Home » Cerita Seks Kakak Adik » Ini Tentang Aku 17

Ini Tentang Aku 17

TUJU BELAS

Saat ini aku bersama ketiga rekanku sedang melaksanakan kegiatan outbond, beberapa kali kami mengalami sedikit insiden, memaksa kami untuk saling menjaga satu sama lain, menciptakan kemistri diantara kami berempat, hingga timbul perasaan saling mempercayai satu sama lainnya.

Jangan tanya kenapa aku begitu muda dekat dengan beberapa teman wanita, bahkan sebagian berakhir di atas ranjang, karena aku sendiri tidak mengerti.

Tapi satu hal yang kupahami, aku seorang pria yang menyenangkan, yang mampu menciptakan suasana menjadi hangat, riang dan penuh semangat, walaupun hatiku dalam keadaan sekacau apapun, aku selalu bisa memberi aura positif untuk orang-orang yang berada di sekitarku, sehingga wajar saja kalau aku begitu muda dekat dengan orang lain, dan di sukai banyak orang lain.

Tapi kenapa aku begitu muda meniduri teman wanitaku ? Satu hal yang perlu di ingat, sebagian dari mereka bukanlah wanita yang benar-benar baik, dalam artian mereka sudah biasa melakukan hubungan sex, entah itu dengan pacarnya, atau dengan teman pria mereka.

Karena mereka sudah perna, atau sudah biasa melakukannya, tentunya mereka tau mana cowok yang bisa di ajak bersenang-senang, tanpa ada perasaan takut kalau nantinya sampai terikat, dan mana cowok yang tidak bisa di ajak bersenang-senang. Di tambah lagi, aku selalu berada di kondisi dan setuasi yang tepat, sehingga sangat mendukung perbuatan mesumku.

Mungkin itu sedikit penjelasan dari saya yang tidak masuk akal..

Haha…

++++

Saat ini aku sedang memijit kaki Nia yang tampaknya terkilir, awalnya aku memang berniat hanya ingin membantunya, tapi entah kenapa aku jadi iseng ingin mengerjainya, hingga terjadilah pijit-memijit hingga kepangkal pahanya.

Niatnya yang hanya ingin mengerjain balik dirinya, malah sekarang aku sendiri yang di buatnya mati langkah, ketika dia memintaku untuk menyentuh vaginanya.

[i]Sial ![/]

“Masukin aja Jak !” Pintanya, sambil memegang pergelangan tanganku.

Lama aku terdiam, mencerna ucapannya. Tapi setelah tatapan kami bertemu, aku mengerti apa yang di inginkan Nia, tapi aku bingung, apakah aku harus melakukan itu di hadapan kedua sahabatnya, di alam terbuka seperti ini yang bisa kapan saja orang lain datang dan melihat kami sedang berbuat mesum, bisa-bisa kami nanti di arak oleh orang sekampung. Tidak… aku tidak mau

Tiba-tiba Nia menarik belakang kepalaku, lalu dia mencium bibirku, awalnya hanya menempel, tapi lama kelamaan dia melumat bibirku.

Lama kelamaan aku juga tak kuasa menahan diriku, kubulas lumatannya, lidaku menari-nari, mencari lidanya, mengait lidanya dan mengulumnya dengan rakus. Sementara tangan kananku, menyusup masuk kedalam celana dalamnya, lalu mencari-cari clitorisnya dan memainkannya.

“Aahkk… Jak !” Rintih Nia, ketika kulepas lumatannya, dan mulai mengulumi daun tilinganya.

Kucoba kumasukan jariku kedalam vaginanya, dan ternyata benar dia suda tidak perawan lagi, karena jariku tidak mengalami kesulitan saat menerobos vaginanya. Tapi anehnya aku merasa senang karena setidaknya nanti aku tidak perlu merasa bersalah ketika nanti aku menyetubuhinya.

Puas mengulum daun telinganya, kini lidaku beralih keleher jenjangnya, kuciumi lehernya, lalu kujilat dan kubuat beberapa cupangan di lehernya. “Aaampuuun jangan, aku gak kuat di gituiiin Jak.” Rintih Nia, tapi aku tak mau berhenti, aku mau meninggalkan jejak di lehernya.

Ketika lagi asyik membuat cupangan di leher Nia, tiba-tiba Karen mengagetkan aku. “Jangan di sini Jak.” Bisik Karen memburu, sepertinya dia juga sangat terangsang.

“Terus di mana ?”

“Woi… ayo kesini.” Panggil Vika, aku sangat terkejut saat melihat Vika yang entah semenjak kapan sudah berada di atas, lalu dia memanggil kami.

Segera Karen menyusul Vika, sementara aku menyesul di belakangnya bersama Nia. Setibanya di atas, ternyata di sana ada sebuah gubuk kecil, yang sepertinya sudah lama tidak terpakai, lalu Karen menarikku masuk kedalam gubuk, sementara Vika suda lebi dulu masuk kedalam gubuk.

Setibanya di dalam, Karen melepas pakaiannya hingga telanjang bulat, dan langsung memelukku, dan kami berciuman dengan sangat panas, lalu kedua tanganku meremas-remas pantatnya yang sekal.

Dan lagi aku mendapatkan kejutan yang special, ketika celana training sekaligus celana dalam yang aku kenakan di tarik turun hingga sebatas mata kakiku, lalu si jendral dengan senyum yang menjijikan tanpak girang ketika dia merasakan belaian lembut tangan seseorang.

Kulepas ciumanku, untuk melihat siapa yang berani nantangin si jendral, dan ternyata itu adalah Vika, yang sedang berjongkok sambil memainkan penisku, dia mengocoknya dengan irama beraturan, sementara kepala penisku di jilatinya.

Segera kubuka pakain Karen, lalu kulumat habis payudaranya yang ranum, memang ukurannya tidak besar, sehingga mulutku dapat menampung payudaranya.

“Ssstttt… Aaahkk… enak Jak.” Ritih Karen, sambil memegangi kepalaku.

Kuhisap lembut puttingnya, sesekali kugigit lalu kutarik puttingnya, membuat desahannya semakin panjang, sementara payudarah kanannya kuremas-remas, kuamainkan puttingnya, kegencet dan kuputar-putar puttingnya yang berwarna merah muda.

“Langsung aja yuk… ” Pinta Nia, yang ternyata sudah telanjang bulat. “Waktu kita gak banyak loh.” Lagi dia mengingatkan kami bertiga.

“Siapa yang duluan ni ?” Tanya Vika.

“Aku dulu dong, kan aku yang memulai.” Pinta Nia, sambil berbaring di atas tikar.

“Terserah de, siapa aja yang mau duluan.” Timpal Karen, dadanya kulihat naik turun.

“Ya uda, sana Jak buruan eksekusi Nia hehe… !”

Segera aku menghampiri Nia, lalu Nia menyambutku dengan memeluk tubuhku, kutindih tubuhnya, lalu bibirnya kembali kulumat habis, sambil memainkan payudaranya yang begitu besar ketimbang dua temannya.

Kini tanganku beralih kebawah, kumainkan sejenak bibir vaginanya yang sudah sangat basah, lalu kuangkat kakinya sebelah keatas pundakku, kudorong pinggulku, hingga penisku menubruk bibir vaginanya, terus melesat hingga penisku masuk seutuhnya kedalam vagina Nia yang langsung menjepit penisku.

Ah… nikmat sekali rasanya Penisku terasa seperti di urut-urut di dalam sana, membuatku semakin bersemangat memompa vaginanya.

“Oooohh… kontol kamu kok gede banget si Jak ?” Keluhnya, beberapa kali dia tampak mendorong perutku, tapi aku tidak perduli dan terus memompa vaginanya. “Aampuunn Jak, pelan-pelaaan… Aahkk… aahk… ” Desahnya, sambil terus berusaha menghindari sodokanku yang semakin menggila.

“Jangan berhenti Jak, perkosa dia.” Ujar Karen, lalu dia menahan pundak Nia agar tidak bergerak-gerak, sehingga penisku semakin leluasa menyodok vagina Nia.

“Tahaan ya Kareen.” Pintaku sambil tersenyum jahat.

Lalu Vika merangkak naik keatas tubuh Nia, dia menunggingkan pantatnya kearahku. “Jilaaatin Jak, aku belum dapat jatah dari tadi.” Pinta Vika kepadaku yang sedang menggarap vagina Nia.

Tak perlu diminta dua kali, segera kulahap vagina Vika yang ternyata tak memiliki rambut sehelaipun di vaginanya, membuat lipatan vaginanya terlihat sangat menggoda, sehingga membuatku bersemangat menjilati bibir vaginanya yang basah, dan memainkan clitorisnya yang sebesar kacang.

Sial… Kondisi ini membuatku tidak bisa berkonsentrasi menikmati vagina Nia, tapi aku cukup puas, dengan begini aku tidak akan buru-buru keluar, karena konsentrasiku yang terbagi.

Kubuka lipatan pantatnya, dan kuciumi anusnya, kujilati tanpa ada perasaan jijik sama sekali.

“Aaahkk… gila kamu Jak, anusku kamu jilatiiin… Aahkk… geeliiii Jak !” Erangnya, tanpaknya dia tidak menyangkah kalau aku berani menjilati anusnya.

Sementara di bawa sana, dengan gagahnya si Jendral mengaduk-aduk liang Nia, hingga gadis itu merinti-rinti meminta untuk di hentikan, mungkin karena kesakitan, atau rasanya terlalu nikmat sehingga dia tidak kuat menahan gempuran sang jendral. Trimakasi Jendral, aku bangga padamu…

“Aaakuuu keluaaaarr Jaaak… ” Eraang Nia, tubuhnya menggeliat, hingga Karen yang memeganginya sampe terduduk sanking kuatnya rontahan Nia.

Setelah rontahan Nia berhenti, aku baru menghentikan sodokanku ke vaginanya, kucabut penisku yang berumuran cairan vagina Nia. Dan kuhentikan juga jilatanku keanus Vika.

“Memek kamu sempit banget Nia.” Pujiku.

Aku duduk bersandar di dinding kayu gubuk tersebut dengan nafas tersengal-sengal, begitu juga dengan Vika dan Karen, hanya Nia yang masi berbaring lemas, dengan kedua kaki terbuka dan nafas yang memburu, membuat dadanya naik turun mengikuti irama nafasnya.

“Sekarang giliran siapa ?” Tantangku.

“Aku… ! kamu uda bikin aku sangat terangsang, jadi kamu harus bertanggung jawab.” Ujarnya, lalu dia menarik tubuhku, dan mendorongku hingga terlentang.

“Suit dong.” Protes Karen.

Tapi Vika tidak memperdulikan protes sahabatnya itu, dia langsung memposisikan penisku menghadap bibir vaginanya. Perlahan dia menduduki penisku hingga masuk seutuhnya kedalam tubuhnya.

Ternyata memek Vika tidak sesempit milik Nia, berarti Vika sudah biasa ML dengan orang lain.

Lalu dia mulai memompa penisku naik turun, plookk… plokk… plokk… “Pantesaaan… kontol kamu besar banget Jak, memekku penuuuh… Aaaah… aahk… Gilaaa… Jaaak… rasanya sesak bangeeet… ” Ceracau Vika sambil terus bergerak memuaskan hasratnya.

Sementara itu, dari belakang Karen memeluk tubuh Vika dan meremas-remas payudarah Vika.

Aku semakin bersemengat, ikut menggerakan pinggulku menubruk pantatnya yang sekal, sambil melihat mereka berdua yang kini sedang berciuman mesra, seperti pasanga lesbi. Jangan-jangan mereka memang lesbi? Persetan, bukan urusanku.

Tak lama kemudian aku merasakan sang jendral ingin memuntakan pelurunya. “Vika, aku mau keluar ni ?” Kataku, memperingatkannya.

“Keluaaarkan saja Jak, aku jugaaa… Aahkk… mau keluaar, kita bareng ya Jak.” Jawab Vika yang kini lebi berkonsentrasi menyetubuhiku.

Dan tiba-tiba kurasakan semburan hangat keluar dari dalam tubuh Vika, sementara itu Vika tanpa menegang, kepalahnya mendongak keatas.

“Akuuu keluaar Vik.” Segera kumuntahkan spermaku kedalam rahimnya.

++++

“Terimakasi Jak, aku puaas !” Bisik Vika, lalu dia bangun berdiri meninggalkanku.

“Sekarang giliranku kan ?” Tanya Karen, aku mengangguk lalu merangkulnya.

“Tapi kita jangan buru-buru ya.” Bisikku, lalu aku mengulum daun telinganya, kususupkan lidaku kedalam kupingnya, membuatnya mendesis kegelian.

Kurebakan tubuh bugilnya, lalu aku menciumi sekujur wajahnya, dari kening, mata, kedua pipinya, hidung dan terakhir aku melumat bibirnya. Jujur diantara mereka bertiga Karen yang paling cantik, walaupun payudarahnya tidak sebesar Nia, dan bentuk tubuhnya tidak sebagus Vika tapi aku menyukainya.

Ciumanku berali kelehernya, lalu turun kepundaknya, kugigit pelan pundaknya, hingga meninggalkan jejak gigitanku di pundaknya.

“Aahkk… Jak !”

Kembali ciumanku turun keatas payudaranya, kujilatti puttingnya dengan rakus, sementara tanganku mengelus-elua bibir vaginanya.

Secara bergantian aku menciumi payudaranya, seperti bayi besar yang sedang menyusu kepada Ibunya. Tubuh Karen menggeliat, tampak menikmati sapuan lidaku di atas payudaranya.

“Aahkk… Jaakk… Eehmm… ” Desahnya.

Lalu ciumanku turun keatas perutnya yang rata, kumainkan pusarnya dengan lidaku, dan kemudian kubuka kedua kakinya sehingga saat wajahku sejajar dengan bibir vaginanya, aku dapat melihat jelas vagina Karen yang di tumbuhi rambut lebat yang tampak mengkilat sanking terangsangnya.

Kutelusuri belahan vaginanya dari atas clitorisnya, hingga kelobang anusnya, kulakukan gerakan naik turun terun terus menerus hingga pantat Karena bergoyang-goyang menahan rasa geli.

“Lakukan sekarang, aku mohoon.” Pintanya.

“Hehe… tapi kulumin dulu kontolku ya, agak kotor soalnya” Kataku mengajukan syarat kepadanya.

Aku mendekatinya, lalu menyodorkan penisku kearahnya di depan wajahnya. “Kamu gak jijikan bersiin bekas memek kedua sahabatmu.” Kataku, sambil membelai wajah cantiknya.

Lalu Karen meraih penisku, dia mengocok sebentar penisku dan kemudian membuka mulutnya dan mulai mengulum penisku.

Rasanya nikmat sekali, apa lagi ketika dia menyedot-nyedot penisku, seperti ingin menelan penisku. Lalu dia mengangkat keatas penisku, dan menciumi bagian bawah kemaluanku, dan berhenti di kantung pelirku, Huuppss… Dalam sekejap kantung pelirku ia lahap habis, dan rasanya ngilu tapi enak sekali.

Sambil mengocok penisku dia menghisap-hisap kantung pelirku, membuatku merinti nikmat. “Kamuuu… aahk… hebaat Kareen ! Aahkk… tapi nanti aku bisa keluar lagi.” Kataku memperingatkannya.

Karen segera berhenti mengerjai penisku. “Maaf… hehe.” Katanya, aku menggeleng-gelengkan kepalaku.

Segera kurebahkan tubuhnya, lalu kuposisikan penis di antara lipatan bibir vaginanya. Perlahan kudorong masuk penisku, membela bibir vaginanya. “Aaah… nikmat banget memek kamu Ren.” Lirihku, menikmati hisapan mulut vagina Karen.

“Aaahkk… entotin aku Jak.”

“Pasti Karen yang cantik, aku akan sangat senang bisa nyodok memek kamu.” Bisikku, lalu aku mulai menggerakan pinggulku maju mundur.

“Gilaaa… nikmat banget ! Aahkk… ahkk… ”

“Kareeen… Aahkk… aku entotin kamu sayang.”

“Iyaaa… aaahkk… aahkk… entotin aku Jak, puaaaskan Aku Jakaaa dengan kontol besar kamu.” Pintanya, sambil ikut menggoyangkan pinggulnya.

Kurebahkan tubuhku diatas tubuhnya, lalu kulumat bibir tipisnya, lida kami saling mengait, saling bertukar air liur dan menelannya.

Tiba-tiba Vika dan Nia datang menghampiri kami, Vika terlentang sambil membuka kedua kakinya, dia menarik tanganku dan mengarahkannya kelobang vaginanya yang sudah sangat becek, aku mengerti apa yang dia mau, segera kubelai bibir vaginanya, lalu kukocok vaginanya dengan kedua jariku dengan tempo yang sangat cepat.

Sementara Nia, kurangkul dirinya dan mulutku langsung mencomot salah satu payudaranya yang begitu besar.

“Jaak… aku mau keluaar !” Pekik Karen, membuyarkan konstrasiku yang sedang berbagi kenikmatan bersama Vika dan Nia.

Dan kemudian pinggang Karen menikung, dan pantatnya bergetar hebat, seiring cairan cintanya yang keluar semakin banyak. Lalu tubuhnya kembali terhempas dengan mata terpejam.

Kucabut penisku, lalu kuminta Vika menungging, dia setuju dan segera menungging di depanku. Kembali kuposisikan sang jendral, lalu kulesatkan penisku kedalam vagina Vika.

Dengan gerakan cepat aku menyodok-nyodok vagina Vika dari belakang, sambil melumat bibir Nia yang masi setia berada di samping kananku.

Pplllloooookk…. pppplllookkk…. pppllliiooooookkkk…. pploookk….

“Aakuuu keluaaaar… ” Pekik Vika.

++++

Kami berempat duduk saling berhadap-hadapan, kulihat raut wajah mereka memancarkan kepuasan, tapi aku belum, buktinya sang jendral masi berada di posisi siap tempur. Tapi kali ini targetnya adalah lobang anus salah satu dari mereka bertiga.

“Aku belum puas ni.” Kataku, memeca kesunyian.

“Beneran Jak ?” Tanya Vika, aku menggangguk.

“Gila kamu Jak, udah ngentotin kami bertiga secara bergilir, bahkan Vika dapat dua kali, tapi kamu belum juga merasa pus, nafsu kamu gede banget si ?” Ucap Karen, merasa tidak percaya dengan ucapanku.

“Ayoalah, satu kali lagi ya… ” Pintaku.

“Aku masih sanggup kok kalau kamu masi mau.” Tawar Karen sembari tersenyum malu-malu.

“Tapi kali ini aku mau main di anus.”

“Kalau begitu aku tidak mau.” Langsung di jawab kontan oleh Karen, aku melirik kearah Vika dia juga menggelengkan kepalanya.

Kini harapanku tinggal Nia seorang, pandangan kami berdua beradu, aku mengangguk Nia hanya diam, lalu aku mendekatinya, kepeluk dirinya, lalu kubelai payudaranya yang besar itu. Perlahan kubimbing ia untuk menungging, dan tidak ada penolakan sama sekali dari dia, walaupun sorot matanya memberi isyarat kalau ia ketakutan.

Kubelai punggungnya untuk meyakinkan ia kalau semuanya akan baik-baik saja.

Kubuka pantat Nia, dan benar saja sangat rapat sekali, membuatku percaya kalau ia belum perna melakukannya sekalipun dengan orang lain.

“Jangan takut, rileks aja… !” Kataku sambil membelai pipi pantatnya.

“Ayo Jak kami pengen liat.” Pinta Vika yang tampak begitu antusias melihat aku yang ingin memperawani anus sahabatnya itu.

Kubuka semakin lebar pantat Nia, lalu kutempelkan kepala penisku di lobang anusnya. “Kamu siap Nia ?” Tanyaku, sambil menggesek-gesekan kepala penisku di lobang anusnya.

“Rasanya pasti sakitkan Jak.” Tanya Nia.

“Iya, sangat sakit malahan, tapi aku suka melihat kamu kesakitan seperti tadi.” Lalu perlahan kedorong penisku memasuki lobang anusnya. Nia tampak kaget, tubuhnya sampe terdorong kedepan.

“Sakiiit… !” Rintih Nia.

“Maaf ya Nia.” Kataku, sambil mencengkram erat pinggulnya, dan mendorong keras pinggulku hingga akhirnya penisku berhasil membobol anusnya.

Kutekan semakin kuat, membuat penisku semakin dalam bahkan sampe mentok. “Sakiiiitt… Jaak… Ooohk… jangaaan kasaaar hik.. hik.. hik…” Pinta Nia, sepertinya dia menangis menahan rasa sakit di anusnya. Dan parahnya, kedua sahabatnya bukannya membantu Nia menenangkannya, mereka malahan seperti sangat senang melihat Nia tersiksa.

Mereka berdua menahan tubuh Nia agar tidak bergerak, seperti yang sudah mereka lakukan sebelumnya, membuatku leluasa memompa anus Nia tanpa perlu merasa khawatir Nia menberontak.

Sebenarnya aku merasa kasihan melihat Nia, tapi sudalah… dia juga yang memulainya, aku hanya mengakhirinya saja dengan membuatku puas.

Plaak… plaaak… plaak… plaakk…

Aku menampar keras pantat Nia, membuat bercak merah di pantatnya. Sementara pinggulku bergerak semakin cepat, menyodok dan memompa penisku, keluar masuk dari lobang anusnya.

“Ayooo… Jak semangat.” Pekik Vika memberiku semangat, membuatku semakin menggila menyetubuhi anus Nia yang memerah.

“Kamu hebat Jak, kamu pasti bisaaa !” Timpal Karen sambil cekikikan mentertawai kami.

Tapi aku tidak perduli, yang kuinginkan saat ini hanyalah kepuasaanku, ketarik kedua tangannya kebelakang, sehingga dadanya menggelantung, dan aku semakin merasakan pelukan erat dinding anus Nia di penisku. Sakit sebenarnya, tapi sensasinya itu yang membuatku sangat suka bermain anal.

Vika dan Karen merunduk di bawah Nia, lalu mereka berdua seperti anak sapi yang sedang menyusu kepada induknya, mereka mengulum payudara Nia, membuat Nia merinti semakin keras.

“Aaahkk… kaliaaan jahaaat !”

“Eehmm… nikmatin aja Nia, kamu pasti suka kok, aku jamin, habis ini kamu pasti ketagihan ingin di anal lagi.” Kataku, sedikit menggodanya.

“Terserah kamu mau bilang apa, tapiii… aaahkk… ini memang agak enaaak ! Uuhhkk… lebi keraaas… Aahkk… aahkk.. sakiitt… ” Rintih Nia.

“Yeaa… aku mau keluaaar !”

Crrrooooott…. crrroooott… crrooott…

Kutumpakan seluruh spermaku kedalam anus Nia, ah… nikmat sekali rasanya, setelah berhasi memperawani anus Nia.

Tubuhku langsung ambruk kebelakang, begitu juga dengan Nia yang langsung tengkurep di atas tikar lusuh yang tadi di bentangkan Vika. Sementa Karen dan Vika tersenyum puas melihat hasil perbuatanku kepada sahabat mereka. Kulihat Karen dan Vika sedang melihat, memandangi anus Nia yang berlumuran spermaku.

“Kamu beruntung loh Jak, bisa ngentotin Nia.” Ujar Karen, aku hanya tersenyum mendengarnya.

“Iya, beruntung banget malahan.” Timpal Vika. “Kamu tau gak ? Nia ini cuman mau ngentot sama cowoknya doang, padahal cowoknya ada di kampung, kan jauh… jadi kita sering bujuk Nia agar mau ngentot sama siapa saja, hanya sekedar buat senang-senang, tapi dia selalu nolak, dan sekarang dia mau, bahkan rela anusnya di bikin rusak kayak gini sama kamu.” Jelas Vika panjang lebar.

Sekarang aku mengerti kenapa mereka senang sekali melihat aku mengerjai tubuh Nia, tujuannya karena mereka ingin Nia sama seperti mereka, sama-sama rusak, bahkan Nia sekarang lebi rusak dari mereka.

“Terserah deh, kalian mau ngomong apa. Tapi terimakasi ya sudah mau melayani aku.” Kataku, sambil kembali mengenakan pakaian.

“Sama-sama, kita juga senang kok.” Jawab Vika.

“Ya uda yuk siap-siap, uda sore ni.” Ucap Karen, lalu dia juga mulai mengenakan pakaian, sementara Vika membantu Nia untuk berdiri dan mengenakan pakaiannya kembali.

Setelah beristirahat sejenak sambil mengobrol ringan, kami kembali melanjutkan perjalanan, tapi kali ini kami tidak melewati rute yang seharusnya, karena kami merasa sangat lelah kalau harus melewati peraian gunung yang sangat derar dan berbatuan, di tambah lagi kaki Nia terkilir.

Baru saja berjalan beberapa meter kami bertemu dengan Kakak panitia, mereka tampak cemas saat melihat Nia yang tidak bisa berjalan. Bahkan salah satu dari mereka harus kembali mengambil tandu.

++++

Begitulah sepenggal cerita perjalanan outbond hari ini bersama ketiga rekanku.

Oh iyaa… sebenarnya sesampai di aula, aku sempat kembali menikmati tubuh Karen satu kali lagi, ketika aku sedang membereskan pakaianku. Dia menghampiriku lalu dia bilang kepadaku “Kamu gak adil, yang lain dapat dua kali tapi aku cuman satu kali.” Tentu saja dengan senang hati aku menawarinya untuk terakhir kalinya.

Dan kami ML di kamar mandi tanpa sepengetahuan Vika dan Nia. Bahkan aku kembali mendapatkan perawan, dan kali ini anusnya Karen, ketika dia memintanya sendiri dengan malu-malu, katanya, dia ingin merasakan apa yang di rasakan Nia sahabatnya.

++++

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*