Home » Cerita Seks Mama Anak » Wild Love 52

Wild Love 52

Suasana dingin malam masih terasa di pagi yang mulai dihiasi oleh sinar matahari ini. tampak satu per satu tanaman mulai bernafas kembali membersihkan kotoran-kotoran udara. Embun-embun pagi mulai merangkak diatas daun. Ya dingin, walaupu matahari sekarang mulai untuk menghangatkan suasana di daerah yang masih kental dengan budaya daerahnya. Kembali ke sebuah rumah yang terletak di daerah perumahan ELITE, sebuah rumah yang dihuni oleh dosen perempuan yang cantik mungkin itu kata yang pas untuk menggambarkan dirinya. Manis? ya memang benar manis tak ada kata lain lagi. Di dalam kamar itu seorang laki-laki bernama Arya sedang tertidur sangat pulas, lelah karena malam yang mungkin melelahkan baginya.

Wanita itu terjaga karena alarm dari sematpon kesayangannya, segera wanita itu meraih sematpon dan mematikan alarm yang berbunyi lumayan keras. Wanita itu melepaskan tangan lelaki yang memeluknya, dia kemudian bangun dan duduk sambi merenggangkan ke dua tangannya. Mulutnya menganga lebar yang langsung ditutupinya dengan tangan kanannya. Kedua tangannya memaksa matanya untuk terbuka, dikucek-kucek, argh… walaupun sehabis bangun tetap saja dia tampak cantik dan manis. Ya, dia Dian pemilik rumah ini.

Dian duduk dengan kedua lutut tertekuk, direbahkannya kepalanya di atas lututnya miring memandang lelaki yang bernama arya. Dengkuran keras Arya tidak membuat dian terganggu, dian malah tersenyum ketika melihat tingkah bocah yang berumur 4 tahun dibawahnya. Dikecupnya kening lelaki itu dan dimainkannya hidung lelaki itu dengan jari telunjukny. Senyumnya lebar melihat wajah polos dan lugu dari lelaki itu. dian tidak berlama-lama memandang wajah lelaki itu, segera dia menggeser tubuhnya turun dari ranjang. Diraihnya ikat rambut yang berada di meja kecil, sambil berdiri dan berjalan menuju kamar mandi dian mengikat rambutnya. Mencuci muka, melaksanakan kewajiban dan begitulah yang dian lakukan kesetiap harinya.

Dian kemudian duduk disamping Arya yang masih mendengkur, ingin rasanya dia membangunkan agar arya tidak lupa akan kewajibannya. Tapi melihat wajahnya yang tampak tenang dan membutuhkan banyak istirahat, dian hanya mengcup bibirnya sekejap.

ÔÇ£Dasar cowok, kalau tidur pasti kelihatan aslinya hi hi hi, kamu memang benar-benar lucu Arya-kuÔÇØ ucapnya lirih walau bisa didengar tetap saja arya tidak bisa mendengarnya

ÔÇ£bobo sana, dasar cowok bikin ugh… ÔÇ£ ucapnya dengan memandang wajah laki-laki tersebut.

Lama dian memandang arya, tiba-tiba saja air matanya menetes. Entah apa yang ada dipikirannya saat ini, ditutupnya bibir manisnya menahan suara tangisnya. Segera dia keluar dari dalam kamar dan duduk di depan televisi.

ÔÇ£maafkan aku ar… Maafkan aku hiks hiks hiks… aku tidak tahu apa kita bisa melewatinya hiks hiks hiksÔÇØ desah mulutnya

ÔÇ£tidak, aku tidak boleh nangis, aku yakin pasti bisa melewatinya bersama aryaÔÇØ desah kecilnya

Diusapnya kedua matanya, dan kembali berdiri. Apa sebenarnya yang ada dipikirannya? Ada apa dengan wanita ini?bukankah semua yang dia inginkan sudah ada didekatnya, ah entahlah tapi sekarang dia sudah berjalan menuju dapurnya dengan senyum yang mengembang di bibirnya. Diambilnya dua gelas cangkir dan ditata bersebelahan, dipandanginya gelas lama sekali pandangan matanya memandang dua buah cgkir yang bersebelahan itu. Entah apa yang di dalam pikirannya, namun kemudian tiba-tiba saja dian tersenyum semakin lebar. Dia berbalik dan berlari kecil meuju kamarnya, dilihatnya arya masih tidur. Perlahan dia dekati wajah lelaki itu…

ÔÇ£Aku percaya padamu…ÔÇØ ucapnya pelan dan sedikit kecupan di kening arya

Ah, wanita memang membingungkan, penulis saja juga bingung mengenai wanita. Langkahnya kembali menuntunnya keluar kamar, dilihatnya jaket arya yang ada di lantai bawah dekat dengan kursi tamu. Hela nafas panjang dengan kepala menggeleng-geleng, mungkin dalam batinya berkata. ÔÇ£dasar laki-laki sulit sekali untuk rapiÔÇØ. Tapi entahlah, diambilnya jaket arya.

Klotak… sebuah kotak jatuh dari jaket arya

ÔÇ£hmmm… kenapa arya bawa seperti ini?ÔÇØ ucapnya lirih sambil memutar-mutar kotak itu

Dengan jaket berada dilengannya, dian berjalan dan memutar-mutar kotak itu. Dibukanya perlahan tapi tak terdengar suara apapun. Dian kemudian tersenyum, aneh juga baginya ada seorang lelaki menyukai hal-hal klasik seperti ini.

ÔÇ£apa buat aku ya?ÔÇØ ucap dian, jari tangannya meraba pada bagian bawah kotak tersebut

ÔÇ£eh ada chargernya juga, kotak musik yang aneh tapi apa iya ya kalau kotak musik pakai charger? Masa bodohlahÔÇØ ucapnya lirih

Diletakannya kotak musik itu di bifet dekat dengan ruang keluarga dan disambungkan dengan listrik. Ditekan tombol ON dan kotak musik itu memutar sebuah simpony lagu klasik. Sambil mendengarkan alunan lagu klasik yang terus berputar, dian berjalan menuju dapur sembari meletakan jaket arya di mesin cuci. Dengan senyum mengembang, dian mulai membereskan dapurnya. Menanak nasi, memasak sayur untuk dimakan bersama lelaki kesayangannya.

ÔÇ£Tehnya nanti saja deh, arya kan suka minuman hangatÔÇØ ucapnya pada dirinya sendiri sembari tersenyum terkekeh

Walau dia adalah seorang wanita karir yang bekerja sebagai seorang dosen, tetap saja dia melakukan pekerjaan rumahnya. Membersihkan rumah yang selalu diitnggalinya selama ini. sempurna? Mungkin tapi sempurna hanya bagi yang mencintainya dan memilikinya. Menyapu kembali seisi rumah, mengepel beberapa tempat yang kotor, melap kaca-kaca yang sudah mulai berdebu. Walu keringat mengalir diwajahnya tetap tidak menghapus kecantikannya. Tanpa terasa waktu berjalan, menunggu sang lelakinya bangun. Setelah semua selesai wanita cantik ini menjatuhkan tubuhnya di sofa depan televeisi dengan pandangannya memandang sekeliling ruangan, melihat hasil kerjanya. Dipejamkan matanya sambil rebahan disofa.

ÔÇ£Hmm… teh hangat? Mungkin asyikÔÇØ begitu bathinnya berkata

Dengan cepat Dian berdiri dan membuat teh hangat untuk dirinya sendiri. Dengan memegang cangkir panas berisi tehnya, dia berjalan hati-hati menuju sofa depan Televisi. Dengan segelas cangkir yang masih panas sambil meniupinya agar lekas dingin. Dian menonton televisi yang acara entah memiliki nilai pendidikan atau tidak untuk anak-anak. Lipsing dan lipsing, itulah acara musik sekarang ini… untuk menunggu sang lelakinya bangun dari lelapnya tidur
—-

ÔÇ£ugh… hoaaaam….argghhhh….ÔÇØ aku terjaga dari tidurku, hei aku arya masih ingat kan?

ÔÇ£APA?! Jam sepuluh?ÔÇØ ucapku terkaget ketika pandangan rabunku menjadi sangat jelas terlihat

Aku segera melompat dari tempat tidurku, dan keluar dari kamar hanya mengenakan celana dalam. Ku buka pintu kamar, dan berhenti karena terdengar lagu klasik lirih dari luar kamar. langkahku perlahan dan kulihat dian sedang duduk dengan memegang kedua gelasnya sambil menonton televisi tanpa suara.

ÔÇ£Kenapa ndak dibangunkan?ÔÇØ ucapku berdiri di belakang sofa

ÔÇ£Eh… sudah bangun? Sebentar, teh hangatnya belum siapÔÇØ ucap dian berdiri dan tersenyum kepadaku. Kubalas senyumannya dan duduk disofa, kulihat secangkir tehnya masih tersisa separuh berada diatas karpet

ÔÇ£ini tehnya, diminum pelan-pelan sedikit panas ituÔÇØ ucapnya

srupuuut srupuuut….

ÔÇ£manisnya pas bangetÔÇØ ucapku

ÔÇ£terima kasih, pinter deh memujiÔÇØ ucapnya sambil menarik pipiku

ÔÇ£ouch… ÔÇ£

ÔÇ£oh ya, itu dari mana? Kok ada kotak musik?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£dari jaket tadi di ruang tamuÔÇØ ucapnya smabil memegang teh hangat dengan kedua tangannya

ÔÇ£oh ya lupa, semalam ketemu ibu dirumah kakek. Dan Ibu memberikan kotak itu sebagai hadiah untuk pemilik rumah iniÔÇØucapku

ÔÇ£benarkah? Nanti aku telepon mamah, mau ngucapin terima kasihÔÇØ ucapnya tersenyum kepadaku

Kami berdua kemudian diam menyaksikan sebuah tontonan tanpa suara. Mata melihat seorang wanita menyanyikan lagu yang kelihatannya keras namun yang terdengar adalah alunan musik dari kotak musik ibu. aku merasa berbeda pagi ini, kelihatan sekali dia tidak manja seperti hari-hari sebelumnya. Kulirik sedikit wajahnya yang masih memandang televisi.

ÔÇ£kalau seperti ini kita lebih akrab ya?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£hmm… akrab bagaimana?ÔÇØ balas dian

ÔÇ£nyatanya dari tadi kita ndak manggil mas-ade lagi jadi kelihatan labih akrabÔÇØ ucapku

ÔÇ£eh… kamu sendiri bangun ndak manggil dengan sebutan ÔÇÿadeÔÇÖ, ya aku ndak manggil dengan sebutan masÔÇØ balasnya tanpa memandangku

ÔÇ£kamu marah aku tinggal semalaman?ÔÇØ balasku

ÔÇ£enggak…ÔÇØ balasnya dengan senyum mengembang

ÔÇ£terus kenapa? ada yang kamu pikirkan?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£ada…ÔÇØ balasnya singkat tanpa memandangku

ÔÇ£apa?ÔÇØ ucapku singkat sambil memandangnya, dia kemudian menoleh kearahku

ÔÇ£kamu… cup… ÔÇØ ucapnya sambil mengecup pipiku

ÔÇ£terima kasiiiiiih…. enakan mana mas-ade atau begini saja?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£terserah kamu…ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£kelihatannya lagi ndak pengen manja ya? jadi ndak mau mas-ade? Kalau ndak mas-ade berarti ndak boleh manja lho… He he he heÔÇØ godaku, mendengar ucapanku dian meletakan cangkirnya dikarpet bawah

ÔÇ£arghhh…. ndak mau, mau mas-ade, mau arya-dian, tapi harus ada kata sayangnya terus kalau manja ya terserah akunya mau manggilnya pakai apa ya pokoknya bolehÔÇØ ucapnya sambil memelukku dan menarik hidungku

ÔÇ£Aewaew iyee saket ini hidihunghkhu… sudah sudah nanti ini tehnya tumphah…ÔÇØ ucapku dengan kedua tangan terangkat ke atas

ÔÇ£boleh manjaÔÇØ ucapnya judes sambil kedua matanya terlihat mendelik kearahku

ÔÇ£ndak bolehÔÇØ balasku sambil memandangnya, lidahku melet

ÔÇ£boleeeeeeeh..ÔÇØ ucapnya dengan wajah semakin mendekat, terlihat wajahnya malah berubah manja

ÔÇ£ndak bolehÔÇØ balasku lagi

ÔÇ£ugh bau, mandi dulu, belum mandi besar lagi habis keluar semalem hiiiiiiiÔÇØ ucapnya sambil mundur kebelakang, ketika bibirnya sudah sangat dekat dengan bibirku

ÔÇ£iya ya, lagian juga, tadi ndak dibanguninÔÇØ balasku sambil meletekan cangkir di karpet

ÔÇ£kamu kelihatan capeeek sayaaaaaangkuÔÇØ balasnya sambil menarik pipiku

ÔÇ£iiih genit deh, sakit tahuÔÇØ balas mengecup pipiku dan langsung lari menuju kamar mandi

ÔÇ£biarin! Dasar jelekÔÇØ ucapnya

ÔÇ£huuuuuu….ÔÇØ ucapku

Semenjak kedatanganku dirumah ini aku merasa seperti hidup dengan pasangan sehidup sematiku. Walau sampai sekarang aku merasakan ada yang aneh dengan dian, entah apa itu. ah, tapi masa bodohlah sekarang aku bersamanya, dan harus aku selesaikan semuanya dengan cepat. Dari awal kebersamaanku dengannya, aku sudah tidak ingin jauh darinya. Selesai mandi aku makan bersama dian dengan alunan musik dari kotak musik hadiah dari ibu. senyum, canda bersamanya memang berbeda ketika aku harus bersama dengan yang lain. Aku ceritakan kenapa aku bisa mendapatkan kotak musik itu, dari awal aku menceritakan semuanya dengan sangat detil. Bagaimana aku bisa beraksi dengan koplak walau tidak lengkap, ditambah lagi kejadian dengan eri yang karena keceplosan akhirnya aku bercerita.

ÔÇ£beneran ndak ngapa-ngapain?ÔÇØ ucap dian wajahnya tampak sekali cemburu

ÔÇ£beneran sayang, yakinÔÇØ ucapku

ÔÇ£iya, sayang percaya kok sama ayang muach…ÔÇØ ucapnya sambil mengecup bibirku

Melewati siang hari, aku lebih memilih bermalas-malasan walau pada dasarnya ku menunggu berita kematian aspal. Aku rebahkan tubuhku di sofa bersama dian yang matanya sudah terpejam terlihat dia begitu lelah hari ini, sama seperti hari-hari ketika dia mengajar dikelasku. Walau wajahnya berseri tapi tetap saja tampak lelah. Kulihat sekeliling ruangan memang tampak bersih, ah mungkin memang lelahnya adalah mengurusi rumah ini.

Chanel televisi aku pindah-pindah hingga akhirnya mataku berhenti pada salah satu chanel berita. Berita tentnag kematian aspal yang sudah aku tunggu, berita siang yang mengulas tentang bagaimana kematian si aspal. Dalam acara berita tersebut terlihat sekali orang-orang yang semalam kami lumpuhkan sedang digiring kedalam mobil polisi, entah keterangan apa yang akan mereka berikan kepada polisi. Sejenak mataku terhenyak ketika melihat dua orang yang tersorot kamera, walau sebentar. Ingatanku kembali ketika aku datang ke TKP kematian KS, ya dua orang itu adalah orang yang menabrakku waktu itu. Di beritakan bahwa kematian aspal dikarenakan pembunuhan sadis oleh sekelompok orang. segera aku bangun dengan perlahan agar dian tidak ikut terbangun. Kuambil sematponku dan menelepon anton.

ÔÇ£ada apa cat?ÔÇØ

ÔÇ£kamu sudah lihat acara berita siang ini?ÔÇØ

ÔÇ£siang ? gundulmu itu berita tadi pagi, emang ada apa?ÔÇØ

ÔÇ£Kamu lihat dua orang berbaju hitam yang tersorot kameraÔÇØ

ÔÇ£Sebentar aku tadi merekam berita itu, hmmm…. sebentar, ya aku melihatnya, kamu tahu mereka?ÔÇØ

ÔÇ£iya, itu adalah orang yang menabrakku ketika aku ke olah TKP kematian KSÔÇØ

ÔÇ£hm… berarti mereka ada dalam sangkut pautnya dengan ayahmu, mungkin bisa jadi mereka adalah suruhan ayahmuÔÇØ

ÔÇ£itu yang aku pikirkan tonÔÇØ

ÔÇ£oh ya ar, setelah aku telusuri semua petunjuk, memang ada beberapa anggota oknum aparat keamanan yang terlibat dengan mereka berempat tapi tidak keseluruhan jadi usahakan untuk tidak melapor ke aparat keamanan bisa membahayakan dirimu, okay?ÔÇØ

ÔÇ£Hmmm… okay ton, terus apa rencana kita selanjutnya? Kamu adalah otak rencana kitaÔÇØ

ÔÇ£menunggu… Sekarang aku dan anggotaku sudah berpencar untuk mencari informasi lebih lanjut lagi mengenai apa yang akan mereka lakukan setelah mengetahui satu teman mereka tewas mengenaskanÔÇØ

ÔÇ£apa aku perlu jalan-jalan juga?ÔÇØ

ÔÇ£ya perlu dong bro, lihat situasi terutama kampus kamu. jangan minta jatah pacara baru kamu terus ha ha haÔÇØ

ÔÇ£ah gundulmu, ya udah kalau nanti ada kabar dan informasi aku dikabari ntonÔÇØ

ÔÇ£Okay catÔÇØ

Setelah percakapan dengan anton, aku kembali ke memeluk dian yang sedang tertidur di sofa. dian sempat bangun sebentar tapi kemudian memelukku lebih erat lagi. Wajahnya tidak bisa menyembunyikan sifat manjanya dikala bersamaku. Aku hanya bisa tersenyum memandang wajah manjanya, benar-benar wanita yang sulit diduga. Kadang judes kadang manja, tapi manjanya tidak pernah hilang ketika aku bersamanya didalam rumah ini. selepasnya aku hanya menghabiskan waktuku bersama dian didalam rumah ini tanpa keluar rumah sekalipun, waperti pengantin baru walau tanpa bercinta dengannya aku sudah merasa cukup puas bersamanya. Setiap malam menjelang dian selalu memancing dengan pakaiannya yang tidak pernah mengenakan pakaian dalam, tubuhnya hanya berbalut tank-top dan celana dalam.

ÔÇ£yang, pakaiannya dicuci semua ya?ÔÇØ ucapku sambil memeluknya dari belakang ketika kami hendak tidur

ÔÇ£ndak, emang ada apa siiiiiih? Ndak suka ya? kalau ndak suka nanti tak pakai pakaian lengan panjang yang tertutup sekalian saja bagaimana?ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£ya ndak segitu kali, tapi kan kalau keluar lagi gimana?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£tinggal mandi saja susah iiih… gitu aja keluar weeeeekÔÇØ ucap dian mengejekku

ÔÇ£hmmm… ÔÇ£ ucapku

ÔÇ£hmmm apa? Awas kalau macem-macemÔÇØ ucapnya sedikit keras

ÔÇ£emang kalau macem-macem mau diapain?ÔÇØ godaku

ÔÇ£ndak diapa-apain, kalau mau macem-macem ya ndak papa, asal siap jadi bapakÔÇØ ucapnya judes

ÔÇ£kalau kamu istrinya aku siap..ÔÇØ ucapku sambil memeluknya erat, dipeluknya kedua tanganku lebih erat lagi

ÔÇ£mau makan apa nanti?ÔÇØ ucapnya lirih

ÔÇ£hem hem hem…ÔÇØ tawaku didalam punggungnya

ÔÇ£kok malah ketawa? Wajar kan kalau cewek mikirnya jauhÔÇØ ucapnya

ÔÇ£makan nasi, sayur, daging, minumnya susu, kopi, teh dan lain sebagainyaÔÇØ candaku

ÔÇ£iiih nyebelin, uangnya dari mana?ÔÇØ balasnya tidak mau kalah

ÔÇ£kerjaÔÇØ jawabku singkat

ÔÇ£TA saja belum jadi, mau kerjaÔÇØ jawabnya judes

ÔÇ£kalau ditanya mau makan apa, kan jawabnya sudah benarkan? Kalau uang dari mana, ya dari kerja kan? Ada yang salah? Masalah TA ya nanti aku selesaikan, Cuma satu saja..ÔÇØ jawabku santai

ÔÇ£apa?ÔÇØ tanyanya penasaran

ÔÇ£mau ndak sama brondong? Malu tidak?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£malu…ÔÇØ jawabnya

ÔÇ£eh…ÔÇØ aku terkejut mendengarnya

ÔÇ£kalau nglamarnya kelamaan! Dah bobo cepetan meluknya yang bener dong!ÔÇØ jawabnya judes

ÔÇ£iya sayangku iya adeku sayangÔÇØ jawabku sambil memeluknya erat

ÔÇ£celanannya dilepas!ÔÇØ ucapnya sambil kedua matanya terpejam

ÔÇ£Eh… iya…ÔÇØ balasku

Alhasil malam ini seperti malam-malam sebemlumnya, aku dan dian hanya tidur mengenakan celana dalam. Beberapa kali tangan dian mengarahkan tanganku ke dadanya yang besar itu, tap aku mencoba menepisnya dengan selalu berpura-pura mencium pipinya sehingga tanganku bisa beralih lagi keperutnya. Well, itu adalah salah satu cara agar dedek arya tidak muntah.

Esok hari aku bergegas menuju kerumahku, kuliah masih libur karena kampus baru saja melaksanakan ujian akhir semester. Aku meminta ijin untuk melihat situasi dirumah, jika memang rumahku didatangi oleh mereka berarti mereka mulai mencurigaiku dan dian memperbolehkan aku. Pacaraku satu nan cantik ini, karena dian selalu berada dirumah selama aku tinggal bersamanya . Dian tidak berangkat untuk mengajar di kampus, karena memang setelah Ujian semester ini dosen tidak mengajar hanya mengisi daftar hadir. Jadi memang tidak perlu ke kampus. Sesampainya aku dirumah tampak dirumah sangat sepi, aku duduk termenung di tangga. Ah, keluargaku seandainya saja tidak pernah ada konflik mungkin aku akan hidup bahagia bersama mereka. Aku datang karena dia datang, aku hadir untuk menghentikannya. Itu semua memang karena dia memulainya dengan cara yang salah. Segera aku kekamarku, masih tercium bau-bau khas kenyamanan dimana aku selalu menghabiskan malamku disini. Bayanganku tentang permainan dengan Ibu muncul membuatku sedikit merasa kehilangan. Argh, Ibu aku ingin sekali memlukmu saat ini, tapi jika semua telah berakhir dia akan menjadi ibuku dan aku harus tetap pada janji kami berdua. Dian, pacarku sekaligus kekasihku saat ini tapi menyentuhnya saja aku tidak berani.

Aku kemudian ke kamar ayah dan Ibuku, sejenak aku melihat kesekelilingnya. Aku buka almari ayah dan ibuku tapi tak ada satupun yang tersisa disana. Kulihat tempat tidur ibuku, ingatanku kembali ketika aku bercinta dengan ibu dihadapan ayahku yang sedang dalam pengaruh obat tidur. Tak ada yang aku temukan didalam kamar ini, kecuali hanya kenangan bersama ibuku. terdapat sebuah album kenangan masa kecilku yang ada hanya foto aku dan ibuku tak ada yang lain. Aku kemudian keluar dari kamar untuk segera kembali kerumah dian. ketika aku berdiri di lorong kamar terlihat seseorang sedang membuka pintu.

Kleeek….

ÔÇ£Ibu…ÔÇØ ucapku tekejut dengan kedatangan ibu. wanita yan mengambil keperjakaanku, ibuku sendiri. tubuhnya hanya mengenakan kaos longgar dengan belahan dada agak kebawah, dilengkapi rok hingga dibawah lututya

ÔÇ£sayang, kok ada dirumah?ÔÇØ ucap ibu tersenyum lebar sambil berjalan kearahku

ÔÇ£tadi aku ijin sama dian untuk mengecek keadaan diluar setelah kejadian, jika benar mmmmmm…ÔÇØ ucapku terputus karena ibu memelukku dan kemudian melumat bibirku

ÔÇ£sayangku, kekasihku ibumu kangen sama anak ganteng satu-satunya ini…ÔÇØucap ibu dengan wajah sedikit manja

ÔÇ£Arya juga bu, ibu masih datang bulan?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£ibu juga kangen, ibu harap kita masih bisa melakukannya walau sebenarnya ibu tidak tega terhadapa dianÔÇØ ucap ibu, sambil kepalanya menggeleng

ÔÇ£bu… bolehkah arya minta…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£pintu gerbang sudah ibu kunci, dan pintu rumah juga sudah ibu kunciÔÇØ ucapnya, ku kecup keningnya

ÔÇ£dikamar pengantin kita sayangÔÇØ ucap ibu menunjuka bekas kamarku kamar ketika aku bergulat hebat puntuk pertama kalinya

ÔÇ£Jika boleh aku ingin melakukannya hingga nanti sore, disemua tempat dirumah iniÔÇØ ucapku

ÔÇ£em em em… ndak boleh sayang, nanti kamu akan kelihatan capek. Dian bisa tahu itu, ibu tahu dia masih perawan tapi perasaan seorang wanita tidak bisa dibohongi. Apalagi kalau seandainya saja sudah kamu perawani pasti dia bisa merasakan semuanya, keanehan disetiap kalian bercintaÔÇØ ucap ibu, langsung aku gendong ibu menuju ruang

ÔÇ£Jadi apakah arya boleh bu? Arya benar-benar kangen, arya tidak menyangka bisa bertemu ibu dirumah, yang arya tahu ibu ada di rumah kakekÔÇØ ucapku

ÔÇ£ibu pulang untuk mengambil pakaian sayang, eh didepan teras garasi ada motor kamu. benar-benar pas, ibu juga sudah tidak mens lagi. Sayang ibu kangeeeeeen… ibu ingin dipeluk kamu dulu yang lama sayang, setelah itu terserah kamu. Mau ibu yang biasa atau yang liar…. mmmmmÔÇØ ucapnya didepan tempat tidur aku turunkan kaki ibu, ibu memelukku dengan sangat erat. bibir kami berpagutan, benar-benar aku merasa jarang dibelai. Dian terlupakan ketika aku bertemu dengan kekasih pertamaku.

Lumatan bibir lembut diantara kami berdua, kedua tangan ibu merangkul leherku sambil mengelus-elus belakang kepalaku. Sedang kedua tanganku dari pinggangnya turun ke pantat ibu, kuremas bongkahan pantat yang selalu menggemaskan. Tanpa tergesa-gesa aku memainkan pantat ibu terlebih dahulu dan berciuman melepas rindu. Setelahnya, kedua tanganku membuka resleting rok ibu, hingga rok itu terjatuh. Tangan ini sudah lama sekali tidak meremas pantat ibu, kuraba pantat ibu dan meremasnya dengan gemas.

Aku membalik tubuh ibuku, kupeluk dari belakang dengan kedua tanganku meremas susu besarnya. Ibu menoleh kebelakang kusambut dengan bibirku kembali, tangan ibu mulai menelusup diantara tubuhku. Dielusnya perlahan dedek arya yang masih terbungkus. Dengan cekatan kedua tangan ibu melepas sabuk yang mengikat celana jeansku hingga celana jeansku turun sedikit meperlihatkan celana dalamk. Kutarik kaos ibu keatas, dengan respon cepat ibu mengankat kedua tangannya dan berbalik kearahku. Ibu tersenyum manis kepadaku, diciumnya leherku turun dengan bantuan tangannya kaosku dinaikan. Lidahnya bermain-main di puting dadaku, tak lama berada di dadaku ciumannya semakin turun kebawah. Ciumannya hingga pada perutku, tangannya menarik kebawah celana jeansku. Kuangkat kedua kakiku bergantian dan terlepaslah jenasku.

Tak lama kemudian, ibu menciummi dan menjilati dedek arya yang masih berada didalam celana dalam. Wanita itu ibuku sedang menciumi kemaluan anaknya sendiri, benar-benar membuatku ingin sekali menubruknya tapi tidak, hari masih panjang sekarang belum melewati siang hari. Aku harus bisa bersabar agar kangenku pada tubuh ibuku bisa berkurang karena aku belum bisa menggantikan sepenuhnya ibu dengan dian untuk urusan dedek arya. dilorotkannya celana dalamku hingga lepas dari tubuhku, tangan kanannya mengocok batang dedek arya dan bibir serta lidahnya beramin-main di buah zakar.

ÔÇ£Ough bu… ibu enak sekali ough ibuku sayang, kontol arya keenakan bu ogh terus bu, arya pengen dikulum buÔÇØ ucapku

ÔÇ£Slurp… sabar sayang, ibu masih pengen mainin si nakal ini, kelihatan sekali sinakal sudah kangen sama tempik ibuÔÇØ ucap ibu semakin nakal,

ÔÇ£iya bu, arya nurut sama ibu yang penting arya bisa menikmati hari ini bersama ibu, arya sudah kangen berat sama ibuÔÇØ ucapku kepada ibu yang sekarang sibuk melumat kepala dedek arya

Secara perlahan kepala ibu maju dan mundur, memasukan kepala dedek arya kemudian dikeluarkannya lagi. Begitu seterusnya hingga setengah batang dedek arya masuk ke dalam mulut ibu. Tak kusangka, dengan hati-hati ibu mencoba memasukan semua batangku kedalam mulutnya. terasa sangat linu dedek arya ketika semua batangnya masuk ke dalam mulut ibu. terasa tertekuk kedalam dan masuk kedalam lubang. Ah, ibu memasukannya hingga sampai ditenggorokannya dan tak berapa lama, ibu menarik mundur kepalanya.

ÔÇ£hash hash hash hash… arghhh… uhuk uhhuk…ÔÇØ ibu seperti kehabisan nafas dan terbatuk-batuk

ÔÇ£ibu tidak kenapa-napa?ÔÇØ ucapku khawatir melihat keadaan ibu

ÔÇ£tenang kekasihku, ibu memang ingin melakukannya karena selama ini hanya sebagian yang masuk hash hash jadi penasaranÔÇØ ucap ibu kembali melumati dedek arya kuelus kepalanya perlahan

ÔÇ£ibu sudah bu, arya sudah kangen sama susu ibuÔÇØ ucapku sambil mengangkat tubuh ibu keatas, kucium bibirnya dan turun keleher jenjang ibu

ÔÇ£ough bu arya kangen bu owhhh… indah sekali bu lipatan susu ibuÔÇØ ucapku yang sudah tak bisa aku kendalikan

ÔÇ£remas sayang, susu ibu juga sudah kangen dengan remasan tanganmuÔÇØ ucap ibu

kutarik keatas tank-top berenda ibu ketas, sejurus kemudian aku tarik kebawah BH ibu membuat susu ibu tampak semakin mancung dan menantang. Kumainkan susu ibu, kuremas dan ku jilati seluruh bagian susu ibu. setelah aku puas dengan posisi ini, Kumiringkan tubuh ibu sedikit, Lidahku bermain-main di sekitar puting ibu dengan tangan kananku masuk kedalam celana dalam ibu. jariku mencari-cari klitoris ibu dan bibirku menjilati puting kanan susu ibu, tangan kiriku dari belakang punggungnya memutar dan menarik puting ibu kiri ibu untuk aku mainkan.

ÔÇ£arghh… jilat sayang jilat terus, ugh menyusu ke ibu seperti dulu lagi sayang emmmghhh…. terus mainkan itil ibu juga, aah ehmmmm kamu memang hebbbbath oughhh enak sayang ya disitu main kan disitu pas sekalihh di itil ouwhhh yah terus… ÔÇ£ racaunya yang sudah tidak karuan lagi, tangannya kadang menjambak kadang mengelus kepalaku. Aku cium bibir ibu dan kudorong ibu hingga pantatnya bersandar pada meja, kepalaku menuju ke selangkangan ibu. Tangaku membuka vagina ibu, lidahku keluar menjulur dan memainkan klitoris ibu

ÔÇ£egh sayangghhhh… terus, oh yah emmmh erghhhh yah terus masukan jarimu sayang masukan kocok yang keras ough sayang sayang owh sayang mmmhhhh ibu mau arghh egh egh egh egh egh….ÔÇØ racaunya. Setelah lama aku memainkan klitoris ibu, akhirnya ibu mengalami orgasme untuk pertama kalinya

Aku berdiri dan memandang ibu, wajahnya tampak layu seketika itu namun tetap mencoba memperlihatkan senyuman dibibirnya. kucium bibir manis dengan senyum indah itu, lalu aku sedikit merendahkan tubuhku. Ibu tahu akan maksudku, kakinya melebar dengan satu tangan menahan tubuhnya sedang satu tangannya lagi memegang dedek arya. diarahkannya dedek arya ke dalam liang senggamanya.

ÔÇ£Emmmhh…. mmmmfffthhh…. arghhhh… penuh bangeth ahhhh…ÔÇØ desah ibu semula menciumku kemudian melepas ciumannya tatkala dedek arya masuk semakin dalam. Kuraih kedua paha ibu dan kuangkat tubuhnya. Kurebahkan tubuhnya ditempat tidur yang memberikan aku kenangan.

ÔÇ£ough bu, kontol arya serasa kejepit bu, sempit sekalihh ughh aghhh aghh aghÔÇØ ucapku sambil menggoyang pelan pinggangku

ÔÇ£ibu masih merawatnyah ouwh untukh kamuh ya lebih kerashhh lebih dalmhhh… kau masih kekasihkuh sayanghhh mmmmhhh eghhh…. kontol, ogh kontol anakku sampai menyentuh rahimku yah terushhhÔÇØ racau ibu dengan tubuh bergoyang dan susunya yang terjepit BH itu naik turun

ÔÇ£yah bu arya sukahhh…ÔÇØ desahku

ÔÇ£pejuhin ibu sayang, ibu ingin dipejuhin kamu lagi ough yah terush sayangkuwh… mmmhhh nikmat sekali kontol kamuhhhh… yah terus lebih keras sayang lebih keras tempik ibu kangen bertahhhh oghhhhh dengan kontol kam kamuuÔÇØ racaunya dengan tubuh yang bergoyang semakin cepat

Kulepas semua yang menempel di tubuhku dengan segera aku peluk erat tubuh ibu. puting terasa hangat ketika menempel di dadaku. Bibir kamu berpagutan hanya desahan yang keluar dari bibir tipis ibu.

ÔÇ£mmmeghhh mmmmgghh mmmmghhh…ÔÇØ desah ibu tersumbat oleh mulutku. Tubuh mungilnya melengking, mengejang beberapa kali hingga akhirnya terkulai lemas

ÔÇ£hash hash… cairan ibu benar-benar hangat, kontol arya suka sekali bu mmmmmhhhh slurrpppÔÇØ ucapku lirih kemudian menciumnya

ÔÇ£ash ash ash… sayang, ash ash kontol kamu benar-benar nakal, baru sebentar saja ibu sudah dibuath hash keluarÔÇØ ucapnya

ÔÇ£ibu ingin lagi?ÔÇØ tanyaku sambil menjilati bibir tipisnya, ibu mengangguk dengan nafas tersengalnya

Aku balik tubuhnya dan kuposisikan ibu menungging. Kuelus pantatnya dan kubuka lebar. Dengan bantuan tangan ibu, dedek arya masuk kedalam liang vaginanya. Kugoyang pelan tubuh ibu, desahan ibu sudah mulai terdengar. Ketika pinggulku mulai memompa lebih keras lagi, desahan ibu mulai terdengar lebih keras.

ÔÇ£argh sayang… terus sayang mmmhhh…. lebih dallam laggi, ibu ing… ngin lebih dalam lagi sayang, lebih keras sayang lebih keras, arghhh ya terus ammmmmmm…ÔÇØ racaunya ibu yang kemudian terdengar tidak jelas, kedua tangannya tertekuk kini ibu benar-benar menungging dengan tubuh depannya rebah dikasur

Tubuhku semakin tidak terkontrol, pompaanku semakin liar. Aku meremas pantat indah ibu, aku sodok semakin keras liang vagina ibu. Tempat tidur pun mulai berdecit mengikuti irama kami dalam bercinta.

ÔÇ£sayang.. ugh ibu mauuhh erghhh ough lebih keras lagi yah terusshhhh mmmhhh kamu benar-ber hebat … ough kekasihku aku ingin pejuh kamuhhh, kontoli tempik ibu …. aaaaaaaaaaarghhhhhÔÇØ desah ibu diakhiri oleh teriakan kerasnya tubuhnya kembali mengejang. Kupeluk tubuh ibu dari belakang, tubuhnya kemudian tengkurap di tempat tidur. Kuciumi tengkuk leher belakang ibu.

ÔÇ£sayang saking, ibu benar-benar kangen capek seperti ini… hash hash has… saking kangennya ibu sayang, ibu puas bisa keluar tiga kali… hash hash hash pejuhin mulut ibu sayang, pejuhin mulut ibumu ini biar ibu semakin puas…ÔÇØ rayunya

ÔÇ£ya bu, arya juga kepengen keluar dimulut ibu hosh hoshÔÇØ ucapku sembari membalik tubuhnya

ÔÇ£ayo sayang, cepat sayang tempik ibu tidak tahan lagiÔÇØ goda ibu dengan senyum manisnya

ÔÇ£yang ndak tahan tempik ibu atau ibuÔÇØ godaku sambil memainkan dedek arya di pintu vaginanya

ÔÇ£dua-duanya, ayo dong…ÔÇØ ucap ibu dengan wajahnya yang sudah sedikit memerah

ÔÇ£arghhh….ÔÇØ desahnya seketika dedek arya masuk ke dalam liang senggamanya

Aku tarik kedua tangnnya dan kupegang erat, aku mulai memompa dedek arya didalam vagina ibu. susu besarnya nak turun tak karuan didepan mataku. Matanya terpejam hanya desahan-desahan kenikmatan yang tak bisa di sembunyikan dari bibirnya. Aku peluk tubuhnya dan kusatukan dadaku di dadanya.

ÔÇ£nikmat sekali sayang, nikmat ibu, arghhh terus ibu hampir keluar terus sayang pejuhi ibumuÔÇØ desah pelan ibu deitelingaku

ÔÇ£arya juga mau keluar… ughhh… eughhhÔÇØ desahku

Aku memompa semakin keras, hingga akhirnya aku merasakan dedek arya mau muntah. Ibu terlihat seperti akan keluar, membuatku menghentak lebih dalam dan lebih cepat lagi. Selang beberapa saat, Tubuh ibu melengking terasa cairan hangat dari liang vaginanya, jeritnya tertahan karena pompaanku semakin cepat. Kutarik dedek arya dan kukakangi kepala ibuku, dibukannya mulut ibu …

Crooot crooot crooot crooot crooot crooot crooot

Dikuluminya dedek arya dengan mulutnya hingga tetes terakhir dari spermaku. Aku terkulai lemas disamping ibu dan dipeluknya tubuhku oleh tubuhnya. Hingga nafas kami teratur baru kemudian mengobrol sejenak mengenai ayah dan komplotannya.

ÔÇ£kalau dirumah kakek ndak ada sayang, kelihatanya aman-aman sajaÔÇØ ucap ibu

ÔÇ£Arya hanya khawatir jika ayah bertindak gegabah, ibu tahu dimana keberadaan ayah?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£tidak, ibu tadi pagi sebelum kesini mencoba menelepon dan sms tapi tidak ada balasanÔÇØ ucap ibu

ÔÇ£bu…ÔÇØ balasku

ÔÇ£hem…ÔÇØ jawabnya

ÔÇ£enak bangetÔÇØ ucapku sambil memiringkan tubuhku dan memeluknya

ÔÇ£ibu juga enak, sayang pikiran ibu pusing kalau lama ndak begini sama kamuÔÇØ ucap ibu

ÔÇ£arya juga cupÔÇØ kukecup keningnya

ÔÇ£nak, jika semuanya berakhir ibu harap kamu juga mendukung ibu untuk bisa melupakanmu sebagai kekasihÔÇØ ucap ibu tiba-tiba

ÔÇ£eh… pasti bu, maafkan arya jika semuanya terlalu jauhÔÇØ ucapku

ÔÇ£kita pasti bisa, hanya sampai ayahmu jatuh. Karena ibu tidak ingin menyakiti dian, ibu suka sama dian. dia wanita baik, tidak seperti ibuÔÇØ ucap ibu

ÔÇ£est est est… jangan bilang gitu bu, ibu juga wanita baik kok. Buktinya arya suka sama ibu.hmmmm… hufttth…ÔÇØ

ÔÇ£Selama ibu yakin kita bisa berhenti setelah dia ndak ada, arya yakin kita bisa buÔÇØ ucapku

ÔÇ£iya sayang terima kasih…ÔÇØ ucap ibu bangkit dan kini berada diatasku, kami saling bertukar senyum

ÔÇ£sekali lagi ya syang, tapi cukup di emut saja ya. ibu mau diwajah sekarang jangan dimulutÔÇØ ucap ibu, aku hanya mengiyakan keinginan ibu

Tak perlu aku ceritakan mengenai Blow job ibu, ibu sudah tahu kelemahanku walau sedikit lama. Namanya juga sudah sering jadi pastinya tahu, gaya ibu seperti mengulum selalu membuatku tak tahan untuk muncrat. Setelah wajahnya belepotan dengan spermaku, kami kemudian bersih-bersih. Kemudian aku menunggu ibu mengambil apa yang diperlukannya untuk liburan nanti sebelum aku antar kerumah kakek. Ibu mengatakan kepadku bahwa besok keluarga besar baru akan berangkat ke liburan jadi masih ada waktu bagi ibu untuk mengambil beberapa pakaian yang diperlukan.

Aku kemudian mengantar ibu ke rumah kakek kembali, ibu menasehatiku agar tidak mengatakan kepada dian akalu bertemu dengannya. Ibu juga menyarankan aku untuk melihat kekampus bisa saja ayah melakukan hal lain dengan menyatroni kampus mencari tahu mengenai eri dan rani. Setelahnya aku pulang kerumah dian lagi menjelang sore hari dengan tubuh sedikit lelah. Tapi tetap saja aku menyembunyikannya. Kubukan pintu rumah dalam keadaan sepi, kulangkahkan kakiku hingga ruang tengah dan kudapati dian duduk dengan bibir manyun sambil menonton televisi. Kudekati dian dan duduk disebelahnya..

Suasana dingin malam masih terasa di pagi yang mulai dihiasi oleh sinar matahari ini. tampak satu per satu tanaman mulai bernafas kembali membersihkan kotoran-kotoran udara. Embun-embun pagi mulai merangkak diatas daun. Ya dingin, walaupu matahari sekarang mulai untuk menghangatkan suasana di daerah yang masih kental dengan budaya daerahnya. Kembali ke sebuah rumah yang terletak di daerah perumahan ELITE, sebuah rumah yang dihuni oleh dosen perempuan yang cantik mungkin itu kata yang pas untuk menggambarkan dirinya. Manis? ya memang benar manis tak ada kata lain lagi. Di dalam kamar itu seorang laki-laki bernama Arya sedang tertidur sangat pulas, lelah karena malam yang mungkin melelahkan baginya.

Wanita itu terjaga karena alarm dari sematpon kesayangannya, segera wanita itu meraih sematpon dan mematikan alarm yang berbunyi lumayan keras. Wanita itu melepaskan tangan lelaki yang memeluknya, dia kemudian bangun dan duduk sambi merenggangkan ke dua tangannya. Mulutnya menganga lebar yang langsung ditutupinya dengan tangan kanannya. Kedua tangannya memaksa matanya untuk terbuka, dikucek-kucek, argh… walaupun sehabis bangun tetap saja dia tampak cantik dan manis. Ya, dia Dian pemilik rumah ini.

Dian duduk dengan kedua lutut tertekuk, direbahkannya kepalanya di atas lututnya miring memandang lelaki yang bernama arya. Dengkuran keras Arya tidak membuat dian terganggu, dian malah tersenyum ketika melihat tingkah bocah yang berumur 4 tahun dibawahnya. Dikecupnya kening lelaki itu dan dimainkannya hidung lelaki itu dengan jari telunjukny. Senyumnya lebar melihat wajah polos dan lugu dari lelaki itu. dian tidak berlama-lama memandang wajah lelaki itu, segera dia menggeser tubuhnya turun dari ranjang. Diraihnya ikat rambut yang berada di meja kecil, sambil berdiri dan berjalan menuju kamar mandi dian mengikat rambutnya. Mencuci muka, melaksanakan kewajiban dan begitulah yang dian lakukan kesetiap harinya.

Dian kemudian duduk disamping Arya yang masih mendengkur, ingin rasanya dia membangunkan agar arya tidak lupa akan kewajibannya. Tapi melihat wajahnya yang tampak tenang dan membutuhkan banyak istirahat, dian hanya mengcup bibirnya sekejap.

ÔÇ£Dasar cowok, kalau tidur pasti kelihatan aslinya hi hi hi, kamu memang benar-benar lucu Arya-kuÔÇØ ucapnya lirih walau bisa didengar tetap saja arya tidak bisa mendengarnya

ÔÇ£bobo sana, dasar cowok bikin ugh… ÔÇ£ ucapnya dengan memandang wajah laki-laki tersebut.

Lama dian memandang arya, tiba-tiba saja air matanya menetes. Entah apa yang ada dipikirannya saat ini, ditutupnya bibir manisnya menahan suara tangisnya. Segera dia keluar dari dalam kamar dan duduk di depan televisi.

ÔÇ£maafkan aku ar… Maafkan aku hiks hiks hiks… aku tidak tahu apa kita bisa melewatinya hiks hiks hiksÔÇØ desah mulutnya

ÔÇ£tidak, aku tidak boleh nangis, aku yakin pasti bisa melewatinya bersama aryaÔÇØ desah kecilnya

Diusapnya kedua matanya, dan kembali berdiri. Apa sebenarnya yang ada dipikirannya? Ada apa dengan wanita ini?bukankah semua yang dia inginkan sudah ada didekatnya, ah entahlah tapi sekarang dia sudah berjalan menuju dapurnya dengan senyum yang mengembang di bibirnya. Diambilnya dua gelas cangkir dan ditata bersebelahan, dipandanginya gelas lama sekali pandangan matanya memandang dua buah cgkir yang bersebelahan itu. Entah apa yang di dalam pikirannya, namun kemudian tiba-tiba saja dian tersenyum semakin lebar. Dia berbalik dan berlari kecil meuju kamarnya, dilihatnya arya masih tidur. Perlahan dia dekati wajah lelaki itu…

ÔÇ£Aku percaya padamu…ÔÇØ ucapnya pelan dan sedikit kecupan di kening arya

Ah, wanita memang membingungkan, penulis saja juga bingung mengenai wanita. Langkahnya kembali menuntunnya keluar kamar, dilihatnya jaket arya yang ada di lantai bawah dekat dengan kursi tamu. Hela nafas panjang dengan kepala menggeleng-geleng, mungkin dalam batinya berkata. ÔÇ£dasar laki-laki sulit sekali untuk rapiÔÇØ. Tapi entahlah, diambilnya jaket arya.

Klotak… sebuah kotak jatuh dari jaket arya

ÔÇ£hmmm… kenapa arya bawa seperti ini?ÔÇØ ucapnya lirih sambil memutar-mutar kotak itu

Dengan jaket berada dilengannya, dian berjalan dan memutar-mutar kotak itu. Dibukanya perlahan tapi tak terdengar suara apapun. Dian kemudian tersenyum, aneh juga baginya ada seorang lelaki menyukai hal-hal klasik seperti ini.

ÔÇ£apa buat aku ya?ÔÇØ ucap dian, jari tangannya meraba pada bagian bawah kotak tersebut

ÔÇ£eh ada chargernya juga, kotak musik yang aneh tapi apa iya ya kalau kotak musik pakai charger? Masa bodohlahÔÇØ ucapnya lirih

Diletakannya kotak musik itu di bifet dekat dengan ruang keluarga dan disambungkan dengan listrik. Ditekan tombol ON dan kotak musik itu memutar sebuah simpony lagu klasik. Sambil mendengarkan alunan lagu klasik yang terus berputar, dian berjalan menuju dapur sembari meletakan jaket arya di mesin cuci. Dengan senyum mengembang, dian mulai membereskan dapurnya. Menanak nasi, memasak sayur untuk dimakan bersama lelaki kesayangannya.

ÔÇ£Tehnya nanti saja deh, arya kan suka minuman hangatÔÇØ ucapnya pada dirinya sendiri sembari tersenyum terkekeh

Walau dia adalah seorang wanita karir yang bekerja sebagai seorang dosen, tetap saja dia melakukan pekerjaan rumahnya. Membersihkan rumah yang selalu diitnggalinya selama ini. sempurna? Mungkin tapi sempurna hanya bagi yang mencintainya dan memilikinya. Menyapu kembali seisi rumah, mengepel beberapa tempat yang kotor, melap kaca-kaca yang sudah mulai berdebu. Walu keringat mengalir diwajahnya tetap tidak menghapus kecantikannya. Tanpa terasa waktu berjalan, menunggu sang lelakinya bangun. Setelah semua selesai wanita cantik ini menjatuhkan tubuhnya di sofa depan televeisi dengan pandangannya memandang sekeliling ruangan, melihat hasil kerjanya. Dipejamkan matanya sambil rebahan disofa.

ÔÇ£Hmm… teh hangat? Mungkin asyikÔÇØ begitu bathinnya berkata

Dengan cepat Dian berdiri dan membuat teh hangat untuk dirinya sendiri. Dengan memegang cangkir panas berisi tehnya, dia berjalan hati-hati menuju sofa depan Televisi. Dengan segelas cangkir yang masih panas sambil meniupinya agar lekas dingin. Dian menonton televisi yang acara entah memiliki nilai pendidikan atau tidak untuk anak-anak. Lipsing dan lipsing, itulah acara musik sekarang ini… untuk menunggu sang lelakinya bangun dari lelapnya tidur
—-

ÔÇ£ugh… hoaaaam….argghhhh….ÔÇØ aku terjaga dari tidurku, hei aku arya masih ingat kan?

ÔÇ£APA?! Jam sepuluh?ÔÇØ ucapku terkaget ketika pandangan rabunku menjadi sangat jelas terlihat

Aku segera melompat dari tempat tidurku, dan keluar dari kamar hanya mengenakan celana dalam. Ku buka pintu kamar, dan berhenti karena terdengar lagu klasik lirih dari luar kamar. langkahku perlahan dan kulihat dian sedang duduk dengan memegang kedua gelasnya sambil menonton televisi tanpa suara.

ÔÇ£Kenapa ndak dibangunkan?ÔÇØ ucapku berdiri di belakang sofa

ÔÇ£Eh… sudah bangun? Sebentar, teh hangatnya belum siapÔÇØ ucap dian berdiri dan tersenyum kepadaku. Kubalas senyumannya dan duduk disofa, kulihat secangkir tehnya masih tersisa separuh berada diatas karpet

ÔÇ£ini tehnya, diminum pelan-pelan sedikit panas ituÔÇØ ucapnya

srupuuut srupuuut….

ÔÇ£manisnya pas bangetÔÇØ ucapku

ÔÇ£terima kasih, pinter deh memujiÔÇØ ucapnya sambil menarik pipiku

ÔÇ£ouch… ÔÇ£

ÔÇ£oh ya, itu dari mana? Kok ada kotak musik?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£dari jaket tadi di ruang tamuÔÇØ ucapnya smabil memegang teh hangat dengan kedua tangannya

ÔÇ£oh ya lupa, semalam ketemu ibu dirumah kakek. Dan Ibu memberikan kotak itu sebagai hadiah untuk pemilik rumah iniÔÇØucapku

ÔÇ£benarkah? Nanti aku telepon mamah, mau ngucapin terima kasihÔÇØ ucapnya tersenyum kepadaku

Kami berdua kemudian diam menyaksikan sebuah tontonan tanpa suara. Mata melihat seorang wanita menyanyikan lagu yang kelihatannya keras namun yang terdengar adalah alunan musik dari kotak musik ibu. aku merasa berbeda pagi ini, kelihatan sekali dia tidak manja seperti hari-hari sebelumnya. Kulirik sedikit wajahnya yang masih memandang televisi.

ÔÇ£kalau seperti ini kita lebih akrab ya?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£hmm… akrab bagaimana?ÔÇØ balas dian

ÔÇ£nyatanya dari tadi kita ndak manggil mas-ade lagi jadi kelihatan labih akrabÔÇØ ucapku

ÔÇ£eh… kamu sendiri bangun ndak manggil dengan sebutan ÔÇÿadeÔÇÖ, ya aku ndak manggil dengan sebutan masÔÇØ balasnya tanpa memandangku

ÔÇ£kamu marah aku tinggal semalaman?ÔÇØ balasku

ÔÇ£enggak…ÔÇØ balasnya dengan senyum mengembang

ÔÇ£terus kenapa? ada yang kamu pikirkan?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£ada…ÔÇØ balasnya singkat tanpa memandangku

ÔÇ£apa?ÔÇØ ucapku singkat sambil memandangnya, dia kemudian menoleh kearahku

ÔÇ£kamu… cup… ÔÇØ ucapnya sambil mengecup pipiku

ÔÇ£terima kasiiiiiih…. enakan mana mas-ade atau begini saja?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£terserah kamu…ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£kelihatannya lagi ndak pengen manja ya? jadi ndak mau mas-ade? Kalau ndak mas-ade berarti ndak boleh manja lho… He he he heÔÇØ godaku, mendengar ucapanku dian meletakan cangkirnya dikarpet bawah

ÔÇ£arghhh…. ndak mau, mau mas-ade, mau arya-dian, tapi harus ada kata sayangnya terus kalau manja ya terserah akunya mau manggilnya pakai apa ya pokoknya bolehÔÇØ ucapnya sambil memelukku dan menarik hidungku

ÔÇ£Aewaew iyee saket ini hidihunghkhu… sudah sudah nanti ini tehnya tumphah…ÔÇØ ucapku dengan kedua tangan terangkat ke atas

ÔÇ£boleh manjaÔÇØ ucapnya judes sambil kedua matanya terlihat mendelik kearahku

ÔÇ£ndak bolehÔÇØ balasku sambil memandangnya, lidahku melet

ÔÇ£boleeeeeeeh..ÔÇØ ucapnya dengan wajah semakin mendekat, terlihat wajahnya malah berubah manja

ÔÇ£ndak bolehÔÇØ balasku lagi

ÔÇ£ugh bau, mandi dulu, belum mandi besar lagi habis keluar semalem hiiiiiiiÔÇØ ucapnya sambil mundur kebelakang, ketika bibirnya sudah sangat dekat dengan bibirku

ÔÇ£iya ya, lagian juga, tadi ndak dibanguninÔÇØ balasku sambil meletekan cangkir di karpet

ÔÇ£kamu kelihatan capeeek sayaaaaaangkuÔÇØ balasnya sambil menarik pipiku

ÔÇ£iiih genit deh, sakit tahuÔÇØ balas mengecup pipiku dan langsung lari menuju kamar mandi

ÔÇ£biarin! Dasar jelekÔÇØ ucapnya

ÔÇ£huuuuuu….ÔÇØ ucapku

Semenjak kedatanganku dirumah ini aku merasa seperti hidup dengan pasangan sehidup sematiku. Walau sampai sekarang aku merasakan ada yang aneh dengan dian, entah apa itu. ah, tapi masa bodohlah sekarang aku bersamanya, dan harus aku selesaikan semuanya dengan cepat. Dari awal kebersamaanku dengannya, aku sudah tidak ingin jauh darinya. Selesai mandi aku makan bersama dian dengan alunan musik dari kotak musik hadiah dari ibu. senyum, canda bersamanya memang berbeda ketika aku harus bersama dengan yang lain. Aku ceritakan kenapa aku bisa mendapatkan kotak musik itu, dari awal aku menceritakan semuanya dengan sangat detil. Bagaimana aku bisa beraksi dengan koplak walau tidak lengkap, ditambah lagi kejadian dengan eri yang karena keceplosan akhirnya aku bercerita.

ÔÇ£beneran ndak ngapa-ngapain?ÔÇØ ucap dian wajahnya tampak sekali cemburu

ÔÇ£beneran sayang, yakinÔÇØ ucapku

ÔÇ£iya, sayang percaya kok sama ayang muach…ÔÇØ ucapnya sambil mengecup bibirku

Melewati siang hari, aku lebih memilih bermalas-malasan walau pada dasarnya ku menunggu berita kematian aspal. Aku rebahkan tubuhku di sofa bersama dian yang matanya sudah terpejam terlihat dia begitu lelah hari ini, sama seperti hari-hari ketika dia mengajar dikelasku. Walau wajahnya berseri tapi tetap saja tampak lelah. Kulihat sekeliling ruangan memang tampak bersih, ah mungkin memang lelahnya adalah mengurusi rumah ini.

Chanel televisi aku pindah-pindah hingga akhirnya mataku berhenti pada salah satu chanel berita. Berita tentnag kematian aspal yang sudah aku tunggu, berita siang yang mengulas tentang bagaimana kematian si aspal. Dalam acara berita tersebut terlihat sekali orang-orang yang semalam kami lumpuhkan sedang digiring kedalam mobil polisi, entah keterangan apa yang akan mereka berikan kepada polisi. Sejenak mataku terhenyak ketika melihat dua orang yang tersorot kamera, walau sebentar. Ingatanku kembali ketika aku datang ke TKP kematian KS, ya dua orang itu adalah orang yang menabrakku waktu itu. Di beritakan bahwa kematian aspal dikarenakan pembunuhan sadis oleh sekelompok orang. segera aku bangun dengan perlahan agar dian tidak ikut terbangun. Kuambil sematponku dan menelepon anton.

ÔÇ£ada apa cat?ÔÇØ

ÔÇ£kamu sudah lihat acara berita siang ini?ÔÇØ

ÔÇ£siang ? gundulmu itu berita tadi pagi, emang ada apa?ÔÇØ

ÔÇ£Kamu lihat dua orang berbaju hitam yang tersorot kameraÔÇØ

ÔÇ£Sebentar aku tadi merekam berita itu, hmmm…. sebentar, ya aku melihatnya, kamu tahu mereka?ÔÇØ

ÔÇ£iya, itu adalah orang yang menabrakku ketika aku ke olah TKP kematian KSÔÇØ

ÔÇ£hm… berarti mereka ada dalam sangkut pautnya dengan ayahmu, mungkin bisa jadi mereka adalah suruhan ayahmuÔÇØ

ÔÇ£itu yang aku pikirkan tonÔÇØ

ÔÇ£oh ya ar, setelah aku telusuri semua petunjuk, memang ada beberapa anggota oknum aparat keamanan yang terlibat dengan mereka berempat tapi tidak keseluruhan jadi usahakan untuk tidak melapor ke aparat keamanan bisa membahayakan dirimu, okay?ÔÇØ

ÔÇ£Hmmm… okay ton, terus apa rencana kita selanjutnya? Kamu adalah otak rencana kitaÔÇØ

ÔÇ£menunggu… Sekarang aku dan anggotaku sudah berpencar untuk mencari informasi lebih lanjut lagi mengenai apa yang akan mereka lakukan setelah mengetahui satu teman mereka tewas mengenaskanÔÇØ

ÔÇ£apa aku perlu jalan-jalan juga?ÔÇØ

ÔÇ£ya perlu dong bro, lihat situasi terutama kampus kamu. jangan minta jatah pacara baru kamu terus ha ha haÔÇØ

ÔÇ£ah gundulmu, ya udah kalau nanti ada kabar dan informasi aku dikabari ntonÔÇØ

ÔÇ£Okay catÔÇØ

Setelah percakapan dengan anton, aku kembali ke memeluk dian yang sedang tertidur di sofa. dian sempat bangun sebentar tapi kemudian memelukku lebih erat lagi. Wajahnya tidak bisa menyembunyikan sifat manjanya dikala bersamaku. Aku hanya bisa tersenyum memandang wajah manjanya, benar-benar wanita yang sulit diduga. Kadang judes kadang manja, tapi manjanya tidak pernah hilang ketika aku bersamanya didalam rumah ini. selepasnya aku hanya menghabiskan waktuku bersama dian didalam rumah ini tanpa keluar rumah sekalipun, waperti pengantin baru walau tanpa bercinta dengannya aku sudah merasa cukup puas bersamanya. Setiap malam menjelang dian selalu memancing dengan pakaiannya yang tidak pernah mengenakan pakaian dalam, tubuhnya hanya berbalut tank-top dan celana dalam.

ÔÇ£yang, pakaiannya dicuci semua ya?ÔÇØ ucapku sambil memeluknya dari belakang ketika kami hendak tidur

ÔÇ£ndak, emang ada apa siiiiiih? Ndak suka ya? kalau ndak suka nanti tak pakai pakaian lengan panjang yang tertutup sekalian saja bagaimana?ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£ya ndak segitu kali, tapi kan kalau keluar lagi gimana?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£tinggal mandi saja susah iiih… gitu aja keluar weeeeekÔÇØ ucap dian mengejekku

ÔÇ£hmmm… ÔÇ£ ucapku

ÔÇ£hmmm apa? Awas kalau macem-macemÔÇØ ucapnya sedikit keras

ÔÇ£emang kalau macem-macem mau diapain?ÔÇØ godaku

ÔÇ£ndak diapa-apain, kalau mau macem-macem ya ndak papa, asal siap jadi bapakÔÇØ ucapnya judes

ÔÇ£kalau kamu istrinya aku siap..ÔÇØ ucapku sambil memeluknya erat, dipeluknya kedua tanganku lebih erat lagi

ÔÇ£mau makan apa nanti?ÔÇØ ucapnya lirih

ÔÇ£hem hem hem…ÔÇØ tawaku didalam punggungnya

ÔÇ£kok malah ketawa? Wajar kan kalau cewek mikirnya jauhÔÇØ ucapnya

ÔÇ£makan nasi, sayur, daging, minumnya susu, kopi, teh dan lain sebagainyaÔÇØ candaku

ÔÇ£iiih nyebelin, uangnya dari mana?ÔÇØ balasnya tidak mau kalah

ÔÇ£kerjaÔÇØ jawabku singkat

ÔÇ£TA saja belum jadi, mau kerjaÔÇØ jawabnya judes

ÔÇ£kalau ditanya mau makan apa, kan jawabnya sudah benarkan? Kalau uang dari mana, ya dari kerja kan? Ada yang salah? Masalah TA ya nanti aku selesaikan, Cuma satu saja..ÔÇØ jawabku santai

ÔÇ£apa?ÔÇØ tanyanya penasaran

ÔÇ£mau ndak sama brondong? Malu tidak?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£malu…ÔÇØ jawabnya

ÔÇ£eh…ÔÇØ aku terkejut mendengarnya

ÔÇ£kalau nglamarnya kelamaan! Dah bobo cepetan meluknya yang bener dong!ÔÇØ jawabnya judes

ÔÇ£iya sayangku iya adeku sayangÔÇØ jawabku sambil memeluknya erat

ÔÇ£celanannya dilepas!ÔÇØ ucapnya sambil kedua matanya terpejam

ÔÇ£Eh… iya…ÔÇØ balasku

Alhasil malam ini seperti malam-malam sebemlumnya, aku dan dian hanya tidur mengenakan celana dalam. Beberapa kali tangan dian mengarahkan tanganku ke dadanya yang besar itu, tap aku mencoba menepisnya dengan selalu berpura-pura mencium pipinya sehingga tanganku bisa beralih lagi keperutnya. Well, itu adalah salah satu cara agar dedek arya tidak muntah.

Esok hari aku bergegas menuju kerumahku, kuliah masih libur karena kampus baru saja melaksanakan ujian akhir semester. Aku meminta ijin untuk melihat situasi dirumah, jika memang rumahku didatangi oleh mereka berarti mereka mulai mencurigaiku dan dian memperbolehkan aku. Pacaraku satu nan cantik ini, karena dian selalu berada dirumah selama aku tinggal bersamanya . Dian tidak berangkat untuk mengajar di kampus, karena memang setelah Ujian semester ini dosen tidak mengajar hanya mengisi daftar hadir. Jadi memang tidak perlu ke kampus. Sesampainya aku dirumah tampak dirumah sangat sepi, aku duduk termenung di tangga. Ah, keluargaku seandainya saja tidak pernah ada konflik mungkin aku akan hidup bahagia bersama mereka. Aku datang karena dia datang, aku hadir untuk menghentikannya. Itu semua memang karena dia memulainya dengan cara yang salah. Segera aku kekamarku, masih tercium bau-bau khas kenyamanan dimana aku selalu menghabiskan malamku disini. Bayanganku tentang permainan dengan Ibu muncul membuatku sedikit merasa kehilangan. Argh, Ibu aku ingin sekali memlukmu saat ini, tapi jika semua telah berakhir dia akan menjadi ibuku dan aku harus tetap pada janji kami berdua. Dian, pacarku sekaligus kekasihku saat ini tapi menyentuhnya saja aku tidak berani.

Aku kemudian ke kamar ayah dan Ibuku, sejenak aku melihat kesekelilingnya. Aku buka almari ayah dan ibuku tapi tak ada satupun yang tersisa disana. Kulihat tempat tidur ibuku, ingatanku kembali ketika aku bercinta dengan ibu dihadapan ayahku yang sedang dalam pengaruh obat tidur. Tak ada yang aku temukan didalam kamar ini, kecuali hanya kenangan bersama ibuku. terdapat sebuah album kenangan masa kecilku yang ada hanya foto aku dan ibuku tak ada yang lain. Aku kemudian keluar dari kamar untuk segera kembali kerumah dian. ketika aku berdiri di lorong kamar terlihat seseorang sedang membuka pintu.

Kleeek….

ÔÇ£Ibu…ÔÇØ ucapku tekejut dengan kedatangan ibu. wanita yan mengambil keperjakaanku, ibuku sendiri. tubuhnya hanya mengenakan kaos longgar dengan belahan dada agak kebawah, dilengkapi rok hingga dibawah lututya

ÔÇ£sayang, kok ada dirumah?ÔÇØ ucap ibu tersenyum lebar sambil berjalan kearahku

ÔÇ£tadi aku ijin sama dian untuk mengecek keadaan diluar setelah kejadian, jika benar mmmmmm…ÔÇØ ucapku terputus karena ibu memelukku dan kemudian melumat bibirku

ÔÇ£sayangku, kekasihku ibumu kangen sama anak ganteng satu-satunya ini…ÔÇØucap ibu dengan wajah sedikit manja

ÔÇ£Arya juga bu, ibu masih datang bulan?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£ibu juga kangen, ibu harap kita masih bisa melakukannya walau sebenarnya ibu tidak tega terhadapa dianÔÇØ ucap ibu, sambil kepalanya menggeleng

ÔÇ£bu… bolehkah arya minta…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£pintu gerbang sudah ibu kunci, dan pintu rumah juga sudah ibu kunciÔÇØ ucapnya, ku kecup keningnya

ÔÇ£dikamar pengantin kita sayangÔÇØ ucap ibu menunjuka bekas kamarku kamar ketika aku bergulat hebat puntuk pertama kalinya

ÔÇ£Jika boleh aku ingin melakukannya hingga nanti sore, disemua tempat dirumah iniÔÇØ ucapku

ÔÇ£em em em… ndak boleh sayang, nanti kamu akan kelihatan capek. Dian bisa tahu itu, ibu tahu dia masih perawan tapi perasaan seorang wanita tidak bisa dibohongi. Apalagi kalau seandainya saja sudah kamu perawani pasti dia bisa merasakan semuanya, keanehan disetiap kalian bercintaÔÇØ ucap ibu, langsung aku gendong ibu menuju ruang

ÔÇ£Jadi apakah arya boleh bu? Arya benar-benar kangen, arya tidak menyangka bisa bertemu ibu dirumah, yang arya tahu ibu ada di rumah kakekÔÇØ ucapku

ÔÇ£ibu pulang untuk mengambil pakaian sayang, eh didepan teras garasi ada motor kamu. benar-benar pas, ibu juga sudah tidak mens lagi. Sayang ibu kangeeeeeen… ibu ingin dipeluk kamu dulu yang lama sayang, setelah itu terserah kamu. Mau ibu yang biasa atau yang liar…. mmmmmÔÇØ ucapnya didepan tempat tidur aku turunkan kaki ibu, ibu memelukku dengan sangat erat. bibir kami berpagutan, benar-benar aku merasa jarang dibelai. Dian terlupakan ketika aku bertemu dengan kekasih pertamaku.

Lumatan bibir lembut diantara kami berdua, kedua tangan ibu merangkul leherku sambil mengelus-elus belakang kepalaku. Sedang kedua tanganku dari pinggangnya turun ke pantat ibu, kuremas bongkahan pantat yang selalu menggemaskan. Tanpa tergesa-gesa aku memainkan pantat ibu terlebih dahulu dan berciuman melepas rindu. Setelahnya, kedua tanganku membuka resleting rok ibu, hingga rok itu terjatuh. Tangan ini sudah lama sekali tidak meremas pantat ibu, kuraba pantat ibu dan meremasnya dengan gemas.

Aku membalik tubuh ibuku, kupeluk dari belakang dengan kedua tanganku meremas susu besarnya. Ibu menoleh kebelakang kusambut dengan bibirku kembali, tangan ibu mulai menelusup diantara tubuhku. Dielusnya perlahan dedek arya yang masih terbungkus. Dengan cekatan kedua tangan ibu melepas sabuk yang mengikat celana jeansku hingga celana jeansku turun sedikit meperlihatkan celana dalamk. Kutarik kaos ibu keatas, dengan respon cepat ibu mengankat kedua tangannya dan berbalik kearahku. Ibu tersenyum manis kepadaku, diciumnya leherku turun dengan bantuan tangannya kaosku dinaikan. Lidahnya bermain-main di puting dadaku, tak lama berada di dadaku ciumannya semakin turun kebawah. Ciumannya hingga pada perutku, tangannya menarik kebawah celana jeansku. Kuangkat kedua kakiku bergantian dan terlepaslah jenasku.

Tak lama kemudian, ibu menciummi dan menjilati dedek arya yang masih berada didalam celana dalam. Wanita itu ibuku sedang menciumi kemaluan anaknya sendiri, benar-benar membuatku ingin sekali menubruknya tapi tidak, hari masih panjang sekarang belum melewati siang hari. Aku harus bisa bersabar agar kangenku pada tubuh ibuku bisa berkurang karena aku belum bisa menggantikan sepenuhnya ibu dengan dian untuk urusan dedek arya. dilorotkannya celana dalamku hingga lepas dari tubuhku, tangan kanannya mengocok batang dedek arya dan bibir serta lidahnya beramin-main di buah zakar.

ÔÇ£Ough bu… ibu enak sekali ough ibuku sayang, kontol arya keenakan bu ogh terus bu, arya pengen dikulum buÔÇØ ucapku

ÔÇ£Slurp… sabar sayang, ibu masih pengen mainin si nakal ini, kelihatan sekali sinakal sudah kangen sama tempik ibuÔÇØ ucap ibu semakin nakal,

ÔÇ£iya bu, arya nurut sama ibu yang penting arya bisa menikmati hari ini bersama ibu, arya sudah kangen berat sama ibuÔÇØ ucapku kepada ibu yang sekarang sibuk melumat kepala dedek arya

Secara perlahan kepala ibu maju dan mundur, memasukan kepala dedek arya kemudian dikeluarkannya lagi. Begitu seterusnya hingga setengah batang dedek arya masuk ke dalam mulut ibu. Tak kusangka, dengan hati-hati ibu mencoba memasukan semua batangku kedalam mulutnya. terasa sangat linu dedek arya ketika semua batangnya masuk ke dalam mulut ibu. terasa tertekuk kedalam dan masuk kedalam lubang. Ah, ibu memasukannya hingga sampai ditenggorokannya dan tak berapa lama, ibu menarik mundur kepalanya.

ÔÇ£hash hash hash hash… arghhh… uhuk uhhuk…ÔÇØ ibu seperti kehabisan nafas dan terbatuk-batuk

ÔÇ£ibu tidak kenapa-napa?ÔÇØ ucapku khawatir melihat keadaan ibu

ÔÇ£tenang kekasihku, ibu memang ingin melakukannya karena selama ini hanya sebagian yang masuk hash hash jadi penasaranÔÇØ ucap ibu kembali melumati dedek arya kuelus kepalanya perlahan

ÔÇ£ibu sudah bu, arya sudah kangen sama susu ibuÔÇØ ucapku sambil mengangkat tubuh ibu keatas, kucium bibirnya dan turun keleher jenjang ibu

ÔÇ£ough bu arya kangen bu owhhh… indah sekali bu lipatan susu ibuÔÇØ ucapku yang sudah tak bisa aku kendalikan

ÔÇ£remas sayang, susu ibu juga sudah kangen dengan remasan tanganmuÔÇØ ucap ibu

kutarik keatas tank-top berenda ibu ketas, sejurus kemudian aku tarik kebawah BH ibu membuat susu ibu tampak semakin mancung dan menantang. Kumainkan susu ibu, kuremas dan ku jilati seluruh bagian susu ibu. setelah aku puas dengan posisi ini, Kumiringkan tubuh ibu sedikit, Lidahku bermain-main di sekitar puting ibu dengan tangan kananku masuk kedalam celana dalam ibu. jariku mencari-cari klitoris ibu dan bibirku menjilati puting kanan susu ibu, tangan kiriku dari belakang punggungnya memutar dan menarik puting ibu kiri ibu untuk aku mainkan.

ÔÇ£arghh… jilat sayang jilat terus, ugh menyusu ke ibu seperti dulu lagi sayang emmmghhh…. terus mainkan itil ibu juga, aah ehmmmm kamu memang hebbbbath oughhh enak sayang ya disitu main kan disitu pas sekalihh di itil ouwhhh yah terus… ÔÇ£ racaunya yang sudah tidak karuan lagi, tangannya kadang menjambak kadang mengelus kepalaku. Aku cium bibir ibu dan kudorong ibu hingga pantatnya bersandar pada meja, kepalaku menuju ke selangkangan ibu. Tangaku membuka vagina ibu, lidahku keluar menjulur dan memainkan klitoris ibu

ÔÇ£egh sayangghhhh… terus, oh yah emmmh erghhhh yah terus masukan jarimu sayang masukan kocok yang keras ough sayang sayang owh sayang mmmhhhh ibu mau arghh egh egh egh egh egh….ÔÇØ racaunya. Setelah lama aku memainkan klitoris ibu, akhirnya ibu mengalami orgasme untuk pertama kalinya

Aku berdiri dan memandang ibu, wajahnya tampak layu seketika itu namun tetap mencoba memperlihatkan senyuman dibibirnya. kucium bibir manis dengan senyum indah itu, lalu aku sedikit merendahkan tubuhku. Ibu tahu akan maksudku, kakinya melebar dengan satu tangan menahan tubuhnya sedang satu tangannya lagi memegang dedek arya. diarahkannya dedek arya ke dalam liang senggamanya.

ÔÇ£Emmmhh…. mmmmfffthhh…. arghhhh… penuh bangeth ahhhh…ÔÇØ desah ibu semula menciumku kemudian melepas ciumannya tatkala dedek arya masuk semakin dalam. Kuraih kedua paha ibu dan kuangkat tubuhnya. Kurebahkan tubuhnya ditempat tidur yang memberikan aku kenangan.

ÔÇ£ough bu, kontol arya serasa kejepit bu, sempit sekalihh ughh aghhh aghh aghÔÇØ ucapku sambil menggoyang pelan pinggangku

ÔÇ£ibu masih merawatnyah ouwh untukh kamuh ya lebih kerashhh lebih dalmhhh… kau masih kekasihkuh sayanghhh mmmmhhh eghhh…. kontol, ogh kontol anakku sampai menyentuh rahimku yah terushhhÔÇØ racau ibu dengan tubuh bergoyang dan susunya yang terjepit BH itu naik turun

ÔÇ£yah bu arya sukahhh…ÔÇØ desahku

ÔÇ£pejuhin ibu sayang, ibu ingin dipejuhin kamu lagi ough yah terush sayangkuwh… mmmhhh nikmat sekali kontol kamuhhhh… yah terus lebih keras sayang lebih keras tempik ibu kangen bertahhhh oghhhhh dengan kontol kam kamuuÔÇØ racaunya dengan tubuh yang bergoyang semakin cepat

Kulepas semua yang menempel di tubuhku dengan segera aku peluk erat tubuh ibu. puting terasa hangat ketika menempel di dadaku. Bibir kamu berpagutan hanya desahan yang keluar dari bibir tipis ibu.

ÔÇ£mmmeghhh mmmmgghh mmmmghhh…ÔÇØ desah ibu tersumbat oleh mulutku. Tubuh mungilnya melengking, mengejang beberapa kali hingga akhirnya terkulai lemas

ÔÇ£hash hash… cairan ibu benar-benar hangat, kontol arya suka sekali bu mmmmmhhhh slurrpppÔÇØ ucapku lirih kemudian menciumnya

ÔÇ£ash ash ash… sayang, ash ash kontol kamu benar-benar nakal, baru sebentar saja ibu sudah dibuath hash keluarÔÇØ ucapnya

ÔÇ£ibu ingin lagi?ÔÇØ tanyaku sambil menjilati bibir tipisnya, ibu mengangguk dengan nafas tersengalnya

Aku balik tubuhnya dan kuposisikan ibu menungging. Kuelus pantatnya dan kubuka lebar. Dengan bantuan tangan ibu, dedek arya masuk kedalam liang vaginanya. Kugoyang pelan tubuh ibu, desahan ibu sudah mulai terdengar. Ketika pinggulku mulai memompa lebih keras lagi, desahan ibu mulai terdengar lebih keras.

ÔÇ£argh sayang… terus sayang mmmhhh…. lebih dallam laggi, ibu ing… ngin lebih dalam lagi sayang, lebih keras sayang lebih keras, arghhh ya terus ammmmmmm…ÔÇØ racaunya ibu yang kemudian terdengar tidak jelas, kedua tangannya tertekuk kini ibu benar-benar menungging dengan tubuh depannya rebah dikasur

Tubuhku semakin tidak terkontrol, pompaanku semakin liar. Aku meremas pantat indah ibu, aku sodok semakin keras liang vagina ibu. Tempat tidur pun mulai berdecit mengikuti irama kami dalam bercinta.

ÔÇ£sayang.. ugh ibu mauuhh erghhh ough lebih keras lagi yah terusshhhh mmmhhh kamu benar-ber hebat … ough kekasihku aku ingin pejuh kamuhhh, kontoli tempik ibu …. aaaaaaaaaaarghhhhhÔÇØ desah ibu diakhiri oleh teriakan kerasnya tubuhnya kembali mengejang. Kupeluk tubuh ibu dari belakang, tubuhnya kemudian tengkurap di tempat tidur. Kuciumi tengkuk leher belakang ibu.

ÔÇ£sayang saking, ibu benar-benar kangen capek seperti ini… hash hash has… saking kangennya ibu sayang, ibu puas bisa keluar tiga kali… hash hash hash pejuhin mulut ibu sayang, pejuhin mulut ibumu ini biar ibu semakin puas…ÔÇØ rayunya

ÔÇ£ya bu, arya juga kepengen keluar dimulut ibu hosh hoshÔÇØ ucapku sembari membalik tubuhnya

ÔÇ£ayo sayang, cepat sayang tempik ibu tidak tahan lagiÔÇØ goda ibu dengan senyum manisnya

ÔÇ£yang ndak tahan tempik ibu atau ibuÔÇØ godaku sambil memainkan dedek arya di pintu vaginanya

ÔÇ£dua-duanya, ayo dong…ÔÇØ ucap ibu dengan wajahnya yang sudah sedikit memerah

ÔÇ£arghhh….ÔÇØ desahnya seketika dedek arya masuk ke dalam liang senggamanya

Aku tarik kedua tangnnya dan kupegang erat, aku mulai memompa dedek arya didalam vagina ibu. susu besarnya nak turun tak karuan didepan mataku. Matanya terpejam hanya desahan-desahan kenikmatan yang tak bisa di sembunyikan dari bibirnya. Aku peluk tubuhnya dan kusatukan dadaku di dadanya.

ÔÇ£nikmat sekali sayang, nikmat ibu, arghhh terus ibu hampir keluar terus sayang pejuhi ibumuÔÇØ desah pelan ibu deitelingaku

ÔÇ£arya juga mau keluar… ughhh… eughhhÔÇØ desahku

Aku memompa semakin keras, hingga akhirnya aku merasakan dedek arya mau muntah. Ibu terlihat seperti akan keluar, membuatku menghentak lebih dalam dan lebih cepat lagi. Selang beberapa saat, Tubuh ibu melengking terasa cairan hangat dari liang vaginanya, jeritnya tertahan karena pompaanku semakin cepat. Kutarik dedek arya dan kukakangi kepala ibuku, dibukannya mulut ibu …

Crooot crooot crooot crooot crooot crooot crooot

Dikuluminya dedek arya dengan mulutnya hingga tetes terakhir dari spermaku. Aku terkulai lemas disamping ibu dan dipeluknya tubuhku oleh tubuhnya. Hingga nafas kami teratur baru kemudian mengobrol sejenak mengenai ayah dan komplotannya.

ÔÇ£kalau dirumah kakek ndak ada sayang, kelihatanya aman-aman sajaÔÇØ ucap ibu

ÔÇ£Arya hanya khawatir jika ayah bertindak gegabah, ibu tahu dimana keberadaan ayah?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£tidak, ibu tadi pagi sebelum kesini mencoba menelepon dan sms tapi tidak ada balasanÔÇØ ucap ibu

ÔÇ£bu…ÔÇØ balasku

ÔÇ£hem…ÔÇØ jawabnya

ÔÇ£enak bangetÔÇØ ucapku sambil memiringkan tubuhku dan memeluknya

ÔÇ£ibu juga enak, sayang pikiran ibu pusing kalau lama ndak begini sama kamuÔÇØ ucap ibu

ÔÇ£arya juga cupÔÇØ kukecup keningnya

ÔÇ£nak, jika semuanya berakhir ibu harap kamu juga mendukung ibu untuk bisa melupakanmu sebagai kekasihÔÇØ ucap ibu tiba-tiba

ÔÇ£eh… pasti bu, maafkan arya jika semuanya terlalu jauhÔÇØ ucapku

ÔÇ£kita pasti bisa, hanya sampai ayahmu jatuh. Karena ibu tidak ingin menyakiti dian, ibu suka sama dian. dia wanita baik, tidak seperti ibuÔÇØ ucap ibu

ÔÇ£est est est… jangan bilang gitu bu, ibu juga wanita baik kok. Buktinya arya suka sama ibu.hmmmm… hufttth…ÔÇØ

ÔÇ£Selama ibu yakin kita bisa berhenti setelah dia ndak ada, arya yakin kita bisa buÔÇØ ucapku

ÔÇ£iya sayang terima kasih…ÔÇØ ucap ibu bangkit dan kini berada diatasku, kami saling bertukar senyum

ÔÇ£sekali lagi ya syang, tapi cukup di emut saja ya. ibu mau diwajah sekarang jangan dimulutÔÇØ ucap ibu, aku hanya mengiyakan keinginan ibu

Tak perlu aku ceritakan mengenai Blow job ibu, ibu sudah tahu kelemahanku walau sedikit lama. Namanya juga sudah sering jadi pastinya tahu, gaya ibu seperti mengulum selalu membuatku tak tahan untuk muncrat. Setelah wajahnya belepotan dengan spermaku, kami kemudian bersih-bersih. Kemudian aku menunggu ibu mengambil apa yang diperlukannya untuk liburan nanti sebelum aku antar kerumah kakek. Ibu mengatakan kepadku bahwa besok keluarga besar baru akan berangkat ke liburan jadi masih ada waktu bagi ibu untuk mengambil beberapa pakaian yang diperlukan.

Aku kemudian mengantar ibu ke rumah kakek kembali, ibu menasehatiku agar tidak mengatakan kepada dian akalu bertemu dengannya. Ibu juga menyarankan aku untuk melihat kekampus bisa saja ayah melakukan hal lain dengan menyatroni kampus mencari tahu mengenai eri dan rani. Setelahnya aku pulang kerumah dian lagi menjelang sore hari dengan tubuh sedikit lelah. Tapi tetap saja aku menyembunyikannya. Kubukan pintu rumah dalam keadaan sepi, kulangkahkan kakiku hingga ruang tengah dan kudapati dian duduk dengan bibir manyun sambil menonton televisi. Kudekati dian dan duduk disebelahnya..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*