Home » Cerita Seks Mama Anak » Ibuku Cintaku Dan Dukaku 12

Ibuku Cintaku Dan Dukaku 12

Aku dan Bu Dina naik angkot ke arah kota. Di dalam angkot hanya ada satu orang penumpang saja selain kami berdua. Kami sempat melewati toko Bu Aini yang letaknya tak begitu jauh setelah pasar tradisional tempat kami berjualan gorengan. Aku sempat melihat Bu Aini yang sedang mengatur kulinya untuk mengangkat karung-karung beras ke dalam toko. Demi melihat Bu Aini yang hanya sekilas itu, bibirku kembali menyunggingkan senyum.

ÔÇ£Itu Ibunya Rama kan?ÔÇØ tanya Bu Dina yang duduk di sebelahku. Aku cukup kaget juga dengan reaksi Bu Dina yang ternyata sama-sama sedang melihat apa yang kulihat.

Eh, IIya Bu, jawabku terbata-bata.

Ibu heran banget deh To Ibunya kalian berdua itu kok cantik-cantik banget sih? puji Bu Dina yang tak habis pikir.

Hehe Ah, Ibu bisa aja Memang gitu kok Bu dari sononya. Aku merasa bangga juga dengan pujiannya terhadap Ibuku.

ÔÇ£Iya tuh, Ibu kagum banget sama Ibunya kalian yang jago banget ngerawat kecantikannya. Umur Ibunya Tito berapa sih?ÔÇØ tanya Bu Dina lagi.

ÔÇ£Ibunya Tito sih, kalo nggak salah 32 tahun Bu,ÔÇØ beberku.

ÔÇ£Terus, Ibunya Rama?ÔÇØ sambungnya.

ÔÇ£Ibunya Rama 33 tahun kayaknya Bu. Yang Tito tau Ibunya Tito sama Ibunya Rama bedanya hampir setahun Bu,ÔÇØ paparku.

Ooo gitu ya. Wah, nggak bisa bilang apa-apa deh Ibu. Ibu yang masih 28 tahun aja kalah cantik sama Ibunya kalian, katanya merendah.

ÔÇ£Ibu nggak pernah ngaca ya? Liat baik-baik dong Bu! Ibu itu sama cantiknya! Ibu pura-pura bego atau emang bego sih!?ÔÇØ cercaku dalam hati. Tapi aku hanya nyengir menanggapinya.

Setelah 15 menit perjalanan, penumpang semakin banyak. Angkot yang kami naiki berbelok ke kiri dari sebuah simpang empat yang ada di kota. Setelah kurang lebih satu kilometer jarak angkot yang kami naiki dari persimpangan, Bu Dina berteriak berhenti.

ÔÇ£Kiri Bang!ÔÇØ teriaknya. Mobil angkot kami pun berhenti dan kami berdua bergegas turun.

Belum habis deru mesin mobil angkot tadi dari telingaku, Bu Dina langsung memegang tanganku dan mengajak berjalan. Agak malu juga aku dibuatnya. Tinggiku sudah sedikit lagi menyamainya, tapi dia tak risih menuntunku bagaikan anaknya. Kalau kuukur-ukur tinggi Bu Dina memang sama dengan tinggi Ibu. Tapi tinggi Bu Aini sedikit lebih tinggi lagi dari mereka berdua.

Yang kuperhatikan sekarang adalah lingkungan perumahan yang cukup sepi. Kebanyakan rumah di sini adalah rumah gandeng atau bisa dibilang semacam komplek perumahan. Ada juga semacam kost-kostan yang terdiri dari pintu yang berderet dalam satu rumah yang panjang.

ÔÇ£Di sini kok sepi Bu? Padahal rumahnya lumayan banyak,ÔÇØ aku membuka obrolan.

ÔÇ£Di sini itu kebanyakan rumah kontrakan sama kost. Terus yang tinggal di sini kebanyakan orang yang udah kerja, jadi jam-jam segini ya memang sepi.ÔÇØ

ÔÇ£Oh, gitu ya Bu. Terus rumah Ibu yang mana?ÔÇØ

ÔÇ£Rumah Ibu agak ke dalam lagi. Bentar lagi nyampe kok,ÔÇØ ujarnya.

Kurang lebih tiga menit kami berjalan, aku dan Bu Dina berbelok ke sebuah gang. Lebih tepatnya sebuah jalan yang ujungnya ada dua buah rumah yang berdempet jadi satu. Dari bentuknya, sepertinya itu adalah rumah kontrakan. Untuk memasuki rumah itu, seseorang harus membuka pagar besi yang jaraknya sekitar 20 meter dari rumah itu sendiri. Bisa dibilang pagar besi itu merupakan penutup gang menuju rumah tersebut.

Kami sudah sampai di depan sepasang pagar besi yang digembok di tengahnya. Tinggi bagian tengah ornamen pagar besi yang melancip itu kuperkirakan mencapai dua meter. Bu Dina membuka tas jinjingnya untuk mengambil sebuah kunci, dan kemudian membuka gembok tersebut. Setelah terbuka, kami berdua masuk ke dalam dan Bu Dina kembali mengunci pagar.

Ketika sudah sampai di halaman rumah tersebut, Bu Dina berjalan mengarah ke rumah yang kiri. Ketika mencapai teras, mataku tertuju pada jemuran pakaian yang ada di sebelah kiri rumahnya. Ada seragam PNS Bu Dina yang terjemur di situ. Namun perhatianku bukanlah ke situ, melainkan pada sejumlah pakaian dalam wanita yang cukup banyak terjemur di dekat seragam dan pakaiannya yang lain. Warna dan modelnya benar-benar seksi.

ÔÇ£Hehh! Lagi liatin apa?ÔÇØ sergah Bu Dina mengagetkanku. Pintu rumahnya sudah terbuka dari tadi dan dia sudah membuka sepatu pansusnya.

Oh, Ngg Nggak Bu! Nggak apa-apa, jawabku panik.

Dia melihat kemana arahku melihat tadi, lalu tersenyum sambil melirikku. Aku tertunduk malu.

ÔÇ£Yuk masuk!ÔÇØ ajaknya ke dalam.

Iya Bu Aku mengangguk tapi tak berani melihat wajahnya. Aku benar-benar malu karena tertangkap basah sedang melihat pakaian dalam perempuan yang dijemur.

Sesampainya di dalam, Bu Dina menyuruhku untuk duduk di kursi yang ada di ruang tamu, ÔÇ£Tito duduk sini dulu ya. Biar Ibu ambilin naskah soalnya.ÔÇØ

ÔÇ£Iya Bu,ÔÇØ jawabku. Bu Dina pun berjalan ke belakang untuk masuk ke kamarnya.

Sesaat kemudian Bu Dina kembali lagi ke depan membawa beberapa lembar kertas yang bagian luarnya berwarna kuning. Nih soalnya To Hari ini kita pelajari yang Matematika dulu ya Yang lainnya bisa kita pelajari besok-besok.

ÔÇ£Oh, iya Bu.ÔÇØ Aku mengangguk. Kuterima naskah soal latihan itu dan melihat-melihat isinya sekilas. Di dalamnya memang tersaji semua soal latihan yang akan diujiankan nantinya.

Ibu mau ganti baju dulu nih, abis itu masak. Tito belajar sendiri dulu ya Nanti abis makan baru Ibu periksa hasilnya, ujarnya.

ÔÇ£Iya Bu,ÔÇØ jawabku mantap.

Bu Dina sudah akan berjalan ke belakang ketika sesuatu terlintas di pikirannya. ÔÇ£Oh, iya! Satu lagi! Ibu udah tandai soal-soal yang mana aja yang mesti dikerjakan di naskahnya. Karena kalo soal-soal selain itu menurut Ibu Tito bisa ngerjainnya. Jadi Ibu pilihin yang mana yang sulit aja biar hemat waktu.ÔÇØ

Kubalik-balik halaman yang menampilkan soal-soal Matematika, dan aku memang melihat ada nomor-nomor yang dilingkari di sana. ÔÇ£Iya Bu! Tito udah liat tandanya.ÔÇØ

ÔÇ£Ya udah, Ibu tinggal dulu ya.ÔÇØ

Iya Bu Aku mengangguk pasti dan melepas kepergiannya ke belakang.

Aku yang dalam keadaan semangat tinggi, kemudian mengeluarkan pulpen dan buku coret-coret yang biasa kugunakan untuk mengerjakan soal-soal Matematika. Kubuka soal pertama yang nomornya sudah dilingkari dan mulai menjalankan otakku.

Soal-soal yang ditandai Bu Dina memang hanya sepuluh soal, tapi tingkat kesulitannya memang yang tertinggi. Aku cukup lama juga berpikir di setiap soalnya. Bahkan sering juga jawabanku tak ada satupun yang cocok dengan salah satu jawaban di pilihan bergandanya. Tapi bukan Tito namanya kalau tak bisa menyelesaikan soal-soal Matematika seperti ini. Bagiku semakin sulit soalnya malah semakin menantangku. Apalagi aku harus bisa membuat Bu Dina terkesan dengan hasil belajarku.

Sudah setengah jam berlalu semenjak soal pertama kukerjakan. Saat ini aku sedang mengerjakan soal yang terakhir. Bu Dina di belakang sana dari tadi masih sibuk memasak. Konsentrasiku tidak lagi seratus persen karena mencium aroma harum masakan yang berasal dari dapur Bu Dina. Dari ruang tamu ini aku tak bisa melihat kegiatan Bu Dina di belakang sana, tapi aku bisa mencium kalau dia sedang memasak telur.

Beberapa menit kemudian tugasku selesai. Seluruh soal sudah kukerjakan. Tapi Bu Dina masih di belakang sana. Jadi sambil menunggu Bu Dina ke depan sini memeriksa hasil pekerjaanku, aku iseng melihat-lihat soal-soal pelajaran selain Matematika.

Namun baru saja aku melihat beberapa soal, Bu Dina sudah ke depan dan mengajakku makan. Aku yang tadinya menunduk melihat lembaran soal, langsung terhenyak melihat penampilan Bu Dina yang sedang berdiri di dekat lorong menuju dapur.

ÔÇ£Yuk, makan dulu! Udah Ibu masakin tuh!ÔÇØ ajak Bu Dina yang memakai atasan tanktop warna hitam ketat dipadukan dengan celana jeans mini ketat yang memperlihatkan pahanya yang padat dan mulus. Tanktop hitam itu jenis tanktop tali kecil yang memperlihatkan tali BH pemiliknya yang berwarna biru. Rambutnya digelungnya ke atas dan dikunci dengan jepit rambut memperlihatkan lehernya yang mulus.

ÔÇ£Oh, IÔǪ Iya BuÔǪÔÇØ Ketika Bu Dina berbalik menuju kembali ke dapur, aku menelan ludah berkali-kali dibarengi membetulkan posisi kemaluanku yang sudah menegang namun ÔÇÿsalah jalurÔÇÖ.

Ketika sampai di belakang, aku melihat beberapa masakan yang tersaji di atas meja makan. Cah Kangkung, telur dadar dan sambal udang sudah menemani dua piring nasi putih yang diletakkan berdekatan. Bu Dina sedang berdiri membelakangiku untuk mengambil air putih dari dispenser. Setelah diletakkannya dua gelas air putih yang diambilnya tadi ke atas meja makan, dia mengajakku untuk duduk dan mulai menikmati hidangan.

Aku baru mengerti alasan kenapa dua piring nasi putih itu diletakkan berdekatan. Itu karena Bu Dina ingin aku duduk berdampingan dengannya ketika makan. Bu Dina menggeser dua kursi merapat dan menyuruhku duduk di sebelahnya.

ÔÇ£Yuk duduk sini, makan bareng sama Ibu!ÔÇØ ajaknya sambil menepuk tempat duduk yang ada di sebelahnya.

ÔÇ£Oh, iya Bu!ÔÇØ sahutku yang masih malu-malu dan menjaga sikap.

ÔÇ£Udah, sini! Nggak usah grogi gitu.ÔÇØ Sambil duduk, ditariknya tanganku dengan sedikit paksaan untuk duduk di sebelahnya. Pantatku langsung terbanting ke kursi dan diiringinya dengan tawa.

Hihihi Maaf ya To! Abis Tito grogi amat sih! Diajak duduk aja susah Anggap aja rumah sendiri To, cecarnya.

Hehe Iya Bu, jawabku. Bagaimana bisa tenang? Di sampingku sekarang ada wanita dewasa cantik berpakaian seksi dan terbuka mengajakku makan bersama.

ÔÇ£Ya udah, nih Ibu ambilin kangkungnya dulu. Tito suka sambal?ÔÇØ cecarnya lagi sembari menyendokkan sayur kangkung ke piringku. Aku mengangguk saja menanggapi tawarannya.

Ketika semuanya sudah tersedia di piringku, dia mengajakku untuk mulai makan. Sejak pertama kali aku menyuapkan masakan Bu Dina itu ke mulutku, aku mulai rileks dan menikmati seluruh hidangan yang terus-terusan ditawarkannya untukku.

ÔÇ£Mau telurnya lagi? Ambil aja sayangÔǪÔÇØ Dia membantuku mengambilkan potongan telur dadar yang sejak tadi aku cukup sungkan untuk mengambilnya. Aku jadi kembali gugup ketika untuk pertama kalinya dia memanggilku ÔÇÿsayangÔÇÖ.

Kembali kulahap hidangan lezatnya. Sambil mengunyah aku penasaran untuk mencoba melihat paha mulusnya. Aku duduk agak mundur dan mulai melirik ke bawah tanpa sepengetahuannya. Saking terkejutnya akan pemandangan yang sempat kulihat, aku sampai tersedak dan terbatuk. Tanganku berupaya menahan mulutku agar makanan yang ada di mulutku tidak menyembur keluar. Bu Dina langsung panik melihat keadaanku dan mengambilkan air minumku yang ada di atas meja.

ÔÇ£Astaga! Tito kenapa Nak!? Pelan-pelan dong makannya!ÔÇØ Bu Dina mengelus-elus punggungku untuk meredakan perasaanku.

Nih, diminum dulu airnya Diminumkannya air minum itu padaku karena kedua tanganku penuh dengan ceceran bulir-bulir nasi yang tersembur dari mulutku tadi.

ÔÇ£Udah enakan?ÔÇØ tanyanya yang masih mengelus punggungku. Aku hanya mengangguk dengan nafas yang masih tersengal-sengal.

ÔÇ£Tangannya kotor tuh, sini Ibu cuciin di kamar mandi,ÔÇØ dia mengajakku berdiri dan berjalan ke kamar mandi. Tanganku menampung seperti orang yang sedang berdoa.

Ketika kami sudah di dalam kamar mandi, Bu Dina menciduk air dengan gayung. Disuruhnya aku membungkuk agar airnya tidak membasahi celanaku, lalu menyiramkannya perlahan ke kedua tanganku. Makanya kalo makan jangan buru-buru sayang Untung aja nggak masuk ke hidung. Kalo sempat masuk ke hidung sakit banget rasanya Apalagi kalo makan sambal

Dia menceramahiku panjang lebar selama menyiram dan membilas tanganku dengan sabun. Tapi perhatianku malah bukan pada kata-katanya, tetapi pada resleting celananya yang terbuka. Waktu berdiri mengajakku makan di depan tadi, resleting itu terlihat lurus ke bawah, jadi tak kelihatan kalau sebenarnya celananya itu sudah terbuka. Baru ketika makan tadi aku bisa melihatnya. Posisi Bu Dina yang sedang duduk tadi membuat bagian resleting celana jeans mini nan sempit itu merekah dan membuka seperti bunga yang sedang mekar, memperlihatkan isinya yang berupa celana dalam warna biru. Dan ketika membungkuk seperti ini resleting celana Bu Dina juga terbuka lagi dan menampakkan celana dalamnya lagi. Ditambah lagi buah dadanya yang bulat seperti menantangku dari balik tanktop-nya, membuat kemaluanku bereaksi keras.

ÔÇ£Pantesan aja makannya keselek kayak tadi, gara-gara celana Ibu ya?ÔÇØ ucap Bu Dina membuyarkan pandangan mesumku.

Eh, Ngg Nggak Bu Tito Itu Emm Aku yang terkejut jadi salah tingkah dan gugup. Aku merasa lebih malu daripada peristiwa di teras tadi.

Dimasukkannya gayungnya kembali ke dalam bak mandi dan menarik ke atas resleting celananya di hadapanku. Aku yang sudah salah tingkah hanya bisa menunduk tak berani menatapnya. Bu Dina membungkuk dan menatap wajahku yang tertunduk dengan senyuman.

ÔÇ£Murid Ibu nakal juga nih ternyata,ÔÇØ katanya sambil mencolek hidungku. Kulihat tidak ada kemarahan sedikitpun di raut wajahnya. Mengetahui hal itu, akupun membalas senyumnya malu-malu.

ÔÇ£Yuk, balik makan lagi!ÔÇØ ajaknya. Dipegangnya tanganku dan dituntunnya lagi ke meja makan untuk duduk di sebelahnya.

Setelah itu aku makan dengan ÔÇÿteraturÔÇÖ. Aku tak berani melirik-lirik ke bawah lagi karena Bu Dina sering sekali melihat ke arahku. Aku pun berperan menjadi ÔÇÿanak baikÔÇÖ hingga acara makan selesai. Ketika aku selesai makan, Bu Dina sempat mengelap sekitar bibirku yang sedikit berkilap karena minyak sambal. Senang sekali rasanya melihat wajah manisnya yang tertawa kecil sambil memberi perhatian seperti itu.

Bu Dina membereskan piring dan gelas yang kami pakai dan mengantarnya ke tempat cucian kotor. Sehabis itu dia meletakkan tudung saji di atas makanan tadi dan mengajakku ke ruang tamu. Namun baru saja kami ingin meninggalkan ruang belakang, terdengar pintu depan diketuk dan seseorang memanggil dari luar.

ÔÇ£Din!ÔÇØ jerit seorang wanita dari luar.

ÔÇ£Buka aja Vir! Nggak dikunci!ÔÇØ sahut Bu Dina. Aku yang tak tahu apa-apa hanya terdiam dan mengikuti Bu Dina yang menggandeng tanganku berjalan ke ruang tamu.

Kamu udah masak belum Din? Lapar nih! Ntar aku mau Wanita itu masuk ke dalam rumah dan menutup pintunya lagi sambil memainkan ponselnya. Ketika wanita itu melihat kami yang sudah ada di ruang tamu, kalimatnya terputus.

Dia nyengir melihat kami berdua. Disimpannya ponselnya ke dalam tas tangannya, lalu mendatangi kami dan berbicara pada Bu Dina dengan suara yang dipelankan. ÔÇ£Kalian ngapain? Ini anak siapa Din?ÔÇØ

Oh, Ini Tirto Abimanyu Jatmiko. Panggilannya Tito Ini dia murid kesayangan aku, ucap Bu Dina memperkenalkanku dengan bangga pada wanita yang berpakaian formal ini. Bu Dina menggandeng tanganku dan merapatku ke tubuhnya.

ÔÇ£Jadi ini yang namanya Tito?ÔÇØ wanita ini tersenyum lebar. Aku melirik wajah Bu Dina yang juga tersenyum padaku.

Astaga Ganteng banget Din? pujinya sambil membelai pipi kiriku. Aku hanya terdiam dan tersenyum tipis.

Jika kunilai dari sudut pandang ÔÇÿkelelakiankuÔÇÖ, wanita ini punya level setingkat di bawah Ibuku, Bu Aini, maupun Bu Dina. Tubuh bagian bawahnya memang lumayan ÔÇÿberisiÔÇÖ, terlihat dari ketatnya rok span selutut yang membentuk tubuh bagian bawahnya. Namun bagian dadanya sedang-sedang saja, tak sebusung milik Ibuku maupun Bu Aini. Aku bisa membandingkannya walau dia masih memakai kemeja kerjanya. Menurutku mungkin hanya mampu mendekati ukuran dada milik Bu Dina yang tak terlalu besar, namun penuh dan bulat menantang seperti yang terlihat dari tanktop-nya ini.

Dari segi wajah, wanita ini juga masih di bawah mereka bertiga. Walaupun wajahnya lumayan cantik juga dan dilengkapi rambut sepanjang Bu Dina, tapi masih belum mampu menaikkan hasratku secara spontan seperti ketiga wanita pujaanku itu. Kulitnya juga tak seputih milik mereka bertiga. Ibuku dan Bu Dina punya kulit kuning langsat yang begitu cerah, halus dan mulus seperti pualam. Bisa juga dibilang putih langsat. Sementara Bu Aini bahkan lebih putih lagi. Mirip seperti personil Girlband maupun Boyband K-Pop yang sering kulihat di TV.

ÔÇ£Tito mau nggak, jadi pacar Kakak?ÔÇØ tanya wanita ini. Aku tercengang mendengar kata-katanya.

ÔÇ£Husss! Kamu ini ada-ada aja Vir. Masa datang-datang udah main nembak aja. Tuh, makanan udah aku siapin di belakang! Kamu bilang tadi mau makan, kan?ÔÇØ omel Bu Dina.

Aduh Din Aku jadi nggak selera makan nih kayaknya. Abis Liat nih! Ganteng banget! puja wanita ini yang kini membelai kedua pipiku. Aku membiarkan saja tingkahnya itu.

Eh! Udah dulu ya Kak Vira Tito mau belajar dulu nih. Kak Vira makan dulu sana! ucap Bu Dina sambil menepis kedua tangan wanita ini dari pipiku. Bu Dina berbicara seolah mewakiliku yang dari tadi hanya bisa tercengang dan terdiam.

Hihihi Gitu amat sih kamu Din. Kayak aku nggak pernah bagi-bagi aja, katanya.

ÔÇ£Husss! Udah sana makan! Nih anak ke sini buat belajar! Bukan buat kamu pacarin!ÔÇØ repet Bu Dina padanya. Aku masih terdiam dan mengikuti tangan Bu Dina yang menggandengku ke kursi tamu. Bu Dina menyuruhku untuk duduk bersebelahan dengannya.

Namun saat kami sudah duduk, wanita itu masih berdiri di tempat sebelumnya dan senyum-senyum pada kami. Kulihat Bu Dina pun akhirnya tak bisa menahan senyumnya dan dengan kesal menyuruhnya untuk ke belakang.

Vir, ucap Bu Dina tersenyum. Tapi aku tetap merasakan kekesalannya dari nada suaranya.

Oh, iya iya Maaf ya Bu Guru Dadahh Tito, sebelum dia beranjak ke belakang dia masih sempat menyindir Bu Dina.

ÔÇ£Bu, yang tadi itu siapa?ÔÇØ tanyaku pada Bu Dina yang senyumnya belum hilang karena kelakar wanita itu.

ÔÇ£Oh, Kakak itu namanya Elvira. Ibu sama dia tinggal berdua di sini. Sebenarnya dia dulu tinggal sendiri di sini, tapi semenjak dia tau Ibu lagi cari kontrakan di sini, dia nawarin buat tinggal sama-sama aja biar ongkos sewanya lebih hemat,ÔÇØ papar Bu Dina.

Ooo Emm Kak Vira itu seumuran ya, sama Ibu? tanyaku.

Hehe Dia itu baru 27 Sekitar dua bulan lagi baru 28 tahun. Tapi Ibu anggap aja dia itu udah seumuran sama Ibu, imbuhnya.

Ooo Aku mengangguk saja. Memikirkan mereka yang seumuran, aku tersenyum jahil.

ÔÇ£Kenapa?ÔÇØ tanya Bu Dina dengan senyum tertahan.

Oh, nggak apa-apa Bu Terus kalo Tito manggil 

ÔÇ£Tito boleh kok manggil Ibu pake sebutan Kakak juga, kalo mau,ÔÇØ ujar Bu Dina memotong kalimatku sambil menunjukkan senyum lesung pipinya yang khas. Ternyata dia bisa menebak apa yang ingin kukatakan.

Hah? Boleh ya Bu? Hehe Kak Dina? Hehehe Aku merasa lucu juga dengan panggilan itu. Tapi aku tertarik juga melakukannya.

Hihihi Kenapa? Boleh kok. Tapi kalo di sekolah jangan panggil Kakak ya, tambahnya lagi. Aku mengangguk paham dan masih tersenyum-senyum dan cekikikan sendiri.

Emm Kak Dina! Hehe Periksa dong hasil kerjaannya Tito tadi, pintaku yang masih canggung menyebut panggilan itu.

Hihi Iya sini, mana hasil kerjaannya?

Nih Kak Aku menyerahkan buku coret-coretku dan naskah ujian itu dengan senyum lebar. Guruku yang cantik ini mencoba menahan-nahan senyum manisnya.

Beberapa menit kami terdiam dan duduk bersebelahan. Guruku yang kini kupanggil dengan sebutan Kakak ini, masih sibuk memeriksa hasil kerjaku. Aku benar-benar berdebar melihat Kak Dina yang berpenampilan seperti ini. Bajunya yang begitu terbuka menampakkan seluruh kulitnya yang putih dan mulus. Rambut lurusnya yang dijepit ke atas membuat ujung-ujung rambutnya tergantung dan berjumbai ke bawah. Sungguh gaya yang seksi.

Hilang sudah nuansa galaknya yang sering ditunjukkannya di sekolah. Sekarang aku tahu seperti apa karakter guruku ini yang sebenarnya. Dia wanita yang sangat ramah dan jauh dari sifat ÔÇÿpemarahÔÇÖ yang selama ini melekat padanya. Kalau teman-temanku melihat Bu Dina mereka yang sekarang ini, mereka pasti akan sangat terkejut.

ÔÇ£Sip! Benar semua nih jawabannya!ÔÇØ Kak Dina memberikan buku coret-coretku dan naskah soal itu dengan senyum mengembang.

ÔÇ£Beneran Kak?ÔÇØ

ÔÇ£Iya! Berarti Tito udah gampang deh nyelesaiin Ujian Nasionalnya nanti. Pasti lulus!ÔÇØ

ÔÇ£Yesss!ÔÇØ seruku.

ÔÇ£Terus pelajaran yang lainnya gimana Kak?ÔÇØ sambungku.

ÔÇ£Kalo pelajaran yang lainnya kan cuma menghafal aja. Naskah soalnya bisa Tito bawa kok ke rumah buat dipelajari. Nanti kalo misalnya Tito ada pertanyaan, bisa kok tanyain ke Kakak.ÔÇØ

ÔÇ£Oh, gitu ya Kak. Kalo gitu makasih banyak ya Kak buat naskah soalnya,ÔÇØ haturku berterima kasih padanya.

ÔÇ£Iya, sama-sama.ÔÇØ Dielusinya rambutku dan diciumnya pipiku. Aku terkejut ketika dia mendaratkan bibirnya di pipiku. Dia adalah orang kedua hari ini yang menciumku setelah Bu Aini.

Eh, Ngg Kakak, kok cium Tito? tanyaku gugup sambil mengelusi pipiku yang diciumnya.

ÔÇ£Nggak apa-apa kan? Nggak boleh ya?ÔÇØ wajah Kak Dina seperti merasa bersalah.

Eh, Ngg Nggak apa-apa kok Kak. Nggak apa-apa, kataku buru-buru sebelum dia betul-betul merasa bersalah. Dia lalu tersenyum lagi.

Keadaan sempat hening beberapa saat karena kami hanya saling tersenyum dan sibuk dengan pikiran kami masing-masing. Sampai kemudian Bu Dina kembali membuka obrolan.

ÔÇ£Udah hampir setengah dua nih! Tito nggak dicariin Ibu nanti?ÔÇØ tanyanya yang merasa khawatir akan kemungkinan Ibuku yang cemas padaku di rumah. Aku juga refleks melihat jam dinding yang ada di ruang tamunya.

ÔÇ£Oh, Tito udah minta izin kok Kak, sama Ibu di rumah. Janjinya Tito jam empat bakal pulang,ÔÇØ ujarku.

Oh, gitu ya. Emm Ngomong-ngomong katanya Tito waktu itu mau cerita-cerita ke Kakak soal Ibunya Tito kan?

Eh, itu Ngg Iya kak Aku teringat apa yang kukatakan dua hari yang lalu padanya di sekolah.

Nah, cerita dong Kakak penasaran nih. Dia sangat tertarik untuk mendengarkan ceritaku, hingga matanya memperhatikanku lekat-lekat.

Mmm Ngg Itu Kak Emm Aku bingung harus memulai dari mana. Dia terus menantiku bicara dengan raut muka penasaran. Aku takut apabila aku bercerita nantinya, aku jadi seperti membeberkan rahasia keluarga kecilku padanya.

ÔÇ£Kenapa sayang? Kok bingung? Tito nggak mau cerita?ÔÇØ

ÔÇ£Hayooo! Kalian berdua lagi ngapain!?ÔÇØ seru Kak Vira tiba-tiba dari lorong yang menghubungkan ruang tamu ke ruang belakang. Kami berdua tersentak saking terkejutnya.

ÔÇ£Apa-apaan sih Vir! Bikin kaget aja!ÔÇØ bentak Kak Dina. Kak Vira sepertinya baru selesai makan.

Hehehe Maaf ya, katanya sambil nyengir kuda.

Tanpa disuruh, Kak Vira langsung berjalan ke arah kami dan ikut ÔÇÿnimbrungÔÇÖ. Dia duduk rapat di sebelah kananku, sementara Kak Dina ada di sebelah kiriku. Jadi aku sekarang sedang diapit oleh dua orang wanita di dalam rumah mereka yang pintunya tertutup rapat. Aku tak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.

Tito cayaangg Tito ganteng banget sih Mau yah, jadi pacar Kakak Kak Vira tiba-tiba memalingkan wajahku padanya, dan mengelus-elus pipiku. Tubuhnya sudah melekat padaku. Dia mendekatkan wajahnya padaku dan membuat ekspresi semenggoda mungkin. Saking dekatnya wajahnya padaku, mungkin jika ada guncangan sedikit saja bibir kami pasti bertemu.

ÔÇ£Vira! Apa-apaan sih kamu ini!?ÔÇØ bentak Kak Dina lagi. Dia langsung menarikku dari ÔÇÿpenguasaanÔÇÖ Kak Vira, dan memelukku erat.

Ciee Cieee, sorak Kak Vira pada kami.

Ternyata tanpa sadar aku juga membalas memeluk perut Kak Dina dengan tangan kananku. Tingkah Kak Vira yang menggoda tiba-tiba tadi memang membuatku sedikit ÔÇÿngeriÔÇÖ, dan secara refleks alam bawah sadarku jadi seperti ingin meminta perlindungan dari Kak Dina.

Sambil tersenyum manis, Bu Dina kemudian mengelus kepalaku. Jangan takut ya sayang, ada Kakak di sini yang siap ngelindungin Tito dari Kak Vira yang gatel ini!

Sewaktu mengatakan kata ÔÇÿgatelÔÇÖ, Kak Dina memukul lengan Kak Vira cukup keras sampai dia mengaduh. Aku yang masih berada di pelukan Kak Dina, rasanya seperti menjadi ÔÇÿadik kecilÔÇÖ mereka berdua sekarang ini. Aku malah semakin memanja pada Kak Dina dengan memeluknya semakin erat.

ÔÇ£Hah? Kakak? Kamu dipanggil Kakak sama muridmu Din?ÔÇØ

ÔÇ£Iya. Emang kenapa!? Nggak boleh!?ÔÇØ sahut Bu Dina yang seperti menantang pertanyaan Kak Vira.

Hihi Di sekolah juga?

ÔÇ£Nggak kok, kalo di luar sekolah aja,ÔÇØ ucap Kak Dina yang masih mengelusi kepalaku di pelukannya.

Tito, panggil Kak Vira. Lagi-lagi dengan irama yang menggoda. Aku menoleh padanya, tapi setelah itu dia malah terdiam dan menatapku begitu saja. Tatapannya sangat liar seolah-olah dia ingin segera mencabik-cabik diriku.

Kak Dina mewakiliku bertanya padanya, ÔÇ£kenapa sih Vir? Ngeliatinnya sampe segitunya?ÔÇØ

ÔÇ£SshhhÔǪ Udah ÔÇÿbasahÔÇÖ nih DinÔǪ,ÔÇØ Ucap Kak Vira dengan suara pelan.

Aku tak mengerti maksud Kak Vira, tapi Kak Dina tiba-tiba menutup telinga kananku dengan tangan kanannya dan membentak Kak Vira dengan teriakan tertahan, ÔÇ£Vira! Gila kamu ya!ÔÇØ

Hihi Mau gimana lagi Din? Kak Vira terkekeh.

ÔÇ£Gimana apanya? Liat tuh! Udah jam setengah dua! Kamu nggak balik ke kantor apa!?ÔÇØ

ÔÇ£Hah! Kamu kok nggak bilang dari tadi sih Din? Padahal aku kemari cuma mau ambil data aku yang ketinggalan.ÔÇØ Kak Vira yang melihat jam dinding langsung panik dan beranjak segera ke kamarnya.

Begitu dia kembali ke ruang tamu lagi, dia membalik-balik dan memeriksa kertas dokumen yang diambilnya dari kamarnya. Setelah itu dia memasukkan semuanya ke dalam tas tangannya dan beranjak keluar rumah.

Ketika dia membuka pintu depan hendak keluar, matanya tertuju pada kami berdua yang masih berpelukan. Din

ÔÇ£Apa?ÔÇØ sahut Kak Dina. Kak Vira tampak tersenyum.

Ntar goyangnya pelan-pelan aja ya Hihi, Pesan Kak Vira sambil tertawa genit.

ÔÇ£Mau tak hajar lagi!?ÔÇØ balas Kak Dina yang mengepalkan tangannya ke arahnya.

Hiii Seremm! Kak Vira buru-buru pergi dan menutup pintunya. Kami berdua sempat melihatnya yang berjalan agak tergopoh-gopoh melalui jendela ruang tamu.

ÔÇ£Kak Vira tadi bilang apa Kak? Kakak mau ikut joget di acara dangdutan ya?ÔÇØ tanyaku yang masih berada dalam pelukannya.

Hah? Hahaha, Kak Dina tertawa lepas.

ÔÇ£Lho? Kenapa Kak? Kok ketawa?ÔÇØ tanyaku bingung.

Hihihi Nggak apa-apa kok To. Tadi Kak Vira cuma bercanda. Soalnya Emm Kakak sering ngulek sambal sambil goyang-goyang kayak penyanyi dangdut Gitu, ungkap Kak Dina sambil nyengir.

Ooo, jawabku. Aku membayangkan Kak Dina yang bergoyang-goyang dengan pakaian seperti ini, pasti membuatku pusing tujuh keliling. Kemaluanku sedikit bereaksi di bawah sana.

ÔÇ£HeheÔǪ Kayaknya Tito betah banget nih dipeluk sama Kakak,ÔÇØ sindir Kak Dina padaku yang sedari tadi memang belum melepaskan pelukanku. Aku masih asyik ÔÇÿmenempelÔÇÖ padanya sambil sesekali memandangi buah dadanya di balik tanktop-nya.

Abis, gara-gara Kak Vira tadi sih Kak Tito ngeri banget liat dia godain Tito. Masa Tito mau dijadiin pacarnya Setelah aku mengatakan alasanku, kulepaskan pelukanku darinya.

Hahaha Kok ngeri sih sayang? Kayak Kak Vira itu hantu aja

Hehehe, aku ikut-ikutan cengengesan.

Terus, kalo misalnya Kak Dina yang ngegodain Tito, gimana? Ngeri juga? tanya Kak Dina dengan senyum manisnya.

Ya nggaklah Kak! Tito kan emang suka sama Kak Dina dari dulu! Kakak itu Ehhh! aku bahkan tak sempat menutup mulutku. Rahasia itu terlepas begitu saja. Aku menatap wajah Kak Dina yang tak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Dia nyengir dan tercenung melihatku.

Ehh Nggak Kak Ngg Tito Aku bingung harus mengatakan apa untuk mengklarifikasi kalimatku tadi.

Kakak kenapa sayang? Lanjutin dong Kak Dina merapatkan tubuhku lagi padanya dengan rangkulannya di bahuku.

Ngg Emmm Kakak itu Ngg Aku semakin bingung karena malu.

ÔÇ£Tito mesti jujur! Kalo nggak Kakak bakal marah nih,ÔÇØ ancamnya padaku. Kutatap wajahnya yang memang menunjukkan keseriusan.

Emm Kakak itu cantik Kak, kataku dengan suara lemah. Aku sudah menyerah karena tak mampu lagi membelokkan pembicaraan ke arah lain.

Kuberanikan lagi melirik wajahnya. Dia tampak sangat senang dengan kejujuranku. Padahal aku sangat takut kalau dia menganggapku tak menghormatinya sebagai guruku dengan memberi penilaian yang tak seharusnya dilakukan murid pada gurunya.

ÔÇ£Lho? Kakak nggak marah sama Tito?ÔÇØ tanyaku.

Ngapain marah? Tito kan ngomong jujur sayang Kalo berkata-kata itu memang mesti jujur, jangan pernah bohong. Kakak suka sama anak yang jujur. Mmuuaahh Kak Dina mencium pipi kiriku untuk yang kedua kalinya. Aku jadi tersipu malu dan rasa takutku tadi langsung berganti dengan perasaan bangga dan berbunga-bunga.

Hihi Tito kalo lagi malu-malu gini lucu deh, canda Bu Dina sambil mencolek hidungku seperti di dalam kamar mandi tadi.

ÔÇ£HeheÔǪ Ah, Kakak…,ÔÇØ Balasku terkekeh.

Emm Kalo jadi pacar Kakak, Tito mau nggak? tanya Kak Dina.

ÔÇ£Hah? Pacarnya Kak Dina?ÔÇØ kini giliranku yang tercengang. Sementara Kak Dina mengangguk-angguk.

Aku berpikir sekejap. Menilik dari perasaanku yang begitu nyaman ketika berada di dekatnya, aku malah berpendapat lain. Emm Tito sih pengennya Jadi Adeknya Kak Dina aja, ucapku.

ÔÇ£Lho? Kok pengen jadi Adeknya Kakak?ÔÇØ tanyanya penasaran.

ÔÇ£SoalnyaÔǪ Tito nggak punya saudara Kak. Jadi Tito pengen punya Kakak atau Adek perempuan yang cantik…,ÔÇØ kali ini aku berkata sejujur-jujurnya padanya.

Wajah Kak Dina berubah jadi serius. Senyuman manisnya yang tadi langsung hilang. Dipandanginya kedua bola mataku lamat-lamat. Aku tak tahu apa yang salah dari kata-kataku, tapi sekejap kemudian dia langsung menarikku dan memelukku seerat-eratnya. Diciumnya kepalaku bertubi-tubi. Aku yang tak tahu apa yang terjadi membiarkan saja dia berkecimpung dalam emosinya. Tapi yang kudengar kemudian Kak Dina seperti terisak.

Ibu dulu juga pernah punya Adek laki-laki sayang Tapi waktu umur Kakak masih 15 tahun, kedua orangtua Kakak sama Adek Kakak yang umurnya masih 5 tahun kena kecelakaan kereta api waktu pulang dari rumah Tantenya Kakak Mereka bertiga nggak selamat sayang Kak Dina akhirnya menangis sambil memelukku. Aku yang tadinya bernafsu padanya jika menempel seperti ini, mendadak mati rasa. Tidak ada lagi syahwat yang kurasakan melainkan ikut terhanyut ke dalam cerita guruku yang mengharukan ini.

Kak Dina menangis cukup lama. Aku hanya bisa membiarkannya memelukku untuk meringankan kesedihannya. Saat tangisnya sudah mulai mereda, barulah aku memberanikan diri untuk mengajaknya bicara.

Kak Kakak jangan sedih lagi ya Kan ada Tito? Tito mau kok jadi Adeknya Kakak, kataku mencoba menghiburnya. Aku tak tahu cara menghibur seorang wanita. Aku hanya berharap kata-kata polosku itu mampu mengurangi kesedihannya.

Akhirnya dia melepaskan pelukannya. Tangan kanannya merangkul bahu kananku, sementara tangan kirinya digunakannya untuk membelai pipiku. Dengan wajah sembab penuh air mata dia berkata, Kalo Tito ada masalah atau apapun, bilang sama Kakak ya. Kakak pasti bantu

ÔÇ£Iya Kak,ÔÇØ jawabku. Untuk kesekian kalinya aku melihat wajah orang yang kusayangi menangis seperti ini. Aku yang tak tega langsung memberanikan diri menyeka air matanya. Tapi yang kulihat kemudian Kak Dina malah semakin menangis.

ÔÇ£Lho? Kakak kok malah makin nangis?ÔÇØ tanyaku yang semakin merasa sedih melihat dan mendengar dia terisak haru.

Nggak kok sayang Kakak nggak sedih kok Kakak malah bahagia banget, katanya terputus-putus sambil menyeka air matanya sendiri. Suaranya terdengar sangat serak.

ÔÇ£Sebentar ya Kak, biar Tito ambilin tisu dari belakang,ÔÇØ ucapku yang segera berlari ke dapur dan mengambil beberapa lembar tisu di atas meja makan. Dengan cepat aku berlari lagi ke depan.

Kuseka dengan telaten kedua pipinya dengan tisu yang kubawa, sementara Kak Dina hanya memejamkan matanya sambil tersenyum manis. Setelah aku selesai, Kak Dina membuka matanya yang agak memerah karena efek menangis barusan. Dia tersenyum padaku dengan kelopak mata yang agak melemah.

ÔÇ£Tito mau punya Kakak kayak Kak Dina?ÔÇØ dia juga bertanya dengan suara yang serak dan lemah.

ÔÇ£Mau banget Kak! Tito mau banget!ÔÇØ seruku dengan wajah antusias dan anggukan tegas.

ÔÇ£Kakak juga mau punya Adek kayak TitoÔǪ Mau banget malah…,ÔÇØ serak di suaranya terdengar semakin berkurang. Akhirnya Kak Dina menemukan semangatnya lagi.

Kalo gitu, sebagai tanda kita ini Kakak Adek, sini Kak Dina meraih tengkukku lalu mengecup pipi kanan dan kiriku.

Mmuuaahh Mmmuuaahh Nah sekarang giliran Tito dong, bimbingnya padaku. Kak Dina sekarang sudah memejamkan matanya. Aku masih saja kaget walaupun ini merupakan ciumannya yang sudah kesekian kalinya. Tapi sekarang giliranku yang harus melakukan itu padanya, dan Itu malah semakin membuatku gugup.

Aku menelan ludahku sendiri dan mulai memberanikan diriku. Kumajukan wajahku ke depan dan menargetkan ciumanku mendarat di pipi kanannya untuk yang pertama kali.

Ayo dong Dek Kok lama banget? repetnya sambil memejamkan mata.

ÔÇ£IÔǪ Iya KakÔǪ,ÔÇØ sahutku yang masih ÔÇÿsetengah jalanÔÇÖ.

Namun ketika aku sudah sangat dekat dengan wajahnya, gugupku tiba-tiba hilang. Wajahku agak memanas dan sisi kasih sayangku keluar membimbing diriku. Kupejamkan mataku dan kukecup lembut pipinya.

Mmmuuaahh Mmmuuaahh Mmmuuaahh Aku bahkan menambahkan satu kecupan di keningnya dengan penuh kasih sayang.

Beberapa detik kemudian dia membuka matanya, dan wajahnya terlihat sangat bahagia melihatku yang begitu menghanyutkannya dalam adegan tadi. Kami lebih terlihat seperti pasangan yang tengah dimabuk cinta daripada Kakak beradik. Aku juga tak tahu dari mana kudapatkan kemampuan mencium wanita seperti itu. Aku hanya pernah melihatnya dari film dan sinetron yang sering kutonton di TV.

Nah, sekarang karena Tito udah jadi Adeknya Kak Dina, Tito bisa ceritain deh tentang Ibunya Tito. Jangan takut, Kakak bakal jaga rahasia kok. Janji, ujarnya seraya mengangkat dua jarinya ke atas.

Iya Kak. Tito percaya kok Tapi, Tito dari tadi sesak pipis nih. Mau ke belakang dulu, kataku yang agak meringis.

ÔÇ£Oh, Tito mau pipis? Sini sayang, Kakak bukain celananya.ÔÇØ Kak Dina sudah berlutut di lantai untuk membuka celanaku.

Aku yang masih duduk di kursi tamu terkejut mendengar penawarannya. Eh, nggak usah Kak. Tito kan udah besar Masa dibukain sama Kakak? Tito kan malu Kak

ÔÇ£Lho kok sama Kakaknya sendiri malu? Berarti Kak Dina bukan Kakaknya Tito dong kalo gitu,ÔÇØ ucap Kak Dina dengan wajah memelas.

ÔÇ£Bukan gitu KakÔǪ Kak Dina tetap Kakaknya Tito kok. Tito cuma malu aja…,ÔÇØ jawabku.

ÔÇ£Tito kan Adek Kak Dina satu-satunya sayang? Masa Tito nggak ngizinin Kakak buat sayang-sayangin Tito?ÔÇØ cecar Bu Dina dengan raut wajah yang semakin memelas.

Ngg Ya Udah deh, nggak apa-apa, aku akhirnya mengiyakan permintaannya sambil tegak berdiri di hadapannya. Aku takut dia bersedih lagi hanya karena masalah sepele seperti ini. Lagipula di sini tak ada siapa-siapa selain Kakak baruku ini. Tapi tetap saja aku merasa malu juga karena aku akan menunjukkan kemaluanku tepat di depan matanya.

Bu Dina akhirnya tersenyum manis. Dia mengangkat tangannya dan bersiap membuka celanaku. Proses ini mengingatkanku ketika Ibu hendak memandikanku. Dan keadaan kemaluanku juga persis seperti saat itu, dalam keadaan setengah tegang. Keadaan seperti ini memang sangat mendebarkan.

Kak Dina membuka tali pinggang, kancing, dan resleting celana merahku begitu perlahan, membuatku semakin ÔÇÿdeg-deganÔÇÖ. Saat celanaku meluncur ke mata kakiku, celana dalamku masih tertutupi oleh seragam sekolahku yang cukup dalam. Kak Dina menelusupkan jari-jarinya dari bawah seragam sekolahku untuk meraih karet celana dalamku. Waktu melakukan itu, Kak Dina seperti meraba pahaku. Aku jadi bergidik geli dan sedikit tersenyum.

Kak Dina menyadarinya dan melempar senyum juga padaku. Saat kemeja seragamku terangkat, Kak Dina melihat celana dalamku yang sudah menggembung dan ada secuil noda basah di sana. Tangan Kak Dina sejenak terhenti di karet celana dalamku demi memperhatikannya. Wajahnya terlihat memerah. Entah kenapa, sewaktu dia memperhatikannya, kemaluanku bergerak semakin menegang di dalam dan itu tak mampu kutahan. Aku sangat malu namun juga sangat terangsang. Jantungku berdegup semakin kencang.

Kak Dina tak langsung memelorotkan celana dalamku, tapi dia membuka perlahan bagian depannya dan memperhatikan dengan saksama kemaluanku yang muncul perlahan di baliknya. Ketika ujung penisku terlihat, wajah Kak Dina semakin merah. Dari lubang penisku ada semacam cairan lengket yang menempel ke celana dalamku. Ketika Kak Dina menarik celana dalamku sedikit demi sedikit ke bawah, cairan itu jadi membuat semacam benang cairan tipis. Sejenak itu menjadi pemandangan yang menarik baginya. Namun berbeda denganku yang merasa begitu tegang dan masih mencoba menahan rasa sesak ingin segera buang air kecil.

Ngg Kak Dina, cepetan dong Tito udah nggak tahan nih, rengekku terputus-putus karena sudah benar-benar sesak.

Oh, iya iya Kakak kelamaan ya bukanya? Maaf ya To Kak dina langsung memelorotkan celana dalamku. Aku mengangkat kakiku satu persatu agar kedua celana itu terlepas sepenuhnya dari kedua mata kakiku. Kak Dina mengambil celana dan celana dalamku itu dan menuntunku berjalan tanpa celana ke kamar mandi.

Aku yang takut akan perhatian Kak Dina pada kemaluanku, menarik bagian bawah seragam sekolahku untuk menutupinya. Sesampainya di kamar mandi, aku hendak menutup pintunya dari dalam. Tapi baru setengah pintu itu kudorong, tangan Kak Dina memblokirnya.

ÔÇ£Kok ditutup To?ÔÇØ ucap Bu Dina dengan senyum tertahan.

Ditutup dong Kak Masa Kakak liat Tito pipis sih? Tito kan malu, protesku.

Hihi Malu lagi Malu lagi Ya udah deh terserah Akhirnya Kak Dina membiarkanku menutup pintu kamar mandi. Dengan begini aku sedikit lebih lega.

Aku melangkah dan berdiri di atas jamban, bersiap untuk buang air kecil. Namun kemudian masalah lain menimpaku. Kemaluanku terlalu tegang untuk diarahkan ke lubang jamban. Jadi kutunggu sesaat sampai otot-otot penisku agak mengendur, baru aku mulai buang air.

ÔÇ£To! Lama banget pipisnya Dek? Kok nggak ada bunyinya?ÔÇØ teriak Kak Dina dari luar.

ÔÇ£Bentar Kak! Ini lagi pipis kok!ÔÇØ sahutku dari dalam. Setelah itu barulah air seniku keluar. Sangat banyak hingga aku merasa benar-benar lega ketika seluruh air itu keluar.

Ketika tetes terakhir dari air kencingku sudah keluar, aku menjepit bagian bawah baju seragamku dengan siku lengan kiriku agar tidak tersiram saat aku membasuh kemaluanku dengan air. Tapi memang nasib sial tak bisa dicegah. Ketika aku membungkuk untuk mengambil air dengan gayung, aku tak menyadari bahwa jepitan siku yang kulakukan mengendur. Alhasil bertepatan saat aku menyiramkan air, bagian bawah bajuku mendadak turun dan jadilah ikut-ikutan basah kuyup tersiram air.

ÔÇ£Yaahhh!ÔÇØ teriakku dari dalam.

ÔÇ£Kenapa Dek!?ÔÇØ Kak Dina langsung menerobos masuk ke dalam kamar mandi karena pintunya memang tidak kukunci.

ÔÇ£Eh! Kak Dina kok masuk!?ÔÇØ seruku kaget sambil mencampakkan gayung ke dalam bak mandi.

ÔÇ£Tito kenapa Dek?ÔÇØ tanya Kak Dina yang tak menggubris perkataanku.

ÔÇ£Ini Kak, bajunya Tito kesiram air.ÔÇØ Kupandangi bagian bawah bajuku yang basah.

Oh, Cuma kesiram air Kakak pikir Tito lagi ngapain di dalam Hehe

ÔÇ£Emangnya Tito ngapain Kak?ÔÇØ tanyaku bingung.

Eh, nggak kok. Bukan apa-apa Ya udah, yuk keluar, ucap Kak Dina yang kemudian menggenggam tanganku dan menuntunku keluar dari kamar mandi.

Di dekat pintu kamar mandi, Kak Dina membuka kancing baju seragamku satu persatu. Makanya tadi pintunya nggak usah di tutup Kan kalo Tito susah bisa Kakak bantu buat cebok

Iya Kak Jawabku patuh. Perlahan tapi pasti seragamku sudah dilepaskannya dan digantungkannya di paku dinding yang ada di dekat situ. Aku sekarang telanjang bulat di depan Kakak angkatku ini.

Celananya dong Kak, Kataku meminta celana dan celana dalamku kembali. Kulihat kedua benda itu teronggok di atas lantai di dekat kami.

Ngapain pake celana lagi? Udah gini aja Toh Kakak udah liat kok dari tadi. Ngapain ditutupin lagi? ujar Bu Dina santai sambil tersenyum. Matanya sesekali melirik kemaluanku.

Tapi kan Tito malu Kak, kalo telanjang kayak gini Kakak sih enak, masih pake baju. Jadi nggak bakalan malu, keluhku. Tapi Kak Dina langsung membungkamku dengan membelai pipiku dan tersenyum manis.

ÔÇ£Kan udah Kakak bilang, jangan malu-malu sama KakakÔǪ Kalo memang Tito pengen Kakak telanjang juga kayak Tito, Kakak mau kokÔǪ Biar Adeknya Kakak yang paling ganteng ini nggak malu lagi…,ÔÇØ ucapnya lembut.

Hah? Kakak mau Aku terpana. Kak Dina mengangguk sambil tersenyum. Kemaluanku tiba-tiba bereaksi gencar di bawah sana.

Buat Adek Kak Dina tersayang ini, apapun bakal Kakak lakuin. Asal dia senang, asal dia bahagia, Kakak pasti juga ikut bahagia Tapi

ÔÇ£Tapi apa Kak?ÔÇØ kataku dengan nafas yang mulai cepat. Kak Dina melirik ke bawah dan tersenyum melihat kemaluanku yang semakin membesar.

Kemudian dia menatapku, masih membelai pipiku dan berkata pelan disertai senyum nakal, Kita telanjangnya di dalam kamar Kakak aja ya Biar nggak masuk angin

Demi mendengar undangan mesum dari Kak Dina, kemaluanku langsung mengeras dan tegak ke puncak maksimal. Kak Dina menatap nanar kemaluanku yang menegang sempurna. Tanpa buang waktu dia langsung mengajakku ke kamarnya.

***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*