Home » Cerita Seks Ayah Anak » Kisah Keluarga Citra 9

Kisah Keluarga Citra 9

“Karnia… Kamu ngapain sih lama-lama dikamar Kak Ciello….?” Seru Clara sambil melepas bra merah yang ia kenakan lalu melemparnya ke keranjang baju kotor di sudut kamar. Membiarkan payudaranya yang bulat besar meloncat turun dan bergoyang seiring gerak tubuh sintalnya. “Kamu nggak takut apa kalo dia ngisengin kamu…?”
“Hihihi… Aku habis photo kontol dia… Ma liat gak…?” Tanya Karnia sambil memamerkan gambar penis Ciello di layar handphonenya.
“Ihhhhssss…. Ngapain amat…. ” Tolak Clara yang mengelap payudaranya dengan tissu basah. Membersihkan kulit mulus payudaranya dari cipratan sperma kakaknya.
“Loohh… Liat dulu dong… Ini kontol special loh…”
“Apanya yang special…? Semua titit mah biasa ajaahh….” jawab Clara yang kemudian melepas roknya dan juga melempar ke keranjang baju kotor di sudut kamar, dan mengambil handphone Karnia. Lalu dengan hanya mengenakan celana dalam, Clara ia melempar tubuhnya keatas dipan empuknya, membuat payudara besarnya lagi-lagi bergoyang-goyang bebas.

“Hihihi… Kamu pasti jarang ya liat kontol cowok…. Kontol kakakmu tuh beda tauuukkk…” Jelas Karnia yang juga ikut-ikutan melepas baju beserta rok seragam sekolahnya dan melemparnya ke keranjang kotor, menyisakan bra dan celana dalam serasi berwarna hijau. Kemudian ia mengikuti Clara, segera merebahkan tubuh langsingnya disamping Clara.

“Nggg…. Emang bedanya apa ya…. ?” Jawab Clara bingung dengan maksud Karnia.
“Hhhh… Dasar adik nggak perhatian….Nih liat… Kontol Kak Ciello tuh beda ama kontol cowo seusianya…. Liat deh ukurannya batangnya… Besar kepalanya… Guratan uratnya… Beda Clara…” Jawab Karnia yang terus-terusan menslide gambar penis Ciello di handphonenya ke depan wajah Clara.
“Masa sih…? Bukannya titit cowok semua sama ya…?” Heran Clara.
“Hhhhh… Kalo titit emang iya… Tapi ini kontol Clara… Kontol…. ” Gemas Karnia, “Titit mah buat bayi… Ini KONTOL….”
“Ihhhhsss…. Karnia…. Kata-katamu vulgar banget deh…. ”
“Halah… cuman berkata kontol aja kok vulgar… “Ucap Karnia membela diri, “Kamu tuh vulgar… Dirumah cuman pake kancut doang… Tetek diumbar kemana-mana….” Tambah Karnia sambil menggoyang-goyang payudara besar Clara yang masih tiduran disampingnya.
“Emang…. Apa sih bedanya…? Kayaknya nggak ada yang spesial deh…?” Jawab Clara sambil memutar-mutar handphone Karnia yang berada di tangannya. Tak mempedulikan tangan jahil Karnia yang masih terus-terusan mengusel-usel payudaranya.

“Nihhh… Coba… Liat nih…” Jawab Karnia lagi sambil mengambil handphone dari tangan Clara dan memperlihatkan koleksi photonya, “Ini kontol Jaka, ini kontol Ryan, ini kontol Erwin, ini kontol Hendrik, ini kontol Ifan… Ini kontol Dedy…. Beda khaaaan….?”
“Iiihhhssss… ” Seru Clara sambil merebut kembali handphone Karnia dari tangannya. “Photo-photo titit itu… Semua titit cowokmu ya…?”
“Kontol Clara… Kontol… Bukan titit…”
“Hihihi iya… Kontol…” Ucap Clara ,”Nggak enak banget ngedengernya yak.. ? Kontol… ? Hihihi….”
“Naaaah… Gitu dong… Khan aku enak ngedengernya…”
“Heeeh Panjul… Kamu belom jawab pertanyaan Clara… ”
“Eeh iyaa……. Nggak-nggak… Bukan… Mereka semua tuh sudah jadi mantaaan kok…. Hihihihi….” Jawab Karnia cuek sambil terus menslide gambar-gambar penis di handphone yang ada di tangan claranya.
“Kok kamu punya banyak sekali gambar titit mereka….?”
“Kontol…” Ralat Karnia.
“Eh iya… Kontol… ” Sahut Clara.
“Emangnya… cuman cowo yang boleh koleksi gambar-gambar jorok…?” Sewot Karnia, “Tuh liat… Wuiih… Rambut kontol kakak lo lebat juga yak…? Pasti asem bauknya… Hmmm….”

“Ya tapi khan kamu cewek… Cewek harusnya nggak semesum cowok dong….” Kata Clara yang mulai memperhatikan gambar penis kakaknya.
“Biarin ajalah… Yang penting aku nggak ngerepotin siapa pun…. Hihihi….” Bela Karnia, “Tuuuh liat Clara… Uratnya juga tebal-tebal loohh…. Emang kamu nggak pernah penasaran buat megang tuh kontol…? ”
“Iiiiiihhhss… Buat apaan…? Ngeliat aja udah geli… Apalagi megang…. Bisa kesenengan tuh monyet buntung…” Sewot Clara, ” Udah-udah… Jangan ngebahas titit dia… Clara udah sering kok ngeliatnya…”
“Kontol Claraaa… Konttoooollll…..” Ralat Karnia lagi.
“Iya deh iya.. Kontooollll…. Puas…?”
“Hihihi…. Naaah…. Barang segedhe ini mah harusnya kamu sebut kontol…”
“Iyeee… Ini juga Clara udah bilang kontol…”

“Bagus bagus bagus… Eh… Kamu juga harus liat ini doooonngg… Kepala kontol besar kak Ciello yang baru aja muncratin pejuh…. Busyeet… Merah bengkak Clara… Hihihi….” Ucap Karnia kagum sambil kembali menunjukkan gambar penis Ciello pada Clara. “Sumpah… Ini besar banget loh… Ya khaan…?”
“Nnggg… Iya sih… Kayaknya besar….” Ucap Clara mengiyakan.

“Bukan kayaknya Claraaa……. Ini memang besar… Besar banget Sayaaaang…. ” Ucap Karnia yang terus-terusan menzoom beberapa gambar penis Ciello lainnya, “Kebayang nggak kalo kontol itu nusuk-nusuk memek kamu yang mungil ini…?” Tanya Karnia yang tiba-tiba memindahkan tangannya dari payudara ke vagina Clara, “Kebayang nggak…? Kontol besar punya kakakmu ini…. Menggelitik itilmu…. Ngegaruk-garuk dinding memekmu… Wuuuiihh… Pasti rasanya cenut-cenut tuh….Hihihi….” Tambah Karnia sembari mengusap vagina Clara dari luar celana dalam. Membuat tubuh Clara seketika merinding.
“Iiihh… Amit-amit dah… ” Seru Clara sambil mengembalikan handphone Karnia tanpa menepis tangan Karnia di vaginanya.

“Coba bayangin dulu Sayang…. Bayangin kalo kontol kakakmu itu menembusi setiap inchi lipatan lubang memekmu… Menembus jauh hingga menyentuh liang peranakanmu… Hingga rahim… ” Goda Karnia sambil mulai menyelipkan jemari tangannya ke sela-sela celana dalam Clara, berusaha menyusupkan jemarinya lebih jauh kedalam liang vagina sepupunya,” Ooohh… Pasti enak banget tuh…”
“Nggg…. Masa sih…?” Tanya Clara menatap wajah Karnia, “Emang…? Seenak apa…?”
“Enak banget lah….Hihihi… ” jawab Karnia tersenyum, “Mau aku kasih unjuk…?” Tambah gadis manis itu sambil mengoreki vagina Clara yang mulai melembab.

“Kasih unjuk buat ngerasain nikmatnya memek disodok-sodok…” Ucap Karnia.
“Lah…? Kamu khan cewek… Gimana cara nyodoknya….?” Heran Clara.
“Hihihi… Pake dildolah….”
“Iiiihhsss… Gilaak… Nggak ah… Nggak usah….” Tolak Clara sambil menepis tangan Karnia pelan, “Ntar ilang perawan Clara….”
“Hihihi… Ya kalo nggak mau ilang… Dikobel-kobel aja Sayang…” Ucap Karnia memberi ide, tak mengindahkan tepisan tangan Clara sebelumnya. “Dikobel juga masih bisa ngerasain enak kok… Hihihi…” Tambahnya lagi. Jemari lentiknya kemudian mulai mengusap tonjolan klitoris Clara yang semakin mengeras.

“Uuuuhh… Karnia…” Lenguh Clara sambil merem melek, mencoba merasakan kenikmatan usapan jemari sepupunya pada liang vaginanya yang semakin becek.
“Enak khaan….?” Tanya Karnia lembut yang secara tiba-tiba mengecup payudara bulat Clara.
“Eeehmmm….. Sssshhh…. ” Desar Clara lagi.

Melihat sepupunya itu mulai tergiring dalam kenikmatan, membuat Karnia makin berani. Ia mulai menusukkan jemari tangannya ke dalam celah kewanitaan Clara.
“Uuuuhh… Karnia… ” Rintih Clara.
“Yaaa…? ” Jawab Karni pelan sembari terus mengecupi payudara Clara pelan sembari mulai menjilati puting merah muda sepupunya, “Coba bayangin… Jari aku tuh kontol kakakmu Sayang…”

“Sssh…. Aaaaaahhh… Enak…. ” Desah Clara, “Ehhhmmm…. Kontol Kak Ciello…. Eh….Udah-udah…. Stop…” Seru Clara tiba-tiba panik, dan buru-buru menepis tangan Karnia.
“Loh…? Kenapa Sayang…?”
“Udah-udah… Ntar Clara malah beneran kepingin….”
“Hihihi… Ya nggak apa-apa….” Jawab Karnia yang kemudian menyingkirkan tangannya dari vagina Clara dan mempermainkan jemarinya seperti kaki berjalan. Melangkah pelan kearah payudara sepupunya, “Atau kalo nggak… Coba bayangin tuh kontol… Dikocok pake tetek besarmu ini…
“Kontol dikocok pake tetek…?” Heran Clara
“Iya… Enak loh… Trus abis gitu… Dimuncratin di sini…?” Goda karna yang kemudian memutar-mutar jemarinya di sekitaran puting merah muda Clara.
“Iiiihh… Karnia… Geli aaah….”
“Kalo kena pejuh… Pasti kulit tetekmu ini bakalan lebih kenceng lagi….”
“Aaaahhss…. Teori itu maaah…”
“Laahh.. Nggak percaya… Ini buktinya… Liat… Tetek aku kenceng khan….?” Ucap Karnia sambil memamerkan kedua payudaranya yang masih terbungkus bra. Mengkilap mulus.

“Emang itu akibat sering kamu kasih pejuh ya…?” Tanya Clara.
“Yup… ” Ucap Karnia sambil mengangguk pasti, “Dan liat… Makin keliatan besar khan…?”
“Hhmm… Iya sih… Tapi masa itu gara-gara dilulurin pejuh sih…?”
“Hihihi…. Makanya… Coba deh… Kalo tetek kamu ini kamu kasih pejuh… Pasti bakalan makin besar lagi…” Jelas Karnia sambil meremasi payudara Clara dengan kedua tangannya.

“Ssssh… Udah-udah… Kok sekarang malah ngomongin tetek Clara sih… Udah ….Geli Karniaaa…” Seru Clara sambil menepis tangan sepupunya dan buru-buru bangkit dari tempat tidurnya.
“Hihihihi… Tapi enak khaaan….?” Goda Karnia.
“Iiiihhhsss… Udah udah… Kita makan dulu yuk… Perut Clara udah laper nih… ” Selak Clara berusaha mengalihkan pembicaraan. Ia lalu mengenakan kaos tipis dan kembali duduk di tepi tempat tidur.

“Kamu harusnya bersyukur Clara… Punya saudara berkontol besar gitu…” Ucap Karnia sambil tersenyum manis. Senyum yang entah kenapa, selalu menenangkan hati Clara.
“Emang kenapa…?” Tanya Clara.
“Hihihihi… Ya enak aja…”
“Emangnya titit… Eh… Kontol Om Joko…? Farhan…? Zaki…? Billy…?”
“Aah kontol mereka mah standar… ” Potong Karnia cepat. “Kontol mereka mah ga sebesar kontol-kontol keluargamu….”

“Haaaah…? Kontol-kontol keluargaku…?” Heran Clara, “Hhmmm….Emang selain kontol Kak Ciello… Kamu udah liat kontol siapa lagi… ?” Tanya Clara penasaran.

“Hehehe… Ada deeeh…. ” Jawab Karnia jual mahal sambil memeluk guling, berusaha menyembunyikan wajahnya dari tatapan penuh tanda tanya Clara.
“Iiiihhs… Karnia… Kamu udah liat kontol siapa lagi…?” Seru Clara yang kemudian menangkap tubuh Karnia dan berusaha mengambil paksa guling yang sedang dipeluk sepupunya.
“Hihihihi… Aku udah pernah liat…. Hmmmm… Ada deeeh… Hihihihi…”
“Karniaaaa…” Jerit Clara kencang sambil mulai menggelitik pinggang sepupunya.
“Hihihihi… Aku udah pernah liat….. Kontol Papa kamu…”

“Kontol papa aku….?” ulang Clara, “HAAAH… Kontol Papa Mike…? Serius…?” Tanya Clara yang kemudian kembali tiduran di samping tubuh Karnia.

“Hihihi….” Jawab Karnia sambil mengangguk dan tersenyum lebar.
“Kok bisa…? Kapan…? Dimana…? Gedhe nggak…? Gimana bentuknya…?”

“Wuih wuih wuih… Satu satu nanyanya Sayang… ” Sela Karnia, “Kamu sepertinya pengen tahu banget ama kontol Papamu…?”
“Eeh.. Nngg… Clara khan cuman penasaran….”
“Penasaran apa…?”
“Ya penasaran aja ama kontol Papa…?”
“Penasaran gimana rasanya kalo tuh kontol ngaduk-aduk memek perawan kamu ya…? Hihihi….”
“Iiiihh….. Karnia… Becanda mulu deeeh….”

“Hihihihi…. Malahan… ” Tiba-tiba, Karnia memutus kalimatnya, “Eh… Kamu jangan marah ya…”
“Ngg… Marah kenapa..?” Tanya Clara.
“Aku….Bukan… Cuman pernah liat kontol Papa kamu loh…”
“Haaa….?”
“Iya… Aku juga udah pernah megang juga… Hihihi…”
“Se..Ri….Us….?”

Lagi-lagi, Karnia tersenyum lebar , “Iya… Nggak cuman itu aja loh….”
“Haah… Trus….? Kamu pernah ngapain lagi Karnia…?”
“Aku juga…. Mmmmm… Udah pernaaaah…”

“Cielloo…… Clara…. Mama pulaaang…. ” Seru Citra dari arah ruang tamu. Mengagetkan percakapan kedua gadis cantik itu.

“Itu seperti suara Mama kamu Say…?” Celetuk Karnia, “Sepertinya mereka sudah pulang….”

“Anak-anaaak… Papa juga pulaang…. ” Timpal Mike, “Cieloooo…. Claraaaa….. Ayo turun gih…. Papa bawa banyak oleh-oleh nih… Ayo sini….”

“Bener… Itu suara Papa Mike tuh Claara… Udah ya… Ceritanya disambung nanti lagi…. ” Ucap Karnia yang buru-buru bangun dari tiduran di kasur Clara dan mengambil kaos Clara di lemari.
“Eeeeh… Karnia… Gimana ceritanya…?”
“Hihihi… Nanti ya… Habis kita makan malam…” Ucap Karnia sambil mengenakan baju Clara lalu beranjak keluar kamar.
“Karniaaa…. Tungguuuu…. ” Seru Clara ,”Kamu harus ceritain semuanya…. Men… de..ta…il…”
“Hihihi… Iya nanti aja yaaa…”

“Ciello….Clara…?” Panggil Citra lagi.
“Yuk kita kebawah dulu…” Seru Karnia sambil menggandeng tangan Clara dan buru-buru mengajak sepupu cantiknya itu segera turun.

GLUDUK GLUDUK GLUUDUUKK.. GLUDUK GLUDUK GLUDUK GLUDUK…..
Suara langkah kaki Clara dan Karnia terdengar bergemuruh, seiring langkah kaki yang berlarian turun.

“Paaaapaaaaa……. ” Teriak Clara yang tiba-tiba meloncat ke gendongan Mike sembari mengecupi pipi ayahnya.
“HUUP…. Huiihh… Anak Papa ini makin berat aja ya…?” Ucap Mike membalas menciumi pipi Clara.
“Papaaa….. Papa pulangnya kok malem banget sih…?” Rajuk Clara sambil kembali memeluk tubuh kekar Mike erat. Membuat payudara tanpa branya yang bulat, terhimpit nyaman didada Mike.
“Hehehe… Kangen ya….?” Ucap Mike yang juga semakin kuat meremas pantat semok Clara.
“Hmmm… Dikit sih…. Hihihi…”

“Iya Sayang…. Tadi Mama ngasih surprise dulu…. Trus setelah itu Mama ngajak makan malem…. “Jelas Mike, “Jadinya ya gini…. Sampe rumahnya agak malem….”
“Hmmm… Surprise….?” Tanya Clara sambil melirik ke arah Citra, “Iiihhh… Mama iiihhhh… Bajunya seksi banget….” Protes Clara.
“Eh… Kenapa emangnya Sayang…?” Bingung Citra.
“Pasti tadi Mama ama Papa mampir hotel buat BEGITUAN ya…?”
“Loohh.. Sayang….? Kok mikirnya gitu…?” Tanya Citra sambil melirik kearah Mike.
“Iyalah… Mama pake baju seksi…. Trus nggak ngajak Clara…. Trus pulangnya malem…. Pasti tadi kalian berdua abis ngapa-ngapain khan…? Hayo jujuuuurr…….”
“Hahahahaha…. Clara-Clara…. Kamu tuh ya… Kaya detektif aja…” Celetuk Mike sambil menurunkan tubuh Clara dari gendongannya.

“Iya nih Clara…. Khan tadi waktu Mama berangkat…. Kamu tadi masih belum pulang sekolah Sayang…. ” Citra beralasan.
“Yah.. Mamaa… Coba Mama nunggu bentaran… Khan Clara bisa ngikut…. Clara tau kok tadi mama berangkatnya buru-buru…. ”

“Hah….? Clara tahu keberangkatanku…?” Batin Citra sambil melirik lagi kearah Mike, jangan-jangan dia tahu kejadian mesum sore tadi ketika aku bersama kakaknya…? Aahh… Nggak… Dia nggak tahu….”

“Ya khan Ma….? Mama tadi jalannya buru-buru….” Tanya Clara lagi.
“Hihihihi… Iya iya Sayang…. Maaf ya… Lain kali Mama bakal nungguin kamu deh…. Hihihihi…”

“Yaudah…. Jangan ngambek gitu ah…. Ini… Papa udah bawa oleh-oleh kesukaanmu Sayang…. Buka gih… Papa harap kamu suka….” Ucap Mike sembari menyodorkan sekotak martabak keju dan beberapa kantung belanja kearah Clara. Lalu sebelum Mike beranjak ke arah kamar tidurnya, ia dikagetkan dengan sesosok wanita yang berdiri di ujung tangga sambil tersenyum lebar.
“Eh… Ada Karnia toh…. ” Seru Mike, “Sini Sayang… Jangan berdiri dipojokan gitu ahh…”
“Malem Ommm….Oleh-oleh Karnia mana….?” Tanya sepupu Clara ini sambil berjalan mendekat dengan wajahnya tersenyum dan menatap mata Mike tajam penuh arti.

Melihat tatapan Karnia, hati Mike tiba-tiba berdebar. Pikirannya melayang ke beberapa saat lalu. Saat dimana kepala Karnia sedang naik turun diselangkangannya. Sibuk mengoral penis jumbonya sebelum ia masuk sekolah.

“Hahahaha…. Sini-sini Sayang…. CUUUPP….” Kecup Mike kearah pipi Karnia sambil memeluk tubuh ramping keponakannya erat-erat, “Om nggak tahu kalo kamu ada disini… Yaudah… Ini aja ya oleh-olehnya….” Tambah Mike yang kemudian menyerahkan sekotak makanan pada Karnia.
“Hehehe… Karnia cuman becanda aja kok om…. Tapi… Makasih ya Ooomm…”

“Loh Sayang…? Si Ciello mana…? Kok nggak keliatan…?” Tanya Mike
“Eeh… Iya ya….?” Bingung Citra.

“Si Monyet Buntung itu sudah tidur Pa…. ” Ujar Clara singkat.
“Monyet Buntung…? ” Tanya Citra.
“Iya…. Kak Ciello… Dia pasti kecapekan Ma…”
“Kecapekan….?” Tanya Mike
“Mungkin tadi dia kebanyakan olahraga Sayang….” Jelas Citra.
“Huuhh… Olahraga….? Olahraga apaan….? Olahraga kont…..” Clara tak meneruskan kalimatnya, ia lalu melahap martabak favoritnya. “AHEM…. Udah ah… Clara mau ngehabisin martabaknya di teras depan ajalah … Yuk Karn….”
“Eeh iya… Permisi Om… Tante….”
“Hmm… Oke…. “Jawab Mike, “Jangan banyak-banyak makannya ya Sayang…. Ntar gendut loh…”
“Iiiiiihhhsss… Papa…. Kok ngedoain aku gendut sih….” Omel Clara dari depan teras.
“Hahahahaha…..”

“Yaudah deh… Kalo gitu… Adek keatas dulu ya Mas… Mau ngelihat Ciello….” Ucap Citra lirih sambil mengusap rambut suaminya.
“Iya Dek…. Mas mandi dulu aja deh kalo gitu….”

Tanpa mengganti baju, Citra pun segera melangkahkan kakinya keatas, ke kamar Ciello.

Sesampainya dikamar Ciello, Citra mendapati kamarnya gelap, pengap, dengan bau sperma yang semerbak, memenuhi seluruh penjuru ruangan. Sejenak, Citra memicingkan mata, berusaha menyesuaikan diri dengan keremangan kamar.

“Duuuhh… Malasnya….” Ucap Citra begitu melangkah lebih jauh. Didalam kamar, baju-baju Ciello berserakan dilantai, tissu dan selimut berhamparan di sekeliling tempat tidur, layar laptopnya masih terbuka, dan Ciello teronggok di atas kasur dengan….

“Aastaga ini anaaak….” Kaget Citra begitu melihat Ciello yang terlelap dalam kondisi tanpa mengenakan pakaian sama sekali.

Sambil melangkah pelan, Citra lalu mendekat ketempat tidur Ciello. Mengambil selimut putranya yang ada di bawah tempat tidur lalu membentangkannya lebar-lebar.
“Ck…ck…ck…. Basah oleh pejuh….” Ucap Citra yang kemudian melempar selimut itu kesudut ruangan sebelum. Lalu ia mengambil selimut baru di dalam lemari Ciello.

PLUK PLUK PLUK….
Tiba-tiba, sebuah onggokan kain jatuh tepat didepan kakinya.

“Ya ampuuunnn…. Itu khan celana dalamku….?” Ucap Citra dalam hati sambil membungkukkan tubuhnya, mengambil celana mungil yang sudah keriput itu. “Pantes aja banyak celana dalamku yang hilang…. Dicari-cari juga nggak ketemu… Ternyata ada disini….”

Dengan seksama, Citra menatap ke arah celana dalamnya. “Kok kainnya agak keras ya…? ” Herannya sembari mengorek-ngorek kain celana dalamnya dan menghirup aromanya lekat-lekat. “Wah… Penuh pejuh kering…… Pasti Ciello menggunakan celana dalamku buat ngocok-kocok kontol besarnya… Iya… Pasti ini pejuh dia….”

Sejenak, Citra mencoba memperhatikan celana dalam yang ada di tangannya. Meraba melihat bekas sperma anaknya, meraba teksturnya, dan mengendusi aromanya.

“Hhhhhhhh… Sudahlah…. ” Ucap Citra sambil meletakkan kembali celana dalam keriputnya ke dalam lemari. Kesela-sela tumpukan baju.

PLUK PLUK PLUK.. PLUK PLUK…
Lagi-lagi, beberapa onggokan kain kembali jatuh. Turun dan berserakan di sekitar kaki Citra.

“Busyet… Banyak juga nih anak mengkoleksi celana dalam… ” Batin Citra dalam hati yang kemudian membungkukkan tubuhnya dan memunguti celana dalam itu.
“Tapi bentar… Ini sepertinya bukan celana dalamku…?” Heran Citra sambil memeriksa celana dalam yang juga sudah keriput itu, “Ini celana dalam Clara…”
“Ini juga… Ini lagi…. Kok banyak banget celana dalam Clara disini…?” Heran Citra, “Ck…ck…ck…. Ciello… Ciellooo….” Seru Citra yang kemudian meletakkan kembali koleksi celana dalam putranya ke tumpukan baju. Diambilnya selimut baru dari lemari dan dibentangkannya lebar-lebar.

Namun, ketika Citra akan menebar selimut ke atas tubuh putranya, sejenak, ia terdiam. Ibu muda itu menatap tubuh samar putranya yang terkena cahaya lampu jalanan lekat-lekat.

” Zzzzz… Zzzzz… Zzzzz…” Dengkur Ciello pelan.

“Ia sudah makin dewasa…” Ucap Citra dalam hati. “Tubuhnya mulai kekar, perutnya mengotak, lengannya besar, dan penisnya….

“Ooohh… Astaga… Kontol Ciello..” Lenguh Citra pelan, “Masih lemes aja udah segini besar…. Pasti ini kontol baru saja disiksa habis-habisan….” Tambah Citra yang kemudian kembali menyapu seluruh ruangan. ” Ciello pasti kecapekan onani sembari menonton film porno…”

“Kontolnya terlihat begitu tenang…. Mengkilap… Dan berlumuran sperma…..” Batin Citra sembari terus mengamati penis putranya dari dekat. Melihat penis lemas putranya, birahi Citra entah kenapa mulai muncul.

Citra lalu membungkukkan tubuhnya, dan meraih batang penis Ciello yang masih tergolek lemas.
“Busyet… Kontol ini…. Berat juga ya…” Heran Citra sembari membolak balik penis Ciello.

Tiba-tiba, entah ide darimana, Citra lalu mendekatkan wajahnya kearah penis Ciello. Dan tanpa berpikir panjang, ia menjulurkan lidah dan menjilat ujung penis putranya.

“Asin… ” Ucap Citra lirih, “Kira-kira masih ada nggak ya pejuh Ciello…?”.

Perlahan, ia mulai mengurut penis lemas putranya. Pelan, pelan, pelan. Hingga penis itu lama kelamaan mulai menegang.

“Zzzzz… Zzzzz….. Uh Mama… ” Desah Ciello

Sekilas, Citra menghentikan gerakan tangannya dan melirik kearah putranya. Matanya masih terpejam, dan nafasnya masih teratur. “Rupanya, dia sedang bermimpi… ” Ucap Citra dalam hati

Kembali, tangan ibu muda itu mengurut penis putranya pelan.

Seolah mengerti maksud dan tujuan Citra, tak perlu waktu lama, penis Ciello pun kembali mengeras. Namun anehnya, walau penisnya sudah menegang sempurna, mata Ciello masih tetap terpejam.

“Ssshhh…. Ooohhh mama…” Seru ciello masih dalam tidur lelapnya.

Melihat respon Ciello yang sama sekali tak terganggu dengan ulah tangan Citra, membuat dirinya semakin berani.

HAAP…
Tiba-tiba, mulut Citra melahap kepala penis Ciello.

“Astaga… Besar sekali…” Seru Citra dalam hati.
“Oooohhh… Mamaaaa…..” Lenguh Ciello dalam tidurnya.

Perlahan, Citra mulai menggerakkan kepalanya naik turun, melahap kepala dan batang penis putranya dalam-dalam.

“Sssshhh…Mama… Entot kontolku Maa…” Rintih Ciello.

Mendengar putra kandungnya mengigau dengan kalimat jorok, birahi Citra semakin tinggi. Walau ia baru saja mendapat jatah dari Mike, namun tetap saja, penis Ciello mampu membuat birahinya meledak-ledak. Ia begitu penasaran, seperti apa rasanya disetubuhi oleh penis putranya.

Terlebih melihat tidur Ciello yang terlihat begitu lelap, membuat Citra semakin beringas. Dan mendadak, Citra ingin melakukan masturbasi.

Dengan tangan kiri, Citra kemudian menyingkap celana dalamnya, lalu mulai menggelitik klitorisnya. Setelah itu, dengan tangan kanan, ia mulai mengocoki penis Ciello sembari terus melakukan oral. Citra sama sekali tak khawatir jika sewaktu-waktu Ciello bangun dan mendapati ibu kandungnya sedang memberikan pelayanan seks dengan mulut mungilnya. Yang penting, Citra ingin supaya ia dapat meraih orgasme barunya cepat-cepat.

“Ssshh… Mama…. Ooohh.. Enak banget jepitan memekmu Maaa…” Lenguh Ciello lirih.

HAP… SLUURRP… SLUUURP….

” Terus ma… Entot kontol Ciello… Entot pake memek sempit Mama… Oooohh…. Maa…. Enaakk… ” Lenguh Ciello dalam mimpinya.

SLUURRP… SLUURRP… SLUUURP….

“Ohhh.. Ciello…. Kontolmu juga enak Sayang…. ” Jawab Citra dalam hati.

NYAP…SLUURRP… SLUUURP….

“Mama… Entotan memek Mama enak bangeeet… Udah lama Ciello pengen ngentotin memek Mama… Ooohh.. Enaak Maa…”

SLUURRP… NYAP… SLUURRP… SLUUURP….

“Mama juga pengen dientot pake kontol besarmu Sayang…” Seru Citra dalam hati. karena birahinya yang semakin memuncak, tiba-tiba, entah kenapa, sebuah pemikiran gila muncul diotak Citra.

“Daripada cuman oral… Gimana kalo sekalian aja entotin kontol Ciello pakai memekku…?” Pikir Citra sembari terus mengoral dan mengurut batang penis putranya. “Iya… Mumpung dia masih tidur… Bisa itu… Kita bisa sama-sama enak Nak…”

SLUURRP… SLUURRP… NYAP… NYAP… SLUUURP….

“Entot terus Maaa… Entot teruuss… Ooohh…Mama Citraaa…. Ciello mau ngecrot Maa… Ciello mau keluaar… ” Seru Ciello tiba-tiba.

“Hah…? Cepat sekali…?” Seru Citra heran. Ia tak menyangka jika putranya akan segera orgasme.
“Belum juga kontolmu Mama masukin kedalam memek Nak… Udah mau keluar aja…? Tahan….” Batin Citra sembari menekan area bawah pangkal penis Ciello kuat-kuat, berharap supaya putranya tak segera orgasme.

Namun, apa daya. Walau sekuat apapun tekanan jemari tangan Citra pada area bawah pangkal penis Ciello, tubuh kekar putranya tetap mengejang. Disusul dengan kedutan hebat pada batang penisnya.

CROT… CROT… CROOCOT… CROT… CROT…

Lima semburan panas, menyeruak masuk kedalam mulut Citra. Tak banyak, namun cukup membuat mulut ibu dua anak itu penuh.

GLEK…. NYAP NYAP… SLUUUUURRP…
Suara tenggorokan dan mulut Citra ketika menelan sperma Ciello.

“Asin sekali nak…” ucap Citra sembari menyeruput mulut penis putranya, berusaha menyedot habis sisa-sisa sperma yang ada dibatang penisnya yang mulai melemas.

“Uuuuugggggghhh…. Makasih Ma…. ” Ucap Ciello menggeliatkan tubuhnya sambil kembali tidur, ” Zzzzz… Zzzzz….. Zzzzz… Zzzzz…..”

Melihat putranya terlelap, membuat nafsu birahinya mereda. Walau masih agak menggebu, Citra sadar, jika ia tak mungkin lagi bisa mengambil kesempatan dari putranya.

“Hhhhhhhhhhhh…. Yaudahlah…. Mungkin lain waktu….” Ucap Citra sembari menarik nafas panjang, dan tersenyum. Ia kemudian mengambil selimut baru yang teronggok di kakinya dan menebarnya diatas ke tubuh putranya.

Dia lalu membungkukkan tubuhnya ke depan dan mencium kening Ciello cepat. “Met tidur Sayang…. Mimpi’in Mamamu terus ya…. CUUUP….” Ucap Citra sembari meremas penis putranya pelan sebelum pergi meninggalkan kamar putranya.

***

“Lama banget diatasnya Sayang….? Tanya Mike begitu Citra masuk kedalam kamar tidur.
“Iya Mas… Tadi sekalian ngangkatin jemuran…” Bohong Citra sembari melepas kemeja dan rok pendeknya, menyisakan bra dan celana dalam.
“Hmmm…. Ciello udah bobo ya Sayang….?”
“Hiya Mas… Mungkin dia kecapekan…” Jawab Citra sembari tersenyum-senyum penuh arti sambil merebakan diri ditempat tidur, disamping suaminya.
“Hhhmmm… Yaudahlah…. Kenapa kamu ketawa-tawa sendiri sih…?”
“Mas…. Adek pengen lagi…” Jawab Citra sembari menyelipkan tangannya kedalam kolor dan mengusap -usap penis Mike
“Haaaah…? Lagi….? Sekarang…”
“Hihihihi… Iya…. Mau khan….?”
“Tapi… Khan didepan… Clara masih melek Dek…?”
“Iya…Lalu… Emang kenapa…?”
“Ntar mereka bisa denger loh…”

“Trus…?” Jawab Citra yang kemudian melepas bra dan celana dalamnya, lalu kembali merebahkan diri disamping Mike.
“Kok kamu nakal gini sih…?” Ucap Mike sambil mengusap vagina gundul Citra, “Emangnya yang tadi kurang…?”
“Hihihihi… Hiya… Kurang banget Mas… ” Jawab Citra sembari menurunkan kolor Mike dan mulai mengocoki penis suaminya.
“Iiihh.. Nakal….” Ucap Mike.
“Habisan udah lama…. Mas nggak nengokin…” Jawab Citra.
“Bener nih nggak apa-apa kalo kedengeran ama Clara…?”
“Hihihihi… Memek Adek udah gatel Mas….”
“Karnia juga bisa denger loh…”
“Karnia juga pasti bakal bisa maklumin kok…”
“Kalo nanti mereka ngeganggu gimana Dek…?”
“Hihihi… Yaudah… Ajak aja Mas…”

“Huusshhh… Sumpah… Malam ini kamu nakal banget Dek…”
“Habis… Memek aku udah gatel banget Maaaas….”

“Hhhhhhh…. Citraaa… Citra…. Kalo udah pengen…. Selalu deh… HARUS….” Ucap Mike yang kemudian melepas kemeja dan menurunkan celana kolornya.

“Hihihihi…. Yuk Mas… Sini buruan…” Balas Citra sembari telentang, merentangkan kedua pahanya jauh-jauh, dan menyibakkan bibir vagina mulusnya lebar-lebar. “Sini Mas… Tusuk tempik gatel Adek ini… Dengan kontol besarmu….”

“Bakal habis kamu Dek… Bakal Mas bikin kamu meronta-ronta keenakan…” Seru Mike sambil mengarahkan kepala penisnya ke mulut kemaluan Citra, “Bakal aku buat tidur orang sekomplek ini keganggu ama jeritan kenikmatanmu….”

CLEP…

“OOoooooohhh.. Maaaaaassss…. Pelaann…” Seru Citra ketika menerima tusukan tajam penis Mike pada vaginanya.
“Teriak yang kenceng Dek…. Teriak aja sepuasmu….” Ucap Mike sembari meremas kedua payudara besar Citra kuat-kuat.
“Oooooohh.. Maaaas… Saaakiiittt…. Peelan-pelan Maas……”

“Clara…. Karnia… Dengerin ya Sayang… Ganasnya entotan kontol Papamu ini….” Batin Mike yang mulai menghempaskan pinggulnya kuat-kuat ke vagina Citra.

PLAK PLAK PLAK…. PLAK PLAK PLAK…. PLAK PLAK PLAK….

“Oooohh… Maas… Pelan-pelan Maaas….” Seru Citra lantang.

PLAK PLAK PLAK…. PLAK PLAK PLAK…. PLAK PLAK PLAK….

Bersambung,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*