Home » Cerita Seks Kakak Adik » Ini Tentang Aku 11

Ini Tentang Aku 11

Tak terasa dua minggu telah berlalu, dan saatnya untuk menikmati liburan tengah semester, walaupun hanya satu minggu. Selama satu minggu ini aku lebi banyak di rumah, bermain dengan Kak Zaskia dan Arumi. Mereka berdua silih berganti mengisi kekosonganku.

Selain mereka berdua, beberapa kali aku juga menjadikan Wulan sebagai pemuasku, aku sudah tidak perduli lagi dengan status Wulan yang sebagai pacarnya sahabatku.

Aku tau apa yang kulakukan selama ini salah, tapi aku bisa apa, ketika rasa sakit ini terus menggerogotiku tanpa ampun. Membuatku mulai benci menjadi pria baik-baik, karena dunia ini tidak adil, hanya pria bajingan yang bisa mendapatkan wanita manapun yang dia mau, seperti Reza yang dengan mudanya mendapatkan Anita tanpa harus bersusah paya.

Tapi apakah aku bisa menjadi seperti Reza ? Tentu tidak, walaupun aku juga tidak ingin menjadi Jaka yang baik, bukan berarti aku ingin menjadi pria bajingan.

Beberapa hari terakhir, aku di sibukan dengan membaca artikel yang mengupas tentang patah hati, di artikel tersebut di jelaskan bagaimana caranya agar bisa segera.’move on’ dari patah hati, salah satunya adalah memperbanyak kenalan, dan melakukan kegiatan positif yang selama ini jarang di lakukan.

Aku mulai berfikir ingin bergabung dengan salah satu organisasi kampus.

Sejenak aku kembali teringat dengan pertemuanku bersama Kak Melinda, sewaktu aku sedang belajar sendirian di kafe tempat biasa aku nongkrong. Siapa tau, dengan aktif berorganisasi aku bisa melupakan Anita dengan secara perlahan. Segera aku mengambil hpku dan segera menelponnya.

Aku : Halo, Assalamualaikum…
Melinda : Iya, waalaikum salam, ini siapa ya ?
Aku : Ini aku Jaka Kak, lagi sibuk gak sekarang ?
Melinda : Oh Jaka anak semester satu itu, gak begitu sibuk, cuman lagi santai aja di basecam. Gimana ujian semesternya ?
Aku : Pusing Kak, hahaha ! Oh iya Kak, kapan pendaftaran anggota baru di mulai ?
Melinda : Masuk kamu pendaftaran untuk latihan kader ?
Aku : Iya Kak.
Melinda : Kalau untuk jurusan kita sudah selesai, tapi kalau kamu mau, bisa nanti ikut jurusan lain. Kalau gak salah nanti pas awal masuk kuliah jurusan syaria, baru mau mulai latihan kadernya.
Aku : Tapi gak enaklah Kak.
Melinda : Gak apa-apa, nanti Kakak bantu ngurus daftarin kamu, gimana ? Anak-anak cewek syaria cantik-cantik loh (Ujarnya setengah menggodaku)
Aku : Haha… Kakak bisa aja ni, ya udah de Kak, nanti tolong di kabarin lagi kalau pedaftaran suda di buka.
Melinda : Oke, nanti Kakak kabarin.
Aku : Assalamualaikum Kak.
Melinda : Waalaikumsalam.

Lama-lama bosan juga di rumah, ada keinginan jalan keluar, tapi gak tau mau kemana, mau ajak Toni, aku masih merasa gak enak hati, bagaimanapun juga aku telah mengkhianati persahabatan kami, walaupun dia belum tau apa yang sudah kulakukan bersama Wulan di belakangnya.

Sudalah, mending aku keluar menyewa komik,.siapa tau ada komik keluaran baru.

Aku segera bangkit dari tempat tidurku, lalu keluar kamar dan hendak menuju pintu depan. Tapi langkahku terhenti ketika seseorang memanggilku, aku menoleh kebelakang dan ternya Tante Tia yang memanggilku barusan.

“Jaka, kamu mau kemana ? Lagi gak sibukkan ?”

“Mau keluar Tan, nyewa komik. Emangnya ada apa Tan ?” Jawabku, biasanya kalau dia bicara begitu artinya dia ingin meminta tolong sesuatu kepadaku.

“Kamu bisakan temenin Tante senam ?”

“Senam ?” Tanyaku seperti orang bodoh.

“Iya senam Jaka, kamu kan tau kalau hari minggu adalah jadwal senam Tante.” Jelasnya, tapi jujur aku tidak tau kalau sekarang ini Tante Tia mulai suka ikut senam, karena seingatku biasanya kalau hari minggu Tante Tia lebih sering shoping atau ikut arisan Ibu-ibu.

“Bisa kok Tan, aku juga sedang lagi gak ada kesibukan kok.” Ujarku, seraya tersenyum kepadanya.

“Ya sudah Tante, ambil baju gantinya dulu.” Aku mengangguk, lalu dia berlalu dari hadapanku menuju kamarnya.

Tidak lama kemudian, dia kembali sambil menenteng tas, dia menyerahkan kunci mobilnya kepadaku. Dengan senang hati aku menerimanya. Sudah lama sekali aku tidak kenyetir mobil, seingatku terakhir aku membawa mobil saat kelulusan SMA kemarin.

++++

Perlahan mobil honda jaz milik Tante Tia yang aku kendarai berjalan perlahan, melintasi jalan raya yang hari ini tampak lenggang. Tidak butuh waktu lama, kami memasuki perumahan elite di daerah jalan kaliurang, dan berhenti di sebuah rumah yang menurutku cukup mewah.

Setelah memarkirkan mobil, aku segera menyusul Tante Tia kedalam rumah tersebut.

“Siapa tu ? berondong baru ya ?” Baru saja masuk, aku sudah mendapat tuduhan seperti itu oleh seseorang wanita paruh baya yang kutaksir umurnya berusia 40 tahunan.

“Sembarangan, dia keponakanku.” Jawab Tante Tia.

“Keponakan juga bisa kok, di jadiin simpanan.” Timpal salah satu yang lainnya. “Oh iya nama kamu siapa ? Kalau saya, panggil saja Tante Amel.” Dia menyodorkan tangannya, dan aku langsung menyambutnya.

“Jaka Tante.” Ujarku sembari tersenyum.

“Yang ini namanya Tante Yuli.” Kini giliran Tante Tia yang bersuara dan memperkenalkanku dengan Tante Yuli, aku kembali bersalaman.

“Udah yuk, senamnya kita mulai sekarang saja.” Ajak Tante Amel.

Lalu aku dan bersama ketiga Tante tersebut masuk kedalam sebuah ruangan yang cukup besar, aku duduk di kursi panjang, sementara mereka memasuki ruang lain yang ada di dalam ruangan terabut. Tak lama kemudian mereka bertiga keluar hanya dengan mengenakan pakaian senam, hotspan pendek dan kaos senam yang sangat ketat memeluk tubuh mereka.

Kulihat Tante Yuli yang memimpin, mereka mulai pemenasan sebelum memulai gerakan senam. Setelah sepuluh menit kemudian mereka baru mulai melakukan gerakan senam, yang menurutku cukup membuat lelaki manapun yang melihatnya akan sangat terangsang, walaupun gerakan yang mereka lakukan sedikit ngasal.

Mereka ini sedang senam, atau hanya sekedar menggerakan badan.

“Eheem… kok senam gitu Tante.” Akhirnya, aku gatal juga ingin mengomentari gerakan senam mereka yang menurutku sembarangan.

“Emang harus gimana Jak.” Tanya Tante Yuli.

“Kalau kamu bisa, tolong ajarin dong, selama ini kami senam sesuka hati kami saja, mau ikut senam beneran malu.” Timpal Tante Amel, jujur diantara mereka Tante Amel yang paling seksi.

“Udah gak usah banyak mikir, kamu di depan.” Paksa Tante Tia.

“Bukannya gak mau Tan, tapi aku gak bawak pakaian training, masak senam pake celana jeans gini.” Kataku beralasan kepada mereka.

“Ya sayang banget.” Ujar Tante Amel tampak kecewa.

Aku jadi sedikit menyesal karena sempat mengomentari gerakan senam mereka, seandai saja tadi aku hanya diam dan membiarkan mereka senam sesuka hatinya, aku tidak perlu merasa bersalah seperti ini.

“Kalau aku pake boxer aja gak apa-apakan.” Entah ide dari mana datangnya ini, tapi aku sudah terlanjur mengatakannya dan tidak mungking menariknya kembali.

Mereka bertiga saling berpandangan dan tersenyum. “Setuju… ” Kata mereka berbarengan.

+++

Rasanya aneh, aku berdiri didepan berhadapan mereka hanya mengenakan celana boxer dan kaos. Tapi mau bagaimana lagi, aku yang memulainya jadi aku juga yang harus mengakhirinya.

Sesekali aku memandangi mereka, tampaknya mereka sangat senang sekali melihatku yang tersiksa dengan pekaianku saat ini.

“Kita mulai ya Tan” Kataku, berusaha menahan malu.

Aku memulai gerakan pertama dengan gerakan marching, jalan di tempat dengan mengangkat kaki kira-kira setinggi betis, lutut di tekuk 90 derajat. Sambil melakukan gerakan marching, aku memperhatikan mereka satu persatu, kulihat Tante Amel yang paling bersemangat, hingga lututnya terangkat sangat tinggi, membuat lipatan di selangkangannya terlihat jelas.

Setelah masuk di hitungan kedelapan, aku menggantinya dengan gerakan lain yaitu kicking, Gerakan mengayunkan tungkai ke depan atau ke samping dalam keadaan lurus setinggi pingggang atau lebih.

Dan kemudian di lanjutkan dengan gerakan-gerakan ringan lainnya.

Aku mulai masuk kegerakan inti, kuangkat lututku kedepan, lalu kutahan dengan kedua tanganku, kulihat mereka tanpak kesulitan dengan berdiri satu kaki.

Sambil cikikikan, tubuh mereka bergoyang menyenggol satu sama yang lainnya, hingga Tante Yuli yang berada paling samping terjatuh. Tante Nyuli meringis sambil tertawa ringan. Ternyata tidak muda mengajak mereka untuk sedikit lebih serius.

Aku menurunkan kakiku, lalu menghampiri Tante Amel, aku berdiri di belakangnya dan memberi petunjuk gerakan yang benar. Tubuhnya bersandar di tubuhku, sementara aku menahan lututnya dari belakang.

Posisiku saat ini membuat sang jendral menempel erat di pinggangnya.

“Tahan ya Tante… ” Kataku, dia tersenyum penuh arti kepadaku.

“Terus gimana lagi ?” Tanyanya, sambil bergoyang sedikit-sedikit, menggesek-gesek sang jendral. Sial, gerakannya membuat sang jendral bangun.

“Gi… gitu aja Tante.” Kataku, lalu beralih ke yang lainnya.

Tak terasa waktu terus berjalan, dan hampir satu jam aku mengajarkan mereka gerakan senam yang benar. Seharusnya senam ini bisa selesai hanya dalam waktu setengah jam saja, tapi karena harus membantu mereka, hingga akhirnya aku membutuhkan waktu yang lebi lama.

Akhirnya aku tiba pada gerakan pendingin, aku membungkuk, lalu kedua tangan terkulur kebawah, dan kepala mengada kedepan. Aku yang berada didepan mereka dalam posisi berhadapan, membuatku begitu leluasa memandangi payudarah mereka bertiga. Dan harus kuakui payudarah Tante Tia yang paling besar, mungkin ukurannya 34 D.

“Kepala di tekuk kekiri, tangan kiri memegang kuping kanan, lalu sedikit di tarik. Satu… dua… tiga… empat… lima… enam… tujuh… delapan… selesai.” Kataku, mengakhiri senam hari ini.

+++

Aku duduk di ruang tamu, sambil menunggu Tante Tia selesai mengganti pakaian. Aku kembali teringat bagaimana susahnya mengajari mereka gerakan-gerakan senam yang benar, walaupun beberapa kali aku juga mendapat keuntungan dari mereka.

Tak lama kemudian, Tante Tia keluar dari ruangan senam, kali ini tampilannya sangat berbeda dari sebelumnya. Dia mengenakan kerudung dan gamis berwarna biru langit. Lalu di susul yang lainnya.

“Lama ya ?” Tanya Tante Tia, lalu duduk disampingku.

“Lumayanlah Tan.” Jawabku, sedikit memperlihatkan kejengkelanku karena harus menunggunya cukup lama. Entah apa yang mereka lakukan sehingga butuh waktu lama hanya sekedar untuk mengganti pakaian.

“Mau tau aja urusan perempun.” Celetuk Tante Yuli.

“Oh iya Jak, kamukan tau kalau kami gak punya pelatih senam. Jadi kami memutaskan kalau mulai saat ini kamu kami angkat sebagai pelatih senam kami.” Eeh… dengan seenaknya saja Tante Tia memutuskanku sebagai pelatih baru mereka.

“Kamu tenang saja, ini gak gratis kok. Kamu akan kami bayar.” Timpal Tante Amel, tanpa memberiku kesempatan untuk menjawab.

“Tolong ya Jak.” Tante Yuli berjongkok didepanku, lalu memegang tanganku dengan tatapan memelas.

Sial mereka sengaja membujukku sambil menggodaku, Tante Yuli yang mengenakan mini dress, ketika berjongkok ia sengaja memamerkan sepasang paha mulusnya, sehingga mataku dapat menangkap g-string merah yang ia kenakan.

Sementara Tante Amel, sedikit membungkuk, mempertontonkan payudarahnya di hadapanku.

Entah kenapa, aku kembali teringat dengan artikel yang kubaca beberapa hari ini. Di dalam artikel itu tertulis, kalau ingin melupakan wanita yang kita suka, salah satu caranya dengan melipat gandakan wanita di dalam kehidupan kita.

Dan sekarang, kedua wanital milf ini menawarkan diri untuk menjadi teman dekatku.

“Baiklah kalau kalian memaksa.” Aku menghela nafas pendek, sambil melihat kearah Tia. Wanita paruh baya itu tersenyum senang mendengar jawabanku.

“Terimakasi ya Jaka.” Ujar Tante Tia, lalu dia mengecup pipiku. Aku terdiam sejenak, baru kali ini Tante Tia mau mencium pipiku.

Dan kemudian mereka berdua bergantian mencium pipiku, aku senang tapi malu mendapat perlakuan special dari mereka.

Sebelum pulang kami mengobrol sejenak, mereka menawarkanku gaji yang ternyata cukup besar untukku, mereka berjanji akan menggajiku tiga juta rupiah setiap bulannya. Tentu uang itu cukup besar untukku mengingat uang jajanku sebulan yang tak lebih hanya satu juta.

Matahari perlahan mulai tenggalam, Tante segera mengajakku pulang, dan aku setuju dengan usulnya. Kami berpamitan, dan tak lama mobil honda jaz yang kukendarai perlahan bergerak meninggalkan rumah Tante Amel.

+++

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*