Home » Cerita Seks Mama Anak » Ibuku Cintaku dan Dukaku 9

Ibuku Cintaku dan Dukaku 9

Pagi menyongsong. Sinar mentari yang cerah seakan sedang menungguku di luar untuk memulai hariku yang baru. Sorak-sorai ayam juga sudah turut menemani. Aku sedang menikmati sarapanku bersama Ibu. Sesekali tanganku iseng menyentuh-nyentuh sebuah plaster kecil yang tertempel di dahi kananku sambil tetap mengunyah.

ÔÇ£Buku-bukunya udah disiapin Nak? Nggak ada yang kelupaan?ÔÇØ

ÔÇ£Udah lengkap kok Bu. Udah Tito siapin dari tadi malam.ÔÇØ Sahutku di sela-sela acara makanku. Ibu hanya tersenyum dan kembali meneruskan sarapannya bersamaku.

Begitulah Ibu. Sangat telaten dan begitu hebat dalam mengurus keluarganya. Walaupun keluarganya hanyalah aku seorang. Bagiku, Ibu tetaplah yang nomor satu.

Terkadang aku berpikir tentang apa yang sebenarnya dirasakan Ibu sekarang ini. Apa kiranya yang sedang ia pikirkan? Dan apa sebenarnya yang sedang ada di lubuk hatinya yang paling dalam? Mengapa ia rela 12 tahun menjanda dan bertahan demi menghidupiku? Tidakkah ia ingin menikah lagi?

Dilihat dari fisik dan kepribadiannya, menurutku dia benar-benar merupakan idaman seluruh kaum pria. Cantik, baik, rajin, lemah lembut, perhatian, bisa memasak, merupakan poin-poin utama yang sudah melekat dari dulu di dalam dirinya. Mengapa tak ada yang tertarik untuk menikahinya? Ataukah Ibu selama ini memang sudah sering menolak lamaran setiap lelaki tanpa sepengetahuanku?

ÔÇ£Ah, sudahlah. Buat apa dipikirin? Toh Ibu juga asyik-asyik aja tuh.ÔÇØ Kusangkal segalanya yang muncul di dalam pikiranku. Akhir-akhir ini terkadang aku memang suka berpikir lebih dewasa dari usiaku yang seharusnya.

ÔÇ£Nanti Tito pulang sekolah bantuin Ibu jualan ya Nak.ÔÇØ Lanjutnya lagi.

ÔÇ£Iya Bu.ÔÇØ Jawabku singkat.

Setelah kami selesai sarapan, aku segera pergi ke sekolah dan menjemput sahabatku yang banyak ulahnya itu. Siapa lagi kalau bukan Ramadhana Rizky alias Rama. Biasanya apabila aku habis sakit begini pasti dia bakal menakut-nakutiku bahwa ada PR yang baru diberikan kemarin dan dia akan berusaha membuatku panik akan PR yang belum kukerjakan sama sekali itu.

Tapi yang ada dari dulu aku tak pernah merasakan takut sedikitpun akan ocehan-ocehannya yang menurutnya ÔÇÿmenakutkanÔÇÖ itu. Aku tetap saja santai. Toh ketika sampai di sekolah aku tak pernah dihukum guru atas PR yang belum kukerjakan itu. Guru juga tahu kalau aku sebelumnya sakit, jadi ya tenang-tenang saja. Apalagi guru kelas kami adalah seseorang seperti Bu Dina yang sangat sayang padaku. Pasti segalanya akan berjalan mulus.

Ketika sudah sampai di simpang gang rumahnya, aku tak melihatnya sama sekali. Biasanya dia sudah menunggu di situ di jam-jam seperti ini. Kucoba melihat ke arah rumahnya dari simpang itu, namun tak kulihat adanya tanda-tanda Rama sudah di luar rumah. Kalau sudah begini terpaksa aku masuk gang dan menjemputnya ke rumahnya.

Ketika aku sudah di depan rumahnya, kulihat pintu depannya sudah terbuka dan menampilkan penghuninya yang berkulit ÔÇÿsawo terlalu matangÔÇÖ, sedang sibuk menyiapkan perlengkapan sekolahnya di ruang tamu. Bu Aini sesekali mengomeli anaknya itu. Tak tahu apa yang sedang dibahasnya. Tanpa berlama-lama, aku pun langsung singgah ke sana.

ÔÇ£Liat tuh, Tito udah datang! Cepetan nyusun bukunya. Ntar telat!ÔÇØ repet Bu Aini pada Rama ketika sudah melihatku berada di pekarangan rumahnya.

ÔÇ£Iya Bunda. Ini kan udah cepat.ÔÇØ Rama menyusun bukunya dengan tergesa-gesa.

ÔÇ£Makanya dari tadi kalo dibangunin itu ya bangun, jangan tidur lagi!ÔÇØ oceh Bu Aini kesal. Aku yang sudah bisa menebak keadaan Rama sekarang ini senyum-senyum saja di ambang pintu rumahnya. Pasti dia bangun terlambat pagi ini.

ÔÇ£Maaf ya To. Nih si Rama bangunnya kelamaan. Jadi sibuk begini deh. Padahal udah dibilangin kalo buku-buku pelajaran tuh disiapin dari tadi malam. Sering banget nih kelakuannya yang begini.ÔÇØ

ÔÇ£Iya, nggak apa-apa Bu. Tito tungguin kok.ÔÇØ Aku hanya tersenyum dan mengangguk takzim.

Mataku tak secuilpun mempedulikan Rama yang sedang sibuk mondar-mandir dari ruang tamu ke kamarnya, Melainkan tertuju pada Bu Aini yang sudah sangat cantik pagi ini. Ia mengenakan jilbab biru bermotif bunga lili putih, manset badan berbahan spandex warna biru tua polos, ditambah rok span warna krem yang cukup ketat di bagian pinggul dan pahanya. Dandanan yang cukup menyegarkan mataku pagi ini.

Sepertinya Bu Aini memang sangat bangga mempertontonkan buah dadanya yang besar dan bulat itu. Terbukti di setiap setelannya yang selalu kulihat, dia menyampirkan bagian depan jilbab segitiganya ke kanan dan kiri pundaknya dengan bros. Buah dadanya persis seukuran milik Ibu. Bahkan bentuk seluruh tubuhnya sangat mirip dengan lekuk tubuh Ibu.

Aku sungguh heran. Bagaimana Almarhum Bapaknya Rama dulunya mendapatkan istri secantik ini dengan penampilannya yang di bawah pas-pasan? Atau karena Bapaknya Rama punya banyak uang yang mampu membuat Bu Aini tertarik? Ah, sepertinya bukan karena itu. Dilihat dari sikap dan gaya hidupnya, Bu Aini bukanlah orang yang materialistis seperti itu.

ÔÇ£Tito udah sembuh Nak?ÔÇØ tanya Bu Aini yang berjalan mendekat padaku dan melihat lukaku dari dekat.

ÔÇ£Eh, iya nih Bu. Cuma dikasih plaster aja sama Ibunya Tito. Biar lukanya nggak kena kuman katanya.ÔÇØ Jawabku malu-malu. Hidungku merasakan wangi parfumnya yang beraroma lembut dari jarak dekat seperti ini.

ÔÇ£Oh, gitu ya. Eh, Tito duduk aja dulu sambil nungguin Rama.ÔÇØ Ajaknya sembari menarik tanganku untuk duduk di sofa ruang tamunya.

ÔÇ£Eh, nggak usah Bu, masa duduk lagi? Ntar telat lho. Lagian nanti lantainya kotor Bu kena sepatunya Tito.ÔÇØ Cecarku. Tapi tetap saja tak kuasa menahan ajakannya untuk duduk.

ÔÇ£Nah, kalo duduk gini nungguinnya kan nggak capek. Nggak usah takut kotor, ntar gampang kok nyapunya. Masa Ibu biarin Tito berdiri di situ? Kan Ibu jadi nggak enak.ÔÇØ

Kami duduk rapat bersama di sofa panjangnya yang empuk. Tangan kiri Bu Aini yang tadi mengajakku ke sofa masih saja digenggamkannya di tangan kananku. Dengan duduk rapat ditambah saling berpegangan tangan seperti ini, membuatku teringat akan adegan-adegan pacaran di TV. Aku sangat berdebar-debar dan gugup dibuat Ibu sahabatku ini. Sementara Rama sekarang malah tercengang melihat kami berdua.

ÔÇ£Kok malah bengong!? Udah siap semuanya?ÔÇØ sergah Bu Aini padanya.

ÔÇ£Eh, udah kok Bunda. Tinggal pake sepatu.ÔÇØ Rama sedikit terkejut dan mulai memakai sepatunya. Matanya sesekali masih melirik-lirik ke arah kami berdua.

Kalo nanti ada pelajaran yang Rama kurang ngerti, tolong ajarin dia ya To Pinta Bu Aini tanpa sungkan.

ÔÇ£Oh, iya Bu, pasti.ÔÇØ Aku masih gugup dan canggung dengan tingkah Bu Aini.

Seumur hidupku sampai sekarang, baru kali ini Bu Aini bersikap sangat akrab padaku. Biasanya kami memang akrab, tapi tak pernah sampai berpegang-pegangan tangan dan duduk rapat seperti ini. Paling jauh aku hanya mencium tangannya apabila berpamitan padanya, tak lebih. Mungkin karena itu pula Rama menatap kami dengan lirikan yang janggal.

ÔÇ£Udah Bun! Udah siap nih. Yuk To berangkat!ÔÇØ Ucap Rama sambil tegak berdiri.

Ya udah, kalian berdua hati-hati di jalan ya. Mmmuaahh Tiba-tiba Bu Aini merangkul kepalaku dan mengecupnya. Aku benar-benar terkejut kali ini. Saking terkejutnya, aku sampai tertegun dan mulutku agak menganga. Sungguh, keakraban ini sudah terlalu jauh.

ÔÇ£Eh! Bunda ngapain sih pake cium-cium kepala Tito segala?ÔÇØ Rama juga sepertinya sangat kaget dengan perlakuan Ibunya padaku.

ÔÇ£Ya suka-suka Bunda dong. Ya nggak To? Nggak apa-apa kan?ÔÇØ tanya Bu Aini padaku memastikan tanggapanku akan perlakuannya itu.

Ngggak. Nggak apa-apa kok Bu. Rasa terkejutku masih belum hilang.

Nah, Tito aja nggak apa-apa. Masa Rama mesti sewot sih Nak. Atau mau Ibu cium juga kayak Tito? Sini

ÔÇ£Ah, nggak deh. Kayak anak kecil aja. Yuk To!ÔÇØ ajak Rama dengan wajah merengut.

ÔÇ£Bu, Tito pergi dulu ya.ÔÇØ Kataku sambil bangkit berdiri dan mencium tangannya seperti biasa.

ÔÇ£Iya. Hati-hati ya.ÔÇØ Balas Bu Aini.

Rama langsung menarik tanganku agar bergegas. Ketika sudah di luar rumah aku masih sempat melihat Bu Aini yang berdiri di ambang pintunya melihat kepergian kami. Dia melambaikan tangannya sambil tersenyum manis dan kubalas melambaikan tangan juga.

Rama menarik tanganku hingga ke depan gang rumahnya. Di situ dia melepas tanganku dan kami mulai berjalan dengan tenang. Pandangannya terus melihat ke depan tanpa menoleh sedikitpun ke arahku. Sepertinya dia sedang memikirkan sesuatu. Kuputuskan untuk mengajaknya berbicara.

Ram

ÔÇ£Hmm?ÔÇØ Dia menyahut tapi matanya masih tertuju ke depan.

ÔÇ£Lu kenapa?ÔÇØ

Nggak apa-apa Jawabnya sekenanya.

ÔÇ£Ah, lu bohong nih. Pasti ada yang lu sembunyiin dari gue.ÔÇØ

ÔÇ£Emang.ÔÇØ Balasnya singkat dan cuek.

ÔÇ£Apaan?ÔÇØ tanyaku penasaran. Tiba-tiba dia berhenti dan menatapku lamat-lamat dari ujung kepala hingga ujung kaki. Kemudian dia lanjut berjalan lagi.

ÔÇ£Lu kenapa sih Ram?ÔÇØ tanyaku lagi.

ÔÇ£Eh, lu tau nggak To? Masa tadi malam Bunda bilang kalo lu tuh anak paling ganteng sedunia!?ÔÇØ ucapnya berapi-api.

Oh, gitu ya? Emm Hehe Bener juga sih. Gue kan emang ganteng. Ucapku bangga sambil berjalan membusungkan dada dan mendongakkan kepala. Di dalam hatiku aku merasa terkejut juga mengetahui Bu Aini menilaiku seperti itu.

ÔÇ£Masa dia bilang lu itu lebih ganteng dari gue!ÔÇØ repetnya lagi. Dia melirik sinis padaku.

Hah!? Hahahahaha. Hahaha Aku terpingkal-pingkal tertawa hingga terjongkok dibuatnya.

Lu tuh aneh banget sih Ram Hahaha Masa gara-gara itu doang lu sampe segitunya liatin gue. Hehe Lagian orang sekampung juga pada tau kok kalo aku ini anak yang paling ganteng. Ucapku narsis dan masih tertawa terbahak-bahak.

ÔÇ£Huh! Sok ganteng lu! Gantengan gue dikit kali, dari lu!ÔÇØ sungutnya.

Iya emang. Kegantengan lu emang dikit. Hahahaha Sambungku lagi dengan tertawa semakin lepas.

Rama akhirnya tertawa juga. Kami malah kejar-kejaran di tengah jalan karena dia berusaha melemparku dengan kerikil menanggapi ejekan-ejekanku yang kulontarkan padanya di sepanjang jalan. Tanpa sadar kami sudah berlari-larian cukup jauh. Ketika tawa dan kelakar kami mereda, kami mencoba berbicara lebih santai.

ÔÇ£Eh, Ram! Liat tuh!ÔÇØ aku menunjuk ke arah lapangan dekat kantor lurah. Ada banyak orang yang sepertinya sedang mengurusi sesuatu.

ÔÇ£Oh, itu. Mereka mau bikin pentas tuh kayaknya buat hari Minggu nanti.ÔÇØ

ÔÇ£Ada dangdutan lagi?ÔÇØ tanyaku sambil tetap melihat ke lapangan itu. Tampak ada orang-orang yang sedang mengangkat barang-barang berat.

ÔÇ£Nggak cuma dangdut. Kata Bunda gue sih, ada band dari kota besar yang mau tampil juga. Buat ngerayain hari jadi desa.ÔÇØ Ujarnya. Rama juga ikut-ikutan memandangi mereka yang tengah sibuk di lapangan itu.

Desa kami memang terbilang belum terlalu lama diresmikan dan dihuni. Namun karena jaraknya yang tak terlalu jauh dari kota, ditambah lagi dengan listrik yang sudah masuk ke desa ini, membuat kemajuan terlihat begitu pesat. Bahkan lebih pesat daripada desa-desa dan kampung tetangga. Ditambah lagi dengan peranan lurah dan kepala desa kami yang sepertinya mempunyai program kuat untuk membuat desa kami semakin terpandang. Sehingga terbentuklah acara-acara seperti ini yang akan memunculkan minat orang kota maupun desa-desa tetangga untuk meningkatkan kegiatan ekonomi di desa ini.

Wah, keren dong! Aku belum pernah nih liat band kayak di TV. Jreenngg Trreeww Tewteww Ucapku sambil memperagakan orang yang sedang bermain gitar elektrik.

Kalo aku sih lebih suka drummer. Babbb Brumm Bummm Dsss Dsss Rama juga tak mau kalah dengan memperagakan aksi menabuh drum-nya.

ÔÇ£Ah, drummer sih nggak keren. Orangnya di belakang terus, nggak nampang ke depan.ÔÇØ Kataku meremehkannya.

ÔÇ£Eh! Enak aja lu! Lebih capek main drum lho!ÔÇØ balas Rama.

ÔÇ£Ya, itu juga! Ngapain capek-capek main, tapi bayarannya toh dibagi rata juga.ÔÇØ

ÔÇ£Eh, enak aja lu menghina drummer. Pokoknya drummer itu yang paling keren!ÔÇØ

ÔÇ£Nggak! Gitaris yang paling keren!ÔÇØ

ÔÇ£Nggak! Drummer!ÔÇØ

ÔÇ£Gitaris!ÔÇØ

ÔÇ£Drummer!ÔÇØ

ÔÇ£Gitaris!ÔÇØ

ÔÇ£Drummer!ÔÇØ

.. Selisih pendapat pun berlangsung hingga ke sekolah. Kami berhenti ketika sudah sangat kelelahan karena beradu argumen. Bahkan wajah kami berdua sudah letih dan berkeringat saat duduk dan meletakkan tas di atas meja kami. Seperti orang yang baru saja berolahraga. Untunglah kami sudah tiba sesaat sebelum bel sekolah berbunyi.

Belum sempat aku dan Rama menarik nafas pendinginan, Guru kelas kami, Bu Dina sudah masuk ke ruangan kelas kami. Wajahnya seperti biasa, sangat segar. Sangat berbeda dengan wajah kami berdua yang sudah lelah bahkan sebelum pelajaran dimulai.

Sebelum mengabsen kami semua, kulihat mata Bu Dina tertuju ke arahku. Sepertinya dia sedang memastikan aku sudah masuk hari ini atau tidak. Dia tersenyum padaku ketika dia tahu bahwa aku sudah hadir di kelas hari ini seperti biasa. Kulihat beberapa teman-temanku yang lain juga ikut-ikutan menatapku. Beberapa kulihat sangat intens memandangiku, ada juga yang sekilas.

Hari ini aku sepertinya sangat gugup dalam memulai pelajaranku. Tak seperti biasanya. Aku merasa seolah-olah baru saja masuk sekolah pertama kali waktu kelas 1 SD dulu atau sedang mengikuti Ujian Nasional saja saking gugupnya.

ÔÇ£Ramadhana Rizky!ÔÇØ teriak Bu Dina. Sudah dari tadi dia mulai memanggil kami satu persatu untuk diabsen.

ÔÇ£Hadir Bu!ÔÇØ sahut teman semejaku ini.

ÔÇ£Ratna Puspita Sari!ÔÇØ

ÔÇ£Hadir Bu!ÔÇØ

ÔÇ£Suryo Pranoto!ÔÇØ

ÔÇ£Hadir Bu!ÔÇØ balas Suryo dari sudut kelas dengan suaranya yang lantang.

..

ÔÇ£Toni Darmawan!ÔÇØ

ÔÇ£Lho? Namaku kok nggak dipanggil? Kok langsung loncat ke Toni Darmawan?ÔÇØ tanyaku dalam hati. Apa mungkin karena Bu Dina sudah melihatku tadi, jadi dia tak memanggilku? Rama juga menoleh ke arahku yang hanya kubalas dengan menaikkan kedua bahuku sesaat, seakan mengatakan ÔÇÿentahlahÔÇÖ.

ÔÇ£Bu! Tirto belum dipanggil nih!ÔÇØ teriak Rama. Dia mengambil inisiatif untuk mengingatkan Bu Dina.

Bu Dina menyahuti teriakan Rama dengan tersenyum dan berkata, ÔÇ£Ibu memang udah liat dia dari tadi kok. Jadi Ibu tandain aja kalo dia udah hadir.ÔÇØ

ÔÇ£OoooÔǪÔÇØ Rama mengangguk mengerti. Anehnya hampir semua teman sekelasku juga mengikuti Rama mengucapkan ÔÇÿOÔÇÖ panjang itu. Mereka sepertinya juga menyadari kalau namaku terlewat tadi.

ÔÇ£Bu! Panggil juga dong si Tirto! Masa dia nggak ikutan dipanggil sih!? Nggak adil dong!ÔÇØ teriak Suryo dari sudut belakang sana. Yang namanya Suryo memang gemar sekali membuat keramaian di kelas ini.

ÔÇ£Oh, ya udah deh, iya. Ibu panggil juga. Tirto Abimanyu Jatmiko!ÔÇØ Akhirnya namaku disebutnya juga olehnya. Bu Dina memanggilku sambil tersenyum manis.

ÔÇ£Hadir Bu!ÔÇØ aku berteriak sambil mengacungkan tangan. Kubalas senyuman hangatnya itu dengan tersenyum pula.

Lalu Bu Dina melanjutkan lagi memanggil nama-nama terakhir yang belum disebut. Kulihat Suryo di sudut sana tersenyum jahil ke arahku. Kubalas saja dengan senyum kecut. Mendengar Bu Dina yang masih sibuk mengabsen, aku jadi teringat sesuatu.

ÔÇ£Eh Ram, lu dijengukin Bu Dina juga nggak hari Senin yang lalu?ÔÇØ tanyaku pada Rama.

Emm Enggak tuh. Emang kenapa? Lu dijengukin sama Bu Dina? tanyanya balik.

Iya. Eh, berarti cuma gue dong yang dijengukin. Hehe

Huh! Ya iyalah lu dijenguk. Lu kan murid kesayangannya. Ntar kalo ditanya, pasti Bu Dina bilang, kalo Tito itu anak yang pintar, terus ganteng. Bunda gue bilang lu ganteng. Ibu lu bilang lu ganteng. Semua orang di dunia bilang lu ganteng Cerocosnya tanpa arah.

Hehehe Lu kenapa sih Ram?

ÔÇ£Gue capek To dengerin orang-orang bilang lu itu ganteng. Sekali-kali gue kek yang dibilang ganteng.ÔÇØ

Hahaha Ada-ada aja lu Ram. Oke deh Ram, lu ganteng banget deh, sumpah. Pujiku dengan wajah seserius mungkin.

Kalo lu yang ngomong rasanya kok malah jadi kayak hinaan ya To? Hahaha

Haha Itu kan perasaan lu aja. Gue serius kok.

Ah, lu jangan ikut-ikutan ketawa dong. Gue kan

ÔÇ£Rama! Tirto! Tolong ngobrolnya ditunda dulu ya!ÔÇØ sergah Bu Dina tegas dari depan kelas. Ternyata proses belajar mengajarnya sudah dimulai. Kami tak sadar karena asyik mengobrol.

Seterusnya kami berdua hanya bisa terdiam dan dengan khusyuk mengikuti pelajaran demi pelajaran.

***

ÔÇ£Tito pulang Bu!ÔÇØ Ucapku sambil melepaskan sepatu dan masuk ke dalam rumah.

ÔÇ£Iya! Ganti bajunya dulu Nak! Abis itu makan!ÔÇØ sahut Ibu setengah berteriak dari ruang belakang.

Kulihat Ibu sedang mondar-mandir di sana, sibuk mengurusi segala macam hal. Aku langsung menuju kamar, meletakkan tasku dan segera mengganti pakaian. Setelah itu kususul dia ke belakang. Ternyata Ibu baru saja menyiapkan makan siang di atas meja makan. Sementara bungkusan plastik tempat pakaian-pakaian keluarga Bu Ratmi yang sudah bersih, berikut semua alat dan bahan keperluan jualan gorengan sudah ia siapkan di dekat meja makan itu dan siap digondol nantinya.

Kaos oblong yang tak begitu ketat dipadukan dengan rok model A-Line yang panjangnya sedikit di bawah lutut merupakan pakaian yang biasa dikenakan Ibu ketika jualan gorengan. Seperti yang kulihat sekarang ini. Dengan rambut yang dibiarkan tergerai indah dan polesan sedikit bedak membuatnya terlihat benar-benar jauh lebih muda dan sangat segar di siang hari ini.

ÔÇ£Ya udah yuk, cepat makannya. Jangan bengong-bengong lagi.ÔÇØ Suruh Ibu padaku agar bergegas.

ÔÇ£Eh, iya Bu.ÔÇØ Aku langsung menarik kursi. Kemudian mengambil nasi dan juga lauk-pauknya ke piringku.

ÔÇ£Nanti Tito Ibu tinggal jualan sendiri sebentar ya. Ibu mau ambil pakaian-pakaian yang mau dicuci ke rumah Bu Ratmi sekalian nganterin yang udah bersih.ÔÇØ Ujar Ibu sebelum makan.

ÔÇ£Lho? Kok nggak Ibu ambil dari tadi? Atau Ibu ambil sekarang aja, biar Tito tunggu. Atau mungkin Tito duluan ke pasar, terus ntar Ibu nyusul.ÔÇØ

ÔÇ£Tadi Ibu sibuk banget nyiapin bahan-bahan gorengannya, jadi nggak sempat. Tito ada-ada aja deh, masa Tito mau sendirian ke pasar? Emang Tito bisa ngurusin semuanya di sana? Bikin kompornya, ngangkat etalase yang di depan ruko itu, emang bisa sendirian?ÔÇØ

ÔÇ£Hehe, iya juga ya. Tito nggak bisa ngurusin dari awal sampe akhir sendirian. Paling-paling cuma ngegoreng sama ngejualnya aja. Tapi apa Ibu nggak capek bolak-balik dari pasar ke rumah, terus ke pasar lagi?ÔÇØ

ÔÇ£Capek juga sih, tapi Ibu terpaksa. Ibu nanti rencananya mau sekalian ke kota dulu beli deterjen, beras, sama belanja yang lain juga. Kemarin Ibu lupa beli. Males rasanya kalo pulang jualan nanti mesti bawa-bawa belanjaan lagi.ÔÇØ

ÔÇ£Oh, ya udah deh kalo gitu.ÔÇØ Pungkasku. Kami pun melanjutkan makan siang kami hingga selesai.

Setelah makan kami melanjutkan kegiatan kami. Membawa barang-barang yang cukup banyak sampai ke dekat lapangan di dekat kantor kelurahan dengan berjalan kaki. Di sana ada pangkalan becak. Kami biasanya naik becak menuju ke pasar dikarenakan barang-barang yang cukup banyak. Sesampainya di sana, aku tak melihat kesibukan orang-orang yang hendak membuat acara besar itu. Sepertinya mereka sedang beristirahat makan siang. Hanya beberapa mobil box yang terparkir di sana.

ÔÇ£Bu, katanya di sini bakal ada acara ya Bu?ÔÇØ

ÔÇ£Kata Bu Ratmi sih gitu. Buat ngerayain hari jadi desa.ÔÇØ Jawab Ibuku. Kami berdua sekarang sudah duduk tenang di atas becak dengan barang-barang yang ada di pangkuan kami.

ÔÇ£Bu! Tito hari Minggu nanti nonton ke sini ya Bu.ÔÇØ Pintaku.

ÔÇ£Iya, boleh.ÔÇØ Ibu mengangguk dan tersenyum.

ÔÇ£Wuiihh! Asiikk!ÔÇØ aku begitu gembira mendengarnya. Aku sudah tak sabar menunggu hari Minggu nanti yang pasti akan sangat seru.

***

Setibanya di pasar kami sudah disambut oleh seorang wanita. Dialah Bi Ipah, tukang rujak yang berjualan setiap hari di sebelah kami. Bi Ipah ini sudah sejak lama berjualan di sini dan terkadang sangat suka membantu kami menjual gorengan di saat dia sedang sepi pembeli ataupun ketika aku atau Ibu hendak ke toilet umum sebentar. Dia dulunya memang sering membantu Ibu dan Nenek berjualan gorengan. Dia adalah teman baik Nenekku. Terkadang jika di dekatnya, aku seakan-akan sedang berada di dekat Nenekku sendiri.

ÔÇ£Eh! Mau jualan Yat?ÔÇØ sapa Bi Ipah dengan ramah. Dia sedang melayani seorang pembeli.

ÔÇ£Iya nih Bi! Tapi Yati mau ke kota sebentar abis ini. Ada yang mau dibeli. Kalo si Tito bingung-bingung nanti, bisa minta tolong bantuin dia nggak Bi?ÔÇØ

Oh iya, bisa kok! Pasti Bibi bantuin Makasih ya Mas. Ucap Bi Ipah menanggapi permintaan Ibu sekaligus berterima kasih pada pembeli.

ÔÇ£Lho, itu kepalanya kenapa To? Luka?ÔÇØ Tanya Bi Ipah yang kini duduknya menghadap ke arahku.

Oh, iya nih Bi! Tito jatuh, terus kepala Tito kena batu. Hehe Jawabku.

ÔÇ£Iya Bi. Kepleset di tempat cucian baju nih, si Tito.ÔÇØ Tambah Ibu sambil mengusap-usap kepalaku.

Duh, kasian banget Udah sini, tak bantuin siapin jualannya. Bi Ipah dengan sigap turun dari tempat duduknya dan membongkar barang bawaan kami.

ÔÇ£Aduh, nggak usah Bi! Biar Yati sama si Tito aja yang ngurusin. Masa Bi Ipah sih yang kerja, si Tito malah nyantai.ÔÇØ Ibu menolak bantuan Bi Ipah dengan tegas dan menahan tangan Bi Ipah untuk membuka bungkusan bawaan kami.

ÔÇ£Udahlah Yat, nggak usah begitu amat sama Bibi. Memangnya Bibi siapa? Pake acara segan-segan gitu. Udah, sini Bibi bantuin. Kalian bawa tuh kotak sama etalasenya.ÔÇØ Bi Ipah tetap bersikeras ingin membantu.

Ibu yang memang dari dulu sudah tahu watak Bi Ipah yang menganggap kami keluarganya sendiri pun tak sanggup untuk menolak bantuannya lagi. Walau aku sedang dalam keadaan tak sakit pun, Bi Ipah pasti akan tetap bersikeras ingin membantu.

Ya udah deh, maaf ya Bi ngerepotin Ucap Ibu padanya.

Iya iya udah sana cepetan. Mumpung lagi rame nih. Biar gorengannya cepat abis. Jawab Bi Ipah. Tangan-tangannya sibuk mengeluarkan bahan-bahan gorengan.

ÔÇ£Iya Bi. Yuk To, kita angkat kotaknya.ÔÇØ Ibu bergegas menarik tanganku dan mengajakku ke depan ruko yang saat itu sedang tutup.

Di sana ada etalase berikut kotak papan yang cukup besar tempat kami menyimpan wajan dan peralatan menggoreng. Di dekatnya juga ada meja tempat kompor yang harus kami angkat. Dari dulu semenjak Ibu dan Nenek berjualan gorengan, benda-benda perlengkapan kami itu tidak pernah ada yang mau mencurinya. Mungkin karena kami menitipkannya kepada pemilik ruko tersebut. Ditambah lagi ada pengawasan dari Bi Ipah setiap hari yang melenyapkan rasa kekhawatiran kami.

Karena sudah sangat terbiasa, kami bisa mengurusi ÔÇÿpersiapanÔÇÖ itu dalam waktu yang cukup singkat. Bi Ipah sesekali melayani pembelinya sambil membantu kami menyiapkan bahan gorengan. Setelah semuanya selesai dan kompor sudah dinyalakan untuk memanaskan minyak, Ibu pamit padaku dan Bi Ipah.

ÔÇ£Udah ya, Ibu pergi dulu. Nanti Ibu balik lagi.ÔÇØ Ujarnya padaku. Aku hanya mengangguk.

ÔÇ£Bi! Tolong jagain si Tito ya.ÔÇØ Ucap Ibu seraya pergi berlalu.

ÔÇ£Iya!ÔÇØ sahut Bi Ipah singkat. Dia sedang melayani seorang Ibu-ibu yang membeli rujaknya.

Selagi aku menunggu minyaknya panas, mataku tertuju ke tangan-tangan Bi Ipah yang sangat cekatan mengiris dan memotong setiap jenis buah-buahan. Kemampuan tangannya memang sudah sangat terasah sekian puluh tahun lamanya. Aku sangat salut akan kemampuannya itu. Meski sudah tua, tapi sepertinya keahliannya itu tak luntur di telan zaman.

Suami Bi Ipah yang kutahu sudah meninggal beberapa tahun yang lalu. Dia kini tinggal bersama anak laki-laki, menantu, dan juga cucunya. Meskipun anak dan menantunya bisa menghidupi mereka sekeluarga, tapi Bi Ipah tak mau menyusahkan mereka. Dia tetap ingin mencari nafkahnya sendiri. Lagipula katanya dia sudah terbiasa menjual rujak sejak dulu. Menurutnya tak enak rasanya kalau hanya di rumah dan hanya melakukan pekerjaan rumah biasa.

Sekejap kemudian kulihat minyak sudah panas, dan aku pun mulai menggoreng. Aku mulai dengan menggoreng ubi yang dicampur adonan tepung bumbu terlebih dahulu. Setelah menggoreng ubi tuntas, kulanjutkan dengan tempe. Pisang, tahu isi, risoles, dan bahan gorengan lainnya pun menyusul kemudian. Bi Ipah dari awal tadi sudah bergerak untuk membantuku sedikit. Dia tak terlalu banyak membantu karena dia tahu kalau aku sudah sangat mahir juga dalam hal goreng-menggoreng dan menjadi asisten Ibuku setiap berjualan.

Di tengah-tengah proses menggoreng, cukup banyak juga orang yang datang membeli. Di saat-saat seperti itu kuserahkan penggorengan ke Bi Ipah, dan aku yang melayani mereka ketika Ibu sedang tak ada seperti ini. Kebanyakan para pembeli memang datang saat gorengan masih hangat dan renyah, jadi tak heran kalau gorengan kami cepat habis. Ditambah lagi kami menjual dengan jumlah yang secukupnya saja, jadi sebelum matahari sore terbenam biasanya kami sudah bisa pulang.

Dagangan kami tak pernah sepi pembeli. Selalu saja laku keras. Kata Ibu itu karena kamilah orang pertama yang menjual gorengan di pasar tradisional ini, jadi orang sudah tahu akan kualitas dan rasanya. Ada dua penjual gorengan lain juga yang ikut meramaikan pasar ini, tapi kami selalu jadi yang paling unggul di antara mereka.

Ibu punya cara sendiri dalam menjual gorengannya. Ketika orang membeli dengan harga tertentu, Ibu akan memberikan bonus gorengan dengan jumlah tertentu pula. Harga yang ditawarkannya pun sangat kompetitif dengan para pesaingnya, sehingga dagangan kami selalu saja laris manis. Dia melakukan cara berjualan seperti itu sudah sejak dulu ketika bersama Nenek.

Namun terkadang aku agak kurang suka dengan pembeli laki-laki. Baik dewasa maupun remaja yang di atas umurku. Ketika Ibu sedang mengambil dan membungkus gorengan permintaan mereka, biasanya mereka akan memandangi Ibuku dengan tatapan-tatapan aneh yang beraneka ragam. Bahkan terkadang ada yang seperti ingin menerkam Ibuku.

Ada yang begitu terpesona ketika melihat Ibuku. Mereka seperti baru pertama kalinya melihat wanita seumur hidupnya. Biasanya itu terjadi pada lelaki muda. Namun ada pula lelaki yang memandangi Ibuku dari ujung kepala hingga ujung kaki, dan kemudian terfokus di bagian dada atau pantatnya ketika Ibu memakai celana pendek ketika berjualan. Biasanya yang bertingkah seperti ini adalah Bapak-bapak. Padahal terkadang pria-pria itu juga sedang ditemani oleh istri-istri atau pasangannya di dekatnya, tapi mereka seperti lupa akan keadaan di sekitarnya ketika melihat kecantikan dan kemolekan Ibuku.

Tahap pertama dalam menggoreng sudah selesai. Saat ini aku hanya menunggu pembeli. Ibu sengaja menginstruksikan begitu untuk menjaga agar status gorengan kami tetap terasa baru dan renyah. Setelah hasil gorengan ini menipis nantinya, barulah tahap menggoreng kedua yang merupakan tahap penghabisan dilakukan. Dan setelah itu kami tinggal menunggu sampai seluruh gorengannya habis dan pulang ke rumah.

ÔÇ£Ibumu lama juga ya To belanjanya?ÔÇØ Bi Ipah memulai pembicaraan di tengah keadaan kami yang kosong pembeli.

ÔÇ£Iya nih Bi. Tadi katanya sih abis pulang belanja di kota, Ibu mau singgah lagi ke rumahnya Bu Ratmi ambil pakaian-pakaian kotor.ÔÇØ

Oh, gitu ya? Lama dong kamu nunggunya To. Hehe

Hehe Nggak apa-apa kok Bi. Sekali-sekali Tito mau belajar mandiri. Aku hanya bisa sumringah dan menjawab sekenanya membalas obrolan Bi Ipah.

Dari tadi aku sibuk memandangi dengan kagum akan sebuah mobil sedan yang beberapa menit yang lalu baru berhenti di seberang jalan. Sedan itu berwarna abu-abu metalik dengan merk terkenal yang menurutku harganya sangat mahal. Aku sudah cukup sering melihat sedan itu terparkir di situ sejak beberapa minggu yang lalu. Tapi aku masih belum tahu siapa pemiliknya.

ÔÇ£Apa mungkin yang punya mobil itu sama yang punya ruko di seberang, orang yang sama?ÔÇØ pikirku.

Ah, entahlah. Ngapain juga dipikirin. Toh bukan mobilku kok, ngapain ngurusin mobil orang? Hehe Pikirku cuek.

Tapi mobilnya keren banget. Kapan ya aku bisa naik mobil kayak gitu? Rasanya gimana ya? Hehe Khayalku lagi. Tanpa sadar aku senyum-senyum sendiri.

ÔÇ£Heh! To! Malah ngelamun nih anak.ÔÇØ Bi Ipah mengagetkanku.

Eh! Iya Bi Hehe Aku cuma cengengesan menanggapi tingkah konyolku sendiri. Tapi sesekali masih kulirik mobil itu.

Kulihat seseorang keluar dari mobil itu. Seorang pria yang berpakaian elegan. Dia mengenakan kemeja rapi model lengan panjang warna biru tua lengkap dengan dasi. Celana panjangnya yang berwarna hitam juga sangat rapi terjulur ke bawah dan diakhiri dengan sepatu kulit berwarna hitam berkilat. Dia juga mengenakan kacamata Aviator hitam sebagai penghias wajahnya.

Pria itu menyeberang. Namun anehnya ia kemudian berjalan ke arah tempatku sekarang. Aku hanya menduga-duga, tapi pria itu memang mengarah ke sini. Ketika posisinya sudah berada sangat dekat dengan tempatku berjualan, dia tersenyum padaku dan kemudian membuka kacamatanya. Sontak aku dan Bi Ipah yang dari tadi mengajakku bicara, terdiam tanpa kata.

Bagaimana tidak terdiam? Pria ini sangat tampan. Tubuhnya yang terbilang tinggi dan kulitnya yang putih begitu melengkapi ketampanannya. Rambut kecoklatannya berpotongan tipis samping, alis dan tatapan matanya terlihat tajam, hidungnya mancung meruncing, dan diakhiri dengan rahang bawah yang tegas. Dari penampilannya, dia bak model busana pria di majalah mode internasional. Wajahnya memang cukup kental dengan suasana ÔÇÿbuleÔÇÖ. Dalam hal ini menurutku merupakan turis yang datang dari belahan bumi bagian barat.

Aku tercenung melihatnya yang tersenyum padaku dengan bibir tipisnya. Aku bagai terhipnotis. Rasa-rasanya aku bagaikan melihat seorang artis film Hollywood yang begitu tenar. Sepertinya pria ini mempunyai karisma yang luar biasa.

ÔÇ£Dek!ÔÇØ sapa pria itu.

ÔÇ£Eh! Iya Pak?ÔÇØ aku cukup kaget ketika dia memanggilku. Kesadaranku yang tadi sempat menerawang kembali lagi.

ÔÇ£Ini gorengannya harganya berapa?ÔÇØ tanya pria itu ramah. Aku kagum juga padanya yang ternyata sangat fasih berbahasa Indonesia.

ÔÇ£Mau yang mana Pak? Harganya rata-rata dua ribu dapet tiga. Tapi khusus yang ubi harganya seribu Pak.ÔÇØ Kataku menjelaskan harga dengan tersenyum ramah pula.

Mmm Gitu ya? Murah juga ya Dia menatap setiap gorengan dan kembali tersenyum.

Hehe Iya Pak. Namanya juga usaha Pak. Kalo mahal ntar malah nggak ada yang mau beli lagi. Ujarku memaklumi ucapannya sambil cengengesan.

Hehehe Iya ya, betul juga Oke deh, ambil satu nih ya Tangannya mengambil tempe goreng dan langsung menggigitnya. Setelah dia mengunyah dan menelan gigitan pertama itu, sebuah senyuman kembali terukir di wajahnya.

Hmm Enak banget ya. Pantesan selalu laris. Dia lalu duduk di bangku panjangku sambil menikmati gorengannya. Dia tampaknya tak berniat untuk membungkus gorengannya seperti pembeli-pembeli biasanya.

ÔÇ£Lho? Bapak nggak mau gorengannya dibungkus aja?ÔÇØ tanyaku.

ÔÇ£Oh, nggak. Mau makan di sini aja. Boleh kan?ÔÇØ

Oh, iya. Nggak apa-apa Pak. Silakan Aku tetap berusaha bersikap seramah mungkin kepada setiap pelanggan kami.

Dia tersenyum dan berbalik mempersilakanku. ÔÇ£Kok masih berdiri? Duduk aja sini. Sekalian kita ngobrol-ngobrol sebentar.ÔÇØ

ÔÇ£Oh, iya Pak.ÔÇØ Aku pun duduk di sebelahnya.

Cukup lama kami berdua terdiam. Dia juga hanya melihat kesana-kemari sambil menikmati tempe gorengnya tanpa mengucap sepatah kata pun. Bi Ipah juga kompak terdiam di kursinya sambil sesekali melirik ke arah kami berdua. Suasana saat ini terasa begitu kaku. Tak lama ketika dia baru selesai menghabiskan cemilannya, aku mengajaknya mengobrol.

ÔÇ£Bapak kok tau kalo gorengan saya selalu laris?ÔÇØ aku membuka obrolan. Aku teringat pujiannya yang tadi dilontarkannya ketika mulai mencicipi ubi goreng itu, jadi kubuat saja itu jadi bahan pembicaraan.

Hehe Jangan panggil Bapak panggil Om aja ya. Kan saya belum tua-tua amat. Pria itu terkekeh mendengarku yang memanggilnya Bapak.

Oh, iya iya Om Aku menggaruk-garuk kepalaku yang tak gatal.

Sedetik kemudian dia mengulurkan tangannya padaku untuk bersalaman. Om namanya Steven Adek ini siapa namanya?

Oh, emm Nama saya Tirto Abimanyu Jatmiko Om. Biasanya dipanggil Tito. Kubalas menyalami tangannya dengan lembut. Akhirnya kami berkenalan.

Wah, panjang juga namanya ya. Hehe Dia menggoyang-goyangkan tangannya yang menyalamiku sambil bergurau.

Hehe Iya Om. Aku hanya melihat tanganku yang sedang berayun ke atas dan ke bawah. Beberapa saat kemudian akhirnya dia melepaskannya.

ÔÇ£Om tau dagangannya Tito laris karena Om sering kemari. Om lagi cari-cari tanah yang cocok nih. Om mau beli tanah di dekat sini. Kata teman Om tanah di sini menjanjikan buat dibikin lahan usaha property.ÔÇØ

Emm Property itu apa Om?

Oh, hehe Property itu semacam perumahan, apartemen, villa, pokoknya bangunan-bangunan gitu lah

Ooo Baru aku mengerti. Dia hanya tersenyum melihat kepolosanku.

Ngomong-ngomong, Bapak Eh! Om Sering nongkrong di depan sana ya? Soalnya Tito sering banget liat mobil Om. Aku masih sedikit kikuk berbicara dengannya.

Hehe Kok grogi gitu sama Om? Nyantai aja Dia terkekeh lagi melihat gelagatku. Aku lagi-lagi cuma menggaruk kepala yang tak gatal.

ÔÇ£Iya, Om sih suka banget nyantai di daerah sini sambil liat-liat sebelum pulang lagi ke rumah. Soalnya baru kali ini Om liat ada pasar yang rame, tapi teduh.ÔÇØ Ujarnya sambil melihat ke sekitar.

Pasar ini memang punya banyak pohon yang lumayan rindang dan kesan yang cukup rapi dari segi tata ruang. Meskipun ini merupakan ÔÇÿpasarÔÇÖ yang erat kaitannya dengan keramaian, tapi pasar tradisional ini memang mempunyai suasana yang sangat teduh. Jauh berbeda dari pasar-pasar yang ada di TV maupun koran-koran yang menunjukkan penggambaran pasar yang sumpek, panas, dan semrawut.

Oh, gitu ya Om Aku mengangguk takzim.

Kami terdiam sejenak. Tampak pria ini seperti sedang melamun dan menatap ke arah lain. Seperti ada yang dipikirkannya. Aku ingin mengajaknya mengobrol lagi, tapi aku tak tahu lagi apa yang harus kujadikan bahan obrolan. Lagi-lagi kami berdua hening.

ÔÇ£Ibunya Tito ke mana?ÔÇØ tiba-tiba dia menoleh padaku dan menanyakan perihal keberadaan Ibu. Aku cukup terkejut dengan pertanyaannya. Bagaimana dia tahu kalau yang berjualan denganku itu adalah Ibuku?

Eh, Ngg Ibu? Kok Om tau kalo yang jualan sama Tito itu Ibunya Tito? tanyaku penasaran.

Nebak aja sih Soalnya Om kan sering liat kalian berdua jualan di sini. Lagian Ibu yang ngelahirin anak ganteng kayak Tito ini pasti Ibunya cantik banget, makanya Om bisa nyimpulin kalo itu Ibunya Tito. Dia menjelaskan dengan wajah santai dan lantang.

ÔÇ£Hah!? Ibu dibilang cantik sama nih orang? Wah, gawat! Nih orang kayaknya emang ngincar Ibu dari tadi.ÔÇØ Pikirku.

Kupandangi lagi wajahnya yang melihatku dengan senyum ramah. Tampaknya dia tak merasa ganjil akan pujian berlebihannya itu. Dia bahkan meminta izin padaku untuk mengambil gorengan lagi untuk dinikmati. Aku hanya bisa tersenyum dan mengangguk kecil. Ketika dia berdiri mengambil gorengan, pembatas antara aku dan Bi Ipah sejenak menghilang. Kulihat Bi Ipah melirik ke arahku dengan senyum simpul. Jarak tempat jualan kami yang cuma satu meter, ditambah suara pujian Pak Steven tadi yang cukup kuat, pastilah dengan jelas bisa didengarkan oleh Bi Ipah. Sepertinya dia juga merasa canggung dan lucu melihat orang yang baru kami temui ini sudah bisa melontarkan pujian sedalam itu.

Kemudian dia duduk kembali. Ditangannya sudah ada tempe goreng lagi yang dimakannya dengan cukup lahap. Kali ini dia lebih santai dari yang tadi. Kaki kanannya ditekuk dan ditindihkan ke atas paha kirinya. Sepatu hitamnya yang mengkilap menjadi pemandanganku sejenak.

Sambil menatap sepatu itu aku berpikir, Gimana nih? Bisa bahaya kalo nih orang sampe ketemu sama Ibu. Siapa sih perempuan yang nggak mau sama laki-laki sekaya dan seganteng ini? Bisa-bisa Ibu klepek-klepek sama dia. Terus, Ibu kawin sama dia. Terus, aku bakal dicuekin selamanya sama Ibu, dan Akhhhh!

ÔÇ£Lu mikirin apa sih To? Itukan hak Ibu lu mau kawin lagi apa enggak. Ibu lu kan masih belum tua-tua amat, masih cantik banget lagi. Wajar dong kalo masih ada yang mau sama dia. Tega amat lu ngerusak kebahagiaan Ibu lu sendiri. Kalo Ibu lu nanti emang punya hati sama orang ini, biarin aja kenapa? Masa mau lu halang-halangi. Lagian kalo mereka berdua kawin, kan lu juga bisa ikut-ikutan jadi orang kaya?ÔÇØ batin dan nuraniku sedikit mengendur.

Namun egoku kemudian malah bangkit melebihi tenggang rasa itu. ÔÇ£Nggak! Nggak boleh! Ibu cuma buat gue seorang! Nggak ada orang yang boleh berdiri di antara kami! Nggak ada orang yang boleh masuk ke dalam hati Ibu selain gue! Mau dia ganteng kek, tajir kek, masa bodo!ÔÇØ

ÔÇ£Hei!ÔÇØ dia menepuk bahuku. Aku tersentak dan tersadar dari lamunanku.

ÔÇ£Kok ngelamun?ÔÇØ lagi-lagi dia bertanya sambil tersenyum ramah.

Eh! Iya Pak Eh! Om Tito lagi itu tadi Eh, nggak mikirin apa-apa kok. Hehe Jawabku tergagap-gagap.

Hahaha Masih kecil kok ngelamun? Kayak orang tua aja. Tadi Om nanya kok nggak dijawab?

Emm Om nanya apa? tanyaku balik bertanya.

Hehe Itu lho, Ibumu mana? Kok nggak keliatan? Dia nggak ikut jualan? tanyanya menyelidik.

ÔÇ£Ikut kok Om. Tapi dia ke kota sebentar, mau belanja katanya. Ntar juga balik lagi ke sini.ÔÇØ Meski hatiku dongkol dia bertanya tentang Ibu melulu, aku tetap berusaha sopan padanya.

ÔÇ£Oh, gitu.ÔÇØ Dia mengangguk mafhum.

Kemudian seorang pembeli datang, dan kulayani dengan sebaik-baiknya. Pak Steven masih santai duduk di tempatnya sambil melihat ke sekitar. Setelah aku selesai melayani pembeli aku pun kembali duduk di sebelahnya.

ÔÇ£Wah, Tito jago juga ya jualannya. Om jadi salut nih. Padahal Tito masih kecil, tapi udah bisa cari duit. Umurnya Tito berapa? Udah SMP kelas berapa?ÔÇØ

ÔÇ£Ah, Om ini bisa aja. Tito cuma ngejual sama ngegoreng aja kok Om. Yang ngurusin semua dari awal ya Ibunya Tito. Tito masih SD kelas 6 Om, umurnya masih 12 tahun.ÔÇØ Aku tersipu malu dibuatnya.

ÔÇ£Lho? Tito masih SD? Om pikir udah SMP kelas 1 atau kelas 2. Soalnya badan kayak Tito ini kalo dibandingin sama anak-anak di kota Om sih udah setaraf SMP.ÔÇØ Dia memegang pundakku dan memandangi tubuhku dari atas ke bawah.

Hehe Gitu ya Om? Padahal di kelas Tito ada juga kok yang tingginya sama kayak Tito.

ÔÇ£Oh ya? Berarti anak-anak di sekitar sini memang sehat-sehat ya. Beda kayak di kotanya Om. Anak-anaknya kecil-kecil badannya.ÔÇØ

Tiba-tiba ada sesuatu yang berbunyi dari saku kemejanya. Sepertinya itu bunyi sebuah ponsel. Dirogohnya saku kemejanya dan keluarlah ponsel layar sentuh yang sudah jadi trend saat ini. Merknya juga sangat terkenal. Aku yang tak pernah punya ponsel hanya mencuri lihat ke jarinya yang begitu gesit memainkan dan memencet-mencet layar dari benda mewah itu. Sepertinya yang dihadapinya sekarang ini adalah sebuah pesan singkat atau yang lebih dikenal dengan SMS, bukan sebuah panggilan.

Setelah selesai dia memasukkan kembali ponselnya ke saku kemejanya. Dia menarik nafas panjang, kemudian tersenyum padaku. Aku pun membalas senyuman misteriusnya itu. Lalu dia bangkit berdiri dari duduknya dan berpamitan padaku.

Ada urusan mendadak nih. Om pergi dulu ya

Oh, iya Om Jawabku dengan tersenyum lebar dan mengangguk. Dia pun berlalu dan melihat kanan dan kiri hendak menyeberang. Namun belum sempat dia melangkah, aku teringat sesuatu.

ÔÇ£Om!ÔÇØ aku setengah berteriak memanggilnya.

Dia pun menoleh ke arahku dan balik lagi ke tempatku. ÔÇ£Iya? Kenapa To?ÔÇØ

Om Nggg Itu Gorengannya yang tadi masih belum dibayar. Kataku agak malu-malu.

Oh! Iya ya! Hahaha Wah, Om main nyelonong aja nih, hehehe Dia menepuk jidatnya dan tertawa lepas.

Tangannya langsung merogoh saku celananya yang kiri dan kanan. Mengecek ada tidaknya uang kecil di sana. Ternyata hanya selembar uang seratus ribu yang didapatnya dari saku celananya yang bagian kanan.

Nih Dia menyerahkan uang itu padaku sambil tersenyum.

ÔÇ£Lho? Banyak banget Om? Mana ada kembaliannya.ÔÇØ Ucapku ketika memegang uang itu.

ÔÇ£Udah, ambil aja.ÔÇØ Katanya singkat dan berbalik badan. Dia melangkah ke tepi jalan dan bersiap menyeberang lagi.

ÔÇ£Eh! Mmm..makasih ya Om!ÔÇØ jeritku kalang kabut. Dia menoleh ke arahku dan tersenyum lagi untuk kesekian kalinya.

Dengan cepat dia melangkah kembali ke mobilnya di seberang. Ketika mobilnya sudah menyala dan rodanya sudah berputar perlahan, dia memberikan salam terakhir dengan bunyi klakson dua kali. Aku dari sini hanya melambaikan tangan. Selanjutnya kulihat mobilnya menikung di persimpangan jalan ke arah kota dan hilang dari pandanganku.

Steven Akan kuingat terus nama itu. Aku masih belum tau apakah dia di sini hanya lewat atau memang punya maksud tertentu sama Ibu. Batinku masih bertanya-tanya akan sosok pria itu.

ÔÇ£Tito!ÔÇØ seruan Bi Ipah mengagetkanku. Perhatianku dari tadi ternyata masih ke jalanan sepeninggal Pak Steven itu.

Kebanyakan ngelamun nih anak Nggak ngegoreng lagi? Udah tinggal dikit nih gorenganmu. Ujarnya yang sudah bersiap membantuku untuk menggoreng tahap kedua.

ÔÇ£Eh! Iya Bi. Biar Tito nyalain dulu kompornya.ÔÇØ Kompor pun menyala kembali. Aku dan Bi Ipah menunggu sebentar sampai minyaknya panas.

Di tengah penantian kami, aku mulai bertanya kepada Bi Ipah perihal Pak Steven tadi. ÔÇ£Bi, menurut Bibi Pak Steven itu punya maksud sama Ibu nggak ya?ÔÇØ

ÔÇ£Maksud kamu?ÔÇØ

Maksud Tito, gelagat-gelagat kayak Dia mau Ngelamar Ibu buat kawin gitu.

Hah? Hahaha Mana Bibi tau To. Tanya aja sama dia sendiri kalo dia memang punya maksud kayak gitu. Lagian kamu ini masih kecil aja pake-pake mikirin Ibumu mau kawin apa nggak. Pikirin dulu tuh sekolahmu, baru pikirin kawin-kawinan.

Hehe Iya ya Bi. Aku hanya bisa nyengir menanggapi ocehan Bi Ipah.

Dalam hati aku masih terpikir juga mengenai hal itu. Aku berharap hal yang kutakutkan itu takkan pernah terjadi. Aku sangat sayang pada Ibuku. Dan rasa sayang pada Ibuku itu bukanlah untuk merelakan Ibu bahagia dengan pria lain, tapi rasa sayang dari diriku sendiri yang ingin memiliki Ibuku sepenuhnya dengan cinta kasihku padanya.

Ketika hari sudah sore dan gorengan kami sudah hampir habis, Ibu baru datang. Dagangan Bi Ipah sendiri sudah habis dari tadi. Aku yang semenjak tadi asyik bercerita ÔÇÿngalor-ngidulÔÇÖ bersama Bi Ipah dengan canda tawa, jadi berubah bersungut-sungut dengan kehadiran Ibu yang benar-benar terlambat. Dia cuma nyengir tanpa menjelaskan dan mengakui kesalahannya.

ÔÇ£Ibu kok lama amat sih? Udah sore nih, gorengannya juga udah mau abis.ÔÇØ Repetku.

Hihi Maaf ya Nak, Ibu tadi capek banget, jadi istirahat sebentar di rumah. Terus Ibu malah ketiduran tadi. Dia mengambil posisi di belakang tubuhku dan memijat pundak dan bahuku.

ÔÇ£Huh, Ibu memang selalu banyak alasannya.ÔÇØ Kataku cuek. Namun pijatannya di pundakku memang terasa sangat menenangkan.

Hihi Yang penting kan Ibu udah di sini. Ucapnya yang kemudian menghentikan pijatannya.

Lho? Kok berhenti Bu? Lagi dong

Wuuu Maunya! soraknya sambil mengacak-acak rambutku. Aku dan Bi Ipah hanya bisa tertawa.

Waktu berlalu begitu cepat. Kami sudah dalam perjalanan pulang saat ini. Hari ini memang banyak sekali hal-hal yang kulamunkan. Namun kesemuanya itu hanyalah mengenai Ibuku. Ketika masih duduk di atas becak, sesekali kupandangi wajah cantiknya yang menatap ke depan. Seperti tak ada beban yang terlihat di wajahnya. Berkali-kali timbul niatku untuk membicarakan mengenai Pak Steven itu dan mengenai alasannya yang ingin menikah lagi atau tidak. Tapi rasanya lidahku tiba-tiba kelu dan kaku untuk memulainya. Aku tak tahu harus melakukan apa. Tapi perasaan dalam diriku benar-benar menyuruhku untuk tidak pernah membicarakannya. Kurasa Bi Ipah memang benar. Aku memang terlalu muda untuk urusan seperti ini.

Di depan belok kiri ya Mang Ucap Ibuku pada si tukang becak.

Oh, iya Neng Balas pengendara becak yang berumur sudah cukup tua di belakang kami.

ÔÇ£Nanti sampe di rumah Tito langsung belajar ya. Siap-siap buat Ujian Nasional. Yang rajin belajarnya. Jangan kebanyakan nyantai.ÔÇØ Ujar Ibu ketika kami sedikit lagi sampai di rumah.

ÔÇ£Iya Bu, tenang aja.ÔÇØ Jawabku dengan santai. Ibu tersenyum.

ÔÇ£Hari JumÔÇÖat kita jualan lagi ya Nak.ÔÇØ

ÔÇ£JumÔÇÖat jualan lagi? Oh, ya udah Bu kalo gitu. Asal Ibu nggak ketiduran di rumah lagi sih nggak masalah.ÔÇØ Sindirku.

Hihi Nggaklah. Kita jualan bareng kok. Ibu terkekeh dan kemudian turun dari becak. Kami sudah sampai di rumah.

***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*