Home » Cerita Seks Kakak Adik » Ini Tentang Aku 12

Ini Tentang Aku 12

DUA BELAS

Namaku Anita, usiaku saat ini 18 tahun, aku lahir di jakarta dan tinggal di jakarta. Setelah tamat SMA aku merantau ke Jogja dan kuliah di sana.

Awal datang ke Jogja, Mas Rezalah yang membantuku. Dia yang membantuku mencari kos hingga mendaftarkanku kuliah yang sama tempat ia kuliah, bahkan aku mengambil jurusan yang sama seperti dirinya, katanya agar dia bisa mengawasiku, seperti pesan Mama untuknya.

Mas Reza ini adalah sepupuku, dia anak dari Om Derri, adik dari Mama.

Kalau di lihat dari penampilannya yang urak-urakkan, aku yakin kebanyakan orang akan mengira kalau dia anak yang nakal, pemalas dan tidak tau aturan. Tapi bagi yang sudah mengenal dirinya, mereka akan tau kalau sebenarnya dia orang yang sangat baik.

Walaupun sampai saat ini dia belum juga lulus, itu bukan karena dia anak bodoh, tapi melainkan karena dia sibuk bekerja sebagai marketing di salah satu perusahaan fainace di Jogja.

Katanya dia ingin hidup mandiri, dia tidak mau bergantung dengan kedua orang tuanya, walaupun orang Tua mas Reza bukan dari kalangan keluarga miskin.

Singkat cerita, ketika aku menjalani ospek, aku jatuh cinta dengan seseorang pemuda, namanya Jaka… Dia orangnya asyik, dan lucu walaupun dia bukan tipe pemuda yang peka dengan orang-orang yang ada di sekitarnya. Buktinya dia sering mengabaikanku, padahal aku sering sekali memberinya perhatian, dan membuat suasana romantis, ketika hanya ada aku dan dia.

Tapi sayang kecintaannya terhadap game sering sekali membuatku di abaikannya.

Contohnya saja saat aku mengajaknya main ke kos, bukannya mengambil kesempatan untuk merayuku, ee… dia malah sibuk dengan gamenya.

Tapi walaupun begitu aku tetap suka dia, kepolosannya membuatku jatuh cinta.

Berbagai cara aku lakukan untuk menarik perhatiannya, bahkan aku mulai mengarang cerita tentang kedekatanku dengan Mas Reza sepupuku sendiri, tentu saja aku berharap dia cemburu, dan segera menembakku.

Awal mula ide itu muncul, ketika dia melihatku berboncengan dengan mas Reza kekampus. Sesampainya di kampus, aku langsung kekantin, sementara Mas Reza menghadap dosen pembingbingnya, rencananya tahun ini Mas Reza ingin segera lulus.

Tak lama setelah aku duduk di kantin, Jaka datang dengan muka yang memerah.

“Tadi kamu kekampus bareng siapa ?” Katanya, saat itu dari nadanya, dia sangat marah sekali.

“Bareng Mas Reza, emangnya kenapa ?” Tanyaku, agak bingung melihat sikapnya yang biasanya tenang, tapi kali ini terlihat begitu gelisah.

“Kamu lupa ya ? Dia itu playboy di kampus ini. Cowok berengsek, entah sudah berapa banyak cewek yang patah hati karenanya.” Omelnya panjang lebar, sambil membuang muka.

Saat itu sempat terlintas ingin menjelaskan hubunganku dengan Mas Reza yang sebenarnya, tapi entah kenapa tiba-tiba saja ide itu muncul begitu saja. Aku berniat dengan meminjam nama Mas Reza, aku bisa membuatnya cemburu, dan menyadarkannya, agar segera bergerak cepat kalau memang dia juga menyukaiku.

Semenjak hari itu, aku sering sekali mengomporinya dengan cerita-ceritaku, tentang betapa aku sangat menyukainya.

Tapi sayang, dia tidak perna meresponnya, dia terlalu cuek, seolah bukan menjadi masalah besar baginya kalau aku jadian dengan Mas Reza.

Beberapa kali aku sempat ingin mundur mengejar cintanya, tapi kedua sahabatku Wulan dan Toni selalu memberiku semangat, bahkan Toni dengan blak-blakan mengatakan kepadaku kalau Jaka juga sangat mencintaiku.

Tapi sayang, ucapan mereka tidak sesuai dengan kenyataan, Jaka sama sekali tidak menunjukan gejala-gejala kalau dia juga suka denganku.

Hingga akhirnya, aku tak sengaja menceritakan Jaka kepada sepupuku mas Reza. Dia sempat menertawakanku, tapi melihatku yang mulai marah, akhirnya dia mulai bisa lebih serius.

Katanya untuk mengetahuinya, Jaka suka atau tidak denganku, kami harus benar-benar terlihat seperti orang yang sedang berpacaran.

Satu keputusan berat ku ambil, aku menyebarkan gosip di kalangan sahabatku, kalau aku benar-benar sudah jadian dengan Mas Reza, hingga gosip itu mampir ketelinganya Jaka. Saat itu Jaka memang memperlihatkan ketidak sukaannya, tapi itu lebih kearah rasa bencinya terhadap Mas Reza. Dan rencanakupun gagal total.

Seharian aku menangis di dalam kamarku, melihat reaksi Jaka yang seperti biasa-biasa saja saat mengetahui kalau aku sudah berpacaran dengan Mas Reza.

“Sudalah Nita… Mungkin dia memang bukan jodohmu” Ujar Mas Reza, saat itu aku menangis didalam pelukannya.

“Tapi… aku terlanjur menyukainya.”

“Mas tau, tapi cinta bukan untuk di paksakan Nit. Mas percaya, di luar sana masih banyak cowok yang lebih baik darinya, asal kamu mau membuka hatimu untuk pria lain selain pria bodoh itu.”

“Tapi… apa aku bisa Mas ?” Kataku ragu, jujur saja sepanjang hidupku aku baru dua kali merasakan jatuh cinta, dan yang kedua kalinya ini untuk Jaka.

“Mas akan membantumu.”

“Hik… hik… hik… terimakasi Mas ! Malam ini tolong temani aku ya Mas.” Pintaku, lalu kulingkarkan tanganku kepinggangnya, kupeluk erat tubuhnya.

“Iya, Mas janji akan selalu menjagamu.”

Lalu kurasakan tangan Mas Reza membelai punggungku, beberapa kali dia mengecup keningku, berusaha menenangkanku.

Entah kenapa rasa sakit yang kurasakan membuatku begitu rapuh, malam itu aku tidak menyadari kalau Mas Reza yang aku kenal begitu baik, ternyata memiliki maksud tertentu terhadap diriku.

Malam itu aku terbuai dengan belaiannya, hingga akhirnya aku tertidur begitu pulas di dalan pelukannya.

+++

Pov Reza

Kulihat Anita sudah tertidur lelap didalam pelukanku, hari ini dia begitu terpukul melihat reaksi Jaka yang sepertinya tidak perduli dengan hubungan kami, padahal aku tau dia sangat menyukai Anita, aku dapat melihat itu dari matanya.

Perlahan, aku tidurkan Anita diatas tempat tidurnya, cukup lama aku memandangi tubuh Anita yang di balut piayama. Dia terlihat begitu cantik dan sempurna.

Ddrrtt…ddrrrt…

Kulihat hpku bergetar, segera kuambil hpku dan ternyata ada bbm yang masuk.

Wulan : Gimana ?
Aku : Sukses besar…
Wulan : Hahaha, kamu memang playboy Reza, kamu hebat bisa membuat Anita patah hati.
Aku : Urusannya dengan Anita aman, sekarang giliran kamu untuk menghandle Jaka. Pokoknya kamu harus berhasil meyakinkan Jaka kalau Anita bukan wanita yang baik untuk dia.
Wulan : Beres Mas, aku juga gak mau kehilangan kesempatan bisa memiliki Jaka.

Setelah membaca bbm terakhir dari Wulan, aku tersenyum girang. Setidaknya, aku telah berhasil menyingkirkan penghalangku untuk mendapatkan cintanya Anita.

Kubelai pipinya Anita, sepertinya dia tidur dengan damai. Mulai sekarang, aku tidak akan perna melepaskan kamu lagi seperti dulu, saat aku harus terpaksa pergi jauh ke jogja hanya ingin melupakan kamu. Dan sekarang kamu datang lagi untukku dan aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan kali ini.

++++

Pov Wulan

Aku tak bisa menggambarkan betapa bahagianya aku saat mengetahui kalau Anita dan Jaka sudah nyaris tidak bisa bersatu lagi.

Ini adalah kesempatan bagus untukku merebut Jaka dari Anita. Akhirnya pengorbananku tidak sia-sia selama ini. Aku berharap, nantinya aku bisa memiliki Jaka seutuhnya, tidak hanya ada di dalam dunia hayalku saja.

Aku tidak tau mengapa, tapi saat pertama kali aku melihatnya ketika ospek, aku langsung jatuh hati kepadanya, melihatnya yang begitu berani menentang senior yang sedang menindas kami.

Aku masih ingat betul, di hari kedua ospek aku datang terlambat, saat itu aku dimarahi habis-habisan oleh senior, bahkan aku sampe di bentak-bentak dan di suruh pulang oleh mereka dan diancam untuk mengulang di tahun depan.

Tentu saja saat itu aku ketakuttan, bahkan aku sampai menangis sanking takutnya.

Bukannya merasa kasihan, mereka malah semakin membentakku, mengataiku dengan kata-kata yang pedas. Tapi untunglah, tiba-tiba saja dari barisan belakang, seseorang pemuda merengsek maju kedepan, dan dia dengan beraninya membelaku di hadapan para senior.

“Cukup… apa begini cara kalian memperkenalkan lingkungan kampus kepada kami.” Katanya, dia langsung berdiri di sampingku. “Kami datang kesini bukan untuk di tindas,.tapi untuk menuntut ilmu.” Lanjutnya.

“Siapa yang suruh kamu maju kedepan ?” Bentak seseorang panitia ospek kepada Jaka, tapi pemuda itu sama sekali tidak gentar untuk membelaku.

Jaka maju satu langkah, seolah menantang senior kami, lalu dengan suara yang keras penuh wibawa, dia berteriak nyaring di hadapan seluruh peserta ospek.

“Mau sampai kapan kalian diam ? kita memang mahasiswa baru di sini, dan kita memang memiliki kewajiban untuk mengikuti ospek. Tapi bukan berarti mereka, para senior kita berhak menindas kita, menghukum kita seperti narapidana.

“Saat ini di depan kalian, sahabat kalian di tindas, hanya gara-gara dia terlambat lima menit, dan kalian hanya diam. Mana rasa empati kalian, mana rasa persaudaraan kalian, mana… mana… ” Jaka terus berteriak walaupun beberapa senior memintanya untuk diam, tapi bukannya berhenti, ia malah semakin bersemangat.

Dia memukul dadanya dengan kencang hingga terdengar suara gemuruh, mengangkat tangannya hingga menunjuk kearah peserta lain.

“Kalau kalian menganggap semua yang ada di sini sebagai saudara seperjuangan, seharusnya kalian tidak hanya dia menonton saudara kalian di tindas.”

“Sekarang saya ingin bertanya kepada kalian ?” Lalu dia menarik tanganku hingga aku berdiri di sampingnya. “Apakah dia saudara kalian ?” Katanya lantang.

Sejenak suasana tampak hening, lalu salah satu dari mereka menjawab.

“Iya mereka saudaraku, dan seharusnya kita membela dia bukan hanya diam seperti seorang pengecut.” Sorak seorang pria, lalu di ikuti teriakan-teriakan yang lainnya.

“Ya… benar tu… ”

“Kalau dia ngulang tahun depan, kita juga harus mengulang tahun depan.”

“Bubarkan ospek.”

Suasana mendadak ramai, mereka saling sahut menyahut, menunjukan tidak kesukaan mereka terhadap panitia ospek yang di anggap otoriter. Sekali lagi kupandangi Jaka, dia terlihat begitu tenang.

“Hei, ada apa ini ribut-ribut.” Entah semenjak kapan, ketua panitia ospek sudah berada di depan melerai keributan. Anak-anak yang tadinya rame, mendadak sunyi.

“Maaf Mas, tapi saya menolak perlakuan kasar sampean dengan senior lainnya terhadap kami.” Ujar Jaka, dia sama sekali tidak gentar berhadapan dengan ketua panitia, yang saat itu aku tidak tau kalau namanya dia adalah Reza.

“Tapi, kamu tidak perlu membentak seniormu seperti itu dan menprovokator teman-temanmu. Kamu tau, kalau kami ini sebagai panitia capek mengurus kalian yang susah sekali untuk di atur, padahal ini semua demi kebaikan kalian sendiri.” Jelas Mas Reza panjang lebar saat itu dengan tatapan yang menyala.

“Tapi kami bukan binatang yang seenaknya saja kalian injak-injak. Saya sangat menghargai usaha kalian yang mau mengurus kami, tapi tolong hargai juga kami.”

Reza terdiam, mendengar penjelasan Jaka, lalu seorang panitia mendekat, dan menbisikkan sesuatu.

“Ya sudah, sekarang kamu ikut saya, kita bicara di tempat yang lain.” Ujar Reza, lalu dia berjalan lebih dulu menuju ruang kelas.

Aku sempat menahan Jaka saat dia hendak ingin menyusul Reza dan teman-temannya, tapi dia langsung menoleh kearahku, dan tersenyum. Tatapannya saat itu membuatku langsung jatuh cinta kepadanya.

Dan benar saja, tak lama kemudian dia kembali dalam keadaan baik-baik saja.

Sejak saat itu aku berusaha selalu agar bisa dekat dengannya, tapi hatiku hancur berkeping-keping saat tau kalau dia jatuh cinta kepada Anita. Tapi bukan Wulan namanya, kalau aku mudah menyerah. Aku memanfaatkan sahabatnya Toni dan aku mau menjadi pacarnya, agar aku bisa lebih dekat dengannya.

Aku berharap suatu hari nanti Jaka belajar mulai mengakui kehadiranku.

Tapi harapanku semakin jauh, hingga akhirnya aku bertemu dengan Reza yang ternyata juga suka dengan Anita. Aku dan dia sepakat untuk saling membantu agar kami bisa mendapatkan orang yang kami sukai.

+++

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*