Home » Cerita Seks Mama Anak » Wild Love 50

Wild Love 50

Tepat pukul 04:30…

ÔÇ£ade bangun yukÔÇØ ucapku sambil menggoyang pelan tubuhnya

ÔÇ£erghhh… jam berapa memangnya mas? Ergh.. hoaaam…ÔÇØ jawabnya sambil menguap dengan punggung tangan kirinya menutupi mulutnya

ÔÇ£eeee… jam setengah lima pagi, yuk bangun…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£heÔÇÖem… sebentar uuuughhh… mmmm aaahhh…ÔÇØ jawabnya

Setelahnya kami mencuci muka dan melakukan aktifitas yang seharusnya. Kira-kira satu jam setelah aku dan dian bangun, kami melakukan tea time bersama di pekarangan rumah, dimana aku duduk di bawah dan dian diatas tepat dibelakangku. Kami bercengkrama layaknya seorang suami dan istrinya, membicarakan hal yang tidak perlu dibicarakan.

Nothing else mateeer….. (Metallica). Ringtone.

Kami beruda langsung menoleh ke dalam rumah.

ÔÇ£mas angkat dulu ya?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£heÔÇÖem… ade tunggu di sini sajaÔÇØ jawabnya

Aku beranjak dan berjalan ke arah sematponku yang tergeletak didepan TV. Kulihat sebuah nama yang semalam aku kirimi pesan. Rani. Aku mengangkat telepon rani dengan duduk disofa.

ÔÇ£Halo ran …ÔÇØ

ÔÇ£kakak… hiks eriiii kakÔÇØ

ÔÇ£ah… eri… eh eri… eri ke kenapa?ÔÇØ (aku sedikit gugup)

ÔÇ£hiks hiks hiks eri ini dibawaÔÇØ

ÔÇ£maksunya bagaiman? Kamu jangan nangis dulu dong… ah… kakak jadi gugupÔÇØ

ÔÇ£gimana mau tenang hiks eri ini lagi perjalanan pulang kerumahnya, kemarin sore aku telepon eri, kalau eri hiks dibawa pulang lagi kerumahnyaÔÇØ

ÔÇ£terus?ÔÇØ

ÔÇ£iiih kakak terus terus hiks hiks hiks eri itu dibawa pulang, mau digilir sama bapaknya plus anak buahnya hiks hiksÔÇØ

ÔÇ£ka kamu ndak bercanda kan ran? Jangan bohong!ÔÇØ

ÔÇ£iiih kakak hiks beneran, eri kemarin aku telepon pakai nomor lain. Makanya rani telepon kakak sekarang. Semalam rani nyoba hubungi eri pakai nomor baru baru pagi ini ganti nomor lagi dan sms kakak baru masukÔÇØ (dian datang dan duduk di sampingku, melihatku dengan serius)

ÔÇ£oke… kapan kira-kira eri berada dirumah?ÔÇØ

ÔÇ£kemungkinan hari ini hiks hiks hiksÔÇØ

ÔÇ£kamu jangan nangis dulu adik kecil, kalau kamu nangis terus kakak malah tambah galauÔÇØ (dian tiba-tiba memasang wajah ngambeknya dengan pipi yang mencembung)

ÔÇ£kakak, hiks gimana ndak mau nangis hiks hiks hiks eri kak… eri hiksÔÇØ (aku tarik kepala dian dan aku rebahkan di dadaku, tangan kananku mengelus kepalanya)

ÔÇ£okay gini, kamu telepon eri nanti siang. Kabari kakak, dan telepon kakak kamu secepatnya okay? Ndak usah sering ganti nomor biar kakak ndak bingung hubungi kamu, setelah ini kamu berikan nomor baru kamu ke kakak, sementara kamu gunakan nomor baru saja okay?ÔÇØ

ÔÇ£iya kak… hiks hiks hiks hiks pokoknya kakak bantu eri, rani ndak mau kehilangan eri kak hiks hiksÔÇØ

ÔÇ£iya adik manis, sudah kamu tenang saja okay?ÔÇØ

ÔÇ£Iya kak, nanti rani kabari kakak hiks hiks hiks hiks lha ini kakak dimana? Kakak ndak pernah tanya-tanya kabar rani hiks jahat! Punya adik tapi ndak pernah diperhatikanÔÇØ

ÔÇ£e… kakak kemarin ada masalah, sekarang kakak sudah punya pacar, ini sekarng kakak di rumah pacar kakak…ÔÇØ

ÔÇ£kakak sudah punya pacar hiks terus adiknya dilpuakan gitu jahat… sudah jadian ndak bilang-bilang sama adiknya, kan rani juga perlu tahu cocok apa ndaknya hiks pokoknya rani ndak mau tahu, walaupun kakak sudah punya pacar, kakak harus selamatkan eri… hiks hiks hiksÔÇØ

ÔÇ£iya maafin kakak ndak kasih kabar atau tanya-tanya kaba ke kamu, sebe…ÔÇØ (teleponku direbut oleh dian, kemudian loudspeaker diaktifkan)

ÔÇ£halo, ini rani ya?ÔÇØ

ÔÇ£eh.. ini siapa? Hiks hiks hiksÔÇØ

ÔÇ£sudah jangan nangis dulu sayang… ini dian, maafin kakak kamu ya ndak pernah tanya kabar kamuÔÇØ

ÔÇ£hiks hiks hiks ini pacarnya kakak ya?ÔÇØ

ÔÇ£iya…ÔÇØ

ÔÇ£mbak dian hiks ndak boleh rebut kak arya dari rani sama eri hiks hiks hiksÔÇØ

ÔÇ£eh ndak rebut kak arya dari rani sama eri… kan kak arya ada untuk kalian juga kan? Ya mungkin kak arya baru sibuk kemarin jadi ndak bisa tanya-tanya kabar…ÔÇØ

ÔÇ£hiks hiks hiks iya mbak hiks hiks hiks… mbak dian, pokoknya itu kakak suruh nolong eri mbak, pokoknya harus hiks hiks hiksÔÇØ

ÔÇ£iya iya pasti kok, nanti mbak yang bilang sama kakak kamuÔÇØ (kenapa jadi sok akrab begini mereka berdua?)

ÔÇ£makasih mbak hiks hiks hiksÔÇØ

ÔÇ£sudah jangan nangis ya, nanti manisnya hilangÔÇØ

ÔÇ£huÔÇÖum mbak, mbak kok mau sama kak arya?ÔÇØ

ÔÇ£jelek sih jadinya mbak mau hi hi hi sudah pokoknya kamu tenangkan diri kamu ya, dan kasih kabar kakak kamu, okay?ÔÇØ

ÔÇ£huÔÇÖum mbak, kak arya emang jelek itu… mbak… rani mau minta tolong…ÔÇØ

ÔÇ£iya, minta tolong apa?ÔÇØ

ÔÇ£pukulin kakak yang keras! Hiks hiks hiksÔÇØ

ÔÇ£ya ndak bolhe dong, sudah kamu jangan nangis terus yaÔÇØ (aku hanya bisa melihat mereka berdua bercengkrama)

ÔÇ£huÔÇÖum… mbak….ÔÇØ

ÔÇ£iya…ÔÇØ

ÔÇ£walau aku bukan adik kandung kak arya, aku juga disayang ya, pengen punya kakak perempuan hiks hiks hiksÔÇØ

ÔÇ£eh… iya sayangÔÇØ

ÔÇ£ya sudah kak, rani mau ganti nomor dulu, mungkin eri menghubungi rani hiks hiks hiks salam jitak buat kak arya mbak hiks hiks hiks jahat banget…ÔÇØ

ÔÇ£iya, sabar ya… nanti mbak yang ngomong sama kak arya…ÔÇØ

ÔÇ£huÔÇÖumÔÇØ tuuuut

Telepon ditutup, dian memandangku dengan tajam. Aku memandangnya sebentar kemudian rebah bersandar pada sofa. pandanganku ke atas, seakan tak percaya baru saja tadi malam aku membicarakannya dengan wongso, anton, dewo dan sekarang eri muncul kembali ke permukaan. Informasi yang kurang jelas membuatku semakin gelisah.

ÔÇ£Ada apa to mas sebenarnya?ÔÇØ ucap dian lembut

ÔÇ£ahhhhh…ÔÇØ aku bangkit dari bersandarku

ÔÇ£rani, adalah teman KKN-ku, dan eri juga…ÔÇØ

ÔÇ£mereka berdua… ahhh… erghhhhhhh….ÔÇØ ucapku sambil menggosok-gosok rambutku bingung harus memulai dari mana

Dian bangkit dari duduknya dan bersimpuh dibawahku. Diapitkannya kedua lututku, dagunya direbahkan diatas kedua tangan yang sudah ditata diatas lututku. Pandangannya menusuk mataku, aku semakin terhanyut ke dalam senyum manisnya. kusatukan keningku dengan kepalanya.

ÔÇ£mungkin sudah saatnya kamu tahu semuanya…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£heÔÇÖem…ÔÇØ balasnya tersenyum dengan mata menyipit

ÔÇ£Aku harap kamu mau mengerti, hufttthhh….ÔÇØ ucapku

ÔÇ£heÔÇÖem…ÔÇØ balasnya kembali

ÔÇ£ergh… ceritanya dari awal atau hanya tentang rani saja?ÔÇØ balasku yang bingung harus menceritakan semuanya

ÔÇ£terserah mas…ÔÇØ ucapnya lembut dengan senyumannya

ÔÇ£baiklah, akan mas ceritakan semua dari awal. Dari semua yang mas lakukan, dan tak akan mas tutupi lagi kisah kotor mas…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£sssst… mau kotor atau tidak, itu adalah masa lalu…ÔÇØ balasnya

Aku sebenarnya bingung memulai dari mana cerita bodohku ini, ini semua karena memang penulis yang memposisikan aku seperti sekarang ini. aku ceritakan bagaimana aku memulai cerita bodohku. Di awali dari hubunganku dengan ibu, yang aku ceritakan tidak sedetail dengan kejadian namun itu sudah membut dian tertunduk dan memperlihatkan wajah sedihnya. Tak tega aku melanjutkan ceritaku namun dian memandangku kembali dan meremas tanganku untu melanjutkan apa yang seharusnya dia ketahui tentang diriku. Kulanjutkan ceritaku menuju ke saksi yang terbunuh bernama Kaiman Supraja, yang kemudian aku tahu dia adalah Ayah dari mbak erlina. Cerita bagaiman dian memberiku petunjuk sewaktu aku sedang buntu dalam memecahkan teka-teki. Tante ima, Ibu dari Rahman juga memberiku petunjuk mengenai semua teka-teki ini yang disisi lain juga merupakan sahabat dari Ibuku. Setelahnya aku bercerita mengenai bagaimana aku sampai di desa banyu biru dan banyu abang, bertemu mbak maya dan hubunganku dengan mbak maya hingga akhirnya aku bisa bertemu untuk pertama kalinya dengan Kakek Wicak dan Nenek Mahesawati yang kehidupannya sangat memprihatinkan. Kuceritakan garis besar bagaimana kehidupan mereka yang teraniaya oleh ayahku.

Berlanjut kembali ke teka-teki mengenai komplotan-komplotan Ayah, mencoba mengetahui siapa nama-nama dari mereka semua. Hingga menuntunku ke tempat seorang wanita setengah bay bernama Tante Wardani, yang akhirnya aku juga terpaksa melakukan hubungan dengannya. Mbak echa, mbak ella di PKL bagaimana aku bisa berhubungan dengan mereka. Dilanjutkan mbak erlina yang tidak sengaja aku selamatkan ternyata memberiku informasi besar mengenai semuanya. Mbak ara medita yang aku temui di KKN juga berkaitan dengan komplotan Ayah, yang merupakan anak dari Si Buku, orang yang mencoba memperkosa ibuku dan harus aku selamatkan nyawanya di kemudian hari. Rani, dan Eri teman KKN yang merupakan anak dari dua orang komplotan ayahku. Yang kemudian terkahir adalah ayah rani yang dapat diselamatkan memberiku petunjuk mengenai memori masa lalu ayah dan juga perumahan ELITE ini.

ÔÇ£maafkan mas jika cerita yang mas ceritakan membuat ade sedih. Itulah ayah mas yang sebenarnya, dan mas juga bingung dalam mengahadapi situasi ini, hingga akhirnya mas…ÔÇØ ucapku lirih

ÔÇ£itu jalan hidupmu dan aku disini untuk mendukungmu menjadi lebih baik. Aku hanya ingin kamu berubah menjadi lebih baik dari sebelumnya. Menjadi pasangan hidupku… ade berharap mas lebih hati-hati lagi karena ade tidak mau kehilangan masÔÇØ balasnya dengan air mata mengalir

ÔÇ£maafkan mas atas semua yang telah terjadi, seandainya saja ayah mas tidak sekejam itu. mungkin mas tidak akan terperosok jauh dalam lingkaran gelap iniÔÇØ ucapku

ÔÇ£jangan pernah memarahi masa lalu, jangan pernah menyesali masa lalu karena masa lalu itu tidak akan pernah berubah sekalipun mas menangis memohon untuk dirubah.. mas menolong mereka, tapi mungkin setelahnya diluar perkiraan mas tapi… hiks… ehem…ÔÇØ ucapnya kemudian mengembangkan senyuman

ÔÇ£jangan pernah mengulanginya lagi, karena apa yang ada dimas… sudah menjadi milik ade walaupun belum seutuhnya…ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£eh maksud ade?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£mas adalah milik ade sekarang ini, ketika mas bersama ade… ade tidak bisa melarang mas ini itu, karena memang pada dasarnya mas adalah pacar ade. Dan ade tidak akan memaksakan semuanya ke mas. Tapi jika suatu saat nanti kita sudah benar-benar sah… sekali saja mas melakukannya diluar entah dengan siapa dan ade tahu…ÔÇØ ucapnya terpotong

ÔÇ£eh…ÔÇØ aku memandangnya tajam

ÔÇ£mas tidak akan melihat ade hidup lagi… karena ade tidak mau kehilangan masÔÇØ balasnya dengan senyum mengembang dan mata yang berkaca-kaca

ÔÇ£Ingatkan mas selalu, agar nanti ketika kita memang benar-benar bersama, mas sudah benar-benar baik untuk ade. Dan mas akan berusaha semaksimal mungkin untuk berubah, kamulah alasanku untuk berubah… bersama ataupun tidak selalu berada dalam hatiku karena kamu, Dian, yang bisa merubah aku…ÔÇØ balasku dengan air mata berlinang, dian kemudian bangkit dan memelukku

ÔÇ£maaaas hiks hiks hiks ade sayang banget sama maas, hiks hiks hiks pokoknya mas hati-hati, terus ndak boleh main sama cewek lain… mas Cuma punya untuk adeeeeee hiks hiks hiks buat ade seorang hiks hiksÔÇØ ucapnya sambil memelukku erat, terasa air matanya membasahi bahuku

ÔÇ£heÔÇÖeh… untuk ade…ÔÇØ ucapku

Aku menariknya dan membalas pelukannya, kurebahkan tubuhku diatas sofa begitupula tubuh dian ikut rebah bersamaku. Dian berada diatasku, duduk mengakangi pinggangku, pandangannya tajam ke mataku, dengan mata sendunya. Kening kami bersatu, diikuti hidung kami juga bersentuhan. Kurasakan air matanya menetes di wajahku, aku tersenyum dengan tangisan pelan.

ÔÇ£be with me… alwaysÔÇØ ucapnya lirih

ÔÇ£always… with youÔÇØ balasku lirih

ÔÇ£hiks hiks hiks jangan pernah tinggalin ade lagi, ade sudah capek nyari mas… ade sudah ndak mau lagi jauh dari mas, ade ndak tahu kenapa ade bisa cinta dengan mas, ade ndak tahu kenapa ade benar-benar ingin selalu dekat dengan mas hiks hiks hiks… yang ade tahu cuma… ade akan bahagia bersama bocah itu… hiks hiks hiks ade sudah tidak mau lagi menanti dan kehilangan… sakit, ndak mau lagi hiks hiks hiks…ÔÇØ isak tangisnya semakin menjadi

Kami berpelukan kembali, menangisi jalan cerita yang tidak seperti kenyataan kami. seandainya saja sebuah cerita indah, bertemu lalu berpisah kemudian bertemu kembali dalam keadaan yang lebih baik tanpa ada sebuah konflik atau polemik, ah itu hanya di sebuah cerita film saja. Walau dalam hatiku aku selalu berharap hidupku seperti di film-film laga, dimana seorang ksatria selalu berada dijalan kemenangannya. Tak peduli seseulit apapun ketika berada dijalan yang gelap dan menakutkan, tetapi di akhir ceritanya selalu ada senyum di wajah sang ksatria itu.

Ah itu hanya mimpi, sekarang aku mempunya banyak beban di bahu dan hatiku. Ibu, kakek, nenek, pak dhe, bu dhe, sahabat-sahabatku, dan keluarga baruku erlina, rani, eri semua menjadi tanggung jawabku. Terlebih lagi kini ada seorang malaikat yang selalu menanti dan ingin selalu bersamaku, Dian. apa mungkin aku terlalu konyol dengan pemikiranku, menanggung semua beban ini sendiri?

ÔÇ£jangan pernah mas menanggung beban mas sendiri hiks ada ade disini mas yah, jangan pernah sekalipun mas merasa diri mas sendiri karena mas punya ade, Ibu, keluarga dan juga sahabat-sahabat mas… kami semua mendukungmu dan akan membantu menyelesaikan masalah mas sendiriÔÇØ ucapnya lirih ketika wajahnya beringsut dari samping wajahku dan kini berada di atas wajahku. Aku memeluknya kembali, seakan menangis sekeras-kerasnya.

argh… tidak mungkin ku bisa menyelesaikannya sendiri. kenapa selalu seperti ini? kenapa semua selalu aku yang memikirkannya? Bukankah selama ini aku tidak pernah mempunyai rencana jika bukan koplak yang membantuku. inilah aku memang selalu begini, memojokan diri sendiri karena masalah yang aku hadapi. Merasa bahwa aku bukan orang yang paling bahagia, dan tidak pernah merasakan bahagia karena masalah-masalah yang ditimbulkan ayahku. Kenapa selalu begini? Aku punya mereka, mereka yang bisa selalu kuandalkan, yang selalu aku coba lindungi.

ÔÇ£terima kasih sayang… aku tidak menyangka dosenku sendiri yang sekarang menemaniku, terima kasih sudah memilihku, terlebih lagi selalu ada disetiap waktu, seandainya bukan kamu yang menjadi DPL-ku, seandainya kamu yang bukan menjadi dosbingku, aku tak mungkin memelukmu seperti saat ini… terima kasih, karena menjadi wanita yang menemaniku dikala itu, kita pasti bisa mengulanginya lagi sayang, pasti… hiks…ÔÇØ jawabku

ÔÇ£heÔÇÖem sayang…mmmm…ÔÇØ ucapnya yang lalu meletakan bibirnya di bibirku

Tubuh kami bersatu walau pada dasarnya tidak seperti yang diharapkan seperti cerita-cerita sebelumnya. Aku hanya memeluknya, meremas tubuhnya dengan tubuhku. Merasakan hangatdari tubuhnya hingga akhirnya aku merasakan lelah karena menangis, kupeluk tubuhnya erat di sofa TV dengan rasa kantuk yang sangat kuat.

ÔÇ£ade…ÔÇØ ucapku dengan nafas sedikit tersengal

ÔÇ£Ya mas…ÔÇØjawabny, terdengar nafasnya pun sedikit belum teratur

ÔÇ£ade tadi mandi?ÔÇØ tanyaku dengan bibir tersenyum

ÔÇ£Eng… mas itu yang belum mandi, ade sudah mandi mas tahu sendiriÔÇØ balasnya sambil melepaskan pukulan ringan ke dadaku

ÔÇ£Ouwh… pakai air?ÔÇØ candaku

ÔÇ£iih… mas lama kelamaan nyebelin uh,ya pakai airÔÇØ ucapnya sambil membalikan tubuhnya, dan kini aku memeluknya dari belakang, terlihat pipinya mencembung

ÔÇ£bohong…ÔÇØ balasku

ÔÇ£terserah week… mas itu aneh-aneh sajaÔÇØ jawabnya

ÔÇ£ade yang aneh… mandi ndak pakai airÔÇØ balasku sambil memeluknya erat

ÔÇ£mas ada apa sih? Kenapa masku sayaaaaang?iya deh ade mandi ndak pakai airÔÇØ ucapnya

ÔÇ£pantesss… ini mas lengket terus ndak bisa lepas, ade pakai lem pasti tadi mandinya he he heÔÇØ candaku melunakkan suasana

ÔÇ£ehem… besok ade mau pakai solasi saja, biar mas ndak kemana-mana lagi, nempel terus hi hi hiÔÇØ ucapnya sambil tersenyum dan memundurkan tubuhnya semakin kebelakang

ÔÇ£kalau ndak kemana-mana, berarti ndak boleh kerja dong?ÔÇØ candaku

ÔÇ£iya ya… hmmm… nanti ada saatnya… ade ngantuk, pengen bobo…ÔÇØ ucapnya lirih

ÔÇ£heÔÇÖem… erghh…ÔÇØ jawabku sambil tanganku memeluk tubuhnya

Dalam keheningan siang ini setelah beberapa jam aku bercerita semuanya. Lelah juga dengan perasaan sedih, aku memutuskan untuk memeluknya dalam panas siang ini. tidurlah sayang… tidur, aku akan bersamamu. Ya, bersama wanita dewasa yang manjanya melebihi seorang gadis kecil. Wanita dewasa yang selalu manja dihadapanku, selalu ingin di dahulukan daripada yang lain. Wanita dewasa yang manja dan lebih dewasa pemikirannya dariku tetapi berlagak seperti anak kecil ketika dihadapanku. Membuatku seperti seorang lelaki dewasa walaupun sebenarnya tidak bisa sebijaksana, sebertanggung jawab, sehebat laki-laki dewasa pada umumnya. Tapi dihadapanya, berbeda…

These is real life, these is real thing, these is real life that i canÔÇÖt hide (bon Jovi).Ringtone. nomor tidak dikenal.

Aku dan dian terkejut hingga terbangun karena suara ringtone sematponku yang tak henti-hentinya berbunyi. Beberapa kali sematpon itu diam tapi kembali lagi bersuara dengan kerasnya. Aku angkat tubuhku namun sebelumnya aku cium pipi kirinya. Dian tersenyum kepadaku dan masih tetap rebah pada posisinya. Ku ambil sematpon yang tadi direbut oleh dian di lantai.

ÔÇ£hoaam siapa mas?ergh…ÔÇØ ucapnya sembari mengangkat tubuhnya sebagian dan bertumpu pada kedua tangannya

ÔÇ£ndak tahu, nomornya ndak ke daftar, mas angkat dulu hoaaam…ÔÇØ ucapku duduk dilantai dan bersandar di sofa tepat dibawah dian. dian kemudian memeluk leherku.

ÔÇ£halo…ÔÇØ

ÔÇ£hiks hiks kak… eri sudah dirumah hiks…ÔÇØ

ÔÇ£eh rani…ÔÇØ (mataku langsung terbelalak kaget karena itu adalah rani, kemudian dian berbisik kepadaku untuk mengaktifkan loudspeakernya)

ÔÇ£cepetan tolong eri kak hiks hiks nanti malam dia hiks hiks hiks tolongiiiiiiiiin hiks hiks hiksÔÇØ

ÔÇ£Eh iya… iya, kamu tenang dulu, kalau nangis terus kakak ndak bisa tenang juga?ÔÇØ

ÔÇ£iya hiks hiks hiks segitunya kakak sama rani hiks…ÔÇØ

ÔÇ£rani… tenang dulu… bukan maksud kak arya marahin kamu, tapi kalau adik ndak tenang nanti kitanya juga ikut bingung kan? Senyum dulu sayangÔÇØ (Dian menangkan rani)

ÔÇ£mbak dian hiks hiks hiks kak arya nyebelin kalau ngomong bentak-bentak terus enakan sama mbak dian hiks hiks hiksÔÇØ

ÔÇ£iya iya kakak minta maaf, dah sekarang rani cerita sama kakak tapi ndak pakai nangis dulu okay? Hirup nafas dalam-dalam okay?ÔÇØ

ÔÇ£huÔÇÖum huffffthhh….ÔÇØ

ÔÇ£sudah? Sekarnag cerita ya…ÔÇØ

ÔÇ£okay.. hiks… eri tadi rani telepon, katanya dia sudah ada dirumahnya di perumahan ARWAH (ASRI DAN MEWAH) di nomor 69. Ayahnya bilang bahwa malam nanti setelah jam 8 malam, eri harus mau melayani ayahnya dan juga anak buah ayahnya. Dan setelah malam nanti eri harus menjadi pelayan ayah dan semua anak buah ayahnya, tidak boleh menolak apapun alasannya. Jadi kakak jika bisa kak tolong eri kak… jika kakak bisa…ÔÇØ

ÔÇ£okay, iÔÇÖll do it…ÔÇØ

ÔÇ£terima kasih kak, kakak memang kakak terbaik buat rani dan eri… mbak dian jangan cemburu ya mbak hiks…ÔÇØ

ÔÇ£iya ndak cemburu kan sama adik ipar hi hi hi ayo senyum dulu…ÔÇØ (dian menjawab)

ÔÇ£heÔÇÖem… adik sudah senyum kok mbakÔÇØ

ÔÇ£okay sekarang kamu tenang ya, kalau eri memberikan informasi tambahan kamu langsung kabari kakak ya?ÔÇØ

ÔÇ£iya kak… nanti rani coba hubungi lagi, karena tadi setelah telepon eri bilang terlalu berbahaya kalau rani telepon terusÔÇØ

“ran, memang sebaiknya kamu tidak hubungi eri dulu. History sematponnya akan mencatat nomor kamuÔÇØ

ÔÇ£kakak tenang saja, eri tadi sudah bilang kalau setiap kali telepon eri selalu menghapus log informasinya dan juga sms-smsnyaÔÇØ

ÔÇ£hufth… okay, kalau begitu kakak akan memikirkan bagaimana caranya untuk sampai kesana, okay?ÔÇØ

ÔÇ£ya kak, kakak hati-hati, jagain mbak dian juga ya kak..ÔÇØ

ÔÇ£iya pasti, kakak akan jaga kalian semuaÔÇØ

ÔÇ£terima kasih kak, rani sayang sama kakak… mbak dian jangan cemburu lhoÔÇØ

ÔÇ£iya sayang…ÔÇØ (dian menjawab)

ÔÇ£dadah kakak dan mbakÔÇØ tuuuut

Dian kini duduk bersila diatasku, kuletakan sematponku dilantai dan mendongak ke atas. bibirnya kemuadian mendarat di bibirku.

ÔÇ£hati-hati…ÔÇØ ucap dian

ÔÇ£pasti, karena kamu aku pasti akan lebih hati-hatiÔÇØ ucapku, entah kenapa tiba-tiba mata dian mengatakan sesuatu kepadaku tapi aku tidak bisa menangkapnya

Aku bangkit dan kulihat jam dinding yang mulai menertawakanku menunjukan pukl 16:00. Ku tinggalkan dian di runang TV tapi yang namanya cinta, dia tetap mengikuti masuk ke dalam kamar. Aku berganti pakaian didekatnya tanpa rasa risih sekalipun. Memakai semua penyamaran yang selalu aku gunakan, dian memandangku dengan tatapan mata yang sedih. Dian kemudian keluar dari kamar entah kemana dia, aku segera menyiapkan semuanya mengirim sms ke pak wan untuk menjemputku.

Aku keluar dari kamar,mendapati dian berdiri mematung didepan pintu kamar. wajahnya sedih, pandangannya menunduk ke bawah seakan tak ingin aku pergi dari rumah ini. aku mendekatinya dan kupeluk tubuhnya, tangannya perlahan memelukku. Ku dengar sedikit suara sesengukan darinya.

ÔÇ£Sudah tenang saja…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£hiks hiks hati-hati pokoknya haru pulang lagi kerumahÔÇØ ucapnya

ÔÇ£heÔÇÖem…ÔÇØ balasku

Kami berpelukan lama, sebenarnya aku sudah tidak ingin lagi terlibat lebih jauh lagi. Sudah ada dian disini, sebenarnya aku jalani hidupku normal saja mungkin bisa. Iya, mungkin kalau saja ayah tidka mempunyai keinginan untuk membumi hanguskan keluarga besar ibu. percuma kebersamaanku besama dian, dan aku tidak bisa menikmati indahnya hidup bersamanya. Lama kami berpelukan hingga sebuah taksi membunyikan klakson di luar rumah.

ÔÇ£pak wan sudah datang, doakan mas ya…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£heÔÇÖem pasti…ÔÇØ jawabnya

Aku melepaskan pelukan dan berjalan ke arah pintu. Dian kembali menarik jaket yang aku kenakan dan merebahkan keningnya di punggungku.

ÔÇ£hiks… mas harus hati-hati, ade nunggu dirumah…ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£pasti…ÔÇØ ucapku, aku berbalik dan mencium bibirnya

Setelahnya aku keluar dan dian hanya memandangku dari dalam rumah. Wajar dia tidak berani keluar rumah karena hanya memakai tank-top dan celana pendeknya. Aku masuk ke dalam taksi dan pak wan langsung berjalan, ku menoleh ke arah dalam rumaj. Tampak dian melambaikan tangannya ke arahku. Taksi berjalan semakin jauh, dan kini hanya aku bersama pak wan saja.

ÔÇ£kemana den?ÔÇØ ucap pak wan

ÔÇ£Perumahan ArwahÔÇØ ucapku

ÔÇ£ada apa den? Apakah aden sedang dalam misi baru lagi?ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£iya, misi baru pak. Eri, teman KKN-ku salah satu dari anak komplotan Ayahku. Dia harus diselamatkanÔÇØ ucapku

Ciiit….

ÔÇ£den, cerita sama bapak dulu, baru bapak mau jalanÔÇØ ucap pak wan

ÔÇ£ini mengenai anak dari komplotan ayah yang perlu diselamatkan pak. Dia nasibnya sama dengan Rani yang waktu itu lho pak, masih ingat?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£tapi kenapa aden sendiria? Terlalu berbahaya denÔÇØ ucapnya, yang kemudian menjalankan taksinya kembali

ÔÇ£sudah tidak ada waktu lagi untuk menghubungi koplak, jam mainnya jam 8 malam. Dan kalau harus menghubungi koplak akan terlalu lama pak. Ini sudah hampir jam 6 soreÔÇØ ucapku

ÔÇ£terlalu berbahaya den, hubungi teman yang lain den…ÔÇØ ucap pak wan

ÔÇ£kalau dihubungi bisa-bisa malah yang disana sudah di K.O pakÔÇØ ucapku

ÔÇ£terserah aden, yang penting aden hati-hati…ÔÇØ ucap pak wan

Perjalanan kembali berjalan tanpa pembicaraan, pak wan menyuruhku untuk berisitirahat sebelum sampai di tempat tujuan. aku berbicara kepada pak wan untuk membangunkan aku jika nanti aku tertidur. Dan benar akhirnya aku tertidur dalam lelapku, entah seberapa lama aku tertidur. hingga…

ÔÇ£arghhhh…..ÔÇØ teriakku spontan karena ada seseorang yang duduk diatasku, mataku terbuka dan mencoba mengangkat bokong yang mendudukiku

ÔÇ£sialan… siapa….. DIRA?!ÔÇØ ucapku yang seketika itu melihat keatas dan dira menoleh kearahku

ÔÇ£apa? Mau main sendiri? mending sama dira kan enyaaak hi hi hiÔÇØ jawabnya

Plak… pipi kananku

Plak… pipi kiriku

ÔÇ£aduh… sialan ka ka kalian kenapa?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£sialan kamu cat, asu, celeng , bajingan… sudah dibilang jangan main sendiri, masih main sendirian!ÔÇØ ucap wongso di kananku

ÔÇ£kemaki (sok berlagak hebat)… ÔÇ£ ucap dewo

ÔÇ£durung tahu digebuki po? (belum pernah di pukuli orang ya?)ÔÇØ ucap anton di depanku

ÔÇ£eh… kok kalian bisa disiniÔÇØ ucapku

ÔÇ£maaf den, pak wan ndak bisa membiarkan aden sendirian…ÔÇØ ucap pak wan

ÔÇ£BENAR ITU! MAIN BARENG ITU LEBIH BAIK DARIPADA MAIN SENDIRI YANG PENTING BUKAN KENTHU BARENG-BARENG! HA HA HA HAÔÇØ jawab wongso, anton, dewo, dira

ÔÇ£maaf ya den, begitu bapak tahu aden mau melakukan misi sendiri. bapak langsung mengirimkan sms ke mas wongsoÔÇØ ucap pak wan

ÔÇ£dan yang bisa saat ini Cuma kita berempar cat, jadi ya kita berlima saja sudah oke. Dan tenang saja, nanti pak wan bisa langsung pulang karena kita tadi datang bawa motor tiga. Dari yang diceritakan pak wan, kita akan menyelamatkan eri tanpa ada orang lain. 3 motor, 1 untuk kamu, 2 untuk kami berempat. Nih kuncinya motornya ada dibelakang taksi, aku nanti sama anton, dira sama dewo ÔÇØ ucap wongso

ÔÇ£lha ini dimana? Dir kamu turun kenapa? beratahu!ÔÇØ ucapku

ÔÇ£iiih… enak kan disini, kontol kamu kok ndak berdiri ya?ÔÇØ ucap dira

ÔÇ£lha aku tahu kamu cowok ngapain berdiri?!ÔÇØ protesku

ÔÇ£iiih segitunya, nanti dira tit fuck deh kalian satu-satu kalau selesai hi hi hiÔÇØ ucap dira

ÔÇ£matamu!ÔÇØ teriak kami berempat

ÔÇ£ini sudah disamping perumahan, pos satpam ada didepan cat. Dam sekarang sudah jam setengah delapanÔÇØ ucap anton

ÔÇ£lha bagaimana kita masuk?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£tenang den, itu yang jaga orang banyu abang. Mereka teman bapak, dan juga tetunnya aden tahu kan. jadi aden dan teman-teman aden bisa masuk dengan bebas. Bapak tidak menduga kalau sasaran berikutnya tempat ini. Akan saya kode dari sini…ÔÇØ ucap pak wan

ÔÇ£mantabz! Teriak kami berlima

ÔÇ£maaf ya bro…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£biasanya juga bagaimana… tenang bro…ÔÇØ ucap wongso menepuk bahuku, begitupula dewo. Anton mengacungkan jempol dan dira menekan dedek arya dengan bokongnya.

ÔÇ£pakai ini, untuk komunikasi… dan aku sudah siapkan rencana, plat nomor pak wan saja sudah aku ganti sejak tadi waktu berangkat dan mendengar cerita dari pak wan aku sudah siapkan semuanya… tapi ingat, ini rencana dadakan dan kita tidak tahu jumlah merekaÔÇØ ucap anton memberikan peralatan komunikasi kecil kepada kami.

Pak wan mengedipkan lampu taksi, dan selang beberapa saat terlihat satpam keluar dari pos satpam. Kedua satpam itu dan memberi kode agar kami segera masuk ke dalam perumahan. semua motor yang berada dibelakang taksi kami tinggal begitu saja. Mobil melewati pos satpam.

ÔÇ£mas, tolong jagain motornya den aryaÔÇØ ucap pak wan kepada salah satu satpam

ÔÇ£inggih pak, kulo jagi, atos-atos nggih pak, den, kalihan mas-masnipun (iya pak, saya jaga, hati-hato ya pak, den, dan mas-masnya)ÔÇØ ucap satpam tersebut dengan sangat sopan apalagi ketika menghadap kearahku

ÔÇ£den wicak pokoknya hati-hatiÔÇØ ucap seorang satpam lagi sambil mengetuk pintu kaca belakang

ÔÇ£inggih mas (iya mas)ÔÇØ ucapku, mobil kemudian berjalan masuk ke dalam perumahan

ÔÇ£gila, arya hebat banget, pada hormat sama kamu semuaÔÇØ ucap dira

ÔÇ£kakek den arya yang selama ini membantu kami, dan kami belum sempat membalasnya. Jadi cucunya harus kami lindngi semua, kalau dikatakan siap mati, kami siapÔÇØ ucap pak wan

Mereka berempak kelihatan melongo, dan yang jelas aku sedikit berkaca mengingat kakek yang terakhir kali memelukku. tak berlarut-larut dalam cerita, kemudian anton mengatakan rencananya kepada kami agar kami bisa masuk kedalam rumah.

ÔÇ£lha alamatnya?ÔÇØ ucap pak wan

ÔÇ£perumahan arwah nomor 69ÔÇØ ucapku

ÔÇ£okay, langsung pada posisi. Pak, berhenti dulu sebentarÔÇØ ucap anton

Anton kemudian bersembunyi di jok depan mobil tepatnya meringkuk di tempat kaki. Dira kemudian duduk dipinggir kiri jok belakang, wongso meringkuk dibawah jok. Dewo keluar dan masuk ke bagasi belakang dan tentunya tidak ditutup rapat, sedangkan aku meringkuk disamping dira dan ditutupi oleh kain yang entah dari mana dapatnya. Lampu taksi dalam keadaan mati dan berjalan mendekati tempat tujuan, berputar-putar sejenak dan berhenti. Kulirik jam digital pada taksi menunjukan pukul 20:30.

DIRA (Sudut pandang orang ketiga)
Wanita? Bukan… pria? Juga bukan… inilah salah satu anggota koplak yang koplaknya kebangetan. Sudira, laki-laki perempuan inilah yang selalu menjadi tombak depan koplak ketika menyelesaikan masalah arya.

Klek… blughh… pintu taksi terbuka dan kemudian dibanting oleh dira. Dira dengan tas kecil tergantung di bahunya melangkah mendekati pintu gerbang diiringi Taksi yang bergerak maju kemudian berputar dan berhenti tidak jauh dari rumah Eri. Dira yang kemudian berada di depan pintu gerbang dihadang ada dua orang tinggi besar.

ÔÇ£Siapa kamu?! mau apa?!ÔÇØ ucap lelaki 1

ÔÇ£iiih si mas galak banget deh, ini akyu dipanggil kesini katanya ada pesta, dan akyu salah satu yang meramaikan lho mas, masa mas ndak bisa lihat sih dandanan akyuÔÇØ ucap dira, kedua lelaki itu sebenarnya sudah terbelalak dengan pakaian dira yang sangat seksi dan bahkan memperlihatkan sebagian payudaranya

ÔÇ£hmmm.. slurrp enak tuh, namanya siapa nih?ÔÇØ ucap lelaki 2, menelan ludah sambil mencolek tangan dira

ÔÇ£Dira mas, ih mas colek-colek deh… kan jatahnya nanti, mau sekarang mas? Ndak papa sih, dira suka lho mas kalau main diluar. Asyik deh kayaknya apalagi lawannya dua orang hhmmm…ÔÇØ ucap dira

ÔÇ£ssst… bagaiaman, kita nikmati dulu saja?ÔÇØ ucap lelaki 1

ÔÇ£benar juga, mumpung masih fresh iniÔÇØ ucap lelaki 2

ÔÇ£tapi jangan didalem bro, ntar kalau ketahuan disini sajaÔÇØ ucap lelaki 1 memberi isyarat ke lelaki 2 untuk bermain disekitar pintu gerbang saja, dira hanya senyum-senyum dan mendekati lelaki 1. Tangannya mengelus bagian selangkangan lelaki 1.

ÔÇ£ughhh… kayanya memang harus disiniÔÇØ ucap lelaki 1

ÔÇ£disini juga ndak papa kok mas, dira kuat kok… memang didalam masih ada berapa?ÔÇØ ucap dira menyelidiki sambil satu tangannya mengelus selangkangan lelaki 2. Posisi dira sekarang berada ditengah laki-laki

ÔÇ£Ouwh… ada 11 orang lagi didalam, emang kuat ya mbaknya kalau sembilan orang?ÔÇØ ucap lelaki 1

ÔÇ£iiih jangankan 11 orang, 13 sama masnya kalau minta lagi saja dira kuat kok. Suka banget kalau dira jadi pusat kontol-kontol masnya hi hi hi… kaya di pidio-pidio jepang gitu mas, mandi spermaÔÇØ

ÔÇ£ayo kapan nih? Apa dira perlu masuk ke dalam dulu, masnya dapat sisa?ÔÇØ lanjut dira merayu

***
Disebuah taksi yang berada tidak jauh dari tempat dira sedang merayu lelaki-lelaki itu. Lima orang ang berada di taksi sedang mendengarkan dari mikrophone mereka. Anton, penyusun rencana ini sudah duduk manis di jok depan, arya dan wongso juga telah duduk di jok belakang. Sedangkan dewo, dengan membuka sedikit pintu bagasi mobil dia merokok sambil mendengarkan cerita panas dari dira.

ÔÇ£pinter dira, siiipz, 13 orang berarti didalam ada 11 orangÔÇØ ucap anton

ÔÇ£tapi cara dia merayu bikin konak saja bro, pengen ngocok jadinyaÔÇØ ucap dewo

ÔÇ£ingat dewi wo! Tapi mantab benar itu dira, gimana kalau kita beri dia jatah saja untuk meladeni mas-masnya ituÔÇØ ucap wongso

ÔÇ£edan… tapi kalau dira keblabasan, ndak papa jugaÔÇØ ucap arya

ÔÇ£memangnya apa yang dilakukan dira mas?ÔÇØ ucap pak wan kepada anton

ÔÇ£he he he… anak muda pakÔÇØ jawab anton

ÔÇ£eh jangan mbak, barang bagus gini kok kita dapat sisa. Apalagi ini pepayanya kelihatannya sekel banget?ÔÇØ ucap lelaki 1 dan mentowel susu dira

ÔÇ£eh eh eh… ini bukan pepaya mas, kalau pepaya nggantung kebawah, ini melon mas, kan kencengÔÇØ ucap dira sambil meraih tangan lelaki 1 dan ditempelkannya ke susunya

ÔÇ£mbak, aku juga dong boleh ya… ndak pernah dapat sisa dari si bos nihÔÇØ ucap lelaki 2 dan dengangenit dira menarik tangan lelaki 2 untu kmenyentuh susunya

ÔÇ£mau disini apa disitu mas?ÔÇØ ucap dira

ÔÇ£di dalam saja mbak, tenang saja mbak yang lain masih didalam mbak. Nanti kalau kita sudah selesai baru panggil merekaÔÇØ ucap dira

ÔÇ£tambah satu ndak papa kok mas, kan lubang dira ada 3. Kasihan dong kalaulubang yang satunya dianggurinÔÇØ ucap dira

ÔÇ£ssst.. gimana panggil saja si beton kesini, kemarin dia ndak dikasih lonthe sama si bosÔÇØ ucap lelaki 2

ÔÇ£sebentar, BBM-nya saja biar amanÔÇØ ucap lelaki 1

Selang beberapa saat kemudian lelaki 3 atau yang disebut sebagai si beton keluar…

ÔÇ£gila bro… barang bagus nih, ikutan yahÔÇØ ucap lelaki 3

ÔÇ£yoi bro, dianya maunya rame-rame… tapi bagaimana didalam? Sudah pada mulai belumÔÇØ ucap lelaki 2

ÔÇ£belum… itu si nonanya lagi disuruh nari stripteas, Cuma bisa ngocok doang…ÔÇØ ucap lelaki 3

ÔÇ£iiih… kelamaan… dira masuk saja deh kalau gitu…ÔÇØ ucap dira

ÔÇ£eh jangan mbak… ayo kita crotin diaÔÇØ ucap lelaki 1

Lelaki 1 yang berada ditengah-tengah sudah tidak tahan langsung meremas kedua buah melon dira. Dira mulai mendesah, dengan sigap dira mulai meremas batang lelaki 2 dan 3 yang berada disamping lelaki 1. Tanpa babibbu, lelaki 2 dan lelaki 3 melepaskan celana mereka dan tangan dira mulai mengocok kedua batang yang lumayan besar. Tas kecil itu pun masih bisa menggantun di bahu dira.

ÔÇ£iiih… lebih kecil dari punya eko, iiih… tapi ndak papalah, mumpung cintaku masih diluar kotaÔÇØ bathin dira

Lelaki 1 dengan cekatan melorotkan kemben yang dikenakan dira. Tanpa curiga dengan bentuk payudara dira, padahal jika dibandingkan dengan payudara buan dengan payudara asli kemudian dioperasi seharusnya memliki bentuk yang berbeda. Tapi lelaki 1 tak bisa membedakannya, mungkin karena dia tidak pernah berselancar di internet. Kepala lelaki 1 kemudian turun dan memainkan puting dira, dira hanya bisa mendesah kenikmatan merasakan jilatan di payudaranya.

ÔÇ£bro… aku juga pengen ngrasain putingnya bro, gantianÔÇØ ucap lelaki 2 ke lelaki 1

ÔÇ£enak bro…ÔÇØ ucap lelaki 2 yang sama sekali tidak sadar akan bentuk payudara dira

ÔÇ£aku juga bro gantianÔÇØ ucap lelaki 3

Tanpa kehabisan akal, lelaki 1 menurunkan celana dalam dira. Direnggangkannya kedua paha dira, kepalanya maju dan langsung lildahnya menyapu vagina buatan itu. klitorisnya tampak lebih besar namun lelaki 1 ini tidak peduli, untuk menjaga mereka mengetahuinya. Dira mengapitkan kembali pahanya dan jongkok. Disuruhnya lelaki 1 berdiri, sambil menunggu lelaki satu membuka celana. Secara bergantian dira mengulum batang lelaki 2 dan 3.

ÔÇ£asuuuu… (anjiiing) enak tenan rasanya…ÔÇØ ucap lelaki 3

ÔÇ£weidian ini to rasanya main bareng… setelah ini kita bisa menikmati tubuh si nona mudaÔÇØ ucap lelaki 2

ÔÇ£ayo mbak, aku juga pengen mbak…ÔÇØ ucap lelaki satu menarik kepala dira, dengan santai dira mengulum batang lelaki 1

ÔÇ£hi hi hi… maafin dira cintaku, tapi dira butuh hi hi hi… habis ini, mmm… ndak boleh lama-lama kasihan juga tuh si nona, to the point sajalahÔÇØ bathin dira

Secara bergantian dira mengulumi tiga kontol sekaligus. Selang beberapa saat dira merasa sudah yakin dengan keputusannya, dimintanya lelaki 1 untuk tiduran. dimasukannya batang lelaki 1 ke dalam vagina sintetisnya.

ÔÇ£masnya jangan pada diem, itu anus dira anget lho mas… masnya yang satu sini, mulut dira anget juga lho masÔÇØ ucap dira

Lelaki 3 menusuk anus dira, sedangkan lelaki 1 pasrah dengan genjotan dira. Lelaki dua maju kedepan wajah dira dan dimasukannya kontolnya kedalam mulut dira. Tiga lubang dira telah tertutupi semua oleh kontol-kontol yang menurut batin dira adalah lebih kecil dari milik kekasihnya eko. Dira yang juga merupakan ahli beladiri, sudah pasti tahu bagaimana merapatkan otot-oto tubuhnya. Dengan cekatan tanpa basa-basi, vagina dira menjepit kontol milik lelaki satu. Anusnya pun merapat membuat keenakan lelaki 3 yang terus menggoyang kontolnya. Sedangkan lelaki 2 terasa sangat ngilu dibuatnya oleh sedotan dira.

ÔÇ£dasar lonthe, tempikmu enak banget… peret sempit! Dah krasa mau keluar akuÔÇØ ucap lelaki 1

ÔÇ£aku juga bro… anusnya juga wuah enak tenan bro…ÔÇØ ucap lelaki 3

ÔÇ£bibirnya sensual bro… uenak tenan, aku mau keluarÔÇØ ucap lelaki 2

ÔÇ£iih dasar, gini saja dah keluar, si eko mah setengah jam baru keluarÔÇØ bathin dira

Dan crooot crooot crooot crooot crooot crooot crooot crooot

Ketiga lelaki menumpahkan sperma ke dira, di tiga tempat yang berbeda….

ÔÇ£uughh… pejunya enak mas… anget di tempik, anus sama mulut mmmm….ÔÇØ ucap dira, yang langsung bangkit karena memang tidak mengalami orgasme

ÔÇ£ediyan…. aku KO, beneran lonthe hebat kamu mbakÔÇØ ucap lelaki 2

ÔÇ£sini mas duduk sampingan biar dira bisa pijit punggung mas pake melon diraÔÇØ ucap dira, tanpa ragu mereka duduk berjajar dan dira dibelakang mereka semua

Dira mengeluarkan sesuatu dari tas kecilnya dan…

Clek… clek… clek…

ÔÇ£argh apa-apan kamu arghhh…ÔÇØ ucap lelaki 3 yang pertama kali tertusuk sesuatu

ÔÇ£bro… arghhh…ÔÇØ ucap lelaki 1 yang terlambat menyadari

ÔÇ£weits… arghhh… sialan… arghhh….ÔÇØ ucap lelaki 2 yang sadar dan sempat menghindar tapi apa daya lawannya adalah ahli bela diri, sehebat apapun menghindar tetap saja terkena pukulan dan tendangan dari dira dan akhirnya tertusuk juga

ÔÇ£dah masuk… dah beres…ÔÇØ ucap dira ke dalam mikropon, dan semua orang yang berada di dalam taksi tersebut tersenyum mendengar ucapan dira

(sudut pandang orang ketiga selesai)

Aku dan ketiga koplak langsung keluar dari taksi menuju ke rumah itu. Dengan sedikit berlari akhirnya kami sudah sampai di belakang pintu gerbang. Kami mendapati dira yang sedang membersihkan cairan di vagina buatannya dan juga anusnya, bagian susunya masih terbuka lebar karena kemben yang menutupi payudara sintetis itu belum dinaikan oleh dira.

ÔÇ£edan kamu dir, hampir saja aku ngocok tadi di bagasiÔÇØ ucap dewo

ÔÇ£iiih ngocok, sini kalau mau ngrasainÔÇØ ucap dira

ÔÇ£gundulmu! aku masih normal dir…ÔÇØ balas dewio

ÔÇ£kamu cocok dir kalau dimasukan ke dalam cerita panas, nanti tak buatkan cerita tentang lelaki bervagina, gimana dir? Nanti aku masukan ke forum semprot.comÔÇØ ucap anton

ÔÇ£weh jangan, ntar cerita ini ndak kelar-kelar susah kitaÔÇØ ucap wongso

ÔÇ£benar juga, sudah biarkan dira bersih-bersih dulu… masalah cerita panas, kita bahas nanti. Ini masalah eri bro…ÔÇØ ucapku,

ÔÇ£eh iya sampai kelupaan, tapi siip… semoga racun dalam suntikan itu bisa ampuh dan tahan lamaÔÇØ ucap anton

ÔÇ£iiih kalian bisanya sap sip aja, hati dira sakit tahu, kalau eko tahu gimana coba hiksÔÇØ ucap dira yang sok gaya

ÔÇ£lah, kan aku nyuruh kamu nggoda saja ndak sampe kenthuÔÇØ ucap anton

ÔÇ£hi hi hi kelepasan sih, orangnya gede-gede sapa tahu kontolnya lebih besar dari eko, eh tahunya colokan kabel hi hi hiÔÇØ ucap dira

ÔÇ£edan kamu dir… eh Dir tadi kok bisa nambah satu lagiÔÇØ ucap anton,

ÔÇ£tuh masnya yang satu itu sms ke dalam, ya ketambahan pemain deh. Sensasi JAVnya dapet banget hi hi hiÔÇØ ucap dira sambil menaikan kembennya

ÔÇ£edan… melon sintetis menggairahkanÔÇØ ucap dewo

ÔÇ£iya ya kok bisa ya?ÔÇØ ucap wongso

ÔÇ£itu kamu masuki melon dir?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£silikon bodoh… makanya besok, asmi, dewi, anti dan juga pacara baru kamu siapa namanya? Dian ya? suruh operasi kaya akyu… hi hi hiÔÇØ ucap dira

ÔÇ£ndak usah kali…ÔÇØ ucap kami pelan secara bersamaan

ÔÇ£dir, aku foto… kamu setengah telanjang cepetanÔÇØ ucap anton

ÔÇ£iiih… kamu mau sebarin di semprot.com ya? ogah ah, ntar pada calling diraÔÇØ ucap dira

ÔÇ£edan kamu dir, cepetan buat mancing yang didalam dodolÔÇØucap anton

ÔÇ£iya… iya, gini ya?ÔÇØ ucap dira sambil menyibakkan rok ketatnya ke atas dan nungging sambil menoleh kebelakang

ÔÇ£siiipz…ÔÇØ

ÔÇ£Sekarang kita mendekat ke arah pintu rumah gedong (mewah) iniÔÇØ ucap anton, entah anton sedang melakukan apa tapi yang jelas, anton memancaing seseorang keluar dari rumah itu dengan menggunakan foto dira.

Kami bergerak secara bersamaan, mengendap-endap perlahan ke arah pintu rumah yang jaraknya lumayan untuk main futsal. Sesuai instruksi anton, Sekarang kami sudah berada di samping pintu masuk rumah. Dengan tetap tenang kami berlima tetap berada disamping pintu masuk bagian luarnya. Pintu rumah ini tidak tertutup rapat mungkin saja ketika aku mendengar permainan dira tadi ada tambahan satu orang, lupa nutup pintu mungkin. Kemudian…

ÔÇ£sialan itu orang dapat barang bagus saja broÔÇØ ucap seorang lelaki (lelaki 4)dari dalam rumah menuju keluar tampak sekali dia sedang bercakap dengan seseorang. Berarti benar anton mengrim foto dira.

ÔÇ£iya, kita dapat sisa iniÔÇØ ucap seorang lelaki lagi (lelaki 5)

Kleeek… trap… trap… trap… tanpa memperhatikan kanan dan kirinya langsung saja kedua lelaki yang sudah terbakar oleh foto dira langsung melangkah maju

Set… set… set… aku dan dewo memiting dua orang ini.

ÔÇ£kalau you bergerak you mati!ÔÇØ ucap dewo berbisik dengan gaya bicara yang diubah

ÔÇ£ente juga, gerak berarti mati!ÔÇØ ucapku

ÔÇ£berapa orang yang ada didalamÔÇØ ucap anton

ÔÇ£delapan orang egh… tolong ampuni kami…ÔÇØ ucap lelaki 4 yang aku piting. Kenapa jadi 8 orang?

ÔÇ£benar ada delapan orang…ÔÇØ ucap lelaki 5 yang dipiting dewo

ÔÇ£katakan posisi merekaÔÇØ ucap anton

ÔÇ£dua orang di ruang tengah, dua orang ada di sekitar kolam renang dan dua orang menjaga bos…ÔÇØ ucap lelaki 4

ÔÇ£yang kamu sebutin masih tujuh bodoh!ÔÇØ ucap wongso

ÔÇ£yang satu nona sedang menari dipinggir kolam renangÔÇØ ucap lelaki 5

ÔÇ£arghhhh…. ÔÇ£ ucap lelaki 4 dan 5 bersamaan dan jatuh karena suntikan dari anton dan dira

ÔÇ£dir… kamu nanti matikan lampu, jaga saklar tunggu aba-aba darikuÔÇØ ucap anton

ÔÇ£iiih gantian beraksi, dira dilupain tapi ndak papa deh, yang dua ini kontolnya besar ndak ya?ÔÇØ ucap dira dengan santai menarik dua orang tersebut ke arah meteran listrik yang berada tak jauh dari pintu rumah

ÔÇ£ayo cepat masuk, mikrophone disiapkan!ÔÇØ ucap anton

Malam semakin larut, aku semakin khawatir dengan keadaan eri. Argh… sialan kenapa juga harus mellibatkan banyak orang seperti ini. rembulan malam yang tidak sempurna tapi sudah bisa memperlihatkan cahaya terangnya mulai menemani langkah kami. aku, wongso, dewo dan anton yang berada didepan kami memipin langkah kami. dengan mengendap-endap kami sudah memasuki ruang tamu. Terlihat dua orang lelaki yang tampak sedang mengelus-elus selangkanganya melihat kearah kolam renang dari kaca-kaca transparan yang menghubungkan ruang tengah dengan kolam renang. Terdengar percakapan mereka.

ÔÇ£gila bro… bodinya masih ketutup aja dah bagus kaya gitu bro… aseeeek… dapat sisa pun ndak masalah nih bro ha ha haÔÇØ ucap seorang lelaki (lelaki 6)

ÔÇ£aku juga bro, pengen aku sumpal itu bibir seksinya dengan kontolku… udah cantik, manis, seksi lagi ndak rugi tuh si bos nggedein anaknya ha ha haÔÇØ ucap seorang lelaki lagi (lelaki 7)

ÔÇ£dir… matikan lampuÔÇØ ucap pelan anton ke arah mikrophone

Pet….

ÔÇ£ah sialanmati lampu!ÔÇØ ucap lelaki 6

ÔÇ£biarkan saja yang diluar yang ngurusi, toh disana juga rameeeeeehhhhh ughhhhhh…ÔÇØ ucap lelaki 7 menimpali yang kemudian jatuh karena tusukan jarum suntik anton

ÔÇ£heh bro… HAH, siap ughhhhhhhÔÇØ lelaki 7 jatuh tersungkur

ÔÇ£tarik mereka kedalam kita kembali keposisiÔÇØ ucap anton, menyuru kami kembali ke ruang tamu yang keadaannya lebih gelap

ÔÇ£CEPAT NYALAKAN LAMPUNYA!ÔÇØ teriak seseorang yang tak asing lagi si aspal

Selang beberapa saat kemudian terdengar langkah kaki mendekati memasuki rumah dari pintu belakang yang menghubungkan rumah dan kolam renang. Kami diuntungkan oleh cahaya rembulan, tempat kami gelap karena cahaya rembulan masuk dari kaca-kaca. Tampak dua orang lelaki yang masuk kedalam secara bersamaan dan berjalan ke arah ruang tamu. Cahaya rembulan yang menembus kaca dibagian belakang mereka membuat kami bisa mengawasi gerak-gerik mereka. semakin mereka mendekat kearah ruang tamu, semakin kami bersembunyi ke dalam. Dua orag lelaki itu sangat santai dalam melewati ruang tamu tanpa mengetahui keberadaan kami. tepat ketika mereka berdua berada di ambang pintu dan hendak membuka pintu, dengan sigap anton menancapkan dua buah suntikan ke punggung dua lelaki tersebut.

ÔÇ£arghh…ÔÇØ dua orang lelaki jatuh tersungkur, sebut saja lelaki 8 dan 9

ÔÇ£5 diluar, 4 didalam berarti tinggal empat orang plus si eriÔÇØ ucap anton

Klek… klek… klekk…

ÔÇ£eh nton apaan tuh?ÔÇØ ucap wongso

ÔÇ£kontol, ya jelas senapan laras panjangÔÇØ ucap anton

ÔÇ£dimana kamu nyimpennya, kan ndak bawa tas?ÔÇØ ucap dewo

ÔÇ£kamu masukin ke anus kamu nton?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£gundulmu! Ini bisa ditekuk-tekuk tak masukan ke punggung dodol! Dah diem saja kalian… ayo ikuti akuÔÇØ ucap anton

Kami berempat melangkah mendekati kaca-kaca yang menghubungkan ruang tengah. Mataku terbelalak ketika melihat keindahan tubuh eri yang sudah telanjang, dengan dua buah susu yang menggantung indah, masih sekal layaknya perawan. Ah… memang sempurna tubuhnya tapi kalau diingat-ingat lagi, eri dan rani memang memiliki kelebihan pada bodi tapi wajah oke juga. Kami berjarak kurang lebih satu meter dari kaca itu agar tidak terllihat dari luar, anton dengan senapan laras panjangnya membuka sedikit kaca, mengarahkan moncong senapan ke arah dua orang lelaki yang membelakangi kami. ya, ditengahnya ada seorang yang biasa aku sebut aspal dan seorang wanita yang sedang menari dengan air mata mengalir itu adalah eri.

Slugh…

slugh…

Dua kali suara pelan tembakan yang terdengar lirih dengan jarak waktu beberapa detik, karena aku melihat anton harus memasukan kembali peluru kedalam senapan itu. Dua orang terjatuh, si aspal kemudian berdiri dengan tubuh hanya bertutupkan celana dalam itu. Dia sangat kebingungan berteriak-teriak memanggil anak buahnya, kulihat eri terduduk bersimpuh dengan tubuh bugilnya. Tangisnya terdengar walau suara ayahnya lebih keras dari tangisnya. Tanpa berpikir panjang aku berlari ke arah kolam renang, aspal menyadari kehadiranku dan langsung mengambil pistol yang ada di meja dekat dengan kursi yang dia duduki. Dengan cepat dia mendekati eri dan menarik eri kearahnya. Dipeluknya leher eri dari belakang dan mengarahkan moncong pistol kepelipis eri.

ÔÇ£Siapa kalian?!ÔÇØ teriak aspal, jelas dia tidak mengenalliku karena penyamaranku. Aku terhenti sejenak karena kecerobohanku mendekat terlebih dahulu.

ÔÇ£Lepaskan dia…ÔÇØ ucapku berdiri dengan dewo dan wongso yang berada di tangga

ÔÇ£Apa mau kalian?ÔÇØ ucap aspal

ÔÇ£Dia, wanita itu berikan pada kami… kamu bisa mencari yang lain yang lebih darinyaÔÇØ ucap wongso aku berdiri dengan kaki sedikit gemetar lihat eri dalam ambang kematian, air matanya deras mengalir

ÔÇ£ha ha ha… aku bukan orang bodoh, yang dengan mudah kalian bohongi!… lebih baik kalian mati dulu sajaÔÇØ ucap aspal

ÔÇ£bodoh… kamu itu sendiri, sedangkan anak buahmu sudah mati semua! Mau apa kamu dengan pistol itu? kalaupun kamu menembak satu diantara kami jelas dua orang diantara kami akan bergerak menghajarmu, paling tidak satuorang diantara kami bisa membunuhmuÔÇØ ucap wongso

ÔÇ£apa? Tidak mungkin! Kalianlah yang akan ma… argh!ÔÇØ ucapnya terpotong berbarengan dengan suara tembakan

Dhuar… klak… sreeeek… pistol terjatuh dari tangan aspal

ÔÇ£arghh…ÔÇØ rintih aspal ketika tangan yang mengacungkan tangan ke arah ku ditembak oleh anton

ÔÇ£arghhh… dasar perempuan jalang!ÔÇØ ucap aspal ketika tangan kirinya digigit oleh Eri.

Eri terlepas dari cengkraman aspal, dengan tubuh telanjangnya Eri berlari dia sembari mengambil pistol Aspal yang terjatuh. Dia langsung memelukku dan aku pun memeluknya dengan tujuan untuk menutupi tubuh telanjangnya.

ÔÇ£sudah dibilangin kalau kamu itu sendirian masih saja berlagakÔÇØ ucap dewo

ÔÇ£sekarang kamu mau ngapain, sekali saja kamu teriak… MATI!ÔÇØ ucap wongso

ÔÇ£ayolah aku hanya bercanda tadi, kalian ingin uang? Aku ada banyak… akan aku berika ke kalian semua asal lepaskan aku. Kalau kalian ingin anakku itu silahkan nikmati tubuhnya… ayolah, kita bisa buat deal-kan? Kita bisa berbisnis kawan…ÔÇØ ucap aspal yang nampak kesakitan karena tangannya tertembak

ÔÇ£siapa bilang kita butuh uang dan wanita? Kami sudah punya semuanyaÔÇØ ucapku

ÔÇ£orang kaya kamu kasih uang buat apa?ÔÇØ ucap wongso

ÔÇ£mungkin lebih baik kita bius dia dan kita masukan ke dalam penjara saja daripada banyak bicara…ÔÇØ ucap anton yang muncul dari belakang dewo dan wongso sambil menenteng senapan anginnya

ÔÇ£tidak hiks hiks hiks… erghh….ÔÇØ ucap Eri yang berada dalam pelukanku

ÔÇ£er, kita bisa pergi biar lelaki ini masuk dalam penjara saja, nanti akan ada yang bisa mengurus…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£kakak… hiks hiks hiks…ÔÇØ ucap eri tersenyum dan terisak kearahku

Eri melepaskan pelukannya dan berbalik, kini dia membelakangiku…

ÔÇ£Halooo ayah apa kabar? Baikkah ayah? Lihat ayah ingin ini ya? apa yang ini ayah?ÔÇØ ucap eri sambil menunjukan meremas buah dada kirinya, dan kemudian mengelus bagian vaginanya. Tangan kanannya masih erat memegang pistol ayahnya si aspal.

ÔÇ£Eri… maafkan ayah nak, ayah janji akan memperlakukanmu dengan baikÔÇØ ucap aspal

ÔÇ£Lho ayah kok gitu, lihat yah… ayah pernah bilang kan sama anak ayah ini kan? ÔÇÿEri kamu itu aku besarkan untuk aku nikmati tubuhkamuÔÇÖ begitu kan kata ayah?ÔÇØ ucap eri

ÔÇ£eh… itu hanya bercanda sayang… sudah jangan diambil hati sayang…ÔÇØ ucap aspal

ÔÇ£lho, berari ayah beneran ndak mau ini? lihat ayah, ini kan juga hasil kerja keras ayah. Menyuruhku perawatan setiap minggu, biar kulit mulus, payudara besar, bokong juga kencang, lihat nih yah yang selalu ayah omongin, sekarang menggantung indah ayah tidak mau?ÔÇØ ucap Eri, tiga hanya bisa memandang dari belakang tubuh eri, sedangkan aku yang berada tepat di belakang eri benar-benar bisa melihat gerak-gerik eri.

ÔÇ£sayaaang… sudah sayang, ayah ndak mau kok sayang… sayang kan anak ayah yang baikÔÇØ ucap aspal

ÔÇ£oh iya eri kan anak yang baik, yang selalu bantu ayah, tidak boleh buka-bukaan kan yah? Sekarang Eri buka untuk ayah.. kok ayah kelihatan sedih? Tadi Eri kan sudah nari, terus telanjang ini masih telanjang yah… ayah senyum dong…ÔÇØ ucap Eri, sambil kedua tanganya memegang pistol dan diarahkannya ke Aspal

ÔÇ£eri sayang maafkan ayah ya…ÔÇØ

ÔÇ£kawan-kawan ayolah kita bisa buat deal, kita bisakan berundingÔÇØ lanjut aspal ke arah kami

ÔÇ£Er… sudah er, biarkan polisi yang mengurus diaÔÇØ ucap Anton

ÔÇ£Sudah hentikan saja…ÔÇØ ucapku lirih

ÔÇ£Kak…ÔÇØ ucap eri

ÔÇ£hmm…ÔÇØ jawabku

ÔÇ£kakak sayang eri kan?ÔÇØ ucap eri, moncong pistolnya diturunkan

ÔÇ£iya… kan eri adik kakak…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£kalau sayang eri, kakak dan teman-teman kakak diamÔÇØ ucap eri, langsung saja membuatku terdiam dan juga yang lain

ÔÇ£Eh Ayah, maaf ya yah eri nyuekin ayah, padahal eri anak yang baik ndak boleh nyuekin ayahnya… eh ayah masih ingat ndak dengan yang namanya… emmm siapa ya, pokoknya dia itu cewek terus ayah itu suka banget narik rambut sama nampar cewek itu, namanya Rika Widiastuti ayah. Ayah ingat ndak? Itu kan juga ada dinamaku lho yah, namaku kan Eri Rika Widiastuti. Ayo yah ingat tidak?ÔÇØ ucap eri yang kemudian mengarahkan moncong pistolnya kembali ke arah ayahnya, Aspal

ÔÇ£Eh… Eri iya ayah tahu ayah salah, tapi ayah mohon maafkan ayah eri… ya, waktu itu kan ayah sedang eh eh mabuk, jadi waktu itu ayah khilaf…ÔÇØ ucap aspal

Dhuarrrrr… tubuh eri terdorong kebelakag dan langsung aku tangkap tubuhnya, eri kemudian berdiri kembali. Jika dilihat dari arah moncong pistol di awal, seharusnya mengenai kepala tapi kaki dari aspal terkena. Memang sulit jika belum pernah memegang pistol.

ÔÇ£argh Eri ampuuuun sayang ampun jangan bunuh ayah, kamu bisa memiliki semuanya…ÔÇØ ucap aspal

ÔÇ£khilaf ya yah? Berarti sebelum-sebelumnya hingga akhirnya Ibu meninggal, itu juga khilaf? Mmm… setahuku khilaf itu sekali yah… dan selanjutnya memang disengaja…ÔÇØ ucap eri yang kini posisinya sudah benar-benar emosi, pistol yang dipegangnya di arahkan ke kepala aspal

ÔÇ£ampun sayang maafkan ayah… hiks hiksÔÇØ ucap aspal sambil menangis

ÔÇ£Er, sudah hentikan… anton, kalau dia mati kita tidak memiliki cukup informasiÔÇØ

ÔÇ£cat hentikan Eri…ÔÇØ ucap anton

ÔÇ£Er… sudah hentikan, kita masih butuh di…ÔÇØ ucapku terpotong

ÔÇ£kak… lebih baik eri nyusul ibu daripada melihat lelaki ganteng didepan Eri ini masih hidup..ÔÇØ ucap eri, aku menoleh ke arah anton dan yang lainnya. Bahu mereka bertiga kelihatan kompak naik keatas. Aku berbalik memandang tubuh belakang eri yang telanjang.

ÔÇ£Ayah…ÔÇØ ucap Eri

ÔÇ£ampun sayang ampuni ayah… ampuuuuun…ÔÇØ ucap aspal

ÔÇ£masih ingatkah juga sama bibi Wiwid? Dia juga bernasib sama seperti Ibu, padahal dia hanya pembantu yang mencoba mempertahankan harga dirinyaÔÇØ ucap Eri

ÔÇ£ampun sayang ampuni ayah… ampuuuuun… tolong sayang ampuni ayahÔÇØ ucap aspal

ÔÇ£ini untuk mereka berdua…ÔÇØ ucap eri

Dhuarrr….

Sebuah peluru panas tepat masuk kedalam kening aspal, matanya terbelalak tubunhnya jatuh kebelakang. Aku melihat kesamping kematian salah satu dari komplotan ayah. Aku berjalan mengambil pakaian Eri, aku melangkah mendekati eri yang menangis sesengukan. Ku tutupi tubuhnya walau tidak sepenuhnya tertutup. Tanganya turun, pistol terjatuh.

ÔÇ£kakak… hiks hiks hiks dia yang telah membunuh Ibu dan Bibi, dia yang selama ini menyiksa mereka berdua begitu juga eri kak… hiks hiks hiks aku benci dia, sangat benci dia kakÔÇØ ucap eri yang tubuhnya bersandar ketubuhku, eri kemudian berbalik dan memelukku

ÔÇ£sudah, semuanya sudah selesai… kamu akan selamat bersama kakak dan teman-teman kakakÔÇØ ucapku lirih

ÔÇ£Bro… kita ikat mereka dulu… nanti kita hubungi polisi, kita selesaikan secepatnyaÔÇØ

ÔÇ£Cat, segera bawa Eri pergiÔÇØ ucap Anton

ÔÇ£Ayo Er…ÔÇØ ucapku dan dijawab anggukan oleh Eri

Kriiing… Kriiing… Kriiing ringtone sebuah sematpon di kursi yang tadi diduduki oleh Aspal. Sambil menjaga langkah eri, aku dekati dan amati. Nomor Ayah, tak kuangkat tapi aku tetap membawa sematpon itu. lampu rumah kemudian menyala, ku dapati koplak sedang mengikat anak buah yang terkena suntikan bius. Aku antar eri ke kamar, tak ada percakapan antara kami berdua.

ÔÇ£Kak, kakak disini saja eri takut hiks hiksÔÇØ ucap eri

ÔÇ£lha kan eri mau ganti bajuÔÇØ ucapku

ÔÇ£kakak sudah lihat kenapa eri malu, sudah pokoknya kakak disini, eri masih takutÔÇØ ucapnya

Aku menunggunya berdiri dan membelakanginya, selang beberapa saat eri sudah selesai. Eri sudah memakai kerudungnya dan Kemudian dia mengemasi semua barang-barangnya yang dinilai cukup penting baginya. Penting? Tapi kalau dilihat dari isi kamarnya tampak bersih semua, dengan senyum manjanya eri menyerahkan aku dua tas koper besar.

ÔÇ£gila!ÔÇØ bathinku

ÔÇ£semuanya penting kak, jadi ndak ada yang eri tinggalÔÇØ ucap eri

ÔÇ£hadeeeeh…ÔÇØ ucapku

Aku dan eri keluar dari kamar, malah ditertawakan oleh para koplak mengenai apa yang aku bawa. Dua tas koper yang sangat besar, seakan-akan mau pindah. Wongso kemudian membantuku membawa, kami kemudian keluar dan dira sedanng asyik mainan kontol penjaga aspal yang terkulai pingsan. Anton dan dewo kemudian membantu dira mengikat bawahan aspal, sejenak aku menjelaskan ke Eri mengenai siapa dira. Setelah semuanya beres, kami dijemput oleh taksi pak wan. Eri didepan dan kami berempat dibelakang, sedangkan dewo asyik tiduran sambil merokok di bagasi. Eri nampak tersenyum ketika dira mulai menakali kami bertiga. Bahkan eri tak sungkan-sungkan untuk menyentuh payudara dira dalam perjalanan menuju pos satpam.

ÔÇ£aku manggilnya mbak apa kak nih?ÔÇØ ucap eri

ÔÇ£ya mbak ding masa kak? Kak kan buat cowok, akyu cewekÔÇØ ucap dira

ÔÇ£ih, gede banget mbakÔÇØ ucap eri sambil meremas susu dira

ÔÇ£iiih mbak mau lesbian sama akyu, ndak papa sih… akyu juga mau kok kalau sama cewek daripada cowok-cowok kaya gini, jantan tapi ndak ada yang beraniÔÇØ ucap dira

ÔÇ£WEGAH! (NDAK MAU!) kamu cewek jadi-jadianÔÇØ teriak kami bertiga yang membuat kami tertawa terbahak-bahak, tawa canda kami hingga pos satpam

ÔÇ£Mas, pokoknya atur bagaimana caranya mas tidak tahu apa-apa, okay?ÔÇØ ucap pak wan

ÔÇ£inggih pak, niku mawon CCTV pun kulo risak, kagem alasan yen menawi mangkih di takeni kalihan polisi (iya pak, itu saja CCTV suda saya rusak, untuk alasan kalau saja nanti ditanya oleh polisi)ÔÇØ ucap satpam

ÔÇ£Sip masÔÇØ ucap kami semua

Dok dok dok dok….

ÔÇ£Den wicak… den wicak….ÔÇØ teriak seorang satpam, aku membuka kaca taksi belakang. Dengan cepat setalah kaca mobil terbuka, tanganku ditarik oleh mereka

ÔÇ£Akhirnya saya bisa salim sama turunannya Ndoro WicakÔÇØ ucap satpam itu dan kemudian satu satpam juga mengambil inisiatif yang sama

ÔÇ£walah mas sudah, mas… yang hebat itu kakek saya bukan sayaÔÇØ ucapku, tapi mereka hanya tersenyum

ÔÇ£pokoke atos-atos gih den, kawulo siap ngrewangi aden (pokoknya hati-hati ya den, kami siap membantu aden)ÔÇØ ucap mereka berdua

ÔÇ£terima kasih mas, saya ndak bakal lupa sama kalianÔÇØ ucapku

Setelah basa-basi sebentar, taksi kembali berjalan menuju motor yang kami parkir. Sebenarnya motor itu disediakan jika terjadi kejar mengejar lagi, tapi karena ini tidak ada ditambah bawaan Eri yang sangat banyak akhirnya aku tetap bersama pak wan. Aku kemudian menelepon tante asih.

ÔÇ£halo…ÔÇØ

ÔÇ£tante, ni arya, mau nitip lagiÔÇØ

ÔÇ£nitip apaanÔÇØ

ÔÇ£Eri…ÔÇØ

ÔÇ£dasar, kamu habis! ERGH! Kamu ndak papa?ÔÇØ

ÔÇ£ndak papa, tenang saja tanÔÇØ

ÔÇ£ya sudah langsung antar kerumah saja, kunci rumah ada di pot depan gerbang, dibawahnya pot ya… om kamu sama adik-adik kamu sedang dirumah kakek kamu bareng sama ayah tante (adik kakek) sekarang iniÔÇØ

ÔÇ£iya tan, makasihÔÇØ

ÔÇ£biarkan eri didalam rumah jagan suruh keluar, untuk malam ini tante tidak bisa menemani eri, karena tante nanti pulangnya ke rumah kakekÔÇØ

ÔÇ£Iya tanÔÇØ tuuuut

Aku menutup telepon dan kemudian berbicara sebentar kepada koplak. Diputuskan Dewo dan Dira kembali warung wongso sedangkan anton dan wongso dengan dua kendaraan mengikuti taksi menuju rumah tante asih. Perjalanan, Sesekali Eri memandangku kebelakang, dan aku tersenyum kepadanya. Sesampainya dirumah tante asih, aku mengambil kunci rumah tante asih. Setelah barang-barang eri dikeluarkan, Pak wan kemudian pamit terlebih dahulu karena sudah sangat lelah, dan selalu berpesan agar besok lebih berhati-hati lagi dan tidak gegabah. Anton kemudian memasukan satu motor ditinggalkan untukku.

ÔÇ£Aku tunggu dirumah wongso, oh ya sematponya kamu bawakan… mau kamu pegang atau aku saja?ÔÇØ ucap anton

ÔÇ£kamu saja ntonÔÇØ ucapku sambil menyerahkan sematpon milik aspal

ÔÇ£hei, jaga itu adik kamu, suruh dia bobo dulu sudah malam. Nanti kamu kerumahku, ada informasi pentingÔÇØ ucap wongso

ÔÇ£okay…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£tapi ditungguin dulu itu adik kamu, informasinya masih bisa diundur 1 sampai dua jam jadi tenang saja. Lagian kita bakalan ngalong (begadang) malam iniÔÇØ ucap anton

ÔÇ£yoi broooow…ÔÇØ ucapku

Anton dan wongso kemudian pergi meninggalkan aku dan eri. Setelah masuk ke dalam rumah, aku kirim BBM ke tante asih mengenai kamar yang dipakai oleh Eri, tante asih kemudian menjawab kamar tamu belakang. Aku antar Eri ke kamar tamu belakang. Sesampainya dikamar tamu, aku masukan semua koper.

ÔÇ£Kak…ÔÇØ ucap Eri

ÔÇ£iya…ÔÇØ jawabku sambil berbalik

Tiba-tiba Eri memelukku hingga ku terjatuh di kasur

ÔÇ£maafkan eri kak, Eri sudah memutuskan yang pertama adalah kakak…ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£er… sudah, aku sudah ada Dian.. aku tidak ingin lagi melakukammmmmm….ÔÇØ ucapku tertutup oleh bibirnya

ÔÇ£Eri mohon kak, sekali saja kak… hanya untuk berterima kasih dan juga melepas semuanya kak, setelah ini Eri tidak akan minta lagiÔÇØ ucap Eri

ÔÇ£tapi Er, aku tidak tega dengan kekasihku… sudahlah kamu menjadi adikku saja itu lebih dari cukup bagikuÔÇØ balasku

ÔÇ£Eri sudah berjanji pada diri Eri, kalau kakak yang menyelamatkan aku… Eri akan meberikan Eri kepada kakak, jika Eri mengikari janji eri sendiri, lebih baik eri menyerahkan diri kepada merekaÔÇØ ucap eri

ÔÇ£tapi er, dian er dian…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£kak, mbak dian ndak bakalan tahu selama kakak ndak menceritakannyaÔÇØ ucap eri yang kemudian menciumku untuk kedua kalinya

ÔÇ£Hei…ÔÇØ ucapku sambil menatapnya tajam kedalam matanya, kedua tangaku dengan kasar memegang kepala yang masih berkerudung itu. Tatapan mata eri menjadi tatapan mata sedikit ketakutan akan wajahnya.

ÔÇ£Rino…ÔÇØ ucapku pelan

ÔÇ£Eh…ÔÇØ Eri tersentak ketika mendengar nama itu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*