Home » Cerita Seks Mama Anak » Tubuhku Yang Indah 7

Tubuhku Yang Indah 7

Selesai mamanya bersetubuh, Aryo hanya bisa terpaku dan menahan nafsunya. Mamanya disiram peju oleh bapak-bapak ortu murid sampai becek. Aryo sebenarnya ingin ikut menyetubuhi mamanya juga tapi malu dengan bapak-bapak yang lain. Dia hanya bisa memegang kontolnya yang tegang maksimal.

Sementara itu mamanya masih berlutut di depan mereka. Peju melumuri seluruh tubuh indah wanita cantik itu. Toketnya yang mulus sudah terkena semprot air mani yang sangat banyak. Wajahnya yg cantik penuh dengan semprotan air mani. Bahkan mata dan mulutnya juga kena. Tetapi Nindya masih terlihat cantik dan menggairahkan. Mamanya dapat membuat nafsu lelaki turun naik

Namun, kelihatannya bapak-bapak itu belum puas. Memang berkali-kali pun dientot, tetap saja masih membuat horny. Tetapi Nindya merasa sudah sangat lelah sehingga berpamitan.

“Udah malam nih pak, saya pamit dulu ya.” Ucapnya
“Baiklah, bu. Terima kasih udah mau nemenin kita-kita.” Jawab beberapa dari mereka.

Lalu Aryo dan mamanya meninggalkan mereka dan kembali ke kamarnya. Aryo merasa masih tanggung karena belom diberi jatah oleh mamanya. Dia kecewa mamanya tak mau melayaninya sedangkan orang tua temannya dilayani. Dia hanya bisa menatapi tubuh ibunya sambil menahan nafsunya.

Malam sudah semakin dingin, daratan semakin gelap menandakan hari yang hampir terganti. Aryo dan mamanya berjalan ke kamar dengan kantuk. Tap.. Tap.. Akhirnya mereka sampai dan langsung membaringkan badan dengan lontai. Tanpa menegur Aryo langsung menghadap ke arah yang berlawanan dari Nindya menunjukan kekesalannya. Nindya merasa cuek karena ia tak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tetapi Nindya akhirnya merasa risih. Ia mulai menggerak-gerakan badannya menunjukan kepedulian. Tetapi Aryo tetap tidak bereaksi. Lama-lama mulut mulai beraksi.

“Kamu kenapa marah?” Tanyanya. Tak ada jawaban yang terlontar
“Yo kamu kenapa sih?” Katanya dengan nada lebih tinggi yang dijawab oleh Aryo. Aryo berbalik dengan sedikit kesal
“Mama tuh nakal banget. Masa orang tua temen anak sendiri dilayanin” jawabnya
“Ya kan mereka yang godain mama terus sayang. Terus kenapa kamu yang marah? Apa kamu juga pengen?”
“Ya… Eng.. ngak lah ma” kata Aryo terbata-bata karena sebenarnya ia ingin.
“Hihi kamu marahin mama main sama suami orang tapi kalo mama ngelayanin kamu, kamu gak marah” Nindya menjawab sambil nyengir mengajak bercanda.
“Ya habis aku iri mama ngelayanin mereka.” Balasnya. Tak terasa jarak mereka semakin dekat.
“Oo… Cup… Cup… Emang kamu maunya mama buat siapa sih?” Goda Nindya
“Ya buat aku sama papa doang”
“Mmh… gemesin banget deh” katanya sambil mencubit kemaluanku.
“Tuh kan mama godain lagi” balas Aryo
“Iya deh gak godain lagi. Yuk tidur besok mama kasih yang enak-enak deh”
“Yah ma kok besok?” Rengeknya
“Besok kita harus bangun cepet jadi tidur cepat juga”
“Yaudah deh” kata Aryo cemberut

Tak lama kemudian mereka memejamkan mata dan tertidur. Malam yang sangat melelahkan. Mereka tertidur pulas. Esok hari harus bangun cepat agar tidak terlambat.

“Tok… Tok…” Bunyi ketukan pintu yang semakin cepat dan kencang.
“Mmphh…. Iya sabar-sabar” jawab Nindya terbangun mengucek matanya.
“Cklek…” Nindya membukakan pintu masih menggunakan baju tidur yang terbuka.
“Eh ibu.. Udah ditungguin sama rombongan tuh bu” seorang pelayan mengingatkan
“Serius mas? Emang jam berapa sekarang?” Tanyanya kaget dan melepaskan kucekan matanya
“Udah jam 9.00 bu. Udah pada mau berangkat” jawab mas itu.
“Astaga aku telat. Yaudah aku mandi dulu mas” jawab Nindya seraya menutupkan pintu. Pelayan tersebut dalam hatinya sangat menyukai tubuh Nindya. Hanya sekali lihat ia langsung terpesona. Dalam pikirannya Nindya akan dijadikan bahan coli malam harinya.

Nindya berlari masuk dan berniat membangunkan anaknya. Tetapi sampai di tempat tidur, anaknya sudah tiada. Nindya beranjak ke kamar mandi dan mendapati anaknya berada di dalam sedang mandi. Rupanya saat Nindya membuka pintu tadi Aryo sudah menyadari ketelatan mereka dan langsung mandi. Diketuknya pintu kamar mandi. Dengan sedikit panik ia meneriaki Aryo.
“Yo, cepetan mandinya udah ditungguin nih nanti ketinggalan.” Teriaknya
“Sabar kek ma aku udah tau makanya aku langsung lari.” Jawabnya
“Yaudah cepetan ya” katanya

Nindya menunggu Aryo di tempat tidur. Aryo lama sekali mandi pikirnya. Dia tak mau ditinggal rombongan karena hari ini rencananya mereka mau jalan-jalan. 5 menit kemudian Aryo keluar dan langsung memakai bajunya terburu-buru. Nindya langsung berlari dan mulai mandi. Saat di kamar mandi Aryo berpamitan pada mamanya namun ia tak mendengar. Selesai Nindya mandi ia keluar dan meratapi anaknya yang sudah pergi. Tetapi ia langsung memakai bajunya siapa tahu masih ada harapan.

Lalu ia berlari ke parkiran. Ia harus melewati jalan panjang melalui restoran dan resepsionis. Sepanjang perjalanan ke parkiran pelayan menontoni keindahan tubuhnya. Toketnya yang kencang berguncang-guncang di balik kaos ketat seketek berbelahan tinggi. Pahanya yang putih mulus semok hanya ditutupi rok mini yang diterbangkan angin. Mereka hanya bisa menelan ludah melihat itu semua. Sementara Nindya tak tahu ia diperhatikan oleh mereka. Ia tetap cuek karena terburu-buru.

5 menit ia berjalan, sampailah di parkiran bis. Tetapi apa yang ia lihat membuatnya merasa sedih. Rombongan bis telah berangkat. Dia hanya meratapi nasib. Sudah dandan dan berpakaian secantik ini akhirnya harus ditinggal karena keterlambatan. Wanita cantik itu duduk di kursi hanya bisa menunggu kebalikan mereka. Pantatnya melenggak-lenggok saat ia berjalan. Di sudut jauh, terdapat 2 satpam sedang berjaga. Mereka tertawa-tawa sendiri melihat Nindya. Rupanya mereka sedang membicarakannya.

“Rif, kayaknya di sebelah sana ada mama muda cantik tuh haha” kata seorang satpam
“Iya tuh mat, godain yuk hehe” kata Arief.
Mereka adalah Arief dan Rahmat satpam villa yang sangat mesum. Memiliki postur tinggi tegap dan kekar namun hitam dan memiliki wajah jelek.
“Gua kalo punya istri kayak gitu punya anak berapa ya? Wong tiap hari gua entotin di kamar kalo kayak gitu.” Kata Arief
“Iya rif, dari jauh udah cantik gitu. Pahanya mulus banget rif. Kalo gua gak gua kasih keluar kamar haha” jawab Rahmat diakhiri mereka berdua cekikikan.
“Yaudah yuk samperin”
“Yuk”

Mereka berdua melangkah dari pos yang kira-kira 200 meter dari parkiran. Mereka membawa kopi dan tongkat satpam. Tak lama sampailah mereka di tempat Nindya duduk. Betapa kaget mereka ternyata sosok wanita tersebut jauh lebih cantik ketika didekati. Membuat mereka semakin bernafsu. Arief memberanikan diri membuka pembicaraan sambil tetap berdiri berdua dengan Rahmat di depan Nindya.
“Pagi bu, cari siapa ya bu?” Katanya pura-pura ramah.
“Saya ditinggal rombomgan saya pak” rengeknya menambah keimutannya. Dia tak tahu bahwa mereka sedang nafsu dengan dirinya.
“Uhhh…. Manisnya” dalam pikiran mereka berkata. Melihat reaksi itu mereka kemudian duduk di samping Nindya. Arief kiri. Rahmat kanan.
“Yaudah ibu gausah sedih kita temenin deh” kata Rahmat membujuknya pelan.
“Tapi kan jadi gak jalan-jalan” jawab Nindya
Kata-kata Nindya tidak dijawab oleh mereka. Mereka mengalihkan pandangan ke depan ke arah parkiran. Namun mata mereka masih mempelototi wanita cantik itu dari samping. Tubuhnya yang bohay membuat khayalannya terbang tinggi. Mereka tetap mempelototi tubuh indah itu juga menghirup wangi tubuhnya.

Tiba-tiba, Nindya menyadari tubuhnya dipelototi. Dengan bawaan kecewanya ia marah terhadap mereka.
“Apaan sih pak liat-liat mulu?” Katanya
Mereka kaget dan mengalihkan pandangan.
“Enggak kok bu ibu gausah marah” jawab Arief
“Emang saya gatau hah! Kalian ngeliatin tubuh saya dari atas sampe bawah mulu” jawabnya lebih galak.
“Iya.. Deh bu kami ngaku” jawab Rahmat
“Ibu cantik banget soalnya sih.” Lanjut Arief. Ia bergeser semakin dekat ke Nindya.
“Ngapain kamu deket-deket!” Bentaknya. Kebetulan suasan di tempat itu sepi dan hanya sedikit orang yang lewat
“Eits jangan marah dulu bu aku gak ngapa-ngapain kok” jawab Arief.
Namun mata mereka tetap tak terlepas dari sejenjang kulit pun. Kulit mulus itu membuat mereka terpaku.

“Bu kulit ibu kok putih banget deh?” Tanya Rahmat
“Ho oh sampe keliatan urat dalamnya” lanjut Arief. Nindya kemudian menatap mereka
“Iyalah pak tiap hari saya lulurin terus saya kasih lotion” jawabnya. Kali ini ia menjawab tidak terlalu judes seperti tadi.
“Oohh sering perawatan ya bu? Berarti halus dong?” Tanya Rahmat memancingnya dengan memujinya.
“Iya dong pastinya” jawab Nindya senang mulai terpancing.
“Boleh coba pegang ga?” Lanjut Arief terang-terangan.
“Oh boleh dong kalo pegang doang” kata Nindya yang membuat mereka bahagia. Mereka lalu bertanya
“Eh si ibu baik banget. Saya pegang pahanya ya?” Tanyanya sebelum memegang. Ia kembali memuji agar di-iyakan.
“Boleh kok” jawab Nindya singkat.

Srek… Srek… Bunyi tangan Arief mengelus paha Nindya. Ekspresi mukanya sudah tak tahan lagi. Kemulusan pahanya semakin membuat nafsunya menjadi-jadi. Paha itu terasa sangat licin.
“Astaga ibu halus banget” katanya. Dari awalnya ingin pegang jadi elus-elus. Kontolnya kembali tegak sambil menghirup aroma Nindya.
“Ya iyalah saya sering ngerawat.” Jawab Nindya semakin memberi lampu hijau tanpa menolak elusan tangan Arief. Sementara temannya hanya bisa melihat aksinya.

Namun tak lama kemudian, ia meminta pada Nindya
“Aku pegang jari ibu aja deh boleh gak?” Tanya Rahmat. Ia semakin salah tingkah melihat situasi memanas.
“Boleh aja” jawab Nindya.
Kemudian ia langsung memegang tangannya. Warna kulitnya sangat kontras. Ia membelai jarinya. Lalu merasakan jari-jari lentik tersebut. Sama seperti Arief, Rahmat pun semakin nafsu tak karuan. Memegang jarinya yang bersih tanpa noda. Ia mengelus jari tersebut.

Mendapatkan izin mengelus membuat mereka semakin kelepasan. Mereka mencium rambut bergelombang Nindya. Dicium dan dijambak-jambak.
“Wangi banget rambutnya indah lagi bu mmph…” Kata mereka
“Awww sakit jangan ditarik” eluh Nindya

Semakin lama mereka semakin tidak puas. Mereka akhirnya bosan. Akhirnya mereka mulai kurang ajar.
“Bu saya boleh minta foto ibu gak?” Kata Rahmat
“Buat apa? Boleh aja sih” jawab Nindya.
Rahmat sangat bahagia mendengarnya lalu mengeluarkan HPnya yang butut.
“Awas dulu toh Rif aku mau foto ini” katanya pada Arief yang sedang asik mengelus paha ibu muda jelita itu.
Ckrik… Rahmat mengabadikan foto seksi Nindya dengan kaos ketiak ketat dan rok mini. Untuk dijadikan bahan coli olehnya.

Namun, hal itu masih membuat mereka kurang puas. Mereka tambah kurang ajar. Kali ini Arief yang meminta. Ia mulai mengeluarkan pikiran liciknya untuk membuat Nindya nafsu juga.
“Bu boleh saya jilat gak paha ibu. Rahmat juga jilat tangan ibu. Boleh gak bu?”
“Hmm… Gimana ya… Boleh aja deh” jawab Nindya. Rencana Arief berjalan lancar. Nindya masuk kedalam perangkap.
Mereka berdua mulai menjilati tubuh Nindya. Paha mulus itu dijilat-jilat pelan agar membangkitkan nafsunya. Jari lentiknya juga dicium-ciumi. Tak lama kemudian Nindya mulai terangsang. Memeknya mulai lembab.
“Ssshh…..” Akhirnya kata-kata itu keluar dari mulutnya. Sensasi ditinggikan itu membuat ia terpancing. Ia merasa seperti dijilat oleh orang-orang hina dan ditinggikan oleh mereka.

Rahmat dan Arief kemudian tersenyum sendiri melihat reaksinya. Maka mereka mulai semakin berani. Kali ini mereka menuju ke arah yang vital. Yaitu toket sempurna Nindya
“Bu boleh kami pegang toket ibu gak?” Tanyanya yang kurang ajar.
“Mmphh…. Boleh deh” jawabnya semakin tak karuan. Memeknya semakin gatal merasakan sensasi tersebut. Mendengar lampu hijau darinya mereka mulai menjadi-jadi. Dipegangnya toket sekal itu. Toket yang sangat montok dan kencang. Yang membuat lelaki manapun nafsu melihatnya. Mereka pun tak dapat menahan tegangan kontol mereka. Saat memegang serentak langsung tegak total ke titik puncak. Toket semok itu membuat mereka semakin ingin crot. Tinggal sedikit saja mereka mengocok pasti sudah keluar air maninya.
“Ohhh…. Tante, toketnya kenyal banget” kata Arief. Sekarang mereka mulai memanggil tante
“Iya tante cocok sama mukanya ahhh…. Cantik banget natural gitu” lanjut Rahmat.

Mereka sudah tak kuat. Akhirnya mereka bertekad mengakui bahwa mereka sudah ngaceng.
“Tante maaf nih aku ngaceng total megang toket tante sama ngeliat muka tante” kata Arief
“Aku juga tante kemulusan tubuh tante bikin adek aku bangun total” lanjut Rahmat. Walaupun masih memakai baju, tetap saja toketnya masih menggairahkan. Keindahan tubuh Nindya memang membuat semua pria terpikat dan bertekuk lutut. Hanya dipegang dari luar saja 2 orang satpam tegak total.
“Sorry nih tan, aku boleh ngocok gak?” Tanya Arief. Dia semakin kurang ajar.
“Tentu saja boleh sayang” jawab Nindya.
“Tapi jangan dikenain ke tubuh tante ya kontolnya” Lanjutnya. Kata-kata kontol membuat Arief terpancing

Tuing… Kontolnya langsung dikeluarkan. Kontol itu sudah tegak berdiri dan mengeluarkan urat. Kontol berukuran 20 cm dan diameter 7 cm. Sungguh kontol yang luar biasa.
“Astaga sayang gede banget!” Kata Nindya sangat kaget. Ia mengukur kontol itu dengan lengan bawahnya hampir sama.
Gesekan tersebut membuat Arief kenikmatan
“Aahh… Tangannya tan sshh.”
“Udah mulai ngocok sana diem-diem” kata Nindya tersenyum agar Arief semakin nafsu.
“Ah senyumannya makan nih kontol aku tan” kata Arief mendesah
“Aku juga mau ngocok deh tan” kata Rahmat
Tuing…. Kontol Rahmat menjulang bebas. Kontol yang jauh lebih besar dari kontol Arief yang superior. Panjang 30 cm diameter hampir 10 cm. Nindya kemudian mengukurnya dengan lengannya dan ternyata memiliki panjang yang sama
“Oh my god! Gede banget astaga memek tante robek kali ditusuk!” Teriak Nindya
“Hehe iya dong tan. Ini berdiri karena tante jadi tante pantas bangga” kata Rahmat

Mereka lalu mengocok pelan-pelan sambil memegangi tubuh Nindya. Sambil menciumi leher halus jenjang itu yang sangat wangi. Toket yang montok dipegang mereka. Paha yang juga halus sekali sambil dielus sambil mengocok kontol. Sungguh membuat mereka merasakan sensasi yang tak pernah mereka dapatkan dalam hidup.

“Ahhh tan…. Kok tubuh tante sempurna banget sih… Uhh….” Kata Arief sambil mengocok memegang toket 36c itu
“Pahanya halus wangi lagi padahal paha ohhh…. Tan” kata Rahmat lagi.
“Bayangin tante senakal-nakal kalian deh” jawabnya singkat.

Sekitar 10 menit mereka mengocok, belum juga datang puncak kenikmatan tersebut. Nindya merasa bosan dan menawarkan sesuatu yang di luar akal mereka.
“Lama banget sih kalian. Tante kocokin pake tangan deh ya kalian pegang toket tante” apa? Nindya mulai di luar kepala. Enak sekali 2 satpam itu.
“Ohh…. Tan aku gak bisa bayangin langsung aja deh” jawab rahmat.
Langsung Nindya membelai kontol super mereka dengan jari lentiknya. Sekali sentuh mereka mulai berteriak.
“Ohhh…. Ahh…. Jarinyaa….” Kata mereka berdua. Mereka memainkan toket Nindya.

Tak sampai 5 menit, akhirnya mereka merasakan sudah di ambang puncak. Mereka tak dapat menahan lagi. Nindya melanjutkan kocokan itu
“Crotin aja deh di muka tante kasih” duar! Sebuah penawaran yang sangat membuat kepala mereka meledak. Sudah ingin keluar tambah dipancing lagi.
“Ohhh….. Oke tante” desah mereka kemudian bangun dari tempat duduk.

Crrrrrrotttttt…….. Crrrrrrrooooottttttt…… Kontol mereka kemudian meledak sangat dahsyat. Mereka seperti terbang ke atas langit. Kontol tersebut mengeluarkan peju dengan cepat dan sangat banyak. Kontol Arief 10 kedutan. Sedangkan kontol Rahmat 15 kedutan. Peju itu kemudian diterima oleh wajah seorang wanita cantik. Peju mereka menyemprot deras ke tubuh Nindya yang masih menggunakan pakaian. Peju itu mengenai leher dan wajah cantik Nindya dengan telak. Rambutnya yang indah juga terkena peju. Peju itu berwarna sangat putih membuat tubuhnya mengkilat menambah jelas mulusnya kulit Nindya. Sperma yang lain mengucur ke bajunya. Sedikit ternodai cairan putih.
“Ugghh…. Uhuk….. Banyak banget uhuk…” Kata Nindya batuk-batuk membendung sperma mereka. Wajahnya yang penuh sperma membuat ia tampak lebih cantik. Bibirnya yang mungil penuh dengan cairan lengket tersebut.
“Makasih ya tan. Itu ejakulasi ternikmat saya” ucap Arief. Ia masih sedikit mendesah setelah melalui peristiwa nikmat itu. Bagaimana tidak? Dikocokin oleh wanita cantik, mulus, semok, toketnya gede lagi. Apalagi diberi kesempatan memainkan toketnya walaupun dari luar.
“Aku juga” lanjut temannya. Untuk kontol Rahmat, Nindya mengocoknya untuk terakhir kali karena kontol itu kontol terbesar yang telah berkedut di hadapannya.
“Yaudah gapapa deh… Tante bagi tisu dong berantakan nih muka tante. Kalian juga pake baju cepetan.” Balas Nindya dengan sperma belepotan.
“Hehe tante makin cantik kayak gitu. Nih tan tisunya.” Kata Arief senang melihat Nindya seperti itu. Mereka lalu memakai bajunya. Setelah itu mereka masih tetap bernafsu dengan tubuh Nindya. Akhirnya Nindya hanya memberi mereka memegang tubuhnya dari luar saja karena rombongan sudah mau datang.

Mereka lalu bersama menunggu rombongan bertiga setelah selesai beres-beres

Memiliki tubuh yang indah memang sangat senang dan bangga. Membuat setiap orang dapat memamerkannya. Berkat tubuh yang indah itu juga kehidupan seseorang berubah. Namun ada yang tak kusukai dari tubuhku yang indah. Yaitu godaan bertubi-tubi kapanpun dan dimanapun aku berada. Pakaian yang seksi kerap membuatku berada di situasi tersebut. Aku memang sangat suka berpakaian seksi karena enak dilihat. Tapi jika disalahgunakan dapat merugikan. Aku adalah salah satu wanita yang tidak suka memiliki tubuh indah karena tak lepas dari godaan lelaki tersebut. Bahkan kadang merugikan seperti contohnya….

###############################

Setelah perpisahan kelas Aryo, aku terlelap hampir seharian dari pagi hingga malam hari. Karena tubuhku juga sangat capek. Melaksanakan hari yang panjang dan sulit. Aku baru terbangun pada malam hari saat jam menunjukan pukul 7 malam. Sekitar 15 jam aku tertidur. Wow sangat lama sekali. Aku kemudian bangun dan mencari Aryo. Ternyata dia di kamarnya sedang bermain game online. Baiklah aman saja yang penting dia sudah di rumah. Aku kembali ke kamar.

Saat ingin kembali ia menyapaku
“Halo ma, lama banget tidurnya” ledek Aryo
“Iyalah yo capek nih” jawabku
“Halah capek kenapa? Dientotin yah?” Candanya
“Heh nakal kamu ya ngomongnya… iya sih gara2 itu” jawabku memarahi sambil mengaku.
“Tuh kan bener. Oh ya ma besok temen Aryo mau main ke sini” kata Aryo. Temannya mau kesini? Aku harus dandan cantik lagi nih pikirku.
“Ma kok bengong?” Kagetnya
“Enggak kok” balasku.
“Mama pasti pengen godain temen Aryo kan? Ngaku deh” tebakannya tepat.
“Hmm ngga kok” jawabku lagi.
“Temen Aryo udah nafsu banget sama mama kemaren” kata2nya membuatku terhipnotis. Tentu aku sangat senang karena merasa sukses.
“Mama harus keliatan cantik ya besok hehe” pintanya padaku. Tidak usah dibilang aku juga sudah niat.
“Iya iya tapi temen kamu ganteng-ganteng banget deh yo” pujiku untuk teman Aryo.
“Ganteng ya mah? Diewein mau ga mah?” Aryo bertanya dengan kurang ajarnya.
“Iiihh nakal ah kamu” aku sedikit berteriak sambil mencubit anakku yang nakal ini. Namun dalam hatiku aku ingin merasakan penis besar teman-teman tampan Aryo. Tapi aku akan berusaha tidak murahan.

Setelah selesai ngobrol, kami tidur ke kamar masing-masing. Hari sudah kembali pekat. Waktunya tidur, pekerjaan berat menanti esok.

Cuit….cuit…. bunyi burung terdengar menandakan hari sudah pagi. Aku mengangkat selimut dan duduk. Kulihat masih pukul 7 pagi dan dari kaca masih kelihatan langit tidak terlalu terang. Hoam… Aku masih mengantuk tapi apa boleh buat aku harus bangun dan bersiap-siap untuk menyambut teman Aryo. Aku mengambil hp yang tergeletak di meja samping tempat tidur dan membaca notifikasi. Hanya ada pesan dari teman arisanku yang seumuran. Saat aku melihat notif, ada suara anak muda ramai yang ngobrol dari luar. Apa itu temannya Aryo? Aku langsung mengecek ke jendela. Ya itu teman Aryo. Mereka datang sekitar 5 orang. 4 orang yang sama seperti kemarin ditambah 1 orang yang belum pernah bertemu denganku. Mereka menggunakan baju bebas. Ketampanan anak muda itu sangat terlihat. Baju yang ketat hingga terlihat lengan berotot dan perut yang rata. Aduh aku jadi ingin digilir mereka.

“Tidak, aku harus jual mahal. Aku tak boleh terlihat murahan” batinku dalam hati.

Mereka lalu menghampiri rumahku dan membunyikan bel di pagar. Percakapannya terdengar jelas dari kamarku. Mereka berbicara seperti ini
“Eh ndi, lu udah siap belom ngeliat mamanya Aryo?” Tanya mereka. Dari percakapannya aku tahu bahwa nama anak yang 1 itu adalah Andi.
“Emang kenapa sih bro? Emang emaknya wow banget apa?” Tanya si Andi
“Wah lu belum tau ndi” kata salah satu
“Bisa coli di tempat lu” lanjut salah satu dari mereka. Ternyata aku secantik itu di mata mereka.
“Demi apa son? Emang sebegitu cantiknya ya?” Tanya Andi lagi
“Seriusan ndi namanya juga orang kaya pasti cantik” jawab mereka
“Yaudah bagus deh” lanjut Andi.
Tiba-tiba satpam rumahku muncul dan membukakan mereka pagar. Tapi dia sempat berbicara
“Heh pagi-pagi udah ngomongin nyonya besar ya.. Kalian teman Aryo kan” tanyanya
“Iya nih tante Nindya nya ada kan pak?” Tanya mereka
“Ada. Emang kenapa sih?” Tanya satpamku lagi.
“Ya ga kenapa-napa pak.” Jawab salah satu dari mereka.
“Kalian suka ya sama nyonya? Haha” satpamku bertanya sambil tertawa
“Siap sih yang gasuka ngeliatin tante Nindya? Bapak juga suka kan” celetuk mereka.
“Iya sih malah bapak jadiin bahan coli” satpamku mengaku dengan terang-terangan. Astaga selama ini aku telah dijadikan bahan onani banyak orang.
“Hahaha… Kan bener. Cantik kan pak tante Nindya?” Tanya mereka
“Kasitau nih pak temen saya Andi” sambungnya lagi
“Beuh anak muda… Nyonya besar tuh cantik banget montok lagi. Kalo gakuat nahan coli gausah masuk mendingan” satpamku memberitahu.
“Yaudah yuk kita masuk” ajak Andi.

Mereka kemudian masuk. Aku harus bergegas siap menyambut mereka. Harus tampil cantik. Meski sudah dijadikan bahan onani, aku masih tetap ingin memakai baju yang menggoda. Aku menuju ke kamar mandi dan membersihkan tubuhku. Rambut kuberi shampoo dan conditioner. Sabun perawatan kupakai untuk seluruh tubuh. Aku harus tampil maksimal. Selesai mandi aku memilih baju. Aku memakaikan bh di toketku. Astaga tidak muat… Masa aku harus ganti bh? Toket ini semakin besar saja. Untung ada pushup bra 36d yang muat tapi sangat ketat. Ya sudahlah daripada tidak pakai bh. Lalu aku memilih baju yaitu tanktop putih super ketat belahan rendah. Untuk bawahan aku pilih celana gemes berwarna putih. Penampilanku simpel tapi sangat menggoda. Toket yang sangat padat dan kencang serta paha yang mulus dan ideal. Rambutku kubiarkan tergerai dengan indah. Cprot.. Cprot… 3 semprot parfum kupakai. Parfum yang biasa untuk menggoda lelaki. Ya sekarang aku sudah siap.

Pertama aku melirik keadaan terlebih dahulu. Aku melihat para pemuda itu sedang di meja makan. Sepertinya mereka ingin makan tapi tidak ada makanan. Aku pun menghampiri mereka. Perlahan aku melangkah mendekati mereka. Mereka belum sadar sepertinya kehadiranku. Setelah berjarak semakin dekat ada yang mencium bauku. Aku menghentikan langkah sejenak untung nguping.
“Bro kaya ada bau emak lu” kata Sony
“Hmpphh… Iya nih bro. Enak banget” lanjut fajar
“Wangi yang bikin kita selalu tergoda”
“Yang bikin kita nafsu terus” lanjut mereka satu persatu.
“Ya ampun baunya aja udah kaya gini. Ga sabar gua ngeliat emak lu” kata Andi
“Iya deh berarti mak gua udah bangun” kata Aryo

Setelah nguping, kuberanikan untuk mendekati mereka. Aku datang dan salah satu dari mereka akhirnya melihatku. Akhirnya semua pemuda itu melihatku yang masih 5 langkah dari mereka. Kuperhatikan batang kontolnya dari jauh nyeplak di celana. Semakin lama semakin membesar. Besarnya sangat luar biasa hingga terlihat dari luar. Kemaluan mereka semua tegak.
“Hai Aryo. Ini teman kamu yang kemarin ya?” Tanyaku dengan nada sok imut membuat mereka makin panas dingin.
“Ee..eh mama udah bangun” kata Aryo yang sedang duduk.
“Ini Adi, Bayu, Sony, sama Fajar ya? Kalo yang ini siapa tante belum pernah liat?” Tanyaku lagi mendekati Andi.
“Emm… Mm nama aku Andi tante” katanya gelagapan.
“Oh… Andi namanya. Salam kenal ini tante Nindya mamanya Aryo” kataku menyodorkan tangan untuk bersalaman. Temannya yang lain hanya memperhatikanku terus dari atas sampai bawah.
Andi lalu membalas tanganku dengan muka menahan nikmat. Entah kenapa seperti keenakan.
“Hmm…mm… Mamanya Aryo cantik banget ya..” Kata Andi.
“Iya dong anaknya juga ganteng”
“Kaya gini ganteng, masih gantengan kita kali tan” celetuk Bayu.
“Bisa aja kamu” aku mencolek pipi Bayu. Mereka masih terpaku melihat tubuhku seakan ingin menerkam.
“Oh iya.. Tante gak masak nih.. Kalian mau dipesenin apa?” Aku menawarkan makanan
“Gaa.. Gausah tante ngerepotin nanti” kata mereka
“Gapapa kok. Tante pesenin Ayam aja ya. Mau paha atau dada?”
“Dada aja deh tan gede soalnya” kata Adi
“Aku paha aja deh tan.. Soalnya putih mulus eee ehh maksudnya enak digigit” kata Andi mulai ngelantur.
“Emang paha ayam putih mulus?” Tanyaku pura2.
“Maksud aku paha tante.. Ehh maaf tan. Pokoknya aku paha aja deh” balasnya keceplosan.
“Kita dada aja deh bertiga”
“Ok berarti paha 1 dada 4 ya..” Kataku
“Kalian tunggu sini ya tante telpon dulu yang sabar ya hihi” aku meninggalkan mereka. Dari belakang mereka melihat pantat semokku bergoyang-goyang. Masih saja diperhatikan hingga aku sampai di kamar.

—————–

Selepas itu, Nindya menelepon delivery ayam. Sementara mereka membicarakan tante itu.
“Gilee bro emak lu cantik banget” seru Andi
“Bener kan kata gua ndi” kata Sony
“Super deh pokoknya” jawab Andi lagi
“Nih liat kontol gua tegang gini” Lanjut Adi menunjukkan penisnya dari luar yang sudah tegang.
“Tangannya mulus ya bro. Hhmm.. Masih kecium bau tangannya” kata Andi mencium tangannya.
“Emang kan gua bilang” kata Fajar.
“Mana pake tanktop lagi. Toketnya gede banget. Belahannya keliatan tadi pas salaman sama gua. Mulus banget” jelas Andi.
“Ya begitulah emak gua. Gua aja nafsu sama dia” kata Aryo
“Pake celana super pendek terus ketat lagi. Duh tuh paha kalo nempel sama gua crot kali ya” lanjut Andi yang seru sendiri karena baru melihat Nindya
“Gaada lecetnya lagi ya bro?” Tanya Bayu
“Heeh.. Bener-bener mulus. Yo sorry ya kalau gua nafsu sama emak lu” kata Andi menepuk pundak Aryo.
“Gapapa bro… Asalkan jangan lu embat” balas Aryo

20 menit mereka ngobrol, Nindya kemudian menyuruh salah satu dari mereka mengambil pesanan di pintu lewat telefon ke Aryo. Mereka pun keluar bareng dan mengambil pesanan. Aryo mendatangi kamar Nindya untuk meminta uang. Setelah itu mereka makan di depan tv tengah. Saat mereka makan, Tante cantik jelita itu menghampiri mereka.

———-

Aku menghampiri mereka dan ingin duduk di sofa di tengah-tengah mereka. Dengan langkah pasti aku mencapai mereka. Mereka merespon dengan mempelototiku ketika aku ingin duduk. Akhirnya aku duduk di tengah mereka dan pura-pura mengganti channel tv. Mata mereka masih melihatku. Terkadang ada yang mengalihkan pandangan tetapi balik lagi ke tubuhku. Sepertinya tubuhku membuat mereka salah fokus. Tetapi aku melanjutkan aksiku tanpa mempedulikan mereka. Tak lama mereka selesai makan dan menaruh piring di wastafel. Lalu mereka kembali lagi ke ruang tengah dekat tv.

Sekarang Andi mendekatiku. Dia duduk di sampingku. Tetapi dia sesekali curi pandang ke toketku. Sekilas dia hanya menonton tv ternyata dia memperhatikanku. Posisinya semakin dekat denganku. Sepertinya dia sudah mulai khilaf dan ingin memulai aksinya. Aku masih pura-pura asik menonton tv menunggu aksinya. Akhirnya dia bertanya kepadaku.
“Tante suka nonton apa?” Tanyanya. Anak yang lain menengok ke arahku menunggu jawaban
“Tante suka yang romantis” jawabku memancing.
“Oh suka yang romantis” gumam Andi
Setelah itu kembali lagi ke suasana hening tadi. Belum ada tindakan yang berani padaku.

“Tante kok cantik banget sih?” Tanya Adi
“Ya iya lah kalian suka kan kalo tante cantik?” Godaku
“Heemm tante suka banget” jawab Adi.
Kemudian Fajar naik ke sofa dan duduk di sampingku. Posisi mereka semua semakin rapat. Sepertinya mereka sudah menyusun rencana. Fajar dari samping mulai menyentuh bagian punggung samping lewat belakang. Kemudian mengelus punggungku dari luar. Tanktop yang tipis memang membuat kekenyalan kulitku terasa jika dipegang dari luar. Mereka kelihatan tidak bisa menahan nafsu lagi. Tapi aku hanya mendiamkan dan asik nonton tv. Aksi Fajar ini terus ia lanjutkan.

Semakin lama tangan Adi juga ikut-ikutan. Ia memegang ketiakku yang tanpa bulu. Aku masih dalam posisi menonton dan tangan ke bawah. Dielusnya ketiakku. Sedangkan yang lain pura2 asik nonton tv. Kuperhatikan batang kontol mereka sudah berdiri semua. Sakit juga kalo diewe 6 orang sekaligus pikirku. Tapi mereka udah terlanjur naik semua.
“Ahh… Geli Adi” desahku. Mereka malah senang mendengarnya. Yang lain pun ikut menengok.
“Tante… Ssssh” desah Fajar.

Agar terlihat tidak murahan, aku menepis tangan mereka. Mereka semakin berani malahan. Aku pun pergi dari sofa itu dan beranjak ke kamar. Aku meninggalkan mereka.
“Eh tante mau kemana?” Tanya mereka
“Ke kamar. Tante mau istirahat dulu” jawabku
“Sini aja tante… Tante sini aja” panggil mereka saat aku melangkah ke kamar.
“Yah tante kok istirahat” keluhnya.

Aku ingin mereka sedikit lebih berani menggodaku. Aku tak ingin terlihat murahan. Kita lihat saja apa mereka akan berusaha keras untuk mendapatkanku? Godaan apa yang mereka lancarkan padaku?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*