Home » Cerita Seks Kakak Adik » Ini Tentang Aku 15

Ini Tentang Aku 15

LIMA BELAS

Selama di desa gunung kidul, Jaka beserta anggota lainnya di didik menjadi mahasiswa yang kritis, berani, dan bertanggung jawab. Setiap materi yang di sampaikan pemateri, selalu di sisipkan kata-kata semangat juang dan sejarah perjuangan organisasi yang selama ini telah mengawal pemerintahan dalam membentuk Negara yang adil dan bermartabat.

Ini adalah malam terakhir, seluruh peserta dan panitia di berkumpul bersama para undangan, senior dan alumni MI.

“Alhamdulillah, malam ini adalah malam terakhir kalian di karantina, di didik dan di tempa untu menjadi mahasiswa yang dapat di andalkan dan di banggakan oleh rakyat Indonesia. Saya sebagai perwakilan Alumni, merasa bangga bisa berkumpul bersama calon anggota MI.” Kata salah satu alumni yang di perkirakan usianya sudah mencapai 45 tahun. “Dan malam ini, adalah malam penentuan apakah kalian layak bergabung bersama kami, berjuang bersama demi menegakkan keadilan, dan saya berharap, kalau kalian nantinya bergabung bersama kami, kalian bersedia memberikan jiwa dan raga kalian untuk rakyat Indonesia.” Jelas sang alumni berapi-api, membuat semangat para peseta ikut terbakar.

“Itu saja yang bisa saya sampaikan, mohon maaf bila ada kata yang salah.” Lanjutnya, lalu pria tersebut kembali ke posisi duduknya.

“Kami ucapkan terimakasih sebesar-besarnya kepada Bapak Andi Rengkuti, yang telah bersedia menyempatkan diri untuk hadir di sela-sela kesibukannya dan memberi sepata dua pata, yang tentunya sangat bermanfaat untuk kami.” Ujar salah satu panitia yang di minta sebagai pembawa acara malam ini.

“Untuk selanjutnya, saya meminta sebelum di resmikannya mereka sebagai anggota MI, agar sekiranya teman-teman peserta MI, panitia, teman-teman MI dan para alumni MI, untuk menyanyikan himne MI yang akan di pimpin langsung oleh ketua umum Kakanda Abdullah hasan, waktu dan tempat kami persilakan.” Lanjutnya.

Lalu mereka semua berdiri, dan di pandu oleh ketua umum MI, mereka mulai menyanyikan himne MI dengan begitu khusuk, suara yang begitu lantang dan penuh semangat.

Setelah selesai menyanyikan himne MI, ketua komisariat Syaria membacakan ikrar janji setia yang di ikuti oleh seluruh peserta latihan kader MI. Dan di akhiri dengan membaca doa bersama.

Setelah di resmikannya anggota baru maka berakhirlah sudah kegiatan latihan kader angkatan 2015-2016 gelombang ke 2.

Perlahan para tamu undangan mulai meninggalkan lokasi, sementara para peserta belom di perbolehkan pulang, karena akan ada pertanggung jawaban dari panitia ke peserta LK MI.

Setelah beristirahat selama 15 menit, mereka kembali berkumpul di aula, para peserta duduk di sebelah kanan, dan para panitia di sebelah kiri, sementara ketua komisariat dan dewan pengawas komisariat syaria berada di depan dan siap untuk menghakimi panitia.

“Mungkin kalian merasa bingung, kenapa kami mengumpulkan kalian di sini, padahal LK tahun ini baru saja di tutup, tapi bagi panitia, tentu sudah tidak asing lagi.”

“Baiklah langsung saja, ini adalah momen buat kalian menyampaikan uneg-uneg kalian kepada panitia selama pelatihan beberapa hari ini, sekarang saya minta kalian menyampaikan uneg-uneg kalian, dan kalian tidak perlu takut kalau nanti ada panitia yang marah.” Jelas sang ketua komisariat.

Awalnya tak ada satupun yang mengeluhkan kelakuan panitia selama di adakannya latihan kader, tapi karena di desak terus-menerus, akhirnya satu persatu dari mereka menyampaikan uneg-uneg mereka terhadap panitia.

“Kami sangat mengapresiasi kinerja Kakak panitia dalam membimbing kami, kami senang karena selama ini mereka sangat memperhatikan kami, tapi ada satu hal yang kurang bagi saya, selama di karantina hampir setiap malam saya tidak bisa tidur, karena panitia sering bermain gitar hingga larut malam, dan mereka terlalu ribut, padahal mereka yang meminta kami beristirahat, tapi mereka juga yang mengganggu Istirahat kami, padahal keesokan harinya kami harus bangun pagi, saya berharap kedepannya, panitia bisa lebi baik lagi..” Keluh Karen sambil sesekali melirik kearah panitia.

Dan salah satu panitia mendadak berdiri, dia tampak tidak menerima ucapan Karen.

“Siapa bilang kami ribut, kalian gak taukan gimana… ”

“Cukup Yoman, kami tidak meminta jawaban dari kalian.” Bentak salah satu dewan pengawas.

“Gak bisa gitu Bang, seenaknya aja dia ngatain kami bikin ribut, emang dia pikir gampang ngerususin mereka. Kami ribut karena kami harus menyusun skejul.”

“Saya bilang diam, kamu tidak berhak membela diri.” Tunjuk Robbi yang ikut terpancing emosi.

Mendadak suasana yang tadinya tenang, kini berubah menjadi panas, belum lagi para panitia lainnya ikut membela Yoman yang sedang membela harga diri seluruh panitia yang selama ini bekorban banyak untuk peserta.

“Sekarang saya tanya sama kamu, apa kamu mendengar apa yang kami ributkan ?” Tanya Anissa salah satu panitia perempuan, sambil menunjuk Karen yang kini tampak ketakutan.

Karen tidak mampu berkata lagi, suasana yang menegangkan dan sangat menakutkan baginya, tak urung rasa takut itu membuatnya menangis. Salah satu sahabatnya yang duduk di samping Karen berusaha menenangkan Karen yang sedang menangis ketakuttan karena di bentak habis-habissan.

Suasana semakin ricuh, ketika dewan pengawas membanting piring yang berisikan makanan ringan, hingga makanan tersebut melayang kemana-kemana, beruntung piring tersebut terbuat dari plastik sehingga tidak pecah. Bisa di bayangkan kalau piring tersebut terbuat dari bahan beling, bisa jadi pecahannya akan melukai banyak orang.

“Saya bilang diam, dan saya minta panitia untuk menghargai kritikan dari peserta, kalau kalian tidak ingin di kritik, kalian tidak perlu lagi mengadakan latihan kader tahun depan.” Lagi ketua komisariat angkat bicara, suasana kembali mendadak hening, hanya terdengar suara isak tangis dari beberapa peserta.

Maklum saja, sebagian besar peserta adalah perempuan, hanya ada satu peserta laki-laki, dan itupun dari tadi dia hanya diam, duduk di pojokan sambil memainkan smartphone miliknya.

“Siapa lagi diantara kalian yang ingin menyampaikan kritikan atau uneg-uneg kalian terhadap panita.” Tak lama kemudian seorang peserta perempuan mengangkat tangan. “Silakan bicara apa adanya, jangam takut kami akan membela kalian.” Lanjut sang ketua mempersilakan perempuan tersebut berbicara.

“Terimakasih, sebenarnya dari awal sebagai peserta saya sangat merasa kecewa dengan kinerja panitia, mereka seperti tidak siap untuk melaksanakan LK tahun ini, soalnya ada beberapa panitia mangkir dari tugas, belum lagi ketua panitianya sangat lamban dalam mengkoordinasikan bawahaannya.”

“Terus saya harus bagaimana ? memaksa mereka untuk bekerja lebi keras lagi, di sini kami tidak di bayar, walaupun saya punya hak mengatur mereka, tapi apa kekuatan saya untuk memaksa mereka untuk bekerja lebi keras lagi, melayani kalian dengan baik.” Protes Husen yang tadi berusaha menenangkan bawahannya, kini mulai ikut terpancaing emosi.

“Jadi kalian tidak iklas ?” Tanya Juni sengit.

“Kalau kalian ingin tau, LK gelombang kedua tahun ini seharusnya tidak ada, karena biasanya setiap tahun kami hanya melakukan pelatihan sebanyak satu kali, tapi desakan dari dewan komisariat memaksa kami yang tidak memiliki persiapan apapun dengan dana terbatas untuk membuka latihan kader gelombang kedua.” Nuning sang seketaris, berusaha mati-matian membela ketua mereka.

“Jadi kalian menyalahkan kami ?” Ucap salah satu dewan pengawas.

“Harus beberapa kali saya katakan, ini bukan forum kalian, forum panitia, tapi ini forum mereka, forum peserta untuk menyampaikan, menilai hasil kinerja kalian selama beberapa hari ini, dan tujuannya agar di jadikan pembelajaran untuk tahun depan.” Jelas ketua komisariat.

Suasana memanas itu terus berlanjut hingga dini hari, tidak ada yang mau mengalah, baik itu dari panitia maupun peserta, mereka saling tuding dan saling menyalahkan. Sementara dewan pengawas tidak mampu melerai mereka, bahkan hampir terjadi adu jotos antara panitia dan dewan pengawas, di tenga kericuhan itu hanya ada satu orang, yaitu Jaka, dia sama sekali tidak tertarik, terlibat dalam drama yang penuh intrik yang di ciptakan oleh dewan pengawas. Tujuannya satu, ingin menjadikan kader-kader MI memiliki jiwa kritis tanpa ada rasa takut.

++++

Sementara itu, didalam kamar berukuran 3×4 seorang wanita mengerang-erang, di tindi seorang pria yang tampak begitu bernafsu kepadanya.

“Aaahkk… pelan-pelan Ooww… ”

“Anjing… gue lagi kesal, lo diam aja perek, nikmatin aja kontol gue di memek lo.” Bentak sang pria, lalu dia memaksa sang wanita menungging, kemudian dia kembali mememasukan penisnya kedalam vagina wanita tersebut.

“Kamu… Aaa… apaan si, sakiiit tau !”

“Aku mauu keluaaar…”

Lalu dia menahan pinggulnya, dan semakin cepat mengocok vagina wanitanya, hingga akhirnya dia memuntahkan spermanya kedalam rahim sang Wanita. Tentu saja sang Wanita kaget, dengan cepat dia menghindar walaupun terlambat, karena sebagian besar sperma sang pria sudah lebih dulu menyirami rahimnya.

Sang wanita langsung melotot marah, sementara si prianya hanya terduduk lesu sambil bersandar di dinding kamar kossan sang perempuan. Terlihat dari raut wajahnya ia begitu tertekan, seperti begitu banyak masalah.

“Kamu sudah gila Mas.”

“Kenapa si, biasanya juga kamu suka di kasarin.” Jawabnya sengit.

“Bukan masalah itu Mas, sekarang aku lagi dalam masa subur, dan pil kbku sedang habis, aku belom beli.”

“Bagus dong, kalau kamu hamil, kamu bisa minta pertanggung jawaban si brengsek itu, bukannya kamu mau memiliki dia seutuhnya.” Jelasnya, si wanita terdiam sejenak mencerna setiap kalimat yang ia dengar.

Setelah itu tak ada lagi perdebatan diantara mereka berdua.

++++

Akhirnya setelah perdebatan yang begitu panjang, dewan pengawas komisariat memutuskan kalau LK gelombang kedua bisa di bilang berhasil tapi dengan beberapa syarat, yang nantinya harus di perbaiki.

Setelah berakhirnya acara, sebagian dari mereka ada yang langsung tidur, tapi kebanyakan dari mereka, membuat kelompok kecil, berdiskusi seperti yang biasa di lakukan aktivis-aktivis kampus, dan yang di bahas tidak jauh dari dunia politik, tapi ada juga yang hanya sekedar mengobrol sembari bercanda, menunggu pagi menjemput.

“Gimana LKnya, seruh gak ?”

“Lo mbak Melinda masi di sini, aku kira uda pulang.” Katanya sedikit terkejut saat melihat seniornya yang masi berada di lokasi, padahal kebanyakan tamu undangan sudah lama meninggalkan lokasi.

“Bingung mau pulang bareng siapa.”

“Kesininya tadi rame-ramekan ?” Tanya Jaka, karena seingatnya tadi Melinda datang dengan rombongan.

“Iya, tapi aku bawak motor sendiri, rada takut kalau pulang terlalu malam sendirian, apa lagi rumahku agak jauh, di daerah bantul.” Jelas Melinda sembari tersenyum manis.

“Jadi rencananya mau pulang kapan ?”

“Paling besok pagi-pagi banget, soalnya pagi besok aku ada acara, takut nanti gak sempet datang.”

“Gini aja de Mbak, gimana kalau aku yang nganterin Mbak pulang, kasihan juga sama mbaknya kalau harus pulang pas subuh, pasti capek bangetkan.” Tawar Jaka, dia merasa tidak tega kalau harus membiarkan seniornya pulang sendirian, apa lagi selama ini Melinda sudah banyak membantunya.

Sebenarnya Melinda merasa sangat tersanjung mendengar ajakan Jaka, tapi dia masi merasa enggan harus merepotkan juniornya, apa lagi besok pagi ada acara outbond, dan sorenya baru mereka pulang serempak.

“Jangan de, Mbak gak mau ngerepotin kamu.”

“Ngerepotin gimana si Mbak, saya malahan senang kalau bisa membantu Mba Melinda.” Jawab Jaka. Lalu dia meraih tangan Melinda dan menggenggamnya.

Melinda sempat kaget, tapi entah kenapa dia merasa begitu nyaman ketika jari jemarinya di ikat oleh jemari Jaka, walaupun sebenarnya Jaka melakukan itu tanpa ada maksud apapun, karena di hati Jaka sampai kapanpun hanya ada Anita.

Melinda yang sudah satu tahun ini ngejomblo, merasa sangat senang ketika mendapatkan perhatian lebih, apa lagi saat mata mereka saling memandang, hati Melinda terasa berbunga-bunga, dia belum perna merasakan hal seperti ini setelah dia di putuskan oleh mantannya terdahulu.

“Tapi mana mungkin kamu di bolehin ninggalin lokasi, kalau menurut jadwal, kamu pulang besok sore.”

“Ya jangan bilang sama panitialah Mbak, akukan cuman sebemtar, habis nganterin Mbak aku ke sini lagi, paling aku kasi tau teman aja, titip absenlah istilahnya.” Jawab Jaka, sambil memasang wajah imutnya.

“Dasar kamu ini, baru juga gabung sudah memberontak.”

“Kan jiwa aktivis Haha… ”

“Terserah kamu aja de Jak.” Ucap Melinda.

++++

Angin malam berhembus kencang, sanking kencangnya jaket yang di kenakan Jaka tidak mampu menghalau udara dingin, membuat tubuhnya mulai menggigil. Tapi untungnya pelukan Melinda yang sedang berada di jok belakang, sedikit mampu mengusir hawa dingin di tubuhnya.

Dengan kecepatan 80 hingga 100 kilometer perjam, motor yang di kendarai Jaka melaju tanpa hambatan, karena memang kondisi jalanan yang memang tanpa sepi.

Selama di perjalanan kurang lebi 3 jam perjalanan, akhirnya mereka tiba di rumahnya Melinda. Rasanya Melinda tidak iklas kalau harus melepas Jaka kembali ke lokasi, selain karena jaraknya yang jauh, ia khawatir kalau terjadi apa-apa terhadap Jaka, dia juga masih ingin berlama-lama dekat dengan Jaka, dia merasa begitu nyaman saat berada didekatnya, tapi dia bingung bagaimana cara mencega Jaka agar tidak langsung pulang.

“Mbak… !” Panggil Jaka, Melinda meliriknya, Jaka terlihat kebingungan.

“Ada apa ?”

“Ehmm… gimana ya !” Gumam Jaka, dia memainkan jari telunjuknya, menandakan kalau saat ini ia sangat bingung.

“Kamu tu kenapa toh, kayak orang kebingungan.”

“Aku bingung Mbak, mau pulangnya pake apaan !” Jawab Jaka, dia tertunduk malu. Niatnya ingin bantu, tapi sekarang malah dia sendiri yang kesusahan.

Sedetik kemudian tawa Melinda meledak, dia baru sadar kalau Jaka tidak punya kendaraan untuk segera kembali ke lokasi, satu-satunya cara adalah meminjam kendaraan Melinda, tapi bagaimana cara Jaka mengembalikannya, sementara besok pagi Melinda sudah harus pergi.

“Bener juga ya ? Besok pagi aku ada acara, gak mungkinkan kamu naik keatas trus turun lagi, bolak balik seperti itu.”

“Terus aku harus gimana ? Apa minta tolong di jemput aja ?”

“Jam segini mereka pasti uda tidur semua.” Lalu Melinda terlihat berfikir keras. “Ehmm… aku ada usul, bagaimana kalau kamu malam ini nginap di sini ?” Katanya, membuat Jaka melongo mendengar usul dari Melinda.

“Yang… yang benar saja Mbak.”

“Ya itu kalau kamu mau, kalau gak mau juga gak apa-apa, terserah kamu sajalah, kalau kamu mau pulang jalan kaki, silakan saja Jak, aku gak ngeralarang kok.” Jawab Melinda, lalu dia hendak berlalu meninggalkan Jaka.

Sebenarnya Melinda merasa sangat malu, mukanya saat ini sudah seperti kepiting rebus sanking malunya, Dia wanita, tapi dia menawarkan seseorang pria untuk tidur di rumahnya, tentu saja dia berfikir saat ini Jaka menganggapnya sebagai wanita murahan. Duh… bodohnya aku.

“Bukan… bukannya aku gak mau, tapi gimana nanti kata tetangga kamu ? Trus belum lagi orang tuamu.”

“Sudalah gak perlu terlalu banyak berfikir, kalau kamu mau, rumahku terbuka untukmu, tapi kalau gak mau juga gak apa-apa, aku gak maksa kamu kok.” Katanya sedikit judes.

“Oke… oke… aku mau.” Jawab Jaka cepat sebelum Melinda berubah pikiran.

++++

Saat ini Jaka sedang duduk lesehan di ruang depan, sambil menonton tv. Sebenarnya malam ini tidak ada acara yang menarik, berkali-kali Jaka mengganti chanel berharap ada film yang bagus.

Jaka tidak menyangka kalau malam ini dirinya bisa berakhir di rumahnya Melinda, untung saja Melinda tinggal sendirian, sementara kedua orang tuanya lebi sering tinggal di Solo bareng saudaranya yang sudah menikah. Tapi sesekali, orang tuanya pulang ke Jogja hanya sekedar untuk mengontrol putrinya.

Tak lama kemudian, Melinda keluar dari kamarnya, dia hanya mengenakan piyama berwarna ungu tanpa kerudung, rambutnya sengaja ia kuncir dua, lalu dia menghampiri Jaka yang sedang bersantai.

“Belum tidur ?”

“Belum, gak ngantuk, mungkin kecapean.”

“Aneh, dimana-mana orang kecapean itu pasti ngantuk, na kamu malah gak ngantuk.” Rutuk Melinda, Jaka yang mendengarmya hanya tersenyum.

“Kamu sendiri kenapa belum tidur ?”

“Sama kayak kamu, tapi bedanya aku bukan karena kecapean, tapi karena merasa terancam.” Jawab melinda.

“Maksud kamu.”

“Masak kamu lupa ?” Ucap Melinda sambil memandangi Jaka, yang di pandangi malah jadi salah tingkah. “Saat ini aku lagi gak sendirian, melainkan di temani oleh kamu, dan kamu itu cowok, gak ada jaminan kalau nanti aku tertidur kamu gak ngambil kesempatan untuk menggerepe tubuhku.” Sambung Melinda sambil mengedipkan matanya.

Sial… ! Tatapan itu mengingatkan Jaka tentang wanita pujaannya yang saat ini telah di miliki oleh orang lain. Dia malam ini cantik sekali, dan…

“Makasudnya ? Sory aku gak nafsu liat kamu.” Balas Jaka.

“Eeh… yang bilang aku nafsu sama kamu siapa ?” Melinda tidak terima, dia melotot kearah Jaka, tapi pemuda tersebut malah tidak menganggapnya.

“Kamu bilang kayak gitu, maksudnya biar aku masuk kedalam kamar kamu, lalu berharap aku grepe-grepein kamu. Jangan terlalu berharap Mbak Melinda yang terhormat.” Sengit Jaka, dia sengaja memancing emosi Melinda.

Melinda kini benar-benar berdiri, dia berkacak pinggang sambil menatap marah ke Jaka. Bagaimanapun juga harga dirinya sebagai seorang perempuan merasa sangat terhina.

“Kamuuu… ” Dengus Melinda kesal.

“Kabuuurr… hahaha… ” Sambil berteriak cukup kencang, Jaka langsung berlari menghindari Melinda.

Segera dengan cepat Melinda mengejar Jaka, dia benar-benar kesal dan ingin memukuli Jaka, tapi Jaka terlalu lincah berkelit, beberapa kali Melinda hanya memukul angin, sementara Jaka tertawa semakin keras, sambil mengelilingi sofa.

Lalu ketika dia mulai terjebak, Jaka berlarian masuk kedalam kamarnya Melinda, dan Melinda masih tetap mengejarnya, menyusul masuk kedalam kamarnya. Tepat ketika ia masuk kedalam kamarnya, tiba-tiba saja pintu kamarnya tertutup, lalu dia menoleh kebelakang, di lihatnya Jaka yang sedang tersenyum mesum kearah dirinya.

“Gak… aku gak mau.” Melinda berusaha mendorong tubuh Jaka yang sedang memeluknya.

“Hehehe… aku kedingan Mbak, boleh ya ?” Goda Jaka, lalu dia menarik Melinda keatas tempat tidur yang empuk, Melinda tidak dapat berbuat banyak ketika tubuhnya terhempas keatas tempat.tidurnya sendiri.

Lalu dengan berat badannya Jaka menindi tubuh Melinda, bibirnya mencari bibir Melinda, ketika ketemu Jaka langsung melumat bibir Melinda yang terasa begitu lembut, sementara tangannya meremas payudarah Melinda yang masi terbungkus rapi di balk piyama yang ia kenakan.

Sementara Melinda sendiri masi memberontak, tapi rontahannya tidak sungguh-sungguh, karena dirinya sendiripun sangat ingin tubuhnya bersatu dengan Jaka.

Sanking nafsunya, Jaka mulai membuka kancing piyama Melinda, lalu menarik branya keatas. “Eehmmpp… ” Melinda tidak berdaya ketika tangan kekar Jaka meremas payudaranya, rasanya sakit tapi nikmat sekali, apa lagi saat ini Jaka sedang melumat rakus bibirnya yang tipis.

Perlahan ciumannya berpindah kearah leher Melinda, lagi-lagi tubuh Melinda menggelinjang. “Aduuuu…. Ampun Jak, Aaww… geliii bangeet sumpah Jak.” Melinda terus meronta tapi Jaka tetap tidak berhenti meremasi payudarahnya, bahkan Jaka mulai memainkan puttingnya.

“Tetek kamu kenyal banget Linda.” Bisik Jaka, tanpa ada embel-embel “Mbak” atau “Kakak” di belakangnya.

“Kamu suda gila, ini pemerkosaan namanya.”

Tapi Jaka tidak memperdulikan ucapan Melinda, karena ia sudah sangat bernafsu sekali. Ciumannya kembali turun dan kini targetnya adalah payudara Melinda. “Haapp… ” Dalam sekejap payudara Melinda berada di dalam mulutnya.

Sementara tangan Jaka kembali bergerilya, turun keperutnya yang rata, dia belai lembut perutnya membuat Melinda kegelian, lalu turun lagi, dan hinggap di atas pahanya, dia remas pelan dan kemudian naik kembali dan berhenti di selangkangan Melinda, dia menggosok-gososkan jarinya di sana.

Kuluman Jaka berpindah keatas gunung lainnya, lidanya menari-nari di atas putting Melinda. “Amppuuunn Jaka, jangan di situ aku mohooon… Aahkk… aku gak kuaaat, rasanya geli bangeet Jakaa… Ampuuuun.” Hanya rintihan yang terdengar dari bibirnya tanpa bisa berbuat lebi.

“Kamu cantik sekali Melinda, tahan sebentar ya.”

“Ka… kamu mau apa ?”

Jaka tersenyum dan mulai menelajangi dirinya hingga bugil. “Aaaww… tutup Jaka.” Pinta Melinda, Jaka hanya tertawa melihat kepanikan Melinda.

Lalu Jaka menarik celana piyama Melinda sekaligus celana dalamnya, hingga Melinda nyaris bugil dan hanya mengenakan piyama yang seluruh bagian kancingnya sudah terbuka, dan posisinya branya sudah tidak berada di tempatnya.

Jaka mengangkat kedua kaki Melinda keatas pundaknya, lalu dia memposisikan terpedonya di hadapan lembah Melinda yang sudah sangat basah. “Jak… aku masi perawan.” Bisik Melinda nyaris tak terdengar.

Sebenarnya Melinda sudah sangat pasra, walaupun akhirnya Jaka merenggut keperawanannya, karena Melinda suda sangat terangsang sekali, tapi sisi baik dalam diri Jaka, melarang Jaka untuk mengambil kesucian Melinda.

“Maafkan aku.” Jawab Jaka.

Lalu dia mengurungkan niatnya, dan kemudian berbaring disamping Melinda yang sedang mengatur nafasnya.

“Kamu marah ya ?” Tanya Melinda.

Jaka tersenyum, lalu memeluk tubuh Melinda. “Aku gak marah kok, malahan aku mau meminta maaf kepadamu.” Sesal Jaka, walaupun niat awalnya hanya ingin menggoda sahabatnya, kini malah dia nyaris merenggut perawan Melinda.

Lagi-lagi gara Anita, entah kenapa setiap kali mengingat Anita selalu saja akan ada korban, tapi untung kali ini tidak sampai kebablasan, pikir Jaka.

Lalu tak lama kemudian, masih dalam keadaan yang sama merekapun tertidur lelap masih dalam keadaan berpelukan, hingga pagi menjempit mereka. Terimakasi Tuhan, kau masi melindunginya…

++++

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*