Home » Cerita Seks Kakak Adik » Ini Tentang Aku 16

Ini Tentang Aku 16

Pagi ini Melinda tidak seperti biasanya, dia lebi banyak diam, dan sesekali tersenyum sendiri. Setiap kali mengingat kejadian kemarin malam hingga tadi pagi, rasanya dia sedang jatuh cinta, terhadap juniornya sendiri. Hmm… tapi dia juga suka aku gak ya ? Pikir Melinda, sambil memainkan sedotannya.

Seandainya saja, dia mau menjadi pacarku… Aah… tidak-tidak kenapa harus dia, akukan juga baru kenal dia, masak sudah main pacar-pacaran aja, tapi… tadi malam dia suda merebut ciumanku, terus tangannya juga sudah berani menyentuh tubuhku, bahkan tadi malam dia juga nyaris mengambil perawanku.. Aaarrr… pokoknya dia harus tanggung jawab. Awas aja kalau dia tidak tanggung jawab, bakalan aku pontong tititnya.

Sementara itu, ketika Melinda sibuk dengan lamunanannya sendiri, kedua sahabatnya Novi dan Lala memandanginya dengan penuh tanda tanya, bahkan sempat terlintas di pikiran mereka kalau sahabatnya satu ini sudah gila.

“Sadar Mel, obat kamu habis ya ?” Panggil Lala, seraya membenarkan kaca mata minusnya yang sedikit turun.

“Iiih… Lala ganggu orang aja deh.”

“Kamu kenapa si Mel, dari tadi kita perhatiin cengar-cengir sendiri, terus bentar-bentar ngegelengin kepala, terus senyum lagi, terus muka kamu di tekuk kayak orang galau.” Jelas Novi panjang lebar kepada sahabatnya Melinda.

“Masak si sampe segitunya ?” Tanya Melinda antusias.

“Kami kira kamu kesurupan, atau jangan-jangan kamu ?” Buru-buru Lala meletakan tangannya di kening Melinda, lalu wajah Lala meringis seperti menemukan sesuatu yang ganjil dari hasil pemeriksaannya.

“Apaan si.” Protes Melinda sambil menepis tangan Lala.

“Hahaha… bener-bener sakit jiwa ni anak.” Timpal Novi cekikikan, sampe-sampe orang yang ada di cafe tersebut melirik aneh kearah mereka bertiga.

“Sssttt… diam ah, bikin malu aja.”

“Makanya, kamu cerita dong… ! Biar kami gak perlu nebak-nebak kayak gini.” Paksa Novi, yang memang sangat penasaran melihat tingka laku sahabatnya dari awal ketemu.

“Iya de, nanti aku cerita, tapi gak sekarang ya hihihi… !”

++++

Nita

“Nit… ”

“Apa ?”

“Kita beneran gak akan perna bisa saling mencintai ?” Tanya Reza, sambil memeluk tubuh Anita yang sedang dalam keadaan telanjang bulat, setelah semalam dia pulang dalam keadaan mabuk dan langsung menggarab tubuh Anita habis-habisan.

“Maaf Mas, kamu bisa memiliki tubuhku, tapi hatiku tidak akan perna memilih laki-laki bajingan seperti kamu.”

“Ciiih… sok suci kamu Nit.”

“Terserah kamu mau ngomong apa Mas, tapi saat ini aku sangat-sangat membenci kamu.” Dia menatap tajam kearah Reza yang juga sedang menatapnya.

Lalu Reza kembali menerkam tubuhnya, kedua tangan Reza dengan sangat kasar merema-remas dadanya, hingga ia merintih kesakitan, apa lagi ketika kedua puttingnya di pencet, rasanya sakit sekali tapi sensasinya tetap membuat vagina Anita membanjir karena terangsang.

Lalu bibir Reza memanggut bibir Anita, permainan lidanya yang gesit membuat Anita tanpa sadar mulai mendesah. “Eehmmpp… Mas Reza, Hnmmpp… ” Lirih Anita, apa lagi ketika vaginanya mulai di kobel-kobel oleh Reza.

“Kalau aku tidak bisa memilikimu, maka tidak ada satupun orang yang boleh memilikimu.” Bisisk Reza, lalu dia membuka kedua kaki Anita, memposisikan terpedonya di depan bibir vagina Anita yang sudah merekah.

“Aaahkk… ” Anita merintih, kedua tangannya mencengkram erat pundak Reza, sementara itu pinggul Reza bergerak maju mundur dengan sangat cepat.

Bibir Reza berpindah keleher Anita, dia menjilatinya dengan sangat rakus, bahkan ia membuat cupangan di leher Anita, sementara kedua tangannya mencengkram kedua payudarah Anita dengan sangat kasar.”Maaass… aku mau keluaar ! Aahk… aahk… sodok lebi cepat Mas” Kedua tangan Anita melingkar di leher Reza, sementara kedua kakinya memeluk erat pinggang Reza sehingga penis Reza terasa semakin dalam mengobok-ngobok liangnya.

Lalu Reza mengangkat tubuh Anita, dia menggendongnya sambil berdiri tanpa melepas penisnya di dalam vagina Anita. Sambil menggendong Reza mempercepat mengocok vagina Anita, Lalu mendadak Reza punya ide gila, dia mengambil kerudung, lalu meminta Anita mengenakannya.

“Ma… mau ngapain Mas ?”

“Hehehe… kamu pasti suka. Pake aja dulu kerudungnya.”

Dia membawa Anita kedepan pintu kamarnya, lalu perlahan dia membuka sedikit pintu kamar Anita. “Kamu lihat yang di luar sana ?” Tanya Reza, sambil melepas tubuh Anita

Di luar ada Bapak kos yang sedang mengecet tembok rumahnya, sambil bersiul ringan. “I… iya !” Jawab Anita, dia masi bingung dengan rencananya Reza.

“Tegur dia sayang, ajak dia ngomong.”

“A.. apa kamu gila ya ?” Umpat Anita, tapi Reza malah membuka pintunya semakin lebar.

“Ini hukuman buat kamu, ayolah kamu pasti suka kok.” Bujuk Reza, lalu dia menarik pantat Anita agar sedikit menungging kearah selangkangannya.

Buru-buru sebelum Bapak kosnya melihat, Anita mengenakan kerudungnya yang tidak begitu lebar. tapi cukup untuk menutupi pundak dan sebagian payudaranya yang sedikit keluar.

Reza melumuri kedua jarinya dengan air liur, lalu dia mengusap, membelai anus Anita. Reflek Anita menoleh kebelakang sambil menggeleng-gelengkan kepala, tapi Reza tidak perduli, yang ada di otaknya saat ini adalah memenuhi fantasi sexnya. Kalau Anita tidak bisa menjadi kekasihnya, berarti Anita cukup untuk menjadi budak nafsunya.

Muka Anita menegang ketika kedua jari Reza menyeruak masuk kedalam anusnya, walaupun Anita sudah beberapa kali perna melakukan anal sex, tapi tetap saja lobang anus Anita masi terlalu sempit untuk kedua jari Reza.

“Loh neng Anita ?” Tegur Slamet saat melihat kepala Anita yang keluar dari balik pintu kamarnya.

“Eh… i… iya Pak, Hmm… lagi ngapain Pak ?” Jawab Anita, sambil menahan peri dan rasa geli di anusnya ketika Reza mengocok-ngocok anusnya dengan dua jari sekaligus.

Keringat Anita bercucuran lebi banyak dari sebelumnya, selain karena tersiksa oleh permainan jari Reza, dia merasa cemas, takut kalau nanti bapak kosnnya menyadari kalau saat ini dirinya di balik pintu ini tidak mengenakan sehelai benangpun, beruntung dia sempat di minta mengenakan kerudung, sehingga Bapak Kosnya tidak akan menaru curiga terlalu berlebihan.

“Ni lagi ngecet rumah, uda pudar warnanya.”

“Eehmm… Bapak rajin banget ya, Ahkk… beruntung banget Ibu punya Suami seperti Bapak.” Puji Anita, sembari tersenyum manis kearah Pak Slamet, untuk menutupi perasaannya saat ini yang sedang sangat terangsang.

“Aduh… Neng ini bisa aja. Eh Neng habis ngapain, kok keringetan gitu ?” Tanya Pak Slamet, Anita mulai merasa khawatir kalau nanti Pak Slamet mengetahui kalau dirinya sedang telanjang, sambil di kerjai oleh si bajingan Reza.

Lalu tak lama kemudian, dia bisa sedikit bernafas lega ketika Reza mencabut jarinya dari dalam anusnya, tapi tak lama kemudian, raut wajahnya kembali berubah, tampak tegang dan sangat khawatir.

Anita menggigit bibir bawahnya, menahan rasa sakit ketika Reza memaksakan penisnya masuk kedalam lobang anusnya, lalu tanpa memberinya waktu untuk beradaptasi, tiba-tiba saja dari belakang Reza memompa anus Anita dengan kecepatan penuh, hingga terdengar suara “Plak… plakk… plaak… ” Ketika kedua paha Reza menubruk pantat Anita.

Dengan sekuat tenaga Anita memegang daun pintu kamarnya, agar tidak terjerembab kedepan.

“Loh… Neng Anita kenapa ? kayak orang kesakitan ?” Tanya Pak Slamet yang merasa khawatir melihat wajah Anita yang tampak pucat dan bermandikan keringat.

“Eehm… Gak apa-apa kok Pak, Aahkk… aku baik-baik saja.”

“Seriuus ? Tapi kok… ”

“Serius Pak gak apa-apa, ya udah dulu ya Pak, saya mau melanjutkan belajar dulu.” Buru-buru Anita menutup rapat pintu kamarnya.

Gilaa… itulah yang ada di pikiran Anita saat ini, Baru kali ini di dalam hidupnya dia bercinta sambil mengobrol dengan orang lain, walaupun tersiksa dan merasa takut kalau nanti dia sampai ketahuan oleh Bapak kos, tapi di sisi lain dia merasakan sensasi yang berbeda dari biasanya saat ia bercinta tanpa ada rasa takut ketahuan orang lain.

Sebelumnya dia memang perna bercinta di dalam kamar mandi, di saat Jaka berada di dalam kamarnya, tapi saat itu dia tidak mengobrol sepata katapun.

Bayangan Bapak kos yang tadi ia ajak mengobrol, ternyata membuat Anita semakin bernafsu, dan tanpa di sadarinya, tubuhnya menuntut lebi walaupun hatinya menolak keras di setubuhi oleh Reza.

“Maasss… Aaahkk… Aaahkk… !”

“Hehehe… gimana serukan ? Ayo gak usa malu-malu, jujur saja sayang, kamu sukakan di sodok di depan orang lain.” Goda, Reza sambil mencengkram erat pantat Anita.

“Ta… tapi tadi itu gila Mas, Aahkk… pelan-pelan nanti pantat saya robek Mas, Ooo… ooo… ”

“Hahaha… memang mau aku bikin robek anusm.u itu.” Tawa Reza semakin kencang, dia puas melihat Anita tersiksa oleh perbuatannya.

Lalu tanpa sepengetahuan Anita, Reza menbuka kaca nako kamar Anita, hingga Pak Slamet yang masih tercengang mendengar suara teriakan dari dalam kamar Anita, dapat melihat Reza yang tanpa pakaian sedang bergoyang maju mundur. Lalu kedua mata mereka bertemu, Reza menyugingkan senyumannya penuh arti, sementara Pak Slamet hanya dapat mengangguk lemah.

Reza menarik lengan Anita, hingga dia seperti sedang berdiri membelakangi Reza, lalu tangan kanan Reza dengan cepat menutup mata Anita, dan membimbingnya menghadap kearah Pak Slamet yang masih berdiri di tempatnya.

Mata Pak Slamet terbelalak saat melihat payudarah Anita yang terguncang ketika Reza menghentak pinggulnya.

Segera tanpa di minta Pak Slamet menuju kamar Anita, lalu dengan sangat perlahan dia membuka pintu kamar anak kosnya itu, yang selama ini di kenal sebagai anak baik-baik, karena jarang mengajak teman cowoknya ke dalam kamarnya.

“Mas… kenapa di tutup si ?” Protes Anita, hendak menurunkan tangan Reza yang sedang membekap matanya.

“Ssttt… diam dulu, kamu pejamin mata kamu, terus bayangin kejadian barusan, kalau Bapak kos kamu saat ini seedang melihat kita bercinta.” Kata Reza memberi sugesti kepada Anita, dan benar saja Anita menuruti ucapan Reza.

Ia membayangkan saat ini masi sedang mengobrol dengan Bapak kosnya, sambil di sodok oleh Mas Reza dari belakang, dan hasilnya, nafsu Anita semakin menggebu-gebu, bahkan ia tak tahan untuk meremas payudaranya sendiri dan tangan kanannya hinggap diatas vaginanya.

Sambil di sodomi, Anita bermasturbasi di hadapan Pak Slamet, di tambah lagi, Reza menngangkat kaki kiri Anita, sehingga Pak Slamet yang sedang berjongkok dapat melihat penis Reza yang sedang keluar masuk dari dalam anus Anita, sedangkan tangan kiri Anita bergerak dengan cepat mengorek-ngorek vaginanya yang sudah sangat basah sekali.

“Maaasss…. aku mau keluaar !”

“Iyaaa cantik, keluarin sayaaang… keluarin sebanyak-banyaknya sayang… aku percaya kamu.” Bisik Reza, lalu dia semakin cepat menyodok-nyodok anus Anita.

“Akuuuu… keluaaaarrr ! Akuu… Aahkk… ” Rintih Anita, lalu dari vaginanya keluar cairannya sangat banyak sekali.

Anita mengalami squirt padahal selama ini dia sangat jarang mensapatkannya, tapi hanya dengan membayangkan Pak Slamet yang sedang melihatnya bercinta, dia langsung medapatkan squirtnya yang paling nikmat yang ia rasakan.

“Aku juga… aku mau dapat.” Rintih Reza, lalu dia memuntakan spermanya kedalam anus Anita, sebagian spermanya tampak mengalir keluar dari dalam anus Anita.

“Kamu hebat sayang, Mas merasa amat puas sekali.” Puji Reza, tapi Anita sama sekali tidak merasa tersanjung mendengar pujian tersebut. “Sekarang, kamu boleh membuka mata kamu perlahan, ingat… sangat perlahan.” Bisiknya, lalu dia menarik lepas penisnya dari dalam anus Anita, sehingga spermanya keluar semakin banyak, mengalir dari sela-sela pahanya.

Saat itu Anita tidak langsung membuka matanya, dia merasa akan terjadi sesuatu saat dia membuka matanya, tapi dia sendiri tidak tau apa itu. Sejenak dia menarik nafas panjang, lalu dengan perlahan dia membuka matanya, dan… mata Anita langsung terbelalak saat melihat Pak Slamet sedang berjongkok di hadapannya sambil tersenyum menyeringai.

Belum hilang kekagetannya, tiba-tiba Reza mengangkat kedua kaki Anita di hadapan Pak Slamet, sehingga pria paru baya itu dapat melihat semakin jelas lipatan bibi vagina anak kosnya yang teramat basah.

“Aaaaaaawwwew…. ”

++++

Ccciiiiiiiiiiiittttttt…….

Suara gesekan rem, dan ban motor di atas aspal terdengar begitu sangat nyaring, ketika Seorang pemuda dengan refleknya yang cepat menekan kedua remnya secara bersamaan ketika seekor kucing hitam tiba-tiba melintas di hadapannya. “Hampir saja… ” Gumam sang pemuda, ketika kucing itu menghilang dari pandangannya.

Lalu dengan perlahan dia kembali melanjutkan perjalannya dengan kecepatan sedang.

++++

Setibanya di lokasi, ternyata para peserta sudah siap untuk melaksanakan outbond, beruntung Jaka tidak sampai terlambat, kalau tidak mungkin dia akan di tinggal sendirian di aula sambil menunggu teman-temannya selesai menjalankan outbond.

Setelah sedikit mendapat omelan dan bentakan dari panitia, Jaka di minta bergabung bersama kelompok B, yang terdiri dari Karen, Vika, dan Nia.

Mereka memulai star dari lokasi tempat mereka tinggal, lalu menuju pos 1 yang terletak di persawahan, dan terus berjalan menuju pos 2 yang berada tepat di perairan berbatuan yang biasa di aliri air gunung yang langsung menuju persawahan. lalu pos 3 berada di tengah-tengahnya, dan berakhir di pos 4 ketika mereka selesai melewati peraian.

Setelah menunggu lima belas menit, selepas pemberangkatan kelompok pertama, Jaka dan ketiga rekannya mulai melakukan perjalanan ke pos pertama.

Setibanya di pos pertama, mereka di minta bernyanyi dan sebagian lagi menari, tentu saja mereka sangat menikmatinya sambil tertawa, sebelum akhirnya mereka kembali di perbolehkan melanjutkan perjalanan.

Dan hanya butuh waktu sepuluh menit bagi mereka untuk tiba di pos kedua, dan di sana mereka sedikit di beri penyuluhan.

“Selamat kalian sudah tiba di pos kedua, di sini perjalan menuju ke pos tiga akan semakin sulit, karena kebutulan air gunung sedang deras-derasnya, jadi saya memiinta kepada kalian untuk lebi berhati-hati lagi, dan jaga kekompakan kalian.” Kata seorang panitia kepada peserta. “Eh… Nia, kamu kok pake rok panjang, bukannya kemarin sudah di bilang pake celana training.” Tegur sang Panitia, saat mengetahui sala satu peserta mengenakan rok panjang.

“Maaf Mas, soalnya saya lupa bawak celana training.”

“Kamukan bisa pake celana tidur kamu, seperti kedua temanmu itukan.” Jawab sang panitia sambil menunjuk Vika dan Karen.

“Terus gimana dong ? Masak harus pulang lagi.” Keluh Nia, dia tampak menyesal dengan keputusannya tidak mengikuti saran dari kedua sahabatnya.

“Ya sudalah, tapi kamu harus hati-hati ya ?” Ujar panitia, Nia mengangguk senang. “Ya sudah sekarang kalian boleh melanjutkan perjalanan ke pos tiga.” Lanjut panitia.

Lalu mereka kembali melanjutkan perjalanan, satu persatu dari mereka turun melalui tangga, menuju peraian yang amat dingin, maklum saja, air tersebut berasal dari gunung, bahkan Jaka yang sebelumnya hanya tidur kurang dari dua jam, sangat merasakan efek dari air tersebut, tubuhnya menggigil kedinginan, padahal hanya kakinya saja yang terendam.

“Kamu gak papa Mas ?” Tanya Vika.

“Gak apa-apa kok, ayo kita lanjut.” Jawab Jaka, lalu mereka melanjutkan perjalanan menuju pos tiga.

Dan ternyata perjalanan kali ini cukup sulit, selain airnya yang dingin, berbatuan yang mereka injak juga cukup licin, belum lagi kedalaman air yang tidak menentu, kadang dalam kadang surut. Kondisi yang sangat sulit, akhirnya memakan korban, yang pertama terpeleset adalah Vika, dia langsung terduduk, ketika batu yang ia injak ternyata sangat licin.

Buru-buru Jaka menghampirinya, lalu di susul oleh Nia dan Karen, bahkan sanking terburu-burunya, Jaka hampir saja terpeleset, beruntung dia memakai sandal khusus anak gunung, sehingga nasibnya tidak sama dengan Vika

“Kamu tidak apa-apa kan ?” Tanya Jaka khawatir.

“Gak apa-apa gimana ? pantat aku sakit ni.” Rengek Vika, sambil memegangi pinggulnya.

“Duh kamu Vik, jalannya pelan-pelan aja, jangan keburu-buru.” Kata Nia, sambil membatu Vika berdiri tapi tidak berhasil, mungkin karena terlalu berat.

“Gimana ni, mana panitia gak ada lagi.” Keluh Karen.

Ya biasanya kalau ada acara outbond seperti ini, seharusnya ada yang mengawasi, tidak di lepas begitu saja, sehingga apa bila terjadi sesuatu, mereka bisa langsung turun dan membantu peserta yang mengalami musibah.

Tapi mau bagaimana lagi, jumblah panitia yang ikut andil dalam outbond kali ini sangat terbatas, karena sebagian panitia masi terlelap, karena semalaman mereka begadang.

“Sudah, biar aku saja yang bantuin Vika.” Lalu Jaka menarik tangan Vika kelehernya, sementara tangan kanannya memeluk pinggang Vika, perlahan dia mengangkat tubuh Vika hingga ia bisa kembali berdiri.

“Makasi ya.”

“Sama-sama, tapi kamu masi bisa jalankan ?” Tanya Jaka, kalau Vika tidak bisa melanjutkan perjalanan, maka perjalanan mereka akan semakin sulit.

“Ehmm… masi bisa kok.” Jawab Vika.

Lalu mereka kembali melanjutkan perjalanan, Jaka kini berada di belakang mengawasi mereka, dan… Jaka baru sadar, kalau celana tidur yang dikenakan kedua temannya sangat tipis, sehingga ketika terkena air menjadi tembus pandang, dan menempel ketat di tubuh mereka, bahkan yang paling mengejutkan adalah Karen, ternyata ia tidak mengenakan celana dalam.

Tentu saja pemandangan itu membuat junior Jaka menyatakan siap bertempur jika di perlukan. Sial… !

Ketika mereka tiba di tempat air yang dalam, giliran Nia yang terjatuh, bahkan ia sempat meminum air gunung, tapi beruntung Nia bisa langsung berdiri. Tapi tidak lama kemudian, giliran Karen yang terjatuh, kali ini dia harus di bantu Jaka dan Nia untuk berdiri, tapi untunglah dia tidak sampai cedera.

“Aku capek ni !” Ujar Vika sambil membungkuk, mengatur nafasnya yang mulai terseok-seok.

“Sama, aku juga ni.” Timpal Nia.

“Jangan sekarang dong, tunggu di pos tiga aja ya, bentar lagi nyampekan.” Tolak Jaka, karena dia merasa bukan saat yang tepat untuk beristirahat.

“Terus gimana dong, aku capek banget ni.” Keluh Vika.

“Bukannya begitu, kita sudah tertinggal cukup jauh dari kelompok satu, takutnya nanti kita di cariin.” Jelas Jaka, berharap mereka mau mengerti.

“Kita istirahat aja dulu Jak, apa lagi kita tadi sampe jatuhkan, mana haus lagi.” Pinta Karen, karena kalah suara, akhirnya mereka memutuskan untuk beristirahat sejenak di peraian yang agak dangkal.

Mereka berhenti, ketika menemukan tempat yang menurut mereka cukup nyaman untuk beristirahat. Jaka duduk di batu besar, lalu Nia duduk di sampingnya tidak jauh dari Jaka, sementara Vika duduk di depannya, lalu hanya Karen yang masi berdiri di samping kanannya Jaka. Gadis muda itu terlihat celingak-celinguk memperhatikan sekitaran mereka.

Karena Jaka merasa kasihan, dia hendak menawarkan tempatnya untuk Karen, tapi belum juga keluar satu kalimatpun dari mulutnya tiba-tiba saja dia di buat tecengang oleh pemandangan yang ada di depannya. Karen berdiri di dekatnya dengan jarak setengah meter, menghadap kearahnya, sehingga wajah Jaka tepat berada di depan selangkangan Karen yang tertutup celana tidur yang bergitu tipis dan ngejeplak, sehingga dia dapat.melihat jelas bentuk vagina Karen, dan rambut kriting berwarna hitam di permukaan vagina Karen.

“Heeii… ngeliatnya biasa aja dong !” Tembak Vika yang memyadari kalau saar ini Jaka sedang terpesona oleh bentuk vagina Karen.

“Hihihi… ketahuan ni ye… ” Ledek Nia.

Yang di tegur malah jadi salah tingkah dan buru-buru mengalikan pandangan kearah lain. “Apaan si kalian.” Sesal Jaka, dia benar-benar merasa malu kali ini.

“Hahaha… uda Jak santai aja, anggap aja ni bonus buat kamu, soalnya tadi kamu suda nolongin kita.” Bela Karen, lalu menarik wajah Jaka sehingga mata Jaka kembali di manjakan oleh pemandangan yang begitu indah. “Dasar kalian gak tau trimakasi, uda di tolongin malah ngeledekin.” Sambung Karen.

“Siapa bilang.” Sengit Vika. “Kamu liat dong celana aku sampe tembus kayak gini, ni celana dalam aku sampe keliatan.” Jaka melirik kearah Vika, dan memang benar, celana dalamnya yang berwarna merah muda terlihat sangat jelas.

“Nia tu yang gak tau terimakasi.” Lempar Vika.

“Yakiin… dari tadi aku duduknya ngangkang loh… !” Goda Nia, dan lagi-lagi Jaka terpaksa mengalikan pandangannya ketempat lain, kearah Nia.

Dan memang benar, Nia saat ini duduk dengan posisi sedikit mengangkang, lalu bagian bawa rok panjangnya tertarik hingga sebatas lutut, sehingga posisi Nia saat ini secara tidak langsung memanjakan mata Jaka yang dapat melihat celana dalam Nia yang berwarna hijau.

“Udah ah… bisa gila aku lama-lama di sini.” Jaka langsung berdiri dan hendak melanjutkan perjalanan.

“Hehehe… ya uda yuk jalan lagi.” Jawab Vika.

Lalu mereka kembali melanjutkan perjalanan menuju pos tiga, dan selama di perjalanan mata Jaka tidak henti-hentinya memandangi Karen dan juga Vika, hanya Nia saja yang jarang ia lirik, karena Nia mengenakan rok panjang yang cukup tebal, sehingga tidak tembus pandang.

Dan selama perjalanan itu, beberapa kali Jaka membantu mereka yang kembali terpeleset, bahkan Jaka sempat dua kali jatuh karena terpeleset.

++++

Akhirnya mereka tiba juga di pos 3, sesampainya di sana mereka kembali beristirahat sambil menikmati wedang jahe yang masih hangat, untuk mengurangi hawa dingin di tubuh mereka, selama berada di pos tiga, Karen beberapa kali menyembunyikan tubuhnya di balik tubuh teman-temannya.

Setelah kurang lebi lima belas menit mereka beristirahat,.mereka.kembali melanjutkan perjalanan.

Dan lagi-lagi nasib buruk menimpa mereka. Dalam kondisi yang kelelahan beberapa kali mereka jatuh bangun, bahkan Nia sempat mengalami keram, dan terduduk di bebatuan cukup lama, beruntung airnya tidak begitu dalam.

“Gimana ni ?” Ujar Karen panik.

“Uda tenang dulu, jangan panik.” Kata Jaka, menenangkan rekan-rekannya, sementara Nia hanya bisa menggigit bibirnya menahan rasa sakit di betisnya.

“Tahan ya… ” Lalu Jaka menarik lurus kaki kanan Nia, sehingga gadis itu kembali memikik.

Dengan keahlian seadanya, Jaka menekan telapak kaki Nia, lalu dia mengurut pelan betis Nia, untuk mengendorkan uratnya yang kaku. “Maaf ya Nia.” Ucap Jaka, lalu dia menyingkap rok Nia hingga sebatas pinggangnya.

Kedua rekannya yang lain hanya terpana memandangi jari-jari Jaka yang sedang mengurut paha Nia, hingga kepangkal pahanya, tentu saja perlakuan tersebut membuat Nia terangsang.

Sebenarnya bukan hanya Nia saja yang terangsang, kedua temannya yang sebelumnya suda terangsang kini makin terangsang. Melihat Nia yang mendapatkan perlakuan special, Vika dan Karin merasa iri melihat Nia yang sedang di jamah oleh Jaka. Bahkan Jaka sendiri juga sangat terangsang, melihat paha mulus Nia hingga ke celana dalamnya yang bewarna hijau.

Sebenarnya Jaka ingin sekali menyentuh selangkangan Nia yang terbalut kain segitiga itu, tapi Jaka takut perbuatannya nanti malah menjadi petaka untuknya.

“Gimana uda agak mendingan ?” Tanya Jaka.

Nia tidak langsung menjawab, malah melirik kearah kedua sahabatnya seolah meminta izin. Karen dan Vika serempak mengangguk. “Di sini masi agak sakit Jak.” Dia meraih tangan Jaka, lalu meletakannya di atas selangkangannya. Jaka sempat terhenyak, tidak menyangka akan sejauh ini.

“Please, sebentar aja Jak.” Mohon Nia.

Jaka menghela nafas panjang, lalu dia memberanikan diri mengurut vagina Nia, dia menekan-nekan clitoris Nia dari luar celana dalam Nia. “Eengg… masukin aja Jak.” Pinta Nia, sambil mendesah lirih.

Jaka yang di ambang kebingungan hanya diam saja, karena dia merasa dilema, antara ingin memuaskan hasrat Nia, atau melanjutkan perjalanan mereka, mengingat perjalanan mereka masih sangat jauh. Dan resiko yang akan dia hadapi kalau terlalu berlama-lama di alam terbuka seperti ini, tidak menutup kemungkinan, kalau nanti ada yang lewat, atau ada panitia yang di tugaskan mencari mereka dan menemukan mereka sedang berbuat mesum.

1. Apa yang akan terjadi kepada Anita selanjutnya ?
2. Pilihan manakah yang akan di pilih Jaka ? a. Melayani nafsu Nia b. 4some c. Menyia-nyiakan kesempatan dan langsung menuju pos terakhir. d. semua salah

Nantikan jawabannya di eposode berikutnya…

+++++

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*