Home » Cerita Seks Mama Anak » Ini Tentang Aku 9

Ini Tentang Aku 9

SEMBILAN

Cukup lama aku berdiam diri di kamarku, mengingat kejadian barusan di dalam kamar Arumi. Gila, aku begitu tega merebut kesuciannya demi menutupi perbuatan bejatku dengan Kak Zaskia, aku yakin kalau Kak Zaskia tau dia pasti akan sangat marah kepadaku, apa lagi dia yang telah mengajarkanku ML dan sekarang aku menurunkan ilmu yang diajarkannya kepada Adik kandungnya sendiri.

Seandainya saja aku bisa menerima keadaan kalau Anita memang bukan jodohku, mungkin aku tidak perlu menjadikan Arumi sebagai pelampiasanku.

Ah sial, sekarang apa yang harus kulakukan. Kulirik jam di dinding kamarku, ternyata sudah hampir jam 4 sore, aku harus bersiap-siap sekarang, karena sebelum ke kosnya Wulan aku harus menemui Anita dulu di kosnya, siapa tau dia ada dan mau kuajak belajar bersama.

Aku segera turun dari tempat tidurku, lalu mengambil handuk yang tergantung di belakang pintu.

Sesampainya di depan kamar mandi, ternyata kamar mandi sedang ada yang menggunakannya, sepertinya Arumi, soalnya di rumah ini hanya ada aku dan dia.

“Arum, kamu di dalam ?” Panggilku.

Tak ada jawaban, tapi semenit kemudian dia membuka pintu kamar mandi, dan untuk kedua kalinya hari ini aku melihat tubuh telanjang Arumi. Glek… aku menelan air ludahku yang terasa hambar, melihat tubuh Arumi tanpa sehelai benang menutupi tubuhnya.

Belum sempat aku berfikir dengan jerni, Arumi langsung menarik tanganku, memaksaku masuk kedalam kamar mandi.

“Mas Jaka, aku pingin… !” Bisiknya, lalu dia memaksaku membuka pakaianku.

“Jangan Arum, kita gak boleh melakukan ini lagi.” Tolakku, sambil menahan kedua tangannya yang ingin membuka celanaku. Hampir saja dia membebaskan si jendral, kalu sampai itu terjadi, aku tidak tau apakah si jendral bisa menahan diri.

“Ke… kenapa Mas ? Bukannya kita tadi sudah melakukannya.”

“Maaf Arumi, Mas salah. Tidak seharusnya kita melakukan itu, apapun alasannya ini tetap salah.” Kuambil handuknya, lalu kucoba menutupi tubuh telanjangnya dengan handuk.

Arumi tanpak menunduk, sepertinya dia sedang menangis, karena aku melihat ada butiran air mata yang mengalir di pipinya. Sekarang apa yang harus kulakukan ? Maafkan Mas Arumi, karena tidak bisa menjagamu.

Aku segera mengajaknya keluar kamar mandi, dan membawanya masuk kedalam kamarnya.

“Arumi sayang Mas Jaka.” Akunya, sambil menggenggam tanganku.

“Iya, Mas juga sayang Arumi.” Balasku, seraya tersenyum.

“Bukan sayang yang seperti itu Mas, tapi lebi dari rasa sayang seorang wanita terhadap pria. Aku ingin Mas jadi milikku seutuhnya.” Dia menatap mataku dalam, membuatku semakin serba salah dengannya.

Lama-lama hatiku kembali goyah, rasa sakit di tinggal Anita kembali meminta tumbal, dan sekarang dengan cara suka rela Arumi menyerahkan dirinya sebagai penawar. Oh Tuhan, apa yang harus kulakukan sekarang, di hadapanku saat ini ada seorang gadis belia yang sangat cantik dan menggairahkan.

Kutarik kembali handuk yang menutupi tubuhnya barusan, dia terlihat begitu sempurna, kulit putih bening seperti pualam, payudarah yang barukuran 34B cukup besar mengingat usianya yang baru 16 tahun, belum lagi garis vaginanya yang tampak begitu rapat, di tumbuhi rambut-tambut halus di permukaan vaginanya, pinggulnya yang ramping dan… aarrkk…

“Kamu nakal Arum.” Bisikku, lalu kupeluk erat tubuhnya, bibirku segera mencari bibirnya.

“Hmmpp… Hmmppp… ”

Kuraih payudarahnya, keremas cukup keras sambil mendorongnya hingga kedinding kamarnya. Dengan satu tangan aku membuka celanaku, membebaskan sang Jendral. Aku sudah tidak tahan lagi ingin merasakan himpitan vagina Arumi yang baru tadi siang aku perawani.

Arumi tampak begitu pasrah, ketika lenganku yang kekar mengait sebelah kakinya hingga terjuntai ke udara.

“Aaarrrkk… ” Aku mengeram nikmat, ketika kurasakan batang kejantananku menubruk lipatan bibir vaginanya yang berlendir itu, lalu sambil berciuman kugerakan kakiku menghujami vaginanya.

“Mass… Hmmpp… Aahkk… ”

“Memek kamu enak Arum, Aahkk… rasanya hangat banget !”

“Terusss Mas… sodok lebih dalam Aahk… Aahk… Arum sayang Mas Jaka.” Racaunya, sembari memeluk erat leherku, sementara aku semakin cepat menghujaminya dengan terpedoku.

Sambil berdiri, kami kembali melakukan dosa besar, dosa yang seharusnya tidak kulakukan terhadap Arumi, gadis polos yang kupaksa dewasa lebi cepat. Aah… Maafkan Mas Arumi, syetan di dalam diriku selalu berhasil mengalahkan akal sehatku, keinginanku untuk sembuh dari rasa sakit ini, menuntutmu untuk berkorban lebi jauh.

Dengan gerakan cepat, kuangkat kedua kakinya, sehingga kini ia seperti sedang kugendong. Lalu kubawa dia keatas kasur, dan kurebahkan tubuhnya di sana.

“Oohkk… Mas Jakaaaa… aahkk… aahkk… aku sayang Mas Jaka.” Rintih Arumi, sambil ikut menggoyangkan tubuhnya, sehingga payudarahnyapun ikut bergoyang.

“Eenaaak… Aahkk… aahkk… memek kamu Arumi, Mas suka kamu.” Kubelai kembali payudarahnya, kumainkan puttingnya, sementara pantatku semakin dalam menekan pinggulku kedalam liang syurgawinya.

“Mas, aku mau keluaaar !”

“Bareng sayang, Mas juga mau keluaaar.” Aku menghentak pinggulku semakin cepat, kurasakan darah di tubuhku mulai mendidih, miliyaran sel sperma sepertinya telah berkumpul di ujung penisku, bersiap menyirami rahim tak berdosa ini.

Kemudian tubuh Arumi menegang, kepalanya mengada keatas. Sembari berteriak, Arumi mencapai puncaknya. Aku tidak mau kalah, kutekan pundaknya, kuputar-putar pinggulku, hingga akhirnya aku juga mencapai klimaksku, rasanya begitu nikmat sekali bisa membuwahi Arumi.

“Akuuu… keluaaar ” Tubuhku tersentak-sentak merasakan sisa orgasmeku yang hebat.

Kini tubuhku terbaring di sampingnya, dengan nafas memburu, dadaku naik turun menikmati sensasi yang baru saja kudapatkan. Kutoleh kesamping, melihat Arumi yang tersenyum bahagia, sepertinya dia tidak menyesal dengan apa yang barusan telah kami lakukan.

Aku segera turun dari atas tempat tidurnya, lalu kembali mengenakan pakaianku, sedangkan Arumi hanya diam melihatku yang swdang mengenakan kembali pakaianku.

“Arum, terimakasi ya.”

“Iya Mas, sama-sama… Arum senang bisa melakukan ini dengan Mas Jaka.” Ujarnya, lalu duduk diatas tempat tidurnya sambil memeluk lututnya.

“Mas juga senang, mulai sekarang kapan Arumi kau, bilang sama Mas ya.”

“Iya Mas.”

“Ya sudah, Mas mau mandi dulu, nanti malam Mas ada janji sama temen mau belajar bareng.” Kataku, lalu setelah mengenakan kembali pakaianku, aku segera.keluar dari dalam kamarnya, meninggalkan jejak-jejak dosa kami.

***

Sirna sudah harapanku, ketika yang membukakan pintu adalah Reza, pacarnya Anita. Aku berdiri mematung tanpa berkata apapun, terlalu banyak pertanyaan yang berseleweran di otakku, mengenai apa yang sebenarnya terjadi antara Reza dan Anita pujaan hatiku.

Keterkejutanku semakin menjadi-jadi, ketika Anita keluar dari dalam kamar mandi hanya terbalutkan handuk yang melilit di tubuhnya. Oh Tuhan, kalau ini mimpi buruk, tolong segera bangunkan aku dari tidurku, tapi kalau seandainya ini nyata, tolong jadikan ini sebagai mimpi burukku.

“Eheem… hallo… ” Mungkin untuk kesekian kalinya Reza memanggilku.

“Sorry, ada yang ingin aku omongin sama Anita.”

“Ya udah masuk aja dulu.” Katanya, seolah dialah sang pemilik kamar. Sial, sepertinya aku datang tidak tepat pada waktunya, mau pulang sudah kepalang datang.

“Ada apa Jak ?” Tanya Anita ketika aku sudah duduk di lantai kamarnya. Sempat aku melihat Anita yang sedang memilih pakaian dari dalam lemarinya.

“Kita di ajak Toni belajar bareng buat ujian besok.”

“Gimana ya, soalnya aku gak enak ninggalin Mas Reza sendirian di kamar Jak.” Seperti yang kuduga dia akan menolak ajakanku, mengingat di kamarnya ada Reza.

Aku diam sejenak, sebenarnya hatiku hancur ketika Anita lebih memilih Reza ketimbang aku, tapi apa yang bisa aku lakukan, Reza pacarnya, sementara aku hanya penggemar rahasianya dan selamanya hanya akan menjadi penggemar.

“Aku ganti baju dulu ya.” Kata Anita, lalu dia kembali masuk kedalam kamar mandi.

Suasana kembali hening, aku dan Reza tidak saling menyapa, hanya sesekali aku melirik kearah Reza yang sedang sibuk dengan hpnya. Tapi tak lama kemudian Reza berdiri dan menyusul Anita kedalam kamar mandi.

Setelah itu kalian sendiri tau apa yang sedang terjadi. Aku sempat mendengar suara gaduh dari dalam kamar mandi, lalu setelah itu hanya suara rintihan dan desahan dari dalam kamar mandi Anita. Kusenderkan punggungku di dinding kamarnya, mata menerawang membayangkan apa yang terjadi didalam kamar mandi Anita.

Siaaal… kenapa aku marah, kenapa aku harus kecewa ? mereka berdua telah resmi berpacaran, jadi apa masalahnya kalau mereka ML, ini bukanlah urusanku. Tapi, apakah aku salah kalau aku cemberu ? Tentu saja aku salah, karena aku bukan siapa-siapanya.

Akhirnya kuputuskan untuk segera pergi tanpa berpamitan kepada mereka, toh aku sudah tau jawabannya, Anita menolak tawaranku untuk belajar bersama.

Lagi-lagi kesialan menimpaku, tepat ketika aku keluar dari pagar kossannya, tiba-tiba hujan turun dengan amat deras, seolah mereka sedang mengejekku. Kuangkat kepalaku mengada keatas, menyambut air hujan yang menyamarkan air mataku. Brengsek, aku harus menerima kenyataan, kalau wanita yang begitu kucintai kini telah resmi menjadi milik orang lain.

Aku berjalan gontai di bawa guyuran hujan menuju kossannya Wulan, jaraknya memang cukup jauh, tapi aku senang, dengan begitu aku punya banyak waktu untuk menikmati kwgalauanku dan aku berharap setibanya di sana, rasa sakit ini menghilang seiring berhentinya air hujan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*