Home » Cerita Seks Kakak Adik » Ini Tentang Aku 14

Ini Tentang Aku 14

Pov Jaka

Tak terasa liburan hampir selesai, aku juga sudah mendapat kabar dari Kak Melda, katanya hari ini jam 2 siang kumpul di depan poliklinik. Rencananya latihan kader tahun ini akan di laksanakan di daerah gunung kidul selama 3 hari, terhitung mulai hari ini.

Aku sudah menyiapkan segala keperluanku, dari pakaian hingga peralatan mandi.

Setelah merasa semuanya sudah beres, aku kembali mengirim pesan bbm kepada Kak Melinda, mengabari dia kalau aku suda siap.

Sekarang saatnya untuk berpamitan dengan Tante Tia. Aku segera keluar dari kamarku, dan hendak menuju kamar Tante Tia, tapi belum juga sampai di kamarnya, aku mendengar suaranya dari halaman belakang rumahnya. Aku segera bergegas kebelakang rumah.

Kulihat Tante Tia sedang mencabut rumput liar di belakang rumahnya.

“Loh Tante kok gak bilang kalau mau nyabutin rumput, kan aku bisa bantu.” Kataku, lalu aku segera berjongkok di dekatnya, dan mengambil pisau rumput yang ada di tangannya.

“Tadi rencananya, emang mau nyuruh kamu, tapi tadi Tante lihat kamu lagi sibuk.”

“Tadi lagi beres-beres Tan, oh iya Tan, aku mau pamit selama tiga hari, rencananya nanti aku mau pergi Tan, aku mau gabung organisasi kampus.” Kataku, sambil mulai memangkas rumput.

“Kok lama Jak ?”

“Iya Tan, katanya ada pelatihan gitu sampai hari minggu sore, bolehkan Tan.” Jelasku, lalu aku melihat kearahnya yang sedang berjongkok.

Tante Tia memang sangat cantik dan menggoda, bahkan ketika dia hanya mengenakan pakaian rumahan dia masih terlihat sangat cantik, apa lagi kalau lagi jongkok seperti itu, hingga aku dapat melihat isi dari balik daster yang ia kenakan.

Katakanlah sekarang aku memang paling suka mencuri pandang kearah Tante Tia, beberapa kejadian belakangan ini membuatku semakin kurang ajar kepadanya. Padahal beberapa kali dia memergokiku, tapi aku sepertinya tidak perna jerah. Dan dia sendiripun sepertinya tidak perna lelah menggodaku.

“Kamu mau ikut organisasi apa ?”

“Aku mau gabung di MI, ikut temenku.”

“Sebenarnya Tante kurang suka kamu ikut organisasi begituan, soalnya Tante takut kalau nanti akan mengganggu kuliah kamu, apa lagi biasanya organisasi mahasiswa kayak gitu suka demo.” Jelasnya, sambil memasang wajah cemberut.

Aku meringis mendengar penjelasan Tante Tia, memang benar apa yang di katakannya, kalau aku tidak pintar mengatur waktu, tidak menutup kemungkinan kalau kuliahku akan terganggu. Dan masalah demo, sepertinya aku tidak tertarik.

“Aku janji Tan, kuliah akan jalan terus.”

“Bener ya, kalau sampe nilai kamu turun, Tante hukum kamu ya.” Ancamnya, tapi malah tidak terlihat menakutkan, yang ada aku malah gemes melihatnya.

“Iya Tanteku yang cantik, nanti kalu sampe nilaiku jatuh, Tante boleh menghukumku sepuas Tante.” Jawabku, lalu kembali meliriknya.

“Udah berani gombalin Tante ya sekarang ?”

“Hahaha… ”

Suasana kembali hening, aku sibuk dengan rumput-rumputku, sementara Tante Tia sibuk memamerkan selangkangannya di depanku, ketika aku berpindah tempat, mencabut rumput lainnya, Tante Tia juga melakukan hal yang sama, dia menggeser posisinya dan menghadapkan selangkangannya kearahku.

Memang beginilah hubungan kami, secara tidak langsung kami saling memperlihatkan ketertarikan kami masing-masing. Tapi hanya sebatas itu saja, dan itupun kami lakukan dengan berpura-pura tidak menyadarinya. Mungkin karena kami saling takut untuk mengakui ketertarikan kami masing-masing.

“Trus latihan senamnya gimana Jak ?” Katanya, aku hampir saja lupa, kalau saat ini aku sudah punya pekerjaan sampingan sebagai pelatih senam ibu-ibu.

Padahal jadwal mereka senam hari minggu siang, sementara aku pulang minggu sore, mau izin gak enak juga, padahal besok hari pertama aku melatih mereka dan aku sudah membolos. Mau pulang cepat, rasanya tidak mungkin karena panitia LK nanti tidak mungkin mengizinkan aku pulang lebi awal.

Kembali kupandangi wajah Tante Tia, tampaknya dia akan merasa kecewa kalau aku sampai membatalkannya.

“Mereka pasti kecewa loh Jak.” Ujar Tante Tia, sambil memegang lenganku. Tapi mau bagaimana lagi, aku tidak mungkin membatalkan niatku untuk bergabung di organisasi MI.

“Maaf ya Tan, kalau mereka minta aku di pecat juga gak apa-apa kok Tan.”

“Duh kamu ini, belom juga melatih sudah minta di pecat aja, kayak orang kantoran aja.” Gemas Tante Tia sambil mencubit lenganku.

“Sakit ni Tan.” Kataku meringis, sambil mengusap-usap lenganku yang tadi sempat di cubitnya. “Jadi gimana dong Tante.” Lanjutku.

“Terserah kamu aja.”

“Ya Tante ngambek, sebenarnya Tante apa mereka sih yang kecewa ?” Pancingku, lalu Tante kembali mau mencubitku, tapi aku berhasil menghindarinya. “Hahaha… tenang Tan, akukan pulangnya sore, jadi malamnya aku punya waktu buat melatih Tante.” Kataku, sambil melihat kearahnya yang sedang tersenyum.

“Janji ?” Aku mengangguk, lalu tiba-tiba saja dia mencium pipiku. “Awas ya kalau bohong, nanti gak akan Tante kasi hadia.” Sambungnya, lalu dia berdiri membuat si jendral kecewa, padahal dia belom bangun sepenuhnya, tapi pemandangannga keburu menghilang.

Aku sempat melihatnya berjalan meninggalkanku, pantat Tante Tia yang besar melenggok-lenggok kekiri dan kekanan, sungguh sangat menggemaskan sekali.

+++

Tante Tia

Pov Tante Tia

Aku buru-buru kembali kekamarku, lalu setibanya di kamar, aku langsung kekamar mandi hanya sekedar untuk mencuci tangan dan mukaku, lalu keluar lagi dan mulai mencari mainan kesukaanku. Tak begitu lama, akhirnya aku menemukan vibrator rabbit yang beberapa bulan terakhir ini selalu menemaniku.

Segera aku tiduran diatas tempat tidurku, sambil memposisikan tubuhku hingga merasa nyaman.

Seperti biasanya, setiap habis mengobrol dengannya aku selalu saja terangsang, dan kalau sudah seperti itu, aku akan mengakhirinya dengan masturbasi untuk memuaskan birahiku.

Oh iya, namaku Tiara Zahsi, dan aku sudah bersuami, tapi Suamiku jarang pulang kerumah, makanya aku sering kesepian, dan hanya vibrator ini saja yang setia menemaniku.

Sebenarnya sudah dari dulu aku punya niatan ingin mencari brondong, seperti yang di lakukan oleh kedua sahabatku Amel dan Yuli, tapi keinginan itu tidak perna benar-benar terlaksana, padahal mereka berdua sering sekali menjodohkanku dengan beberapa berondong kenalan mereka, tapi aku selalu menolaknya dengan berbagai alasan.

Semuanya berubah, ketika Jaka datang. Entah kenapa, aku merasa sangat nyaman dengannya, dia baik dan juga polos, mungkin karena itulah alasannya kenapa aku begitu tertarik dengannya.

Seering dengan waktu, hubunganku dengan Jaka semakin dekat, bahkan amat dekat menurutku. Beberapa kali kami nyaris melakukan hubungan badan layaknya suami istri, andai saja tidak ada penghalang.

Yang paling kuingat, ketika ia pulang larut malam, dan saat itu dia sempat memijitiku, aku tau saat memijitku dia sering kali dengan sengaja menyentuh bagian sensitif tubuhku, tapi aku hanya diam dan menikmatinya. Mungkin karena tidak memprotesnya dia semakin berani, dan aku semakin tenggelam oleh permainannya, hingga akhirnya kami nyaris saja bercinta kalau seandainya saja Arumi tidak kebangun.

Semenjak kejadian itu, hubungan kami memang sempat renggang, tapi tak lama kemudian kami kembali akrab, bahkan sekarang kami dengan terang-terangan mengakui kalau kami tertarik satu sama lainnya.

“Aahkk… !” Aku terpekik ketika kepala vibrator itu menyentuh bibir vaginaku.

“Ooh Jaka, setubuhi Tante sayang, Aahkk… Eehhmm… Aahkk… aahkk… ” Desahanku semakin menjadi-jadi, ratkala aku mulai membayangi keponakanku sendiri, aku membayangi dirinya yang mulai menggerayangi tubuhku.

Perlahan kumasukan vibrator itu kedalam vaginaku, lalu ku tekan sebuah tombol kecil yang berada di pangkalnya, hingga getarannya semakin cepat.

Tubuhku menggelinjang hebat, merespon getaran di dalam vaginaku yang terasa enak sekali. Apa lagi vibrator itu memiliki lidah untuk mentimulasi clitorisku, hingga rasanya geli-geli enak. Kuangkat sedikit pantatku, lalu aku mulai mengocok vaginaku sendiri dengan sangat cepat.

Kupejamkan mataku dengan erat, bayangan Jaka semakin terasa nyata di benakku.

Kubayangkan saat ini tubuh Jaka sedang menindiku, lalu pinggulnya dengan cepat bergerak maju mundur menghanjar vaginaku, sementara tangannya memainkan clitorisku.

“Jaakaaa…. Aahkk… Oohkk… Jaa… kontol kamu enaaak… ”

“Aaahkk… aahkk… aahk… ”

“Aku hampir sampe Jak, sodoook lebi dalam.”

Eranganku semakin tidak dapat kukontrol, hingga akhirnya kurasakan darahku terasa mendidi, jantungku berdetak semakin kencang dan… akhirnya aku mencapai puncakku dengan menyemburkan banyak lendir cintaku, hingga membekas di seprei kamarku.

Perlahan kucabut vibrator itu dari dalam vaginaku ‘plop’ lalu keletakan di samping tubuhku, sambil berusaha mengatur nafas.

++++

Pov Jaka

Aku tiba di poliklinik sekitar jam 1:30 siang, kulihat memang sudah ada beberapa mahasiswa yang berkumpul di dekat pos satpam.

Aku lebih memilih agak jauhan, duduk di barisan mesin ATM sambil menunggu Kak Melinda. Sebanarnya, bukan aku gak mau bergabung bersama mereka, tapi aku merasa gak enak, karena satupun diantara mereka aku sama sekali tidak mengenalnya, maklumlah kami memang beda jurusan.

“Loh…kok kamu di sini Jak ?” Tegur seseorang, yang tiba-tiba sudah di dekatku, lalu duduk disampingku. “Kamu sudah lama nunggunya ?” Tanyanya, sejenak kami saling panjang.

Kak Melinda

“Iya baru aja kok Kak.”

“Ya udah, gabung sama mereka yuk.” Ajaknya, tapi aku masih merasa enggan untuk segera beranjak pergi dari tempat dudukku.

“Gak enak Kak, maluu… !”

“Loh kok malu ?” Tanyanya lagi, aku segera menunjuk kearah mereka yang sedang berkumpul. “Karena mereka perempuan semua ?” Katanya, lalu dia tersenyum seperti menahan tawa, tapi jujur senyumannya manis sekali.

“Kok cewek semua ya ?” Tanyaku.

“Cuman kebutulan aja, hanya kamu cowoknya.” Jawab Kak Melinda. “Ya udah gak usah malu gitu, mending sekarang kita ke sana ya.” Ajaknya, tapi kali ini dia sedikit memaksaku, hingga aku tak punya pilihan lain.

Sesampainya aku langsung di perkenalkan kepada mereka semua, tapi saat bersalaman, ada satu wanita yang aku suka, namanya Nia, orangnya agak pendek tapi berisi, kulitnya hitam manis sama seperti Wulan, tapi dia lebih cantik kalau menurutku.

Sejenak aku mulai terbiasa mengobrol dengan mereka, dan ternyata mereka satu geng, dan bisa di bilang mereka sebelumnya juga telat mendaftar, karena LK sebelumnya sudah di laksakan sebulan yang lalu, tapi di karenakan mereka berdelapan ngotot pengen ingin segera jadi anggota MI, maka akhinya di adakan LK gelombang kedua.

Tak lama kemudian, bus perlahan memasuki poli klinik lalu berhenti di dekat pos satpam.

Kulihat para senior mulai tampak sibuk memasukan barang kedalam bus, ada yang membawa galon, kardus mie instan, kompor dan beberapa tas. Setelah semua barang tersusun rapi, barulah kami di persilakan masuk kedalam bis.

Aku sedikit terkejut saat melihat Kak Melinda ikut masuk kedalam bis, mengingat dia bukan bagian dari panitia, melainkan hanya sebagai tamu.

“Kok ikut naik Kak ?” Tanyaku, setelah ia duduk disampingku.

“Bagaimanapun juga kamu tanggung jawabku, tidak mungkin aku membiarkan kamu sendirian Jak.” Jawabnya, lalu ia tersenyum.

“Berarti Kakak di sana tiga hari juga ?”

“Ya gaklah Jak, paling tar malam juga pulang, Kakak kesana cuman nganterin kamu doang, paling Kakak kesaba lagi pas hari terakhir.” Aku sedikit kecewa mendengar jawabannya, padahal aku berharap dia bisa sedikit lebi lama lagi.

Perlahan bis yang kami tumpangi berjalan meninggalkan area kampus, menuju jalan utama. Selama di perjalanan para panitia menghibur kami dengan bernyanyi, di iringi suara gitar. Sementara aku tak begitu tertarik untuk ikut bernyanyi, aku lebi suka mengobrol dengan Kak Melinda, bertanya banyak hal tentang organisasi MI.

Tak terasa hampir dua jam lamanya bis yang kami tumpangi berjalan menembus jalanan. Kini bis berbelok kekanan, memasuki perkampungan yang menurutku cukup sepi.

Lalu kemudian bis berhenti tepat di depan sebuah rumah sederhana, tapi cukup besar.

++++

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*