Home » Cerita Seks Mama Anak » Ibuku Cintaku dan Dukaku 11

Ibuku Cintaku dan Dukaku 11

Kedua mataku melihat ke segala arah. Memperhatikan dan terkadang menonton. Kendaraan sudah tak terhitung hilir-mudik melewatiku. Orang-orang juga masih berjalan kesana-kemari membeli segala rupa dan kebutuhannya. Sesekali kusempatkan melihat para pedagang yang mengangkut stok maupun dagangannya ke toko. kedai, warung, maupun lapak dagangannya. Aku cukup terkejut ketika seorang pedagang tanpa sengaja menjatuhkan satu set telur ayam segar yang hendak diantar ke tempat lain. Ketika hendak menaikkannya ke mobil pick up, tali pengikatnya terputus, dan akhirnya telur-telur itu pecah berserakan menodai seluruh lantai tokonya. Orang-orang di sekitarnya hanya tercengang menonton. Miris juga aku melihatnya.

Bi Ipah yang berjualan di sebelah kiriku masih sibuk melayani pembelinya. Cuaca yang cerah ini memang sukses menggerakkan minat orang-orang untuk membeli rujaknya. Sementara aku masih santai duduk di atas bangku panjangku sendirian menunggu pembeli. Ibu sudah pergi dari tadi untuk membantu pindahan Pak Imron dan Bu Halimah setelah membantuku menyiapkan segala keperluan untuk berjualan.

Aku bersyukur karena cuaca panas ini tak membuatku terpengaruh. Selain kami memang memasang atap dari tenda plastik warna biru untuk melindungi kami dari hujan ataupun panas, aku dan Bi Ipah juga terlindung oleh bayangan rindang pohon yang berada beberapa meter di sebelah kanan kami. Dari dulu Ibu dan Nenek sengaja mengambil jarak tak terlalu dekat dari pohon karena katanya Nenek takut jika sewaktu-waktu ada ranting pohon yang jatuh, lalu bisa menimpa mereka dan dagangan mereka. Anehnya, kebiasaan itu berlanjut sampai sekarang.

Di tengah penantian santaiku, perhatianku tiba-tiba tertuju ke sebuah sedan mewah warna abu-abu metalik yang sudah masuk ke jalanan pusat pasar ini. Mobil ini berhenti tepat di seberang jalan. Sepertinya aku tahu siapa yang ada di dalamnya.

Ya! Apa yang kupikirkan memang benar. Pria tampan yang kukenal dengan nama Steven, keluar dari mobil. Setelannya berbeda dari yang kemarin. Kali ini dia memakai kaos berkerah tangan pendek motif garis-garis, celana jeans biru, dan sandal kulit. Namun dia tetap memakai kacamata Aviator hitamnya.

Kali ini dia tak sendiri. Ketika dia membuka pintu depan mobilnya yang sebelah kiri, aku melihatnya menggendong seorang anak perempuan yang memakai gaun Lolita. Kutaksir anak itu berusia lima atau enam tahun. Kulitnya putih, hidungnya mancung, dan rambutnya pendek agak kecoklatan, persis seperti Pak Steven. Setelah mobilnya terkunci, mereka pun menyeberang. Seperti yang kuduga, mereka menuju kemari.

ÔÇ£Siang Om!ÔÇØ begitu sampai di tempatku, aku langsung menyapanya. Pak Steven tersenyum ramah dan melepaskan kacamatanya. Digantungkannya begitu saja kacamata itu di saku bajunya.

ÔÇ£JessicaÔǪ salam dulu dong Abang ini,ÔÇØ ucapnya pada anak perempuan yang baru saja diturunkannya dari gendongannya. Anak cantik berwajah ÔÇÿbuleÔÇÖ ini langsung mencium tanganku dan tersenyum manis.

ÔÇ£Ibunya Tito kemana? Pergi belanja lagi?ÔÇØ tanya Pak Steven yang kemudian duduk di bangku panjangku bersebelahan dengan anak perempuan itu.

ÔÇ£Lagi-lagi nih orang nanyain Ibu,ÔÇØ pikirku kesal.

ÔÇ£Oh, dia lagi bantuin orang pindahan Om. Tetangga kami mau pindah,ÔÇØ jawabku sambil duduk di sebelah anak perempuan itu. Aku harus tetap bersikap sesopan mungkin.

Ooo Kalo Om boleh tau, Tito tinggal di mana?

ÔÇ£Kalo rumah Tito sih agak jauh juga dari sini Om. Lebih dekat dari sini ke kota daripada dari sini ke rumah Tito Om,ÔÇØ jawabku.

ÔÇ£Ngapain nih orang tanya-tanya rumah?ÔÇØ batinku semakin kesal.

ÔÇ£Oh, gitu. Jual gorengan di sini udah lama?ÔÇØ

ÔÇ£Lumayan juga Om. Udah tahunan.ÔÇØ

Ooo Pak Steven mengangguk.

ÔÇ£PapaÔǪÔÇØ Anak itu menunjuk ke arah etalase gorenganku sambil menengok ke wajah Pak Steven disertai panggilan ÔÇÿPapaÔÇÖ padanya.

ÔÇ£Mau itu?ÔÇØ tanya Pak Steven. Anak imut ini pun mengangguk tegas.

Digendongnya anak itu dan melangkah ke depan. Anak itu melihat-lihat ke semua gorengan, dan menjatuhkan pilihannya pada ubi goreng. Mereka pun duduk kembali dengan santai. Anak itu asyik mencomot tepung goreng yang melekat di ubi yang dipegangnya. Rasanya yang garing dan renyah memang mengasyikkan ketika dikunyah. Aku juga selalu melakukannya apabila sedang makan gorengan yang dibaluri tepung seperti itu.

ÔÇ£Ini anaknya Om?ÔÇØ aku menyambung obrolan.

Iya Tadi dia minta ikut sama Om. Ya Om bawa aja. Adiknya yang masih kecil tinggal sama Mamanya di rumah.

Ooo Aku mengangguk-angguk saja.

Dalam hati aku benar-benar lega. Ternyata Pak Steven ini sudah punya Istri dan dua anak. Aku merasa bersalah juga karena terlalu berburuk sangka padanya.

ÔÇ£Lagi ngurusin masalah tanah itu Om?ÔÇØ tanyaku lagi.

ÔÇ£Oh, nggak. Om memang mau jalan-jalan aja sekalian mau beli buah. Kemarin Om cerita-cerita ke Mamanya Jessica tentang Om yang suka nongkrong di siniÔǪ Eh, rupanya kedengeran sama si Jessica. Terus dia minta ke sini deh…,ÔÇØ ungkapnya.

Oh, gitu Emm Jessica umurnya berapa Dek? aku tertarik untuk mengajak anaknya mengobrol.

ÔÇ£Jessica umurnya enam tahun Bang,ÔÇØ katanya sambil tersenyum dengan mulut yang masih mengunyah ubi.

ÔÇ£Jessica sekolahnya kelas berapa?ÔÇØ

ÔÇ£Kelas satu Bang,ÔÇØ jawabnya lagi. Gaya bicaranya benar-benar imut dan menggemaskan. Ingin rasanya aku punya adik seperti dia.

Ooo, ucapku dengan kepala mengangguk-angguk. Pak Steven juga tampaknya senang sekali melihat tingkah polah anaknya yang menanggapi pertanyaanku.

ÔÇ£Dia ini biasanya nggak mau tuh ngomong sama orang selain keluarganya atau teman-temannya di sekolah. Baru sama Dek Tito ini dia mau diajak ngobrol,ÔÇØ beber Pak Steven.

ÔÇ£Oh, gitu ya Om.ÔÇØ Aku mengangguk lagi.

Sejenak suasana hening. Kami berdua hanya memperhatikan Jessica yang sudah hampir menghabiskan ubinya. Anak ini ternyata memiliki selera makan yang tinggi juga.

ÔÇ£Ngomong-ngomong, Tito tinggalnya di desa yang mau ngerayain hari jadinya itu ya?ÔÇØ tanya Pak Steven.

ÔÇ£Iya Om. Kok Om tau?ÔÇØ

Hehe Om cuma nebak-nebak aja kok. Soalnya berita perayaannya udah sering banget dibicarain orang-orang sini. Jadi ya Om pikir mungkin aja desanya Tito yang itu.

ÔÇ£Terus, rumahnya Tito ada di mananya?ÔÇØ kembali Pak Steven bertanya.

Oh, rumah Tito agak jauh juga dari lapangan tempat perayaannya Om. Lebih ke dalam lagi. Sampe ke pelosok-pelosok desanya. Hehe

Hehe Sampe ke pelosok tapi kok masih punya tetangga? Banyak ya, yang tinggal di pelosok? tanyanya sambil bergurau.

ÔÇ£Nggak kok Om, tetangganya Tito cuma satu. Itu juga udah mau pindah hari ini dibantuin sama Ibunya Tito.ÔÇØ

ÔÇ£Lah, terus gimana rumahnya yang ditinggalin itu? Mau dijual atau gimana?ÔÇØ

ÔÇ£Rumahnya ya dibiarin kosong Om. Sebenarnya rumah yang ditinggalin itu rumahnya Tito juga Om, tapi disewain sama Ibu buat nambah-nambahin duit. Sekarang Tito sama Ibu tinggal di rumah peninggalannya Kakek sama Nenek. Letak rumahnya ke dalam lagi Om dari rumah yang mau dikosongin itu,ÔÇØ ungkapku panjang lebar.

Ooo Gitu. Ribet juga ya. Hehe

Ya Gitulah Om keadaannya, kataku merendah.

Papa, Jessica memanggil Ayahnya.

ÔÇ£Hmm?ÔÇØ sahut Pak Steven.

ÔÇ£Mau lagi,ÔÇØ pintanya. Ubinya tadi ternyata sudah habis disantapnya.

ÔÇ£Hah!? Lagi?ÔÇØ Pak Steven tercengang. Jessica mengangguk tegas.

ÔÇ£Jess kan udah makan ubinya sayang? Ubinya tadi besar lho? Masa mau lagi?ÔÇØ tanya Pak Steven seperti tak percaya.

Aaaaannnnggg Jess mau lagi Pa, Protes Jessica dengan suara yang benar-benar memanja pada Ayahnya. Ditarik-tariknya lengan Ayahnya agar mau menggendongnya lagi. Pak Steven melihatku tersenyum tanggung dan menggeleng tanda tak habis pikir. Aku ikut-ikutan tersenyum.

Pak Steven yang menyerah akan anaknya yang imut-imut ini akhirnya menggendongnya ke etalase untuk memilih gorengan lagi. Sorot mataku sempat menangkap wajah Bi Ipah di sebelah sana yang sedang cengar-cengir melihat keadaan di tempatku. Bi Ipah hanya terdiam duduk di sana tanpa mengucapkan sepatah katapun. Aku sungguh aneh melihatnya. Dari kemarin aku tak melihat Bi Ipah mau mengajak Pak Steven ini berkomunikasi dan begitu pula sebaliknya dengan Pak Steven. Padahal jarak kami cukup dekat. Sepertinya Bi Ipah ingin menghindari ÔÇÿrepotÔÇÖ. Beberapa saat kemudian Pak Steven duduk kembali bersama anaknya yang kini menikmati tempe goreng.

ÔÇ£Bang Tito! Kita jalan-jalan yuk sama Papa!ÔÇØ ajak Jessica di selang acara ngemilnya.

Bang Tito nggak bisa sayang Bang Tito kan mesti jualan? Nanti kalo Bang Titonya jalan-jalan, dimarahin dong sama Mamanya gara-gara pergi ninggalin jualan gorengannya, ujar Pak Steven kepada anaknya. Aku cukup terbantu juga karena dia yang langsung turun menjawab pertanyaan anaknya.

Jessica terlihat lesu mendengar jawaban Ayahnya. Ditatapnya wajahku yang tersenyum tanggung memaklumi kata-kata Ayahnya yang memang benar adanya. Nafsu makannya seperti hilang begitu saja. Dia tertunduk menatap tempe gorengnya yang baru saja dinikmatinya beberapa gigitan.

Kapan-kapan kalo bang Tito nggak jualan, Abang mau kok jalan-jalan sama Jessica Kita mau jalan-jalan kemana? ujarku mencoba membangkitkan semangatnya.

ÔÇ£Beneran Bang?ÔÇØ katanya memastikan jawabanku. Dia sudah mulai tersenyum dengan wajah berharap. Aku mengangguk tegas.

Assiiikkk! Kita ke taman hiburan ya Bang! Kita ke taman hiburan ya Pa Jessica mendongak melihat kami bergantian, memohon untuk mewujudkan keinginannya.

Iya, ucap Pak Steven yang sebelumnya melihatku sambil tersenyum. Dia lagi-lagi tak kuasa menolak keinginan anaknya. Jessica bersorak kegirangan lagi.

Bang, kita nanti naik kereta api ya Bang, terus naik mobil-mobilan, terus naik lolerr Ngg Lolerr Saking antusiasnya dia sampai lupa nama sebuah wahana taman hiburan. Dia tampak berpikir.

Hehe Roller Coaster, koreksi Pak Steven.

Iya Itu Bang Hihi, timpal Jessica membenarkan. Dia tersenyum dan mengigit bibir bawahnya karena malu akan kekeliruannya sendiri.

Hahaha Iya, nanti kita naik Lolerr ya Hehe, candaku mengulangi ucapannya yang tadi.

Aaaannnggg Papa! Bang Tito ngeledekin Jess Pa Dia langsung mengadu pada Ayahnya saking malunya. Dia memonyongkan bibirnya hingga tampak sangat cemberut. Tapi ketika melihat wajahku yang tersenyum lebar, dia tak bisa juga menahan senyumnya dan tertawa kecil.

ÔÇ£Udah, abisin tuh tempenya,ÔÇØ suruh Pak Steven dengan nada lembut.

Eh, iya Pa Ammm Jessica melahap sisa tempe yang masih dipegangnya.

Pak Steven beranjak ke depan. Dia mengambil selembar daun pisang dari tempatnya dan menghamparkannya di dekat etalase. Diambilnya semua tempe goreng yang ada di situ, kemudian disusunnya di atas daun pisang.

Dia menoleh ke arahku yang masih duduk di belakangnya. Emm Tito! Bisa minta tolong sebentar?

ÔÇ£Oh, iya Om. Bantuin apa Om?ÔÇØ aku bergegas tegak berdiri dan mendatanginya.

ÔÇ£Ambilin plastik yang besar itu dong.ÔÇØ

Dengan sigap aku mengambil plastik agak besar yang biasa dipakai untuk membungkus gorengan, lalu membuka mulut plastik itu lebar-lebar. Aku paham maksud Pak Steven. Dia ingin aku membuka mulut plastik itu, karena dia harus menggunakan kedua tangannya untuk memasukkan daun pisang yang berisi tempe goreng.

Setelah masuk dan terbungkus rapi, dia kemudian mengambil selembar daun pisang lagi. Lalu diambilnya beberapa gorengan yang lain secara acak. Pisang goreng, risoles, tahu isi, bakwan sayur, ubi goreng, singkong goreng, dan lain-lain dikumpulkannya masing-masing dua buah. Dia bahkan mengambil selembar daun lagi karena tak cukup.

ÔÇ£Wah, borong nih Om?ÔÇØ candaku.

Hehe Iya nih, buat makan di perjalanan sama buat Mamanya Jessica di rumah. Mumpung gorengannya masih panas nih. Ya nggak?

Hehe Iya Om. Kebetulan waktu Om datang ke sini Tito emang baru abis ngegoreng Om Tapi kalo Tito boleh tau, rumah Om di mana? Apa nggak dingin tuh gorengannya waktu sampe di rumah Om?

Oh, Rumah Om yang sebenarnya sih jauh. Tapi lantaran lagi nyari-nyari tanah di sini, Om sewa rumah sekitar delapan kilometer dari kota, bebernya.

Ooo Aku mengangguk.

Emm Tito, Om bisa minta tolong jagain Jessica sebentar nggak? Om mau beli buah tuh di sana, katanya sambil menunjuk lapak seorang pedagang buah yang merupakan mitra kerjanya Pak Legimin dan Bang Baim.

ÔÇ£Iya Om, bisa kok!ÔÇØ Tegasku. Dia tersenyum dan kemudian berjalan ke sana.

Aku pun duduk kembali di bangku panjang bersama Jessica. Dia banyak sekali berceloteh mengenai kehidupannya sehari-hari. Mulai dari keseruannya bermain bersama adiknya yang masih kecil di rumah, tentang segala hal yang dialaminya di sekolah, bahkan dia menceritakan tentang Pak Steven yang sering didengarnya membicarakan mengenai ÔÇÿmata-mataÔÇÖ ketika menelepon. Semua dirangkumnya hanya dalam waktu kurang lebih sepuluh menit.

Anehnya aku sangat senang ketika dia berbicara. Sesekali dia meminta tanggapan dan pendapatku akan satu cerita. Bi Ipah lagi-lagi kudapati sedang cengar-cengir ke arahku. Namun kali ini kucoba untuk bertanya.

ÔÇ£Kenapa Bi? Kok dari tadi senyum-senyum?ÔÇØ tanyaku.

Hehe Nggak kok, nggak apa-apa. Udah, lanjutin aja ngobrolnya, ujar Bi Ipah.

ÔÇ£Lho? Nenek itu temannya Abang?ÔÇØ tanya Jessica polos.

Iya Dek, Abang manggilnya Bi Ipah

Ooo, jawabnya singkat.

Pak Steven kulihat sudah menyeberang dan menuju kembali ke sini. Dia sudah membawa bungkusan plastik hitam yang cukup besar. Sepertinya dia membeli cukup banyak buah.

Ketika sampai di sini, dia langsung menyapa anaknya yang kelihatan senang dan menikmati kebersamaannya denganku walau hanya sepuluh menit, ÔÇ£Wah, udah ngobrol apa aja nih sama Bang Tito?ÔÇØ

ÔÇ£Banyak juga Om, saya sampe bingung. Dari rumah, sekolah, terus ke ÔÇÿmata-mataÔÇÖÔǪ,ÔÇØ aku mewakili Jessica menjawab pertanyaan Ayahnya.

ÔÇ£Hah? Mata-mata?ÔÇØ tanya Pak Steven heran. Kemudian dia duduk di samping anaknya.

ÔÇ£Iya. Papa kan sering telpon-telponan sama mata-mata?ÔÇØ ungkit Jessica polos.

Haha Bukan telpon-telponan sama mata-mata sayang, tapi Papa lagi mata-matain bisnis Papa. Kalo nggak dimata-matain, Papa bangkrut dong. Hehe, ujar Pak Steven seraya mengusap-usap kepala anak perempuannya. Jessica dan aku hanya tersenyum satu sama lain.

ÔÇ£Ya udah, kita pulang yuk. Sebentar lagi sore nih. Kasian Mama sama adek di rumah ditinggalin dari tadi,ÔÇØ ajak Pak Steven pada Jessica untuk pulang. Jessica pun mengangguk setuju.

Tapi besok-besok kita ke sini lagi ya Pa, pinta Jessica.

Iya ya udah, salam dulu dong Bang Tito, suruh Pak Steven yang langsung diturutinya dengan mencium tanganku.

Jessica pulang dulu ya Bang, pamitnya dengan tersenyum manis.

Iya, hati-hati ya, balasku. Dia mengangguk.

ÔÇ£Eh, ini gorengannya Om.ÔÇØ Aku memberikan dua bungkusan tadi.

ÔÇ£Oh, iya! Hampir lupa.ÔÇØ Lagi-lagi dia menepuk dahinya. Dirogohnya saku bajunya, dan diserahkannya padaku uang dua ratus ribu.

ÔÇ£Waduh Om! banyak banget! Om bawa aja gorengannya juga nggak apa-apa kok Om. Kemarin kan Om udah kasih seratus ribu?ÔÇØ aku berusaha menolak pemberiannya.

ÔÇ£Udah, ambil aja. Masa Om abis ngeborong gini nggak bayar? Yang kemarin kan emang buat jajan Tito aja.ÔÇØ

Tapi Om Aku masih segan menerimanya.

Udah, nggak usah tapi-tapi Nih! diraihnya tangan kananku dan digenggamkannya langsung uang itu ke tanganku.

Makasih banyak ya Om, haturku penuh kasih padanya.

Iya, sama-sama. Ya udah, Om pulang dulu ya, pamitnya sembari menggendong putrinya di pelukan lengan kanannya. Sementara bungkusan-bungkusan itu dipegangnya dengan tangan kirinya.

Dadah Bang! ucap Jessica sambil melambaikan tangan.

Dadaahh Hati-hati Om!

ÔÇ£Ya!ÔÇØ jawab Pak Steven.

Mereka menyeberang dan kemudian masuk ke mobil mewahnya. Dan seperti sebelumnya, ketika roda mobilnya sudah mulai bergerak, Pak Steven memberi klakson dua kali. Tapi kemudian kulihat kaca pintu depan mobilnya terbuka, dan menampilkan Jessica yang melambaikan tangan padaku. Kubalas juga melambaikan tangan semeriah mungkin agar dia senang. Beberapa saat kemudian kaca mobilnya tertutup dan tak lama mobilnya pun berbelok dan menghilang di persimpangan jalan ke kota.

Aku melihat tanganku yang memegang uang dua ratus ribu. Aku berkata dalam hati, Rezeki memang nggak bakal lari kemana-mana

Wah, ada yang baru dapet rejeki nomplok nih Hehehe, sindir Bi Ipah sambil menaik-naikkan alisnya.

Ah, Bibi bisa aja, jawabku malu-malu. Kumasukkan dua ratus ribu itu ke tempat uang dan duduk kembali.

Walau aku cukup lega dengan keadaan Pak Steven yang ternyata sudah memiliki istri dan dua anak, tapi beban di pikiranku masih belum sepenuhnya sirna. Bagaimana jika suatu saat muncul lagi pria lain yang tak kalah tampan dan kaya dari Pak Steven? Apakah aku bisa menghindarkan Ibuku dari pernikahan kedua? Atau, apakah Pak Steven memang berniat menikahi Ibuku dengan tujuan punya istri dua? Sungguh aku tak bisa memikirkan apa-apa jika hal-hal yang kutakutkan itu memang terjadi.

ÔÇ£To!ÔÇØ panggil Bi Ipah setengah berteriak.

ÔÇ£Iya Bi?ÔÇØ sahutku.

ÔÇ£Nggak goreng tahap dua? Tempe gorengmu udah abis tuh!ÔÇØ katanya mengingatkanku.

Oh, iya! Oke deh Aku mulai menyalakan kompor lagi.

Saat menjelang sore, ketika aku masih menggoreng, Ibu datang. Aku cukup asing melihat setelan Ibuku kali ini. Dia memakai kaos oblong yang agak ketat dan celana legging motif bunga-bunga yang begitu memperlihatkan lekuk-lekuk tubuh bagian bawahnya. Dia tampak sangat berbeda.

ÔÇ£Ibu pake baju sama celana baru?ÔÇØ tanyaku yang sedang memperhatikan penampilannya sambil menggoreng.

ÔÇ£Iya To. Hari Rabu waktu ke kota, Ibu liat ada obral pakaian besar-besaran. Jadi Ibu beli deh. Banyak juga yang Ibu beli, sampe susah bawa barang-barang belanjaannya waktu pulang,ÔÇØ ungkapnya.

Ooo Aku mengangguk. Darahku agak berdesir melihat penampilannya yang terbilang seksi ini.

ÔÇ£Baju baru Yat!?ÔÇØ tanya Bi Ipah.

Iya Bi! Ada obral hari Rabu. Jadi Yati beli deh, jawab Ibu.

ÔÇ£Kamu jadi kayak anak muda lagi Yat, pake-pake baju seksi,ÔÇØ ujar Bi Ipah.

Hehe Bibi bisa aja. Yati kan emang belum tua-tua amat Bi

Hehehe Liat tuh anakmu, liatin badanmu aja dari tadi! tandas Bi Ipah lagi.

Ibu langsung menoleh padaku dan tersenyum. Aku yang tertangkap basah, kembali fokus ke gorenganku. Bi Ipah tertawa melihatku yang jadi salah tingkah. Ibu yang memaklumi tingkahku akhirnya membantuku menggoreng dan melanjutkan usaha ÔÇÿkecil-kecilanÔÇÖ ini hingga selesai. Hingga kami pulang ke rumah aku memanfaatkan setiap detiknya untuk curi-curi pandang ke penampilan Ibu yang baru. Layaknya tingkah semua Bapak-bapak mata keranjang yang sering membeli gorengan kami, perhatianku terfokus ke dada dan pantatnya.

Sesampainya di rumah, Ibu mandi dan mengganti pakaiannya yang tadi dengan daster kuning cerah tipis motif bunga tulip kesukaanku. Nafsuku terus terombang-ambing malam itu. Untuk menenangkan diriku, setelah selesai makan malam bersamanya aku belajar saja di kamar dan menyiapkan segala keperluanku untuk belajar di rumah Bu dina besok.

Namun aku tidak bisa memungkiri, dengan model pakaian-pakaian Ibu itu, tanpa disengaja Ibu memang sedang dalam proses membinaku menjadi anak yang kurang ajar.

***

Rajin-rajin belajarnya ya Nak Ingat! Pulangnya jangan kemalaman, pesan Ibu ketika aku akan pergi sekolah.

ÔÇ£Iya Bu,ÔÇØ jawabku sambil mencium tangannya. Aku pun berlalu dari hadapannya dengan irama langkah kaki yang cepat.

ÔÇ£Kali ini pasti Rama belum nunggu di depan gang,ÔÇØ pikirku.

Aku sedang bersemangat. Karena pagi ini aku harus bisa bertemu dengan Bu Aini. Aku sengaja pergi lima belas menit lebih cepat dari biasanya agar bisa mendapat kesempatan seperti waktu itu. Ini juga sekaligus sebagai pembuktian seberapa besarkah perhatian Bu Aini padaku.

Seperti yang sudah kuperkirakan, Rama belum ada terlihat menunggu di depan gang rumahnya. Ini memang benar-benar kesempatan emas buatku. Jantungku seketika berdebar-debar saat masuk ke dalam gang rumahnya Rama. Pikiranku tak bisa lagi menebak-nebak akan hal apa yang terjadi sebentar lagi saking gugupnya.

Ketika sampai di depan rumahnya, aku melihat seorang bidadari berjilbab yang sedang menyiram bunga di taman kecil rumahnya. Ketika kami beradu pandang, bidadari itu langsung tersenyum manis dan meletakkan selang airnya. Diajaknya aku untuk masuk ke dalam.

ÔÇ£EhÔǪ Tito udah datang. Yuk, mari masuk duluÔǪ Si Rama masih baru mandi tuh. Nungguinnya di dalam aja, sini…,ÔÇØ ajak Bu Aini yang kemudian menarik tanganku untuk masuk ke dalam rumahnya. Aku tak bisa mengatakan apapun ketika tangan halusnya menggenggam erat tanganku.

Setelah sampai di dalam, dia lekas mengajakku duduk di sofa ruang tamu. Seperti saat itu, tangannya menggenggam tanganku terus. Namun kali ini suasananya sedikit lebih intim karena Rama sedang berada di belakang sana tanpa tahu bahwa kami sedang berdua-duaan di sini.

ÔÇ£Tito apa kabar Nak? Sehat kan?ÔÇØ tanya Bu Aini yang tangannya kini mengelus-elus kepalaku.

Oh, ngg Iya Bu Sehat, jawabku gugup.

Udah lama nih Ibu nggak ngeliat anak Ibu yang ganteng ini Ibu jadi kangen, ungkap Bu Aini. Dia lalu merangkul bahuku dan merapatkan tubuhku ke tubuhnya. Aku cuma bisa senyum-senyum tak tentu arah.

Sepertinya yang dikatakan Rama mengenai Bu Aini yang akhir-akhir ini suka membicarakanku bukanlah isapan jempol belaka. Bu Aini memang bersikap sangat berbeda. Sosoknya yang biasanya sangat berkarisma, kini lebih mirip seperti Ibuku. Agak centil dan menggoda. Namun gayanya masih sangat anggun dan elegan.

Bu Aini saat ini memakai jilbab segitiga bercorak abstrak dengan dominasi warna ungu dan merah. Kaos lengan panjang warna krem dengan bahan katun yang agak ketat, dipadukan dengan rok A-Line panjang motif bunga-bunga mawar.

Ngg Rama Masih lama nggak Bu, mandinya? tanyaku. Jantungku masih berdetak kencang. Aku masih mendengarkan suara air dari belakang.

Emm Mungkin sebentar lagi, katanya sambil melihat jam dinding. Namun tangannya masih memeluk bahuku.

Ngg Bu Ntar Rama marah lho kayak kemarin, kalo liat Ibu pelukin Tito, ujarku yang merasa canggung ketika dipeluknya seperti ini. Walau sebesar apapun rasa sukaku pada Bu Aini, aku tetap merasa hal ini masih terlalu berlebihan untukku.

Rama? Biarin aja dia marah. Masa dia mau larang-larang Ibu dekat sama Tito. Jahat banget dia

Bu Aini menambah amunisinya. Dia sekarang memelukku dengan kedua tangannya, dan kepalanya disandarkannya ke bahuku yang sebelah kanan. Bisa kurasakan empuknya buah dadanya yang besar menekan lengan kananku.

Kata-kata Bu Aini mengingatkanku akan Ibu. Aku begitu tidak menginginkan Ibu menikah lagi. Aku begitu menginginkan Ibu jadi boneka yang seperti tak merasakan apa-apa selain cinta dan sayang dariku sendiri untuknya. Aku tak ingin Ibu mencintai orang lain, bahkan hanya untuk sekedar mengenal seorang pria. Aku betul-betul egois.

Ketika Bu Aini masih memelukku dengan eratnya, suara air dari kamar mandi berhenti. Dan tak lama setelah itu Rama yang berlari kecil ke kamarnya dari ruang tengah melihat keadaan kami sekarang. Dia langsung terhenti di depan pintu kamarnya. Tercengang dengan hanya terbalut handuk.

Kenapa? Cepetan ganti bajunya Nanti telat, ucap Bu Aini dari sini.

Ternyata Bu Aini juga menyadari dan melihat Rama yang berdiri terpatung di situ, tapi dia tetap saja masih memelukku tanpa kendur sedikitpun. Aku yang dipeluknya tak bisa berbuat apa-apa.

ÔÇ£Bunda ngapain sih peluk-peluk Tito kayak gini? Keganjenan tau nggak sih!?ÔÇØ Rama mendatangi kami dan melepaskan tangan-tangan Ibunya yang memelukku.

Hihihi Ya udah deh, Bunda lepasin Bu Aini pasrah ketika anaknya melepaskan pelukannya dariku.

Jangan peluk-peluk Tito lagi ya Awas lho! Rama memperingatkan Bundanya. Dia kemudian melangkah ke kamarnya, tapi menoleh ke belakang sesekali untuk memastikan kejadian itu tak terulang di detik itu juga.

Namun tetap saja. Ketika Rama sudah benar-benar ada di dalam kamarnya, Bu Aini kembali memelukku lagi dengan cara yang sama. Aku hanya bisa memberi penolakan kecil-kecilan, Bu Udah Bu Nanti Rama marah

Hehe Nggak apa-apa To. Rama nggak bakal marah kok. Dia cuma kesal aja, jawab Bu Aini asal.

Emm Ibu nggak ke toko? aku mencoba mengganti topik pembicaraan agar dia mau melepaskanku barang sebentar, tapi dia tetap menjawabku sambil memeluk.

ÔÇ£Lho? Tito kan tau kalo Ibu perginya abis Rama pergi sekolah.ÔÇØ

ÔÇ£Oh, gitu ya Bu,ÔÇØ balasku seadanya.

Beberapa saat kemudian Bu Aini sepertinya sudah puas memelukku. Dia melepaskan pelukannya, lalu memegangi tanganku. Dielusinya punggung tanganku sambil tersenyum menatapku. Aku hanya mampu melirik keelokan parasnya sesekali dan ikut tersenyum juga ketika pandangan kami bertemu. Praktis hingga Rama keluar dari kamarnya, kami hanya melakukan kontak mata tanpa kata.

Dia mendatangi kami ke ruang tamu sudah lengkap dengan seragam sekolah dan tas sandangnya. ÔÇ£Tadi peluk-pelukan, sekarang pegang-pegangan. Bunda kenapa sih? Suka ya, sama Tito?ÔÇØ

ÔÇ£Iya, emang kenapa?ÔÇØ ucap Bu Aini seolah menantang anaknya.

Ihh Bunda! rengek Rama protes.

Hihihi Udah cepetan dipake sepatunya, ntar telat! perintah Bu Aini. Rama melengos dan duduk di sofa untuk memakai sepatunya. Matanya hanya tertuju pada kami berdua.

ÔÇ£Udah, nggak usah diliat-liat terus. Ibu nggak ngapa-ngapain lagi kok sama Tito,ÔÇØ ujar Bu Aini menenangkan perasaan anaknya. Dia memang sudah melepaskan tanganku dan duduk dengan ÔÇÿwajarÔÇÖ.

Ketika dia sudah selesai memakai sepatunya, dia langsung mengajakku pergi dan memperingatkan Ibunya. ÔÇ£Yuk To! Cepetan! Jangan pake dicium-cium ya Bunda!ÔÇØ

Hihi Tito, sini sayang Cupp Cupp Bu Aini benar-benar tak mengindahkan kata-kata anaknya. Selagi aku masih duduk di sampingnya, dia mencium kedua pipiku dengan bibir lembutnya untuk salam perpisahan. Hal itu langsung mendapat protes keras dari Rama.

ÔÇ£Ibu apa-apaan sih!? Udah dibilang jangan pake acara cium-cium, dicium juga!ÔÇØ protesnya. Aku hanya bisa melongo menafsirkan ketidakpercayaanku pada apa yang sedang terjadi. Aku tak menyangka Bu Aini berubah menjadi seperti ini.

Hihi Sini kalo mau Ibu cium juga. Bu Aini sudah mengulurkan tangannya untuk menyambut Rama dengan ciuman hangatnya.

ÔÇ£Nggak! Yuk to! Tinggalin aja Bundaku yang ganjen ini!ÔÇØ Rama menyeret tanganku untuk segera keluar dari rumahnya.

Hati-hati ya, Bu Aini masih dengan entengnya mengucapkan pesan perpisahan pada kami sambil tersenyum manis seolah tak peduli dengan kekesalan anaknya.

Ketika sampai di mulut gang, lagi-lagi barulah dia melepaskan tanganku. Wajahnya terlihat sangat gusar. Beberapa saat dia seperti berpikir keras. Aku ingin mengajaknya mengobrol lebih dulu seperti yang sudah-sudah. Namun ketika kata-kata itu masih di ujung lidahku, dia lebih dulu bersuara.

Akkhh Bunda kenapa sih!? Kok dia jadi berubah kayak gitu!? Kemaren-kemaren waktu dia liat lu biasa aja kok, tapi sekarang kok jadi begitu ya!? Rama mencoba menyampaikan protesnya padaku.

Mmm Aku sih nggak tau Ram. Aku juga kaget.

ÔÇ£Bohong! Lu pasti pake pelet kan!? Lu melet Bunda gue kan!?ÔÇØ tukasnya.

ÔÇ£Sialan bener lu! Emangnya gue orang kayak apaan, yang melet Ibu sahabatnya sendiri!? Udah gila lu ya!ÔÇØ proteku keras padanya.

Melihatku yang begitu serius mengucapkan kalimat-kalimat itu, Rama terdiam dan mempercayainya. ÔÇ£Terus, kenapa dong?ÔÇØ

ÔÇ£Mana gue tau! Lu kan anaknya? Seharusnya lu dong yang tau!ÔÇØ Aku memvonisnya balik.

Hhhhh Rama menarik dan menghembuskan nafas panjang. Dia mencoba berpikir ke setiap elemen yang mungkin membuat Ibunya jadi seperti itu. Tapi dia tetap gagal menemukan jawabannya. Akhirnya kami melanjutkan perjalanan ke sekolah dengan lebih banyak diam.

Namun kejadian ini bukanlah kejadian yang ingin kusudahi. Memang aku tak bisa memungkiri kalau aku tadi cukup terkejut juga dengan perlakuan Bu Aini padaku. Tingkahnya memang mirip sekali seperti orang yang sedang terkena pelet tingkat tinggi. Dia melihatku dengan sorot mata yang lebih intim daripada seorang anak biasa, dan perubahan itu terjadi hanya dalam kurun waktu beberapa hari. Aku tak bisa membayangkan jika Rama tidak ada di rumahnya tadi. Dari cara Bu Aini menatapku tadi, Bu Aini seperti punya niat yang sangat kuat untuk memperkosaku. Tapi aku malah membayangkan seandainya Bu Aini memperkosaku, pasti aku ingin lagi dan lagi.

***

Wuuuiiingg Wuuuiiiinngg Wuuuiiiinnnggg, Bel tanda pulang sekolah berbunyi. Sorak-sorai siswa dan siswi langsung bergaung di setiap kelas. Mereka tak sabar ingin segera pulang untuk menikmati akhir pekannya.

Seluruh teman sekelas kami sudah keluar semua, menyisakan aku dan Rama yang masih duduk bersebelahan di kursi kami. Bu Dina di depan sana melihat ke arahku sambil mengangguk seakan mengatakan bahwa ÔÇÿIni adalah saatnya bagi kita untuk pergiÔÇÖ. Aku masih sibuk membereskan buku-bukuku yang kubawa cukup banyak. Rama sudah berdiri dari kursinya, bersiap untuk pulang.

ÔÇ£To, lu mau langsung pergi sama Bu Dina?ÔÇØ tanya Rama dengan suara yang dipelankan.

Emm Iya tuh kayaknya. Bu Dina udah kasih kode, ujarku sambil melirik ke Bu Dina.

ÔÇ£Ya udah, kalo gitu gue duluan ya!ÔÇØ pungkas Rama.

Oke Lu hati-hati ya! timpalku. Rama mengangguk saja.

Permisi Bu, ucap Rama di depan sana yang melewati meja Bu Dina. Bu Dina tersenyum dan mengangguk.

ÔÇ£Udah siap semuanya To? Nggak ada yang ketinggalan?ÔÇØ Bu Dina berdiri dan menunggu.

ÔÇ£Udah Bu, udah siap.ÔÇØ Aku juga berdiri dari kursiku dan menyandang tasku yang saat ini cukup berat.

ÔÇ£Ya udah, yuk!ÔÇØ ajaknya. Aku pun berjalan keluar mengikutinya.

Wajahku terasa kaku dan kebas. Sepertinya aku merasa sedikit tegang. Baru kali ini Bu Dina mengajakku ke rumahnya. Aku tak tahu cara belajar apa yang akan diterapkan Bu Dina nantinya kepadaku. Apakah lembut seperti gaya bicaranya padaku, atau tegas seperti kebiasaannya mengajar di kelas.

Aku hanya membuntutinya berjalan di sepanjang koridor hingga ke kantor guru. Aku asyik melihat pantatnya yang bergoyang-goyang ketika berjalan, persis seperti model yang sedang berjalan di catwalk. Aku juga sibuk memandangi setelan bebasnya yang selalu dipakainya setiap JumÔÇÖat dan Sabtu. Hari ini dia memakai atasan kemeja lengan panjang warna putih dengan renda yang memenuhi seluruh bagian kancingnya, dan bawahan rok span selutut warna hitam yang cukup ketat persis seperti ketatnya rok Bu Aini. Rok itu menunjukkan lekuk pinggul dan pantat pemiliknya.

Setiap JumÔÇÖat dan Sabtu para guru memang diperbolehkan memakai pakaian selain pakaian PNS-nya. Jadi pada hari-hari itu pula aku bisa melihat Bu Dina mengeksplorasi gayanya sendiri dalam mengajar, dan kecantikannya terlihat lebih maksimal.

Begitu sampai di kantor guru untuk meletakkan buku-buku ajarnya, Bu Dina disambut dan disapa oleh beberapa guru. Laki-laki maupun perempuan. Tapi yang paling jelas adalah Pak Rudi. Seorang guru kelas yang mengajar di tingkat kelas 4. Aku berulang kali menangkap gerak-gerik Pak Rudi yang sepertinya sangat gencar mendekati Bu Dina. Segala macam cara diperbuatnya. Menyapa, mengajak mengobrol, bahkan melemparkan senyum termanisnya setiap waktu pada Bu Dina.

Aku mengetahui perangai Pak Rudi dengan cukup baik. Sejak aku masih duduk di kelas 1, dia memang sudah mengajar di sini. Berbeda dengan Bu Dina yang baru mengajar di sekolah ini ketika aku sudah di kelas 6. Jadi Bu Dina seperti ÔÇÿmainan baruÔÇÖ yang berkilauan bagi para guru lelaki di sini. Padahal yang kutahu, mereka semua termasuk Pak Rudi sudah punya istri. Tapi itu seolah bukan merupakan kendala bagi mereka untuk menunjukkan ÔÇÿtajinyaÔÇÖ.

Pak Rudi mengajak Bu Dina mengobrol, tapi Bu Dina hanya menanggapinya sedikit dan dengan sopan mengatakan kalau saat ini dia sedang ada urusan denganku dan ingin pergi secepatnya pulang. Pak Rudi tidak bisa berbuat apa-apa dan membiarkan Bu Dina berlalu dan menggandeng tanganku untuk berjalan keluar ruangan.

Tito belum makan kan? Nanti Ibu masakin di rumah Ibu ya Katanya sepeninggalnya dari ruang guru. Sepertinya Bu Dina tak terlalu ambil pusing dengan obrolannya dengan Pak Rudi tadi.

Eh, iya Bu, sahutku. Ini kali kedua guru Killer nan cantik ini menggenggam tanganku.

***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*