Home » Cerita Seks Mama Anak » Ibuku Cintaku dan Dukaku 8

Ibuku Cintaku dan Dukaku 8

Kukkrukuukkuuuukkk! suara kokok ayam terus menerus bersahutan di sekitar rumah. Jam waker alami yang menjadi primadona setiap pagi. Alam sadarku perlahan-lahan menunjukkan tajinya pula dengan membuka bersamaan kedua kelopak mataku. Mataku terbuka begitu saja seolah-olah aku tak mendapatkan rasa kantuk tadi malam. Seperti orang yang mati suri saja.

Mataku menoleh ke segala arah. Pikiranku masih memulai segala sesuatunya. Hal pertama yang kuketahui adalah aku berada di dalam kamar tidurku. Dari celah ventilasi jendela kamarku, sinar muda matahari pagi sudah menampakkan jati dirinya. Kulirik jam dinding yang tepat tergantung di atas ranjang tempat aku berbaring sekarang. Waktu menunjukkan pukul 06.30 pagi. Kucoba mengingat-ingat kejadian terakhir yang kualami tadi malam.

Yang kutahu semalam aku selesai makan sekitar pukul 08.00 malam. Lalu mengobrol sedikit bersama Ibu dan Rama. Tak lama setelah itu aku sudah merasakan kantuk yang luar biasa dan tak ingat apapun lagi. Kejadiannya begitu cepat sampai-sampai aku tak bisa meluangkan waktu untuk melanjutkan senda gurauku dengan Ibu dan Rama.

Aku berpikir mungkin ini ada hubungannya dengan apa yang dikatakan Bu Dina. Aku terlalu memforsir tenagaku dengan terlalu banyak bergerak dan memikirkan soal-soal PR hingga membuat kepalaku yang belum sembuh benar merasa terbebani, dan kemudian mengakibatkan rasa letih dalam waktu singkat. Aku bersyukur tidak terjadi apa-apa pada diriku.

ÔÇ£Mungkin aja tadi malam aku bisa pingsan kalo aku lebih capek lagi. Syukur deh aku nggak kenapa-napa.ÔÇØ Pikirku.

Sekarang tubuhku terasa sangat segar. Aku seperti baru saja meminum ramuan super penambah tenaga. Tubuhku serasa lahir kembali. Tak kurasakan lagi rasa sakit di kepalaku. Mungkin ini disebabkan tidur panjangku.

Kuregangkan badan dan tanganku layaknya orang yang baru bangun tidur. Lalu aku bangkit duduk dari pembaringanku dengan gerakan yang lugas. Aku terdiam mematung sesaat.

Hehe Nggak sakit sama sekali. Benar-benar udah sembuh nih! mantap! Aku senyum-senyum sendiri memikirkan keadaanku sekarang yang sudah pulih benar.

Suurrr Surrr Terdengar suara siraman air dari kamar mandi. Sejenak aku terdiam memikirkan sesuatu.

ÔÇ£Oh iya! Rama mana ya?ÔÇØ aku tiba-tiba teringat dengan Rama.

Kulihat ke arah kanan. Kamarku masih sangat rapi, seperti tak ada yang menyentuhnya. Masih kulihat gelas tempat teh Bu Dina kemarin. Posisinya masih sama. Ada sedikit semut-semut kecil yang berkeliaran di gelas itu. Mereka sedang menikmati rasa manis dari teh yang tersisa beberapa tetes saja. Aku kembali memfokuskan pikiranku.

Satu pertanyaan besar muncul di dalam otakku. ÔÇ£Di mana Rama tidur tadi malam?ÔÇØ

Tiba-tiba perasaan kesal dan kalut seperti kemarin sore muncul lagi. Aku tak tahu apa penyebabnya. Yang jelas sekarang perasaan itu lebih besar dari yang kemarin sore. Mungkin ini terjadi disebabkan oleh segala sesuatu yang berhubungan dengan Ibuku.

Aku segera turun dari ranjang. Kubuka pintu kamarku dan aku pun keluar. Aku tak menemukan siapapun di ruang tamu. Dengan keadaan yang masih diselimuti keingintahuan, aku langsung mencoba memeriksa ke ruangan belakang. Tapi baru saja aku mengambil beberapa langkah mataku tertuju ke kamar Ibu yang terbuka lebar. Kulihat Rama sedang memasukkan baju seragamnya ke celana merahnya. Kulihat dia sudah rapi dan siap untuk pergi ke sekolah. Kami beradu pandang sesaat.

ÔÇ£Eh, lu dah bangun To? Tak pikir lu bakalan pules terus sampe siang.ÔÇØ Sapanya dengan sedikit guyonan. Namun sepertinya guyonannya itu tak berpengaruh padaku seperti biasa. Aku menatapnya tajam disertai sesuatu yang masih berkecamuk di dalam hatiku.

ÔÇ£Kenapa lu To? Kok kayak gitu amat ngeliatin gue?ÔÇØ tanyanya yang kini terlihat sudah mulai serius.

Ram Lu tadi malam tidur di mana? Terus ngapain lu di dalam kamar Ibu gue? Tanyaku penuh selidik. Suaraku sangat datar ketika memberikan pertanyaan. Seakan-akan yang di hadapanku ini adalah orang lain atau penyusup yang harus segera kutendang keluar dari rumahku.

Ngg Emmm I Itu To Aku Wajah Rama kelihatan sangat kaku dan begitu ketakutan menjawab pertanyaanku.

ÔÇ£Kenapa To?ÔÇØ suara Ibu muncul dari samping kananku. Dia baru saja selesai mandi. Dan kini Ibu sudah berada di dekatku. Kulihat tubuhnya yang masih agak basah dan hanya ditutupi oleh handuk berwarna biru. Melihat Ibu yang berpenampilan seperti itu rasa panas di dalam dadaku semakin menjadi saja. Apa sebenarnya yang sedang kurasakan saat ini?

ÔÇ£Bu, tadi malam bekicot ini tidur di mana?ÔÇØ Tanyaku dengan wajah kesal sambil menunjuk ke arah Rama yang masih terdiam terpaku. Aku memang sering menjuluki Rama dengan sebutan apa saja jika aku sedang kesal dengannya.

Hihihi Masa Rama dibilang bekicot sih To? Nggak baik lho begitu sama teman sendiri. Hihi Ujar Ibu yang tampak lucu melihat wajah kesalku. Dia malah menganggap aku sedang melawak.

Ibu melihat ke arah Rama yang sedikit nyengir karena ÔÇÿhinaankuÔÇÖ tadi, lalu menatapku lagi. Ibu kemudian menghentikan tawanya dan mulai bicara dengan nada santai. ÔÇ£Ya udah, nanti Ibu ceritain semuanya ya Nak. Sekarang kita sarapan dulu. Kasian tuh Rama, ntar dia bisa telat.ÔÇØ

Demi melihat wajah teduh Ibu, emosiku perlahan meredup. Aku iyakan kata-katanya dengan mengangguk lemah, tetapi masih dengan wajah yang kusut. Ibu cuma tersenyum dan mengusap kepalaku. Dia kemudian berjalan masuk ke kamarnya. Kulihat Rama yang masih terdiam di situ.

ÔÇ£Woi! Lu mau sampe kapan di situ terus!? Mau liat-liat Ibu gue lu ya!?ÔÇØ sergahku pada Rama sampai membuatnya terkejut bukan main.

Eh! Iya To, iya! Permisi ya Bu Sahutnya gelagapan sembari meraih tas sekolahnya. Ibu tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Rama bergegas keluar dari kamar Ibu sambil nyengir ke arahku. Dengan sigap kuraih gagang pintu kamar Ibu dan menutupnya.

ÔÇ£Kalian ke belakang duluan ya! Tunggu Ibu pake pakaian sebentar!ÔÇØ Pungkas Ibu setengah berteriak dari dalam kamarnya. Kami berdua saling memandang. Rama masih cengengesan.

ÔÇ£Ya udah, yuk kita ke belakang.ÔÇØ Suaraku masih saja datar. Emosiku masih belum stabil benar.

Kami berjalan beriringan ke meja makan di belakang, kemudian duduk bersebelahan seperti tadi malam. Kulihat nasi goreng yang sekarang sudah tersaji sebanyak tiga piring di atas meja makan. Aku terdiam dan bengong menatap nasi goreng di hadapanku. Hatiku masih dihantui rasa penasaran. Terlintas di pikiranku untuk bertanya sedikit pada Rama.

Aku menoleh padanya yang dari tadi juga terdiam tak bersuara. Ram

ÔÇ£Apa To? Ada apa?ÔÇØ sahutnya secepat kilat. Wajahnya nyengir lebih lebar dari yang tadi.

Apa yang ingin kutanyakan langsung buyar melihat wajahnya sekarang. Lu dari tadi cengar-cengir Cengar-cengir Suntuk gue liatnya!

ÔÇ£Oh, maaf To. Gue pikir lu bakalan senyum juga kalo gue senyum. Dari tadi lu kayaknya kesal banget sama gue.ÔÇØ Rama menunduk.

Aku jadi kasihan melihat Rama seperti itu. Hanya karena emosiku yang meledak-ledak tidak jelas aku jadi memperlakukan sahabatku sendiri seperti musuh abadi. Aku jadi merasa bersalah. Tidak sepatutnya kuperlakukan dia demikian. Lagipula apa salahnya kalau dia menginap di rumahku? Dulu dia juga sering menginap di sini. Begitu pula denganku yang dulunya sering menginap di rumahnya.

Nggak gitu Ram Kalo mau senyum, senyum seperti biasa aja kenapa sih? Jangan cengar-cengir kayak orang gila. Hehe Ujarku mencoba mencairkan suasana yang terlanjur tegang dari tadi. Rama pun dengan sigap mengangkat wajahnya.

ÔÇ£Eh, lu nggak marah To?ÔÇØ tanyanya dengan wajah cerah.

ÔÇ£Ya nggak lah. Mana pernah sih gue marah sama lu? Tapi kalo kesal gara-gara lu sih sering banget.ÔÇØ

Hehehe Maaf ya To. Kita tetap sahabatan kan? Rama mengulurkan tangan kanannya hendak bersalaman.

ÔÇ£Ikhh! Bikin malu amat sih lu Ram! Pake acara salam-salaman segala. Kayak sinetron di TV aja.ÔÇØ Protesku akan tingkahnya.

ÔÇ£Nggak apa-apa To. Sebagai tanda aja bahwa kita emang sahabat sejati. Kalo lu nggak mau pake salaman, pake jari kelingking juga boleh, kayak anak cewek. Mau?ÔÇØ

ÔÇ£Hah? Ada-ada aja lu. Ya udah deh, salaman aja.ÔÇØ Segera kusambar tangannya sambil tersenyum kecut menyalaminya. Rama memang membuatku malu dengan tingkah noraknya ini.

ÔÇ£Nah, gitu dong. Itu baru sahabatku yang paling baik.ÔÇØ Ucapnya semakin membuatku malu.

ÔÇ£Aww! Addooouuww! Sakit To! Ampun!ÔÇØ Rama berteriak karena tangannya kuremas sejadi-jadinya. Untuk urusan fisik dan kekuatan, aku memang lebih unggul darinya.

ÔÇ£Rasain lu! Berani bikin malu gue lagi, kepala lu yang ntar gue jitak!ÔÇØ Umpatku seraya mengepalkan tinjuku di hadapannya.

Hehehe Iya To. Nggak lagi-lagi deh. Rama mengusap dan mengurut tangannya yang sakit. Tapi dia tetap saja tertawa senang. Mungkin karena dia sudah lega karena aku ternyata tak marah padanya.

ÔÇ£Huh! Dasar bekicot lu!ÔÇØ makiku padanya.

ÔÇ£Huuuhhh! Dasar ganteng lu!ÔÇØ balasnya.

ÔÇ£Lu mau tak jitak hah?ÔÇØ kataku yang bersiap menjitak kepalanya. Rama berusaha menghindar dengan lari menjauh dari kursinya.

Aku tak bisa menahan senyumku. Kelakarnya itu memang sukses membuatku malu dan salah tingkah. Aku tak habis pikir dengan temanku yang satu ini. Ada-ada saja ulahnya yang bisa membuatku tersenyum dan tertawa. Di lain sisi aku memang sangat bangga punya sahabat sepertinya.

ÔÇ£Eh, ada apa nih? Kok Rama sampe lari-larian gitu?ÔÇØ tanya Ibu padaku yang sudah muncul di dekatku hendak menarik kursi makannya untuk duduk.

Wajah Ibu sangat segar pagi ini. Ibu memakai kaos oblong warna putih dan celana pendek selutut motif kotak-kotak. Yang kutahu penampilan seperti itu pertanda bahwa Ibu akan keluar rumah.

ÔÇ£Yuk Rama, duduk sini. Kalian kenapa sih To? Kok berantem sih?ÔÇØ Ibu menyuruh Rama untuk duduk kembali di kursinya.

Dengan masih cengengesan Rama duduk kembali di sebelahku. Aku membiarkannya begitu saja dan tersenyum sepolos mungkin ke arah Ibu. Ibu pun menggeleng dan tersenyum melihatku.

ÔÇ£Ya udah, yuk Rama. Dimakan tuh nasi gorengnya. Ntar telat pergi sekolahnya.ÔÇØ Ujar Ibu.

ÔÇ£Iya Bu.ÔÇØ Jawabnya singkat dan mulai menyuapkan sesendok penuh nasi goreng ke dalam mulutnya.

ÔÇ£Ibu mau pergi ya?ÔÇØ aku bertanya pada Ibu sebelum dia mulai makan.

ÔÇ£Oh, iya nih. Ibu mau jual gorengan besok. Jadi mau beli bahannya pagi ini kayak biasa. Ntar kalo kesiangan bisa-bisa kehabisan di pasar. Tito bisa sendirian di rumah sebentar kan?

ÔÇ£Oh, gitu ya Bu. Oke deh, Tito bisa kok jaga rumah.ÔÇØ Jawabku yang dibalas Ibu dengan senyuman. Kami berdua pun mengikuti Rama memulai acara sarapan kami.

Acara sarapan pagi itu pun khidmat seperti biasa. Tidak ada pembicaraan lagi yang terjadi. Namun sesekali kulihat Rama dan Ibu saling tersenyum seakan ada sesuatu yang lucu sedang terjadi. Ketika kulihati mereka bergantian, senyuman-senyuman itu sirna begitu saja. Seolah-olah akulah yang sedang menjadi bahan tertawaan mereka. Tapi apapun itu aku tak peduli. Aku tak ingin terbawa suasana lagi dan membuat emosiku meledak lagi. Aku meneruskan kegiatan makanku hingga selesai.

Piring-piring bekas kami sarapan pagi itu lagi-lagi dibiarkan teronggok begitu saja bersama piring-piring kotor tadi malam. Ibu beralasan bahwa dia akan mencuci seusai pulang dari pasar. Dia berkata kalau dia sudah terlanjur mandi dan seluruh tubuhnya masih bersih. Jadi pekerjaan rumah yang satu itu akan dikerjakannya ketika seluruh tubuhnya ÔÇÿsiapÔÇÖ untuk kotor-kotoran lagi nanti.

Ibu memoleskan sedikit bedak di wajahnya agar terlihat lebih segar. Sementara Rama menunggu di teras bersamaku tanpa terlalu banyak mengobrol. Sesaat kemudian Ibu sudah ada di teras bersama kami dan siap untuk pergi. Karena jalan menuju ke pasar dan ke sekolah searah, mereka pun memutuskan untuk pergi berbarengan saja.

ÔÇ£Jaga rumah ya To. Ibu pergi dulu.ÔÇØ Ucapnya.

ÔÇ£Iya Bu. Hati-hati ya Bu.ÔÇØ Kataku sembari menyalami dan mencium tangannya.

Tiba-tiba saja Rama menyalami tanganku dan memaksakan tangannya untuk kucium sambil berkata dengan santainya, ÔÇ£Hati-hati ya Nak, jaga rumah. Bapak mau pergi kerja dulu.ÔÇØ

Dengan segera kuremas lagi tangannya yang tadinya belum sempat kucium. ÔÇ£Aduh! Iya iya To! Ampun! Ampun To! Adaww! Sakit! Bu, Tolongin Bu!ÔÇØ

Rama memekik dan mengaduh merasakan sakitnya. Ibu dengan segera mencoba memisahkan tanganku dan tangan Rama. Tapi kali ini aku meremasnya sedikit lebih lama dan lebih keras dari yang tadi. Aku sepertinya ingin melampiaskan sisa-sisa perasaan kesal di dalam hatiku dengan cara ini.

ÔÇ£To, udah To. Itu Rama kesakitan banget tuh! Lepasin Nak. Jangan begitu amat dong becandanya.ÔÇØ Ibu berusaha melepaskan tanganku dari tangan Rama. Karena Ibuku yang meminta, maka kulepaskan tangan kurang ajarnya itu.

ÔÇ£Rama nggak apa-apa sayang? Tangannya sakit? Sini Ibu liat.ÔÇØ Kata-kata Ibu terdengar begitu memanjakannya.

Hah? Sayang? Anak kayak begini disayang-sayang sama Ibu? Huueekkh Cape dehh Kataku sambil menirukan gaya orang muntah. Ibu malah tersenyum mendengar umpatanku.

Nggak boleh gitu dong To. Rama kan udah Ibu anggap anak Ibu juga. Kan kasian Ntar kalo Bu Aini liat anaknya kenapa-napa gara-gara Tito, kan Ibu juga jadi merasa bersalah. Keluh Ibu yang masih mengurut dan mengusap-usap tangan Rama yang sakit.

ÔÇ£Biarin aja Bu. Ntar aku bilangin sama Bunda biar Tito dimarahin.ÔÇØ Rama melirik ke arahku sambil tersenyum licik dan mengancam akan melaporkan tindakanku yang semena-mena.

Demi mendengarkan ancamannya yang cukup meresahkan, aku akhirnya mengalah juga. Eh! Lu kok pake mau ngelapor-lapor segala? Nggak asik banget sih lu! Ya udah, nih Kuulurkan tanganku padanya.

ÔÇ£Apa? Lu mau remes tangan gue lagi? Belum puas lu liat tangan gue babak belur begini?ÔÇØ ucap Rama yang langsung sewot melihat tindakanku. Ibu hanya melihat kami bergantian.

ÔÇ£Bukan, bego! Gue mau minta maaf. Lu mau maafin gue kan? Kita masih sahabat baik kan?ÔÇØ kali ini aku yang mengucapkan kalimat norak tersebut. Terasa seperti keluar begitu saja dari mulutku. Wajahku mungkin saja sedang memerah sekarang.

Merasa menang, akhirnya Rama tersenyum dengan ramahnya dan menyambut tanganku. Kami pun berjabatan. Ibu tersenyum bangga dan sedikit bertepuk tangan melihat kami yang begitu mudah untuk saling memaafkan.

ÔÇ£Yeeeeyy…! Anak-anak Ibu udah baikan lagi deh. Ibu bangga banget punya anak-anak seperti kalian ini. Jangan sering berantem lagi ya.ÔÇØ Pesan Ibu pada kami.

Iya Bu Jawab kami berdua bersamaan.

ÔÇ£Ya udah, yuk! Nanti telat sekolahnya.ÔÇØ Ajak Ibu pada Rama dan memegang tangannya sambil berjalan meninggalkan rumah. Rama langsung dengan sigap melepaskannya.

Emm Bu. Tangan Rama nggak usah dipegangin ya. Rama jalan sendiri aja. Wajah Rama tertunduk malu.

Hahaha Rama malu tuh Bu, dipegangin sama Ibu. Jadi kayak anak kecil. Tadi ngakunya Bapak gue, tapi tangannya masih dipegangin kalo jalan. Hahaha Kusindir Rama yang kini hanya bisa tersenyum malu akan harga dirinya yang jatuh di depanku. Ibu lagi-lagi tersenyum dan memaklumi segalanya.

Iya deh, Ibu nggak pegangin lagi. Hihi Canda Ibu. Mereka pun berangkat disertai Ibu yang melambaikan tangan padaku.

ÔÇ£Dah Bu!ÔÇØ seruku seraya melambaikan tangan juga. Ketika mereka sudah hilang dari pandanganku, aku pun masuk ke dalam rumah.

***

Waktu sudah menunjukkan pukul 09.15 pagi. Tak terasa sudah 2 jam berlalu semenjak Ibu pergi ke pasar. Aku dari tadi hanya menonton TV saja. Aku tak mengerjakan PR karena memang tak ada PR untuk besok. Lagipula kalau memang ada PR pun Bu Dina pasti memahami keadaanku.

Aku tak tahu bagaimana bisa aku jadi semalas ini. Padahal ini baru hari ketiga aku libur sekolah karena sakit. Tapi rasanya aku sudah berubah menjadi anak malas yang seperti tak pernah mengenyam bangku pendidikan. Padahal Ujian Nasional akan berlangsung kurang dari dua minggu lagi. Sementara diriku sekarang bukannya menekuni pelajaran, malah berleha-leha sambil menonton TV.

Seketika aku teringat akan kewajibanku. Aku terhenyak dan tersadar. Segera kumatikan TV dan berjalan menuju ke kamarku. Dengan semangat yang tinggi kubongkar buku-buku yang ada di meja belajarku. Kuselidiki setiap mata pelajaran yang harus kudalami. Walaupun aku tak sekolah, bukan berarti aku berdiam diri saja di rumah. Aku harus belajar semaksimal mungkin untuk meraih nilai tertinggi.

ÔÇ£Aku pasti bisa jadi juara lagi!ÔÇØ Semangatku sudah berkobar dan membara di sanubariku. Aku kini sudah duduk dengan mantap di kursi dan menghadap ke meja belajarku.

Beberapa detik kemudian. Tok Tok Tok

ÔÇ£Tito! Buka pintunya Nak! Ibu nih!ÔÇØ suara Ibu terdengar lantang dari luar.

Yahhh! Baru aja lagi semangat-semangatnya, udah dikasih iklan. Cape dehh Aku melengos dan berjalan ke luar.

Iya Bu! Bentar Sahutku.

Kubuka pintu dan kulihat Ibu membawa banyak barang belanjaan. Wah! Banyak banget Bu. Sini Tito bantu

ÔÇ£Nggak usah Nak, biar Ibu aja.ÔÇØ Tolaknya.

Melihatnya yang sudah keringatan tidak karuan seperti itu mana mungkin aku tega membiarkannya mengangkat barang sebanyak ini. ÔÇ£Udah Bu, sini Tito aja yang angkat.ÔÇØ

ÔÇ£Tito nggak apa-apa Nak? Udah sembuh kepalanya?ÔÇØ tanya Ibu yang mengkhawatirkanku dengan melongok ke perban yang ada di kepalaku.

ÔÇ£Udah sembuh kok Bu. Nggak terasa lagi sakitnya.ÔÇØ

Kuambil tiga bungkusan plastik besar yang diletakkannya di teras. Ibu memperhatikanku dengan wajah cemas. Tapi aku melemparkan senyum padanya untuk menegaskan bahwasanya aku memang sudah tidak apa-apa. Diikutinya langkahku terus hingga ke ruang belakang. Mungkin dia masih khawatir jika aku tak sanggup mengangkat semua itu. Sesampainya di belakang, kuletakkan semuanya tepat di dapur.

ÔÇ£Ibu ngangkat semua ini dari mana?ÔÇØ tanyaku padanya yang sekarang tepat di belakangku.

ÔÇ£Ibu naik becak kok To sampai ke ujung gang ini. Kenapa?ÔÇØ

ÔÇ£Ibu kan tau rumah kita masuk ke dalam lagi. Terus becak kan nggak bisa masuk. Dari situ kan mesti jalan lagi baru bisa nyampe ke teras Bu. Kenapa sih Ibu nggak bilang sama Tito, biar Tito angkat dari situ?ÔÇØ Aku prihatin sekali dengan keringat yang sudah membasahi keningnya.

Pasti dia lelah sekali berbelanja ke pasar ditambah beban seberat ini. Bagaimana tidak berat? Plastik-plastik besar ini berisi beberapa batang singkong besar dan ubi, tempe yang cukup banyak, beberapa sisir pisang raja, minyak goreng berliter-liter, tepung terigu berkilo-kilogram, ditambah lagi sayur-mayur dan bumbu-bumbu masakan. Aku saja merasa keberatan, bagaimana dengan Ibu?

Tadi Ibu pikir Tito masih belum sembuh betul Nak. Jadi ya Ibu aja yang angkat. Lagian nggak jauh-jauh amat kok. Paling cuma 20 meter. Tadi nggak Ibu angkat terus kok. Kadang-kadang Ibu seret juga. Habis berat banget sih. Hihi Di tengah keletihannya dia masih saja bisa bercanda.

ÔÇ£Ini keringat Ibu sampe netes-netes gini lho. Ibu pasti kecapean banget ya? Lain kali panggil Tito aja Bu, buat ngangkat barang-barang dari depan sampe ke rumah.ÔÇØ kuusap bulir keringat yang menetes di pelipisnya. Kusingkap poni yang melindungi dahinya, dan kuusap lagi tetes-tetes keringat yang masih tersisa. Ibu hanya diam saja melihatku. Tatapannya tertuju tepat ke kedua bola mataku.

ÔÇ£Ibu kenapa? Kok ngeliatinnya kayak gitu banget sih? Tito kan jadi malu.ÔÇØ Aku tertunduk malu setelah menarik tanganku dari dahinya. Kulirik dia lagi. Kali ini dia tersenyum manis dan mengelus pipiku.

Tito memang anak Ibu yang paling baik. Ibu sayang dan bangga banget punya anak kayak Tito. Sini lalu dipeluknya diriku erat.

Hidungku kini mencium bau keringat di lehernya. Jantungku mulai terpacu. Entah kenapa selalu seperti ini ketika aku sangat dekat dengannya. Gairahku bangkit seketika. Sesuatu mulai bereaksi di bawah sana. Untungnya Ibu segera melepaskan pelukannya sebelum menyadarinya.

ÔÇ£Ihhh, Tito bau asem nih! Belum mandi ya dari tadi waktu Ibu pergi?ÔÇØ Ibu menciutkan mulut dan hidungnya seperti sedang mencium bau busuk. Padahal badanku hanya sedikit bau karena tidak mandi sejak kemarin.

Hehe Ibu menghina nih! Kan nggak bau-bau amat? kataku sambil menciumi bajuku memastikan seberapa baunya badanku.

Hihi Nggak kok. Ibu Cuma becanda. Emm Tito mau Ibu mandiin lagi nggak, kayak kemarin? Terus Ibu kocokin burungnya? ucapnya dengan lemah lembut dan sangat menggoda. Mendengar suaranya dan tawarannya itu membuat hati dan kemaluanku terkejut.

Lho? Bu? Katanya ngg kemarin ngggak boleh lagi kayak gitu sama Ibu? Sekarang kok Ibu bolehin? kataku gugup menahan nafsuku yang sudah mulai berkobar.

ÔÇ£Nggak apa-apa sayang. Yang ini yang terakhir kali deh. Dan Tito harus janji ya kalo ini yang terakhir. Janji?ÔÇØ ditatapnya wajahku dengan fokus dan serius untuk memastikan komitmenku akan hal ini.

Oh, emm Iya Bu, janji.

Apa yang terjadi padaku? Kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutku. Apakah aku akan ÔÇÿmengotoriÔÇÖ Ibuku lagi seperti kemarin? Tapi kan kemarin Ibu juga tak mempermasalahkannya? Buat apa aku harus menolak? Aku juga ingin merasakannya lagi. Sekali lagi bersama Ibu.

ÔÇ£Ya udah, yuk!ÔÇØ ajak Ibu menggaet tanganku dan mengambil handuk dari jemuran kain dekat kamar mandi. Kami pun segera masuk ke dalam kamar mandi.

Ketika sampai di dalam kamar mandi, Ibu membuka seluruh pakaianku. Ketika sesi dia membuka celana dalamku, gerakannya seperti diperlambat olehnya. Aku jadi agak malu ketika dia melakukan itu.

ÔÇ£HmmhhhÔǪÔÇØ Ibu menghembuskan nafas berat ketika kemaluanku sudah kelihatan dan seperti meloncat keluar dari celana dalamku. Kemaluanku sudah cukup tegang dengan suasana ÔÇÿbuka-bukaanÔÇÖ ini.

Seluruh pakaianku digantungkannya di gantungan yang ada di balik pintu kamar mandi. Dia melihat wajahku sekejap dan kemudian ke arah kemaluanku dengan mata yang sayu. Wajah Ibu lebih merah dari ketika dia pulang dalam keadaan berkeringat tadi. Ketika dia mendekatiku tiba-tiba terlintas sesuatu di kepalaku.

ÔÇ£Bu, sebentar dulu. Tito ada permintaan nih, boleh nggak?ÔÇØ tanyaku dengan nafas yang juga semakin berat.

ÔÇ£Apa Nak?ÔÇØ

ÔÇ£Tito pengen Ibu ngocokinnya sebelum Tito mandi. Kayak gini aja langsung, nggak usah pake sabun.ÔÇØ

Ohh, gitu? Ya udah jawabnya singkat.

ÔÇ£Tunggu Bu!ÔÇØ dengan cepat kucegah tangannya yang sudah hendak memegang kemaluanku.

ÔÇ£Apa lagi sayang?ÔÇØ sahutnya dengan tetap mesra.

ÔÇ£Tito boleh nggak minta Ibu ganti baju daster warna kuning yang tipis itu?ÔÇØ pintaku padanya. Aku tak mungkin memintanya bugil sesuai fantasi dan mimpiku. Tapi aku ingin yang terakhir ini menjadi yang paling berkesan.

ÔÇ£Oh, yang Ibu pake hari Minggu itu ya?ÔÇØ tanyanya memastikan.

Iya Bu jawabku sambil tertunduk malu.

Dia mendekati wajahku yang menunduk dan berkata hampir seperti berbisik, ÔÇ£Tito selama ini suka ya, liat Ibu pake daster itu sayang?ÔÇØ

Kulirik wajahnya yang tersenyum nakal padaku dan menjawab malu-malu, ÔÇ£Iya Bu, Tito suka banget.ÔÇØ

Hihi Berarti selama ini Tito suka liatin penampilan Ibu ya? Hehe Dasar anak nakal. Dijewernya hidungku pelan. Aku hanya tertawa kecil malu-malu.

Oke. Bentar ya sayang Ibu ke kamar dulu. Pesannya. Dia pun segera meninggalkan kamar mandi untuk mengganti pakaiannya. Aku pun menunggu dengan jantung yang sudah berdegup kencang.

Hanya hitungan beberapa menit, Ibu sudah menemuiku lagi di dalam kamar mandi. Dia sempat melempar senyum padaku yang terperangah melihat penampilannya yang memang sangat seksi dengan daster itu. Ditutupnya pintu kamar mandi dan berjalan ke arahku yang sudah berdiri telanjang dengan kedua tangan menopang di bak mandi.

ÔÇ£Gimana? Suka?ÔÇØ godanya.

Suka banget Bu. Ibu cantik deh kataku yang dari tadi sudah terpana melihatnya.

Cantik apa seksi? Ibu tersenyum nakal dan mencolek perutku untuk menggodaku lebih dalam.

Eh! Ngg Hehe Iya Bu, seksi Ucapku yang bertambah gugup dan malu dibuatnya.

Ahh Aku terpekik kaget ketika Ibu tiba-tiba mengenggam penisku yang sudah menegang. Lalu wajahnya mendekat padaku.

ÔÇ£Ngomong-ngomong, Tito kemarin bilang kalo Tito pernah mimpiin Ibu ya?ÔÇØ tanya Ibu memastikan.

Eh! Ngg Itu I Itu Ahhh Aku tergagap-gagap dan bingung harus menjawab. Ditambah lagi sekarang dia mengelus-elus lembut batang penisku.

Aku memang ingat kemarin aku memang keceplosan mengatakan bahwasanya aku pernah memimpikan Ibu. Aku tak sanggup menahan rahasia lagi di tengah nafsuku yang sudah memuncak ketika dia mengocok kemaluanku. Pikiranku sudah dipenuhi oleh bayang-bayang mesum akan Ibuku.

ÔÇ£Udah, nggak apa-apa. Ibu nggak marah kok.ÔÇØ Dibelainya pipi kananku lembut dengan tangan kirinya. Ditatapnya terus kedua bola mataku.

ÔÇ£Kemarin Ibu dengar Tito bilang mimpinya diciumin Ibu ya sayang?ÔÇØ

Nghh Iya Bu Jawabku singkat. Penisku sudah terasa sangat nikmat dengan hanya dielusinya perlahan seperti ini.

ÔÇ£Mau Ibu cium nggak?ÔÇØ godanya. Tubuhnya menempel padaku. Bisa kurasakan empuknya dadanya dan kepala penisku yang sudah mengenai dasternya.

Haahh? Ibu Belum selesai kata-kataku Ibu sudah menciumi bibirku dengan lembut.

Cruupp Ciuman singkat yang penuh perasaan. Kemudian dilepaskannya bibirnya dan menatapku lagi.

ÔÇ£Gimana rasanya ciuman Ibu?ÔÇØ bibirnya yang basah tersenyum lebar.

Aku yang kali kedua merasakan Ibu mencium bibirku merasa tetap tegang. Karena baru kali ini aku merasakannya dalam keadaan aku dan Ibu sama-sama tersadar. Aku hanya bisa tersenyum malu tak bisa menjawab lagi.

Hihi Kayaknya anak Ibu suka banget ya diciumin Ibunya sendiri? Nih, Ibu tambahin lagi Cruppss Cuppp Ummhh Cuppss Diciuminya mulutku dengan lebih keras. Aku kali ini mencoba membalasnya. Dan ciuman kami menjadi lebih panas.

Ummhhh Crruupss Ahsshh Cupps Crupp Ahhh Kami saling melumat bibir.

Tangan Ibu yang sebelah kiri hinggap di belakang kepalaku untuk menekankan kepalaku agar bibir kami beradu lebih keras. Sementara tangan kanannya digunakannya untuk mengocok kemaluanku. Kurasakan kepala penisku bergesekan dengan pahanya yang dilapisi kain dasternya yang tipis dan lembut. Tubuhku bergetar merasakan nikmat yang luar biasa.

Aku semakin tak tahan dengan aksi yang dilancarkan Ibuku. Pinggulku sudah bergoyang-goyang merasakan nikmatnya. Nafasnya yang menderu kencang menerpa pipiku, sedotannya di bibirku, ditambah lagi kocokannya yang semakin lama semakin cepat membuat setiap urat syarafku mulai terasa kebas.

Ngghh Mhhhh Ekkhh gumamku yang masih tersumbat bibirnya. Dengan cepat dilepaskannya bibirnya.

Shhh Tito mau keluar sayangghh? Udah kerasa mau kencing Nak? Hsshh Tanya Ibu dengan desahannya yang begitu erotis.

Iya Bu Tito udahh belum lagi selesai aku bicara, lagi-lagi dipagutnya mulutku.

Cruuppss Mhhh Ummhh Ibu mengencangkan ciuman dan kocokannya padaku. Aku semakin tak tahan.

Ungghh Emmhh Emmmhhhh! Tubuhku bergetar hebat dan pinggulku mengejang-ngejang merasakan geli dan nikmat luar biasa yang tiba-tiba mengaliri tubuh bagian bawahku. Mataku hampir tertutup merasakan sensasinya. Refleks aku memeluk erat tubuh Ibuku.

Crrooott Croottt Creet Crettt! Air maniku menyemprot dengan liar di daster kesayanganku itu. Ibu tetap memagutku ketika seluruh cairan kental itu keluar. Dia membiarkan begitu saja aku yang memeluknya sambil menggoyang-goyangkan pinggulku.

Beberapa detik berikutnya tubuhku terasa cukup lemas dan pagutanku pada bibirnya melemah. Ibu juga melembutkan ciuman dan kocokannya. Pinggulku masih menyisakan hentakan-hentakan kecil karena tangannya yang masih menggenggam dan mengocok penisku dengan lembut untuk mengeluarkan tetes-tetes terakhir dari cairan kelelakianku. Pelukanku pun kulepaskan dan tanganku kembali tertambat di mulut bak.

Sesaat kemudian Ibu menghentikan ciumannya dan menatapku yang masih ngos-ngosan menghela nafas. Ibu agak menjauh dariku. Dilihatnya cairan kental yang meleleh di dasternya tepat di bagian perutnya sebelah bawah. Dilihatnya juga jari-jari tangan kanannya yang juga terkena cairan itu sedikit. Lalu dia melihatku dan tersenyum.

Wah Banyak banget sayang? Hhhh Perasaan kemarin kan udah dikeluarin? Masa masih sebanyak ini? Hhhh Tuh burungnya Tito juga masih belum lemes Hhh Ibu bertanya dengan nafas yang berat. Ketika dia menatap cairan kental yang begitu banyak meleleh di bagian selangkangannya, nafasnya malah terdengar semakin memburu.

Aku yang masih baru membuka mata dan mengatur nafasku pun melihat penisku yang masih setengah tegak. Ketika aku melihat Ibu yang sedang berdiri selangkah di depanku, kemaluanku tiba-tiba berdiri dan menegang lagi. Jantungku berangsur-angsur kembali berdetak kencang. Ibu tercekat dan menatap nanar kemaluanku yang kembali bangun. Namun setelah itu dia malah memintaku untuk meneruskan acara mandiku sendiri dan bergegas keluar.

Hhhh Tito mandi sendiri aja ya Nak. Udah Ibu kocokin kan? Udah ya Ibu mau keluar dulu. Ucapnya buru-buru. Kemudian diraihnya seluruh pakaianku yang tergantung di gantungan kamar mandi dan segera keluar.

Lho, Bu! Tapi kan Kalimatku terputus begitu saja melihatnya berlalu keluar dari kamar mandi.

ÔÇ£Blammm!ÔÇØ Pintu kamar mandi pun tertutup.

ÔÇ£Ibu mau ganti baju To!ÔÇØ terdengar sekilas sahutan Ibu dari luar. Setelah itu hanya sunyi senyap yang ditinggalkannya di dalam kamar mandi bersamaku.

***

Aku bingung dengan tingkah Ibu yang sedikit aneh. Tapi lagi-lagi aku tak mau ambil pusing. Mungkin memang benar bahwa dia ingin mengganti pakaiannya. Aku menarik nafas dalam-dalam dan mencoba menenangkan detak jantungku. Kemaluanku juga perlahan-lahan semakin tenang dari ketegangannya. Aku berbalik menghadap ke bak mandi dan mulai mengambil air untuk menyiram tubuhku. Aku memutuskan untuk mandi sendiri dan tidak ingin menagih janji Ibuku tadi. Aku ingin menyegarkan pikiranku dengan air mandiku ini segera. Dari tadi tubuhku rasanya panas sekali.

Kubasuh seluruh tubuhku kecuali bagian kepala yang masih terbalut perban. Padahal sebenarnya tadinya aku ingin perbanku dibukakan Ibu, tapi rencana sepertinya berubah. Aku harus menyelesaikan mandiku sendiri dan meminta tolong padanya sesudah mandi.

Tak butuh waktu lama, aku pun selesai mandi. Aku keluar setelah mengeringkan seluruh tubuhku dengan handuk. Kulihat pintu belakang tertutup. Itu artinya Ibu sedang di kamarnya. Segera kususul dia ke kamarnya. Tapi yang kulihat pintu kamarnya tertutup rapat.

Kucoba mengetuk pintu kamarnya. ÔÇ£Bu! Ibu di dalam?ÔÇØ

ÔÇ£Iya Nak! Kenapa?ÔÇØ Suara teriakannya terdengar sedikit serak.

ÔÇ£Ini Bu! Ibu bisa tolongin Tito bukain perban?ÔÇØ balasku lagi.

Iya! Tunggu sebentar yahh! Ibu udah mau keluarrr! Ibu keluarrr nihh! Hkkhh pungkasnya. Suaranya seperti sedang mengangkat sesuatu yang berat di dalam sana.

Kutunggu dengan sabar di luar kamarnya. Tapi Ibu tak kunjung muncul. Bahkan aku tak mendengar lagi sahutannya. Apa yang terjadi?

Lho? Mana Bu!? Katanya mau keluar Kok nggak nongol-nongol? Ibu ngangkatin apa di dalam? Sini biar Tito aja yang angkat Bu! teriakku dari luar. Aku takut dia memaksakan dirinya lagi untuk mengerjakan sesuatu yang berat.

Tiba-tiba Pintu kamarnya terbuka. Sekarang giliranku yang malah terdiam. Nafsuku naik lagi ketika melihatnya di depan pintu kamar hanya menggunakan handuk yang melilit tubuhnya. Rambutnya terlihat acak-acakan seperti habis bangun tidur.

ÔÇ£Lho? Ibu kok pake handuk? Mau mandi juga?ÔÇØ Aku membuka percakapan.

ÔÇ£Iya nih. Dari tadi rasanya panas banget. Mau mandi.ÔÇØ Dia mengipasi lehernya dengan tangannya sendiri. Bagian dadanya sedikit bergoyang karena gerakan tangannya.

Aku menelan ludah melihat pemandangan ini. Seharusnya ini merupakan sebuah pemandangan yang sudah lumrah bagiku, tapi melihat kulitnya yang mulus, rambutnya yang acak-acakan, ditambah lagi goyangan dadanya, membuat kemaluanku terbangun lagi.

ÔÇ£Mau dibukain sekarang?ÔÇØ Sambungnya.

ÔÇ£Iya Bu. Sekarang aja deh.ÔÇØ Aku bermaksud mencari-cari kesempatan untuk memandangi tubuhnya lebih lama lagi.

Ibu tersenyum dengan wajah yang kelihatan agak letih. Diangkatnya tangannya meraih kepalaku dan mulai melepaskan perbannya dengan gerakan memutari kepalaku. Pandanganku terpaku melihat belahan dadanya yang sedikit mengintip dari balik handuknya. Gerakan memutar pun selesai, dan perban sebelah luar yang membungkus kepalaku sudah jatuh ke lantai. Kini tinggal kapas dan plaster yang menutupi lukaku. Dia menyuruhku bersiap-siap apabila nantinya akan ada rasa sakit.

Mau Ibu buka nih plasternya. Kalo sakit bilang ya Nak Ujarnya.

ÔÇ£Iya Bu.ÔÇØ Jawabku mantap.

Ibu pun membukanya dengan perlahan-lahan. Ada rasa sedikit sakit ketika plaster itu dilepaskan. Hal itu dikarenakan daya lengketnya yang cukup baik di sekitar kulit dekat lukaku itu. Setelah ÔÇÿberaduh-aduhÔÇÖ sedikit, plasternya pun lepas. Ibu lalu memperhatikan keadaan lukaku.

ÔÇ£Udah kering kok. Selanjutnya nanti diolesin obat merah aja.ÔÇØ Anjurnya.

Bu Tito Kata-kataku terhenti.

ÔÇ£Hmm? Tito kenapa?ÔÇØ

ÔÇ£Ah, nggak. Nggak apa-apa kok Bu.ÔÇØ Aku menggeleng ragu sambil tersenyum.

Hehe Ada-ada aja. Ya udah, Ibu mandi dulu ya. Katanya sembari membungkuk setengah jongkok mengambil perban yang ada di lantai. Matanya melirik ke arah handukku yang menonjol.

ÔÇ£Aduh! Pake keliatan lagi! Gimana nih?ÔÇØ Rutukku dalam hati.

Aku tak ingin disangka anak yang bandel dan berpikiran kotor olehnya. Tapi gejolak ini datang begitu saja, dan aku tak bisa mencegahnya. Apa sebenarnya yang terjadi pada diriku?

Ibu sudah kembali berdiri. Setelah dia melirik tonjolan yang muncul di handukku tadi, dia memperhatikanku lamat-lamat. Tampaknya dia ingin menyampaikan sesuatu. Sepertinya mengenai kemaluanku yang menegang itu. Aku enggan melihat wajahnya. Kulirik ke arah lain untuk menghindari tatapannya.

ÔÇ£Tito, liat Ibu Nak. Nggak boleh gitu sama Ibu kalo Ibu mau ngomong.ÔÇØ Ucapnya lembut namun tegas. Terpaksa kuberanikan diriku untuk melihatnya berbicara.

ÔÇ£Tito lain kali nggak boleh lagi begini sama Ibu ya Nak. Ini Ibunya Tito. Masa asal liat Ibu, punyanya Tito langsung bangun? Nggak boleh ya Nak.ÔÇØ Ibu mengelus rambutku.

ÔÇ£Iya Bu.ÔÇØ Aku tertunduk.

ÔÇ£Tadi ingat kan janjinya Tito apa?ÔÇØ

ÔÇ£Iya Bu, Tito ingat.ÔÇØ Jawabku singkat dengan masih tertunduk.

ÔÇ£Liat Ibu Nak.ÔÇØ Diraihnya daguku dengan tangan kanannya untuk tegak menatapnya. Aku sekali-kali masih melirik ke arah lain.

ÔÇ£Tito anak Ibu yang paling baik kan? Tito anak yang berbakti sama orang tua kan? Tito mau jadi anak yang hebat buat Ibu kan? Tito ingat nggak, dulu Tito janjiin itu sama Ibu?ÔÇØ

ÔÇ£IÔǪIngat Bu.ÔÇØ Aku tak menyangka arah pembicaraannya jadi ÔÇÿketatÔÇÖ begini.

ÔÇ£Kalo Tito ingat, masa Tito sekarang kurang ajar sama Ibu?ÔÇØ

Aku terperangah mendengar kata-katanya. Bagaikan halilintar yang menyambar langsung ke kepalaku. Ibu tak pernah mengucapkan kata-kata ÔÇÿkurang ajarÔÇÖ padaku sekalipun, walaupun ketika dia sedang memarahiku. Aku tak menyangka bahwa tindakan dan kesalahanku kali ini sudah separah itu di matanya.

Aku melihat kedua matanya yang kini menatapku dengan dingin. Sedetik kemudian air mataku mulai berlinang. Keluar bagai air bah dan meleleh membasahi pipiku. Kata-kata Ibu begitu menyakitkan bagiku. Seluruh nafsuku padam seketika, digantikan rasa sesak di dalam dada.

Wajah Ibu agak kaget melihatku menangis. Dia bingung dan tak menyangka dari mulutnya bisa keluar kata-kata itu. Eh, Emm Maksud Ibu bukan gitu Nak. Maksud Ibu cuma

Belum selesai dia berbicara, aku pergi dari hadapannya dan masuk ke dalam kamarku. Kukunci kamarku dari dalam dan terduduk di pinggir tempat tidur. Aku menangis tanpa suara. Kukeluarkan semua air mata yang kupunya untuk meredam rasa perih di dada. Namun percuma. Kata-kata ÔÇÿkurang ajarÔÇÖ itu sepertinya menancap sangat dalam di hatiku. Sesaat kemudian terdengar Ibu mengetuk pintu kamarku.

To Maafin Ibu Nak! Ibu nggak maksud bilang gitu. Ibu cuma Kata-katanya terhenti.

ÔÇ£Tito, bukain pintunya dulu Nak! Ibu mau ngomong!ÔÇØ lanjutnya lagi. Namun aku tetap tak menyahut dan terus menangis.

Selanjutnya tidak ada lagi kudengar panggilannya dari luar. Yang kudengar malah suara siraman air di kamar mandi. Sepertinya Ibu melaksanakan acara mandinya yang tertunda tadi. Sementara aku tetap duduk diam. Aku masih belum berpakaian. Hanya handuk yang melekat di tubuhku. Tangisanku perlahan mereda. Aku yang tadinya tertunduk lesu mencoba untuk tegak. Sesekali isakan tangisku masih keluar.

Kulihat wajahku yang terpantul di cermin. Begitu menyedihkan. Luka robek ditambah lebam di sekitarnya dan dilengkapi dengan wajah sembab yang dipenuhi air mata membuatku seperti anak korban gempa bumi yang kulihat di TV.

Aku sungguh prihatin dengan keadaanku sekarang. Ini adalah tangis pertamaku setelah sekian tahun lamanya aku tidak menangis lagi. Fisikku memang kuat. Namun hatiku tetap saja sama seperti anak yang lainnya. Aku tetap butuh belaian seorang Ibu.

Aku berdiri dan berjalan ke lemari pakaianku. Tubuhku mulai terasa dingin karena dari tadi aku hanya berbalut handuk lembab. Kuambil kaos oblong, celana boxer dan berikut dengan celana dalam. Dengan cepat kupakai dan segera berbaring di ranjangku. Entah kenapa aku terasa sangat lelah dan mengantuk sehabis menangis barusan. Tenagaku rasanya terkuras habis. Tak butuh waktu lama aku pun tertidur pulas.

***

ÔÇ£To! Tito tidur ya!? Udah jam setengah satu Nak! Makan dulu!ÔÇØ Aku terkejut dan terbangun dari tidurku. Di luar kudengar suara Ibu memanggil-manggil dan mengetuk pintu kamarku. Ternyata sudah dua jam lebih aku tertidur.

Ketika aku terbangun perutku memang sudah keroncongan minta diisi. Tapi aku masih tak ingin menghadap Ibuku. Kubiarkan dia memanggil-manggil dari luar.

Tito, buka dong! Iya, Ibu minta maaf Ibu yang salah. Tapi dibuka dong pintunya Nak! Ia terus berusaha, tapi aku masih terlanjur sakit hati akan kata-katanya. Aku tetap diam, masih berbaring di atas ranjang.

Buka dong Nak Ntar Ibu nangis nih Ancamnya.

Kekukuhanku teralihkan juga dengan ancamannya. Sepertinya itu bukan sebuah kepura-puraan. Suaranya memang melemah dan agak bergetar waktu mengucapkannya. Aku pun terdorong untuk memastikannya. Aku turun pelan-pelan dari ranjangku dan berjalan ke arah pintu. Kutempelkan telinga kiriku di daun pintu. Sayup-sayup kudengar suara isakan dari luar.

Tanpa ragu lagi kubuka kunci grendel pintu kamarku dan membukanya. Kulihat Ibu sudah menggelesor terduduk di dekat pintu sambil memeluk kusennya. Dia memang sedang menangis. Kulihat mata basahnya yang menatapku penuh keputus asaan. Sepertinya dia sudah memanggilku dari tadi, namun aku tak menjawab karena tadi aku tertidur.

Segera kupeluk dirinya yang tengah terduduk tak berdaya di lantai yang dingin itu. Air mataku pun keluar lagi menangisi penyesalanku. Walau seberapa keras Ibuku memarahiku, tak seharusnya aku mengabaikannya seperti ini. Itu sungguh tindakan yang keterlaluan.

Maafin Tito Bu Tito tadi ketiduran Jadi Nggak bisa dengar suara Ibu manggil. Kataku dengan tangis yang cukup keras.

Nggak To, Ibu yang minta maaf. Kata-kata Ibu tadi udah kasar banget sama Tito Jadi memang Ibu yang salah. Katanya sambil mengelus lenganku yang memeluknya.

ÔÇ£Nggak Bu! Pokoknya Tito yang salah!ÔÇØ Aku bersikeras.

Ya udah, ya udah Nggak apa-apa kok. Ibu udah maafin. Tapi jangan dikunciin lagi ya pintunya. Ibu nggak sanggup kalo Ibu digituin sama Tito.

ÔÇ£Iya Bu. Tito janji! Tito janji nggak akan kunci pintu kamar lagi. Tito janji nggak akan kurang ajar sama Ibu lagi. Tito juga janji nggak nakal sama Ibu lagi.ÔÇØ Tegasku.

Dia lalu mengusap kepalaku. ÔÇ£Ibu memang punya anak paling baik sedunia deh.ÔÇØ

ÔÇ£Ah, Ibu bisa aja nih.ÔÇØ Dipuji seperti itu membuatku agak malu juga.

ÔÇ£Tapi Ibu minta maaf ya Nak. Memang nggak seharusnya Ibu bantuin kamu buat hal-hal yang begituan. Itu kan hal yang berpengaruh banget sama mental kamu. Itu juga yang bikin kamu jadinya punya nafsu sama Ibu.ÔÇØ

Aku melepaskan pelukanku. ÔÇ£Maksud Ibu yang di kamar mandi tadi?ÔÇØ

Ibu mengangguk. Aku menatapnya dan kembali memeluknya. ÔÇ£Ibu tenang aja. Kan Tito udah janji nggak akan minta gitu-gituan lagi sama Ibu. Terus Tito kan udah janji kalo Tito bakal jadi anak yang paling baik buat Ibu. Ya kan?

Ibu tersenyum senang menanggapi jawabanku. Kembali diusap-usapnya lenganku dan ditariknya nafasnya dalam-dalam, kemudian dihembuskannya. Sepertinya dia sangat lega akan masalah yang sudah tuntas ini. Dilepaskannya pelukanku dan menghapus sisa-sisa air mataku dan air matanya sendiri. Kemudian dia bangkit berdiri mengajakku makan siang.

ÔÇ£Yuk, makan yuk! Ibu udah masakin semur tempe kesukaannya Tito.ÔÇØ Ajaknya riang sambil mengulurkan kedua tangannya.

ÔÇ£Wah! Enak banget tuh! Yuk Bu! LetÔÇÖs go!ÔÇØ kuraih tangannya dan mengikutinya ke belakang.

Kuhabiskan hari terakhirku ÔÇÿbersantaiÔÇÖ di rumah dengan penuh kebahagiaan bersama Ibuku. Semangat belajarku yang sempat padam tadi siang, kembali berkobar ketika malam tiba. Kuperdalam pelajaran sekolahku dengan sangat tekun dan serius. Semua demi janjiku pada Ibu. Aku harus bisa menjadi yang terbaik.

***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*