Home » Cerita Seks Ayah Anak » Keluarga Pak Trisno 13

Keluarga Pak Trisno 13

Sekitar pukul dua belas siang kami tiba dilokasi, tempat yang cukup nyaman dengan udara pegunungan yang sejuk, tak jauh dari tenda kami berada terdapat air terjun dengan airnya yang jernih. Hmmm..benar-benar tempat yang menyenangkan, dan tempatnyapun mudah dijangkau oleh kendaraan, sepertinya memang tempat ini telah dirancang sedemikian rupa oleh pengelola sebagai tempat kemping keluarga yang nyaman.
Mulai dari gerbang masuk hingga menuju lokasi terbentang jalan aspal yang mulus, itu artinya kita tak perlu memarkir kendaraan jauh diluar, lalu berjalan kaki menuju lokasi dengan jarak yang cukup jauh lagi menanjak, dan menggendong barang bawaan pula. Sebaliknya ditempat ini bahkan kami bisa menempatkan kendaraan kami tepat disamping tenda yang kini tengah kami dirikan.

Lokasi ini sepertinya begitu luas, dalam kisaran jarak beberapa puluh meter baru terdapat tenda lain, jadi tidak rapat dan berjubel seperti saat muda dulu aku biasa kemping bersama teman-teman sekolah. Yah, aku rasa sesuai dengan harga yang ditawarkan disini, yang tentunya jauh lebih mahal bila dibandingkan dengan bumi perkemahan yang biasa dikunjungi oleh anak-anak sekolah.
Dalam jarak sekitar dua ratus meter terdapat pos penjagaan dan deretan toilet serta kamar mandi yang cukup bersih, jadi saat buang hajat nanti kami tak perlu repot-repot harus nongkrong diatas bebatuan sungai. Disini juga menyewakan perlengkapan berkemah, seperti tenda, alat masak dan lain-lain, namun tentunya kami tak memerlukan itu, perlengkapan yang kami bawa telah cukup untuk memenuhi kebutuhan kami.

Yang tak kalah menarik, sekitar satu kilo meter dibawah, tepatnya didekat gerbang masuk lokasi, terdapat kebun buah yang bisa kita petik, dengan membayar pastinya, seperti buah anggur, strawberry, apel dan lain-lain, bahkan juga palawija, seperti wortel,kubis,lobak dan berbagai sayuran lainnya. ditempat itulah tadi kami sempat mampir sebentar untuk memetik beberapa buah dan sayuran khas pegunungan, tapi kalau dipikir-pikir sih, harga perkilonya jauh lebih mahal ketimbang harga di Supermarket, sepertinya memang sensasi memetik buahnyalah yang mereka jual disini, yang tentunya sulit didapat dikota besar.
Dan yang tak kalah pentingnya, lokasi perkemahan ini cukup eksklusif, artinya tak ada orang luar selain pengunjung yang bisa seenaknya datang kemari, yang menawarkan dagangan, mengemis, dan buntut-buntutnya mencuri disaat kita lengah. Disini, pos keamanan disetiap sudut luar lokasi telah ditempatkan oleh pengelola. Intinya, keamanan lokasi cukup terjamin.

******

Akhirnya selesai juga aku dan Doni mendirikan tenda, sedangkan Tini menyiapkan makan siang. dan seperti biasa dua nyonya besar hanya asik dengan urusannya sendiri, kali ini sibuk jepret sana, jepret sini dengan kamera DSLRnya, saling bergantian berfose dengan latar belakang pemandangan yang memang indah, dan menggoda seseorang untuk mengabadikannya dalam foto.

” Masak apa tin? ” tanyaku pada Tini yang masih menggoreng sesuatu dengan kompor listrik, tentunya dengan sumber tenaga listrik dari genset ukuran kecil yang telah kami bawa dari rumah.

” Kornet pak…” jawab Tini, memang dari rumah kami membekali diri dengan makanan kaleng yang praktis, agar mudah memasaknya.

” Oh iya, wortel sama sawinya yang barusan dibeli langsung dimasak aja ya..” selain kami membeli buah tadi, kami membeli beberapa sayuran yang juga kami cabut langsung dari kebunnya.

” Iya pak… Mau dibikin oseng atau sayur bening? ”

” Terserah kamu saja lah…”

Selesai makan siang kami berjalan-jalan beberapa saat, menyusuri perkebunan cemara, lembah, dan tak ketinggalan kami sempatkan menikmati sejuknya air terjun dengan telaganya yang bening, hingga bebatuan didasarnya terlihat jelas.
Setelah puas, kami kembali ketenda dengan pakaian yang telah basah kuyup oleh siraman air terjun. Cukup lelah juga rasanya, terutama lutut dan betis ini, jalan menanjak yang cukup panjang dari lokasi air terjun menuju kelokasi tenda itulah yang bagi kami cukup memberatkan, namun demikian kami tetap enjoy. Hingga akhirnya pada siang menjelang sore itu kami semua tertidur didalam satu tenda yang memang berukuran cukup besar, jenis tenda Doom dengan daya tampung maksimal delapan orang.

Menjelang senja kami terbangun, diluar tenda diatas hamparan tikar telah terhidang makanan untuk makan malam. Rupanya Tini telah bangun lebih dahulu ketimbang kami untuk kemudian menyiapkan makanan. Yang akhirnya kami bersantap bersama, menikmati hidangan sederhana, ikan asin dengan sambal terasi, plus lalapan sayuran mentah yang telah kami beli siang tadi. Hmmm…ini sih seleranya si Tini, namun cukup nikmat juga disantap dialam terbuka seperti ini, apalagi menggunakan tangan langsung, tanpa sendok.

*******

Selesai mandi, kami menikmati dinginnya hawa malam dipegunungan sambil menyalakan api unggun, setumpuk kayu kering memang telah sengaja disediakan oleh pihak pengelola sebagai bagian dari servis, plus satu kantong kresek jagung siap bakar yang diberikan saat kami melintasi pintu masuk tadi.

Bukan cuma kami yang membakar api unggun disini, beberapa tenda lain juga melakukan hal yang sama, sebagian besar dari mereka adalah keluarga seperti kami juga, suami istri dan anak-anak, ada juga pasangan muda tanpa anak, entah itu pasangan nikah atau bukan aku tak tau pasti, dan memang bukan urusanku untuk mengetahuinya, pihak pengelolapun juga tak memberikan aturan bahwa pasangan yang berkemah disini harus pasangan suami istri, toh yang terpenting mereka bayar, dan apapun yang akan mereka lakukan didalam tenda, pihak penyelenggara tak mau tahu, selama itu tidak meresahkan dan mengusik pengunjung lainnya.

Sepotong jagung bakar telah habis kusantap, walau hanya dengan bumbu garam, namun cukup nikmat juga dimakan sambil bersantai seperti ini, dengan diselingi perbincangan ringan.
Hingga suatu ketika. ” Eeh, ngomong-ngomong, dari lima manusia yang ada disini, yang belum merasakan orgasme untuk hari ini, cuma mama doang kan? Jadi, sebelum mama dapat orgasme, kalian berdua cukup jadi penonton dulu ya…” papar istriku, diikuti dengan menunjuk kearah Nanda dan Tini.

” Jadi, kalian berdua harus puasin mama, oke? ” sambungnya lagi, kali ini sambil menunjuk aku dan Doni.

” Iya deh, ambil tuh semua…” sindir Nanda.

Tak lama setelah itu, istriku menggeser posisi duduknya, kali ini ditengah antara aku dan Doni, seraya menarik celana trainingku hingga sebatas paha, yang membuat penisku kini harus rela terkena dinginnya udara pegunungan, hal yang sama dilakukannya juga pada Doni. Sejurus kemudian penis kami dikocok secara bersamaan dengan masing-masing tangannya, tentu saja aku merasa tak nyaman, cahaya api unggun ini tentu saja membuat suasana ditempat itu menjadi terang dan dapat terlihat oleh orang yang berada di tenda lain.

” Aduh maaa…jangan disini dong, keliatan dari tenda sebelah tuh… Malu kan..” ujarku.

” Oke deh, kalau gitu kalian puasin mama didalam tenda, oke? ” usulnya, seraya berdiri sambil kedua tangannya masih meremas batang penis kami. Sial…tentu saja secara reflek aku langsung ikut berdiri, karna batang penisku bukanlah karet elastis yang bisa melar saat ditarik.
Seolah tanpa kawatir akan dilihat orang lain, dengan santainya istriku berjalan memasuki ruangan tenda sambil kedua tangannya masing-masing menarik penis kami.

” Kalian berdua duduk manis diluar ya? Awas, jangan coba-coba ganggu…” ujar istriku, yang ditujukan kepada dua wanita lain yang berada diluar, seraya menarik lesreting penutup tenda.

*********

Aku dan Doni hanya berdiri menyaksikan istriku yang dengan tak sabar menarik lepas celana kami. Begitupun dengan pakaian yang dikenakannya, semua telah dilucutinya hingga dirinya kini benar-benar bugil.

Posisinya yang berlutut langsung meraih batang penis kami, tangan kanannya memegang penisku, sedang tangan kirinya memegang milik Doni. Dikocoknya beberapa saat secara berbarengan, lalu dikulumnya. Yang pertama dikulumnya adalah batang penis Doni, sedang tangan kanannya tetap mengocok-ngocok penisku, walaupun kurasakan kocokannya itu tak beraturan, karena konsentrasinya lebih terpusat pada penis Doni yang dikulumnya itu.
Sebentar kemudian kulumannya berpindah pada penisku, itupun juga tak lama, lalu kemudian kembali kepenis Doni.

Dari ekspresinya terlihat, sepertinya birahinya telah benar-benar memuncak, sehingga cara mengoralnya seperti tengah merasa gemas dan sesekali dipukul-pukulkannya batang penis kami pada wajahnya.

Seolah bingung hendak berbuat apa lagi pada penis kami, kini kedua batang penis kami yang telah full ereksi dimasukannya sekaligus kedalam mulutnya, tentu saja mulutnya terlihat bagai kesulitan menampungnya, pada sisi-sisi bibirnya tampak mengetat.

” Mmmm…Doni sayang…anak mama yang baik…ludahin mulut mama sayang…Aaaaaakkkkkkk..” mohonnya, diikuti dengan membuka lebar mulutnya.

Mengikuti permintaan mamanya, Doni sedikit menundukan tubuhnya, setelah dirasakan mulutnya telah tepat berada diatas mulut mamanya, cairan bening dengan sedikit busa jatuh perlahan kedalam mulut sang mama, dan langsung menghilang turun mengisi perutnya.

” Mmmm…nyem..nyemm… Sekarang kamu ludahi mama, seperti kamu meludahi orang yang kamu benci, kamu tau itukan sayang Aaaaakkkkkkk…” pintanya lagi, kali ini dengan nada yang sedikit histeris.

Paham dengan yang dimaksud mamanya, Doni kembali menunduk, dan…Cuuiiihhhh…berbeda dengan yang sebelumnya, dimana gumpalan ludah hanya menetes lambat, sebaliknya kini meluncur dengan cepat.

” Aaaakkkkkk…lagi nak…lagi sayang aaaakkkkkk…” kali ini kedua jari telunjuknya digunakan untuk menyibak mulutnya, sehingga terlihat seperti anak kecil yang tengah meledek kawannya.

Cuiihhh…cuiihh..cuiiihhh…beberapa kali percikan ludah Doni meluncur, namun tidak semuanya masuk kedalam mulut istriku, sebagian justru mengenai wajah dan rambutnya.

” Papaaaaa….kamu juga dong, koq diem aja sih…aaaakkkkkk….” Yah, mana aku tau, aku kan tengah menunggu giliran, okelah kalau begitu, pikirku.

” Nih, makan…babi rakus..! Cuiiihhhh…” umpatku, aku tau, dalam keadaan begini, dia lebih suka diperlakukan seperti itu ketimbang dengan ucapan manis nan romantis.

” Mmmmm…aaaakkk…terus..terus..terus…ludahi mama…aaaaaaakkkkkk..” tingkahnya semakin histeris, justru aku sedikit kawatir kalau ocehannya yang mulai keras ini akan terdengar oleh orang lain selain kami. Ah, perduli setan lah, aku rasa disini tak akan ada orang yang perduli dengan apa yang kami lakukan didalam tenda ini, seperti halnya aku tak pernah peduli dengan apa yang mereka lakukan disana.

Bagai saling berlomba, kami meludahi wajah histeris istriku silih berganti, tingkahnya seperti anak kecil yang kegirangan bermain air hujan, air hujan yang kami semprotkan dari mulut kami, hingga kering rasanya tenggorokan ini.

” yihhhhuuuuuuuu……aaaaahhhhhh….senangnya hatiku…terus…aaaaakkkkkk….” dengan masih menyibak mulutnya dengan kedua tangannya sendiri, tubuhnya bagai menari-nari kecil, hingga buah dadanya bergerak-gerak turun naik.

Sejurus kemudian dia menarik lengan kami untuk bersama duduk beralaskan terpal, beruntung kami belum sempat memasang kasur lipat yang kini masih berada dimobil, kalau tidak sudah barang tentu aku harus rela malam ini tidur dengan kasur penuh dengan bercak-bercak ludah dan entah apalagi nanti.

” Sekarang kalian perkosa mama ya… Mama ingin kalian perkosa..” mohonnya, sambil duduk dan mengangkangkan pahanya, sementara tangan kanannya menggosok-gosok vaginanya sendiri.

Tanpa meminta pertimbangan darinya lagi, aku berinisiatif untuk menjadikan istriku sebagai potongan daging diantara roti hamburger, ya, aku ingin memberikan penetrasi ganda untuknya.
Aku berbaring telentang disamping istriku ” Tolong, sekarang Mama naik diatas papa…” pintaku, Ah, aku rasa kata-kata seperti itu kurang terdengar erotis baginya, mmm…sepertinya ini lebih baik ” Heh, lonte kemaruk kontol..! Ayo, sini.. naik diatas tubuhku.. Biar kusodomi lobang pantatmu…” sungguh ampuh, kata-kataku itu, membuat wajahnya tampak berbinar.

” Apa? Papa mau sodomi aku…? mau sodomi lobang pantatku…? mau ngentotin lobang ta’i ku…? iya? ” sambil mengucapkan itu tubuhnya menindihi diriku, dengan wajah kami saling berhadapan, kulihat bercak-bercak air ludah memenuhi wajah dan rambutnya. Hmmm..aku tau, dia mengharapkan aku melontarkan kata-kata serupa dengan tadi.

” Iya lonte busuk… Lobang ta’imu akan kuentotin dari bawah, terus nanti anak kandungmu itu yang ngentotin memekmu dari atas, lobang dulu tempat dia dilahirkan olehmu… Dasar kamu lonte kemaruk, anak sendiri diajak ngentot…cuihhh…” semburan ludah kembali menerpa mulutnya, kali ini dari jarak hanya beberapa senti saja diatasku.

” Ooowwwhhhh….so sweettt…kamu romantis sekali sayang…kata katamu membuatku terbuai…aaaggghhhh…” Sial, ada-ada aja istriku ini, masa’ ucapan kayak gitu dibilang romantis, cara pengucapannya itu mendesah pula, mengingatkan aku pada suara artis Syahrini.

” Ayo sayang, langsung kita mulai ya..mama udah gak sabar nih…” ujarnya, seraya membalikan badannya dan berjongkok diatas selangkanganku, batang penisku kini telah berada dalam genggamannya, dan…blesss..akhirnya tenggelam masuk didalam lubang pelepasannya, lalu kembali tubuhnya itu rebah diatasku, namun kali ini dengan posisi telentang.

” Ayo sini anakku sayang…entot memek mama nak…itu tempat kamu dulu dilahirkan lho…sekarang malah kamu masukin pake kontol..”

” Iya dong ma, dulu Doni kan keluar dari situ… Nanti giliran anak Doni yang bakalan keluar dari situ juga…” Ujar Doni, sambil memasukan penisnya kedalam liang vagina ibunya.

” Wooowww… Begitu ya… Makanya kamu harus rajin-rajin ngentotin mama, kalau mau anak kamu juga leluar dari situ, iya nggak pa? ”

” Iya dong…” jawabku, sambi tanganku memegang kedua pahanya.

” Langsung Doni genjot ya ma? ” pinta Doni, dengan posisi yang telah siap siaga, bagaikan seorang atlit lari yang tinggal menunggu aba aba untuk start.

” Iya, tunggu apa lagi..” seperti dikomando, Doni langsung menggenjot bokongnya dengan posisi berlutut, dengan kedua tangannya memegang paha ibunya.

” Langsung full speed aja don… Mama udah horny berat nih…” permintaan mamanya itu langsung ditindak lanjuti dengan cepat. Goyangannya yang keras dan bertenaga membuat tubuh istriku terhentak-hentak keras, yang efeknya dapat kurasakan pada penisku yang juga ikut berpenetrasi tanpa aku perlu untuk menggoyangkan bokongku.

” Yeeeesss…nah gitu, itu baru namanya anak mama… Anak mama yang brengsek, mamanya sendiri dientotin…ibu kandungnya sendiri dijinahin… Haahh? Iyakan? Kamu suka ngejinahin mama kamu sendiri kan? Iya kan? ” oceh istriku.

” Sama, mama juga kan? Mama juga paling suka kalo dientotin sama anaknya kan? Tapi memang Doni suka banget ma.. Doni suka entotin mama…Doni suka banget berjinah sama mama…”

” Iya sayang…terus jinahin mama sayang… Berjinah itu memang nikmat ya sayang… Apalagi dengan anak kandung sendiri, oohhh indahnya…” dilain situasi mungkin aku akan merasa muak mendengar kata-katanya itu, namun tidak untuk saat ini, disaat birahi tengah menjadi panglima dikepalaku seperti sekarang ini, kata-kata itu justru terdengar erotis, bagaikan suara instrumen musik dalam suatu irama. Ya, irama yang tengah kami mainkan, irama yang ganjil nan memabukan.

” Ayo kesini sayang…ciumin mama sayang.. Mmmmmm…” dengan bernafsu istriku menarik lengan Doni, hingga tubuh anak itu kini menindihi tubuh mamanya, yang kemudian disambut dengan ciuman pada mulutnya yang begitu bergairah bercampur histeris.

” Mmmmmmuuuahhhhh…cllooppp..cloopp..ssrryuuufff… mmmm..kamu memang anak sialan, anak tukang ngentotin mamanya sendiri….mmmmhhh.. bajingan kamu..” sambil tetap saling berkecupan, sesekali istriku tetap meracau dengan kata-kata vulgarnya yang bernada memaki atau melecehkan.

Tak sampai satu menit setelah itu, istriku menunjukan gejala kalau dirinya akan segera mencapai klimaks, itu ditandai dengan racauannya yang semakin bernada emosional.

” Aaaaaaaggggggghhhhhhh….mama keluar nih anjiiiiing….terus entotin mama…entotin lobang memek ibu kandungmu ini…entotin yang keras goblok…entotin yang brutal…perkosa ibu kandungmu ini….Aaaaaaaaggggghhhhh…..” gerakannya menyentak-nyentak kasar untuk bebeberapa saat, hingga akhirnya terdiam dengan senyum kepuasan. Untuk beberapa saat diciuminya kening anaknya itu.

” Jangan diambil hati ocehan mama tadi ya sayang…kamu tau sendirikan kan, kalo mama lagi horny berat suka kayak gitu…” ucap istriku kepada Doni yang masih tetap “nemplok” diatas tubuhnya.

” Gak apa-apa ma….Doni malah suka koq… Mama emang lonteku yang paling jalang didunia ini he…he…he… Gak apa-apa ya ma? ”

” Ih, dasar kamu…iya deh, gak apa-apa kalau memang itu membuat kamu suka…”
Untuk beberapa saat Doni masih menghujamkan penisnya didalam liang vagina istriku, namun tak beberapa lama kemudian, tampak istriku mulai merasa kurang nyaman, tentu saja orgasme yang didapatnya barusan tadi membuatnya kehilangan gairah, dan mungkin juga ditambah lagi dengan rasa letihnya, hingga akhirnya dia meminta waktu untuk istirahat.

” Stop dulu deh don… Kasih mama waktu untuk ambil nafas ya sayang..mama capek banget nih.. Kamu ajak aja kak Nanda atau Mbak Tini, terserah kamulah, yang penting mama mau istirahat dulu beberapa meniiiit aja…plis deh… Papa juga ya, sebentar aja koq..”

” Oke deh, mama emang suka gitu sih, kalau udah puas pasti minta berhenti..mama egois deh…” paparku, tentu saja itu hanyalah candaan belaka.

” Aduuhhh…bukan begitu deh pa, mama kan….” belanya, yang segera aku potong.

” Iya…iya…papa ngerti koq ma…papa cuma bercanda aja koq… Ayo don, sekarang kamu seret Kak Nanda kesini, kita kerjain dia malam ini ..Ayo cepat..”

” Oke deh pa..” setujunya, seraya mencabut batang penisnya yang masih tertanam divagina ibunya, bersamaan dengan itu pula istriku beringsut dari atas tubuhku, untuk kemudian membaringkan tubuhnya disudut tenda, meninggalkankan penisku yang baru saja tercabut dari dalam lubang analnya.

” Kak Nanda, kesini….” panggil Doni, setelah membuka reseleting penutup tenda.

” Apaan sih..” terdengar jawaban Nanda dari luar.

” Kesini cepet, aku sama papa lagi kentang nih, mama udah klimaks langsung KO…” sebentar kemudian Nanda memasuki tenda, yang langsung ditarik tangannya oleh Doni.

” E…eh…apa-apaan sih nih anak, sabar kenapa sih… Maen betot aja…” protes Nanda tak dihiraukan Doni, yang langsung melucuti celana training dan baju kaos lengan panjang yang dikenakannya.

” Mau diapain nih pa? ” tanya Doni kepadaku, setelah tubuh kakaknya itu selesai dibuatnya bugil.

” Ya udah, kayak tadi aja…tapi kamu yang dibawah, biar papa yang diatas….” jawabku, seraya berdiri menghampiri Nanda. Sedangkah Doni dengan sendirinya langsung berbaring telentang diatas terpal.

” Anak papa yang paling cantik udah siap untuk dijadi’in bancakan kan? Huuupppp…” ujarku, diikuti dengan mengangkat tubuh bugilnya, lalu kuletakkan diatas tubuh Doni.
Tanpa perlu lagi untuk dikomando, batang penis Doni langsung digenggamnya, dan..blesss..amblas ditelan kedalam liang anusnya.

” Si Tini disuruh masuk aja pa, kasian dia diluar sendirian…” ujar istriku, sambil berbaring telungkup dengan merangkul bantal.

” Tin, masuk aja sini…ngapain diluar sendirian..” panggilku, yang langsung dituruti olehnya, masuk kedalam tenda, lalu menutup reseleting penutupnya.

” Tolong pijitin aku dong tin… capek banget nih, tadi siang nyetir, terus sorenya masih jalan-jalan turun naik bukit, sampai dengkul ini mau copot… Eh, barusan masih dikeroyok sama bapak dan anaknya tuh…”

Kulihat Tini telah mulai memijit punggung telanjang istriku, sambil sesekali menyaksikan aksi kami, yang kini telah mulai kugenjot liang vagina Namda dari atas. Tentunya masih menerapkan gaya double penetration seperti sebelumnya dengan istriku.

Lidahnya sesekali dijulurkan menyapu-nyapu bibir atas, dengan tatapan menggodanya tefokus kearahku. Hmmm…sebuah ekspresi wajah yang sungguh membuatku gemas untuk… Mmmfffhhh..kupagut bibir mungilnya itu, bibir yang sedari tadi sengaja memancing-mancing diriku. Aksi yang kuberikan padanya mendapatkan sambutan yang tak kalah hangatnya, bibirku kini yang malah dikuluminya. Dan untuk beberapa saat kami saling berpagutan dengan hot, sambil pinggulku tetap bergerak turun naik, menggenjot liang vaginanya yang mulai basah.

” Pa…Ayo terus pa.. Entotin terus memek Nanda…” ocehnya, setelah pagutan mulut kami terlepas.

” Iya sayang….anak papa yang imuuuuuttttt.. Papa bakal akan tetus entotin kamu terus selamanya..”

” Sampai mati dong pa…”

” Iya dong, sampai mati… Kalau perlu diakherat nanti papa masih tetap akan entotin kamu…” ucapku, sebuah perkataan ngawur yang tanpa perhitungan, mengalir begitu saja, seolah nafsu birahikulah yang menggerakannya.

” Emang bisa pa? ” tanya Nanda, dengan tatapan seolah tak percaya.

” Tentu bisa dong sayang…percaya deh sama papa…”

” Horeeeeee…kalau gitu diakherat nanti, kita semua masih bisa ngentot bersama-sama lagi dong ya..” entahlah, apakah yang diucapkannya itu sungguh apa yang diyakini dalam hatinya, atau hanya sekedar ungkapan seseorang yang tengah mengekspresikan kebebasannya.

” So pasti dong sayang…kita masih bisa incest orgy lagi disana….” walau aku yakini ucapanku itu sebagai omong kosong belaka, tapi aku merasakan api kebebasan dalam diriku seolah betul-betul merdeka, bebas untuk mengungkapkan apapun tanpa harus terpenjara oleh norma-norma yang selama ini mengikat.

Sekitar lima menit telah berlalu, tiba-tiba Nanda menahan perutku dengan tangannya, yang tentunya membuat goyanganku harus terhenti.

” Stop dulu pa… Nanda mau kontol papa dimasukin keanus Nanda juga…plis pa..” rupanya dia menginginkan double anal, yang segera kuturuti dengan mengalihkan batang penisku dari liang vaginanya ke liang anusnya.
Agak sulit memang, memasukan lubang yang telah terisi oleh penis lain, beberapa kali harus melejit keluar saat kupaksa menekannya, mmm..bagaimana ya?

” Tini, coba kesini sebentar… Ma, aku pinjam Tini dulu ya…” kupanggil Tini yang masih memijiti betis istriku.

” Ya, udah…ambil tuh..” setuju istriku.

” Tolong isepin kontol bapak tin…” pintaku pada Tini yang duduk bersimpuh disampingku. Tanpa banyak bertanya lagi Tini meraih penisku, seraya dikulumnya dengan antusias.

” Udah Tin…” pintaku, setelah beberapa saat mulut Tini mengulum penisku, sepertinya pelumasan oleh air liur Tini telah cukup, walaupun sepertinya Tini belum rela untuk melepaskan batang penisku dari mulutnya.

Kembali kucoba memasukan penisku kedalam liang anus Nanda, yesss…pelumasan yang diberikan Tini cukup manjur, batang penisku masuk dengan lancar menyusuri dinding anus bagian atas, dan tentunya bagian bawahnya adalah batang penis Doni.

” Makasih Tin, sana kamu pijitin ibu lagi…” ujarku kepada Tini.

Kini mulai kugenjot bokongku maju mundur, Aaahh, benar-benar ketat, batang penisku bagai dijepit. Hmmm..sepertinya yang kini berpenetrasi dengan penisku adalah justru batang penis Doni, sehingga yang lebih dominan justru batang penisnya yang kurasakan, teksturnya yang bertonjolan dengan urat-urat disekujur penisnya lebih kurasakan ketimbang sentuhan otot anus yang lembut.

Dengan perlahan pinggulku mulai bergerak maju mundur, kulihat tangan Doni mulai aktif menelusupkan jari telunjuk dan tengahnya keliang vagina Nanda.

” Uuuugggghhhhhhh… Yang begini nih yang paling Nanda suka…mmmmmgghhhhh… ” Gumamnya, sambil kedua tangannya meremasi buah dadanya sendiri.

Sambil terus menggenjot, sempat kulihat istriku membisikan sesuatu ditelinga Tini, entah apa yang dibicarakannya, hanya saja setelah itu Tini keluar dari tenda. Tak lama kemudian perempuan itu telah kembali membawa keranjang yang berisikah buah-buahan yang kami beli siang tadi, Ah, barangkali istriku memang ingin menyaksikan aksi kami ini sambil mengemil buah-buahan.

” Stop…stop dulu dong…tuan-tuan dan nyonya…” ujar istriku, kali ini dia telah duduk diatas terpal, entah apa yang diinginkannya sehingga harus menyuruh kami berhenti segala.

” Apa lagi sih ma…lagi nanggung nih..” protesku

” Iya nih mama….gangguin kesenengan kita aja, iya gak pa…” kali ini Nanda yang membuka suara.

” Eeiiitt…tenang dulu, mama justru ingin memberikan atraksi yang lebih menantang untuk kalian…khususnya untuk kamu Nanda.. Makanya, sudah deh, papa cabut aja dulu tuh kontol, kamu juga Doni…” Akhirnya, kuturuti permintaan istriku, kini kami semua duduk diatas terpal, menantikan permainan apa yang akan diusulkan oleh istriku itu, apakah ada hubungannya dengan buah yang baru saja dibawa oleh Tini, tapi untuk apa?

” Begini, setelah tadi mama melihat Nanda melakukan double anal, dimana otot-otot anus Nanda begitu elastisnya bisa menampung sekaligus dua batang kontol kalian yang besar-besar, Sehingga mama terinspirasi kalau…mmmm…buah apel ini yang dimasukan ke anus kamu…”

“Gimana? apa kamu berani menerima tantangan ini Nanda…” Nanda berpikir sejenak sambil menatap buah apel dikeranjang bambu, yang rata-rata memiliki ukuran sebesar kepalan tangan orang dewasa, lalu wajah imut itu tersenyum penuh arti.

” Ah, siapa takut…” jawabnya, dengan penuh keyakinan.

” Yesss…sebuah jawaban yang membanggakan…kalau gitu ayo kita mulai…” ujar istriku, seraya menyuruh Nanda untuk berbaring telentang, lalu kakinya diangkat keatas hingga kedua telapak kakinya menyentuh ujung kepalanya sendiri. Posisi akrobatis seperti ini praktis membuat pantatnya terangkat keatas dengan lubang anus menantang.

” Kamu pegangin kaki Nanda Tin…” perintah istriku kepada Tini, tapi kemudian istriku memperhatikan perempuan itu, sepertinya masih ada yang dirasakannya kurang pas dari diri Tini.

” Tin, coba mendingan kamu buka baju aja deh, telanjang gitu lho…semuanya disini telanjang koq, kenapa juga kamu enggak…” ujarnya

” Eh, iya…maaf bu..” Tini akhirnya melucuti semua pakaiannya hingga bugil seperti kami.

” Nah, gitu dong… Ayo, kamu pegangin kakinya Nanda..”

” Oke, sekarang kita mulai… Kamu udah siap Nanda? ” ujar istriku, sambil memegang buah apel berwarna merah kehijauan sebesar kepalan tangan

” Oke deh ma…Nanda selalu siap..”

” Bagus kalau begitu…” seraya mengangkat apel ditangannya, namun entah mengapa niatnya itu dibatalkan lagi, lalu menatap kearah Doni.

” Don, tolong kamu ambil handycam didalam tas ransel, trus sekalian kamu shooting kesini ya, momen seperti ini kayaknya sayang untuk dilewatkan begitu saja tanpa dokumentasi…iya enggak pa? ”

” Iya deh, atur aja…” jawabku, sekedar memberi pengertian akan hobinya itu, yang paling senang membuat semacam reportase dalam beberapa pesta seks yang kami lakukan. Jangan-jangan istriku ini tengah dijangkiti semacam pos power syndrom, dimana dirinya selalu masih terbayang oleh profesi lamanya sebagai reporter pada salah satu stasiun televisi terkemuka ditanah air, Ah, aku rasa tidak sejauh itu, sepertinya yang dia lakukan hanya sekedar konyol-konyolan saja.

Doni membongkar-bongkar ransel disebelah sudut tenda, lalu kembali sudah dengan perangkat kamera perekam ditangannya.

” Oke ma… Camera action! ” ujar Doni, yang telah memfokuskan kamera kearah istriku.

” Hello pemirsa…. Kita jumpa lagi dalam acara…. Mmm.. apa ya? Oke, dalam acara..Indahnya Incest, bersama saya, Rike Veronica…” Aku hanya senyum-senyum saja kalau menyaksikan liputan konyolnya itu, yang aksinya kali ini bak seorang pemandu acara masak-memasak.

” Apa yang ada ditangan saya ini pemirsa? Ya, Betul… apel, tapi dalam acara kali ini saya bukah mau bikin pie apel atau bolu apel….atau.. Manisan apel.. atau.. Ah, entahlah apa itu semua, Bukan ya pemirsa… Tapi…”

” Mau bikin apel rasa tokai..” celetukku, sekedar menggoda.

” Hussss…ikut campur aja… Jangan dengerin itu pemirsa…” sanggah istriku, dengan gayanya yang genit.

” Yang benar adalah, saya akan memasukan buah apel ini kedalam… Lubang anus gadis cantik nan imut yang ada didepan saya ini…ya dia adalah Nanda, putri kandung saya tentunya..”

” Baiklah pemirsa…tanpa banyak cakap lagi, segera akan saya mulai permainan yang mendebarkan dan sekaligus juga bikin horny ini..” setelah itu buah apel ditangannya itu diarahkan kemulut Tini

” Kamu emut-emut dulu tin, tapi jangan dimakan ya..” paham apa yang diinginkan istriku, Tini mulai mengulum dan menjilati permukaan apel hingga tampak berkilat oleh air liurnya.

” Oke, sekarang kamu ludahin..” beberapa kali Tini meludah pada buah apel yang disodorkan istriku.

” Oke, pelumasan cukup… And now..show time…” buah apel yang telah dibaluri air ludah Tini kini telah berada dimuka liang anus Nanda, kulihat anus itu mengempot-empot seiring nafas gadis itu, sehingga terlihat menggemaskan.

” Kita dorong pelan-pelan ya pemirsa..uuuuffffff..yesss…sedikit demi sedikit benda ini mulai dapat menerobos pemirsa…wowww coba lihat, otot-ototnya itu tampak fleksibel mengikuti ukuran diameter apel…uuuuhhhhhh…sudah separuhnya pemirsa… Lihat pemirsa, lihat.. betapa indahnya otot-otot yang lembut itu menjepit diameter apel, oohh..so beautiful.. Putri kami ini memang luar biasa pemirsa…lihat ekspresinya…sepertinya dia begitu menikmatinya… Tak percuma kami menjuluki dia sebagai Anal Queen, atau si ratu anal…atau ratu doyan disodomi..hi…hi..hi…” terlihat begitu enjoynya istriku ini, seolah bagai anak kecil yang tengah asik dengan mainannya. Tapi putriku ini benar-benar luar biasa, buah apel yang sebesar itu, dengan tanpa kesulitan yang berarti mampu dijepitnya seperti itu.

” Oke pemirsa, bagaimana kalau buah apel ini kita dorong sampai masuk…setuju? Setuju dong…” dengan perlahan tapi pasti buah apel itu mulai didorong.

” iyaaaa..oke…huuuupppphhh..yeeeee…hilang pemirsa…buah apelnya hilang ditelan oleh anus putri kami…bye apel…bye..sampai jumpa lagi ya apel…” girangnya, sambil melambai-lambaikan tangannya pada anus Nanda.

” Baiklah pemirsa…satu buah apel yang ukurannya segini…” sambil mengepalkan tangannya ” Telah berhasil masuk dengan mulus kedalam anusnya..sekarang kita tanyakan kepada ratu anal kita…”

” Halo…paduka ratu…eh, kalau ratu itu paduka atau buduka ya? ”

” Emakduka kali…” godaku, yang dibalas hanya dengan memajukan bibir bawahnya kearahku.

” Okelah baginda aja kali ya.. Baginda ratu anal…apa yang anda rasakan setelah lubang dubur anda berhasil menelan satu buah apel…” tanyanya, sambil menyodorkan wortel kearah wajah Nanda, seolah benda itu adalah sebuah mike.

” Rasanya enak…nikmat…gimana ya? Sulit dilukiskan sih…pokoknya enak deh…” jawab Nanda.

” Oke, kalau begitu, apakah baginda ratu bersedia kalau saya masukan satu lagi buah apel kedalam lubang anus anda? ” buset, gak salah denger nih, masih mau ditambahin lagi? Ada-ada saja istriku ini, Tapi boleh juga sih.

” Siapa takut..” jawab Nanda dengan santai.

” Woooww..sebuah jawaban yang sudah kita duga…anal queen gitu loowww…” ujar istriku, seraya mengambil satu lagi buah apel dari keranjang, dan kembali disuruhnya Tini untuk memberikan pelumasan khusus dengan air liurnya.

” Oke…sekarang apel yang kedua…apakah ini juga akan sanggup masuk kelubang anus sang ratu…oke, kita lihat saja…setelah…”

” Setelah pesan-pesan berikut ini…” godaku lagi

” Hussss…sekali lagi, jangan dengerin yang itu…setelah Tin… eh, dayang-dayang ratu memberikan pelumasan dengan air ludahnya..”

” Oke, pelumasan telah cukup….here we go again…” kembali sebuah apel mulai dimasukan lelubang anus Nanda.

” Huuuufff….kembali, satu lagi buah apel telah masuk separuh… Sekarang saatnya kita dorong masuk, apakah akan berhasil.. Satu….dua…tiga..uhhhhh…yesss…horeeee…ber hasil pemirsa, bukan main dua buah apel telah berhasil masuk dengan sempurna, menghilang tanpa bekas…. Oke, kita kembali wawancarai sang ratu…” kembali istriku meraih wartel dan diarahkan kemulut Nanda.

” Bagaimana perasaan anda baginda ratu, setelah dua buah apel masuk kedalam anus anda?

” kayaknya tambah mantep nih, kalau bisa satu lagi deh…plliiiiss…” waduh, justru anak ini minta untuk dimasukan satu buah lagi, sekarang justru aku yang kawatir, aku takut justru itu akan membahayakannya…tapi, ah, aku rasa tidak.

” Wooooowwww…dengar pemirsa…sang ratu meminta untuk ditambah satu buah lagi…ooohhh, tapi sepertinya saya tak yakin kalau ini akan berhasil pemirsa… Tapi, baiklah, tetap akan kita coba…biar bagaimanapun ini adalah perintah sang ratu…”
Buah apel ketiga telah berada ditangan istriku, seperti biasa Tini melakukan tugasnya sebagai penyuplai “minyak lumas”.

” Oke…ini adalah apel yang ketiga, yang bakal saya coba kembali untuk memasukannya…” buah apel mulai diarahkan keliang anus Nanda, perlahan didorongnya secara bertahap.

” Woooowwwww….akhirnya, kembali separuh bagian telah masuk..sungguh menakjubkan pemirsa.. Dan kini akan kita coba mendorongnya masuk… Oke pemirsa, kita do’akan semoga ini kembali berhasil… Oke, mulai kita dorong kedalam….dan kita akan nantikan, apakah ini akan kembali berhasil masuk kedalam, atau justru akan berbalik keluar karna ruang didalamnya telah tak sanggup lagi menampung… kita akan lihat…. Uuuuufffffffff….oh, pemirsa kelihatannya ini akan berhasil….huuuffff….yessssss….berhasil…lua r biasa…sungguh sulit untuk dapat dilukiskan dengan kata-kata…luar biasa, tiga buah apel telah masuk kedalam lubang anus putri kami ini….” dalam terkesimanya diriku, aku tetap berharap tak akan terjadi apa-apa terhadap Nanda, walau sepertinya putriku itu terlihat baik-baik saja, dan bahkan justru tampak enjoy.

” Bagaimana nda? Kamu enggak apa-apa kan sayang…” sepertinya istriku juga memiliki kesamaan dengan apa yang aku pikirkan, yaitu sedikit kawatir.

” Enggak apa-apa koq ma…malahan enak…nikmatnya terasa sampai ke ulu hati….nyesek-nyesek gimana gitu…” papar Nanda, yang membuatku merasa lega.

” Woooowwww…kalian dengar sendiri pemirsa…putri kami ini memang betul-betul ratu anal sejati…wooow kami benar bangga punya anak seperti dia pemirsa….”

Kini istriku menundukan kepalanya, sehingga posisi wajahnya sejajar dengan bokong Nanda, entah apalagi yang akan direncamakannya.

” Ayo sayang…coba sekarang kamu keluarin apelnya satu-satu…slowly aja ya, jangan buru-buru, biar pemirsa bisa melihat momennya dengan lebih jelas..oke.!”
” Oke deh ma…” jawab Nanda, yang kedua kakinya masih ditekuk hingga telapak kakinya menyentuh kepalanya, dan Tini masih setia memegangi kakinya itu, Begitupun dengan Doni, masih setia dengan kamera perekamnya, yang bagai cameraman profesional bergerak kesana kemari demi untuk mendapatkan sudut pandang yang dianggapnya pas.

” Kalau begitu….mulai..! ” setelah aba-aba dari istriku itu, tampak anus putriku mulai mengempot-empot, sepertinya dia tengah mengedan… Dan…pluuupppp…
Satu buah apel, baru saja melompat keluar mengenai wajah istriku, yang diikuti dengan sorakan darinya.

” Waaawwwwww…..luar biasa pemirsa, satu buah apel telah keluar dengan selamat dan tak kurang satu apapun…”

Tak lama kemudian kembali anus Putriku tampak berkedut-kedut, lalu dari bagian tengahnya mulai terlihat benda berkilat dengan warna kehijauan, lama kelamaan benda itu semakin membesar dan membesar, hingga akhirnya pluuuupppp…. Mental mengenai wajah istriku yang disambut dengan sorak kegirangan.

” Wooowwww….sudah dua buah pemirsa… Mmmmm…aromanya nikmaaaatttt..” ujarnya sambil kedua tangannya memegang masing-masing sebuah, diikuti dengan menciumnya satu persatu.

” Oke..sekarang kita nantikan yang terakhir….ayo Nanda…silahkan…”

” Oke ma…lihat nih…mmmmhhhh…” kembali Nanda mulai mengedan.

” Woooowwww….lihat pemirsa, bo’olnya mulai ngempot-ngempot.. uuuhhhhh…sudah mulai mengintip tuh, wooowww…mulai nongol…nongol…semakin besar…”

Tiba-tiba istriku menoleh kearah Doni yang masih sibuk dengan tugasnya ” inget ya cameraman, untuk momen yang indah seperti ini, pengambilan gambar harus close-up lho…” ingatnya.

” Beres ma…ini juga close-up…” jawab Doni

” Lihat pemirsa… Posisinya sudah pada diameter terbesarnya…woooww, bagi saya ini adalah momen yang terindah….dan..wwwoooowww…untuk ketiga kalinya wajah saya harus ditembak lagi pemirsa…aaaeeennggggg..hik..hik..hik…sakiit..” untuk kali ini diikuti dengan gaya seperti anak-anak yang tengah menangis, Ah, bisa aja istriku ini, tapi mengapa gayanya itu bagiku justru terlihat menggemaskan.

” Akhirnya…ketiga apel ini telah berhasil keluar semua pemirsa…mmm..akan saya coba cicipi..” satu buah apel digigitnya.

” Mmmm….nikmat pemirsa…rasanya beda…jauh lebih nikmat..lebih renyah..dan yang terpenting atomanya itu lho…wooowww…maknyussss…” sekitar tiga kali gigitan, kembali diletakan apel-apel itu kedalam ranjang.

” Sekarang kita beri tepuk tangan kepada ratu kita… Baginda Ratu Anal yang Agung…horeeeee…” diikuti dengan bertepuk tangan, untuk itu akupun juga ikut bertepuk tangan.

******

“:E-eh..Nanda, jangan diturunin dulu kakinya sayang…Tini, pegangin dong..” protes istriku, saat Nanda kembali meluruskan posisi kakinya.

” Emang mau apa lagi sih ma?” Tanya Nanda, setelah kembali menekuk posisi kakinya.

” Mmmm…ada aja..” jawab istriku, sambil mengetuk-ngetuk dagunya dengan jari telunjuk, lalu kembali menghadap kearah kamera.

” Oke, para pecinta incest dirumah, untuk sesi kali ini saya akan menyuguhkan sesuatu yang tak kalah mendebarkannya, dan yang pasti tak kalah hotnya…Apa itu pemirsa…? mmm… tapi, kasih tau gak ya?” kembali mengetuk-ngetuk dagunya dengan jari telunjuk sambil berpura-pura berpikir.

” Oke deh, kita langsung saja…nanti juga tau sendiri..” lalu perhatiannya beralih pada keranjang buah, dipilih-pilihnya sejenak, sekitar tiga butir strawberry diambilnya, lalu kembali mencari, kali ini anggur, yang juga tiga butir.

” Tadaaaaaa….sekarang buah yang kecil-kecil, anggur dan strawbery… Baiklah kita mulai.. pertama-tama kita siapkan adonannya, eh..kayak mau bikin kue aja ya pemirsa hi..hi..hi..tapi gak papa deh, strawbery kita remet-remet dengan tangan hingga hancur seperti ini, lalu….? lalu apa hayooo? Lalu kita masukan kedalam lubang anus sang Ratu.. Caranya? Caranya kita ambil dahulu sebuah wortel, lal kita sodok-sodok anusnya seperti ini, lalu kita cabut…momen dimana lubang anus terbuka lebar saat kita mencabut, disitulah saat yang paling tepat untuk memasukan strawbery ini..” buah strawberry yang baru saja diremas-remas hingga hancur kini dimasukannya kedalam liang anus yang menganga karna sodokan wortel, hanya beberapa saat lubang itu kembali menutup, yang tentunya sudah dengan strawberry berada didalamnya.

” Tiga buah strawberry telah masuk…kali ini buah anggur, kembali kita remet-remet hingga hancur..lalu kita sodok-sodok lagi anusnya pakai wortel…ingat, saat kita cabut wortenya, usahakan secepat mungkin kita langsung masukan anggurnya, karna proses pembukaan otot-otot anus itu hanya sebentar, gak sampe sedetik, makanya harus cepet… Oke kita mulai, satu dua,tiga…yesss…masuk semuanya…” buah anggur yang telah hancur itu akhirnya juga masuk mengikuti jejak strawbery yang telah terlebih dulu mengembara kedalam goa kenikmatan milik putri kandungku itu.

” Selanjutnya…kita akan memberikan pasta spesial kedalam adonan strawabery dan anggur tadi…ingat ya pemirsa…pemberian pasta merupakan hal terpenting dari ini semua, tanpa itu Aaahhh…kurang siiippp.. oke sekarang kita ambil pastanya, tapi butuh waktu…” setelah itu istriku menoleh kearahku.

” Papa berdiri…” kuikuti peemintaannya itu, aku kembali berdiri dengan batang penis mengacung tegak. Show yang disajikan istriku tadi memang membuat syahwatku bertambah naik, yang berefek pada batang penisku yang juga menegang.

Ah, ternyata istriku mengoral batang penisku..hmmm..aku rasa ini tak akan lama, pertunjukan tadi saja hampir-hampir membuatku klimaks.

” Aaaaggghhhhhhh…aku mau keluar ma….” lenguhku. Tepat dugaanku belum satu menit.
” Tahan…tahan dulu pa, langsung masukin aja kedalam bo’ol Nanda…tahan ya pa, pliss deh..” huh, untung saja aku masih sanggup menahannya, dan akhirnya aku tancapkan penisku kedalam liang anus putriku itu

Crotttt…crottt…croootttt…semburan air maniku sepertinya menemani buah-buah tadi.

” Yesssss…itu dia pemirsa…pasta itulah yang saya maksudkan…pasta spesial….yang kini diberikan oleh sang ayah kedalam lubang anus putri tercintanya…..so sweet kan?”
Akhirnya goyangan tubuhku terhenti, dengan batang penisku masih tertanam didalamliang anus putriku.

” Sudah dong pa, jangan ditahan terus begitu…sekarang papa gantiin Doni pegang kamera, Doni kan juga mau berpartisipasi menyumbangkan pastanya, iya kan Don….” Ah, gak sabaran amat sih, gak tau kali, kalau aku masih menikmati sisa-sisa orgasme ini.

” Iya…tunggu sebentaaar aja…” mohon ku.

Beberapa saat kemudian istriku mengoral batang penis Doni, sedang aku kini berperan sebagai juru kamera. Berbeda denganku tadi, sudah cukup lama istriku mengoral batang penis Doni, tapi hingga saat ini belum terlihat tanda-tanda kalau anak itu akan mencapai klimaks..

” Ya udah don, kamu entot aja memek mama dari belakang deh, tapi nanti keluarin ditempat kak Nanda ya…” usul istriku, seraya menungging dengan bokong mengarah kepada Doni.

“Beres deh ma….” jlepp…batang penis bocah itu langsung ditancapkan ke vagina ibunya, lalu pinggulnya mulai bergerak maju mundur, menyetubuhi mamanya dengan dogie style.
Ternyata cara itu cukup manjur, tak sampai satu menit Doni melenguh keras, sebuah sinyal yang menunjukan bahwa dirinya akan mencapai klimaks.

” Cepet kamu masukan ke anus kakakmu…awas kalau sampai berceceran diluar…” beruntung, Doni masih bisa membendungnya sampai batang penisnya dibenamkan kedalam anus kakaknya itu.

” Yessss…. Woooww, mantaapppp….semburan pasta yang kedua pemirsa…sepertinya sudah cukup, dan hidangan spesial sudah siap untuk disantap…..” ocehnya, sambil melihat kearah kamera.

” Udah, kamu minggir dulu dong, ah…” pintanya kepada Doni yang masih belum mencabut penisnya.

” Oke pemirsa….inilah saat yang dinanti-nantikan…yaitu saatnya menyantap hidangan spesial ini, tapi maaf lho pemirsa, ini hanya khusus untuk saya….jangan iri ya? Kamu juga Tini, kamu jangan iri ya? ” Tini hanya tersenyum malu saja menjawab pertanyaan istriku itu, sambil dengan setia masih memegangi kaki Nanda.

Kini istriku berbaring telentang, dengan wajah berada dibawah bokong Nanda. Sepertinya aku mulai paham dengan apa yang akan direncanakan istriku ini.

” Tini, sekarang kamu angkat tubuh Nanda, arahkan anusnya tepat diatas mulut saya, kamu paham kan, dengan apa yang saya maksud…” perintahnya kepada Tini.

” Iya, saya paham bu… Mbak Tini mau berak dimulut ibu kan? Eh, maaf bu…salah ngomong…” ujar Tini, dengan polosnya.

” Ah, sok tau kamu…yang akan saya makan bukan tai, tau? Tapi salad buah dengan mayones… Sudah, sekarang kamu angkat, saya dah gak sabar nih…”

Seperti yang diminta istriku, dengan mudahnya tubuh Tini yang termasuk tinggi besar itu mengangkat tubuh imut Nanda, dan sepertinya Tini juga telah paham, sehingga dia dapat mengatur posisi yang tepat dan efisien, agar “ekstra puding” untuk istriku itu jangan sampai ada yang tercecer percuma.

Kini liang anus Nanda telah benar-benar tepat berada diatas mulut istriku yang menganga.

” Ayo Nanda…kamu boleh keluarkan sekarang sayang…mama udah siap nih…” ujar istriku, momen ini tentunya aku bikin close-up, sehingga nantinya akan mendapatkan gambar yang diteil dan jelas.

” Oke deh ma….satu…dua…tiga…hhhhgggggggg…” ujar Nanda, seraya mengedan seperti orang tengah buang air besar.

Dari layar monitor yang telah aku zoom-in, tampak anus Nanda mulai berkedut-kedut, dan…prolll…preettt..brocot..brocot…beberapa gumpalan berwarna ungu kemerahan serta berlendir keluar dari dalam anusnya, yang langsung masuk kedalam mulut menganga istriku.
Sepertinya itu adalah buah strawberry dan anggur yang tadi telah dihancurkan, sedang lendir kental berwarna keputihan itu merupakan spermaku dan Doni, dari aromanya aku masih dapat mengenalinya, walaupun telah bercampur aroma khas strawberry, juga aroma khas lubang pelepasan.

” mmmm…nyemm…nyemmm…nyemmmmm…lezzaaaattttt.. ..” gumamnya, sambil mengunyah hidangan spesialnya itu.

” Wooowwww…luar biasa pemirsa…nyem…nyem… Gurihnya terasa, dan manisnya juga lumayan.. Ada sedikit sensasi asinnya juga, ini pasti dari pastanya tadi… Pokoknya, maknyuuuuusss…” ocehnya, sambil masih mengunyah.

Setelah dirasakan tak ada lagi yang keluar dari dubur Nanda, Tini meletakan tubuh Nanda duduk diatas terpal.

” Enak ma? ” tanya Nanda kepada mamanya.

” Mmm…mau coba? sini mama kasih…” seraya istriku bangkit dari posisi berbaringnya.

” Buka mulutmu…” perintah istriku, yang wajahnya kini telah berada diatas wajah Nanda. Seperti yang diperintahkan istriku, Nanda membuka mulutnya sambil menengadah keatas.
Pleh….gumpalan yang lebih lembut tumpah dari mulut istriku, yang langsung masuk kemulut putrinya itu.

” Gimana sayang…enak enggak? ” kali ini istriku yang menanyakannya pada Nanda.

” Lumayan, enak juga…” jawab Nanda, dan langsung mulutnya itu dikecup oleh istriku. untuk beberapa saat ibu dan anak itu saling berpagutan.

” Ternyata berbagi itu juga indah ya pemirsa… Seperti yang baru saja saya berikan kepada anak saya ini..” ocehnya lagi, sambil menghadap kearah kamera.

” Eh, sorry ya Tini, kamu gak kebagian….udah abis sih… Mmmmhhh…kacian deh kamu…” ledek istriku pada Tini, diikuti dengan mengacungkan jari telunjuknya, lalu digoyangkan kebawah membentuk lengkungan seperti ular.

” Gak apa-apa koq bu, lain kali juga bisa…” jawab Tini.

” Oke para incest lover dirumah…saya rasa cukup sekian dulu acara kesayangan kita “indahnya incest” untuk malam ini. saya Rike Veronica beserta seluruh kru, mengucapkan salam incest selalu….dan semoga tayangan tadi dapat memberi inspirasi bagi anda semua untuk mencoba ber incest ria bersama keluarga anda dirumah… oke kalau begitu saya mohon diri dulu, dan sekali lagi salam incest selalu, mmmuuuuaaahhhhhhh……”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*