Home » Cerita Seks Kakak Adik » Ini Tentang Aku 19

Ini Tentang Aku 19

SEMBILAN BELAS

Pov Jaka

Akhirnya malam itu juga setelah kesadaranku pulih, aku langsung di antar pulang kerumah. Tante Tia yang melihat keadaanku tampak begitu panik, bahkan ia sempat memanggil dokter kenalannya untuk merawatku di rumah.

Sebenarnya aku di anjurkan untuk menginap semalam dua malam di rumah sakit hingga keadaanku membaik, tapi aku menolaknya, karena aku tidak ingin merepotkan Tante Tia.

Mengingat kejadian kemarin malam, aku benar-benar tidak menyangkah kalau Toni akan datang ke kossanya Wulan, dan parahnya lagi dia melihat langsung ketika aku sedang menyetubuhi kekasihnya, hingga akhirnya aku harus rela, membiarkan wajahku menjadi bulan-bulanan kena pukulan dari Toni sahabatku sendiri.

Tapi aku yakin, siapapun yang berada di posisi sahabatku Toni, pasti akan melakukan hal yang sama terhadapku.

Saat ini aku berada di dalam kamarku, hanya berdua saja bersama Tante Tia yang setia menemaniku, sementara Kak Zaskia dan Arumi sudah kembali kekamar mereka masing-masing, Tante Tia sendiri suda kuminta untuk meninggalkanku, tapi dia bersekukuh ingin tetap di sampingku.

“Kamu berkelahi sama siapa Jak ? Kok sampe bonyok kayak gini , apa perlu kita lapor polisi ?” Ucapnya. Sebagai seorang Tante sudah selayaknya kalau ia merasa begitu khawatir dengan keadaanku saat ini.

“Jangan dong Tante, ini perkelahian biasa kok.”

“Biasa bagaimana ? Muka ancur kayak gitu, kamu bilang biasa ?”

“Cuman salah paham doang kok Tante.” Jawabku, berusaha menghilangkan kekhawatiran Tante Tia, walaupun aku tau, usahaku akan sia-sia saja.

“Coba kamu ceritain sama Tente, kemarin kamu berkelahi sama siapa ? Apa sekarang kamu punya musuh ?” Tanya Tante Tia, sambil menggenggam tanganku. Kutatap matanya yang senduh, memancarkan kesedihan, melihat kondisiku saat ini.

“Ini memang salah aku kok Tan.”

“Salahnya kamu di mana ?”

“Gimana ya bilangnya, aku malu Tante ngomongnya, tapi intinya ini salah paham doang kok Tante.” Kataku. Rasanya tidak mungkin kalau aku harus berkata jujur kepadanya, walaupun saat ini aku butuh seorang teman untuk berbagi.

Tante Tia mendengus kesal, lalu dia mengangkat kaki kanannya dan meletakan kaki kirinya diatas kaki kanannya sehingga ujung dasternya tersingkap cukup tinggi.

“Cerita atau Tante laporin kamu sama Ibu kamu dirumah.” Ancamnya.

“Tapi Tante janji jangan ketawa ya ?” Dia mengangguk. “Tadi aku di pukulin Toni Tan, sahabatku sendiri, hanya karena salah paham doang si Tan sebenernya, tapi ya aku memang pantes kok di pukulin sama dia, soalnya memang aku yang salah, seharusnya aku tidak melakukannya.” Sambungku.

“Salahnya di mana ?”

“Hmm… Aku selingkuh sama pacarnya Tan, tapi sebenarnya gak selingkuh juga, soalnya kami gak ada hubungan apa-apa yang special gitu sama dia.”

“Duh Tante gak ngerti deh sama penjelasan kamu, tadi bilang selingkuh, sekarang bilang gak selingkuh, jadi sebenarnya selingkuh apa gak si ?”

“Ya gitu Tan, aku gak ada hubungan apa-apa sama pacarnya Toni, tapi aku sering hmm… gituan sama Wulan.” Kataku berusaha mencari kalimat yang pas agar terdengar sopan.

“Maksud kamu, kalian sering ngentot, terus Toni tau kamu lagi ngentotin pacarnya ?” Deg… ucapan Tante Tia terlalu menohokku, malah sekarang lidahku terasa keluh untuk menjawab pertanyaanya.

Aku mengangguk lemah, lalu tiba-tiba Tante Tia menarik tanganku dan meletakannya di atas pahanya. Aku sedikit terkejur, tapi aku juga mersa senang ketika dia tersenyum kepadaku, kemudian tidak kusangka-sangka dia menunduk dan mencium bibirku. Awalnya aku hanya diam, tapi karena lidahnya mendesakku, akhirnya aku membalas pagutannya.

Aku sendiri juga tidak mengerti, kenapa sikap Tante Tia bisa berubah dalam sekejap, walaupun dari awal aku memang sudah merasakan kalau ia tertarik kepadaku.

Tapi reaksinya yang cepat dan melumat bibirku, itu yang membuat aku sama sekali tidak mengerti.

“Maaf… !” Katanya lalu melepas pagutan kami.

“I… iya Tan, Hmm… jadi ceritanya kurang lebi begitu Tante.”

“Gara-gara denger pengakuan kamu, Tante jadi tegang begini hihihi… Kamu bener-bener nakal ya Jak, jadi ingat masa muda Tante dulu, tapi bedanya dulu Tante yang ngerebut pacarnya sahabat Tante.” Akunya, membuatku sangat terkejut, ternyata masa muda Tante hampir mirip denganku.

“Terus hubungan Tante sama sahabat Tante gimana ?” Tanyaku penasaran.

“Baik kok sampe sekarang, kamu juga kenal sama dia ?”

“Siapa Tante ?”

“Tante Yuli, salah satu penggemar kamu hihihi… Tapi gara-gara kejadian itu, kami jadi tau, kalau pacarnya itu seorang bajingan, dan tidak layak untuk di perebutkan.” Jelas Tante Tia, aku mengangguk setuju.

“Menurut Tante aku harus bagaimana ? Aku tidak mau kalau sampai hubunganku rusak dengannya.”

“Kamu harus tanggung jawab, datangi dia dan minta maaflah.”

“Kalau dia tidak mau ?”

“Yang terpenting kamu sudah mengakui kesalahan kamu kepadanya, masalah dia terima atau gak, itu urusan dia bukan jadi urusan kamu lagi.” Jelasnya, sembari tersenyum memamerkan giginya yang rapi.

“Terimakasi ya Tan, akan kucoba.”

“Ya sudah kamu istirahat saja dulu, masalah tadi kamu jangan cerita sama siapapun.” Katanya, aku mengangguk setuju, lalu membalasnya dengan ikut tersenyum.

++++

Pov Orang Ketiga

“Aaahk…. aaahkk… ” Erang seorang wanita yang sedang menungging sambil memegangi pinggiran meja riasnya. Sementara di belakangnya seorang pria sedang asyik menyodok vagina sang Wanita.

“Memek kamu enak banget sayang !”

“Aaaaa…. kamu hebaaat aaahk… hamilin aku sayang.” Pinta sang wanita, pantatnya berkedut-kedut menandakan kalau sebentar lagi ia akan mencapai puncaknya.

“Tentu sayaaang ! Aahkk… aku mau keluaaar !”

“Akuu juga sayaaang… Aaaa… aku keluaaar.” Rintihan sang wanita, lalu tubuhnya ambruk kelantai.

Pemuda tersebut langsung merangkulnya dan mencium kening sang perempuan.

“Sebentar lagi… ”

“Hahaha… kau tau, terkadang aku berfikir apa cara kira ini benar ? Aku merasa sangat bersalah.” Ujar sang Pria.

“Jadi kamu sekarang mau mundur ?”

“Aku bingung, tapi aku merasa ini sudah terlalu berlebihan, hanya gara-gara kita ingin mendapatkan orang yang kita sukai, kita sampai berbuat sejauh ini.” Keluh sang Pria, matanya memandang jauh kedepan, ada keinginan untuk mundur, karena cinta tidak dapat di paksakan, tapi di sisi lain dia percaya kalau cinta butuh perjuangan, bahkan seorang pangeranpun harus menggadaikan nyawanya demi mendapatkan cintanya tuan putri.

“Maaf kamu jadi terlibat sejauh ini, tapi kita sudah tidak bisa mundur lagi.” Wanita itu menatap tajam kearah sang Pria, berharap pria tersebut mengurungkan niatnya untuk mundur.

“Sudah kepalang basah, kita nyebur aja sekalian.”

“Terimakasi sayang, ehmm… mau lanjut keronde kedua sayang.” Pancing sang Wanita, lalu pria itu langsung menindih tubuh pria tersebut dan menggaulinya kembali.

+++++

Pov Jaka

Cukup lama aku terbaring di rumah, dan selama itu Tante Tia, Kak Zaskia dan Arumi secara bergantian menjagaku, merawatku dengan telaten hingga bekas-bekas lukaku perlahan mulai membaik. Dan hari ini tepat 3 hari aku tidak ngampus, dan hari ini aku putuskan untuk kuliah.

Kulangkahkan kakiku menuju kantin, mataku berkeliling, mengamati beberapa mahasiswa yang tampak sibuk dengan urusan mereka masing-masing, tapi belum juga tiba di kantin kampus langkahku di hentikan Melinda.

“Kamu kenapa ?” Tanya Melinda kaget saat melihat bekas luka di wajahku yang memang masih terlihat.

“Ini… gak apa-apa kok.” Jawabku sambil menunjuk bekas luka di wajahku yang mulai mengering. Dia sempat menunjukan ekspresi khawatir saat melihat wajahku.

“Mau kekantin ? Bareng yuk… !” Ajaknya, aku mengangguk lalu berjalan di belakang Melinda.

Sebenarnya Melinda anak yang baik, dia juga sangat cantik, tapi sayang emosinya labil, kadang baik, perhatian, dewasa dan menjadi orang yang menyenangkan, tapi di sisi lain, kadang dia jutek, emosian, dan suka marah-marah gak jelas seperti yang terjadi beberapa malam kemarin.

Setiba di kantin kampus, aku duduk lebih dulu, sementara Melinda mengambil pesanan.

“Ni minum.” Tawarnya.

“Terimakasih Mbak.” Jawabku, lalu menikmati fanta botol darinya, yang terasa begitu dingin, sejenak mampu menghilangkan rasa dahaga di tenggorokanku.

“Kaku banget si manggilnya Mbak, panggil nama aja, kesannya aku tua banget.” Di sini aku makin bingung dengan sikapnya Melinda, kemarin dia marah-marah, katanya aku tidak sopan karena memanggil dia tidak dengan awalan Kak atau Mbak, sekarang dia malah nuntut aku untuk memanggil namanya.

Terkadang wanita memang sukar di tibak, seperti Melinda yang kadang lembut kadang kasar.

“Aneh… ” Jawabku sambil tertawa.

“Bodoh… ” Ujarnya sambil manyun. “Eehm… pulang ngampus nanti kamu maukan nemenin aku nonton.” Ajaknya tiba-tiba, membuatku terkejut.

“Mau tidak mau, pokoknya kamu harus mau, anggap saja buat menebus kesalahan kamu yang kemarin.”

“Ada angin apa ni ?” Tanyaku penasaran.

“Gak apa-apa si, cuman lagi pengen nonton aja.”

“Boleh de, kebetulan aku juga lagi nganggur Mel, tapi nanti jangan marah-marah lagi ya kayak kemarin.” Ujarku, lalu dia tiba-tiba mencubit lenganku.

“Aaaww… apaan si, sakit tau.” Rengekku.

“Hahaha… makanya jangan suka godain orang.”

“Emang beneran kok, kenapa kamu kemarin marah-marah gak jelas gitu sama aku.” Jelasku, Melinda diam sejenak, mukanya mendadak merah, kayaknya dia malu.

“Itu salahnya kamu gak ada kabar, oh iya… awas ya jangan coba-coba deketin cewek lain, terutama Karen. Aku gak suka dia, ya uda aku duluan ya byee… ” Lalu belum sempat aku meminta penjelasan darinya, tiba-tiba saja Melinda langsung pergi meninggalkanku sendiri.

Anak ini, kadang suka bikin orang bingung. Apa urusan dia melarang-larang aku dekat sama cewek lain, emangnya dia siapa ? Pacar juga bukan. Eh… tapi dia tau dari mana soal kedekatan aku sama Karen ? Ehmm… jadi kangen sama Karen, sekarang dia lagi ngapain ya ?

Udalah, mending aku langsung kekelas dari pada nanti terlambat kuliah.

Segera aku bangkit dari tempat dudukku, lalu berjalan menaiki anak tangga menuju kelasku, tapi sebelum aku tiba di kelasku, tiba-tiba aku melihat Toni bersama teman-temannya sedang mengobrol.

++++

“Ton, bisa ngomong sebentar ?” Ajakku.

“Apa lagi si yang mau di omongin njing, kau belum puas nusuk aku dari belakang, sekarang kau mau pura-pura baik sama aku. Maaf, aku sibuk Jak.” Tolaknya, dan hendak pergi dariku, tapi aku buru-buru menahan pundaknya.

Oke aku yang salah, dan aku memang pantas untuk di permalukan seperti ini di hadapan banyak orang. Toni menatapku tajam, dari pancaran matanya aku tau dia sangat membenciku.

“Sekali ini aja Ton.”

“Kau mau aku pukul lagi.” Hardiknya, tapi aku tidak mundur selangkahpun, tekadku sudah bulat, aku ingin hubungan kami kembali seperti semula.

“Pukul aku sepuasnya Ton, tapi sebelum itu tolong dengerin dulu penjelasanku Ton, ini demi persahabatan kita Ton.” Desakku, berharap Toni mau mengerti.

“Demi persahabatan kita ? Jijik aku dengarnya njing.” Umpatnya, tapi aku masih berusaha menahannya. “Oke… ini yang terakhir kalinya kawan, dan ada sesuatu yang ingin kukatakan dengan kamu, ini penting, tapi aku tidak bisa mengatakannya di sini. Aku tunggu nanti malam di cafe tempat biasa.” Lalu dia mengibaskan tanganku, dan segera masuk kekelasnya.

++++

Aku mendesah pelan, ketika dosenku menutup pelajaran hari ini dengan salam. Buru-buru aku keluar kelas, dan hendak ingin langsung pulang kerumah, tapi sesampainya di parkiran, aku bertemu dengan Melinda yang sedang melambaikan tangannya kearahku, aku segera menghampirinya.

Huuppp… Untung saja aku tidak keburu pulang, kalau tidak bisa-bisa ia akan marah lagi, karena aku hampir saja lupa dengan janjiku yang ingin menemaninya nonton.

“Ayo sekarang !” Ajaknya sambil menyerahkan kunci motor kepadaku.

Aku menerima kuncinya. “Tapi aku laper ni, gak bisa makan dulu ya ?” Tanyaku, sambil memegangi perutku yang memang sudah sangat kelaparan.

“Aah kamu ini, ya udah yuk.” Aku tersenyum girang.

Lalu aku segera memacu sepeda motornya menuju burjo langgananku yang ada di daerah sapen (Burjo = bubur kacang ijo, tapi sekarang fungsinya lebi kerumah makan bagi mahasiswa berkantong tipis) setibanya aku segera memakir motorku lalu memesan nasi telor plus es teh manis, sementara Melinda lebi suka makan nasi sarden.

Setelah selesai makan, kami segera menuju XXI yang tidak jauh dari kampusku, dan dengan terpaksa walaupun tidak suka, aku menonton film drama percintaan ‘surga yang tak dirindukan’ menjadi pilihan kami.

Aku sama sekali tidak tertarik dengan jalan cerita filmnya, yang katanya sangat menyedihkan, dan sepertinya memang begitu, karena aku mendengar suara isak tangis di bagian belakangku, selain itu aku juga melihat di kegelapan Melinda mulai terisak.

Dia memeluk lenganku semakin erat, dan sebagian wajahnya ia benamkan di dadaku.

“Hei… kamu kenapa ?” Tanyaku penasaran.

Melinda cemberut, tapi dia malah terlihat semakin manis. “Cowoknya kejam, sama seperti kamu Jak.” Jawabnya, aku hanya terkekeh mendengarnya.

“Ya sudah, jangan nangis gitu dong, masak aktivis kampus nangis, malu-maluin aja.” Ucapku, sambil menghapus air matanya, entah kenapa tiba-tiba aku merasa sangat nyaman berada di dekatnya, sama seperti ketika aku berada di dekat Anita.

“Dasar cowok gak punya perasaan.” Umpatnya.

Aku tersenyum, lalu kupandangi wajahnya cukup lama, dan kemudian reflek aku mengecup bibirnya. Melinda memejamkan matanya, membuatku mulai melumat bibir tipisnya, kemudian telapak tanganku bergerilya diatas dadanya yang membusung dari luar kemeja kotak-kotak yang ia kenakan hari ini.

Ciuman kami semakin panas, seakan kami lupa kalau saat ini kami berada di dalam bioskop yang kondisinya sangat ramai, tapi untunglah, pengunjung lain terlalu fokus menonton, sehingga tidak memperhatikan kami.

“Eehhmmpp… Jak.” Rintihnya.

“Kamu cantik sekali Mel, bahkan jauh lebi cantik ketimbang wanita lainnya yang perna aku temui.” Rayuku sambil membuka satu persatu kancing kemejanya.

“Gombal.” Katanya, tapi dia membantuku memnarik cup branya keatas sehingga tanganku leluasa menjamah payudarahnya.

Bibirku kembali melumat bibirnya, sementara jariku memilin puttingnya yang sudah menegang. Sementara tangannya, membuka resleting celanaku dan menarik keluar si jendral. Dia mengocoknya dengan lembut, ada rasa geli dan nyaman di bawah sana, membuatku merasa begitu senang.

“Jak… Aahkk… aku mencintaimu.” Aku terhenyak mendengar pengakuannya, ada perasaan bahagia, ketika ungkapan itu di ucapkan oleh seorang Melinda, seorang aktivis kampus yang terkenal kegarangannya ketika berada di lapangan.

“Aku juga sayang, dari awal aku langsung jatuh cinta kepadamu.” Jawabku spontan tanpa berfikir lagi sanking nafsunya. “Maukah kamu menjadi kekasihku, menjadi penghuni hatiku yang sedang kosong sayang ?” Tanyaku, tanpa melepas pandanganku kearah matanya yang berbinar.

“I… iya, aku mau menjadi kekasihmu, aku mau selalu ada di sampingmu, karena aku mencataimu, sekarang aku milikmu sayang.” Jawabnya dengan bibirnya yang sedikit gemetar.

“Terimakasi sayang, bolehkah sekarang aku mengulum puttingmu yang ranum ini.” Bisikku manja, sambil membelai wajahnya yang tampak begitu cantik sekali.

“Boleh kok sayang… sini !” Dia menarik wajahku, lalu mengarahkan mulutku kearah dadanya.

Aku mengulum rakus puttingnya, sementara Melinda semakin cepat mengocok penisku, membuat pertahanan si jendral mulai melemah, dan akhirnya jendral benar-benar menyerah, memuntahkan spermaku hingga mengotori celanaku.

“Buruan di tutup, filmnya mau habis.” Bisik Melinda yang mulai berbenah mengancingkan kembali pakaiannya, akupun juga begitu kembali menyembunyikan burungku kedalam sangkarnya.

Tepat ketika kami selesai berbenah, lampu bioskop kembali menyalah terang. Aku mendesah panjang, lalu bersandar, sambil melihat mereka yang mulai turun satu persatu meninggalkan kursi mereka. Setelah sebagian besar mereka telah turun, baru kami menyusul mereka.

++++

Selama di perjalanan pulang, tidak ada satu kalimatpun yang keluar dari bibirnya, begitupun juga dengan diriku, aku terlalu sibuk memikirkan apa yang telah terjadi di dalam bioskop. Sadar atau tidak saat ini kami telah resmi berpacaran, setelah kalimat “Aku mencintaimu” terlontar begitu saja dari bibirku.

Entah aku harus menyesali kalimat tersebut, atau malah aku harus mensyukurinya, karena sekarang aku bukan lagi seorang jomblo, walaupun hati ini secara jujur belum bisa lepas dari bayangan Anita.

Tak terasa kami tiba di depan rumahku, aku segera turun dari atas motor, dan menyerahkan kunci motornya.

“Hati-hati ya sayang !” Ucapku sambil menggenggam tangannya.

“Iya, hmm… untuk hari ini terimakasi ya sudah mau menemani aku nonton.” Ujarnya, sembari tersenyum malu-malu, memperlihatkan lesung pipinya. Dia memang wanita yang sempurna.

“Sama-sama, jangan lupa kasih kabar kalau sudah sampe rumah.”

“Siap bos !” Ujarnya, sambil bergaya hormat. “Aku pulang dulu ya, da… da… !” Lanjutnya, lalu dia memacu sepeda motornya meninggalkanku.

++++

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*