Home » Cerita Seks Mama Anak » Wild Love 54

Wild Love 54

Telepon aku tutup, dan kemudian aku memutar kembali. Kulihat seorang pedagang sayur keliling masih menjajakan dagangannya. Ku beli beberapa bahan makanan dan sayuran untuk makan hari ini. yah, mungkin saja dian belum makan, lagipula aku sedikit mempunyai keahlian memasak yang aku dapatkan sari ibuku dan jug aibu wongso yang kadang mengajariku memasak. Aku kembali kerumah dian, melepas semua pakaian tempurku dan menuju ke dapur bersama dengan bahan makanan yang baru saja aku beli. Sembari meracik makanan, aku membuka sematponkku yang ternyata ada sebuah BBM dari dian. tampaknya dia sangat marah ketika aku hendak keluar dari rumah, ku foto diriku dan ku kirim ke BBMnya.

To : Dian ÔÇ£AngelÔÇØ Rahmawati
Percayakan sekarang kalau ndak keluar-keluar?
From : Dian ÔÇ£AngelÔÇØ Rahmawati
Iya percaya, oia mas ni ade lagi ada rapat
jadi kemungkinan langsung pulang
ndak mampir beli makan
To : Dian ÔÇ£AngelÔÇØ Rahmawati
Sudah, tenang saja dirumah sudah ada kok
From : Dian ÔÇ£AngelÔÇØ Rahmawati
Iya, terima kasih sayangku muach :*
To : Dian ÔÇ£AngelÔÇØ Rahmawati
Aku dicium dosenku, aseeeeek…
From : Dian ÔÇ£AngelÔÇØ Rahmawati
Maaf, salah emoticon
To : Dian ÔÇ£AngelÔÇØ Rahmawati
Oh, gitu ya? jadi begitu ya?
From : Dian ÔÇ£AngelÔÇØ Rahmawati
Ndak boleh marah,
Iya tadi emoticon cium buat mas
To : Dian ÔÇ£AngelÔÇØ Rahmawati
Terima kasih :*
Met rapat
From : Dian ÔÇ£AngelÔÇØ Rahmawati
:*
Segera aku memasak beberapa bahan makanan untuk menyambut kedatangan dian pulang kerumah. Setelah semua selesai aku kemudian berisitirahat sejenak dengan segelas teh hangat di pekarangan rumah. Menunggu adalah hal yang paling membosankan bagiku, apalagi harus menunggu kapan koplak bisa berkumpul lagi. Daripada pergerakanku dibaca oleh orang-orang yang kemarin menangkapku sebaiknya memang aku mengikuti apa kata anton. Terlebih diluar juga sangat berbahaya jika melihat semakin dekatnya waktu mereka berkumpul. Mandi, dan segera berganti baju karena mungkin dian sebentar lagi akan pulang, bisa berbahaya jika dian tahu aku merokok. Selesai mandi aku mendengar mobil datang dan aku tahu itu dian.

ÔÇ£Baru pulang sayang?ÔÇØ ucapku menyambutnya diruang tamu ketika dian masuk ke dalam rumah

ÔÇ£iya, tadi rapat jurusan lama banget yangÔÇØ ucapnya dengan wajah sedikit jengkel

ÔÇ£kenapa?ÔÇØ ucapku mendekatinya

ÔÇ£kangen sama kamuÔÇØ jawabnya sembari memelukku

ÔÇ£iiih… bu dosen kangen sama mahasiswanya ya?ÔÇØ godaku

ÔÇ£eng… iya bodoh, jelekÔÇØ ucapnya dengan sedikit pukulan di dadaku

ÔÇ£yuk maem, sudah mas siapkan tuhÔÇØ ucapku

ÔÇ£eh, heÔÇÖem disuapin ya?ÔÇØ ucapnya, aku mengangguk. Aku berbalik dan meninggalkannya, tanganku ditariknya

ÔÇ£Ada apa?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£penat… bukain bajunya….ÔÇØ ucapnya manja

ÔÇ£yeee… makan kok sambil buka-bukaan. Nanti malam sayangkuÔÇØ ucapku

ÔÇ£emooooh bukain!ÔÇØ paksanya penuh dengan kemanjaan

Aku mendekatinya dan kubuka blazernya, ku katakan kepadanya untuk tetap memakai baju beseta rok selututnya. Ku rayu dia agar mau, karena jujur saja aku kangen dengan dian yang selalu berada dihadapanku ketika aku bimbingan. Dengan senyuman indahnya, dian aku gandeng menuju ke dapur untuk makan bersama.

ÔÇ£Eh, mas masak sendiri?ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£ndak, beli lah masa cowok masa sendiriÔÇØ ucapku

ÔÇ£bohong, itu alat masak kenapa kotor semua hayo?ÔÇØ selidiknya

ÔÇ£he he he ketahuan, iya tadi masak, sebenarnya tadi sudah nekat mau keluar tapi anton menelepon untuk tetap stay sampai ada pemberitahuan selanjutnyaÔÇØ ucapku, kemudian aku menceritakan kepada dian juga mengenai ibu yang tiba-tiba bersama-sama ayahku dan bermalam bersama ayah dirumah. tapi untungnya ibu tidak kenapa-napa.

ÔÇ£jadi, mama tadi sama eee… ayahnya mas ya? kemarin?ÔÇØ ucap dian

ÔÇ£iya, tapi untunglah ndak papa, tadi sempat telepon ibu juga. Sekarang ibu sedang perjalanan menyusul keluarga yang lainnyaÔÇØ ucapku

ÔÇ£huft… ya udah ade maafin untuk yang keluar tadi, tapi awas kalau besok nekat lagi, huh! Cepetan suapi!ÔÇØ ancamnya

ÔÇ£iya, aaaaa….ÔÇØ ucapku, selang beberapa saat dian berhenti dan wajahnya kembali mewek

ÔÇ£lho kenapa?ÔÇØ ucapku penasaran

ÔÇ£kok enak banget, mas jahaaaaaaaaaaaaaaaaaaat! Eng eng engÔÇØ ucapnya sambil memukuli pundakku

ÔÇ£lho aduh… sudah, sudah, kenapa sih sayang… kan ndak papa kan?ÔÇØ belaku

ÔÇ£iya ndak papa, tapi masakan mas lebih enak dari ade, besok mas harus ajari ade…ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£iya, iya ini juga belajar dari ibu sama ibunya wongso sayangÔÇØ ucapku

ÔÇ£eng… ndak boleh lebih enak dari punya ade pokoknya… eng…ÔÇØ ucapnya sambil memberiku pukulan ringan di bahuku

ÔÇ£iya sayang, iya besok mas ajari deh, terus mas ndak masak lagi kecuali kalau ade lagi sibukÔÇØ ucapku sambil membetet hidungnya

Makan bersama dian, setelahnya aku bersantai bersama dian. Sore menjelang malam, setelah mandi kemudian nampak sekali wajah dian murung sekali, entah karena apa. Setelah semua bujuk rayuku, akhirnya dian mau mengatakannya.

ÔÇ£Ade, dapet mas….ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£yaelah adeeeeeeee, kan ya ndak papa kan? Lha wong juga ndak dimasuki kokÔÇØ ucapku santai

ÔÇ£tapi, kalau dapet kan ndak boleh diapa-apain?ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£lha kan memang mas ndak ngapa-ngapain adeÔÇØ ucapku santai

ÔÇ£ntar mas pengen enaknya sendiri, terus ade ndak diapa-apain gitu… iya kan?ÔÇØ ucapnya sambil membalikan tubuhnya. Kupeluk tubuhnya dari belakang.

ÔÇ£kita ndak usah ngapa-ngapain, yang penting bareng terus okay?ÔÇØ ucapku

Dian kemudian berbalik dan tersenyum kepadaku, kami berciuman. Kehidupanku setelah dian mengalami mendapatkan datang bulan sebenarnya tidak berubah seratu persen, aku masih bisa memeluk dan menciumnya walau tidak harus mengeluarkan spermaku keluar. Hari-hari kedepanya aku lalui dengan menjadi Lelaki Rumah Tangga, santai dan menunggu berita. Setiap hari aku selalu mendapat informasi baru mengenai keberadaan ayahku dari anton. Anton juga telah meneliti tempat berkumpulnya ayah dan komplotannya. Dian selalu menunjukan sikap manjanya yang selalu berlebihan ketika bersamaku dirumha, ya… terkadang juga dian selalu memperlihatkan bagaimana dewasanya dia ketimbang aku. Sudah tahukan bagaimana dia mempermainkan psikologisku ketika hanya memisalkan sesuatu hal sepele. Pakiannya tidak terbuka seperti sebelum-sebelumnya, ya tahu sediri kan lagi M tapi setelah M juga pakaian mengundang dedek arya bangun. Sudah tidak sungkan bagiku untuk menyentuh barang pribadinya, ya walaupun ada sedikit rasa… gimana ya menjelaskannya. Ah, dian… dian…. seandainya hari-hariku adalah kanvas putih yang sangat bersih mungkin dian adalah cat yang selalu mencoret-coret kanvasku. Suka sekali ketika aku bisa menggodanya hingga menangis jengkel, ya terkadang itu perlu kan? Walau sebenarnya hanya bercanda dan dian tahu itu tapi tetap saja wanita itu bisa menangis. Sehabis menangis? Biasalah harus dilayani bak ratu kerajaan.

Hingga pada pagi hari tepatnya H-2 sebelum kejadian, aku mendapatkan pesan dari anton agar malam ini kumpul bersama di warung wongso. Semua geng koplak akan ikut didalamnya. Di malam hari ketika aku hendak berkumpul dengan koplak.

ÔÇ£Ade, mas nanti malam mau keluar kumpul sama koplak, membahas untuk besok malamÔÇØ ucapku ketika aku dan dian sedang santai bersantai bersama di depan ruang televisi

ÔÇ£eh, mas hati-hati besok mas…ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£iya, sekarang mas keluar dulu ya…ÔÇØ ucapku tersenyum kepadanya

ÔÇ£heÔÇÖeh… jangan lama-lama, kalau sudah selesai kabari ade…ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£iya, adeku sayang…ÔÇØ ucapnya, aku peluk dia dan kukecup keningnya. Kami berpelukan lama sekali hingga kami terhanyut dalam kemesaraan ini.

Malam hari, aku berangkat menuju ke warung wongso dengan pacar lamaku, REVIA. Ku kendarai REVIA dengan cepat dan tangkas hingga aku sampai di warung wongso. Kami bertemu setelah sekian lama tidak pernah berkumpul, seperti merasa tidak pernah berkumpul puluhan tahun. berlebihan ya? begitulah koplak, apalagi semua dari koplak sudah memiliki pasangan masing-masing. Seperti dipenjara tapi juga dilayani didalam penjaranya, mungkin itu istilah yang tepat untuk koplak bukan suami-suami takut istri lho. Setelah semua berkumpul, kemudian kami yang sebelumnya berkumpul di depan rumah wongso mulai masuk ke dalam rumah.

Tampak anton sangat sibuk menyiapkan semua perlengkapan untuk menjelaskan kepada kami, sebuah proyektor yang dihubungkan dengan komputer lipatnya. Anton berdiri didepan kami, semua nampak terhenyak ketika anton menyapukan pandangan ke arah kami semua. Anton dengan tampang seriusnya menyuruh kami untuk diam dan mendengarkan apa yang akan dia katakan kepada kami semua. Tidak ada yang berani memotong perkataannya, karena wajahnya tampak sangat serius, lebih serius dari sebelum-sebelumnya. Menjadi sangat aneh ketika itu, tak ada canda tawa dari kami ketika berkumpul. Anton kemudian menjelaskan secara detail mengenai tempat atau lokasi berkumpulnya ayah beserta komplotannya.

Penjelasan dimulai dari foto yang dia peroleh dari tempatk perkara akan terjadi kejadian. Foto-foto memperlihatkan sebuah pemadangan gedung yang bisa dibilang tua tapi sebenarnya masih baru, menurut penjelasan anton itu adalah gedung yang baru selesai dibangun namun belum dihuni sama sekali. Dikelilingi oleh kebun-kebun singkong, ada pula pohon sengon yang tumbuh disitu. Tampak sekali lingkungan sekitar gedung masih rindang dengan tanaman-tanaman, yupz anton mengatakan kita akan masuk melewati kebun belakang gedung yang masih rimbun ini. Anton kemudian menjelaskan kepada kami, mengenai gedung yang terdiri dari 3 lantai, luas bangungan cukup luas. Dari penuturan anton ini hanya perkiraan karena ketika anton berada di lokasi, sudah ada beberapa orang yang berjaga-jaga ditempat itu. sehingga untuk masuk anton mengalami kesulitan, bahkan utnuk mengambil gambar anton hanya menggunakan sebuah kamera kecil yang berada didalam karungnya. Ya itulah mengapa gambar yang ditampilkan sedikit miring sana-mring sini.

ÔÇ£itu informasi lokasi yang bisa aku berikan kepada kalian dan ini desain dari gedung tersebut, aku kemarin meminta dari kontraktornyaÔÇØ ucap anton, yang kemudian duduk dan menyulut dunhill mild

ÔÇ£nyamar jadi petani nton?ÔÇØ ucap hermawan

ÔÇ£Bukan, tapi tukang rongsokanÔÇØ ucap anton

ÔÇ£keren banget baru kali ini ada tukang rongsok bawaanya kameraÔÇØ ucap dewo

ÔÇ£ah, sudah kembali ke topik pembicaraan!ÔÇØ bentak anton membuat kami semua duduk tegak kembali.

Dengan asap mengepul di dalam rumah wongso, udara semakin panas dan penat. Pandangan kami tampak sedikit kabur karena asap yang semakin pekat.

ÔÇ£Jendelone bukak su, iki nek dijar-jarke… awake dewe mati keracunan dhisik sak durunge mangkat perang (jendelane dibuka njing, ini kalau dbiarkan… kita bakalan mati keracunan dulu sebelum berangkat perang)ÔÇØ ucap wongso kepada dira

ÔÇ£iya sayangkyu… ganteng deh muach…ÔÇØ ucap dira

ÔÇ£halaaaaaaaaaah… ganjen!ÔÇØ ucap kami bersama-sama, tampak dira pede dengan

Kita ulangi lagi, Dengan asap mengepul di dalam rumah wongso, udara semakin panas dan penat. Pandangan kami tampak sedikit kabur karena asap yang semakin pekat. Namun udara mulai masuk kedalam rumah wongso setelah jendela mulai terbuka. Anton memulai pembicaraan dengan menjelaskan rencananya secara detail dan terperinci. Layaknya kita akan berangkat perang, tapi apa sebenarnya rencana anton? Semua tampak kebingungan dengan apa yag diucapkan anton.

ÔÇ£jujur ae (saja) aku bingung..ÔÇØ ucap udin polos

ÔÇ£hadeeeeh… celeng (babi hutan), gini gampange!ÔÇØ ucap anton

Yang kemudian menjelaskan secara gamblang dan kami akhirnya mengerti. Tapi anton juga menjelaskan pakaian-pakaian yang akan kita pakai. Dari jaket anti peluru, mikropon, pisayu belati, pistol? Tidak ada pistol diserahkan kepada kami, karena sulit bagi anton untuk membawa pistol sejumlah koplak, bisa dicurigai. Penjelasan-penjelasan mengenai perlengkapan perang kami, walau sebenarnya kami tidak paham keseluruhannya tapi anton dengan telaten menejelaskan kepada kami fungsi masing-masing alat. Setelah panjang lebar menjelaskan masalah, lokasi, rencana dan perengkapan akhirnya kami pusing juga. Padahal jika dilihat dari rencana sajalah, intinya Cuma bagaimana kita melumpuhkan penjaga yang didepan dan kemudian masuk. Hanya itu, itu saja… nanti didalam kita bergerak dengan ÔÇ£mata tertutupÔÇØ maka dari itu anton menyuruh kita berkelompok minimal 2-3 orang. sebentar kami nongkrong didepan rumah wongso, tampak ibu wongso menutup warung.

ÔÇ£bu, jangan ditutup dulu, mau buat minum buat anak-anakÔÇØ ucap wongso

ÔÇ£Oh ya wes nang (sudah nak), nanti kamu tutup ibu sudah capek. Mi, asmi… kamu tidur sama ibu saja, pijetin ibu yaÔÇØ ucap ibu wongso

ÔÇ£Inggih bu…ÔÇØ ucap asmi

Dengan masing-masing dari kami memegang segelas minuman hangat, sesekali dari mereka menepuk bahuku. Mereka mengerti akan kegelisahanku, mencoba menenangkannya. Asap Dunhil bertebaran kemana-mana, dira yang biasanya menggoda kami saja tidak berani berkata-kata.

ÔÇ£Besok kita akan mati ya? he he heÔÇØ ucap Karyo

ÔÇ£may be yes, may be no he he heÔÇØ ucap aris

ÔÇ£gimana kalau sekarang kita ngocok bareng-bareng?ÔÇØ ucap dewo

ÔÇ£dari pada ngocok bareng-bareng, sini dira emutin, atau mau pakai susu dira bisa lhoÔÇØ ucap dira melumerkan suasana

ÔÇ£Ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha haÔÇØ tawa kami semua

Selang beberapa saat kemudian, satu demi satu dari kami pulang. Pulang menuju rumah para perempuannya. Sama halnya denganku, menuju ke tempat dimana aku selalu tinggal. REVIA melaju dengan cepat dengan dadaku berdegup dengan keras, gelisah akan besok malam. Akankah semua selesai? Atau aku yang akan selesai? Masa bodoh dengan semua ini. ketika pikiranku kalut, wongso selalu menenangkanku begitupula koplak yang lain. Hah, aku tidak seharusnya melibatkan mereka semua. Tapi setiap kali aku meminta mereka untuk tidak ikut campur bukannya senang malah mearahiku habis-habisan. Ya sudahlah, we are the winner, i believe!

Kulihat wanita itu sedang tertidur di sofa depan TV, aku mengambil selimut dari dalam kamar. kututupi tubuhnya dengan selimut. Kulihat wajah tenangnya ketika tertidur, wajah polosnya walau sedewasa ini dia belum begitu mengerti tentang seks. Ya, wajar karena dian memang belum pernah melakukannya. Ku kecup keningnya lalu aku melangkah menuju dapur, membuat minuman hangat. Dengan hanya memakai kaos dan celana jeans, aku meminum teh hangat di pekarangan belakang rumah. Asap mulai bertebaran bersama kegelisahanku menuju hari esok.

ÔÇ£Kenapa tidak lari saja mas? Mas bisa lari tidak perlu, mengurusi ayah masÔÇØ ucap dian yang bersandar dipintu. Aku menoleh kearahnya.

ÔÇ£eh, ade kok bangun? Bobo saja…ÔÇØ ucapku mengalihkan pembicaraan

ÔÇ£maaas….ÔÇØ ucapnya dengan memandang mataku

ÔÇ£eh, maaf… tidak bisa… ada beberapa hal yang harus mas selesaikan. Mas janji akan menyelesaikannya dan kembali pada ade, untuk menepati janji mas ke adeÔÇØ ucapku

ÔÇ£tapi, itu sangat berbahaya mas…ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£aku harap kamu bisa mengerti tentang semua yang sudah mas ceritakan…ÔÇØ ucapku pelan

ÔÇ£iya aku mengerti, tapi apa tidak ada jalan lain selain mengorbankan diri sendiri?ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£yan, kamu aku kan dari dulu… aku tidak pernah mau membiarkan hal buruk terus terjadi. Apakah kamu akan merasa bahagia jika ketika kita bersama tapi ada orang-orang yang masih menderita perasaanya, padahal….ÔÇØ

ÔÇ£padahal kita bisa menghentikannya…ÔÇØ ucapku pelan

ÔÇ£hessssssssssssh… terserah kamu ar, aku hanya mengikuti kamu. yang jelas aku tidak ingin terjadi sesuatu hal yang buruk kepadamu, hanya itu sajaÔÇØ ucapnya disertai langkah meninggalkanku

Aku kemudian masuk kedalam, kuletakan gelas di meja dapur kemudian menuju ke kamar mandi. Kulihat dian memangku dagunya di sofa depan TV, kutinggalkan dia sejenak untuk ke kamar mandi. Sangat jelas, karena aku tahu dian tidak meyukai bau rokok. Masih mengenakan jeans yang aku lipat bagian bawahnya hingga selutut, setelah bersih-bersih aku keluar dari kamar mandi. Dian berdiri disamping sofa sambil memandangku dengan mata berkca-kaca. Dian maju kearahku dan menarik tanganku. Dian berjalan mundur hingga didepan sofa, aku ditariknya dan kemudian didorong hingga jatuh disofa. Dian kemudian duduk bersimpuh diatas pangkuanku. Ciuman mendarat dibibirku, tanganku ditariknya untuk meremas susu yang masih berbalut dengan tank-top. Bibirnya melumatku tidak seperti biasanya, ini lebih dari yang biasanya. Lidahnya terlebih dahulu meyeruak masuk kedalam bibirku. Tanganku semakin meremas susu indahnya tersebut, aku terbawa nafsuku.

Ciuman kami berhenti ketika dian duduk tegak diatas pangkuanku. Tanganku masih meremas susunya, dian kemudian turun dengan senyum memandangku. Dibukanya kaosku dan hal yang aneh ketika itu melihat dian mencoba membuka celana jeansku. Aku bisa melihat dian sebenarnya tidak terbawa nafsu namun yang kulihat entah berbeda dari sebelumnya. Aku cegah kedua tangannya untuk membuka, namun…

ÔÇ£sudah, jang…ÔÇØ ucapku terpotong ketika melihat mata itu

ÔÇ£jika kamu sayang aku, dan benar-benar mecintaiku biarkan aku melakukannya…ÔÇØ ucapnya dengan mata sedikit berkaca-kaca

Dian menarik celana jeansku dan melepasnya. Ditariknya pula celana dalamku, ketika dedek arya sudah keluar dan tegang tanpa menggunakan bantuan tangannya karena tangan dian masih sibuk melepas celana dalamku. Dian langsung mengulum dedek arya, terasa sangat ngilu dan sedikit sakit ketika giginya bersentuhan dengan kulit dedek arya.

ÔÇ£pelaaanhhh sayangghhh pelannnhhhh… erghhh….ÔÇØ ucapku

Kulumannya kemudian menjadi sangat lembut, masih terasa sakit ketika giginya bersentuhan dengan dedek arya. kepalanya maju mundur, aku hanya bisa membelai rambutnya. Kulihat matanya melihatku, kaca-kaca itu belum hilang namun aku tidak bisa mengehntikan keinginannya. Semakin lama kuluman dian semakin lembut dan nikmat, lidahnya kadang menyapu bagian bawah dedek arya. kadang pula, dian melepas kulumannya dan menjilati kepala dedek arya. entah darimana dia bisa mengembangkan cara mengulum, ataukah dia mengingat semua yang pernah dia tonton dari sematpon erna.

ÔÇ£ergh… adeeeegghh… emmmmhhh…. ufthh….ÔÇØ desahkuu sambil melihat kepala dian yang naik turun dibawah selangkanganku

Diawal kurasakan sedikit sakit, namun lama kelamaan, kuluman dian lebih nikmat dari yang pernah aku rasakan. Entah karena cinta atau apa, tapi yang jelas dialah yang terbaik. Membuatku terasa terbang dan membuat dedek arya semakin mengeras tegang. Dan …

ÔÇ£egh… egh… egh… egh… egh… egh… eggggghhhhh…ÔÇØ desahku ketika spermaku keluar dari dedek arya

Kuliha dian terdiam dengan sebagian batang dedek arya didalam mulutnya. terasa sedotannya kuat, ketika kepalanya mundur. Dan plup… dedek arya lepas dari mulutnya, bibrnya tertutup selang beberapa saat tenggorokannya bergerak.

ÔÇ£Ade telan?ÔÇØ ucapku, dia hanya megangguk dan kemudian melepas celana dalamnya. Dian kemudian berdiri diantara dedek arya, diarahkannya dedek arya kelubang vaginanya.

ÔÇ£Sayang, sudah… hentikan, ini terlalu berlebiha…ÔÇØ ucapku terpotong ketika jarinya menyilang di bibirku

ÔÇ£ini milikmu, jadi apa salahnya jika milikmu menjadi satu denganmu?ÔÇØ ucap dian, masih memegang dedek arya dan kepala dedek arya sudah tepat di depan vaginanya

ÔÇ£ta tapi, aku mohon…ÔÇØ ucapnya dan plak…

ÔÇ£kenapa dengan yang lain kamu bisa? Tapi denganku kamu tidak bisa? Kamu masih ingin bermain diluar sana kan hiks hiks hiksÔÇØ ucapnya hingga terduduk dipangkuanku, dengan dedek arya tegang berdiri tepat didepan perutnya.

Tangannya memegang pundakku, matanya memandangku dengan air mata yang mengalir dipipinya. Kudekatkan wajahku ke wajahnya, kupeluk tubuhnya dan kucium bibirnya. Bibir kami bersatu kembali, kuangkat tubuhnya dan kurebahkan di sofa. aku terus menciumnya, tanganku bergreliya di susunya. kusentuh pahanya agar terbuka lebih lebar. Kusatukan keningku dengan keningnya.

ÔÇ£Tahan ya…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£heÔÇÖem… hiks…ÔÇØ ucapnya

Dengan satu tanganku meraba bagian vaginannya, ku arahkan dedek arya ke lubang vaginanya. Keningku masih bersatu dengan keningnya namun pandanganku mengarah ke bagian vagina dian.

ÔÇ£Pas..?ÔÇØ ucapku, kembali memandangnya. Dian menjawab dengan sedikit anggukan

Aku kemudian mendorong dedek arya, agar masuk secara perlahan. Kepala dedek arya kurasakan sudah memasuki pintu vagina dian. terasa sangat sakit dan ngilu, sangat sempit sekali dibandingkan dulu ketika dengan erlina dan ajeng. Keningku masih bersatu dengannya, hanya pinggulku yang sekarang bergerak. Kulihat mata dian terpejam sangat rapat, air matanya tidak begitu mengalir dengan deras.

ÔÇ£tahan sayang… buka matamu sayang, lihatlah mas…ÔÇØ ucapku, dian kemudian membuka matanya

ÔÇ£aku mencintaimu… kamulh cintaku, dian…ÔÇØ ucapku sambil menempelkan hidungku ke hidungnya

ÔÇ£aku juga cinta kamu arya…ÔÇØ ucap, dahinya sedikit mengrenyit

Kurasakan dedek arya sedikit mudah masuk kedalam lagi, seiring dengan ucapan cinta diantara kami berdua (pengalaman : kalau bercinta dengan bumbu kata-kata cinta apalagi dengan pasangan, biasanya lebih maknyus). Terasa setengah batang dedek arya masuk dan tertahan oleh sesuatu di dalam vagina dian.

ÔÇ£pelan sayang… sakit…ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£iya sayangku, aku mencintaimuÔÇØ ucapku lirih sambil mengecup bibirnya

Kudorong lebih kuat lagi dedek arya agar masuk lebih kedalam lagi. Dinding tebal yang menghalangi dedek arya masuk, seakan sangat lentur mengikuti arah pergerakan dedek arya. Mata dian mulai terpejam dahinya mengrenyit. Ku tambahkan kekuatan dorongan pada pinggulku dan…

ÔÇ£Erghhh…..ÔÇØ mata dian kemuadian terbuka dengan teriakan yang tertahan

Blesss… masuk sudah tiga perempat dedek arya, dan kemudian aku tambahkan dorongan agar semua batangnya masuk. Kudiamkan sejenak didalam vagina dian.

ÔÇ£masih sakit…ÔÇØ ucapku dian mengangguk, air matanya mengalir diujung matanya

ÔÇ£punya ade sempit banget… punya mas ngilu…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£hiks… ahhhh… slurpp… buat mas, semuanya buat mas… ade cinta mas…ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£mas juga cinta ade…ÔÇØ ucapku sambil mencium bibirnya

Entah, tanpa mempertimbangkan rasa sakit dian. reflek seketika bibir kami berciuman pinggulku mulai memompa maju mundur. Terasa sekali vagina dian yang masih benar-benar baru dan dedek aryalah yang memakainya untuk pertama kali. sempit, kesat, sedikit becek, jepitannya membuatku merasakan ngilu di dedek arya. aku bangkit dan memandang dian yang sedikit kesakitan, kuremas susunya dan kumainkan putingnya yang masih berbalut dengan tank-top.

ÔÇ£maaas… pelaaaan… masih sedikit sakit… erghh emmmhh…ÔÇØ ucapnya sambil memandangku

ÔÇ£Iya, sayang….ÔÇØ ucapku sambil melambatkan pompaanku

ÔÇ£masssshhh erghhh jangan duduk, pelllhuk ade….ÔÇØ ucapnya, aku kembali memeluknya dan mencium bibirnya

Kami berciuman kembali, pinggulku seakan tak bisa lagi menerima logikaku untuk memompa pelan. Pinggulku bergerak semakn cepat, dian tidak memprotesnya. Air matanya kembali berlinang, kedua tangannya memeluk leherku dengan erat. pompaanku semakin cepat, semakin ganas.

ÔÇ£mashhh… ade mau pipihhhhsss.. erghh….ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£mas juga yanghhhh adeku, cintaku, sayangku oghhh… mas keluarkan diluar…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£jangan didalam sajahhhh… adehh amannnhhh erghhh… terussshhh mas ade mau pipis bareng sama masshhh….ÔÇØ ucapnya

Aku semakin cepat memompa dan kulihat wajah dian semakin tidak karuan. Dahinya mengrenyit, dan…

Crooot… crooot… crooot… crooot… crooot… crooot… crooot…

Bersamaan dengan keluarnya spermaku, aku merasakan cairan hangat dari dalam vagina dian. kuelus rambutnya dan ku kecup keningnya. Kupeluk tubuhnya, kemudian aku menlumat kembali bibirnya. Sembari melumat bibirnya, aku usap air matanya. Kulepas ciumanku dan kupandang wajahnya. Dian tersenyum padaku, begitu pula aku membalas senyumnya.

ÔÇ£terima kasih sayang, aku mencintaimu…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£semua untuk mas, ade cinta mas…ÔÇØ balasnya

Aku tarik dedek arya dari vagina dian, tampak dian sedikit mengaduh. Kulihat spermaku keluar dengan warna dominan merah, meleleh hingga jatuh kesofa bulu berrwarna putih ini. ketika hendak aku ambil celana dalamku untuk mengelapnya.

ÔÇ£jangan mas, tidur bersama ade di sini. Biarkan itu menjadi kenangan indah kitaÔÇØ ucapnya

ÔÇ£Eh…ÔÇØ aku terkejut dan kemudian tersenyum kepada dian

Aku masuk kedalam pelukan dian, dian berada di bagian dalam sofa sedangkan aku berada dipinggir sofa menghadap ke arahnya. Tak ada kata-kata selain mengutarakan isi hati kami, cinta, sayang dan lain sebagainya menghiasi malam ini hingga kami tertidur dalam lelapnya malam. Malam ini, malam dimana dian kehilangan keperawananya karenaku. Aku sangat mencintainya…

Keesokan harinya, ya hari ini, entah apakah ceritaku akan berlanjut atau berhenti. sejak pagi tak ada canda ataupun tawa diantara kami berdua. Dian, tidak sedikitpun dia melempar senyum kepadaku walaupun aku selalu mencoba tersenyum kepadanya. Kabar dari anton datang, agar kami semua berkumpul lebih awal kurang lebih jam 1 siang. Tepat pukul 12 siang, Kupersiapkan semua yang aku butuhkan, dian hanya bersandar di pintu memandangku sejenak ketika berganti pakaian dan kemudian keluar lagi. Kulihat wajahnya yang tak begitu senang dengan apa yang akan aku lakukan. Setelah semua selesai, aku keluar dari kamar dian berdiri sedikit jauh didepan pintu kamar.

ÔÇ£a… aku pergi dulu…ÔÇØ ucapku, namun dian hanya memandangku dengan tatapan yang sangat datar. Aku mendekatinya tetapi dian membuang wajahnya.

ÔÇ£aku janji akan segera kembali lagi…ÔÇØ ucapku, seketika itu aku melihat air matanya mengalir tanpa suara isak tangis. Kucoba menghapus air matanya, tapi tangannya menepis tanganku

ÔÇ£tenang… aku pasti kembali…ÔÇØ ucapku kemudian melangkah menuju pintu rumah

Tiba-tiba saja, pakaian belakangku seperti ditarik. Kurasakan keningnya jatuh dipunggungku, kudengar sedikit isak tangis.

ÔÇ£aku mohon, kita bisa pergi bersama…ÔÇØ ucap dian

ÔÇ£tidak… aku harus ketempat itu…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£kita bisa memulai kehidupan baru diluar sana…ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£ada begitu banyak yang aku sayangi, aku tidak ingin mereka mati…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£aku pun sama juga mempunyai orang-orang yang aku sayangi, tapi jika kamu mau pergi denganku… aku hanya ingin bersamamu…ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£tapi aku tidak akan membiarkan semuanya hilang begitu sajaÔÇØ ucapku

ÔÇ£hiks… baiklah jika itu keputusanmu, maafkan aku, pergilah dan hati-hati…ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£terima kasih…ÔÇØ balasku

Aku keluar dari pintu rumah tanpa dian menemaniku hingga keluar rumah. Ketika aku berjalan dengan REVIA, melewati depan rumah pun tak ada dian yang berada di sana. Tapi ucapannya sudah membuatku sedikit tenang. Aku percepat laju REVIA hingga di warung wongso, semua koplak telah berkumpul di rumah wongso.

ÔÇ£Okay, kaliah beristirahatlah dulu, menjelang jam 6 kita sudah harus sampai disana. Berarti kita berangkat dari sini jam 5 sore. Ini semua perlengkapan, sebelum kalian beristirahat aku akan menjelaskan semua perlengkapan itu. dan gunakan dengan baik-baikÔÇØ ucap anton

———-

Disebuah perumahan ELITE, seorang wanita sedang berganti pakaian. Mengenakan tank-top kemudian di rangkapi dengan kaos dengan belahan dada sedikit terbuka sehingga memperlihatkan sedikit tank-top yang dipakainya. Celana jeans ketat dia pakai, sejenak dia melihat kedalam kamarnya.

ÔÇ£maafkan aku hiks hiks hiks… jika mas memilih untuk menyeleamtkan orang-orang yang kamu sayangi, aku juga akan memilih hal yang sama. Seandainya saja kamu mau pergi bersamaku, aku tidak akan mempedulikan semuanya karena sudah ada kamuÔÇØ ucapnya memandang seisi kamarnya dengan air mata berlinang

Tangisnya pecah, sambil berjalan dia keluar dari dalam kamar. dilihatnya sofa bulu putih dengan bercak noda merah. Sempat tersenyum walau akhirnya tetap haru menangis kembali. Wanita tersebut kemudian keluar dari rumah, tepat didepan pintu rumah dia berbalik dan memandang pintu rumah.

ÔÇ£ini akan menjadi kenagan kita… seandainya saja kamu masih mau menerimaku, mungkin kita masih bisa bersama. dan seandainya saja kamu hilang, aku akan menyusulmuÔÇØ ucapnya

Dengan mobil yang biasa dia kemudikan, wanita tersebut keluar dari rumahnya. Di injak pedal gas dan bergerak menuju kesuatu tempat, entah tempat apa itu. senyum ramahnya biasanya menghiasai semua bibirnya ketika melewati pos satpam, namun kali ini para penjaga perumahan itu tidak medapatkannya. Perjalanannya cukup dekat, namu ketika itu ada sebuah mobil sedan hitam menyalipnya.

Ciiiiiiiiitt….

Mobil tersebut menyilang dan berhenti tepat didepan mobil wanita tersebut. Membuatnya mengerem mendadak. Seketika itu ketika seseorang keluar dari pintu pengemudi mobil sedan. Mata wanita tersebut terkejut melihat yang keluar dari mobil.
—–

ÔÇ£Okay, jam lima kurang 15 menit. Semuanya bersiap!ÔÇØ teriak anton

ÔÇ£Siap!ÔÇØ teriak semua koplak

ÔÇ£ingat! Jangan berjalan beriringan! Ambil jalur lain….ÔÇØ

ÔÇ£and we meet in battle field!ÔÇØ ucap anton

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*