Home » Cerita Seks Kakak Adik » Ini Tentang Aku 13

Ini Tentang Aku 13

Semenjak kejadian malam itu, hubunganku dengan Mas Reza semakin dekat, hampir setiap malam dia slalu menemaniku. Aku memang membiarkan dia tidur di kamarku, karena aku memang menganggapnya sebagai saudaraku. Kupikir tidak masalah kalau kami tidur bersama, tapi ternyata aku salah.

Sehari sebelum ujian, dan di hari minggu itu, Mas Reza mengajakku jalan kepantai, katanya untuk hiburan sebelum masuk ujian.

Sore itu kami berangkat kepantai parang kritis, dengan perjalanan hampir satu jam, kami tiba di pantai. Aku dan Mas Reza langsung pergi ke bibir pantai. Kami berfoto sambil lari-lari di pinggir pantai. Sejenak aku bisa melupakan Jaka.

Setelah puas berfoto, aku mengembalikan kamera kedalam tas yang aku letakan di pinggir pantai, agar kami bisa bebas bermain air. Setelah barang kusimpan, aku kembali menghampiri Mas Reza.

“Mas… ” Aku berteriak ketika ombak datang. Mas Reza dengan cepat memelukku ketika ombak itu menghantam tubuhku.

Byuuurr… setengah tubuhku jadi basah kuyup akibat hantaman air laut. Seketika Mas Reza tertawa puas, melihat keadaan kami yang basah.

Reflek aku membalik tubuhku, lalu kupukulkan tanganku di dadanya. Saat itu aku sendiri tidak mengerti, mungkin karena rasa nyamanku, aku membiarkan dia terus memelukku. Bahkan ketika ombak datang kembali, aku reflek memeluk tubuhnya, hingga dadaku menyentuh dadanya. Saat itu aku dapat merasakan detak jantung kami yang berdetak cukup kencang.

Kuangkat kepalaku, kutatap dirinya yang sedang tersenyum. Lalu perlahan dia membelai wajahku.

“Kita ke tengah yuk.” Ajak Mas Reza.

“Tapi aku takut.”

“Tenang, kan ada Mas di samping kamu.” Katanya, lalu setengah memaksa dia menarik tanganku.

Kini kami berada agak tengah, dan hantaman air laut semakin keras menghantam tubuhku, bahkan beberapa kali tubuhku terseret kebelakang, tapi Mas Reza dengan sigap menangkap tubuhku. Mungkin sanking senangnya aku tidak sadar, kalau sedari tadi Mas Reza memanfaatkan kondisiku, beberapa kali dia dengan sengaja mencengkram dadaku tanpa kusadari kalau ia sengaja melakukannya.

“Siap-siap Nit.” Pekik Mas Reza.

Lalu air kembali datang dan menghempaskan tubuh kami. “Auuuww…. ” Aku terkejut, bahkan aku sempat menelan air laut yang rasanya begitu asin.

“Ketelen ya… hahaha… ” Tawanya, tapi aku hanya diam, sambil mengusap-usap wajahku yang terkena air asin, sambil berusaha kembali berdiri.

Aku bukan orang awam yang tidak mengerti tentang sex, dulu semasa SMA aku perna melakukannya beberapa kali dengan mantanku, bahkan dengan beberapa pria lainnya, jadi aku tau apa yang sedang di lakukan Mas Reza. Awalnya aku mengira dia tidak sengaja, tapi karena tangannya bergerak-gerak, meremas payudarahku dengan perlahan, itu berarti dia sengaja melakukannya.

Cukup lama kami terdiam, dan sepertinya Mas Reza menyadari kalau aku mengetahui perbuatannya, bukannya berhenti, Mas Reza malahan semakin keras meremas dadaku. Dia meletakan tangannya yang lain diatas payudarahku.

“Mas… ” Bisikku lirih.

“Ndak apa Nit, di sini sepi kok.” Ujarnya, lalu dia semakin intens meremas payudarahku.

Aku mencoba melihat kiri kanan, dan memang sangat sepi, hanya ada beberapa orang saja dan itupun jaraknya cukup jauh dari kami.

Kusandarkan kepalaku di dadanya, posisiku saat ini sedang duduk didalam air, yang tingginya hanya sebatas dada saat kami duduk. Tentu saja, hal itu semakin mempermuda Mas Reza melecehkanku, karena perbuatannya tersamarkan oleh air laut.

Aku sedar betul, apa yang terjadi saat ini bukanlah hal yang benar, apa lagi Mas Reza adalah sepupuku sendiri, tapi apa daya ketika iblis sudah menguasai, apa lagi aku sudah lama tidak di sentuh.

“Punya kamu besar juga ya… ” Bisik Mas Reza.

“Eehmm… Mas, udah ah malu.”

“Gak apa-apa sayang, tapi kamu sukakan kalau mas remes-remes begini.” Katanya, lalu tangan kanannya menyusup masuk kedalam kaosku dari cela leher baju yang kukenakan.

Tubuhku semakin menggelinjang keenakan, apa lagi jarinya dengan nakal menyentil-nyentil putingku, rasanya nikmat sekali.

Kemudian, tangan kiri Mas Reza membelai selangkanganku yang tertutup celana jeans, tentu saja hal tersebut menyulitkan dia menjamah selangkanganku, dan mungkin karena sudah di kuasai nafsu birahi, kubantu ia dengan membuka kancing dan resleting celanaku, lalu kutuntun tangannya, masuk kedalam celanaku.

“Aahkk… ” Aku menggelinjang, rasanya nikmat sekali.

Mas Reza menggesek–gesek vaginaku, jarinya menekan clitorisku, walaupun agak sulit karena aku mengenakan celana jeans.

Tak lama kemudian tubuhku bergetar hebat, aku merasakan sesuatu yang sudah lama tidak aku rasakan, seiring datangnya ombak pantai, tubuhku terhempas oleh badai orgasme yang sudah lama tidak aku rasakan.

“Aaahkk… ” Aku bertiak kencang, seiring tubuhku terbanting kebelakang.

++++

Hari semakin sore, bahkan mulai gelap, semenjak kejadian tadi saat main ombak, aku dan Mas Reza tak saling bicara, kami sibuk dengan lamunan kami masing-masing. Ada perasaan menyesal sebenarnya, tapi seperti yang kukatan sebelumnya, sex bukanlah yang baru bagiku, bahkan aku termasuk orang yang kecanduan sex.

Tapi semenjak kuliah di jogja, aku berhasil menahan nafsuku, walaupun sesekali aku juga melakukan masturbasi dengan membayangkan Jaka yang menyetubuhiku.

Tapi siapa yang menyangka, hari itu Mas Reza kembali membangkitkan sisi liarku seperti dulu.

“Mending kita beli baju ganti dulu.” Usulnya, aku mengangguk setuju, tidak mungkin aku pulang dengan pakaian basah kunyup seperti ini.

Tapi sial, banyak toko baju yang sudah tutup, hanya sebagian saja yang buka, itupun mereka hanya menjual celana pantai dan kaos. Karena tidak ada pilihan lain, aku membeli pakaian tersebut.

Setelah membeli pakaian, kami makan dulu sebentar di warung makan yang ada di pinggiran pantai, sambil menikmati makan malam kami, aku memandang jauh kelautan luas. Rasanya di ujung sana seperti tidak ada dataran lain.

Selesai makan, kamipun beranjak pulang, cuaca yang cukup dingin membuatku terpaksa memeluk pinggangnya dari belakang, dan menempelkan dadaku di punggungnya.

Sesampainya di kos, Mas Reza memarkirkan motor, sementara aku segera masuk kedalam kamar kosku, aku berbaring di atas tempat tidurku lalu menghidupkan televisi. Sebenarnya aku berharap Mas Reza langsung pulang karena aku takut, nanti kejadian di pantai kembali terulang lagi.

Tapi harapanku sia-sisa saja, Mas Reza masuk kedalam kamarku, lalu dia masuk dan tak lupa dia mengunci pintu kamarku dan duduk disamping kepalaku.

“Nit… soal tadi, Mas benar-benar minta maaf.” Katanya, memecah kesunyian malam. Lalu jemarinya dengan perlahan membelai wajahku.

“Gak perlu di bahas Mas.” Ujarku lirih.

“Tapi kamu harus tau, kalau Mas dari dulu sangat menyayangimu… Kamu taukan, kalau aku ke jogja hanya untuk melupakanmu.”

Aku diam seribu bahasa, sebenarnya aku tak ingin membahas masa lalu, karena dulu aku punya hutang dosa kepadanya, dan aku benar-benar menyesal karena dulu harus melukai hatinya, tapi cinta tidak dapat di paksakan, apa lagi Mas Reza adalah saudaraku.

“Sampai saat ini, Mas masih sangat mencintaimu.” Ujarnya, lalu dia menunduk hendak mencium bibirku, tapi buru-buru aku menahannya.

“Maaf Mas, aku tidak bisa, aku saudaramu.”

“Kenapa ? apa karena pria bodoh yang bernama Jaka.” Katanya dengan nada yang sedikit tinggi. Aku diam, tak mau berdebat lagi.

Perlahan kudorong dadanya, aku tidak ingin terlalu berlama-lama dalam kondisi seperti ini, kalau dia tidak mau pergi, biar aku saja yang pergi.

Tapi belum juga aku berdiri, Mas Reza dengan kasar menarikku kembali, lalu dengan cepat dia menindihku, dia tidak memberiku kesempatan untuk pergi darinya, aku tau, Mas Reza tidak akan melepaskanku sebelum dia mendapatkan apa yang dia mau.

“Jangan Mas… ”

“Aku tau kamu Nit, aku kenal kamu dari kecil, dan aku juga tau kalau kamu punya nafsu yang besar.” Bisiknya, lalu perlahan wajahnya semakin dekat denganku, dan… Hmmpp… dia mencium bibirku.

Sekali lagi kukatakan, aku mantan pecandu sex, dari dulu aku sangat muda terangsang.

Kurasakan tiba-tiba tangan kanan Mas Reza mencengkram vaginaku yang sedang tidak mengenakan celana dalam dan hanya mengenakan celana pantai yang sangat tipis.

“Kamu sudah basah.”

“Cukup mas, aahkk… jangaaan.” Pintaku, tapi aku tidak bisa berbuat banyak.

Dengan begitu mudanya dia berhasil membuka pakaianku, hingga aku telanjang dada, lalu dia kembali menciumku, sementara tangan kanannya kembali menggerayangi vaginaku, menyelusup masuk dari sela pahaku yang longgar, dengan satu jari, dia menusuk dan mengorek-ngorek liang vaginaku.

Aku mendesah tertahan, dan tanpa kusadari aku membalas lumatan bibirnya, lidah kami saling membelit dan saling bertukar air liur. Puas melumat bibirku, dia turun mencium leherku, lalu turun kepundakku, hingga berhenti di puncak payudarahku. Dia menghisap lembut puttingku, membuatku semakin tak bisa mengontrol diriku. Sudah lama aku tidak merasakan puttingku di mainkan seperti ini.

Semakin lama aku semakin pasrah dan menikmati setiap sentuhan darinya, bahkan aku hanya diam, dan sedikit membantunya, dengan mengangkat pinggulku mempermuda ia meloloskan celana pantaiku, lalu ciumannya turun menuju perutku.

“Aahkk… Mas Reza… geliii… ” Aku menggelinjang ketika lidanya menggelitik pinggangku.

“Malam ini, Mas akan mendapatkan kamu seutuhnya.”

“Oohk… Oohkk… Mas, kamu jahaaat… kamu tega Mas, aku benci kamu Mas.” Kataku merengek, sambil menjambak rambutnya.

Aku sendiri tidak mengerti, kenapa tubuhku begitu mudanya menyerah, padahal hatiku sendiri dengan tegas menolak setiap perbuatan Mas Reza. Terkadang aku merasa di khianati oleh tubuhku sendiri.

Kedua kakiku ia buka, hingga ia dapat melihat vaginaku yang sudah sangat basah, dia menatapnya cukup lama, lalu setelah itu kurasakan benda hangat yang terasa begitu lembut menelusuri belahan vaginaku, lalu berhenti di clitorisnya. Tidak sampai di situ saja, dia juga menggunakan kedua jarinya mengocok-ngocok vaginaku.

Oh… Tuhan, tubuhku menggelinjang keenakan, pantatku setenga melayang, kedua betisku bergetar, dan tiba-tiba saja vaginaku memuntahkan cairan agak kental cukup banyak, seperti air pancuran. Akhirnya setelah beberapa bulan aku tidak lagi mengalami orgasme yang begitu hebat, kini aku kembali mengalaminya.

Dalam keadaan setengah sadar, aku melihat Mas Reza membuka pakaiannya hingga telanjang bulat.

“Kenapa Mas… ” Rintihku.

“Karena aku mencintaimu.” Jawab Mas Reza, lalu dia menidiku, memposisikan penisnya di hadapan bibir vaginaku.

Perlahan kurasakan penis Mas Reza membela lipatan vaginaku, menyeruak, memaksa masuk kedalam liang vaginaku. Sedikit sakit tapi rasanya nikmat sekali, apa lagi setelah dia bergerak memompa vaginaku dengan gerakan cepat.

Aku kembali mengerang tak terkontrol, hingga akhirnya aku merasa kesadaranku mulai menipis, perlahan tapi pasti, semuanya terasa gelap, hingga akhirnya aku benar-benar kehilangan kesandaranku dan akupun jatuh pingsan di dalam dekapannya.

++++

Aku terbangun ketika jam dinding kamarku menunjukan pukul 2 siang, aku sangat terkejut ketika melihat keadaanku yang telanjang bulat. Sungguh memalukan sekali, dengan apa yang telah terjadi dengan diriku semalam, seharusnya aku bisa mengusirnya, aku bisa berteriak meminta tolong, tapi tidak kulakukan, karena tubuhku sendiri yang menginginkan kejadian pemerkosaanku semalam.

Saat aku berdiri, selakanganku terasa sakit, sepertinya agak lecet. Semalam dia pasti memperkosaku habis-habissan saat aku jatuh pingsan.

Aku berdiri didepan cermin, kuperhatikan diriku yang ada di cermin. Hampir seluruh tubuhku memerah, bahkan bagian payudaraku dan pantatku terdapat bercak lima jari, yang kuyakini kalau ini bekas perbuatan Mas Reza.

Tapi di mana dia sekarang ? Kulihat dia tidak ada di kamarku, di kamar mandipun juga tidak ada. Dasar pria brengsek, setelah puas memperkosaku, dia pergi begitu saja meninggalkanku sendiri.

Aku segera masuk kedalam kamar mandi, kuhidupkan shower dan kubiarkan air shower membasuh sekujur tubuhku, rasa perih di tubuhku kembali kurasakan, tapi hatiku jauh lebi sakit, ketika mengingat apa yang telah di lakukan Mas Reza kepadaku, padahal aku sudah menganggapnya sebagai saudara kandungku sendiri.

Tak sadar akupun mulai menangis, tapi beruntung isak tangisku berhasil di samarkan oleh guyuran air shower.

Sebelum menginjakan kaki di jogja, aku berjanji apa yang terjadi di masa lalu, tidak akan perna terulang lagi di sini, tapi ternyata mimpi buruk itu kembali datang.

Cukup lama aku berada di dalam kamar mandi, mungkin hampir dua jam lamanya aku berada di dalam kamar mandi, sambil menangisi nasibku yang tragis, aku benar-benar tidak menyangkah kalau hidupku akan seperti ini jadinya.

+++

Selesai mandi, aku mencarger hpku, setelah kuhidupkan ternyata ada pesan Bbm yang masuk, aku sedikit tersenyum saat mengetahui siapa pengirimnya.

Jaka : Kamu di mana Nit ?
Jaka : Gimana ujian tadi, kamu bisakan ? (Aku meringis membaca pesan yang satu ini, gara-gara Reza aku jadi lupa kalau aku ada ujian hari ini.)
Jaka : Tar malam anak-anak mau belajar bareng, kamu ikut ya ? Nanti aku jemput. (Tumben-tumbunan dia mau menjemputku, biasanya dia yang selalu minta di jemput)

Aku menghela nafas panjang, karena perutku keroncongan, aku bermaksud hendak keluar membeli makanan, tapi belum juga aku selesai memilih pakaian, yang mau aku kenakan, kamarkupun terbuka dan ternyata Mas Reza yang datang.

“Kamu pasti laparkan ?” Ujarnya, tanpa merasa bersalah sedikitpun. Dia meletakan bungkusan plastik berwarna hitam di lantai. “Makanlah dulu.” Pintanya.

“BAJINGAAAAN… NGAPAIN LAGI KAMU KESINI, KAMU TIDAK PUAS SEMALAM MEMPERKOSAKU !”

“Tidak perlu berteriak, sekarang makanlah… ” Katanya santai, lalu dia membuka bungkusannya, dan benar saja dia membelikanku sebungkus nasi padang.

“KELUAAAR KAMU MAS… ” Kataku membentaknya.

Mas Reza melihatku sejenak, lalu dia menghampiriku. Aku sangat terkejut ketika dia tiba-tiba saja memelukku dari belakang, aku berusaha memberontak, tapi dia cukup kuat. Lalu tangannya kanannya mengobrak-abrik lemariku yang sudah terbuka, tak lama kemudian dia menemukan sebuah benda yang selama ini selalu kusembunyikan dengan sangat rapi, tapi dia berhasil mengetahuinya.

Di mengecup pipiku, lalu menarikku keatas tempat tidurku. Dia menarik paksa handukku, hingga aku telanjang bulat di hadapannya.

“Kamu yakin ingin mengusirku ?” Bisiknya, lalu dia meletakan dildo milikku dengan posisi tegak keatas. “Aku bisa memenuhi semua fantasimu, kalau kamu mau lebih menurut, miss lonthe…” Sambungnya.

Aku diam membisu, bagaimana mungkin dia bisa tau banyak tentang diriku, bahkan dia juga tau nama panggilanku di forum semprot.com. Ya, aku cukup aktif di forum dewasa tersebut, bahkan dulu aku sering menfosting foto nudeku di sana, dan aku juga aktif membuat cerita di forum tersebut.

“Jangan kaget seperti itu, aku salah satu penggemarmu.”

“Cukuup Mas, aku sudah berubah… dan sekarang apa maumu dariku.” Kataku, setengah membentak, aku hampir saja menangis akibat perbuatannya.

“Sekarang aku mau kamu makan dulu.” Pintanya, lalu dia sedikit menggeser dildo milikku kekanan. “Tapi dalam kondisi dildo ini didalam memekmu.” Jegeerr… aku bagai di sambar petir mendengar permintaannya.

Sinting… ide Mas Reza benar-benar gila, tidak mau… aku tidak mau melakukannya. Bagaimana mungkin, aku bisa makan dalam kondisi dildo berada di dalam vaginaku. Memang benar, selama ini aku sering menggunakan dildo tersebut, tapi tidak dalam kondisi seperti ini. Tapi bukan Reza namanya, kalau dia tidak bisa membujukku.

Aku menggeleng-gelengkan kepalaku, tentu aku tidak cukup gila mau melakukannya.

“Rahasiamu ada di tanganku, semalam aku sudah berfikir, kalau aku tidak bisa mendapatkan cintamu, maka setidaknya aku bisa memiliki tubuhmu.” Bisiknya, lalu dia menuntunku untuk berjongkok didepan dildo yang sudah siap sedia, berdiri dengan kokohnya.

“A… apa maksud kamu Mas ?”

“Aku akan menyebarkan semua foto kamu ke Tante, dan mungkin aku juga akan memberi tau Jaka masa lalumu.” Mendengar ancamannya, membuat sekujur tubuhku menjadi kaku, keringat dingin bercucuran.

Aku tidak bisa membayangkan kalau kedua orang tuaku tau masa laluku, dan Jaka… dia tidak akan perna mau menerimaku, mungkin dia akan merasa sangat jijik kepadaku, kalau dia sampai mengetahui masa kelamku dulu. Sumpah demi apapun, sekarang aku benar-benat sangat membenci Mas Reza, dia bukan manusia tapi Iblis. Dia bukan lagi orang yang kukenal dulu.

“Sekarang apa maumu ?”

“Turuti semua ucapanku, kecuali kamu menginginkan orang-orang terdekatmu tau siapa dirimu yang sebenarnya dan aku yakin… kamu akan menyesal.” Jawabnya, lalu dia memberi isyarat agar aku mulai menududuki dildo yang sudah dia persiapkan.

Dengan sangat terpaksa aku menuruti kemauannya, aku takut Mas Reza tidak hanya sekedar mengancamku. Perlahan, kumasukan dildo tersebut kedalam vaginaku, inci demi inci, sesekali aku mengerang kesakitan, karena vaginaku belum siap untuk menerima dildo tersebut disalam vaginaku.

“Aaahkkk… ”

“Sakiiiit Mas ! Uuhkk…. ” Erangku, ketika dildo itu akhirnya berhasil aku duduki.

“Bagus… !” Katanya senang, “Sekarang kamu makan ya, aku gak mau kamu sakit.” Sambungnya, lalu dia mulai menyuapi, dan dengan sengat terpaksa aku menerima suap demi suap yang dia berikan kepadaku.

Kalau kalian berfikir aku menikmatinya, kalian salah besar. Aku tersiksa baik batin maupun fisikisku. Aku menyesal dulu sempat mempercayainya dan mengabaikan peringatan Jaka, seandainya saja aku mau mendengarkannya, mungkin nasibku tidak akan seburuk ini. Tapi nasi sudah menjadi bubur.

Aku menangis sejadi-jadinya di hadapan Mas Reza, tapi manusia berhati iblis itu sama sekali tidak perduli, bahkan ia tampak menikmatinya.

Tok… tok… tok…

“Assalamualaikum… ” Aku sangat terkejut ketika mendengar suara seorang pria yang amat kukenal mengetuk pintu kamarku.

Aku melihat kearah Mas Reza, dengan wajah memelas. Aku berharap Mas Reza bisa tetap diam dan tidak membiarkan Jaka masuk. Tapi sepertinya harapanku sia-sia saja, Mas Reza memberiku kode agar aku segera bersembunyi di dalam kamar mandi.

Buru-buru aku menarik diriku dari dildo sialan itu, sanking buru-burunya, aku hanya sempat membawa handukku kedalam kamar mandi.

“Kamu Jaka, ada apa ya ?” Kudengar suara Mas Reza, tapi aku tidak mendengar jawaban dari Jaka.

“Eheem… hallo… ” Lagi, aku mendengar suara Mas Reza, sepertinya Jaka shok melihat Mas Reza ada didalam kamarku. Jangan-jangan dia berfikir yang aneh-aneh tentang kami.

“Sorry, ada yang ingin aku omongin sama Anita.”

“Ya udah masuk aja dulu.” Ajak Mas Reza, sebenarnya aku berharap saat itu Jaka langsung saja berpamitan pulang, karena aku takut Reza punya rencana busuk.

Tak lama kemudian aku mendengar suara ketukan dari luar. Aku tau itu kode dari Mas Reza, dia memintaku untuk keluar. Cukup lama aku berada di ambang kebingungan, antara ingin segera keluar kamar mandi atau tidak. Tapi kalau aku diam saja di sini, bisa-bisa Mas Reza akan marah.

“Ada apa Jak ?” Tanyaku, setelah aku keluar dari dalam kamar mandi. Kondisiku saat itu hanya mengenakan handuk yang melilit di tubuhku.

“Kita di ajak Toni belajar bareng buat ujian besok.” Ajaknya, seperti yang kubaca dari BBM. Sebenarnya aku ingin sekali ikut dengannya, tapi Mas Reza tidak mungkin mengizinkan aku.

Tanpa menoleh sedikitpun kearahnya, aku mulai sibuk mencari pakaian, kondisiku saat ini membuatku merasa tidak nyaman, berada diantara mereka berdua.

“Gimana ya, soalnya aku gak enak ninggalin Mas Reza sendirian di kamar Jak.” Sebisa mungkin aku menolaknya dengan halus dan berharap dia tidak kecewa.

Dan harapanku bagaikan angin lalu saja, mata kami beradu, aku melihat dari pancaran matanya dia tampak sangat kecewa. Aku tau, tapi walaupun aku mau, aku bisa apa di bawah tekanan Mas Reza.

“Aku ganti baju dulu ya.” Kataku, lalu tanpa menunggu jawabannya, aku langsung kembali kedalam kamar mandi.

Setelah mengunci pintu kamar mandi, aku segera menghidupkan air shower, dan duduk di pojokan kamar mandi. Dan lagi-lagi aku menangis, ingin rasanya aku pergi dengannya, tertawa bareng dengannya, tapi keadaanku saat ini tidak memungkinkan untukku.

Tak lama kemudian pintu kamar mandiku di gedor, dan aku segera bangkit lalu membukannya.

Ternyata Mas Reza yang menggedor pintuku, dia memberi isyarat kalau Jaka masi berada di kamar kosku. Tentu saja aku panik, apa lagi dia tiba-tiba saja ikut masuk dan menutup pintu kamar mandiku.

“Aku mau kita sekarang ML.”

“Aaa… jangan Mas, dia masih di sini.” Tolakku, aku berharap Mas Reza mau mengerti.

“Itu yang aku mau.” Katanya, lalu dia menerkam tubuhku, memelukku dengan sangat erar. Dia menyenderkanku di dinding lalu dia melumat bibirku.

Sebisa mungkin tanpa bersuara aku memberontak, mencoba mengusirnya, tapi aku gagal, karena Mas Reza berhasil mendesakku.

“Turuti kata-kataku, atau aku akan menyebarkan rahasiamu.” Ancamnya.

Tentu saja cara itu berhasil menakutiku, aku hanya pasra saat dia mendorongku kepintu kamar mandiku, lalu dari belakang, kurasakan penisnya kembali memaksa masuk kedalan liang senggamaku. Rasanya sakit sekali, tapi aku berusaha bertahan.

Setelah berhasil masuk semuanya, Mas Reza mulai memompa vaginaku dengan cepat, sambil mengerang-erang dengan suara di buat sangat keras.

“Saayaaang… aahkk… memek kamu enak bangeeet ! Kamu suka kontol akukan ?” Katanya, lalu dia menjambak rambutku, aku tau dia memintaku untuk menjawab pertanyaannya barusan.

“Iyaaa… Mas, sodok lebi kuat lagi… Ahhkk… aahkk… ” Kujawab pertanyaannya dengan pura-pura mendesah.

“Aaaaaahkkk…. ooohhkkk… ”

“Teruuuuusss sayaaaang, kontttol kamuuuu enaaak…. Aaahkk…. aaahkkk… aahkk…. ”

“Aku sayang kamu Nit…. ”

“Aku jugaaa… sayang kamu Mas… puaskan aku maaas…”

“Iyaaa… cintaku…. ”

Selama permainan kami berlangsung aku terus mendesah seperti orang keenakan, walaupun air mataku tak henti-hentinya mengeluarkan air mataku. Aktingku baru berhenti, ketika Mas Reza tiba-tiba mengerang dan menumpahkan spermanya di dalam rahimku. Untungnya, aku lagi tidak dalam masa subur.

Tubuhku langsung merosot kelantai, dan suara tangisku semakin keras, ketika aku mengintip dari daun pintu yang sedikit terbuka, kulihat Jaka pergi meninggalkan kosku, dengan langkah gontai dan menangis.

Iya… aku tau dia menangis, aku dapat melihat matanya yang merah. Bodoh… bodoh… bodoh… selama ini aku tidak percaya dengan ucapan Toni kalau Jaka menyukaiku. Seandainya saja aku percaya, dan seandainya saja aku bisa sedikit menurunkan gengsiku, dan mau mengungkapkan perasaanku kepadanya, mungkin saat ini dia sudah menjadi milikku.

Maafkan aku Jaka… maafkan aku…

“Dia sudah pergi, baguslah… sekarang aku pulang dulu ya, tapi ingat jangan perna lagi coba-coba menolak perintahku, kecuali kamu mau semua fotomu tersebar luas.” Ancam Reza, lalu dengan santainya dia meresleting celananya.

Kini aku sendirian dalam tangis, sebuah penyesalan besar tertanam di dalam hatiku.

Semenjak kejadian hari itu, Jaka tidak perna lagi mau menghubungiku, bahkan setiap pesan yang kukirim tidak perna ia balas. Selain itu di kampus dia sering menghindariku, hingga liburan tengah semester tiba.

Sementara hubunganku dengan Mas Reza, kini lebi terlihat seperti budak dan majikan, dia benar-benar menjadikanku sebagai budak pemuas nafsu birahinya.

+++

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*