Home » Cerita Seks Kakak Adik » Ini Tentang Aku 10

Ini Tentang Aku 10

SEPULUH

Akhirnya aku tiba di kossannya Wulan, setelah menempuh jarak hampir satu jam berjalan kaki. Aku tiba dalam keadaan tubuh basah kuyup di guyur hujan, setibanya aku langsung mengetuk pintu kamar Wulan yang tampak sepi, bahkan lampu kamarnya dalam keadaan mati, beberapa kali kucoba untuk menggedor pintu kamarnya, tapi tetap tidak ada jawaban.

Kulihat jam di hpku, ternyata sudah jam sembilan malam,.sepertinya aku datang terlambat, mungkin saja Wulan sedang keluar bersama Toni, atau bisa jadi dia sudah tidur karena terlalu lama menungguku.

Aku duduk bersandar di kursi kayu yang ada di depan kamarnya, kulihat ada beberapa bbm yang masuk ke hpku, segera kulihat siapa saja yang mengirim pesan untukku.

Anita : Ping.
Anita : Ping
Anita : Ping
Anita : Kok pulang gak pamit lagi, padahal tadi niatnya aku mau nganterin kamu.
Aniya : Ping
Anita : Kamu di mana sekarang biar kususul ya.

Anita, ternyata dia yang ngebbmku beberapa kali. Aku marah ? ya… tapi apa hakku marah dengannya, dia tidak salah, tapi aku yang salah, aku terlalu mengharapkannya yang jelas-jelas tidak sayang kepadaku.

Sekarang sedang apa dia ? Mungkin dia lagi menghabiskan malam bersama Reza.

Aku menghela nafas panjang, dan segera beranjak dari kursi tempat aku duduki barusan. Lebih baik sekarang aku pulang, menenangkan diri di rumah.

Kreek…

“Jakaa… Astagaa, kamu kehujanan ?” Aku menoleh kebelakang, ternyata Wulan yang baru saja membukakan pintu kamarnya.

“Aku telat ya ?”

“Ayo kamu masuk dulu, udah tau hujan masih nekat kesini, kalau kamu sakit gimana ? lain kali kalau kamu mau ke sini gak bawak kendaraan, mending kamu hubungi aku biar aku jemput.” Malam ini sepertinya dia lebih bawel dari sebelumnya.

Aku masuk kedalam kamarmya, lalu duduk menyandar di dinding kamarnya. Kulihat Wulan tampak sibuk membongkar lemarinya, lalu tiba-tiba saja dia melemparkanku pakaian.

“Itu punya Toni, sepertinya muat untuk kamu pakai, dan ini handuk, kamu taukan kamar mandi ?” Ujarnya, aku mengangguk, walaupun aku segan harus mengenakan pakaian Toni.

Aku segera kekamar mandi yang ada di paling pojok kossannya, sejenak aku mebasuh tubuhku dengan air, lalu segera mengeringkannya dengan handuk pemberian Wulan. Setelah mengenakan pakaian yang di berikan Wulan, aku segera kembali kekamarnya.

Sekembalinya di kamar Wulan, dia ternyata sudah membuatkanku secangkir kopi hitam. Seandainya saja dia adalah Anita, mungkin aku tidak akan sesedih ini. Ah… lagi-lagi Anita, kenapa aku begitu bodoh.

“Terimakasih ya.” Kataku, lalu kuminum kopinya, rasanya hangat, manis dan pahit. Kira-kira begitulah kehidupanku saat ini.

“Tadi kamu dari rumah langsung kesini ya ?”

“Enggak, tadi aku kekossannya Anita dulu, rencananya tadi aku mau mengajak dia, tapi sayang dianya gak mau. Oh iya, Toni tadi kesini ?”

“Gak jadi, katanya hujan.”

“Dasar, anak itu pemalasnya sudah akut.” Jawabku asal, lalu kukeluarkan sebungkus rokok soempurna dengan tangan gemetar karena kedinginan, dan aku mengambil sebatang sokok untuk kunikmati.

“Tumben Anita gak mau, emang dia lagi sibuk apa ?” Tanyanya, lalu kehembuskan asap rokok ke langit-langit kamarnya.

Sebenarnya aku malas untuk menjawab pertanyaan Wulan, mendengar namanya saja sudah begitu menyakitkan, apa lagi kalau harus mengingat kejadian tadi, tapi kalau aku diam, tidak enak juga.

“Dia lagi sibuk dengan pacarnya.” Kataku datar, sial hatiku terasa kembali di tusuk.

Wulan diam sejenak, dia menatapku prihatin, lalu dia pindah duduk di sampingku, dan seperti biasanya, dia selalu bertindak berlebihan menurutku. Dia meraih tanganku dan menggenggamnya, sebenarnya aku ingin menarik tanganku, tapi mengingat usahanya ingin menghiburku, kuurungkan niatku.

Cukup lama.kami berdiam, hingga akhirnya kurasakan kepalanya bersandar di pundakku.

“Kenapa ?”

“Aku tau kamu sangat mencintai Anita, pasti rasanya sakit melihat orang yang kita suka lebih memilih orang lain. Aku perna merasakannya Jaka.” Dia kembali mengangkat kepalanya, lalu menatapku.

“Sudalah, aku baik-baik saja.”

“Gak perlu berbohong, mungkin aku tidak bisa membantumu mendapatkan Anita, tapi setidaknya aku bisa menjadi pendengar yang baik untukmu.”

“Terimakasi Lan, tapi… ” Tiba-tiba jari telunjuknya sudah menempel di bibirku.

“Ceritakanlah, aku mohon.”

Aku diam sejenak, kupandangi Wulan dari atas hingga kebawah. Dia terlihat begitu cantik malam ini, gaun tidurnya yang tipis agak menerawang, dan seperti biasanya Wulan tidak mengenakan bra, sehingga puttingnya ngejiplak.

Aku tau dia pacarnya sahabatku, tapi saat ini aku butuh dia untuk menumpahkan semua emosiku.

Kubelai lembut punggung tangannya, sementara mataku tak henti-hentinya memandangi payudarahnya. Sadar sedang di perhatikan, Wulan malah menegakkan punggungnya, sehingga dadanya semakin membusung. Aku tersenyum, karena aku tau dari kemarin dia memang selalu berusaha menggodaku.

“Baiklah, aku akan cerita.”

“Na gitu dong, aku ingin mendengarnya.” Katanya riang, lalu bergeser menghadapku, tapi tetap berada di sampingku. Entah kenapa aku jadi merasa deg-degkan berada di dekatnya.

Aku berusaha tersenyum walaupun sakit, dan setelah itu aku mulai menceritakan betapa besarnya cintaku untuk Anita, perjuangkanku selama ini untuk mendapatkannya, hingga akhirnya aku harus menerima kalau Anita sekarang sudah menjadi milik orang lain, aku memberi tahunya betapa besar rasa kecewaku saat tau kalau Reza yang menjadi pilihannya.

Tak sadar aku mulai menangis, dan baru kali ini aku menangis di hadapan orang lain.

Aku hanya diam ketika dia menarik diriku kedalam pangkuanku, dia merebahkan kepalaku diatas pahanya, lalu kurasakan belain lembut penuh kasih sayang di kepalaku. Tak sadar aku mulai terbuai kasih sayangnya, aku mulai lupa kalau orang yang ada didepanku saat ini adalah pacar sahabatku sendiri.

Wulan sedikit merunduk, aku dapat melihat belahan dadanya, lalu dia semakin merunduk dan tiba-tiba saja bibirnya sudah menyentuh bibirku. Bibirnya terasa begitu lembut, dan membuatku merasa semakin nyaman.

“Sabar ya Jaka, aku mengerti kamu sangat marah.” Bisiknya, setelah melepas bibirnya dari bibirku. Aku hanya diam sambil memejamkan mataku.

Entah kenapa perlahan mataku mulai terasa berat, belaian lembut Wulan membuatku sedikit tenang, tangisku mulai mereda, dan beberapa menit kemudian aku benar-benar tertidur di pangkuannya.

***

Aku terbangun ketika cahaya matahari masuk dari sela-sela hordeng kamar Wulan yang sedikit terbuka. Kukijapkan mataku, menghilangkan rasa kantuk yang menggangku.

Kulihat Wulan sedang duduk sambil menonton televisi, sepertinya dia baru selesai mandi, karena rambutnya yang terlihat semakin basah.

“Maaf semalam aku ketiduran.” Kataku dengan suara agak serak, ciri khas orang yang baru saja bangun tidur.

“Kamu sudah bangun, gak apa-apa kok. Aku senang kamu mau tidur di kamarku. Oh iya, kamu mandi aja dulu, baju kamu semalam sudah aku keringin. Masih agak lembab, tapi sudah bisa di pake kok.” Jelasnya, lalu bergeser mendekatiku.

“Terimakasi ya. Jadwal ujian kita hari ini jam berapa ?” Tanyaku, sambil menatap wajahnya. Sial, dia sangat manis sekali.

“Gak perlu berterimakasi. Oh iya, kita ujianya jam 11, masih lama kok, sekarang baru jam 7. Sekarang kamu mandi aja dulu ya, berangkat ke kampusnya dari sini aja.” Katanya, aku mengangguk, lalu mengambil handuk yang dia berikan kepadaku.

Aku masuk kedalam kamar mandi, dan mulai membasuh tubuhku, selesai mandi dan berganti pakaian, aku kembali kekamarnya. Kulihat Wulan sedang menyiapkan sarapan untuk kami berdua. Sungguh beruntung Toni, punya pacar begitu baik seperti Wulan.

Aku segera duduk disamping Wulan, lalu tanpa berkata apapun dia memberiku sepiring bubur ayam. Aku dan Wulan dengan lahap mengahabiskan sarapan kami.

Selesai sarapan, kami duduk santai sambil menonton televisi, sesekali kami mengobrol ringan dan tertawa.

“Bagaimana perasaan kamu sekarang.” Tiba-tiba tangannya meraih tanganku, dia menggenggam erat tanganku sambil menatapku seraya tersenyum manis.

“Udah mendingan, ini berkat kamu, terimakasi ya semalam sudah mau menemaniku. Tapi… soal semalam, jangan bilang siapa-siapa ya, aku malu.” Kataku, mengingat bagaimana aku menangis di pangkuannya semalaman hingga akhirnya aku tertidur.

“Hahaha… kasih tau gak ya ?”

“Eehmm… jadi gitu ya.” Kataku pura-pura ngambek.

“Tapi semalam kamu lucu loh, sampe nangis-nangis begitu.” Ledeknya, sambil mendekatkan wajahnya ke wajahku, bahkan kami terlalu dekat menurutku.

Tak sadar naluriku malah membimbingku untuk mencium bibirnya. Wulan tampak kaget saat aku melumat bibirnya, tapi sedetik kemudian dia memejamkan matanya, membiarkan aku menikmati bibirnya.

Kedua tangan Wulan dengan cepat membuka bajuku, lalu dia merogoh celanaku dan langsung membelai sang jendral dari dalam celanaku. Segera aku membantunya dengan membuka celanaku hingga aku telanjang bulat di hadapannya. Wulan tersenyum senang melihat penisku.

“Kamu suka ?” Tanyaku.

“Iya, aku suka kontol Jaka, bentuknya besar dan berurat.” Ujarnya girang, lalu dia merunduk menciumi sekujur penisku, dia mengulum dengan penuh semangat hingga penisku bermandikan air liurnya.

Lidahnya menari-nari, sementara tangannya yang lembut dengan cepat mengocok penisku. Aku tidak mau tinggal diam, kuraih payudarahnya lalu keremas kasar dari luar kaos yang dia kenakan. Uhgkk… rasanya enak sekali, kulumannya tidak kalah dengan Kak Zaskia.

“Kamu telanjang juga dong.” Pintaku, karena aku sudah ingin melihat tubuh telanjangnya.

Wulan segera membuka kaosnya, lalu melepas branya hingga payudarahnya melompat keluar. Lalu setelah itu dia menarik lepas celana pendeknya dan celana dalamnya, hingga ia kini sempurna telanjang bulat di depanku.

Aku tidur terlentang, lalu kuminta dia mengangkangi wajahku, aku ingin menggunakan gaya 69 dengannya. Segera Wulan mengarahkan vaginanya di hadapanku.

“Uhkkk… enaak !” Rintihnya ketika aku mulai menjilati bibir vaginanya.

Wulan juga tidak mau kalah, dia kembali mengulum batang kemaluanku dengan lahap. Dia hisap dan dia putar-putar lidahnya, sementara tangannya sibuk memainkan kantung pelirku.

Akupun semakin bersemangat, lidahku menari-nari di bibir vaginanya, clitorisnya kuhisap dan anusnya kubelai dengan jari telunjukku. Tubuh Wulan semakin menggelinjang, sepertinya dia suka dengan caraku mempermainkan tubuhnya.

“Aku sudah kepingin, masukin sekarang ya.” Pinta Wulan, lalu dia langsung berdiri dang mengubah posisinya.

Aku tetap di posisiku, terlentang sambil melihat Wulan yang sedang berusaha mendudukki penisku. Dia tersenyum manis, lalu mengarahkan batangku masuk kedalam vaginanya.

“Aagkk… ” Aku melenguh pelan, menikmati setiap gesekan batang penisku dengan dinding vagina Wulan yang berlendir dan terasa begitu hangat.

Aku kembali meraih payudarahnya, kuremas dan kupilin puttingnya. Sementara Wulan segera menggoyang pinggulnya naik turun di atas pangkuanku. Akhirnya hal yang tidak kuinginkan terjadi juga. Aku menyetubuhi pacar sahabatku sendiri.

“Gilaaa… kontol kamu besar banget Jak, memekku rasanya penuh banget.” Rengeeknya sambil menunggangiku seperti joki kuda yang handal.

“Sekarang aku milikmu, nikmatin saja.” Kataku, sambil meremas-remas kedua pahanya.

Sepuluh menit kemudian, aku memintanya berganti gaya. Kusuruh dia menungging, lalu dari belakang aku bersiap ingin melesatkan penisku di vaginanya, tapi niat itu terhenti saat melihat anus Wulan. Kuperhatikan lobang anusnya sedikit lebar.

Aku curiga jangan-jangan Wulan sudah terbiasa di anal, karena lobangnya yang tidak tertutup rapat seperti biasa.

“Lan, kamu suka anal ?” Tanyaku.

“Iya Jak, kamu mau melakukannya denganku.” Jawabnya, sambil membuka pipi pantatnya dengan tangan kanannya sehingga aku dapat melihat lebih jelas lobang anusnya yang menurutku sangat menggairahkan.

Tanpa perlu menjawabnya lagi, kuarahkan batang kemaluanku kedinding anusnya. Lalu dengan perlahan kutekan penisku hingga masuk inci demi inci kedalam lobang anusnya, dan rasanya sangat enak sekali, bahkan jauh lebih enak anusnya ketimbang lobang vaginanya yang menirutku lebih longgar.

Aku menusuk anusnya dengan ritme perlahan tapi menghentak, membuat tubuh Wulan sesekali terdorong kedepan sanking kuatnya.

Melihat Wulan tersiksa aku semakin bersemangat menghujami anusnya. Sesekali aku menampar kasar pantatnya hingga memerah, dan sepertinya Wulan suka perlakuan kasarku kepadanya.

“Kamu sudah biasa di anal ya ?” Tanyaku, sambil memompanya.

“Iya… Aahkk… ahkk… enaak Jak, penis kamu enak bangeeet… aku sukaaa… aahkk… ahkk… ”

“Gilaa… aku gak menyangkah kamu bisa sebinal ini. Beruntung Toni bisa sering ngentotin anus kamu yang enak ini.” Pujiku, sambil melihat kearah penisku yang keluar masuk dengan mulus kedalam anusnya.

Kucabut penisku dari dalam anusnya, kupikir sensasinya akan lebi terasa kalau aku mendominasinya dengan menyodok vaginanya. Aku meminta Wulan terlentang, lalu aku segera menindihnya dan membenamkan penisku kedalam vaginanya.

Wulan kembali merintih nikmat ketika sang Jendral mengaduk-aduk vaginanya.

“Aku mau sampai… ” Erangnya, dia mencengkram erat lenganku, hingga kukunya menancap di lenganku.

“Puaskan dirimu Wulan.” Bisikku.

“Aahkkk… aku dapaaat Jak, kamuuu hebaaat.” Erangnya, lalu kurasakan lendirnya semakin memenuhi batang penisnyaku yang tertancap di vaginanya.

Aku sendiri juga sudah tidak tahan dan ingin segera menumpahkan milyaran spermaku kedalam tubuhnya, tapi aku ingin merasakan yang beda dari biasanya, aku mau menyirami anusnya dengan spermaku. Kuangkat kedua kakinya, lalu kusandarkan di dadaku.

Perlahan kembali aku menyetubuhi anusnya. Kukocok cepat anusnya hingga terdengar suara merdu ketika kedua pahaku menubruk pantatnya.

“Apa Toni perna mengarasiin anus kamu ?” Tanyaku.

Dia menggeleng cepat, “Gak… dia belom perna merasakan anusku… Aahkk… aahkk… dulu yang pertama mantanku, dia suka sama anusku, dan yang kedua kamu, aku harap kamu juga suka anusku.” Erang Wulan, menikmati setiap hentakanku.

“Aku juga suka anusmu.”

“Kalau begitu, nikmatilah… ” Ujarnya, lalu mengalungkan tanganya di leherku.

Kebuka kedua kakinya sehingga aku bisa masuk kedalam tubuhnya, dan aku mulai melumat bibirnya, kurasakan dorongan yang kuat di ujung penisku, aku sudah tidak tahan lagi, aku semakin cepat mengeluarkan masuk penisku kedalam anusnya.

Dengan satu kali dorongan, kumuntahkan miliyaran spermaku kedalam anusnya. Akhirnya aku bisa orgasme dengan menikmati anusnya.

“Aku keluarr… ” Rintihku pelan.

Lalu perlahan kucabut penisku dari dalam anusnya, kulihat dari lobang yang menjanjikan sejuta kenikmatan itu memuntahkan sisa-sisa spermaku.

+++

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*