Home » Cerita Seks Ayah Anak » Kisah Keluarga Citra 10

Kisah Keluarga Citra 10

Cerita Sebelumnya : Kisah Keluarga Citra 9

“Met pagi Tante…… ” Seru Dylan, Johan dan Nando hampir bersamaan. Ketiganya adalah teman dekat Ciello. Teman main, teman belajar, dan teman kenakalan dalam segala hal.
“Eeeh… Iya… Pagi…” Jawab Citra kaget, karena sama sekali tak mengira jika bakal ada yang bertamu dihari yang masih pagi ini. Terlebih saat itu ia hanya mengenakan daster tidur tipis berwarna biru tua, yang terlihat begitu kontras dengan kulit tubuhnya. Buru-buru Citra menyudahi acara berkebunnya dan membasuh tangannya dengan air bersih,

“Ciellonya ada Tant….? CUUUP…..” Tanya Dylan yang kemudian turun dari sepedanya dan mengamit tangan Citra. Lalu dengan lembut, ia menciumnya tangan ibu muda itu sembari terus menatap tubuh indah Citra dari ujung kaki hingga ujung rambut.
“Eh.. Iya… Kami mau ngajak sepedahan Tant…. CUPPP…. ” Tambah Johan yang juga melakukan hal serupa dengan Dylan, ikut mencium tangan tubuh Citra sembari melirik kearah payudara ibu temannya itu lekat-lekat.
“Mumpung libur panjang Tant….CUUUPPP…..” Ucap Nando juga yang ikut-ikutan menikmati sajian tubuh seksi Citra.

“Ooo… Sepedahan… Iya… Ciellonya ada kok… Cuman kayaknya… Jam segini Ciellonya masih ngorok..” Jawab Citra yang cuek menerima tatapan penasaran ketiga teman anaknya, “Bentar ya Tante panggilin… Kalian duduk dulu gih….”
“Eh iya Tante…. ” Jawab Dylan, Johan dan Nando berbarengan, sembari menatap goyangan pantat bulat Citra ketika berjalan mendahului mereka.

“Maaa… ?” Panggil Clara dari arah belakang, keluar dari arah ruang tamu, “Mamaaa….?”
“Ya Sayaaang…..?” Jawab Citra berjalan dari arah taman.
“Clara mau berangkat sekolah nih… ” Seru Clara sambil menjejalkan setangkup roti lapis ke mulutnya dengan tangan kanan, semetara tangan kirinya menenteng sepatu sekolah dan melemparkan keras ke lantai teras.
“Eh kamu udah mau berangkat aja sayang…?”

HAEM…
Jawab Clara sambil menganggukkan kepalanya, berusaha mengunyah roti lapisnya cepat-cepat.

“Iya Mah… Clara lagi ada praktikum pagi… ” Jawab putri Citra itu sembari terus melahap roti lapisnya bulat bulat, membuat pipinya terlihat menggembung penuh.

“Eh iya Sayang… Sebelum berangkat… . Tolong dong sekalian kamu bangunin kakakmu…” Pinta Citra.
“Yah Mama… Clara udah telat nih… ” Tolak Clara, “Keburu angkot langganan Clara lewat… ” Tambah gadis manis itu sembari menggeser kursi kecil di teras dan segera menghemlaskan pantat bulat keatasnya. Dengan cuek, gadis manis itu menaikkan satu kakinya ke dudukan kursi guna mengenakan kaos kakinya
“Bentar aja Sayang….” pinta Citra.
“Yaaaah… Mama aja deeh..” golak Clara sambil terus memasukkan jemari mungil kakinya kedalam kaos kaki.

Melihat Clara sedang mengenakan kaos kaki, ketiga teman Ciello buru-buru memasang mata mesum mereka menatap kearah Clara. Menatap kearah lubang yang tercipta dari bukaan paha putih mulusnya dengan tanpa berkedip sedikitpun.

“Bor liat bor… Paha…” Bisik Dylan sambil sedikit menyikut tubuh Johan yang ada disampingnya.
“Iyeee.. Gw juga ngeliat… ” Sahut Johan
“Buset putih bener yak… ?” wTimpal Nando.

Memang sudah menjadi kebiasaan bagi Clara, ketika akan berangkat sekolah, ia mengenakan sepatu diteras. Duduk di kursi teras di depan pintu ruang tamu sambil mengangkat kakinya tinggi-tinggi. Walau diteras saat itu terdapat orang asing, Clara terlihat begitu cuek, tak mempedulikan jika paha mulus dan celana dalamnya dapat terlihat jelas oleh ketiga teman kakaknya yang berdiri mematung ihadapannya. Melihat ketiga teman kakaknya tak sanggup memalingkan wajah ketika Clara sedang memakai kaos kaki, memuat kejahilan Clara semakin menjadi-jadi. Ketika ia menaikkan kaki ke dudukan kursi, otomatis lutut Clara naik setinggi dagu, dan Clara juga sengaja membiakan ujung roknya turun ke arah selangkangan. Membuat paha puyihnya semakin terlihat jelas oleh mata-mata keranjang ketiga lelaki muda didepannya. Selesai satu kaki, Clara memasang sepatu dikaki satunya. Namun kali ini, ia tak membetulkan roknya. Sehingga rok yang sudah separuh terangkat kesekitar paha, menjadi nsemakin terlihat semua.

“Boor pahanyaaa boooorrr.. ” Seru Dylan lirih sambil kembali menyikut Nando. Dengan mata yang sama sekali tak berkedip, ketiga lelaki itu menikmati suguhan pagi adik kandung temannya.

“Pagi Tanteee Citraaa….. ” Sapa Karnia tiba-tiba keluar dari dalam rumah sambil menenteng sepatu sekolahmya. “Makasih sarapannya ya Tant… Enak banget… ” Kata Karnia sambil duduk disamping Clara dan segera memasang kaos kaki dan sepatu sekolahnya.

“Aaaah cuman roti aja kok…” Senyum Citra.
“Roti juga enak loh Tant… ” Jawab Karnia lagi sambil mengikuti melakukan hal yang serupa dengan Clara.

Ia juga duduk di kursi teras dan juga menaikkan kakinya setinggi dudukan bangku. Setelah itu ia mengakan kaos kaki dan sepatunya. Ia juga Cuek ketika kaki jenjangnya terpampang jelas dihadapan ketiga teman kakak sepupunya.

“Karn… Nanti aku pinjem PR sejarahnya ya… ” Ucap Clara sambil berdiri dan menjejak-jejakkan sepatunya ke tanah. “Aku belom sempet ngerjain…”
“Iyaaa.. Siiippp.. ” Jawab Karnia yang juga ikut bangkit dari duduknya dan menepuk-tepuk pantat bulatnya.

“Maaa… Clara berangkat dulu yaaa…” Pamit Clara.
“Karnia juga pamit dulu Tant…” Susul Karnia

“Hhhhh…. Jadi beneran nih nggak mau ngebantu Mama buat ngebangunin kakakmu…?”
“Ahhh… Mama aja deh… Clara buru-buru….”
“Yaudah deh… ” Jawab Citra sembari menghela nafas, “Kalian ati-ati dijalan ya… Biar Mama yang ngebangunin Kak Ciello….”
“Hihihihi….Seeep… Mama aja yaaa… Clara beneran buru-buru nih Maa… ” Ucap Clara sembari menyambar tangan Citra. Lalu dikecupnya pelan, “CUUUP…. Clara berangkat dulu ya Mamaa Clara yang paling semok dan menggairahkan…. “Seru Clara sembari meremas pantat Citra kuat-kuat dengan tangan kirinya,
“Aaauuwww… Claaraaaaahhh….”
“Hehehehe… Biar Mama kangen terus ama Clara…. ” Seru Clara sembari mundur dari cubitan Citra, “Ayo Karn…”
“Eeeh iya… Permisi… Karnia berangkat dulu ya Tanteee.. CUUUPPPP…”

“Permisi Mas… ” Kata Clara ketika akan melewati mereka, namun karena ketiga pemuda itu masih melongo melihat keseksian dan kenakalan Clara kepada ibunya, mereka hanya diam. Mematung dengan mata melotot menatap kearah dua gadis jelita di hadapannya.

“Per… Mi… Si…. Mas… ” Ulang Clara ketus.

“Eh I… Iya… ” Jawab ketiga teman Ciello sambil tak henti-hentinya menatap kedua gadis belia yang berdiri di depan mereka.
“Minggir dikit dong…. Clara mau lewat….”
“Ehh.. I… Iyaa.. Silakan dek…” Jawab Johan sambil menyuruh kedua temannya menepi, memberi jalan kepada kedua gadis SMA yang mau lewat itu.

Melihat tingkah remaja dihadapannya, Citra hanya bisa tersenyum sambil menggelengkan kepala.
“Kalian duduk dulu aja ya… Tante bangunin Ciello dulu….”

***

Sekali lagi, Citra masuk ke dalam kamar putranya. Walau menggunakan AC, kamar itu masih saja pengap, dengan semerbak aroma sperma yang masih tercium pekat. Jemari lentik Citra lalu meraih remote AC, dan segera menekan tombol off. Kemudian, ia menyibakkan tirai dan membuka jendela. Mempersilakan segarnya udara pagi masuk kedalam kamar putranya.

“Hhhh… Ciello Ciello…. Jadi anak kok cuek banget sih…?” Geleng Citra begitu melihat kondisi kamar putra kandungnya yang begitu berantakan.

Sejenak, Citra duduk ditepi ranjang, menatap lekat-lekat tubuh putranya yang masih sama seperti semalam. Telanjang bulat tanpa ditutupi sehelai pakaian pun. Dengan lembut, Citra mengusap rambut dan kening Ciello.

“Ciello… Bangun sayang…” Ucap Citra lirih sembari mengusap wajah putranya lagi.
“Zzzzz…. ” Ciello tak merespon, ia masih terlelap dalam tidurnya.

Melihat tak ada gerakan dari putranya, ulah iseng Citra kembali muncul. Ia kemudian mengusap bagian tubuh putranya yang lain.

Mulai dari usapan di wajahnya yang tampan, dadanya yang bidang, ketiaknya yang ditumbuhi bulu lebat, lengannya yang kekar, perutnya yang mengotak, hingga ke arah penis putranya yang masih menjuntai lemas.

“Oh… Kontol Ciello… ” Lenguh Citra dalam hati sembari mengingat kejadian mesum semalam, “Benar-benar kontol yang menggoda…” Batin Citra sambil memberanikan diri untuk kembali menyentuh penis putranya.

Namun, kali ini, Ciello sepertinya lebih sadar daripada semalam.

“Eehhh… Mama… ” Ucap Ciello lirih begitu merasakan senyuhan lembut jemari ibunya pada batang penisnya.
“Eh… Pa.. Pagi sayang… ” Ucap Citra kaget.
“Pagi Maa… Uuuuugggghhhh….. ” Balas Ciello sambil merenggangkan tubuh telanjangnya.

Melihat putranya meregangkan tubuh, seketika membuat mata Citra kagum. Terutama akan batang penisnya yang masih menjuntai lemas diantara selangkangannya.

“Ciello .. Yuk… Bangun sayang…. Temen-temen kamu udah pada nungguin dibawah tuh…” Ucap Citra sembari mengusap paha Ciello. Mengusap area yang terpaut beberapa cm dari pangkal penis putranya.
“Ah Mama… Bentaran ah… ” Ucap Ciello cuek, tak mempedulikan tangan Citra.
“Ayo aaah… Bangun… Udah siang iniii…… ”
“Iya Mamaaaa…. Nanti…”

Merasa dicuekin, ide gila pun muncul di otak Citra. Dengan santai, Citra kemudian menyentuh batang penis putranya yang masih tergolek lemas, lalu mengurutnya perlahan…
“Ayo Sayang bangun ah… ” Ucap Citra lirih sembari terus menggerakkan tangannya naik turun.
“Uhh… Mama…” Lenguh Ciello keenakan.
“Yuk… Ditunggu temen-temen kamu tuh…”
“Uhhh… Iya Maa… Sebentar….”

Merasa keenakan, Ciello pun menempatkan kedua lengannya dibelakang kepala dan melihat kearah tangan Citra yang makin sibuk mengurut batang penisnya. Dengan sigap, Ciello juga membuka kedua kakinya supaya makin mempermudah ibunya dalam memberikan kenikmatan paginya.

“Oohh… Mamaaa..” Lenguh Ciello.
“Kenapa Sayang….?”
“Kalo cara Mama ngebanguninnya kaya gini… Ciello mau tuh bangun pagi mulu…”
“Iya ya… ? Enak ya Sayang…?”
“Iya Maaa… Bener deh… ” Ucap Ciello sambil semakin melebarkan kakinya, memamerkan kantung zakarnya yang menggantung lemas. Kemudian masih dengan posisi bersandar dengan satu kanan, Ciello menjulurkan tangannya kebawah, kearah lutut Citra. Lalu dengan santai, ia mengusapi lutut ibu kandungnya itu dengan gerakan melingkar.

“Hihihi… Bisa aja kamu Sayang… ” Tawa Citra pelan,
“Heheh.. Serius Maa.. Apalagi kalo tiap pagi Ciello bisa ngeliat senyum cantik mama…. Ciello bakalan rajin deh bangun paginya…”
“Iya ya…? Apalagi kalo ngebanguninnya pake ngocokin kontol kaya gini ya Sayang…?”
“Hehehe… Ssshhh… Iya Maa… Uuuuuggghh… Terus Maa…” Ucap Ciello sambil merem melek keenakan.
“Enak ya Sayang…?”
“Oooohhmm…. Banget Maa… Ssshhh…. Enak banget…. Terus Maa… Kocok yang kenceng…” Ucap Ciello lagi sembari mulai merabai lutut dan paha Citra.
“Kalo gini…?” Tanya Citra sembari mempercepat gerakan tangannya. Tak lupa ibu kandung Ciello itu juga memijat buah zakarnya pelan.

“Ssshh….Ooohhh… Ehemmmhh.. Makin enak Maa… Rasanya tenaga Ciello jadi makin terkumpul… ” Lenguh Ciello keenakan.
“Hihihi… Mukamu kalo lagi horny lucu banget Sayang…” Goda Citra.

Melihat reaksi Mama Ciello yang sama sekali cuek akan rabaan tangan putranya membuat Ciello semakin berani. Putra kandung Citra itu pun mulai mengusapi paha mulus mamanya itu dari lutut hingga kepangkal paha. Bahkan ketika tangan Ciello mulai menyusup kearah celana dalam Citra, Citra hanya diam saja. Bahkan Citra malah tersenyum tipis sembari menatap sayu kearah putranya.

“Eeeh… Tangan kamu mau ngapain Sayang…?” Tanya Citra.
“Hehehe… Nggg…. Boleh ya Ma…?” Jawab Ciello.
“Boleh apa…?”
“Nggg… Boleh….. Nggg….Megang memek Mama….”
“Hmmm… Megang memek Mama…? Buat apa…?”
“Buaaat…. Nggg.. Buat supaya Ciello bisa cepet keluar Maa…”
“Kamu mau ngecrot….?”
“Bentar lagi Maa… Boleh ya Maa….?” tanpa menunggu jawaban mamanya, Ciello mulai menyusupkan jemarinya kedalam sela-sela celana dalam Citra.
“Hmmm… Boleh nggak yaaa…? ” Goda Citra sambil memelintir batang penis putranya, memberikan kenikmatan pagi pada putranya.
“Ooohh… Mamaaaa…. ” Lenguh Ciello yang semakin berani, mulai mengulik bibir vagina Citra yang juga semakin basah. “Memek kok Mama udah becek Maa…..?”
“Uuuhh… Jangan digelitikin Sayang….”
“Nggak apa-apa Maa…. Mama ngocokin kontol Ciello…. Ciello juga ngobelin memek Mama…. Ooohh… Enak Maa….” Rintih Ciello sambil mengejangkan batang penisnya.
“Memek Mama makin basah nih Ma….”
“Iya Sayang….Ooohh… ” Desah Citra yang sepertinya mulai terlena dengan permainan jari Ciello.

Merasa kobelan Ciello yang semakin menggairahkan, Citra memejamkan mata. Berusaha sedikit menikmati permainan nakal putra kandungnya. Perlahan, ia menggigit bibir bawahnya.

“Mama cantik sekali Ma…” Ucap Ciello, “Seksi….” Tambahnya lagi sembari menyusupkan dua jari tangannya ke dalam vagina Citra.
“Eeehhmmmm….. Hhhhh….” Lenguh Citra pelan.
“Uuuhhh…. Memek Mama makin basah Ma…. ” Ucap Ciello lagi, “Mama terangsang ya…? Mama juga suka ya ngocokin kontol Ciello… ? Uhhh… Mama Nakal Maa….. Enak ya Maa….?”

Alih-alih menjawab semua pertanyaan Ciello, Citra tiba-tiba meremas kuat buah zakar Ciello hingga tubuh putra kandungnya itu menegang.

“AAAAADDDAAAAAAAWWWWW…. MAMAAAAAAA…. SAAAAKIIITTTT… ” Ucap Ciello yang buru-buru mencabut tangannya dari liang vagina Citra. Ia lalu bangun dari posisi tidurnya dan menepis tangan mulus Citra dari penisnya. “SAAAKKIIIIITTTT MMAAAMMMMAAAA…..”

“Dasar ANAK BANDEL…..” Seru Citra, “Makanya… Kalo Mama minta sesuatu… Langsung dikerjain… Bukannya malah minta yang aneh-aneh…” Ucap Citra sambil beranjak dari duduknya dan melangkah keluar kamar.
“Aduuuuuhhhh…. Sakkkiiiitttt Maaaaaa……” Rintih Ciello.
“Ayo buruan siap-siap… Temen-temen kamu pada udah nungguin dibawah tuh…”
“Pecah dah telor Ciello….. Aduuuhhh… Saaakiiit Maaa….”
“Hihihi… Rasain…..”
“Mama tega ihhhhsss… Bisa rusak ini pabrik pejuh Ciello… Ucap Ciello sambil mengusap dan meniup-niup area selangkangannya. Berharap dengan tiupannya, ngilu penisnya bisa segera sembuh.

“Abisan iseng sih… Pake ngobel-ngobel memek Mama segala….” Jawab Citra yang kemudian bangkit dari duduknya dan pergi meninggalkan putranya.

***

“Tunggu yaaa…. Ciellonya masih siap-siap… ” Kata Citra yang tak berapa lama kemudian sudah kembali ke teras rumahnya. Membawa nampan berisikan sekotak biskuit dan beberapa minuman segar, “Nih… Kalian minum dulu aja…. Kalian pasti haus… ” Tambah Citra yang kemudian meletakkan nampan itu kemeja teras.

Karena posisi meja teras yang agak rendah, mau tak mau membuat Citra agak membungkuk ketika meletakkan nampannya. Membuat belahan payudara besarnya yang tanpa bra, dapat terlihat dengan jelas. Bahkan sekilas, puting payudara Citra yang berwarna cokelat muda terlihat mengintip manja dibalik daster tipis mininya.

GLEK…

Bak tenggelam dalam lautan birahi, ketiga teman Ciello itu mendadak merasa kesulitan untuk bernafas.
Bagaimana tidak? Mendapat pemandangan pagi dari tubuh Citra yang begitu menggairahkan, membuat ketiga pemuda tanggung itu hanya bisa melongo. Menatap tubuh sintal yang hanya dibalut oleh daster tipis berukuran mini, ditambah dengan kilasan-kilasan payudara telanjang berukuran ekstra besar yang seringkali mengintip diantara lubang daster, membuat penis-penis Dylan, Johan dan Nando seketika menggeliat di balik celana ketat mereka.

“Eeeh… Kalian kok pada bengong…?” Seru Citra membuyarkan lamunan jorok ketiga teman putranya, “Ayo dimakan itu cemilannya….” Tambahnya lagi sembari duduk diantara ketiga teman putranya.
“Ehhh.. I… Iya Tante….” Jawab Nando kaget sambil berusaha menutup tonjolan di selangkangannya.
“Maa… Makasih Tant… Kok malah jadi ngerepotin gini…” Tambah Dylan yang juga bertingkah serupa.

“Hihihi… Lucu juga nih tingkah cowok-cowok muda kalo lagi mupeng….” Seru Citra dalam hati sambil melihat kearah selangkangan ketiga teman putranya yang menggembung besar. “Godain aahhh….”

“Aaaahhh… Enggak kok… Kebetulan…..Si Om baru pulang dari luar kota… Jadi ya ada oleh-oleh… Hihihi…” Senyum Citra sembari duduk sambil menyilangkan kakinya. Cuek memperlihatkan paha putih mulusnya.
“Waah…Makasih Tante…” Seru Johan.
“Hiyaaa… Ayo… Habisin itu cemilan… Biar kalian kuat ngegenjotnya….Hihihi…”

“Ngegenjot…? ” Tanya mereka bertiga serempak.
“Iya… Ngegenjot sepedanya… Kalian abis gini mau sepedahan bukan…?”
“Ooww.. Ngegenjot sepeda… ” Jawab mereka bertiga hampir bersamaan. “Kirain ngegenjot yang lain….”
“Eeehh… Kirain apaan…?” Tanya Citra sok bingung, “Idiiihh… Jangan-jangan kalian mikirnya beda nih…”
“Hehehe… Maklum Tant… Habisan pagi-pagi udah disuguhin pemandangan bidadari cantik, jadi mikirnya agak laen… Hehehe… “Jawab Dylan menggoda Citra
“Bidadari cantik…? ” Tanya Citra mengambil cemilan sambil sedikit merubah posisi duduknya. Membuat bawahan daster mininya semakin terangkat naik dan memamerkan paha putihnya yang mulus tanpa bulu sedikitpun.
“Iya… Tuh… Bidadarinya sekarang mau ngemil biskuit.. ” Jawab Dylan lagi.

Memang, diantara mereka bertiga, dylanlah yang paling berani dalam hal apapun, termasuk dalam hal menggoda wanita, Dylan yang lebih tua, memiliki lebih banyak pengalaman.

“Aduuuh… Bidadari itu maksudnya tante ya…. ?” Tanya Citra pura-pura nggak ngerti. “Aaahh.. Kamu tuh ya bisa aja… Hihihihi… ” Tambah Citra sambil menepuk paha Dylan, “Wuih… Kaki kamu keras banget ya… Pasti kuat banget nih ngegenjot sepedanya…”

“Ah Tantee….. Jangankan ngegenjot sepeda Tant… Ngegenjot yang lain juga kuat kok… ” Jawab Dylan sambil melirik kearah vagina Citra…
“Ngegenjot yang lain…? Ihhh… Jorok yaaaa… Pagi-pagi dah berpikiran mesum…”
“Lohh… Maksudnya… Dylan juga kuat kok Tant… Ngegenjot becak… Atau Odong-odong…”
“Owww… Odong-odong… Naik turun dong… Hihihi…” Jawab Citra sembari kembali mengusap paha Dylan lebih naik lagi. Membuat suasana di teras itu semakin memanas.

“Hehehe… Iya naik turun… Kaya yang sering Tante ama Om lakuin…”
“Heeeeeeh… Lakuin apa’an…?”
“Naik odong-odong Taaanteeee… Hehehe…. Dulu khan wakyu Tante ama Om masih kecil, pasti sering khan naik odong-odong….?”
“Huuu… Jaman dulu mah belom ada odong-odong kalii…”
“Yaaaaah….. Nggak bisa naik turun dong Tant…? Hehehe….”

“Kamu tuh yaa.. Masih kecil udah mesum aja…” Cubit Citra kearah paha dalam Dylan.
“Uuuuhhh…. Hehehe… Habisan tante cantik deh… Jadinya khan Dylan mikir mesum mulu… ”
“Emang iya…? “Tanya Citra kearah Nando dan Johan yang sedari tadi diam mendengarkan rayuan Dylan,”Emang tante Cantik….?”

” I… Iya tante… Tante cantik…… Seksi juga ” Jawab Nando dan Johan yang malu-malu sambil menutupi tonjolan yang semakin membesar diselangkangan mereka.
“Tuh khan Tant… Bener apa kata Dylan… Ngeliat tante Bidadari… Mereka juga nanti bakal jadi kuat juga tuh ngegenjotnya….”

“Ngegenjot sepeda khaaan…?” Goda Citra lagi..
“Iyalah Tant… Ngegenjot sepeda…… Masa ngegenjot Tante Citra… Nanti bisa-bisa kami dimarahin ama si Om… Hehehe…”
“Yeeeee.. Enak aja mau ngegenjot Tante…? Kaya mampu aja kalian…. Hihihihi…”
“Yaaah…. Kalo nggak dicoba… Mana kita tahu Tant… Hehehe…” Jawab Dylan makin berani.
“Iiihhhhsss… Kamu tuh ya…. Nakal banget…. ” Jawab Citra sambil kembali mencubit paha Dylan.
“Uuuhhhh….. Hehehe… Becanda kali Tant…”

“Eh iya… Si Om kemana Tant.. Kok sepi..?” Tanya Johan
“Ooow.. Si Om masih tidur… ” Jawab Citra
“Loh.. Si Om nggak kerja Tant….?” Sahut Nando
“Enggak… Si Om cuti hari ini…. Mau istirahat dulu… Maklumm… Si Om kecapekan…”
“Kok kecapekan Tant…? Pasti kerjanya jauh ya Tant….?” Tanya Johan lagi
“Hhhhmmmmmm… Enggak sih… ”

“Ah lo bego bener sih Jo… Si Om kecapekan tuh abis ngegenjot tante taaauuuuk… Ya khan Tant…” Ucap Dylan vulgar, “Si Om semalam…. Pasti abis ngasih jatah… Jadinya pagi ini masih tidur…… Hehehe…”

“Husssh… Jatah apaan…? Kaya kalian ngerti aja urusan orang dewasa…. Hihihi….”
“Hehehe… ngerti lah Tant… Khan kami juga udah dewasa….”

“Ahhh…. Udah-udah… Kalo ngobrol ama Dylan terus…. Jadi kasian tuh ama temen-temen kamu…” Ucap Citra sambil melirik kearah Nando dan Johan.
“Haa….? Kasian…? Kasian kenapa Tant….?” Tanya Dylan.
“Iya.. Kasian….. Karena ada yang kecepit… Pasti sakit tuh… ” Ucap citta sambil menunjuk arah selangkangan Johan dan Nando dengan bibirnya.
“Ooooowww…… Hahaha… Tante ngerti aja…”
“Tante khan juga punya anak cowok seusia kalian… Jadi kalo ngobrolin hal-hal yang mesum… Pasti nggak bakalan bisa bentar… Hihihi… “Senyum Citra yang kemudian beranjak dari tempat duduknya dan kembali ke halaman. “Udah ya… Tante mau ngurus taneman dulu…..”
“Yaaaah…. Tante…. Kok udahan sih…. Nanggung nih….” Seru Dylan.
“Hihihihii… Biarin…. Biar kalian sekalian kentang…. ” Jawab Citra yang kemudian duduk di kursi jongkoknya.

Rumah Citra adalah rumah cluter yang antara satu rumah dan lainnya tanpa dibatasi pagar. Yang ada, hanya tanaman yang sengaja ditumbuhkan sebagai pembatas rumah.

Begitupun dengan rumah Citra. Sisi paling kiri, adalah ruang tamu dan teras yang dipercantik dengan 4 buah kursi kecil yang melingkari sebuah meja kotak rendah. Bagian tengah rumah adalah ruang tengah dan bagian paling kanan adalah garasi. Teras dan halaman hanya dibatasi oleh beberapa pot yang berderet rapi dengan bunga rimbun yang telah tumbuh sekitar 60 cm, cukup mampu memberi privasi bagi siapapun yang duduk disitu.

“ASTAGA BOOORRR…. PAHA TANTE CITRA….” Seru Johan girang, sambil menunjuk kearah Citra yang sedang mengurus tanamannya.
“Busyeeet… Mulus bener yak….?” Seru Nando tak kalah girang.
“Seneng banget tuh kunyuk Ciello punya mama kaya tante Citra yak….?” Iri Dylan.

Karena Citra sedang mengurus tanaman di sisi sebelah kiri rumah, Dylan, Johan dan Nando tak henti-hentinya menatap kearahnya. Terlebih karena adanya tanaman rimbun yang memisahkan mereka, membuat mereka bertiga semakin berani mengintip segala aktifitas seksi Citra.

Dengan cuek, Ibu Ciello itu duduk di kursi jongkok yang membuat Citra susah menyembunyikan kemulusan kulit paha dan selangkangannya. Terlebih karena bawahan dressnya yang super pendek, membuat selangkangannya dapat terlihat dengan mudah oleh ketiga teman Cielo.

“BUSYEEETT BOOORR…. CELANANYA JUGA KELIATAN….” Girang Johan lagi.
“Iya Jo… CELANA MILF tuh…. ” Seru Nando.
“Busyeettt…. Mulus bener ya bor itu paha… Selangkangannya juga putih..” Seru Dylan.
“Memeknya juga Boorr…. Gemuk bener daah… ”

Citra yang sibuk merawat tanaman, sama sekali tak menyadari dengan tatapan mesum ketiga teman anaknya itu. Terlebih, karena hari masih pagi, membuat dirinya sama sekali cuek dengan pakaian yang ia kenakan. Daster tipis hitam, berbahan sutra, dengan bukaan dada rendah. Membuat penampilan Citra pagi itu, mampu membangkitkan gairah ketiga teman Ciello dengan mudah.

Dan ketika Citra berpindah tempat untuk mengurus tanaman yang dekat dengan teras, tingkah ketiga teman Ciello itu semakin belingsatan. Karena Citra yang masih duduk di kursi jongkoknya masih tak menyadari dengan tatapan mesum ketiga teman putranya itu, ia masih cuek saja duduk secara asal-asalan. Tak mempedulikan bawahan daster mininya yang tak mampu menutupi paha maupun celana dalam yang membungkus gundukan vaginanya.

Selain itu, karena posisi tanaman yang cukup rendah, Citra harus sering membungkukkan badan guna dapat mengaduk tanah atau menggunting daun tanaman. Membuat payudaranya yang berukuran besar itu bergoyang dan bergelantungan seiring aktifitasnya ketika berkebun.

“Ehh… Ehh… Teteknya juga keliatan Booor….”
“Iya… Bener… Bussyeeetttt…. gedhe banget tuh tetek….”
“Pasti puas tuh dikenyot-kenyot….”
“Putingnya juga nyempil tuh….”
“Coklat muda Borrr… Enak banget tuh kalo digigit-gigit…”
“Sumpah…. Bidadari banget dah tuh Tante Citra….”
“Hiya… Udah Baek… Cantik… Semok… Seksi pula…. ”
“Pantesani Om Mike kecapekan pagi ini… Dia pasti puas banget tuh…. Semalaman nyodokin memek gemuk Tante Citra Yak…?”
“Busyeeet… Seneng banget deh Ciello punya Mama seseksi dia….”

“Iya yak… ” Seru Dylan, “Eh… Kok gw sekarang jadi pengen ngentotin itu Tante Citra yak….?” Bisik Dylan sembari mengelus batang penisnya yang sudah terlihat semakin menonjol di celana sepedanya.
“Lohh…? Sama Borr…. Gw juga pengen nyodokin tuh memek….” Sahut Nando yang merogoh batang penisnya. Berusaha membetulkan posisinya yang tertekuk.
“Sama ngegenjot teteknya juga…. Sepertinya bakal makin enak tuh…” Tambah Johan yang menyibakkan tanaman depan teras rumah, guna dapat melihat pemandangan tubuh Citra lebih dekat.

“Ehh… Boorr… Lihat nggak….?” Tanya Dylan tiba-tiba sambil menyibakkan tanaman penisah teras lebih lebar lagi.
“Apaan…?”
“Lihat tuh memek…. ” Bisik Dylan, “Kok mengkilap ya….?”
“Eh iya…. ”
“Basah tuh Boor….” Seru Nando
“Basah….?”
“Iya… Tuh… Lihat…. Ditepi celana dalem Tante Citra seperti ada lendir-lendirnya…”
“Waaah… Dia sange Booorrr…. ” Jawab Johan, “Tante Citra pasti lagi sange….”
“Anjriiiitttt…. Jadi beneran pengen ngentotin tuh MILF gw Booorr….” Bisik Dylan, “Tante…. Memeknya Dylan sodok pake kontol Dylan yaaa….” Tambahnya lirih.
“Iya Booorr… Gw juga pengen…. Pasti rapet banget tuh memek…. Legit….” Bisik Nando dan Johan hampir berbarengan.

“WOI WOOOI WOOOIII….. Pada ngapain kalian bertiga jongkok-jongkok aneh begitu…?! ” Tanya Ciello lantang sambil menimpuk ketiga temannya dengan biskuit yang ada diatas meja. “Kalian semua sedang ngintipin mama gw ya…?”
“Eh….. Ngintipin..? Enggak kok… Enggak…” Jawab Dylan Nando dan Johan hampir berbarengan.
“Kalo nggak ngintipin… Ngapain juga kalian bertiga disitu….?”
“Eh… Ini… Lagi ngeliat taneman….”

Karena penasaran, Ciello segera berjalan menuju mereka. Dan benar. Disitu ia dapat melihat pemandangan tubuh ibunya yang dapat dengan mudah terlihat keseksiannya. “Aaaahhh… Kampret… Bilang ngeliat taneman…. Taneman apa yang bikin kontol lo-lo pada ngaceng semua heee….?” Omel Ciello, “Bilang aja lo semua ngintipin Mama gw….”
“Hehehehe… Maaf Booorr… Habisan Mama lo cantik banget….” Jawab Nando cengengesan.
“Iyaaa… Mama lo seksi beneerrr….” Balas Dylan.
“Enak banget deh lo punya mama seseksi Tante Citra….” Iri Johan

“Aaah… Udah-udah… Nggak usah ngebahas Mama gw… Ini kalian jadi sepedahan nggak..?”
“Eh I.. Iyalah… Jadi Boorrrr…”
“Yaudah kalo jadi… Ayo buruan jalan…” Ucap Ceillo sambil berjalan kehalaman dan memutar kearah garasi.

Melihat Ciello menghilang, lagi-lagi ketiga teman Ciello itu melanjutkan acara mesumnya. Berusaha mengintipnya tubuh seksi Citra sekali lagi.

Namun, sebelum sempat mereka mengintip, Ciello sudah keluar dari garasi.

“WOOOIIII…. KAMPREEETT…. AYO BERANGKAT…..” Panggil Ciello sambil menuntun sepedanya keluar dari halaman rumah. “KALO MASIH NGINTIPIN MAMA GW…. GW ANCUR-ANCURIN INI SEPEDA….” Serunya lagi sembari menabrak-nabrakkan sepedanya kearah sepeda ketiga teman mainnya.
“Iya… Iyaaaa…..”

Melihat emosi putra semata wayangnya, Citra pun kaget. “Heeeehhh… Cielloooo… Pagi-pagi udah bikin ribut aja Sayang….?”
“Si kunyuk-kunyuk itu ngintipin Mama….”
“Haaah…. Mereka ngintip….?” Tanya Citra kearah ketiga teman Ciello.
“Enggak tante…. Kami nggak ngintip kok….”

“Aaaahh kunyuk…. Nggak ngintip tapi kontol lo-lo pada ngaceng semua….” Ketus Ciello.
“Huuusssh…. Ciellloooo… Nggak boleh bilang gitu ah…..” Ucap Citra sembari buru-buru memeluk tubuh putranya erat. Membuat payudara bulat besarnya juga menangkup dan ikut memeluk tangan kiri Ciello. Membuat iri ketiga temannya.
“Aaah… Mama… Risih aaah….” Gerutu Ciello
“Heeeeehhh… Biarin risih…. Yang jelas…. Anak Mama…. Nggak boleh berkata kasar seperti itu yaaaa….” Tambahnya lagi sambil terus mengusap punggung Ciello.

“HHhhhhhhhh….. Iye Mamaaa…. ” Jawab Ciello sambil menarik nafas panjang, “Udah ya Mama Cantiiikkkk…. Ciello mau sepedahan dulu….” Jawab Ciello yang buru-buru mengamit tangan Citra dan menciumnya pelan.

“Heh… Kunyuk… Ayo berangkat….” Ajak Ciello kearah ketiga temannya.
“Eh … I…. Iya bentar… ” Jawab mereka bertiga bingung.
“Mau ngapain lagi sih….?” Sewot Ciello.
“Mau pamitan dulu Booorr…” Jawab Dylan sambil buru-buru mengamit tangan Citra dan menciumnya pelan. Diikuti oleh Johan dan Nando yang juga melakukan hal serupa.

“Sebelum naik sepeda… Benerin dulu itu kontol kalian….” Saran Ciello singkat, “Jangan dibikin ngaceng mulu….”
“Huuusshh… Ciello…. Omongannyaaa….” Tegur Citra, “Jangan marah ya kalo maen ama Ciello…. Anaknya memang cemburuan seperti itu….” Tambah Citra sembari melirik kearah tonjolan yang masih terlihat di selangkangan Nando, Dylan dan Johan.
“Iya Tant… Kami udah biasa kok….” Jawab Nando.

“Yaudah…. Sekarang kalian benerin dulu itu tit…. Eh…. Emmmm…. Kontolnya…. ” Ucap Citra pelan, “Khan nggak enak kalo ngegenjot sepeda sambil ngaceng seperti itu…. Berasa ada yang ngeganjel khan ya…. ? Hihihihi….”
“Iiihh… Mama Apaan sih….?” Protes Ciello.
“Hehehe…. Iya..Tant…. ” Jawab mereka bertiga kompak sambil tak malu-malu memasukkan tangannya kearah celana mereka. Merogohmembetulkan posisi batang penis mereka yang masih mengeras tegang.
“Eeeh… Kamu juga sayang…. ” jawab Citra sembari bergerak ke belakang tubuh Ciello, lalu dengan santai memasukkan tangan mulusnya ke selangkangan Ciello, ” Kamu juga harus benerin dulu tuh kontolnya Cielloooo…. Biar kontol kamu… Nggak ketekuk-tekuk pas ngegenjot nanti…”

“Iiihhss Mama…. Ngapain ihh pake ngebenerin kontol Ciello segala….”
“Hihihi… Itu tanda kalo Mama perhatian ama kamu Sayaaang….”
“Perhatian mah nggak sampe segitunya juga kali Maaaa….” Jawab Ciello yang membalas perlakuan Citra, ia menjulurkan tangannya kebelakang tubuh Citra yang masih menempel ke punggungnya dan meletakkan di kedua buah pantat ibunya. Lalu tanpa basa-basi, Ciello menarik maju tubuh Citra hingga menabrak kedepan. Ciello yang ditubruk Citra dari belakang buru-buru menempelkan punggungnya ke payudara besar Citra sembari meremas kuat-kuat kedua buah pantat ibunya itu.
“Iiihhhh….. Sayaaanggg…. Sakit aaah…..” Ucap Citra manja sembari mencubit-cubiti pinggang putranya.

“Udah-udah… Kalo becandaan mulu ama Mama… Nggak berangkat-berangkat ini aku….” Seru Ciello yang segera melepaskan diri dari dekapan Citra. “Yuk Borr.. Kita jalan….” Tambah Ciello.

Alih-alih mendapatkan jawaban dari Nando, Dylan ataupun Johan, Ciello hanya mendapatkan reaksi mematung dari ketiga temannya.

“Haaaaaahhhhh….” Seru mereka bertiga dengan wajah melongo kaget.

“Hihihihi…. Ternyata kalian semua tuh lucu-lucu ya…?” Jawab Citra sembari tertawa renyah, “Udah-udah… Sana buruan jalan…. Ntar malah kesiangan loh…”

“WOOOIIY KAMPREET… AYO JALAN….” Teriak Ciello kencang kearah ketiga temannya.
“Eehh.. Iya.. Iya… Yuk….” Jawab mereka bertiga kaget, “Eh.. Mari tante… Kami jalan dulu yaaa….”
“Hihihi….Iyaa…. Hati-hati naek sepedanya ya sayang….”

“Iya Mamaaaaa Caaantiiiiikkkkk…. ” Jawab Ciello, Dylan, Nando dan Johan hampir berbarengan.

bersambung,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*