Home » Cerita Seks Mama Anak » Ibuku Cintaku Dan Dukaku 13

Ibuku Cintaku Dan Dukaku 13

Sesampainya kami di dalam kamarnya, Kak Dina menutup pintunya dan mengajakku untuk duduk di atas ranjang. Ranjangnya jenis spring bed seperti ranjang yang ada di kamar Rama. Berbeda dengan kasur di rumahku yang terbuat dari tilam berisi kapuk. Kak Dina duduk di sampingku sambil tersenyum-senyum melihat penisku yang seperti roket yang akan meluncur.

Kakak nggak nyangka tititnya Tito bagus begini sayang Biasanya sih punya anak seumuran Tito belum sampe segini ukurannya Dipandanginya kemaluan dan wajahku bergantian.

ÔÇ£Kakak tau dari mana kalo seumuran Tito burungnya nggak segini?ÔÇØ

Tito bilangnya burung ya? Hehe Emm Ada dehh Nanti Kakak ceritain. Tapi sebelum itu Kakak pengen Tito ceritain yang tadi dulu Tentang masalah Ibunya Tito. Kak Dina kan Kakaknya Tito sekarang Jadi Kakak pengen tau tentang calon Ibunya Kakak, katanya seraya mengelus rambutku dan tersenyum manis.

Hehe Iya Kak. Tapi ngomong-ngomong Kakak bohong nih! Katanya tadi mau ikutan Aku belum berani melanjutkan kalimat itu.

Oh iya! Hehe Iya, Tito tenang aja sayang. Kakak bakal buka semua kok. Tapi setelah Tito cerita ya

ÔÇ£Ya udah deh, kalo gitu.ÔÇØ Aku mengangguk patuh. Sementara penisku masih menegang seakan sedang bersiaga hingga saat-saat Kak Dina membuka seluruh pakaiannya.

Kak Dina beranjak dari duduknya dan menyusun bantal yang ada di atas ranjangnya tersandar di kepala tempat tidur. Lalu dia naik merangkak ke atas ranjang, dan duduk dengan punggung menyender pada bantal yang sudah disusunnya. Sementara bantal yang ada di sebelahnya disediakannya untukku.

Sini sayang Duduk sambil nyender aja di sini. Biar enak ceritanya, katanya sambil menepuk bantal itu untuk segera kusandari. Aku mematuhi instruksinya dan merangkak juga ke atas ranjang. Aku duduk di sebelah kirinya.

Aku agak canggung juga duduk di atas ranjang dalam keadaan tanpa busana. Rasanya sprei yang bergesekan dengan kulitku bagaikan menggelitikku. Ditambah lagi sensasi kemaluanku yang bisa dipandangi dengan bebas oleh Kak Dina.

ÔÇ£Gimana? Sekarang Tito nggak malu lagi kan?ÔÇØ tanya Kak Dina lembut disertai senyuman hangat. Aku hanya mengangguk sambil tersenyum tipis. Lama-kelamaan aku memang semakin terbiasa tak berpakaian seperti ini di depan Kakakku yang cantik ini.

ÔÇ£Nah, sekarang Tito bisa cerita kenapa waktu itu Tito nggak semangat sepanjang pelajarannya Kakak,ÔÇØ ungkitnya membuka cerita.

Emm Tito waktu itu lagi kepikiran Kak, ucapku yang agak tertunduk.

ÔÇ£Kepikiran apa sayang?ÔÇØ

Kepikiran Ibu yang mungkin kawin lagi sama orang lain, ucapku pasrah.

ÔÇ£Ibu mau kawin lagi? Sama siapa sayang? Tito udah kenal orangnya?ÔÇØ

Tito udah kenal orangnya Kak Tapi Ibu belum jumpa sekalipun sama dia

ÔÇ£Lho? Tito udah kenal tapi Ibu belum ketemu sekalipun sama dia? Terus Tito tau dari mana dia mau ngelamar Ibu?ÔÇØ

Dia nggak bilang sih Kak Tapi dia sering banget datang ke tempat jualan gorengannya Tito nanyain Ibu yang kebetulan waktu itu Ibu lagi nggak ada. Jadi dia belum ketemu sekalipun sama Ibu, paparku.

Oh, gitu ya Mungkin dia memang cuma sekadar nanya aja sayang, nggak bermaksud mau ngelamar Ibu.

Mungkin sih, lanjutku yang kemudian termenung sejenak. Kak Dina pun terdiam sesaat.

ÔÇ£Ngomong-ngomong, orangnya kayak apa sih? Jelek ya?ÔÇØ lanjut Kak Dina sambil nyengir.

Nggak Kak Orangnya malah ganteng banget Tito takut nanti Ibu ketemu sama dia, terus Ibu jadi suka sama dia! Terus dia jadi punya istri dua deh Terus, Tito dicuekin sama Ibu! kataku yang mulai emosional. Kemaluanku bahkan mulai menyusut.

ÔÇ£Hah!? Istri dua?ÔÇØ Kak Dina kaget.

Iya Kak Dia bilang dia udah punya istri, timpalku.

Hahaha Kalo orang itu udah punya istri, apanya lagi yang ditakutkan sayang?

Tito nggak tau Kak Pokoknya Tito ngerasa takut aja kalo Ibu nikah lagi sama orang lain, kataku lesu. Kami terdiam lagi beberapa saat.

ÔÇ£Memangnya Tito nggak mau ya, punya Bapak lagi?ÔÇØ lanjut Kak Dina. Aku menggeleng tegas.

Tapi kalo Ibu memang pengen kawin lagi, masa Tito nggak ngebolehin sayang? Kasian dong Ibu, ucap Kak Dina sambil mengelus kepalaku.

ÔÇ£Pokoknya Tito nggak mau Kak! Tito nggak mau Ibu punya yang lain selain Tito! Tito nggak mau Ibu nikah lagi sampe kapanpun!ÔÇØ seruku.

ÔÇ£Kok gitu sih Dek? Kenapa?ÔÇØ

ÔÇ£Karena Tito suka sama Ibu Kak! Tito cinta banget sama Ibu! Tito cinta banget sama Ibu Kak!ÔÇØ seruku yang kemudian menutup seluruh wajahku dengan kedua tanganku.

Hah!? Tito!? Kak Dina terkejut bukan main.

ÔÇ£Iya KakÔǪ Tito cinta banget sama IbuÔǪ Tito suka sama IbuÔǪ Tito sakit hati kalo Ibu kawin sama orang lainÔǪ,ÔÇØ tandasku lagi dengan kedua tangan yang masih menutup wajahku. Aku merasa begitu malu karena mengucapkan seluruh kata-kata ÔÇÿtak wajarÔÇÖ itu.

Astaga Tito Kak Dina masih tidak percaya apa yang barusan didengarnya. Tapi sesaat kemudian dia memelukku yang masih menutup wajahku. Suasana hening beberapa saat. Hanya tangannya yang masih sibuk mengelusi kepalaku.

Udah sayang Nggak apa-apa. Buka dong tangannya. Jangan ditutupin gitu mukanya Masa ganteng-ganteng ditutupin? Kak Dina berusaha membuka kedua tanganku. Tapi aku yang masih merasa malu, tetap bersikeras menangkupkannya di wajahku.

Eh, Tito nggak boleh gitu dong Dek Kan Kakak udah bilang, jangan malu-malu sama Kakak. Ntar Kakak batalin lho buka-bukaannya Mau? ancamnya. Aku pun perlahan membuka tangkupan tanganku.

Nah, gitu dong Ya udah, nggak usah diceritain lagi. Kakak ngerti kok, katanya sambil menggenggam erat tangan kiriku.

ÔÇ£Emang nggak apa-apa Kak? Kakak nggak nganggap Tito anak kurang ajar?ÔÇØ

Hihi Masa gara-gara suka sama Ibu sendiri kurang ajar sih Dek? Kalo emang Tito terlanjur suka sama Ibu ya apa boleh buat. Tito kan dari kecil tinggal sama Ibu. Jadi kalo ada rasa suka sih biasa, ujarnya memaklumi.

ÔÇ£Tapi rasa suka Tito kayaknya berlebihan deh Kak,ÔÇØ ucapku lagi.

ÔÇ£Berlebihan? Berlebihannya gimana?ÔÇØ tanya Kak Dina lagi sambil memperhatikanku dengan serius.

Ngg Itu Kak Mmm Burung Tito tegang terus kalo liat Ibu, ungkapku terus terang.

ÔÇ£Hah? Burung Tito tegang kalo liat Ibu?ÔÇØ wajah Kak Dina tampak cukup terkejut. Dia memelankan suaranya.

Iya Kak, jawabku. Kemaluanku yang sempat melemas mulai bereaksi lagi. Kak Dina tampak berpikir sambil memperhatikanku.

Emm Ngomong-ngomong, burungnya Tito tegang waktu liat Ibu ngapain aja sayang? tanya Kak Dina lagi.

Ngg Mmmm, aku hanya menggumam sambil berpikir tak tentu arah.

Ayo sayang, jujur aja sama Kakak. Ceritain semuanya Nggak apa-apa, desaknya. Aku pun mengangguk patuh.

Tito suka liatin badannya Ibu kalo lagi pake daster yang tipis Kak. Ada juga daster Ibu yang seksi banget Kak, sampe-sampe dadanya keliatan. Terus kadang-kadang Tito sering liat celana dalamnya Ibu Kak. Tapi itu nggak sengaja kok Kak. Waktu itu roknya Ibu sering kebuka, jadi keliatan deh, aku menceritakannya sambil nyengir membayangkan setiap kejadian yang terlintas di otakku. Kak Dina terdengar menelan ludahnya. Aku yang berada sangat dekat dengannya seperti ini bisa merasakannya dengan jelas.

ÔÇ£Terus sayang?ÔÇØ Kak Dina tampak begitu tertarik mendengarkan cerita mesumku. Aku hanya patuh pada setiap keinginannya.

ÔÇ£TerusÔǪ Tito pernah liat Ibu telanjang juga Kak…,ÔÇØ beberku dengan suara yang agak kupelankan.

ÔÇ£Hah? Tito pernah liat Ibunya Tito telanjang sayang? Kapan?ÔÇØ

ÔÇ£Waktu Tito sakit Kak. Sebelum Kakak jengukin Tito. Waktu itu Ibu bukan cuma telanjang Kak, tapi Ibu juga gesek-gesek ÔÇÿitunyaÔÇÖ pake jarinya.ÔÇØ

ÔÇ£Maksudnya memeknya?ÔÇØ ucap Kak Dina vulgar. Aku agak kaget juga mendengarkan Kak Dina yang begitu enteng mengucapkan kata kotor semudah itu. Namun Kak Dina sepertinya asyik-asyik saja.

I..Iya Kak, kataku sambil nyengir.

ÔÇ£Tito kok bisa tau sayang? Tito ngintip ya?ÔÇØ Kak Dina sedikit menggelitikku.

Hehe Enggak kok Kak. Waktu sakit itu, Tito tidurnya di kamar Ibu. Terus Tito liat Ibu yang lagi tidur di kasur bawah rupanya bukan lagi tidur Kak, tapi lagi mainin memeknya. Kuberanikan untuk meniru gaya bicara vulgar Kak Dina. Nafas Kak Dina juga sepertinya mulai berat.

Terusin sayang Wajah Kak Dina sudah terlihat memerah dan dia menelan ludahnya semakin gencar.

ÔÇ£Waktu itu Tito lagi sadar Kak. Jadi Tito pura-pura tidur sambil nontonin Ibu ÔÇÿmainÔÇÖ. Tapi abis itu Ibu malah ngebuka dasternya, terus dia jalan ke arah Tito yang lagi pura-pura tidur.ÔÇØ Aku yang membayangkan kejadian waktu Ibu masturbasi di depanku, tak ayal memicu penisku semakin tegang di bawah sana.

ÔÇ£Terus?ÔÇØ nafas Kak Dina terdengar semakin berat. Tapi aku tetap meneruskan ceritaku sesuai keinginannya.

Waktu Ibu udah di dekat Tito, Ibu ngebuka BH sama celana dalamnya Kak. Terus BH sama celana dalamnya diletakin di mukanya Tito Celana dalamnya malah agak disumpalin gitu ke mukanya Tito Kak Tito jadi merinding, ujarku. Keadaan penisku sekarang sudah tegang sempurna.

ÔÇ£Hah!? Sampe disumpalin? Terus Tito gimana sayang?ÔÇØ tanya Kak Dina.

ÔÇ£Ya Tito tetap pura-pura tidur Kak, sambil cium celana dalamnya Ibu,ÔÇØ kataku santai. Kak Dina nyengir mendengarkan kata-kataku.

ÔÇ£Terus menurut Tito baunya gimana sayang? Enak?ÔÇØ tanyanya dengan wajah dan senyum yang menggoda.

Hehe Iya Kak. Enak banget. Baunya nyengat, tapi Tito suka. Aku sekarang bercerita sambil melihat setiap perkembangan wajah Kak Dina. Setelah mendengar pendapatku barusan, Kak Dina seperti tak menyangka aku bisa sebegitu terobsesinya dengan Ibuku.

Ya ampun Tito nakal banget sih sayang Terus abis itu Ibu ngapain?

Terus Ibu mainin memeknya di tempat tidur bareng Tito yang lagi pura-pura tidur Kak. Ibu sampe mendesis-desis terus teriak-teriak gitu Kak Aku memperhatikan wajah Kak Dina yang benar-benar merah dan nafasnya benar-benar sudah tak teratur.

Teriaknya gini ya sayang? Ahhh Ohhh Mmmhhh Yaahh Enakk Ohhhmmmhh, Kak Dina mencoba menirukan erangan Ibu. Aku benar-benar terangsang karena suara mesumnya itu. Penisku benar-benar tegang dan mengeras.

IIya Kak, kayak gitu. Tapi waktu itu Ibu nyebut-nyebut nama Tito juga Kak, timpalku.

Oh, gitu Jadi gini dong ya? Aaahhh Yaahhh TitoooOoouuhh enak sayanggg entot Ibu sayang Mmmhhh Ahhh, tiru Kak Dina lagi.

Iya Kak Kayak gitu Aku tak berkedip melihat wajah Kak Dina yang begitu nakal mempraktekkan kemampuannya itu. Kak Dina tertawa geli melihatku yang tercengang dengan erangannya.

ÔÇ£Terus Ibu gimana sayang?ÔÇØ

ÔÇ£Terus Ibu keenakan gitu Kak. Badannya kejang-kejang gitu, terus dia lemasÔǪ Gitu Kak ceritanya…,ÔÇØ kataku mengakhiri ceritaku.

Dari raut wajahnya, Kak Dina terlihat benar-benar mencerna ceritaku dengan baik. Dia melihat tajam kedua bola mataku seakan-akan bisa melihat apa yang kurasakan waktu itu. Nafasnya berat dan tubuhnya dari tadi sangat gelisah.

Hmm Pantesan aja Tito suka sama Ibu. Udah cantiknya luar biasa, badannya bagus, nakal lagi. Wajarlah kalo Tito memang terobsesi sama Ibu sendiri. Mmuuaahh, katanya sembari mencium pipiku.

Kak, Tito mau tanya nih

ÔÇ£Tanya apa Dek?ÔÇØ

Mmm Ngentot itu apa Kak? Ciuman ya? tanyaku dengan suara pelan.

Hihi Ngentot itu bukan ciuman sayang. Ngentot itu senggama atau bersetubuh, ucap Kak Dina mesra di telingaku.

ÔÇ£Hah? Yang burungnya dimasukin ke punya perempuan, terus hamil itu ya Kak?ÔÇØ tanyaku memastikan. Aku sudah sangat sering mendengar istilah setubuh dan senggama dari teman-temanku, termasuk dari Rama. Ternyata artinya adalah bersetubuh. Kata yang sangat porno.

Iya sayang. Jadi Kalo kontol Tito dimasukin ke memek Kak Dina, itu namanya ngentot sayang, Kak Dina berbicara begitu vulgar dan nakal, dan langsung memisalkan diriku yang menyetubuhi dirinya. Aku betul-betul terangsang oleh kalimatnya itu.

ÔÇ£IhhÔǪ Udah dong Kak, jangan dibilang-bilang lagi. Punya Tito jadi tegang terus nih…,ÔÇØ ucapku sambil memegangi kemaluanku.

Hihihi Ngentot Ngentot Ngentot Kak Dina tak menghiraukanku. Dia malah mengatakannya berulang kali dengan raut wajah nakal dan mesum tepat di depan wajahku. Kemaluanku pun semakin tegang. Ketika dia mengatakannya aku membayangkan penisku masuk ke dalam vagina Ibu, Bu Aini, maupun Kak Dina sendiri.

Kakak, aku hanya bisa memanggilnya memelas tanpa bisa berbuat apa-apa.

Kata porno yang satu itu seperti menghipnotisku, dan pikiranku langsung menerima dan mengasumsikan bahwa itu adalah kata yang sangat mengundang birahi. Terbukti dari kemaluanku yang begitu antusias menanggapinya.

Hihi Burungnya Tito udah tegang banget sayang Kakak suka liatnya, ujar Kak Dina dengan senyum genitnya. Dia menowel-nowel kepala penisku yang memerah. Ada cairan bening di ujungnya.

Disentuhnya cairan itu dan perlahan-lahan diangkatnya jarinya. Cairan itu kembali membentuk benang tipis. Dia sepertinya sangat menyukainya. Setelah benang ÔÇÿbeningÔÇÖ itu terputus, dia memasukkan jarinya tadi ke dalam mulut dan mengemutnya.

ÔÇ£Kakak! Kok diemut?ÔÇØ aku terkejut dengan kelakuannya itu.

ÔÇ£Kenapa sayang? Enak kok. Kakak suka,ÔÇØ ujarnya sambil tersenyum menggoda. Walaupun aku terkejut, tapi keterkejutanku itu mengarah kepada jantungku yang semakin terpacu kencang karena nafsu, bukan karena ketidaksukaan.

ÔÇ£Kakak minta lagi sayang,ÔÇØ ucapnya sembari mencolek seluruh cairan di ujung penisku itu. Aku suka sekali ketika dia mencoleknya. Seperti ada setrum yang menjalar di sana.

Kali ini dia mendekatkan wajahnya padaku, menjulurkan lidahnya, dan mengoleskan cairan itu di lidahnya. Setelah itu baru diemutnya jarinya. Dia tersenyum lagi setelah ritualnya itu. Hmm Enak sayang

Ini adalah pemandangan kedua bagiku melihat liarnya seorang wanita dewasa jika dilanda birahi. Sebelumnya aku pernah menyaksikan Ibuku yang bahkan jauh lebih liar. Aku benar-benar tak sabar ingin melihat seperti apa Kak Dina setelah ini.

Emm Tito sayang? Tiba-tiba dia memanggilku dengan begitu mesra.

ÔÇ£Saya Kak?ÔÇØ jawabku. Entah kenapa aku jadi tertarik meladeni kemesraannya.

Tadi kan Kakak yang bukain baju sama celana Tito Sekarang gantian ya, Tito yang bukain baju sama celana Kakak, pintanya setengah berbisik. Kepala dan jantungku seperti mau meledak mendengarnya. Aku tak menyangka Kak Dina akan menyerahkan semuanya padaku.

ÔÇ£IÔǪIya Kak. Sini Kak, Tito bukain…,ÔÇØ jawabku yang semakin terangsang. Kak Dina sepertinya sedang dilanda nafsu sepertiku. Senyumannya sangat genit, seperti bukan sedang tersenyum pada adiknya.

Kak Dina lalu bangkit dari sandarannya. Duduk bersimpuh, menghadap padaku, dan mengangkat kedua lengannya ke atas seolah memberi kode padaku untuk segera membukakan tanktop-nya. Aku pun segera bangkit dan duduk berlutut di hadapannya. Dengan tangan yang agak gemetaran, aku memegang pinggiran tanktop-nya yang bagian bawah, dan menariknya perlahan ke atas.

Aku tercekat ketika tanktop itu melewati bagian dadanya. Buah dadanya yang masih dilapisi BH warna biru benar-benar menggugah nafsu. Buah dadanya membulat penuh mengisi setiap relung dan celah BH yang kelihatan agak ketat itu. Setelah tanktop itu terlepas dari kepalanya, dia tersenyum-senyum melihatku yang begitu ÔÇÿngeresÔÇÖ memandangi dadanya. Namun dia malah memperparahnya dengan memegang kedua buah dadanya dan meremasnya memutar sambil tersenyum menggoda. Kak Dina memang ÔÇÿberbakatÔÇÖ membuat orang jadi gila.

Sekejap kemudian dia berhenti melakukannya. Lalu dia melepaskan jepit rambutnya hingga rambutnya yang lumayan panjang itu terurai ke bawah. Kak Dina hanya memperbaiki sedikit tatanan rambutnya dengan menyisirinya dengan jari-jarinya. Gaya rambutnya yang tak terlalu rapi sekarang ini malah membuatnya terlihat lebih seksi. Membuat kesan seperti baru saja bangun tidur di pagi hari, sebagaimana rambut Ibu saat bangun tidur.

ÔÇ£Udah rapi nggak sayang?ÔÇØ katanya sambil masih menyisiri rambutnya dengan jari-jarinya.

ÔÇ£Udah Kak, udah cantik,ÔÇØ jawabku sembari menahan tangannya agar tak menyisir lagi. Dia pun menurutinya dengan senyum lesung pipinya yang manis.

Kak Dina kemudian mendekati wajahku dan berkata lemah lembut, ÔÇ£Celana Kakak gimana sayang? Adek pengen Kakak menghadap ke mana waktu Adek ngebukanya? Ke belakang atau ke depan?ÔÇØ

ÔÇ£Maksud Kakak?ÔÇØ aku tak menegerti dengan instruksinya kali ini. Tapi akhirnya dia tersenyum dan berdiri di atas tempat tidur dengan masih di hadapanku.

Kalo bukanya dari depan, Kakak menghadap ke Tito kayak gini, ujarnya yang menghadapkan celananya yang bagian depan begitu dekat dengan wajahku. Lalu dia membalikkan tubuhnya.

Nah, kalo dari belakang, Tito pelorotin celana Kakak dari belakang gini, katanya sambil menunggingkan pantatnya hingga menumbuk kepalaku.

Aduhh Ihh, Kakak! repetku manja.

Hihihi Nah, sekarang pilih mana sayang? sambungnya sambil mengelus-elus pinggulnya sendiri.

Ngg Dua-duanya Kak! ujarku mantap. Aku punya ide yang lebih baik.

ÔÇ£Lho? Dua-duanya?ÔÇØ

Iya Kak. Nanti waktu celananya masih belum turun waktu Tito buka dari depan, Kakak muter kayak barusan. Terus Tito pelorotin deh dari belakang, aku berkata lebih berani kali ini.

ÔÇ£Wahh, Adeknya Kakak udah pinter banget nih ya, mesumin Kakaknya…,ÔÇØ ucapnya yang kemudian mengacak-acak rambutku sambil masih berdiri membelakangiku.

Hehe, aku cengengesan menanggapi ide mesumku sendiri.

Ya udah deh Nih, silakan sayang, dia mempersembahkan celananya di hadapanku. Dengan jantung yang berdebar, aku bergegas membuka kancing celana jeans mininya, lalu menarik resletingnya ke bawah.

Ohhh Kak Dina memekik nakal ketika resleting itu terseret ke bawah. Kami saling berpandangan dan melemparkan senyum. Kemudian aku melihat wujud celana dalamnya yang sudah tampak jelas dari balik celananya.

Ayo sayang, tarik ke bawah, instruksi kak Dina. Kupegang kedua sisi celananya, dan kutarik perlahan ke bawah. Tampaklah sudah celana dalam berwarna biru yang membungkus organ intimnya. Mataku tak berkedip melihatnya.

Udah dulu Dek ngeliatnya Nanti bisa lebih puas kok. Hihi Kakak balik badan ya Tanpa berlama-lama, Kak Dina kemudian berbalik.

Pelorotin sayang, bimbingnya dengan nada mesra.

Akupun kembali memegang kedua sisi celananya, dan memelorotkan celananya sampai ke mata kakinya. Selama proses menurunkan celananya itu, Kak Dina menggoyang-goyangkan pantatnya yang semok itu ke kiri dan ke kanan dengan cepat seolah bermaksud memancing nafsuku lebih dalam lagi. Dan itu memang berjalan dengan sukses hingga membuat penisku bergejolak.

Sewaktu Kak Dina mengangkat kakinya satu persatu untuk melepaskan celana yang sudah di mata kakinya, dia sedikit menunggingkan pantatnya dan dengan sengaja menabrakkan pantatnya itu ke wajahku.

Eh! Mukanya Tito kena pantat Kakak ya Maaf ya Dek Hihi, candanya. Aku hanya bisa nyengir dengan wajah panas.

Eh! Kena lagi Eh! Kena lagi Eh! Kena lagi Kak Dina dengan sengaja menghantam-hantamkan pantatnya ke wajahku dengan lembut. Aku yang sangat bernafsu menerima saja hantaman nikmat itu.

Berikutnya Kak Dina malah sengaja menempelkan pantatnya itu ke wajahku dengan penuh canda nakal, Eh! Kok nempel? Hihihi

Aku yang sudah sangat bernafsu langsung memegang paha sintalnya, dan mengarahkan hidung dan mulutku tepat di tengah-tengah bagian pantatnya untuk mengendus aroma kenikmatan yang bisa kuperoleh.

Eh! Ahhh Ohhh Tunggu dulu sayang! Jangan dulu! seru Kak Dina. Dia sepertinya sangat terkejut dengan ulahku itu. Dia langsung menjauhkan wajahku dan kembali duduk bersimpuh di hadapanku.

ÔÇ£Tito nakal banget sihÔǪ Jangan dulu ya sayangÔǪ Kakak kan masih belum telanjang…,ÔÇØ ucapnya dengan nada mesra sambil menowel hidungku.

Abis Kakak gitu-gituin Tito sih, Tito kan jadi nggak tahan, sungutku. Nafasku masih memburu karena hal tadi.

Hihi Iya iya, maaf ya Nah, kalo gitu sekarang Tito bukain BH Kakak ya, pintanya sembari membalikkan badan.

ÔÇ£Bukanya gimana Kak?ÔÇØ tanyaku bingung.

ÔÇ£Pegang jepitan di tengah itu sayang, terus pisahin kayak kancing celana sekolahnya Tito,ÔÇØ bimbingnya padaku. Aku pun melakukannya, dan terlepaslah ikatan BH-nya.

Kak Dina menghadap lagi ke arahku. Dia tak langsung melepaskan BH-nya, tapi memainkan dulu buah dadanya seperti tadi. Aku pun dengan setia menonton pertunjukan kecil-kecilannya itu. Sekejap kemudian dia membuka BH-nya itu dan meletakkannya di sampingnya. Tampaklah dua buah dada berukuran sedang yang bulat dan padat berisi dengan puting dan areola warna coklat muda seperti milik Ibu.

ÔÇ£Gimana sayang? Bagus nggak dadanya Kakak?ÔÇØ tanya Kak Dina dengan sedikit membusungkan dadanya.

Bagus Kak, kataku gugup. Lagi-lagi aku menelan ludah.

ÔÇ£Sama punya Ibu, bagusan yang mana sayang?ÔÇØ tanyanya lagi.

ÔÇ£Bagusan punya Ibu dong Kak!ÔÇØ jawabku mantap. Keistimewaan buah dada milik Ibu memang tak terbantahkan. Tapi karena ucapanku, Kak Dina tampak cemberut dan melihat sambil memegang kedua buah dadanya yang menurutnya kalah tanding itu.

Lho? Kakak kok cemberut Kak? Maafin Tito ya Kak, kataku memelas.

Kak Dina kemudian kembali tersenyum lagi. Nggak apa-apa kok sayang Masa Kakak dibandingin sama Ibu sih ya? Hehe Kakak mana bisa menang dari segi apapun

ÔÇ£Ada kok Kak!ÔÇØ ucapku yakin.

ÔÇ£Ada? Apanya?ÔÇØ tanya Kak Dina penasaran.

ÔÇ£Senyum Kakak lebih manis dari senyumnya Ibu.ÔÇØ

ÔÇ£Hah?ÔÇØ mata Kak Dina berbinar-binar mendengarkan pujianku. Aku hanya mengangguk menegaskan pujianku tadi.

Ah, Tito Bikin Kakak malu aja Kak Dina menunduk menahan senyum malunya. Sejenak suasana jadi hening diwarnai tubuh terbuka kami berdua yang masih duduk bersimpuh berhadap-hadapan di atas ranjang.

Kak, ucapku memecah keheningan.

ÔÇ£Hmm?ÔÇØ sahut Kak Dina.

Tito boleh pegang dadanya Kakak nggak? kataku terputus-putus.

Tito mau pegang? Boleh kok Tapi

ÔÇ£Tapi apa Kak?ÔÇØ

Kak Dina berdiri dan membelakangiku. Dia menoleh ke arahku dengan kerlingan nakal. Buka dulu celana dalam Kakak sayang

Demi permintaannya yang menggugah fantasi itu, aku pun sangat bersedia mematuhinya. Kupandangi dulu sejenak pantat penuhnya yang masih dilapisi celana dalam. Aku masih tak menyangka bahwa aku sesaat lagi akan menelanjangi guruku yang cantik ini dengan tanganku sendiri. Dengan perasaan gugup, aku lalu memegang bagian kanan dan kiri celana dalamnya. Diawali dengan tegukan ludah, aku mulai menurunkan celana dalamnya. Belahan pantatnya perlahan-lahan terlihat.

Ohhh Sayanggg Adek pengen pelan-pelan ya? Ahhh, Kak Dina mengerang lirih penuh nafsu ketika aku menurunkan celana dalamnya perlahan-lahan. Aku hampir tak mengenali lagi sosok keguruan Kak Dina yang selalu ditunjukkannya di sekolah. Dia benar-benar telah berubah drastis.

Ketika celana dalamnya sudah mencapai bagian bawah pantatnya, aku langsung memelorotkan celana dalamnya dengan sentakan yang cukup kasar. Celana dalamnya langsung turun ke bawah tanpa halangan.

Awwww! Adek nakal banget sayanggg, jeritnya mesra.

Teriakannya itu seolah melengkapi pemandangan menakjubkan dan mendebarkan ini. Kini, salah satu dari tiga wanita yang kuidolakan selama ini, sedang berdiri telanjang tepat di depan mataku. Penisku tegang sejadi-jadinya melihat pantat sekal dan semok milik Kak Dina. Bongkahan pantat yang putih mulus tanpa selulit, didukung oleh pinggang dan perut yang ramping seperti milik Ibu. Benar-benar menggairahkan, sesuai dengan perkiraanku selama ini. Ingin rasanya langsung kuterkam pantatnya. Tapi aku lebih memilih Kak Dina yang membimbingku perlahan-lahan agar aku tak salah langkah seperti tadi.

Kemudian Kak Dina menaikkan kakinya satu-persatu untuk melepaskan pertahanan terakhirnya itu. Setelah lepas dia duduk bersimpuh lagi menghadapku.

Sekarang udah sama-sama telanjang deh, ucap Kak Dina sambil tersenyum. Aku juga membalas senyumannya. Tapi pandanganku kini tertuju ke vaginanya yang tak berbulu.

ÔÇ£Punya Kakak kok nggak ada bulunya Kak?ÔÇØ tanyaku.

ÔÇ£Oh, Kakak cukur sayang.ÔÇØ

Ooo, kataku singkat. Sesaat kemudian kami lagi-lagi terdiam, sibuk dengan pikiran dan nafsu kami masing-masing. Kemaluanku semakin banyak mengeluarkan cairan beningnya di tengah ereksi habis-habisan ini.

Mmm Tito katanya tadi mau pegang dadanya Kakak, Kak Dina membuka pembicaraan.

Oh, Ngg Iya Kak, jawabku sambil tersenyum.

Emm Ya udah, pegangnya sambil tiduran ya, katanya yang kemudian menggeser posisi kedua bantal yang menyandar tadi menjadi posisi tidur.

Kak Dina langsung membaringkan badannya dengan kaki kanan yang tertekuk ke atas memamerkan pahanya yang tebal dan mulus, dan lipatan vaginanya yang menawan. Aku yang masih duduk bersimpuh di dekat kaki kirinya bagaikan sedang melihat mahakarya porno yang luar biasa. Aku meneguk ludah berkali-kali.

Udah dong ngeliatinnya sayang Yuk sini tiduran, ujarnya sambil menepuk bantalku tadi yang berada di sebelahnya.

Iya Kak, jawabku singkat. Aku pun berbaring di sampingnya dengan penis yang mencuat di atas perutku.

Kak Dina mengesampingkan tubuhnya menghadap ke arahku dan tersenyum menggoda. Diambilnya tangan kiriku dan langsung diletakkannya di buah dada kanannya. Pegang sampe puas sayang

Aku yang sudah begitu bernafsu dari tadi langsung meremas buah dadanya itu dengan cukup keras. Aku bahkan ikut-ikutan berbaring menyamping sepertinya dan tangan kananku juga ikut serta bertindak meremas dada kirinya. Tapi kemudian Kak Dina meringis dan menyuruhku untuk meremasnya lebih pelan.

Jangan keras-keras sayang sakit. Pelan-pelan aja ya

Eh, iya Kak Maaf ya Kak Aku langsung melemahkan remasanku.

Udah nggak apa-apa Shhh Terusin sayang Iyahh gitu Emmhh, desah Kak Dina sambil memandangku dengan mata yang sayu.

Mendengar desahan Kak Dina yang sudah merasa nikmat, aku menambah aksiku dengan menggesek puting payudaranya itu dengan jari-jariku. Kak Dina malah semakin mendesah.

Ohhh yyaahhh Nikmat sayangg Mainin teruss pentilnya Kakakk Ahhh, desahnya semakin hebat.

ÔÇ£Sini sayang! Hisap tetek Kakak sayang!ÔÇØ Kak Dina tiba-tiba menarik kepalaku dan mengarahkan bibirku ke puting dada kanannya. Aku yang memang sudah bernafsu dari tadi langsung menghisap pentil coklat muda itu dengan rakus.

Aaahhh Ohhh sayangg Adek Kakak pinter banget nyedotnyaaa Ohhh Enak sayaaangg, racau Kak Dina. Aku benar-benar lupa daratan saat mulutku bertemu dengan payudaranya.

Sluurrppss Ummhh ccrruuppss Srruppss Kusedot dadanya membabi buta. Namun belum lama aku menyedotnya, Kak Dina mendorong kepalaku dari dadanya dan menciumi bibirku.

Ummhh Emhh crruppss ccuppss Shhh Cruupp Ahhsshh Kak Dina menciumi dan menyedot-nyedot bibirku. Aku meladeni ciumannya dengan nafsu yang tak kalah tinggi.

Ketika Kak Dina sudah merasa puas, dia menjauhkan wajahku. Ketika bibir kami sudah terpisah, kami bisa melihat wajah satu sama lain yang sudah merah padam dilanda nafsu. Kak Dina tersenyum melihatku.

Hihi Enak sayang? Mukanya Tito sampe merah gitu, ujarnya dengan nafas ngos-ngosan.

Iya Kak Tetek sama bibirnya Kakak enak, ujarku tak kalah panas dengan nafas memburu.

Hihihi Tito udah bisa ngomong jorok ya sama Kakak, Kak Dina terkekeh mendengar kata-kataku.

ÔÇ£Ngomong jorok Kak? Yang mana?ÔÇØ

Itu tadi Tetek Hehe

Eh, hehe Iya ya Kak, Aku juga ikut-ikutan terkekeh.

Tapi Kak Dina malah mengecup bibirku lembut dan berkata, ÔÇ£Nggak apa-apa sayang. Kakak suka Tito ngomong jorok kalo lagi telanjang sama Kakak kayak gini.ÔÇØ

Hehehe Kakak ada-ada aja

Hihi Eh, Tito bilang waktu Ibu mainin memeknya waktu itu, Tito suka banget sama bau celana dalamnya ya?

Hehe Iya Kak

ÔÇ£Tito mau nggak ngerasain celana dalam Kakak juga?ÔÇØ tanya Kak Dina genit.

Ah, iya Kak! Mau banget Aku sebenarnya sudah ingin merasakan benda pribadi milik Kak Dina itu sedari tadi, semenjak masih fresh from the oven. Tapi aku takut tindakanku itu tidak disambut positif olehnya.

Diambilnya celana dalamnya yang tergeletak di atas ranjang di dekat kami. Kak Dina sedikit merapikan bentuk celana dalam itu karena sempat tergulung ketika kupelorotkan tadi. Dia membalikkan bagian dalam dari celana dalam itu ke luar. Mungkin dia bermaksud memberikan padaku bagian dalam dari celana dalamnya itu agar aku lebih ÔÇÿpuasÔÇÖ menikmatinya.

Ketika bentuknya sudah rapi, Kak Dina mendorong tubuhku agar benar-benar berbaring telentang. Sementara Kak Dina berbaring menyamping seperti tadi. Suasana tiba-tiba saja memanas dikarenakan Kak Dina merapatkan tubuhnya padaku serapat-rapatnya. Paha kanannya juga menindih paha kananku seperti guling tidurnya saja. Kepala kami berdua sekarang berada di atas satu bantal yang sama.

Aku menoleh ke bawah. Tangan kanan Kak Dina sekarang memeluk perutku. Dan ditangannya itu sudah tergenggam celana dalamnya tadi. Aku menoleh ke samping kanan. Wajah Kak Dina terlihat memerah kembali dan nafasnya mulai memburu lagi. Bisa kurasakan jelas dengan dadanya yang naik turun menekan lengan kananku dan terpaan nafas panasnya di pundakku.

Dia kemudian mencium bibirku dengan lembut dan berkata mesra, Cium bau memek Kakak sayang

Wajahku langsung dibekapnya dengan celana dalamnya. Bagian celana dalam yang membaluti memeknya terbekap tepat di hidungku. Sepertinya Kak Dina sudah mempersiapkannya dari tadi agar bagian itu benar-benar bisa kunikmati. Indra penciumanku kini diwarnai oleh bau organ intimnya.

Dengan nafsu yang sedang tinggi, kutarik nafasku dalam-dalam untuk merasakan aroma vagina Kakakku yang cantik ini. Tapi yang kurasakan kemudian malah aroma yang harum. Hanya sedikit bau pesing dan bau keringat yang terasa, selebihnya malah seperti aroma bunga yang lembut. Kuhirup sejadi-jadinya bau yang ada di sana sampai aku puas dan Kak Dina akhirnya melepaskan bekapannya.

Ahhh Hihihi Gimana baunya Dek? Enak? Kak Dina tersenyum nakal sambil mencium pipiku.

Huuff Huuhh Enak banget Kak. Wangi! kataku dengan nafas ngos-ngosan.

Ya iyalah wangi Kakak kan pake sabun pembersih kewanitaan

ÔÇ£Oh, yang kayak iklan di TV itu ya Kak?ÔÇØ

Iya Gimana sayang? Tito suka?

Suka banget Kak. Tapi lain kali Tito pengen ngerasain bau memek Kakak kalo nggak pake pembersih, kayak Ibu waktu itu, ucapku gamblang. Aku sudah tak sungkan lagi berkata vulgar padanya.

Hehe Gitu ya? Iya deh, nanti Kakak kasih Nih, Tito pegang sendiri celana dalamnya. Ciumin terus ya Hihi, katanya mengiyakan permintaanku dan kemudian menyerahkan celana dalamnya untuk kuciumi. Aku dengan setia melakukannya sementara Kak Dina dengan bebas mempermainkan puting dadaku dengan jari-jarinya yang nakal.

Aduh Kak Geli. Jangan digelitikin dong Kak Tubuhku bergetar geli karena gelitikannya di puting dadaku. Tapi Kak Dina malah meneruskannya tanpa menghiraukan kata-kataku.

Rasain! Sekarang giliran Kakak yang gelitikin nenennya Tito Hihihi Dia semakin bersemangat menggelitik puting dadaku bergantian, kanan dan kiri. Sementara paha kanannya di bawah sana menggesek-gesek paha kananku naik turun hingga sesekali menyentuh buah zakarku.

ÔÇ£AhhhÔǪ HuuffÔǪ UkhhÔǪ AhhÔǪ Bau memeknya Kakak enak KakÔǪ HihiÔǪ AkhhÔǪ Geli KakÔǪ HmmffhhÔǪ AhhhÔǪ Paha Kakak halus banget KakÔǪ,ÔÇØ aku meracau tak tentu arah. Kenikmatan datang dari segala arah. Dari atas, tengah, dan bawah tubuhku. Tak lama kemudian Kak Dina juga sepertinya menjadi ÔÇÿpanasÔÇÖ karena permainannya sendiri.

Enak sayang? Ahhh Sini tangannya sayanghh Kakak udahnggak tahan Shhh, Kak Dina berbicara terengah-engah karena nafsu yang sudah menguasainya. Aku terkejut ketika dia mengambil tangan kananku dan meletakkannya di tempat yang basah, hangat dan terjepit.

Kulihat tanganku sudah berada di vaginanya. Aku menyingkirkan sejenak celana dalamnya dari wajahku dan menoleh ke arahnya. Kakak

Nafas Kak Dina terdengar menderu menerpa bibirku dan kelopak matanya hanya terbuka setengahnya. Kak Dina mengelus pipiku dan berkata, Shhh Tito sayang Hhh Tito mainin memek Kak Dina yahh Biar Kakak mainin burungnya Tito Shhh Bikin Kakak kejang-kejang sampe lemas kayak Ibu ya sayangg

Kak Dina kemudian mengelus kedua buah zakarku dengan lembut dengan tangan kanannya. Aku yang benar-benar tersentak dan kaget langsung terserang hawa panas seketika. Aku hanya mengangguk mengiyakan permintaannya. Ketika dia sudah mengelusi buah zakarku, aku pun tak tinggal diam dengan memulai menggesek-gesek vaginanya dengan jariku. Aku meniru segala yang dilakukan tangan Ibu ketika memuaskan dirinya sendiri malam itu.

Ahhh Iyaa sayangghh Kayak gituhh Ooouhh Shhh Adek pinter banget sayaaanngg Ooohh Yaaahh Mmmhh Ahh! Ciumin lagi celana dalam Kakak sayaangg Buruan Ohhh Kakak mau liat Dekk Shhh Kak Dina langsung tenggelam dalam nafsunya. Tangannya juga tiba-tiba beralih ke penisku dan mengurutnya naik turun dengan lembut. Hal itu membuatku langsung bereaksi mematuhi perintahnya.

Ahh Iya Kak Tito lagi ciumin celana dalam Kakak yang wangi Hmmmffhh Ahhh Kak! Burungnya Tito enak banget Kak Heekkhh Aghh Memek Kak Dina wangi bangettt Ahhh! aku ikut-ikutan meracau sambil menciumi celana dalamnya. Sentuhan tangannya yang halus di penisku benar-benar luar biasa.

Tubuhku kembali merasa seperti terserang demam sebagaimana ketika bersama Ibu malam itu. Aku menggigil seperti kedinginan. Tapi aku nikmati saja karena ini adalah efek syahwat yang sedang menanjak, bukan gejala penyakit. Aku tahu ini akan berujung pada ÔÇÿkencing enakÔÇÖ yang luar biasa nikmat seperti kala itu dan air maniku akan menyemprot dengan dahsyat. Aku benar-benar tak sabar ingin menikmati saat-saat dimana aku dan Kak Dina merasakan kenikmatan itu bersama-sama.

Ohh Shhh Kakak juga enakk sayaaangg Emmhh Memek Kakak makin basahhh Dekk Shhh Ahhh Mmmhhh Ohhh Teruss sayaangg, Kak Dina melenguh dan mendesah semakin gencar karena aku menggesek dan menekan-nekan vaginanya persis seperti yang Ibu lakukan waktu itu.

Kak Dina kemudian mengganti posisinya dari menyamping menjadi telentang sepertiku. Tangan kanannya yang tadi digunakannya untuk mengocok penisku, kini digantikannya dengan tangan kirinya. Sementara tangan kanannya digunakannya untuk meraba-raba dan meremas kedua buah dadanya. Dia juga mengangkangkan pahanya yang putih mulus itu agar vaginanya mendapatkan tekanan dan gesekan yang lebih bebas dari jari-jari tanganku.

Tubuh kami sudah mulai menggeliat karena rangsangan yang luar biasa, terutama Kak Dina. Selama kami mempermainkan kemaluan, kami juga saling menoleh dan memperhatikan wajah kami satu sama lain. Kami berdua mengekspresikan dan mendeskripsikan apa yang sedang kami rasakan. Baik itu berupa lenguhan, desahan, atau racauan.

Aaahhh Sayaaangg Shhh Enak banget Deeekk Uuhhh Enak nggak kontolnya Kakak kocokin gini sayaaang?

Iya Kakk Engghh Tangan Kakak halus Kak Ahh Enakk Hmmhh Memeknya Kakak Hhh enak juga nggak, Tito giniin?

Iyyaahh sayaangghh Sshhh Enakk bangett Shhh Kakak Emmhh Udah lama pengen kayak ginihh sama TitoOoohh. Shh

Ahh Iya Kakk Sama Egghh Tito juga udah lama suka sama Kak Dina Ahh Engghh Aku merasa semakin nikmat karena Kak Dina sedikit menaikkan tempo kocokannya. Aku juga tak mau kalah. Aku juga semakin hebat menggesek dan menekan-nekan vaginanya.

Aduhhh Sayaaangg Shhh Oouuhh Memek Kakak makin enak sayaangg Ahh! Yaahh! erang Kak Dina yang ternyata merasa semakin nikmat dengan perlakuan jari-jari tanganku.

Kami menggeliat-geliat tak tentu arah. Celana dalam Kak Dina sudah kuletakkan begitu saja di atas perutku. Nafas kami yang panas dan menderu sudah saling menerpa wajah kami satu sama lain. Sesekali Kak Dina menciumi bibirku dan kubalas dengan ciuman penuh nafsu. Kami berdua benar-benar dalam keadaan yang sudah terombang-ambing. Wajahku terasa sangat panas dan kemaluanku sudah mulai merasakan rasa geli nikmat yang merupakan pertanda bahwa sebentar lagi aku akan mengeluarkan seluruh beban nafsuku.

Emmhh Ahhh Titooo Shhh Tito suka sama Ibu ya sayaangg?

Eghh Ahhh Iya Kak Tito suka banget sama Ibu

Terusss Shhh Kalo Ibu telanjang, Ahh Tito mau apain dia sayang? Ohh iyaa Tito! Gesek terus sayaangg Ohh! Kak Dina mulai menjerit. Sepertinya nafsunya juga sedang menggelegak.

Tito Ahhh Mau ciumin Ibu Kak! Tito mauu Ekkhh Mau remes-remes teteknya Kakk! Aduhh Kak! aku merasa sangat nikmat karena Kak Dina juga mempercepat kocokannya. Tubuhku bergetar dan gelisah menahan nafsuku yang sudah di ubun-ubun membayangkan Ibu yang telanjang sementara Kak Dina di sini juga sedang telanjang dan mengocok kemaluanku.

Oohhh Teruss Tito mau apain dia lagi. Shhh sayaaangg? Ahh Ooohh yaaahhh Titoo! Enak banget sayangg! Aahh Teruss Dekk! jerit Kak Dina. Pinggulnya yang seksi memberontak kesana-kemari dan tangannya mengocok penisku begitu cepat. Rasa menggigilku langsung menjalar hebat di sekujur tubuhku.

Ahhh! Tito mau ngentot sama Ibu Kaakkk! Egghh! Tito mau masukin kontolnya Tito ke memek Ibu Kak! Ahhh Ahhh Ahhh Kak Dina! Tito mau ngentotin Ibu sama Kak Dina! Aaahh Kak! Enaakk! Aahhh geli banget Kak! Kontolnyaa Titoo Mau kenciingg Kaakk! jeritku. Tubuhku tersentak-sentak tak karuan merasakan geli yang luar biasa di kemaluanku.

Aaahh! Iyyaaa Dekk! Kencing aja sayaanngg! Keluarin pejunya sayaaangg! Oohhh Ohhh Akkhh! Kakak juga mau dientotin Tito sayaaangg! Ooouhh! Aaahhh! Kak Dina juga menjerit-jerit tak kuasa menahan syahwatnya. Aku yang mendengar suara jeritan seksinya itu langsung melampiaskan puncak nafsuku setinggi-tingginya dan menggesek-gesek vaginanya sekeras mungkin.

ÔÇ£CrroootttÔǪ CrroootttÔǪ CrroootttÔǪ Creeett… Crett…ÔÇØ Air maniku menyemprot sekencang-kencangnya hingga terpancar tinggi sampai ke dadaku. Mataku hampir tertutup karena nikmatnya. Aku sempat melihat mata Kak Dina yang menatap begitu nanar saat aku terkejang-kejang dan air maniku menyembur hebat. Pemandangan itu pulalah yang kemudian membuatnya menjerit lepas.

Oooohhh sayaaangg! Ngecrotnya seksi banget saayyaaangg! Aaahhhh! Kakak keluaaarr! Kakak juga keluaarr sayaaang! Aaaaahhhh Aahhhh Aaaahhhh! Enaakk bangett sayaangghh! Ooohhh yyaaahh! Ooouuuhhhh! Kak Dina berteriak dan langsung memegang tangan kananku dengan tangan kanannya untuk membantu menggilas vaginanya. Kak Dina juga merapatkan kedua kakinya menjepit tanganku dan tangannya sendiri.

Pantat Kak Dina menghentak-hentak dan menghempas naik turun mengguncang ranjang yang kami tiduri. Jari-jari tanganku dapat merasakan vagina Kak Dina yang berkedut-kedut dan mengeluarkan cairan hangat di setiap hentakannya. Kami berdua saling menatap dengan pandangan sayu karena terbakar nafsu, sementara pinggul kami masing-masing seperti bergerak sendiri sesuai keinginannya.

Lebih dari semenit kami menikmati orgasme itu hingga menyisakan hanya sentakan-sentakan kecil sesekali sebagai penutup. Kami berdua terbaring lemah dengan nafas tersengal-sengal di atas ranjang. Kelopak mata Kak Dina bahkan hampir tertutup karena keletihan. Tangan kananku masih bertahan di atas vagina Kak Dina, begitu pula tangan kiri Kak Dina yang masih setia menggenggam pangkal penisku yang masih saja menegang.

Tak lama kemudian staminaku bangkit kembali diikuti Kak Dina yang sudah mulai membuka matanya. Dia lalu tersenyum padaku dan mencium bibirku mesra. Kubalas ciumannya sebaik-baiknya. Ketika bibir kami lepas, Kak Dina menatap lucu sekujur tubuhku yang sudah diguyur air maniku sendiri. Bahkan celana dalamnya yang di atas perutku ikut terkena ÔÇÿmuntahanÔÇÖ kemaluanku itu.

ÔÇ£Pejunya Tito banyak banget sayang?ÔÇØ ucap Kak Dina sambil melepaskan tangannya dari penisku. Kak Dina lalu membaui air maniku yang juga berceceran di tangan kirinya.

Hmm Wangi banget lagi, sambung Kak Dina. Dia mengendusi cairanku itu seperti sedang merasakan aroma minyak wangi.

Tiba-tiba dia mencaplok begitu saja ceceran air maniku itu dengan bibirnya, disedotnya, dan ditelannya dengan rakus dalam sekejap. Aku hanya tercengang melihatnya melakukan itu. Nafsuku sepertinya bangkit kembali.

ÔÇ£Maninya Tito kok dimakan Kak?ÔÇØ tanyaku.

Kakak nafsu banget liatnya sayang Ya Kakak telan aja. Hehe Tito juga boleh kok ngerasain punyanya Kakak Masa dari tadi nempel terus di situ Hihihi, candanya sambil melirik tanganku yang masih betah menempel di vaginanya. Aku pun tertawa kecil karena tersadar akan perbuatanku.

Kutarik tanganku dari vaginanya dan melihat cairan yang dari tadi sudah bersarang di tanganku. Ternyata Kak Dina juga mengeluarkan cairan sepertiku dari vaginanya. Namun milikku berwarna lebih putih. Kuperhatikan dengan saksama jari-jari tangan kananku yang sudah belepotan cairan bening.

Hihi Kenapa sayang? Belum pernah liat pejunya perempuan ya? tegurnya.

ÔÇ£Peju Kak? Peju itu air mani kan Kak?ÔÇØ tanyaku memastikan.

Iya Tito baru pertama kali liat yang kayak ini? Atau Tito udah pernah liat pejunya Ibu? Hihihi, selorohnya.

ÔÇ£Belum sih Kak. Tapi waktu kejadian sama Ibu waktu itu, Ibu sempat ngolesin ininya ke mukanya Tito,ÔÇØ beberku.

ÔÇ£Hah!? Yang bener Dek?ÔÇØ Kak Dina kelihatan cukup terkejut. Aku mengangguk saja.

Burungnya Tito juga pernah dikocokin Ibu lho Kak, kayak Kakak tadi, tandasku dengan tangan basah yang masih terangkat, penuh dengan cairan kewanitaan Kak Dina.

Hah!? Tito juga pernah dikocokin Ibu sayang? Astaga Ibu kok jadi nakal begitu sih Dek? mata Kak Dina memandangiku berbinar-binar sambil tersenyum.

Hehe Nggak tau Kak, jawabku singkat sambil terkekeh. Kak Dina pun ikut-ikutan tertawa.

Melihat wajah Kak Dina yang begitu dekat dan tertawa bersamaku, aku jadi terdorong ingin merasakan air maninya yang ada di tanganku. Sambil berhadapan dengan wajahnya, kutempelkan begitu saja tanganku ke wajahku dan mengendus aromanya dalam-dalam. Kak Dina langsung menggantikan tawanya dengan senyum nakal. Aku yang sudah kepalang tanggung ingin merasakannya, langsung mengoleskan seluruh cairan itu ke bibir dan hidungku. Aku juga menjilat-jilat dan mengecupinya dengan rakus.

Nafsuku memang sudah bangkit lagi dari tadi. Kemaluanku yang tegang dan mengeras adalah bukti nyata bahwa hasratku pada Kak Dina masih belum terselesaikan. Bagaimana tidak? Kak Dina masih telanjang dan kini berbaring menyamping lagi menghadap ke arahku. Kedua buah dadanya seakan terus-menerus memancing nafsuku untuk keluar. Kak Dina yang melihat tingkahku menjilati cairannya itu juga sepertinya lambat laun ÔÇÿmemanasÔÇÖ lagi. Terlihat dari tatapannya padaku yang begitu nakal.

ÔÇ£Gimana rasanya sayang? Enak?ÔÇØ tanya Kak Dina dengan wajah dan senyum menggoda ketika aku selesai melakukannya.

Hmm Iya Kak, Enak, jawabku. Lidahku masih mengecap-ngecap dan menjilati permukaan bibirku yang terasa aneh dan lengket.

Hihihi Enak kok lucu banget mukanya sayang? Kayak terpaksa gitu, ujar Kak Dina sambil tertawa. Aku pun ikut-ikutan tertawa karena ulahku sendiri.

Berikutnya Kak Dina menopang kepalanya santai dengan tangan kirinya, dan mengambil celana dalamnya yang teronggok di atas perutku. Disekanya seluruh ceceran air maniku yang ada di atas perut dan dadaku dengan celana dalamnya itu. Setelah bersih, dia lalu mengendus dan menciumi celana dalamnya itu sejenak sebelum di letakkan begitu saja di antara tubuh kami berdua. Aku suka sekali melihat wajah cantiknya yang sedang dikendalikan oleh nafsu.

Setetes keringat tiba-tiba mengalir di pelipisku. Kak Dina langsung menanggapinya dengan mengambil tanktop-nya tadi dan menyeka seluruh bulir-bulir keringat yang menghiasi wajahku berikut bagian leher dan dadaku. Setelah itu dia juga mengelap keringatnya sendiri dan meletakkan tanktop-nya di belakangnya. Senyuman manis kembali tersungging di wajahnya. Aku betul-betul beruntung punya Kakak seperti dirinya.

Dek, ngomong-ngomong selain dikocokin, Tito pernah diapain lagi sama Ibu? tanya Kak Dina membuka obrolan lagi. Masih dengan gaya santainya. Sikut yang menekuk di atas bantal dan tangan kiri yang menopang kepalanya.

Emm Nggak ada lagi tuh Kak. Cuma itu aja, jawabku sekenanya. Kak Dina pun mengangguk mafhum.

ÔÇ£Tapi Dek, menurut Kakak kayaknya Ibu udah ada nafsu tuh sama Tito,ÔÇØ ujar Kak Dina agak berbisik.

ÔÇ£Ah, masa sih Kak?ÔÇØ sahutku tak percaya.

ÔÇ£Coba pikir deh, masa Ibu waktu mainin memeknya nyebut-nyebut nama Tito? Terus dia sampe bela-belain mau ngocokin burungnya Tito? Apa coba kalo nggak nafsu?ÔÇØ cecarnya.

Iya juga ya Kak Tapi katanya waktu itu Tito cuma diajarin ngocok aja kok Kak. Cuma ngebantu aja. Terus kata Ibu itu yang terakhir, kataku mengingat-ingat.

ÔÇ£Oh, gitu ya? HeheÔǪ Iya juga sih, bisa aja cuma dibantuin. Tapi kalo menurut Kakak sih DekÔǪ Ibu ituÔǪ mau lho, kalo Tito ajakinÔǪ ngentotÔǪ,ÔÇØ ujar Kak Dina dengan suara yang semakin rendah. Wajahnya benar-benar nakal ketika memikirkan Ibu seperti itu. Aku tiba-tiba jadi merinding ketika dia mengucapkan kata ÔÇÿpornoÔÇÖ tersebut. Tapi aku buru-buru menahan gejolak nafsuku dan mencoba lebih tenang.

Ah, Kakak Nggak mungkin lah Tito mau ngajakin Ibu kayak gitu. Tito kan anak baik-baik Kak. Bukan anak yang kurang ajar sama Ibu, elakku.

Hihi Iya iya Kakak percaya kok sama Adek Kakak yang ganteng dan baik ini, katanya sembari mengacak-acak rambutku. Aku pura-pura merajuk dengan merengutkan wajahku.

Idiihh Adeknya Kakak pake ngambek-ngambek segala nih! Ngambek nih yee Ngambek nih yee, Kak Dina yang tahu bahwa aku sedang berpura-pura langsung menggodaku sambil menggelitik rusuk telanjangku. Aku pun tak tahan juga dibuatnya.

Ahh! Kakak! Hahaha Geli Kak! Hihi Kak! Udah! aku tertawa geli dan tubuhku menggeliat-geliat seperti ulat. Tapi akhirnya Kak Dina melepaskan tangannya juga.

ÔÇ£Jangan ngambek-ngambek sama Kakak ya. Awas lho! Kakak gelitikin lagi ntar,ÔÇØ ancam Kak Dina sambil tersenyum menang.

Hehehe Iya Kak, kataku singkat dengan sedikit menyisakan tawa-tawa geli. Kak Dina yang masih tersenyum kulihat melirik-lirik genit ke arah kemaluanku.

Dek? Burungnya kok tegang terus sih sayang? Kakak jadi geli liatnya. Hihi, ucap Kak Dina yang tetap tak bisa menghilangkan sikap genitnya yang persis seperti Ibu.

Aku refleks sedikit menutupi kemaluanku dengan tangan kiriku karena malu. Hehe Iya nih Kak. Abisnya Tito nggak tahan sih liat Kakak. Udah cantik, seksi lagi Hehe

Iiihh Makin bisa ya ngerayu Kakak? Kakak gelitikin lagi nih! Kak Dina tiba-tiba menggelitik bagian bawah penisku dengan jari-jari tangannya yang lembut. Aku langsung tersentak dan penisku langsung membengkak ke titik maksimal dalam sekejap. Aku pun menggeliat untuk kesekian kalinya karena rasa geli yang berbeda dari yang tadi.

ÔÇ£AduhhÔǪ Kak! Geli banget Kak! JanganÔǪ Udah Kak, ampunÔǪ EghhÔǪ,ÔÇØ aku tercekat dari ÔÇÿderitaÔÇÖ yang tak tertahankan itu. Kak Dina kemudian berbaik hati dan melepaskan jari-jari nakalnya.

Hihi Makin tegang Dek. Burungnya Tito kok bisa segini sih sayang? tanya Kak Dina yang begitu memperhatikan ukuran penisku.

Iya nih Kak. Kayaknya punya Tito emang kebesaran deh. Tito jadi malu nih Jelek ya Kak? ucapku minder sambil menutupi kemaluanku dengan kedua tanganku.

Lho, jangan ditutupin sayang! Kakak malah makin suka kalo ukuran burungnya Tito sebesar ini. Jadi jangan malu Kan udah Kakak bilang jangan malu-malu sama Kakak, ingat kan? ujar Kak Dina memotivasi. Dilepaskannya kedua tanganku yang menutupi kemaluanku dengan lemah lembut. Aku pun menurutinya dengan patuh.

Nah, gitu dong. Gitu baru Adeknya Kak Dina, Kak Dina kembali memberi semangat. Aku akhirnya tak malu-malu lagi mengangkat wajah dan tersenyum padanya.

Sekejap kemudian Kak Dina kembali memperhatikan kemaluanku. Ngomong-ngomong burungnya Tito kok bisa segini ya Dek? Ini lebih gede lho, dari anak-anak seumuran Tito. Anak SD sih mana ada yang segini. Ini udah kayak punya orang dewasa sayang

ÔÇ£Kakak kalo nggak salah tadi bilang gitu juga deh. Kakak tau dari mana sih kalo anak SD yang seumuran Tito nggak ada yang segini ukuran burungnya? Emangnya Kakak pernah liat?ÔÇØ cecarku.

Pernah kok Kakak pernah liat, ucapnya yakin.

ÔÇ£Hah!? Kakak pernah liat? Ihh! Kakak ngintip ya?ÔÇØ

Hihi Nggak ngintip kok sayang.

ÔÇ£Lho? Kalo nggak ngintip gimana Kakak bisa tau?ÔÇØ tanyaku tak mengerti.

Hmm Mau Kakak ceritain nggak?

Mau dong Kak! Tito penasaran nih, pintaku mendesaknya.

Ya udah Tapi

ÔÇ£Tapi apa lagi sih Kak?ÔÇØ

Kak Dina menunjuk bibirnya sendiri dengan telunjuknya dan berkata mesra, Cium Kakak dulu dong

Kakak angkatku ini benar-benar pandai membuatku berbunga-bunga. Aku yang sedari tadi memang sudah cukup sering berciuman dengannya tanpa ada rasa gugup lagi menyetujui ÔÇÿpersyaratanÔÇÖ konyolnya itu.

Kak Dina sudah menadahkan kepalanya dan menutup matanya. Posisi kepalanya yang lebih tinggi dari kepalaku membuatku terpaksa sedikit bangkit dari pembaringanku. Lalu dengan penuh perasaan seperti di ruang tamu tadi, aku mendaratkan bibirku ke bibirnya.

Mmmuuaaahhh, Aku menciumnya mesra dan cukup lama. Ketika kulepaskan bibirku, Kak Dina masih saja terpejam dan bibirnya sedikit terbuka seolah menikmati ciumanku barusan.

Udah Kak Cerita dong, ucapku yang kembali meletakkan kepalaku di bantal. Kak Dina kemudian tersenyum dan membuka matanya.

Hmm Ciumannya kok mesra banget ya? Ini Adeknya Kakak apa pacar Kakak sih? Hihihi, Kak Dina mulai menggodaku.

Isshh Kakak! Kok malah godain Tito sih!? Cerita dong, rengekku manja.

Hehehe Iya Adikku sayang Kakak bakal cerita kok, katanya sambil menowel-nowel hidungku.

Ya udah dong Kak, cepetan ceritanya. Ntar Tito cubit nih ininya Kakak Aku membalasnya dengan menowel-nowel puting dada kanannya.

Eh! Tito nakal banget sih! Hihi Iya iya Kakak cerita nih Kak Dina menyingkirkan tanganku dan mulai serius. Kemudian dia tampak berpikir.

Mmm Oke. Jadi ceritanya gini, Kak Dina pun mulai menceritakan pengalamannya.

***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*