Home » Cerita Seks Mama Anak » Wild Love 51

Wild Love 51

Malam ini setelah semua petualangan dengan koplak dengan pimpinan anton telah selesai. Pak wan mengantar aku dan eri dengan taksinya, sedangkan anton dan wongso masing-masing menggunakan motor sendiri-sendiri. setelah sampai dirumah tante asih, anton memberikan motornya kepadaku dan dia pergi bersama wongso. Sedangkan aku mengantar eri kedalam dan coba menenangkan atas semua yang telah terjadi. Tapi terjad sesuatu yang mengejutkan tapi mau tidak mau aku harus bertahan, ada dian disana…

ÔÇ£Rino…ÔÇØ ucapku lirih

ÔÇ£Eh…ÔÇØ Eri tampak terkejut ketika mendengar nama itu

Tubuhnya beringsut turun dan terduduk di lantai bawah kasur. Dipeluknya kedua kaki yang tertekuk dan disembunyikannya wajah itu didalam pelukannya. Terdengar isak tangis dari dalam wajah yang terbenam itu. malam yang semakin larut, membuat isak tangisnya terdengar semakin jelas.

ÔÇ£Rino… hiks hiks hiks…ÔÇØ

ÔÇ£Maafkan aku ar… Eri janji hiks hiks hiks akan jadi adik yang baik hiks hiks hiksÔÇØ ucapnya, aku beringsut dan duduk disampingya

ÔÇ£jadikan dia yang pertama, sejak KKN, dialah orang yang paling perhatian dengan kamu. dibandingkan dengan aku, aku hanya lelaki yang numpang mampir tidak pantas mendapatkan yang pertama dari kamuÔÇØ

ÔÇ£Aku sudah memiliki tambatan hati, jadi aku mohon agar kamu bisa mengerti akan hal itu. aku sudah terlalu jauh saat itu dengannya, sekarang dia sudah berada didalam lingkaranku, aku tidak ingin dia jauh lagi. Aku tidak ingin melakukan kesalahan lagi, hanya itu…ÔÇØ ucapku, walau dalam bathinku selalu teringat akan kata-kata ibu ketika aku mencari dian

ÔÇ£maafkan aku hiks hiks hiksÔÇØ ucapnya yang kemudian memelukku

ÔÇ£Kamu tahu Ar, dian sangat beruntung memilikimu hiks hiks hiks hiksÔÇØ ucapnya

ÔÇ£Rino juga beruntung memilikimu, jangan pernah sekali-kali kamu melihat keindahan orang lain dan kemudian memandang keindahanmu berada di bawah mereka. karena kebahagiaan orang lain itu hanya sebatas pandangan saja. Karena yang menjalani hidup mereka bukan kita, jadi mungkin saja yang kita lihat tidak seperti yang mereka alami. Bersyukurlah atas kebahagianmu sendiriÔÇØ

ÔÇ£jika kamu melihatku beruntung, itu sangat bodoh… kamu tahu sendiri bagaimana Ayahku… aku yakin rani telah bercerita banyak tentang aku dan Ayahku… haaaaah…ÔÇØ ucapku diakhiri desahan berbarengan dengan tubuhku yang bersandar pada kasur

ÔÇ£Ingatlah er, buatlah kebahagiaanmu sendiri dengan rino. Karena aku yakin dia telah banyak berkorban seperti halnya anta kepada rani. Bersembunyilah dan aku akan menyelesaikan semuanya bersama sahabat-sahabatku. Dan ingat jangan pernah bertindak bodoh, jika kamu ingin rino yang pertama maka kamu harus menjaganya. Aku tahu rino pasti juga akan memberikan yang pertama kepada kamuÔÇØ ucapku

ÔÇ£Maafkan eri… maafkan eri hiks hiks hiks hiks hiks…ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£Ar hiks hiks…ÔÇØ ucapnya kembali

ÔÇ£ya…ÔÇØ ucapku sambil mengelus-elus kepalanya

ÔÇ£apakah eri masih bisa jadi adik kamu? hiks hiks hiskÔÇØ ucapnya lirih

ÔÇ£tentu adik manis, Ibuku pasti senang karena aku memiliki banyak adik. Ibuku juga ingin punya anak cewek lho…ÔÇØ ucapku, dia tersenyum dan kemudian memelukku

ÔÇ£terima kasih kakak, terima kasih… tapi aku ingin panggil kamu mamas saja yaÔÇØ ucapnya

ÔÇ£eh… terserah deh, asal jangan panggil om saja nanti dikira om-om gatel he he heÔÇØ candaku

ÔÇ£heÔÇÖem makasih mamasku yang ganteng…ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£mamas, jangan bilang sama rino atas kejadian malam ini ya, eri jadi malu kalau inget…ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£ya ndak lah, rino kan sahabat mamasÔÇØ ucapku

Dalam hening aku memeluknya sebagai seorang adik tentunya, dan akan kuceritakan semua kepada dian. Dialah sekarang pelabuhan terakhirku, dan dipelabuhan itulah aku akan mendirikan sebuah bangunan-bangunan permanen dan menetap didalamnya. Tak ingin lagi aku berlayar, tapi semua itu tergantung pada ibu. ahhh…. ibu, aku harap aku bisa menyelesaikannya agar semuanya segera berakhir.

ÔÇ£mamas…ÔÇØ ucapnya kembali memecah keheningan

ÔÇ£hemmmm….ÔÇØ balasku

ÔÇ£jika bertemu dengan rino, katakan pada dia aku baik-baik saja. Terakhir kali dia bertemu denganku, dia dihajar oleh anak buah ayah. Eri yakin rino adalah laki-laki yang baik, tapi eri tidak tahu setelah kejadian itu apakah rino masih memiliki perasaan yang sama pada eri. Karena eri sempat marah-marah ke rino waktu ituÔÇØ ucapnya

ÔÇ£ouwh… kenapa tidak ditelepon dan bercerita sebenarnya?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£eri malu mamaaaaas…ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£ya deh, besok tak carinya anak ituÔÇØ ucapku

ÔÇ£ya sudah, mamas mau ketemu sama teman-teman mamas dulu ya?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£mamas, hati-hati…ÔÇØ ucapku

Eri kemudian aku beri nomor tante asih agar dia bisa menghubunginya. Dan aku berpesan kepada eri untuk tidak keluar rumah apapun yang terjadi sampai tante asih datang dan mengantar eri ke tempat rani. Hingga didepan pintu ketika aku membuka pintu rumah…

ÔÇ£mamas… tunggu eri ingat sesuatuÔÇØ ucapnya

ÔÇ£eh, apa?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£Apakah yang mamas tahu yang bernama pak warno?ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£eh… itu kakek aku, apa yang kamu ingat? Cepat kataknÔÇØ ucapku mendekatinya dan memegang kedua lengannya sambil menggoyang tubuhnya

ÔÇ£eh… iya mamas, sebentar kalau digoyang gini eri ndak bisa ceritaÔÇØ ucapnya

ÔÇ£eh maaf, sekarang ceritalah…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£waktu itu, eri mendengar percakapan bajingan itu dengan seseorng ditelepon ketika eri disekap dirumah yang eri tidak tahu itu dimana….

ÔÇ£hai, bo ada apa?ÔÇØ ucap ayahku

ÔÇ£oh tenang saja, aku ndak bakalan bernasib sama dengan tukangÔÇØ ucap ayahku, aku mendengar dari balik pintu kamarku

ÔÇ£oh ya ya ya… hmmm… apakah kita tidak bisa melakukan secepatnya, karena warno itu sangat berbahaya. Bisa jadi dia yang memata-matai kita selama ini. lebih baik kita habisi secepatnyaÔÇØ lanjut ayahku

ÔÇ£oh begitu, ya benar juga… ha ha ha kalau terlalu tergesa-gesa, aparat keamanan bisa saja melakukan penyelidikan dan menjurus kekita. Baiklah kalau itu rencana kamu dengan menguasai para bandar, mengancam pejabat dan para pemakai yang berada di instansi dan aparat keamanan setelahnya baru kita buat mereka melakukan tugas kita untuk menghabisi keluarga mantan kepala daerah itu. Cara yang bagus, aku setuju kalaiu begituÔÇØ lanjut ayahku

ÔÇ£oh, tenang masih perawan dan kita bisa menikmatinya ha ha ha haÔÇØ lanjut ayahku

ÔÇ£begitu mas ceritanyaÔÇØ ucap eri, aku geram, aku marah kupukul tembok-tembok yang berada di sampingku

ÔÇ£mamas, maafkan eri kalau eri salah ngomongÔÇØ ucapnya

ÔÇ£oh tidak, tidak, mamas malah berterima kasih akan informasinyaÔÇØ ucapku

ÔÇ£lebih baik mamas sekarang memberitahu kakek mamasÔÇØ ucapnya

Benar apa yang dikatakan oleh Eri…

ÔÇ£iya mamas, pamit dulu dan ingat jangan pernah keluar rumah karena bisa jadi mereka mencarimu. Pastikan semuanya dalam keadaan aman bagimu, tunggu tante asih, ingat didalam rumah saja! Dan ingat satu hal lagi, selama kondisi belum aman jangan pernah terbuai dengan keinginan ketemu dengan rino karena itu akan membahayakan kalian berdua, jika nanti rino hubungi kamu atau bagaimana kamu harus tetap menjaga diri kamu aman sampai mamas memberikan informasi kalau suasana sudah amanÔÇØ ucapku tegas

ÔÇ£siap mamasÔÇØ ucapnya yang langsung memeluku

ÔÇ£salim dulu mamasÔÇØ ucapnya meraih tanganku dan mencium punggung tanganku

ÔÇ£kamu itu ada-ada saja he he heÔÇØ balasku

Segera aku mengeluarkan motorku dan menutupnya kembali tanpa ditemani eri. Kunci aku kembalikan ke tempat semula sehingga semuanya tampak rapi. Aku pacu motorku ke jalanan menuju waurng wongso, tak ada penghalang malam ini. semua jalan tampak kosong sekali sehingga bisa dengan mudah aku menerobos semua jalanan. Hingga akhirnya aku sampai di warung wongso yang sudah sangat tertutup rapi tapi didepan rumah wongsoa yang terletak di belakang warungnya tampak ada bayangan lima orang disana. Aku heran kenapa bisa tambah satu orang lagi, padahal tadi kalau tidak salah kami beraksi hanya belima dan yang pulang juga empat orang. kenapa jadi 5? Aku segera parkir motorku dan berjalan kearah rumah wongso, tiba-tiba satu bayangan bergerak dengan cepat menghampiriku dan ketika orang itu terkena sinar rembulan yang redup baru aku tahu dia adalah….

ÔÇ£Ar, bagaimana keadaan Eri ar? Tolong katakan kepadaku…ÔÇØ ucap lelaki yang memegang kedua bahuku dan menggoyangnya

ÔÇ£ew ew ew ew ew ew ewÔÇØ ucapku mengucapkan kata-kata ew setiap kali dia menggoyang tubuhku

ÔÇ£jangan bercanda ar, aku mohon… hiks hiks hiksÔÇØ ucapnya

ÔÇ£sialan lho no, bagaimana aku mau ngomong kalau terus kamu goyang… kampret!ÔÇØ bentakku

ÔÇ£eh maaf ar, aku hanya khawatir dengan EriÔÇØ ucap rino

ÔÇ£dah kita kesana dulu, nanti aku ceritakan semuanyaÔÇØ ucapku sambil merangkul rino dengan wajah sangat khawatir

ÔÇ£cat itu temen lo dikasih obat bius saja dari tadi nangis terus nggak ketulungn nunggu kamu ha ha haÔÇØ ucap wongso

Kleeeeek….

ÔÇ£maaas… kalau begadang jangan malam-malam, atau huhÔÇØ ucap asmi dari balik pintu yang baru terbuka dengan mengacungkan kepalan tangan ke arah wongso

ÔÇ£iya dinda, Cuma sebentar kok… nanti akan kakaknda usir koplak yaÔÇØ ucap wongso kepada asmi, dengan wajah cemberutnya asmi masuk lagi kedalam rumah wongso

ÔÇ£Asu… koyok pitik ae digusah (Anjing kaya ayam saja di usir)ÔÇØ ucap dewo, kami semua tersenyum

Aku akhirnya duduk bersama koplak, sedangkan rino bersamaku dan dia masih saja khawatir

ÔÇ£kalian ketemu dimana?ÔÇØ ucapku kepada koplak

ÔÇ£waktu tadi habis nganter kamu, aku beli rokok sama wongso cat, pas lagi ngobrolin kamu sama eri eh… nih orang langsung nyambung dan malah sujud-sujud pakai nangis segala… kampret!ÔÇØ ucap anton

ÔÇ£ha ha ha ha… emang bener gitu no?ÔÇØ ucapku, rino hanya mengangguk

ÔÇ£Sudah, Eri dalam keadaan aman, dia juga menanyakan kamu…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£benarkah erghhh…ÔÇØ ucapnya terpotong karena kaosnya depanya langsung aku cincing

ÔÇ£denger no, eri dalam bahaya dan juga kami semua. Kamu boleh hubungi dia, boleh telepon dia tapi ingat jangan pernah menunjukan ekspresi bahagia diluar sana. Karena aku yakin sudah merasakan bagaimana dihajar oleh bodyguard eri kan?ÔÇØ ucapku dan rino mengangguk dengan ketakutan

ÔÇ£sebelum aku mengijinkan kamu bertemu dengannya. Kamu boleh telepon, dan ketika kamu keluar kamu harus tetap merasa sedih. Itu demi kebaikan eri dan kamu, sekali saja kamu memperlihatkan ekspresi bahagia, yang aku takutkan hanya satu…. kamu dan eri mati bersamaÔÇØ ucapku, wajah rino semakin ketakutan

ÔÇ£eri ditempat yang aman, kamu bisa menghubunginya dan jika ada orang yang menanyaimu katakan saja kamu sudah tidak ingin berususan lagi dengan eri. Setiap kali kamu menghubunginya, langsung hapus semua pesan ataupun histori di hape kamu. kamu bisa?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£bisa ar, aku yakin pasti bisa. Selama aku bisa bersama eri di akhir cerita hidupkuÔÇØ ucapnya

ÔÇ£okay, aku akan ijinkan eri menerima teleponmu tapi ingat jangan pernah membawa bahaya untuk kalian berdua. Bersikaplah seakan kamu tidak bisa menemukannya, bisa?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£bisa ar… ÔÇ£ ucapnya kemudian aku melepaskan bajunya yang aku tarik ke atas

ÔÇ£kamu galak banget ternyata ar…ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£widiiiiih ternyata kakak angkat eri galak juga ha ha haÔÇØ ucap dewo

ÔÇ£ini masalah nyawa noÔÇØ ucapku

ÔÇ£aku bersyukur Eri baik-baik saja… jadi eri sekarang jadi adik angkat kamu ar?ÔÇØ ucap rino

ÔÇ£ya begitulah, kalau kamu sekali saja main-main sama eri… kamu akan berurusan dengankuÔÇØ ucapku dengan senyum jahat

ÔÇ£ndak Cuma dia lho mas sama kita-kita juga ha ha ha haÔÇØ ucap dewo yang tertawa seperti penjahat

ÔÇ£eh.. aku bersyukur bisa KKN bersama kamu dan Eri, seandainya saja KKN Eri tidak bersama kamu dan hanya aku saja, mungkin tidak akan ada titik terang dari perasaanku kepadanyaÔÇØ ucap Rino

ÔÇ£everythingÔÇÖs gonna be fine, as long as you can keep your love for a whileÔÇØ ucapku

ÔÇ£iya, ar dan mas-masnya teman arya terima kasih banyak…ÔÇØ ucap rino berdiri dan membungkuk ke arah kami

ÔÇ£woi… santai kenapa? ndak usah terlalu formalÔÇØ ucap anton

ÔÇ£wah belum pernah hidup dijalan ini orangÔÇØ ucap dewo

ÔÇ£sudah-sudah namanya juga mahasiswa teladan, tul ga no?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£eh… bukannya begitu, aku hanya mengungkapkan rasa terima kasihkuÔÇØ ucap rino

ÔÇ£dah yang penting kamyu jaga diri ya sayangÔÇØ ucap dira yang sedang bersolek dengan kaca di tangannya

Kami semua memananng rino dengan senyuman, rino pun tersenyum seakan mengerti maksud kami.

ÔÇ£ar, mungkin aku akan pulang kerumah terlebih dahulu sembari menunggu kabar darimu. Aku akan mengikuti arahan dari antaÔÇØ ucap rino

ÔÇ£eh… anta, oia gimana kabar dia?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£anta, sebenarnya terpukul ketika dia diharuskan menjauh. Dia bernasib sama denganku yang dihajar oleh body guard perempuan yang kami cintai. Tapi selang beberapa hari, rani menelepon anta dan menjelaskan semuanya. Dan rani kemudian menyuruh anta agar bersikap biasa-biasa saja, rani cinta anta, ar. Anta bercerita kepadaku mengenai rani yang diselamatkan seseorang tapi dia tik tahu siapa orang itu, dan malam ini aku tahu bahwa itu kamu arÔÇØ

ÔÇ£aku akan pulang kampung seperti halnya anta, aku dan anta sadar kalau ada bahaya dibelakang kedua perempuan yang kami cintai. Anta hanya mendapat informasi dari rani agar menunggu kabar selanjutnya jika situasi amaÔÇØUcap rino

ÔÇ£begitu saja, kamu pulang kampung saja, pura-pura patah hatiÔÇØ ucap wongso

ÔÇ£iiih jangan patah hati sama dira saja gimana? Hi hi hiÔÇØ ucap dira

ÔÇ£heÔÇÖe dira nganggur tuhÔÇØ ucap dewo

ÔÇ£oh lha gondes, ojo ndul! (oh lha gondes, jangan ndul)ÔÇØ ucap anton

ÔÇ£iiih anton nyebelin deh, lumayan tuh kelihatanya barangnya gedhe ndak seperti tadi tubuhnya aja yang gedhe, barangnya segedhe sosis siap saji uuhÔÇØ ucap dira

ÔÇ£rasa ayam apa sapi dir?ÔÇØ ucap dewo diakhiri gelak tawa kami

ÔÇ£ya sudah, kamu sekarang pulang saja no. Dan selalu ingat pesanku, jika kamu ingin bersama Eri, jaga perasaanmu dan sekali saja kamu menyakiti eri…ÔÇØ ucapku kemudian diam sejenak melihat koplak

ÔÇ£TAK HAJAR KOWE (TAK HAJAR KAMU!)ÔÇØ ucap kami bersamaan

ÔÇ£eh… iya… iya jangan galak-galak gituÔÇØ ucap rino ketakutan

Perbincangan dengan rino pun selesai, dia kemudian ijin untuk pulang ke kos dan mempersiapkan diri untuk kepulangannya kerumah besok. Dalam bathinku aku bersyukur memiliki adik Eri dan calon adik ipar rino, karena jika dilihat dari sudut pandangku rino cukup baik untuk Eri. Selepas kepergian Rino, suasana menjadi hening kembali. Tak ada percakapan diantara kami, semua menunggu aku untuk berbicara. Satu batang dunhill aku sulut dan…

ÔÇ£Mereka akan membantai keluargaku setelah pertemuan besar di bulan kedua yang aku tidak tahu kapan ituÔÇØ ucapku, mereka terdiam sejenak

ÔÇ£bagaimana setelah kejadian malam ini mereka akhirnya melakukan tindakan brutalÔÇØ ucap wongso

ÔÇ£aku tidak tahu…. kematian aspal belum mereka ketahui… arghhhhhhh aku benar-benar bingung bro…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£Ar, peretemuannya bulan kedua pada hari ketiga belasÔÇØ ucap anton

ÔÇ£eh…ÔÇØ kami terkejut dan melihat anton

ÔÇ£kalian pasti bertanya-tanya kenapa aku bisa tahu kan?ÔÇØ ucap anton, kami semua mengagguk

ÔÇ£dasar koplak, aku pegang sematpon aspal, nihÔÇØ ucap anton memperlihatkan sematpon sungsang

ÔÇ£jika dlihat dari multichat di BBM, antara ayahmu, nico, aspal, dan tukang aku bisa menyimpulkan mereka tidak akan membantai keluargamu dalam waktu dekat. Didalam chatnya juga terdapat keinginan aspal agar segera membantai keluargamu setelah kematian tukang, itu karena keluargamu yang selama ini mereka khawatirkan keberadaannya. Tapi aku tidak mengerti kenapa ayahmu menolaknya tak ada keterangan di chat-nyaÔÇØ jelas anton

ÔÇ£itu karena mereka kemungkinan tahu kalau keluargaku masih memiliki pengaruh kuat di daerah ini. dari penuturan Eri dan apa yang aku dengar ketika pertemuan mereka didanau. Ayah dan om nico memiliki rencana lain, sekalipun aspal dan tukang masih hidup mereka akan tetap disingkirkan. Juga dengan kolega-kolega mereka, termasuk bandar-bandar besar dan mengambil alih nahkoda dari bandar-bandar tersebut dan juga kolega-kolega mereka. Mereka ingin menguasai semuanyaÔÇØ

ÔÇ£setelah mereka berdua menguasai semuanya, maka mereka akan memiliki kuasa atas semuanya. Pejabat-pejabat, aparat-aparat kemanan dan semuanya yang melakukan hal-hal buruk akan diancam oleh mereka jika tidak menuruti mereka. dan disitulah, mereka akan menghabisi keluargaku. Jika semua orang yang ada didaerah ini menuruti kuasa mereka, pengaruh sebesar apapun dari keluargaku terutama kakekku tidak akan pernah berguna lagi. Tak akan ada penyelidikan, kalau semua pimpinan di daerah ini yang korup, kartunya mereka pegang. Bisa apa mereka? hanya dimanfaatkan oleh ayah dan om nicoÔÇØ jelasku

ÔÇ£berarti Cuma satu hal yang bisa kita lakukan… hari ketiga belas bulan kedua, hidup mati kita dan keindahan daerah iniÔÇØ ucap dewo

ÔÇ£benar, Change it or die…ÔÇØ ucap anton

ÔÇ£well thatÔÇÖs right…ÔÇØ ucap wongso

ÔÇ£together?ÔÇØ ucap dira yang berdiri dan menjulurkan tangannya ditengah-tengah kami

Kami semua tersenyum dan ikut berdiri berputar, menumpuka tangan kami…

ÔÇ£KOPLAK!ÔÇØ Teriak kami

Malam semakin larut, setelah semua percakapan kami berakhir kami memutuskan pulang. Anton, mengatakan kepada kami, akan memberi kabar yang lain. Karena secara diplomatis dan penjelasan paling bagus hanya anton. Anton kemudian menyuruh wongso untuk mengantarku pulang tapi sebelumnya.

ÔÇ£aku harus memberitahu keluargaku mengenai ini semua, karena keluargaku merencanakan liburan. Aku harus segera menyuruh mereka berangkatÔÇØ ucapku

ÔÇ£ya benar juga katamu ar, tapi tenang ar. Selama ini IN juga melindungi keluargamu jadi kamu tidak perlu khawatir berlebihanÔÇØ ucap anton

ÔÇ£iya bener tuh kata anton, yang penting acara kita jangan sampai diganggu oleh anak buahmu ntonÔÇØ ucap dewo

ÔÇ£bener tuh, ntar ndak dapat jatah kan biasanya dira yang ada didepan hi hi hiÔÇØ ucap dira

ÔÇ£kontol saja pikiranmu dirÔÇØ ucap wongso

ÔÇ£sudah tenang saja, mereka hanya akan memback-up kita ketika kita butuh bantuan. Sampai sejauh ini aku masih memegang janjiku untuk tidak mengikutkan mereka. sudah lama bukan kita tidak pernah bersama, tapi jujur saja sebenarnya ini semua jauh dari permainan masa kecil kita. Ini seharusnya bukan kita yang menangani tapi mau bagaimana lagi, aku bagian dari koplak dan aku tahu bagaimana egoisnya, keras kepalanya koplak dan itulah yang aku sukaÔÇØ ucap anton

Kami pun tersenyum, kemudian tertawa seakan teringat pertama kali kami bertemu. Pertama kali kami berkumpul, dan pertama kali kami berkelahi. Semuanya akhirnya bubar jalan, aku meminta ijin terlebih dahulu ke asmi ÔÇ£istriÔÇØ wongso agar mengijinkan wongso mengantarku di tengah malam ini. akhirnya diperbolehkan, dan kami melanjutkan perjalanan…

ÔÇ£untung Ar, tadi kamu mintain ijin. Bisa-bisa aku ndak dapat jatah dari asmi nanti…ÔÇØ ucap wongso yang memboncengkan aku

ÔÇ£iya bro, aku juga sudah ngrasain bagaimana punya cewek. Oh ya aku tak telp ibuku dulu yo, pelan-pelan sajaÔÇØ ucapku

ÔÇ£seeeepz!ÔÇØ ucap wongso, sambil aku membonceng aku menelepon ibu

ÔÇ£Halo sayang, kok belum tidur?ÔÇØ

ÔÇ£Arya mau ke tempat ibu sekarang, ibu dimana? Ada yang pentingÔÇØ

ÔÇ£penting apa? Ibu dirumah kakek ini juga semua masih begadang, ngobrol belum pada tidurÔÇØ

ÔÇ£Siapa saja?ÔÇØ

ÔÇ£semuanya, adik kakek juga disini, tante asih dan semuanya…ÔÇØ

ÔÇ£arya kesitu, tunggu arya…ÔÇØ

ÔÇ£lho ada apa sayang?ÔÇØ

ÔÇ£Sudah nanti saja bu, dah ya buÔÇØ

ÔÇ£iya iyaÔÇØ tuuut

Setelah telepon aku tutup, wongso langsun menarik gas yang ada ditangannya. Motor melaju lebih kencang, kuperhatikan jam pada sematponku menunjukan pukul 00:30 pagi. Tubuhku sebenarnya sudah merasa lelah, aku juga yakin wongso mengalami hal yang sama. Dari mata wongso juga sangat terlihat kalau dia sangat kelelahan.

ÔÇ£Wong, maaf ya merepotkan. Ngantukkan kamu?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£Ha ha ha ha… matamu! Sudah tahu aku ngantuk, masih ditanya tapi ya mbok jangan kaya gitu to suuuuu su!ÔÇØ teriaknya sambil tertawa

Kami tertawa terbahak-bahak selama perjalanan melewati malam ini. malam yang dingin penuh dengan kengerian dalam hatiku, sekilas bayangan dian melintas dalam benakku. Ingin rasanya aku memelukknya malam ini dan mencium aroma rambutnya. Tanpa terasa perjalanan telah usai, aku dan wongso masuk ke dalam rumah kakek yang disambut dengan ibu. ibu tersenyum pada kami berdua dan mempersilahkan kami masuk. Satu persatu aku dan wongso salim ke keluarga besarku ini, tak terlihat adik-adikku karena mungkin sudah pada tidur.

ÔÇ£Kakek..ÔÇØ ucapku kepada kakek

ÔÇ£sudah lama kakek ndak ketemu kamu, baik-baikah?ÔÇØ balasnya

ÔÇ£baik kekÔÇØ ucapku

ÔÇ£nek…ÔÇØ ucapku dan langsung dipeluk dan dicium pipi kiri dan kananku oleh nenek

ÔÇ£ciyeee jomblo sekarang pacarnya cowok ya?ÔÇØ ucap tante ratna

ÔÇ£lho bu? Pemain sinteron kok disini?ÔÇØ ucapku ketika salim dengan tante ratna

ÔÇ£awas kami mblo ughÔÇØ ucapnya

ÔÇ£auch! Sakit tan, kejam banget sama cowok ganteng kaya akuÔÇØ ucapku smabil mencium tangan tante ratna dan suaminya

ÔÇ£lha pacarnya mana? Kok malah cowok yang diajak jangan-jangan kamu?ÔÇØ tanya bu dhe ika

ÔÇ£apaan sih budhe itu huh!ÔÇØ ucapku ketika mencium tangannya. Ketika di pakdhe andi aku langsung dipeluknya erat

Setelah salim dengan semua anggota keluarga dan juga adik kakekku dan keluarganya…

Kleeek….

ÔÇ£Lho sama wongso ya ar?ÔÇØ ucap tante asih yang keluar dari kamar

ÔÇ£Wadiyah…ÔÇØ ucap wongso yang langsung melompak ke arahku, dan aku tangkap tubuhnya

ÔÇ£apa wong?ÔÇØ ucap tante asih

ÔÇ£eh ndak tan… endak… arya yang ngajak, saya ndak ikut-ikutan pokoknya kalau suruh nyapu halama rumah satu komplek, arya saja, aku ndak ikut-ikutan tanÔÇØ ucap wongso

ÔÇ£ndak satu komplek tenang saja wong, Cuma satu kota saja, gimana?ÔÇØ ucap tante asih

ÔÇ£HAAAAH!ÔÇØ teriakku bersama wongso, mereka semua terbahak-bahak mendengar jawaban kami berdua

Sejenak kami saling tanya kabar, setelah sejenak itu kami kemudian hening karena tawaku yang terhenti. Wongso berada dibelakangku juga menghentikan tawanya. Semua pandangan tertuju kearahku dan…

ÔÇ£aku ke depan dulu arÔÇØ ucap wongso, dan hanya aku jawab dengan acungan jempol

ÔÇ£Arya mohon, segeralah berangkat liburan sampai arya menyelsaikan masalah iniÔÇØ ucapku dengan tatapan tajam menyapu semua yang berada di dalam ruang keluarga

ÔÇ£Ada apa sayang?ÔÇØ ucap Ibu

ÔÇ£Ayah…ÔÇØ ucapku lirih dan semua mendengarkanku, pandangan mereka semua seakan mengerti apa yang sebenarnya terjadi dan semua tentnag ayahku

ÔÇ£akan ada pertemuan ayah dengan beberapa orang dan itu tidak lama lagi, setelah pertemuan itu. kita akan dibantainya, jadi arya mohon untuk segera berangkat dan jangan kembali selama arya belum memberi kabar. Arya akan menyelesaikannya bersama sahabat-sahabat arya, sudah cukup baginya untuk bertualang dan saat arya mengehentikannya…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£Arya tidak ingin kehilangan keluarga yang arya cintai, jadi arya mohon…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£kamu tidak bisa menyelesaikannya sendirian ar, terlalu berbahayaÔÇØ ucap Ibu

ÔÇ£benar kata ibu sayang, lebih baik serahkan semuanya kepada pihak aparat keamananÔÇØ ucap nenek

ÔÇ£tidak… mereka sudah mengakar, bisa jadi laporan kita menjadi bumerang bagi kita sendiriÔÇØ ucapku

ÔÇ£Apa yang telah kamu lakukan malam ini? kenapa Eri bisa bersamamu?ÔÇØ ucap tante asih tiba-tiba keluar dari tema pembicaraan. Pandangannya heran penuh dengan pertanyaan..

ÔÇ£aku…ÔÇØ ucapku tersenyum

Perlahan dan pasti, aku menceritakan ketika mengambil eri dari dalam rumahnya. Cerita mengenai pembantaian yang akan dilakukan oleh ayah. Dan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi setelah kematian si aspal. Ibu tampak terkejut mendengar ceritaku dan langsung memelukku, tangisnya pecah. Tak ada yang mampu mengungkapkan pendapat mereka, pak dhe, buhde, tante-tante dan om-omku pun semua diam.

ÔÇ£jika masih tetap disini, dan ternyata arya gagal… maka semua yang berkaitan dengan kakek akan habisÔÇØ ucapku dalam pelukan ibu

ÔÇ£ini semua salahku, jika saja dulu aku tidak menerimanya daam keluarga ini. mungkin semua ini tidak akan terjadiÔÇØ ucap kakek memecah keheningan

ÔÇ£Seharusnya kakek tidak berbicara seperti itu, karena dia arya juga ada walau…ÔÇØ ucap nenek terpotong

ÔÇ£Emmm…. maaf kakek, nenek, pak dhe, budhe, om, tante… menyela walau sebenarnya saya tidak boleh menyela…ÔÇØ

ÔÇ£saya harap yang terjadi biarlah terjadi, tinggal bagaimana menyelesaikannya. Tidak sepantasnya menyalahkan masa lalu, karena jika kejadian di masa lampau tidak terjadi. Mungkin sekarang Ibu saya sudah menjadi abu…ÔÇØ ucap wongso dari belakang, membuat semuanya memandang ke arah wongso

ÔÇ£eh… ar… aku kedepan lagi,maaf maafÔÇØ ucap wongso sambil merogoh saku jaketku mengambil rokok dan ngacir begitu saja

ÔÇ£benar apa kata nenek dan wongso, mungkin arya lahir dengan cara yang salah. Tapi arya lahir untuk kita semua, untuk menyelamatkan kita semua. Jadi jangan salahkan arya, karena arya juga diah jadi lebih bahagia hiksÔÇØ ucap Ibu dengan memandang ke kakek, sembari mengelus-elus kepalaku

ÔÇ£maafkan kakek… tapi jika kamu melakukannya sendiri, semuanya terlalu berbahaya. Maafkan kakek pula karena tidak bisa mencegah ini semua terjadiÔÇØ ucap kakek

ÔÇ£tapi arya mohon dengan amat sangat agar acara liburannya dipercepat, agar semuanya bisa dalam kondisi aman. Keluar negeri saja saran arya, agar mereka sulit mendeteksi keberadaan kakek dan semuanya. Jujur saja arya tidak tahu apa yang dilakukan oleh mereka setelah mendengar berita kematian salah satu komplotannya tapi arya yakin mereka tidak akan segegabah itu, jadi untuk menghindari mereka melakukan hal yang gegabah, arya memohon untuk segera berliburÔÇØ ucapku

ÔÇ£tapi bagaimana dengan kamu?ÔÇØ ucap pak deh andi

ÔÇ£apa kamu memang benar-benar bisa menyelesaikan semuanya?ÔÇØ ucap tante asih

ÔÇ£kamu ikut asaj mbloÔÇØ ucap tante asih

ÔÇ£iya ar, berbahaya jika kamu terus disiniÔÇØ ucap bu dhe

ÔÇ£kita semua pindah daerah saja dan mulai membangun kehidupan baruÔÇØ ucap suami tante asih

ÔÇ£benar, mungkin itu jalan yang terbaikÔÇØ ucap om heri

ÔÇ£tidak… aku tidak akan pergi begitu saja, aku tidak akan mengingkari janjiku kepada kakek wicaksono dan nenek mahesawatiÔÇØ ucapkku membuat semuanya kembali terdiam. Kakek memandangku begitu tajam.

ÔÇ£mereka sudah meninggal kek, meninggal dalam pelukan cucunya. Mereka selalu menanti kehadiranku, dan baru ketika aku dewasa aku kembali bisa menemuinya namun hanya sesaat. Dan setelah sesaat itu pulalah mereka tiadaÔÇØ ucapku

Terjadi perdebatan panjang diantara kami semua. Mulai dari pakdhe dan om-omku yang memutuskan untuk tinggal dan membantuku. Tap aku menolaknya karena merekamempunyai budhe dan tante yan masih membutuhkan mereka. kakek nampak kehabisan kata-kata ketika melawan keegoisanku, dan berhenti menentang pendapatku.

ÔÇ£baiklah, kita semua akan berangkat secepatnya. Dan menunggu kabar dari arya. jika tidak ada kabar dari arya, kita akan pindah tempat tinggalÔÇØ ucap kakek

ÔÇ£terima kasih kek, arya akan berusaha semaksimal mungkin dan arya yakin bahwa semuanya akan bisa arya selelsaikan dengan sempurnaÔÇØ ucapku

Tak ada lagi tante ratna dan bu dhe ika yang menggodaku. Semua diam dan menyetujuinya, terakhir aku memohon kepada mereka agar benar-benar pergi dari tempat ini agar aku tidak terus mengkhawatirkan mereka. dan mereka semua menyetujuinya.

ÔÇ£Arya, iku ibu ke kamar dulu, ibumau bicaraÔÇØ ucap ibu mengajakku masuk kedalam kamar. pintu kemudian ditutup ibu, ibu kemudian mengambil kotak yang berisi music box

ÔÇ£ini hadiah buat dian, ibu membelikannya buat kalian berduaÔÇØ ucap ibu

ÔÇ£eh… terima kasih buÔÇØ ucapku

Ibu kemudian memelukku dan mencium bibirku, secara reflek aku membalasnya

ÔÇ£Ingat, ibu masih kekasihmu selama bajingan itu belum lenyapÔÇØ ucap ibu

ÔÇ£Iya bu, arya akan selalu ingatÔÇØ ucapku

ÔÇ£Love you bebÔÇØ ucap ibu

ÔÇ£love you too bebÔÇØ balasku

Kami kemudian keluar dari kamar dan menuju ruang keluarga kembali…

ÔÇ£Semuanya, tolong percaya pada arya dan doakan arya. dia datang satu paket dengan arya, dia adalah pemusnah dan arya adalah obatnya, anggap saja seperti ituÔÇØ ucapku tersenyum kepada mereka

Ibu dan tante asih kemudian mengantarkan aku keluar menemui wongso yang sudah terlelap dalam tidurnya. Dengan sedikit ketegaan aku membangunkannya, tampak matanya merah karena lelah. Aku dan wongso kemudianmelanjutkan perjalanan kembali, sebelum berangkat ibu dan tante asih titip salam kepada dian. aku mengiyakannya dan langsung kami perjalanan menuju kerumah dian. sesampainya dirumah dian, tepat didepan rumahnya.

ÔÇ£Kamu yakin bisa pulang wong?ÔÇØ ucapku khawatir

ÔÇ£apapun akan aku lakukan, karena tadi pagi aku dapat BJ dari asmi, malam ini pasti akan lebih hot!ÔÇØ ucap wongso

ÔÇ£Kereeeeeen!ÔÇØ balasku

Kulihat wongso langsung memacu motornya dan aku membuka pintu gerbang rumah. Perlahan aku menutup dan berjalan ke arah pintu rumah, takut jika dian terbangun. Kubuka pintu pelan-pelan, tapi memang dasarnya pintu mau dibuka pelan malah menimbulkan suara yang sangat keras, krieeeeet…

ÔÇ£Ergh… mas sudah pulang ugh hoaaaaam….ÔÇØ ucap dian terbangun dari tidur di kursi tamu

ÔÇ£ade, bobo sajaÔÇØ ucapku sambil menutup pintu dan melepas jaketku

Dian yang bangun dengan tanktop hitam yang digantung dengan tali kedil dibahunya serta celana payet yang sangat ketat. Dian mendekatiku, dan memelukku dengan sangat erat. tangisnya pecah saat itu juga, aku tak kuasa melihat dian yang begtiu setia menantiku di ruang tamu. Kupeluk tubuhnya erat.

ÔÇ£Sudah ndak boleh nangis lagiÔÇØ ucapku

ÔÇ£hiks hiks hiks ade itu taku kalau mas kenapa-napa hiksÔÇØ ucapnya

ÔÇ£nyatanya mas sudah pulang dan ndak papa kan?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£jahat… besok-besok lagi jangan membahayakan diri mas, nanti ade sama siapa?ÔÇØ ucapnya melepas pelukan dan memukul ringan ke dadaku

ÔÇ£ouch… he he he, yang jelas mas pergi untuk kembali. Dan pergi dalam waktu yang sangat cepat, ya sayang… ade kan sudah tahu semuanya, jadi mas harap ade mmm…ÔÇØ ucapku terpotong karena jari telunjuknya menyilang di bibirku

ÔÇ£ade akan selalu mendukung mas, apapun yang terjadi. Jika mas kenapa-napa, maka ade juga akan ikut mas kemanapun mas pergiÔÇØ ucapnya

Tangannya melingkar di leherku, tubuhnya merapat, kakinya berjinjit. Bibir kami bersentuhan, lidah kami keluar saling bertemu. Kupeluk pingganngta erat, kurasakan sesuatu yang berbeda darinya tapi apa aku tidak tahu.

ÔÇ£bobo yuk…ÔÇØ ucapku pelan

ÔÇ£heÔÇÖem…ÔÇØ balasnya, ketika hendak aku gandeng berjalan menuju kamar

ÔÇ£gendooooong…ÔÇØ ucapnya manja

ÔÇ£yeee udah gedhe minta gendong, ayo adeku sayang…ÔÇØ ucapku sambil memainkan hidungnya

ÔÇ£belakang masÔÇØ ucapnya,

ÔÇ£heÔÇÖem…ÔÇØ ucapku yang kemudian membalikan tubuh dan menurunkan punggungku. Kuangkat tubuh wanita kesayanganku ini, walau cukup berat

ÔÇ£mas, nengok coba…ÔÇØ ucap dian, ketika aku menengok kebelakang tiba-tiba kepala dian maju dan mencium bibirku. Satu tangannya menghalangi kepalaku agar tidak menengok kedepan lagi

ÔÇ£nanti mas nabrak sayag mmmmmmfftthhhh…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£biar romantis hi hi hi mmmmmfffthhh mmmffffthhhh…ÔÇØ ucapny

Kugendong dibelakang sembari berciuman, setibanya dikamar tepatnya di pinggir tempat tidur, dian mendorong tubuhnya hingga aku jatuh telengkup dan dian diatasku. Dian memelukku dengan sangat erat. terasa aneh memang, benar-benar ada yang aneh.

ÔÇ£ada apa mas?ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£ehh enggak kok ndak ada apa-apaÔÇØ ucapnya

ÔÇ£ade paling nggak suka sama cowok yang ndak bertersu terang sama kekasihnyaÔÇØ ucap dian

ÔÇ£ya ade bangun dulu, mas mau bagaimana ngomongnya kalau beginiÔÇØ ucapku, sembari membenarkan tidurku. Kini aku dan dian tidur berdampingan dan saling mengahadap.

ÔÇ£apa mas?ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£Cuma berat saja tadi kok deÔÇØ ucapku

ÔÇ£bohong, ada yang lain pasti? Hayoo apa coba?ÔÇØ ucapnya, aku yang sadar akan keanehan langsung tengkurap dan menutupkan wajahku di bantal

ÔÇ£mmmmm…. mmmmm….. mmmmmmÔÇØ ucapku dengan kepala masuk kedalam bantal

ÔÇ£iiih apaan sih mas? Ayo bangun-bangun! Mas sukanya gituÔÇØ ucap dian, aku angkat kepalaku dan tidur menyamping

ÔÇ£apa?ÔÇØ ucap dian

ÔÇ£eeee…. eeee…. itu….ÔÇ£ ucapku

ÔÇ£apa?ÔÇØ ucap dian

ÔÇ£susu ade kok tambah besar?ÔÇØ ucapku malu-malu

ÔÇ£iiih mas lihatnya kemana-mana dehÔÇØ ucap dian sambil menutup buah dada yang tertutup tanktop dengan kedua tangannya

ÔÇ£yeee… katanya suruh jujurÔÇØ balasku

ÔÇ£hi hi hi… kan setiap hari pake korset biar kelihatan kecil, biar yang tahu ukuran sebenarnya mas sajaÔÇØ ucap dian

ÔÇ£sudah yuk boboÔÇØ ucapku

ÔÇ£mas…ÔÇØ ucapnya pelan dan memandang mataku dengan tajam, tanpa penolakan tanganku diarahkannya ke susunya. kepalanya maju dan mencium bibirku.

ÔÇ£ARGHHHH! APA INI??! TEGANGAN TINGGI…. TOLOOOOOOOONG AKU MAU MUNTAH!ÔÇØ teriak dedek arya

Tanganku secara reflek meremas sebuah susu dian yang ternyata jika dibandingkan dengan milik ibu lebih besar darinya. Aku terbawa nafsu karena memang dari kejadian dengan Eri tadi belum bisa sepenuhnya hilang. Tapi sialnya, apa mungkin karena aku mencoba bertahan dari wanita yang aku cintai membuat aku tak bisa mengendalikan dedek arya? entah kenapa dan mengapa, ciuman dan remasan satu susunya sudah membuatku semakin menuju puncak. Langsung aku tarik dian hingga dia berada diatasku, bibirnya aku sumpal dengan bibirku dan kupeku erat.

ÔÇ£mmmmm egh… egh …. egh…. egh…. mmmffttthhh…ÔÇØ desahku

Kami terus berpelukan…

ÔÇ£maafin mas de…ÔÇØ ucapku tiba-tiba

ÔÇ£kenapa mas?ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£mas keluar..ÔÇØ balasku

ÔÇ£keluar? Maksudnya?ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£sperma mas keluar tadi habis megang susu adeÔÇØ ucapku

ÔÇ£hah? Coba ade lihatÔÇØ ucap dian yang langsung turun dan melepas celana jensku.

ÔÇ£iiih basah, tegang lagiÔÇØ ucap dian

ÔÇ£mas, bukannya kalau secara pengetahuan habis keluar itu lanngsung lemas?ÔÇØ ucap dian

ÔÇ£ade, sudah ah… mas malu, mas mau mandi dulu sajaÔÇØ ucapku

ÔÇ£kalau mandi sekalian saja tidur sama guling!ÔÇØ ucap dian

ÔÇ£eh kok gitu sih, kan malu adeeeeÔÇØucapku manja sambil mencoba memakai celana kembali

ÔÇ£ade kemarin tidur pakai celana dalam, sekarang gantian mas. Kalau ndak mau ya sudah, tidur diluar sana, sama guling dan TA ndak ACCÔÇØ ucapnya yang kemudian tidur membelakangiku, sebuah tawaran yang harus????

ÔÇ£iya, sayang iya mas gantian, tapi mas ndak jamin kalau nanti keluar lagi mas ndak tahu lhoÔÇØ godaku,

ÔÇ£cepetaaaaan bobo ade dipeluk!ÔÇØ manjanya. Aku kemudian memeluknya dengan hanya memakai kaos dan celana dalam berbau khas sperma.

ÔÇ£maafin mas ya, kalau ade bukan yang pertamaÔÇØ ucapku lirih

ÔÇ£jangan pernah membahas itu lagi, yang terpenting mas adalah yang pertama untuk ade dan seterusnya hingga akhir waktu…. peluk!ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£dan ade adalah milik mas, ade ndak ingin mas melakukannya dengan wanita lain… sekarang mas punya ade, jadi mas jangan pernah sungkanÔÇØ ucapnya, ketika aku intip wajahnya tampak sedikit memerah karena malu

ÔÇ£Ade ndak salah ngomong?ÔÇØgodaku, tubuhnya berbalik dan mengangguk pelan tampak sekali dia sangat malu

ÔÇ£Sudah bobo yuk, ade capek banget itu. ndak papa kan?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£ade bakal nunggu sampai kita benar-benar siapÔÇØ ucapnya tersenyum, kemudian dian berbalik lagi membelakangiku

Kupeluk lebih erat lagi tubunya, tangan kiriku menelusup diantara lehernya dan bantal. Tangan kanan mengelus-elus kepalanya. Hingga akhirnya aku lelah dan terlelap dalam tidurku. Tak ada lanjutan akan kejadian tadi, karena dian sendiri sudah cukup lelah menanti kedatanganku begitupula aku. Argh, entah apa yang akan terjadi besok… apa mungkin komplotana ayah akan bertindak gegabah atau tidak? Aku tidak tahu…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*