Home » Cerita Seks Mama Anak » Dosa dan Kenikmatan 2

Dosa dan Kenikmatan 2

“Ray…. ”

Yang di panggil, buru-buru menyelesaikan mandinya, dan setelah selesai mandi, dia segera mengenakan pakaian, lalu membuka pintu kamarnya. Di luar sesosok bidadari sudah menunggunya, berdiri hanya mengenakan celana pendek berbahan levis dan kaos tanpa lengan berwarna putih yang menempel erat di tubuhnya, membuat dadanya yang ranum semakin menonjol kedepan.

Pemandangan tersebut membuat sang pemuda tampak terhipnotis sejenak.

“Apa liat-liat ? gak perna liat cewek cantik ya ?” Umpat Rati saat mengetahui mata nakal Adiknya, yang di umpat hanya tersenyum cengengesan.

“Eh maaf Kak, habis Kakak cantik banget pagi ini.”

“Gombal… ” Jawabnya, tapi dia senang juga karena mendapat pujian sepagi ini. “Udah yuk, nanti gue telat, uda di tungguin ni sama yang lain.” Ajak Rati, pemuda yang bernama lengkap Rayhan itu mengangguk lalu berjalan mengikutinya.

Sudah hampir dua bulan Rati dan Mamanya tinggal di rumahnya Rayhan, dan selama itu juga Rayhan di jadikan sebagai asisten pribadinya Rati, segala sesuatu yang berhubungan dengan Rati, Rayhan pasti di ikut sertakan.

Seperti hari ini, Rati rencananya mau belajar bareng bersama sahabatnya, dan Rayhan di minta untuk menemaninya.

Sebenarnya Rayhan juga tidak mau, bagaimanapun juga dia punya acara sendiri, tapi Kakaknya Rati punya kartu as untuk memaksanya menuruti kemauan sang Kakak. Mau tidak mau, dari pada di aduhin ke orang tuanya, Rayhan lebih memilih menuruti kemauan Kakaknya.

<><><><>

Dari kejahuan Julia tersenyum melihat kedekatan kedua anaknya, walaupun sedikit lucu melihat Rati yang sedikit memaksa adiknya, tapi begitulah Rati, dia bukan tipe orang yang mudah memperlihatkan bentuk kasih sayangnya.

Julia menutup pintu rumahnya, lalu dia berjalan kebelakang rumahnya, duduk bersantai kemudian menghidupkan tv.

“Ini Bu susunya.”

“Loh, kok kamu yang nganterin susunya ?” Tanya Julia, ketika melihat Lukman yang membawakannya susu, bukan Mbak Noni yang biasanya mengantarkan minuman.

“Soalnya Noni lagi sibuk di dapur Bu.”

“Oh ya sudah kalau begitu, terimakasi ya Man.” Ujar Julia, menerima susu pemberian Lukman, dia mencoba mencicipinya dan rasanya enak, tidak terlalu manis tapi juga hambar, sangat sesuai dengan seleranya.

“Kalau begitu saya permisi dulu ya Bu.”

“Eh tunggu Man, sini duduk di dekat saya, temenin saya ngobrol ya, bosen dari tadi sendirian.” Cegah Julia, ketika Lukman hendak beranjak pergi.

“Mau ngobrol apa Bu, saya ada salah ?”

“Gak ada yang salah, sini duduk dulu, kitakan gak perna ngobrol selama saya tinggal dirumah ini.” Setengah memaksa, Julia menarik tangan Lukman untuk duduk di sampingnya.

Lukman sendiri sebenarnya merasa agak segan kalau harus duduk di samping majikannya, bagaimanapun juga dia hanyalah pembantu di rumah ini, rasanya tidak pantas kalau harus duduk berdua di sofa dengan majikannya, apa lagi Julia seorang wanita berkerudung, membuatnya semakin merasa segan.

Tapi kalau sudah di paksa mau bagaimana lagi, akhirnya Lukman duduk di samping majikannya.

“Oh iya kita belom kenalan secara resmikan ?” Ujar Julia, lalu dia menyodorkan tangannya. Lukman yang tidak mengerti awalnya hanya diam. “Saya Julia, kamu ?” Tanya Julia sambil menatap pembantunya.

“Luk… Lukman Bu.” Jawab Lukman gugup, menyambut uluran tangan Julia.

Tangan itu rasanya lembut sekali, halus seperti kain sutra, belum lagi kulitnya yang putih, membuat dada Lukman terasa gemetar, seumur-umur baru kali ini dia menyentu kulit semulus Julia.

“Hei, kok bengong.” Tegur Julia, buru-buru Lukman menarik tangannya. “Kamu sudah berkeluarga ?”

“Udah Bu, tapi Istri sama anak saya tinggal di kampung.”

“Oh iya, emang kamu gak kangen ?”

“Kangenlah Bu, tapi mau gimana lagi, kalau saya gak kerja di sini, anak istri saya makan apa Bu.” Tentu saja Lukman merasa rindu dengan keluarganya, tapi dia tidak punya pilihan lain kecuali bekerja dengan keluarga Adam.

“Saya mengerti kok Man, terkadang saya juga kangen sama Suami saya.”

“Kok bisa Bu ?”

“Kamukan tau sendiri, Suami saya sering pergi keluar kota, padahal bisa di bilang kami ini pengantin baru, seharusnya saat ini adalah masa-masa indah kami.”

“Saya bingung Bu harus ngomong apa.” Jawab Lukman sambil menggaruk-garuk kepalanya. “Tapi yang sabar ya Bu, saya doain biar segera berisi, biar gak kesepian lagi.” Sambung Lukman, tapi matanya tidak bisa lepas memandang wajah majikannya, yang menurutnya begitu cantik.

Bodoh sekali Adam, wanita secantik Bu Julia sering ia tinggalkan, kalau senadainya saja Bu Julia Istriku, pasti aku tidak akan perna meninggalkannya barang semenitpun, pasti akan kusodok terus walaupun dengkulku sampe copot. Gumam Lukman, membayangkan Julia menjadi Istrinya.

“Ngisi gimana maksud kamu Man ?” Tentu saja Julia mengerti arti ucapan Lukman, tapi entah kenapa, sisi liarnya jadi ingin menggoda pembantunya.

“Aduh masak gak ngerti si Bu.”

“Beneran, saya gak paham maksud kamu.”

“Jadi gini Bu, maksud saya semoga Ibu cepat hamil, biar gak kesepian, di temanin dedek bayinya.”

“Ehmm… gimana mau hamil Man, di tidurin aja jarang, kamu tau sendiri Suami saya itu yang ada di otaknya cuman kerja, di rumah saja dia masih sibuk kerja.” Kesal Julia, tanpa ia sadari, Julia mulai membuka aib rumah tangganya sendiri. Dan sebagai seorang laki-laki yang sudah berpengalaman tentu saja Lukman tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk menggoda majikannya.

“Maksudnya, di tidurin gimana si Bu ?” Giliran Lukman yang dengan sengaja ingin menggoda majikannya.

“Kayak gak ngerti aja Man, itu loh, maksud saya ML.” Jelas Julia malu-malu, tapi entah kenapa dia merasa.deg-degkan saat mengucapkan kata ML di hadapan pembantunya.

“ML ? Maksud Ibu ngentot ?”

“Ya, kira-kira begitulah.”

“Ah Ibu, ngomong kayak gitu aja pake malu-malu segala, biasa aja kok Bu, kita sudah sama-sama dewasa.”

Julia hanya bisa tersenyum menutupi rasa malunya, bagaimanapun juga dia bukan wanita sembarangan, membicarakan urusan ranjang dengan pembantunya sendiri, tentu saja membuatnya merasa risih, tapi di sisi lain dirinya, dia merasa senang bisa berbicara sebebas ini dengan pembantunya, tanpa harus ada batasan-batasan.

<><><>

Setibanya di kossannya Auryn, Rati langsung bergabung bersama ketiga sahabatnya. Kazia yang melihat kedatangan ratih, langsung menepuk-nepuk tempat kosong yang ada di sampingnya. Rati langsung menghampiri Kazia dan duduk disampingnya.

“Rat, Adek kamu mana ?” Tanya Cherly.

“Ada dia nunggu di mobil tuh.”

“Ajak kesini dong, gue kangen sama Adek loh ?” Seru Cherly, sambil memeluk lengan Rati. Dari awal bertemu, Cherly yang memang tidak memiliki adik laki-laki, langsung jatuh hati kepada adiknya Rati.

“Iya di suruh masuk aja Rat, kan lumayan ada yang di kerjain.” Celetuk Auryn bersemangat.

“Parah, masak adek gue lo kerjain juga.”

“Gak apa-apalah Rat, kan di kasi enak juga.” Celetuk Kazia, yang biasanya selama ini selalu diam, kini ikut angkat suara mendukung rencana sahabatnya.

<><><>

Sementara itu di rumah, Julia semakin merasa nyaman di dekat pembantunya, beberapa kali ia di buat tertawa oleh lelucon-lelucon kecil yang berbau mesum yang di lontarkan oleh Lukman kepadanya.

“Kalau saya yang jadi Bapak, gak bakalan saya sering-sering pergi ninggalin Ibu di rumah.” Ucap Lukman dengan pedenya, Julia hanya tersenyun geli mendengarnya.

“Emangnya kamu mau ngapain Man ?”

“Saya bakalan kurung Ibu di kamar, terus… aah… gak bisa di bayangin de Bu.”

“Lah, ngapain kamu kurung Ibu di kamar ?”

“Ya buat saya sodok la Bu sampe bunting, sampe saya benar-benar puas, wanita secantik Ibu sayang kalau di anggurin begitu saja.” Ucap Lukman yang semakin berani, sementara Julia yang mendengarnya hanya bisa bengong doang. Menyadari kesalahannya, Lukman buru-buru meralat ucapannya barusan “Maksud saya, kalau Istri saya secantik Ibu, pasti bakalan saya kurung di dalam kamar.” Lanjut Lukman.

“Hahaha… bisa habis dong badan Ibu.”

“Yang pentingkan enak Bu.”

“Sesuka kamu ajalah Man, hahaha… ”

“Hehehe… ya udah de Bu, saya kebelakang dulu, masi ada pekerjaan yang harus saya selesaikan.”

“Kok buru-buru banget Man ? Emang mau ngerjain apa ?”

“Lama-lama di dekat Ibu saya jadi gak kuat hehe… ”

“Huh, dasar kamu Man, sana kelarin dulu.” Ucap Julia, dia sangat mengerti maksud dari Pembantunya itu.

<><><>

Di lain tempat, Rayhan tampak begitu gelisa, dia kesal tapi juga senang bisa mengenal teman-teman Kakaknya. Apa lagi, ketiga sahabat Kakaknya seksi-seksi, terutama Kak Cherly, yang hanya mengenakan kaos merah ketat di padu dengan rok yang super mini, sedikit gerak saja, Rayhan sudah dapat melihat paha mulusnya plus celana dalamnya kalau lagi beruntung.
Saat ini dia sedang berada di dapur, sedang membuatkan minuman untuk mereka yang sedang mengerjakan tugas. Sebenarnya dia tidak mau melakukannya, tapi lagi-lagi Kak Rati berhasil memaksanya.

“Uumm… tehnya wangi dek.”

“Eh Kak Auryn, ngagetin aja.”

“Kok gitu aja kaget.” Goda Auryn, lalu gadis cantik itu merangkul pundak Rayhan, wajahnya sengaja ia dekatkan kewajah Rayhan, sehingga pemuda itu dapat mendengar deruh nafas Auryn dan membuatnya sedikit gugup, apa lagi lengannya beberapa kali menyentuh payudarah Auryn.

“I… iya Kak, soalnya gak tau Kakak datang. Eehm… mau bantuin bikin teh ya Kak.” Harap Rayhan, semoga saja dia mau membantu membuatkan teh, ya minimal nemeninlah.

“Ye… enak aja, ni Kakak mau ke wc kebelet pipis tau.” Katanya, sambil menggoyang-goyangkan pinggulnya. Bikin gemes tau… gumam Rayhan kesal.

Rayhan meringis, sambil memandang kecewa kearah Auryn yang berlalu kekamar mandi, dia sempat melirik kearah pantat Auryn yang padat berisi. Tapi lima menit kemudian Auryn kembali keluar dari kamar mandi, masih dengan memakai kemeja biru langit di padu dengan dengan celana jeans, tapi ada yang beda kali ini dari Auryn yang sebelum dan sesudah dari kamar mandi.

“Liat apa Dek ?”

“Eh gak liat apa-apa Kak.” Buru-buru Rayhan mengalikan pandangannya kearah lain.

“Kakak temenin aja ya.” Ujar Auryn, lalu mengambil kursi plastik dan duduk di dekat Rayhan yang sedang mengaduk teh.

Entah kenapa acara ngaduk-mengaduk menjadi terasa.lebi lama, dan Rayhan beberapa kali ketangkap basah melirik kearah Auryn yang sedang memainkan hpnya

“Kok lama banget Ray ?” Seru Charly, yang tiba-tiba berada di dalam dapur.

“Hmm… ini Kak, udah jadi kok minumannya.” Jawab Rayhan semakin gugup. Sekali lagi sebelum berlalu Rayhan melihat kearah Auryn.

Dia memandang lurus kearah selangkangan Auryn, yang termyata resletingnya lupa di tutup, membuat Rayhan tampak gugup sambil memandangi celana dalam Auryn yang berwarna merah tua yang sedikit menerawang.

Lalu dengan tangan gemetaran Rayhan hendak membawa nampan keruang depan dengan perlahan, sementara sherly dan Auryn menyusul di belakangnya.

“Ryn, releting lo kebuka ?” Bisik Sherly di belakangnya.

“Oh ya, hihihi… jadi malu gue Sher.”

“Huh, dasar loh.” Umpat Sherly.

Setelah selesai membuat teh hangat, Rayhan kembali keruang depan, lalu meletakan minuman di hadapan mereka. Kak Rati sempat melirik Rayhan sebentar, lalu tersenyum.

Setelah meletakan nampan kelantai, Rayhan kembali.melirik kearah Auryn yang masih berdiri di sampingnya, ketika Rayhan menoleh ke samping kanan, dia langsung berhadapan dengan selangkangan Auryn yang di balut celana jeans super ketat dan dalam keadaan resleating terbuka.

Sejenak Rayhan beradu pandang dengan Auryn, dan gadis keturunan chinese itu tersenyum manis kearahnya, dan bukannya merasa senang, Rayhan malah semakin gugup di buatnya.

Tak lama.kemudian, keempat bidadari itu berubutan menuangkan teh kedalam gelas mereka masing-masing, sampe Rayhan gak kebagian. Nasib… bahkan ampas tehnya saja tidak di sisakan sama mereka berempat, padahal Rayhan bersusah paya membuatnya, tapi dia hanya kebagian aromanya saja.

“Eh bentar ya, aku ambilin cemilannya dulu di dapur.” Ujar Sherly, lalu dia segera kembali kedapur. “Dek… tolong dong ambilin, tangan Kakak gak nyampe ni.” Pekik Sherly dari dalam dapur.

Rayhan mendengus kesal, tapi dia tak berani membantah, karena di situ ada Kakaknya.

“Apa yang bisa Ray bantu Kak.” Tanya Rayhan sambil melihat Sherly yang sedang memposisikan kursi pelastik di depan lemari penyimpanan.

“Tolong kamu pegangin kursinya.”

“Iya Kak.”

Rayhan sedikit membungkuk, sambil memegangi kursi plastik. Lalu Sherly berpegangan di pundaknya dan naik keatas kursi tersebut, dia berdiri membelakangi Rayhan yang sedang membungkuk sambil memegangi kursinya, padahal kursi tersebut tanpa harus di pegangpun cukup kuat untuk menahan bobot Sherly yang hanya 55kg.

Dengan sedikit berjinjit Sherly mencari cemilin diatas rak peralatan dapur milik Kazia.

Gleeek… terdengar suara seseorang menelan air liur, dan itu pelakunya adalah Rayhan. Tentu saja dia tidak tahan melihat pemandangan yang di suguhkan di hadapannya saat ini dan siapapun kalau berada di posisi Rayhan, pasti juga akan mengalami hal yang sama ketika di hadapannya ada bongkahan daging yang tampak padat di tutupi celana dalam berenda bewarna putih.

“Dek… Adek !” Panggil Cherly beberapa kali.

“Ah i… iya Kak.” Jawab Rayhan gugup.

Sherly tersenyum manis kearahnya. “Kamu jongkok aja, biar gak capek megangin kursinya.” Ujar Sherly memberi usul, lalu dengan perlahan Rayhan menuruti perintah Cherly.

Ketika ia berjongkok, posisi Rayhan kini lebi renda dari pantat Cherly, sehingga dia lebi leluasa memandangi selangkangan Cherly. Mau tidak mau, junior Rayhan yang tadi sempat mengkerut kini kembali bangun dengan gagahnya.

Tentu saja Rayhan begitu leluasa memandangi pantat Sherly yang di balut celana dalam bewarna putih dari bawah, karena posisi Sherly yang membelakanginya, sehingga dia tidak perlu takut kalau nanti sampai ketahuan oleh pemiliknya. Bahkan samping leluasanya, Rayhan masih sempat membenarkan posisi si junior yang mengganjal di celana jeans yang ia kenakan.

“Ada.gak Sher ?” Tanya Kazia yang tiba-tiba sudah berada di belakang mereka.

Rayhan sangat terkejut melhat kehadiran Kazia yang berada di belakangnya, dia berfikir jangan-jangan Kak Kazia sudah lama berada di belakangnya dan dia tau kalau Rayhan sedang memperhatikan pantat Sherly.

“Itu loh Sher di pojok kanan.” Tunjuk Kazia, lalu dia maju selangkah, dan kemudian dia membungkuk ikut memegangi kursi yang sedang di naiki Sherly.

“Gak ketemu ni.” Jawab Sherly.

Sementara Rayhan di buat kebingungan antara ingin memilih mengintip rok Sherly atau mengintip dada Kazia yang terpampang di hadapannya.

Kazia yang mengenakan kaos longgar tidak menyadari kalau posisinya yang membungkuk sambil memegangi kursi membuat Rayhan dapat melihat gunung kembarnya yang mengintip malu-malu dari cela lehernya yang jenjang, apa lagi Kazia tidak mengenakan bra pelindung payudarahnya, sehingga Rayhan juga dapat melihat putting yang kecoklatan.

“Capek,.lo simpan di mana si ?” Ucap Sherly, lalu dia turun dari atas kursi.

Rayhan mendesah kecewa, karena dalam sekejap pemandangan indah itu mendadak menghilang dari pandangannya, padahal dia sangat menikmati keberuntungannya hari ini.

“Kayaknya di rak yang samping itu deh, yang paling pojok dekat dinding.!” Tunjuk Kazia kearah rak yang berada paling pojok dari yang lainnya.

“Kamu aja Dek yang ngambilin.”

“Eh… iya Kak.”

Kemudian Sherly kembali kedepan, tinggal Rayhan dan Kazia. Lalu Kazia kembali membungkuk sambil memegangi kursi yang sedang mau di naiki Rayhan. Ketika Rayhan menaiki kursi tersebut, lagi-lagi matanya mencuri pandang kearah payudarah Kazia yang berbentuk bulat menantang.

“Kamu cari aja dulu ya, Kakak mau pipis ni.”

“I… iya Kak, biar aku aja ngambilin cemilannya.”

Kazia tersenyum, lalu dia masuk kedalam kamar mandinya. Sementara Rayhan yang berdiri sangat dekat dengan pentilasi kamar mandi Kazia, tidak sengaja melihat Kazia berada di dalam kamar mandi.

Lalu selanjutnya Rayhan benar-benar mengintip aktivitas Kazia yang berada di dalam kamar mandi. Mula-mula Kazia hanya berdiri mematung menghadap kearah pentilasi tempat Rayhan yang sedang mengjntip, lalu tiba-tiba Kazia membuka celana jeans yang ia kenakan.

Dengan gerekan perlahan Kazia menarik turun celana jeansnya, membuat Rayhan nyaris tidak bisa bernafas sanking gugupnya, melihat celana jeans tak berdosa itu turun dengan perlahan, meninggalkan selembar kain berbentuk segitiga berwarna hitam yang sedang berjaga melindungi bukit kecil yang bersembunyi di baliknya.

Jantung Rayhan berdetak kencang, nafasnya tersengal-sengal seperti orang habis lari meraton.

Pemandangan selanjutnya semakin membuat Rayhan gugup, tat kala Kazia duduk di atas closet, lalu dengan perlahan menarik turun celana dalamnya, hingga sebatas betisnya. Beberapa detik kemudian “Seer…. seeerr…. seeeeeeeeeerrrrrrr…. ” Terdengar desiran air kecing Kazia saat menyembur kedalam closet.

“Eheeem… ” Terdengar suara teguran dari belakang.

Pelan, tapi pasti Rayhan memutar kepalanya kebelakang dan dia hanya bisa berdiri mematung sambil menutup mulutnya dengan telapak tangannya saat melihat Auryn berdiri di dekatnya sambil berkacak pinggang.

“Turun.” Ujar Auryn dengan suara datar tapi mengandung ancaman yang sangat menakutkan.

Dengan terpaksa Rayhan turun dengan perlahan dan menunduk di hadapan Auryn, dia tidak berani memandang wajah Auryn, ada.ketakutan di dalam dirinya kalau nanti Auryn mengadukan perbuatannya kepada Kakaknya. Bisa-bisa Kakaknya akan semakin membenci dirinya.

“Berlutut.”

“Maaf Kak.” Desah Rayhan, lalu dia berlutut di hadapan Auryn.

“Angkat kepala kamu.”

Rayhan tidak berani membantah, dia terlalu ketakutan untuk tidak menuruti perintah Auryn. Perlahan dia mengangkat wajahnya, dan saat itu juga dia kembali di buat terkagum-kagum, di hadapannya dia melihat resleting Auryn yang ternyata belum di tutup, hingga celana dalam merahnya masih terlihat jelas di matanya.

“Tutupin, atau aku aduhin kamu sama Kak Rati.” Ancam Auryn sambil membelai kepala Rayhan.

Dengan tangan gemetar, Rayhan mencoba menarik resleting celana Auryn, tapi Rayhan mengalami kesulitan, hingga dengan terpaksa dia sedikit menekan bagian bawah selangkangan Auryn untuk mempermuda dirinya

“Hhmmm… ” Desah Auryn ketika Rayhan menekan selangkangannya.

Sreeeet.. .

“Su… sudah Kak.”

“Bagus, teriamakasi ya.”

“Tapi aku gak akan di aduhin sama Kak Ratikan ?” Tanya Rayhan takut-takut kalau nanti sampe di aduhin.

“Tergantung, kalau kamu mau nurut, gak akan Kakak Aduhin,.”

“I… iya Kak, aku akan nurut.”

“Gimana Ray, uda ketemu cemilannya ?” Tiba-tiba Kazia keluar dari dalam kamar mandinya, untung Kak Kazia tidak melihat, kalau tidak urusannya akan semakin runyam. Pikir Rayhan sambil melihat kearah Kazia.

“Ehmm… enggak ketemu Kak.” Jawab Rayhan. Gimana mau ketemu kalau di cari aja gak.

“Ya gak bakalan ketemulah, orang Kakak baru ingat kalau cemilannya habis. hihihi… ” Tawa Auryn. “Ya uda, kedepan yuk.” Ajak Auryn sambil menarik tangan Rayhan.

Selamat, pikir Rayhan sambil berjalan berdampingan dengan Kazia, lalu di belakangnya Auryn tampak tersenyum bahagja dengan apa yang barusan terjadi antara mereka.

Aku terus berlari, ketika hujan mulai turun semakin deras, padahal sewaktu pulang sekolah tadi, aku tidak melihat kalau ada tanda-tanda hujan akan turun selebat ini, tapi sudah kepalang tanggung kalau mau kembali kesekolah, dan aku terpaksa harus mencari tempat berteduh lainnya.

Rasanya aku sedikit menyesal, karena tidak pulang dengan taxi, dan malah memili berjalan kaki.

Kulihat tidak jauh dari tempatku berlari, ada sebuah gedung yang belum selesai di bangun, tapi sudah di tinggal pergi oleh tukangnya.

“Ray, tungguin dong !”

“Hahaha… ayo buruan, hujannya nanti makin deras loh.” Panggilku, sambil terus berlari menuju sebuah bangunan yang sudah tidak terpakai.

“Jahaaat… ! Aku capek tau.”

“Baru segitu aja udah capek, ayo cepetan, aku tinggal ni.” Lagi aku memanggilnya, tapi gadis lucu itu malah berhenti di tenga-tenga hujan deras.

Ya… aku tau kalau sudah seperti ini, tandanya kalau dia sedang merajuk, apa lagi ketika dia sudah mengembungkan kedua pipinya. “Iya… iya… !” Kataku, lalu aku menghampirinya.

“Jahaat… aku benci Rayhan.” Rengeknya seperti biasa, kalau ia sedang merajuk.

Aku tersenyum, lalu mengamit tangannya dan kemudian tanpa berkata lagi, aku mengajaknya kesebuah bangunan yang tertinggal. Setibanya masih tetap berpegangan tangan, kami berdiri berdampingan sambil memandangi langit yang tak henti-hentinya memuntahkan air kebumi, yang beberapa bulan terakhir belum perna tersentuh air.

Kembali dalam diam, aku melirik sahabatku, dia tampaknya sedang kedinginan, ingin rasanya kupeluk dia, untuk berbagi kehangatan.

Oh iya yang di sampingku ini namanya Clara Synta, tapi aku biasa memanggilnya dengan nama “Cinta” Dan panggilan itu hanya khusus untukku seorang, bahkan pacarnya sendiri memanggil dirinya dengan nama Clara. Aku baru mengenalnya ketika pertama kali aku masuk sekolah, dan semenjak itu hubungan kami sangat dekat.

Jujur, aku tidak tau apakah aku mencintainya ? Tapi yang pasti aku sangat menyayanginya, walaupun sekarang aku suda resmi berpacaran dengan Ayu, tapi bagiku dia adalah sahabat yang baik, walaupun aku sempat kecewa ketika aku tau dia sudah punya pacar.

“Lama ya… aku kedinginan.” Ujarnya lirih.

“Eh… iya, kamu gak apa-apakan ?” Tanyaku sedikit merasa khawatir.

“Hassiiimm… ” Dia bersin, sepertinya ingin flu. “Aku takut… !” Bisiknya.

Lalu tanpa berfikir panjang, aku langsung menarik dirinnya kedalam pelukanku. “Jangan takut, aku ada di sini.” Kataku, sambil terus memeluknya dan membelai kepalanya yang tertutup kerudung berwarna putih.

“Janji ya, Rayhan gak akan perna ninggalin Cinta.”

“Iya Cinta, aku akan selalu di sini, di sampingmu sampai kapanpun.” Jawabku pelan, nyaris tak terdengar, tapi aku yakin dia pasti bisa mendengarnya.

“Kalau bohong, Rayhan matinya di tabrak mobil.”

“Iya… aku berjanji.”

Pelukan kamipun semakin erat, rasanya hangat, bahkan terlalu hangat untuk membuatku merasa nyaman ketika berada dekat dengannya.

Hampir satu jam lamanya kami berpelukan, hingga akhirnya hujan mulai berhenti, tapi rasanya aku tidak ingin berhenti memeluknya, karena di saat seperti ini saja aku merasa dia benar-benar menjadi milikku.

“Ayo pulang.” Kepalanya mendongak keatas, lalu memandangku.

“Yuk… ”

++++

Sesampainya di rumah, aku langsung masuk kedalam kamarku, mengganti pakaian, lalu tiduran di tempat tidurku lalu membuka hpku dan ternyata ada bbm masuk, setelah aku buka ternyata ada pesan dari Cinta.

Cinta :”DINGIIIIN”
Rayhan :”Gitu aja kedinginan, manja banget si ”
Cinta :”Cinta benci Rayhan”
Rayhan :”Hahaha… !”
Cinta :”Jangan lupa ya, prnya di kerjain, aku gak bisa ngerjain tugas bareng di rumah Rayhan, kepalaku sakit ni”
Rayhan :”Bereeees”
Lalu kembali kuletakan hpku di atas meja, dan mulai mengingat kembali kejadian tadi siang, hingga akhirnya akupun tertidur.

+++

Tok… tok… tok…

“Dek… banguuun di tungguin Mama tu.”

“Ya Kak, sebentar.” Lalu segera aku bangun dari tempat tidurku, dan segera membukakan pintu kamarku, ternyata Kak Rati masih berdiri di depanku.

“Ayoo turun.”

“Eh… iya !” Segera aku menyusulnya, turun kebawah lalu menuju kedapur.

Sebenarnya aku merasa aneh kalau melihat Kak Rati begitu baik kepadaku, karena biasanya dia sangat judes, dan tidak mau perduli dengaku, tapi kali ini, dia mendatangi kamarku hanya sekedar untuk mengajakku makan malam, dan mau menungguku.

Setibanya di ruang makan, aku duduk bersebrangan dengan Mama dan Kak Rati. Awalnya tidak terjadi apapun, dan aku makan dengan sangat lahap, hingga akhirnya trang terdengar suara yang jatuh.

“Dek, tolong dong ambilin sendoknya.” Pinta Kak Rati, mau gak mau aku menuruti kemauannya.

Aku turun dari kursiku, lalu merunduk masuk kedalam meja, kulihat sendok malang itu berada dekat dengan kakinya Kak Rati, tapi ketika aku ingin mengambil sendok tersebut, tiba-tiba kaki Kak Rati menginjak sendok tersebut, sehingga aku urung mengambilnya, dan hendak ingin protes kepadanya.

Tapi belum sempat aku protes, Kak Rati memberiku suguhan indah di balik rok mininya. Sumpah demi apapun, saat aku mengangkat kepalaku, kulihat selangkangan Kak Rati yang tertutup kain segitiga berwarna hitam, diapit sepasang paha mulus tanpa cela.
Anjriiittt… di kerjain lagi

Aku tidak berbuat apa-apa, kecuali menikmati pemandangan yang di berikan oleh Kakak Tiriku.

“Sendoknya udah ketemu belom dek ?”

“Be… belom Kak, gak tau ni sendoknya ngumpet kemana.” Jawabku, sambil melototi selangkangan Kak Rati sambil memeramas-remas penisku dari luar celana.

“Cari sampe dapet ya.”

“Iyaaa Kak.”

Lalu pandanganku beralih ketempat lain, dan ternyata, selain Kak Rati, Mama juga ternyata ikut memanjakan mataku dengan menunjukan selangkangannya di depanku, tapi aku yakin, kalau yang satu ini pasti tidak sengaja, karena aku hanya bisa melihat sedikit saja.

Karena tidak tahan, kubuka sedikit celana pendekku, lalu tanganku dengan cepat mengocok penisku sambil melihat kerah selangkangan Kak Rati dan Mama.

Semakin lama aku semakin cepat mengocok, hingga akhirnya aku tidak kuat lagi dan memuntahkan spermaku di lantai. Setelah merasa puas, buru-buru kutarik sendok yang berada di kaki Kak Rati, lalu aku kembali kekursiku “Ini Kak seeen… !” Mama berdiri, lalu membantu Mbak Noni membereskan meja makan.

“Buruan makannya di habisin, piringnya mau di cuci.” Kata Mama, tanpa melihatku.

Segera aku memakan makananku, sambil melihat kearah Kak Rati yang sedang senyam-senyum sendiri. Jangan-jangan Mama juga tau, kalau aku tadi mengintip celana dalamnya.

++++

ada brondong tua tebar-tebar pesona
sukanya daun muda, dia lupa usia
ada brondong tua, funky abis gayanya
sukanya hura-hura, happy aja maunya
brondong brondong tua, jelalatan cari mangsa
keluar masuk lubang buaya, jadi santapan wanita-wanita muda
brondong brondong tua, jelalatan cari mangsa
keluar masuk lubang buaya, jadi santapan wanita-
wanita muda

Dengan suara yang begitu merdu, seorang gadis muda bergoyang di atas panggung, menghipnotis sebagian besar pengunjung, yang sedang menikmati suara dan goyangan erotisnya yang tidak kalah dari penyanyi-penyanyi dangdut lainnya.

Tidak heran, kalau para pengunjung berebut ingin menyawer dirinya, apa lagi saat bergoyang tak jarang pengunjung dapat melihat dalaman yang di kenakan sang penyanyi, walaupun ia mengenakan hotspan berwarna hitam.

ada brondong tua tebar-tebar pesona
sukanya daun muda, dia lupa usia
ada brondong tua, funky abis gayanya
sukanya hura-hura, happy aja maunya
brondong brondong tua, jelalatan cari mangsa
keluar masuk lubang buaya, jadi santapan wanita-wanita muda
brondong brondong tua, jelalatan cari mangsa
keluar masuk lubang buaya, jadi santapan wanita-
wanita muda

Ayu menunggingkan sedikit pantatnya, ketika seorang penonton berdiri di belakangnya, tidak mau kalah dengan pedangdut Zaskia gotik, Ayu melakukan gerakan yang sama, yaitu goyang itik.

Tentu saja pria yang berada di belakangnya sangat senang, bahkan dia mengambil kesempatan, dengan memegang pinggulnya, lalu menggesekan penisnya di pantat Ayu. Bukannya marah, Ayu malah semakin mendorong kebelakang pantatnya.

Ketika ia menyelesaikan nyanyinya, beberapa penonton tampak begitu kecewa, dan memintanya untuk tetap bernyanyi.

“Hebaaat… saya gak nyesel jadiin kamu sebagai bagian dari artis saya.” Celetuk seorang wanita paru baya yang tampak puas melihat penampilan artisnya.

“Mami bisa aja ni.”

“Hahaha… tapi beneran loh, kamu itu memang hebat, suara kamu bagus dan goyangan kamu sangat memabukan.” Pujinya lagi, membuat Ayu merasa malu sendiri karena terlalu sering di puji.

“Oh iya, Mami hampir lupa, sini ikut Mami sebentar.”

Ayu segera mengikuti majikannya, turun dari atas panggung. Dan ternyata di belakang panggung ada seorang pria paru baya, yang tampak senang ketika melihat Mami membawa artisnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*