Home » Cerita Seks Mama Anak » Ibuku Cintaku Dan Dukaku 15

Ibuku Cintaku Dan Dukaku 15

Malam berlalu dan digantikan pagi yang cerah. Untuk kedua kalinya aku tak terbangun karena kokok ayam-ayam ÔÇÿsok machoÔÇÖ milik Pak Imron dan Bu Halimah. Padahal baru JumÔÇÖat kemarin mereka meninggalkan kami sebagai satu-satunya penghuni di ÔÇÿpedalamanÔÇÖ ini, tapi aku sudah merindukan kehadiran suara-suara ayam mereka. Memang aneh mengingat setiap hari yang sudah-sudah aku selalu saja mengomel tak menentu dengan sepak terjang ayam-ayam itu. Kini semua terasa begitu sunyi dan hanya kicauan burung yang terdengar. Rasanya waktu cepat sekali berlalu.

Aku baru saja bangun tidur dan terduduk di tepi ranjang mengingat-ingat setiap detail kokok para unggas itu hingga terdengar suara panggilan dari luar kamarku, ÔÇ£Tito udah bangun Nak!?ÔÇØ

ÔÇ£Udah Bu!ÔÇØ balasku singkat.

Langsung cuci muka ya! Abis itu sarapan Udah Ibu siapin tuh! sambungnya.

ÔÇ£Iya Bu!ÔÇØ jawabku lagi.

Aku pun keluar kamar dan langsung menuju ke belakang. Tampak Ibu sudah menunggu di meja makan sambil menciduk nasi ke piringku. Aku berdiri sejenak di dekatnya. Pagi ini dia memakai daster merah dengan motif bunga-bunga kecil. Terlihat sedikit belahan dadanya dari lingkar dasternya ketika dia agak membungkuk mengambilkan nasi untuk sarapanku.

ÔÇ£Segini cukup?ÔÇØ tanyanya padaku tentang banyaknya nasi yang kuinginkan.

ÔÇ£Iya Bu. Segitu aja.ÔÇØ

ÔÇ£Ya udah, cepetan cuci muka biar kita bisa sarapan,ÔÇØ anjurnya. Aku pun melaksanakan perintahnya. Setelah itu kami langsung memulai acara sarapan pagi kami.

ÔÇ£Baju Ibu yang kemaren mana Bu? Kok udah ganti?ÔÇØ kataku di tengah acara makan kami.

ÔÇ£Ya diganti dong. Masa ngurusin kerjaan rumah pake baju itu,ÔÇØ katanya seraya tersenyum.

ÔÇ£Jadi cuma buat gaya-gayaan doang?ÔÇØ

Iya. Hihihi, jawabnya terkekeh.

ÔÇ£Sekalian Ibu mau liat Ibu masih cantik apa nggak pake baju begituan,ÔÇØ timpalnya.

ÔÇ£Terus kalo masih cantik, kenapa? Ibu mau ngapain?ÔÇØ tanyaku menyelidik. Aku menghentikan suapanku.

Ya Nggak apa-apa. Emang Ibu mau ngapain? tanyanya bingung yang juga menghentikan suapannya.

Melihat raut wajahnya yang kelihatan meyakinkan, aku pun membuang jauh-jauh kecurigaanku. Hehe Nggak Bu Nggak apa-apa.

Hihi Ada-ada aja, katanya singkat dan melanjutkan suapannya yang tertunda.

ÔÇ£Emang nggak boleh apa, Ibu tampil cantik kayak Bu Aini atau Kakak angkat Tito itu?ÔÇØ sambungnya disertai senyum manis sambil mengunyah makanan.

Oh, hehe Boleh kok Bu, jawabku cengengesan. Aku pun meneruskan sarapan.

Aku merasa lucu juga. Ternyata pernyataan dan penilaianku selama ini mengenai Bu Aini maupun Kak Dina yang sering kuceritakan pada Ibu berefek umpan balik terhadap dirinya. Secara tak langsung dia ingin berkompetisi dengan kecantikan yang dimiliki oleh kedua wanita itu. Sepertinya Ibu tak mau kalah.

Namun aku bertanya dalam hati, ÔÇ£apakah dia menganggapku sebagai jurinya? Juri yang harus menilai tentang segala seluk-beluk kecantikan yang dipertontonkannya padaku?ÔÇØ

Tak lama kemudian acara sarapan kami selesai dan Ibu melanjutkan pekerjaan rumahnya seperti biasa. Aku pun melakukan bagianku dalam ruang lingkup yang lebih kecil, menyapu dan berberes-beres. Di hari Minggu seperti ini kami memang rutin melaksanakan kegiatan-kegiatan yang tak bisa kami lakukan di hari biasa. Ibu sudah menanamkan pola hidup rajin seperti ini padaku sejak kecil agar menjadi bawaan yang baik hingga aku dewasa kelak.

Hingga tak terasa tengah hari pun tiba. Segala hal yang berkenaan dengan rumah kami sudah tuntas. Aku dan Ibu sudah segar setelah mandi dan berganti pakaian. Ibu kulihat memakai atasan kaos oblong yang tak begitu ketat dan celana pendek motif kotak-kotaknya. Aku memang berencana ingin menonton pementasan di lapangan, sementara Ibu akan ke rumah Bu Ratmi untuk mengantar pakaian-pakaian bersih sekalian mengambil pakaian-pakaian kotor dari sana seperti biasa. Karena jalannya searah, kami berdua memutuskan untuk keluar rumah berbarengan.

Ketika kami berdua berada di persimpangan jalan menuju rumah Rama, kami berpapasan dengan Bu Aini yang hendak pulang ke rumahnya. Yang kutahu Bu Aini memang setiap harinya pulang ketika tengah hari untuk makan di rumahnya dan memeriksa keadaan rumah berikut anaknya yang baru pulang dari sekolah.

ÔÇ£Tito mau kemana nih?ÔÇØ tegur Bu Aini.

Oh, ini Bu Tito mau nonton acara di lapangan dekat kelurahan. Si Rama mana Bu? aku memang bermaksud menjemput Rama untuk pergi bersama-sama.

Oh, si Rama udah di sana tuh dari tadi Ibu ketemu sama dia di dekat lapangan. Ibu liat dia tadi udah pegang-pegang handycam. Mungkin buat ngerekam. Katanya kalo Tito nyariin Rama suruh aja ke lapangan langsung, kata Bu Aini menjelaskan.

ÔÇ£Oh, gitu ya Bu? Ya udah deh, Tito langsung ke lapangan aja,ÔÇØ pungkasku.

ÔÇ£Nggak mau ikut ke lapangan Ni?ÔÇØ tanya Ibu ramah pada Bu Aini.

Oh, nggak Yat. Aku masih sibuk, jawab Bu Aini dengan suara datar.

Ya udah, Ibu pulang dulu ya To Dahh, lanjutnya sambil melambaikan tangan padaku.

Kami berdua terdiam mematung melihat Bu Aini yang sudah berlalu ke dalam gang rumahnya. Sepertinya ada yang aneh dengan sikap Bu Aini. Dia kelihatan sangat ramah padaku, namun tidak pada Ibu. Dia sepertinya tak begitu mengindahkan pertanyaan basa-basi Ibu. Padahal biasanya Bu Aini sangat ÔÇÿklopÔÇÖ dengan Ibu ketika mengobrol maupun hanya sekedar bertegur sapa.

Saat kami melanjutkan perjalanan kami, Ibu bertanya padaku, ÔÇ£Bu Aini tadi kenapa ya To? Kok kayaknya cuek banget sama Ibu.ÔÇØ

Iya ya Bu? Tadi Tito juga ngerasain kayak gitu. Mungkin lagi kecapean aja kali Bu

Iya juga ya Ya udah deh, jawabnya maklum.

Cukup lama kami berjalan hingga akhirnya kami sudah hampir sampai di lapangan. Orang-orang terlihat sudah berduyun-duyun dan begitu ramai memenuhi jalan. Banyak orang-orang berjualan jajanan, berjualan mainan, maupun aneka ragam cenderamata dan aksesoris. Bendera-bendera, spanduk dan baliho sponsor pun sudah terpampang di pinggir jalan.

Ketika aku mendengar efek-efek suara gitar elektrik yang keluar dari sound system, aku langsung berlari antusias ke lapangan meninggalkan Ibuku yang masih berjalan di belakang. Dia sempat meneriakkan ÔÇÿhati-hatiÔÇÖ padaku yang kelihatan sudah tak sabar ingin melihat seperti apa konser musik itu. Aku hanya melemparkan senyum padanya di belakang sana sambil meneruskan lariku.

Ketika sudah sampai di lapangan, aku benar-benar bingung akan apa yang harus kulakukan. Seluruh lapangan benar-benar sudah penuh dengan manusia. Mungkin seluruh masyarakat dari kampung-kampung dan desa tetangga juga berkumpul di sini. Riuh dan hiruk-pikuk mewarnai pagelaran ini. Stand-stand promosi produk juga memenuhi lapangan. Aku hanya berjalan pelan-pelan menyortir satu persatu para pengunjung untuk menemukan Rama. Namun baru sebentar saja melakukannya aku sudah putus asa dan memilih untuk memperhatikan panggung.

Ternyata yang tadi itu hanyalah persiapan alat band-nya saja, sementara band-nya kurasa belum datang. Sekarang panggung malah diisi oleh dua orang biduan dangdut yang berpakaian seksi beserta pemain keyboard yang langsung memainkan lagu mereka. Irama dangdut koplo langsung memenuhi panggung dan diiringi goyangan-goyangan dua wanita cantik yang berada di atasnya. Pemandangan itu seketika menarik perhatianku. Para penonton dari kaum Adam yang lain bahkan malah tak segan-segan berteriak riuh. Aku terdiam saja dan berdiri mematung di tengah lapangan yang disinari matahari yang cukup terik.

Tapi baru sebentar saja berdiri di situ aku langsung kepanasan dan mencari tempat berteduh di tepi lapangan. Mataku masih tetap melihat kedua biduan dangdut seksi berambut panjang yang sedang menyanyi itu. Mereka mengenakan tanktop hitam yang dilapisi kaos tipis dengan lingkar leher yang sangat rendah hingga menampakkan bahu dan pundak mereka. Sementara celana yang mereka pakai adalah hotpants berbahan jeans yang sangat ketat. Kaki-kaki mereka dihiasi oleh sepatu hak tinggi yang menambah kesan semampai pada tubuhnya.

Lama juga aku terlena akan tontonan itu hingga tak terasa sesi dangdutan pun sudah usai. Itu artinya aku sudah berdiri di sini berjam-jam. Aku yang sudah ÔÇÿsadarÔÇÖ dari pengaruh dangdut koplo itu mencoba mengulangi pencarianku, tapi tetap saja gagal menemukan Rama. Sang pembawa acara mengatakan band-nya akan segera tampil, dan itu membuatku kembali ke tempatku berteduh tadi. Aku tak mungkin berada di tengah lapangan di dalam kerumunan manusia yang mungkin sudah ribuan itu.

Para personil dari band yang ditunggu pun hadir di atas panggung dan mulai memainkan alat musik mereka masing-masing. Aku terpukau melihat aksi panggung mereka yang enerjik. Begitu pula para penonton yang riuh bersemangat ketika acara utamanya berlangsung. Band yang tampil bukanlah band terkenal, tapi mereka memainkan lagu-lagu dari band-band yang sudah terkenal dengan sangat baik. Mereka bahkan sempat memainkan lagu ciptaan mereka sendiri. Aku sangat kagum pada mereka yang sudah sangat hebat dalam merintis karirnya. Berkali-kali aku membayangkan kalau akulah yang sedang tampil di atas panggung itu memainkan gitar elektrik andalanku. Sungguh khayalan seorang bocah.

Tanpa terasa aku sudah berdiri dan menonton sangat lama di sini. Hari sudah menjelang sore dan menyengatnya sinar matahari sudah tak terlalu mempengaruhi para pengunjung. Sebenarnya aku juga sudah cukup lelah, tapi rasanya aku sangat enggan untuk meninggalkan lapangan ini. Acara ini memang luar biasa dan tak akan terlupakan, namun akhirnya aku terpaksa pulang sebelum acara berakhir karena tadi Ibu sempat berpesan agar jangan pulang terlalu lama. Dengan berat hati aku melangkah meninggalkan lapangan sambil sesekali melihat ke arah panggung musikal itu.

Mudah-mudahan tahun depan ada acara kayak gini lagi, pikirku penuh harap.

Namun tiba-tiba seseorang mengejutkanku dengan tangannya yang menepuk pundakku cukup keras. ÔÇ£Woi To!ÔÇØ

Ternyata itu Rama yang sedari tadi keberadaannya tidak kutemukan di antara kerumunan. Aku langsung mengomelinya, ÔÇ£Lu dari tadi ke mana aja sih!? Dicariin nggak ketemu-ketemu!? Udah perginya nggak pake nungguin gue! Tiba-tiba ngagetin kayak tikus lewat!ÔÇØ

Hehehe Gue di sana To, dekat tenda promosi rokok itu, ujarnya sambil menunjuk sebuah tenda putih bertuliskan salah satu merk rokok yang mensponsori acara ini.

Gue juga dari tadi nyariin lu Lu nya aja yang nggak keliatan. Waktu gue mau pulang, eh! Malah ngeliat lu di sini. Jadi ya gue samperin aja, lanjutnya membela diri.

ÔÇ£Ah! Udah deh! Nggak usah nge-les lagi! Toh gue juga udah mau pulang,ÔÇØ sungutku.

Hehehe Sama dong! Ya udah, pulang yuk! ajaknya. Tapi langkahku tiba-tiba terhenti melihat Rama yang bertangan hampa. Rama yang melihatku berhenti juga ikut menghentikan langkahnya.

Eh Ram! Tadi kata Ibu lu, lu udah di lapangan sambil bawa handycam Mana handycam-nya? tanyaku cukup panik.

Oh, itu Emm Tadi gue lupa ngisi baterai handycam-nya, jadi ya gue balikin aja ke rumah. Terus gue balik lagi ke sini, jawab Rama terbata-bata dan seperti orang yang berpikir.

ÔÇ£Ah! Lu gimana sih!? Bukannya diingat sebelumnya ngisi baterai. Sekarang kita jadi nggak punya kenang-kenangan!ÔÇØ repetku.

Hehe Ya Mau gimana lagi To? Gue lupa, katanya sambil nyengir.

Ah, lu sih! Ya udah deh! Yuk pulang! ajakku penuh kesal.

Sepanjang jalan kami menceritakan segalanya mengenai apa yang kami lihat tadi. Dia menceritakan drummer-nya, sementara aku fokus pada gitarisnya. Namun di sepanjang jalan kami bercerita, Rama kelihatannya tak seantusias ketika kami beradu argumen mengenai gitaris dan drummer seperti waktu itu. Ketika itu Rama bahkan tak pernah menerima secuilpun aku menghina pemain drummer. Tapi sekarang Rama malah terkekeh ketika aku menjelek-jelekkan pendapatnya. Sungguh aneh.

ÔÇ£Ibu dan anak sama anehnya,ÔÇØ batinku.

***

ÔÇ£Bu! Tito pulang!ÔÇØ kataku setengah berteriak di depan pintu rumahku. Pintu pun dibuka oleh Ibu dan aku langsung masuk. Namun baru beberapa langkah aku masuk Ibu berkata bahwa dia hendak pergi lagi.

Nak, Ibu mau balik ke rumah Bu Ratmi lagi nih Tadi dasternya Bu Ratmi ketinggalan. Tito jaga rumah sebentar ya, ujarnya.

Oh, iya Bu. Tapi Ibu kok pake acara ketinggalan segala sih? Tumben

Hehe Iya nih. Tadi waktu Bu Ratmi liat pakaian-pakaiannya yang udah dicuci bersih, dia ngerasa kalo ada yang hilang. Eh, nggak taunya abis Ibu periksa di rumah, rupanya ada dasternya Bu Ratmi yang nyelip di tumpukan bajunya Ibu, katanya sambil melihat bungkusan plastik yang dibawanya.

Ya udah, Ibu pergi dulu ya, pamitnya.

Iya Bu, sahutku.

Pintu yang tadinya masih terbuka akhirnya tertutup. Menyisakan aku di dalam rumah yang tak tahu harus apa selanjutnya. Kulihat jam masih menunjukkan pukul setengah lima sore. Aku memutuskan untuk mandi, karena badanku sudah cukup gerah karena ÔÇÿpetualanganÔÇÖ di lapangan tadi. Ketika aku berjalan ke belakang, langkahku terhenti di depan kamar Ibu yang pintunya tertutup. Entah ide nakal dari mana, aku tiba-tiba berpikiran iseng ingin menggeledah kamar Ibu. Aku penasaran ingin melihat seperti apa pakaian-pakaian Ibu yang baru dibelinya di kota hari Rabu lalu. Dia berkata bahwa dia membeli banyak pakaian waktu itu. Pasti akan seru jika aku ÔÇÿmelihat-lihatÔÇÖ sebentar. Demi niatku itu, aku langsung mengunci pintu depan untuk menjaga ÔÇÿkeamananÔÇÖ jika sewaktu-waktu Ibu pulang nanti. Lalu aku pun lekas kembali ke depan pintu kamar Ibu.

Dengan gugup kuputar gagang pintu kamarnya. Sistem kunci putar kedua kamar kami sudah rusak, hanya ada kunci grendel dari dalam. Jadi apabila Ibu keluar kamar seperti ini aku bisa bebas masuk ke dalam kamarnya. Jantungku berdebar-debar karena ini merupakan pertama kalinya aku mengendap-endap masuk ke kamar Ibuku. Padahal aku sudah sering ditinggalkan Ibu seperti ini dari dulu, tapi kenapa baru sekarang aku terpikir akan kegiatan ÔÇÿgilaÔÇÖ ini? Mungkin karena aku dulu masih takut dan obsesiku akan Ibuku juga tak sebesar sekarang.

Aku sudah masuk ke dalam. Indra penciumanku langsung menjelajah aroma tubuh Ibu yang begitu santer tercium di sini. Aku langsung menuju ke lemari pakaiannya. Otakku membayangkan betapa banyaknya pakaian-pakaian Ibu yang bisa kufantasikan di lemari ini dan betapa banyaknya pakaian dalam Ibu yang selama ini sudah melekat di tubuhnya setiap hari yang akan segera kusaksikan langsung di hadapan mataku. Selama ini aku hanya bisa melihat sebagian saja ketika di jemur. Sekarang aku bisa melihat semuanya, berikut dengan rahasia-rahasia Ibu yang mungkin banyak tersimpan di lemarinya ini. Aku sungguh tak sabar. Wajahku mulai memanas dan penisku mulai bangun di dalam celana pendekku.

Namun baru saja menyentuh gagang lemari, perhatianku tertuju ke meja riasnya. Waktu masuk tadi aku tak melihat ke arah meja rias itu yang ternyata di atasnya tergeletak sebuah tas kecil berwarna hitam yang kelihatan tak asing. Aku sepertinya pernah melihat tas itu sebelumnya, tapi aku tak tahu di mana. Kuurungkan niatku membuka lemari dan melangkah menuju benda itu berada. Segera kubuka isi tas itu dan melihat isinya.

Barulah aku ingat sekarang. Ternyata ini adalah tas tempat handycam Rama, dan handycam-nya ada di dalamnya. Aku jadi bertanya-tanya dalam hati, Perasaan tadi Rama bilang baterai handycamnya abis deh Terus dibalikin ke rumahnya. Nah, kenapa sekarang handycam-nya Rama ada sama Ibu?

Kuambil perangkat elektronik itu dan duduk di tepi ranjang Ibuku untuk mulai mengotak-atik handycam layar sentuh Rama yang sudah sangat sering ÔÇÿkumainkanÔÇÖ. Yang pertama kali kulihat adalah kondisi level baterainya masih penuh, belum ada pengurangan. Sangat tak sesuai dengan apa kata Rama di lapangan tadi.

Sesaat aku mengalihkan pandanganku ke arah lain dan berpikir, ÔÇ£Buat apa ya, Ibu bawa-bawa handycam Rama? Ibu mau ngerekam apa? Atau ada yang mau Ibu liat di dalam sini?ÔÇØ

Kembali kufokuskan perhatianku ke handycam di genggamanku. Kucoba membuka menunya dan mencoba melihat ke daftar video yang sudah terekam. Ada beberapa video di sana. Setiap video dilengkapi gambar thumbnail sebagai screenshot. Tapi gambar screenshot video-video itu terlihat aneh. Potongan gambar di dalam video itu seperti ada orang telanjang. Apakah video porno? Entahlah. Degup jantungku mulai meningkat seraya jari-jariku yang lincah menekan-nekan tombol navigasi. Tapi waktu aku melihat gambar screenshot video yang pertama, aku terhenyak. Orang di dalam gambar ini persis seperti Ibu. Tanpa banyak pikir aku langsung menyalakannya.

Ternyata memang benar. Video pertama ini memperlihatkan Ibu yang sedang berdiri memakai daster batik coklatnya yang masih dilapisi cardigan. Ibu tersenyum ke arah kamera yang aku yakin yang memegang handycam ini adalah Rama. Aku pun langsung tahu kalau video ini diambil di kamar Rama. Bisa kulihat dari racket badminton yang tergantung di dinding kamarnya. Saking berdebarnya, tanganku sampai bergetar memegang handycam ini. Apa yang sebenarnya Ibu lakukan di dalam kamar Rama?

Sesaat kemudian Ibu tertawa cekikikan dan kulihat dia hanya berdiri begitu saja. Rama sepertinya merekamnya sambil duduk di atas tempat tidurnya. Aku hafal betul seluk-beluk kamarnya Rama berikut semua perabotannya.

Dibuka dong Bu, bajunya, pinta Rama dengan suara manja.

Aku langsung tersentak. Refleks kutekan tombol pause untuk menunda video sementara. Aku menelan ludahku. Nafasku tiba-tiba terasa berat dan wajahku memanas. Jantungku terpacu kencang demi mendengarkan omongan Rama di dalam video itu yang meminta Ibu untuk segera membuka pakaiannya. Apa sebenarnya yang sedang terjadi? Ada apa ini? Bagaimana dengan kelanjutannya? Apakah akan kutonton lagi?

Rasa berdebar dan penasaran memenuhi otakku. Aku ini lelaki waras dan normal. Aku tahu akan ke arah mana cerita di dalam video ini. Aku juga tahu betul apa maksud perkataan Rama barusan. Dan itu bukanlah omongan yang dilontarkan oleh seorang anak kecil yang hanya sekedar iseng memainkan barang elektronik. Dengan menarik nafas panjang dan menghembuskannya, aku berusaha lebih tenang dan memberanikan diri untuk menekan tombol play.

Yang terlihat di video itu Ibu hanya tersenyum dan kemudian membuka cardigan-nya. Tubuhku semakin panas dengan hanya melihat pergerakan Ibu membuka cardigan-nya dan meletakkannya di meja belajar Rama. Namun, belum sempat aku mengatur nafasku, Ibu langsung menarik ke atas daster batiknya hingga lepas di atas kepalanya. Seketika itu pula Ibu telanjang bulat tanpa pakaian dalam di hadapan kamera yang otomatis di hadapan Rama juga. Kemaluanku sontak menegang di dalam celanaku. Segera kutekan lagi tombol pause untuk menunda videonya.

Aku mendadak diserang hawa panik yang luar biasa. Antara iya dan tidak untuk melanjutkan video ini. Pikiranku seperti mendadak kosong. Tak tahu harus melakukan apa. Kenapa Ibu mau melakukan hal gila seperti ini dengan Rama? Apa yang ada dalam pikirannya? Entah kenapa sanubariku terus-menerus mendorongku untuk melihat kelanjutannya. Kuberanikan untuk menekan tombol play kembali. Setelah menarik nafas dalam-dalam, kali ini kuputuskan menonton video itu hingga akhir.

ÔÇ£Ibu nggak pake daleman Bu?ÔÇØ tanya Rama yang kurasa juga terkejut melihat penampilan ÔÇÿberaniÔÇÖ janda cantik beranak satu itu. Tapi Ibu tersenyum saja membalas pertanyaannya.

Ya udah Bu, cepetan Rama udah pengen nih ngerasain ngentot sama Ibu, sambungnya kemudian.

Seketika saja aku naik pitam mendengarkan ocehan mesum Rama. Teman yang benar-benar brengsek. Betapa kurang ajarnya dia mengajak Ibuku bersetubuh? Ingin sekali aku mencampakkan handycam ini dan hancur berkeping-keping. Tapi yang kulihat kemudian Ibu malah tersenyum lagi dan seperti menerima saja kata-kata Rama itu. Ada apa ini?

ÔÇ£Nggak sabar banget sih? Udah nggak tahan ya?ÔÇØ Ibu tersenyum menggoda.

Iya Bu, nggak tahan, balas Rama.

ÔÇ£Ingat ya perjanjiannya,ÔÇØ kata Ibu memperingatkan. Namun tak terdengar jawaban dari Rama. Mungkin dia hanya mengangguk menjawabnya. Perjanjian apa sebenarnya?

Ibu berjalan perlahan-lahan mendekati Rama. Rama pun terus menyorot ke mana wajah Ibu bergerak. Ibu sepertinya mengambil posisi berjongkok. Dan, astaga! Ternyata wajah Ibu mengarah ke alat vital Rama yang sudah menegang penuh. Rama sepertinya sudah menelanjangi dirinya sendiri sebelumnya, dan kini dia sedang duduk di tepi ranjangnya sambil mengangkangkan pahanya. Ibu pun tersenyum nakal di depan kemaluan Rama seraya melihat ke arah kamera.

Yang dilakukan Ibu kemudian membuatku benar-benar terhenyak. Sambil sesekali melihat ke kamera, Ibu menciumi kemaluan Rama. Pertama buah pelirnya, lalu ciumannya merambat ke penisnya yang sudah tegang memerah. Ketika Ibu menciumi bagian bawah penisnya, Rama mendesah nikmat.

Ahh Bu Enak Hhh Ahhh, Rama mendesah kuat dan kameranya sedikit bergetar. Mendengar Rama yang mendesah, Ibu langsung bersemangat. Ia kemudian mengganti ciumannya dengan jilatan liar. Lidah Ibu menyapu penis Rama dari bawah ke atas.

Rama yang kaget langsung berteriak keenakan, Ahh Akhh! Enak Bu! Enak! Ahhh Rama mau keluaarrr! Ahhh!

Crottt Croott Crottt! air mani Rama tiba-tiba saja memancar keluar dari ujung penisnya. Kameranya bergetar hebat. Aku sampai tak bisa fokus melihat adegan di layar.

Tapi sekejap kemudian getaran di layar semakin sedikit dan kulihat wajah Ibu yang sudah terkena cipratan air mani Rama. Bahkan ada sedikit yang mengenai poninya. Kepala penis Rama masih mengeluarkan cairan putih itu sedikit-sedikit. Ibu masih menjilati penisnya dengan lembut.

Sesaat kemudian Ibu tegak berdiri dan menepuk kedua paha Rama pelan dan berkata, Udah ya

ÔÇ£Lho? Bu? Kapan ngentotnya?ÔÇØ tanya Rama. Kamera sepertinya diletakkannya di atas ranjangnya begitu saja. Namun mengarah ke Ibu yang sedang mengelap wajah dan mulutnya dengan baju kaos Rama.

Nggak bisa di sini sayang Kalo Rama mau nanti malam ke rumah Ibu aja gimana? Nginap di sana sekalian? saran Ibu yang kemudian dengan cepat memakai dasternya kembali.

ÔÇ£Hah? Emang bisa Bu? Gimana caranya? Nanti ketahuan Tito gimana?ÔÇØ

ÔÇ£Udah, tenang aja. Biar Ibu yang urus. Pokoknya Rama bilang aja ke Bundanya kalo mau ngerjain PR sekalian nginap,ÔÇØ usul Ibu lagi.

Ya udah deh Bu Nanti Rama coba bilang sama Bunda. Tapi nanti kita ngentot kan Bu?

Iya Hihi Mulutnya itu kok mesum amat sih? kata Ibu sambil tertawa geli. Kulihat Ibu menuju ke arah Rama dan lenyap dari layar. Hanya suaranya saja yang terdengar dibarengi Rama yang terkekeh.

Ya udah, siap-siap buat nanti malam ya, ujar Ibu nakal. Kemudian kamera terlihat diambil dan dimatikan pemiliknya.

Setelah video itu selesai aku buru-buru melihat tanggal pengambilan video itu. Ternyata video itu diambil hari Senin pagi. Seingatku itu adalah saat di mana Ibu mengantarkan surat keterangan sakitku ke rumah Rama. Tapi kenapa Bu Aini tak ada di situ? Apa dia sudah pergi ke tokonya sepagi itu?

Aku mencoba mengingat-ingat lagi saat-saat itu. Waktu itu Ibu memang tak memakai apapun lagi di balik dasternya. Dan aku ingat Ibu mengatakan bahwa Bu Aini pergi ke tokonya lebih cepat karena ada stok barang yang masuk. Mungkin itu alasan kenapa mereka hanya berdua di rumah itu.

Aku tak menyangka kejadiannya akan seperti ini. Kalau didengar dari pembicaraan mereka di video, mereka berencana bersetubuh di rumah ini setelah adegan di video itu. Berarti Senin malam saat Rama datang ke rumah ini, hanya bertujuan untuk itu? Dan waktu aku tertidur pulas malam itu, mereka memanfaatkannya untuk bersetubuh?

Aaaakkkhhh! Gila! Gila! Gila! teriakku dalam hati. Hatiku benar-benar sakit menerima kenyataan bahwa sekarang ini diam-diam Ibu sedang menjalin hubungan mesum dengan Rama.

Kenapa Bu! Kenapa! teriakku lagi dalam hati.

Aku merasa hancur dan putus asa. Cemburu, kesal, marah, kecewa, sedih, semua berkumpul jadi satu. Aku tak tahu sedang merasakan yang mana. Semuanya berkecamuk dalam hati. Kepalaku terasa berat menerima semua ini, tapi tetap saja harus kutanggung.

Kulihat lagi ke layar handycam. Dengan melihat gambar screenshot video-video yang lain yang terlihat seperti bentuk wanita yang sedang telanjang di atas tempat tidur, aku segera menyimpulkan bahwa itu adalah petualangan mereka selanjutnya. Dan kurasa itu merupakan video adegan-adegan persetubuhan mereka.

Kuletakkan kembali handycam itu dan mengatur nafasku. Dadaku terasa sesak dan panas. Hatiku benar-benar sakit. Tapi entah kenapa rasa penasaran lambat laun muncul di dalam hatiku. Sama seperti tadi, aku seperti ingin melanjutkan tontonan gila ini. Aku ingin melihat seberapa jauh hubungan mereka. Aku ingin melihat semua fakta dan kebenaran yang ada. Dari video-video ini aku akan mendapatkan semuanya.

Kucoba menguatkan diriku sebelum melihat video selanjutnya. Kutarik nafas dalam dan kuhembuskan. Berkali-kali kulakukan hingga aku merasa sedikit tenang dan punya keberanian memencet tombol play. Tapi reaksiku tetap sama saja. Bahkan aku rasanya ingin pingsan ketika melihat video selanjutnya. Mereka berdua sudah telanjang di dalam kamar yang kutahu pasti adalah kamar Ibu. Tepat di ranjang yang sedang kududuki ini.

Rama yang telanjang tampak sedang menyetel dan meletakkan kameranya di samping tempat tidur ini. Sepertinya bukan di atas meja rias Ibu, karena mengangkat dan memindahkannya ke posisi itu sangatlah sulit dan merepotkan. Kemungkinan besar meja kecil yang ada di dekat TV di bawa masuk ke kamar Ibu. Setelah kamera siap Rama pun mundur dan naik ke atas ranjang. Ibu yang sedari tadi hanya duduk di tepi ranjang memperhatikan Rama menyetel kameranya pun ikut naik dan duduk bersimpuh di atas ranjang tepat di samping Rama.

Setelah itu Ibu sepertinya meletakkan sesuatu ke penis Rama. Aku tak tahu apa itu, tapi bentuknya seperti karet atau plastik elastis yang kemudian menutupi seluruh penis Rama. Ibu perlahan mengurut-urut penis Rama ke arah bawah hingga selaput tipis itu benar-benar menutupi penisnya dengan ketat.

Adegan berikutnya membuat pusing di kepalaku memuncak. Ibu merangkak mengangkangi kemaluan Rama dan pelan-pelan menurunkan tubuhnya. Dia memasukkan penis Rama ke dalam vaginanya dan mendudukkan pantatnya di atas selangkangan Rama.

Ohhh, desah Ibu saat penis Rama masuk sepenuhnya ke dalam vaginanya. Setelah itu Ibu tersenyum genit pada Rama dan terlihat menggoyang-goyangkan pinggulnya perlahan-lahan ke depan dan ke belakang.

Ahh Ahhh Ekhh Ahhh, Rama hanya bisa mendesah-desah merasakan goyangan pinggul Ibu.

Shhh Emhhh Gimana sayangg? Enak ngentotnya? Hmmhhh, tanya Ibu sambil tersenyum nakal dan terus menggoyang penis Rama. Pantat dan paha Ibu yang bergoyang dari samping seperti ini sungguh terlihat sangat seksi. Lekuk tubuhnya yang sangat padat dan kencang sungguh menggairahkan.

Ngghhh Enak Bu Enak bangett Ahhss, lenguh Rama.

Ibu tiba-tiba mempercepat goyangannya. Buah dadanya yang besar dan kencang itu bergoyang di hadapan Rama, membuat Rama berancang-ancang untuk memegangnya. Namun Ibu langsung menahan tangan Rama dan menindihnya dengan tangannya. Ibu sedikit membungkuk dan masih menggoyang pinggulnya dengan irama cepat dan konstan. Pemandangan buah dada Ibuku yang bergoyang di dekat mata Rama membuat Rama akhirnya tak tahan.

Bu Ahh Rama mau keluar! Ohh Rama keluar Bu! Ahhkk! Rama seperti tercekik saat meraih orgasmenya. Pinggulnya menghentak-hentak menghantam pantat Ibu yang sudah berhenti bergoyang dan hanya duduk diam di atasnya. Kejang tubuhnya menandakan betapa nikmatnya nafsu yang dia raih.

Hihihi Enak? kata Ibu sambil tersenyum pada Rama. Rama mengangguk saja dengan nafas yang terengah-engah.

Ibu turun dari selangkangan Rama dan duduk bersimpuh di sampingnya seperti tadi. Dibukanya penutup yang membungkus penis Rama dengan hati-hati dan membuangnya di bawah tempat tidur ini. Sepertinya ada tempat yang disediakan untuk benda ÔÇÿbekas pakaiÔÇÖ itu.

ÔÇ£Udah, bersihin dulu ke kamar mandi sana,ÔÇØ Ibu menyuruh Rama untuk membersihkan kemaluannya. Rama pun turun dari tempat tidur dan mematikan videonya.

Ditengah kegalauanku dan kepalaku yang terasa sakit, aku tetap saja merasa bernafsu dengan tontonan video porno pertamaku ini. Aku tak sabar dan langsung menyalakan video ketiga. Benar dugaanku. Ini adalah lanjutannya. Sepertinya setelah Rama kembali dari kamar mandi mereka ÔÇÿbermainÔÇÖ lagi.

Kali ini dengan gaya yang berbeda. Selagi Rama mempersiapkan kamera, Ibu tampak sudah berbaring telentang di atas ranjang. Beberapa detik kemudian Rama selesai menyetel kameranya dan naik ke atas ranjang bersama Ibu. Penisnya juga sudah terlihat berselaput seperti tadi. Sepertinya Ibu memasang benda itu lagi di kemaluannya.

Adegan selanjutnya benar-benar membuatku iri dan cemburu setengah mati pada Rama. Bayangkan saja bagaimana Ibu yang kusayangi dan begitu kucintai selama ini dengan pasrah mengangkangkan kakinya di hadapan Rama yang kini sedang berlutut di antara kedua kakinya itu. Tatapan Rama terlihat nanar dan begitu bernafsu melihat selangkangan Ibuku yang begitu bebas dilihatnya. Dia pasti dapat melihat dengan jelas bentuk dari organ kewanitaan Ibu yang sangat dijaga Ibu selama ini.

Sayangnya video ini hanya merekam dari arah samping sehingga aku tak bisa ikut menikmatinya. Di tengah kecemburuan ini kemaluanku tetap saja tegang dan tak bisa menolak bahwa posisi Ibu di video itu benar-benar membangkitkan gairahku.

Hihi Kenapa sayang? tanya Ibu sambil tersenyum nakal.

Seksi Bu, jawab Rama dengan suara bergetar.

Ya udah, cepetan entot lagi. Rama geser ke sini, Ibu membimbing Rama untuk mendekat ke selangkangannya.

Siniin tuh burungnya, sambung Ibu lagi yang kemudian meraih penis Rama untuk dimasukkan ke dalam vaginanya. Ibu juga menggeser-geser tubuhnya untuk memposisikan dirinya sebaik-baiknya.

Dengan cepat Rama langsung menerima arahan Ibu dan sepertinya penisnya sudah masuk dengan sukses. Terlihat dari Rama yang kemudian menggoyang-goyangkan pinggul dan pantatnya di selangkangan Ibu masih dalam posisi berlutut. Rama diperintahkan Ibu untuk memegang lutut Ibu selama menggoyang. Sepertinya Ibu tidak mengizinkan Rama untuk memegang-megang bagian-bagian tubuh Ibu. Itu terlihat ketika di video ini Rama mencoba memegang buah dadanya seperti tadi, tapi dengan sigap langsung ditepis oleh Ibuku.

Ohh Ohh Terus Ram Entot teruss Sshh, desah Ibu nikmat.

Enghh Iya Bu Uhh Enakk bangett! Akhh, balas Rama yang mengayunkan pinggulnya semakin memburu.

Emhh Ahh Iyaa Gituu sayanggg Shhh Mmmhh, Ibu mengimbangi goyangan Rama dengan menggoyangkan pantatnya ke atas dan ke bawah. Gerakan Ibu sungguh binal dan erotis.

Ohh Bu Ahh Enaaakk Akhh Akhh! wajah Rama terlihat semakin jelek dan kusut saat mendesah dan mengerang. Sepertinya dia benar-benar tak tahan dengan perlakuan Ibu.

Shhh Kenapa sayaangg? Mau keluar ya? Ohh Shhh Ahh, tanya Ibu sambil mendesah dan tersenyum padanya. Dimainkan dan digoyangkannya pantatnya semakin kencang untuk menekan-nekan selangkangan Rama, sementara tangannya memegang-megang kedua buah dadanya sendiri.

Nghh Iya Buu Ahhh Nggak tahaann! Aaakkhhh! Rama memekik dan seketika itu pula tubuhnya bergetar dan menghentak-hentakkan pantatnya ke depan.

Hmm Iyahh Terus sayang Keluarin ajahh Mmmhh Ssshh, desah Ibu yang masih terdiam mengangkangi Rama yang sedang mengejat-ngejat.

Sekejap kemudian kemaluan Rama sepertinya lepas dari vagina Ibu. Tubuhnya bersandar ke dinding di samping tempat tidur. Dia terlihat sangat kelelahan. Ibu bangkit dari posisinya dan duduk di sampingnya. Lalu Ibu mengambil selaput elastis itu dari kemaluan Rama dan membuangnya ke bawah tempat tidur. Lagi-lagi Ibu menyuruh Rama ke kamar mandi.

Hmmhh Masih capek Bu, keluh Rama dalam keadaaan lemah. Tapi dia akhirnya turun dari ranjang dengan tenaganya yang kelihatannya memang tinggal sedikit. Video ketiga pun selesai.

Tubuhku sudah cukup lemas melihat kenyataan yang ada dalam video-video ini. Jadi inikah yang dinamakan bersetubuh? Sungguh nikmatnya Rama yang merasakannya bersama Ibuku. Ketakutanku terjawab dengan kenyataan yang bahkan lebih pahit dari yang pernah kubayangkan. Ibu dan sahabatku sendiri? Apakah ini mimpi? Aku harap ini memang mimpi. Tapi apa daya, ini semua nyata.

Aku mencoba mengingat lagi jauh ke belakang. Bagaimana bisa aku tak tahu kalau Rama ternyata membawa handycam ini ke rumahku? Apakah di dalam tasnya waktu itu? Saat itu seingatku dia memang sempat panik melihatku yang melemparkan tasnya begitu saja. Apakah alasan dia mengatakan di dalam tasnya ada jam tangan merupakan selubung untuk menutupi handycam ini dariku? Kurasa memang begitu.

Lu memang sialan Rama! Lu memang sialan! teriakku dalam hati.

Ada dua video lagi yang belum kutonton. Tapi aku merasa sudah sangat hancur semenjak melihat video yang pertama. Apakah aku sanggup menontonnya lagi? Sepertinya aku juga ikut-ikutan lemas. Aku kini duduk di lantai bersandarkan besi tepian ranjang Ibuku dan menunggu keyakinan selanjutnya.

Di tengah keheningan kamar, hati nuraniku seolah-olah berbisik untuk menuntaskan segala tontonan yang ada di situ. Aku pun berpikir bahwa sebelum Ibu kembali kemari, alangkah baiknya kalau aku memang menyelesaikan tontonan menyakitkan jiwa itu hingga akhir. Agar tak ada lagi yang menggantung di otakku. Kutarik lagi nafasku dalam-dalam dan kuhembuskan. Lalu kutekan tombol play untuk video berikutnya.

Kali ini latarnya kelihatan jauh lebih terang dari dua video yang pertama. Sepertinya ini diambil di siang hari. Kumatikan sebentar video itu dan meneliti tanggal pengambilan video ini. Aku terkejut ketika mengetahui ternyata video yang ini diambil kemarin siang. Itu berarti saat aku di rumah Kak Dina.

ÔÇ£Sialan! Brengsek!ÔÇØ makiku dalam hati. Kepalaku semakin sakit saja. Keningku terasa kaku dan membatu. Dadaku panas menyesak.

Bisa-bisanya Ibu dan Rama Aaaakkkhhh! teriakku lagi dalam hati sambil menjambak rambutku sendiri seperti orang yang terkena stress berat.

ÔÇ£Lu mesti tenang Tito! Lu mesti tenang menghadapi kejadian kayak gini,ÔÇØ sanubariku seperti membisikiku untuk tenang.

Tapi otakku berkata lain, Gimana bisa tenang kalo udah kayak gini! Nggak ada orang yang ngerasain sakitnya selain gue! Ini keterlaluan! Keterlaluan!

Entah karena apa aku tiba-tiba merasa begitu geram dan menggebu-gebu. Kemarahan dan nafsu sepertinya tersebar ke seluruh tubuhku. Membayangkan mereka berdua yang seperti sedang tersenyum sekarang ini menikmati hubungan mereka sementara aku di sini harus menanggung penderitaan. Aku mengingat kembali kenapa aku di sini dan apa tujuanku masuk ke dalam kamar ini. Ya! Aku ingin menuntaskan fantasi dan nafsuku. Namun sekarang sepertinya jalannya telah berubah. Saat ini aku tak bisa mengingat kelembutan sikap Ibu yang ditunjukkannya padaku setiap hari. Kata-kata bijaknya, senyuman manisnya, maupun masa-masa yang sudah kami lalui bersama. Yang ada di dalam pikiran Ibu sekarang sepertinya hanya nafsu birahi. Kalau Ibu bisa menuntaskan nafsunya, kenapa aku tidak?

Aku sudah tak peduli lagi. Masa bodoh dengan kelakuanku yang seperti anak kurang ajar. Toh mereka berdua juga berbuat jauh lebih kurang ajar daripada aku. Kemaluanku sudah tegang dari tadi karena gairah yang bergejolak melihat persetubuhan Ibuku dengan temanku sendiri. Biarlah benda-benda kamar ini menjadi saksi bisu kekecewaan dan nafsuku yang mendalam. Kubuka celana dan celana dalamku, dan duduk kembali di tempatku semula. Aku akan melakukan masturbasi seperti yang telah diajarkan Ibu kandungku itu.

Kupencet tombol play dan mulai memegangi leher penisku dengan tanganku sendiri. Di video kulihat Rama sudah menyiapkan kameranya lalu dia langsung berbaring di atas ranjang.

Udah Bu Sini dong, tegurnya mengajak Ibuku untuk naik ke atas ranjang bersamanya.

Rama aneh-aneh aja deh Masa Ibu disuruh pake ini? jawab Ibu yang masih belum muncul di dalam video. Dari pandangan Rama sepertinya Ibu sedang berada di dekat meja riasnya.

Udah Bu, nggak apa-apa Cepetan dong Udah nggak tahan nih, rengek Rama dengan penis berselaput yang sudah mencuat.

Wujud Ibu pun muncul di layar mendatangi Rama dan naik ke atas ranjang. Tapi yang kulihat di dalam video saat ini bukan seperti Ibu yang biasanya kulihat sehari-hari. Malah aku seperti melihat sosok Bu Aini.

ÔÇ£Apa lagi ini?ÔÇØ batinku.

Dandanan Ibu sungguh aneh. Tubuhnya sudah bugil, tapi di kepalanya melekat jilbab warna biru motif bunga Lili mirip jilbab Bu Aini, bahkan sangat persis. Aku menyimpulkan kalau itu memang jilbab milik Bu Aini yang sengaja dibawa Rama untuk dipasangkan pada Ibu. Tapi buat apa?

Ibu kemudian mengambil ancang-ancang yang sama seperti video sebelumnya. Menaiki tubuh Rama dan mengangkangkan kakinya di selangkangan Rama. Ditekannya vaginanya ke bawah, dan penis Rama pun perlahan-lahan tenggelam di dalam vaginanya. Ibu mulai menggerakkan pinggulnya maju mundur dalam keadaan duduk. Tanganku juga mengelusi penisku yang sudah tegang perlahan-lahan.

Ngghh Ekhh Ahh Hmmhh, lenguh Rama mengiringi setiap gerakan pinggul Ibu yang seksi.

Gimana rasanya sayang? Shhh Emmhh Enak nggak? tanya Ibu lagi-lagi dengan senyum nakal.

Ahhh Hegghh EEnakk Bunda Hhhh, sahut Rama.

ÔÇ£Apa!? Bunda!?ÔÇØ batinku terkejut. Kuhentikan video itu sejenak dan kuhentikan pula elusan tanganku sendiri di penisku.

ÔÇ£Apa jangan-jangan Rama sengaja mendandani Ibu begitu agar terlihat seperti Bundanya?ÔÇØ sambungku berpikir.

Sepertinya dugaanku memang benar. Kalau tidak buat apa dia repot-repot meminta Ibu memakai jilbab Bu Aini? Itu artinya Rama selama ini juga sangat tertarik pada Bundanya sendiri. Rentetan kekesalan Rama yang terjadi akhir-akhir ini karena Bundanya yang mendadak begitu ÔÇÿdekatÔÇÖ denganku juga sudah menjelaskan segalanya. Tapi kenapa dia malah berhubungan seks dengan Ibuku? Dasar bajingan!

ÔÇ£Ohh… NghhÔǪ BundaÔǪ Enak BundaÔǪ HngghhÔǪ AhhÔǪ BundaÔǪ,ÔÇØ Rama melenguh-lenguh seolah-olah yang sedang menungganginya sekarang ini adalah Bu Aini.

Hihihi Ssshhh Mau Bunda goyang lagi sayang? Hmmm? Shhh, balas Bunda menanggapi ekspresi Rama.

Iya Bunda! Goyang lagi Bunda! Aaahh Goyang lagi memeknya Bundahh Ngghh! Aahhh! sahut Rama yang semakin merasa nikmat dengan goyangan pinggul dan pantat Ibu yang semakin cepat.

Kedua tangan Rama refleks meraba paha Ibu. Tapi Ibu langsung menggenggam kedua tangan nakalnya itu dan mengangkatnya ke atas. Dengan berpegangan tangan erat sambil bersetubuh seperti itu, mereka berdua malah jadi seperti sepasang kekasih yang sedang dimabuk asmara. Kucoba menahan amarah dan rasa cemburuku sebisanya sambil terus melihat adegan panas yang berlangsung.

Ahhh Sshhtt Mmhh Enak sayangg? Ohh Shhh Enak sayanghh? Ibu mempercepat goyangan pinggulnya.

Kedua buah dadanya bergoyang-goyang di bawah jilbab itu menambah kesan seksinya. Bagian bawah jilbabnya disampirkannya ke kanan dan kiri pundaknya, jadi payudaranya terpampang bebas di hadapan Rama. Wajah Ibu memerah pertanda dia sudah mulai merasakan nikmat. Sementara Rama yang sedang berbaring wajahnya sudah mendongak-dongak dan dadanya sudah bergerak naik turun.

Aahhh! Ahhkk Bunda! Rama mau keluar Bundaa! Enak Bundaa! Bundaaa.! Aaahhhh! Rama orgasme begitu dahsyat. Suaranya terdengar cukup lantang di handycam ini. Tubuhnya menghentak-hentak dan mendorong-dorong pantat Ibu yang padat berisi. Kedua kakinya terlihat gelisah dan ikut-ikutan mengejang.

Shhh Hmm Hihi Udah keluar ya? Shh Enak? ucap Ibu dengan senyum mengembang. Rama hanya mengangguk sambil menarik nafasnya yang tersengal-sengal. Dilepaskannya genggaman tangannya. Tangan Rama langsung jatuh terkulai di atas ranjang. Ibu masih duduk tenang di atas tubuh Rama yang terbaring lemah.

Ibu menunggu sebentar sampai nafas Rama sedikit tenang, lalu dia beranjak melepaskan penis Rama yang sudah menciut dari vaginanya dan bergerak ke samping. Sambil duduk bersimpuh, dicabutnya selaput yang menempel di penis Rama dan menjatuhkannya di bawah ranjang seperti yang sudah-sudah. Aku masih belum mencapai klimaks. Dari tadi aku hanya mengelus kemaluanku perlahan-lahan. Mungkin karena terlalu fokus pada video sehingga aku melupakan apa yang harus kulakukan.

Rama tampak turun dari ranjang dan hilang dari layar setelah Ibu menyuruhnya ke kamar mandi untuk membersihkan kemaluannya. Tapi dia tak mematikan kameranya. Sehingga video masih terus berjalan. Kulihat Ibu masih duduk bersimpuh di atas tempat tidur. Entah mendapat ide dari mana, Ibu tiba-tiba melambaikan tangannya ke kamera sambil tersenyum.

Secara tak langsung aku seperti sedang diejek oleh Ibu. Senyuman manis yang dilemparkannya di depan kamera terasa begitu pahit di hatiku. Biasanya aku akan membalas setiap senyuman yang diberikan Ibu padaku dengan senyuman pula. Tapi kali ini aku tak bergeming. Tanganku kulepaskan dari kemaluanku dan mengepalkannya kuat. Aku hendak memukul tapi tak tahu ke mana akan kulepaskan tinjuku ini.

Setelah itu Ibu hanya diam terduduk. Dia melihat ke arah lain dan tersenyum. Sepertinya Rama sudah masuk lagi ke dalam kamar. Kameranya tiba-tiba diangkat dari tempatnya dan diarahkan ke Ibu yang sedang duduk. Ibu tersenyum-senyum sambil menutupi buah dadanya dengan jilbab dan merapatkan kedua pahanya.

ÔÇ£Rama apaan sih!? Matiin nggak!?ÔÇØ kata Ibu terlihat kesal. Tapi masih menyunggingkan senyum.

Hehe Ini dia Bunda kedua gue yang cantik! seru Rama seperti sedang mempersembahkan Ibu sebagai sebuah tontonan. Aku tak bisa menjelaskan dengan kata-kata betapa marahnya aku sekarang ini.

ÔÇ£Matiin nggak!? Kalo nggak Ibu bakal marah nih!ÔÇØ gertak Ibu dengan wajah garang tanpa senyuman lagi. Sepertinya dia memang tak ingin diperlakukan seperti itu oleh Rama. Seketika saja video itu terhenti.

Pikiranku sedikit lega karena adegan itu tak berlanjut. Kutenangkan helaan nafasku. Tanganku yang tadinya mengepal, kembali menggenggam penisku. Aku sudah cukup siap untuk melihat video berikutnya. Dengan tangan kiriku, kutekan tombol play di gambar thumbnail video terakhir. Tampak Rama yang sudah mempersiapkan kameranya dan langsung menyusul Ibu naik ke atas tempat tidur.

Ibu kulihat masih mengenakan jilbabnya dan duduk bersimpuh. Kemudian dia merobek sebuah kemasan plastik kecil dan mengeluarkan sesuatu. Tampaknya itu selaput penutup yang sama dengan yang sudah-sudah. Dipasangkannya lagi benda elastis itu di penis Rama yang sudah menegang. Benda apa itu sebenarnya? Dan apa fungsinya? Aku masih belum tahu.

Setelah itu Ibu menyingkirkan bantal yang ada di situ. Dia mendekati tembok yang ada di bagian kepala tempat tidur. Kedua tangannya menempel ke tembok sementara dia kemudian duduk berlutut membelakangi Rama. Ibu menyuruh Rama mendekat padanya dan duduk berlutut juga persis di belakangnya.

ÔÇ£Maju dikit lagi sayang,ÔÇØ Ibu menyuruh Rama untuk mengambil posisi berlutut lebih dekat dengannya.

Sini burungnya Rama, biar Ibu masukin, ujar Ibu kemudian sambil menatap ke belakang.

Ibu meraih dan menggenggam kemaluan Rama yang terbungkus benda aneh itu dan mundur sedikit untuk memantapkan posisinya. Diangkatnya sedikit pantatnya dan diarahkannya penis Rama ke vaginanya dari belakang.

Digesek-gesekkannya sejenak kepala penis Rama di vaginanya, kemudian Ibu menurunkan pantatnya perlahan. Penis Rama pun amblas tak bersisa, masuk seluruhnya ke dalam relung vagina Ibu. Ternyata mereka sedang mempraktekkan gaya seks yang lain. Ibu berlutut dengan badan agak tegak ke atas, sementara Rama berlutut sambil menggoyang-goyangkan pinggulnya menumbuki pantat Ibu yang padat.

Pegang pundaknya Bunda sayang, perintah Ibu pada Rama. Rama langsung memegang kedua pundak Ibu.

Nah, sekarang pegangannya udah ada kan? Hihi Goyang terus yang kencang sayang Shhh Mmhh Iya, gituhh Hhssshh, Ibu mendesah-desah menikmati goyangan pinggul Rama yang tampak memburu. Ternyata Ibu sengaja membuat pegangan untuk Rama di pundaknya agar Rama punya tumpuan untuk menggoyang lebih cepat.

Uhhh Enak banget Bunda Bunda jago banget Ahh Ekhh Memek Bunda enakk Ahhh, racau Rama sambil melihat ke arah pantat Ibu yang tersaji indah menyambut gesekan perutnya. Sementara penisnya tak ada yang terlihat dari luar. Batang kemaluannya itu terus berada di dalam dan mengaduk-aduk vagina Ibu.

Ssshhh Iyahh Gitu sayanghh Yang cepat nyodoknya Emhh Ohh Shhh, sambil mendesah, wajah Ibu terus menoleh ke samping, tepat ke arah kamera. Tapi matanya tertuju ke Rama yang ada di belakangnya.

Rama pun menatap ke depan. Ke arah wajah Ibu yang sedang menoleh. Dia semakin bersemangat menggoyang-goyangkan pinggulnya menekan-nekan pantat Ibu sambil meneruskan racauannya, Ohh Bunda Enak nggak dientotin sama Rama? Ahhh Ekhh

Iya sayangg Enak Oohh Bunda suka dientotin Rama Shhh Bunda suka banget sayangg Ahh, balas Ibu tak kalah panas. Tampak senyuman nakal menghiasi wajahnya. Buah dadanya dari tadi tertutup oleh bagian depan jilbab yang turun dari pundaknya, jadi aku tak bisa melihat daging bulatnya itu bergoyang-goyang.

Eghh Bunda Ahhh Bunda seksi banget Bunda Nghh hhhh. Memek Bunda nikmat, racauan Rama terdengar semakin norak.

Iyyaa sayaangg Hhssshh ahhh Kalo Bunda seksi entotin aja Bunda sampe puas Mmhhh Ohhh Ahhh, lenguhan dan racauan Bunda juga terdengar semakin enerjik.

Ahhh Bundaa! Rama nggak tahan Bundaa! Bunda seksi bangeett! Egghhh Rama mau keluar Bunda! Hkkhhh Rama mulai mengerang kalang kabut.

Sshhh Udah mau keluar sayang!? Ya udah, keluarin aja sayang Jangan ditahan-tahan Hhhssshh Ahhh

Aaahhh Bunda! Akhh! Rama cinta sama Bunda! Akhhh! Aahhkkhh! Rama mendongak dan tubuhnya agak melenting ke belakang. Pundak Ibu juga ikut tertarik tegak, sementara pantatnya sedikit terdorong ke depan karena Rama menekan kemaluannya cukup kuat. Tubuh bagian bawah mereka seperti menyatu saja. Dari posisi video yang diambil dari samping ini, Rama bagaikan tidak sedang menyetubuhi vagina Ibu, melainkan lubang pantat Ibu.

Emmhh Iyahh sayangg Keluarin terus Sshhh Uhh Hmmhh Ibu menoleh ke samping sambil menyambut hentakan-hentakan pinggul Rama dengan lenguhannya. Kulihat wajah Ibu terlihat aneh. Keningnya agak mengernyit seperti berpikir.

Ukkhhh Enak banget Bunda Aahhh Rama menunduk lemas sambil tetap memegang pundak Ibu. Selangkangannya masih berkedut-kedut sesekali.

Setelah itu Rama melepaskan pegangannya dan terhuyung ke belakang. Dia terduduk lemas sambil menopang tubuhnya dengan tangannya. Ibu bergegas memutar tubuhnya dan menghadap Rama. Dicabutnya perlahan selaput yang menyelimuti penis anak itu. Rama tampak tersentak.

ÔÇ£AduhhÔǪ Pelan-pelan BuÔǪ Masih ngilu banget,ÔÇØ keluh Rama. Kemaluannya sudah tak kelihatan lagi di video. Mungkin sudah menciut di balik pahanya yang berkulit ÔÇÿsawo terlalu matangÔÇÖ itu.

Ibu hanya diam dan tersenyum padanya. Dengan gerakan perlahan akhirnya selaput elastis itu terlepas dari penis Rama. Ibu langsung menjatuhkannya di bawah ranjang. Ketika Ibu menyuruh Rama untuk bersih-bersih ke kamar mandi, Rama malah menggeletakkan dirinya di atas ranjang di samping Ibu.

ÔÇ£Lho? Kok malah tidur?ÔÇØ protes Ibu sembari turun dari ranjang.

Mmmhh Capek banget Bu Rama ngantuk, jawab Rama dengan suara lemah.

Iya Bersih-bersih dulu sana! Abis itu baru tidur, kata Ibu sambil menggoyang-goyang betis Rama.

Dengan mata dan tubuh yang sudah layu, Rama pun turun dari tempat tidur. Ibu sudah tak ada lagi di layar disusul kamera yang akhirnya dimatikan.

Berakhir sudah tontonan yang membuat miris itu. Sudah lima video kunyalakan, namun aku tetap saja tidak mencapai klimaks. Kulihat penis tegangku yang masih kugenggam dengan tangan kanan. Lambat laun ukuran penis itu mulai surut seiring api nafsuku yang memadam. Tanganku terdiam saja di bawah sana seakan lupa untuk bergerak. Sepertinya aku tak menyadarinya. Aku dari tadi terus memperhatikan video sementara aku tak lagi fokus untuk bermasturbasi. Niat dan rasa geramku yang besar tadi sepertinya sudah sia-sia saja.

Perasaan apakah yang telah memblok nafsuku seperti ini? Apakah karena marah? Atau cemburu? Atau kecewa? Atau sedih? Atau perasaan bersalah? Sepertinya semua emosi itu memang bergabung jadi satu dan sukses membuatku gagal bermasturbasi dan mencapai klimaks. Kututup layar handycam itu dan kuletakkan begitu saja ke atas ranjang.

Aku berdiri dan memakai kembali celana dalam dan celanaku. Ketika aku melihat ranjang Ibu, aku terdiam seribu bahasa. Dadaku terasa sesak lagi, dan hatiku terasa seperti disayat-sayat. Masih hangat di kepalaku bagaimana tadi mereka begitu bersemangat menggoyang-goyangkan pinggul dan selangkangannya masing-masing, bagaimana Rama mendapatkan setiap orgasmenya, dan bagaimana Ibu meladeni setiap gerakan dan lenguhan Rama terhadapnya. Semua terjadi di atas ranjang ini. Di dalam setiap video hanya ada adegan mereka selama sekian menit. Tapi bukankah Rama menghabiskan waktunya cukup panjang di rumah ini bersama Ibu? Apa saja yang mereka lakukan selama berjam-jam di luar rekaman video itu? Bukankah aku tidak mengetahuinya? Dan apakah hanya ini saja video mereka? Apakah mungkin ada video yang lain yang tak kuketahui juga?

Aku kembali terduduk di lantai sambil bersandarkan tepian tempat tidur. Kuremas rambut dikepalaku dengan kedua tanganku. Pandanganku kosong, sayu dan tertunduk. Aku bahkan tak tahu perasaan apa yang sekarang sedang menggelayutiku. Hatiku sudah luluh lantak, hancur berkeping-keping. Harapan pun sudah sirna. Tak ada lagi yang bisa kulakukan. Semuanya sudah jelas terukir di handycam itu. Ibuku sudah dimiliki orang lain. Dan dia adalah sahabatku sendiri. Ramadhana Rizky.

Kini di dalam diriku hanya tinggal pikiran kalut yang tersisa. Di tengah kegalauan aku mencoba berpikir jauh ke pangkal kisah pelik yang terjadi. ÔÇÿSiapaÔÇÖ dan ÔÇÿkenapaÔÇÖ. Siapakah yang mengawali kejadian ini dan kenapa dia memilih untuk menjalaninya. Rama ataukah Ibu yang memulainya? Sepertinya kemungkinan Rama yang memulainya duluan sangatlah kecil. Rama bukanlah orang yang ÔÇÿberaniÔÇÖ.

Tapi menurut pemikiranku yang lain, siapapun yang memulainya, mereka berdua terlihat tidak ada keberatan satu sama lain. Tidak ada paksaan, tidak ada pemerkosaan. Semuanya berlangsung mulus. Aku selama ini mengkhawatirkan Ibu dekat dengan pria lain yang mungkin melamarnya. Sampai rasa egoku benar-benar meluap tak terbendung. Tapi nyatanya, Ibu tak perlu dilamar. Dia dengan santainya membagi kenikmatan tubuhnya secara cuma-cuma. Dia membaginya dengan Rama, sahabat baikku yang bahkan tak secuilpun hal dalam dirinya yang bisa diunggulkan.

Tapi, kenapa Ibu mau? Apa Ibu mencintai Rama melebihi diriku? Apakah ini alasan Ibu minum pil KB sejak lama? Apakah mereka sudah cukup lama punya hubungan seperti ini sementara aku tak pernah mengetahuinya? Siapa yang sepantasnya kubenci sekarang? Rama atau Ibuku sendiri?

Aku mendongak dan menutup mataku. Kuresapi setiap detik waktu kutarik nafasku dan menghembuskannya. Aku tak tahu lagi harus berbuat apa. Haruskah kubuang jauh-jauh rasa cintaku pada Ibu yang tak akan pernah berujung manis itu? Aku tahu aku tak akan pernah menjadi lebih dari seorang anak di mata Ibu. Aku tahu aku memang egois. Aku tahu aku memang sudah menjadi anak yang ÔÇÿmelencengÔÇÖ dan kurang ajar pada Ibuku sendiri.

Tapi Bu Apa harus kayak gini caranya? Apa harus kayak gini Bu? kataku dengan suara pelan dan bergetar. Air mata pun meleleh di wajahku menemani rasa sakit hatiku yang seakan tak berujung. Aku tenggelam dalam kehampaan.

ÔÇ£To! Ibu pulang nih! Bukain pintunya Nak…!ÔÇØ suara Ibu tiba-tiba terdengar lantang memanggil dari luar.

Seketika saja aku menghapus air mataku dan menyimpan handycam ke dalam tas kecil hitam. Kuletakkan kembali ke atas meja rias Ibuku. Aku segera ke depan untuk membuka pintu.

***

Bersambung…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*