Home » Cerita Seks Ayah Anak » My Papa 2

My Papa 2

Malamnya papa tampak sedang duduk-duduk di ruang keluarga sambil nonton tv. Aku membawa cemilan dan meletakkannya di meja. Kuperhatikan beliau tak pernah memilih satu channel untuk ditonton hanya mengganti-gantinya terus. Aku langsung merebut remotenya. Ia terkejut. Aku langsung duduk di sebelahnya. Duduk disebelah papaku yang tampan ini? Wajar kan? Aku bahkan bersandar di sebelahnya.

Oh ya, malam itu aku memakai celana jins pendek dengan kaos. Papa membiarkanku merebut remote sambil kupindah ke acara tv kesukaanku. Aku mengikuti sinetron remaja yang sekarang sedang populer di tv.

“Nggak belajar, Ona?” tanya papa.

“Nanti aja deh pah, masih ngikuti serial ini,” jawabku.

“Hei, nggak baik itu. Belajar dulu!” katanya.

“Bentar aja, kalau ini selesai Rona belajar deh,” jawabku.

Papa tak menyanggahku. Aku pun dibiarkannya bersandar dibahunya. Papa sesekali menciumi ubun-ubunku sambil membelai rambutku. Wajar kan? Iya dong. Aku anak semata wayang dan satu-satunya. Tentu saja papa sangat meyayangiku.

“Mama belum pulang pa?” tanyaku.

“Belum. Hari ini ada talkshow, dia jadi bintang tamu,” jawabnya.

“Oh ya???”

“Iya, tapi kamu tak boleh menonton. Itu acara dewasa. Lagipula siarannya malam hari.”

Aku cemberut. Kuambil cemilanku dan mulai mengunyah. Papaku juga mengambil cemilan. Kami asyik menonton acara itu hingga selesai. Papa agak aneh sih awalnya hanya merangkulku tapi setelah itu tangannya mulai meraba pahaku yang mulus. Hmm… aku sih nggak merasa apa-apa. Tapi baru kali ini seumur hidupku beliau membelai pahaku. Agak-agak geli tapi nyaman. Tangan papa memang kasar tapi sangat halus memperlakukanku.

Saat aku bersandar tak sengaja lenganku menyentuh selakangannya di sana aku merasakan sesuatu yang mengganjal. Dan keras. Aku tak begitu mempedulikannya. Setelah acara selesai aku beranjak.

“Ona, mau ke kamar dulu pa, ngerjain tugas,” kataku.

“Oh ya, baiklah. Yang pintar yah,” katanya.

Aku segera ke kamarku setelah menonton acara tv tadi. Aku pun mulai belajar. Sambil terkadang membalasi BBM dari Cherry. Kami saling memberikan jawaban dari tugas yang diberikan sekolah. Hingga tak terasa aku terserang ngantuk. Entahlah setelah itu aku tak ingat.

* * *

Pagi hari aku terbangun. HOoaaahmmm…. ngantuk. Aku mengucek-ucek mataku. Lho?? Aku sudah ada di atas kasur??? Bukannya aku tadi malam ketiduran di meja belajar? Aku juga memakai selimut? Apa papa yang menggendongku dan meletakkanku di kasur? Aku kebingungan sendiri pagi hari ini.

Ada yang aneh. Hmm… oh, kaitan tali braku lepas. Aku membenarkannya. Perasaan tadi malam tali braku tidak lepas deh. Ah peduli amat. Aku segera mandi, ganti baju dan siap sekolah lagi.

Pagi ini aku melihat mama di meja makan bersama papa. Mereka sedang bercanda, kulihat tawa mama yang lebar.

“Aku tak percaya, beneran itu?” tanya mama.

“Iya, aku juga heran koq,” jawab papa.

“Pagi pa, mah,” sapaku.

“Pagi sayang, gimana sekolahnya kemarin?” tanya mama.

“Perfect ma, banyak pelajaran dan teman baru,” aku berbohong. Aku belum punya teman sama sekali pada hari pertamaku masuk sekolah.

“Kamu berbohong,” kata papa. Dia tahu!

“Nggak koq pah,” kataku.

“Kamu berbohong. Biasanya anak sekolah itu akan canggung untuk kenalan. Papa tahu kamu berbohong. Kalau kamu berbohong kamu berkedip dua kali,” ujar papaku dan dia benar.

“Arrgghh! Baiklah, aku belum punya teman. Aku masih canggung,” kataku.

“Tenanglah sayang, itu bisa diatasi koq. Hari ini mama tidak bisa mengantarkanmu lagi. Kamu sama papa ya?” kata mama.

“Lagi?”

“Ada masalah sayang?” tanya mama.

“Nggak sih,” jawabku. Agak aneh saja sih akhir-akhir ini mama tidak bisa.

“Kamu nggak keberatankan?” tanya mama ke papa.

“Nggak, aku tahu koq kamu ada jadwal tiap pagi sekarang,” jawab papa.

“OK. Makasih. Mama harus berangkat,” kata mama.

“Dadah mama!” kataku. Mama mengecup keningku, kemudian mencium papa. Ohh… mereka romantis banget. Setelah itu mama keluar.

Kulihat papa menoleh ke arahku, “Habiskan sarapanmu!”

“Iya iya,” gerutuku.

Paling tidak hari ini aku bisa memakannya karena tersedia bubur ayam yang lezat lengkap dengan kacang dan kerupuk di atas meja makan. Hmm…. nyummyyy… Setelah sarapan habis, aku pun pergi ke sekolah dengan papa. Agaknya hari itu jalanan agak macet, papa sampai berputar jauh untuk menghindari jalanan yang macet.

“Nanti papa jemput lagi ya sayang?” kata papa.

“Emangnya nggak apa-apa pah?” tanyaku.

“Nggak apa-apa, papa bisa koq jemput.”

“Kalau papa bilang begitu sih, Ona ya ikut aja.”

Papa sekali lagi mengelus pahaku. Darahku sedikit berdesir, tapi aku tak tahu apa artinya ini. Maklum aku masih nol pengalamanku tentang ransangan, horny dan lain-lain. Aku juga tak pernah melihat film porno dan sebagainya. Aku hanya dengar cerita dari teman-temanku apa itu sex, apa itu film bokep. Tapi jujur aku sama sekali tak pernah tahu.

Setelah lima belas menit berputar-putar akhirnya kami sampai di depan gerbang sekolahan. Untung belum masuk. Papa menoleh ke arahku. Aku bersiap untuk diciumnya. Kuarahkan pipiku mendekat ke papa. Dia mencium kedua pipiku tapi ketika aku akan beranjak beliau menahanku.

“Sebentar!” cegahnya.

“Ada apa pah?” tanyaku.

“Cium bibir dong!” katanya.

“Hah?” agak aneh sih. Tapi dia kan papaku. Sejak kecil aku juga diciumi bibirku olehnya. Nggak masalah buatku. “Oke”

Papa mencium bibirku sesaat. Bagai sebuah slow motion, bibir papa menempel dibibir mungilku yang lembut. Kumisnya menyentuh bibirku bagian atas. Geli. Setelah papa mengecupku ia mengusap rambutku.

“Kamu sudah besar ternyata. Dulu kamu masih segini,” kata papa sambil mengatur tangannya setinggi dadanya.

“Iya dong pa, masa’ Ona harus jadi anak kecil terus??” kataku sambil cemberut.

“Ya sudah, hati-hati yah!” katanya.

“Dah papah?!” aku beranjak keluar dari mobil dan melambaikan tanganku.

Aku segera masuk ke gerbang sekolah. Langsung aku menuju ke loker untuk mengambil buku pelajaran LKS yang memang aku simpan di sana. Lokerku ada di luar kelasku. Tertata rapi. Loker ini adalah milik para siswa yang mana memang gunanya untuk menyimpan barang-barang siswa di ini, seperti LKS, baju olahraga, sepatu dan lain-lain. Setiap siswa punya kuncinya. Tapi sekalipun begitu terkadang ada yang memasukkan surat ke dalam loker-loker ini, misalnya saja aku. Hari ini ada sepucuk surat yang ada di dalam loker.

“Hmm??” gumamku.

Aku mengambil amplop berwarna putih itu. Kubuka isinya.

Untuk Rona Anggraeini.

Dear Rona,

Kamu benar-benar membuatku gila. Aku benar-benar tak bisa tidur nyenyak, tak bisa makan enak. Setiap hari aku terbayang selalu tentang dirimu. Maukah kamu aku ajak jalan besok Sabtu?? Aku tunggu jawabannya nanti pulang di gerbang sekolah.

Ttd

Reihan

Gileeeee… ini Reihan?? Dia mau nembak aku ceritanya? Ah cuek. Lagian aku nggak minat. Sorry ya Rei.

Aku masuk kelas dan ketemu ama Cherry. Aku langsung berikan surat itu kepadanya.

“Eh, apa ini?” tanyanya.

“Dari Reihan,” jawabku.

Dia kemudian membaca. Setelah itu dia ketawa, “Wakakakakaka, bener-bener itu si Reihan jatuh cinta ama lo.”

“Bodo amat. Nggak ngefek buat gue,” kataku.

“Nekat amat yah dia. Tapi sebagai teman, aku benar-benar salut ama lo yang nggak goyah. Aku juga salut ama senior kita ini. Oke deh, kasih dia ke gue aja yah!?” Cherry ngikik.

“Makan sonoh makaan!” kataku sambil mencubit pipinya.

“Eh, kriteria cewek lo ini kayak apa sih? Cowok seperti Reihan koq dilewatkan begitu aja?”

“Ehhmmm…,” aku ikut mikir jadinya. Banyak kriteria cowok yang keren, ganteng, tampan. Bahkan di sekolahan ini banyak. Hanya saja, kita ini masih bau kencur. Apa enaknya pacaran pas masih SMP? Yahh… walaupun udah ada yang pacaran sih. “Kriteriaku tinggi nih Cher.”

“Halah, dasar. Kalau terlalu tinggi awas, jatoh lo!” katanya.

“Hihihihi, yah. Palin nggak harus mirip ama papaku-lah!” jawabku sambil nyengir.

“Duh duh duh… ya banyak yang mundur teratur kalau gitu.”

“Koq bisa?”

“Ya iyalah. Papamu kaya, bangsawan, cakep, tampan gitu. Gue yakin itu mamamu memperjuangkan papamu dengan penuh cucuran keringat dan darah.”

“Ah, lebay lo. Eh, tapi bener juga sih. Papa ama mama masih mesra sampe sekarang.”

“Naah.. iya kan?”

“Eh, Cherr. Ntar aku dijemput papaku lagi nih. Kamu nggak apa-apa pulang sendiri kan?”

“OK, nggak apa-apa. Dasar anak papah.”

“Huuu…”

* * *

Reihan menungguku di gerbang sekolah. “Hei Ona?!”

“Hai Rei, ada apa?” tanyaku.

“Gimana? Bisa nggak?” tanyanya balik.

“Nggak. Sorry yah. Aku ada acara keluarga di rumah,” jawabku.

“Oh, begitu. Ya udah, lain kali saja kalau begitu,” katanya dengan kecewa. “Sampai besok.”

“OK, sampai besok. Hati-hati,” kataku.

Ia melambaikan tangan kemudian masuk ke mobil jemputannya. Cherry mendekatiku sambil membawa es krim. Ia memberikan satu kepadaku. Rasa coklat, kesukaanku.

“Makasih,” kataku.

“Dari semua cewek yang ada di kelas ini, elo emang bener-bener cewek yang jempolan. Mampu menaklukan cowok seperti dia dan menendangnya,” katanya. Cherry menjilati es krimnya. Aku tak peduli. Kami sama-sama menjilati es krim kami sambil menikmati kendaraan yang lalu lalang. Saat itulah angkot Cherry tiba. “Gue duluan!”

“OK, bye!” kataku.

Ia kemudian langsung masuk ke angkot sambil masih menenteng es krimnya yang belum habis. Tak berapa lama kemudian mobil papa datang. Agak telat lima menit, tapi nggak masalah sih. Aku segera membuka pintu mobil dan masuk.

“Maaf, agak telat,” ujar papa.

“Nggak apa-apa pah, baru juga lima menit,” kataku.

“Boleh papa minta es krimnya?” tanya papa yang melihat es krim di tanganku.

Aku menyerahkan kepada papa, “Nih!”

Papa kemudian menjilati bekas jilatanku dan menggigitnya. Papa tampak memejamkan mata sejenak. Beliau seperti menikmati rasa es krim yang beliau makan sekarang. Dia mengemutnya dan meresapinya. Setelah itu beliau kembali ke kemudinya. “Makasih sayang, papa haus banget. Kamu pasti lapar. Kita makan siang dulu yuk?!”

“OK,” kataku.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*