Home » Cerita Seks Kakak Adik » Ini Tentang Aku 21

Ini Tentang Aku 21

DUA PULUH SATU

Takut ? Tentu saja aku ketakutan, siapapun juga pasti akan merasakan hal yang sama seperti yang kurasakan saat ini, berdiri bersama belasan preman yang di sewa Toni, berhadapan langsung dengan puluhan preman yang di komando langsung oleh Reza yang membawa bermacam-macam senjata dari pisau, gerr motor yang di ikat dengan tali, rantai, katana, golok, stick base ball hingga balok kayu cukup besar.

Kembali kutelan ludaku yang hambar, ada rasa keinginan mundur, tapi bayangan Anita membuat kakiku tetap bertahan, berdiri paling terdepan, sambil menggenggal sebila golok di tangan kananku.

Aku sadar betul, walaupun akhirnya aku tidak mati di sini, ujung-ujungnya aku akan berakhir di rumah sakit dalam keadan sekarat, atau berakhir di balik jeruji besi. Aku tidak tau, apa keputusanku yang main hakim sendiri ini benar atau salah.

“Ngapain lu kesini.” Bentak Reza.

“Gue mau Anita kembali.” Jawabku lantang, dengan sorot mata tajam, seperti srigala yang siap memakan bulat-bulat mangsanya, kuharap ancamanku cukup untuk membuat Reza gentar.

“Hah ? Hahaha… tidak semuda itu Jaka, Anita milik gue dan sampai kapanpun, Anita adalah milik gue, gak akan gue serahkan ke orang lain, kecuali orang itu sudah bosan hidup.” Umpat Reza, yang kini mengancamku, membuatku cukup gentar mendengar ancamannya.

“Sudalah Jak, dia tidak bisa di ajak bicara.”

“Tapi ? Kau yakin ini cara yang terbaik.” Jawabku ragu-ragu, berharap menemukan solusi yang lebih baik.

“Kenapa ? Kau takut kawan ?”

“Tentu tidak… ” Jawabku berbohong. “Ayo kita mulai membantai mereka semua, hingga tetes darah terakhir.” Kugenggam erat golokku, menunggu aba-aba dari sahabatku Toni.

“Seraaaaaaaaang…. ”

Aku bergerak maju, lalu di ikuti Toni dan preman lainnya, begitu juga denga Reza dia berteriak lantang, lalu di ikuti para suruhannya yang maju kedepan sementara Reza tetap berada di belakang mengawasi pertempuran dari jarak dekat.

Aku segera mengibaskan golokku berbagai arah, beberapa preman suruhan Reza yang mencoba mendekat terkena tebasan golokku, aku berharap mereka tidak sampai tewas.

Dua orang kini menghadangku, kembali aku mengibaskan golokku, salah satu dari mereka mengelak dengan menunduk, sehingga tebasanku hanya membela angin, aku memutar tubuhku, lalu kembali menebaskan golokku ke orang yang berbeda, badannya yang besar membuat mereka tidak bisa mengelak, tapi dengan cepat dia menangkis golokku dengan katana di tangannya Kraaaanggg…. Terdengar suara yang cukup nyaring ketika golokku beradu dengan katana miliknya.

Dengan gerakan yang cepat dia mengibaskan golokku, lalu dengan tendangan memutar, dia menghantam dadaku sehingga aku terpental dan terduduk di tanah.

Belum sempat aku berdiri, seseorang mengayunkan rantai besi kearah kepalaku. Siaaal… ternyata aku mati lebi cepat dari perkiraanku sebelumnya, kupejamkan mataku bersiap menerima pukulan rantai tersebut di kepalaku.

Praaaaangg… “Aaaaaarrgg…. ” Kupicingkan mataku, kulihat seorang yang memegang rantai, yang tadi ingin membunuhku, tiba-tiba berguling di tanah, sambil memegangi kepalanya yang bocor, terkena benda tajam.

“Hati-hati kawan, aku tidak ingin kau mati sebelum bertemu dengan Anita.” Toni menyeringai, sambil mengayunkan goloknya di depanku.

Kurang ajar, dia sengaja pamer kekuatan di depanku, tapi aku cukup senang, setidaknya dia telah menolongku, kalau tidak ada dia mungkin aku sudah mati dalam keadaan kepala pecah terkena rantai besi di kepalaku.

“Ini baru di mulai.” Kataku yakin.

“Ayo kawan, kita habisi mereka bersama-sama.” Ujarnya berapi-api sambil mengangkat goloknya.

“Ayoo… ”

Aku ikut mengangkat golokku, lalu kembali menyerbu kearah musu, lagi-lagi golokku memakan korban, aku tidak tau mereka akan mati atau tidak, yang kuinginkan saat ini adalah mengakhiri pertempuran dan menyelamatkan Anita.

Kuangkat golokku, menangkis balok kayu yang ingin menghantam kepalaku, lalu dengan cepat aku berputar, dan menyapu kakinya sehingga terjatuh, lalu kembali kuangkat golokku, dengan gerakan cepat, aku menebas perutnya yang sedang berguling di tanah, Crassss… Terdengar suara perut terkoyak, hingga darahnya muncrat mengenai pakaianku.

Aku yakin, yang satu ini pasti meninggal, kuangkat kepalaku, kulihat dua orang dengan membawa golok menyerangku, dan hendak menebasku.

Aku mundur satu langkah, lalu dengan gerakan cepat aku berkelit dan menahan serangan mereka, kemudian aku menendang lurus keatas menghantam wajah salah dari mereka, lalu aku kembali menunduk ketika sabetan golok hampir menebas leherku, dan bergerak menyamping dan hendak membalas.

Tapi lagi-lagi orang itu dengan cepat menebas kearahku, sehingga aku tidak bisa mengelak, dan membiarkan dadaku tergores.

Ini yang kubenci dari perkelahian, selalu saja terluka, dan luka itu sangat menyakitkan. Aku tertunduk, menopang tubuhku dengan sebila golok yang kuhentakan ketanah, menahan rasa sakit yang amat sangat di dadaku, sementara darah merembes mengotori baju yang kukenakan.

Siaaal… Aku tidak bisa lagi mengelak, ketika ujung golok itu ingin menebas kepalaku, tapi lagi-lagi sebelum golok itu menebas kepalaku, tiba-tiba kepala orang tersebut menggelinding dan darahnya muncrat mengenai wajahku. Mataku terbelalak, tubuhku mendadak kaku melihat kepala seseorang menggelinding di depanku, ini sangat mengerikan.

“Kau bisa sedikit lebi serius kawan ?”

Perlahan kesadaranku kembali, kulihat Toni dengan angkuhnya berdiri memanggul goloknya yang berlumuran darah.

“Kau terlalu kejam kawan.” Sesalku.

“Pilihannya cuman ada dua, di bunuh, atau membunuh.” Ujarnya, sambil tersenyum menyeringai.

“Terserah apa katamu, tapi lain kali membunuhlah dengan cara yang lebih sopan.” Kataku, kembali mengangkat golokku dan menyerang mereka dengan cara membabi buta.

Harus kuakui Toni memang jago bela diri, gerakannya cepat dan sangat gesit, kalau tidak ada dia yang melundungiku dari belakang, mungkin sudah lama aku mati, tergeletak tak berdaya diatas tanah, tanpa bisa bertemu kembali dengan Anita, seorang wanita yang membuatku mampu berbuat sejauh ini.

Anita, tunggulah sayang aku akan datang menjemputmu, walaupun yang kulawan saat ini adalah malaikat maut.

++++

Pov orang ketiga

Reza tersenyum bengis sambil memperhatikan pertempuran yang tidak seimbang antara orang suruhannya dengan Jaka dan kawan-kawannya, dia cukup senang ketika melihat Jaka terdesak, bahkan di sempat melihat Jaka terluka, terkena tebasan di dadanya, tapi sayang tebasan itu tidak sampai membuat Jaka tewas, karena keburu di tolong oleh seseorang.

Reza membuang puntung rokoknya, lalu dia berjalan masuk kedalam villa.

Reza berjalan santai menuju ruang tengah, di sana Anita meringkuk bertelanjang bulat, dengan leher terikat lantai. Dia tak lebih seperti pelacur murahan.

“Kalian sudah puaskan ?”

“Tentu bos, tapi kita boleh nambahkan ?” Ujar seorang pria berkepala botak.

“Tentu, tapi setelah kalian berhasil membawah Jaka kehadapanku, agar aku bisa membunuhnya.” Jawab Reza, sambil melirik Anita yang melotot marah mendengar ucapan Reza yang menginginkan Jaka terbunuh.

“Keparat, anjing Lu Za, gue gak yangka kalau lu bisa setega ini, kenapa lu berbuat senekat ini Za.”

“Hahaha… ini seharusnya tidak perlu terjadi, kalau seandainya saja, lu mau menerima gue seutuhnya.” Kecam Reza, dia sangat kesal setiap kali mengingat wanita pujaan hatinya lebi memilih Jaka dari pada dirinya.

“Cuiih… ” Anita meludah kearah Reza. “Sampai kapanpun, lu gak bakalan bisa memeliki gue, hati gue cuman buat Jaka.” Bentak Anita keras penuh amarah.

Plaaaak… “Bajingan, berani sekarang lu ya.” Reza tidak segan menampar wajah Anita, ketiga pria yang berada di dalam ruangan itu hanya tertawa melihat bosnya menganiaya Anita.

“Hahaha… oke deh Bos, kami keluar dulu, biar kami yang membereskan mereka.” Ujarnya berambut panjang.

Lalu dengan di komando si botak, mereka meninggalkan ruangan, membiarkan Reza bersama Anita di dalam ruangan tersebut.

Anita hanya dapat menangis, berharap Jaka baik-baik saja. Dia benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran Reza, pria yang dulu ia kenal sangat baik, humoris dan selalu ada untuk menolong dirinya, tapi sekarang dia berubah semenjak mengenal wanita jalang, seorang wanita yang dulu ia anggap sebagai sahabat, dan ternyata menikungnya dari belakang.

“Hei, jangan menangis dong, ini kamu puaskan dulu.” Ujar Reza, menyodorkan penisnya di hadapan Anita.

Walaupun ia tidak ingin melakukannya, tapi apa yang bisa di lakukan gadis lemah seperti Anita yang berada di dalam tekanan dan obat perangsang dengan dosis tinggi.

Tangannya Anita gemetar, lalu dia mengecup pelan kepala penis Reza, menjilatinya lalu melahap penis Reza, menghisapnya dengan perlahan sambil mengocok penis Reza dengan gerakan teratur. Reza membelai rambut Anita, menikmati hisapan budaknya, sambil tersenyum miris.

Jauh dari lubuk hatinya, Reza merasa sangat menyesal, seandainya saja waktu bisa berputar, dan pertemuan Wulan dapat terhindarkan, mungkin semua ini tidak perlu terjadi. Tapi ambisi yang besar ingin memiliki, membuat hati nuraninya tertutupi kabut hitam, dan dia mulai melangkah semakin jauh.

“Cukup ! Aku ingin menikmati memekmu.”

Reza berjalan lalu duduk di sofa, Anita berjalan merangkak mendekati Reza, lalu dia naik kepangkuan Reza, mengangkangkan kakinya, menyambut penis Reza kedalam vaginanya. “Uuhhkk… ” Anita melenguh pelan, merasakan gesekan penis Reza di dalam vaginanya.

Perlahan dia mulai menggoyang pinggulnya, naik turun diatas pangkuan Reza, dia menikmatinya, mengerang sambil memeluk kepala Reza, mengarahkan kedadanya.

Reza mengerti apa yang di inginkan Anita, dia melahap payudarah Anita, mengulum puttingnya dengan rakus, menghisap lembut sambil memeluk pinggang ramping Anita. Sementara pinggulnya, bergerak menyambut goyangan Anita.

“Aaahk… Enaaak ! Eehmm… aaa… aaa… ”

“Kamu suka sayang, kamu suka kontolkukan, nikmatin sayang, kalau dia mati nanti, kamu akan memiliki kontol ini seutuhnya, dan aku yakin kamu akan lebi bahagia.” Ucap Reza sambil membelai punggung Anita.

“Jangan, aku mohon Mas… Aaah… Aaa… Kamu tidak perlu berbuat sejauh itu Mas, kamu sekarang sudah memilikiku, apa itu belum cukup ?”

“Beluum… aku ingin tidak ada lagi yang mengganggu kita.”

“Kamuuu… Aaaa…. aku sampai Mas !”

“Aku juga sayaaaang…. Aaaaa…. ” Mereka mengerang bersamaan.

Reza memuntahkan spermanya kedalam rahim Anita, dia menghentak dalam-dalam, menikmati sensasi.yang ia dapatkan saat ini.

+++++
Pov Jaka

Tubuhku terhunyung kebelakang, ketika merasakan tendangan keras di perutku. Kusapu darah yang menutupi mataku, agar tidak menghalangi pandanganku.

Dia si kepala botak berengsek tersenyum mengejekku, dia memainkan katananya, menari-nari layaknya samurai handal di hadapanku. Semendak kedatangan ia dan kedua temannya, semuanya menjadi berubah, yang awalnya kami mulai mendominasi, mendadak hancur berantakan.

Bahkan kepalaku sampai bocor terkena gagang katana yang ia pegang, membuat darah dari keningku menutupi mataku. Belum lagi luka di lenganku akibat tebasannya, membuat gerakanku semakin lambat, tidak secepat sebelumnya.

Nasib yang sama juga di alami Toni, nafasnya terputus-putus, sekujur tubuhnya bermandikan darah, dia tanpa sangat kewalahan menghadapi dua orang sekaligus, sementara keadaan musuhnya sama seperti si botak, tidak terluka sama sekali, bahkan terlihat segar bugar.

Dan yang paling tragis, preman bawaan Toni kini sudah tidak berkutik lagi, hanya ada beberapa saja yang masih bisa berdiri, tapi aku yakin, sebentar lagi mereka akan bernasib sama seperti rekan-rekan mereka.yang lainnya. Mau lari juga tidak bisa lagi, karena mereka sudah terkepung.

Pilihannya cuman dua, mati tanpa melakukan apapun, atau mati dengan sedikit keberuntungan bisa membunuh salah satu atau beberapa dari mereka.

“Siaalll… ” Umpatku kesal karena frustasi.

“Hahaha… tenanglah, Bos belum mengingkan kamu mati secepat ini, dia menginginkan kamu mati di tangannya sendiri dengan perlahan-lahan.” Ujarnya, sambil memainkan pedangnya.

“Anjiiiiing, keparaaaat…. apa mau kalian.”

“Hahahahaha… ini belum seberapa, na sekarang kamu sudah siap ?” Tanyanya, sambil memasang kuda-kudanya, aku memicingkan mataku, berusaha mempertajam pandanganku yang terganggu oleh aliran darah dari kepalaku.

Aku sedikit terkejut saat dia membuang katananya. “Cukup dengan tangan kosong.” Ujarnya sombong. “Kamu bisa mati kalau kupaksa dengan pendang.” Lanjutnya.

Baguss…. Sekarang aku di untungkan karena aku menggenggam sebila golok, semoga saja aku bisa segera menebasnya. Kugenggam erat golokku, lalu bersiap menyerang. Sementara si botak memasang kuda-kuda bertahan.

Aku maju duluan. “Hyyyaaaaa…. !” Aku berteriak lantang, lalu mengayunkan golokku secepat yang aku bisa.

Tapi sayang teriakanku tidak di iringi dengan gerakan yang cepat, sehingga si botak dengan muda menghindar, bahkan ia sempat tersenyum mengolok-olok diriku. Aku kembali mengangkat golokku dan menebasnya, si botak mundur kebelakang, dia membungkukan sedikit badannya, sehingga golokku hanya menebas angin, beberapa centi dari perutnya.

Kuputar pegangan golokku, lalu menebasnya kearah atas, mengarahkan ke kewajahnya, tapi lagi-lagi dia berhasil mengelak dengan cepat, dia sedikit melakukan gerakan kayang untuk menghindari tebasanku.

Dia berputar kesampingku, lalu menahan golokku dengan tangan kosong, memukul bagian samping golokku, lalu menyapu lutut bagian belakang, hingga aku berlutut.

Hosss…. hosss… hoss…. Sial dia kuat sekali, sekarang apa yang bisa kulakukan untuk membunuhnya.

Seperkian detik sebelum dia menedang bagian belakang kepalaku, aku kembali menebasnya, dan kali ini ia tidak mengelak, tepatnya ia tidak sempat menghindar sehingga golokku akhirnya bisa menebas perutnya, bersamaan lututnya yang menghantam keras kepala bagian belakangku.

Aku terjerembab, wajahku di paksa mencium tanah, membuat hidungku mengeluarkan darah segar.

Sementara dia masi berdiri tegap walaupun sudah terkena sabetan golokku. Ternyata dia kebal, perutnya tidak terluka sama sekali, padahal aku sangat yakin kalau golokku tadi berhasil menebas perutnya.

“Bagaimana ? Mau mencoba lagi.” Ejeknya.

“Hoss… hoss… aku tidak akan menyerah ! Hos… hoss… !” Nafasku memburu, kepalaku berkunang-kunang, tapi aku tertap berusaha berdiri dengan sisa-sisa kesadaranku.

“Bagus, aku suka dengan orang sepertimu yang tidak perna mau menyerah di hadapan musuh, tapi kuberi tahu satu hal, kenekatanmu, hanya akan menambah penderitaan dirimu sendiri. Kalau saran dariku, lebih baik kamu menyerah sekarang.” Ujarnya panjang lebar, sangat menyebalkan.

“Terimakasih atas nasehatnya.”

Aku berjalan tertatih-tatih, mendekatinya hingga berada di hadapannya, kuangkat perlahan golokku, lalu kuayunkan kembali, kuarahkan golok tersebut di lehernya. Pria botak itu hanya diam, membiarkan golokku menebas lehernya. Buukkk… Golokku tertahan di lehernya, tanpa bisa melukainya.

Si botak kembali tersenyum, sungguh aku sangat membenci senyumannya itu, ingin sekali aku melihat senyuman itu berubah menjadi teriakan histeris.

Dia mencengkram kerah bajuku, mengangkat tangannya, mengepalkan tinjunya kearahku. Aku mencoba ikut tersenyum, mungkin ini akan menjadi senyuman terakhirku. “Tidurlah yang nyenyak, jangan bangun lagi sampai aku yang membangunkan kamu.” Lanjutnya, lalu kepalan tinju itu melayang, mengarah kewajahku. Buuuukkk… Aku sama sekali tidak merasakan pukulannya, tapi semuanya terasa gelap, seiring dengan kesadaranku yang semakin menipis, tapi aku sempat kembali melihat senyumannya yang tampak begitu puas setelah menghajar wajahku.

Sepertinya aku akan berakhir di sini, mati di sini, tanpa bisa menolong siapapun.

++++

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*