Home » Cerita Seks Mama Anak » Wild Love 49

Wild Love 49

Malam ini aku dan dian telah sepakat dengan kata hati kami berdua untuk melanjutkan cerita cinta kami berdua berjalan kembali. Aku sudah tidak peduli lagi dengan siapa saja laki-laki yang suka, cinta dengan dian, pacarku. Seandainya saja ada orang yang menyuruhku mundur, aku pasti akan menghajarnya. Aku laki-laki, fisik akan aku andalkan, masalah hati biar dian yang menenangkan aku. Karena aku yakin dian akan selalu bersamaku saat ini hingga akhir hayatku.

Setelah kedua tangannya meraih tanganku dan menuntunku ke dalam kamarnya. Dian kemudian melepaskan kedua tanganku dan menyalakan lampu. Aku begitu terkejut dengan apa yang aku lihat benar-benar aku tidak menyangka akan apa yang aku lihat kali ini.

ÔÇ£mas… mas kenapa?ÔÇØ ucap dian

ÔÇ£eh… ini?ÔÇØ ucapku dengan hati yang menganga heran, aku melihat ke arah dian yang menautkan kedua tanganya di belakang tubuhnya. Kepalanya tertunduk dengan bibir yang tersungging ke atas

ÔÇ£Ya seperti yang mas lihat hi hi …ÔÇØ ucapnya sambil tersenyum nakal

Aku melangkah ke tengah kamarnya, dan kemudian berputar melihat semua dinding yang membuatku terkejut. Semuanya memang benar-benar membuatku sangat terkejut.

ÔÇ£ini ketika aku masih bayiÔÇØ

ÔÇ£ketika SD…ÔÇØ

ÔÇ£ini ketika aku SMP…ÔÇØ

ÔÇ£ini ketika aku bersama koplak ketika SMAÔÇØ

ÔÇ£aku bersama kakek dan nenekÔÇØ

ÔÇ£aku bersama om dan tanteÔÇØ

ÔÇ£aku bersama pak dhe dan bu dheÔÇØ

ÔÇ£aku bersama teman-teman kuliahkuÔÇØ

ÔÇ£Aku sendirian yang jelas itu adalah aku ketika sudah kuliahÔÇØ

ÔÇ£kenapa semua foto-fotoku dia punya?ÔÇØ bathinku

ÔÇ£Ade… dari mana ade dapat foto-foto ini semua?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£dari efbeÔÇØ ucapnya sambil tersenyum

Aku kembali memutar tubuhuku melihar semua foto-fotoku yang menempel di dinding kamarnya, semuanya sejak aku bayi hingga aku kuliah. Menempel teratur dan rapi didalam dinding kamar dian, Dian Rahmawati. Ah, memang benar aku mengupload semua foto-fotoku ke dalam jejaring soial tersebut. Benar-benar hal gila yang pernah aku lihat…

ÔÇ£apakah benar ade yang melakukan ini semuaÔÇØ ucapku sambil memegang kedua lengannya

ÔÇ£huÔÇÖum…ÔÇØ jawabnya,

Aku langsung memeluk tubuhnya, tubuh yang selama selalu mengaggumiku. Bahkan aku sebagai lelaki yang mengaguminya tidak pernah melakukan hal segila ini. aku memeluknya dengan sangat erat, seakan ingin aku remas tubuhnya dengan pelukanku.

ÔÇ£seperti itulah ade, masÔÇØ

ÔÇ£seandainya mas tahu, sejak ade bertemu mas pertama kali di semester lima… semenjak itu ade tidak bisa melepaskan pikiran ade ke mas, sekalipun ade pernah terlena dengan felix untuk kedua kalinya, foto-foto itu tidak pernah sekalipun lepas dari dinding kamar ade. Siapapun itu yang mendekati ade, semenjak ade menemukan mas kembali… foto itulah yang selalu mengingatkan ade akan hati yang dulu selalu menyanjung ade, menggandeng tangan ade. Ade tidak peduli tentang status mas tidak pernah peduli, sekalipun ade adalah dosen mas. Ade tetap cinta masÔÇØ ucapnya sambil memelukku erat

ÔÇ£terima kasih hiks hiks terima kasih… maafkan aku yang selalu menyakitimu… maaf hiks….ÔÇØ ucapku dengan dian dalam pelukanku. Kenapa aku yang menangis, hufth…

ÔÇ£maafin ade juga ya mas..ÔÇØ jawabnya

ÔÇ£hiks… tapi mas ndak nyangka kalau ade bisa seperti ini…ÔÇØ jawabku sambil melepas pelukanku dan menatap kedua matanya yang juga mengalirkan air mata dipipinya

“sebenarnya ade mau nunjukin ke mas waktu mas dikejar-kejar sama orang-orang kemarin, tapi masnya ndak mau owk hiks…ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£iya maafin mas ya adeÔÇÖku sayang… mas ndak akan jauh lagi, mas akan selalu dekat dengan adeÔÇØ ucapku

ÔÇ£heÔÇÖem… harus… harus dekat terusÔÇØ ucapnya yang kembali kami berpelukan lagi

ÔÇ£sudah jangan menangis lagi mas… ternyata mas lebih cengeng daripada ade hi hi hiÔÇØ ucapnya dalam pelukanku

ÔÇ£ade yang bikin mas cengeng… hiks hiks hiks seneng banget mas…ÔÇØ ucapku sambil melepaskan pelukanku dan memandangnya

Kami berdua berpandangan dan saling melempar senyum. Tak satupun dari kami melepaskan pandangan dari mata masing-masing. Benar-benar sesuatu yang membahagiakan, seperti orang baru menikah saja. Ku betet hidung mancungnya sambil aku goyang ke kanan dan kekiri. Dia hanya membalasku dengan senyuman dan saking gemasnya aku dengan dian aku menggoyangnya terlalu keras.

ÔÇ£iih…sakhhheet mas…ÔÇØ ucapnya dengan suara cempreng

ÔÇ£habis gemas lihat ade…ÔÇØ

ÔÇ£ade… ade… ade… ade…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£Dalem (iya) maaaaas…ÔÇØ balasnya sambil tersenyum

Kami berpandangan lagi entah apa yang akan kami lakukan setelah ini…

ÔÇ£bobo yuk mas, ade ngantuk…ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£heÔÇÖem…ÔÇØ balasku

Aku kemudian beranjak keluar dari kamarnya…

ÔÇ£mas mau kemana?ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£bobo diluar…ÔÇØ balasku dengan wajah polosku

ÔÇ£bobo sini, bareng adeeeee…ÔÇØ ucapnya manja sekali

ÔÇ£t… tt….tapi kan anu itu…ÔÇØ ucapku, sambil melihat wajahnya yang jengkel

ÔÇ£i.. iya bobo sini…ÔÇØ ucapku, Dengan gugup dan kebingungan aku berjalan menuju tempat tidur daripada semakin membantahnya bisa-bisa dia ngambek lagi.

ÔÇ£mau tidur pakai jaket mas?ÔÇØ ucap dian sedikit menggodaku

ÔÇ£ya seadanya sajaÔÇØ balasku yang sekarang berada di samping tempat tidur menghadap ke tembok. Aku lepas jaketku dan hanya mengenakan kaos lengan pendek berwarna hitam

ÔÇ£ni mas, pakai iniÔÇØ ucapnya, aku kemudian berbalik seektika itu, kuraih celana pendek yang diberikannya.

Dian kemudian berbal menuju ke arah almari pakiannya, entah kenapa bisa ada celana pendek disini. Dian kini berdiri tepat didepan almari pakaian, posisiku tepat disamping almari pakaiannya. Tiba-tiba saja aku melamun memandang tubuhnya, dian yang entah kapan melepas jaket kaosnya itu terlihat sangat seksi sekali. Tubuhnya seperti halnya spanish-guitar patah, kenapa patah? Jelas karena kalau tidak patah leher dian pasti panang seperti jerapah. Segera aku berbalik lagi menghadap ke tembok dan bingung mau berganti celana dimana.

ÔÇ£ganti disini saja mas ndak papaÔÇØ ucapnya memecah keheningan

ÔÇ£eh… iya, ndak papa disini?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£memang kenapa?ÔÇØ balasnya

ÔÇ£eh… iya…ÔÇØ ucapku dengan gugup dan kebingungan,

Aku masih kebingungan dengan keadaan ini, bisa-bisa dedek arya bangun dan siap untuk perang. Aduh bagaimana ini? oke dia pacarku, oke dia kekasihku, oke aku sudah menyatakan cinta kepadanya tapi kan tidak langsung seperti ini. apa dian ingin memberikan sesuatu kepadaku dengan perlakuan yang hangat darinya ini? aduh tidak, tidak aku belum siap. Belum siap? Aku kan sudah berpengalaman, tapi hmmm… bagaimana ini? Aku menghadap ke arah tembok di dekat tempat tidur yang penuh dengan per didalamnya. Aku kemudian lepas jeansku, sambil melirik-lirik kebelakang, dan segera aku pakai celana pendek dari dian. sret… sret… sret…

ÔÇ£kalau sudah ganti mas bobo dulu ndak papa, ade mau cuci muka dulu, biar tambah cantik hi hi hiÔÇØ ucapnya, aku menoleh ke arahnya

ÔÇ£ndak cuci juga sudah cantikÔÇØ balasku

ÔÇ£iya sekali dua kali, kalau berkali-kali, mas mau ade jadi jelek?ÔÇØ balasnya

ÔÇ£benar juga ya, huÔÇÖum…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£bener ade kan weeek…ÔÇØ

ÔÇ£dah mas bobo dulu saja, ade mau cuci muka duluÔÇØ ucapnya sambil melet dan masuk ke kamar mandi yang juga berada didalam kamar mandi

ÔÇ£eh iya…ÔÇØ balasku memandang dian masuk ke kamar mandi,

Aku kebingungan dan benar-benar kebingungan dengan posisiku sekarang. Tidur dimana? Aduh aku jadi bingung, kalau sama cewek lain saja bisa langsung brak brik bruk tapi kalau dengan dian aku malah yang kebingungan. Aku benar-benar bingung…

ÔÇ£Ade, mas kekamar mandi belakang dulu yaÔÇØ teriakku mendekat ke pintu kamar mandi yang terbuat dari kaca buram

ÔÇ£mmmm…. myah….ÔÇØ balasnya

Kleeek….

ÔÇ£masmmm mau nglokohk?ÔÇØ ucapnya dengan kepala keluar dari pintu kamar mandi sambil menggosok gigi, aku hanya mengangguk melihat wanita cantik ini

ÔÇ£nantifffhhhh…ÔÇØ ucapnya dengan semburan busa pasta gigi, aku langsung mundur menghindarinya

ÔÇ£mmaaffff…ÔÇØ ucapnya yang kemudian masuk ke dalam kamar mandi kembali, setelahnya dian keluar lagi dengan sedikit busa di bibirnya

ÔÇ£mau ngrokok, nanti pas mau bobo gosok gigi dulu sama cuci muka, ade nggak suka bau rokokÔÇØ ucapnya dengan wajah ngambeknya

ÔÇ£iya… ade…. iyaaaaa…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£jangan lama-lama, ade dah ngantukÔÇØ wajah ngambeknya semakin menjadi

ÔÇ£iya ade, iyaaaa….ÔÇØ ucapku sambil membetet hidungnya, kami berdua kemudian tersenyum

Dian kembali ke dalam kamar mandi dan aku berjalan keluar kamar dian. Ketika hendak keluar dari kamar dian aku lihat poto aku dan ibu. seketika itu, aku berpikir mengenai kepura-puraan ibu sebelumnya. Apa ketika ibu berpura-pura jadi pacarku, dian sudah tahu ya? ah masa bodoh lah, aku ke dapur dan membuat minuman hangat. Sebuah tatanan dapur khas wanita yang benar-benar rapi. Setiap botol bertuliskan isi dari botol tersbut, gula, garam, merica dan lain-lain. Tak sulit bagiku untuk membuat teh hangat ketika didapurnya, hampir sama dengan Ibu ketika dirumah semuanya diberi label agar tidak tertukar. Dan yang jelas semua berwarna pink, putih dan warna-warna muda. Argh, dasar wanita semua harus terlihat cerah, secerah cinta dan senyum kaum hawa. Segelas teh hangat aku buat dan segera aku ke pekarangan rumah dan menyulut dunhill yang sudah aku ambil dari jaketku. Kupandangi pekarangan rumah dian yang lumayan luas ini, aku benar-bnear tidak menyangka kalau aku akan bersamanya malam ini. Untuk kedua kalinya bersama perempuan dengan kulit gelap ketika itu. sebatang dunhill telah menemani lamunanku, kesekeliling dengan hembusan asap dari bibirku dan…

ÔÇ£ssssshhhhhhh…….ÔÇØ

ÔÇ£what? Ternyata celana yang aku pakai berwarna pink? Berarti ini adalah celana dian?kenapa aku tidak menyadarinya sedari tadi? Tapi bagus juga, tak apalah hanya dian yang tahu kalau preman pakai celana dalam pink he he he heÔÇØ bathinku

Tak kusangka celana yang aku pakai bermodel celana boxer. Lucu juga warna pink. Sebatang dunhill masih menemaniku walau dirinya telah berubah menjadi setengah abu. Teh hangat buatan sendiri memang terasa enak tapi lebih enak mungkin jika dian yang membuatnya. Hmmm… pikiranku semakin menerawang dari setiap detik pertemuanku dengannya. Oh iya? kenapa dia marah-marah ya waktu itu? tanyakan ke hati? Aduuuh… aku jug abingung jika harus menanyakan ke hati, hatiku sudah diambil olehnya masa aku ambil lagi. Aku angkat segelas teh hangat itu, dan…

ÔÇ£MAAAAS! Bobo sudah malam! Ade sudah ngantuk!ÔÇØ teriak dian dari dalam rumahnya

ÔÇ£uhuk uhuk uhuk uhuk…. iya huk huk iya sebentar huk huk huk…ÔÇØ ucapku terkejut dan tersedak oleh minumanku

ÔÇ£cepetaaaaaaaan! BOBO!ÔÇØ teriaknya dengan nada lebi keras dan sepertinya dia marah

ÔÇ£uhk uhuk iya ade iya… ini sudah selesaiÔÇØ ucapku

Sial, rokok masih 1 centimeter sudah diteriaki. Segera aku menghisap rokok itu hingga habis dan kuteguk minuman itu langsung. Aku beranjak dari tempatku duduk dan segera ke dapur dan kuletakan di tempat cucian.

ÔÇ£Kalau gosok gigi ada di dapur, di bifet sebelah kanan gula, kalau cuci muka pakai sabun muka ade saja!ÔÇØ teriaknya keras kelihatan sekali judesnya

ÔÇ£iya… ade… iya…ÔÇØ balasku dengan langkah cepat mengambil sikat gigi

ÔÇ£cepetaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaan! Ade sudah ngantuk!ÔÇØ teriaknya kembali dari dalam kamar

ÔÇ£iya… ade… iya…ÔÇØ balasku dengan segera aku ke kamar mandi

Gosok gigi… srk srk srk srksr k… kuluk kuluk kulul ah…..

Cuci muka, tangan, kaki… blup blup blup blup…. ahhhh….

Aku ambil handuk kecil yang sudah nangkring di gantungan kamar mandi. Dan aku usap muka sekaligus memngeringkan tangan dan kakiku. Segera aku ke kamar lagi, kulihat sepi dan hanya aku dengan gemericik air di kamar mandi. Oh iya aku belum menceritakan tata letak kamar dian, ketika masuk ke dalam kamar dian disebelah kiri pojok ada kamar mandi. Tepat di depan pintu kamar mandi kurang lebih 2 meter ada tempat tidur yang bagian untuk kepala sejajar dengan pintu kamar mandi. Bagian kiri dari pintu masuk kamar, ada dua buah almari pakaian. Sedangkan didepan pintu masuk kamar berjarak kurang lebih 3 meter lebih ada sebuah meja rias yang disebelahnya ada sebuah almari kecil. Disebalah kanan pintu masuk agak ketengah ada sofa dan TV dalam ruangan yang pada dinding sebelah kanan dihiasi oleh jendela dengan gorden pink berumbai-rumbai bunga.

Dengan garuk-garuk kepala sebenarnya aku ingin keluar dari kamar ini, tapi kalau aku keluar kamar pasti akan di hajar oleh omelan sang dewi ini. Ddaripada perang dunia, aku segera berjalan menuju ke arah sepring bet. Aku tidur disebelah kanan dengan tubuh miring ke arah kamar mandi.

Kleeeeeek….

ÔÇ£Oh mas sudah masuk, ade kira masih ngrokokÔÇØ ucapnya

Deg… aku langsung sedikit membenamkan mukaku ke bantal..

Bugh… duing duingh duing…. sebuah benda keras menghantam ke kasur sepring bet ini. masih terasa goyangan pegas dalam kasur ini.

ÔÇ£Mas ada apa? Hayooooo….ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£iiih… jangan ditutup terus mukanyaaa maaaaaaaaaaasÔÇØ ucapnya manja

ÔÇ£mmmmm… mmmm mmmmm mmmmmÔÇØ jawabku

ÔÇ£ih ndak denger, ndak tahuÔÇØ ucapnya

Aku membuka mukaku dan langsung dihadapanku sudah ada wajah dengan rambut yang sedikit acak-acakan. Senyumnya manis, senyuman itu tidur menyamping menghadapku. Aku membalasnya tanpa berani melihat pada bagian bawah.

ÔÇ£ada apa mas?ÔÇØ tanya dian

ÔÇ£eh… celana..ÔÇØ ucapku gugup

ÔÇ£celana? Celana apa?ÔÇØ tanyanya, aduuuuh… slah ngomong aku

ÔÇ£ini, celana mas ndak ada yang warna selain pink?ÔÇØtanyaku mengalihkan pembicaraan

ÔÇ£ndak ada, ada putih sama hitam tapi lagi dicuci, oooooo…. pasti bukan itu yang mau mas tanyakan kan?ÔÇØ jawabnya, dengan jari memainkan ujung hidungku

ÔÇ£itu kok yang mau mas tanyainmmmmmÔÇØ ucapku kembali membenamkan mukaku ke bantal

ÔÇ£iiiih… buka!ÔÇØ paksanya

ÔÇ£iya iya ade… ugh…ÔÇØ balasku, dan aku angkat wajahku kembali dan tepat dihadapnku sekarang dian sedang duduk dengan kaki berssimpuh. Aduh…

ÔÇ£adeeee…. pakai celana dongÔÇØ ucapku yang memandang selangkagan yang hanya ditutup celana dalam itu, dan segera kualihkan pandanganku ke arah wajahnya

ÔÇ£ndak ada celana mas, tuh kan mas pakai yang lain lagi dicuciÔÇØ balasnya santai

ÔÇ£eh… ya sudah cepetan tidurÔÇØ ucapku segera mengakhiri pembicaraan dan membalikan badanku menghadap ke tembok

ÔÇ£huh… ternyata ade jelek ya? ya sudah pacarin itu tembok!ÔÇØ ucapnya judes kurasakan gerakan yang membuat kasur bergoyang, segera aku berbalik dan seketika itu wajah dian sudah didepanku

ÔÇ£auch… sakit ade…ÔÇØ ucapku hidungku dibetet

Kami saling berpandangan sebentar, tak kusangka sekarang aku satu ranjang dengan dosenku. Aku memang seharusnya berterima kasih dengan penulisku karena memposisikan aku seperti sekarang ini. seandainya bisa juga, tolong dimatikan juga semua karakter yang membuat aku pusing tanpa aku harus berlelah-lelah mengurusi mereka.

ÔÇ£hatching…. sialan ada yang ngomongin nubieÔÇØ down hill

Aku memandangnya sekali lagi lebih dalam ke matanya. Kutelusupkan tangan kananku diantara leher dan kasur, sedang tangan kiriku menarik tubuhnya mendekat. Tanganya memelukku dan sekarang terasa sangat kenyal didadaku. Kepalanya tepat menghadap ke leherku.

ÔÇ£endus endus ada bau vagina… apa?! Tidak jadi, kalau ini seijin dari kakakÔÇØ dedek arya

ÔÇ£ade, mas boleh tanyaÔÇØ ucapku sambil memeluknya

ÔÇ£apa?ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£itu ada foto mas sama ibu, apa ade suda tahu kalau ibu adalah ibunya mas waktu, ibu ngaku pacarnya mas?ÔÇØ ucapku, kemudian tubuh dian berbalik membelakangiku, kupeluk perutnya dan didekapnya kedua tanganku oleh tangan kirinya

ÔÇ£belum, Ade tahu itu setelah ade mengantar mas pulang, ade kembali ke rumah sakit. Disitu ade ngobrol sama tantenya mas. Pas mas nganter ade pulang, ade nyari-nyari di efbe mas, ketemu tante asih dan disitu ada foto mas dan mama. Jadi ade sebenarnya lega juga waktu ituÔÇØ jawabnya

ÔÇ£tapi kenapa waktu itu…ÔÇØ ucapku dipotong olehnya

ÔÇ£ya, pura-pura aja hi hi hi tapi ya cemburu sihÔÇØ balasnya, aku hanya tersenyum mendengar jawabannya

ÔÇ£terus… mmmmÔÇØ ucapku sedikit bingung memulainya

ÔÇ£apaaaa?ÔÇØ balasnya lembut

ÔÇ£waktu marah-marah?ÔÇØ tanyaku, kuberanikan diriku untuk bertanya

ÔÇ£auuuuuuuhcccc….ÔÇØ teriaku karena tanganku diangkat dan digigitnya

ÔÇ£mas itu, sejak mas ngomong yang ini itu dan buat ade nangis, terus mas pergi gitu saja. Ade itu kangen berat sama mas, mas sih ndak tahu rasanya. Dan tiba-tiba mas datang pas tahun baru, selain jengkel juga seneng banget mas bisa berduaan dengan mas. Tapi setelahnya mas pergi, jadinya ade jengkel. Pengen ngobrol sama mas, tapi mas ndak pernah hubungi ade lagi. Pas mas hubungi ade ya seneng tapi kalau seneng pasti respon mas jadi kaku dan hilang lagi. Makanya ade marah-marah, tapi maafin ade waktu itu kelewatan mas… namanya juga kangen… mas jahat!ÔÇØ ucapnya sambil mendekap erat tanganku. Mendengar jawaban itu seperti orang bodoh yang tidak mau mengerti mengenai orang lain.

ÔÇ£iya, maafin mas ya, sekarang mas sudah sama adeÔÇØ balasku

Tanganku diraihnya, dibukanya telapak tanganku dan diletakannya di buah dadanya, susunya… Antara ego dan nafsu akhirnya logikaku mencoba bertahan.

ÔÇ£please… fix meÔÇØ ucapku

ÔÇ£eh… but…ÔÇØ jawabnya

ÔÇ£selama mas bersama ade, mas pasti bisaÔÇØ ucapku

ÔÇ£maaf, ade hanya berpikir dengan jalan itu mas bisa bersama ade terus. Maafin ade… tapi mas jangan main lagi diluar ya, janji sama adeÔÇØ ucapnya

ÔÇ£janji, mas pasti bisa selama dengan ade… I Love youÔÇØ ucapku lirih

ÔÇ£mee to honeyÔÇØ jawabnya

ÔÇ£yeah, i like that name honeyÔÇØ balasku

Aku memeluknya dalam tidur lelapku. Aku mencium wangi rambutnya dalam tidur lelapku. Aku merasakan hangatnya dalam tidur lelapku.

ÔÇ£IÔÇÖm happy… ÔÇ£ ucapnya

ÔÇ£aku lebih bahagia lagiÔÇØ balasku

o0o

Di dalam sebuah rumah yang masuk dalam kategori mewah. Dua orang laki-laki sedang bercengkrama dengan seorang wanita setengah baya yang sangat cantik telanjang di bawah mereka. satu tangannya memgang penis dari seorang laki-laki tersebut dan mulutnya mengulum batang kemaluan yang satunya. Wanita yang bertelanjang dan memamkai sebuah ikat leher layaknya seekor biantang piaraan.

ÔÇ£setelah pertemuan besar besok kita akan menguasai semuanyaÔÇØ ucap laki-laki tambun tesebut

ÔÇ£tapi keluargamu itu bisa menjadi penghalangÔÇØ ucap lelaki gempal

ÔÇ£ah itu beres, nanti setelah pertemuan itu aku akan menghabisi mereka semua, tepat setelah mereka pulang liburanÔÇØ ucap laki-laki tambun

ÔÇ£anak istrimu?ÔÇØ ucap laki-laki gempal

ÔÇ£aku akan menghabisi mereka juga ha ha haÔÇØ jawab lelaki tambun itu

ÔÇ£ha ha ha… memang rencana yang sempurna, bagaimana dengan wanita menyakitkan itu?ÔÇØ ucap seorang lelaki gempal

ÔÇ£kita akan lempar mereka bersama anak mereka, dan kita akan menikmati mereka jugaÔÇØ jawab lelaki tambun

ÔÇ£ingat, kalau kita bisa menguasai para bandar-bandar besar, kita juga bisa menguasai daerah ini. dan aparat keamanan yang keparat dan juga para pejabat tak akan berkutik. Sekali mereka tidak melindungi kita, kita bantai. Akan kita buat daerah ini menjadi kekuasaan kita dan akan kita buat daerah ini sebagai negara meksikano kecil. We are the bos ha ha ha haÔÇØ ucap lelaki tambun itu diikuti tawa lelaki gempal

Pandangan wanita berikat leher itu seakan tak percaya dengan apa rencana lelaki yang telah memperbudaknya. Dalam hatinya ingin sekali berteriak minta tolong dan lapor ke aparat keamanan tapi apa dayanya, bisa saja mereka telah disusupi oleh komplotan dari kedua laki-laki ini. Hanya terbesit sebuah harapan kepada seorang pemuda yang pernah menemuinya. Berharap dia bisa menghentikan aksi kedua laki-laki tersebut.

Kriiing kriiing kriiing….

ÔÇ£ya haloÔÇØ jawab lelaki tambun

ÔÇ£mungkin aku akan menikmati darah segar terlebih dahulu, kalian dapat sisa bagaimana?ÔÇØ ucap seseorang dari telepon

ÔÇ£Ha ha ha ha… yang penting masih sempit saja no problemoÔÇØ ucap lelaki tambun

ÔÇ£ha ha ha ha ha… oke… oke… aku akan menjemputnya dulu, sampai jumpa tiga minggu lagiÔÇØ ucap lelaki dari dalam telepon. Tuuut.

ÔÇ£bagaimana dengan orang itu?ÔÇØ ucap lelaki gempal

ÔÇ£kita akan habisi dia juga, hanya kita berdua yang akan berkuasaÔÇØ jawab lelaki tambun

HA HA HA HA HA HA HA HA HA HA… tawa kedua orang lelaki yang mengiris hati seorang wanita yang diperbudaknya.

Matahari mulai merambat naik, memberi hari baru kepada siapa saja yang menyambutnya dengan senyum dan tawa. Sinarnya mulai memasuki dari lubang-lubang kecil rumah yang aku tinggali ini. kepalaku terasa sangat berat untuk bangun, kucoba membuka mata. Segera aku duduk, ku garuk-garuk kepalak sambil sesekali menguap. Kulihat wanita yang semalam bersamaku tidak ada lagi disampingku. Kupandangi sekali lagi kamar yang menjadi tempat aku tidur ini. perasaan bangga tapi juga malu ketika harus melihat kembali foto-foto kenangan yang pernah aku unggah ke jejaring sosial. Tawa dan senyum difoto itu membuatku teringat akan masa-masa indah tanpa ada yang harus dipermasalahkan. Kulirik jam dinding yang menempel indah di kamar ini, jam dinding bertuliskan arya pada titik pusat jam dinding. Aku hanya tersenyum melihat tulisan itu tapi…

ÔÇ£Sial sudah jam 10, aduh kenapa tidak dibangunkanÔÇØ bathinku

Aku melangkah ke luar kamar dengan mengucek-ucek mataku tanpa melepaskan garukan di kepalaku. Langkahku terhenti ketika sampai didapur melihat seorang wanita memakai tang-top putih dan hanya bercelana dalam. Wanita itu sedang asyik meracik sayur dan bumbu untuk dimasak, tampak anggun sekali. Tak kusangka aku akan mempunyai seorang wanita secantik bersamaku.

ÔÇ£hoaaaaaaaaam….ÔÇØ aku menguap

ÔÇ£ih, mas sudah bangun ya?ÔÇØ ucapnya tersenyum kepadaku

ÔÇ£bu dian kenapa ndak bangunkan akuÔÇØ ucapku, kulihat wanita itu kembali ke aktifitasnya dan tak ada jawaban darinya

ÔÇ£bu diaaaaan… ditanya malah diem saja toÔÇØ ucapku, tak ada respon darinya sama sekali.

Apa ada yang salah dengan apa yang aku ucapkan? Kenapa wannita ini malah diam dan wajahnya sedikit cemberut? Aku berpikir sambil melangkah mendekatinya, semakin dekat aku baru sadar.

ÔÇ£Ayang… kenapa ndak bangunin mas?ÔÇØ tanyaku yang berjarak kurang lebih satu meter darinya

Seketika itu wanita yang sedang asyik dengan acara masaknya melepaskan semua yang dia pegang dan berbalik kearahku sambil tersenyum lebar. Dia kemudian melompat kearahku, digantungkannya kedua tangannya ke leherku. Jelas sekali sekarang terlihat tank-top berenda pada bagian atasnya.

ÔÇ£habis tadi ayang tidurnya lelap sekaliÔÇØ ucap dian kepadaku

ÔÇ£ya kan dibangunin subuh dong yangÔÇØ ucapku

ÔÇ£Suka deh dipanggil ayang sama masÔÇØ ucapnya, aku tersenyum dan kukecup keningnya

ÔÇ£awas kalau tidak dikampus jangan panggil ade dengan sebutan ituÔÇØ ucapnya

ÔÇ£iya… iya… ayang, adekuÔÇØ jawabku

ÔÇ£ugh… bau sana, mandi dulu sayang… baukÔÇØucapnya sambil memundurkan kepalanya dan menutp hidungnya

ÔÇ£yee… bau bau gini ayang juga suka kan?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£emang kalau sudah sayang, sudah cinta terus ndak mandi gitu?ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£iya adeku sayang iyaÔÇØ ucapku

Sekali lagi aku mengecup keningnya dan melepaskan pelukanku. Dian tersenyum dan kembali ke aktifitasnya sedangkan aku segera mandi. Tak kuhiraukan semua peralatan mandi dikamar mandi ini, semua aku pakai toh ini semua punya dian. ndak papalah bekas wanita cantik, lumayan. Kupakai kembali pakaianku dan keluar kamar mandi.

ÔÇ£mas kaosnya diganti, di almari yang sebelah kiri sudah adaÔÇØ ucapnya dari dapur sambil menata makanan

ÔÇ£ndak usah yang, ntar dikasih warna pink lagi weeeekÔÇØ ledekku

ÔÇ£yeee dilihat dulu sana, masa pakai kaos kotor terusÔÇØ ucapnya

ÔÇ£daripada ade, pakai itu-itu terus. Ndak paka celana lagiÔÇØ ucapku

ÔÇ£nggak suka ade pakai begini?ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£eh… suka sih tapi… kenapa dari semalam ndak pakai celana?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£biasanya ade kalau dirumah juga ndak pernah pakai weeeek… dan biar mas betah dirumahÔÇØ ucapnya dengan wajah memerah dan membuang muka

ÔÇ£heÔÇÖeh gitu sajaÔÇØ ucapku spontan sambil berlalu dan menuju ke kamar

Aku membuka almari pakaian yang ditunjukan kepada dian. dan aku terkejut untuk kedua kalinya, kaos-kaos yang diletakan di hanger semuanya sama persis dengan kaos-kaos miliku d jug asebuah celana jeans yang menggantung di hanger. Semua kaos berwarna gelap, dan hanya sedikit corak pada kaos-kaos yangmenggantung. Celana jeans model cutbray berwarna abus-abu dan gelap. Ketika aku melihat kaos-kaos ini membuatku kembali ke masa-masa sebelum bertemu dian. aku pakai salah satunya dan kupakai celana jeans.

ÔÇ£mas…ÔÇØ ucap dian dari belakang membuatku terkejut

ÔÇ£copot… ade nganggetin sajaÔÇØ ucapku

ÔÇ£yeee… mas saja yang lebay, ni celana dalamnya. Celana dalam mas dimasukan ke mesin cuciÔÇØ ucapnya

ÔÇ£eh…ÔÇØ aku menerima celana dalam yang masih berbungkus

ÔÇ£itu ukurannya ada dua, ade kan ndak tahu ukurannya mas jadi tadi pagi ade belikan dua ukuranÔÇØ ucapnya

ÔÇ£kenapa ndak bangunin mas saja, kasihan ade kan pasti malu beli celana dalam cowokÔÇØ ucapku

ÔÇ£biasa saja kali… weeekk…. cepetan ganti, terus maem. Ndak usah pakai celana jeans panjangkenapa, itu ada celana jeans pendek kanÔÇØ ucapnya mengecup pipiku dan berputar meninggalkanku, pandanganku terus kearahnya hingga dian menghilang dibalik pintu

Setelah aku berganti pakaian, kubawa pakaian kotorku. Dian yang sudah menungguku sambil melihat televisi menunjukan letak mesin cuci. Setelahnya aku makan bersama dian, wanita ini memang dari atas kebawah mencoba memancing syahwatku. Mungkin memang dia ingin melakukannya denganku, atau dian hanya ingin memancingku? Semalam aku sudah bisa menolaknya tapi kalau setiap hari seperti ini, huft semoga bisa semoga bisa. Aku ingin menikmatinya nanti kalau semuanya sudah selesai dan dia sah menjadi miliku. Kalau bisa?!

ÔÇ£maem… aaak…ÔÇØ ucap dian sambil mengambilkan sesuap nasi dan diarahkannya kemulutku

Ketika aku berganti menyuapinya dian malah tidak mau. Huh malah seperti anak kecil saja kalau begini. Aku hanya bisa mengikuti permainannya. Hingga selesai makan dian membersihkan dan aku membantunya sambil kita bercanda kesana kemari. Kadang aku usapkan busa sabun ke pipinya, dian pun juga membalasnya. Jika di masukan ke guiness book of record mungkin ini adalah acara mencuci piring yang sangat lama walau akhirnya selesai juga.

Sambil nonton TV dian duduk minta dipeluk olehku yang duduk bersandar disofa depan TV

ÔÇ£yang, anda gimana?ÔÇØ tanyaku sambil menciumi rambutnya

ÔÇ£hi hi hi… sok jago dia yang, sayang juga aneh dibilangin gitu sama anda malah ugh!ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£auch… sakit sayang…ÔÇØ jawabku

ÔÇ£ade kan sudah tahu dia sebelumnya, ade sama anda kan cuma teman. Anda sendiri yang pdkt, kalau ade sudah bilang sama dia kalau kita cuma teman. Semenjak ngajak makan, ade selalu tidak mau tapi dianya selalu memaksa. Lagi pula anda itu sudah pernah punya hubungan sama mbak erna, mbak erna sendiri yang bilang. Pas kemarin anda bilang gitu ke mas, setelahnya ade semprot anda mengenai hubungan dia sama mbak erna. Eh, dia-nya langsung kaya orang bloon gitu, dan akhirnya dia mengakuinya mas. Dan satu lagi…ÔÇØ ucap dian sambil beranjak kemudian duduk, didekatkannya wajahnya ke wajahku

ÔÇ£stay close!ÔÇØ ucapnya dengan wajah judesnya

ÔÇ£eh… i… iya… ade wajahnya kaya gitu, mas takut nihÔÇØ jawabku

ÔÇ£hi hi hi biarin weeeek…ÔÇØ ucapnya

Seharian aku bersama dian, mulali bercanda dan bergurau bersamanya. Ternyata di balik wajah judesnya tersimpan sifat manja yang tak kalah dengan seorang anak kecil. Benar-benar kewalahan aku dibuatnya. Tapi menjadi cerita sendiri bagiku yang selama ini belum pernah sama sekali merasakan memiliki pacar. Itulah kenapa wanita selalu menyembunyikan sifat aslinya ketika dia bersama lelaki yang bukan miliknya. Wanita penuh misteri? Mungkin benar apa kata Bon Jovi, SheÔÇÖs Mystery dalam album yang Crush.

ÔÇ£Maaaaaaaaas, gatel…ÔÇØ ucapnya manja sambil mengangkat tangannya mendekatkan ke arahku yang duduk memeluknya

ÔÇ£lha terus?ÔÇØ balasku

ÔÇ£garukin…ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£jaded (manja)…ÔÇØ balasku lirih

ÔÇ£ndak suka?ÔÇØ ucapnya sambil tanganku menggaruk pelan kulit yang selalu membuat tanganku terpeleset

ÔÇ£ndak nyangka saja ade manja banget he he he padahal kalau dikampus hiiiiiÔÇØ ucapku

ÔÇ£oooo jadi kalau dikampus njengkelin gitu iya? heÔÇÖem… gitu?ÔÇØ ucapnya dengan nada super judesnya

ÔÇ£ndak judes kok, tapi banyak he he heÔÇØ ucapku

Langsung saja aku ditimpanya dengan bantal, tak berani aku membalasnya. Hanya mampu meringkuk di atas sofa. Dian, dian… Dari mau mengambil minum saja harus digendong, mau mandi harus digendong sampai ke dalam kamar mandi tapi akunya langsung keluar. Gatal saja, dia ndak mau garuk sendiri, minta digarukin. Hadeeeeeeh… dosenku dosenku.

ÔÇ£Ade punya plestesien juga to?ÔÇØ ucapku ketika kami bersantai didepan TV kembali

ÔÇ£huÔÇÖum… kan ade suka game, tapi ya ndak suka-suka banget. Cuma buat refreshing saja, sekarang ndak mau main lagi. Dah ada yang bisa buat refreshingÔÇØ ucapnya

ÔÇ£huh? Emangnya apa?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£mas… kalau mas disini ade ndak perlu ngegame lagi hi hi hiÔÇØ ucapnya

Akhirnya aku main game pe-es juga bareng dian. dia duduk disofa atas tepat dibelakangku dan aku duduk dibawahnya. Kami main balapan sembari menikmati waktu kebersamaan bersamanya.

ÔÇ£tadi mama teleponÔÇØ ucap dian

ÔÇ£mama?ÔÇØ tanyaku heran

ÔÇ£ibunya masÔÇØ ucapnya

ÔÇ£ke sematpon mas?ÔÇØ balasku sambil kepalaku mendongak ke atas

ÔÇ£ndak, ke telepon rumah ade. Mama bilang kalau mama sekarang sama tante ratnaÔÇØ ucapnya mendekatkan wajahnya ke wjahku

ÔÇ£eh… mas akan telepon ibu dulu, boleh?ÔÇØ ucapku berbalik ke arahnya

ÔÇ£ya boleh lah, masa ade nglarang mas buat nelepon mama. Tapi ingat lho…ÔÇØ ucapnya sambil menggoyang jari telunjuk tangannya

ÔÇ£heÔÇÖem…ÔÇØ jawabku sambil tersenyum

Aku kemudian menelepon ibu dari telepon rumah dian. untung saja aku menyimpan nomor telepon tante ratna di sematponku.

ÔÇ£haloÔÇØ

ÔÇ£tan, ni arya. ibu ada?ÔÇØ

ÔÇ£eh kamu mblo… mbak arya telelponÔÇØ

ÔÇ£haloÔÇØ

ÔÇ£ibu, ibu dirumah tante ratna?ÔÇØ

ÔÇ£eh sayangnya ibu, iya kemarin setelah kamu keluar rumah. Ibu beres-beres terus berangkat ke tante ratnaÔÇØ

ÔÇ£owh… egh…ÔÇØ (Dian memelukku dari belakang)

ÔÇ£ada apa sayang?ÔÇØ

ÔÇ£ndak papa kok bu, ibu kok tahu nomor dian?ÔÇØ

ÔÇ£ehem… ehem… sudah ndak pakai kata bu nih? Dah jadian ya? hi hi hi…ÔÇØ

ÔÇ£yeee ibu ditanya malah ndak jawabÔÇØ

ÔÇ£ya bisa dong, kan tinggal tanya developernya. Kan punya nenek kamu, lagian perumahan dian itu belum sepenuhnya selesai jadi gampang nyari tahunya. Pasti lagi dipeluk sama dian ya?ÔÇØ (dian menarik pundakku dan menempelkan kupingnya)

ÔÇ£iya, mah… hi hi hi ÔÇ£ (Dian menjawab)

ÔÇ£eh sini.. sini ibu mau ngobrol lagi sama dian, mumpung kamunya ada disituÔÇØ

ÔÇ£apaan sih ibuÔÇØ (direbutnya telepon dan dian berdiri didepanku tangannya meraih tanganku agar memeluknya)

ÔÇ£iya mahÔÇØ (dian)

ÔÇ£jagain arya ya, bilang sama arya, ndak usah pulang kerumah kalau perlu rumahnya sekarang di rumah kamu ya sayangÔÇØ

ÔÇ£iya mah, mas arya juga denger kok. Mah, mama bicara sama mas arya saja yaÔÇØ

ÔÇ£iya, sayangÔÇØ

ÔÇ£halo bu, tapi ibu ndak papa kan?ÔÇØ (dian berbalik dan bersandar di meja telepon memandanngku sambil tersenyum, tanganku meremas tangannya)

ÔÇ£ndak papa, ibu sudah sama tante ratna. Jaga dian yaÔÇØ

ÔÇ£iya bu, tapi bu kalau arya dirumah dian apa dia tidak curiga?ÔÇØ

ÔÇ£sudah kamu tenang saja, ibu sudah telepon ke dia kalau arya akan kos demi memperlancar penelitiannya. Dan ingat kamu harus selalu hati-hatiÔÇØ

ÔÇ£ya buÔÇØ

ÔÇ£ya sudah, ibu mau bantu tante kamu duluÔÇØ

ÔÇ£iya buÔÇØ

ÔÇ£dah sayangÔÇØ

ÔÇ£dah ibuÔÇØ tuuuut

Langsung saja dian memelukku, ada sedikit getir ketika mendengar suara ibu. rasanya aku ingin kembali tapi jika aku kembali tak akan ada perubahan dalam hidupku. Sekarang dianlah yang akan menjadi pendampingku dan ibu adalah ibu suri dikerajaanku. Dan aku harus segera menyelesaikan masalahku. Aku peluk dian dengan erat karena memang dialah ÔÇ£waktuÔÇØ yang menghentikan semua kegilaanku

ÔÇ£mas kelihatannya ada yang mas sembunyikan dari ade?ÔÇØ ucap dian melepas pelukanku dan memandang kedua mataku

ÔÇ£belum saatnya kamu tahu yang, nanti mas akan cerita tapi mas mau pulang dulu sore ini ambil pakaian dan beberapa file yang memang mas harus bawaÔÇØ ucapku

ÔÇ£iya, mungkin belum saatnya ade tahu. Tapi mas, mas harus hati-hati, karena… sejak mas dikejar-kejar oleh orang-orang itu ade mulai khawatir kalau mas terlibat sesuatuÔÇØ ucapnya

ÔÇ£ya, memang terlibat sesuatu tapi tenang saja ade, mas ndak papa, karena mereka tidak pernah tahu jatidiri mas. Yang penting mas akan selalu hati-hati karena skripsi mas belum selesai ntar di judesi lagi sama dosen masÔÇØ candaku

ÔÇ£iya… mmm… dosen mas kaya apa sih?ÔÇØ tanyanya

ÔÇ£cantik…. tapi….ÔÇØ ucapku

ÔÇ£tapi apa?ÔÇØ balasnya

ÔÇ£judesnya minta ampun huh… dimarahin terus mas kalau bimbinganÔÇØ ucapku, sambil melirik ke arah matanya

ÔÇ£oh gitu ya… hmmm… ya ya ya… cantik ya mas? Mmm… mas jangan kepincut sama dosen mas ya…ÔÇØ ucapnya. Lho?

ÔÇ£ya kalau dia mau sama mas bagaimana?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£kan judes, kalau ade kan enggak. Pokoknya awas kalau mas main dibelakang ade, apalagi sama dosen mas ituÔÇØ ucapnya

ÔÇ£ade itu ada-ada sajaÔÇØ ucapku sambil menyentuhkan hidungku kehidungnya

Menjelang pukul 18:00, aku segera pulang dan diantar dian hingga ke gerbang pintu. Berbeda dengan dian didalam rumah, ketika dia keluar rumah dia tampak lebih anggun dengan pakaian longgarnya dan celana legging. Kata ÔÇ£hati-hatiÔÇØ selalu terucap dari bibirnya dan sungguh membuatku sangat nyaman. Aku jalankan REVIA menuju ke rumahku, hingga aku tepat didepan rumah sudah ada mobil ayah yang terparkir di garasi. Pintu rumah terbuka, dan aku segera masuk ke dalam.

ÔÇ£Romo..ÔÇØ ucapku menghampiri ayah yang sedang sibuk menata pakaian di dalam kamarnya dan salim tentunya

ÔÇ£Oh, kamu. ndak ikut ibu kamu liburan besok?ÔÇØ ucap ayahku

ÔÇ£ndak mo, aku mau ngekos di temanku. Penelitianku ada yang ndak beresÔÇØ ucapku

ÔÇ£ya, ibu sudah kasih tahu. Ibumu di rumah tante ratna tadi romo yang mengantarÔÇØ jawabnya

ÔÇ£kapan romo akan berangkat?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£mungkin minggu depan, beberapa hari ini romo akan mengurusi pekerjaan romo dulu sebelum perjalanan dinas romoÔÇØ ucapnya

ÔÇ£ya mo, setelah penelitian selesai arya balik ke rumah lagi. Paling juga seminggu sekali arya pulang. Kalau romo?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£ndak usah kembali juga ndak papa. Rumah ini hanya akan jadi kenangan. Romo ndak akan pulang sampai urusan romo selesaiÔÇØ ucapnya

ÔÇ£maksud romo, jadi kenangan?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£kamu akan tahu sendiri suatu saat nantiÔÇØ jawab romo

ÔÇ£ya sudah arya mau menata barang aryaÔÇØ ucapku, tanpa menghiraukan jawaban dari ayahku

Sambil melangkah menuju kamarku, ingatanku terbawa ke waktu bersetubuh dengan ibu. semua tempat dirumah sudah aku coba dan aku ciprati dengan cairan kenikmatan kami berdua. Tapi mungkin tak akan ada lagi semua itu. setiap langkah menaiki tangga, pikiranku masih berputar pada keindahan tubuh ibu. hingga di dalam kamarpun aku duduk dan memandang seisi kamarku. Hatiku berkecamuk dengan semua hal yang pernah terjadi, di kamar ini lah semua berawal. Ah, memang semuanya harus berakhir.

Segera aku mengemasi beberapa pakaianku yang akan aku kugunakan dirumah dian, wlaau sebenarnya tidak perlu karena disana sudah lengkap. Kunyalakan komputerku dan aku pindahkan file-file penting yang aku butuhkan, dan tentunya menghapus semua history dari komputerku. Tidak lupa aku mengambil sematpon KS dan juga kalung dari nenek mahesawati. Setelah semua beres aku duduk kembali di samping kamarku, kulihat sekelilingku dengan tangan masuk dalam saku jaketku. Ketika tangan kiriku memegang sesuatu yang berada di saku jaket, kutarik keluar dan kulihat. Aku hanya tersenyum…

ÔÇ£mungkin suatu saat nanti…ÔÇØ bathinku

Aku kembali berjalan keluar kamarku dan menghampiri ayahku. Wajahnya masih tetap sama, wajah tak peduli kepadaku. Apalagi kalau ada ibu, sama saja tidak ada kepedulian sedkitpun. Segera aku berpamitand dan keluar dari rumah ini. rumah yang akan menjadi kenangan. Aku jalankan REVIA menjauhi rumahku. Tiba-tiba dalam benakku kembali bergejolak karena teringat perkataan ayahku.

ÔÇ£kamu akan tahu sendiri suatu saat nantiÔÇØ

Apa mungkin memang waktunya sudah semakin dekat? Apakah mungkin? Ah kenapa aku jadi gugup seperti ini. kenapa juga rani belum memberitahuku mengenai eri? Dalam perjalanan pulang kerumah baruku, pikiranku berkecamuk kesana kemari. Aku hentikan motorku dan mengrim bbm ke dian tapi sial, aku belum invite ulang BBM-nya setelah emosi saat itu. aku cari sms dan nomor telepon dari history Hpku. Sudahlah mungkin aku harus segera pulang. Ketika hendak menarik gas motor.

Forever and one, i will miss you… (helloween). Ringtone. Nomor tidak diketahui.

ÔÇ£HaloÔÇØ

ÔÇ£mas…ÔÇØ

ÔÇ£oh ade, kirain siapaÔÇØ

ÔÇ£makanya kalau marah-marah jangan hapus semua nomor sama kontak BBM. Huh!ÔÇØ

ÔÇ£iya… iya… maafin mas, jangan marah dongÔÇØ

ÔÇ£huÔÇÖumÔÇØ

ÔÇ£ada apa de?ÔÇØ

ÔÇ£mas kalau main ma koplak ndak papa, tapi inget yaÔÇØ

ÔÇ£iya, mas ingat… tapi kenapa disuruh main sama koplak?

ÔÇ£ade ndak mau rumah penuh asap rokok, terakhir mas rokok di ruang tamu waktu itu. baunya ndak karuanÔÇØ

ÔÇ£pengertian banget siiiihÔÇØ

ÔÇ£Hm… gimana ya, kalau saja bisa ya ndak usah ngrokokÔÇØ

ÔÇ£eh… iya, iya mas maen saja. Masalah rokok dibahas kapan-kapan yahÔÇØ

ÔÇ£pulangnya jangan malam-malam dan kalau pulang langsung pulang saja ndak usah mampir-mampir!ÔÇØ

ÔÇ£eh… iya, langsung pulang kok. Oia Ade mas invite lagi dong bbm-nyaÔÇØ

ÔÇ£ndak mau! Invite saja sendiri weeeeek…. dadah sayangÔÇØ

ÔÇ£iya sayangkuÔÇØ tuuuut

Ternyata punya pacar tidak selamanya di penjara. Nyatanya aku masih bisa main sama teman-temanku, mungkin dian sadar kalau aku juga butuh sahabat untuk berbagi. Argh, begitu beruntungnya aku. Tapi kenapa tiba-tiba ya? nantilah aku telepon lagi, ku save nomor dian. Ku arahkan motorku ke arah warung wongso, disana sudah ada anton dan dewo.

ÔÇ£WEIDIYAAAAAN (GILA) dah punya pacar nihÔÇØ ucap dewo

ÔÇ£mas arya, peluk aku dong… ku pengen dipelukÔÇØ ucap anton dengan gaya cewek

ÔÇ£iya sayang aku peluk sini, ARYA CINTA DIAN!ÔÇØ timpal dewo dan kemudian sedikit berteriak meneriakan apa yang pernah aku teriakan di depan warung

ÔÇ£Ah, matamu su (njing)… biasa saja kali bro, kalian kan juga sudah punya. Masa aku ndak boleh punya?ÔÇØ ucapku sambil berjalan menuju ke arah mereka

ÔÇ£tapi lebay-nya itu lho ha ha ha haÔÇØ balas wongso yang keluar dari warung karena mendengar keramaian

ÔÇ£Mas, dimasukin saja ah… masuk mas…ÔÇØ goda dewo

ÔÇ£gundulmu, emang aku seperti kamu leng (leng = celeng = babi hutan)ÔÇØ balasku

ÔÇ£Oooooo lha bocah! Apa ndak ada kata-kata yang sopan lagi heh!ÔÇØ teriak ibu wongso dari dalam warung yang mendorong wongso kedepan

ÔÇ£AMPUUUUUUUN NDORO PUTRI!ÔÇØ ucap kami bersamaan

ÔÇ£kalian ngomong ndak sopan lagi ibuk giles pakai ulekan!ÔÇØ ucap ibu wongso

ÔÇ£inggih (iya) ndoro putriÔÇØ balas kami, setelahnya ibu wongso masuk ke dalam rumah

Kami kemudian ngobrol, senampan teh panas diantarkan oleh asmi satu persatu mulali meningkatkan gas pemicu pemanasan global. Canda dan gurau kami berbalas dari masing-masing. Beberapa koplak tidak bisa datang karena mungkin banyak kesibukan, keberuntunganku saja bisa bertemu mereka bertiga. Dewo tiba-tiba melakukan foto selfie dengan memperlihatkan kami bertiga bersamanya.

ÔÇ£ngapain selfie? Kaya ababil saja kamu woÔÇØ ucap wongso

ÔÇ£alah, sekali-kali kenapa?ÔÇØ ucap dewo yang kemudian sibuk dengan sematponnya

ÔÇ£Lha kamu kenapa nton? Pakai ngrekam suara kita segala? Mau kamu laporin ke teman-teman kamu?ÔÇØ tanyaku

ÔÇ£enggak ini lebih darurat daripada temen, penting broÔÇØ ucap anton yang kemudian sibuk dengan sematponnya juga

Selang beberapa saat mereka memasukan sematponnya. Tiba-tiba aku teringat akan kata-kata ayah kembali, dan…

ÔÇ£bro, ada yang janggal tadi waktu aku ketemu sama ayahkuÔÇØ ucapku, kemudian aku menceritakan percakapanku dengan ayahku ketika mengambil barang dirumah

ÔÇ£ada yang aneh memang, apa mungkin pertemuannya akan diajukan?ÔÇØ ucap anton

ÔÇ£lha ada kabar dari si buku?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£kalau dari sibuku belum ada, dia ada ditempat yang aman. Sedangkan ara, sudah aku posisikan untuk melakukan aktifitasnya seperti biasa dan tentunya aku suruh dia pasang wajah sedih setiap harinya. Tidak boleh bercanda ataupun memperlihatkan perasaan biasa-biasa saja atas ketidak adanya ayah angkatnya ituÔÇØ ucap anton

ÔÇ£wah keren juga kamu nton, sampai segitunya menyetting orangÔÇØ ucap wongso

ÔÇ£kalau tidak begitu, ara bisa saja diculik. Kemarin ara didatangi seseorangÔÇØ ucap anton

ÔÇ£si siapa nton?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£hantukah?ÔÇØ ucap dewo

ÔÇ£dewa mabuk! Ini seriusÔÇØ ucap wongso

ÔÇ£aku tidak tahu jelasnya, ketika itu ara bercerita kalau dia didatangi orang yang tidak dikenal. Menanyakan ayah angkatnya itu, tapi karena dari awal sudah aku atur. Ara menunjukan perasaan sedihnya, bahkan menurut penuturan ara, lelaki itu sangat percaya dengan aktingnya. Bahkan ara sempat menangis dan memohon kepada lelaki itu untuk menemukan ayahnya. Setelah itu semua terjadi tidak ada lagi gerak-gerik mencurigakan yang terjadi pada ara. Kami yang merasa kecolongan karena tidak mengawasi ara merasa lega dan sekarang ara aman, karena kita sudah mengirim empat orang secara bergantian untuk mengawasi araÔÇØ ucap anton

ÔÇ£oia cat, ada kabar dari rani?ÔÇØ ucap wongso

ÔÇ£belum ada kabar, ada sebuah pesan yang dikirimkan ke sematpon ayahku dan ibuku membacanyaÔÇØ ucapku kemudian menceritakan isi dari pesan yang masuk. Semua kemudian hening dan terdiam.

ÔÇ£darah dan sisanya…ÔÇØ ucap wongso

ÔÇ£kalau minum darah ndak mungkin ya? mereka kan bukan drakula, masa iya minum darah mereka… hiii ngeri dah, gimana ngrasainnyaÔÇØ ucap dewo. Anton tiba-tiba terhenyak dan memukul bahu dewo yang sedang mengankat gelas berisi teh hangat

ÔÇ£makasih wo!ÔÇØ teriak anton

ÔÇ£uhuk wasu celeng! Alon-alon (pelan-pelan) to ndes!ÔÇØ ucap dewo yang tehnya tupah kemana-mana

ÔÇ£kamu menemukan sesuatu ton?ÔÇØ ucapku dan wongso bersamaan

ÔÇ£begini, maksud dari darah dan sisa adalah mungkin eri akan diambil dulu keperawanannya dan sisanya akan dilemparkan ke ayah arya dan temannya ituÔÇØ ucap anton

Membuat mataku terbelalak seakan tidak percaya dengan apa yang aku dengar. Kami semuanya terdiam tidak tahu harus berbuat apa, tak ada pesan dari rani ataupun telepon darinya. Bagaimana mungkin kami bisa mencegah itu semua jika tak ada satu orang pun diantara kami yang mengetahui keberadaan Eri. Aku kirimkan pesan ke rani mungkin saja akan ada jawaban dari rani. Tapi lama kami menunggu sambil mengobrol kesana kemari pun juga tidak ada balasan dari rani. Seperti kapal bajak laut tanpa kompas tak tahu harus berbuat apa.

ÔÇ£ah, sudahlah itu hanya perkiraan saja. Kalau ada yang tidak beres pastinya rani akan telepon kita kan?ÔÇØ Ucap dewo menenangkan kami semua

ÔÇ£benar juga ya, kenapa juga kita seperti orang ling-lung ha… hahaha…ÔÇØ ucap wongso

ÔÇ£iya ya… ha….. hahahaÔÇØ ucapku

ÔÇ£dasar ketawa nggak ikhlas kalian ha ha ha haÔÇØ ucap anton

Kami kembali ke asal kami, masa bodoh dengan urusan yang tidak jelas sama sekali. Kami kembali ngobrol menemani malam yang sudah semakin dingin. Canda gurau selalu bersama kami walau kami tahu dalam hati masing-masing dari kami semua sedang dalam kebingungan. Lawakan dewo, selalu dibalas dengan lelucon dari anton, aku pun tak mau kalah dengan mereka berdua. Apalagi wongso yang juga tidak mau ketinggalan.

Tringting…. ringtone sms

From : Dian ÔÇ£AngelÔÇØ Rahmawati
Mas pulang sudah malam,
lama sekali ngumpulnya
To : Dian ÔÇ£AngelÔÇØ Rahmawati
Iya ade, bentar gih
From : Dian ÔÇ£AngelÔÇØ Rahmawati
CEPET!
Langsug kubalas sekenannya, widih ini cewek ternyata galak juga. Baru saja sampai di warung wongso jam delapan malam. Kumpul baru satu setengah jam sudah disuruh pulang, bagaimana nanti kalau dia jadi istriku? Bisa jadi aku ndak bisa keluar-keluar? Haduuuuuuuh tapi tak apalah kalau ndak boleh keluar, mending tak masuki saja si dian kalau sudah aku nikahi. Senyum cengengesan karena membaca sms dan membayangkan hal yang lain membuat aku dibully oleh mereka berempat.

ÔÇ£Sms dari pacar tuh….ÔÇØ ucap dewo

ÔÇ£baru Lejom bro, maklum ha ha haÔÇØ ucap wongso

ÔÇ£apaan lejom?ÔÇØ ucap anton

ÔÇ£lepas jomblo ha ha haÔÇØ ucap wongso diikuti gelak tawa mereka berdua

ÔÇ£ah sialan kalian, memangnya kalian ndak pernah ngrasain apa?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£ya pernah sih, malahan waktu itu si asmi ck ck ck… sssstttt… aku lagi BAB saja ditungguin di depan pintu. Risih sebenarnya tapi mau bagaimana lagi?ÔÇØ ucap wongso berbisik

ÔÇ£beneran itu wong? Saking cintanya sama kamu ya wongÔÇØ tanyaku dan wongso menganggukan kepala

ÔÇ£Parah lagi si dewi bro… sssstttt…. kemanapun aku pergi harus ngirim foto aku bareng sama teman-teman. Bahkan kalau aku lagi keluar daerah, semua harus aku foto dengan sudut pandang yang berbeda. Takutnya kalau foto perjalanan sebelumnya aku kirim ulangÔÇØ ucap dewo

ÔÇ£hah?! Kamu kan bisa foto beberapa tempat dengan sudut pandang yang berbeda?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£aku dulu mikir kaya gitu buat bohongin dia, tapi setelah ketemu isi sematpon di geledah semua bro. Dilihat detail gambar, kalau ndak ada gambar yang sama gimana coba? Aku pernah gitu satu kali dan yah… ngambek satu minggu bro si dewi, bahkan aku datang kerumahnya saja malah dikasih fotonya dia, dianya masuk ke kamar. terus kalau aku pulang karena jengkel, dia bakalan marah lebih lama! Gila nggak?!ÔÇØ ucap dewo

ÔÇ£berarti nasib kita sama… si anti juga seperti itu, tapi bedanya aku harus rekam suara percakapan kalian per jamnya dan aku kirimkan via email. Kalau sudah bareng, ndak boleh lepas gandengan. Mau BAB saja aku senasib sama wongsoÔÇØ ucap anton

ÔÇ£tapi kalian betah?ÔÇØ tanyaku keheranan

ÔÇ£YA BETAHLAH BRO! NAMANYA JUGA CINTA!ÔÇØ ucap mereka bertiga serempak

ÔÇ£kalau ndak ada asmi mungkin sama halnya aku ndak ada koplak. Bisa hancur masa depanku, dia yang selalu mendampingiku bro. Seandainya tidak ada dia, mana mungkin warung ini bisa jalan. Kalian tahu semenjak kebakaran itu fisik ibu sedikit melemah, tapi asmi yang menyediakan semua kebutuhan ibu. Dari mandi sampai BAB saja asmi yang ngurus, dari sakit menjadi sehat juga asmi yang ngurus. Jadinya ya, aku termasuk suami-suami takut istri tapi ya tidak sepenuhnya takut, karena aku juga laki-laki. Asmi paling takut kalau aku marah… ÔÇØ ucap wongso

ÔÇ£kalau aku, kalau ndak ada anti ya, duniaku bisa-bisa hambar. Seposesifnya dia, tetap saja dia yang number one. Karena jarang ada cewek seperti anti yang mau menerima segala kekuranganku semenjak SMA. Kalian tahu sendiri kan aku dari keluarga yang biasa-biasa saja, dan yang paling aku suka dia hanya dandan kalau ada aku walau sebenarnya ndak dandan pun dia tetap cantik. Pernah aku mengintainya, ada beberapa cowok mendekatinya lebih tajir dari aku, dia nolak. Bahkan kalau keluar ketika ndak bareng aku dandanannya biasa saja, tapi kalau pas ada aku wuiiiiih…. cuantiknya, setiap kali selesai jalan-jalan langsung aku tubruk ugh.. mangsatbz!ÔÇØ ucap anton

ÔÇ£kalau aku, dewiiii engkaulah… pujaan hatiku huoooooo…. seorang dewo tanpa dewi, well goodbye my life… kenapa aku bisa berhenti dari kebiasaan minumku, karena dewi. Kenapa aku tidak sebrutal dulu juga karena kamu yang mempertemukan aku dengan dewi ar, dia itu ugh… aku selalu bertekuk lutut dihadapannya. Apalagi hiks hiks hiks kalau dia sudah buka baju dan celananya, aku… aku hiks hiks hiks ndak tahanÔÇØ ucap dewo dengan gaya orang menangis

Benarkah yang mereka katakan tentang pacar-pacarnya?

ÔÇ£hei ar, kita itu seperti hewan liar… kamu masih ingatkan bagaimana kita dulu? Nah mereka pacar-pacar kita adalah pawang kita. Coba kamu lihat si hermawan, berapa kali dia ganti-ganti pacar? Kalau dia tidak ketemu sama Hermi, jomblo dia. Cuma hermi yang bisa menjinakan hermawan. Seperti halnya aku, anton dan dewoÔÇØ ucap wongso

ÔÇ£dan satu hal lagi cat, aku memang dari dulu senang ketika kamu dekat dengan dian. karena dian yang akan menjinakan keganasanmu diluar, aku ndak pengen kamu membabi buta kaya dulu lagi arÔÇØ ucap anton

ÔÇ£benar tuh cat, coba dian suruh telanjang mungkin kamu akan menemukan sesuatu didalamnya ha ha haÔÇØ ucap dewo

ÔÇ£dasar ngeres!ÔÇØ ucap anton dan wongso

Aku tersenyum melihat mereka, aku sendiri juga sudah mulai merasakan hal yang sama seperti mereka. preman-preman yang takut pada istrinya, tapi jika dilihat dari pernyataan mereka bukan takut dalam artian sebenarnya. Takut karena memang mereka ingin selalu bersama dengan pasangan mereka. sama halnya pasangan mereka takut akan kehilangan mereka.

ÔÇ£oke bro,terima kasih buat share-nya… mau pulang duluÔÇØ ucapku

ÔÇ£mau pulang ke dian? betul kan?ÔÇØ ucap wongso

ÔÇ£iya, kok tahu?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£lha itu tas segede trailer kamu bawa ha ha haÔÇØ

ÔÇ£aku juga pulang duluÔÇØ ucap anton

ÔÇ£aku juga, sudah ada warning nihÔÇØ ucap dewo

ÔÇ£maaaas, tanganku gatel, garukin!ÔÇØ ucap asmi dari dalam

ÔÇ£iya dindaku…ÔÇØ ucap wongso yang langsung mendekati asmi kedalam warung, sambil mengacungkan jempol dan mempersilahkan kami pulang

Kami melihat itu hanya tersenyum, teringat ketika dian memintaku menggarukan kakinya yang gatal. Aku kemudian berpisah dengan koplak menuju rumah, dalam perjalanan aku senyum-senyum sendiri mengingat cerita mereka. tak terasa aku telah sampai di rumah dian. aku masukan motor dan masuk ke dalam rumah, maklum sudah punya kunci serepnya.

ÔÇ£adeeee…ÔÇØ teriakku pelan memanggil ketika menutup pintu depan. Tak ada balasan dari dalam, aku kembali melangkah ke dalam rumah kudapati dian sedang menonton televisi

ÔÇ£kok diem de?ÔÇØ ucapku sambil berlutut bersandar pada bagian samping sofa dimana dian berada didepanku

ÔÇ£ndak usah pulang sekalian saja!ÔÇØ ucap dian

ÔÇ£eh… waduh dia marahÔÇØ bathinku

ÔÇ£maaf-maaf namanya juga kumpul-kumpul, dah lama ndak kumpul sayang. Senyum dong sayangÔÇØ ucapku merayu

ÔÇ£iiih… sudah dikasih waktu buat main malah pulangnya malam, jelek jelek jelekÔÇØ ucapnya sambil mencubit lenganku

ÔÇ£ouch… sakiiit ade…ÔÇØ balasku pelan

ÔÇ£awas kalau besok-besok lagi pulang larut malam. Maem dulu masÔÇØ ucapnya sambil berdiri menuju ke dapur.

Aku tersenyum ketika melihat tingkah dian. wanita dengan tank-top hitam dan celana payet berwarna hitam tapi ada yang aneh hmmm… aku mencoba mengamati lebih detail lagi. Akhirnya aku menemukannya, kenapa dadanya sekarang tampak lebih besar ya? hmmm… apa perlu aku menanyakannya? Aku kemduian ke dapur dan makan malam bersama dian.

ÔÇ£ade tuh dah lapar, mas disuruh main maksudnya bias ade bisa masakin mas. Malah mas pulangnya malam bangetÔÇØ ucap dian

ÔÇ£he he he maaf ndak tahu…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£besok besok lagi kalau main dibatesi, mas sudah punya pacar. Dan pulangnya harus kesini, pokoknya kesini ÔÇ£ ucapnya dengan wajah ngambek

ÔÇ£uke…ÔÇØ jawabku cengengesan

Kenapa sekarang aku seperti memiliki istri ya? padahal belum juga disahkan oleh KUA. Tapi tak apalah, semua pasti ada jalan kedepannya. Aku tidak ingin tergesa-gesa seperti koplak yang lain. Aku sudah pernah merasakannya dan untuk yang satu ini, nanti dulu. Setelah selesai makan malam, aku membantu dian memebersihkan meja makan dan piring dicuci. Aku kemudian ke kamar mandi karena perutku terasa sangat mulas, sedari pagi belum setor. Memang benar-benar enak kalau BAB, tapi sayang tidak ada rokok yang menemaniku. Lama aku didalam kamar mandi.

ÔÇ£Maaaaaas ngapain sih lama banget didalam kamar mandi?ÔÇØ ucap dian dari balik pintu

ÔÇ£Sial! Kenapa nasibku sama seperti wongso dan antonÔÇØ bathinku

ÔÇ£lagi BAB sayang, perut mas sakitÔÇØ ucapku

ÔÇ£BAB lama, pasti sambil mainan Hape!ÔÇØ ucap dian

ÔÇ£ndak mainaaan, Hp mas ada di kantong jaket dilihat dehÔÇØ ucapku

ÔÇ£cepetan! Ade ngantuk!ÔÇØ bentak dian

ÔÇ£iya sebentarÔÇØ balasku

Segera aku membersihkan diriku, muka, dan gosok gigi. Selama membersihkan diri, pikiranku terus melayang kenapa dian bertingkah seperti ini ya? mungkin karena memang aku harus diseperti inikan. Tak apalah, aku akan menikmatinya. Aku kemudian keluar dari kamar mandi dan berjalan menuju kamar, kulihat dian mencembungkan pipinya didepan pintu kamar. tanpa ngomong apa-apa dia langsung masuk ke kamar. sebenarnya wanita itu lebih dewasa atau lebih kekanak-kanakan ya? kenapa dia bisa semanja itu? dikamar aku langsung berganti celana dari balik pintu almari, kulihat dian sudah memejamkan mata dengan memeluk guling. Aku bergerak dibelakangnya dan memeluknya dari belakang.

ÔÇ£met bobo sayangÔÇØ ucapku tanpa canggung

ÔÇ£bodoh!ÔÇØ ucapnya dan aku hanya tersenyum mendengarnya

ÔÇ£mas…ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£apa?ÔÇØ balasku

ÔÇ£mas ndak malu kan pacaran sama cewek yang lebih tua?ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£ndak, memang kenapa?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£ndak papa… hi hiÔÇØ ucapnya dengan tawa kecil

ÔÇ£ade, apa ndak papa kalau mas tidur dirumah ade terus. Secara kita kan belum…ÔÇØ ucapku tidak melanjutkan

ÔÇ£ndak papa… ade ndak mau jauh lagi dari mas, dan ini salah satu cara agar ade bisa ngawasi mas… to fix youÔÇØ jawabnya

ÔÇ£terima kasih…ÔÇØ ucapku

Aku memeluknya dan kami terlelap dalam tidur. Aku merasa seperti seorang mahasiswa-mahasiswa lainnya, yang kadang tidur di kos-an pacarnya. Tidur dirumah pacarnya atas seijin orang tuanya, dilayani layaknya seorang suami. Hmmm… begitu beruntungnya aku. Jika dilihat kembali, beberapa teman kuliahku juga ada yang seperti aku sekarang ini, tapi entahlah mereka memang sayang atau hanya mencari kehangatan. Tapi yang jelas aku disini, karena aku tidak ingin jauh darinya, aku ingin selalu dekat dengan dian. malaikatku…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*