Home » Cerita Seks Ayah Anak » My Papa 3

My Papa 3

Kami makan siang di sebuah Restoran Mie Aceh. Aku memesan Mie Goreng Kepiting kesukaanku dengan Jus Chocolate Avocado. Papa memesan Mie Goreng Ayam Jamur kesukaannya. Kebetulan saat itu di tv kulihat mama sedang menyiarkan berita.

“Pah, pah, lihat deh. Tuh mamah!” aku menunjuk tv.

Papa menoleh ke arah tv. “Hmm…”

“Yaah? Koq hmm aja sih pa?” tanyaku.

“Tiap hari juga papa melihatnya, emangnya harus histeris Kyaaaaa gitu? Norak ah kamu ini.”

“Ihhh… ya nggak segitunya donk. Emangnya papa ama mama bisa kenal dulu gimana?” tanyaku.

Papa tak menjawabku. Dia masih memasukkan makanan ke mulutnya. Ah, sepertinya papa kelaparan sekali. Aku kemudian mendiamkannya dan menikmati makananku pula.

“Eh, gimana tadi?” tanyanya. “Papa bisa kenal mama? Oh, itu ceritanya panjang. Tapi intinya sih, papa ama mama saat itu sedang berada di stasiun tv, trus kita kenal. Papa kemudian sering menelpon dan chatting ama mamamu setelah itu. Dan… setelah ada kecocokan kami pun akhirnya menikah.”

“Oh… begitu.”

Aku kemudian kembali makan. Papaku sekarang melihatku. “Kenapa?”

“Nggak, nggak ada apa-apa koq pah. Kukira romantis seperti yang ada di film-film drama itu,” jawabku.

“Kamu terlalu banyak nonton tv. Bagaimana sekolahmu?”

“Great. Tak ada masalah,” kataku.

“Beneran lho ya. Kamu sejak SD selalu juara, papa nggak mau kamu nanti prestasinya malah jatuh,” kata papaku.

“Iya pah, tenang aja,” ujarku. “Oh ya pah, habis ini mampir ke supermarket yah.”

“Kenapa?” tanyanya.

“Beli pembalut,” jawabku.

“Oh, baiklah.”

* * *

Aku terbangun di malam hari. Hari ini masa periodku. Maklum sebagai anak cewek tentunya mendapatkan haidh banyak saja kejadiannya. Pusing, emosi meluap, cepet lelah. Aku juga sebagai cewek merasakannya. Papa membelikanku pembalut karena stok pembalutku sudah habis. Aku terbangun untuk pergi ke kamar mandi, kepingin pipis.

Saat ke kamar mandi aku melihat papa masih ada di ruang tengah. Ruang tengah sudah gelap, satu-satunya cahaya berasal dari televisi. Aku lihat papa sedang menonton tv. Sebentar…. koq acara filmnya aneh. Kulihat acaranya seorang wanita yang masih belia, mungkin remaja sedang tak berbusana. Dan Seorang pria juga tak berbusana sedang menyodok pantatnya dari belakang. Astaga! Itukan film porno??! Papa menonton film porno?? Dadaku berdegup kencang. AKu bahkan lupa kalau aku harus ke kamar mandi.

Aku melihat sesuatu bergerak-gerak di perut papa, apa itu? Aku baru sadar kalau yang ada di perut papa itu sebuah kepala. Itu mama! Dan aku melihat mereka telanjang! Whaaa??

Kepala mama naik turun di perut papa. Aku tidak begitu jelas karena gelap. Aku buru-buru mengendap-endap pergi ke kamar mandi. AKu tak mau mengganggu mereka. Oh my god. Aku baru saja melihat sesuatu yang aneh. Sesuatu yang aku tak akan bisa melupakannya. Setelah aku selesai pipis, aku harus kembali ke ruang tengah. Papa dan mama pasti masih di sana. Dan benar. Tapi kali ini kulihat lain. Papa sekarang sedang berada di atas mama. Posisi mama sekarang berbaring di atas karpet dengan kakinya ditekuk dan diangkat. Pahanya terbuka lebar lalu papa menekan pinggulnya ke selakangan mama. Gerakannya statis maju mundur.

“Ohhh…. aahhh….ahhh,” desah mama perlahan.

“Ohh mmaahh… enak banget maahh… rapet banget memekmu!” kata papah. Sesekali papa menghisap puting susu mamah. Astaga papa menyusu kepada mama!

Aku tak menyangka malam ini aku melihat mereka bersetubuh di ruang tengah. Papa makin cepat menggenjot mama. Mama pun merangkul papa erat-erat. Karena gelap mungkin mereka tak melihatku yang selama ini melihat mereka.

“Aku mau keluar!” ujar papa

“Keluarkan sayang, aku sudah dapet!” kata mama.

“Aaahhkkk oooohhhh!” Papa mengejang. Aku tak tahu apa yang dimaksud keluar ataupun yang dimaksud “sudah dapet”. Kulihat papa ambruk dan keduanya berciuman. Aku buru-buru pergi, mengendap-endap kemudian kembali ke kamarku. Sungguh pemandangan yang membuatku berdebar-debar.

* * *

Paginya ada yang aneh lagi. Braku lepas. Padahal sudah jelas-jelas aku tidak mencopotnya tadi malam. Aku tak peduli mungkin aku memang melepaskannya tadi malam. Kemudian aku pergi ke kamar mandi. Saat aku melepaskan celana tidurku. Kulihat celana dalamku sedikit basah. Hmm?? Koq basah? Aku mencoba meraba dan menciumnya. Nggak pesing seperti air kencing. Aku tak pernah mencium bau seperti ini sebelumnya. Ah whatever.

Pagi ini aku ke sekolah seperti biasa. Diantar oleh papa. Hanya saja kali ini agak sedikit aneh ketika papa berkali-kali mengelus pahaku.

“Papa ih, geli!” kataku.

“Oh, maaf. Tapi papa sudah terbiasa ngelus-elus begini sih,” katanya.

Kami pun akhirnya sampai di sekolah. Aku hampir beranjak sebelum papa mencegahku. Oh ya, aku lupa. Ciuman.

Aku memberikan pipiku, tapi kali ini papa tidak mencium pipiku. Beliau langsung mendaratkan bibirnya ke bibirku. CUP! Aku kaget. Tak biasanya papa begini.

“Setelah ini, kamu tak perlu dicium pipi lagi. Cium bibir,” katanya.

“Koq gitu pa?”

“Kamu kan sudah gede. Nggak apa-apa kan?”

“Oke deh,” aku tak merasa aneh. Setelah itu aku meninggalkan Papa di mobil dan masuk ke sekolah.

Aku sampai di kelasku. Di sana aku langsung bertemu dengan Cherry sohibku.

“Hai Cher?!” sapaku.

“Hai, hai, hai!” katanya.

“Ada kabar apa?”

“Nggak sih, cuman aku barusan lihat sesuatu!”

“Apaan?”

“Tahu nggak si Jo anak kelas VIII-4?”

“He-eh, trus?”

“Dia aku lihat ciuman ama Gita ank VII-2!”

“Serius lo?!”

“Samber gledek deh!”

“Whoaaaaa! Nggak ada yang mergokin?”

“Yahh… gue sih asyik aja lihatnya. HIhihihi.”

“Gilak lo.”

Aku meletakkan tasku di bangku, setelah itu duduk di kursi.

“Oya, si Reihan masih ngirim surat?” tanya Cherry.

“Ya mana gue tahu. Gue nggak lihat loker,” jawabku.

“Anak itu beneran deh suka sama lo, ckckck… kuakui salut ama perjuangannya,” katanya.

Aku sih tak peduli. “Tahu nggak semalem gue lihat ortu gue indehoy!” bisikku.

“Heh? Yang bener?” tanyanya.

“Bener, mereka begituan di ruang tengah. Aku mergokin mereka,” jawabku.

“Hahahahaha, bisa buat pelajaran tuh ntar lo kalau udah kawin,” katanya.

“Huuu… tapi deg-degan juga melihatnya,” kataku.

“Iyalah pertama kali lo lihat itu,” katanya.

“Emang lo nggak pernah lihat?” tanyaku.

“Cuman lihat bokep,” jawabnya. “Itu aja sembunyi-sembunyi ngelihatnya. Papa ama mamaku sering lihat notebooku soalnya.”

“Yah, medingan gue dong. Lihat live,” kataku.

* * *

Hari-hariku berlalu seperti biasa dan setiap hari aku mendapatkan ciuman di bibir oleh papaku. Bukan lagi di pipi. Aku menganggapnya wajar dan biasa. Tak ada yang aneh dengan itu semua. Dua minggu berlalu setelah itu, kabar mengejutkan datang dari kakekku. Papa dan mama tampak serius berdiskusi di ruang tamu.

“Kamu yakin bisa?” tanya mama.

“Aku tak apa-apa sungguh,” jawab papa.

Aku yang turun dari kamar menuju dapur untuk mengambil cemilan. Aku bertanya, “Ada apa ma?”

“Oh, begini sayang. Kakekmu sedang sakit dan mama harus ke sana menjenguknya. Takutnya ini saat-saat terakhir beliau. Beliau kena stroke dan mama harus ke sana,” kata mama.

Aku agak terkejut, “Oh, kakek. Trus?” Kakekku yang aku ketahui tinggal di Makasar. Jauh memang. Mama emang orang bugis sedangkan papa orang Jawa.

“Jadi mama harus ke sana. Sampai mungkin bisa mama tinggal,” jawab mama.

“Bagaimana dengan pekerjaan mama?” tanyaku.

“Mama sudah mengambil cuti dan kantor mengijinkan,” jawabnya. “Paling tidak dua minggu.”

“Lama sekali ma,” kataku.

“Yah, mau gimana lagi sayang? Sini sini mama peluk kamu!” katanya. Aku segera menghampiri mama dan memeluknya. Aku bakal merindukan mama selama beliau pergi. “Kamu nanti jangan nakal yah! Ingat, kerjakan PR-mu, jangan pergi sembarangan tanpa papa ketahui. Mama akan sering menelpon nanti.”

“Iya ma,” kataku.

“Tenang saja, aku dan Rona akan menjaga rumah ini agar tetap bersih. Iya kan?” papa meminta pendapatku.

Aku mengangguk.

* * *

Besoknya mama berangkat. Kami melepas mama di bandara hari itu. Hari ini rumah sepi tanpa kehadiran mama. Terpaksa aku terus membalasi pesan-pesan yang ditinggalkan mama. Setiap kali chat mama selalu bertanya banyak hal. Bagaiman cucian, bagaimana keadaan rumah, papa apakah sudah datang atau belum ahh… macem-macem.

Hari itu hari Minggu dan aku suntuk sekali. Tak ada tontonan yang menarik. Aku dari tadi hanya menonton HBO. Dan semua filmnya sudah pernah aku tonton. BBM? Cherry sama sekali tak membalasnya. Mungkin ponselnya sedang tewas. Arrgghh…. aku saja memainkan game di ponselku saja bosan.

Saat itulah papa barusan datang. Beliau membawa belanjaan. Papaku bisa memasak. Jangan salah masakan papa sangat enak.

“Masak apa pah?” tanyaku.

“Hmm… papa beli sosis, dan beberapa sayuran. Sepertinya kalau kita masak sop buntut enak deh,” jawabnya.

“Yey! Rona boleh bantu?” tanyaku.

“Boleh dong! Yuk!”

Akhirnya kesuntukan pun berakhir. Pagi itu aku memasak di dapur bersama papa. Sangat seru, papa menuntunku dan mengajariku cara memotong wortel yang benar. Ah, papaku adalah papa idaman mungkin. Aku tahu tak semua orang bisa seperti papa bisa memasak. Seru sekali suasana di dapur, aku jadi benar-benar belajar memasak dari papa.

Setelah seru-seruan di dapur kami pun mulai makan. Masakan kami lumayan enak. Err… aku koreksi, masakan papa, aku cuma mengerjakan 30 persen saja. Tapi aku senang hari itu, tidak bete paling tidak.

Malamnya papa sibuk sendiri. Beliau ada di ruang tamu sedang push up, terkadang sit up, lalu handstand. Aku yang sedang nonton tv jadi ada tontonan menarik. Lihat itu otot-otot lengannya kekar banget. Aku baru tahu kalau papaku mempunyai perut six pack. Pantas mama tergila-gila ama papa. Aku makin terpesona ama papa. Selain tampan, papaku juga berotot.

“Papa kenapa sih pa?” tanyaku.

“Buang tenaga sayang,” jawabnya.

“Hmm?? Maksudnya?”

“Yah, karena mamamu nggak ada papa harus menguras energi papa,” aku tak tahu maksud papa.

“Aneh, kenapa harus buang tenaga?”

“Ah, itu karena…..,” papa nggak melanjutkan. “Lain kali papa cerita.”

“Cerita dong pa! Aku kan udah gedhe,” bujukku.

“Ck… ah, sudahlah. Kamu masih kecil,” katanya.

“Ayolah paaaa!” rengekku.

“Papa buang tenaga biar bisa meredam nafsu,” kataku.

“Nafsu? Nafsu apa sih pa?”

“Yahh… nanti kalau kamu sudah menikah bakal ngerti,” jawabnya sambil menyudahi sit upnya. Beliau lalu bergegas ke dapur mengambil air mineral dan meminumnya. Setelah itu papa duduk di sebelahku sambil menonton tv. “Kamu suka sekali acara ini, nggak bosen-bosennya.”

“Biarin!” kataku.

“Papa barusan beli DVD baru,” kata beliau.

“Apaan?” tanyaku.

“Kebanyakan film dewasa, kamu nggak usah nonton,” jawabnya.

“Kebanyakan, berarti ada film yang bukan dewasa kan?”

“Ada, Minions.”

“Yeeeeyy! Lihat dong pah!”

Akhirnya aku dan papah melihat Minions. Kami tertawa bersama melihat kelucuan filmnya. Aksi minion yang menggemaskan memang mengocok perut kami. Hingga akhirnya film pun berakhir. Tak terasa ternyata.

“Sudah ya, papa mau nonton film. Kamu ke kamar!” katanya.

“Ikut nonton dong pa!” bujukku.

“Nggak boleh ini film dewasa,” katanya.

“Huuu kenapa nggak boleh? Akukan udah gedhe,” gerutuku.

“Sayang ini untuk 18+. Khusus dewasa,” katanya.

“Apa sih judulnya?” aku penasaran.

“Kenapa kamu penasaran?”

“Film porno yah?”

“Bukan, ini bukan film porno. Tapi banyak adegan dewasanya.”

“Ayolah paaa!” aku makin penasaran.

“OK, satu film saja yah, habis itu kamu masuk ke kamar,” papa akhirnya menyerah.

“Yeeeeyyy!” aku gembira.

Papa kemudian mengeluarkan DVD yang ia beli dari tas plastik. Aku melihat judulnya “Fifty Shades of Grey”, “Spartacus”, “White Queen”, “Basic Instict”. Ehmm…. ratenya dewasa semua nih. Aku tiba-tiba saja deg-degan, terlebih ketika papa mulai memasukkan kaset itu ke tempatnya. Aku tak tahu apa yang papa putar, tapi rasa penasaranku jadi hilang ketika di layar tv sudah menampakkan judulnya. Fifty Shades of Grey.

Selama film dimainkan aku bersandar di bahu papaku. Dan papaku memelukku. Aku mengikuti ceritanya dari awal hingga akhir. Dan yang membuatku makin berdebar adalah ketika adegan ranjangnya dimulai. Papa memang memelukku tapi pelukannya tidak pada tempatnya, beliau meremas payudaraku yang mulai tumbuh.

“Papa koq meremas dadaku sih?” tanyaku.

“Oh maaf, kamu nggak nyaman?” tanyanya.

“Nggak sih, risih aja,” jawabku.

“Kamu kan anak papa, nggak apa-apa kan kalau papa pegang?”

Dia papaku kan? Jadinya sih nggak masalah menurutku. Sama sekali tak ada prasangka buruk pada diriku. Setelah itu aku membiarkan papa meremas-remas dadaku selama film berlangsung. Tanganku tak sengaja menyentuh perut papa, saat itulah aku merasakan sesuatu benda yang keras di selakangannya. Apakah itu penis papa? Kenapa penisnya keras?

“Kenapa penis papa keras?” tanyaku sambil meletakkan tanganku di atas penisnya.

“Yah, wajarlah. Papa melihat adegan intim pastinya ada reaksi,” jawabnya.

“Apakah semua pria pasti demikian?” tanyaku.

“Iya, kalau kamu elus-elus makin keras,” kata papaku.

“Masa’ sih pa?” aku makin penasaran.

“Coba aja!”

Aku pun iseng mengelus-elus penis papaku dari luar celananya. Aku belum pernah melihat penis papa sebenarnya, jujur belum pernah. Dan kali ini aku menyentuhnya dari luar celana. Aku bisa merasakan bentuknya seperti sebuah mentimun, keras dan padat tapi empuk bila ditekan. Aku mengelusnya selama film berlangsung, sementara aku konsen menonton filmnya. Aku tak memperhatikan papaku, aku terus konsen menonton film hingga nafas papaku tampak lebih cepat dari sebelumnya. Tiba-tiba tangan beliau memegang tanganku dan dengan kuat tanganku dituntun untuk melakukan gerakan naik turun. Kaki papaku menegang, sementara cengkramannya di dadaku makin kencang membuatku sedikit sakit. Papaku mengejat-ejat sambil matanya terpejam.

“Kenapa pa?” tanyaku.

“Aaahhh… papa baru saja klimaks,” jawabnya.

“Klimaks?” tanyaku.

“Ah, sudahlah. Nanti kamu juga mengerti. Papa mau ke kamar mandi dulu,” katanya.

Aku pun terbengong-bengong melihat kelakuan papa. Sementara itu aku mencium sesuatu. Sepertinya aku pernah mencium sesuatu ini. Apa ya? Oh iya, ketika celana dalamku basah saat aku bangun. Iya, baunya seperti ini. Aku memegangi celana dalamku. Aku nggak basah koq. Trus tadi bau apa ya??

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*