Home » Cerita Seks Kakak Adik » Ini Tentang Aku 20

Ini Tentang Aku 20

DUA PULUH

Kulihat jam di hpku sudah menenjukan pukul 6 sore lewat beberapa menit, setidaknya aku masi punya banyak waktu untuk beristirahat sejenak sebelum menemui Toni.

Cafe Nusantara , hmm… rasanya sudah sangat lama aku tidak main kesana, padahal biasanya aku, Anita, Toni dan Wulan hampir setiap malam minggu, kami menghabiskan waktu bersama, berkumpul di cafe Nusantara lalu di lanjutkan dengan berkeliling kota Jogja hingga fajar.

Segera kulangkahkan kaki memasuki rumah Tante Tia, setiba di ruang keluarga kulihat Arumi, gadis kecilku bersama sahabatnya Maya sedang belajar bersama. Mereka sedang duduk lesehan di karpet merah, sambil berhadap-hadapan.

“Na gitu dong, belajar yang rajin.” Aku menggodanya, dengan mengucek-ngucek rambut Arumi yang kini di potong agak pendek, membuat ia terlihat lebi manis dari sebelumnya.

“Mas Jaka gangguin orang belajar ni.”

“Kok gangguin, emang Mas gak boleh melihat Adik mas yang cantik jelita ini sedang belajar ?” Kataku, lalu aku duduk di sampingnya, yang sedang membaca buku. Sementara Maya yang duduk di depannya hanya cengengesan sambil menahan tawa melihatku yang sedang menggoda Arumi.

“Mas sana, pergi jauh-jauh.” Usirnya sambil memasang wajah galak, tapi ia malah terlihat semakin lucu. “Atau Arum panggil Mama, kalau Mas gangguin Arumi.” Ancamnya, aku semakin terkekeh mendengar ancamannya.

“Ya uda deh, Mas pergi.” Kataku, lalu beranjak berdiri.

“Sana… sana… hus… hus… ”

“Dasar Adek kurang ajar.” Umpatku, lalu aku berlalu menuju kamarku, sementara mereka berdua kudengar cekikikan mentertawakanku.

Setibanya di kamar, aku mengambil handuk, lalu menuju kamar mandi, dan ternyata Kak Zaskia baru saja selesai mandi, tubuhnya yang indah di balut handuk berwarna putih, menutupi tubuh telanjangnya.

“Awas matanya jangan jelalatan.” Tegur Kak Zaskia.

“Apaan si Kak, emang kenapa kalau mataku jelalatan, emangnya gak boleh ?” Tanyaku, lalu mendekatinya dan membelai pipi kanannya yang bersemu merah.

Rasanya aku sudah lama sekali tidak menyentuh Kak Zaskia, mungkin sudah satu minggu belakangan ini aku belum lagi perna merasakan jepitan vagina Kak Zaskia, dan aku yakin dia juga pasti merindukannya. Kedekatkan bibirku kewajahnya, Kak Zaskia hanya diam dan mebiarkanku melumat sebentar bibirnya.

Dia melingkarkan tangannya dan memeluk erat pinggangku, sementara bibirnya membalas pagutanku.

Kudorong perlahan tubuhnya, kubimbing ia kedalam kamar mandi, lalu segera kututup kamar mandinya tanpa melepas pagutan panas kami, setelah pintu kamar mandi terkunci, kulepas handuknya, hingga ia telanjang bulat di depanku.

“Jak… Hmm… Kakak kangen banget sama kamu !” Katanya, dengan rakus mencium sekujur wajahku.

“Kangen sama aku, apa sama ini ?” Kubimbing tangannya kearah juniorku yang masi bersembunyi di balik celana boxer yang kukenakan.

“Kakak bukain ya ?”

“Harus itu namanya Kak.”

“Dasaaar… ” Sungutnya, lalu ia membuka kaosku, dan kemudian berjongkok, membelai sang Jendral yang sudah lama bangun saat ia mengetahui kedatangan musuhnya.

Dengan perlahan kedua tangannya menarik lepas celana boxer plus celana dalamku, dan membebaskan si jendral yang menantang dengan gagahnya.

Aku melenguh pelan ketika jemarinya yang lembut membelai batang penisku, lalu lidahnya menjulur dan menyapu bersih kepala penisku. Karena tak tahan, aku agak memaksa Kak Zaskia untuk segera melahap penisku.

Ternyata tidak kuduga-duga, Kak Zaskia menghisap penisku, tapi kali ini kulumannya beda dari sebelumhya, hisapannya begitu terasa nikmat, kalau di teruskan bisa-bisa aku ejakulasi dini, perlahan aku menahan kepala Kak Zaskia, agar ia tidak terlalu bersemangat mengulum penisku.

“Kak… Aahkk… aku bisa keluaar duluan ni.”

“Khenapha Dek, kalau keluar, ya keluarin aja sayang.” Jawab Kak Zaskia di sela-sela menghisap penisku, sementara tangan kanannya mengurut kantung pelirku.

Darahku berdisir, aku sudah tidak tahan lagi, kutahan kepalanya, dan pinggulku maju mundur menyodok mulutnya. Kulihat wajah Kak Zaskia kewalahan menerima seranganku, tapi ini yang dia maukan ? Aku akan memuntahkan milyaran sel spermaku kedalam mulutnya.

Aaaah… aku mengeram, kutahan kepalanya, dan kujuni mulutnya dengan ribuan sel spermaku kedalam mulutnya.

“Uhuukk… huk..huukk.. !” Kak Zaskia terbatuk-batuk ketika aku melepaskan penisku dari dalam mulutnya. Kulihat sebagian spermaku mengalir dari sela-sela bibirnya.

“Kakak baik-baik sajakan ?” Tanyaku.

“Gila kamu Dek, Kakak hampir mati karena gak bisa nafas, lain kali mainnya pelan-pelan, kayak biasanya.” Ucapnya dengan nada sedikit tinggi, sepertinya ia marah.

“Maaf ya Kak, habis mulutnya Kakak enak banget.”

“Enak si enak, tapi tersiksa ni.”

“Hehehe… ” Aku menggaruk-garuk kepalaku yany tidak gatal. “Jadi gimana Kak, mau lanjut gak ? atau mau udahan aja.” Kataku, sambil membantu Kak Zaskia berdiri, lalu ia membersikan mulutnya dengan lidahnya, dan kemudian tiba-tiba ia melumat bibirku sebentar.

“Lanjut dong sayang, kan aku belum dapat.”

“Belum dapet apa si Kak ?” Tanyaku, lalu aku mendorong tubuh Kak Zaskia kedinding, dan kemudian aku berjongkok, kuangkat kakinya sebela sehingga bibir vaginanya terkuak indah.

Kukecup pelan bibir vaginanya, kutelusuri belahan tipis vagina Kak Zaskia dengan lidahku, sementara jari jempolku memainkan clitorianya yang sebesar kacang.

“Dek… dari belakang aja ya ?” Ucapnya,.sepertinya ia kurang nyaman dengan posisi kami saat ini.

Aku mengangguk. “Ayo Kak, sana balik.” Jawabku, Kak Zaskia memutar tubuhnya membelakangiku, ia sedikit menunggingkan pantatnya dihadapanku.

Kubelai pipi pantatnya, lalu kubuka perlahan pantatnya sehingga aku kembali di suguhi pemandangan yang begitu indah, lobang anus Kak Zaskia yang sempit dan bibir vagina Kak Zaskia yang begitu indah di mataku. Tak sabar, aku langsung menciumi pipi pantatnya Kak Zaskia, lalu secara perlahan lidahku menyelip di sela-sela pipi pantat Kak Zaskia.

Ujung lidaku menyentuh lobang anusnya, kutoel-toel perlahan lidahku di sana, dan rasanya nikmat sekali.

Kubuka semakin lebar pantat Kak Zaskia, sehingga aku semakin leluasa menjilat anusnya, lalu turun kedepan bibir vaginanya. Kusedot perlahan bibir vagina Kak Zaskia, kuhisap cairan cintanya yang meluber, dan kutelan pelan.

Sambil menghisap bibir vagina Kak Zaskia, jari jempolku menekan lobang anusnya, kumasukan sedikit jempolku hingga terbenam setengahnya.

“Aaaa… Adeek… Hhmmpp… enak banget sayang !”

“Nikmatin aja Kak, aku suka semua lobang milik Kakak, rasanya enak sekali Kak.” Godaku setenga memuji keindahan tubuh Kak Zaskia.

“Masukin sekarang aja sayang, Kakak sudah tidak tahan ni.” Rengeknya.

Aku segera bangkit, kuposisikan penisku di depan lobang vaginanya, dengan perlahan kudorong penisku, kumasukan batangku kedalam vaginanya, menikmati jepitan hangat dinding vagina Kak Zaskia.

Perlahan aku mulai melakukan gerakan memompa, sementara tanganku menggapai payudara Kak Zaskia, meremas dan memilin puttingnya yang menggemaskan itu.

“Aaahkk… enak sayaaang… lebi cepat lagi.”

“Kak… Aaahkk… memek Kakak enak bangeeet, empotannya sungguh luar biasa Kak, sempit dan enak sekali.” Pujiku, sambil menciumi punggungnya yang berkeringat.

“Nikmatin Kakak sayang… Aaah… Aaah… aku milikmu sekarang, lakukan sepuasmu sayaaang, sodok memek Kakak dengan kasar sayang, Kakak mencintaimu.” Rintih Kak Zaskia yang ikut menggoyang pantatnya, menyambut penisku yang terdorong keluar masuk kedalam peranakannya.

“Kak… Aaaaah… ”

“Iya sayaaang ! Eehmm… Aahkk… aaahkk… gila kontol kamu enak banget sayang.” Pujinya.

“Kontol ini untuk Kakak.”

“Aaaah…. aaaah… hamili Kakak sayang ! Sekarang Kakak lagi dalam masa subur.” Erangnya, lalu semakin cepat menggoyangkan pantatnya.

“Kakak yakin ? Aaaahk… nanti kalau Kakak hamil siapa yang harus bertanggung jawab ?” Tanyaku, sambil sesekali menampar pantatnya yang sekel itu.

“Eehmm… Biar nanti Masmu yang bertanggung jawab.”

“Hah… aah… aah… Terserah Kakak aja deh, aku mau keluar ni Kak.” Bisikku, lalu kukulum daun kupingnya sebentar.

“Ya keluarin aja sayang, Kakak juga mau keluar ni.”

“Kaak… aku sampeeee… ” Aku memekik dan memuntahkan spermaku kedalam rahimnya.

Lalu kemudian di susul Kak Zaskia, ia mengeram, vaginanya menjepit penisku dengan sangat erat, kemudian kurasakan cairan cintanya menyilmuti penisku, membuatnya terasa semakin hangat dan nyaman.

++++

Setelah beristirahat sejenak di dalam kamar mandi, Kak Zaskia keluar lebi dulu, sementara aku mandi sebentar untuk membersikan tubuhku. Selesai mandi, aku membuka pintu kamar mandi dan kulihat Arumi berdiri di depan kamar mandi sambil tersenyum penuh arti kearahku.

“Kenapa ?”

“Enak ya tadi sama Kak Zaskia ?” Ujarnya.

“Maksud kamu tu apa si Rum.” Jawabku santai, dan berlalu kekamarku tanpa memperdulikan Arumi.

Sesampainya di kamarku, aku hendak menutupinya tapi di halangi oleh Arumi. Tiba-tiba ia memaksa masuk kedalam kamarku, dan kemudian mengunci pintu kamarku.

Aku hanya bisa bengong melihat Arumi yang tiba-tiba saja meloloskan semua pakaiannya hingga telanjang bulat, payudara yang ranum dengan puttingnya kemerah-merahan, dan vaginanya yang di tumbuhi rambut tipis, dan garis vaginanya yang sangat menggoda, tidak sadar kembali membangunkan junior.

Gleek… aku menelan ludaku ketika Arumi mendekat, dia menarik handukku, sehingga aku kembali telanjang.

“Jangan sekarang Rum, Mas hari ini ada urusan.” Cegahku, bagaimanapun juga hari ini aku ada janji dengan Toni ingin bertemu dengannya, menyelesaikan masalah kami berdua, dan tentu aku tidak ingin terlambat.

“Hanya sebentar kok Mas.” Dia mendorong tubuhku, hingga aku terlentang di atas tempat tidurku. Kemudian Arumi naik keatas selangkanganku, memposisikan junior tepat di depan lipatan vagiananya. “Masak dengan Kak Zaskia sempat, tapi dengan Arumi tidak sempat, itu namanya tidak adil.” Ucapnya, lalu menuntun penisku kedalam vaginanya.

“Aaaah… Kalian berdua memang sudah gila.” Umpatku, ketika penisku benar-benar tenggelam di dalam syurga dunianya Arumi yang amat basah, padahal belum aku rangsang.

“Aaahkk… Aaaah… kontol Mas Jaka memang tidak ada duanya, enak bangeet Mas.” Rintih Arumi, dia memejamkan matanya sambil bergerak naik turun memompa vaginanya.

Kuraih payudarahnya, lalu kuremas perlahan menikmati kekenyalan dadanya yang terasa begitu empuk di telapak tanganku, sementara pinggulku juga ikut bergoyang, mengikuti irama gerakan Arumi.

Aku ingin cepat selesai, sehingga aku segera membalik tubuh Arumi hingga terlentang, dan kemudian kembali kuhujani penisku kedalam vaginanya, kupompa dengan cepat penisku mengaduk-aduk liang vaginanya yang baru di masukan penisku seorang. Ada perasaan bangga juga bisa memperawani gadis cantik seperti Arumi, tapi kasihan dengan calonnya nanti karena tidak bisa mencicipi perawannya.

Kusejajarkan wajahku kewajahnya, lalu kucium bibirnya, kami berpagutan cukup lama sambil tetap bergoyang layaknya sepasang kekasih.

“Enakkan Mas, bisa nyodok adek Kakak.” Ucap Arumi, tentu saja enak sekali, aku bisa kapan saja menyodok mereka kapanpun aku mau, dan mereka pasti siap melayaniku. “Tapi… Aaah… Ada yang kurang Mas. ?” Lanjutnya dengan nafas memburu, kedua tangannya mencengkram erat pundakku.

“Apa itu sayang ?”

“Mama… Eehmm… seandainya saja Mama juga bisa Kaka entotin, pasti akan sangat menyenangkan, apa lagi kalau kami di gilir sama Mas Jaka tanpa perlu sembunyi-sembunyi seperti ini. Aaaa… aaaa… sodok lebi cepat Mas.” Erangnya, aku semakin cepat menggerakan pinggulku maju mundur.

“Dasar anak nakal.” Kataku.

“Biariiin… Wekkk… ” Jawabnya, masih sempat ia meledekku.

Kucabut penisku, lalu kuminta Arumi untuk menungging. Ia sudah tau apa yang kuinginkan, Arumi merenggangkan kedua kakinya selebar mungkin, kemudian dia membuka kedua lipatan pantatnya sehingga lobang anusnya yang sedikit mengangah terlihat sangat menggiurkanku.

Perlahan kuarahkan penisku kelobang anusnya, kemudian kudorong perlahan menikmati anus Arumi seperti biasanya.

“Aaahkk.. Sakiitt !” Rengeknya.

“Tahan yang sayang, cuman sebentar kok.” Kupegang pinggulnya, lalu pantatku kembali bergerak maju mundur menyodok anusnya dengan irama pelan.

“Aaahkk…. Aaahkk… gila Mas, rasanya perih bangeeet.”

“Makanya punya anus jangan bagus-bagus.” Ledekku, lalu menampar-nampar pantatnya.

Aku sendiri tidak mengerti, setelah pertama kali merasakan anusnya Wulan, aku jadi ketagihan ingin mencobanya lagi dan lagi hingga aku mensapatkan kepuasan tersendiri.

Seperti saat ini, tidak butuh waktu lama penisku sudah berkedut-kedut merasakan ejakulasiku sebentar lagi. Aku semakin cepat menggoyang pinggulku, tanpa memperdulikan Erangan Arumi, hingga akhirnya aku tidak tahan lagi, dan menumpakan spermaku kedalam anusnua.

Tubuhku ambruk jatuh kesamping tubuh Arumi, matanya terpejam, sepertinya ia sangat tersiksa.

++++

Buru-buru aku memarkirkan motorku, lalu masuk kedalam kafe, mataku betkeliling mencari sosok yang amat kukenal dan sangat ingin aku temui. Kulihat di pojokan Toni sedang merokok sendirian sambil menikmati secangkir kopi hitam. Aku segera memesan kopi susu jahe, lalu menghampiri Toni.

Ini semua gara-gara Arumi, tadi sehabis menikmati pantatnya, gadis kecilku merengek memintaku untuk memuaskannya terlebih dahulu sebelum aku pergi, karena memang dia tadi belum sempat orgasme tapi aku sudah meminta anusnya.

Segera aku duduk di hadapan Toni, ia memandangku sinis, aku tau dia pasti sangat marah kepadaku.

“Tunggulah sebentar lagi.” Ujarnya, aku mengangguk.

Cukup lama berdiam diri, bahkan ketika pelayan mengantarkan kopi pesananku, Toni masi tetap diam, entah apa yang sedang ia pikirkan, atau dia sedang menunggu seseorang ? Tapi siapa ? Wulan… ya ternyata menunggu perusak itu.

Kulihat dari kejahuan Wulan tergopo-gopo menghampiri kami, bahkan ia belum sempat memesan apapun.

“Duduklah… ” Ujar Toni, Wulan duduk di sampingku. “Aku memanggilmu kesini bukan ingin membahas hubungan kalian berdua, tapi aku ingin membicarakan soal Anita.” Lanjut Toni sambil memandangku.

“Maksud kamu ?” Tanyaku penasaran.

“Biar Wulan sendiri yang menjelaskannya.” Jelas Toni, dia menghembuskan asap rokoknya kelangit-langit dengan tatapan kosong.

Kualihkan pandanganku kearah Wulan, gadis itu tertunduk, sepertinya sedang memikul beban yang begitu berat sehingga ia tidak berani menatapku.

“Katakanlah… ” Kataku mulai tak sabaran.

“Tapi sebelumnya aku benar-benar minta maaf, aku tidak menyangkah kalau kejadiannya akan seperti ini, aku benar-benar menyesal Jaka.”

“Sudalah, tidak perlu berbasa-basi, langsung saja.” Timpal Toni, sambil menatap tajam kearah Wulan.

“Sebenarnya… hhm… Anita dan Mas Reza mereka berdua tidak berpacaran Jak, mereka saudara sepupuan.” Aku meringis menahan emosiku, aku sangat tau hubungan Anita dan Reza sudah sejauh mana, karena aku mendengar dan melihat langsung bagai mana mesranya mereka.

“Jangan menghiburku.” Potongku.

“Aku serius, Anita melakukan semua ini karena dia ingin kamu cemburu, percayalah Jak.” Dia berusaha meraih tanganku, tapi dengan cepat aku mengibaskan tangannya.

“Sumpah demi apapun Jak, Anita sangat mencintaimu, jadi tolong selamatkan Anita.”

“Maksud kamu ?”

“Reza sudah lama mencitai Anita, walaupun dia juga tau kalau Anita adalah sepupunya sendiri. Saat dia tau kalau Anita menyukaimu, dia melakukan segala cara untuk memisahkan kalian, termasuk dengan memanfaatkan aku.” Wulan tertunduk, mengisyaratkan sebuah penyesalan.

“Singkatnya Reza dan… pelacur ini bekerja sama untuk memisahkan kalian.” Potong Reza, dia menatap jijik kearah Wulan. “Aku sama sekali tidak terkejut dengan hubungan kalian Jak, karena dari awal aku sudah memprediksinya.” Jelas Toni kini kembali memandangku.

“Sumpah aku tidak mengerti dengan ucapan kalian.”

“Hahaha, kau memang bodoh Jaka.” Tawa Toni, lalu ia membuang abu rokoknga. “Kalian berdua, Anita dan kau sudah di bodohi oleh mereka berdua, Wulan sudah lama menyukaimu, aku tau itu karena aku sering melihat ia menatapmu dengan tatapan yang berbeda kawan.” Ujar Toni mengeram.

“Aku mohon maafkan aku Jak, aku benar-benar khilaf, awalnya aku dan Mas Reza sepakat ingin menjauhkan kalian berdua, dan merebut hati kalian, tapi aku tidak menyangka kalau Reza akan berbuat sejauh ini.” Ucap Wulan tampak panik.

“Tolong di persingkat, jangan berbelit-belit seperti ini.”

“Anita dia menolak Reza, sama seperti kamu yang menolakku, tapi bedanya Reza tidak terima penolakan Anita, dan sekarang sebagai balasan rasa sakit hatinya, Mas Reza menjadikan Anita sebagai budak nafsunya.” Penjelasan Wulan cukup membuat darahku mendidih.

Dari awal aku tau kalau Reza pria bajingan, dan menurut gosip yabgbberedar, Reza memang memiliki orentasi sex yang menyimpang, membuat mantan-mantannya tidak tahan, tapi kalau memang benar Anita adalah saudaranya sendiri, seharusnya dia tidak melakukan hal yang menjijikan seperti itu.

“Aku mohon Jak, tolong Anita, malam ini rencananya dia akan berpesta dengan teman-temannya, dan Anita akan di umpankan ke teman-temannya.” Lanjut Wulan.

“Rebut kembali cintamu kawan, aku akan membantumu.” Ujar Toni, aku terdiam sejenak.

“Iya Jak, sebagai penebus dosaku, aku juga akan membantumu.” Timpal Wulan, aku meringis dengan kenyataan yang sebenarnya terjadi.

“Sekarang apa yang harus kita lakukan ?” Kataku frustasi, karena aku sendiri tidak tau apa yang bisa kulakukan untuk menyelamatkan Anita dari tangan Reza.

Mendatangi markas Reza ? Setauku temannya Reza adalah sekumpulan preman, mendatangi mereka sama saja bunuh diri, apa lagi aku tidak punya keahlian khusus dalam dunia bela diri, anggap saja aku pengecut dan tak bisa apa-apa. Kalau lapor polisi ? Entah kenapa aku ragu melakukan itu, karena aku sendiri masih tidak percaya dengan pernjelasan mereka.

“Lihat mereka… ” Tunjuk Toni.

Kulihat ada belasan orang berdiri di luar kafe, aku melihat kearah Toni, dia mengangguk, membenarkan dugaanku kalau mereka semua adalah preman yang di sewa oleh Toni.

Oh Tuhan, aku tidak menyangkah kalau sahabatku Toni mau membantuku sejauh ini, padahal aku sudah menikamnya dari belakang, tapi dia tetap setia kepadaku, dia masih menganggapku sebagai sahabatnya, setelah aku bermain api di belakangnya, merebut Wulan yang secara resmi adalah kekasihnya.

“Ayo, kita sudah tidak punya waktu lagi.”

“Tapi… di mana Anita sekarang ?” Tanyaku penasaran.

“Aki tau sekarang dia ada di mana, karena kemarin Reza sempat menghubungiku untuk mengajakku bergabung.” Jelas Wulan, aku menatapnya cukup lama. “Jangan kaget, aku juga salah satu budaknya Jak.” Ucap Wulan datar, tanpa ekspresi.

“Maaf, ayo kita akhiri permainan Reza.” Ujarku.

++++

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*