Home » Cerita Seks Kakak Adik » Ini tentang Aku 18

Ini tentang Aku 18

DELAPAN BELAS

Pov Orang Ketiga

Di dalam kamar mandi, seorang gadis terlihat begitu sibuk membersikan dirinya, sudah hampir satu jam lamanya dia membersikan diri, tapi sepertinya belum ada tanda-tanda kalau ia akan segera menyelesaikan mandinya. Wanita muda itu sedikit menunggingkan pantatnya, lalu dia membersikan bagian luar anusnya.

Bahkan dia menggunakan selang khusus, lalu menancapkan ke lobang anusnya, dan membiarkan air tersebut membersikan bagian dalam anusnya.

Tak puas sampai di situ saja, dia juga menyabuninya dengan sabun khusus agar semakin bersi dan harum pastinya. Setelah merasa cukup, dia beralih kevaginanya, ia gososk-gosok dengan telapak tangannya yang lebi dulu ia lumuri sabun.

Sementara itu, di luar kamarnya, dua orang pria dewasa sedang terlibat obrolan cukup serius, sambil menikmati sebatang rokok yang tertancap di bibir mereka.

“Saya mengerti, Bapak berjanji tidak akan memberi taukan kepada siapapun prihal nak Anita.” Jawab seorang Bapak, sambil menghembuskan asap rokoknya.

“Terimakasi Pak, tapi saya butuh jaminan.” Ujar Reza merasa kurang puas dengan jawaban Pak Slamet.

“Kamu butuh bukti apa Mas ?”

Reza tersenyum. “Sebagai jaminannya, kalau Bapak akan menjaga rahasia ini saya akan memvideokan permainan Bapak nantinya.”

“Wa… wa… ceritanya saya jadi aktor bokep ni ?” Tanya Pak Slamet menyelidik.

“Ya kurang lebi seperti itulah Pak, kalau nanti Bapak nekad memberi taukan rahasia ini keorang lain, maka saya dengan sangat terpaksa menyebarkan video Pak Slamet ke orang lain.”

“Hahaha… Baiklah, saya tidak keberatan.”

“Terimakasi Pak, saya senang bisa bekerja sama dengan Pak Slamet.” Ujar Reza menjulurkan tangannya, yang di sambut dengan salaman erat dari Pak Slamet.

“Saya yang seharusnya berterimakasi hahaha… ”

Tiba-tiba seorang wanita lengkap dengan pakaian sehari-harinya, hanya mengenakan daster berjalan mendekati mereka, lalu Reza memberi ruang agar Bapak kos Anita bisa duduk berdekatan. Baru saja duduk, Pak Slamet tak sabar langsung memeluk Anita.

“Eitss… sabar dong Pak, jangan buru-buru.” Ujar Reza memperingati Pak Slamet.

“Hahaha… bisa aja ni Mas Reza, maklum saja Mas, uda lama gak dapat yang bening-bening kayak Nak Anita ini.” Jawab Pak Slamet sambil mencuil dagu Anita, sementara Anita sendiri mukanya mendadak memerah karena malu mendengar obrolan mereka.

Pak Slamet segera meminta Anita duduk di pangkuannya, dan tanpa membantahnya, Anita segera duduk di pangkuan Pak Slamet. Dan suda bisa di tebak, tangan jahil Pak Slamet mulai menggerepe-grepe tubuh Anita, dari mengelus paha Anita yang terekpose, hingga sesekali meremas payudarah Anita yang sekel.

Sementara itu Reza tanpa puas melihat Anita yang begitu pasrah, walaupun jauh di dalam hatinya ada perasaan cemburu melihat Anita yang sedang grepe-grepe oleh Pak Slamet yang tak lain adalah Bapak Kos Anita.

Tapi demi memenuhi fantasinya, Reza rela melihat Anita yang notabanenya masih saudara jauh darinya.

“Gimana Neng, maukan jadi pacar gelapnya Bapak ? Hahaha… Setiap hari bakalan Bapak kasi kontol biar Neng Anita puas.” Goda Pak Slamet, lalu dia mulai mencium pipi Anita, lalu turun keleher jenjangnya.

“Eesst… geli Pak.” Erang Anita.

“Hahaha… kalau kayak gini gimana Neng ?” Lalu tiba-tiba Pak Slamet meremas kedua dadanya dengan sangat kencang, membuat Anita meringis kesakiran.

“Aduh Pak, Eehmm… jangan Pak, jangan keras-keras, sakit Pak, Aahk… Uuhkk… ” Desah Anita seperti orang keenakan, bukannya marah, dia malah menikmati di perlakukan kurang ajar oleh Bapak kosnya.

Lalu Pak Slamet menyosor bibir Anita, dia melumat habis bibir Anita, sementara tangannya membuka daster Anita, sehingga gadis muda itu hanya mengenakan bra dan celana dalam saja yang metupi tubuhnya yang nyaris bugil di hadapan Babak kosnya.

Segera Reza menghidupkan video di hpnya, untuk merekam adegan mesum antara Anita sepupunya, dengan Bapak kosnya.

Mereka berdua sadar, kalau saat ini sedang di rekam. Tapi mereka seperti tidak peduli, dan terus melanjutkan percumbuan mereka. Bahkan Anita tampak semakin bersemangat mencumbu Bapak kosnya sendiri.

“Bapak boleh liat teteknya gak Neng ?” Tanya Pak Slamet sambil membelai pipi Anita.

“Bo… boleh kok, asal Bapak janji gak akan cerita sama siapa-siapa tentang kita ya Pak !” Jawab Anita, sambil mengangkat punggungnya sedikit, mempermuda Pak Slamet membuka kaitan bhnya.

“Ya gak mungkinlah Neng, bisa bahaya kalau Istri Bapak tau.” Ucap Pak Slamet, sambil menggrayangi payudara Anita yang sudah tidak terlindung lagi.

Puas memeras susu Anita, Pak Slamet merundukan wajahnya dan kemudian mulai memainkan payudara Anita, dia mengulum rakus payudara Anita, memainkan putting Anita dengan lidahnya, membuat gadis itu merintih keenakan, menahan rasa geli di puttingnya, belum lagi bibir vaginanya saat ini sedang di jamah oleh Bapak kosnya.

Lumatannya beralih kepayudarah lainnya, dia menghisap dan memainkan puttingnya sama seperti sebelumnya, sementara kedua jarinya mulai mengocok vagina Anita.

Puas bermain-main dikedua gunung kembar Anita, ciuman Pak Slamet berpindah keselangkangan Anita, dia melepas celana dalam Anita dan daster Anita, kini kepalanya terjepit diantara kedua paha Anita yang begitu mulus, sementara bibirnya mengecup mesra bibir vagina Anita yang sedari tadi sudah sangat basah.

Reza yang dari tadi hanya menonton saja, mulai ikut terangsang, dia membuka pakaiannya hingga dia ikut bugil bersama Pak Slamet dan Anita.

“”Nit… ayo dong ! Sange liatin kamu main sama Bapak kos.” Ucap Reza sambil menyodorkan batang kemaluannya di hadapan Anita. Gadis berparas ayu itu tak kuasa untuk menolaknya, dan tanpa ada perasaan ragu sedikitpun Anita mengulum penis Reza.

Sesekali dia mendesah lirih di sela-sela mengulum penis Reza, ketika Pak Slamet dengan nakalnya menghisap dan memainkan clitorisnya.

“Memeknya enak banget loh Mas Reza, asin-asin guri gitu hak… hak… hak… ” Tawa Pak Slamet setalah puas menjilati vagina Anita.

“Wa… itu belum seberapa Pak, kalu di entot lebi enak lagi Pak, bakalan nambah !”

“Yo wess tak coba ngentot dulu yo Mas.”

“Monggo Pak, munpung gratis, kalu nyewa pecun di sarkem sekarang mahal Pak.” Jawab Reza, yang sebenarnya sedang menikmati penisnya yang berada di dalam mulut Anita.

“Hak… hak… hak… tau aja Mas Reza, di sarkem sekarang paling murah seratus Mas, itu juga pas-passan, muka uda tua… Hak… hak… hak… !” Tawa Pak Slamet terdengar sangat menjijikan, tidak mencerminkan sebagai orang tua yang seharusnya melindungi anak kosnya.

Anita yang mendengar obrolan mereka sebenarnya merasa sakit hati, dia di samakan dengan pelacur murahan yang biasa mangkal di sarkem, parahnya, harga tubuhnya jauh lebi murah di bandingkan pelacur tersebut yang biasa mangkal. Tapi mau bagaimana lagi, Anita sadar posisinya saat ini memang sudah selayaknya seperti seorang pelacur.

Lalu tiba-tiba ia merasakan sesuatu benda tumpul menyeruak, membela bibir vaginya, terus masuk hingga menyentuh dinding rahimnya “Aahkk… pelan-pelan Pak.” Rintih Anita, yang sempat melepaskan kulumannya dari penis Reza.

“Gimana mau pelan, kalau nonoknya seenak ini Neng !” Jawab Pak Slamet, yang kemudian langsung menghentak-hentak pinggulnya dengan cepat.

“Ampuuun Pak… Aaaah…. Aaahh… memek saya bisa robek Pak, pelanan dikit Pak.”

“Tahan bentar ya Neng.” Pak Slamet menarik kedua kaki Anita, lalu dia tekan kebelakang sehingga lutut Anita langsung menyentuh payudarahnya, sementara Pak Slamet sendiri semakin bersemangat menghujani vagina Anita dengan sodokan yang sangat cepat.

Reza tidak mau kalah dari seniornya, dia memaksa Anita untuk kembali mengulum penisnya, dan dengan sangat terpaksa Anita membuka mulutnya selebar mungkin, membiarkan Reza menyodok mulutnya.

Gilaa… Mungkin itulah yang ada di pikiran Anita saat ini, seharusnya dia merasa tersiksa dan marah, tapi anehnya dia malahan begitu menikmati setiap sodokan di mulut dan vaginanya, siksaan mereka berdua membuat Anita merasakan sensasi yang pada akhirnya mengantarkan ia untuk mencapai orgasme pertamanya tanpa di ketahui Pak Slamet.

Tubuh Anita mengejang hebat, suaranya tertahan oleh penis Reza yang berada di mulutnya. “Eeegnmnpp… ” Hanya itu yang keluar dari bibirnya.

Sementara Pak Slamet tidak mau berhenti dan terus menyodok vagina Anita tanpa memperdulikan orgasme Anita, membuat gadis berusia 18 tahun itu akhirnya mendapatkan multy orgasme.

“Neeengg… Bapak keluaaar. ” Teriak Pak Slamer.

Crrrooooott…. Crrroooottt…. Crrroooott…. Cccrrroooott…. Ccccrroooott…. Pak Slamet memuntahkan seluruh spermanya kedalam rahim Anita.

++++
Pov Jaka

Bisa di bayangkan betapa lelahnya aku hari ini, pagi-pagi sekali, dengan mengendarai sepeda motor aku mengantar Melinda ketemu sahabatnya di Sleman, terus habis itu aku langsung ke lokasi LK yang ada di gunung kidul, setibanya aku ikut bersama yang lainnya melaksakan outbond dengan rute yang sulit, belom lagi habis itu aku melayani ketiga rekanku hingga kedua kakiku terasa gemetar, dan pulangnya lagi-lagi aku harus mengendarai motor sendirian.

Mau tidak mau walaupun aku kelelahan, dengan mengendarai sepeda motor, aku terpaksa pulang menuju bantul hendak mengembalikan motor yang kupinjam dari Mbak Melinda. Setibanya di depan rumah Melinda sekitar jam 9 malam, sesampainya aku segera memarkirkan motor di halaman depan rumahnya.

Segera aku mengetuk pintu rumahnya, tak lama kemudian dia keluar dari dalam rumahnya.

“Ni kunci motornya.” Kataku, sambil menyerahkan kunci tersebut kepada Melinda.

“Udah gak perlu lagi sama motornya ?” Tanyanya sambil memicingkan matanya. Aku mendesah pelan sambil menggelengkan kepalaku. “Pulang nanti kamu naik apaan ? Aku males kalau di suruh nganterin loh” Aku tersenyum pahit, gak biasanya dia berkata sekasar itu kepadaku.

“Nanti ada teman yang jemput aku di depan.”

“Siapa ?” Tanyanya menyelidik.

“Wulan, teman kelasku nanti yang jemput.” Sekilas aku melihat tatapannya yang tiba-tiba melotot kearahku, menunjukan ketidak sukaannya kepadaku..

“Ooo… cewek yang jemput, gak perlu bilang temen, bilang aja pacar kamu yang jemput.” Ucapnya sinis. Duh… ini anak kenapa lagi, kok pake marah-marah segala “Ya uda de, aku lanjut tidur ya.” Sambungnya, lalu dia hendak menutup pintu rumahnya, tapi aku buru-buru menahannya.

“Kamu marah ya ?” Tanyaku kebingungan.

“Ngapain juga aku marah.” Bentaknya. “Bukan urusan aku kan, kamu mau dekat sama siapa saja ?”

“Kalau gak marah, kenapa harus bentak si ? Aku ada salah ya sama kamu ?” Cecarku tanpa melepaskan peganganku di pergeralangan tangannya.

“Banyaak… banyak banget Jak.”

“Ya kamu kasi tau aku dong, salahnya aku sama kamu apa ? Maaf ya.”

“Pikir aja sendiri Jak ? Bukannya kamu playboy ? Cowok playboykan biasanya bisa nebak perasaan cewek.” Jawabnya semakin sinis.

Walaupun sebenarnya aku tidak terima dengan ucapan playboy yang di alamatkan kepadaku, tapi aku tetap berusaha sabar menghadapinya.

“Sumpah aku gak ngerti, kamu tuh kenapa si sebenarnya ? Salah aku apa sama kamu.”

“Sudah aku bilang banyak Jak, dan cowok yang gak punya hati kayak kamu gak perlu meminta maaf kepadaku, mending kamu ngurusin cewek-cewek kamu yang lainnya, gak perlu ngurusin aku.” Lama-lama ucapannya makin ngelantur aja ini anak.

Cukup lama kami saling berpandangan, lalu tiba-tiba aku melihat ia menangis, ada apa lagi dengannya, apa aku ada salah sehingga membuatnya sangat marah.

“Kamu kenapa Mel ?” Tanyaku keheranan.

“Apa urusannya sama kamu… lepasin !” Katanya setenga membentak, lalu dia menghempaskan daun pintu rumahnya, dan menghilang dari pandanganku.

Tapi kemudian pintu rumahnya di buka kembali, kupikir dia mau memaafkan aku. “Lain kali, kalau ngomong sama senior yang sopan, jangan pake ‘aku kamu’ apa lagi manggil nama, gak sopan itu namanya.” Ternyata dia belum puas membentakku. Lalu dia kembali membanting pintu kamarnya hingga terdengar sangat nyaring.

Cukup lama aku berdiri di depan pintu rumahnya, mencoba mencerna apa yang sebenarnya terjadi sehingga ia sangat marah kepadaku.

Apa karena aku meminjam motornya terlalu lama hingga semalam ini ?

Mungkin saja, karena aku berjanji kepadanya kalau aku akan mengembalikan motornya sore hari. Maafkan aku ya Mel, karena aku gak bisa nepatin janji.

“Aku minta maaf ya, aku tidak tau salahnya aku sama Mbak Melinda apa ? Tapi aku benar-benar minta maaf kalau aku ada salah.” Aku diam sejenak, berharap pintu rumahnya kembali terbuka, tapi setelah kutunggu beberapa menit, pintu rumahnya tetap tertutup rapat, tidak ada tanda-randa kalau ia akan membukakan pintu untukku. “Aku pulang ya Mbak, dan Maaf sekali lagi.” Sambungku.

Segera aku berjalan meninggalkan rumahnya, dengan perasaan yang sangat tidak nyaman. Entah kenapa aku menjadi merasa sangat bersalah, melihat ia yang tampaknya sangat marah sekali kepadaku.

++++

Setelah menunggu kurang dari satu jam, Wulan datang dengan motornya, ia tersenyum girang saat melihat aku yang sedang berdiri di samping halte bus trans jogja. Dia segera turun dari motornya, lalu memelukku sangat erat sekali, membuatku sedikit risih sebenarnya.

Aku berusaha melepaskan pelukannya, tapi yang terjadi dia malah mencium pipiku.

“Kamu gila ya, kalau di liatin orang gimana ?” Protesku.

“Mana ? gak orang kok.”

“Di sinikan banyak kendaraan yang lewat, gimana kalau mereka lihat.” Kataku, tetap tidak suka dengan caranya yang langsung main peluk dan cium.

“Kenal aja gak, ngapain di ambil pusing Jak.”

“Terserah katamu aja deh.” Kataku menyerah, lalu mengambil helm yang ia gantung di bagian depan. “Ayo antar aku pulang.” Lanjutku, sambil menaiki motornya.

“Yuk… tapi pulang kekosku dulu.”

Sebenarnya aku ingin sekali langsung pulang kerumah, apa lagi aku ada janji dengan Tante Tia, tapi mau bagaimana lagi, ini motornya dan aku hanya menumpang, kalau aku memaksa aku takut dia nanti akan tersinggung dengan ucapanku.

++++

Pov Orang Ketiga

Bodoh… bodoh… kenapa kamu bego banget si Jak, kamu tau gak dari tadi pagi setelah kita berpisah, aku selalu mikirin kamu, aku kangen kamu tau gak hiks… hiks… hiks… kamu jahat Jak, aku benci Jaka

Saat melihat Jaka menghilang dari pandangannya, Melinda merasa begitu kehilangan sosok Jaka di dalam dirinya, dia merasa begitu kesepian dan mendadak sangat merindukan Jaka.

Bahkan ketika sore menjelang, ketika Jaka tak ada kabarnya, dia sempat menghubungi sahabatnya yang ikut ambil bagian menjadi panitia LK, dan menanyakan kabar Jaka yang belum juga kunjung pulang, tapi kabar yang dia dapat, malah membuatnya terluka, saat menyadari apa yang terjadi di sana.

Sang pujaan hati ternyata sedang bermesraan dengan salah satu anggota baru di dalam kamar mandi, dan itu diketahui oleh sahabatnya Sari yang tidak sengaja melihat Jaka bersama Karen keluar dari dalam kamar mandi secara bersamaan.

Melinda masih berada ditempat yang sama, dia berdiri bersandar di dinding sambil menangis, berharap Jaka tetap berada di luar, membujuk dirinya.

Tapi harapan tinggalah harapan, Jaka mungkin tidak akan kembali lagi menemuinya.

Ingin rasanya dia melupakan kejadian malam itu, di saat ia tertawa dan dengan maunya di telanjangi oleh Jaka, ketika beni-beni cinta itu tumbuh, dan rasa sayang yang sudah lama tidak ia rasakan kembali hadir. Tapi sayang, ternyata apa yang dia rasakan, tidak dirasakan oleh Jaka, membuatnya begitu frustasi.

Aku tidak akan melupakannya, dia harus bertanggung jawab, karena sudah membuatku mencitainya Dia menghapus air matanya.

++++

Pov Jaka

“Aaaah… Aaahh… terus Jak, sodok lebi keraas, aku kangeen kontol kamu sayaaang… Aahkk… Aahh… ”

“Eehmm… Kamu suka Lan ?”

“Iyaa… Aaah… kontol kamu enak banget Jak.”

Dari belakang aku menyetubuhi vagina Wulan, sambil sesekali aku menampar pantatmya.

Sebenarnya aku tidak ingin melakukan ini dengannya, karena bagaimanapun juga Wulan adalah pacarnya sahabatku Toni.

Tapi aku seorang pria biasa, yang tidak mungkin bisa tahan kalau terus-terusan di goda, apa lagi kalau sampai di tantang seperti ini, mau tidak mau, suka tidak suka, aku terpaksa menyetubuhinya.

Kucabut penisku dari dalam vaginanya, lalu kuminta Wulan untuk tidur terlentang, dan kemudian aku kembali menindih tubuhnya dan melesatkan sang jendral kedalam medan perang, dia bekerja begitu baik, mengaduk-aduk liang peranakan Wulan.

“Laan… aku mau keluaar !”

“Aahkk… di dalam aja Jak… aku juga mau keluaaar ni sayaaang… Aaa… aaahh… ”

“Siaaal… ” Crooott…. crrooott… croott… Aku menyemburkan spermaku kedalam rahim Wulan, barengan saat ia memuntahkan lendir cintanya.

Aku tersenyum memandang wajah Wulan yang tampak tegang, mungkin dia keenakan karena habis merasakan serangan dari sang jedral yang memang seorang militan sejati di medan perang.

Buuuukk….

Aku terjengkang kedepan ketika sesuatu menghajar punggungku hingga aku menimpa tubuh Wulan, belum sempat aku melihat siapa yang sedang memekulku, tiba-tiba tanganku di tarik, lalu dalan hitungan persekian detik tanpa bisa kucegah, sebuah kepalan tangan meluncur kewajahku.

Tidak hanya sekali, tetapi berulang kali hingga kepalaku terasa pusing dan mataku berkunang-kunang.

Kulihat Wulan masih dalam keadaan telanjang bulat berusaha menahan orang yang sedang memukuliku, bahkan dia sempat terlempar ketika pria itu menghibaskan lengannya.

Lalu kembali kurasakan tendangan yang cukup keras di dadaku, dan sebelum semuanya benar-benar gelap, kulihat pria itu menunjuk-nunjuk kearahku dengan mulut yang komat kamit tanpa bisa kudengar sepatapun, dan akhirnya aku benar-benar tak sadarkan diri.

++++

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*