah. Papa sebentar lagi berangkat ke kantor. Kamu tak apa-apa papa tinggal sendiri?”

Aku mengangguk.

“Baiklah, mungkin papa nanti bisa ijin setengah hari kerja untuk menemanimu,” katanya.

“Sungguh?”

“Iya, apa sih yang tidak buat anak papa ini?”

“Yeeeyyy!” aku gembira.

* * *

Seharian ini aku menunggu papa. Papa katanya hanya bekerja setengah hari. Aku memang membolos hari ini karena masih malas untuk pergi ke sekolah. Cherry berusaha menghubungiku lewat BBM. Aku pun terpaksa membalas chatnya dan mengatakan bahwa aku baik-baik saja. Aku hanya perlu istirahat.

Pukul dua siang tepatnya papa datang sambil membawa kantong plastik berisi buah-buahan. Beliau langsung meletakkannya di kulkas. Setelah itu diambilnya jus yang masih tersisa di kulkas dan langsung dihabiskan. “Ahhhhh segarnya.” Botol jusnya pun langsung dibuang.

“Kamu sudah makan sayang?” tanyanya.

“Sudah,” jawabku.

Papa langsung duduk di sofa bersamaku.

“Kamu ngapain saja hari ini?” tanyanya.

“Duduk di sini sambil nonton HBO. Aku sampai bosan,” jawabku.

“Hahahaha, baiklah. Lagian salah sendiri kamu kenapa tak masuk sekolah?”

Iya sih salahku. Aku tak menjawab.

“Tapi, besok kamu harus masuk sekolah, OK? Hari ini papa memaafkan kamu,” papa menasehatiku.

Aku mengangguk. Baiklah.

Papa masuk ke kamarnya, tak berapa lama kemudian papa sudah keluar memakai baju rumahannya. Dia memakai celana selutut dan kaos. Oh my God, gitu saja badannya terlihat kekar. Aku masih teringat dengan apa yang dilakukannya kemarin, itu cabul sekali, tapi aku suka. Aku ingin lagi. Tapi… mungkin papaku tak akan mau kalau aku memintanya. Apa aku harus pura-pura tidur? Tidak itu tindakan bodoh. Aku sama sekali tak tahu apa yang diinginkan papaku. Aku anaknya tak mungkin aku mengatakan, “Pa, lakukan apa yang kamu lakukan tadi malam.” Itu bodoh namanya!

“Aku ingin mengajakmu nonton bioskop sayang, kalau kamu tak keberatan,” kata papa.

Aku gembira tentu saja. Sudah lama juga aku tak jalan keluar, “Sungguh pa?”

Papa mengangguk. “Kamu mandi dulu tapi!”

“OK,” kataku.

Aku segera mengambil handuk, kemudian masuk ke kamar mandi. Tapi ada yang aneh kenapa papa juga masuk ke kamar mandi.

“Lho, papa koq masuk juga?” tanyaku.

“Sekalian saja, papa ingin mandi bersamamu. Tak apa-apa kan?”

“Ehhmmm…,” aku bergumam. Kalau teringat kejadian tadi malam. Oh ya tuhan penis itu… akhirnya aku menelan ludah sambil berkata, “Baiklah.” Lagipula aku adalah anaknya bukan?

Papa melepaskan bajunya. Mula-mula dari kaosnya, setelah itu celananya. Yup, aku bisa melihat tubuh papa yang atletis. Six pack, lengan kekar, aku tak tahu bagaimana proses otot-otot itu bisa seperti itu dan itu membuat dadaku berdesir. Lebih dari itu, di selakangannya aku melihat sebuah benda yang berbentuk seperti jamur. Tapi benda itu tidak tegang ataupun keras seperti perkiraanku. Ada kepalanya yang bentuknya lebih cerah daripada batangnya. Kulihat ada dua buah bola yang menggantung di balik batang itu. Aku sedikit kecewa karena ternyata bentuknya seperti itu. Padahal aku merasa penis papa bisa keras.

“Kenapa kamu tak melepaskan bajumu?” tanya papa.

“Oh, eh? I-iya pa,” aku gugup.

Segera aku melepaskan bajuku satu per satu. Dan… papa membantu melepaskan kaitan braku. Kemudian aku melepaskan celana dan celana dalamku. Papa kemudian membalikkan badanku. Setelah itu…papa tiba-tiba melumat bibirku. Aku dikecupnya, sekali, dua kali, tiga kali, berkali-kali. Lidah kami kembali bertautan, saling menghisap. Papa yang mengajariku ini. Aku baru tahu nanti kalau ini namanya French Kiss. Kemudian kami berciuman lebih dalam lagi, tangannya kemudian merangkulku, lalu turun ke pantatku. Pantatku ditariknya hingga tubuh kami menempel. Entahlah, aku tak melakukan perlawanan. Aku nyaman saja dengan perlakuannya.

Saat itulah aku merasakan batang papa mengeras, menempel di perutku. Papa melepaskan ciumannya.

“Koq papa menciumku sih?” protesku.

“Hahahaha, kenapa?”

“Ihhh… itunya papa tegang lagi.”

“Iya, kalau lihat cewek cantik jadi tegang. Kan kamu cantik,” goda papaku.

Aku kemudian berbalik menuju ke shower. Keran aku putar dan air mengguyurku. Papa kemudian ikut bersamaku. Kami sama-sama membilas badan kami. AKu sekarang jadi takjub dengan batang papa, tak henti-hentinya aku melihat batang itu. Keras mengacung kepadaku. Aku jadi gugup melihatnya.

“Kenapa kamu melihati penis papa?” tanya papa.

“Hehehe, nggak koq pa. Cuma penasaran aja,” jawabku.

“Kamu mau melakukan sesuatu?” tanya papa.

“Apa itu pa?” tanyaku.

“Aku mau mengajarimu berhubungan cara berhubungan intim. Kalau kamu mau sih,” jawabnya.

Aku penasaran. Kenapa papa ingin mengajariku?

“Ehhmm…. gimana ya?? Tapi ini aman kan? Maksudku nggak berbahaya buat aku?” tanyaku.

“Kamu tak percaya kepada papamu?” tanya papa.

Tentu saja aku percaya. “Percaya koq pa.”

“Ya sudah. Yuk?”

“Caranya gimana?”

“Tapi papa tidak mau mengajarimu sekaligus, pelan-pelan. Step by step. Lagipula kamu masih pemula. Pertama-tama aku ingin kamu melakukan handjob!”

“Hand…job???” istilah baru bagiku.

“Iya, handjob itu seperti ini. Kamu coba pegang penis papa!”

Aku mengulurkan tanganku dan memegang penis papaku yang besar dan tegang. Agak gemetar aku memegangnya. Aneh saja. Sekarang aku memegang dan menyentuh penis papaku yang mengeras.

“Ohh.. nikmat sekali,” gumam papa.

“Apa pa?”

“Oh tidak, nggak apa-apa. Sekarang coba kamu gerakkan maju mundur! Pelan-pelan!” perintahnya.

Aku menurut. Kugerakkan tanganku dengan maju mundur. Aku seperti mengurut benda itu. Setiap aku menggerakkan ke pangkalnya kulitnya seolah-olah mengikuti pergerakan tanganku. Kepala penisnya makin menegang. Aku bisa merasakan bagaimana kerasnya batang ini.

“Pakai dua tangan juga nggak apa-apa koq, atau sambil kamu jongkok,” kata papa.

Aku menurut. Sambil berjongkok aku mengurut penis papa maju mundur. Lebih tepatnya aku seperti mengocok penisnya. Aku mengocoknya dari kepala penis sampai ke pangkalnya tempat di mana dua bolanya juga tersentuh olehku. Bola itu lucu bentuknya. Kulitnya berkerut-kerut dan setiap kali kukocok penisnya serasa bergoyang kiri kanan. Papa mengusap-usap kepalaku. Aku melihat wajah papa yang melihatku. Wajahnya tampak melihatku seperti apa ya…ehhmm… seperti melihat seorang kekasih mungkin.

Aku jadi malu sendiri kalau dilihat papaku seperti itu.

“Rona, papa mau bilang ama kamu,” kata papa.

“Apa pa?”

“Papa sangat sayang ama kamu.”

“Rona juga koq pa.”

“Nggak. Maksud papa, maukah kamu menjadi kekasih papa?”

“Maksudnya?”

“Aku ingin Rona menjadi kekasihnya papa,” kata papa sambil mengelus daguku.

“Kan papa sudah ada mama,” jawabku.

“Engkau dan mama adalah kekasihnya papa. Papa akan ajari kamu menjadi seorang wanita seutuhnya. Papa ingin kamu bisa dewasa sayang,” kata papaku. Ah…. aku jadi lumer mendengarnya. Papa pintar merayu. “Kalau mau ya kita bisa bermesraan terus tiap hari. Papa akan ajari cara berciuman, bahkan cara bagaimana Rona bisa memperlakukan seorang laki-laki. Jadi nanti kalau Rona sudah punya pacar nggak akan kaget.”

Itu ide bagus menurutku. Ya, aku masih polos. Belum mengerti tentang pacaran. Aku dicium cowok saja sampai histeris. Tapi entah kenapa tidak dengan papaku.

“Yang kencang sayangku ngocoknya!” perintah papa.

Aku mengangguk. Sekarang aku makin kencang mengocok penis papa. Makin keras. Apakah papa akan mengeluarkan cairan seperti tadi malam? Pejuh papa?

“Rona sayang papa kan?” tanya papa.

“Iya, Rona sayang papa,” jawabku.

“Kocok terus sayang…iyhaaahhhh….sshhh.. ehhmm….. enak banget kocokanmu. Tanganmu lentik, lembut!” kata papa.

Papa mendongak. Matanya terpejam. Beberapa kali bahkan ia menggigit bibir bawahnya, ia sangat keenakan aku giniin. Ehhmm… apa namanya tadi? Handjob? Aku baru kali ini mengerti yang namanya handjob.

“Rona, tempelkan kepala penis papa ke bibirmu sayang!” pinta papa.

Aneh, tapi aku melakukannya. Kutempelkan kepala penis tepat di lubang kencingnya ke belahan bibirku. Kemudian papa menegang. Pantatnya iku maju mundur. Aku agak terdorong tapi papa menahan kepalaku. Penis papa makin menegang dan…. datanglah.

“Papa sayang Rona, papa cinta Rona, papa ingin banget ngentotin Ronaa… Rona ini pejuh papah, terima yahhh! AAAAHHHHH!” papa menjerit dan benarlah cairan itu menyembur kencang menampar wajahku, hidungku, mataku, bibirku. Wajahku belepotan pejuh papa. Sementara tanganku tak henti-hentinya mengocok penis papa. Mataku terpejam karena pejuh papa mengenai kelopak mataku sebelah kanan.

Hentakan penisnya, kedutannya luar biasa. Aku tak menyangka papa lagi-lagi mencabuliku. Tapi aku suka. Papaku yang tampan sekali lagi menyemprotkan pejuhnya ke wajahku. Aku menghentikan kocokanku seiring redanya tembakan pejuhnya.

Papa tersenyum melihatku. Aku kemudian langsung mencuci mukaku di bawah guyuran shower.

“Itu apa sih pah? Panas, lengket, kentel?” tanyaku.

“Itu namanya sperma sayang. Sperma itu milik laki-laki, kalau kita berhubungan badan lelaki mengeluarkan itu,” jawabnya. “Kalau bahasa gaulnya itu namanya pejuh.”

Setelah aku bersihkan wajahku. Aku lalu merangkul papaku. “Pah, papah beneran sayang Rona?”

“Iya sayangku, papa sangat sayang ama Rona,” kata papaku sambil membelai rambutku yang basah.

Papa mendongakkan wajahku. Kami berciuman lagi, ahh… gilaakk… kali ini ciuman yang membuatku berdebar-debar. Kami berpelukan di bawah pancuran shower.

TING TONG! bel berbunyi.

Kami terkejut dan melepaskan pelukan kami. Papa kemudian bertanya-tanya. “Siapa itu?”

“Coba dicek pah!” kataku.

“OK, kamu mandi dulu saja ya!”, kata papa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*