Home » Cerita Seks Ayah Anak » My Papa 1

My Papa 1

Nama aku, Rona. Rona Anggraeni. aku orang Sunda. Sebenarnya aku bukan anak kandung dari orang tua aku sekarang ini. Aku masih berumur 13 tahun, baru masuk SMP tahun ini. Papaku bernama Rah Iwan Yudopuro. Iya, marga Rah artinya beliau ada keturunan bangsawan. Sekalipun begitu mungkin karena sudah lama tinggal di Jakarta, kami jadi sudah melupakan kalau kami ada keturunan bangsawan. Orang tuaku merupakan pasangan suami istri yang cukup harmonis. Mereka cukup mesra bahkan dinobatkan menjadi pasangan suami istri terbaik oleh majalah beberapa waktu lalu. Koq bisa?

Mamaku bernama Lidya Parastiwi, seorang anchor. Sebagai seorang penyiar, beliau memang punya jadwal yang sangat padat. Bahkan dalam sehari beliau hanya berjumpa 2 jam saja denganku. Tapi aku tahu mereka sangat menyayangi aku. Sekalipun aku anak angkat, aku sangat menyayangi keduanya. Terlebih papaku. Beliau sangat tampan, bahkan mungkin aku bisa jatuh cinta kepadanya kalau saja aku lebih dewasa. Papa aku termasuk orang yang sabar, buktinya mama ada kelainan di rahimnya. Ketika hamil dulu rahimnya harus diangkat karena melekat dengan ususnya. Karena itulah beliau keguguran dan harus tidak bisa punya anak selamanya. Kasihan sekali. Tapi papa tetap sabar dan meneruskan pernikahannya dengan mengadopsi aku yang masih bayi waktu itu.

TOK! TOK! TOK! pintu kamar diketuk.

“Sayang, bangun! Ini hari kamu pertama kali masuk sekolah!” terdengar suara mama di luar.

“Iya ma,” jawabku.

Segera aku menggeliat. Kulihat jam menunjukkan pukul 6 pagi. Dengan sedikit lemas aku pun segera menuju ke kamar mandi. Hari ini hari pertamaku masuk sekolah. Eh, tidak. Maksudku ini hari pertama efektif setelah seminggu kita menjalani MOS. Tahu kan Masa Orientasi Sekolah di mana murid baru dikerjai para seniornya. Ada seorang senior yang memang naksir sama aku sih, tapi aku cuek, lagian mama ama papa pasti nggak mengijinkan pacaran. Hello, aku masih tiga belas tahun!

Setelah memakai seragam dan dandan aku pun turun ke meja makan. Di sana sudah tersedia telur dadar, ehhmm… omelet lebih tepatnya. Sarapan pagi kita omelet. Great! Kutuangkan segelas susu di gelasku. Kuiris potongan omeletnya. Seperti biasa, mama pasti memberikan sayuran ke dalam omelet. Aku tidak suka. Tapi seperti biasanya pula papa akan kompak membela mama bahwa aku harus makan sayuran. Aku memang suka omelet tapi isi daging tapi ini, isinya paprika, wortel, jagung, bawang bombay, ew… aku tidak suka paprika!

“Sayang aku tahu kamu tak suka paprika jangan protes!” papa menatapku.

Duh dengan terpaksa aku mengiris dan memasukkannya ke mulutku. Aku mengunyah. Ada rasa pedas dari paprikanya. Ah, sudahlah. Aku harus menikmatinya. Lagipula ini adalah salah satu sumber energiku hari ini. Hari senin bok!

“Oya, kamu bisa mengantar Rona?” tanya mama.

“Hmm??” papa melihat arlojinya. Mulut papa masih penuh sandwich yang ia makan. Ia kemudian mengacungkan jempol ke arah mama.

“Sayang maaf ya, mama nggak bisa mengantar. Sebab hari ini ada show baru di tv,” ujarnya.

“Oke mah,” jawabku.

Akhirnya mama pergi duluan. Papa masih meneguk jus jeruknya setelah itu membereskan piringnya. “Ayo sayang, percepat makanmu! Kita harus berangkat. Papa nggak mau terjebak kemacetan.”

* * *

Aku sudah sampai beberapa meter dari gerbang sekolah. Papa menahanku sebelum aku beranjak. “Rona, tunggu!”

“Ada apa sih pa? Mau telat ini!” kataku. Iya dong, hari Senin ada upacara bendera keles.

“Cium dong!” kata beliau.

“Cium?”

“Ayolah biasanya bukankah kamu mencium mamamu sebelum pergi?” tanyanya. Memang sih, setiap kali diantar mama aku selalu diciumnya terlebih dulu. Tapi ini papa! Beliau berkumis tipis, aku sering geli kalau kumis itu mengenai pipiku.

Baiklah, satu ciuman saja nggak apa-apa kan? Akukan anaknya. Wajar dong.

CUP!

“Bye, papa!” aku turun dari mobil dan melambaikan tangan. Setelah itu papaku pergi meninggalkanku dengan mobilnya. Beliau hanya melihatku sesaat.

“Hai Rona!?” sapa Cherry temanku.

“Hai Cher!” balasku.

Dia melihat mobil papaku yang pergi meninggalkanku.

“Tumben diantar bokap lo,” katanya.

“Mamaku sibuk, ada acara show pagi katanya,” jawabku.

“Oh iya. Pagi Indonesia! Acara itu yah. I see. Masuk yuk! Keburu upacara ntar,” ajaknya.

Cherry ini teman sebayaku Rambutnya lebih pendek dariku. Tapi kami sama-sama anak yang ramai. Kami punya kesukaan yang sama, coklat, strawberry dan segala hal yang berbau manis kami suka. Mungkin boleh dibilang kami sangat kecanduan permen. Mungkin karena itulah kami sama-sama manis hihihihi.

* * *

Tak terasa hari sudah siang. Aku dan Cherry berjalan bersama pulang sekolah. “Pulang bareng yuk!?” ajakku.

Aku dan Cherry memang sudah bersahabat sejak SD. Maklumlah kami memang tinggal satu komplek. Jadi kami sudah sering bermain bersama. Dan sureprise kami juga sekolah di satu sekolah yang sama SMP ini. Semoga tetap seperti ini terus. Saat itulah kami berpapasan dengan kakak kelas yang sejak MOS mendekati aku. Namanya Reihan.

Anaknya ganteng sih, kaya juga. Banyak cewek-cewek yang tergoda untuk bisa jalan ama dia. Dia sangat apa ya… boleh dibilang sosok seorang cowok idaman bagi anak-anak remaja seperti aku. Tapi aku koq nggak merasa apa-apa yah? Bahkan ketika cewek-cewek histeris menceritakan tentang tingkah polahya ketika MOS aku cuek aja tuh.

“Hai Rona!? Mau pulang? Bareng yuk?!” ajaknya.

“Oh nggak usah, aku pulang sama Cherry,” kataku.

“Ayolah, Cherry bisa pulang sendiri koq,” katanya membujukku.

Cherry ngikik sambil berbisik kepadaku, “Cieee….ciee yang pedekate.”

“Apaan sih,” aku menyikut bahunya.

“Ayolah yah, sopirku udah siap tuh,” kata cowok ini sambil menunjuk ke sebuah mobil hitam merk Toyota Vios yang terpakir di luar gerbang.

“Nggak deh,” jawabku menggeleng.

Dia menghela nafas kecewa, “Baiklah, lain kalau boleh?”

“Maybe in another world,” kataku.

Dia agak kesal, tapi memaksakan senyum kepadaku. Cowok itu kemudian pergi meninggalkanku begitu saja menuju jemputannya.

“Rona, kamu gila apa? Diajak Reihan malah nggak mau?” tanya Cherry.

“Plis deh Cher, biasa aja napa sih?” tukasku sambil mengangkat bahu.

“Hellooo… lo ini gimana sih? Kurang apa coba tuh cowok? Ganteng, kaya, ramah banget. Dia jadi idola pas MOS dulu kan? Jadi kakak panitia yang paling disukai cewek-cewek,” kata Cherry sambil menepuk jidatku memeriksa apakah aku masih waras ataukah nggak.

Aku menepis tangannya dengan risih. “Aku malah memasukkan dia ke dalam kakak panitia terjutek, terjahat dan tidak kusukai.”

PLAK! Cherry menepok jidatnya.

“Entahlah Ona, kamu ini aneh,” kata Cherry sambil berjalan keluar dari gerbang.

Kami melihat mobil si Reihan tadi sudah pergi. Sesuatu yang tak diduga pun muncul. Dari kejauhan aku melihat mobil yang sangat tidak asing. Sebuah sedan warna silver. Papa????

DIN! DIN! ia mengklakson mobilnya.

“Itu papamu?” tanya Cherry.

“Sepertinya,” jawabku.

“Tumben sekali,” katanya.

“Sepertinya kita tidak bisa jalan bareng deh,” kataku.

“Ayo masuk!” ajak papaku.

“Kenapa papa menjemputku?” tanyaku.

“Nggak boleh? Daripada kamu naik angkot. Ayo! Cherry kamu ikut juga?” ajak papa.

“Boleh om?” tanya Cherry.

“Iya, ikut aja!” kata papaku.

Akhirnya kami berdua naik mobil untuk pulang ke rumah. Aku dan Cherry duduk di belakang.

“Papa nggak kerja?” tanyaku.

“Papa sedang waktunya istirahat, jadinya nggak salah kan kalau jemput anaknya? Lagipula papa khawatir kamu naik angkot kenapa-napa,” jawab papa.

Iya juga sih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*