Home » Cerita Seks Mama Anak » Dosa dan Kenikmatan 1

Dosa dan Kenikmatan 1

Sekilas tentang diriku, namaku Rayhan Khoirul Anam, usiaku saat ini 14 tahun masih duduk di bangku SMP. Ketika aku berumur 12 tahun, kedua orang tuaku bercerai, aku sendiri tidak tau permasalahannya, tapi seingatku Mama yang meminta cerai dari Papa. Tentu saja keputusan mereka membuatku kecewa, tapi apa yang bisa di lakukan anak remaja sepertiku.

Dua tahun setelah perceraian kedua orang tuaku, Papa menikah kembali dengan seorang wanita yang menurutku sangat cantik sekali. Katanya dia menikah karena di jodohkan oleh guru spiritualnya.

Jujur aku senang sekali saat melihat mereka bersanding, beberapa kali aku melihat kearah Mama yang terbalut gaun pengantin berwarna putih di padu dengan kerudung putih, dia terlihat sangat anggun dan cantik sekali, begitu beruntungnya aku bisa memiliki Ibu secantik dia.

“Kamu kenapa sayang ?” Tegur Mama.

Buru-buru aku mengalihkan pandanganku kearah lain, pasti sekarang mukaku memerah karena malu kepergok sedang memperhatikannya.

“Kamu senangkan, Mama menikah sama Papamu.” Tanyanya lagi dengan ekspresi penuh tanda tanya, aku mengangguk sembari tersenyum untuk menyakinkannya kalau aku menerimanya menjadi pengganti Ibu kandungku.

“Terimakasi ya Mah sudah mau jadi Mamanya Ray.”

“Iya sayang, Mama juga seneng banget bisa jadi Mama kamu, jadi anak yang baik ya, buat Mama bangga, jangan jadi anak yang nakal.” Pesannya, aku meringis menahan senyum sanking senangnya.

“Kalau aku nakal ?”

“Mama akan hukum kamu, kalau kamu nakal.” Ujarnya sambil memasang wajah galak, tapi aku tau dia hanya sekedar bercanda denganku.

“Pengeeeen… ” Jawabku, sambil cengegesan.

“Dasaar !” Lalu Mama mencubit pipiku.

“Aduh… duh… Ampuuun Ma !” Aku meringis, sambil memohon ampun, Mama tertawa lucu melihat tingkah konyolku kepadanya.

“Makanya jangan godain Mama terus.”

“Iya Mamaku yang cantik hehe !!”

“Ya udah yuk, kira nyambut tamu dulu.” Kata Mama, lalu kami berdiri, dan menyalami semua tamu yang hadir di pernikahan kedua orang tuaku.

Dan hari itu adalah hari yang terindah dan paling bahagia yang perna kurasakan setelah perceraian kedua orang tuaku. Dan untuk pertama kalinya setelah perceraian itu, Papa bisa.kembali tersenyum bahagia. Tapi kebahagian itu sirna setelah beberapa bulan kemudian, ketika aku tau dia telah mengkhianati kami.

Pov Rey

Aku berdiri disamping Mama tiriku, menyambut setiap tamu yang ingin memberi selamat kepada mereka berdua. Beberapa temanku juga hadir di acara pernikahan orang tuaku yang diselenggarakan secara sederhana.

Tak terasa waktu terus bergulir, hingga acarapun berakhir. Papa dan Mama segera menuju hotel diantar mobil untuk berbulan madu, sementara aku dan Kakak tiriku memutuskan untuk segera pulang dan beristirahat di rumah.

Selama di perjalanan didalam mobil, tak ada satu kata pun yang terucap di bibirku, jujur bukan aku tak ingin menyapanya, tapi aku merasa sangat gugup, ini untuk pertama kalinya aku berada dalam satu mobil dengannya, sesekali aku hanya berani mencuri pandang kearahnya yang tampak sibuk bermain game di hpnya.

Entah kenapa jantungku berdetak semakin kencang, aliran darahku terasa memenas ketika mataku menangkap wajahnya yang rupawan, sumpah demi apapun, Kakak tiriku ini memang sangat cantik, pipinya tirus, alis matanya yang lentik, dan bibir tipisnya yang berwarna pink mampu menggetarkan hatiku.

“Liat apa kamu ?” Bentaknya, aku tergagap karena ketangkap basah sedang menatapnya.

“Eng… enggak liat apa-apa kok Kak.” Jawabku lirih.

“Awas ya kalau berani macam-macam, saya aduhin kamu sama Mama biar kamu di hukum.” Ancamnya sambil menunjuk kearah hidungku. Sumpah saat itu dia terlihat sangat menakutkan, bahkan kedua kakiku sampe gemetaran.

“I… iya Kak.”

Hening, Kak Ratih kembali sibuk dengan hpnya, sementara aku hanya bengong celingak celinguk melihat pemandangan di balik jendela mobil. Tak lama kemudian mobil berjalan pelan memasuki perkarangan rumahku, dengan cepat Pak Jono bergegas membukakan pagar rumah.

Segera aku turun dari mobil, tapi ketika hendak ingin berlalu kedalam rumahku, tiba-tiba Kak Ratih memanggilku.

“Ray, tolong dong bawain koper Kakak.” Pintanya. Aku bengong, walaupun aku tau kalau dibelakang bagasi memang ada kopernya Kak Ratih, karena mulai hari ini ia bersama Ibunya akan tinggal dirumah kami, tapi yang membuatku gagal paham kenapa dia memintaku yang membawakannya, bukankah ada Pak Jono atau Pak Rusman sopir kami.

“Aku maunya kamu yang ngangkatin koperku, masak aku minta mereka bawak koperku kekamarku, gak enaklah.” Katanya, seolah mengerti apa yang kupikirkan.

Aku mendesah pelan, aku tau ini bukanlah tugasku, tapi mau gimana lagi, aku tidak mau ribut dengannya. Segera kuambil kopernya, ternyata cukup berat, entah apa yang ada didalam kopernya, sehingga terasa begitu berat.

Aku sedikit kesulitan saat menaiki anak tangga sambil membawa kopernya, sementara Kak Rati sudah jauh di depan, kulihat Kak Rati yang mengenakan rok mini tidak menyadari kalau aku yang berada di belakangnya dapat melihat celana dalamnya yang berwarna cream, karena rok mini yang ia kenakan melambai-lambai kearahku, aku sempat tertegun sejenak, hingga ia menghilang dari pandanganku. Huff… aku kembali melangkahkan kakiku menaiki anak tangga, walaupun dengan bersusah paya akhirnya aku bisa menapakan kakiku ke anak tangga terakhir. Kulihat Kakak tiriku telah lebi dulu masuk kedalam kamarnya, kamar yang dulunya adalah milikku, kini menjadi miliknya.

“Ini Kak kopernya.” Kataku sambil meletakan koper besar itu disamping lemari.

“Sekalian aja Dek di beresin, Kakak mau mandi dulu panas ni.” Dia mengibas-ngibaskan leher kebayanya seolah ia merasa begitu gerah, padahal ac di dalam kamar dalam keadaan menyala.

“Ya Kak, aku juga capek.” Aku mengeluh.

“Cuman sebentar Kok, ingat aku ini Kakak kamu.” Katanya mengintimidasiku, aku hanya tertunduk lesu. Kalau bukan karena dia anak dari Istri Papaku, mungkin sekarang aku sudah pergi meninggalkannya sendirian.

Kembali kupandangi dirinya, dan lagi-lagi aku terhipnotis dengan kecantikannya, dan tanpa ia sadari aku sangat menikmati dirinya yang sedang mengibas-ngibaskan kerah kebayanya, hingga aku dapat melihat lehernya yang putih.

Tanpa menunggu jawaban dariku, dia membongkar kopernya dan mengambil handuknya. Tak lama kemudian dia menghilang di balik pintu kamar mandi.

Walaupun aku merasa kesal dengan sikapnya yang sok memerintah, tapi aku tetap merapikan barang-barangnya yang ada di dalam koper, dari pakaian sehari-hari, baju tidur, hingga pakaian dalamnya.

Khusus untuk pakaian dalamnya, entah kenapa aku begitu tertarik dengan benda satu ini. Sadar atau tidak, aku memasukan pakaian dalam Kak Ratih satu persatu kedalam lemarinya, sambil mengamati bentuk dan warnanya yang beragam.

Tak terasa akhirnya tugasku selesai juga, segera aku menyeka keringatku yang basah dikeningku, walaupun ruangan ini ber ac tapi tetap saja tugas yang diberikan Kak Ratih membuatku mandi keringat. Untuk sementara, aku memutuskan beristirahat sejenak di atas kasurnya, hingga aku nyaris saja tertidur.

“Sudah selesai.” Katanya, aku segera bangun lalu melihat kearahnya.

Sungguh pemandangan yang kulihat saat ini begitu menggoda, Kak Ratih berjalan mendekatiku hanya dengan mengenakan handuk yang melilit ditubuhnya, lalu masih tetap memandangnya, ia berjalan melewatiku dan berhenti didepan lemarinya. Tanpa kusengaja, keputusanku meletakan celana dalamnya di bagian rak paling bawah membawa keberuntungan bagiku.

Kak Rati sedikit membungkuk, sehingga handuk yang dipakainya keangkat sedikit, memperlihatkan kedua pahanya yang sangat mulus, sepertinya Kak Ratih begitu merawat tubuhnya, buktinya di kedua kakinya aku tidak melihat bekas luka atau apapun itu yang merusak pemandangan di kedua kakinya, yang ada hanya kulitnya yang putih bak pualam.

Selain bisa menikmati kedua pahanya, aku juga dapat mengintip belahan dadanya disela-sela handuk yang melilit tubuhnya dari pantulan kaca lemarinya.

“Adek, celana dalam merah Kakak kamu letakin dimana ?” Tanyanya, sambil mengobrak-abrik pakaiannya sehingga kembali berantakan.

“Ada Kak, di situ.” Jawabku, tapi jujur aku sendiri tidak tau celana dalam seperti apa yang dia inginkan, karena setauku tadi saat melipat pakaian dalamnya, dia memiliki tiga celana dalam yang berwarna merah dengan beragam bentuk.

“Gak ada Dek.”

“Beneran Kak, aku letakin disana.”

“Tapi kok gak aaaada.” Katanya terpetus sambil menoleh kearahku, ampun aku ketahuan sedang ngintipin selangkangannya. Sumpah aku malu sekali, baru hari pertama ia tinggal disni aku sudah berani bertindak kurang ajar kepadanya.

Buru-buru Kak Ratih berdiri sambil menutupi bagian bawah belakangnya. Dia menatapku tajam, seperti ingin memangsaku, aku tau dia pasti sangat marah kepadaku, dan aku sudah menyiapkan diriku kalau nanti dia memakiku.

“Kurang ajar, sana keluar !” Usirnya. tanpa menunggu dia kembali mengusirku, aku segera keluar dari kamarnya sambil menahan rasa malu kepadanya.

<><><>

Pov Rati

Namaku Rati Andini, biasa di panggil Rati dan usiaku saat ini 20 tahun, aku kuliah di universitas swasta. Menghadiri pernikahan Mama bukanlah yang menyenangkan untukku, soalnya Papa kandungku baru meninggal setahun yang lalu dan sekarang Mama sudah menikah kembali dengan mantan atasannya dulu.

Awalnya aku sempat protes dengan keputusan Mama, tapi apa yang bisa kulakukan ketika Mama memaksaku harus menerima hubungan mereka. Alhasil seharian ini aku bete sekali, dan imbasnya kepada Adik tiriku yang seharian ini kudamprat habis-habisan.

Sebenarnya Rey anak yang baik dan sepertinya agak polos. Aku dapat melihat itu karena caranya berbicara sangat sopan, dan sedikit kaku.

Segera aku menyelesaikan mandiku, kuambil handuk putih yang tergantung di belakang pintu kamarku, lalu segera kulilitkan handuk itu ketubuhku. Saat aku keluar dari dalam kamar mandi, kulihat Adikku sedang tiduran di atas tempat tidurku, sepertinya ia kelelahan setelah membereskan pakaianku.

Kasihan juga dia, karena kesal dengan sikap Mama, dia yang kini menjadi tumbalnya.

“Adek, celana dalam merah Kakak kamu letakin dimana ?” Tanyaku, setelah aku tidak menemukan g-string merahku didalam lemari pakaianku.

“Ada Kak, di situ.” Jawabnya.

“Gak ada Dek.”

“Beneran Kak, aku letakin disana.” Katanya, aku kembali mengobrak-abrik lemariku, tapi tetap juga aku tidak menemukan celana dalamku.

“Tapi kok gak aaaada.” Kesalku, lalu aku melihat kebelakang kearahnya dan kudapatkan Adik tiriku sedang melongok memangdangiku. Siaal… Adek kurang ajar, ternyata dari tadi dia sedang mengintip bagian bawahku.

Buru-buru aku berdiri sambil menutupi bagian bawah handukku. Aku menatapnya tajam, seperti ingin menelannya hidup-hidup, anak seperti dia gak perlu di kasih hati, bisa ngelunjak kalau di diamkan.

“Kurang ajar, sana keluar !” Usirku, tapi belum puas aku mengomelinya, dia sudah keburu pergi keluar dari dalam kamarku.

Setelah dia keluar dari kamarku, aku langsung membanting pintu kamarku cukup keras. Awas dia nanti, bakalan kuaduhin sama Mama biar dia tau rasa.

<><><>

Pov Juliana

Ini adalah malam pertamaku, tentu aku merasa deg-degkan ada perasaan gugup di dalam diriku, walaupun sebenarnya sex bukanlah hal yang baru untukku, mengingat aku sudah perna menikah dan beberapa kali aku affair dengan sahabatku.

Tak lama kemudian pintu kamar mandi hotel terbuka, lalu keluar sosok pria yang beberapa bulan ini selalu memenuhi hatiku, membuat hidupku lebi berwarna setelah kepergian Suamiku. Dia adalah Adam Suseno Suami baruku, dia pria yang baik dan penuh perhatian. Aku tidak habis pikir kenapa Istrinya terdahulu pergi meninggalkannya hanya karena urusan ranjang semata.

“Maaf kamu menunggu lama ya ?” Tanyanya, aku menggeleng, lalu mengamit tangannya dan memintanya duduk disampingku.

“Aku senang, akhirnya kita menikah.”

“Aku juga sayang, semoga pernikahan kita menjadi pernikahan terakhir hingga hayat memisahkan kita.” Katanya, lalu dia mencium keningku.

Kupejamkan mataku, kubiarkan dia mencium sekujur wajahku, dari kening, mata, hidung, pipi, hingga bibirku. Bahkan ketika dia melumat bibirku, aku membuka sedikit mulutku, lalu kusambut lidahnya, kubelit penuh mesrah. Sambil berciuman, Mas Adam melepaskan lenggeri yang aku kenakan, hingga kini aku hanya megenakan g-string hitam.

Tubuhku ia dorong kebelakang hingga aku terlentang, dan dia kembali meciumiku.

Tangan kanannya meraih payudaraku, meremasnya perlahan membuatku menggelinjang keenakan, lalu kepalanya turun kebawa meraih payudarahku yang satunya, dan kemudian dia menghisap payudaraku, lidahnya bermain lincah di puttingku, hingga rasanya begitu nikmat sekali.

“Masss… enak ! Aahk… ahkk… Kamu hebat Mas.” Erangku, sambil memeluk kepalanya yang sedang menyusu kepadaku.

“Aku sangat mencintaimu.”

“Aku juga Mas, bagiku kamu adalah segalanya sekarang, kamu belahan jiwaku, nikmatin aku sepuasmu Mas, aku halal untukkmu.” Kataku mesra, sambil membelai rambutnya.

Secara bergantian dia mengemut payudaraku, lalu dia turun kebawa, kuangkat sedikit pinggulku dan kubiarkan ia menarik turun g-stringku, lalu dia membuangnya. Dihadapan pria yang kucintai, kuhidangkan vaginaku untuknya, dan aku ingin dia menikmatinya.

Perlahan dia mulai menciumi vaginaku, inci demi inci tak terlewatkan sedikitpun. Aku semakin terangsang saat dia mulai mengemut clitorisku, rasanya enak sekali.

“Mas, masukan sekarang aku sudah tidak tahan.” Pintaku.

“Sebentar lagi ya sayang.” Tolaknya, lalu kurasakan lidanya seperti mengorek-ngorek bagian dalam vaginaku, membuat vaginaku semakin basah.

“Please Mas… Aahk… Aahkk… ” Aku memohon.

Dia mengangkat wajahnya, lalu dia mulai menelanjangi dirinya, tapi ketika dia ingin membuka celananya, dia tampak ragu, mungkin dia masih merasa malu karena harus telanjang bulat di depanku. Aku segera mengambil inisiatif, aku bangkit lalu kubantu ia membukanya celananya.

Sungguh aku sangat terkejut melihat apa yang ada di balik celananya, aku menjadi ragu kalau kuputusanku menikahinya adalah keputusan yang tepat.

“Kamu kecewa ?” Tanyanya, membuayarkan lamunanku.

Aku menggeleng lemah, sambil berusaha tersenyum aku tidak ingin mengecewakannya. “Aku mencintaimu Mas, dari awalkan sudah kubilang, aku menirimamu apa adanya.” Kataku, berusaha menghilangkan kekhawatirannya.

“Terimakasih sayang.” Jawabnya.

Lalu aku rebahan kembali, kekubuka kedua kakiku, menyambut dirinya yang mulai menindi tubuhku. Lalu perlahan kurasakan burung kecilnya, yang hanya sebesar jari jempolku menekan bibir vaginaku ‘bleess…’ Dengan sangat muda penisnya berhasil menjebol vaginaku.

Lalu dia mulai bergerak memompa vaginaku, tapi lagi-lagi aku di buatnya kecewa, baru juga tiga kali dia memompa vaginaku, dia sudah menyemburkan spermanya kedalam vaginaku.

Tubuhnya ambruk kesampingku, raut wajahnya tampak begitu puas, aku hanya bisa tersenyum untuk menutupi kekecewaanku, mungkin inilah yang di rasakan oleh mantan Istrinya, aku mulai ragu kalau perceraiannya dulu karena keselahan Istrinya. Tapi bagaimanapun juga dia sudah menjadi Suamiku, dan aku harus menghormatinya.

Aku percaya, dalam pernikahan sex bukanlah hal yang terpenting. Cinta dan kasih sayang, itulah yang paling kubutuhkan saat ini, dan aku memilihnya karena dia punya kedua-duanya.

<><><>

Pov Rey

Tak terasa 3 hari berlalu, dan selama itu aku tidak lagi bertegur sapa kepadanya, Kakak tiriku, hingga kedua orang tuaku pulang dari bulan madu.

Aku bangun lebih pagi dari biasanya, secepat mungkin aku mandi, menikmati guyuran air yang menerpa tubuhku, menghilangkan rasa kantuk yang tadi sempat menggangguku. Selesai mandi aku bergegas mengganti pakaianku, putih biru kebangganku. Ya aku baru kelas dua SMP.

Setelah semuanya siap, aku berjalan keluar kamar, menuruni anak tangga, berkumpul bersama kedua orang tuaku yang sudah lebi dulu duduk didepan meja makan. Kulihat Mama tiriku tampak sibuk menyiapkan sarapan pagi untuk kami sekeluarga, di bantu oleh Mbak Lala pembantu kami.

Aku duduk besebrangan dari kursi kedua orang tuaku, sambil menunggu Mama menyelesaikan tugasnya.

“Kakak kamu mana Ray?” Tanya Papa sambil menikmati roti bakarnya.

“Gak tau Pa, masih tidur mungkin.” Jawabku, sembari mengambil susuku, lalu meminumnya perlahan, menikmati manisnya susu putih kesukaanku.

“Sana kamu panggilin dulu, kalau dia sampe telat kasihan kan.” Perintah Papa, sebenarnya aku enggan menuruti permintaan Papa, apa lagi mengingat kelakuanku beberapa hari yang lalu, aku ragu Kak Ratih sudah memaafkan aku.

“Males ah Pa.” Tolakku.

“Ayo dong sayang, itukan Kakak kamu juga.” Timpal Mama, kali ini aku tidak punya alasan untuk menolaknya, aku takut kalau nanti aku menolak permintaan Mama, Papa akan sangat kecewa, menganggapku belum bisa menerima kehadiran mereka.

Akhirnya dengan terpaksa aku kembali keatas, kekamar Kak Ratih yang berada disamping kamarku. Perlahan aku mulai mengetuk kamarnya tapi tidak ada jawaban darinya, lalu perlahan aku mencoba mendorong pintunya, ternyata tidak terkunci.

Tapi setelah aku berdiri didekatnya yang sedang tertidur pulas, aku jadi ragu untuk segera membangunkannya, aku takut dia menganggapku lancang, telah berani masuk kedalam kamarnya, apa lagi Kak Ratih tidur hanya mengenakan tanktop dan hotspan berwarna hitam. Setelah kuperhatikan, ternyata Kak Rati tidak mengenakan pakaian dalam, karena puttingnya nampak tejiplak dibajunya, dan garis vaginanya juga terlihat begitu nyata.

Aku semakin ragu, antara ingin pergi meninggalkannya atau segera membangunkannya. Setelah berfikir sejenak, menimbang resiko yang akan kuterima, akhirnya kuputuskan untuk segera membangunkannya.

“Kak, bangun sudah siang ni.” Panggilku dengan suara yang nyaris tidak terdengar. Aku masi rada takut kalau nanti dia bangun dan mencak-mencak kepadaku.

“Ehhmm… ” Dia menggeliat.

“Kak, sudah di tungguin Mama tuh di bawa.” Kataku sedikit lebi berani mengguncang lengannya, ternyata lengannya sangat halus sekali, baru kali ini aku menyentuh kulit sehalus ini.

“Apaan si Dek, ini masih pagi tauk.” Kakak mendelik, seperti yang sudah kuduga dia pasti ngamuk.

“I… ini sudah siang Kak, sudah jam 6 pagi.” Kataku takut-takut, kalau nanti dia ngamuk lagi.

Hening kembali, dia diam sejenak, matanya berkeliling mencari sesuatu, lalu matanya berhenti berputar, terpaku kearah dinding bercat biru laut, disana tergantung jam dinding bermotif doraemon, Kakakku satu ini sepertinya memang penyuka kartun doraemon, tidak heran kalau cat kamarnya di dominasi berwarna biru laut.

Aku sangat terkejut, ketika Kak Ratih melompat turun dari tempat tidurnya, lalu bergegas kekamar mandinya. Saat dia berlari, sepasang payudarahnya terguncang hebat.

Kreek… pintu kamar mandinya kembali terbuka, kepalanya mendadak muncul dari balik daun pintu kamarnya. “Tolong ambilkan handuk Kakak.” Pintanya, lalu pintunya kembali ditutup rapat olehnya.

Segera aku mengambilkan handuknya didalam lemari pakaianannya, lalu aku segera menghampiri pintu kamar mandinya, keketuk pelan hingga terdengar suara dari dalam kamar mandi.

“Sebentar.” Katanya.

Aku masih diam berdiri didepan pintu kamar mandinya, lalu kembali kudengar suara percikan air dari shower. Entah kenapa niat isengku tiba-tiba saja muncul, aku kepikiran ingin mengintip Kak Ratih Mandi. Tapi bagaimana caranya ? Membuka sedikit daun pintun kamarnya ? Aku takut nanti saat aku mendorong pintunya dia menyadarinya.

Setelah berfikir beberapa detik, akhirnya kuputuskan untuk mengintip dari balik lobang kunci pintu kamarnya.

Aku sedikit membungkuk, mensejajarkan wajahku ke lobang kunci kamarnya, lalu apa yang ingin kulihat akhirnya dapat aku lihat. Kak Ratih sedang berdiri di bawah pancuran air shower, tubuhnya yang putih bersih membelakangiku tampak dipenuhi busa sabun, sementara itu kedua tangannya sibuk mengusap-usap payudarahnya, sesekali kepalanya mendongak keatas.

Mahkluk hidup yang ada di bawa sana mulai memberontak, melihat pemandangan yang begitu erotis. Kulihat tangan kanan Kak Rati bergerak kebawa, menjamah vaginanya, sayang posisiku yang berada di belakangnya membuatku tidak bisa melihat vaginanya secara utuh.

Tapi walaupun hanya dapat melihat punggung dan pantatnya saja, aku sudah amat senang sekali, karena seumur hidupku baru kali ini aku melihat wanita telanjang, kecuali koleksi film ******* yang ada di laptop.

“Aahkk.. ” Sayup-sayup kudengar suara rintihan dari dalam kamar mandi, kalau aku tidak salah tebak, sepertinya Kak Ratih sedang bermasturbasi, mengingat kedua tangannya yang tak henti-hentinya menjamah bagian sensitiv miliknya.

Tubuhnya terkadang melemas, tapi sedetik kemudian mendadak kejang-kejang, kepalanya mendongak keatas, membiarkan air shower mebasahi wajahnya, sementara kedua tangannya semakin agresif meremas dan menggesek vaginanya, sepertinya Kak Rati benar-benar menikmati mandi paginya.

Wajar saja kalau selama ini Kak Ratih mandinya lama, ternyata ini yang ia lakukan setiap kali mandi, bermasturbasi ria. Dasar Kak Ratih, termyata dia nakal juga.

***

Sesampainya di sekolah, aku memutuskan untuk bersantai sejenak dikantin sekolah, mumpung masih ada waktu sebelum pelajaran pertama di mulai. Sambil menikmati secangkir jus jeruk, bayangan Kak Ratih tadi pagi kembali mengusikku, tak sadar juniorku mulai memberontak.

“Pagi Ray!” Sapa Ayu, lalu duduk disampingku.

“Pagi, tumben kamu datangnya pagi.” Tidak biasanya Ayu datang sepagi ini, biasanya ia sering datang terlambat.

“Biasa.” Ayu nyengir, senyumannya itu yang selalu membuatku gak bisa tidur.

Aku kenal Ayu sudah sangat lama, bahkan dari kami duduk di bangku sd aku sudah mengenalnya. Dia cantik, baik, dan lucu, tapi kadang-kadang dia menjengkelkan dan sering membuatku sakit hati karena cemburu. Yups… dia pacarku, dan aku sangat mencintainya walaupun kami baru berpacaran selama 3 bulan.

“Tuh kan bengong lagi.” Katanya sambil menepuk pundakku.

“Eh iya, emang kenapa tadi ?”

“Hmm… kamu ini.” Sambil menghela nafas. “Jadi gini, semalam aku ketiduran jadi lupa bikin Pr, soalnya semalam aku harus manggung.” Jelasnya, kulihat kantung mata Ayu memang sedikit membengkak.

“Jadi.”

“Ray, kamu ini bodoh apa pura-pura gak ngerti.”

“Gak ngerti.”

“Susah ngomong sama kamu.” Lalu dia menarik tasku, dan mengambil bukuku. “Pinjam, aku mau nyalin pr kamu.” Sementara aku hanya bengong melihat dia mulai menyalin tugasku.

Sebanarnya aku kasihan sama Ayu, demi membantu Ibunya yang sedang sakit-sakittan, dia rela menjadi tulang punggung keluarga, hampir setiap malam minggu dia bernyanyi dari panggung kepanggung, bahkan di hari biasa, kalau dia sedang dapat panggilan, dengan terpaksa ia juga harus manggung hingga subuh, padahal paginya ia harus sekolah.

“Kenapa gak berhenti aja ?” Kataku, dia sempat melirikku memasang wajah tidak suka.

“Kamukan tau, Ibuku lagi sakit-sakitan, dan aku juga butuh uang buat bayar sekolah, belum lagi kebutuhan sehari-sehari. Kami butuh makan Ray.” Jelasnya dengan suara yang terdengar begitu pelan tapi tegas.

“Aku bisa membantumu ?”

“Heh… ” Dia mendengus meremehkanku. “Pakai apa kamu akan membantuku ?”

“Aku akan bilang ke Papa, aku yakin Papa pasti mau membantumu, bahkan bila perlu kamu dan Ibumu bisa tibggal di rumahku.” Kuraih tangannya, lalu kugenggam tangannya dengan sangat erat.

Dia menoleh kearahku, kulihar matanya berkaca-kaca. “Aku tau kamu anak orang kaya, kamu bisa melakukan apa saja dengan harta Papamu, tapi maaf Ray, aku masih punya harga diri, walaupun ini tidak mudah bagiku, tapi aku yakin aku bisa melewatinya.” Dia menarik tangannya, dan lagi dia memandangku dengam mata berkaca-kaca.

“Terimakasi… tapi aku tidak butuh bantuan Papamu, aku duluan ya.” Ujarnya, lalu dia melangkah pergi meninggalkanku. Aku buru-buru mencoba mengejarnya.

“Ayu tunggu… ”

Dia tidak mengubris panggilanku, lalu dia menghilang di balik pintu kamar mandi cewek. Tentu saja aku tidak berani masuk menyusulnya, dan aku hanya bisa menyesali ucapanku barusan yang telah menyinggung perasaannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*