Home » Cerita Seks Mama Anak » WIld Love 53

WIld Love 53

Alunan melody udara dingin dengan hiasan kicauan burung di pagi hari. Pagi dimana masih terlihat gelap seperti malam. Kulihat jam dinding yang semakin menertawakan aku untuk semua masalah-masalah yang semakin dekat dengan akhir. Good Ending atau bad ending, huft mata ini masih rabun untuk memikirkan akhir dari perjalananku. Kuraba tempat tidur disebelah kiriku tapi tak ada tubuh yang semalam setengah telanjang dalam pelukanku. Segera aku bangkit dan beranjak ke kamar mandi luar, karena memang aku tidak pernah masuk kedalam kamar mandi dalam kamar dian. kupakai kaos dan celana pendekku, terdengar suara gemercik air yang terdengar di dalam kamar mandi dalam. Setelah dari kamar mandipun aku masih mendapati dian berada didalam kamar mandi, segera ak melaksanakan kewajibanku dan kemudian tidur lagi dengan posisi miring membelakangi kamar mandi.

Kleeek… terdengar langkah dian mendekatiku

ÔÇ£sayaaaang, sudah jam setengah enam. Masa tidur lagi? Ntar rejekinya dipatok ayam lhoÔÇØ bisik dian pelan

ÔÇ£masih ngantuk…ÔÇØ ucapku sambil memejamkan mata

ÔÇ£sekali-kali ngampus sayang ketemu sama dosennya gitu…ÔÇØ ucap dian

ÔÇ£males ah, dosennya judes enakan dirumah sama pacarÔÇØ candaku masih mememjamkan mata

ÔÇ£dosennya judes banget ya sayang? Sampe ndak mau ketemu sama dosennya?ÔÇØ ucap dian sambil memelukku

ÔÇ£ndak mau…ÔÇØ ucapku sedikit manja

ÔÇ£bangun, mandi sambil menunggu sarapan atauuuuuuu… hmmm… ntar malam bobo sambil ngelus-elus bantal saja ya…ÔÇØ ucap dian langsung meninggalkan aku. WHAT! Bantal????

Aku segera bangun namun sudah tak kudapati dian di dalam kamar. segera bangkit dan berjalan kembali lagi ke dalam kamar mandi yang dingin sebagai syarat agar malam nanti tidak memeluk bantal ataupun guling. Ah, memang wanita sehebat apapaun karirnya tetap saja mereka tidak pernah melupakan tempat yang membuat mereka bertambah cantik, dapur. Kulihat dian sedang asyik membuat sarapan pagi, ketika dian menoleh matanya melotot menyuruhku untuk segera mandi. Ah, segaaaaaaaaaaaaaaaar dan dingin.

Seluruh tubu sudah bersih, dan sudah berpakaian lengkap untuk berangkat ke kemapus. Dapur? Jelas untuk menemui dian, kudapati dirinya sedang menyiapkan makan pagi untuk kami berdua. Kudekati dian dan kupeluk dari belakang tubuhnya. Sedikit aku senggol bagian susunya.

ÔÇ£kok ndak pakai BH?ÔÇØ ucapku nyleneh dipagi ini

ÔÇ£iiih katanya ndak boleh pakai, sekarang malah diprotes? Apa sih maumu hmmmmÔÇØ ucapnya judes

ÔÇ£yeee kalau bobo saja sayaaaang, kalau keseharian gini ya dipakai. Ntar kalau banyak yang sadar kamunya ndak pakai, ndak terima akunya!ÔÇØ ucapku sedikit keras

ÔÇ£kalau ndak terima terus mau diapain orangnya?ÔÇØ tanyanya

ÔÇ£ya gitu deh, paling banter ya UGDÔÇØ ucapku sombong

ÔÇ£ndak boleh gitu sayang, iya ade pakai deh. dipakaikan ya?ÔÇØ ucapnya manja

ÔÇ£iiih pacarku udah gede minta dipakaikan bajuÔÇØ ejekku

ÔÇ£mau ndak? Kalau ndak mau ya sudahÔÇØ ucapnya sambil melepas pelukanku dan berjalan menuju kamar. dian berjalan dengan senyuman mengejek, dia tahu kalau aku pasti tidak akan menolaknya.

ÔÇ£mau…. mau….ÔÇØ ah godaan yang tidak bisa ditolak, mungkin sebagian besar laki-laki pasti tidak akan menolak ketika harus memakaikan baju pacarnya (benarkan?)

Setelah setengah telanjang didalam kamar, dian melotot melihatku yang terkesima dengan keindahan payudara ah susunya itu. Dijewernya telingaku karena terlalu lama tidak memakaikan baju ke tubuhnya. Canda tawa kami bersama didalam kamar membuat hubungan kami semakin hangat. Makan pagi bersama dian, dan yang jelas aku selalu menyuapinya karena memang sikap manjanya tidak bisa aku tolak. Menolak menyuapi dian? sama saja menolak mendapat hadiah. Setelahnya aku berangkat, dian menggunakan mobil dan aku menggunakan REVIA-ku, pacar lamaku.

ÔÇ£ndak bareng mas sekalian?ÔÇØ tawarku yang sebenarnya aku tahu jawaban dian

ÔÇ£ade pakai mobil sajaÔÇØ ucapnya

ÔÇ£boleh ndak kalau mas bareng?ÔÇØ godaku

ÔÇ£eh… mmmm….ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£iya, iya… sudah, ade berangkat dulu. Nanti mas yang tutup pintu gerbangnyaÔÇØ ucapku, kulilhat dian berdiri mematung disamping pintu mobil yang terbuk, kemudian menoleh kearahku

ÔÇ£mas lulus dulu ya, ade takut kalau mereka tahu kebersamaan kita. Nanti akan ada pembicaraan miring mas, nanti mereka mengira ade mempermudah kuliah masÔÇØ ucapnya, kudekati dian

ÔÇ£cup… iya mas tahu, mas kan masih mahasiswanya ade jadi memang seharusnya kalau dikampus ade bersikap seprofesional mungkin. Jadi kangen sama judesnya dosen mas yang cantik itu he he heÔÇØ ucapku, yang langsung berjalan mundur ketika tangan dian mencoba mecubitku

Ke kampus? Ya kini adalah jalan kemana aku harus mencari informasi detail dikampus. Dian berangkat terlebih dahulu menggunakan mobilnya sedangkan aku menyusul dengan menggunakan REVIA. Sesampainya dikampus aku berjalan-jalan memutari kampus, sesekali aku bertemu dian yang sedang bersama bu erna. Well, sikap kami layaknya seorang mahasiswa dengan dosen. Aku suka dengan wajahnya ketika bertemu aku, judes hi hi hi tapi kalau dirumah brrrrrrr harus angkat sana-sini si dianya. Universitasku memang luas, jika harus memutari universitas ini harus menggunakan motor. Ku pilih dengan menggunakan kedua kakiku menuju ke kampus/ fakultas rani. Dengan bergaya seperti mahasiswa baru, aku duduk-duduk di taman bersama dengan mahasiswa-mahasiswi yang lain. Dan ketika kupasang eraphone di telingaku…

ÔÇ£eh… kenapa mereka ada disini? Apa yang mereka lakukan disini?ÔÇØ bathinku ketika mata ini melihat sesosok dua orang yang sudah tidak asing lagi dimataku

Aku bersikap cuek dengan memainkan sematponku, tak kuhiraukan mereka berdua. Ya, mereka adalah orang yang pernah menabrakku ketika aku berada di TKP kematian KS. Pikiranku semakin tidak tenang, ingin rasanya aku membuntuti mereka tapi jika itu aku lakukan bisa membuat kecurigaan terhadapa mereka. sesekali aku melakukan selfie agar aku bisa memperhatikan pergerakan mereka. kulihat mereka menuju kantin kampus rani. Aku pun berjalan menuju ke kantin mengikuti mereka dengan gaya Ababil sambil mengenakan sematpon kesayanganku.

ÔÇ£bu, mie goreng satu sama es teh ya buÔÇØ teriakku kepada ibu kantin yang tidak aku begitu kenal

ÔÇ£ya, mas sebentarÔÇØ ucap ibu kantin, kulirik kedua pria itu sedang memesan makanan di kantin sebelahnya. Oh ya, kantin dikampus rani sama dengan dikampusku hampir mirip dengan pujasera jadi ada 5 kantin dalam satu tempat

Dan beruntungnya aku, karena mereka melihi tempat duduk yang bersebelahan dengan mejaku. Aku makan ditemani beberapa mahasiswa yang tidak aku kenal, wajar saja aku bukan salah satu mahasiswa dari fakultas rani. Ku matikan earphoneku berharap akan mendapat sedikit informasi dari yang ku dengar.

ÔÇ£mas ini ÔÇ£ ucap perempuan yang membantu ibu kantin

ÔÇ£makasih mbakÔÇØ ucapku

ÔÇ£masnya bukan dari fakultas sini ya?ÔÇØ ucapnya, sedikit gugup aku ketika ditanya

ÔÇ£eh, iya mbak aku dari fakultas sebelah. Kesini main mbak, sekalian nunggu teman berangkat kuliah mau mengembalikan flashdiskÔÇØ ucapku

ÔÇ£ooooh pantesan ndak pernah lihat, ya walaupun banyak mahasiswa yang makan disini tapi mas kelihatan asing gitu, ya udah mas silahkan dinikmatiÔÇØ ucap mbak nya

ÔÇ£terima kasih mbakÔÇØ balasku

Segera aku melahap mie instan ini, tak begitu lapar sebenarnya setelah makan pagi bersama dian. kumakan pelan-pelan sambil memainkan game di sematponku, itung-itung juga untuk mendengarkan percakapan mereka berdua. Aku pelankan makanku tapi orang disebelahku tidak bercakap-cakap, ah percuma kayaknya kalau aku harus menunggu. Tapi…

ÔÇ£kita sudah memutari univ ini tapi tetap tidak ada tanda-tanda anak bos, apalagi dikampus yang pertama tadi kita juga tidak menemukannyaÔÇØ ucap lelaki 1

ÔÇ£mungkin mereka sudah bersembunyi disuatu tempat. Oia, kamu masih ingat pacar anak sibos tukang yang digebuki di univ yang diceritakan oleh kawan kita?ÔÇØ ucap lelaki 2

ÔÇ£iya aku ingat, anak itu masih terlihat beberapa hari ketika si anak perempuan bos tukang menghilang. Beberapa kawan kita juga sudah mengobrak-abrik kosnya tapi tidak ada tanda-tanda kalau paarnya itu menyembunyikan anak bos tukangÔÇØ ucap lelaki 1

ÔÇ£bagaimana dengan pacar anak si bos aspal? Apa ada tanda-tanda dia menyembunyikannya?ÔÇØ ucap lelaki 2

ÔÇ£juga tidak, dia masih terlihat. Bahkan sempat dari kawan kita ada yang menyamar sebagai paman dari ana si bos aspal. Tapi anak itu tidak tahu mengenai anak si bos aspal, dia sudah menyerah untuk mendekatinya karena tidak ingin matiÔÇØ ucap lelaki 1

ÔÇ£ha ha ha ya jelaslah… tapi sayang mereka berdua sudah menghilang padahal enak tuh bisa di makan rame-rame. Mungkin kita harus pulang segera untuk memberitahukan kepada bos mengenai kondisi kampusÔÇØ ucap lelaki 2

Kemudian mereka berdua diam, aku habiskan makanku dan pergi dari tempat itu. dengan gaya ababilku berjalan santai menuju fakultasku. Sebenarnya aku sudah sangat bersyukur mengenai apa yang dilakukan oleh anta dan rino, mereka ternyata seorang yang bisa sangat dipercaya. Dengan rokok, dunhill sebatang ditangan kananku aku melewati jalan universitas yang lumayan ramai. Tiba-tiba saja ada mobil berhenti didepanku, pintu terbuka dan sebuah pistol mengarah kepadaku. Orang yang berada didalamnya melambaikan tangan menyuruhku segera masuk kedalam mobil. Ah, sial jika aku lari akan terlihat kalau akku terlibat. Aku berjalan dengan rasa takut menuju ke dalam mobil. Tak ada yang mengajakku berbicara, ada dua orang yang berada disampingku mereka yang tadi berada di kantin dan dua orang lagi berada di jok depan, aku belum mengetahui wajah mereka sebelumnya. Mobil kemudian bergerak menuju tempat sepi disudut taman rektorat.

ÔÇ£Kamu tahu ini?ÔÇØ ucap lelaki 3 dari depan menunjukan dua foto yang bersampingan

ÔÇ£eh,…ÔÇØ aku terkejut dan terdiam penuh rasa takut

Bugh… bogem mentah mendarat dipipi kiriku

ÔÇ£ngomong kenal tidak?ÔÇØ ucap lelaki 2

ÔÇ£ke… kenal pakÔÇØ ucapku

ÔÇ£dimana dia?ÔÇØ ucap lelaki 3

ÔÇ£tidak tahu pak, saya cu… Cuma kenal di KKN pak setelah KKN tidak pernah ketemu lagiÔÇØ ucapku

Bugh… bogem mentah mendarat di pipi kananku

ÔÇ£bohong kamu ya? katanya kamu tadi mau mengembalikan flasdisk, jawab jujur… kamu ingin bertemu dengan salah satu wanit ini kan?ÔÇØ ucap lelaki 1

ÔÇ£bukan, aku mau bertemu temanku tapi cowok… pak beneran pak… sumpahÔÇØ ucapku dengan raut takut. Tiba-tiba lelaki 4 yang menyetir mobil mengacungkan pistol kearahku

ÔÇ£kita bisa bunuh kamu disini, dan membuang mayatmu disini juga. Jawab jujur! Kita sudah tahu semua teman KKN kedua wanita ini dan mereka semua bilang juga tidak tahu, pasti kamu tahu mengenai mereka berduaÔÇØ ucap lelaki 4

ÔÇ£beneran pak saya ndak tahu pak, setelah KKN ndak pernah kontak-kontakan lagi. Karena aku takut dimarahi pacarku pak, kalau ketemuan sama cewek pak yakin pak sumpah beneran…ÔÇØ ucapku memasang raut wajah takut

ÔÇ£argh sialan, bagaimana ini? kita habisi dia saja?ÔÇØ ucap lelaki 2

ÔÇ£goblok! Kamu mau mati sekarang?ÔÇØ bentak lelaki 3 kepada lelaki 2

ÔÇ£oh… iya aku lupa…ÔÇØ ucap lelaki 2

ÔÇ£argh kampret, cewek berwajah cina itu juga tidak tahu menahu keberadaan dua wanita ini. siapa sebenarnya arghhhh! Hei hajar saja dia! Dan kamu ingat berani kamu lapor polisi, akan kami habisi kamu dan teman-temanmu!ÔÇØ bentak lelaki 3

ÔÇ£iya pak, saya ndak akan lapor pak. Saya Cuma mau kuliah saja pak dan lulusÔÇØ ucapku ketakutan

Sreeet… brughh… bugh bugh bugh…

Dikeluarkannya aku dari mobil dan dihajar habis-habisan. Empat bogem mentah mendarat di wajahku, aku kemudian meringkuk dan habislah punggungku dihajar oleh mereka berdua. Diludahinya aku dan kemudian ditinggalkannya aku sendirian. Aneh juga mereka menghajarku, apa mereka menghajarku hanya sebagai syarat kalau mereka pura-pura tidak mengenalku. Tubuhku tampak pegal semua, aku paksakan tubuhku untuk rebah berbaring menghadap ke atas. kudengar suara laju mobil menghilang dari telingaku. Hash hash hash… sial kenapa mereka bisa tiba-tiba datang menjemputku tadi, apa mungkin karena melihatku di kampus rani? Ah, sial… tanganku meraba ke kantong jaket yang aku kenakan. Ah, dunhill mungkin ini memang saat yang tepat untuk melepas penat di paru-paruku.

Aku tidak mau memaksakan tubuhku untuk bergerak, mungkin orang yang melihatku sekarang akan merasa aneh dan mengira aku orang gila yang tidur diatas paving. Setengah batang dunhill telah terbakar, kuraba-raba saku jaketku yang satunya. Sematpon kesayanganku masih bisa dinyalakan dan untungnya mereka tidak menyita atau merebut sematponku. Bisa jadi mereka tahu semua gerak-gerikku, apalagi aku tidak pernah hafal nomor rani dan eri. Bagaimana coba kalau sematponku disita dan rani menghubungiku. Untung kan sematponku tidak di rebut mereka. touch… touch… touch… touch… touch… dan seterusnya, ku kirim sebuah pesan BBM ke anton.

To : Anton ÔÇ£Awan KintonÔÇØ
Empat orang datang kekampus,
Mereka mencari rani dan eri
Setelah sebuah pesan kukirim ke anton, aku masih rebah diatas paving yang lumayan teduh. Untungnya saja mereka mereka memilh tempat yang enak untukku dihajar.

Tek kotek kotek, anak ayam… Ringtone

ÔÇ£Bagaimana kamu bisa tahu?ÔÇØ

ÔÇ£Asu (Anjing), tanya keadaan dulu kenapa?ÔÇØ

ÔÇ£Lho? Lha emang kamu kenapa bro?ÔÇØ

ÔÇ£Tadi aku diciduk sama mereka, dan disekap untungnya ndak dibunuh, mereka tahu aku teman KKN-nya. Sekarang aku sedang terbaring lemas habis dihajar oleh merekaÔÇØ

ÔÇ£hufth… untunglah kamu Cuma dihajar. Tapi dilihat dari pergerakan mereka, mereka berjalan hati-hatiÔÇØ

ÔÇ£matamu! Sebenarnya aku mau dibunuh tadi, salah satu dari mereka tahu siapa akuÔÇØ

ÔÇ£yang penting kamu ndak mati kan? Ha ha haha Ya sudah, biar anggotaku sekarang yang mengitari kampusmuÔÇØ

ÔÇ£ati-ati bro…ÔÇØ

ÔÇ£oke, oh iya, ada informasi. Dari anggotaku ada yang melihat ayahmu naik mobil sama wanita. Jadi hati-hati bro…ÔÇØ

ÔÇ£Eh, okayÔÇØ

Pastilah Tante wardani, istri pak koco… ah kapan aku bisa membebaskan mereka dari belenggu perbudakan ayahku dan om nico. Bagaimana caranya agar aku bisa menyelesaikannya dengan cepat? Setelah satu batang dunhill menjadi asap dan tertinggal filter, Aku paksakan tubuhku untuk bangkit dan mulai berdiri secara perlahan. Jalanku pincang, punggungku linu seperti seorang tua yang sedang sakit pinggang. Aku berjalan menuju ke kamar mandi auditorium yang dekat dengan rektorat dan membasuh lukaku. Sial, kenapa juga pas diwajah ada luka, bisa tambah ndak ganteng aku.

Sejenak aku beristirahat duduk di depan auditorium tersebut. Ah, universitasku dan universitas dimana ibuku berada. Aku disini juga karena aku melihat dian yan pernah aku lihat waktu itu. kulihat sekilas seoran lelaki yang aku kenal, ya itu adalah anda sedang bersama seorang wanita disisinya berjalan berdampingan. Tangan anda sedang menggandeng tangan wanita itu. gila, cepat banget dia dapat gebetan baru. Ah, namanya juga seorang laki-laki, mati satu tumbuh seribu.

ÔÇ£kaget ya?ÔÇØ ucap seorang lelaki dari belakangku, aku menoleh kearah suara itu

ÔÇ£eh, pak felix… gimana kabar pak felix kok ndak pernah kelihatan?ÔÇØ ucapku sembari mencoba berdiri dan menyalaminya

ÔÇ£iÔÇÖm fine… sudah santai saja,ÔÇØ ucap pak memegang pundakku dan duduk disampingku

ÔÇ£lho wajahmu kenapa? berantem lagi? Wah wah kamu itu ndak ada kapoknya sejak kejadian waktu itu?ÔÇØ ucap pak felix

ÔÇ£alah pak namanya juga anak muda, masih labilÔÇØ jawabku sekenanya

ÔÇ£kamu itu ada-ada saja…ÔÇØ ucap pak felix yang kemudian mengeluarkan sebungkus rokok berwarna merah, Djarum Super

ÔÇ£kok baru kelihatan pak?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£ngisi pelatihan diluar kampus, mungkin tahun ajaran baru nanti sudah bisa mulai ngajar lagiÔÇØ ucap pak felix dengan hembusan asap keluar dari mulutnya

ÔÇ£kamu kaget ya lihat anda jalan sama cewek lain?ÔÇØ ucap pak felix membuatku heran karena seakan dia tahu semuanya

ÔÇ£kenal saja tidak pak…ÔÇØ jawabku sekenanya

ÔÇ£masa ndak kenal? Bukannya setelah dian tidak jadi sama aku, anda yang pedekate sama dian? kamu ndak tahu?ÔÇØ ucapnya yang kelihatannya berpura-pura tidak tahu menahu tentang semua yang terjadi

ÔÇ£bu dian kan dosen pak, itu urusanya bu dian. bukan urusan saya, saya kan Cuma mahasiswaÔÇØ ucapku

ÔÇ£arya… arya… hufffffffffthhhh….ÔÇØ deburan asap keluar dari bibirnya

ÔÇ£entah mengapa aku merasa kalau dian itu suka sama kamu, walau aku tidak tahu keseluruhannya. Waktu aku melamar dian di taman waktu itu dan kamu ada disitu, raut wajah dian langsung berubah dan pasti kamu juga merasakannyaÔÇØ

ÔÇ£anda, dia laki-laki sainganku juga ketika aku mendekati dian untuk kedua kalinya. Aku dulu pernah pacaran sama dian pas study diluar negeri tapi putus gara-gara aku selingkuh. Balik ke negeri sini, mencoba memperbaiki ada anda menjadi sainganku tapi anda mundur ketika tahu aku yang menjadi sainganku. Tapi sejalan dengan waktu aku sendiri yang kalah tidak bisa menaklukan dian, aku tidak tahu apa alasannya tapi kelihatannya alasannya adalah kamuÔÇØ

ÔÇ£anda mental ditolak sama dian, dia cerita ke aku, dan dia juga cerita waktu itu dia secara terang-terangan ngomong ke kamu agar kamu menjauhi dian. mungkin dia merasa sama seperti yang aku rasakan, ketika ada kamu dian selalu berubah. tapi waktu itu aku membuang jauh pemikiran itu, ya karena kamu mahasiswanya… ÔÇØ ucap pak felix dengan gumpalan asap keluar dari mulutnya

ÔÇ£ah pak felix bisa saja…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£aku juga tidak tahu ar, tapi seandainya saja dia menyukaimu dan kamu juga memiliki perasaan yang sama… jaga dia ar, aku tidak tahu tentang perasaan dian ke kamu tapi yang jelas ada sesuatu yang membuat dia tertarik kepadamuÔÇØ ucap pak felix sedikit membuatku terdiam

ÔÇ£ha ha ha ha sudah jangan kamu pikirkan ar, kamu lulus dulu saja kerja baru pedekate sama dian. pasti dia mau, karena…. dian bukan wanita sembarangan, itu yang aku tahu. Pacarnya saja pasti tidak akan berani menyentuhnya sampai pacarnya menikahinya, mungkin karena aku nakal ya ar dan aku lelaki yang suka bertualang. Jiwa petualangku yang membuatku tidak betah dengan dian waktu itu, dan akhirnya aku pergi dari dian. tapi waktu itu aku menyesal, namanya kesempatan kedua itu pasti ada tapi tidak akan pernah sama dengan kesempatan yang pertamaÔÇØ ucap pak felix semakin membuatku tertegun

ÔÇ£ha ha ha ha aku ini ngomong apa ya ar, ya sudah aku mau pergi dulu dan ingat ya ar… kalau kamu jadi sama dian, kamu tidak akan pernah menyesal…ÔÇØ ucap pak felix

ÔÇ£pak, ngimpi kali ya pak kalau mahasiswa bisa pacaran dengan dosennya?ÔÇØ ucapku santai

ÔÇ£mimpi itu cita-cita, kan kamu tahu sendiri semua berawal dari mimpi atau khayalan kita. Kalau ndak punya mimpi berarti orang itu mati ha ha ha lha kamu suka sama dian ndak?ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£ya kalau bu diannya mau sama saya, saya mau pak… gila apa cowok nolak cewek kaya bu dianÔÇØ ucapku cengengesan

ÔÇ£ha ha ha ha… ya sudah aku pergi dulu, mau ke luar kota lagi ini tadi mampir ke auditorium jalan-jalan melepas kangen sama universitas, sudah berbulan-bulan ndak pernah pulang ha ha ha oh iya, kurangi kesukaanmu berkelahi ar…bahaya tahuÔÇØ ucap pak felix sambil berdiri

ÔÇ£okay pakÔÇØ ucapku, kulihat pak felix kemudian berjalan menuju ke rektorat dan disana ada seorang wanita yang berjalan kearahnya. Kulihat mereka tampak mesra, ah ternyata dia sudah dapat wanita lagi.

Argh sialan, tubuhku rasanya sakit semua. Kalau seperti ini, lebi baik aku segera pulang kerumah dian. istirahat dan tidur, ah benar juga aku juga bisa merokok dibelakang rumah. Mumpung ndak ada dian dirumah, jadi aku bisa bebas. Aku segera melangkah menuju ke tempat parkir kampusku yang berada nun jauh dari auditorium. Ya walaupun jauh aku memilih jalan melingkar dengan tujuan agar aku tidak bertemu dengan orang-orang yang aku kenal, setelah sampai di tempat parkir segera aku melaju dan pergi dari kampus.

Dalam perjalanan aku kemudian teringat akan kata-kata orang yang baru saja memukuliku. Ah, wanita cina, ajeng. Semoga saja ajeng tidak diapa-apakan, tapi kalau dari pembicaraan mereka menurutku ajeng baik-baik saja. apa aku harus menemuinya ya? waduh, bisa jadi perang dunia ketiga kalau dian tahu aku menemui ajeng. Mending tidak usah sajalah, anton ya anton, aku hubungi dia saja mengenai ajeng. sesampainya aku dirumah dian, segera aku masuk.

Rumah dalam keadaan sepi tanpa penghuni. Aku buat segelas teh hangat dan duduk dipekarangan rumah ditemani dua batang dunhill. Segera aku menghubungi anton untuk menanyakan keadaan ajeng. menurut penuturan anton ajeng dalam kondisi baik-baik saja. Tak ada yang berubah dari ajeng, dari sesama anggota IN yang memberikan informasi ke anton. Ternyata, ajeng ditemui oleh orang-orang suruhan ayah hanya sebentar dan setelahnya ajeng dibuntuti oleh orang-orang tersebut selama beberapa hari. Namun setelahnya orang-orang suruhan ayah tidak lagi membuntuti ajeng karena keseharian ajeng hanya ngampus-ngampus dan ngampus.

Lega rasanya mendengar ajeng tidak apa-apa, ah ajeng tubuhmu berlumurkan air danau. WhaT! Hei sadar arya, sadar ada dian dipikaran kamu. mau tidur sama guling kamu arya? ah daripada berpik yang tidak-tidak mending aku cuci muka dan tidur siang. Kubungkus dua batang filter dunhill dan kubuang ditempat sampah agar dian tidak tahu kalau aku merokok dirumah. Segera aku mencuci muka dan menggosok gigiku.

Ngiiiiiik…… bruuuummmmm….. psfttt…. ngiiiiik… suara pintu gerbang terbuka, tidak lama kemudian suara mobil masuk ke dalam rumah dan mati diikuti suara gerbang yang terutup. Aku keluar dari kamar mandi, beridiri di dekat sofa depan TV, kudengar suara langkah kaki cepat menunju ke dalam rumah. Kleeeek….

ÔÇ£maaaaaaaaaaaaaas….ÔÇØ ucap dian berjalan cepat kearahku

ÔÇ£sudah dibilangin jangan berkelahi lagi, kenapa masih juga suka berkelahi! Ini wajah kenapa? iiihhhh cepetan duduk…ÔÇØ ucap dian memegang wajahku sejurus kemudian ditariknya tubuhku dan duduk di sofa. secepat kilat dian mengambil kotak peralatan obat.

ÔÇ£sudahlah kan cuma luka kecil ndak papa kok, tenaaaang…ÔÇØ ucapku santai

ÔÇ£ndak papa-ndak papa, aku itu khawatir tahu gak sih kamu itu, dasar cowok sukanya main kekerasan!ÔÇØ bentak dian yang berjalan kearahku

ÔÇ£eh… iya maaf, bukan berkelahi. Ini hasil dari penelusuran informasi ke kampus rani sayangÔÇØ ucapku merayu

ÔÇ£diam…ÔÇØ ucapnya sambil berlutut dihadapanku dan membuka kotak obat

Kulihat dengan telaten dian mengobatiku, setiap goresan luka di wajahku di obatinya dengan lembut. Terasa sakit dan perih memang namun tak membuat mataku beralih melihat wajahnya yang tampak sangat khawatir. Aku tersenyum namun wajah dian masih juga terus serius, jadi merasa bersalah.

ÔÇ£ade,kok tahu kalau mas terluka?ÔÇØ ucapku mencoba merayu dengan panggilan mas-ade

ÔÇ£dari felix…ÔÇØ ucapnya judes

ÔÇ£ketemu sama dia?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£kenapa? cemburu?ÔÇØ ucapnya masih terus mengobati lukaku

ÔÇ£ndak, ngapain cemburur?ÔÇØ balasku santai

ÔÇ£beneran?ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£iya beneran ndak suka kamu ketemu sama diaÔÇØÔÇØ jawabku ngambek

ÔÇ£itu namanya cemburu… berarti sayang dong sama dosennyaÔÇØ godanya sedikit ada senyum, dengan membenahi kotak obat dan berdiri mengembalikan kota obat tersebut

ÔÇ£ndak sayang…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£terus kenapa dirumah ini? mending pergi saja sana!ÔÇØ ucapnya dengan wajah marah ketika berbalik dan berdiri melihatku

ÔÇ£aku sih ndak sayang sama kamu… Cuma cinta saja sama kamuÔÇØ jawabku santai sambil merebahkan punggungku bersandar pada sofa

Brughhh….

ÔÇ£argh sakit sayaaaang….ÔÇØ rintih sakitku ketika dian tiba-tiba saja duduk di atas pahaku

ÔÇ£cinta ya?ÔÇØ ucapnya sambil senyum

ÔÇ£heÔÇÖem…ÔÇØ jawabku mengangkat tubuhku, mendekatkan wajahku ke wajahnya. Walau kealaku sedikit menengadah ketika itu.

ÔÇ£jangan berkelahi lagi hiks hiks hiks…ÔÇØ ucapnya sambil memeluk kepalaku, dan yuuut terbenam semua wajahku di dadanya

ÔÇ£mmmm… mmmm… hah hah hah hah hah… ndak bisa nafasÔÇØ jawabku

ÔÇ£sudah jangan nangis, selama urusanku belum selesai seperti yang aku ceritakan kepadamu. Mungkin aku masih tetap berkelahi, namu jika semuanya selesai aku pasti berhenti dari berkelahi kecuali kamu dalam bahayaÔÇØ jawabku

ÔÇ£janji ya…ÔÇØ ucapnya memandangku, kuhapus air matanya dengan kedua tanganku

ÔÇ£sini ade peluk lagi…ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£ndak bisa nafas adeÔÇØ jawabku

ÔÇ£ndak suka ya?ÔÇØ ucapnya sambil wajahnya sedikit mewek

ÔÇ£suka… adeku suka apalagi dipeluk sama bu dosenÔÇØ ucapku dan tanpa dikomando kepalaku maju dan masuk kedalam gumpalan dada dian, setelahnya kumiringkan kepalaku dengan maksud untuk bernafas

Dielusnya kepalaku dengan lembut dan sambil bibir tertutupnya menyanyikan alunan lagu. Entah lagu apa tapi aku merasa tenang didekatnya. Kupeluk tubuhnya erat, dan tubuh kami bergoyang bersama.

ÔÇ£maem dulu yuk, ade beli makan siang tadi di luar…ÔÇØ ucapnya

Aku melepas pelukannya dan mengangguk pelan kearahnya. Aku hanya duduuk di sofa menunggu dian mengambil makan siang di mobil. Dian, kemudian masuk membawakan makan siang dan kami makan bersama. seperti biasa dian selalu minta disuapi setiap makan, ah benar-benar wanita ini tidak membuatku bisa berkonsentrasi makan. Setiap berada di dalam rumah dian selalu melepas semua pakaiannya dan meninggalkan tank-top beserta celana dalam tipis. Menyuapi penuh dengan pemandangan erotis bagiku hari ini, mataku tak pernah luput untuk melirik dada dan selangkangan dian. sebenarnya dian juga tahu kelakuan mataku, terkadang daguku diangkatnya dan dian tersenyum manis kepadaku. ah, godaan…. bertahan arya bertahaaaaan…

ÔÇ£Masih pegal ndak?ÔÇØ ucapnya bangkit sambil mengambil piring

ÔÇ£sedikitÔÇØ ucapku meinum es teh buatannya

ÔÇ£nanti malam aku pijitin, tapi nanti malam yaÔÇØ ucapnya sambil berlalu menuju dapur.

ÔÇ£kenapa harus nanti malam?ÔÇØ tanyaku selepas dian kembali dari dapur

ÔÇ£ya… mmmm…. egh….ÔÇØ ucapnya sambil menjatuhkan tubuhnya disampingku yang berada disofa, kepalanya langsung rebah dipahaku. Diraihnya bantak kecil dan dipeluknya.

ÔÇ£dielus-elus…ÔÇØ ucapnya, sudah ketahuan kalau dia ingin bermanja-manjaan hari ini

ÔÇ£yang mana?ÔÇØ godaku

ÔÇ£terserah, pokoknya pengen bobo dipangkuanmuÔÇØ ucapnya

ÔÇ£terus masmu yang jelek ini bobo dimana? Kan lagi sakitÔÇØ ucapku

ÔÇ£yeee… sakit kan karena perbuatan sendiri weeeeek…ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£iyaa… iya, dah bobo dulu, kelihatan capek wajah kamu yangÔÇØ ucapku

Ah, dian memejamkan matanya. Terlihat sangat cantik, apapun yang dian lakukan dihadapanku selalu terlihat cantik. Entah bangun tidur, entah habis mandi, entahlah pokoknya apapun yang ada pada dirinya selalu terlihat indah dimataku. Sifatnya yang kadang manja membuatku seakan menjadi seorang lelaki yang lebih dewasa darinya yang harus memnuhi semua keinginannya, memberitahukan kepada dia mana yang salah dan mana yang benar. Ya, itu terjadi ketika dia bermanja-manjaan kepadaku tapi ketika dia memanggilku dengan sebuta kamu-aku terlihat sekali dia mencoba mengajakku untuk menjadi temannya, sahabatnya yang bisa saling berbagi satu sama lain. Berbeda lagi ketika dia menjadi seorang dosen di kampus, penuh dengan kewibawaan terhadap seorang mahasiswa. Memberikan masukan dan memberikan nasehat kepadaku. Ah, apa mungkin itu dia sengaja melakukan hal itu semua agar aku bisa mulai berpikir dewasa? Ya, dilihat dari manapun aku tampak masih seperti anak kecil, seorang bocah yang masih labil emosinya.

ÔÇ£aku tadi ketemu felix…ÔÇØ ucapnya dengan mata terpejam

ÔÇ£ouwh…ÔÇØ jawabku dengan perasaan sedikit terbakar

ÔÇ£ketemuan?ÔÇØ lanjutku sambil mengelus kepalanya

ÔÇ£tidak, tadi dia ke ruangku pas lagi ngobrol sama ernaÔÇØ jawabnya

ÔÇ£dia kan sudah punya pacar…ÔÇØ jawabku

ÔÇ£iya, aku sudah tahu…ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£terus kenapa dia datang ketempatmu?ÔÇØ selidikku

ÔÇ£Cuma main pengen ketemu sama teman-teman dosen, katanya…ÔÇØ jawabnya masih terpejam dan memeluk bantal kecil

ÔÇ£eh… terus?ÔÇØ selidikku

ÔÇ£kenapa? cemburu?ÔÇØ jawabnya

ÔÇ£eh, ya ndak gitu kan aku Cuma nanya sajaÔÇØ jawabku mengelak

ÔÇ£nanya apa cemburu? Kok nadanya seperti itu?ÔÇØ balasnya

ÔÇ£iya, aku cemburu…ÔÇØ jawabku tegas

ÔÇ£terus kalau cemburu mau ngapain?ÔÇØ ucapnya dengan wajah datar, matanya masih terpejam

ÔÇ£tergantung dia ngapain sama kamuÔÇØ balasku

ÔÇ£kalau semisal dia ngajak pergi aku, terus ngajak makan siang bagaimana?ÔÇØ ucapnya membuatku semakin panas

ÔÇ£kok kamu gitu? Kenapa ndak ngabari aku tadi?ÔÇØ jawabku dengan nada sedikit marah dan membuatku menghentikan elusan pada kepalanya

ÔÇ£aku kan bilang semisal yang, elus lagi…ÔÇØ jawabnya

ÔÇ£aku hajar dia…ÔÇØ jawabku santai tanpa melanjutkan mengelus kepalanya. Matanya terbuka dan membalikan tubuhnya memandang ke atas, ke arah wajahku. Diraihnya tanganku untuk mengelus kepalanya kembali, dengan sedikit malas aku mengelus kepalanya lagi

ÔÇ£hal itu tidak akan menyelesaikan masalah, malah memperparahnya. Kenapa kamu tidak mengatakan kepadaku untuk tidak jalan dengan cowok lain atau menasehtiku. Kamu laki-lakiku seharusnya kamu bisa menjawab dengan kelaki-lakianmu, itu semua hanya permisalan namun kamu sudah menaikan emosi kamu sendiri…. elus lagiÔÇØ jelasnya santai dan kemudian memiringkan tubuhnya kembali dan memeluk guling.

Aku terdiam sejenak, memang aku terlalu berburuk sangka padahal itu sebenarnya hanya sebuah permisalan. Permisalan yang dibuat dian adalah permisalan yang belum terjadi, dan aku yakin tidak akan terjadi. Tanganku berhenti sejenak diatas kepalanya dan kupadanngi wajahnya yang sedikit ngambek karena jawabanku.

ÔÇ£maaf…ÔÇØ jawabku pelan dan mulai megelus kepalanya lagi

ÔÇ£kamu laki-lakiku, dan jika hal itu terjadi… dan kamu mengetahuinya dengan mata kepalamu sendiri, apakah benar dengan datang ke tempat makan dan menggebrak meja lalu menghajar felix ditempat itu? apa kamu mau menjadi seorang lucas?ÔÇØ mendengar jawaban itu aku terdiam

ÔÇ£atau jika seandainya kamu mengetahui hal itu dari teman kamu atau mengetahuinya dariku atau mengetahuinya dari pesan singkat di sematponku… apakah kamu akan mendatangi felix atau mungkin memarahiku semarah-marahnya dan lalu mendatangi felix lalu menghajarnya?ÔÇØ jelasnya

ÔÇ£kenapa diam?ÔÇØ lanjutnya bertanya kepadaku

ÔÇ£maaf mungkin aku tadi menjawab dengan emosi, padahal itu hanya sebuah permisalan…ÔÇØ jawabku datar

ÔÇ£permisalan atau bukan, itu menandakan personal kamu. permisalan atau bukan itu semuanya bisa terjadi. Permisalan atau bukan, kamu adalah lelakiku… aku tidak ingin kamu menjadi sangat arogan dalam kehidupamu ketika bersamakuÔÇØ jelasnya

ÔÇ£apa cinta akan selalu membuatmu buta akan sebuah pertanyaan? Cobalah bertanya, bukan maksudku untuk meminta kebebasan dari kamu ketika diluar sana tapi cobalah untuk menggunakan logikamu dan berpikir. Berprasangkalah sebaik mungkin terhadap seseorang sebelum kamu menemukan bukti yang konkrit, bukankah selama ini kamu juga melakukannya?…. Ayahmu…ÔÇØ jelasnya, aku semakin terdiam tanpa menggerakan tanganku. Kata-katanya seakan menamparku, ingin rasanya marah ketika dia berbicara seperti itu. tapi memang bear, selama ini aku tidak menyukai ayah sebelumnya tapi setelah semua bukti aku dapatkan aku baru mulai tidak menyukainya.

ÔÇ£kamu adalah lelakiku, selamanya menjadi lelakiku… aku ingin kamu menjadi pemilik rumah ini bersamaku, saling melegkapi dan saling berbagi. Marah adalah hal yang biasa, selam kita mencoba untuk bertanya dan menghargai jawaban dari masing-masing. Jika memang ada yang salah, kita perbaiki bersama, tap ingat…ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£eh…ÔÇØ aku sedikit terkejut mendengar perkataan dian yang mengeras ketika mengatakan kata ÔÇ£tapi ingatÔÇØ. Matanya terbuka dan melihat kesamping tanpa melihatku

ÔÇ£jika kamu melakukan satu kesalahan saja dengan bermain dengan wanita lain. Aku tidak akan membalas perbuatanmu, hanya akan mengakhiri hidupku didepanmu…ÔÇØ jelasnya

ÔÇ£mungkin aku bocah sampai sekarangpun aku masih bocah. Bahkan kamu sendiri pernah bilang aku masih seperti bocah… he he heÔÇØ jawabku, dian berbalik memandangku

ÔÇ£kenapa kamu malah tertawa?ÔÇØ tanyanya

ÔÇ£karena aku sudah kehabisan kata-kata jika melawanmu. Maafkan atas jawabanku, dan jika semua permisalan yang kamu buat benar-benar terjadi ketika kita sudah bersama… aku akan melakukan apa yang kamu lakukan jika aku melakukan perbuatan bodohÔÇØ ucapku

Mata kami saling berpandangan, tak ada kata-kata terucap…

ÔÇ£jadilah lelakiku selamanya, jadilah pemimpinku… aku sangat mencintaimu…ÔÇØ ucapnya lirih

ÔÇ£dan kamu juga, jadilah wanitaku, jadilah ratu dalam kehidupanku… aku juga sangat mencintaimuÔÇØ ucapku membalas

Tubuhku ditariknya lembut dengan tangan kanannya, membungkuk dan bibirku bersentuhan dengan bibirnya. Lembut tanpa perkataan apapun, mungkin setelah ini aku memang harus lebih hati-hati dalam mengendalikan emosiku, mengendalikan perkataanku. Karena lawanku adalah seorang dosen yang selalu mengerti krakteristik dari mahasiswanya. Dia tahu semua tentang aku, sedangkan aku masih buram tentang dirinya. Yang aku tahu dian sangat mencintaiku, begitu pula aku. Dengan manja dian memintaku untuk kembali mengelus kepalanya hingga dia tertidur. nafasnya menjadi sangat teratur seketika itu, kulihat wajahnya tampak lelah. Punggungku rebah ke sandaran sofa dan ikut tertidur bersamanya dengan wanita yang aku cintai berada dipangkuanku.

Malam harinya, makan bersama seperti biasa dan berbincang selama aku menyuapinya.

ÔÇ£bagaimana kamu tahu aku terluka?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£Felix… nyam nyam nyamÔÇØ jawabnya datar

ÔÇ£berarti benar dia datang ke ruanganmu?ÔÇØ ucapku dan dia mengangguk

ÔÇ£dia datang mampir ke ruanganku, karena memang selama ini ada keperluan ke luar kota. Ya hanya say hai saja, tapi setelahnya dia cerita kalau tadi ketemu sama mahasiswa bimbingankuÔÇØ ucapnya setelah menelan makan

ÔÇ£Iya tadi aku ketemu sama pak felix di auditorium setelah dihajar habisÔÇØ ucapku

ÔÇ£besok hati-hati yah nyam nyam nyam air air hug…ÔÇØ jawabnya

ÔÇ£makanya kalau mau ngomong ditelan duluÔÇØ ucapku

ÔÇ£glek glek glek… aaaah… yang ngajak ngomong siapa tadi?ÔÇØ protesnya

ÔÇ£iya, maaf… huh dasar bu dosenÔÇØ ucapku

ÔÇ£apa? Dosen apa? Judes? Gitu?ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£eh eh eh ada pesawat terbang diluarÔÇØ ucapku yang berdiri dan menuju tempat cucian

ÔÇ£iiih dasar cowok nyebelinÔÇØ ucapnya sambil bersedekap dan membuang muka

ÔÇ£ck ck ck ck…ÔÇØ aku menggelengkan kepala sambil memandangnya

ÔÇ£apa?!ÔÇØ bentaknya

ÔÇ£walau muka dibuang, tapi tetap saja kelihatan… mmm…ÔÇØ ucapku yang kuhentikan

ÔÇ£kelihatan apa?ÔÇØ jawabnya

ÔÇ£jelek weeeeeeeeeeeeeeek….ÔÇØ jawabku sembari lari ke arah ruang TV

ÔÇ£ARYAAAAAAAA JELEEEEEEEEEEEEK!ÔÇØ teriaknya sambil mengejarku

Ah, Dian, dian kamu membuat hari-hariku semakin indah bersamamu. Sikapmu membuatku semakin tunduk kepada hatimu. Seandainya dari dulu aku tahu bahwa kamu cewek SMA itu, mungkin aku akan mendatangimu dan mengatakan cintaku terlebih dahulu. Tapi semua berjalan sesuai dengan jalannya aku menemukanmu setelah aku bertualang…

….

ÔÇ£dipijit punggungnya?ÔÇØ ucapnya yang kini berada diatas punggungku

Aku tengkurap di atas sepring bed kamar dian. dian duduk diatasku dan memijit punggungku

ÔÇ£heÔÇÖem… enak ya dipijit adeÔÇØ ucapnya

ÔÇ£iiih… nyebelin, ade ndak pernah dipijit sama masÔÇØ ucapnya

ÔÇ£kan dielus-elus tiap malam, sampe tidur lagiÔÇØ jawabku

ÔÇ£iya iyaaaa… dasar cowok ganteng…ÔÇØ balasnya, sambil mengucek-ucek rambutku. Sebenarnya hanya menakan punggungku saja dengan jari-jarinya, sudah cukup membuatku rileks. Ya, hanya itu yang dilakukan dian kadang pula tanganku dipijatnya, hmmm enak benar punya cewek dian.

ÔÇ£diginiin enak ndak…ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£eh… heÔÇÖem… he he heÔÇØ hanya itu yang bisa aku ucapkan ketika dian menyentuhkan susunya kepunggungku, beberapa kali dian juga mencium tengkuk leherku

ÔÇ£HeÔÇÖem… apanyah?ÔÇØ bisiknya di telingaku, aliran nafasnya membuat darahku berdesir

ÔÇ£pijatanyah yang…ÔÇØ jawabku

ÔÇ£yang mana?ÔÇØ balasnya lagi

ÔÇ£dipunggung yang…ÔÇØjawabku dengan nada tertahan

ÔÇ£enak dipijit pake itu ya yang?ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£heÔÇÖemhhh…ÔÇØ balasku

ÔÇ£heÔÇÖem apanya yang? Dipijit pakai apa sih yang kok keenakan kaya gitu?ÔÇØ godanya

ÔÇ£pakai itunya adeÔÇØ balasku sekenanya

ÔÇ£itu apa? Yang jelas dong…ÔÇØ jawabnya

ÔÇ£payudara ade…ÔÇØ ucapku lantang

ÔÇ£payudara itu apaan sih yang?ÔÇØ godanya

ÔÇ£suh…susu…ÔÇØ jawabku tertahan karena tubuhku ditekan kebawah oleh tubuhnya

ÔÇ£iiih mahasiswaku jorok deh…ÔÇØ balasnya

ÔÇ£dosennyah yang mulaihhh ufthhh… ade bangun, mas ndak bisa nafas nih…ÔÇØ ucapku, dan diang bangun duduk disebelah tubuhku, aku membalikan tubuhku dan memandangnya sebentar

ÔÇ£makasih adeku sayang, yuk bobo saja…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£dieluussss tapi…ÔÇØ jawabnya manja

Kami berbaring bersampingan, tubuhku menghadap ketubuhnya begitu pula tubuh dian miring menghadapku. Wajah kami berpandangan sejenak dan kucium bibirnya perlahan. Nafas kami kembali bersatu, tangannya meraih tanganku dan diarahkannya ke susunya. tubuhnya masih berbalut dengan tank-top dan celana dalam tanpa bra. Kuelus lembut susu dian, matanya terpejam. Tangan dian mulai bergerak menuju ke dedek arya yang berbalutkan celana dalam. Dielus dedek arya dari bawah ke atas, dan ugh… membuatku sedikit mendesah. Elusan lembutku kembali mengelus susu dian, kuarahkan tanganku ke puting dian yang aku rasakan menonjol dan kumainkan dengan jari tanganku.

ÔÇ£mas… emmmmhhhh… erghhh…. masssshhhhh….ÔÇØ desahnya,

Reflek tubuh dian bergerak ketika aku memainkan putingnya, dian bearing dan menghadap keatas. Tangannya menarik tubuhku, walau sebenarnya tidak ditarikpun aku tetap bergerak ke atas dian. ku posisikan mengangkangi dian, tangannya masih mengelus-elus dedek arya yang sudah tegang tanpa syarat. Ciuman kami masih beradu dengan lembut, tanganku masih bergreliya dan memainkan kedua puting dian. desahannya semakin terdengar walau bibirya tertutup oleh bibirku. Matanya terbuka, wajahnya berubah merah ketika melihatku memandangnya. Permainan tanganku semakin menjadi-jadi dan remasan-remasan lembut disusunya serta permainan jariku di puting susunya. pikiranku masih bisa aku kontrol, kutarik bibirku dan kukecup keningnya.

ÔÇ£Bobo yuk dah malamÔÇØ ucapku sambil menggeser tubuhku kesamping kanannya, tapi dian menggelengkan kepala lalu ditariknya kepalaku, kami kembali melumat bibir

ÔÇ£bukain tank-top ade…ÔÇØ ucapnya lirih disela-sela kami berciuman

Lepas ciuman kami, dia duduk didepanku yang kini duduk dan aku tarik tank-topnya hingga terlepas dian kini hanya memakai celana dalam. Kepalanya menoleh kebelakang, wajahnya semakin memerah bibirnya kusambut dengan bibirku. Tanganku mulai memainkan susu dan puitngnya kembali. Tangan dian menelusup masuk diantar tubuh kami, mengelus dan kadang meremas dedek arya. suasana semakin panas, aku terbawa oleh nafsuku sendiri. tangan kananku perlahan mengelus perutnya yang ramping dan semakin kebawah masuk ke dalam celana dalam dian. jariku langsung menjelajah mencari butiran kecil milik dian.

ÔÇ£Arghh…. mas emmmmhhh…. geli erghhhh…. mas… ade sayang mas…. mmmhhhh ade cinta masssshhh… erghhh….ÔÇØ desahnya

ÔÇ£mas juga sayang mmmmmmhhhhh slurpppp….. mas cinta sama adehhh mmmhhhh….ÔÇØ ucapku

Tangan dian kini bukan hanya meremas, namun sudah menarik dedek arya untuk keluar dari celana dalam walau sebagian dari dedek aryamasih tertutup oleh celana dalam. Tangan kiriku memainkan putingnya, bibirku melumat bibirnya sedangkan tangan kananku memainkan klitorisnya. Dian melepas ciumannya dan bersandar seluruhnya ketubuhku, tangannya melepas dedek arya. dian hanya bisa mendesah dan mendesah. Klitorisnya aku mainkan semakin menggila.

ÔÇ£mas… ugh… mmmmm…. ade rasanya mau… pipis, erghh… mas sudah mas… sudhhhhhahhhhhh mas… sudhhhhaaaahhhh… ade mau piphhhhhpisÔÇØ ucapnya namun aku tidak menanggapinya

ÔÇ£wajah ade memerah…. cup….ÔÇØ ucapku sambil mengecup pipinya

ÔÇ£mashh…. mashh…. mashh sudhhhaaaah ade mau erghhhhh…. egh egh egh eghÔÇØ ucapnya kemudian sedikit terasa cairan hangat dari vaginanya. Nafasnya tersengal dan pinggulnya sedikit terangkat keatas. Kupeluk perutnya dan kuciumi lehernya, menunggunya beristirahat sejenak. Tak kusangka dengan memainkan klitorisnya, dian bisa mencapai orgasmenya

ÔÇ£mashhh… ade sayang mashhh….ÔÇØ ucapnya berbalik ke arahku dan langsung menciumku

Ditariknya tubuhku dan kini aku berada diatasnya. Ketika tubuhku berada diatasnya aku tahan dengan kedua tangan dan lututku. Tiba-tiba saja tangan dian menarik celana dalamku dan kini dedek arya mengagantung tegang diatas selangkangannya. Di remas, dan dielusnya.

ÔÇ£mas…ÔÇØ ucapnya dengan mata memandangku, aku tahu maksud arti dari pandangan itu tapi argh….

ÔÇ£be beneran de?ÔÇØ ucapku dan diajawabnya dengan anggukan

Aku turun dari tubuh dian, dian menarik celana dalamnya sendiri hingga kini dian telanjang oval dihadapanku. Kuposisikan tubuhku diantara pahanya yang terbuka. Kupandang sejenak dian dengan wajahnya yang memerah, dian tersenyum manja, argh entah manja atau malu… aku tidak tahu. Aku membungkuku dan kucium dian, kupastikan sekali lagi dan jawaban dian masih sama. Aku kembali diposisiku dan kuarahkan dedek arya ke dalam liang vaginanya yang masih tampak bersih. Kumainkan sejenak klitoris dian, kedua tangan dian menutupi wajahnya. kuarahkan kepala dedek arya, ketika tepat di pintu vaginanya aku membungkuk dan kutarik tangan dian agar memandangku. Sedikit kudorong…

ÔÇ£arghh… pelan masshhh sakiiiiiiiiiiittthhh sakiiiiit mas sakiiiiiittt…. sakiit bangettthhhÔÇØ rintihnya, aku berhenti, baru juga kepala masuk. Tiba-tiba terdengar tangis dian…

ÔÇ£hiks sakit banget mas hiks hiks hiks…ÔÇØ ucapnya, Aku yang kebingungan melihat kejadian ini seketika itu pula rasa ibaku muncul, logikaku kembali menguasaiku. Segera kucabut, aku duduk disamping dian dan kukecup keningnya.

ÔÇ£sudah ade, bobo saja yuk…ÔÇØ ajakku dengan senyum kepadanya

ÔÇ£tapi… maafin ade, tadi beneran sakit banget…hiksÔÇØ tangisnya

ÔÇ£iya, mas minta maaf tadi kelewatan… bobo aja yukÔÇØ ajakku kembali

ÔÇ£tapi mas, hiks mas ndak papa?… ÔÇ£ ucapnya, aku hanya mengangguk penuh senyum walaupun sedikit perasaan kentang didalam otakku

ÔÇ£ngomong sama ade, ade harus ngapain biar mas… tapi kalau diituin lagi hiks ade belum siap, tadi sakit banget hiks… punya mas sih gede banget…ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£kok tahu gede banget, hayo…ÔÇØ godaku

ÔÇ£eh itu iiiih… hiks hiks… ya pernah lihat, erna pernah lihatin video di sematponnyaÔÇØ ucapnya sedikit terkejut. Ah, bu erna ternyata dia juga suka nonton seperti itu pantas saja waktu itu sempat menggodaku

ÔÇ£ya sudah, bobo saja mas ndak papa kok, yuk…ÔÇØ ajakkku

ÔÇ£ndak mauuuuu… ade harus ngapain, tapi kalau itu…ÔÇØ ucapnya diakhiri dengan gelengan kepala

ÔÇ£ya… itu aduh… ndak usah saja, bobo saja…ÔÇØ rayuku

ÔÇ£ade mau mati saja…ÔÇØ balasny sambil membalikan tubuhnya, membelakangiku

ÔÇ£ayo dong jangan ngambek, sayang…ÔÇØ rayuku, aneh juga rasanya, aku yang kentang kenapa dia yang malah marah?

ÔÇ£ade mau mati saja besok hiksÔÇØ ucapnya

ÔÇ£ya sudah… mmm… dikocokin aja dek tapi jangan kasar, yah… ÔÇ£ rayuku, dian langsung berbalik dan duduk dihadapanku.

Diciumnya bibirku dan tangannya mulai meraih batang dedek arya. aku kemudian menggeser dudukku dan bersandar, kedua pahaku terbuka dan dian diantara keduanya. Tubuhnya telanjang, susunya yang sekal masih ranum ndak turun sedikitpun, dan itu ough… bulu-bulu halusnya, aku pengen ngiler. Dian mengocoknya dengan lembut, aku angkat tubuhku dan kudekati wajahnya. Kuangkat dagunya, Kucium bibirnya sekali lagi, kurasakan tangnnya masih mengocok lembut dedek arya.

ÔÇ£mas…ÔÇØdesahnya

ÔÇ£hmmm….ÔÇØ ucapku

ÔÇ£besar banget… apa semua laki-laki besarnya seperti ini?ÔÇØ ucapnya polos

ÔÇ£lha kan ade sudah pernah lihat di video?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£eh… kan ade langsung tutup wajah waktu itu, tapi ya lihat sedikit…ÔÇØ jawabnya

ÔÇ£hiiii…. he he he… beda-beda adeku ughhhh sudah de…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£eh kenapa mas? Sakit? Maaf… maafin ade masÔÇØ ucapnya

ÔÇ£iya,ugh… ÔÇ£ ucapku sambil meniup-niup dedek arya

ÔÇ£maafin ade, ndak tahu harus gimana hiks…ÔÇØ ucapnya dengan tangis lagi

ÔÇ£sudah jangan nangis, dah ndak papa, mungkin karena keset jadinya sakit… punya lotion?ÔÇØ ucapku, dian mengangguk

ÔÇ£kalau minyak zaitun gimana? Ade punya…ÔÇØ tawarnya

ÔÇ£ya dikasih itu saja biar mas ndak terasa sakitÔÇØ ucapku, sekejap dian mengambil minyak zaitun , setelahnya kulumuri tangannya dengan minyak itu. kuarahkan kembali tangannya untuk mengocok dedek arya.

Dian mulai kembali mengocok dedek arya, argh… kocokan belum pernah membuatku keluar kecuali dengan variasi bibir dan susu. Lama sekali dian mengocok dedek arya, tapi dedek arya bukannya semakin menegang tapi malah semakin layu perlahan tertunduk lemas. Kupegang tangan dian yang mengocok dedek arya, tapi pandanganku tidak benar-benar memandangnya tapi memandang yang lain.

ÔÇ£Sudah bobok yukÔÇØ ajakku, tapi wajahnya malah bertambah sedih, air matanya keluar perlahan. Aku jadi bingung, hufth… aku kecup keningnya.

ÔÇ£Sudah kapan-kapan lagi sayang, mas ndak papa beneran selama mas sama ade, mas akan menunggu momen terindah kita, okay?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£hiks… mas bobo… cepetan!ÔÇØ ucapnya dengan setengah menjerit

Melihat wajahnya yang serius aku kemudian memundurkan tubuhku, tidak beraring namun kembali bersandar. Tangan kiri dian mengusap air matanya, perlahan dian mulai menggerakan tangannya, kucoba meresapi setiap gerakan tangnnya. Kupejamkan mata ini membayangkan dian sedang menggoyang pinggulnya dengan tubuhnya yang putih nan indah itu. namun…

ÔÇ£ouchh…. arghhh… ade sudahÔÇØ ucapku sedikit berteriak. Tak menyangka dian akan mengulum kemaluanku, dian terkejut dan melepaskan kulumannya

ÔÇ£kok ade kulum? Tadi sakit mungkin kena gigi adeÔÇØ ucapku

ÔÇ£eh… maaf mas, ade Cuma mau nyoba saja. jangan marah… ade sudah bingungÔÇØ ucapnya, matanya tampak berkaca-kaca

ÔÇ£eh… sudah bobo saja, besok masih ada waktu. Besok ade kan berangkat ke kampus ini sudah malamÔÇØ ucapku, namun dian menggelengkan kepalanya

ÔÇ£ajari…ÔÇØ ucapnya dengan wajah yang hampir mewek. Ah, sial kalau begini aku kelihatan sekali seperti pemain yang ulung

ÔÇ£beneran?ÔÇØ ucapku, dian mengangguk

ÔÇ£hufth… pakai feeling ade saja yang penting jangan kena gigi, pelan-pelan sajaÔÇØ ucapku dan dian mengangguk

ÔÇ£mas rebahan lagi, tutup matanya… ade malu…ÔÇØ ucapnya manja. Aku turuti kemauannya dan kembali rebah sembari menutup mataku

Perlahan aku rasakan , bibir dian mulai menyentuh kepala dedek arya. sedikit aku buka mataku dan kulihat bibir dian secara perlahan melumat dan mengulum kepala dedek arya terlebih dahulu. Sensasi yang luar biasa, dosenku yang dulu judesnya minta ampun sekarang sudah berada ditengah-tengah paha telanjangku dan tentunya dengan tubuh telanjangnya. Kupejamkan mataku kembali, kurasakan bibirnya semakin dalam mengulum dedek arya. memang masih terasa sedikit sakit ketika dian mengulum tapi tak sesakit diawal. Ah, pelan tapi pasti aku sudah bisa menikmatinya, sudah sangat terasa kalau dian sekarang sudah mulai bisa melakukannya. Ugh, terasa kini kulumannya memompa dedek arya. kubuka mataku, kulihat dian sedang mencoba memuaskan dedek arya. perasaanku, nafsuku semakin terbakar melihat pemandangan itu. situasi yang sangat berbeda, membuatku terasa seperti berada dihamparan taman bunga.

ÔÇ£Ade… uh… enak… enak banget… ugh… mas… mau keluar… mas ughh… adeeeeeÔÇØ racauku

Refleks tanganku memegang kepalanya dan menahan kepalanya untuk tidak lepas dari dedek arya. dan crooot crooot crooot crooot crooot crooot crooot… spermaku keluar. Aku yang tersadar langsung melepaskan kedua tanganku dari kepala dian. aku merasa bersalah, dian mencabut kulumannya dan memandangku dengan senyum, spermaku meleleh keluar dari sela-sela mulut dian. ku elus kepalanya perlahan, ketika tanganku mencoba mengelap sperma dimulutnya, tangan dian meahan. Dian kemudian banngkit dan menuju kamar mandi, kulihat tubuh telanjangnya berjalan. Aku tak menyangka akan sejauh ini dengannya. Setelah beberapa saat, dian keluar dari kamar mandi dan aku menghampirinya. Kupeluk tubuhnya…

ÔÇ£terima kasih sayang… terima kasih cintaku… maaf jika sejauh iniÔÇØ ucapku

ÔÇ£ade cinta mas…ÔÇØ Cuma itu yang dian ucapkan kepadaku

ÔÇ£mas juga cinta ade…ÔÇØ jawabku

Kupandang wajah layunya, dan ku cium bibir indahnya…

ÔÇ£iiih… mas kok masih bangun? Bukannya habis keluar langsung lemasÔÇØ sebuah pertanyaan dari seorang wanita dewasa yang seharusnya tak dilontarkannya. Apa dian benar-benar polos mengenai hal ini?

ÔÇ£ini tipe fighter, kalau lawan belum pingsan dia ndak akan lemasÔÇØ candaku

ÔÇ£eh… aaaaaaaaa…ÔÇØ ucapnya sambil menutup wajahnya, dan kemudian dijatuhkan ke dadaku

ÔÇ£lho kenapa?ÔÇØ ucapku, aku bingung melihat dian, ku dorong kedua pundaknya dengan tanganku agar aku bisa melihat

ÔÇ£ade ngebayangin kalau… aaaaa…ÔÇØ ucapnya langsung menjatuhkan kembali wajahnya yang tertutup tangannya ke dadaku, dan aku tahu maksudnya.

ÔÇ£yeee kan masih lama, yuk bobo…ÔÇØ ucapku, dian mengangguk dan mengiyakan

Dian membuka wajahnya, memandangku sejenak dan mengecup bibirku. Langsung dia berjalan menuju ke kamar dan berbaring, senyumnya selalu terlukis di wajanya. Kupandangi sejenak dian yang berbaring di atas tempat tidur, kupandangi seluruh tubuh indah itu. ah, benar-benar sempurna bagiku bahkan jika dibandingkan dengan mmm selama aku bertualang sangat berbeda. natural dan murni indahnya. Susunya yang menurutku paling besar dari yang pernah aku lihat. Kulitnya putih bersih, dan tubuhnya yang membentuk memperlihatkan keseksiannya. Kudeati tubuh yang tampak lelah tersebut dan dan kudekap dalam pelukanku. Kucium keningnya dan kutarik selimut untuk menutupi ketelanjangan kami berdua. Lelah malam menemani kami tertidur.

ÔÇ£ini yang terhebat…ÔÇØ ucap dedek arya

Kini kehidupanku bersama dian, wanita yang selama ini aku cari. Pagi menjelang, semuanya tampak indah, semuanya sudah tersedia hampir sama ketika aku berada dirumah. ketika makan bersama adalah momen yang indah bagiku dan juga memakan waktu yang lama, karena aku harus menyuapinya. Hari ini dian berangkat ke kampus dan aku berada dirumah. Menjadi seorang pengangguran dengan kekasih yang bekerja, enak kan? Iya enak sekarang tapi kalau terus begini, pasti didepak aku sama dian. emang nasi bisa dibeli dengan cinta, aku tetap dengan logikaku. Untuk saat ini aku menjalaninya dengan rasa sedikit sungkan karena semua kebutuhanku dicukupi oleh dian. uang saku? Hanya dari ibu dan itu pun ada di ATM, sedangkan uang hasil curian yang aku curi dari ayah masih ditempat yang aman.

Welcome to wherever you are this is your life (Bon Jovi). Ringtone. Anton

ÔÇ£halo ntonÔÇØ

ÔÇ£bro, kabar burukÔÇØ

ÔÇ£heh, ada apa nton?ÔÇØ

ÔÇ£kemarin wanita yang bersama ayahmu, ternyata setelah aku tanyakan kembali ke anggotaku. Dia adalah ibumuÔÇØ

ÔÇ£hah?ÔÇØ (bukankah ibu seharusnya sudah berangkat liburan)

ÔÇ£be benar itu ton?ÔÇØ

ÔÇ£iya, sebaiknya kamu hubungi ibu kamu duluÔÇØ

ÔÇ£okayÔÇØ

Segera aku tutup telepon dari anton, kulihat jam dinding menertawakanku semakin keras. Pukul 10.00 WIB, ah kenapa baru sekarang anton memberitahukan kepadaku. Kutelepon ibu namun hanya suara tut tut tut yang terdengar, tak ada jawaban. Aku semakin gelisah dengan keadaan ini, apalagi aku belum tahu maksud ibu kembali kerumah. Mungkinkah ayah akan menggunakan ibu sebagai pengganti rani da eri yang telah menghilang?ah, kenapa aku malah membuat posisi ibu semakin sulit seperti ini? bagaimana ini? kemana ayah membawa ibu pergi? Aku tidak tahu, aku harus keluar, harus mencarinya. Segera aku bangkit dan masuk kedalam kamar ku ganti baju dan…

Centung. BBM masuk.

From : Ibu tercinta
Sssst… teleponnya nanti saja ya
Jangan balas!
Pokoknya tunggu kabar ibu :*
Dari ibu, dan membuatku semakin panik 7 keliling. Ingin aku membalasnya tapi ibu sudah mengatakan untuk tidak membalas pesannya. Taku jika aku menghubungi ibu, dan ayah tahu. Apakah mungkin? Argh! Aku tidak tahu, aku bingung. Aku menunggu dan menunggu, kucob telepon ibu tapi tetap hanya nada sambung yang aku dengar dari sematponku. Kurang lebih sudah dua jam ibu tidak memberi kabar, tapi mau bagaimana lagi aku hanya bisa menunggu. Dan tepat pukl 12:00, ibu meneleponku.

ÔÇ£halo, Ibu kenapa sih kok malah sama ayah? Bahaya buuuuuÔÇØ

ÔÇ£ndak nanya kabar ibu dulu nih?ÔÇØ

ÔÇ£ibu kok bisa satai begitu?ÔÇØ

ÔÇ£iya dong, kemarin ada yang ketinggalan lagi. Ibu telepon ayah untuk jemput, karena belum beli tiket ya berangkatnya hari ini sayangÔÇØ

ÔÇ£lha terus sekarang?ÔÇØ

ÔÇ£ibu nunggu bis diterminal, ayahmu sudah pergiÔÇØ

ÔÇ£huft beneran kan bu?ÔÇØ

ÔÇ£beneran sayangku, sudah kamu tenang saja dan sebentar ibu tutup dulu teleponnya, ibu mau kirim gambarÔÇØ

ÔÇ£eh, kan ndak perlu ditutup bisa bu…ÔÇØ

ÔÇ£ibu sudah tua nak, gimana caranya? Kamu mau mendikte ibu pelan-pelan? Malah lama lho, mending tutup dulu, ibu bisanya ditutup dulu, maklum jamannya ibu belum ada kaya giniÔÇØ

ÔÇ£Iya bu iyaÔÇØ

Setelah telepon ditutup selang beberapa lama sebuah gambar terkirim. gambar tersebut adalah gambar sematpon ayah yang di ambil gambar oleh ibu. Gambar tersebut menunjukan lokasi dimana pertemuan akan dilagsungkan, segera gambar tersebut aku kirimkan ke anton. Belum ada balasan dari anton, ibu kemudian menelepon kembali.

ÔÇ£Ibu kok bisa dapat informasi itu?ÔÇØ

ÔÇ£Ya bisa dong sayang, kan kamu tahu sendiri… coba diingat dulu waktu diatas kasur, ayahmu dikasih apa coba?ÔÇØ

ÔÇ£Obat tidur bu?ÔÇØ

ÔÇ£HeÔÇÖem…ÔÇØ

ÔÇ£fyuuuuuh…ÔÇØ

ÔÇ£Kok lega banget kayaknya? Ada apa?ÔÇØ

ÔÇ£berarti ibu ndak ngapa-ngapain kan sama ayah?ÔÇØ

ÔÇ£Ndak sayang… sayang bisnya sudah datang, ini ibu mau menyusul mereka dulu yaÔÇØ

ÔÇ£Kok Ibu di terminal? Bukannya naik pesawat atau kereta bu?ÔÇØ

ÔÇ£iya tadinya juga ibu mau naik pesawat atau kereta api, tapi ibu milih naik bis saja. walaupun telat kan ndak masalah sayang, yang penting sampai ditujuan kan? Dan yang jelas, ayahmu tidak tahu kemana ibu pergi, benar kan?ÔÇØ

ÔÇ£iya deh percaya sama ibu, ibu hati-hati ya?ÔÇØ

ÔÇ£Iya sayang, kamu juga hati-hati, muachÔÇØ

ÔÇ£muach juga ibuku sayangÔÇØ

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*