Home » Cerita Seks Kakak Adik » Ini Tentang Aku 8

Ini Tentang Aku 8

DELAPAN

Aku pulang hari ini lebi cepat dari biasanya, karena memang sehabis ujian aku tidak punya kegiatan lain. Dan seperti biasanya, rumah tanpa sepi seperti tidak berpenghuni, maklum saja di rumah orang-orangnya pada sibuk semua.

Aku berjalan hendak kedapur, tapi ketika aku melewati kamar Tante Tia, samar-samar aku mendengar suara yang sudah tidak asing lagi di kamarnya.

Apa Tante Tia hari ini tidak kerja ? Ah… sudalah, bukan urusanku.

Aku berlalu menuju dapur, lalu mengambil sebotol air mineral dari dalam lemari es. Dengan perlahan, kunikmati air tersebut hingga dahaga yang tadi menggangguku perlahan menghilang, sehabis minum aku kembali meletakan botol minuman kedalam lemari es.

Setelah buang air kecil dan mencuci muka, aku hendak kembali kekamarku, dan lagi-lagi aku melewati.kamar Tante Tia dan lagi-lagi aku mendengar suara desahan dari dalam kamar Tante Tia.

“Aaahkk… fuck… yeeess… Ooh… ” Kira-kira begitulah suara yang kudengar.

Tapi kali ini aku merasa penasaran tidak seperti sebelumnya, lalu dengan cara mengendap-endap aku membuka daun pintu kamar Tante Tia yang ternyata tidak di kunci. Dan ternyata di dalam kamar Tante Tia ada Arumi yang sedang duduk di kursi kerja Tante Tia, sementara matanya tampak fokus memandangi layar 32 inc yang ada di hadapannya.

Anak zaman sekarang memang berbeda dengan zamanku dulu.

“Arumi kamu ngapain ?” Tegurku, setelah aku membuka lebar daun pintu kamar Tante Tia.

Dia sempat terkejut, tapi setelah dia melihat siapa yang datang, dia malah terlihat cuek dan kembali menatap layar monitor yang ada di depannya.

“Kirain siapa, Mas Jaka bikin kaget Arum aja.”

“Astaga Arumi… kamu itu masih kecil tapi sudah nonton film begituan.” Aku sangat terkejut saat melihat monitor milik Tante Tia, ternyata Arumi sedang menonton JAV sambil masturbasi. Soalnya tadi aku sempat melihat ia membenarkan rok abu-abu yang ia kenakan.

“Hehehe, gak sengaja Mas.”

“Gak sengaja apanya ? Matiin gak, kalau gak Mas aduhin kamu sama Mama.” Ancamku, tapi sepertinya dia tidak takut dengan ancamanku.

“Mas resek ni, gangguin kesenangan orang.” Katanya mendumel.

“Kamu tu masih kecil, gak boleh nonton film ginian, gak mendidik.”

“Arumi udah gede Mas, bentar lagi udah mau 17 tahun.”

“Tapi tetep saja gak boleh, kamu masih sekolah jadi belom boleh nonton film beginian.” Hardikku semakin keras, anak ini kalau tidak di bentak dia tidak akan mengerti apa yang dia lakukan itu salah.

“Tanggung, habisin dulu ya.”

“Mas bilang matiin.” Kataku semakin keras membentaknya, tapi dia bukannya segera mematikan film yang dia tonton, malahan dia semakin memperbesar volumenya.

Di cueki seperti itu tentu saja aku jadi terbakar emosi, tanpa berkata lagi aku langsung mematikan komputer milik Tante Tia langsung dari colokannya. Arumi tanpa kaget, dia memandangku dengan mata menyalah.

Aku tau dia marah, tapi tindakannya yang membangkang membuat jiwaku sebagai seorang Kakak memberontak, walaupun aku bukan saudara kandungnya tapi tidak seharusnya dia bertindak kurang ajar kepadaku. Anak jaman selarang memang kurang ajar.

“Apaan si Kak, Arumi benci Kakak… !”

“Arumiii… ” Nyaris saja tanganku melayang menghantam pipinya, tapi untunglah sedikit kesadaran mampu membuatku menahan amarahku.

Lalu tanpa berkata apapun, Arumi segera meninggalkanku, bahkan ia sempat membanting pintu kamar sanking marahnya. Arumi… kamu tidak akan perna mengerti bahaya menonton film seperti ini.

Aku duduk termenung di atas kursi tempat tadi Arumi duduk, ada sedikit penyesalan didalam diriku, tidak seharusnya aku berkata kasar seperti itu kepadanya, seharusnya aku bisa sedikit memahami kenapa anak seusia Arumi sudah biasa menonton film porno.

+++

Tok… tok… tok…

“Rum, pintunya di buka dong.” Panggilku sambil menggendor pintunya.

Jujur saja, setelah merenung sesaat, aku menyadari kesalahanku, sikapku barusan terlalu egois untuknya, walaupun dia salah, tapi tidak seharusnya aku mengamuk seperti tadi, dan sekarang aku harus meminta maaf kepadanya atas perbuatanku barusan.

“Gak mau, Arum benci sama Mas Jaka.” Teriaknya dari dalam kamarnya.

Aku menghela nafas panjang, lalu aku kembali mencoba membujuknya agar mau membukakanku pintu. “Maafin Mas ya, sekarang pintunya di buka.” Kataku sambil menggedor pitu kamarnya.

Lalu tak lama kemudian kudengar suara kunci di putar ‘kleek’ perlahan dia membuka pintu kamarnya, setelah itu dia kembali naik ketas tempat tidurnya sambil tengkurap. Sepertinya dia habis nangis.

Aku berjalan menghampirinya, lalu duduk di tepian ranjang tepat di sampingnya, perlahan kubelai rambut hitamnya yang terasa begitu lembut di kulit telapak tanganku, sesekali dia meresponnya dengan isak tangis, membuatku semakin merasa bersalah.

“Maaffin Mas ya sayang.” Bisikku lirih.

“Mas jahat, tadi mau mukul Arum, Mas Jaka sudah gak sayang lagi sama Arum.”

“Tadi Mas cuman kebawak emosi, habis pulang kuliah melihat kamu bolos sekolah sambil nonton film gituan, sebagai seorang Kakak wajarkan kalau Mas marah sama kamu.” Jelasku, lalu dia membalik tubuhnya hingga terlentang. Kulihat sisa-sisa air mata di kedua pipinya.

“Arum gak bolos kok, tadi memang kami di liburkan, soalnya ada guru yang meninggal.”

“Hmmm… jadi gitu, trus tadi kenapa kamu nonton film gituan ?” Tanyaku menyelidik, kulihat dia tanpak malu-malu ingin menjawab pertanyaanku.

“Itu… gak sengaja Mas. Tadi niatnya cuman pengen ngenet, trus pas komputer Mama aku buka gak sengaja melihat koleksi film Mama, jadi karena penasaran aku coba nonton filmnya.” Katanya, menjelaskan krenologis kenapa dia bisa menonton film porno.

“Ya sudah, lain kali jangan di ulangi.”

“Ehmm… ” Katanya mengangguk. “Mas, aku boleh tanya sesuatu gak ?” Tanyanya, dia menatapku lekat-lekat, entah kenapa aku merasa ada yang beda dari tatapannya.

“Mau tanya apa ?”

“Emang ngentot itu enak ya Mas ?” Pertanyaannya cukup membuatku sangat terkejut. Bagaimana mungkin, dia bisa bertanya seperti itu kepadaku. “Maaf Mas, beberapa hari yang lalu, aku gak sengaja melihat Mas Jaka sama Kak Zaskia lagi begituan di kamarnya Kak Zaskia, terus di sekolah temenku Maya juga sering bercerita kalau dia sering main sama pacarnya.” Katanya dengan santai, Setelah mendengar penjelasannya, sekarang aku paham kenapa dia bisa begitu berani kepadaku.

Cukup lama aku terdiam mencoba mencerna penjelasannya barusan, aku tidak menyangka, perbuatanku beberapa hari yang lalu ternyata di ketahui oleh Arumi. Sial, ternyata benar apa yang pepata bilang, sepandai-pandainya tupai melompat pasti akan jatuh juga.

Aku coba berbaring di samping Arumi, cukup lama aku menatap wajahnya, dia sangat cantik, masih muda dan sangat menggairahkan.

“Iya, rasanya memang enak kok. Arumi mau coba ?” Tanyaku, astaga apa yang barusan kuucapkan, tidak seharusnya aku berkata seperti itu kepadanya. Lalu kubelai wajah cantiknya, dia tampak malu-malu saat aku membelai pipinya.

Sadaaar Jaka… tapi dia sudah tau rahasiaku, bisa bahaya kalau sampai dia memberi tau Tante Tia apa yang sudah kulakukan bersama Kak Zaskia. Ya… untuk menutupi kebejatanku, maka aku harus melakukan kebejatan lainnya, dan sekarang aku harus melakukannya bersama Arumi agar dia tidak membocorkan rahasiaku.

“Beneraan, Kakak mau ngajarin Arumi ngentot ?” Tanyanya Antusias, aku mengangguk lalu kukecup lembut keningnya.

Kemudian, setan di dalam diriku mulai membimbingku, dengan perlahan aku mulai membuka satu persatu kancing seragam sekolahnya, hingga aku dapat melihat payudarahnya yang terbungkus rapi dari balik bra berwarna putih yang ia kenakan, lalu dengan lembut aku membelai payudarahnya.

“Eehmm… ” Dia melenguh pelan sambil memalingkan wajahnya, sepertinya dia masih merasa malu karena aku yakin ini kali pertama dia di sentuh oleh pria.

“Arumi mau janji sesuatu gak sama Mas ?”

“Janji apa Mas ?”

“Janji kalau Arumi gak akan cerita kesiapa-siapa soal Mas dengan Kak Zaskia.” Kataku, lalu kusingkap keatas cup branya. Sungguh indah payudarahnya, bulat dan sangat menantang. Puttingnya juga masi berwarna merah muda segar.

Kukecup pelan bibirnya, lalu dengan kedua jariku kumainkan puttingnya, dan tubuhnya kembali menggeliat keenakan.

Perlahan kuhisap bibir atas dan bawahnya, sementara tangan kananku semakin aktif memainkan payudaranya secara bergantian. Sesekali aku meremasinya cukup kasar sehingga dia melenguh kesakitan.

“Gimana mau janji sama Mas ?”

“Iya… Arumi janji gak akan ngadu.” Aku tersenyum senang mendengar sumpahnya. Lalu kuhadiahi kembali kecupan di bibirnya.

Tapi kali ini dia membalas melumat bibirku, lidah kami saling membelit dan saling menhisap. Sementara tanganku bergerilya kebawa membelai pahanya, terus naik hingga menyingkap rok abu-abu yang dia kenakan, menampakan sepasang paha jenjang yang begitu mulus.

Ciumanku kuturunkan kelehernya, sementara itu aku melepas branya dan membuangnya jauh.

Kini Arumi benar-benar telanjang dada, saat aku membungkukan wajahku kearahnya, dia langsung memejamkan matanya, wajahnya di tekuk menahan sesuatu, sumpah saat itu wajahnya terlihat begitu lucu, membuatku ingin semakin menggodanya.

“Mas boleh ciumin teteknya Arumi gak ?” Tanyaku, kembali kubelai puttingnya dengan jariku.

“Ssstt… Mas malu ah !”

“Hehehe… kalau gininiin enak gak ?” Kupelintir puttingnya, dan reaksi yang kudapatkan sungguh menakjubkan.

“Duhh… aahkk… puttingku di apain Mas, kok rasanya enak bangeeet !” Tubuhnya menggeliat bebas, aku sampai kesusahan menahan tubuhnya.

Karena tak tahan aku segera melumat payudarahnya, lalu kedua kakinya kubuka lebar dan dengan gerakan perlahan aku menggesekan selangkanganku yang masih mengenakan celana pendek keselangkangannya yang tertutupi celana dalam

Puas bermain di payudarah kirinya, aku berpindah kepayudarah kanannya, kuhisap lembut puttingnya, sesekali kugigit dan kutarik puttinnya.

“Aahkk… aaahkk… ”

Kuangkat wajahku lalu kupandangi wajahnya, perlahan kumasukan tanganku kedalam roknya, lalu kutarik perlahan celana dalamnya dan kulempar sembarangan celana dalam miliknya ke atas lantai.

“Mas Jaka… !”

“Sstt… kamu sudah siapkan ?” Tanyaku, sambil membuka celanaku. Dia mengangguk, lalu menarik roknya keatas sehingga aku dapat melihat vaginanya.

Aku merunduk lalu aku mulai menciumi betisnya, dan terus naik hingga keselangkangannya. Kujulurkan lidaku untuk menjilati bibir vaginanya, lalu kuhisap lembut clitorisnya, membuat cairan vaginanya keluar semakin banyak. Setelah yakin kalau vaginanya sudah siap untuk aku perawani, segera sang jendral beraksi.

Kutindih kembali tubuhnya, lalu kuposisikan sang jendral tepat di lipatan vaginanya.

“Arumi sudah siap ?” Tanyaku sambil membelai pipinya.

Arumi mengangguk perlahan “Iya, tapi pelan-pelan ya Kak, Rumi masih agak takut.” Katanya, tentu aku akan memperlakukannya dengan lembut.

“Jangan takut, nanti kalau sakit bilang ya.” Kataku, lalu aku mulai menekan pinggulku, memaksa penisku menjebol vagina perawannya.

Ternyata tidak semuda yang aku bayangkan, beberapa kali penisku meleset, belum lagi rasa sakit di penisku saat kepala penisku berhasil membela bibir vaginanya. Tidak kusangka ternyata membobol perawan tidak semuda yang kubayangkan.

Selain berusaha melesatkan penisku, aku juga berusaha menenangkan Arumi yang beberapa kali merintih kesakitan, apa lagi ketika si jendal semakin agresif menusuknya.

“Aahkk…. saaakiiiiittt…. ” Teriakan Arumi menggema didalam kamarnya, ketika akhirnya penisku berhasil merobek slaput darahnya.

Kutekan sekali lagi penisku, hingga tak bisa lagi di dorong. Setelah itu kudiamkan sebentar penisku di dalam vaginanya, sembari mengatur nafasku yang mulai tersengal-sengal, dan rasa sakit di batang kemaluanku semakin menjadi, rasanya ngilu, apa lagi ketika vaginanya berkedut-kedut.

Kulihat Arumi mulai menangis, sepertinya dia kesakitan akibar perbuatan si jendral.

“Masih sakit ya sayang ?” Bisikku pelan sambil menatap matanya yang sayuh.

“Agak mendingan Mas.”

“Mau di teruskan, apa mau di lepas aja.” Kataku memberi dia dua pilihan.

“Terusin saja Mas, tanggung.”

Setelah mendapat izin darinya, aku mulai menarik pinggulku dengan perlahan, lalu ketika hampir terlepas, aku kembali menghujaminya lagi dengan pelan. Gerakan itu kulakukan secsra berulang dengan perlahan agar tidak menyakitinya.

Setelah lima menit berlalu, Arumi mulai tanpak menikmati gesekan antara penisku dan dinding vaginanya, bahkan dia mulai mendesah pelan.

“Eesstt… aahkk… aahkk… ”

“Memek kamu sempit banget Arum, kontol Mas rasanya ngilu tapi enak.” Kataku, sambil kembali memainkan payudarahnya.

“Aahlk… teruuuss Mas, sekarang rasanya enak banget… aahkk… aahkk… ”

“Mas cepetin ya sayang.” Ujarku, lalu aku mulai memompa vaginanya dengan gerakan yang amat cepat, seperti biasa ketika aku menggenjot vagina Kakaknya, Kak Zaskia.

Kudekap erat tubuhnya, lalu di balas Arumi dengan melingkarkan kedua kakinya di pinggangku hingga penisku terasa semakin dalam memasuki vaginanya, lalu aku kembali menggoyang pinggulku maju mundur dengan sangat cepat.

“Aahkkkk… memek Arumi sempit banget, Mas suka sama memeknya Arumiiii… aahkk… aahkk… ”

“Oouuww… teruss Kak, Arum mau pipis.”

“Iya sayang, pipisin aja jangan di tahan ya sayang.” Kataku, lalu aku kembali menciumi sekujur wajah cantiknya.

Tak lama kemudian, kurasakan ada dorongan dari dalam vagina Arumi, sepertinya dia baru saja orgasme, karena raut wajahnya yang tampak menegang seperti sedang menikmati sesuatu.

Segera kutarik penisku, lalu kukocok penisku di depan wajahnya dengan gerakan cepat, tak lama kemudian kumuntahkan spermaku kewajahnya. Reflek Arumi menutup wajahnya, sepertinya dia takut kalau nanti spermaku sampe masuk kedalam matanya.

Tak lama kemudian dia membuka matanya, menatapku sejenak.

“Mas Jaka jahaaat, wajahnya Arum jadi kotor ni… ” Rengeknya, lalu dia segera berlarian dari dalam kamarnya, sepertinya dia pergi kekamar mandi.

Sementara aku hanya tertawa melihat tingkah konyolnya, lalu aku berlalu meninggalkan kamarnya, yang menjadi saksi bisu perbuatan biadabku yang telah mengambil keperawanan anak gadis orang yang seharusnya kulindungi bukan untuk kunodai.

+++

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*