Home » Cerita Seks Mama Anak » Ibuku Cintaku Dan Dukaku 14

Ibuku Cintaku Dan Dukaku 14

Cukup lama aku mendengarkannya bercerita. Di dalam ceritanya, Kak Dina ternyata punya latar belakang masalah yang cukup kompleks. Dari mulai dia yang tinggal di rumah Tantenya setelah orang tua dan adiknya meninggal, sampai di mana dia dipindahkan dari sekolah lamanya ke sekolah tempat aku menuntut ilmu sekarang ini.

Bagian yang paling menyita perhatianku adalah ketika Kak Dina dipindahkan dari sekolah lamanya. Ceritanya yang satu itu benar-benar mendebarkan dan membuat penisku mengeras. Bagaimana tidak? Ternyata di sekolah tempat dia mengajar sebelumnya dia pernah menjalin hubungan asmara dengan muridnya yang masih kelas 5 SD. Lebih tepatnya dia punya hubungan cabul dengan muridnya itu hingga dia dipindahkan dari sana.

Menurut penuturannya, Kak Dina yang saat itu belum genap setahun mengajar di sana tertarik pada seorang anak lelaki tampan yang akhirnya menjadi murid kesayangannya, sama sepertiku. Dia benar-benar terpesona pada anak itu sampai-sampai dia ingin sekali menyetubuhinya. Berdasarkan pengakuannya, Kak Dina mengalami ÔÇÿpenyimpanganÔÇÖ seksual seperti itu tak lama setelah pacarnya yang mengambil keperawanannya memutuskannya karena suatu masalah. Dia putus dengan pacarnya ketika dia masih kuliah dan umurnya saat itu sekitar 19 tahun.

Awal mula orientasi seksual itu muncul adalah ketika Kak Dina dititipi anak tetangga Tantenya yang masih berumur 9 tahun sebelum keluarga tetangganya itu memutuskan pindah dari sana beberapa hari setelahnya. Sebenarnya tetangganya itu biasanya menitipkan anak laki-lakinya yang berparas elok itu pada Tante Kak Dina. Tapi karena keluarga Tante Kak Dina saat itu tak ada di rumah karena sedang mengurus urusan yang penting, ditambah Kak Dina yang saat itu sedang libur kuliah dan dalam ÔÇÿtugasÔÇÖ menjaga rumah, jadilah anak itu ditinggalkan bersama dengan Kak Dina berdua di rumah itu.

Kak Dina tak pernah berdua dengan laki-laki seperti itu semenjak putus dari pacarnya. Tantenya memang punya dua anak, tapi kedua-duanya adalah perempuan. Jadi sewaktu ditinggal berdua dengan anak laki-laki yang masih polos seperti itu membuat Kak Dina bagaikan dibakar api gairah yang ÔÇÿbaruÔÇÖ. Dia tak bisa menjelaskan perasaan apa yang dirasakannya waktu itu dan kenapa dia bisa seperti itu. Tapi yang dia ingat ketika berdua dan bercengkrama dengan anak itu tubuhnya terasa bergejolak dan panas dingin, jauh melebihi yang dirasakannya ketika berhubungan seksual dengan pacarnya dulu.

Kak Dina begitu mengingat saat itu kejadiannya persis seperti keadaan kami sekarang ini. Waktu itu dia mengajak anak itu ke kamarnya yang berada di lantai dua dengan dalih untuk mengobrol. Anak yang tak tahu apa-apa itu pun mengiyakan ajakannya. Tak lama setelah mereka sudah sampai di kamar dan mengobrol sejenak, Kak Dina akhirnya tak mampu lagi menahan hasrat seksualnya yang sudah sampai di ubun-ubun. Tanpa diperintah, Kak Dina pun membuka seluruh pakaiannya di depan anak itu. Dan sebagai imbasnya, anak laki-laki yang sedang terperangah karena melihat tubuh bugil Kak Dina itu pun membiarkan Kak Dina membuka seluruh pakaiannya juga. Akhirnya mereka berdua telanjang bulat di atas ranjang.

Kak Dina benar-benar tak tahan. Baru saja dia menelanjangi anak itu, dia langsung menggoda anak itu untuk bersenggama dengannya. Hasilnya sudah bisa ditebak. Anak itu pun mau diajak bercinta setelah dia sempat merasa takut akan terasa sakit atau tidak. Dengan rayuan mautnya, akhirnya Kak Dina sukses memasukkan penis anak polos itu ke dalam vaginanya. Namun hanya beberapa detik penis anak itu bersarang di dalam vaginanya, Kak Dina sudah kejang-kejang dilanda orgasme yang hebat. Vaginanya mengeluarkan banyak cairan seperti denganku tadi dan anak itu pun menyusul beberapa detik kemudian karena tak tahan dengan jepitan vagina Kak Dina. Anak itu merasakan orgasme pertama seumur hidupnya dengan cara yang sangat nikmat tanpa mengeluarkan air mani sedikitpun.

Setelah itu anak itu terlihat sangat kelelahan dan mengantuk. Kemaluannya mengecil dengan cepat. Kak Dina pun merebahkan dirinya di sebelah anak itu dan mencoba merangsangnya kembali. Cukup lama juga dia merangsangnya hingga anak itu kembali ÔÇÿon fireÔÇÖ. Tapi Kak Dina setelah itu tidak mengajaknya bersenggama, melainkan masturbasi sambil menghisap penis anak itu dengan mulutnya. Hingga tak lama kemudian mereka berdua kembali orgasme. Itu merupakan saat-saat menakjubkan bagi Kak Dina di mana dia mendapatkan imajinasi dan fantasi barunya.

Sebelum anak itu pulang Kak Dina memberi pesan padanya agar tak menceritakan kejadian itu pada siapapun dan anak itu menyanggupinya dengan patuh. Kak Dina begitu senang mendengarnya dan dia menantikan hari demi hari selama liburnya jikalau anak itu dititipkan kembali kepadanya. Namun siapa sangka itu merupakan pertemuan terakhir antara mereka berdua, karena keluarga anak itu pindah ke kota lain beberapa hari kemudian.

Cukup lama setelah kejadian itu Kak Dina tidak merasakan kenikmatan bercinta. Dan bayangan-bayangan akan anak polos yang ditaklukkannya waktu itu selalu saja terngiang di benaknya. Setiap saat ia hanya bisa masturbasi sendiri di kamarnya sambil mengenang setiap detik dari peristiwa nikmat itu. Kapanpun Kak Dina melintas di jalan atau di manapun yang ada anak kecil polos seumur jagung yang kelihatan tampan seperti itu, Kak Dina selalu saja terangsang dan selalu ingin bermasturbasi. Dalam masturbasinya, Kak Dina bahkan sering membayangkan ada beberapa anak laki-laki dengan wajah rupawan nan polos, telanjang dengan penis tegak dan mengelilinginya yang juga sudah berbaring telanjang di atas ranjang. Dia membayangkan anak-anak itu mempermainkan seluruh tubuhnya hingga dia meraih orgasmenya. Sungguh khayalan yang teramat binal bagi seorang guru yang terpelajar.

Hingga tibalah saat di mana dia begitu bahagia. Kak Dina akhirnya menyelesaikan pendidikan gurunya di salah satu universitas negeri ternama dan kemudian berhasil pula menempuh program keguruannya. Seolah belum puas akan prestasinya itu, seleksi penerimaan CPNS pun berhasil dilaluinya dan Kak Dina akhirnya mengenyam cita-citanya yang diimpikannya dari dulu, yakni sebagai guru sekolah. Kak Dina langsung ditempatkan di sebuah sekolah SD negeri di kota yang jauh dari rumah Tantenya. Kak Dina dengan senang hati mengemban pekerjaan itu tanpa mengeluh sedikitpun.

Namun ternyata cita-citanya itu benar-benar tak sejalan dengan sosok dirinya yang sudah cukup lama ÔÇÿhausÔÇÖ akan keberadaan lawan jenis yang memikat hatinya. Waktu pertama kali mengajar di sekolah itu, perhatiannya langsung tertuju kepada seorang anak lelaki yang menurutnya cukup tampan. Kak Dina bahkan hampir tak bisa berkonsentrasi mengajar karena nafsu yang menguasainya saat itu. Pikiran-pikiran kotor akan anak itu terus berkecamuk di otaknya hingga membuatnya berkeringat hebat. Untunglah murid-muridnya saat itu tak menyadari keanehan yang terjadi pada dirinya.

Tanpa terasa hampir setahun berlalu masa mengajarnya di sekolah itu. Kak Dina sudah sukses menaklukkan hati anak itu dengan rayuan-rayuan mautnya. Anak itu tak pernah menyadari bahwa Kak Dina sebenarnya sedang mengejar pelampiasan nafsu birahinya semata. Namun anak itu sudah terlanjur tenggelam ke dalam kecantikan dan pesona yang dimiliki Kak Dina. Hingga terjadilah malapetaka yang membawa Kak Dina ÔÇÿterdamparÔÇÖ di sini.

Waktu itu hari sudah menjelang sore. Hari di mana jadwal terakhir dari ujian sekolah dilaksanakan. Para siswa dan siswi sudah pulang ke rumah mereka sejak dua jam yang lalu. Sekolah juga sudah terlihat lengang. Semua penghuni sekolah itu sudah sibuk dengan kehidupan mereka yang sebenarnya di luar ÔÇÿgerbang pendidikanÔÇÖ. Namun tidak bagi sepasang insan yang sedang dimabuk birahi itu. Di dalam sebuah kelas yang pintu dan jendelanya sudah tertutup rapat, seorang guru dan murid sedang berasyik-masyuk dalam nafsu. Mereka saling meraba tubuh lawannya dan berciuman sebagaimana intimnya sepasang kekasih. Padahal umur mereka berdua sangatlah terpaut jauh.

Ohh Ssshh Sayang Murid Ibu yang paling nakal Shhh Ahhh Cruuppss Cupp, desah Kak Dina sambil menciumi dan mengocok kemaluan murid kesayangannya itu.

Mmhh Bu Dina Enak Bu Mmm CuppssCrupp, balas sang murid yang begitu gugup meladeni ciumannya. Mereka berdua sedang memacu birahi dengan duduk berdampingan di atas meja guru.

Enak sayaangg? Shhh Pegang tetek Ibu sayangg Ohh Iya Gitu sayangg Cruuppss.. Crupp Diremes pelan-pelan Ohh Hmm Cuppss Cupp Tensi Kak Dina semakin meninggi. Dikocoknya penis anak itu dengan sangat telaten sambil tetap menciuminya.

Ehhmm Iya Bu Enak Ahh Cuppss Crupp Di samping berciuman, anak itu juga berkontribusi dengan meremas-remas payudara Kak Dina. Celana merahnya sudah melorot ke sepatunya, sementara tangannya menyelusup ke dalam kemeja Kak Dina yang tiga kancingnya sudah terbuka.

Kak Dina semakin tak sabar. Dia ingin mengentaskan rasa penasarannya yang sudah sekian lama dipendamnya. Kak Dina pun turun dari meja guru dan dengan sigap melepaskan celana muridnya yang masih menggantung di sepatunya. Disuruhnya anak itu untuk berbaring di atas meja, sementara Kak Dina sibuk menaikkan roknya untuk meraih celana dalamnya dan segera membukanya.

Namun sungguh sial bagi Kak Dina. Alih-alih ingin menuntaskan syahwat, yang terjadi kemudian malah seseorang di luar tiba-tiba saja membuka pintu kelas yang tak terkunci itu. Alangkah terkejutnya mereka sampai-sampai anak itu pun langsung turun dari atas meja dan berjongkok di samping Kak Dina untuk menyembunyikan rasa kalut dan malunya. Anak itu bahkan sesenggukan dan menangis beberapa detik kemudian karena begitu takut akan tatapan berang seorang wakil kepala sekolah yang melihat mereka berdua dalam keadaan busana yang begitu terbuka. Kak Dina juga tak menduga kalau ternyata Wakil Kepala Sekolah masih berada di lingkungan sekolah. Sebelum ÔÇÿbermainÔÇÖ dengan muridnya tadi dia hanya memeriksa ke seluruh penjuru kelas sampai ruang guru saja tanpa terpikir di benaknya bahwa Kepala Sekolah dan Wakil Kepala Sekolah punya ruangannya sendiri. Dia benar-benar sudah melakukan kekhilafan yang sangat besar. Tanpa banyak tanya, mereka berdua pun langsung diperintahkan untuk merapikan pakaian dan segera digelandang sang Wakil Kepala Sekolah itu ke kantor guru. Kak Dina panik tak karuan. Nafsunya sudah kandas sejak tadi. Sementara anak itu sepanjang jalan ke kantor guru hanya menangis dan menatap Kak Dina sesekali dengan wajah bingung.

Sesampainya di kantor guru yang memang sudah kosong, mereka disuruh mengikuti Wakil Kepala Sekolah itu masuk ke ruangannya, yang mana pintu masuknya ada di dalam kantor guru. Sesampainya di dalam ruangannya, Kak Dina dan anak itu diintrogasi habis-habisan oleh wanita berjilbab yang sudah berumur hampir kepala lima itu. Namanya adalah Bu Maryam. Wanita itu amat terkejut karena mengetahui Kak Dina punya fantasi seksual seperti itu. Dia benar-benar geram melihat seorang guru yang punya pikiran bejat terhadap muridnya sendiri.

ÔÇ£Mau dibawa kemana Negeri ini dengan guru seperti itu?ÔÇØ begitu katanya.

Anak itu tampak begitu menyesali perbuatannya waktu itu dan berjanji tak akan mengulanginya lagi. Dia tampak begitu menyudutkan Kak Dina yang secara fakta memang merupakan orang yang menggodanya untuk berbuat seperti itu. Kak Dina pun tak menampik tuduhan anak itu dan menerimanya mentah-mentah. Kak Dina hanya bisa menangis menyesali perbuatannya dan berharap Ibu Wakil Kepala Sekolah tidak melaporkan kejadian ini ke Polisi. Saat itu di kepala Kak Dina hanya membayangkan betapa dinginnya jeruji penjara dan betapa tak inginnya dia menjadi seorang Narapidana. Walaupun kejadiannya tidak ada paksaan, namun Kak Dina tetaplah menjadi orang yang diberatkan karena dia itu seorang guru yang seharusnya mengarahkan muridnya ke arah yang baik, bukan pada jurang asusila.

Bu Maryam akhirnya membiarkan anak itu pulang dan berkata untuk tidak mengatakan hal itu kepada siapapun termasuk orang tuanya. Dia juga menasehati anak itu agar tidak mengulangi kesalahan yang sama. Bahkan Bu Maryam sedikit mengancamnya dengan berkata bahwa jika anak itu mengatakannya pada siapapun apalagi mengulangi perbuatan itu, maka niscaya dirinya juga akan ikut dipenjara. Wajah sembab anak itu langsung memancarkan ketakutan dan begitu memperhatikan nasehat tersebut. Dia juga mengangguk tegas dan berjanji untuk tidak mengatakannya kepada siapapun, apalagi melakukannya lagi. Sepertinya kejadian ÔÇÿpenggrebekanÔÇÖ tadi begitu memberikan efek trauma baginya.

Sepeninggal anak itu, Kak Dina merengek sejadi-jadinya sambil menangis penuh harap agar Bu Maryam menyelamatkan statusnya, Bu! Tolong Bu Jangan laporkan saya ke Polisi Bu Tolong Bu. Saya janji nggak akan ulangi lagi Bu, saya janji Bu! Tolong Bu Kasih saya kesempatan

ÔÇ£Kamu itu sudah keterlaluan Dina! Kamu taruh di mana otakmu itu hah!? Kamu pikir kamu bisa jamin anak itu nggak melapor ke orang tuanya!? Terus apa kamu bisa jamin anak itu nggak bakal cerita ke teman-temannya!? Terus apa kamu bisa jamin anak itu nggak mengulangi kejadian tadi sama anak seusianya!? Pikir dong!ÔÇØ cecarnya emosional. Wanita itu benar-benar marah besar.

Maaf Bu Saya khilaf Bu Saya khilaf Huhuuhuu, Kak Dina menangkupkan tangan di wajahnya dan menangisi segala perbuatannya.

Kamu nggak perlu minta maaf Dina Nggak perlu! Kamu cuma perlu bersihin otak kamu yang kotor itu! Karena semua kesalahanmu berasal dari pikiran mesum kamu yang kelewatan itu! Ibu Guru kok pikirannya ngeres kayak gitu sama murid sendiri? Dina Dina, ketus wanita itu sembari menggeleng-geleng tak habis pikir melihat ulah Kak Dina.

ÔÇ£Kamu itu masih muda Dina. Masih cantik. Kamu juga pintar. Tapi kenapa kamu coreng kelebihan kamu itu dengan kelakuan yang busuk begitu?ÔÇØ kata Bu Maryam mencemoohnya. Sepertinya dia memang sudah kehabisan akal.

Padahal kamu itu guru yang paling kompeten di sini. Paling disiplin. Murid-murid suka sama cara mengajar kamu. Tapi kenapa sih Din? tandasnya lagi. Kak Dina semakin terisak tangis karena kalimat-kalimat itu begitu telak menghujam hatinya. Penyesalan yang begitu besar membuat Kak Dina tak tahu harus berkata apa lagi.

Cukup lama keadaan di situ lengang tanpa kata. Hanya isak tangis Kak Dina yang terdengar memenuhi ruangan. Bu Maryam pun berpikir cukup lama bagaimana cara terbaik untuk menutup kasus ini. Dia tak boleh mengambil langkah yang salah yang bisa membahayakan masa depan sekolah ini nantinya. Termasuk masa depan Kak Dina yang memang sangat-sangat disayangkan. Dengan menarik nafas dalam, akhirnya wanita itu menyampaikan solusinya.

ÔÇ£Saya punya jawaban atas masalah kamu ini. Tapi ini tergantung kamu bersedia apa nggak,ÔÇØ usulnya. Dengan wajah penuh air mata, Kak Dina pun mulai memperhatikan baik-baik apa yang akan dikatakan Bu Maryam.

ÔÇ£Kamu beruntung yang mergoki kamu tadi bukan orang lain. Kalau orang lain mungkin akan beda kelanjutannya,ÔÇØ katanya dengan wajah serius. Ditariknya lagi nafasnya dalam-dalam dan dihembuskannya sebelum mengucapkan kalimat-kalimat selanjutnya.

ÔÇ£Kebetulan ada SD Negeri di daerah perkampungan yang lagi butuh tenaga pengajar. Suratnya udah dilayangkan teman saya ke sekolah ini, tapi Pak Hendrik selaku Kepala Sekolah belum bisa putuskan siapa yang bakal dimutasi dan dia juga belum bikin rapat guru. Tapi kayaknya sekarang nggak perlu dipikirkan lagi, karena kamu yang bakal saya usulkan untuk dipindahkan. Kamu bersedia kan?ÔÇØ

ÔÇ£Iya Bu! Saya bersedia kok.ÔÇØ Kak Dina seakan mendapat angin segar akan kabar itu.

ÔÇ£Baguslah kalau kamu setuju. Masalah kelengkapan berkas sama administrasinya biar saya yang urus semua. Nanti saya bakal hubungi kamu mengenai apa-apa aja yang perlu disiapkan dan saya sendiri yang akan menjemput dokumen-dokumennya di rumah kamu. Hari ini adalah hari terakhirmu di sekolah ini. Karena kamu nggak mungkin ketemu sama anak itu lagi. Kamu ngerti kan?ÔÇØ katanya menjelaskan. Kak Dina pun mengangguk lemah dan menerima segala ketentuannya.

ÔÇ£Sebenarnya saya paling suka sama kamu Dina. Menurut saya kamu itu yang terbaik di sekolah ini. Tapi saya terpaksa ngelakuin ini karena ulah kamu sendiri,ÔÇØ ujarnya menyesal. Dia menatap Kak Dina dengan penuh iba.

ÔÇ£Iya Bu. Saya ngertiÔǪ Maafin saya karena udah menyia-nyiakan kepercayaan Ibu sama saya. Saya malah bersyukur karena Ibu mau bantu sayaÔǪ Terima kasih banyak Bu…,ÔÇØ hatur Kak Dina masih dengan sedikit isak tangisnya.

Hmm Ya sudah. Sekarang kamu bisa pulang. Renungi segala kesalahan yang kamu buat ya Dina Jangan sampai terulang lagi, pesan Bu Maryam.

Iya Bu Pasti. Sekali lagi terima kasih Bu, buat segalanya. Saya permisi dulu, Kak Dina memohon pamit sembari beranjak dari tempat duduknya.

Iya. Emm Dina! Satu hal lagi

ÔÇ£Iya Bu?ÔÇØ

ÔÇ£Saya nggak bisa pastiin anak itu bakal selamanya tutup mulut. Jadi kalau suatu saat nanti kasus ini tercium Polisi, saya nggak bisa lagi bantuin kamu. Dan saya harap kamu jangan menyalahkan saya. Kamu paham kan?ÔÇØ

Dengan anggukan lemah sambil menunduk lesu, Kak Dina pun pasrah menerimanya. ÔÇ£Iya Bu, saya paham.ÔÇØ

Dengan secercah harapan baru yang digenggamnya, Kak Dina pun meninggalkan sekolah itu. Sungguh besar akibat yang dia terima dari kelakuannya. Dia bahkan tak henti-hentinya menyalahkan dirinya sendiri. Dia benar-benar tak tahu harus berbuat apa terhadap nafsunya yang begitu dalam menenggelamkannya dari jalan bahteranya sebagai seorang Guru.

Beberapa hari kemudian Kak Dina terus dikejar kecemasan. Betapa takutnya ia jikalau anak itu benar-benar tidak bertindak sesuai harapannya. Bu Maryam sesekali datang ke kontrakannya untuk meminta kelengkapan berkas yang dibutuhkan terkait kepindahannya. Saat itu pula Kak Dina bertanya panjang lebar untuk memastikan bagaimana gerak-gerik maupun perkembangan anak itu.

Informasi yang diperoleh Kak Dina darinya sangat melegakan. Sudah hampir dua bulan dia meninggalkan sekolah itu. Tapi Bu Maryam tidak melihat adanya tanda-tanda anak itu menyebarkan apa yang sudah terjadi. Bahkan Bu Maryam sempat bertanya pada anak itu untuk memastikan keabsahannya. Dan hasilnya memang patut disyukuri.

ÔÇ£Kamu beruntung Dina. Anak itu nggak menceritakan kejadian itu sama siapapun. Saya udah tanya sama dia dan saya benar-benar yakin kalau dia memang berkata apa adanya. Kamu harusnya bersyukur karena anak yang kamu godain itu punya watak pendiam, jujur, dan bukan tipe orang yang suka menyimpan dendam,ÔÇØ kata Bu Maryam yang ketika itu sedang berkunjung ke rumah Kak Dina.

ÔÇ£Iya Bu…,ÔÇØ ucap Kak Dina pasif sambil tertunduk.

ÔÇ£Kamu tau? Anak itu bahkan tanya sama saya di mana kamu sekarang. Dia bilang sama saya kalau dia rindu liat kamu ngajar di sana lagi,ÔÇØ ungkap Bu Maryam.

Kak Dina yang mendengarnya pun langsung menitikkan air mata. Dia membayangkan betapa polosnya wajah muridnya yang satu itu yang begitu tulus menganggapnya sebagai guru terbaik sementara dirinya malah menyesatkannya. Kak Dina betul-betul merasa hina dan tak pantas menyandang gelar Guru.

Bu Maryam pun beranjak dari kursinya dan duduk di sebelah Kak Dina seraya mengusap-usap punggungnya untuk menenangkan tangisannya. Udahlah Din Jangan kamu pikirin lagi. Jadikan itu pelajaran buat kamu.

ÔÇ£Semua dokumen kepindahan kamu udah siap. Menurut informasi yang saya dapat, selambat-lambatnya tiga hari lagi kamu harus udah sampai di sana untuk konfirmasi dan mulai mengajar. Kampungnya jauh banget dari sini. Butuh waktu lebih dari enam jam buat sampai ke sana kalau naik bis. Persiapkan diri kamu. Udah hampir dua minggu lho, tahun ajaran baru dimulai. Jangan kamu kecewakan calon murid-murid kamu di sana,ÔÇØ sambung Bu Maryam panjang lebar. Kak Dina pun menegakkan kepalanya dan menghapus air mata penyesalannya.

Pada saat itu dia benar-benar memulai segalanya dari awal lagi. Menata dirinya yang baru dan mencoba membuat karakter yang baru. Dia memutuskan untuk menjadi seorang guru yang luar biasa tegas untuk menghilangkan masa lalu dan untuk meredam hasrat buruknya itu. Saking tegasnya sikapnya, murid-muridnya yang baru pun tak berkutik dan tak berani bertingkah di hadapannya. Dia menjalani kehidupan gurunya dengan sangat profesional.

Namun sejak awal dia mengajar di sekolah barunya, Kak Dina sudah merasa tak tenang. Lagi-lagi cobaan yang teramat besar datang melingkupi nurani dan birahinya. Ada seorang dari muridnya yang membuatnya begitu kagum dan berhasil mencuri hatinya. Prestasi dan kepribadian luar biasa yang ditunjukkan anak ini tak pernah dilihatnya sebelumnya. Anak yang sangat tampan ini benar-benar telah menarik keluar sosok keibuan sekaligus kewanitaan Kak Dina dalam waktu yang bersamaan. Anak ini sukses membuat Kak Dina luluh dan menjatuhkan derajatnya sendiri sebagai seorang Guru demi mengharapkan kasih sayangnya. Dia adalah aku, Tirto Abimanyu Jatmiko.

***

ÔÇ£Gitu ceritanya…,ÔÇØ pungkas Kak Dina menamatkan kisah singkatnya itu.

Glekk, aku hanya bisa menelan ludah sambil menatap wajahnya. Ternyata Kak Dina punya jalan hidup yang sangat rumit sekaligus menegangkan.

Sejenak aku terdiam dan berpikir. Apakah Kak Dina ingin menyetubuhiku juga? Mengapa waktu dia bersenggama dengan anak di awal cerita itu dia tidak hamil? Apakah Kak Dina memperlakukanku hanya sekedar ÔÇÿalatÔÇÖ untuk memuaskan nafsunya? Beragam pertanyaan muncul di otakku. Dan akhirnya kuputuskan untuk bertanya langsung padanya.

Kak, tegurku.

ÔÇ£Iya?ÔÇØ sahut Kak Dina dengan tersenyum.

Kak Dina nganggap Tito kayak murid sekolahnya Kakak yang lama itu ya? Cuma jadi pelampiasan Kakak aja? tanyaku sedikit sinis.

Astaga Tito kok mikirnya kayak gitu sih Dek! Kakak nggak pernah nganggap Tito serendah itu. memangnya menurut Tito Kakak bikin Tito kayak gitu ya!? Kak Dina menegakkan badannya. Dia kini duduk bersimpuh di atas tempat tidur. Sepertinya dia marah karena pertanyaanku.

Aku pun ikut bangkit dan duduk bersimpuh di hadapannya. Bukan gitu Kak Ngg Maksud Tito

ÔÇ£Kakak akui waktu Kakak pertama kali liat Tito, Kakak memang ngerasain kayak gitu. Tapi waktu Kakak kenal Tito lebih jauh lambat laun ada perasaan lain juga yang muncul. Kakak bukan cuma suka sama Tito, Kakak juga cinta dan sayang banget sama Tito. Apa itu salah!? Apa Kakak nggak boleh punya perasaan kayak gitu sama Tito!?ÔÇØ bantahnya. Kak Dina tampak sangat tersinggung.

ÔÇ£Iya Kak. Tito tauÔǪ Tito minta maaf Kak. Kakak jangan marah dong KakÔǪ Tito minta maaf…,ÔÇØ kataku sambil meremas-remas jari-jari tanganku sendiri karena tak sanggup menerima kemarahan Kak Dina yang pertama kalinya ini. Pertanyaanku tadi memang benar-benar bodoh.

Kakak sadar Dek kalo Kakak memang punya banyak kesalahan. Perbuatan Kakak memang lebih mirip Pelacur daripada Guru. Kakak ngaku kalo Kakak bukan cuma waktu dulu aja main sama anak-anak. Tapi waktu udah ngontrak di sini, Kakak juga pernah main lagi sama anak-anak bareng Kak Vira. Kakak nggak tahan Dek, Kakak nggak tahan! Kakak memang guru yang nggak berguna Kakak memang sampah Kak Dina akhirnya menangis dan menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.

Aku cukup terkejut mendengarkan penuturannya yang menyatakan bahwa dia juga pernah bermain dengan anak di bawah umur di rumah kontrakannya ini. Bahkan bersama-sama dengan Kak Vira. Ada sedikit rasa kecemburuan yang muncul dalam hatiku. Tapi tak sebesar rasa kasihanku melihat Kak Dina yang begitu menyesali perbuatannya seperti ini. Dia menjuluki dirinya sendiri sampah karena benar-benar putus asa akan dirinya yang tak kunjung mampu menahan kebiasaan buruknya.

ÔÇ£Waktu Tito bilang Tito mau jadi Adeknya Kakak tadi, Kakak senang banget Dek dengarnya. Kakak tau kalo Kakak jadi Kakaknya Tito, Kakak bisa miliki Tito sepenuhnya. Kakak bener-bener sayang banget sama Tito. Bukan cuma mau mainin Tito buat jadi pelampiasan. Tapi kalo sekarang Tito nggak mau jadi Adeknya Kakak lagi, Kakak nggak keberatan kok. Kakak rela. Kakak memang nggak pantes punya Adek yang ÔÇÿsempurnaÔÇÖ kayak Tito.ÔÇØ Kak Dina membuka kedua tangannya dari wajahnya yang tertunduk dan membiarkan air matanya jatuh menetes ke atas pahanya.

Untuk kedua kalinya aku melihat derai air mata Kak Dina. Aku benar-benar tak sanggup melihat wanita pujaanku ini menangis. Sama seperti ketika melihat Ibuku. Aku bingung harus berkata apa lagi. Setiap isakannya membuat hatiku seperti teriris-iris. Aku bisa merasakan kedukaan dan rasa bersalahnya yang begitu dalam. Mataku melirik ke arah lain untuk tak melihat tubuhnya lagi. Entah kenapa tiba-tiba aku jadi merasa bersalah dengan memperhatikan tubuhnya. Aku merasa bagaikan orang yang turut andil dalam merusak kehidupan Kak Dina.

Kak Jangan gitu dong Tito jadi sedih nih. Kakak boleh kok sayang sama Tito. Bagaimanapun keadaannya Kakak, Kak Dina tetap Kakaknya Tito. Kak Dina tetap Kakaknya Tito yang terbaik, ujarku dengan mata yang sudah mulai basah. Dengan penuh perasaan, aku mencoba untuk fokus melihat ke arah wajahnya.

Kak Dina pun perlahan-lahan menegakkan wajahnya kembali. Air matanya tampak semakin banyak meleleh, namun bibirnya menyunggingkan senyum lebar. Dia tampak begitu bahagia mendengar kata-kataku. Dielusnya pipiku sejenak dan kemudian dipeluknya tubuhku. Tangisnya semakin menjadi saat memelukku. Aku juga tak tahan dan mengeluarkan air mata pula.

ÔÇ£Kakak bahagia banget punya Adek kayak Tito. Kakak bakal kasih seluruh kasih sayang yang Kakak punya sama Tito,ÔÇØ ucap Kak Dina sambil mengelusi kepalaku di dalam pelukannya.

ÔÇ£Iya Kak. Tapi Kakak janji ya nggak bakal main sama anak-anak itu lagi. Apalagi dibawa ke sini,ÔÇØ keluhku sejenak di pelukannya sambil mengusap air mataku yang sempat menetes.

Kak Dina melepaskan pelukannya dan memegang kedua pipiku. Dia menatap wajahku dengan tersenyum manis dan mengangguk tegas. ÔÇ£Iya Dek, Kakak janji.ÔÇØ

Dia pun kembali memelukku lagi dan mengelusi kepalaku. Kami berdua merasa begitu lega karena sudah mengutarakan apa yang kami pikirkan. Kak Dina terus memelukku seperti tak ingin melepaskanku. Dia juga mengecupi kepala dan pipiku dengan lembut. Aku terbuai dengan perlakuannya itu.

Detik demi detik berlalu, dan ciumannya semakin merambat ke bawah. Kini Kak Dina mengecupi leherku. Ada perasaan geli namun nikmat menjalar ke sekujur tubuhku. Kemaluanku yang sempat ÔÇÿmerasa bersalahÔÇÖ, kini bangkit dan menegang kembali. Kak Dina yang ternyata sudah dikuasai nafsu sama sepertiku menarik tubuhku berbaring menimpa tubuh telanjangnya. Bisa kurasakan mulusnya kulitnya yang beradu dengan kulit telanjangku. Keadaan kami sudah seperti ketika terjatuh di kelas waktu itu, tapi kali ini tanpa sehelai benang pun yang membatasi tubuh kami.

Penisku menindih perut bagian bawahnya, tepat beberapa sentimeter di atas vaginanya. Kedua payudaranya tergencet dadaku, dan Kak Dina masih memelukku erat sambil menciumi bibirku. Aku hanya telungkup pasif. Kurasakan kemaluanku mengeluarkan cukup banyak cairan yang membasahi perut kami berdua.

Sesaat kemudian Kak Dina melepaskan ciumannya dan menjauhkan wajahku dari wajahnya. Diumbarnya raut wajah nakalnya dan berkata, ÔÇ£Kakak janji nggak bakalan nakal lagi sama anak-anak lain. Tapi Tito mau nggak, jadi penggantinya?ÔÇØ

ÔÇ£MmÔǪmaksud Kakak? Kakak ÔÇÿmainÔÇÖ sama Tito?ÔÇØ tanyaku dengan wajah yang sudah terasa sangat panas.

Iya sayang Tito mau kan Dek?

IIya Kak. Tito mau kok, jawabku gugup.

Kak Dina tersenyum dan menciumku lagi. Tapi sekejap kemudian dia menyudahi ciumannya dan menyuruhku bangkit dari tubuhnya dan duduk di sampingnya. Dia berkata dengan suara yang hampir berbisik, Sekarang giliran Tito dulu yang bikin Kakak enak ya

ÔÇ£Sini tangannya sayang, pegang memek Kakak kayak tadi.ÔÇØ Dia mengarahkan tangan kiriku untuk memegang organ intimnya. Kulakukan sesuai arahannya walau masih saja aku gugup melakukannya.

ÔÇ£Nah, Tito rebahan aja sayang. Nyamping ke arah Kakak,ÔÇØ bimbingnya. Aku pun berbaring menyamping.

ÔÇ£Siniin mulutnya sayang, hisap tetek Kakak sambil mainin memek Kakak kayak tadi.ÔÇØ Diarahkannya mulutku untuk menghisap puting payudara kirinya yang sudah menegang. Tanpa banyak tanya kulakukan segala perintahnya. Kucaplok daging keras kecoklatan itu dengan rakus dan menghisapnya.

Ohhh! Iya sayangg Gituhh Ahh Mainin memek Kakak sekalian sayangg Aww aahh! Kak Dina langsung memekik dengan serangan brutalku. Jariku langsung menggerayangi vaginanya persis seperti tadi. Buah dadanya kusedot-sedot sepuasku.

Aaahh Enak sayang! Shhh Terus! Ohhh Akkhh Shhh Mmhh Kak Dina menggeliat-geliat menanggung kenikmatannya. Sementara aku mengimprovisasi hisapan mulutku dengan bergantian menghisap puting payudara kiri dan kanannya.

Ohh.. Iyaa sayaangg! Pinter! Terus sayaangg Hisap ganti-gantian kayak gituhh Oohh Kak Dina mengusap-usap kepalaku dengan tangan kirinya sementara tangan kanannya meremas-remas sprei tempat tidur. Matanya hampir tertutup ketika melirikku yang sedang menghisap dadanya.

Aku mencoba berimprovisasi lagi. Kucoba mempermainkan vaginanya semakin kasar. Kugesek-gesek dengan cukup kencang dan kutekan-tekan seluruh bagian luar alat kelaminnya itu. Kak Dina tampak semakin gelisah. Kedua tungkai dan kakinya bergerak kesana-kemari. Pantatnya bergeser-geser hingga tanganku kadang-kadang hampir terlepas. Tapi dengan sigap kukejar terus vaginanya dengan tanganku.

Shhh Sayangg Ohhh Enak banget Dek Kakak udah mau keluar sayang Kakak mau keluar sayaangg! Ahhh Hoohhh Terus sayangg! Wajah Kak Dina merah padam. Lirikan matanya padaku terlihat kosong. Pantatnya sudah mulai menghentak-hentak. Kak Dina sudah bersiap-siap ingin memuntahkan orgasmenya.

Engghh Sayaangg! Kakak Ohhh Kakak keluaarr! Ohhh yaaahh! Enak Deekk! Ahhh Ahhh Ahhh Aaaahhh! tubuh Kak Dina menghentak-hentak dan merapatkan kedua pahanya menjepit tangan kiriku. Aku menekankan jari tanganku di vaginanya, mendiamkannya di sana ketika Kak Dina masih dilanda orgasme. Kak Dina meremas buah dada kanannya sendiri untuk melengkapi kenikmatannya.

Mata Kak Dina setengah tertutup menatap kosong ke langit-langit kamar. Mulutnya sedikit terbuka dan bibirnya bergetar seperti sedang kedinginan. Nafasnya ngos-ngosan merambah klimaksnya hingga ke tahap akhir. Aku menyaksikan semuanya sambil masih menghisap-hisap puting buah dadanya yang sebelah kiri.

Sesaat kemudian Kak Dina tergolek lemas. Matanya tertutup seperti tertidur, namun nafasnya masih tersengal-sengal disertai keringat yang lebih banyak dari permainan awal tadi. Tangan kirinya kembali mengusap-usap rambutku dengan lembut. Aku yang mengiranya sudah merasa baikan, kembali menggerakkan jari-jari tanganku di bawah sana dan menyedot puting payudaranya. Tapi Kak Dina malah menggelinjang dan melepaskan tanganku dari vaginanya dan memaksaku menjauhkan mulutku dari putingnya.

ÔÇ£HihiÔǪ Udah sayang! Jangan dihisap-hisap lagi! Ngilu! Kakak udah puas kok…,ÔÇØ ujar Kak Dina sambil menggeliat. Aku tersenyum saja melihatnya seperti kehabisan tenaga.

Kulihat tanganku yang basah. Kali ini tangan kirikulah yang dipenuhi cairan vaginanya. Langsung kuendus-endus cairan kenikmatan berbau tajam itu sambil disaksikan oleh Kak Dina dengan pandangan lemah. Kucoba sekali lagi menikmati cairan itu dengan menjilatinya. Rasa aneh nan hambar kembali kurasakan. Dia tertawa geli melihat tingkahku.

Tak lama kemudian Kak Dina kembali mengelap keringatnya dengan tanktop-nya. Lalu dia bangkit dan memposisikan dirinya persis seperti diriku tadi. Didorongnya tubuhku untuk telentang. Dia berbaring menyamping ke arahku dan kemudian menggenggam batang penisku yang dari tadi sudah tegang mengeras.

Kali ini giliran Kakak yang bikin Tito puas, ucap Kak Dina genit. Kak Dina langsung mengocok penisku dengan tempo sedang.

Ahh Kak Enak, lenguhku singkat. Kak Dina langsung membungkam mulutku dengan ciumannya.

Cruupps Cuppss Mmhh Cupp Bibir kami beradu dengan liar.

Ehmm Mmhh Ngghh, gumamku sambil membalas ciumannya.

Cruppss Shhh Enak sayang? tanya Kak Dina ketika sejenak melepaskan ciumannya.

Ahh Enak banget Kak Ekkhh, jawabku singkat. Tangan kiriku kemudian iseng mengenggam dan meremas-remas buah dada kanannya. Kak Dina cukup kaget dengan serangan tiba-tibaku itu. Mungkin dia merasa dadanya agak dingin terkena sedikit cairan kewanitaannya yang masih tersisa di tanganku itu.

Aww! Ihh Tito nakal ya Rasain nih! Umhh Cruupp Crupps Kak Dina membalasnya dengan mencium bibirku semakin panas. Kocokan tangannya di penisku juga dipercepatnya.

Emhh Umhhh Egghh Ummhh Diperlakukan ganas seperti itu membuatku langsung terombang-ambing. Syahwatku langsung memuncak. Pinggulku kalang-kabut menahan terjangan tangannya yang naik turun begitu cepat di penisku.

Ahhh Ahhh Kak! jeritku. Mulutku kembali bebas karena Kak Dina kemudian melepaskan ciumannya. Anehnya dia memindahkan kepalanya tepat ke atas perutku sampai-sampai remasanku pada buah dadanya lepas.

Sepertinya dia tahu kalau aku sebentar lagi orgasme, dan dia ingin seluruh air maniku menyemprot seluruh wajahnya seperti yang dilakukan Ibu ketika membantuku onani. Membayangkan hal vulgar seperti itu membuatku tak tahan lagi. Tubuhku pun bergetar hebat dibarengi lenguhan penghabisanku, Aahhh Kak Dinaaa!

Croott Croott Crooottt Air maniku pun keluar. Dan kurasa tepat menyembur di wajah Kak Dina. Pinggulku mengejat-ngejat mengeluarkan seluruh amunisi yang kupunya.

Ohhh Teruss Dek! Semprot muka Kakak! Ahh Uhhh Ahh Yess, seru Kak Dina di perutku. Mungkin wajahnya sekarang sudah seperti wajah Ibu yang kubuat belepotan waktu itu.

Cukup banyak cairan yang kukeluarkan sampai tubuhku lunglai. Kak Dina masih menggenggam dan mengocok penisku perlahan. Sesekali dijilatnya ujung kepala penisku seolah belum puas hingga ke tetes yang terakhir. Setelah badai orgasmeku berlalu, kepala Kak Dina bangkit dari atas perutku dan duduk bersimpuh di sampingku sambil menatapku dengan tatapan nakal. Seperti yang sudah kuduga, wajahnya terkena cairanku. Tapi cipratannya tampak hanya sedikit.

Hmm Enak banget Dek, ucap Kak Dina sambil menjilati bibirnya sendiri.

ÔÇ£Lho? Jadi maninya Tito barusan Kakak telan lagi?ÔÇØ aku terperangah dalam keadaan nafas yang belum teratur. Kak Dina mengangguk sambil tersenyum. Beberapa cipratannya yang lain dicoleknya dengan jarinya, dan dimasukkannya ke mulutnya seperti sedang mengemut es krim. Kak Dina benar-benar liar.

Aku tak menyangka Ibu dan Kak Dina yang menjadi pujaanku selama ini ternyata punya watak mesum seperti ini dibalik kelembutan sifat dan wajahnya. Selama ini aku hanya mengira kalau hanya laki-lakilah yang punya insting seksual tinggi, sementara semua wanita kupikir hanya sebagai ÔÇÿpenerimaÔÇÖ. Hal itu kudapat dari tontonan TV yang banyak memberitakan kejadian pemerkosaan terhadap kaum wanita. Tapi nyatanya wanita juga punya insting yang sama, bahkan kurasa akan melebihi perkiraanku.

ÔÇ£Kalo Ibu sama Kak Dina bisa genit banget kayak gini, gimana Bu Aini ya?ÔÇØ pikirku. Penisku sontak mengeras lagi perlahan-lahan. Aku teringat tingkah Bu Aini yang akhir-akhir ini juga mulai menjurus seperti mereka berdua.

ÔÇ£Lho? Tito? Kok burungnya tegang lagi sayang?ÔÇØ kali ini giliran Kak Dina yang terperangah. Entah kenapa aku memang tak bisa mengontrol syahwatku jika memikirkan mereka bertiga. Ditambah Kak Dina yang sekarang masih telanjang di depan mataku membuat nafsuku urung meredup.

Ngg Nggak tau Kak, ujarku sekenanya sambil menutupi kemaluanku.

Hihi Udah Dek, udah Jangan diterusin lagi. Masa nggak puas-puas. Ntar nggak selesai-selesai lagi. Hehe Kakak aja udah lemes kayak gini, candanya sambil menyeka tetesan keringatku yang sempat keluar. Aku hanya tertawa malu-malu.

Sekarang Tito tutup matanya sayang, perintah Kak Dina kemudian.

ÔÇ£Tutup mata Kak? Buat apa?ÔÇØ tanyaku ingin tahu.

ÔÇ£Bukan apa-apa sih. Pokoknya tutup aja dan jangan ngintip ya! Kakak marahin lho kalo ketahuan ngintip!ÔÇØ suruhnya lagi. Aku pun menurutinya. Kututup mataku sambil memalingkan wajahku ke arah lain.

Sesaat kemudian ranjang bergerak-gerak dan kurasakan Kak Dina turun dari tempat tidur ini. Kemudian terdengar seperti suara ÔÇÿgrasak-grusukÔÇÖ sebentar, suara lemari dibuka tutup, dan suara resleting yang ditarik. Setelah itu Kak Dina menyuruhku membuka mataku. Saat aku membuka mata kulihat Kak Dina sudah berdiri di dekatku tepat di samping ranjang. Kak Dina rupanya sudah memakai pakaian gurunya yang tadi.

ÔÇ£Lho? Kakak mau kemana?ÔÇØ tanyaku.

ÔÇ£Tuh liat!ÔÇØ katanya sambil menunjuk jam dinding. Jam ternyata sudah hampir menunjukkan pukul 03.30 sore.

ÔÇ£Jam setengah empat Kak. Kenapa Kak?ÔÇØ

ÔÇ£Kan Tito mesti pulang sayang. Ntar Ibu jadi kepikiran lho nungguin Tito nggak pulang-pulang,ÔÇØ kata Kak Dina mengingatkan.

Oh iya Kak! Hehe, ucapku sambil tertawa. Aku pun bangkit dan duduk di tepi ranjang.

Hihi Sampe lupa waktu nih Adeknya Kakak kalo udah main-main sama Kakaknya, sindir Kak Dina dengan senum nakal.

Ya udah, sekarang Tito tunggu di sini ya Biar Kakak ambilin baju sama celananya yang tadi, ujarnya berlalu meninggalkanku.

Tak lama berselang dia sudah kembali lagi dengan seragam sekolahku tadi. ÔÇ£Sini Dek, biar Kakak pakaikan baju sama celananya.ÔÇØ

Aku kemudian berdiri di hadapannya dan bersiap memakai celana dalamku yang sudah dipegangnya. Dalam keadaan ini aku malu juga dibuatnya. Selain aku merasa seperti anak kecil yang belum bisa apa-apa, entah kenapa aku cukup malu ketika dia meregangkan celana dalamku itu untuk dimasukkan ke kaki-kakiku. Tapi segera kubuang perasaan itu karena aku dan Kak Dina sudah tak punya ÔÇÿbatasanÔÇÖ lagi sekarang. Tak ada gunanya lagi untuk merasa malu.

Ihh Ini burungnya kok nakal banget sih! Tegang terus dari tadi! protes Kak Dina sambil menowel batang penisku.

Hehe Nggak tau Kak. Tito kok dari tadi tegang terus ya? jawabku asal.

Hehe Ya udah. Cepetan pake celana dalemnya, suruhnya. Aku pun mengangkat kakiku satu persatu dan diloloskannya celana dalamku itu hingga akhirnya menutupi selangkanganku. Berikutnya disusulnya dengan memakaikan celana dan bajuku.

Selama proses itu Kak Dina sesekali tersenyum manis padaku dan kubalas dengan senyum malu-malu. Ketika dia mengancingkan kancing-kancing kemejaku, aku teringat beberapa hal yang ingin kutanyakan padanya sejak tadi.

ÔÇ£Kak, Tito mau nanya nih.ÔÇØ

ÔÇ£Tanya apa Dek?ÔÇØ sahutnya yang akhirnya selesai mengancingkan bajuku.

Kakak waktu main sama anak yang dititipin ke rumah Tantenya Kakak itu kok Kakak nggak hamil? Tadi Kakak cerita kalo Kakak senggama sama dia kan? tanyaku terbata-bata.

ÔÇ£Oh, anak itu belum bisa keluarin air mani sama sperma kayak Tito sayang. Jadi belum bisa bikin Kakak hamil.ÔÇØ

ÔÇ£Oh, gitu ya Kak? Sperma itu apaan sih Kak? Emang Tito pernah ngeluarin sperma ya?ÔÇØ

Hihihi Sini deh, duduk dulu, Kak Dina mengajakku untuk duduk sejenak di tepi ranjang. Sepertinya ada banyak hal yang ingin dijelaskannya padaku.

Emm Gini sayang Yang Tito tanyain ini sebenarnya pelajaran Biologinya anak SMP. Tapi biar Kakak jelasin secara singkat aja ya, katanya menjelaskan. Aku pun mengangguk.

ÔÇ£Sperma itu keluar bareng sama air mani. Jadi di dalam air maninya Tito yang keluar tadi, itu udah tercampur sama zat sperma yang bisa bikin perempuan hamil. Sampe sini ngerti?ÔÇØ

Ooo Gitu ya Kak Iya Kak, ngerti. Aku mengangguk paham.

ÔÇ£Nah, jadi kalo air mani yang mengandung sperma itu masuk ke dalam rahim perempuan lewat proses senggama atau bersetubuh, si perempuan itu bakalan hamil.ÔÇØ

Aku terkejut dengan penjelasannya itu. ÔÇ£Lho, Kak? Tadi kan Kakak telan spermanya Tito Kak? Gimana tuh!? Kakak bakal hamil dong!ÔÇØ

Hahaha Kalo masuk ke perut sih nggak bakalan hamil sayang. Hihi, Kak Dina tertawa melihat reaksiku. Sementara aku malah jadi bingung dibuatnya.

ÔÇ£Lho? Kakak tadi bilang kalo spermanya masuk ke dalam rahim perempuan bisa bikin hamil kan?ÔÇØ

Hihi Gini lho Dek Rahim perempuan sama perut atau lambung itu beda. Rahim itu organ tubuh yang tugasnya bikin anak bayi. Sementara lambung atau perut itu tugasnya mencerna makanan, paparnya sambil tersenyum geli.

Ooo Jadi perut sama rahim itu beda ya Kak. Tito pikir perut itu rahim. Hehe Aku menggaruk-garuk kepalaku karena malu dengan kepolosanku. Kak Dina pun memeluk bahuku dan mengacak-acak rambutku sambil tertawa.

Kemudian Kak Dina berkata lembut dan mesra di telingaku, Sayang Nanti kalo ada kesempatan, kita ngentot yuk

Jantungku tiba-tiba berdetak kencang dibuatnya, dan darah di wajahku berdesir hebat. Aku menelan ludah dan menoleh ke arah wajahnya yang sedang tersenyum menggoda. Selangkangan celanaku terasa sesak karena kemaluanku yang mencuat di dalam sana. Tapi aku segera teringat hal tadi.

ÔÇ£Tapi Kak, nanti kan Kakak bisa hamil? Lagian Adek sama Kakak kan nggak boleh ngelakuin itu Kak?ÔÇØ

ÔÇ£Lho? Emang kenapa? Nggak apa-apa kok. Tito sayang sama Kakak kan?ÔÇØ tanyanya.

ÔÇ£Iya Kak,ÔÇØ jawabku mantap.

Nah, Kakak juga sayang banget sama Tito. Berarti kita kan suka sama suka sayang? Kita ngelakuin itu kan enggak ada paksaan Dek Jadi bukan pemerkosaan namanya. Kakak nggak perkosa Tito, Tito juga nggak perkosa Kakak. Ya kan?

Hehe Iya Kak, kataku cengengesan. Yang dikatakan Kak Dina memang benar adanya.

Lalu Kak Dina kembali berkata mesra, Tapi kalo Tito mau perkosa Kakak boleh kok sayang

ÔÇ£Hah!?ÔÇØ mulutku ternganga dibuatnya.

Hihihi Kok sampe melongo gitu Dek? Pengen ya perkosa Kakak?

Eh, ngg Hehe Ah, Kakak. Aneh-aneh aja, ujarku tergagap mencoba berpura-pura santai.

ÔÇ£Tapi kan Kakak bisa hamil Kak,ÔÇØ sambungku lagi.

ÔÇ£Nggak kok sayang. Kakak nggak bakalan hamil. Kakak kan minum pil KB.ÔÇØ

ÔÇ£Hah? Pil KB? Apaan tuh Kak?ÔÇØ tanyaku lagi yang kembali bingung.

ÔÇ£Pil KB itu pil untuk mencegah kehamilan sayang,ÔÇØ bebernya singkat.

ÔÇ£Terus kalo minum pil itu perempuan nggak bakal hamil ya Kak?ÔÇØ tanyaku memastikan.

ÔÇ£Iya sayang. Makanya waktu Kakak beberapa kali main sama pacar Kakak dulu Kakak nggak hamil,ÔÇØ pungkasnya.

ÔÇ£OooÔǪÔÇØ Aku pun mengerti. Mendengar kata-kata ‘pacar’ dari mulut Kak Dina membuatku sedikit cemburu juga. Tapi aku jadi teringat ucapan Kak Dina tadi yang mengatakan dia juga pernah membawa anak-anak ke sini.

ÔÇ£Kalo Tito boleh tau, Kakak berapa kali sih ngajakin anak-anak lain ke sini?ÔÇØ tanyaku dengan wajah serius.

Hehe Kok nanyain itu sayang? Kenapa? Cemburu ya? kata Kak Dina menggodaku. Tapi wajahku terus menampilkan keseriusan yang perlahan-lahan mengusir raut canda dari wajahnya.

Kak Dina kemudian memeluk bahuku semakin erat dan mengusap-usapnya untuk menghilangkan kegelisahanku. Tito jangan cemberut dong sayang Iya deh, Kakak ngaku salah. Tapi Kakak cuma sekali kok ngelakuin itu. Waktu itu yang bawa anak itu ke sini Kak Vira. Kakak juga nggak tau dia bawa anak itu dari mana. Anaknya udah SMP kelas 1 Dek, tapi polos banget. Kakak juga nggak senggama kok sama dia. Cuma main-mainin dia aja, hihihi Yang main beneran sama dia tuh Kak Vira. Kak Vira ngentotin dia hampir setengah jam non stop lho Dek! Anak itu sampe keluar lima kali lho dibikin kak Vira. Sampe lemes badannya! Abis itu dia minta pulang Dek karena nggak betah sama kelakuan Kak Vira. Hihihi Memang bener kata Tito, Kak Vira itu mengerikan Dek. Tega amat dia ngentotin anak yang nggak punya pengalaman sekasar itu.

Aku tercenung mendengarkan cerita Kak Dina. Ada kelegaan di hatiku, dan ada pula semacam perasaan lain yang membuatku berdebar. ÔÇ£Keluar maksud Kakak ÔÇÿkencing enakÔÇÖ itu kan Kak?ÔÇØ

ÔÇ£HeheÔǪ Istilah Tito ada-ada aja deh. Iya, yang ÔÇÿkencing enakÔÇÖ itu,ÔÇØ jawabnya maklum.

Ngg Kak Vira juga suka main sama anak-anak Kak?

Nggak tau sih Ntar kapan-kapan Tito tanya aja sendiri sama Kak Vira. Hehe, guraunya. Aku tersenyum kecut.

ÔÇ£Terus Kak Vira juga pake pil KB Kak?ÔÇØ

Ya iyalah Adekku yang ganteng Masa gara-gara bersenang-senang sebentar jadi hamil sih, ucap Kak Dina sambil menarik pelan hidungku.

Pikiranku membayangkan betapa asyiknya bisa berhubungan seks sepuas itu tanpa takut hamil. Kenapa aku baru tahu ya? Aku tak pernah melihatnya di TV ataupun bertanya pada Ibu sekalipun. Berarti aku selama ini masih buta informasi soal seks.

Hehe Enak ya Kak, kalo nggak hamil gitu. Bisa bebas dong ya? ujarku sambil cengengesan.

Hehe Iya, jawabnya singkat.

Emm Kak! Boleh nanya lagi nggak?

Ya boleh dong Dek Tanya aja lagi. Mau nanya apa lagi nih? Kak Dina mempersilakanku bertanya sembari melirik ke arah jam dinding. Mungkin dia ingin memastikan kalau kami memang masih punya waktu.

Aku pun berpikir-pikir sebentar untuk memilah-milah kata. Ngg Kalo orang melahirkan itu lubang pantatnya nggak sobek kak?

Hah!? Pantatnya? Hahahaha, Kak Dina tertawa terpingkal-pingkal mendengar pertanyaanku. Aku cuma nyengir kuda karena aku tahu aku pasti telah mengucapkan kata-kata konyol yang lain.

Hahaha Bukan Dek Haha Kalo orang melahirkan itu bukan lewat belakang Dek, tapi lewat depan, ujar Kak Dina menjelaskan masih dengan tawanya.

Kalo lewat belakang, bayinya kena tai dong! Hahaha Tito ada-ada aja deh Hihi Bikin Kakak ketawa sampe mules, tandasnya lagi.

Ah Kakak, jangan ketawa mulu dong Tito kan memang nggak tau, kataku bersungut-sungut.

ÔÇ£HeheÔǪ Iya iya. Ya udah, Kakak serius deh. Biar lebih jelasnya Kakak bikin permisalan aja yaÔǪ Kayaknya Tito belum bener-bener ngerti…,ÔÇØ ucapnya yang kubalas dengan anggukan pelan.

Kak Dina berpikir sekejap. Jadi gini Pada suatu hari Tito datang ke rumah Kakak, terus Tito masuk ke kamar Kakak. Eh, nggak taunya Kakak lagi telanjang di tempat tidur. Terus burungnya Tito tegang deh liat Kakak telanjang. Abis itu Kakak buka deh pakaiannya Tito sampe telanjang kayak Kakak juga. Terus Tito Kakak ajak ngentot deh Abis itu Tito tidurin Kakak sambil masukin burungnya Tito yang udah tegang ke memek Kakak, sampe air maninya Tito keluar di dalam memeknya Kakak. Nah, air maninya Tito itu masuk deh ke rahim Kakak. Karena jalan masuk sperma ke rahim itu ya cuma dari memeknya Kakak Dek. Nah, terus kalo air maninya Tito yang mengandung sperma itu dibiarin di dalam rahim Kakak, akan terbentuk bayi dan Kakak pun hamil deh sampe sembilan bulan. Terus kalo udah genap sembilan bulan, Kakak lahirin deh bayinya lewat memek Kakak juga. Gitu Udah paham?

Setelah penjelasan panjang lebarnya itu, aku kini memang sudah paham betul masalah itu. Tapi kenapa dia harus mempermisalkan aku dan dirinya? Kak Dina memang suka sekali menggodaku hingga aku hanya bisa meneguk ludahku dan kemaluanku jadi tersiksa begini. Iya Kak, Tito paham

Hihi Akhirnya paham juga, candanya.

Kak

ÔÇ£Hmm? Apa sayang? Mau tanya apa lagi?ÔÇØ

Kita ngen ehh, senggamanya sekarang aja yuk Kak, ucapku terbata-bata. Saking bernafsunya, aku sampai berani mengajaknya bercinta.

Hihi Tito masih malu ya bilangnya Emm Kakak memang mau banget sayang. Tapi Kakak nggak bisa.

ÔÇ£Lho, kenapa Kak?ÔÇØ

Kak Dina kemudian tersenyum dan mengelus pipiku. Sekarang Kakak mau tanya Siapa perempuan yang paling Tito suka di dunia?

Ngg Ibu Kak, ucapku landai.

ÔÇ£Nah, Tito kan masih perjaka sayangÔǪ Belum pernah senggama sama perempuan manapun. Jadi Kakak pengen Tito ngelakuinnya pertama kali sama orang yang Tito paling suka, yaitu Ibu…,ÔÇØ anjurnya.

ÔÇ£Lho? Gimana caranya Kak? Tito mana mungkin gitu-gituan sama Ibu. Dia kan Ibunya Tito sendiri Kak. Lagian Ibu juga nggak mungkin mau… Bisa-bisa Tito diusir dari rumah kalo Tito ngajakin Ibu begituan. Belum lagi Ibu nggak pernah minum pil KBÔǪ Bisa hamil dia ntarÔǪ Masa TitoÔǪÔÇØ Tiba-tiba aku terdiam. Ocehanku sepertinya mengarahkanku pada hal lain. Aku teringat sesuatu.

ÔÇ£Kenapa Dek, kok diam?ÔÇØ

Emm Kak! Pil KB itu diminum setiap hari ya? tanyaku penuh selidik.

Ngg Iya sayang Kenapa?

Tito bisa liat pil KB Kakak nggak? tanyaku lagi dengan wajah serius.

ÔÇ£Lho? Buat apa Dek?ÔÇØ

Nggak apa-apa Pengen liat aja, jawabku mendesak. Kak Dina pun beranjak berdiri dan membuka lemari pakaiannya. Dia mengambil satu strip pil dan menyerahkannya padaku.

Ternyata dugaanku tak meleset. Aku benar-benar familiar dengan pil ini. Ya! Ini memang pil yang selalu diminum Ibu setiap malam. Aku hafal betul jenis strip seperti ini. Bahkan warna pil dan warna stripnya sama dengan yang dimiliki Ibu.

ÔÇ£Kenapa sayang?ÔÇØ tanya Kak Dina seraya mengelus rambutku.

ÔÇ£Kak, pil KB itu buat mencegah kehamilan aja? Nggak ada khasiatnya yang lain?ÔÇØ tanyaku penasaran.

Hehe Ya iyalah sayang. Fungsinya ya cuma buat mencegah kehamilan aja. Tapi katanya sih kalo jenis pil KB hormon campuran kayak gini bisa bikin kulit mulus dan cantik. Tapi itu tergantung orangnya juga kok.

Aku terdiam dan berteriak dalam hati, ÔÇ£Nggak salah lagi! Yang diminum Ibu setiap hari itu memang pil KB!ÔÇØ

Kenapa sih Dek? Dari tadi kayak orang bloon gitu. Bengong terus, ejeknya.

Kak, Ibu kok minum pil KB juga ya? kataku bingung.

ÔÇ£Hah!? Ibu minum pil KB juga!? Tito tau dari mana Dek?ÔÇØ Kak Dina tampak sangat terkejut.

ÔÇ£Tiap malam Tito selalu liat Ibu minum pil kayak gini Kak. Katanya sih obat bikin cantik. Ya Tito percaya aja. Sekarang Tito baru tau kalo yang diminumnya itu pil KB Kak,ÔÇØ paparku datar.

Ibu minum ini tiap malam sayang? Buat apa? Dia kan udah lama Omongan kak Dina yang landai itu terputus. Dia tampak berpikir. Kepalanya sedikit mendongak dan matanya melirik kesana-kemari seperti sedang memikirkan persoalan sulit. Tapi kemudian senyum nakal terpancar dari wajahnya dan menoleh ke arahku.

Ngg Dek Jangan-jangan Ibu lagi siap-siap kalo sewaktu-waktu dia udah nggak tahan, terus ngajakin Tito ngentot Hihihi, ujarnya menggoda sambil menowel hidungku.

ÔÇ£Hah? Ihh Kakak, ada-ada aja deh. Nggak mungkin lah!ÔÇØ bantahku santai. Namun di dalam hati aku benar-benar terkejut, bersorak, gembira dan berdebar-debar. Itu memang kemungkinan yang paling mendekati.

ÔÇ£Mungkin banget lho sayang. Gimana kalo emang bener? Kan Tito bisaÔǪ HihihiÔǪ,ÔÇØ Kak Dina menggodaku lagi dengan menggelitikku. Aku tak bisa menahan tawaku. Benakku membayangkan betapa serunya jika itu terjadi. Kemungkinan bahwa aku akan ÔÇÿbersatuÔÇÖ dengan Ibuku, sungguh di luar nalar.

Tapi kemudian Kak Dina tiba-tiba berhenti menggelitikku. Raut mukanya perlahan berubah serius. Dia terdiam dan berpikir lagi. Sesaat kemudian dia seperti bergumam sendiri, Tapi gimana kalau Apa mungkin? Ahh Nggak mungkin

ÔÇ£Kenapa Kak?ÔÇØ tanyaku yang merasa aneh melihat gelagatnya.

Dia kemudian berpaling padaku dan tersenyum. ÔÇ£Eh, nggak apa-apa kok sayang. Kakak cuma teringat jadwal minum pil Kakak. Ya udah, sini pilnya biar Kakak simpan.ÔÇØ

Kuberikan strip itu dan disimpannya kembali ke dalam lemari pakaiannya. Kemudian tanpa basa-basi lagi dia akhirnya mengajakku pulang, Yuk Dek, nanti dicariin Ibu lho Sebentar lagi jam empat tuh!

Emm Kak Terus kita kapan gitu-gituannya? tanyaku yang masih berharap.

Hihi Nggak sabar banget sih Dek? Kan udah Kakak bilang jangan sama Kakak kalo mau ngelakuinnya pertama kali Sama Ibu tuh! Kan Tito paling suka sama Ibu kan?

Iya sih Kak Tapi kapan? Ibu sih rasanya nggak bakalan ngajakin Tito begituan. Apalagi Tito yang ngajakin? Bisa ditampar abis-abisan sama Ibu! repetku.

Hihihi Hmm Ya udah deh, nanti Kakak kasih tau kapan waktu yang pas. Kan nggak lucu kalo kita main ada Kak Vira di sini. Ya nggak? ujarnya sambil tersenyum manis.

Hmm Iya deh. Tapi janji ya Kak!

Iya Adikku sayang, ucapnya mesra sembari mencubit pipi kanan dan kiriku.

ÔÇ£Aduh Kak! Sakit!ÔÇØ keluhku. Kak Dina pun melepaskan tangannya dan terkekeh. Aku pura-pura cemberut dan dibalasnya dengan mengacak-acak rambutku.

Berakhir sudah ÔÇÿpetualangankuÔÇÖ dengan Ibu Guruku hari ini. Kegiatan yang cukup melelahkan, namun membawa hikmah. Aku mengetahui banyak hal, baik itu tentang pelajaran sekolahku, tentang latar belakang kehidupan Kak Dina, tentang seks, bahkan sedikit tentang Ibuku. Semuanya dirangkum jadi satu. Tapi hal utama yang betul-betul kusukacitakan hari ini adalah, kini aku punya seorang Kakak.

***

ÔÇ£Ibu! Tito pulang Bu!ÔÇØ ucapku setengah berteriak sambil mengetuk pintu rumah. Aku masih bersama Kak Dina yang berbaik hati mengantarku sampai ke rumah. Dia bilang itu merupakan tanggung jawabnya.

ÔÇ£Iya! Sebentar!ÔÇØ balas Ibu dari dalam. Terdengar sayup-sayup suara TV yang sedang menyala. Tak lama pintu pun terbuka.

Hari ini memang benar-benar indah. Belum lama aku disuguhi aurat Kak Dina, kini Ibu menunjukkan ÔÇÿtajinyaÔÇÖ dengan cara yang berbeda. Aku tertegun melihat penampilannya yang sangat cantik sore ini. Bahkan aku tak pernah melihat Ibu memakai pakaian ini sebelumnya. Sebuah daster cantik dengan model tanpa lengan bermotif ukiran dan bunga Lili di tepian roknya, seperti motif jilbab Bu Aini. Tapi yang ini ukirannya coklat tua menimpa warna dasar kuning muda. Daster ini punya kerutan di bagian dadanya seperti daster batiknya, sehingga begitu membentuk buah dadanya yang cukup besar dan kencang itu. Sementara bagian perut daster ini begitu langsing membentuk badannya yang sempurna dan kembali agak mengembang di bagian roknya yang hanya pas selutut.

Kuperhatikan dengan saksama dari ujung rambut hingga ujung kakinya. Rambut poni sampingnya yang tersisir rapi, wajah cantiknya yang dipoles sedikit bedak, lengannya yang putih mulus dan padat, hingga betisnya yang penuh berisi dan berkelok landai seperti vas bunga. Semuanya benar-benar sempurna. Bahkan Ibu memakai sebuah gelang kaki berwarna perak yang mempercantik kaki mulusnya itu. Sungguh aku tak habis pikir. Dari mana Ibu punya ide untuk berdandan seperti ini?

ÔÇ£Eh, Tito udah pulang? Sama Bu Dina juga ya?ÔÇØ sapa Ibu ramah. Namun aku maupun Kak Dina tetap terdiam tanpa membalas sapaannya. Sepertinya Kak Dina juga pangling melihat Ibu.

Aku menoleh ke arah Kak Dina. Anehnya dia juga serentak menoleh pula ke arahku. Sepertinya kami punya pikiran yang sama. Tampak dari mulut kami berdua yang agak ternganga. Kami juga serentak saling cengar-cengir setelahnya.

ÔÇ£Lho kok malah senyum-senyum? Kenapa sih? Kayak liat orang lain aja. Mari Bu Dina, masuk dulu,ÔÇØ Ibu membuyarkan pikiran kami masing-masing dengan mempersilakan Kak Dina masuk.

ÔÇ£Eh, nggak usah Bu! Dina sebentar aja kok. Cuma nganterin Tito aja,ÔÇØ tolak Kak Dina.

ÔÇ£Lho? Gimana sih? Bu Dina kan udah jauh-jauh nganterin Tito. Masa nggak mau minum dulu?ÔÇØ

Udah Bu, nggak apa-apa. Dina pamit dulu ya Bu, Kak Dina langsung berpamitan dan menyambar tangan kanan Ibu untuk diciumnya.

Eh, iya, ucap Ibu singkat. Kali ini giliran Ibu yang kaget dan tercengang melihat tingkah aneh Kak Dina.

Kak Dina tersenyum jahil padaku dan pergi berlalu. Aku hanya bisa nyengir kuda sambil mengucapkan salam perpisahan padanya, ÔÇ£Hati-hati ya Kak!ÔÇØ

ÔÇ£Iya!ÔÇØ balas Kak Dina.

Ibu melihatku dan Kak Dina bergantian dengan wajah bertanya-tanya akan keanehan yang terjadi. Aku masih tetap nyengir. Ketika Kak Dina sudah menghilang dari pandangan kami, aku pun mengajak Ibu yang terdiam seribu bahasa masuk ke dalam rumah. Saat di dalam rumah Ibu menanyaiku segala hal, terutama tentang tindakan Kak Dina yang aneh tadi.

ÔÇ£Itu guru Tito kenapa sih? Kok aneh banget? Biasanya dia nyebut dirinya ÔÇÿsayaÔÇÖ sama Ibu. Sekarang kok malah pake namanya sendiri? Terus dia pake-pake cium tangan sama Ibu lagiÔǪ Ada apa sih Nak? Kalian kok aneh banget? Tito tadi juga manggil dia Kakak,ÔÇØ tanya Ibu memberondongku. Kami berdua sudah duduk di kursi tamu sambil ditemani volume suara TV yang disetel pelan.

Hehe Ceritain nggak ya? godaku.

Ihh! Tito kok gitu sih? Cerita dong Nak, mohonnya.

Hehe Becanda kok Bu. Tito bakal cerita kok, lanjutku. Ibu pun tersenyum dan siap mendengarkan.

Katanya Kak Dina mau jadi Kakak angkatnya Tito Bu, sekaligus anak angkatnya Ibu Boleh kan Bu?

ÔÇ£Hah!? Anak angkat!? Kakak angkat!?ÔÇØ katanya terkejut.

ÔÇ£Iya Bu. Kenapa Bu? Nggak boleh ya?ÔÇØ wajahku mulai memelas.

Ngg Bukan gitu Nak. Ibu kaget aja dengarnya. Masa guru Tito itu mau sih jadi anak angkatnya Ibu? Umurnya dia berapa?

Hehe 28 Bu, kataku cengengesan.

ÔÇ£Hah! 28? Cuma beda empat tahun dong!ÔÇØ serunya. Aku hanya mengangguk dan tersenyum.

Gimana ya Nak? Ibu rasanya jadi tua banget kalo dipanggil Ibu sama dia Ibu tersenyum sambil memegangi kedua pipinya.

Hihi Ibu nggak tua kok Bu. Itu kan cuma perasaan Ibu aja. Boleh ya Bu Boleh ya, mohonku seraya menggandeng dan menggoyang-goyang lengan mulusnya.

Ihh, apaan sih? Hihi Iya iya, boleh Ini anak Ibu ada-ada aja deh permintaannya.

ÔÇ£Itu bukan permintaannya Tito kok BuÔǪ Itu permintaan Kak Dina sendiri. Kalo Tito sih malah mau banget punya Kakak cantik kayak Kak Dina…ÔÇØ

ÔÇ£Nah, ketauan nih ya anak Ibu makin parah genitnya,ÔÇØ katanya dengan senyum menggoda. Aku cuma bisa cengengesan sambil memeluk lengannya erat.

Ibu wangi Baru mandi ya Bu?

Nggak kok, udah lama. Sekitar sejam yang lalu gitulah

ÔÇ£Ini baju baru yang Ibu beli waktu ke kota itu ya?ÔÇØ tanyaku lagi.

ÔÇ£Iya. Masih banyak kok yang lain. Gimana? Ibu cantik nggak?ÔÇØ tanyanya centil. Aku pun menjauhi lengannya dan duduk tegak untuk memperhatikannya lebih detail.

Dengan raut wajah remeh aku berkomentar, ÔÇ£Huh, jelek!ÔÇØ

Hmm Jelek kok senyum-senyum gitu? godanya yang melihatku berusaha menahan senyumku.

Hihihi Becanda kok Bu. Ibu sih perempuan yang paling cantik di dunia! kataku kembali memeluk lengannya.

ÔÇ£Kalo sama Bu Aini?ÔÇØ tanyanya iseng.

Emm Imbang deh. Hehe

Hihi Kok imbang sih? Waktu itu bilangnya Bu Aini yang lebih cantik dikit dari Ibu

Hehe Abisnya Ibu cantik banget nih sekarang. Mana pake gelang kaki segala lagi

ÔÇ£Oh, ini sih cuma iseng aja kok Ibu beli. Waktu masih gadis dulu Ibu memang suka pake gelang kaki,ÔÇØ katanya sambil melihat kaki kirinya. Sesaat kami berdua terdiam dan bermain dalam pikiran kami masing-masing. Aku masih saja bersandar dan memeluk lengan mulusnya.

ÔÇ£Tito tadi siang udah makan Nak?ÔÇØ tanya Ibu memecah keheningan.

ÔÇ£Udah Bu. Di rumah Kak Dina,ÔÇØ sahutku.

Oh Gitu. Ya udah, Tito mandi dulu sana! Udah bau keringat nih! Ntar Ibu ikutan bau lagi, katanya sinis dan melepaskan pelukanku secara paksa.

Ihh! Mentang-mentang wangi

ÔÇ£Iya dong…,ÔÇØ katanya sombong sambil tersenyum bangga.

ÔÇ£Eh, ngomong-ngomong Ibu nggak pernah potong rambut lagi ya?ÔÇØ perhatianku sedikit teralihkan dengan rambutnya yang cukup panjang tergerai di punggungnya.

Ternyata selama beberapa bulan ini aku telah salah menilai. Aku terlalu terfokus pada bentuk tubuh dan wajahnya Sementara rambut Ibu sebenarnya tidaklah sebahu, melainkan sudah mencapai setengah punggungnya. Kurasa hanya beberapa sentimeter sedikit lebih pendek dari rambut Kak Dina. Mungkin karena selama ini Ibu sering menjepit rambutnya ke atas, jadi aku tak menyadari kalau Ibu tak pernah lagi memotong rambutnya.

Iya nih Ibu sengaja nggak potong lagi. Biar cantik, ujarnya tersenyum sambil mengelus-elus rambutnya sendiri. Tingkah Ibu seperti anak ABG saja. Tapi itulah yang sangat kusuka dari Ibuku.

Aku memperhatikannya sejenak dan teringat akan kata-kata Kak Dina tadi. Apakah benar Ibu suatu saat nanti memang berniat mengajakku yang notabene anaknya sendiri untuk berhubungan seks? Jika memang benar adanya, kapankah itu terjadi? Apakah dia berdandan seperti ini bermaksud bereksperimen dengan kecantikannya? Mungkinkah dalam waktu dekat ini dia ingin menggaet pasangan hidupnya yang baru dengan eksperimennya yang berhasil ini? Sungguh semua ini sangat sulit untuk kutebak.

ÔÇ£Lho! Tito kok masih ngeliatin Ibu sih? Sana mandi!ÔÇØ sergahnya yang mengetahui aku sedang melamun sambil memperhatikannya.

Eh! Iya Bu! Jadi lupa Hehe Aku tersadar dan langsung melompat dari kursi menuju ke belakang.

ÔÇ£To! Tolong matiin dong TV-nya! Ibu nggak nonton lagi kok. Nggak ada acara yang bagus soalnya,ÔÇØ perintahnya padaku. Aku segera mematikannya.

Nggak ada berita selebritis ya Bu? Hihihi, sindirku. Ibu tersenyum saja. Aku pun beranjak ke belakang untuk mandi.

Setelah mandi kulihat Ibu mulai membongkar tempat uang hasil keuntungan berdagang gorengan. Dia sempat bertanya padaku kenapa begitu banyak uang seratus ribuan di sana. Biasanya hanya ada satu atau dua lembar saja. Kujawab bahwa itu berasal dari orang kaya bermobil yang memberikannya begitu saja tanpa mengharapkan kembaliannya. Aku mengatakan padanya kalau orang kaya itu mungkin kasihan melihatku, anak SD yang susah payah berjualan gorengan ala kadarnya seorang diri demi menafkahi keluarganya.

Seketika saja Ibu tertawa terbahak-bahak karena celoteh berlebihanku itu. Secara tak langsung juga dia merasa aku sedang menyindirnya habis-habisan karena sudah sering absen selama berjualan. Ibu bahkan mengusulkan kalau aku berjualan sendiri saja di hari-hari kemudian agar banyak yang kasihan dan memberikan uang lebih. Aku bersungut-sungut dan masuk begitu saja ke kamarku diiringi tawa lepasnya.

ÔÇ£Dasar Ibu! Selalu saja menganggap semuanya lucu,ÔÇØ gerutuku dalam hati.

Di dalam kamar aku kembali mengulang-ulang materi ujian yang diberikan Kak Dina. Hingga tak sadar waktu berlalu sampai Ibu mengajakku makan malam. Sewaktu makan kulihat wajah Ibu yang sepertinya sangat kelelahan. Aku rasa karena kesibukannya hari ini. Aku juga tak ada bertanya padanya dan membiarkan saja. Tak lama setelah makan malam yang berlangsung khidmat itu, Ibu langsung membereskan semuanya dan menggosok giginya.

Ketika aku baru saja duduk untuk menonton TV, Ibu berkata kalau dia ingin tidur lebih awal dan berpesan padaku agar jangan tidur terlalu larut. Aku pun mengiyakannya. Namun hanya setengah jam setelah itu giliranku pula yang mengantuk. Tanpa banyak tingkah aku pun bergegas gogok gigi dan melangkah ke kamarku untuk tidur. Menghimpun tenaga untuk rencanaku esok hari dengan Rama untuk menonton konser band di lapangan dekat kelurahan. Tadi aku sempat melihat betapa kerennya panggung perhelatan itu. Besok pasti akan sangat seru. Ya, sangat seru

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*